Prolog

missBeberapa tahun yang lalu, saya dan anak-anak menonton film seru berjudul Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children. Anak-anak lalu bilang, ada bukunya. Kita pun hunting. Di sebuah toko buku, dapat buku tersebut dan buku lanjutannya : Hollow City. Berbahasa Inggris British uy… saya terseok2 bacanya. Jauh lebih susah dibanding English Amerika kalau buat saya mah. Seperti biasa, meskipun udah nonton film-nya, tapi membaca rangkaian kalimat di buku jauh lebih seru. Tapi ternyata, ada yang lebih seru lagi. Cerita di balik proses penulisan novel yang menjadi #1 New York Times best seller  tersebut. Ransom Riggs, penulis buku ini, menulis rangkaian cerita di buku ini berdasarkan foto-foto yang ia punya. “The photo came first, and then I shaped the story around the imagery” katanya. Keyen dan kreatif !

Menurut survey mengenai urutan 24 character strength yang saya isi di  https://www.viacharacter.org/account/register, “appreciation of beauty and excellent” adalah peringkat pertama. Artinya, karakter yang paling kuat dalam diri saya adalah “noticing and appreciating beauty, excellence, and/or skilled performance in various domains of life, from nature to art to mathematics to science to everyday experience“. Aih, pantesan aja hal-hal yang buat orang lain mah retjeh, buat saya mah mempesona. Pantesan juga sering minta si abah brenti kalau lagi jalan buat moto hal-hal yang kata si abah mah biasa, kata saya mah keren banget. Tapi alhamdulillah juga, pas sama profesi saya sebagai ibu, dosen dan psikolog yang sifatnya “mengembangkan orang lain”, sehingga  mudah untuk melihat dan menghargai progres & usaha sekecil apapun.

Jadi gak aneh kalau jalan2 ke tempat baru, saya punya banyak foto. Lha wong perjalanan ke Jatinangor aja bisa menambah puluhan foto. Awan lah, pohon lah, bunga lah haha… ditambah lagi dimodalin hape yang lumayan bagus sama si abah, seneng banget menikmati capture-an situasi dalam perjalanan hidup sejauh ini.

Tiga bulan di Tanah Van Orange, kebayang dong berapa ribu foto “keren” yang saya punya hehe… Buat saya, setiap foto punya ceritanya sendiri2. Makanya, sebenernya pengen ceritain masing-masing foto. Gak pengen cuman disimpen di softfile dan diliat aja. Nah, saya jadi inget sama buku yang saya ceritain di atas. Foto-foto itu ditampilkan dan dirangkai jadi satu novel… seru kayaknya.  Akan jadi petualangan baru buat saya, karena saya merasa saya gak bisa bikin tulisan fiksi. Daya imajinasi saya terbatas. Apalagi waktu ketemuan sama temen saya Ruthie yang udah ahli bikin cerita fiksi, Ruthie bilang kalau cerita fiksi tuh harus ada drama-dramanya gitu.

Pas saya ceritain sama si abah pengen mengabadikan  rangkaian foto2 itu menjadi sebuah cerita fiksi, si abah mendukung. Dengan satu pesan : “tapi tetep, harus ada pesan moral yang valuable de”. Aduh… fiktif, dramatis tapi punya pesan moral yang valuable. Hhhmmm… triple uy tantangannya.

Tulips from AmsterdamSetelah 3 bulan berlalu, ada suatu kejadian yang membuat saya dapat wangsit untuk alur ceritanya haha…. Maka, mari kita mulai new adventure ini. Resmilah blog saya nambah satu category berjudul : Tulips from Amsterdam. Konon, life begin at 40. Mungkin “life” yang dimaksud adalah “brave to try something new”. Tapi seperti biasanya, I do it for my self. Sebagai salah satu tambahan coping kalau lagi stress. Jadi ceritanya akan dibuat cerbung dengan waktu tayang menggunakan rumus “saka” : sakainget, sakahoyong 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s