Menghancurkan tembok ketidakpercayaan anak pada kita ; catatan tentang “trust” anak

Pagi tadi, si gadis kecil meminta uang pada saya. Tumben, hari selasa. Di sekolahnya, jatah “jajan” untuk kelas 2, kelasnya, adalah hari Rabu. Itu pun maksimal 5 ribu rupiah. “Ada bazar kelas 1 bu” katanya. Saya beri 12 ribu, beserta dompet kecil berwarna ungu bergambar gajah, oleh-oleh temen saya yang jalan-jalan ke Thailand beberapa tahun lalu. Bazar adalah program sekolah. Anak-anak di kelas tertentu berjualan, pembelinya adalah anak-anak dari kelas lain.

Sore tadi, pulang sekolah dia dan si bujang kecil cerita tentang bazar kelas 1. Si gadis kecil mengembalikan dompet kecilnya. Kosong. “Teteh habis semua uangnya? gak hilang? gak dikasih sama orang lain?” pertanyaan itu spontan mengalir. Jujur saja, saya kaget juga uang sebanyak itu habis. Dan kekagetan itu membawa saya pada dugaan-dugaan. Dugaan bahwa uangnya sebagian hilang, dikasih ke temennya atau…. di”palak” sama temennya. Saya mendengar beberapa kali peristiwa pemalakan. Mungkin niatnya bukan malak sih anak-anak itu; mungkin penilaian sosial mereka belum matang. Tapi bahwa ada beberapa anak yang suka memaksa meminta uang pada temannya yang lain, beberapa kali saya dengar. Minggu lalu, si gadis kecil bawa bekal kue tart ulang tahun saya, lalu dia cerita. “begitu teteh buka kotak bekel teteh, eh  *** dan *** (dua anak laki-laki) langsung menyerbu. Engga minta, langsung ambil dan abisin kue teteh”. 

Sehabis maghrib tadi, setelah menemaninya belajar dan membacakan buku untuk si bungsu, saya bilang ke si gadis kecil; “teteh, sini. Ibu mau bicara soal uang yag tadi pagi ibu kasih. Teteh cerita ya, uang itu habisnya gimana”. Di luar dugaan saya, dia langsung menangis tersedu-sedu. Baru minggu lalu saya belajar tentang emosi primer dan emosi sekunder. Perasaan yang tampak dan perasaan yang menjadi akarnya, di workshop family and couple therapy. Dia menangis; saya belum tau pasti kenapa. Yang jelas ia sedang mengalami perasaan tidak nyaman. Takut dan tidak nyaman.

Saya peluk dia. Dalam situasi seperti itu, saya tau dia butuh rasa nyaman. Saya juga kasih ia waktu  Beberapa kali saya tanya: “teteh udah siap cerita?” dia menjawab dengan tangisan. 30 menit. Setiap kali tangisnya berhenti, saya tanya ia sudah siap atau belum. Dan kali ketiga, sambil menangis dia menjawab: “tapi nanti ibu marah”. Saya peluk lagi sambil bilang “ibu janji ibu gak akan marah”. Siklus itu, dia berhenti nangis-saya tanya udah siap atau belum-lalu dia jawab “nanti ibu marah” sambil nangis lagi, berlangsung 3 kali. 30 menit lagi.

Sambil mengeratkan pelukan sebagai pernyataan bahwa saya tak akan marah apapun yang ia ceritakan, saya merenung. Saya tahu, saat itu, ada tembok ketidakpercayaan yang membentengi saya dan si gadis kecil. Dan rasa percaya itu, tumbuhnya tak bisa dipaksakan. Tidak bisa diyakinkan dengan kata-kata. Ia perlu tumbuh perlahan dalam hati, perlahan sampai cukup memberikan kekuatan. Itu proses yang tengah terjadi pada si gadis kecil. Apa yang membuatnya tak percaya pada saya?

Ada banyak hal yang tidak saya sadari. Beberapa hari ini saya sedang PMS. Gabungan dari rasa kram di rahim berhari-hari, nyeri payudara plus “sumbu pendek” membuat saya hobi “marah-marah gak jelas”. Sampai kata si bungsu, “ibu sekarang jadi pengesel”. Waktu saya tanya apa itu “pengesel”, dia bilang: “iya kan kalau orang yang suka marah-marah namanya pemarah. Nah, yang suka sering kesel namanya pengesel. Ibu pengesel”

Sikap saya itu, bisa jadi membuat tembok ketidakpercayaan itu hadir. LaLu intonasi dan bahasa nonverbal saya saat saya bertanya dan kaget ketika melihat uangnya habis, bisa juga membuat tembok itu semakin tinggi. Menyadari hal itu, saya bilang ke si gadis kecil: “ya udah engga apa-apa kalau teteh belum siap cerita. Tapi kalau teteh udah siap, teteh cerita ya”.

10 menit kemudia setelah memeluk saya erat, terdengar suara pelan si gadis kecil. “tadi kan teteh dikasih uang 12ribu sama ibu” katanya sambil menunjukkan 10 jarinya, dan meraih 2  jari saya. “Terus teteh beli marshmallow 2000. Terus beli nustrisari 2, 4000″. bla..bla..bla… dia jelaskan satu persatu. Terakhir, sambil terisak lagi dia sampaikan kalau ia memberikan uang 500 ke sahabatnya, yang sudah saya kenal baik.

Saya peluk lagi. “Oh gitu…terus, kenapa teteh takut ibu marah?”.Dia nangis lagi. Saya peluk lagi. “iya, teteh takut ibu marah karena teteh jajannya banyak” katanya. “terus teteh kasihin uangnya 500 sama ***** “(dia sebutkan lagi nama sahabatnya).

Sambil saya peluk, lalu saya sampaikan “maaf ya, kalau ibu bikin teteh jadi takut. Tadi ibu khawatir kalau uang teteh hilang, atau teteh dimintain uang dipaksa sama temen teteh. Kalau uangnya habis karena bazar sama dikasih sama ***** sih gak apa-apa” kata saya. “Yang engga boleh itu kalau teteh dipaksa diminta sama teman”

………………

TRUST. Kepercayaan. Saya selalu meyakini bahwa itu, adalah hal yang sangat mahal. Mahal, tak mudah untuk mendapatkannya. Priceless.TRUST adalah inti dari sebuah hubungan. Hubungan apapun. Antar siapapun. Inti dari cinta yang matang dan dewasa. Bahkan, dalam teori attachment, trust ini adalah inti dari kehidupan. Dan…saya sedikit banyak setuju dengan hal ini. Secara hakiki, kita tidak akan hidup nyaman tanpa rasa percaya pada orangtua kita, teman kita, pasangan kita, Allah kita. Eh tunggu…tanpa rasa percaya, bahkan kita tak akan bisa punya teman. Tak akan bisa menjalani hubungan dengan pasangan. Kita akan terus merasa rapuh, curiga, merasa sendirian.

Saya ingin mengulanginya lagi. TRUST itu, priceless karena ia tak bisa ditumbuhkan secara instan. Ia tak bisa diyakinkan oleh siapapun dengan kata-kata. Ia harus tumbuh perlahan dalam hati. Dan ia sensitif. Konon, diri kita ini berlapis-lapis seperti bawang. Mempercayai seseorang berarti berani membuka lapis demi lapis diri kita, membuka diri kita yang paling dalam. Maka, kepercayaan hanya akan tumbuh pada seseorang yang kita yakin tak akan melukai kita. Kepercayaan akan kita berikan pada seseorang yang kita yakin akan selalu menerima kita, betapa buruknya pun kita. 

Sabagai seorang ibu, saya menghayati…memelihara TRUST anak-anak kepada saya, menumbuhkan TRUST saya kepada mereka, adalah salah satu perjuangan terberat. Ibu, adalah pengejawantahan rahman-rahim; cinta tak bersyarat Allah di muka bumi. Ibu, adalah manusia yang ketika orang lain di seluruh dunia menolak seorang anak, ia  akan menerimanya. Ibu, adalah manusia yang ketika seorang anak melakukan kesalahan dan semua orang di dunia menutup pintu, ia merentangkan tangannya untuk memeluk. Ia adalah perwakilan rahman-rahimNya Allah di muka bumi ini. Melalui sikap mencintai tanpa syarat seorang ibu-lah anak bisa menghayati rahman-rahimNya ALlah.

Dan mempertahankan ikatan TRUST itu, tak mudah. Bagaimana tidak? anak usia prasekolah dan anak SD, adalah anak yang paling mudah tumbuh rasa percaya pada orangtunya. Anak SMP? Remaja? Pfuih….kita akan menghadapi tantangan super duper berat. Tapi liat apa yang saya alami… yang katanya mudah pun…tak mudah ternyata.

