Duniaku, Duniamu, Dunia Kita

Beberapa tahun terakhir ini, saya senang karena mulai banyak klien yang datang untuk konseling pra-nikah. Memang, masih belum mengalahkan jumlah klien “konseling pra-perceraian” atau “pasca perceraian”. Tapi peningkatan jumlah klien konseling pra-nikah, saya maknakan sebagai besarnya kesadaran muda-mudi untuk menyiapkan diri masuk ke jenjang pernikahan dengan semaksimal mungkin. Dari beberapa pasangan yang datang, mereka mengatakan bahwa datang ke psikolog, adalah salah satu agenda “safari” mereka. Setelah atau sebelumnya, mereka datang ke ustadz, dan atau ke orang-orang yang mereka tua-kan, dengan agenda yang sama : mendiskusikan hal-hal yang dirasa “mengganjal” sebagai bagian dari keputusan “ya” atau “tidak” untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

Menikah, konon sekarang “kesakralan”nya sudah berkurang. Terutama di barat, banyak yang menyatakan “tidak percaya institusi pernikahan”. Di Timur, termasuk di negara kita tercinta, kesakralan pernikahan pun sudah tercemari dengan adanya beberapa pernikahan settingan para artis, atau pernikahan-pernikahan yang hanya berlangsung beberapa bulan atau bahkan beberapa minggu.

Meskipun demikian, tetap saya melihat, pernikahan ini masih SESUATU banget. Di barat misalnya, saya pernah lama berdiskusi dengan teman saya yang area penelitiannya memang di “marriage“. Saya ambil contoh kasus Brad Pitt sama Angelina Jolie. Mereka berdua menikah hanya 5 tahun sebelum bercerai, tapi sudah tinggal bersama bahkan punya anak lebih lama dari usia pernikahan “resmi”nya. Kenapa gak nikah aja gitu dari awal? Setelah saya baca referensi-referensi yang dikasih temen saya itu, saya jadi paham, bahwa justru perilaku semacam itu dikarenakan pemaknaan bahwa pernikahan itu memang “agung”. Kalau belum yakin banget bahwa saya bersedia menghabiskan sisa hidup saya dengan orang ini dengan setia, mereka gak akan “propose”.

Tentulah itu satu kutub yang sangat tak sesuai dengan agama dan budaya Indonesia. Tapi kutub satunya, yang menganjurkan para pemuda menikah di usia belia dengan jargon “menikah lebih baik daripada berzina” TANPA memberikan advokasi mengenai hakikat pernikahan, penghayatan pernikahan, menanamkan “benih” untuk siap menghadapi persoalan-persoalan pernikahan; menurut saya juga melecehkan makna sakral pernikahan. Kalau saya lihat dari beberapa medsos penggiat nikah muda, duh suka miris deh. Gak proporsional dan gak memberikan pengetahuan/pemahaman yang benar menurut saya. Kadang pernikahan dilihat hanya sebagai potongan romantisme semata. Tak heran dengan gambaran itu, banyak yang kemudian tak siap ketika berada dalam pernikahan sesungguhnya. Karena 99,9% dunia pernikahan itu, tak seperti yang tampak indah di IG 😉 Masalahnya adalah, di Indonesia, menikah itu “satu paket” dengan punya anak. Sebagai psikolog yang concern pada kesejahteraan anak, saya suka pengen “ngamuk” deh kalau menghadapi persoalan pernikahan dua orang yang “gak mateng” lalu anak jadi korban ketidakmatangan keduanya. Jadi, buat saya bukan soal muda atau tua-nya terkait dengan menikah. MATANG ! itu yang penting.

Jangan main-main sama pernikahan ! Dalam agama, pernikahan disebut mitsaqan ghaliza; ikatan yang kokoh dan kuat (QS.An Nisaa : 21). Allah sandingkan pernikahan, ikrar dua manusia, dengan janjiNya dengan para nabi. Karena “mitsaqan ghaliza”, hanya Allah sebut dalam Al-Qur’an 3 kali, yaitu dalam konteks perjanjian dengan para Nabi Ulul Azmi (QS. AL Ahzab : 7) dan dalam konteks ketaatan Bani Israil (QS. An Nisaa : 154).

Dalam psikologi, pernikahan adalah relasi dua manusia yang paling panjang durasinya, dan paling intens. Pada hakikatnya, sepanjang hidup kita selalu menjalin relasi. Begitu lahir, kita sebagai anak dan atau adik atau kakak. Lalu kemudian menjalin relasi sebagai teman, sebagai murid, dst dst. Tapi dari semua relasi sepanjang hidup manusia itu, pernikahan adalah relasi yang paling “dalam”. Paling kumplit harusnya. Ada perlindungan dan kehangatan yang kita rasa sebagai anak, ada kenyamanan yang kita rasa sebagai teman, ada bimbingan dan arahan yang kita rasa sebagai “bawahan”, dan yang paling membedakan adalah, hubungan seksual. Saya pernah membaca buku mengenai hubungan seksual dari segi fenomenologis. Duh, daleeem banget. Menyatunya dua tubuh yang menjadi simbol menyatunya juga dua hati, dua jiwa, dua pikiran, dua dunia. Itulah hakikatnya pernikahan.

Menurut saya, ada 4 situasi setelah dua orang memutuskan untuk menikah. Pernikahan sehat, pernikahan sakit, perceraian sehat, perceraian sakit. Tentu yang paling ideal adalah pernikahan sehat. Tapi bila itu tak bisa diwujudkan setelah berusaha keras, maka pilihan kedua saya bukanlah pernikahan sakit, tapi perceraian sehat. Pilihan ketiga pernikahan sakit, dan yang suka bikin saya pengen “nangis darah” adalah perceraian sakit.

