Sepasang rantang, jalan yang lurus, dan the art of listening #ParentingGame02

Sebulan ke belakang, aktivitas saya padat. Pergi pagi pulang sore tiap hari, beraktivitas di Jatinangor. Pulang lelah, pengennya langsung mandi dan rebahan. Gak sanggup rasanya masak makan malam buat anak-anak. Akhirnya, dengan restu si abah, saya pun memutuskan menggunakan bantuan jasa catering. Ada yang menyediakan jasa catering harian deket rumah saya, dengan harga terjangkau dan yang terutama, menu-menu sehat yang pas buat anak-anak. Alhamdulillah. Bu catering senang, saya senang, anak-anak senang.

Cuman ada satu masalah. Bu catering mengirimkan makanannya menggunakan styrofoam. Dilapisi daun pisang sih, tapi sebagai orang yang tahu efek styrofoam terhadap lingkungan, asa ngeganjel. Anak-anak saya berkomentar semua. Saya juga bilang gak nyaman sih… tapi ya gimana lagi. Tiap menerima 3 styrofoam per hari, hati saya berontak, tapi ya…gimana lagi.

Adalah si gadis kecil, si 9 tahun kelas 3 SD itu yang protesnya paling keras. Dia memang pecinta lingkungan sejati.  Gara-gara bacaannya Bobo dan Kuark, yang selalu memaparkan tema-tema cinta lingkungan. Dia yang cerewetin saya soal penggunaan listrik yang gak perlu, penggunaan kendaraan secara minimal, membawa bekal minum daripada beli air mineral dalam botol, memakai saputangan dibanding pake tissue; sampai kalau saya masak, dikomentarin juga. “Ibu, harusnya wajannya dibersihin bawahnya, itu meminimalisir pembakaran bu… sama ibu pake wajan yang permukaannya luas harusnya, karena bla..bla..bla……”. Tiap menerima catering styrofoam, kalau kakak-kakak dan adiknya cuman komentar saja, dia melayangkan protest keras. Protesnya semakin meningkat setiap hari. “Ibu, coba ibu bayangkan… keluarga kita aja 3 kali 5 sama dengan 15 styrofoam tiap minggu. Berapa orang yang langganan?” styrofoam itu gak bisa diurai ibu…bayangkan gimana jadinya bumi kita….”. Hari lain, dia memaksa untuk mengumpulkan styrofoamnya, untuk di re-cycle katanya. “Nanti teteh cari di youtube gimana re-cyclenya” katanya. Daaan..akhirnya, suatu hari protestnya berubah menjadi ancaman : “Kalau masih pake styrofoam, teteh gak akan mau makan”. Waduh, gawat ini….

Saya tak bisa lagi mengabaikan pendapatnya. Akhirnya 2 minggu lalu, saya sengaja sempatkan ke borma beli sepasang rantang. Saya sampaikan ke bu catering kalau saya gak mau pake styrofoam lagi. Bu catering bilang ia juga pengennya gitu, tapi belum ada modal. Saya doakan semoga ibu catering seger apunya modal untuk beli rantang-rantang, Alhamdulillah semua kembali senang.

 

 

 

Temans para ibu  muslimah, minimal 17 kali dalam sehari kita memohon pada Yang Maha Kuasa : “ihdinassirootol mustaqiim” . Tunjukkan kepada kami jalan yang lurus. Jalan yang lurus itu, adalah jalan kebaikan dan kebenaran. Jalan yang membawa kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Secara garis besar, melalui doa itu, kita bermohon agar Allah tetapkan kita dalam agama yang kiya yakini baik dan benar ini, yaitu Islam. Dan kalau kita perluas secara operasional, doa itu kita mohonkan agar dalam day to day aktifitas kita, Allah juga tunjukkan jalan dan cara yang baik dan benar, yang membawa kebahagiaan dan keselamatan.

Apa kaitan cerita saya tentang si gadis kecil dengan ihdinassirootol mustaqiim?

Saya menghayati, bahwa melalui kata-kata anak, banyak sekali jawaban Allah atas doa mohon ditujukkan jalan lurus yang kita mohonkan minimal sehari 17 kali itu. Dalam situasi yang saya gambarkan di atas: Islam meminta kita mencintai lingkungan, mencintai bumi. Tapi tanpa ada “desakan” dari si gadis kecil, pengetahuan saya untuk mencintai bumi sebagai rasa syukur atas nikmat bumi ini, hanya sekedar pengetahuan saja. Tak berbuah menjadi amal. Saya percaya bahwa terutama anak yang belum baligh, basyirah-nya masih jernih. Nurani mereka belum terhalangi oleh jelaga dosa. Maka, pikiran dan perasaan mereka sangat berarti. Harusnya kita dengarkan.

Dalam konteks pengasuhan, kita sangat ingin cara kita mengasuh adalah cara yang baik dan benar. Cara yang bisa membawa kita dan anak kita pada kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Pikiran dan perasaan anak mengenai bagaimana cara kita mengasuh mereka, adalah kompas yang berharga bagi saya. Itulah yang mendasari #ParentingGames 02 di status facebook saya tanggal 27 Maret lalu.

Kita tanya pada anak-anak kita,
(1) kamu paling seneng kalau ibu/ayah (tergantung siapa yg bertanya) gimana sama kamu?
(2) kamu paling gak seneng kalau ibu/ayah (tergantung siapa yang bertanya) gimana sama kamu?
Note : 
Formulasi pertanyaan bisa diubah sesuai pemahaman anak
Usia anak tidak dibatasi ya… usia dewasa pun oke banget

Sayangnya, berbeda dengan #ParentingGames 01, tak banyak yang ikut sharing kali ini. Hanya 4 orang.

Buat saya pribadi, bertanya mengenai pikiran dan pendapat anak-anak terhadap perilaku saya, benar-benar menyediakan cermin sekaligus kompas untuk menjalani pengasuhan ini. Misalnya, ketika si bujang kecil yang berumur 11 tahun bilang : “Paling gak suka kalau ibu kayak peribahasa seekor kerbau berkubang, semua kena lumpurnya. Ibu marah sama satu anak, semua anak dimarahin”. Saya ternganga. Oh ya? bener gitu kelakuan saya kayak gitu? Lalu si bujang menjelaskan beberapa peristiwa dimana saya menunjukkan perilaku itu, dan bagaimana perasaannya. Itu benar-benar feedback berharga buat saya. Saya pribadi, seorang diri, sama sekali tidak bisa “melihat” perilaku itu dalam diri saya. Karena saya hanya punya 2 mata, yang saya arahkan pada orang lain, pada anak-anak. Oleh karena itu saya butuh bantuan mata anak-anak yang bisa melihat ke arah diri saya. Bayangkan kalau saya gak pernah nanya. Maka, saya akan terus mengulang perilaku “menyebalkan” itu tanpa saya sadar. Saya tak akan pernah jadi ibu yang lebih baik dalam hal tersebut.

Lalu, jawaban si bujang kecil bahwa “kalau ibu nanya pendapat dan perasaan aku” sebagai hal yang paling ia sukai dari saya, juga membuat saya ternganga. Saya tak menyangka bahwa hal “sederhana” itu ternyata sangat ia sukai dan berharga buatnya. Saya suka bilang pada ibu-ibu yang merasa mereka “tidak kompeten” atau “gak pede” mengasuh anak, tanya apa yang paling anak-anak mereka sukai dari ibu. Jawaban anak-anak kita, trust me, seringkali membuat kita merasa perasaan kita jauh lebih baik. Karena ternyata, untuk jadi ibu yang “kompeten” itu, tak harus seideal yang sering dikatakan para narasumber parenting. Ternyata buat anak-anak kita, banyak hal-hal baik yang sudah kita lakukan, yang membuat mereka senang dan berharga.

Yups, kadang-kadang kita suka lupa. Mencari ilmu pengasuhan ke sana kemari, Dan memperlakukan anak-anak kita sebagai “objek”. Padahal, children has their own wisdom. Ilmu pengasuhan, diperlukan sampai tataran prinsip . Komunitas pengasuhan, diperlukan untuk memberikan ide-ide operasionalisasi prinsip pengasuhan.Untuk bisa mengamalkan ilmu itu di rumah, pada anak-anak kita,  Jangan lupa…. Posisikan mereka sebagai subjek. Tanya kebutuhan/pendapat mereka dengan tulus, Tumbuhkan kerendahan hati untuk mau mendengarkan, Mempercayai dan menghargai kebutuhan/pendapat mereka.