Saya selalu merasa ingin menshare kejadian “kecil” seperti ini pada teman-teman, terutama  para ibu yang tak “kenal” dengan psikologi. Saya ingin menunjukkan…lihat… saya, seorang psikolog, akademisi psikologi, yang bergelut dengan tema TRUST ini dalam klien-klien sehari-hari, dalam bacaan-bacaan…namun pada saat mempraktekkannya, tak semudah itu.

Maka, kalau teman-teman mengalami hal yang sama….it’s oke. Itu adalah hal yang wajar. Jangan merasa “saya bukan ibu yang baik”.jangan berpikri “saya tidak mampu”. Kita- saya, teman-teman, harus punya “self compassion”. “Belas kasih terhadap diri sendiri”. Menerima diri sendiri, dan percaya bahwa kita bisa belajar.

Saya bukan pengikut madzhab parenting yang mengatakan bahwa ibu itu harus “sempurna”; harus “kuat di mata anak-anak”. Perenungan saya membawa pada satu kesimpulan bahwa kita punya sebuah insting. Insting untuk melindungi anak kita. Sikap marah pada anak saat anak kita di bully, Sikap memaksa pada anak kita untuk menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya, sikap memaksa anak untuk mengikuti les ini les itu yang tak disukai anak, sikap mengkritik anak saat anak kita yang pintar tak mendapat nilai sempurna, semua itu sebenarnya didorong oleh insting untuk melindungi. Untuk melindungi, untuk meyakinkan bahwa anak kita mendapat bekal terbaik untuk kehidupannya.

Ibu yang baik bukan ibu yang tak pernah berbuat kesalahan. Bukan ibu yang tak pernah marah, bukan ibu yang selau terasa “sempurna”, bukan ibu yang tak pernah ngomel. Kita adalah emak-emak biasa yang tak biasa (haha…mulai absurd nih). Ketidak biasaan kita adalah karena kita selalu berusaha untuk peka. Peka ketika tembok ketidakpercayaan mulai tumbuh dan menghalangi hubungan kita dengan anak-anak kita. Dari mana kita tahu itu? dari pengalaman dan penghayatan kita.

Si sulung, pernah menceritakan masalah yang dialami seorang temannya. Beberapa hari, tema ceritanya sama. Saya penasaran. Saya baca chat di hapenya dengan temannya itu. Lalu saya tahu, masalah temannya sangat berat. Saya tawarkan untuk membantu. Dia tahu saya membaca chat hape tanpa izinnya. Setelah itu,  si sulung “shut down”. Tak pernah lagi cerita tentang temannya tersebut. Ia merasa tak aman dan tak bisa percaya lagi pada saya. Saya membaca chatnya tanpa izinnya. Saya memasuki wilayah privacynya. NIat saya bagus, tapi apa yang saya lakukan melanggar batas buatnya. Perlu waktu berbulan-bulan bagia saya untuk menumbuhkan lagi kepercayaaanya pada saya. Dengan menahan diri sekuat hati untuk tak baca chat hapenya, tak baca diarynya, tak memaksa ia menceritakan apa yang tak ingin ia ceritakan; sampai ia sedikit-sedikit mulai mau cerita lagi.

Si bujang kecil, pernah saya ceritakan dulu, pernah beberapa waktu tidak mau menunjukkan nilai-nilai ulangannya. Pernah “meledak” dan bilang pada saya kalau dia gak mau jadi anak pinter, maunya jadi anak bodoh aja. Kenapa? karena ketika nilai-nilainya “nyaris” 100, ia dapat pujian dari saya, tapi reaksi nonverbal saya gak nyambung. Ia bisa menangkap bahwa saya tak jujur merasa “bangga” pada upayanya. Perlu sekitar satu semester buat saya untuk menumbuhkan rasa percayanya kembali. Setiap ada ulangan yang dibagikan, ia akan menyembunyikannya. Setelah satu semester, baru ia berani menunjukkannya. Saya ingat, dengan ragu ia berkata: “bu, ulangan mas  jelek banget. 89”. Satu semester, adalah waktu yang cukup lama buat saya belajar tulus. “gapapa, tapi ibu liat mas  belajarnya sungguh-sungguh banget waktu itu” . “Iya ibu….nih liat…soalnya susaaaah banget …. itu teh cuman mas yang nilainya diatas 80. Ada dua orang yang 76, trus yang lainnya remedial”. Hiks, waktu itu saya asa pengen nangis. Saya bisa merasa kepercayaannya pada saya sudah mulai tumbuh. Ia berani cerita tanpa takut lagi “terlukai” oleh tanggapan saya.

Bahkan si bungsu pun, pernah tumbuh tembok ketidakpercayaannya pada saya. Waktu itu beberapa hari saya di rumah. Pagi hari, setiap melihat saya tak memakai “baju pergi”, ia langsung berbinar-binar: “Ibu gak ke kampus? ibu di rumah?”. “iya, ibu akan tunggu dede pulang sekolah di rumah, di meja kerja ibu ya” jawab saya. Jam 13, terdengar ia membuka pintu. “ibu…dede datang”katanya. Saya iseng. saya ngumpet. Maksudnya bercandain.  Si bungsu naik ke lantai dua, mencari-cari saya. Lalu nangis. Saya keluar dari tempat saya sembunyi, memeluknya. “Ibu bohong. Katanya ibu mau nunggu dede pulang sekolah di meja kerja ibu, tapi ibu engga ada” begitu katanya. Tau gak….berbulan-bulan setelah itu, setiap kali saya “berjanji”; menjemput dia ke sekolah, beliin ini itu sepulang dari kampus, ia tak percaya. Bahkan kalau sedang beraktivitas bersama, lalu tiba-tiba saya menghilang entah ke kamar mandi atau ke ruanagn lain, ia akan “panik” mencari. Berkali-kali saya bilang saya tak akan mengulangi apa yang saya lakukan, bahwa saya tak akan meninggalkannya tanpa bilang. Tapi kata-kata, memang tak pernah bisa menumbuhkan kepercayaan. konsistensi yang bisa menumbuhkannya.

Saya pernah merasakan rasa tidak percaya pada seorang figur otoritas. Saya tau persis rasanya “tidak aman”. Kita punya mekanisme otomatis untuk melindungi diri kita ketika kita memprediksi kita akan terlukai. Secara psikologis ya. Kita akan menutup diri, kita akan menghindar, kita akan menyembunyikan diri kita yang sesungguhnya.

Buat saya, kepercayaan anak-anak adalah hal yang mahal. Beberapa hari yang lalu saya main “johari windows” sama anak-anak. Saat meminta mereka menyebutkan kejelekan saya, mereka spontan sekali. Bilang saya cerewet lah, ini lah, itu lah…si gadis kecil bahkan memperagakan omelan saya. Haha….saya senang sekali. Kepercayaan akan memunculkan keterbukaan dan rasa aman. Keterbukaan itu yang kita butuhkan bagi anak-anak. Kita tak pernah tau apakah yang kita lakukan benar atau salah, tanpa umpan balik dari anak-anak. Dan anak-anak, tak akan berani memberikan umpan balik saat mereka merasa tidak aman.

Sebagian dari diri anak itu adalah misteri. Tak bisa dijelaskan oleh teori apapun. Sebagian besar tugas saya di ruang konsultasi pada masalah keluarga adalah, menjadi mediator untuk menyampaikan perasaan terdalam seorang anak pada orangtuanya. Perasaan-perasaan “kecil” yang berdampak besar.

35478217-homme-et-de-l-enfant-silhouette-t-te-avec-labyrinthe-symbolisant-processus-psychologiques-de-la-comp-banque-dimagesYa, kita adalah para ibu. Penjelmaan rahman-rahimNya Allah di muka bumi. Kita akan terus belajar untuk menjadi peka saat tembok ketidakpercayaan mulai tumbuh diantara kita dan anak-anak. Kita akan terus berjuang untuk menjadi berani menghancurkan tembok itu dengan mengakui kesalahan dan bersabar menunggu kepercayaan itu tumbuh kembali. Sehingga anak-anak kita, selalu percaya bahwa di dunia ini, ada seseorang yang selalu menyediakan pelukan. Tempat ia bisa membuka dirinya tanpa topeng apapun. Sejauh apapun ia pergi, seburuk apapun yang ia lakukan, seberat apapun yang ia alami; ia tak akan putus asa, ia tak akan patah arang. Karena ia yakin punya tempat untuk “kembali”.

Karena cinta tanpa syarat, itulah yang dimiliki ibu pada anaknya. Hanya saja, kita harus selalu belajar untuk meyakinkannya pada anak-anak kita. 