Intimacy. Itu konsep yang menggambarkan bergabungnya dua dunia kalau dua orang memutuskan untuk menjalani kehidupan bersama dalam pernikahan. Ada 6 ciri dari hubungan intimacy ini. Buat saya, enam hal ini adalah indikator dari pernikahan sehat, operasionalisasi dari konsep sakinah, mawaddah warohmah.  yaitu :

(1) Knowledge / Pengetahuan ; pasangan yang relasinya sehat punya pengetahuan yang banyak/dalam satu sama lain. Kalau diibaratkan bawang merah, manusia punya banyak lapisan. Pada siapa ia “berani” membuka lapisan yang paling dalam, pada dialah ia punya relasi yang paling dalam. Mereka saling berbagi rahasia, berbagi sejarah hidup, berbagi apa yang disukai/tidak disukai, berbagi perasaan, berbagi mimpi-mimpi; yang… tak mereka ceritakan pada orang lain. Intinya, pasangan adalah orang yang harusnya paling mengenal diri kita, bukan malah netijen/ friend di medsos ya… yang lebih mengenal kita 😉

(2) Caring / Kepedulian ; pasangan yang relasinya sehat, saling peduli. JAdi, setelah saling mengetahui, jika pengetahuan tentang pasangan ditanggapi dengan pemahaman dan penghargaan (misal : “aku tuh gak pernah dipuji sama ibu aku”. Tanggapan pasangan: “kamu pasti sedih banget ya, sini aku peluk” … bukan … “kamu kan udah dewasa, jangan lebay ah”) ; maka tumbuhlah peduli. Duh, saya gak kuat untuk menuliskan “kata mutiara” paporit sayah : “lawannya cinta bukan benci, melainkan tidak peduli” haha…

(3) Interdependence / Kesalingtergantungan ; pasangan yang relasinya sehat, mereka saling tergantung. Mereka saling membutuhkan dan saling mempengaruhi. Saya pernah baca buku yang menjelaskan dari sudut pandang gelombang2 gitu deh lupa lagi kkk  mengapa pasangan menikah, makin lama makin “mirip”. Karena mereka saling mempengaruhi. Itu yang kasat mata. Yang gak kasat mata? nilai, pemikiran, perasaan. Kesalingtergantungan ini punya akar sejarah panjang dari mulai awal kehidupan manusia. Mungkin kita yang baik-baik saja, yang sehat-sehat saja perkembangannya, gak akan percaya kalau ada orang yang gak bisa saling tergantung. Bisa secara ekstrim gak mau “digantungi” orang lain, atau “gak mau menggangungkan diri pada orang lain”.

(4) Mutuality / Kebersamaan; Sebagai konsekuensi dari 3 hal diatas, maka  setelah menikah, sepasang manusia itu sekarang punya kosakata baru : “kita”. Ada uangku, ada uangmu, ada uang kita. Ada hobiku, ada hobimu, ada hobi kita. Ada waktu untukku sendiri, waktu untukmu sendiri, ada waktu kita bersama. Ada film kesukaanku, film kesukaanmu, film kesukaan kita. Ada ustadz favoritku, ustadz favoritmu, ustadz favorit kita. Ada ibumu, ada ibuku, ada ibu kita; dst dst.

Nah, dalam aspek ini, 27 tahun yang lalu,  Aron, Aron, and Smollan menciptakan alat ukur bernama “the inclusion of other in the self scale”; untuk menggambarkan penghayatan kita akan kedekatan hubungan emosional kita dengan pasangan. Alat ukurnya kayak gini : Kita diminta untuk menilai kedekatan emosional dengan psangan kita, di diagram yang mana? selfothers

(5) Trust / Kepercayaan ; Keempat aspek diatas menjadi sebab dan juga akibat dari kesalingpercayaan pasangan. Kalau psangan sudah kehilangan rasa saling percaya, maka pasti sulit untuk bisa terbuka. Karena rasa sakit yang akan dirasakan. Sulit juga untuk mau mendengarkan keterbukaan pasangan, jika rasa sakit atau tidak nyaman juga yang dirasakan. Tanpa rasa percaya? menggantungkan diri menjadi tidak aman. Misalnya, dalam banyak kasus banyak perempuan yang mempertahankan tetap bekerja sampai ia merasa “aman” dan bisa percaya bahwa pasangannya bisa ia “gantungi” secara psikologis, bukan secara finansial ya… Karena kalau sudah tumbuh rasa percaya mah, kalau kata Sheila on Seven mah “kita lawan bersama.. dingin dan panas dunia… “ 😉

(6) Commitment / Komitmen ; komitmen artinya menginvestasikan waktu, upaya, dan semua sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan pernikahan. Bahasa romantisnya mah “berupaya sekuat tenaga terus bergenggaman erat membangun mimpi bersama” 😉 

Keenam aspek ini, adalah operasionalisasi “sakinah mawaddah warohmah” dalam pernikahan. Pernikahan yang sehat itu menguatkan, melengkapi, membuat seseorang menjadi lebih indah. Surga dunia lah pokoknya mah.

Saya sendiri, menjadikan 6 hal ini acuan evaluasi kekuatan psikologis pernikahan kami. Karena pernikahan itu, ada tahap-tahapnya. Setiap tahap punya faktor keindahan dan faktor potensi kehancuran. Tahap berdua, tahap tinggal sama mertua, tahap riweuh punya balita, tahap fokus ngurus lebih dari satu anak, tahap udah gak ngurus anak, tahap anak-anak udah dewasa, tahap berduaan lagi… semua ada keindahan, kekuatan, juga ada potensi kehancurannya.

