Esensi #1

Selepas makan, supervisor saya dan istrinya membereskan piring. Tentu saya ingin membantu. Tapi spv saya dengan gesture dan ekspresi “memohon” bilang : “Please Fitri, just sit and relax”. Jadilah saya bermain dengan si cantik Evy dan Lou. Meskipun ini baru kali kedua bertemu mereka, tapi si 5 dan 3 tahun itu  seperti sudah nyaman dengan saya. Saya menunjukkan beberapa video yang dikirim anak-anak saya di Jatim Park kemarin, saat mereka ngasih makan binatang-binatang dari mobil. Meskipun berbeda bahasa; Evy dan Lou  berbahasa Belanda dan saya berbahasa Inggris, tapi dengan bahasa “tarzan”, bisa juga kami berkomunikasi.

Selanjutnya, saat spv saya dan istrinya mencuci piring, kami main salon-salonan. Dua anak itu menyisiri kerudung saya. “^%$#*(&%%$#” si sulung Evi berkata pada saya (tentu dalam bahasa Belanda yg saya tidak mengerti). Spv saya yang mendengar kata-katanya langsung berkata :”Nee, Nee, Evy, &#^^##^^#*#($@ (dalam bahasa Belanda juga). Yg saya ngerti cuman “Nee” itu artinya “No”. Wajah Evy terlihat kecewa. “She want to see you hair, and I said it’s impossible”; kata spv saya menjelaskan. “Oh, it’s possible if we do it in your kamer” kata saya spontan pada Evy (kamer adalah bahasa Belanda untuk room, satu dari sedikit bahasa Belanda yang saya tau hehe). “Yang gak boleh liat rambut saya cuman Papa. Mama, kamu dan Lou boleh liat”. Begitu saya bilang sama Evy. Spv saya terlihat kaget mendengar penjelasan saya, lalu menerjemahkan pada Evy dan Lou. Begitu papanya selesai menerjemahkan, mereka langsung antusias dan menarik saya ke kamar mereka.

Seperti rumah2 Belanda pada umumnya, rumah spv saya tidak “luas ke samping” (hmmm…gimana jelasinnya yaaa). Rumahnya kurang lebih tipe 60an, terdiri dari beberapa lantai. Tiap lantainya pendek sih, kayak mezanin gitu. Kamar Evy berada di lantai bawah dari ruang dapur dan ruang makan yang di Belanda jadi kayak “ruang utama” karena letaknya pas begitu masuk. Sesampainya di kamar Evy, saya buka kerudung, aduuh lucu banget mereka liat rambut saya, terus pegang2. Haha…curiosity anak-anak melihat hal yang berbeda itu amazing ya. Sekitar 10 menit,  lalu mereka menunjukkan beberapa barang di kamar tersebut, kita ketawa-ketawa, tiduran, sampai saya pikir waktunya kembali memakai kerudung. Waktu saya lagi pake daleman kerudung, Evy mengambil kerudung saya dan mencoba memakai di kepalanya. Saya bilang : “You wanna wear this?” lalu saya pakaikan. Dua gadis kecil itu excited banget. Begitu selesai saya pakaikan, dia langsung lari ke atas, sambil teriak-teriak ke Papa-Mamanya. Saya mendengar mereka heboh seru di atas. Ketika kembali ke kamar 5 menit kemudian, gantian si kriwil Lou yang pengen pake kerudung.

Satu jam kemudian, setelah selesai bimbingan terakhir sama spv saya, lalu mengenang 3 bulan “kebersamaan” kami, dari awalnya “we are totally stranger” sampai saat ini kita “trust each other”, saya pamitan. Pamitan untuk “selamanya”. Kita gak akan ketemu lagi karena 4 hari lagi saya akan pulang ke Indonesia. Mata saya berkaca2. “Sorry, I am a little bit sad now” kata saya. “Me too”; kata beliau. Suasana hati saya haru biru keluar dari rumah itu. Apalagi warna langit begitu menyentuh. Say goodbye pada spv saya mentrigger perasaan say goodbye pada kota ini.

Maka saya memutuskan untuk menenangkan diri dengan jalan. Saya ingat waktu saya bilang suka sama Oosterpark, spv saya bilang “udah ke Vondelpark belum, deket sini loh”. Saya cek di google map, 30 menit. Dekat sama mueseumplein ternyata.

 

Saya duduk di salah satu kursi di Vondelpark. Di depan saya kolam, bebek-bebek asyik berenang disana. Taman-taman di Amsterdam serasa syurga buat saya. Saya bisa melakukan aktifitas favorit saya dengan sangat tenang dan khusyuk disana : membaca, menulis, atau berbincang dengan diri sendiri. Ada satu hal yang wara-wiri di kepala saya saat itu. Gema dari kata-kata yang saya katakan pada si kecil Evy : “Cuman papa yang gak boleh liat rambut tante. Mama, Lou dan kamu boleh liat”.

Kalimat yang “spontan” saya ucapkan itu, berputar-putar dalam kepala saya. Meskipun saya melihat ekspresi kaget di wajah spv saya mendengar jawaban itu (tampaknya beliau tidak banyak tahu tentang Islam, jadi jawaban saya bikin beliau kaget); tapi spv saya tidak bertanya lebih lanjut. Tapi justru jawaban dari diri saya yang memunculkan pertanyaan2 lanjutan dari diri saya sendiri. Kenapa papa gak boleh liat tapi mama boleh liat? Jadi berarti jilbab itu untuk menurut aurat dari siapa? laki-laki non muhrim? kenapa begitu? kenapa pembedanya adalah jenis kelamin? kenapa perempuan non muslim boleh liat?  jadi apa esensinya berjilbab itu?

Iyesh, 84 hari disana memang tak hanya me-refresh kognitif dan self. Tapi juga merefresh aspek religiusitas. Jawaban-jawaban saya pada mereka-mereka yang bertanya tentang filosofi maupun ritual islam, bergema dalam pikiran saya, memaksa saya untuk kembali merenungi, apa esensi dari keberagamaan saya.

Amsterdam, 29 Desember 2019.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s