Karena saya sudah menjanjikan untuk memberikan “sesuatu” pada yang sharingnya paling istimewa, maka dari 4 sharing inspiratif, saya memilih satu yang menurut saya paling istimewa. Adalah sharing dari Ibu Lenny Kendhawati. Yang istimewa dari sharing beliau adalah, “anak” yang beliau tanya bukan berusia 3 tahun atau 13 tahun. Tapi 32 tahun ! yang juga sudah menjadi seorang ibu.  Hal ini membuat saya kembali teringatkan bahwa peran menjadi ibu itu, hanya selesai pada saat salah satu dari kita- ibu atau anak-; menutup mata. Peran menyayangi, melindungi, menjaga, mendidik itu terus melekat dalam diri kita. 

Berikut adalah jawaban dari puteri ibu Lenny : P_32_(+) kalau ibu bekelin makanan / P_32_(-) kalau ibu meragukan aku. Pas bacanya saya sampai berkaca-kaca… See? hal sederhana “bekelin” makanan, ternyata begitu berkesan. “Diragukan” adalah hal yang paling tidak disukai. Dengan cara ini; dengan ketulusan bertanya, dengan kerendahan hati mendengarkan, kita jadi punya kompas, jalan mana yang tak boleh kita ulangi. Bukankah jawaban-jawaban seperti ini adalah jawaban dari doa “ihdinassirootol mustaqiim” kita? 

Meskipun tak banyak yang sharing di postingan #ParentingGames 02, saya berharap kegiatan ini benar-benar dilakukan, untuk beragam hal dalam pengasuhan. Jangan budayakan “saya menyimak”, tapi budayakan “saya amalkan”. Jujur saja, memang aktifitas ini bukan hal yang mudah. Karena kita sebagai “orang dewasa” selalu punya pilihan untuk mengabaikan pikiran dan perasaan anak-anak. Merasa tak perlu mendengarkannya, merasa tak perlu menggali lebih jauh apa maksudnya, merasa tak perlu merenungkan pikiran dan pendapat mereka. Hanya saja, kalau kita terus bersikap demikian, kita telah menutup mata dari kompas pengasuhan yang Allah sediakan sebagai jawaban dari permohonan kita. Atau, mungkin permohonan kita pada Allah hanya basa-basi saja.

Percayalah, “working together with our children” membuat penjelajahan dan perjalanan pengasuhan menjadi seru dan menarik.

 

 

Advertisements

PAUD dan PR

Hari Kamis lalu, menjelang long wiken, saat saya tiba di rumah sore, si bungsu TK B bercerita bahwa ia dikasih “PR” sama gurunya. Apaaaah? anak TK dikasih PR? TK apa itu? pasti TK gak bener itu ! pasti cuman bisnis doang ! makanya, sebelum SD itu anak gak usah “disekolahkan”. Ibu adalah guru terbaik buat anak. Tuh kaaan…kalau disekolahkan anak dikasih beban yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Anak PAUD itu harusnya bermain yang kreatif bersama ibu, bukan dibebani dengan PR.

Kira-kira begitulah reaksi saya kalau dikomik-kan heheh #hiperbola. Yups, saya pernah membaca pendapat yang meng”haram”kan PR. Apalagi pada anak PAUD. Kenapa ya, gak boleh ada PR ? Kenapa anak PAUD gak boleh dikasih PR?

Oh…oh…saya tau jawabannya: Karena “PR” itu identik dengan “akademik”. PR menghafalkan perkalian. PR ngerjain berlembar-lembar soal. Kadangkala, konon katanya PR dijadikan alat bagi guru-guru yang “malas” menjelaskan materi. Jadi murid dikasih PR yang belum dijelaskan materinya. Itulah sebabnya PR, konon juga katanya jadi pintu gerbang buat ibu-ibu yang gemesh sama anaknya yang gak ngerti materi pelajaran, dan melakukan KDRT dengan verbal : “masa gitu aja gak bisa?” atau dengan perilaku : mencubit, menjiwir, memukul. Duh, bahaya banget ya dampak PR itu 😉

Nah, bener-bener…kalau anak PAUD dikasih PR, bahaya banget tuh… padahal, setiap kali saya sharing sama ibu-ibu maupun guru TK, saya selalu bilang : “sekolah formal” pertama anak-anak itu adalah SD. SEKOLAH Dasar. Kalau TK, ya bukan sekolah. Namanya juga TAMAN. Secara filosofis nama juga beda. 

Oke…oke…kalau ngasih PR ke anak TK itu adalah “malpraktik” pendidikan anak usia dini, pasti anak akan terbebani, kesel, males, muncul emosi negatif. Baiklah, mari kita amati si bungsu…

Waktu si bungsu ngasih tau bahwa dia punya “PR” dari bu guru, kenapa dia memberi tahu saya dengan wajah “sumringah” ya? “Bu, de Azzam dikasih PR sama bu guru. Ibu tau gak PRnya? de Azzam harus bikin makanan atau minuman kesukaan de Azzam. Terus, pas bikinnya, de Azzam harus di video-in, terus dikirim ke bu guru. Gitu bu…de Azzam, gak sabar pengen ngerjain PRnya ! bikin apa ya bu? bikin nutrijel, de Azzam udah bisa sendiri belum? harus sendiri bu, jadi harus pilih bikin-bikin yang de Azzam gak perlu bantuan ibu dan abah”

Hhhmmm….aneh nih. Kan harusnya anak stress ya kalau dikasih PR, tapi ini kenapa gak stress ya? malah antusias. Yang salah teorinya atau anaknya ya? Seinget saya, ini memang bukan kali pertama si bungsu dapat “PR” dari gurunya.

Beberapa bulan lalu, pas long wiken juga, si bungsu dikasih PR menggambar. “Kata bu guru, menggambarnya jangan langsung sekali, harus dicicil tiap hari sedikit-sedikit. Biar bagus. Idenya harus kreatif”. Dan pesan gurunya, dia amalkan sepenuh hati. Tiap pagi dia akan mengingatkan saya untuk “temenin bikin PR menggambar”. Lalu seperempat jam kemudian, dia berhenti : “Kan kata bu guru gak boleh langsung selesai, biar bagus. Besok dikerjain lagi”. Dan jadilah gambar itu, hardfilenya dikumpulkan ke bu guru, softfilenya saya kirim ke majalah bobo junior, yang ternyata 2 minggu kemudian dimuat. Wah, bahagia sekali si bungsu (dan emaknya hehe).

PR lainnya yang saya ingat adalah : membuat roket dari barang bekas. Hasilnya dikirim via foto di grup wa. Ngerjainnya sama papanya masing-masing. Waaah…gile..kreatif-kreatif ternyata para papa memberikan ide dan mengerjakan “PR” itu bersama anak-anaknya. Akhirnya, setelah 2 minggu karena si abah lagi padet di luar kota, roket si bungsu pun jadi. Waktu bikin, dia semangaaat banget. Sampai pas udah jadi, sebelum dikumpulkan (dan ternyata hanya diperlihatkan aja sama bu guru, selanjutnya dibawa pulang lagi), dia pajang di lemari. Sesekali diambil, dipeluk, dicium-cium sambil muji diri sendiri : “ternyata de Azzam, bisa bikin roket yang bagus ya”.  Saking terharunya bu guru karena anak-anak begitu antusias mengerjakan, bu guru pun membuat gantungan kunci buat anak-anak, bergambar foto masing-masing anak dengan roket buatannya. Gantungan kunci itu jadi kebanggan si bungsu.

PR lainnya yang saya ingat adalah, sebulan lalu bu guru minta anak-anak yang sudah bisa menulis untuk menulis kata, yang berawalan huruf tertentu. Hurufnya berurut mulai dari a,b,c,d, dst per hari. Si bungsu yang termasuk sudah terlatih motorik halusnya dan sudah bisa mengeja, juga semangat mengerjakan “PR” ini. Meskipun dia bilang: “Bu guru engga bilang harus nulis berapa kata, katanya terserah. Kalau de Azzam tulisannya kecil, berarti harus banyak. De Azzam mau tulisannya besar aja aaah….biar sedikit kata-nya”. Cukup menyenangkan menemaninya mengerjakan PR ini. Terutama ketika si bungsu “mikir” kata apa yang berawalan huruf tersebut, lalu terpikir satu kata yang lucu: seperti “cangcut dan dodolipret” 😉

Dan, PR membuat makanan kesukaan ini, akhirnya dikerjakan dengan tak kalah antusiasnya dengan PR-PR nya sebelumnya. Saya jadi penonton, si abah jadi kameramen. Dia sudah memutuskan akan membuat telor ceplok kesukaannya. Mulai dari memecahkan telur, memasukkan ke wajan, membalik telur, sampai mengangkat ke piring. Menyalakan dan mematikan kompor, di hasil video terlihat tangan si abah membantu hehe… Sambil melakukan aksinya, gaya si bungsu udah kayak youtuber-youtuber gitu, Meskipun gak pake kata “gays” ya kkk… “Haloo…kita akan membuat ceplok telor…oke, kita mulai saja….”.