Mulai dari menghayati dan mengukur kedekatan emosional dengan pasangan, menggunakan alat ukurnya Mas Aron. Kalau penilaian kita dengan pasangan beda, lanjutkan dengan “ngobrol”; apa yang membuat berbeda. Kalau sama juga ngobrol sih.. apa yang membuat sama. Lalu merenung:

Apakah kita tahu kekhawatiran terdalam, kebahagiaan terdalam, mimpi terbesar pasangan kita, apakah ia mengetahui juga kekhawatiran terdalam, kebahagiaan terdalam, mimpi terbesar kita? Kalau ya, what next? kalau tidak what next?

Apakah saya cukup peduli pada kekhawatirannya? kebahagiaannya? mimpi-mimpinya? apakah dia peduli pada kekhawatiran saya? kebahagiaan saya? mimpi-mimpi saya?Kalau ya, what next? kalau tidak what next?

Apakah saya merasa aman untuk tergantung padanya, apakah dia mau tergantung pada saya? Kalau ya, what next? kalau tidak what next?

Apakah kami sudah berupaya untuk memperbesar zona “kami”? atau kami adalah dua orang yang tinggal bersama tanpa ada irisan apapun? dua orang dalam gelembung dunia yang berbeda? Kalau ya, what next? kalau tidak what next?

Apakah saya berusaha sekuat tenaga untuk “berinvestasi” pada pernikahan ini?Apakah dia berusaha sekuat tenaga untuk “berinvestasi” pada pernikahan ini? Kalau ya, what next? kalau tidak what next?

Pertanyaan-pertanyaan itu bisa jadi obrolan hangat saat pillow talk, atau momen-momen mengobrol lainnya.

Kalau hasil evaluasinya masih “buruk”, jangan khawatir. Kesediaan untuk mengevaluasi, itu adalah sudah menunjukkan pernikahan yang sehat. Karena ada banyak pasangan yang menggunakan jurus “menyapu debu ke bawah karpet”. Menghindari obrolan “dalam” tentang evaluasi pernikahan, karena dirasa tidak nyaman dan mengancam. Makanya ngobrolnya sambil pelukan hehe… Akhirnya, tak sadar karpet tempat mereka beraktivitas menjadi penuh debu, berbau, menyesakkan pernafasan dan …. neraka dunia yang dirasakan

Semoga kita semua dikarunia Allah kekuatan dan kesabaran untuk memperjuangkan kualitas dalam pernikahan, agar “separuh” agama ini tak hanya beruba gombalan yang tak kita hayati maknanya.

 

 

Advertisements

Mars and Venus on Earth : Introduction

Dalam waktu singkat taaruf kami 16,5 tahun lalu (mulai taaruf Februari, khitbah Maret, menikah Juni ;), salah satu buku yang saya khatamkan dan saya pelajari sungguh-sungguh sebagai persiapan menikah adalah buku “Men Are From Mars, Women Are From Venus”. Saat itu, baca sambil senyum-senyum, dan rasanya isinya udah ada di luar kepala haha…. Dan ketika masuk ke dunia pernikahan sesungguhnya, entah kenapa semua yang sudah ada di luar kepala itu kabur semua kkkk…..

Saya ingat, kurang lebih 11 tahun lalu (saya inget karena sudah ada si bujang); berarti di usia pernikahan 6 tahunan, suatu hari saya marah besar. Jadi waktu itu si abah sepertinya sedang ada masalah di kantor. Dan dalam bayangan saya sebagai istri, romantis banget gituh kalau suami teh curhat sama istri, lalu sebagai istri saya memberikan masukan, lalu suami berterima kasih terhadap istri, lalu berpelukan… haha…. Tapi kenyataannya bukan begitu. Dengan muka kusut, si abah lebih banyak tidur, menghindar dari saya. Akhirnya saya “meledak”, “ngambek”. Saya bilang, saya merasa tidak dihargai sebagai istri. Saya ingin kita berbagi suka dan duka. Saya gak tega liat dia pusing sendiri. Saya pengen bantu. Setelah bilang gitu, saya melancarkan aksi bisu (senjata istri itu kan diam seribu bahasa ;), dan konon katanya suami lebih tahan dicerewetin daripada didiemin kkk). Lalu kemudian, si abah pun bicara. Kurang lebih kayak gini lah : “Maaf ya De, bukan aku gak menghargaimu. Tapi kalau lagi ada problem, aku tuh lebih nyaman kalau tidur. Bangun tidur, pikiran lebih fresh dan aku bisa berpikir jernih untuk selesein masalahku. Aku malah tambah pusing kalau dirimu tanya-tanya terus”.

Mendengar kalimat itu, tiba-tiba saya teringat kalimat-kalimat dalam buku Mars & Venus yang saya baca waktu taaruf : A man goes into the cave when he wants to be alone to think, or rather not think, about a problem that’s currently weighing on his mind. Any number of reasons – from work to finances to health – could send him heading for his cave and, subsequently, leave a woman in the dust feeling confused and wronged. Semua yang disampaikan si abah benar. Dia bukan tak menghargai saya. Bukan tak ingin berbagi dengan saya. Dia sebagai laki-laki, hanya berbeda cara dalam menyelesaikan masalah, dengan saya sebagai perempuan. Saya, perempuan, bicara. Berbagi. Dia, laki-laki, “masuk ke dalam gua”. Tidur.