Advertisements

Mengenal Tahap Perkembangan Orangtua

Dua minggu ini saya intensif mengantar-jemput si sulung kerja kelompok. Di kelas 8 ini, tugas-tugasnya “canggih-canggih”. Tentu dibandingkan jaman emaknya kelas 2 SMP dulu… 25 tahun yang lalu haha…Kalau jaman dulu tugas kerja kelompok saya paling bikin kliping, atau bikin prakarya apa… gitu…nah…tugas kerja kelompok si sulung saat ini adalah: Bikin iklan. Mulai dari konsep, bikin skenario, storyboard, syuting, sampai editing. Trus bikin drama lah, bikin rekaman kamar dan penjelasannya pake bahasa inggris, tongue twister, dll. Yang technology based intinya mah.  Dan kalau saya ngintip hasilnya…gilee emang keren banget…. kreatif banget anak-anak umur 13 tahun itu. Pas saya tanya belajar dari mana, si sulung jawab nyari sendiri, dari yutub lah, tanya ke sutradara ternama via medsos lah… bener banget memang…si zaman ini, kolaborasi bisa terjadi antar siapa saja, tak terbatas ruang, waktu dan …umur hehe…

Yang mau saya share dalam tulisan ini adalah, perasaan saya saat “melepas” si sulung kerja kelompok, bersama teman-teman laki-lakinya. Jadi setiap saya anter si sulung, lalu melihat teman-teman laki-lakinya, jujur aja deg-degan sih. Meskipun saya udah sering liat wajah-wajah remaja tanggung itu via instagramnya si sulung, tapi tetep aja…melihat mereka “tiga dimensi”, bikin deg-degan. Secara fisik, baik si sulung dan teman-temannya maupun para teman laki-lakinya lagi “mekar-mekarnya”. Mulai keliatan pesona cantik-ganteng-jelita-gagahnya. Persis para pemeran sinetron remaja di tipi.

Saat melihat mereka, terbayang sekilas pose-pose pelukan, ciuman atau pegangan tangan para remaja tanggung yang kadang terlihat entah di sinetron atau di internet. Khawatir bahwa si sulung pun akan melakukan hal itu,jujur saja ada. Itu namanya cemas. Saya merasakan betul, ketika saya meninggalkan rumah teman si sulung setelah mengantarnya, dada saya penuh pergulatan. Pergulatan untuk mempercayai si sulung. Struggling to trust her. Saya sadar betul bahwa saya kini telah “resmi” menjadi orangtua remaja, dengan “tugas perkembangan”nya.

parenthoodKita mengenal tahap perkembangan dan tugas perkembangan PADA ANAK. Usia berapa anak harus sudah bisa berbagi, usia berapa anak harus sudah bisa “berpisah” dari orangtuanya… Nah, kadang kita lupa…atau mungkin gak tau, bahwa ada juga loh, TAHAP PERKEMBANGAN DAN TUGAS PERKEMBANGAN ORANGTUA. Dan, saya menghayati….permasalahan relasi anak-orangtua, kalau mau dilihat dari kacamata ini, biasanya terjadi saat perkembangan anak tidak diiringi perkembangan orangtua.

Dan tugas perkembangan saya sebagai orangtua remaja adalah…. belajar mempercayai si remaja.  Kenapa harus percaya sama si remaja? karena kalau gak percaya, kita gak akan bisa melepasnya. Gimana kalau kita gak mau melepasnya? tahap perkembangan dia untuk menjadi pribadi dewasa menjadi terhambat. Gimana caranya biar saya bisa percaya pada si remaja? lihat dia secara objektif. Apakah sudah cukup pengetahuan, pemahaman dan keterampilannya menjaga diri? apakah ada tanda-tanda dia tak bisa menjaga diri? Caranay gimana? ah, kan katanya “a worried mother does better research than FBI” 😉 . BAnyak jalan untuk memonitor si remaja.

Waktu saya diminta sharing mengenai pengasuhan remaja di sebuah SMP, saya suka banget waktu ibu kepala sekolahnya menawarkan tagline “mendewasa bersama remaja”. Ya, remaja harus belajar secara bertahap menjadi dewasa. Menganalisa situasi. Mempertanyakan nilai. Menentukan pilihan. Kita pun sebagai orangtuanya harus melakukan proses yang sama. Bertahap.

Kali ini, kita percayai si remaja kerja kelompok bersama teman-temannya, baik-laki-laki maupun perempuan. 5 tahun lagi, kita percayai anak untuk memilih jurusan di Perguruan Tinggi yang menjadi minat dan kemampuannya. 10 tahun lagi, kita percayai dia memilih profesi yang akan membuat hidupnya bermakna. Kurang dari 10 tahun tahun lagi, kita percayai dia memilih pasangan hidupnya….selanjutnya kita percayai prinsip-prinsipnya mengelola rumah tangga, mendidik anak-anaknya….Bayangkan kalau kita tidak belajar mempercayainya secara bertahap…..

Menjadi orangtua itu, adalah perjalanan sepanjang hayat, mulai saat kita melihat dua garis merah di alat test kehamilan, sampai kita menutup mata. Allah, Sang Maha Sempurna, telah sedemikian rupa merancang tahap perkembangan anak, dengan sangat cermat…sehingga setiap tahapnya, adalah fondasi untuk menjadi tangguh di tahap berikutnya. Dan perubahan karakteristik perkembangan anak, adalah media bagi ANAK dan juga bagi ORANGTUA untuk terus berkembang menjadi lebih dewasa dan lebih bijaksana.

Kalau ada kesempatan, nanti saya share lebih sistematis tahap-tahap dan tugas perkembangan orangtua. Insya allah.

 

 

 

 

Sepatu Zebra : serunya jadi ortu anak remaja

Waktu si sulung masih kecil, sebagai mahmud (mamah muda) yang baru punya anak pertama dan anaknya perempuan, saya seneng banget dandanin si sulung pake baju plus aksesori girly. Pinky girl lah…. Kini, si gadis kecil itu sudah 13 tahun. Sudah menjadi “gadis besar”. Gayanya, jauh dari girly. Pilihan warnanya adalah warna gelap. Bahan dan modelnya, super casual. Dari mulai kerudung sampai sepatu. Tiap menjelang lebaran, tantenya yang punya butik pakaian muslimah minta kami memilih sesuka hati model baju yang kami pengen. Tantenya biasanya semangat menunjukkan beragam model rok atau gamis remaja yang feminin; dia akan menggeleng dengan mantap. Sebenarnya kalau mau cari kambing hitam, secara genetik mau secara contoh; memang gaya dan pilihan dia persiiiiiis gaya dan pilihan saya. Casual, gak mau ribet, praktis. Tapi dasar emak-emak…tetep aja sebenernya saya pengen dia tampil feminin 😉

Akhir tahun lalu, waktu saya ke Bali, saya belikan dia sepatu casual yang bahannya dari kain tenun, kembaran sama saya. Tentu bukan jenis sepatu yang kuat. Tapi dia seneng banget. Dipakenyaaaa terus sepatu itu sampai sudah robek-robek. Saya bilang “Kaka, udah waktunya Kaka beli sepatu lagi, itu sudah robek”. Tapi dia selalu menolak. Hampir sepuluh kali lah saya ajak dia -baik tidak sengaja maupun menyengajakan- ke toko sepatu. Semua….dia jawab dengan gelengan kepala. Sampai waktu mau lebaran, saya keseeel banget :“Kaka, masa sih Kaka mau lebaran pake sepatu kayak gitu? ayo masa dari ratusan sepatu di sini gak ada satu pun yaag Kaka suka?”. Dan respons si sulung adalaaaaah….nangis sesenggukan. Sampai saya diliatin sama pengunjung se-jagat toko sepatu itu hehe…

sepatu-kets-model-zebra-wanitaSuatu hari, waktu kita jalan-jalan ke Borma (saat itu saya sudah hopeless dan mengikuti nasihat si abah, membiarkannya “memilih” tetap memakai sepatu butut itu), tiba-tiba si sulung menarik tangan saya; “Bu, ada sepatu yang Kaka mau” katanya. Ah, saya bahagia banget. Saya ikuti dia menunjukkan tempat sepatu itu. Dan, tadaaaa …. saya mau pingsan pas liat sepatu yang ia tunjukkan. Sepatu zebra! kayak yang di samping ini! si gadis manisku suka dan mau pake sepatu kayak gini… saya inget…kalau ada mahasiswa yang pake motif kayak gini saya suka agak “nyureng” hehe…

“Hargai pilihan si remaja, jangan terlalu baper untuk pilihan yang sifatnya tidak prinsip”. Langsung saya inget hal ini. “Owh, emang ini cukup di kaki Kaka? kayaknya kekecilan deh” kata saya. “Iya emang. Kaka mau tanya siapa tau nomernya ada yang pas” katanya penuh semangat. Sambil menunggu si sulung bertanya sama SPGnya, saya langung menghampiri si abah dan curhat: “abah…tau gak…ini sepatu yang dipengenin si Kaka…ya ampuuun….”. Reaksi si abah, udah bisa saya tebak. “Kan dirimu yang bilang….. beda generasi, beda selera. Biarin lah selama bukan hal prinsip”. “Iya, aku tau…tapi motif ini …ya ampuuun..” .Saya masih ingin mengekspresikan perasaan haha…

Si sulung kembali menemui saya, wajahnya sedih; “Engga ada yang pas nomornya Bu”. katanya. Alhamdulillah….sorak hati saya hehe… “Ini bagus Ka…” kata saya menyodorkan sepatu manis bermotif bunga kecil. Si sulung menggeleng dengan mantap. Baiklah….