Kemarin, ketika saya pulang sore, dia cerita : “Bu, yang kirim video ke Bu Guru cuman bertiga. Dia sebut nama temannya dan apa yang dibuatnya. Gak apa-apa gak ngumpulin juga. Tapi yang ngumpulin dikasih kertas stiker …yeay….

PR2Nah..dari pengamatan saya terhadap jenis PR, sikap si bungsu terhadap PR dan sikap bu guru terhadap PR, saya jadi bisa menyimpulkan : Bukan “Ada PR” atau “Tidak ada PR” yang menjadi inti permasalahan. Tapi yang harus kita cermati adalah:

(1) Apa tujuan PR? Menurut saya, di jenjang pendidikan manapun, tujuan memberi PR atau tugas, akan menentukan bentuk PR apa yang diberikan dan bagaimana sikap siswa terhadap PR tersebut. Misal, di sebuah Perguruan Tinggi nun jauh disana, PR yang diberikan dosen pada mahasiswa adalah menerjemahkan buku/chapter buku. Lalu hasil PR mahasiswa tersebut, di klaim sebagai kinerja menerjemahkan buku untuk kepentingan dosen tersebut. Nah, kalau tugasnya macam ini, mahasiswa gak merasa ada manfaatnya buat dia. Ya, kalau dibikin-bikin sih bisa ada aja. Tapi kalau secara tulus kita hayati, mahasiswa bisa jadi gak dapet apa-apa dengan tugas semacam ini. Saya sendiri sebagai dosen merasakan; ketika merancang tugas/PR itu, tidak mudah. Harus kita hayati betul bentuk aktifitasnya seperti apa, tingkat kesulitannya, lalu nanti bentuk feedbacknya seperti apa.

(2) Bentuk PRnya seperti apa? Setelah saya ngobrol dengan bu guru, ternyata bentuk-bentuk PR yang diberikan pada anak-anak itu, adalah upaya bu guru agar anak-anak terisi waktu luangnya dengan kegiatan yang menstimulasi daya kreatifitas dan kemandirian anak. Maklum, saat libur, para ortu mengeluh ke bu guru: “anak-anak kalau di rumah main gadget terus”. Saya sih gak ikut mengeluh karena saya tahu bahwa  kalau  saya mengeluh begitu, senjata makan tuan buat saya. Kenapa ibu kasih gadget dan gak nemenin anak main? Gak mungkin dong anak  umur 5 tahun main sendiri sementara emaknya gadget-an ;). Dan tugas-tugas tersebut, disesuaikan tingkat kesulitannya dengan kemampuan anak. Juga disesuaikan dengan kondisi “jaman now”. Misal mengirim PR berbentuk foto dan video ke wa bu guru 😉

(3) Reward/punishment terhadap PR. Apakah anak-anak yang tidak mengumpulkan PR diberi hukuman? tidak. Yang mengumpulkan yang diberi reward. Pas dengan tahap perkembangan anak.

Maka, dari pengalaman ini saya mendapatkan satu pelajaran : jangan terjebak nama/istilah. Kita biasakan untuk mengamati (atau bahasa kerennya “menganalisa”) elemen-elemen dari suatu kejadian. Ada banyak keterjebakan yang bisa kita hindari dengan pola seperti ini : mengamati elemen-elemen dari suatu kejadian. Katanya itu yang namanya CRITICAL THINKING. Itu yang membedakan manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna dengan makhluk lainnya : manusia diberi akal. 

Apalagi para emaks jaman now yang mengalami tsunami informasi : kata pakar ini boleh, kata ahli ini gak boleh, kata BC-an yang ini harus begini, kata BC-an yang itu gak boleh begini…

Ketika Allah mentakdirkan kita menjadi ibu, maka Allah sudah menganugerahi potensi untuk berpikir, merasa dan bertindak yang paling tepat bagi anak-anak kita. Ya, ilmu pengasuhan harus kita cari untuk mengaktivasi potensi tersebut. Lalu kemudian, curahkan energi kita untuk mengamati anak, mengamati elemen-elemen kejadian dalam persoalan anak. Kalau ada kebimbangan, diskusikan dengan orang yang kita percayai keilmuannya. Insyaallah, kita akan rileks dan tenang dalam menjalani beragam perjalanan bersama buah hati. Itulah hakikatnya “bukan emak biasa” (yang perlu bukunya inbox ya..haha….pesan sponsor)

Sang Rahim

Terbanglah anakku,
terbanglah setinggi yang kau mau,
terbanglah setinggi yang kau bisa

More

Captain America vs Hulk : Obrolan Cinta dengan Kaka

Beberapa minggu lalu, kayaknya sebagai bagian dari promosi buat film Spiderman Homecoming yang tayang di bioskop, TV kabel yang kami langgan memutar film-film Marvel. Saya gak pernah tertarik untuk nonton film action kayak gitu. Lebih seneng drama tentunya. Tapi nemenin si sulung dan si bujang, jadilah saya nonton Captain America: Civil War. Seru juga ternyata. Dan Karena itu adalah sekuel terakhir dari film-film Marvel, maka sepanjang nonton saya terus nanya-nanya terus tentang tokoh2 disana. Si sulung dan si bujang menjawab: “Ibu…kalau ibu mau ngerti, ibu harus nonton Captain America: First Avenger, Captain America: Winter soldier, Thor, Thor The Dark World, Avenger, Avenger Age of Ultron, The Hulk, Incredible Hulk, Iron Man 1,2 dan 3″. Ya ampuun …. banyak amat. Mereka taunya dari mana ya? Harus bareng nih kalau nonton film-film kayak gitu. Daaaaan….seminggu itu, pas anak-anak belum masuk sekolah, sebagian film yang disebutkan si sulung dan si bujang, tayang juga. Jadilah tau sejarah Thor punya hammer, siapa itu Bucky dan Loki, Vision itu siapa, dll dll. Khatam lah pokoknya chapter Avengers kkk.

avengerWaktu itu, 4 hari si bujang kecil dan si gadis kecil ikutan kegiatan liburan. Si bungsu bobo siang. Jadilah saya dan si sulung nonton Avenger berdua. Sambil rebutan gurilem cemilan kami. Setelah nonton, saya tanya si sulung: “Kaka, dari Avengers Kaka paling seneng sama siapa?” Sepersekian detik, dia langsung jawab: “Kapten Amerika!”. “Kenapa?” tanya saya. Nah, bagian mendengarkan jawaban dari pertanyaan kenapa yang saya ajukan ke anak-anak, selalu seru dan selalu saya nikmati. Saya selalu excited mendengarkan pikiran dan perasaan anak-anak umur 5,8,11, dan 14 tahun itu. Teknik proyeksi kalau dari sudut pandang psikologi mah.

“Ya jelas lah ibu…..ganteng. Terus baik banget. Ibu inget kan waktu latihan trus dilemparin granat tea? yang  waktu dia masih ceking? trus dia teh malah meluk granat itu buat ngelindungin temen-temennya? so sweet banget …” Begitu jawab si sulung. Haha…memang sih..kalau film ini dimaksudkan untuk membentuk citra yang baik pada “prajurit Amerika”, film ini berhasil banget. Banget.

Lalu si sulung bertanya pada saya: “Kalau ibu suka sama siapa?” Saya jawab: “Dr. Bruce Banner”. “Haaaaah…beneran Bu, Ibu suka sama Hulk?” matanya membelalak tak percaya. “Bukan Hulk Kaka, Dr. Bruce Banner. Memang dia berubah jadi Hulk, tapi kan dia sendiri bilang Hulk itu the other guy. Beda sama dia”

“Ih, aneh ibu mah. Dia kan paling gak ganteng ibu”…… “Iya, tapi dia teh menurut ibu paling menonjol inner beautynya. Humble banget. Itu yang gak terlalu dimiliki yang lain. Padahal dia kan pinter banget. Dia tau banget kelemahan dia, dan dia berjuang mengendalikan. Kan dia mengabdikan dirinya di India”. Saya menjelaskan. “Tapi wajar sih Kaka pilih Kapten Amerika. Ibu juga kalau seumur Kaka pasti pilih Kapten Amerika”. Kata saya lagi. “Haha…iya Kaka juga ngerti kenapa Ibu suka sama Bruce Banner. Ibu kan udah tua haha….” nikmat banget ketawa si sulung.

“Yah, tapi itulah Ka…..rasa cinta itu berevolusi. Kalau seumur Kaka, meskipun ada unsur pertimbangan “baik atau engga”nya, tapi tampilan fiisk pasti yang utama. Pasti Kaka juga suka sama cowok pertimbangan utama karena menarik secara fisik. Bikin degdegan. Begitu juga Kaka disukain cowok karena fisik Kaka. Kalau kata teori, itu namanya romantic love. Gak salah sih. Kalau kayak Kapten Amerika ganteng dan baik, alhamdulillah. Tapi pada kenyataannya nanti, seringkali kita harus memilih. Antara ‘suka’ karena perasaan atau “suka” karena rasional, karena kualitas dirinya.”