Kesadaran akan pengetahuan itu, membuat kami tak pernah lagi bertengkar mengenai hal itu. Saya tau kapan harus membiarkannya menyepi di “gua”nya, dan menjelaskan pada anak-anak. Dan semakin kesini saya juga tahu, bahwa itu gak hitam putih. Si abah akan cerita masalahnya ke saya, akan meminta pendapat saya, kalau dia sudah bisa mengurai masalahnya dengan lebih jernih. Bukan kayak saya yang kalau curhat, saya juga gak ngerti mana ujungnya mana pangkalnya, dan apa maunya saya haha….

Dan penjelasan saya ke si abah bahwa perempuan kalau lagi ada problem copingnya adalah cerita, bukan untuk mendapatkan solusi tapi untuk didengarkan, juga berhasil mengurangi pertengkaran kami. Dulu kan kalau saya cerita, si abah ngasih solusi, saya malah marah karena merasa gak dimengerti. Kesini-sini, si abah tau kalau saya lagi cerita, jawaban efektif yang bisa membuat saya “meleleh” adalah :’hhhmmm… oh gitu..”. Sampai si sulung dan si bujang suatu hari bilang : “kayaknya abah sebenernya gak ngedengerin deh, dalam pikirannya mikirin hal lain, cuman hemm..hemm aja” haha….gapapa… yang penting mau berproses belajar. Itu kunci penting.

marsvenusPernikahan, adalah sebuah perjalanan panjang pembelajaran. Yups, ada pernikahan-pernikahan yang diusahakan segimananya pun, akan tetap “sakit”. Maka, perceraian akan membuat pasangan menjadi lebih “sehat”. Biasanya, itu karena salah satu atau keduanya punya masalah psikologis yang “berat”, misalnya sangat tidak matang kepribadiannya, dll. Tapi ada banyak perceraian yang terjadi, yang diakibatkan oleh masalah-masalah yang dialami oleh semua pasangan lain di dunia ini. “suami tidak romantis, istri yang terlalu cerewet, suami yang tak mau disalahkan, istri yang baperan”……itu mah keluhan semua pasangan di dunia ini. Masalah-masalah kecil yang bisa kita selesaikan, dengan langkah awal : “tahu”. Tahu bahwa ada hal-hal yang memang Allah ciptakan berbeda antara laki-laki dan perempuan. Kenapa Allah ciptakan banyak perbedaan padahal mereka berdua harus “menyatu?” tentu ada hikmah besar dibalik itu. Salah satu hikmahnya : biar kita terus belajar, biar pikir kita terus terasah, rasa kita terus terolah. Sakinah Mawaddah Warohmah itu, bukan cerita dongeng. Ia harus kita raih dengan perjuangan berupa mencari pengetahuan, melatih kerendahan hati, menjaga kesungguhan. Perjuangan itulah hakikatnya manfaat dari pernikahan. Pernikahan, tak otomatis membuat kita menjadi “bijak” kalau kita tak mau belajar. Trust me, usia pernikahan tak selalu berbanding lurus dengan kemampuan mengenali diri dan pasangan, dengan kemampuan mengelola konflik, jika kita tak mau belajar.

Maka, ketika awal tahun ini saya menemukan seri buku-buku bernuansa “Mars & Venus” di Toko Buku Periplus langganan saya; Why Men don’t Listen and Women Can’t Read Maps, Why Men Lie and Woman Cry, Why Men Want Sex and Woman Need Love, langsung saya borong. Setiap wiken saya baca, kali ini bukan sambil senyum-senyum, tapi sambil ketawa ngakak (gak pake guling-guling sih haha…). Beberapa kali, saya “baca bareng” si abah. Maksudnya baca bareng adalah saya baca buku itu, si abah baca buku lain atau nonton TV atau tidur kkkk….

Dan yesh, hadits “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.”; nyata kebenarannya. Ada banyak hal yang biasanya bikin saya marah atau kezel, setelah baca buku itu jadi berkurang frekuensi dan intensitasnya (meskipun masih dipengaruhi faktor PMS haha….). Misalnya, dulu suka kezeeeeel banget kalau si abah nyari sesuatu dan bilang “gak ada” . Dan setelah saya datang kesitu, ya ampuuun….itu di depan mata apa bah….. Sekarang jadi berkurang setelah mengetahui bahwa sistem dan proses penginderaan laki-laki dan perempuan memang berbeda. Lalu satu hal lagi, dulu saya suka marah kalau nanya si abah, “abah sayang gak sama aku?” trus si abah gak bisa jawab atau jawabannya gak memuaskan kkkk (Sampai sekarang juga doi belum memberikan jawaban yang memuaskan loooooh….kkk). Ternyata di salah satu buku itu diceritakan, bahwa “do you love me?” adalah pertanyaan paling sulit buat seorang pria haha…. ternyata suamiku normal hihihi….

Dan yang jauh lebih penting, pengetahuan ini membuat pandangan saya pada si abah lebih positif. Maklum, rasanya sumber kemarahan seorang istri  dari suaminya itu banyak banget ya? kkk… Saya tersadar bahwa banyak hal sumber konflik, terjadi bukan karena dia “gak peduli” (kan buat perempuan mah berlaku ungkapan ” lawannya cinta bukan benci, melainkan tidak peduli; right? ;), Tapi karena dia berbeda.

Nah, karena tidak semua teman-teman punya kesempatan baca buku-buku seri Mars & Venus itu, insyaallah saya akan share isinya disini. Seru deh pokoknya kkk. Insyaallah, semoga ALlah memberikan izinNya.

 

Chapter-Chapter Kehidupan Kita bersama Anak : Apa yang Kita Tuliskan ?