Meskipun saya sering diminta berbagi mengenai pengasuhan, namun saya senang juga cerita mengenai “babak belurnya” saya menjalani peran mendampingi anak-anak saya dalam tahap-tahap perkembangannya. Jadi apa dong gunanya “belajar parenting” ? kalau tetap merasa kesel, marah, sedih, khawatir, bingung…saat menghadapi episode pengasuhan yang sesungguhnya?

Hhhmmm….menurut saya, belajar ilmu pengasuhan itu bukan untuk membuat kita jadi “lempeng” saat menghadapi situasi yang menantang. Tapi pengetahuan itu akan membuat kita “sadar”, apa yang tengah terjadi pada kita dan pada anak kita saat itu. Istilah keren psikologinya mah mungkin  “metacognition”. Kita jadi kemampuan untuk “thinking about thinking”. Kita jadi tau dan sadar bagaimana cara kita berpikir.

Kalau saya mah suka ngebayangin….dengan pengetahuan kita tentang perkembangan anak, tentang kondisi psikologis orangtua….pas lagi momen kejadiannya teh…kita kesel, kita marah, kita bingung, tapi pengetahuan yang kita punya, membuat seolah-olah “diri” kita keluar, menyaksikan diri kita yang lagi mengalami kejadian tersebut. Kayak kejadian sepatu zebra itu, meskipun saya merasa pengen pingsan dan langsung curhat sepenuh hati ama si abah, tapi pas lagi curhat itu, bagian dari diri saya ada yang menyaksikan itu, lalu ngetawain diri saya haha…

Nah, metakognisi ini yang menurut saya, membuat meskipun kita merasakan emosi negatif, tapi emosi itu “gak masuk ke hati” dan “gak jadi penyakit”. Beberapa waktu lalu ada yang memberi feedbak mengenai tulisan saya di blog ini: “tulisan-tulisan pengasuhan di blog ini membuat saya merasa tidak sendirian” katanya. Yes ! emang itu harapan saya. Demikian pun kalau sharing tema pengasuhan. Bukan untuk mengajari. Da aku mah apa atuh…. GAk ada istilah “ahli parenting”… Tapi niat saya adalah sharing fakta, sharing pengalaman. Karena saya punya kesempatan baca buku, baca hasil penelitian, lakukan penelitian, ketemu klien-klien….

Mengasuh  itu seperti perjalanan panjang. Kalau kita fokus hanya pada akhirnya, sayang…lebih baik kita nikmati pemandangan, cuaca dan segala rintangan yang kita hadapi di sepanjang perjalanan. Geleng-geleng kepala, shock, pengen pingsan, pengen nangis, keseeel bangeeet, …. semua rasa itu, adalah ke-seru-an yang mari kita nikmati. Sambil kita tahu bahwa itu adalah bagian dari perjalanan panjang ini.

 

 

 

 

Ketika si gadis kecil ingin menjadi petani

Kemarin, ketika saya sampai di rumah, di pintu depan saya disambut oleh si gadis kecil 7 tahun  yang memeluk saya dengan mata berkaca-kaca. Setelah saya peluk 5 menitan, dia bertanya:

“emang jadi petani itu memalukan ya bu?” Saya peluk lebih erat, saya tahu dia gak perlu jawaban.

Lalu mengalirlah ceritanya. “Tadi di sekolah kan Bu Guru tanya, cita-citanya apa. Pas teteh bilang pengen jadi petani, semua temen teteh ngetawain teteh”. Lalu dia terisak lagi. Masih saya peluk. “Teman-teman teteh pada cita-citanya jadi polisi, dokter, tentara, astronot, pilot. Terus kata Bu Guru, petani itu penting. Kalau gak ada petani, yang lainnya….dokter, tentara, polisi, astronot, semua temen-temen teteh gak akan bisa makan. Tapi tetep temen-temen teteh ngetawain”. Dan ia mengulang lagi pertanyaannya; “Emang jadi petani itu pekerjaan yang memalukan gitu?” 

Saya peluk lagi lebih erat. Saya pikir dia gak butuh jawaban. Dia hanya butuh mengungkapkan perasaannya dan mendapatkan dukungan.  Setelah tangisnya reda, dia pun kembali ke aktivitas favoritnya: menggambar komik “sekolah kucing” sambil bersenandung.

Sudah 2 tahun ini, setelah cita-citanya berubah dari jadi dokter hewan ke petani, ia konsisten. Setiap kali ia jemput saya ke Jatinangor dan saya tunjukkan fakultas-fakultas “keren”: kedokteran, FKG, farmasi, dia tanya dimana Fakultas Pertanian. Setelah saya kasih tau dimana, ia harus selalu lewat situ. Abahnya udah ngajak suatu saat  jalan-jalan ke IPB. Si gadis kecil selalu membayangkan bagaimana nanti dia memelihara hewan-hewan ternak, menanam dan merawat berbagai tanaman, dll dll. Setiap mudik ke Kediri, riangnya bukan main menikmati suasana, mengamati bahkan membantu para petani.

Saya sendiri, mendukungnya. Jujur saja ya, beberapa tahun lalu, dukungan saya mungkin palsu. Hanya di bibir dan di wajah, namun tak di hati. Namun beberapa tahun terakhir ini, dukungan saya juga dari hati. Seiring usia bertambah, saya semakin banyak melihat. Dan salah satu yang saya buktikan adalah, menjadi apapun seseorang, yang akan menjadi kunci kesuksesannya adalah kesungguhan.

Tapi ternyata, dalam konteks kehidupan, sukses dalam bekerja hanya menjadi salah satu bagian dalam perjalanan panjang kehidupan kita. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: setelah kita sukses, apakah kita merasa bahagia? apakah harus sukses dulu baru kita bahagia? atau kebahagiaan yang membawa kesuksesan? mengapa banyak yang sudah sukses namun tak merasa bahagia? 

happy-career-buku-foto-kecilSebulan lalu, saya menerima buku dari kakak kelas saya, Mbak Elvi Fianita. Beliau menulis buku berjudul Happy Career. Buku ringan berisi 9 prinsip mengejar keberhasilan dengan lebih dahulu mengejar kebahagiaan. Isinya, menjawab pertanyaan-pertanyaan saya di atas. 9 prinsip yang saya baca sambil mengangguk-angguk.

Dari 9 prinsip yang diungkap dalam buku ini, prinsip ke-4 yang paling berkesan buat saya. Menemukan “panggilan hidup” dalam pekerjaan kita.

Setelah 19 tahun meninggalkan bangku SMA, 15 tahun melihat teman-teman saya selulus kuliah berkembang dengan jalannya masing-masing, maka saya melihat…mereka yang hepi, adalah mereka yang memilih pekerjaan yang sesuai dengan passionnya.

Dan kehepian itu, selalu diikuti oleh kesungguhan, menjadi paduan yang sangat mempesona. Apapun bentuk pekerjaannya.

Teman-teman saya yang senang menjelajah, bekerja di bidang wisata. Capek dan kadang ruwet, namun mata mereka terlihat berbinar dalam foto-foto amazing di berbagai tempat. Teman saya yang menjadi dokter bedah, pekerjaannya sangat beresiko, waktunya sangat padat, namun binar mata saat ia bercerita tentang pekerjaannya, selalu mempesona. Teman saya yang senang menjadi penulis, meskipun hidupnya pas-pasan, tak sebanding dengan inspirasi dalam buku-buku karyanya, namun kebahagiaan jiwanya tergambar dengan gamblang. Teman-teman dosen, teman-teman psikolog…meskipun wajah lelah, pikiran penuh, namun saat kami saling bercerita, binar-binar  di mata kami tak bisa disembunyikan. Menjadi guru, perupa, helper, manager, peneliti, bidan di pelosok desa, penyuluh kesehatan…..

Maka, saya kemudian menyimpulkan….bukan “menjadi apa” yang penting buat anak-anak kita. Namun, seberapa dalam makna yang ia hayati dalam pekerjaannya. Seberapa besar nyala api yang mendorongnya untuk mengabdi dan berkarya di sana.

Maka, dalam konteks kita sebagai emak, yang penting bukanlah menyiapkan anak untuk masuk sekolah ini itu, atau jurusan ini itu. Namun menemukan apa yang menjadi “panggilan hidup”nya. Sesuai kepribadiannya. Karena Sang Maha, akan memudahkan seseorang sesuai dengan untuk apa ia menciptakannya.

