Ketika si gadis kecil ingin menjadi petani

Kemarin, ketika saya sampai di rumah, di pintu depan saya disambut oleh si gadis kecil 7 tahun  yang memeluk saya dengan mata berkaca-kaca. Setelah saya peluk 5 menitan, dia bertanya:

“emang jadi petani itu memalukan ya bu?” Saya peluk lebih erat, saya tahu dia gak perlu jawaban.

Lalu mengalirlah ceritanya. “Tadi di sekolah kan Bu Guru tanya, cita-citanya apa. Pas teteh bilang pengen jadi petani, semua temen teteh ngetawain teteh”. Lalu dia terisak lagi. Masih saya peluk. “Teman-teman teteh pada cita-citanya jadi polisi, dokter, tentara, astronot, pilot. Terus kata Bu Guru, petani itu penting. Kalau gak ada petani, yang lainnya….dokter, tentara, polisi, astronot, semua temen-temen teteh gak akan bisa makan. Tapi tetep temen-temen teteh ngetawain”. Dan ia mengulang lagi pertanyaannya; “Emang jadi petani itu pekerjaan yang memalukan gitu?” 

Saya peluk lagi lebih erat. Saya pikir dia gak butuh jawaban. Dia hanya butuh mengungkapkan perasaannya dan mendapatkan dukungan.  Setelah tangisnya reda, dia pun kembali ke aktivitas favoritnya: menggambar komik “sekolah kucing” sambil bersenandung.

Sudah 2 tahun ini, setelah cita-citanya berubah dari jadi dokter hewan ke petani, ia konsisten. Setiap kali ia jemput saya ke Jatinangor dan saya tunjukkan fakultas-fakultas “keren”: kedokteran, FKG, farmasi, dia tanya dimana Fakultas Pertanian. Setelah saya kasih tau dimana, ia harus selalu lewat situ. Abahnya udah ngajak suatu saat  jalan-jalan ke IPB. Si gadis kecil selalu membayangkan bagaimana nanti dia memelihara hewan-hewan ternak, menanam dan merawat berbagai tanaman, dll dll. Setiap mudik ke Kediri, riangnya bukan main menikmati suasana, mengamati bahkan membantu para petani.

Saya sendiri, mendukungnya. Jujur saja ya, beberapa tahun lalu, dukungan saya mungkin palsu. Hanya di bibir dan di wajah, namun tak di hati. Namun beberapa tahun terakhir ini, dukungan saya juga dari hati. Seiring usia bertambah, saya semakin banyak melihat. Dan salah satu yang saya buktikan adalah, menjadi apapun seseorang, yang akan menjadi kunci kesuksesannya adalah kesungguhan.

Tapi ternyata, dalam konteks kehidupan, sukses dalam bekerja hanya menjadi salah satu bagian dalam perjalanan panjang kehidupan kita. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: setelah kita sukses, apakah kita merasa bahagia? apakah harus sukses dulu baru kita bahagia? atau kebahagiaan yang membawa kesuksesan? mengapa banyak yang sudah sukses namun tak merasa bahagia? 

happy-career-buku-foto-kecilSebulan lalu, saya menerima buku dari kakak kelas saya, Mbak Elvi Fianita. Beliau menulis buku berjudul Happy Career. Buku ringan berisi 9 prinsip mengejar keberhasilan dengan lebih dahulu mengejar kebahagiaan. Isinya, menjawab pertanyaan-pertanyaan saya di atas. 9 prinsip yang saya baca sambil mengangguk-angguk.

Dari 9 prinsip yang diungkap dalam buku ini, prinsip ke-4 yang paling berkesan buat saya. Menemukan “panggilan hidup” dalam pekerjaan kita.

Setelah 19 tahun meninggalkan bangku SMA, 15 tahun melihat teman-teman saya selulus kuliah berkembang dengan jalannya masing-masing, maka saya melihat…mereka yang hepi, adalah mereka yang memilih pekerjaan yang sesuai dengan passionnya.

Dan kehepian itu, selalu diikuti oleh kesungguhan, menjadi paduan yang sangat mempesona. Apapun bentuk pekerjaannya.