Sebulan lalu, si abah mengirimkan beberapa foto motor touring via whatsapp. Karena kami LDR-an; maka selain weekend, komunikasi kami via wa, telpon dan video call. “Ini keren banget De…kita beli yuks…biar kita bisa touring berdua”. Bla..bla..bla… Ia menceritakan ke-kerenan motor-motor touring itu. Saya baca sambil pengen ketawa. Seperti bapak-bapak lainnya, kalau udah bicara tentang otomotif, persis kayak anak kecil pengen mainan. Persis juga sih sama kelakuan saya kalau lagi merajuk membujuk si abah untuk mengizinkan saya beli tas lah, batik lah, sepatu lah.  Sejak saya punya instagram, memang jadi terpapar barang-barang lutuuuu…. dan meskipun kalau saya beli barang pake uang sendiri dan  si abah pun kalau mau beli sesuatu pake uangnya sendiri, tapi kami punya perjanjian tak tertulis untuk saling minta izin . Kenapa ya? ya untuk saling menghargai saja. Dan kalau masing-masing kami bilang “engga”, biasanya kami urung. Meskipun saya lagi punya banyak uang, kalau si abah bilang “gak usah beli, kan tasmu udah banyak”, saya pasti urung. Demikian juga si abah.

Waktu liat foto-foto motor touring itu, saya mengakui sih…itu motor keren-keren banggets. Ya sesuai harganya lah haha… Mendengar cerita si abah tentang rencana touring berdua ke tempat-tempat yang keren, saya jadi membayangkan emang enak banget dibonceng sambil memeluk punggungnya ,,,ya…mirip-mirip adegan Dilan dan Milea lah #eaaaaa… Tapi ketika kita lagi asyik ngobrolin rencana itu, tiba-tiba terintas sesuatu di pikiran saya ; lalu saya sampaikan ke si abah: “Tapi bah, kapan kita mau touring berdua nya? segitu tiap weekend kita hectic  sama acara anak-anak…” . “Oh iya ya..” kata si abah. “Kapan ya, kita bisa punya waktu berdua di weekend? kayaknya 6 tahun lagi ya? kalau si bungsu udah SMP? Ya udah…beli motor touringnya 6 tahun lagi aja ya kalau begitu”. Kata si abah. “Iya, tapi 6 tahun lagi, kita masih kuat gitu touring berdua?” kata saya hahaha…..

Yups…saat ini, di tahun ke-15 pernikahan kami, dengan 4 anakumur 15, 12, 9 dan 6,  kami memang sedang hectic-hecticnya dengan urusan anak-anak. Setelah beberapa bulan ke belakang weekend kami dihasbisakn untuk survey boarding school SMA untuk si sulung dan survey SMP untuk si bujang, lalu lanjut rangkaian test, setelahnya, weekend kami juga selalu full untuk urusan anak-anak. Anter ekskul setiap sabtu, lalu nemenin  lomba, atau aktivitas lain yang pengen diikutin anak-anak. Kadang hiking, kadang mendongeng, kadang anter si sulung kerja kelompok ini, syuting itu, hunting ini, tryout itu…bahkan seperti minggu lalu, karena kegiatannya bareng, kita harus split, si abah nemenin anak yang mana, saya nemenin anak yang mana.

Kami tak pernah bicarakan ini secara lugas sih, tapi sepertinya kami berkomitmen untuk mendedikasikan weekend kami untuk anak-anak. Kalau gak kepepet-kepepet banget, gak pernah bikin acara sabtu minggu. Kalaupun akan ada acara yang gak bisa diganti hari lain, maka kami harus koordinasi jauh-jauh hari. Misalnya si abah ada rapat pentiiiing yang harus weekend, atau ikutan ujian sertifikasi apaaa gitu… atau saya ada undangan mengisi seminar, atau misalnya ada klien dari luar kota yang hanya bisa di weekend. Kenapa? karena kami tak punya ART. Anak-anak, terutama si gadis kecil dan si bungsu belum bisa ditinggal sendiri. Harus diawasi si sulung. Padahal si sulung punya segudang aktifitas di weekend.

Sejujurnya, banyak kesempatan pengembangan diri bagi saya dan si abah yang tak bisa dilakukan karena weekend kaki kami “terikat” oleh anak-anak. Kadang saya  dapat tawaran tampil di acara besaaar, kadang ada workshop keren banget, kumpul-kumpul asyik, kadang si abah ada kegiatan sertifikasi penting… Tapi kami selalu saling mengingatkan. Kami jadi rem buat masing-masing. Dan beberapa tahun terakhir ini, saya sangat menikmati kehectican di weekend untuk kegiatan anak-anak. Kenapa?

Beberapa bulan lalu, kami ke bioskop ber-5. Saya dan 4 anak saya. Saat itu anak-anak sedang libur, abahnya tentu kerja di luar kota. Kami bersepakat nonton, kebetulan film yang diputar di bioskop sedang bagus-bagus. Film apa yang akan kami tonton? anak-anak keukeuh pengen nonton film Coco. Saya pengeeeeen banget nonton film Wonder. Saya bingung. “Okelah, ibu gak akan nonton film Wonder. Nanti aja kalau udah ada DVDnya ibu beli”. Saya akhirnya memutuskan. Tapi lalu si sulung bilang: “Kenapa kita gak pisah aja bu? Sok aja ibu nonton Wonder, kayaknya ibu pengen banget. Ga apa-apa kita nonton Coco”. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya saya terima tawaran itu. Masalahnya adalah, selain kami tentunya beda studio, waktu tayangnya juga beda. Film Wonder diputar 45 menit lebih awal dari film Coco. “Percaya bu, kita berdua bisa jagain si dua krucil ini ” kata si sulung. Akhirnya rencana itu kita jalankan. Saya masuk saat film Wonder akan dimulai. Tentu sambil terus-terusan kontak anak-anak, yang dari video callnya sih baik-baik saja haha…

Sambil menikmati film Wonder yang super duper keren, saya merasa amazing dengan kondisi saya. 15 tahun menjadi ibu, inilah pertama kalinya saya menikmati hal-hal yang “entertaining” tanpa anak-anak. Ya, saya beberapa kali sih ke luar  negeri atau luar pulau dan luar kota untuk conference atau pekerjaan. Tapi full menghibur diri, sendirian…rasanya ajaib. Serasa gak percaya gitu haha…Jadi, sambil duduk rileks menyaksikan film, ngemil popcorn plus menyeruput soda, pikiran saya pun melayang.