“Nah, kualitas diri itu, baru ajeg kalau udah dewasa. Makanya, gapapa kalau Kaka suka dan disukai sama temen seumur Kaka. Tapi kalau memutuskan untuk memberikan seluruh diri kita sama orang itu saat ini, kayak misalnya berhubungan sex, itu salah banget. Simpan dulu aja rasa suka itu dalam hati. Karena belum keliatan kualitas sesungguhnya dari orang itu.” 

“Nah..kalau udah seumur ibu dan abah, fisik tuh udah gak penting lagi. Seganteng-ganteng orang, kalau udah tua ya gak ganteng lagi. Jadi gendut lah, botak lah, apalagi kalau udah kena penyakit. Suka sama fisik itu, kalau dijadikan satu-satunya pertimbangan, akan bentar banget bertahannya. Kalau udah seumur ibu dan abah, yang membuat jatuh cinta adalah kebaikan hati. Jadi kebaikan hati itu yang harus jadi pertimbangan utama. Kayak Dr. Bruce Banner haha….. Bayangkan kita akan hidup bersama dengan orang itu, menderita banget kita kalau dia ganteng tapi nyebelin”

“Tapi kalau ada yang kayak Kapten Amerika ganteng terus dan baik, oke kan bu?”//Iya sih, tapi kayaknya model gitu cuman ada dua orang Ka, satu udah meninggal satu lagi belum lahir” 

Hahaaa…kami pun tertawa nikmat bersama.

Kurang lebih dua tahun menjadi ibu dari seorang remaja, saya mengalami betapa sulitnya membuka dan menjalin komunikasi yang menyenangkan dengan mereka. Padahal nilai-nilai kehidupan justru kritis harus masuk di masa ini, sejalan dengan “studi kasus nyata” yang mereka hadapi sehari-hari. Dalam beberapa tulisan sebelumnya saya menuliskan pengalaman sulitnya “membuka pintu” masuk obrolan dengan remaja. Kalau sama adik-adiknya, gampang. Tinggal bilang: “sini, ibu peluk”. Dan sambil memeluk mereka, gampaaaaang banget ngajak ngobrol apapun. Dari yang remeh temeh gak penting, sampai dengan suara dari lubuk hati terdalam.

Nah kalau sama si remaja? meluk? kalau gak dalam konteks pamit, aneh banget. Ujug-ujug ngajak ngobrol? udah saya coba. Awkward banget. Obrolan dengan para orangtua remaja, membuat saya menyimpulkan bahwa hal yang paling sulit mengasuh remaja adalah, membuka obrolan untuk masuk ke konten “serius”

Maka, obrolan ringan seperti yang terjadi di atas, sangat saya nikmati. Saya merasa sudah menemukan satu lagi pintu masuk, menambah koleksi “pintu masuk” lainnya. Dan seperti yang dituliskan di beragam buku, remaja usia SMP itu, masih membutuhkan orangtuanya. Mereka senang ngobrol, haha hihi, curhat sama teman sebayanya. Tapi mereka juga masih enjoy ngobrol, haha hihi dan curhat sama orangtua serta sudara-saudaranya.

Saya sangat suka dengan perumpamaan mengasuh remaja itu seperti bermain layangan. Kadang benangnya kita ulur sampai tak terlihat, kadang kita tarik dan kita pegang. Tapi yang jelas, benangnya jangan sampai putus. Nah, mempertahankan agar benang itu tak putus, saya rasakan bukan hal yang mudah. Karena kalau sudah putus, sulit. sangat sulit menyambungkannya lagi. Maka, sekali lagi, obtrolan ringan dan lucu seperti ini, sangat saya nikmati dan saya syukuri.

 

Interdependensi emak-emak; Profesionalisme emak-emak

Salah satu quality time yang baru saya sadari antara saya dan anak-anak, adalah bada shubuh. Kalau si abah ada di rumah, pulang dari mesjid bersama si bujang kecil, biasanya si abah memutar ceramah pagi dari beberapa ustadz, dan kami dengarkan sambil melakukan aktiiftas masing-masing. Anak-anak mandi, saya nyiapin sarapan atau panik ngerjain deadline yang belum beres haha. Nah, kalau si abah gak ada, bada subuh sepulang si bujang kecil dari masjid, dengan masih bersarung-bermukena, kami suka tidur-tiduran di musholla. Si bungsu dan di gadis kecil biasanya minta dipeluk lagi dengan alasan klise; “kedinginan”.

Nah….sambil itu, biasanya kami ngobrol macem-macem. Kadang saya ngasih nasehat…. paling sering bahas arti doa sesudah sholat. Sampai-sampai anak-anak sering nyela …iya bu..udah tau…bla..bla..bla… kan? Tapi saya gak mau kalah. Selalu saya kasih tambahan contoh konkrit terkait doa itu. Misal doa “allahumma inna as’aluka salamatan fid diiin….. “. Apa sih maksud “selamat dalam agama itu?” setiap hari banyak contoh konkrit yang berbeda-beda. “waafiyatan fil jasad….” banyak banget contoh yang berbeda-beda tiap hari. Pengalaman saya menengok teman, pengalaman anak-anak mengenai beragam kuman dan penyakit…. dan selanjutnya. Biasanya dari contoh ilustrasi doa itu, berlanjut obrolan panjaaaaaang… maklum interpretasi dari anak umur 14, 11, 8 dan 5, seringkali liar dan tak terduga. Dari yang super ilmiah sampai yang super kocak dan polos. Yang kocak hampir pasti dari si gadis kecil yang sering mengutip pernyataan tokoh kartun favoritnya, si Juki kkk

Pagi ini, obrolan di musholla kami adalah obrolan yang super duper berat; obrolan yang saya takuti selama ini. Obrolan mulai dari tema “ciuman”. Dimulai dengan si bungsu yang bilang: “bu, ayo kita ciuman menikah”. Maksudnya bibir ke bibir. Karena dia masih kecil, saya cium dia, lalu cium seluruh wajahnya. Seneng banget si bungsu mengabsen semua bagian wajahnya untuk dicium. Mata? hidung? nonong?  nanti dia akan iseng lanjut ke …. ketek….

Nah, si bujang kecil menyela: “bu, setelah nikah ibu dan abah ciuman kan? ciuman teh caranya punya bayi kan?”. Si gadis kecil menyela: “Bukan atuh mas, kata di buku Aku Tahu Asal Usulku, sel sperma dari ayah dan sel telur dari ibu bertemu saat ayah dan ibu menyatukan tubuhnya”. Si bujang kecil lanjut lagi: “iya menyatukan tubuh teh gimana? ciuman kan? kan sel sperma teh diproduksi di testis, gimana bu nyampe di mulut. Trus emang sel telur ibu di mulut? bukannya di rahim? rehim teh di perut kan?”

Oh My God…. tau gak …pertanyaan itu, pertanyaan tentang “bagaimana cara sel sperma ketemu sel telur”, itu adalah pertanyaan yang paling saya takuti sejak masih punya satu anak. Kenapa? karena saya gak tau dan gak yakin gimana cara jawabnya. Kalau dikasihtau bahwa caranya adalah  penis masuk ke vagina…. jujur saya gak siap dengan pertanyaan-pertanyaan  selanjutnya. Tapi kalau menghindar gak menjawab, gampang banget buat anak-anak ketik cari tau di google, takutnya yang keluar malah gambar yang ajaib.

“Nanti Mas akan belajar di pelajaran biologi Mas” jawab saya. Bu Guru….Pak Guru…..saya mengandalkanmuuuuuu hehe… “Tapi Mas mau tau sekarang bu….” jawabnya mendesak. Haduuuuh… udah bahagia banget si sulung gak nanya tentang itu. Eh….kejadian juga ditanya si bujang kecil yang memang super kritis.

“Nanti ibu tanya tanteu XXX ya…Tanteu XXX temen ibu yang belajar tentang itu”. Jawab saya. Sukurlah pembicaraan akhirnya beralih ke topik baju yang akan dipake si gadis kecil di pentas profesi dua minggu lagi. Dia memilih profesi pelukis dari pilihan profesi2 yang tersedia. Sejak kemarin saya memeras pikiran gimana ya baju pelukis itu? udah ada beberaap ide, tapi sebagai orang yang tidak kreatif, saya takut ide itu garing ….