Teman-teman saya yang senang menjelajah, bekerja di bidang wisata. Capek dan kadang ruwet, namun mata mereka terlihat berbinar dalam foto-foto amazing di berbagai tempat. Teman saya yang menjadi dokter bedah, pekerjaannya sangat beresiko, waktunya sangat padat, namun binar mata saat ia bercerita tentang pekerjaannya, selalu mempesona. Teman saya yang senang menjadi penulis, meskipun hidupnya pas-pasan, tak sebanding dengan inspirasi dalam buku-buku karyanya, namun kebahagiaan jiwanya tergambar dengan gamblang. Teman-teman dosen, teman-teman psikolog…meskipun wajah lelah, pikiran penuh, namun saat kami saling bercerita, binar-binar  di mata kami tak bisa disembunyikan. Menjadi guru, perupa, helper, manager, peneliti, bidan di pelosok desa, penyuluh kesehatan…..

Maka, saya kemudian menyimpulkan….bukan “menjadi apa” yang penting buat anak-anak kita. Namun, seberapa dalam makna yang ia hayati dalam pekerjaannya. Seberapa besar nyala api yang mendorongnya untuk mengabdi dan berkarya di sana.

Maka, dalam konteks kita sebagai emak, yang penting bukanlah menyiapkan anak untuk masuk sekolah ini itu, atau jurusan ini itu. Namun menemukan apa yang menjadi “panggilan hidup”nya. Sesuai kepribadiannya. Karena Sang Maha, akan memudahkan seseorang sesuai dengan untuk apa ia menciptakannya.

Meskipun bukuHappy Career ini kurang dari 100 halaman, namun isinya sangat sarat dengan fakta-fakta yang akan membuat kita semakin meyakini bahwa bekerja, adalah hanya bagian kecil dari sajadah panjang kehidupan kita. Maka, jangan salah arah. Sukses itu harusnya bukan tujuan. Sukses itu gak usah dipikirin. Itu mah bonus. Mudah didapat  kalau kita menemukan pekerjaan yang membuat kita hepi dan merasa bermakna untuk terus menjalaninya

 

 

We need you dad ….

Salah seorang mahasiswa bimbingan skripsi saya, Divo, melakukan penelitian mengenai peran ayah pada  remaja awal, usia 12-14 tahun. Penelitian ini didasari studi literatur yang menunjukkan bahwa penelitian mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, lebih banyak dilakukan pada anak usia dini sampai usia pra remaja. Di sisi lain, usia remaja awal merupakan usia yang “khas” dengan isu perpindahan “dunia” dari “dunia keluarga” menjadi “dunia teman”. Melalui penelitian ini, ingin diketahui 2 hal; (1) bagaimana persepsi remaja awal mengenai pentingnya peran ayah dalam kehidupannya? (2) bentuk perilaku ayah yang bagaimana yang dirasa bermakna bagi remaja awal?

Penelitian kualitatif menggunakan teknik wawancara mendalam (depth interview) dilakukan pada 102 remaja awal usia 12-14 tahun, baik laki-laki maupun perempuan dalam dua bulan terakhir ini. Hasil wawancara dicatat secara verbatim, lalu dicoding melalui beberapa tahap analisis. Singkat kata singkat cerita, hasilnya menunjukkan bahwa remaja awal, merasakan bahwa mereka masih sangat membutuhkan keterlibatan ayah dalam kehidupan mereka, baik keterlibatan yang sifatnya kehangatan, support material maupun kontrol. Mengapa? secara umum jawaban-jawabannya mengelompok menjadi nada-nada kasih sayang (misal: seneng deket sama ayah), nada-nada kompetensi (misal: ayah tahu mana yang lebih baik), dan yang secara pribadi menarik buat saya adalah, jawaban-jawaban bahwa ayah yang terlibat dalam kehidupan mereka merupakan “standar keluarga yang baik”. Jujur saja, entah mengapa saya merasa…terharu gitu dengan jawaban anak-anak remaja yang ini.