Ada saat-saat dimana nonton film ke bioskop begitu melelahkan bagi saya. Kala saya masih punya balita. Melelahkan fisik dan psikologis. Psikologis? takut ada salah satu atau salah dua anak saya nangis, atau teriak. Jadi sepanjang film (biasanya kita nonton film anak-anak untuk si sulung), maka saya dan si abah sibuk menenangkan adik-adiknya. Takut ganggu orang. Belum lagi kalau anak laki-laki, kalau gak teriak atau ngomong keras dia jalan-jalan…aduuuh…buat pencemas sejati seperti saya, itu stressful bangget. Belum lagi kalau mau pipis. Trus pipisnya gantian. Baru balik anter pipis si ini, adiknya bilang pengen pipis. Alhasil, jarang bisa menikmati keseluruhan film. Jadi, saya bisa menikmati film dengan rileks, sendirian, itu saya rasakan sebagai sebuah pengalaman “baru”.

Saya juga ingat…. baru ramadhan kemarin saya menikmati itikaf. Full 10 hari terakhir, nginep tiap malam. Dulu waktu masih berdua kami beritikaf berdua. Waktu punya bayi satu, masih suka itikaf. Tapi setelah dua, tiga, empat; lebih banyak cemasnya dibanding khusyuknya saat itikaf dan tarawih. Takut nangis, takut teriak, takut ganggu orang lain… Si abah suka ngajak tarawih ke mesjid tiap ramadhan. “Dirimu kan seneng banget di mesjid” katanya. “Iya, tapi aku stress kalau sambil takut anak-anak teriak, nangis, lari-larian, aku sholat di rumah aja”. Begitu jawaban saya biasanya.  Nah kalau tahun kemarin, saya merasa nikmat banget. Kalau si bungsu bosen dan “rewel”, saya tugaskan si gadis kecil ngajak main di halaman. Antri makan sahur/buka? ada 4 anak yang siap mengambilkan. Wudhu gantian, jaga si bungsu gantian.

Ya, ya…ada masa-masa itu. Masa dimana saya gak mau diajak si abah silaturahim ke sosok-sosok yang kami hormati. Kenapa? dengan 4 anak yang lagi loncat sana-loncat sini, ngomong rebutan…saya engga nyaman bertamu. Kalau kondangan, kami gak pernah makan dulu. Datang, salaman, lalu pulang. Karena anak-anak gak nyaman di kondangan yang biasanya penuh sesak orang yang tak ia kenal.

Tapi sekarang, masa-masa itu sebagian sudah terlewati.

Maka, kalau ada adik-adikku yang nangis-nangis; merasa “lelah”, craving for me time; sini saya peluk. I feel it. I’ve been there. Saya ingat banget di rumah kontrakan saya di Tubagus Ismail 13 tahun lalu, saat si sulung masih berusia 2 tahun-an, waktu itu saya udah lama gak bisa sholat dan doa khusyuk. Waktu saya abis sholat lalu mau mulai menengadahkan tangan, eeeh…si sulung pipis. Di sajadah. Waktu itu saya nangis tersedu-sedu. Saya inget banget kata-kata saya “Ya Allah, plissss. Aku teh bukan pengen apa-apa. Bukan pengen main, bukan pengen tidur nyenyak… Aku cuman pengen berdoa khusyuk…masa gak bisa” ….

Maka, Kalau ada adik-adikku yang baru punya bayi dan tidak terlihat bahagia tapi justru kelelahan, sini saya peluk. I feel it. I’ve been there. Si sulung adalah anak yang “ajaib”. Tidurnya selalu harus digendong, sambil berdiri. Kalau dia udah tidur lalu saya duduk, maka ia akan bangun. Nangis. Saya ingat saat-saat itu, kami nangis berdua. Sampai saya bikin shif-shift-an gendong si sulung sama si abah, dan setiap kali si abah tertidur tak terbangun mendengar suara tangis bayi, padahal itu adalah shiftnya, saya akan nangis, capek plus kesel sama si abah haha…..

Maka, kalau adik-adikku merasa kehidupannya sangat “terikat”, jadi pendek langkah, sini saya peluk. I feel it. I’ve been there. Saya pernah ditegur sama pimpinan radio tempat dulu siaran rutin jadi narasumber, gara-gara tiap siaran saya bawa si sulung yang waktu itu umurnya 1,5 tahun-an. Katanya biarpun anteng, tapi suaranya masuk kerekam. Baiklah, saya memutuskan untuk berhenti siaran. Berat terasa, tapi ya gimana lagi.