Maka, setengah enam tadi, saya bukan laptop dan kirim wa panjang lebar pada dua teman saya. Satu teman saya, peneliti di bidang kesehatan reproduksi dan pendidikan seksualitas. Melalui studi-studinya di Bandung, dia akan tau betul gimana caranya jawab pertanyaan si bujang kecil yang tidak berpotensi mengarah pada rasa penasaran yang tersalur pada cara negatif. Saya inget banget obrolan-obrolan kami: “anak tuh butuh informasi tentang seksualitas. Mereka tuh butuh orangtua menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Tapi kalau kita gak siap, pertanyaan itu akan mereka terus cari jawabannya. Dan dari internet atau dari teman, informasinya gak selalu baik dan benar”. Itulah sebabnya ia bersama tim nya menyusun program eduksi seksualitas untuk remaja di kota Bandung lewat sekolah.

Teman kedua yang saya wa panjang lebar adalah teman saya designer yang super duper kreatif. Tentang design baju pelukis si gadis kecil.

Ahh….. dulu, saya tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang mengatakan : “Kamu harus mandiri. Harus bisa semuanya sendiri. Itu artinya kamu  hebat. Kalau kamu minta tolong orang lain, berari kamu lemah”. Gak salah sih. Tapi saya bersyukur, perjalanan hidup  saya selanjutnya mengenalkan saya pada  prinsip yang jauh lebih mempesona. “interdependensi. Saling tergantung”. Saya inget banget, pertama kali saya baca di Salman dari bukunya Covey. Asumsi yang mendasarinya sangat “rendah hati” menurut saya: bahwa di dunia yang akan datang, tantangan sedemikian kompleks sehingga tak satu pun dari kita punya kapasitas untuk menghadapinya kompleksitas tersebut sendirian. Sehebat apapun kita. Maka itulah, kita kuasai satu hal secara mendalam, lalu kita bersinergi dengan orang lain yang punya keahlian berbeda. Itulah caranya kita menaklukkan tantangan.

Prinsip itu, memang ditujukan untuk dunia profesi. Tapi sebagai seorang ibu, prinsip itu sangat amat aplikatif. Kita tak harus jadi “ibu hebat”; “ibu super”; … kita jadi ibu yang …manusiawi aja. Punya kelebihan, punya kekurangan. Kelebihan yang kita miliki, kita bagikan; siapa tau bisa membantu ibu lain yang gak punya kelebihan itu. Kekurangan yang kita miliki, kita “tambal” dengan meminta bantuan pada ibu lain yang punya kelebihan dalam hal itu.

Financial dependent300Dengan kompleksitas peran kita sebagai ibu, “harus tau segalanya”, “harus menguasai segalanya”, “harus mengajarkan semuanya”, adalah “misi bunuh diri” buat saya. Dan kita gak akan banyak belajar hal baru dengan berprinsip demikian. Mari bekerjasama. Meminta bantuan itu bukan tanda kelemahan. Meminta bantuan itu adalah tanda penghargaan pada orang lain dan latihan kerendahan hati. Tanya pada mereka yang ahli di bidangnya. Minta tolong pada mereka yang memiliki keterampilan di bidangnya. Hasilnya? tak hanya anak kita yang akan belajar, tapi juga kita. Tak hanya anak kita yang dapat pengetahuan dan keterampilan baru, tapi kita juga. Jadi kita berkembang bersama.

Saya sudah menerapkan prinsip ini, dan PAS buat saya. Anak-anak kebagian siapin makan buat temen-temen sekelasnya; minta tolong temen yang bikinin bento super duper lutu. Anak senang, saya senang, teman saya senang. Saya paling gak bisa mendongeng. Saya bawa ke temen saya yang jago mendongeng. Anak saya kagum, saya juga kagum. Menggambar? haduuuh….nilai menggambar saya waktu SMA 50 dari 100 saking bututnya. Saya bawa ke temen yang bisa ngajarin cara gambar dengan mudah dan sederhana. Anak saya belajar hal baru, saya juga. Anak-anak tanya mainan yang seru? saya tanya temen saya yang jualan mainan. Anak cari media belajar yang asik? saya tanya ke temen saya yang seneng dan banyak tau tentang multimedia. Banyaaak banget yang kita bisa sinergikan dengan para emak yang lain.

Itulah hakikat bahwa kita Bukan Emak Biasa. Btw, kalau mau pesan, stok baru buku BUKAN EMAK BIASA datang hari ini. Mangga bisa wa ke no 0812-1416-2629 dengan menyebutkan nama, jumlah pemesanan dan alamat lengkap. Haha….kesempatan dalam kesempitan 😉

Pokoknya mah ..semangat emaks!!!! You are not alone…..

 

 

Calon Mantu

Bener banget deh Om Duvall yang menyusun teori tahap perkembangan keluarga,  berdasarkan usia anak pertama.(Btw,  Duvall teh om atau tante ya? hehe)

Pentahapannya sebagai berikut:

1 – Married couples (no children) 2 – Childbearing families (oldest child aged birth to 30 months) 3 – Families with preschool children (oldest child aged 2½ to 6 years) 4 – Families with school children (oldest child aged 6 to 13 years) 5 – Families with teenagers (oldest child aged 13 to 20 years) 6 – Families launching young adults (stage begins when oldest child leaves home and ends when youngest child leaves home) 7 – Middle-aged parents (stage begins with empty nest and ends at start of retirement) 8 – Aging family members (stage begins with spouses’ retirement and ends at their deaths) (Duvall& Miller, 1985) 

Kenapa bener banget? Karena saya merasakannya. Kalau menurut pandangan “family system theory”, keluarga itu adalah sebuah sistem. Perubahan dalam satu elemen sistem itu, pasti berpengaruh pada perubahan sistem keluarga secara keseluruhan. Salah satu sumber perubahan, adalah perkembangan dari masing-masing anggota keluarga.

Yang paling gampang? penampakan keluarga secara “kasat mata” adalah rumah. Saya tuh lagi seneng banget “mengamati” hal-hal yang “kasat mata”, yang biasanya kita pandang hal yang tak bermakna, padahal bermakna banget. Saya terpesona untuk mengamati tuh sejak saya denger papar Uicol Kim, tokoh indigenous psychology yang paparannya isinya adalah gambar-gambar pengamatan terhadap perubahan yang terjadi, yang kalau direfleksikan itu sebenernya maknanya “dalem”. Hal-hal sederhana…misalnya cara berpakaian orang 20, 15, 10, 5 tahun lalu dibandingkan sekarang. Cara menggendong bayi, cara ngobrol keluarga, bentuk rumah, pilihan transportasi, macen-macem.

Terkait dengan tahap perkembangan keluarga, beda banget rumah keluarga dari setiap tahapan. Rumah yang di dalamnya ada balita, “penampakannya”  beda dengan rumah yang bungsunya udah remaja. Bahkan, hal “sederhana” ini kalau dirunut bisa jadi sumber permasalahan sekaligus sumber pemecahan masalah. Misalnya, pernah ada masalah tumbuh kembang, setelah dirunut…… anak tinggal di rumah kakek nenek yang rumahnya penuh dengan kristal. Anak balita, lagi butuh lari-lari sana sini, lompat-lompat manjat-manjat, di sekelilingnya kristal mahal, tidak ada alternatif tempat, jadinya ya….apa yang harusnya berkembang menjadi tidak berkembang. Trus, bisa juga loh masalah fisik ini jadi solusi masalah “berat” dalam keluarga. Masalahnya, yang “berat-berat” itu selalu berawal dari yang “ringan”. Misalnya nih….Ruang kerja suami  ada di lantai 1. Kamar suami istri di lt 2. Orangtua suami sudah sepuh di lantai 1. Suami seringkali harus ngerjain kerjaannya sampai malem. Sering abis kerja ketiduran di depan tv lantai 1. Istri tidur di lantai 2. Suami jadi lebih menghabiskan waktu di lantai 1 karena enak sekalian kerja. Istri marah karena merasa suami tidak peduli padanya. Suami marah karena merasa dituduh. Ketika susunan ruangan diubah, permasalahan berkurang.

Saya tuh seneeeng banget kalau berkunjung ke sebuah rumah yang masih punya balita, trus di kamar mandinya teh ada mainan haha…gak tau ya, seneng aja. Meskipun konon katanya sekarang, rumah yang ada balita-nya pun kini bisa rapi bersih tanpa berantakan mainan karena  mainannya tak perlu di bereskan, tak perlu banyak-banyak, karena mainannya hanya satu……gadget. Hiks…

Nah, kenapa saya bilang “bener” banget di awal tulisan ini, karena saya merasakannya. Sejak 2 tahun lalu, sejak si sulung keluarga kami tumbuh menjadi seorang remaja, kami masuk pada tahap perkembangan keluarga yang ke5, yaitu family with teenager. Salah satu yang berubah adalah “tema obrolan” saya dengan si abah. Berubaaaaah banget. Dan, salah satu obrolan seru yang muncul setahun belakangan ini adalah tentang….calon mantu … haha……

Tema ini muncul antara saya dan si abah karena diendorse oleh faktor luar sih, teman-teman saya dan teman-teman si abah kan sebagian udah masuk fase ini juga, jadi mulailah muncul kejadian anaknya diapelin lah, anaknya curhat dan bingung harus gimana ketika dia ditembak lah, dan semacam itu. Nah yang seru adalah, karena ini pertama kalinya saya melihat fenomena ini dari sudut pandang sebagai orangtua. Ternyata gak kalah seru dengan waktu menjalaninya dulu sebagai anak haha….