Salah satu temuan  menarik untuk menjawab pertanyaan penelitian yang kedua adalah, bentuk perilaku ayah yang dirasa bermakna adalah aktifitas bersama dalam kegiatan keseharian dan kumpul keluarga. Ini muncul dalam dimensi-dimensi yang terkait dengan kehangatan dan kasih sayang. Sedangkan dalam dimensi yang terkait dengan kontrol dan support material, tema sekolah mendominasi. Yang menarik,  mereka juga menyatakan bahwa saat ayah  memberikan support material tanpa diminta (misal membelikan sepatu yang sudah rusak, buku pengayaan yang mereka butuhkan), itu mereka rasakan sebagai perilaku yang bermakna. Kaitannya kayaknya dengan rasa “diperhatikan” ya…

Dalam tataran pemikiran, penelitian ini adalah satu dari sekian banyak penelitian mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, yang memperkuat penelitian-penelitian sebelumnya. Ini hanya salah satu bukti empiris-akademis,  memperkuat saya untuk semakin  tegas menyuarakan ketidaksetujuan  pribadi terhadap pembagian tugas hitam-putih; ayah cari nafkah-ibu ngurus anak.

Dalam literatur-literatur mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, kesediaan ayah untuk dengan sengaja meluangkan waktu, tenaga dan pikiran bagi anak-anaknya, digambarkan memiliki 2 panah dampak positif. (1) pengaruh langsung pada anak; seperti dalam penelitian mahasiswa saya di atas, (2) pengaruh tidak langsung melalui ibu. Ayah yang terlibat dalam pengasuhan anak, akan membuat ibu merasa didukung. Dan sudah bukan rahasia lagi bahwa bagi seorang ibu, seorang wanita, dukungan psikologis itu sudah cukup untuk menghasilkan energi tak terhingga -yang kadang tak masuk akal- untuk menghadapi seluruh kebutuhan anak-anaknya; fisik-kognitif-emosi-sosial-spiritual.

Sebenarnya, saya curiga sih….keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak ini punya satu panah lagi. Yang belum banyak diteliti. Yaitu…bagi ayah itu sendiri. Sering saya melihat, ayah-ayah yang begitu enjoy main dengan anak-anaknya. Di lapangan mesjid telkom setiap ahad jam 8-10.30, saat pengajian Percikan Iman,  saya banyak dan sering menyaksikan ayah-ayah yang begitu enjoy main bola, main gelembung sama anak-anaknya. Tertawa bersama, menikmati bersama permainan-permainan itu. Demikian pula di tempat-tempat umum lainnya. Saya berpikir, mungkin bagi para ayah yang bergelut dengan “dunia maskulin yang keras”, bermain tanpa melibatkan kognisi  itu, adalah refreshing banget. Bahkan ada seorang ayah yang bilang bahwa kalau dia ada kerjaan lebih dari dua hari di luar kota, dia jadi gak produktif. Stress. Makanya dia selalu nyempetin pulang buat liat dan ketemu anak-anaknya. Itu sih ayahnya anak-anak saya haha…(ssst….sebenernya kayaknya kangen sama ibunya juga sih, cuman gengsi mengakuinya … kkkk).

Kalau saat anak kecil, kebayang lah bagaimana bentuk dukungan dan keterlibatan ayah pada anak. Ngajak main. Bentuk dukungan pada ibu: bantuin pegang anak-anak saat ibu riweuh ngurus ini-itu yang lain. Dalam beberapa tulisan saya di folder “father involvement”, sudah banyak saya menuliskan hal tersebut.

Bagaimana kontribusi langsung ayah pada tumbuh kembang remaja awal? Penelitian Divo di atas sudah menjawabnya. Nah…dua minggu lalu dan minggu, saya punya pengalaman yang membuat saya menghayati bagaimana ibu juga sangat  membutuhkan ayah dalam menghadapi anak remaja.