Maka, kalau ada adik-adikku kebingungan saat anak-anaknya tantrum, merasa kesal, putus asa,  sini saya peluk. I feel it. I’ve been there. Saya ingat waktu diliatin orang se-BORMA waktu si bujang ngamuk-ngamuk pengen cd ultraman. Saya ingat hari pertama si sulung sekolah, jam 8 sampai jam 11 gak brenti nangis. Si bungsu, saya anter ke sekolah dengan pakaian batik terbaik saya karena mau ketemu pejabat universitas, eeeh..nangis sampai muntah ke dada saya. Ke kampus dengan sisa bau muntah plus bau tissue basah, pernah saya alami.

Maka, itulah sebabnya saya menikmati masa-masa hectic teroccupied di weekend oleh kegiatan anak-anak. Karena saya tahu, masa itu akan berlalu. Maka, selagi di masa ini, kita jalani saja sekhusyuk-kehusyuknya, ikuti saja alurnya, nikmati saja episodenya. Nanti ada saatnya episode itu berganti.

Saya selalu membayangkan bahwa kehidupan kita itu, seperti chapter-chapter di sebuah buku. Buku-buku yang bagus, tiap chapter sambung menyambung, tapi masing-masing chapter punya cerita yang berbeda. Punya warna yang berbeda, keasyikan yang berbeda saat kita membacanya. Seperti yang terjadi saat saya nonton wonder sendirian itu, saya menikmati momen saya saat itu, sambil tersenyum mengenang momen-momen berbeda sebelumnya.

large-kraft-memory-book-photo-album-ba-book-typography-photo-memory-bookMaka, buat adik-adikku yang masih berkutat dengan hal remeh-temeh terkait anak-anak, mari kita nikmati sepenuh hati episode-episode ini. Episode begadang, episode menghadapi tantrum, episode tas kita penuh dengan remah-remah makanan, episode keompolan, episode cemas takut ganggu orang lain, episode harus bawa anak kemana-mana, episode stress saat bawa anak-anak ke supermarket, kita nikmati aja, here and now. Kita tuliskan kisah episode kehidupan kita di chapter ini, dengan penghayatan terbaik yang kita punya, dengan effort terbaik yang kita bisa. Kita tuliskan keindahan dan keseruan rangkaian kata dan peristiwanya dengan ke khusyuk-an dan penerimaan kita.  Jangan memikirkan “pengen pindah chapter”. Nanti kita akan kehilangan keindahan kenangannya.

Biar nanti, saat kita akan menutup mata kembali pada yang Maha Kuasa, kita bisa membaca kembali chapter demi chapter kehidupan kita, dan kita bisa tersenyum bahagia karena keindahan kenangannya.

 

 

ISTI : Ikatan Suami ……. Istri

“Yes Mam, Yes Mam, Yes Mam” …. pria paruh baya itu mengangguk-angguk di telpon. Dia adalah “bos” kami dalam sebuah projek. Kami bertiga, sedang mengerjakan projek yang cukup besar. Kami bertiga adalah : Pak Bos, saya dan seorang sahabat saya. Pak Bos adalah seorang pria paruh baya yang sangat expert di bidangnya. Meskipun kami satu tim, tapi sebenarnya beliau bagai mahaguru bagi kami yang masih unyu-unyu di bidang ini. Karen ake-expert-an nya, beliau juga menduduki jabatan penting di instansinya. Kami bertiga cukup akrab karena sudah saling mengenal cukup lama.

Pak Bos sudah selesai menelpon, dan kembali berhadapan dengan kami. “Dimarahin mbak **** ya Bang?” kata sahabat saya. Mbak **** adalah istri beliau, yang juga kami kenal baik.  “Iya nih… gue tuh udah gak boleh minum kopi sama dokter. Trus dia tuh kayak punya telepati gitu. Tauuu aja gue bandel” katanya sambil melirik secangkir kopi dihadapannya (di komunitas kami, biasa ber- elu gue antara senior dan junior). “Trus kayaknya gue harus pulang sekarang uy, **** titip beliin bahan-bahan kue. Mana gue gak tau lagi bahan-bahan itu bentuknya kayak gimana. Makanya agak lama kayaknya muter-muter di supermarket untuk tanya-tanya. Dia lagi seneng banget nyobaik resep-resep dari yutub” katanya. Lalu kemudian ia membagi tugas yang harus dikerjakan oleh masing-masing kami di rumah, untuk dibahas pada pertemuan selanjutnya.

Dulu, duluuuuu banget….saya akan menganggap tipe suami seperti Pak Bos adalah suami yang “tidak berwibawa”. ISTI. Ikatan Suami Takut Istri. Membayangkan wibawa nya di hadapan publik, diantara para stafnya, di lingkungan expertisenya, sangat kontradiktif dengan sikap dihadapan istrinya, seperti yang ia tunjukkan di telpon tadi. Takut Istri. Itu yang suka digambarkan pada sinetron-sinetron, terutama sinetron komedi yang memang sering mengeksploitasi kontradiksi.

Tapi setelah saya menikah, 5, 10, 15 tahun…. mengamati banyak pernikahan, membantu klien-klien dengan masalah pernikahan, saya menjadi punya perspektif baru terhadap para bapak-bapak yang “melepaskan wibawanya” saat sedang berada di hadapan istri. Tetap ISTI. Ikatan Suami Thayank Istri haha….

Yups… tidak mudah bagi seorang suami yang secara agama, kultural maupun sosial dipandang sebagai figur superior dibanding istri, mau “mendengarkan” apalagi “menuruti” kata istrinya. Ada berapa banyak para istri yang sudah menikah belasan bahkan puluhan tahun; tapi si istri tak berani, takut untuk mengingatkan sang suami, memberi masukan pada sang suami, mengerem suami dari perilaku yang kurang pas; baik untuk dirinya maupun ada orang lain.