Meskipun bukuHappy Career ini kurang dari 100 halaman, namun isinya sangat sarat dengan fakta-fakta yang akan membuat kita semakin meyakini bahwa bekerja, adalah hanya bagian kecil dari sajadah panjang kehidupan kita. Maka, jangan salah arah. Sukses itu harusnya bukan tujuan. Sukses itu gak usah dipikirin. Itu mah bonus. Mudah didapat  kalau kita menemukan pekerjaan yang membuat kita hepi dan merasa bermakna untuk terus menjalaninya

 

 

We need you dad ….

Salah seorang mahasiswa bimbingan skripsi saya, Divo, melakukan penelitian mengenai peran ayah pada  remaja awal, usia 12-14 tahun. Penelitian ini didasari studi literatur yang menunjukkan bahwa penelitian mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, lebih banyak dilakukan pada anak usia dini sampai usia pra remaja. Di sisi lain, usia remaja awal merupakan usia yang “khas” dengan isu perpindahan “dunia” dari “dunia keluarga” menjadi “dunia teman”. Melalui penelitian ini, ingin diketahui 2 hal; (1) bagaimana persepsi remaja awal mengenai pentingnya peran ayah dalam kehidupannya? (2) bentuk perilaku ayah yang bagaimana yang dirasa bermakna bagi remaja awal?

Penelitian kualitatif menggunakan teknik wawancara mendalam (depth interview) dilakukan pada 102 remaja awal usia 12-14 tahun, baik laki-laki maupun perempuan dalam dua bulan terakhir ini. Hasil wawancara dicatat secara verbatim, lalu dicoding melalui beberapa tahap analisis. Singkat kata singkat cerita, hasilnya menunjukkan bahwa remaja awal, merasakan bahwa mereka masih sangat membutuhkan keterlibatan ayah dalam kehidupan mereka, baik keterlibatan yang sifatnya kehangatan, support material maupun kontrol. Mengapa? secara umum jawaban-jawabannya mengelompok menjadi nada-nada kasih sayang (misal: seneng deket sama ayah), nada-nada kompetensi (misal: ayah tahu mana yang lebih baik), dan yang secara pribadi menarik buat saya adalah, jawaban-jawaban bahwa ayah yang terlibat dalam kehidupan mereka merupakan “standar keluarga yang baik”. Jujur saja, entah mengapa saya merasa…terharu gitu dengan jawaban anak-anak remaja yang ini.

Salah satu temuan  menarik untuk menjawab pertanyaan penelitian yang kedua adalah, bentuk perilaku ayah yang dirasa bermakna adalah aktifitas bersama dalam kegiatan keseharian dan kumpul keluarga. Ini muncul dalam dimensi-dimensi yang terkait dengan kehangatan dan kasih sayang. Sedangkan dalam dimensi yang terkait dengan kontrol dan support material, tema sekolah mendominasi. Yang menarik,  mereka juga menyatakan bahwa saat ayah  memberikan support material tanpa diminta (misal membelikan sepatu yang sudah rusak, buku pengayaan yang mereka butuhkan), itu mereka rasakan sebagai perilaku yang bermakna. Kaitannya kayaknya dengan rasa “diperhatikan” ya…

Dalam tataran pemikiran, penelitian ini adalah satu dari sekian banyak penelitian mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, yang memperkuat penelitian-penelitian sebelumnya. Ini hanya salah satu bukti empiris-akademis,  memperkuat saya untuk semakin  tegas menyuarakan ketidaksetujuan  pribadi terhadap pembagian tugas hitam-putih; ayah cari nafkah-ibu ngurus anak.

Dalam literatur-literatur mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, kesediaan ayah untuk dengan sengaja meluangkan waktu, tenaga dan pikiran bagi anak-anaknya, digambarkan memiliki 2 panah dampak positif. (1) pengaruh langsung pada anak; seperti dalam penelitian mahasiswa saya di atas, (2) pengaruh tidak langsung melalui ibu. Ayah yang terlibat dalam pengasuhan anak, akan membuat ibu merasa didukung. Dan sudah bukan rahasia lagi bahwa bagi seorang ibu, seorang wanita, dukungan psikologis itu sudah cukup untuk menghasilkan energi tak terhingga -yang kadang tak masuk akal- untuk menghadapi seluruh kebutuhan anak-anaknya; fisik-kognitif-emosi-sosial-spiritual.

Sebenarnya, saya curiga sih….keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak ini punya satu panah lagi. Yang belum banyak diteliti. Yaitu…bagi ayah itu sendiri. Sering saya melihat, ayah-ayah yang begitu enjoy main dengan anak-anaknya. Di lapangan mesjid telkom setiap ahad jam 8-10.30, saat pengajian Percikan Iman,  saya banyak dan sering menyaksikan ayah-ayah yang begitu enjoy main bola, main gelembung sama anak-anaknya. Tertawa bersama, menikmati bersama permainan-permainan itu. Demikian pula di tempat-tempat umum lainnya. Saya berpikir, mungkin bagi para ayah yang bergelut dengan “dunia maskulin yang keras”, bermain tanpa melibatkan kognisi  itu, adalah refreshing banget. Bahkan ada seorang ayah yang bilang bahwa kalau dia ada kerjaan lebih dari dua hari di luar kota, dia jadi gak produktif. Stress. Makanya dia selalu nyempetin pulang buat liat dan ketemu anak-anaknya. Itu sih ayahnya anak-anak saya haha…(ssst….sebenernya kayaknya kangen sama ibunya juga sih, cuman gengsi mengakuinya … kkkk).

Kalau saat anak kecil, kebayang lah bagaimana bentuk dukungan dan keterlibatan ayah pada anak. Ngajak main. Bentuk dukungan pada ibu: bantuin pegang anak-anak saat ibu riweuh ngurus ini-itu yang lain. Dalam beberapa tulisan saya di folder “father involvement”, sudah banyak saya menuliskan hal tersebut.

Bagaimana kontribusi langsung ayah pada tumbuh kembang remaja awal? Penelitian Divo di atas sudah menjawabnya. Nah…dua minggu lalu dan minggu, saya punya pengalaman yang membuat saya menghayati bagaimana ibu juga sangat  membutuhkan ayah dalam menghadapi anak remaja.

Salah satu “isu” antara saya dan si sulung kelas 1 SMP adalah soal penampilan. Kami  selalu mengingatkan dia untuk memperhatikan pakaiannya. Kenapa? karena bentuk tubuhnya sekarang sedang “mekar-mekarnya” ibarat bunga mah. Jadilah kami polisi fashion. Kalau pake celana panjang, kaosnya yang panjang juga. Kerudung harus diurai, biar dadanya ketutup. Pilih kerudung yang gak tipis….. Namanya anak remaja ya….meskipun Azka anak yang “baik” dan sekolahnya juga cukup ketat soal pakaian, tetep we….ada eksplorasinya. Ngumpet2 pake jins yang ketat meskipun udah dibikinin celana  jeans yang agak longgar. Kerudung, harus selalu diingetin untuk dijulurkan ke dada.

Nah dua minggu lalu, saya liat dia kok gak pake daleman kerudung (selanjutnya akan disebut ciput kkkk). Ya jelaslah rambutnya keliatan melalui kerudungnya yang transparan. Waktu itu, kami pergi sekeluarga untuk makan. Ya jelaslah, saya tegur soal ia tidak memakai ciput. Tentu dengan nada kesal, karena saya inget banget, saya sering belikan dia ciput, bros dan segala perlengkapan kerudung. Sering banget malah. Bla…bla..bla…..Di luar dugaan, ternyata reaksinya tidak hanya cemberut, tapi dia menangis sesenggukan. Berlanjut sampai di tempat makan. Sesenggukan.

Si abah lalu bertanya kenapa…saya jelaskanlah kekesalan saya. “Caranya de, caranya…. dirimu bener, maksudnya baik….tapi caranya…”. Gitu kata si abah. “Ade udah pelan-pelan bah caranya….ade tadi tanya, kenapa kakak gak pake ciput..ibu kan udah sering beliin….bla..bla..bla..” saya berusaha menjelaskan bahwa saya mengingatkan Azka dengan cara yang “lemah lembut dan pelan-pelan”. Kkkkk…sebenarnya anak TK juga akan tahu bahwa jelas-jelas saya “mengomeli”, bukan “mengingatkan”. Tau gak…saat itu ya, saya tiba-tiba ingat ada istilah yang mengatakan “boy will be boy”. Ungkapan itu sering dikatakan sebagai kelakar bahwa buat seorang wanita, jumlah anaknya adalah plus , yaitu suaminya. Untuk menunjukkan bahwa suami sering berperilaku kekanak-kanankan. Nah, saat itu saya berpikir kayaknya situasi yang menggambarkan yang sedang saya alami adalah “girl will be girl” kkkk…saya bayangkan si abah  sedang menghadapi dua anak perempuannya yang sedang berantem haha…. Akhirnya, sudah bisa ditebak. Si abah mendekati si sulung, meredakan tangisnya. Saya amat mengandalkan si abah memang dalam kondisi sedang tidak waras seperti ini. Sering saya curhat sesuatu dengan diawali ….“Bah, tolong bilang ke Azka….bla..bla..bla..”. Dan saya percaya sekali  mas bisa menjadi “jembatan” penghubung saya dan Azka saat salah satu atau kami berdua sedang dikuasai emosi negatif.