Misalnya ya, waktu itu seorang teman kita, cerita kalau anaknya yang kelas 1 SMP, diapelin sama anak SMA. Dia kaget banget, trus menginterogasi dan marah-marahin si cowok yang ngapelin anaknya itu. Ujungnya dinasehatin. Total 3 jam. Hwahaha…duh, nikmat banget waktu itu ketawanya.Tapi saya menangkap bahwa …. ini adalah proses yang harus dijalani oleh kita sebagai orangtua. Proses yang wajar …biar pada saatnya beneran harus melepas nanti, kita sudah sepenuhnya “ikhlas”.

Melepaskan anak pada orang lain, itu memang tak mudah. Mempercayai orang lain untuk “membawa” anak kita, itu tak mudah. Kalau seorang ibu “cemas”, itu sih udah biasa. Tapi seorang ayah, juga ternyata tak kalah cemasnya loh. Terutama pada anak perempuannya. Saya pernah dengar senior saya menyampaikan kecemasannya melepas ketiga putrinya saat akan menikah. Saya juga pernah nonton serial “Castle”, salah satu episodenya menggambarkan kecemasan sang ayah kala anak gadisnya mulai “berkencan”. Trus, saya suka pengen ngakak guling-guling mendengar ekspresi kecemasan si abah. “Nanti kalau ada yang ngelamar si sulung trus kita gak kenal sama sekali kita sewa dekektif swasta ya de” hahahaha…. “Pokoknya nanti harus di test Psikologi dulu ya De. Valid kan testnya untuk menggambarkan kepribadian dia?” kkkkk…saya teh ngebayangin si anak laki-laki itu ngerjain serangkaian test psikologi …. atau “pokoknya nanti pas ketemu aku, aku akan tanya  bla..bla..bla… Pas aku tanya, dirimu observasi ya de…” hahahaha….

Itu bagian lucunya. Kalau bagian reflektifnya…kita pernah ngobrol: “gimana ya rasanya … gimana caranya untuk percaya 100% sama orang yang akan menentukan selamat-tidaknya kehidupan anak yang kita cintai dan sayangi”. Bla…bla…bla… obrolan itu pun berujung pada satu tema lanjutan yang tak kalah lucunya : perjodohan hahaha….

Jadi pernah waktu kita mudik tahun lalu, si abah ngajak berkunjung ke rumah salah seorang temannya. “Dia punya anak kelas 1 SMA de, anaknya bagus, aktif berorganisasi, perilakunya baik, sekolahnya di sekolah yang kualitasnya bagus banget. Nanti kita jodohin sama si sulung” hahahaha…. Tapi setelah diobrolin, bener juga sih… nilai-nilai keluarga, bagaimana seorang anak dibesarkan … sedikit banyak akan mewarnai tumbuh kembang seorang individu. Mengenal orangtuanya, nilai yang tumbuh di keluarga tempat seseorang tumbuh dan berkembang, adalah salah satu ikhtiar, upaya yang bisa dilakukan. Dulu kan sebagai anak anti banget sama model “Siti Nurbaya”, tapi sekarang setelah jadi orangtua jadi “make sense”. Tentu saja gak pake acara paksa-paksaan, sebagai alternatif aja. Yang menentukan tetap yang akan menjalani, yaitu si anak. “Coba de, kita list yuks siapa-siapa aja temen-temen kita yang punya anak laki-laki umur 14-17 tahun” kata si abah…hahahha….baiklah….teh ini, kang itu, mas ini, mbak itu, bu ini, om itu….

Trus yang lucu lagi beberapa kali si abah cerita tentang rencana masa depannya terkait bisnis-bisnisnya. “Nanti CEO-nya harus orang teknik atau orang IT. Tapi kayaknya anak-anak kita gak ada yang tertarik ke teknik atau IT ya…Berarti kita cari calon mantu orang teknik atau orang IT.” hahahhaha…“Kaka, nanti kamu cari calon suami orang teknik atau orang IT ya” ….. kkkk. Si sulung langsung cemberut “apa sih abah…geje banget. Insyaf bah, bu….Kaka tuh masih 14 tahuuuuuuun” katanya. Saya godain gimana kalau nanti yang si sulung pilih orang yang jauh banget dunianya dari dunia kita. Misalnya artis, seniman, gitu… “iya ya…gimana ya de?” kata si abah. Dan kita pun ngobrolin itu. Gimana kita bisa “ridho” kalau ada perbedaan “selera” sama anak.

Etapi ya, selain seru, ngobrolin tema ini menurut saya termasuk obrolan yang “berkualitas” loh. Tatarannya “dalam”. Kenapa? kita-saya dan mas- seperti “mengkalibrasi value” kita berdua. Biasanya, “nilai hidup” seseorang itu, kita sadari dan kita pedulikan hanya pada saat-saat tertentu. Misalnya, yang jelas adalah saat menentukan saya mau menerima dia sebagai pasangan hidup saya atau engga. Kita evaluasi nilai hidupnya, match engga sama nilai hidup saya. Kalau  match, oke, menikah. Nah…rutinitas keseharian bisa membuat kita masing-masing mengalami perubahan nilai hidup. Apalagi pada pasangan macam saya. Yang masing-masing ; saya dan mas punya aktifitas profesi  sendiri-sendiri dengan segala macam pengalaman dan informasinya.

Saya banyak menemukan pasangan yang tiba-tiba “kaget”; salah satu atau salah dua nya…telah berubah nilai. Salah satu faktor yang menyadarkannya biasanya adalah pilihan yang terkait anak. Mau masukin sekolah kemana? yang satu pengen ke pesantren tradisional yang satu pengen ke sekolah yang berwawasan internasional. Negeri atau sekolah Islam? dll. Bukan masalah pilihannya. Tapi alasan dibalik pilihan itu yang menunjukkan nilai yang kita pegang. Apa yang penting dan apa yang tidak penting. Ini tidak melulu soal benar dan salah. Tapi soal sejalan atau tidak.

Kenapa ngobrolin calon mantu bisa mengkalibrasi nilai kehidupan saya dan mas? Karena dengan proses “memilih” (secara imajiner ya, da kan kenyatannya mah masih jauh kkk); sebenarnya kita memproyeksikan nilai-nilai kita pada calon-calon pilihan (imajiner) itu. Waktu rame-rame di medsos orang secara vulgar mengeluarkan nilai-nilai kehidupannya di medsos, itu jadi “studi kasus” buat ita. “Mau gak punya mantu yang peduli sama isu-isu kemanusiaan, tapi menganggap cukup menjadi muslim yang baik dengan hanya berperilaku baik, gak peduli aturan fikih”. “Mau gak punya mantu yang “gak peduli” pada pengembangan potensi dirinya, yang penting ritual agama ia penuhi secara sempurna”.  “Kalau gabung madzhab ini?”. “Pergaulannya sama komunitas itu?”

Perbedaan seperti apa dan dalam hal apa yang masih dalam lingkup toleransi kita? yang mana yang di luar lingkup toleransi kita? Kenapa? … Itu pembicaran yang “dalam” menurut saya. Pembicaraan yang berkualitas dan bergizi. Tak jarang kami berdebat panjang lebar…. ada nilai-nilai yang bergeser….lalu masing-masing kita saling mengungkapkan … ada sebagian yang lalu kita sepakat, ada yang sebagian tak sepakat tapi kita merasa “ridho” dengan ketidaksepakatan itu. Ada juga nilai-nilai yang kita seneng banget karena ternyata kita tetap sama. Terutama untuk nilai-nilai yang dasaaaar banget.

quote-the-man-who-is-fortunate-in-his-choice-of-son-in-law-gains-a-son-the-man-unfortunate-democritus-57-73-32Buat saya pribadi, pembicaraan tentang calon mantu ini selain menghibur, memfasilitasi kalibrasi nilai, juga menumbuhkan kesadaran … mulai berdoa untuk memohon pasangan yang baik bagi anak-anak saya. Juga mulai berikhtiar mendidik anak-anak saya untuk menjadi individu-individu yang matang, baik dan benar. Kalau sudah demikian, kita bisa percaya bahwa dia akan memilih pasangan yang “frekuensi”nya tak beda jauh dengannya.