Misalnya, mengingatkan suami untuk tidak merokok, mengingatkan suami untuk tidak impulsif posting sesuatu di medsos, mengingatkan suami untuk tidak genit pada wanita lain, mengingatkan suami untuk menyeimbangkan hobi pribadi dengan waktu untuk keluarga, mengingatkan suami untuk menyeimbangkan waktu mengejar karier dengan waktu untuk keluarga, mengingatkan suami untuk meninggalkan hal-hal kecil yang gak bermanfaat, mengingatkan suami untuk merubah akhlak buruk.

Setiap kali saya mengingatkan suami saya dari satu perilakunya yang kurang pas, saya selalu bilang : ” I do it because I love you. I care about you. Di usiamu saat ini, di posisimu saat ini, gak akan banyak orang yang berani mengingatkanmu. Bahkan mungkin gak ada”. 

Ya, saya berpegang teguh pada definisi “cinta adalah saling menjaga”. Dengan dua makna:

(1)  Makna yang terkait dengan hubungan kami berdua. Setelah mengarungi pernikahan 15 tahun, saya semakin yakin bahwa Allah menciptakan laki-laki dan wanita itu setara.

Teori bahwa laki-laki itu rasional dan perempuan itu emosional, itu gak berlaku dalam pernikahan. Yang ada adalah, dalam situasi tertentu suami lebih rasional, dalam situasi tertentu ia emosional. Sama dengan istri. Maka, ketika istri sedang emosional, suami bersikap tenang dengan kekuatan rasionalitasnya. Dan ketika suami emosional, istri bisa menjernihkan pikiran suaminya dengan keteduhan rasionalitasnya.

Laki-laki itu pelindung dan wanita itu makhluk lemah yang harus dilindungi? Totally wrong ! Iyesh, sering wanita butuh perlindungan suaminya lewat kekokohan pelukannya. Kala ia sedih, kecewa, disakiti, mengalami kegagalan, dll.  Tapi saya sudah menyaksikan berpuluh-puluh suami; yang tak ingin melepaskan genggaman tangan istrinya, yang merasa kuat saat istrinya berada disampingnya;  kala mereka sakit, kala mereka down, kala mereka takut…

Dua gambaran yang sebenarnya sudah bisa kita ketahui lewat kisah Rasulullah yang merasa takut dalam pelukan istrinya Khadijah saat mendapatkan wahyu pertamanya.

(2) Makna yang terkait dengan pasangan kita dengan lingkungannya. Dalam perjalanan hidup ini, kita butuh rem. Agar tak melaju di jalan yang salah. Agar kita menjalani kehidupan ini tidak dengan menutup mata, yang penting cepat. Agar kita punya waktu untuk selalu awas pada belokan-belokan kebenaran yang mungkin kita lewatkan.

Suami dengan rasionalitasnya, bisa jadi rem untuk istrinya. Dengan pikirnya, ia akan bisa membayangkan resiko-resiko, dan beragam elemen yang akan mengarahkan jalan istrinya di jalan yang benar.

Di sisi lain, suami langkahnya lebih panjang. Ia tak terikat anak-anak. Tak terikat rumah. Darahnya cenderung bergejolak memenangkan kompetisi dalam beragam bentuk. Maka, istri-lah yang bisa jadi rem. Membuatnya melambatkan larinya, mengajaknya berbincang agar sempat ia melihat sekeliling dan berefleksi, menemaninya mengevaluasi arah hidupnya, menariknya kembali pada nilai-nilai yang akan menjadi berharga saat di akhir hidup ia mengevaluasi perjalanan kehidupannya.

Tak ada yang otomatis terjadi dalam dunia ini. Itu adalah sunnatullahNya. Tak ada cinta yang begitu saja tumbuh dan menguat. Tak ada komunikasi dari hati ke hati yang begitu saja terlatih, tak ada rasa yang begitu saja menyatu dalam satu frekuensi, “hanya” karena usia pernikahan telah bertambah. 

Saya ingat suatu saat Pak Bos menasehati kami: “Bagi kalian, di masa-masa ini mungkin merasa hubungan kalian dengan suami baik-baik saja. Karena masing-masing fokus dengan urusan anak. Tapi ketika tak ada lagi anak-anak yang harus diurus, saat kalian berduaan kembali, di situlah kedalaman hubungan kalian teruji. Bukan tak mungkin kalian akan jadi bingung, apa yang harus diobrolin. Ngomong ini, takut menyinggung, ngomong itu, gak tau mulainya dari mana. Bukan tak mungkin kalian merasa saling asing; kalau proses saling mendekat, saling menyelami, saling mendengarkan dan saling menghargai itu tak terus diusahakan dan diperjuangkan. Lebih asyik ngobrol sama teman di luar rumah atau dengan teman kerja, jangan sampai itu terjadi” katanya.

loveSaya juga ingat seorang ustadz di ceramah tarawih ramadhan masjid salman tahun lalu, menyampaikan bahwa ketika seseorang memutuskan untuk menikah, maka berarti ia bersedia mengikutsertakan pasangannya dalam setiap pertimbangan perilakunya. Sekecil apapun, sebesar apapun, sehebat apapun konteks perilakunya.

Kalau memegang teguh nasihat ini, masalah pelakor dan pebinor mah ga ada arti apa-apa.

Maka, buat saya sekarang, seorang laki-laki yang berkata: “yes mam” atau “oke bos” pada istrinya, bukanlah suami penakut. Tapi ia suami penyayang. Yang menganggap kata-kata istrinya perlu ia dengarkan, yang menghayati bahwa ia butuh dijaga oleh istrinya, yang menganggap bahwa istrinya setara dan berharga. Seorang suami yang mencintai istrinya.