Seminggu lalu, ada pengalaman lain. Kami mendaftarkan Azka ke sebuah tempat les bahasa inggris terpercaya. Kami sepakat bahwa sudah saatnya Azka mendapatkan stimulasi bahasa Inggris yang advance. Tapi sepanjang placement test dan proses registrasi, saya melihat Azak kurang semangat. Tapi saya  abaikan, bertekad untuk tetap mendaftarkannya. Si abah juga mendukung. Hari ahad lalu, sepulang menjemput Azka dari acara di sekolahnya, si abah bilang: “De, aku tadi ngobrol sama Azka, katanya dia gak mau les bahasa Inggris. Dia pengen weekend itu bener-bener istirahat. Dia bilang, dia merasa cukup dengan 3 sesi pelajaran bahasa Inggris tiap minggu di sekolahnya. Kan ada writing, listening, speaking. Pake native speaker lagi. Jadi menurutku ga usah aja”.

Setelah makan malam, waktu saya lagi beberes dapur dan Azka mencuci piring, saya tanya; “Gimana, Kaka teh jadi mau les Inggris engga? kok Ibu liat Kaka kurang semangat”. Karena lagi waras, saya berkata dengan lebut dan pelan. Dia menjawab pelan “gimana ibu aja”. Waktu saya bilang oke dia gak usah les karena pertimbangan yang disampaikan si abah pada saya, “Yess…“katanya….dan dia pun dengan riang cerita ini-itu tentang teman-temannya di sekolah.

Temans…tahukah….keterbukaan anak itu, amat mahal. Apalagi anak remaja. Beberapa kali  saya temui orangtu yang bingung …kenapa anaknya putus kuliah padahal dulu bilangnya mau, kenapa anaknya males ini-itu padahal gak nolak….Saya menghayati….seperti ketidakterbukaan Azka terhadap saya itu-lah prosesnya. Anak yang sudah besar, biasanya bisa menangkap harapan orangtua padanya. Saya menduga, Azka menangkap bahwa saya punya harapan besar padanya. Saya sering bilang bagaimana kesempatan yang bisa diraih teman-teman saya yang Bahasa Inggrsinya advance, saya juga suka bilang betapa beratnya saat saya harus menulis dalam bahasa Inggris, karena bahasa Inggris saya yang pas-pasan. Meskipun saya “tidak memaksa”, namun perasaan “engga tega” “tidak ingin mengecewakan orangtua” itu lah yang tampaknya justru menjadi benteng psikologis yang membuat Azka tak mau terbuka pada saya. Dan di saat-saat seperti itulah, saya perlu si abah. Di saat-saat itulah seorang ibu butuh suaminya,  sebagai seorang ayah.

Dalam praktek, sudah lama saya meyakini bahwa ayah, bukanlah “figur pelengkap penderita” dalam persoalan tumbuh kembang anak. Terutama untuk kasus-kasus yang “berat”; seperti ketergantungan anak pada sesuatu, anak terancam DO, hamil atau menghamili; saya melihat ayah sangat potensial untuk maju ke garda depan mendampingi anak melalui hari-hari sulitnya. Konon katanya, ibu kan lebih emosional. Sedih, biasanya saat menghadapi masalah anak.  Nah, anak…biasanya sangat sulit menghadapi kesedihan ibu. Airmata ibu. Beban masalahnya dihayati bertambah oleh anak saat harus menghadapi air mata dan wajah sedih ibu.

Dalam kultur Indonesia, “membahagiakan orangtua” adalah sebuah nilai yang begitu berharga. Indikator  keberhasilan. Oleh karena itu, “mengecewakan orangtua” adalah hal yang akan dimaknai sebagai suatu kegagalan. Suatu hal yang buruk. Nah, saat itulah…seorang ayah yang lebih rasional, biasanya menjadi potensi yang bisa dimanfaatkan. Ibu, back off dulu….Ayah dulu yang maju. Nah, kalau ayah tak punya hubungan emosional sama anak, “lepas”lah anak atau remaja  itu dari keluarga. Kalau anak atau remaja udah “lepas” dari keluarga, lebih sulit mencari figur yang menjadi “significant other” bagi anak dan remaja.

Ibu, bukanlah manusia sempurna. Menurut saya, amanah menjadi “madrasah utama dan pertama bagi anak” tak harus membentengi ibu dari objektifitas bahwa dirinya tak sempurna. Bahwa ada keterbatasan yang dimiliki ibu. Ada karakteristik khas dari ibu. Mungkin kita sebagai ibu adalah seorang yang terlalu lebay, terlalu high achiever, atau terlalu pencemas,  …. terlalu “terikat” sama anak-anak kita, dan terlalu-terlalu lainnya. Sehingga di saat itulah, kita butuh sosok yang bisa menjadi penyeimbang. Ayah.

Jadi, kesimpulan dari paparan panjang kali ini adalah:

cowgirl-border-We Need You(1) Ayah, sangat bermakna bagi kehidupan anak. Anak membutuhkan ayah,  di tahap perkembangan apapun. Hanya berbeda bentuknya.

(2) Ayah, sangat bermakna bagi ibu. Istri membutuhkan suamianya dalam konteks mengasuh anak, di tahap perkembangan apapun anaknya. Hanya berbeda bentuknya.

Abstraksi dari dua point di atas adalah,

we need you…. dad, abi, ayah, abah, papa, papi, bapak….

your daughter, your son, your wife  really need you….

sumber gambar : http://www.timbertrailparents.org/cms/NewsDetail.aspx?id=1190

Anak, bukan miniatur orang dewasa ; bagaimana aplikasinya?

Mungkin kita pernah mendengar kata-kata ini. Anak bukan miniatur orang dewasa. Ia bukan orang orang dewasa berukuran mini. Apa maksudnya? Ayo….yang pernah mendengar rangkaian kalimat “anak bukan miniatur orang dewasa”, pause sejenak. Kita hayati apa makna rangkaian kalimat tersebut.

Udah dapet? pertanyaan selanjutnya sekarang adalah, bagaimana aplikasi dari konsep “anak bukan miniatur orang dewasa” dalam pengasuhan?

Saya punya satu cerita. Cerita lucu dan sederhana yang barangkali pernah juga dialami oleh teman-teman. Tapi dibalik cerita lucu dan sederhana tersebut, kita bisa hayati dan lalu kita AMALKAN penghayatan bahwa “anak bukan orang dewasa dalam ukuran mini” itu.

Begini ceritanya…..

Setelah seminggu lalu melewati UTS, hari Jumatnya Umar si kelas 4 dan Hana si kelas 1 menunjukkan segepok berkas-berkas UTSnya. UTS kali ini istimewa. Karena untuk pertamakalinya Umar dan Hana pake kurtilas alias Kurikulum 2013. Kekhasan yang paling terasa adalah, tidak ada soal yang berupa pilihan ganda. Semuanya essay. Anak-anak dilatih untuk mengeluarkan gagasannya, merangkai kalimat. Dan saya suka banget konsep ini.

Maka, rutinitas membaca hasil Ujian anak-anak menjadi lebih mengasyikkan. Anak-anak  berkumpul “ngariung” di sekitar saya dan abahnya, yang membacakan soal-demi soal lalu membaca jawaban yang mereka tulis. Diiringi tanggapan, pujian, umpan balik, atau tertawa bersama saat jawaban yang ditulis “ngaco”. Favorit Umar adalah saat membaca jawaban Bahasa Sunda.