Menghancurkan tembok ketidakpercayaan anak pada kita ; catatan tentang “trust” anak

Pagi tadi, si gadis kecil meminta uang pada saya. Tumben, hari selasa. Di sekolahnya, jatah “jajan” untuk kelas 2, kelasnya, adalah hari Rabu. Itu pun maksimal 5 ribu rupiah. “Ada bazar kelas 1 bu” katanya. Saya beri 12 ribu, beserta dompet kecil berwarna ungu bergambar gajah, oleh-oleh temen saya yang jalan-jalan ke Thailand beberapa tahun lalu. Bazar adalah program sekolah. Anak-anak di kelas tertentu berjualan, pembelinya adalah anak-anak dari kelas lain.

Sore tadi, pulang sekolah dia dan si bujang kecil cerita tentang bazar kelas 1. Si gadis kecil mengembalikan dompet kecilnya. Kosong. “Teteh habis semua uangnya? gak hilang? gak dikasih sama orang lain?” pertanyaan itu spontan mengalir. Jujur saja, saya kaget juga uang sebanyak itu habis. Dan kekagetan itu membawa saya pada dugaan-dugaan. Dugaan bahwa uangnya sebagian hilang, dikasih ke temennya atau…. di”palak” sama temennya. Saya mendengar beberapa kali peristiwa pemalakan. Mungkin niatnya bukan malak sih anak-anak itu; mungkin penilaian sosial mereka belum matang. Tapi bahwa ada beberapa anak yang suka memaksa meminta uang pada temannya yang lain, beberapa kali saya dengar. Minggu lalu, si gadis kecil bawa bekal kue tart ulang tahun saya, lalu dia cerita. “begitu teteh buka kotak bekel teteh, eh  *** dan *** (dua anak laki-laki) langsung menyerbu. Engga minta, langsung ambil dan abisin kue teteh”. 

Sehabis maghrib tadi, setelah menemaninya belajar dan membacakan buku untuk si bungsu, saya bilang ke si gadis kecil; “teteh, sini. Ibu mau bicara soal uang yag tadi pagi ibu kasih. Teteh cerita ya, uang itu habisnya gimana”. Di luar dugaan saya, dia langsung menangis tersedu-sedu. Baru minggu lalu saya belajar tentang emosi primer dan emosi sekunder. Perasaan yang tampak dan perasaan yang menjadi akarnya, di workshop family and couple therapy. Dia menangis; saya belum tau pasti kenapa. Yang jelas ia sedang mengalami perasaan tidak nyaman. Takut dan tidak nyaman.

Saya peluk dia. Dalam situasi seperti itu, saya tau dia butuh rasa nyaman. Saya juga kasih ia waktu  Beberapa kali saya tanya: “teteh udah siap cerita?” dia menjawab dengan tangisan. 30 menit. Setiap kali tangisnya berhenti, saya tanya ia sudah siap atau belum. Dan kali ketiga, sambil menangis dia menjawab: “tapi nanti ibu marah”. Saya peluk lagi sambil bilang “ibu janji ibu gak akan marah”. Siklus itu, dia berhenti nangis-saya tanya udah siap atau belum-lalu dia jawab “nanti ibu marah” sambil nangis lagi, berlangsung 3 kali. 30 menit lagi.

Sambil mengeratkan pelukan sebagai pernyataan bahwa saya tak akan marah apapun yang ia ceritakan, saya merenung. Saya tahu, saat itu, ada tembok ketidakpercayaan yang membentengi saya dan si gadis kecil. Dan rasa percaya itu, tumbuhnya tak bisa dipaksakan. Tidak bisa diyakinkan dengan kata-kata. Ia perlu tumbuh perlahan dalam hati, perlahan sampai cukup memberikan kekuatan. Itu proses yang tengah terjadi pada si gadis kecil. Apa yang membuatnya tak percaya pada saya?

Ada banyak hal yang tidak saya sadari. Beberapa hari ini saya sedang PMS. Gabungan dari rasa kram di rahim berhari-hari, nyeri payudara plus “sumbu pendek” membuat saya hobi “marah-marah gak jelas”. Sampai kata si bungsu, “ibu sekarang jadi pengesel”. Waktu saya tanya apa itu “pengesel”, dia bilang: “iya kan kalau orang yang suka marah-marah namanya pemarah. Nah, yang suka sering kesel namanya pengesel. Ibu pengesel”

Sikap saya itu, bisa jadi membuat tembok ketidakpercayaan itu hadir. LaLu intonasi dan bahasa nonverbal saya saat saya bertanya dan kaget ketika melihat uangnya habis, bisa juga membuat tembok itu semakin tinggi. Menyadari hal itu, saya bilang ke si gadis kecil: “ya udah engga apa-apa kalau teteh belum siap cerita. Tapi kalau teteh udah siap, teteh cerita ya”.

10 menit kemudia setelah memeluk saya erat, terdengar suara pelan si gadis kecil. “tadi kan teteh dikasih uang 12ribu sama ibu” katanya sambil menunjukkan 10 jarinya, dan meraih 2  jari saya. “Terus teteh beli marshmallow 2000. Terus beli nustrisari 2, 4000″. bla..bla..bla… dia jelaskan satu persatu. Terakhir, sambil terisak lagi dia sampaikan kalau ia memberikan uang 500 ke sahabatnya, yang sudah saya kenal baik.

Saya peluk lagi. “Oh gitu…terus, kenapa teteh takut ibu marah?”.Dia nangis lagi. Saya peluk lagi. “iya, teteh takut ibu marah karena teteh jajannya banyak” katanya. “terus teteh kasihin uangnya 500 sama ***** “(dia sebutkan lagi nama sahabatnya).

Sambil saya peluk, lalu saya sampaikan “maaf ya, kalau ibu bikin teteh jadi takut. Tadi ibu khawatir kalau uang teteh hilang, atau teteh dimintain uang dipaksa sama temen teteh. Kalau uangnya habis karena bazar sama dikasih sama ***** sih gak apa-apa” kata saya. “Yang engga boleh itu kalau teteh dipaksa diminta sama teman”

………………

TRUST. Kepercayaan. Saya selalu meyakini bahwa itu, adalah hal yang sangat mahal. Mahal, tak mudah untuk mendapatkannya. Priceless.TRUST adalah inti dari sebuah hubungan. Hubungan apapun. Antar siapapun. Inti dari cinta yang matang dan dewasa. Bahkan, dalam teori attachment, trust ini adalah inti dari kehidupan. Dan…saya sedikit banyak setuju dengan hal ini. Secara hakiki, kita tidak akan hidup nyaman tanpa rasa percaya pada orangtua kita, teman kita, pasangan kita, Allah kita. Eh tunggu…tanpa rasa percaya, bahkan kita tak akan bisa punya teman. Tak akan bisa menjalani hubungan dengan pasangan. Kita akan terus merasa rapuh, curiga, merasa sendirian.

Saya ingin mengulanginya lagi. TRUST itu, priceless karena ia tak bisa ditumbuhkan secara instan. Ia tak bisa diyakinkan oleh siapapun dengan kata-kata. Ia harus tumbuh perlahan dalam hati. Dan ia sensitif. Konon, diri kita ini berlapis-lapis seperti bawang. Mempercayai seseorang berarti berani membuka lapis demi lapis diri kita, membuka diri kita yang paling dalam. Maka, kepercayaan hanya akan tumbuh pada seseorang yang kita yakin tak akan melukai kita. Kepercayaan akan kita berikan pada seseorang yang kita yakin akan selalu menerima kita, betapa buruknya pun kita. 

Sabagai seorang ibu, saya menghayati…memelihara TRUST anak-anak kepada saya, menumbuhkan TRUST saya kepada mereka, adalah salah satu perjuangan terberat. Ibu, adalah pengejawantahan rahman-rahim; cinta tak bersyarat Allah di muka bumi. Ibu, adalah manusia yang ketika orang lain di seluruh dunia menolak seorang anak, ia  akan menerimanya. Ibu, adalah manusia yang ketika seorang anak melakukan kesalahan dan semua orang di dunia menutup pintu, ia merentangkan tangannya untuk memeluk. Ia adalah perwakilan rahman-rahimNya Allah di muka bumi ini. Melalui sikap mencintai tanpa syarat seorang ibu-lah anak bisa menghayati rahman-rahimNya ALlah.

Dan mempertahankan ikatan TRUST itu, tak mudah. Bagaimana tidak? anak usia prasekolah dan anak SD, adalah anak yang paling mudah tumbuh rasa percaya pada orangtunya. Anak SMP? Remaja? Pfuih….kita akan menghadapi tantangan super duper berat. Tapi liat apa yang saya alami… yang katanya mudah pun…tak mudah ternyata.