Salah satu “isu” antara saya dan si sulung kelas 1 SMP adalah soal penampilan. Kami  selalu mengingatkan dia untuk memperhatikan pakaiannya. Kenapa? karena bentuk tubuhnya sekarang sedang “mekar-mekarnya” ibarat bunga mah. Jadilah kami polisi fashion. Kalau pake celana panjang, kaosnya yang panjang juga. Kerudung harus diurai, biar dadanya ketutup. Pilih kerudung yang gak tipis….. Namanya anak remaja ya….meskipun Azka anak yang “baik” dan sekolahnya juga cukup ketat soal pakaian, tetep we….ada eksplorasinya. Ngumpet2 pake jins yang ketat meskipun udah dibikinin celana  jeans yang agak longgar. Kerudung, harus selalu diingetin untuk dijulurkan ke dada.

Nah dua minggu lalu, saya liat dia kok gak pake daleman kerudung (selanjutnya akan disebut ciput kkkk). Ya jelaslah rambutnya keliatan melalui kerudungnya yang transparan. Waktu itu, kami pergi sekeluarga untuk makan. Ya jelaslah, saya tegur soal ia tidak memakai ciput. Tentu dengan nada kesal, karena saya inget banget, saya sering belikan dia ciput, bros dan segala perlengkapan kerudung. Sering banget malah. Bla…bla..bla…..Di luar dugaan, ternyata reaksinya tidak hanya cemberut, tapi dia menangis sesenggukan. Berlanjut sampai di tempat makan. Sesenggukan.

Si abah lalu bertanya kenapa…saya jelaskanlah kekesalan saya. “Caranya de, caranya…. dirimu bener, maksudnya baik….tapi caranya…”. Gitu kata si abah. “Ade udah pelan-pelan bah caranya….ade tadi tanya, kenapa kakak gak pake ciput..ibu kan udah sering beliin….bla..bla..bla..” saya berusaha menjelaskan bahwa saya mengingatkan Azka dengan cara yang “lemah lembut dan pelan-pelan”. Kkkkk…sebenarnya anak TK juga akan tahu bahwa jelas-jelas saya “mengomeli”, bukan “mengingatkan”. Tau gak…saat itu ya, saya tiba-tiba ingat ada istilah yang mengatakan “boy will be boy”. Ungkapan itu sering dikatakan sebagai kelakar bahwa buat seorang wanita, jumlah anaknya adalah plus , yaitu suaminya. Untuk menunjukkan bahwa suami sering berperilaku kekanak-kanankan. Nah, saat itu saya berpikir kayaknya situasi yang menggambarkan yang sedang saya alami adalah “girl will be girl” kkkk…saya bayangkan si abah  sedang menghadapi dua anak perempuannya yang sedang berantem haha…. Akhirnya, sudah bisa ditebak. Si abah mendekati si sulung, meredakan tangisnya. Saya amat mengandalkan si abah memang dalam kondisi sedang tidak waras seperti ini. Sering saya curhat sesuatu dengan diawali ….“Bah, tolong bilang ke Azka….bla..bla..bla..”. Dan saya percaya sekali  mas bisa menjadi “jembatan” penghubung saya dan Azka saat salah satu atau kami berdua sedang dikuasai emosi negatif.

Seminggu lalu, ada pengalaman lain. Kami mendaftarkan Azka ke sebuah tempat les bahasa inggris terpercaya. Kami sepakat bahwa sudah saatnya Azka mendapatkan stimulasi bahasa Inggris yang advance. Tapi sepanjang placement test dan proses registrasi, saya melihat Azak kurang semangat. Tapi saya  abaikan, bertekad untuk tetap mendaftarkannya. Si abah juga mendukung. Hari ahad lalu, sepulang menjemput Azka dari acara di sekolahnya, si abah bilang: “De, aku tadi ngobrol sama Azka, katanya dia gak mau les bahasa Inggris. Dia pengen weekend itu bener-bener istirahat. Dia bilang, dia merasa cukup dengan 3 sesi pelajaran bahasa Inggris tiap minggu di sekolahnya. Kan ada writing, listening, speaking. Pake native speaker lagi. Jadi menurutku ga usah aja”.