Yups, pagi itu kami tertawa-tawa membaca ke”ngaco”an Umar menjawab pertanyaan bahasa Sunda. Misalnya pada pertanyaan “Keur panas poe kieu mah ngeunah nginum…..” Umar mengisi titik-titik dengan kata “rujak”. Lalu untuk pertanyaan “Isuk-isuk teh manehna sok sarapan ….” Umar menjawab “peuyeum”. Tawa kami makin heboh saat membaca soal “vocabulary”, dimana ia harus menjelaskan makna kata-kata dalam soal. Umar menjawabnya pake bahasa campur yang lucu banget haha… Misalnya untuk soal “Jilbab”, dia menjawab “pakean nu nutup aurat perempuan”. “Tajil : makanan abis shaum”. Shodaqoh: ngabere uang ka orang miskin”. Yang paling lucu adalah pada soal membuat kalimat. Ngaduruk: Eza ngaduruk ikan di imahnya. Ngitung : Doni lagi ngitung uang buat meuli mainan. Hahaha…..dan ibu guru membetulkan jawaban-jawaban itu. Memang dalam pertemuan dengan orangtua beberapa waktu lalu, pihak sekolah bilang bahwa untuk bahasa Sunda, tuntutan mereka realistis saja. Mengingat kenyataan, bahwa hampir seluruh anak tak terpapar bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari mereka. Termasuk anak-anak sayah hehe…

Beralih ke dokumen UTS Hana. Terus terang saya gak berharap banyak ke Hana. Tuntutan saya berbeda dibanding pada dua kakaknya. Ia adalah “anak percobaan”. Saya menjadikannya “percobaan” untuk membuat saya yakin, apakah benar kalau seorang anak matang kemampuan dasar belajarnya, meskipun ia tak terpapar latihan akademik nantinya akan mudah “mengejar?”. Yups, kombinasi dari kepribadiannya yang sangat menikmati bermain dengan keriweuhan saya membuatnya tidak terlalu mendapatkan stimulasi akademik. Lulus TK, dua kakaknya sudah lancar membaca, menulis dan membaca Qur’an. Dia? lulus TK belum hafal semua huruf, belum bisa menulis, dan masih Iqro 1 halaman 5. Itu yang bikin abahnya deg2an saat seleksi masuk SD lalu. Saya deg2an juga sih, tapi gak pol khawatir karena tau bahwa sekolah yang akan dimasukinya, memiliki pemahaman yang sama dengan saya. Kesiapan, bukan keterampilan calistung anak yang dijadikan penialaian.

Saya yakin Hana punya dasar yang kuat. Justru minat besar dia untuk bereksplorasi, membuat saya yakin seluruh milestone dasar belajar ia kuasai. Bahwa ia tak suka materi akademik, ya…karena  tak saya stimulasi dengan intensif.  Itu pula yang saya sampaikan pada gurunya pada saat saya menemui beliau. Bahwa Hana belum bisa membaca dan menulis. Ibu Guru bilang, memang Hana tertinggal dibanding teman-temannya dalam hal itu. Syukurlah saya lihat bahwa kurikulum 2013 ini sangat “ramah anak”. Materi-materi pertama adalah mengenai pola dan logika. Dengan gambar, tanpa harus menulis huruf dan angka.

Maka, jadilah di ulangan harian-ulangan harian Hana (salah satu operasionalisasi kurtilas, adalah ulangan tiap minggu untuk mengecek pemahaman per tema), berkasnya selalu berisi bintang, nilai A plus catatan guru. Bagaimana tidak? kalau dia menulis, semua hurufnya kebalik. Tulisannya besar-besar, naik turun dan kadang dari arah kiri ke kanan, kadang dari kanan ke kiri …haha…. Tapi dengan senyum mengembang di wajah saya, ia tetap ceria mengjalani hari-harinya. Saya tersenyum karena yakin…begitu ia belajar, ia akan melesat. Fondasinya sudah kuat.

Dan, sampai tengah semseter ini, abahnya yang rajin mendiktekan kata-kata lucu, mengajaknya “membuat karangan”, tulisannya sudah terbentuk, bisa dibaca. Semua nilai UTSnya tak ada yang diremedial. Sebagian besar seratus. Gigi oheng-nya senantiasa terlihat saat saya dan abahnya membaca soal demi soal dan jawaban yang ia tuliskan. Sampailah pada soal terakhir. Soal no. 30. Tentang tata tertib di perpustakaan.

PertanyaannDSC_0405ya : “mengapa di perpustakaan tidak boleh berteriak?”

Jawaban Hana : “agar buku di perpustakaan tidak jatuh”.

Bentar…bentar …saya mengerutkan kening. Tidak mengerti. “Ibu gak ngerti teh…kenapa kalau berteriak bukunya jadi jatuh?”

Dengan wajah riang khasnya, dia menjawab ….“ih…ibu…pernah gak liat di film…kalau kita teriak keras, kan buuuur,,,,nanti dindingnya runtuh, rak-rak lemari buku juga akan bergerak,,,jadi kan bukunya pada jatuh!”.

Ahahahaha….mana kepikiran ama kita orang dewasa jawaban seperi itu ….. khas imajinasi anak kecil. Tapi…apakah itu jawaban yang salah? Lihatlah tanda centang yang menunjukkan bu guru membetulkan jawaban itu. Salam takzim untuk bu Guru.

Ia, adalah guru yang memahami bahwa anak, bukan miniatur orang dewasa. Logika yang disampaikan Hana dan beberapa temannya, tak salah dalam dunia mereka. Dan saya, sangat takzim pada pengajar-pemgajar seperti ini. Ia tak memaksa anak-anak yang lugu, polos, penuh imajinasi dan semangat itu untuk berpikir “dewasa”. Ia, begitu menghargai ada dunia lain , ada cara pikir lain dalam kepala-kepala mungil dan wajah-wajah polos itu. Ia, begitu menghargai pengalaman yang dimiliki anak-anak itu. Dan ia menghargai keberanian anak-anak ini mengungkapkan pengalamannya.

Hana pun menceritakan jawaban beberapa temannya yang lain. Jawaban-jawaban lugu anak kecil. Andaikan bu guru menyalahkan jawaban-jawaban ini, mungkin anak-anak ini akan “layu sebelum berkembang”, saat apa yang mereka miliki tak dihargai, dan mereka  dipaksa untuk menghafal sesuatu yang tak bisa ia pahami.

Ya…banyak sekali puisi, kata-kata mutiara, tulisan, pesan-pesan para trainer parenting tentang menghargai anak. Tapi, sejatinya kita tak akan bisa menghargai anak kalau kita tak paham bahwa anak, bukalah orang dewasa yang bertubuh kecil.

Kita, akan selalu tak bisa menahan diri untuk melekatkan predikat “orang dewasa” pada anak, jika kita tak menghayati bahwa anak, bukanlah orang dewasa-mini. Kita akan mengatakan anak kita “pemalas”, “pemalu”, “pemarah”….

Kita, juga mungkin akan menakar ke”pintar”an anak-anak kita, dengan standar orang dewasa. Saat kita tak bisa menghayati bahwa anak bukan orang dewasa-mini, maka kita akan pelit memberikan jempol dengan tulus (catat: memberikan jempol DENGAN TULUS, bukan jempol basa-basi). Kita akan menyampaikan penghargaan yang tulus dari lubuk hati saat kita betul-betul paham bahwa untuk anak 3 tahun, berbagi itu sangat sulit.Bahwa untuk anak 4 tahun, berhenti main tablet pada waktu yang telah disepakati itu, bukan hal yang mudah.

Dan percayalah, anak tau mana pujian dan acungan jempol yang tulus dan yang tidak.

Satu kebaikan akan mengundang kebaikan yang lain. Penghayatan kita bahwa anak bukan dewasa-mini, juga akan membuat kita mampu menghargai orang-orang yang mampu menghayati hal itu. Kita akan tulus berterima kasih pada guru-guru anak kita, bahkan untuk “hal sederhana” yang mereka lakukan. Kita akan berterima kasih, karena mereka telah bersusah payah membuat skenario teater dan memberi peran si Playgroup untuk menari dengan gerakan super sederhana, repetitif dan dalam rentang waktu yang pendek. Sehingga si anak-anak tiga tahun itu, bisa tampil dengan “memuaskan”, sesuai dengan dunia mereka. Kita akan berterima kasih, si 4 tahun itu lebih banyak belajar dengan tubuhnya di lapangan dibandingkan diberikan worksheet-worksheet tak berwarna.

Bagaimana caranya menghayati bahwa anak itu bukan orang dewasa dalam wujud kecil? banyak mengamati, banyak berbincang, banyak mendengarkan mereka. Pasti kita akan banyak belajar dari mereka. Gampang kan? Tapi sssst….sini saya bisikin sesuatu….untuk bisa begitu, kita perlu rendah hati…….

emergency exit buat persoalan akademik si remaja

Sejak saya dengar suaranya di telpon saat saya masih di perjalanan sore tadi, saya tahu si sulung lagi bete. Dan itu terbukti dari raut wajahnya saat saya sampai rumah. Kayaknya bete banget. Hari-hari si remaja putri ini memang sangat fluktuatif emosinya. Adik-adiknya juga pada takut dan memilih menjaga jarak, takut kena semprot si kaka.