Saya selalu merasa ingin menshare kejadian “kecil” seperti ini pada teman-teman, terutama  para ibu yang tak “kenal” dengan psikologi. Saya ingin menunjukkan…lihat… saya, seorang psikolog, akademisi psikologi, yang bergelut dengan tema TRUST ini dalam klien-klien sehari-hari, dalam bacaan-bacaan…namun pada saat mempraktekkannya, tak semudah itu.

Maka, kalau teman-teman mengalami hal yang sama….it’s oke. Itu adalah hal yang wajar. Jangan merasa “saya bukan ibu yang baik”.jangan berpikri “saya tidak mampu”. Kita- saya, teman-teman, harus punya “self compassion”. “Belas kasih terhadap diri sendiri”. Menerima diri sendiri, dan percaya bahwa kita bisa belajar.

Saya bukan pengikut madzhab parenting yang mengatakan bahwa ibu itu harus “sempurna”; harus “kuat di mata anak-anak”. Perenungan saya membawa pada satu kesimpulan bahwa kita punya sebuah insting. Insting untuk melindungi anak kita. Sikap marah pada anak saat anak kita di bully, Sikap memaksa pada anak kita untuk menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya, sikap memaksa anak untuk mengikuti les ini les itu yang tak disukai anak, sikap mengkritik anak saat anak kita yang pintar tak mendapat nilai sempurna, semua itu sebenarnya didorong oleh insting untuk melindungi. Untuk melindungi, untuk meyakinkan bahwa anak kita mendapat bekal terbaik untuk kehidupannya.

Ibu yang baik bukan ibu yang tak pernah berbuat kesalahan. Bukan ibu yang tak pernah marah, bukan ibu yang selau terasa “sempurna”, bukan ibu yang tak pernah ngomel. Kita adalah emak-emak biasa yang tak biasa (haha…mulai absurd nih). Ketidak biasaan kita adalah karena kita selalu berusaha untuk peka. Peka ketika tembok ketidakpercayaan mulai tumbuh dan menghalangi hubungan kita dengan anak-anak kita. Dari mana kita tahu itu? dari pengalaman dan penghayatan kita.

Si sulung, pernah menceritakan masalah yang dialami seorang temannya. Beberapa hari, tema ceritanya sama. Saya penasaran. Saya baca chat di hapenya dengan temannya itu. Lalu saya tahu, masalah temannya sangat berat. Saya tawarkan untuk membantu. Dia tahu saya membaca chat hape tanpa izinnya. Setelah itu,  si sulung “shut down”. Tak pernah lagi cerita tentang temannya tersebut. Ia merasa tak aman dan tak bisa percaya lagi pada saya. Saya membaca chatnya tanpa izinnya. Saya memasuki wilayah privacynya. NIat saya bagus, tapi apa yang saya lakukan melanggar batas buatnya. Perlu waktu berbulan-bulan bagia saya untuk menumbuhkan lagi kepercayaaanya pada saya. Dengan menahan diri sekuat hati untuk tak baca chat hapenya, tak baca diarynya, tak memaksa ia menceritakan apa yang tak ingin ia ceritakan; sampai ia sedikit-sedikit mulai mau cerita lagi.

Si bujang kecil, pernah saya ceritakan dulu, pernah beberapa waktu tidak mau menunjukkan nilai-nilai ulangannya. Pernah “meledak” dan bilang pada saya kalau dia gak mau jadi anak pinter, maunya jadi anak bodoh aja. Kenapa? karena ketika nilai-nilainya “nyaris” 100, ia dapat pujian dari saya, tapi reaksi nonverbal saya gak nyambung. Ia bisa menangkap bahwa saya tak jujur merasa “bangga” pada upayanya. Perlu sekitar satu semester buat saya untuk menumbuhkan rasa percayanya kembali. Setiap ada ulangan yang dibagikan, ia akan menyembunyikannya. Setelah satu semester, baru ia berani menunjukkannya. Saya ingat, dengan ragu ia berkata: “bu, ulangan mas  jelek banget. 89”. Satu semester, adalah waktu yang cukup lama buat saya belajar tulus. “gapapa, tapi ibu liat mas  belajarnya sungguh-sungguh banget waktu itu” . “Iya ibu….nih liat…soalnya susaaaah banget …. itu teh cuman mas yang nilainya diatas 80. Ada dua orang yang 76, trus yang lainnya remedial”. Hiks, waktu itu saya asa pengen nangis. Saya bisa merasa kepercayaannya pada saya sudah mulai tumbuh. Ia berani cerita tanpa takut lagi “terlukai” oleh tanggapan saya.

Bahkan si bungsu pun, pernah tumbuh tembok ketidakpercayaannya pada saya. Waktu itu beberapa hari saya di rumah. Pagi hari, setiap melihat saya tak memakai “baju pergi”, ia langsung berbinar-binar: “Ibu gak ke kampus? ibu di rumah?”. “iya, ibu akan tunggu dede pulang sekolah di rumah, di meja kerja ibu ya” jawab saya. Jam 13, terdengar ia membuka pintu. “ibu…dede datang”katanya. Saya iseng. saya ngumpet. Maksudnya bercandain.  Si bungsu naik ke lantai dua, mencari-cari saya. Lalu nangis. Saya keluar dari tempat saya sembunyi, memeluknya. “Ibu bohong. Katanya ibu mau nunggu dede pulang sekolah di meja kerja ibu, tapi ibu engga ada” begitu katanya. Tau gak….berbulan-bulan setelah itu, setiap kali saya “berjanji”; menjemput dia ke sekolah, beliin ini itu sepulang dari kampus, ia tak percaya. Bahkan kalau sedang beraktivitas bersama, lalu tiba-tiba saya menghilang entah ke kamar mandi atau ke ruanagn lain, ia akan “panik” mencari. Berkali-kali saya bilang saya tak akan mengulangi apa yang saya lakukan, bahwa saya tak akan meninggalkannya tanpa bilang. Tapi kata-kata, memang tak pernah bisa menumbuhkan kepercayaan. konsistensi yang bisa menumbuhkannya.

Saya pernah merasakan rasa tidak percaya pada seorang figur otoritas. Saya tau persis rasanya “tidak aman”. Kita punya mekanisme otomatis untuk melindungi diri kita ketika kita memprediksi kita akan terlukai. Secara psikologis ya. Kita akan menutup diri, kita akan menghindar, kita akan menyembunyikan diri kita yang sesungguhnya.

Buat saya, kepercayaan anak-anak adalah hal yang mahal. Beberapa hari yang lalu saya main “johari windows” sama anak-anak. Saat meminta mereka menyebutkan kejelekan saya, mereka spontan sekali. Bilang saya cerewet lah, ini lah, itu lah…si gadis kecil bahkan memperagakan omelan saya. Haha….saya senang sekali. Kepercayaan akan memunculkan keterbukaan dan rasa aman. Keterbukaan itu yang kita butuhkan bagi anak-anak. Kita tak pernah tau apakah yang kita lakukan benar atau salah, tanpa umpan balik dari anak-anak. Dan anak-anak, tak akan berani memberikan umpan balik saat mereka merasa tidak aman.

Sebagian dari diri anak itu adalah misteri. Tak bisa dijelaskan oleh teori apapun. Sebagian besar tugas saya di ruang konsultasi pada masalah keluarga adalah, menjadi mediator untuk menyampaikan perasaan terdalam seorang anak pada orangtuanya. Perasaan-perasaan “kecil” yang berdampak besar.

35478217-homme-et-de-l-enfant-silhouette-t-te-avec-labyrinthe-symbolisant-processus-psychologiques-de-la-comp-banque-dimagesYa, kita adalah para ibu. Penjelmaan rahman-rahimNya Allah di muka bumi. Kita akan terus belajar untuk menjadi peka saat tembok ketidakpercayaan mulai tumbuh diantara kita dan anak-anak. Kita akan terus berjuang untuk menjadi berani menghancurkan tembok itu dengan mengakui kesalahan dan bersabar menunggu kepercayaan itu tumbuh kembali. Sehingga anak-anak kita, selalu percaya bahwa di dunia ini, ada seseorang yang selalu menyediakan pelukan. Tempat ia bisa membuka dirinya tanpa topeng apapun. Sejauh apapun ia pergi, seburuk apapun yang ia lakukan, seberat apapun yang ia alami; ia tak akan putus asa, ia tak akan patah arang. Karena ia yakin punya tempat untuk “kembali”.

Karena cinta tanpa syarat, itulah yang dimiliki ibu pada anaknya. Hanya saja, kita harus selalu belajar untuk meyakinkannya pada anak-anak kita. 

Previous Older Entries