Setelah makan malam, waktu saya lagi beberes dapur dan Azka mencuci piring, saya tanya; “Gimana, Kaka teh jadi mau les Inggris engga? kok Ibu liat Kaka kurang semangat”. Karena lagi waras, saya berkata dengan lebut dan pelan. Dia menjawab pelan “gimana ibu aja”. Waktu saya bilang oke dia gak usah les karena pertimbangan yang disampaikan si abah pada saya, “Yess…“katanya….dan dia pun dengan riang cerita ini-itu tentang teman-temannya di sekolah.

Temans…tahukah….keterbukaan anak itu, amat mahal. Apalagi anak remaja. Beberapa kali  saya temui orangtu yang bingung …kenapa anaknya putus kuliah padahal dulu bilangnya mau, kenapa anaknya males ini-itu padahal gak nolak….Saya menghayati….seperti ketidakterbukaan Azka terhadap saya itu-lah prosesnya. Anak yang sudah besar, biasanya bisa menangkap harapan orangtua padanya. Saya menduga, Azka menangkap bahwa saya punya harapan besar padanya. Saya sering bilang bagaimana kesempatan yang bisa diraih teman-teman saya yang Bahasa Inggrsinya advance, saya juga suka bilang betapa beratnya saat saya harus menulis dalam bahasa Inggris, karena bahasa Inggris saya yang pas-pasan. Meskipun saya “tidak memaksa”, namun perasaan “engga tega” “tidak ingin mengecewakan orangtua” itu lah yang tampaknya justru menjadi benteng psikologis yang membuat Azka tak mau terbuka pada saya. Dan di saat-saat seperti itulah, saya perlu si abah. Di saat-saat itulah seorang ibu butuh suaminya,  sebagai seorang ayah.

Dalam praktek, sudah lama saya meyakini bahwa ayah, bukanlah “figur pelengkap penderita” dalam persoalan tumbuh kembang anak. Terutama untuk kasus-kasus yang “berat”; seperti ketergantungan anak pada sesuatu, anak terancam DO, hamil atau menghamili; saya melihat ayah sangat potensial untuk maju ke garda depan mendampingi anak melalui hari-hari sulitnya. Konon katanya, ibu kan lebih emosional. Sedih, biasanya saat menghadapi masalah anak.  Nah, anak…biasanya sangat sulit menghadapi kesedihan ibu. Airmata ibu. Beban masalahnya dihayati bertambah oleh anak saat harus menghadapi air mata dan wajah sedih ibu.

Dalam kultur Indonesia, “membahagiakan orangtua” adalah sebuah nilai yang begitu berharga. Indikator  keberhasilan. Oleh karena itu, “mengecewakan orangtua” adalah hal yang akan dimaknai sebagai suatu kegagalan. Suatu hal yang buruk. Nah, saat itulah…seorang ayah yang lebih rasional, biasanya menjadi potensi yang bisa dimanfaatkan. Ibu, back off dulu….Ayah dulu yang maju. Nah, kalau ayah tak punya hubungan emosional sama anak, “lepas”lah anak atau remaja  itu dari keluarga. Kalau anak atau remaja udah “lepas” dari keluarga, lebih sulit mencari figur yang menjadi “significant other” bagi anak dan remaja.

Ibu, bukanlah manusia sempurna. Menurut saya, amanah menjadi “madrasah utama dan pertama bagi anak” tak harus membentengi ibu dari objektifitas bahwa dirinya tak sempurna. Bahwa ada keterbatasan yang dimiliki ibu. Ada karakteristik khas dari ibu. Mungkin kita sebagai ibu adalah seorang yang terlalu lebay, terlalu high achiever, atau terlalu pencemas,  …. terlalu “terikat” sama anak-anak kita, dan terlalu-terlalu lainnya. Sehingga di saat itulah, kita butuh sosok yang bisa menjadi penyeimbang. Ayah.

Jadi, kesimpulan dari paparan panjang kali ini adalah:

cowgirl-border-We Need You(1) Ayah, sangat bermakna bagi kehidupan anak. Anak membutuhkan ayah,  di tahap perkembangan apapun. Hanya berbeda bentuknya.