Kalau saya amati, emosinya memang lebih sering negatif. Kesel, marah. Dan menurut saya, itu wajar. Selain karena faktor keremajaannya, ia masih sedang masa adaptasi dengan sekolahnya. Adaptasi yang….kalau saya hayati, cukup berat juga. (1) Adaptasi rutinitas. Jam 6 pagi sudah dijemput, sampai rumah jam 6 sore. (2) Adaptasi tuntutan. Tuntutan dari dalam dan luar rumah terhadap anak SMP berbeda dengan tuntutan terhadap anak SD. (3) Adaptasi tuntutan akademis. Kalau ngintip buku-buku SMP, gileeee materinya kayaknya gak jauh beda sama materi jaman dulu kita belajar nyiapin untuk UMPTN. PLus metoda pembelajarannya yang banyak presentasi. (4) Adaptasi konteks sosial sekolah baru. Saya jadi ingat, dulu pernah diskusi sama seorang teman yang jadi psikolog sekolah. Azka kan masuk sebuah SMP IT yang ada SD-nya. 80% murid SMPnya, ya dari SD tsb. Jadi kebayang, sudah terbentuk dinamika sosial selama 6 tahun dari 80%teman-temannya. Dia dan teman-temannya dari SD “luar”, pastilah jadi “outsider” dan butuh proses untuk lebur. Memang proses sosial dalam konteks seperti ini menjadi lebih sulit adaptasinya, dibandingkan yang masuk SMP negeri misalnya, yang memang bener-bener bentuk kelompok baru.

Jadi, saya kebayang bertapa “berat” beban psikologis yang harus ditanggungnya. Saya coba kasih dia ruang. Kalau lagi bete gitu, saya kasih privasi. Adik-adiknya, udah tau kalau sebaiknya gak ganggu kaka. Biasanya, kalau dia udah siap cerita, dia akan datang ke saya dan cerita apa yang bikin dia sebel dan kesel. Kalau engga, pas saya sudah gak repot dengan adik2nya dan kondisi emosi saya pun oke, saya suka masuk ke kamarnya, ngajak dia ngobrol.

Ternyata malam ini, dia yang mendatangi saya. Dengan muka kusut, dia cerita kalau besok akan remedial ulangan IPS terpadu. Seangkatan diremedial, katanya. Dan dia gak ngerti materinya. Sudah sebulan terakhir ini memang saya mengalokasikan waktu khusus untuk nemenin dia belajar. Bukan nemenin deng…ngajarin dia materi pelajaran. Terutama matematika pastinya, yang dia rasa rumit banget. Memang kalau dilihat tingkat kesulitannya, seperti yang udah saya bilang….materinya teh asa materi jaman dulu ngulik pas mau persiapan UMPTN. Kalau dari segi potensi sih,  saya percaya Azka cukup mumpuni. Cuman masalah klasiknya di Indonesia kan….sistem pembelajaran kurang mendukung terbentuknya “pola pikir” dan “struktur berpikir” yang bertahap pada anak. Media pembelajaran kurang memfasilitasi pemaparan materi dalam cara yang dimengerti sesuai tahap perkembangan kognitif anak. Jadilah, saya guru matematika. Plus malam ini, guru IPS terpadu.

Tadi malam, karena masih riweuh dengan si bungsu dan si pangais bungsu yang masih aktif rebutan ngomong untuk cerita (padahal ya, tadi mereka sore berdua jemput saya ke jatinangor, lalu keliling-keliling cari baju buat manasik haji hari Jumat dan sepanjang perjalanan, ngomooooong terus. ceritaaaa terus. rebutan ceritaaaa terus. Tapi gak abis-abis tuh bahannya …hehe) saya tanya “kaka kan udah ibu ajarin bikin mind map”. “Iya tapi pusing banget, gak ngerti..”katanya setengah mau nangis

Akhirnya, saya ajak dia buat bikin mind map barengan. Materinya mengenai proses pembentukan permukaan bumi. Ah, kebetulan minggu depan saya akan ngajar mahasiswa gimana caranya baca buku, gimana caranya  nangkep struktur bacaan. Saya pun orat-oret…sambil nunjukin gimana caranya nangkep struktur bacaan. Tapi bentar…bentar…bentar….aduh…hiks…ini emang bukunya, bahan bacaannya, strukturnya gak bagus. Gak runtut. Mau bikin mindmap teh, susah banget. Harus baca bolak-balik untuk memahami gimana sih kerangkanya. Ya ampuuuun….pantesan aja 72 anak di sekolah Azka gak ngerti semua…gak cuman Azka yang pengen nangis. Saya juga ……Yah, ini adalah masalah klasik lagi. Banget. Menulis itu, tidak mudah. Menulis, kalau tujuannya membuat orang lain paham, tidak mudah. Apalagi menulis buku untuk anak. Kita harus bener-bener paham dan mau empati, pola pikir anak kayak gimana sih…..Kita harus berpikir keras,  struktur bacaan yang mudah dicerna anak. Pilihan katanya, lay outnya…..

Akhirnya, saya bilang ke Azka, tidur aja dulu. Saya nidurin adik-adiknya dulu. Nanti sebelum sahur akan saya bangunkan, untuk belajar. Saya bilang saya juga butuh waktu untuk paham materinya dan buatin dia mindmap. Saya menangkap raut tak percaya di wajahnya. Haha…memang sih, anak-anak saya tau kalau saya udah bilang “nanti”, itu mereka akan ingetin terus….apalagi kalau adik-adiknya masih bangun. Saya ngerti banget Azka setengah gak percaya. Mungkin di dalam hatinya bilang “yakin, ibu gak akan ketiduran bareng sama adik-adik?” kkkk…. Dan memang itu kejadian…saya ikut tertidur seiring tidurnya Azzam dan Hana….

DSC_0348Tapi jam setengah 2 tadi, saya bangun. Saya inget PR saya. Lalu saya pun mulai baca. Bolak-balik. Gileee materinya pedet banget…banyaaaak banget…Nama-nama batu, jenis-jenis gunung, sedimen, istilah-istilah ajaib seperti epirogenetik, hiposentrum, dll dll. Lalu saya lihat latihan soalnya. Hafalan mengenai istilah-istilah itu. Ah, pantes aja anak-anak di Indonesia pada umumnya benci IPS. Emang paparan materi dan soal-soalnya menyebalkan. Bener….apa sih tujuan pembelajarannya? padahal ya, materi intinya tuh menarik loh. Tentang gimana relief di muka bumi ini terbentuk. Dipengaruhi dua energi. Endogen dan eksogen. Endogen itu apa, gimana prosesnya, reliefnya jadi apa. Demikian juga eksogen.  Tapi kayaknya kalau dari paparan dan soal latihannya, bukan “big picture”nya itu yang dituntut dipahami, tapi detil-detil hafalan yang saya gak yakin akan dibutuhkan oleh anak-anak umur 12 tahun.  Itu, mindmap yang saya bikin itu, cuman big picturenya doang loh…detil hafalannya, masih banyak.

Setelah selesai, saya bangunkan Azka. Saya jelaskan, saya coba kasih ilustrasi dengan contoh-contoh pengalaman dia. Saya perhatikan, wajahnya awalnay sangat kusut, tapi saya coba yakinkan lagi, ceritakan lagi inti materi itu, bahwa ini bisa dipahami. Lalu kita bareng-bareng isi soal latihan.

Anak SMP, dibikinin mindmap? dijelasin? mana kemandirian belajarnya? saya menyebut apa yang saya lakukan sebagai “emergency exit”. Pintu keluar emergency. Kenapa? karena telah terjadi “kebakaran” dalam diri Azka. “Kebakaran psikologis” yang bisa berdampak fatal dan jangka panjang. Apa itu? (1) Hilangnya motivasi belajar. (2) Gak tau gimana menyelesaikan masalah. Helpless. Dua hal yang sangat gawat kalau sampai terjadi.

Saya berharap yang saya lakukan, bisa membantu dia terhindar dari dua dampak di atas. Meskipun saya menjanjikan “ice skating” kalau dia bisa mencapai KKM, tapi bukan itu tujuan utama saya. Saya berusaha agar ia tak apatis, kehilangan motivasi dan perasan tertantang. Konon katanya, motivasi berprestasi itu tumbuh jika tingkat kesulitan yang kita hadapi adalah moderat. Artinya, menantang tapi mungkin untuk kita tundukkan. Nah, kalau 72 anak diremedial, berarti tantangannya tak moderat. Faktor media buku dan metoda pengajaran berarti tak membantu. Nah, kalau anak mengalami kesulitan dan ia merasa tak ada yang membantu, bisa frustrasi dia. Dampaknya, bisa merasa “tak berdaya”. Ini sikap mental yang bahaya banget. Saya mencoba untuk menunjukkan bahwa masalah ini bisa diselesaikan. Bahwa I’m here with you.

Mmmmhhh….pada dasarnya, setiap hari-hari  yang anak-anak kita jalani, adalah ujian kehidupan ya…Pikiran dan perasaan yang mereka alami sehari-hari, akan tersedimentasi menjadi “relief” kepribadian mereka. Saat dunia “tak ramah”, kurikulum “tak ramah”, buku pelajaran “tak ramah”, metode pelajaran “tak ramah”,  maka ya…. tinggal kita orangtuanya ya, yang harus jadi “jangkar pelindung psikologis” mereka. Dan kita pasti bisa….kita punya energi endogen  dan eksogen yang berlimpah …. Rahman dan Rahim Nya, yang ia titipkan pada kita.

Previous Older Entries Next Newer Entries