(2) Ayah, sangat bermakna bagi ibu. Istri membutuhkan suamianya dalam konteks mengasuh anak, di tahap perkembangan apapun anaknya. Hanya berbeda bentuknya.

Abstraksi dari dua point di atas adalah,

we need you…. dad, abi, ayah, abah, papa, papi, bapak….

your daughter, your son, your wife  really need you….

sumber gambar : http://www.timbertrailparents.org/cms/NewsDetail.aspx?id=1190

Anak, bukan miniatur orang dewasa ; bagaimana aplikasinya?

Mungkin kita pernah mendengar kata-kata ini. Anak bukan miniatur orang dewasa. Ia bukan orang orang dewasa berukuran mini. Apa maksudnya? Ayo….yang pernah mendengar rangkaian kalimat “anak bukan miniatur orang dewasa”, pause sejenak. Kita hayati apa makna rangkaian kalimat tersebut.

Udah dapet? pertanyaan selanjutnya sekarang adalah, bagaimana aplikasi dari konsep “anak bukan miniatur orang dewasa” dalam pengasuhan?

Saya punya satu cerita. Cerita lucu dan sederhana yang barangkali pernah juga dialami oleh teman-teman. Tapi dibalik cerita lucu dan sederhana tersebut, kita bisa hayati dan lalu kita AMALKAN penghayatan bahwa “anak bukan orang dewasa dalam ukuran mini” itu.

Begini ceritanya…..

Setelah seminggu lalu melewati UTS, hari Jumatnya Umar si kelas 4 dan Hana si kelas 1 menunjukkan segepok berkas-berkas UTSnya. UTS kali ini istimewa. Karena untuk pertamakalinya Umar dan Hana pake kurtilas alias Kurikulum 2013. Kekhasan yang paling terasa adalah, tidak ada soal yang berupa pilihan ganda. Semuanya essay. Anak-anak dilatih untuk mengeluarkan gagasannya, merangkai kalimat. Dan saya suka banget konsep ini.

Maka, rutinitas membaca hasil Ujian anak-anak menjadi lebih mengasyikkan. Anak-anak  berkumpul “ngariung” di sekitar saya dan abahnya, yang membacakan soal-demi soal lalu membaca jawaban yang mereka tulis. Diiringi tanggapan, pujian, umpan balik, atau tertawa bersama saat jawaban yang ditulis “ngaco”. Favorit Umar adalah saat membaca jawaban Bahasa Sunda.

Yups, pagi itu kami tertawa-tawa membaca ke”ngaco”an Umar menjawab pertanyaan bahasa Sunda. Misalnya pada pertanyaan “Keur panas poe kieu mah ngeunah nginum…..” Umar mengisi titik-titik dengan kata “rujak”. Lalu untuk pertanyaan “Isuk-isuk teh manehna sok sarapan ….” Umar menjawab “peuyeum”. Tawa kami makin heboh saat membaca soal “vocabulary”, dimana ia harus menjelaskan makna kata-kata dalam soal. Umar menjawabnya pake bahasa campur yang lucu banget haha… Misalnya untuk soal “Jilbab”, dia menjawab “pakean nu nutup aurat perempuan”. “Tajil : makanan abis shaum”. Shodaqoh: ngabere uang ka orang miskin”. Yang paling lucu adalah pada soal membuat kalimat. Ngaduruk: Eza ngaduruk ikan di imahnya. Ngitung : Doni lagi ngitung uang buat meuli mainan. Hahaha…..dan ibu guru membetulkan jawaban-jawaban itu. Memang dalam pertemuan dengan orangtua beberapa waktu lalu, pihak sekolah bilang bahwa untuk bahasa Sunda, tuntutan mereka realistis saja. Mengingat kenyataan, bahwa hampir seluruh anak tak terpapar bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari mereka. Termasuk anak-anak sayah hehe…

Beralih ke dokumen UTS Hana. Terus terang saya gak berharap banyak ke Hana. Tuntutan saya berbeda dibanding pada dua kakaknya. Ia adalah “anak percobaan”. Saya menjadikannya “percobaan” untuk membuat saya yakin, apakah benar kalau seorang anak matang kemampuan dasar belajarnya, meskipun ia tak terpapar latihan akademik nantinya akan mudah “mengejar?”. Yups, kombinasi dari kepribadiannya yang sangat menikmati bermain dengan keriweuhan saya membuatnya tidak terlalu mendapatkan stimulasi akademik. Lulus TK, dua kakaknya sudah lancar membaca, menulis dan membaca Qur’an. Dia? lulus TK belum hafal semua huruf, belum bisa menulis, dan masih Iqro 1 halaman 5. Itu yang bikin abahnya deg2an saat seleksi masuk SD lalu. Saya deg2an juga sih, tapi gak pol khawatir karena tau bahwa sekolah yang akan dimasukinya, memiliki pemahaman yang sama dengan saya. Kesiapan, bukan keterampilan calistung anak yang dijadikan penialaian.

Saya yakin Hana punya dasar yang kuat. Justru minat besar dia untuk bereksplorasi, membuat saya yakin seluruh milestone dasar belajar ia kuasai. Bahwa ia tak suka materi akademik, ya…karena  tak saya stimulasi dengan intensif.  Itu pula yang saya sampaikan pada gurunya pada saat saya menemui beliau. Bahwa Hana belum bisa membaca dan menulis. Ibu Guru bilang, memang Hana tertinggal dibanding teman-temannya dalam hal itu. Syukurlah saya lihat bahwa kurikulum 2013 ini sangat “ramah anak”. Materi-materi pertama adalah mengenai pola dan logika. Dengan gambar, tanpa harus menulis huruf dan angka.

Maka, jadilah di ulangan harian-ulangan harian Hana (salah satu operasionalisasi kurtilas, adalah ulangan tiap minggu untuk mengecek pemahaman per tema), berkasnya selalu berisi bintang, nilai A plus catatan guru. Bagaimana tidak? kalau dia menulis, semua hurufnya kebalik. Tulisannya besar-besar, naik turun dan kadang dari arah kiri ke kanan, kadang dari kanan ke kiri …haha…. Tapi dengan senyum mengembang di wajah saya, ia tetap ceria mengjalani hari-harinya. Saya tersenyum karena yakin…begitu ia belajar, ia akan melesat. Fondasinya sudah kuat.

Dan, sampai tengah semseter ini, abahnya yang rajin mendiktekan kata-kata lucu, mengajaknya “membuat karangan”, tulisannya sudah terbentuk, bisa dibaca. Semua nilai UTSnya tak ada yang diremedial. Sebagian besar seratus. Gigi oheng-nya senantiasa terlihat saat saya dan abahnya membaca soal demi soal dan jawaban yang ia tuliskan. Sampailah pada soal terakhir. Soal no. 30. Tentang tata tertib di perpustakaan.

PertanyaannDSC_0405ya : “mengapa di perpustakaan tidak boleh berteriak?”

Jawaban Hana : “agar buku di perpustakaan tidak jatuh”.

Bentar…bentar …saya mengerutkan kening. Tidak mengerti. “Ibu gak ngerti teh…kenapa kalau berteriak bukunya jadi jatuh?”

Dengan wajah riang khasnya, dia menjawab ….“ih…ibu…pernah gak liat di film…kalau kita teriak keras, kan buuuur,,,,nanti dindingnya runtuh, rak-rak lemari buku juga akan bergerak,,,jadi kan bukunya pada jatuh!”.

Ahahahaha….mana kepikiran ama kita orang dewasa jawaban seperi itu ….. khas imajinasi anak kecil. Tapi…apakah itu jawaban yang salah? Lihatlah tanda centang yang menunjukkan bu guru membetulkan jawaban itu. Salam takzim untuk bu Guru.

Ia, adalah guru yang memahami bahwa anak, bukan miniatur orang dewasa. Logika yang disampaikan Hana dan beberapa temannya, tak salah dalam dunia mereka. Dan saya, sangat takzim pada pengajar-pemgajar seperti ini. Ia tak memaksa anak-anak yang lugu, polos, penuh imajinasi dan semangat itu untuk berpikir “dewasa”. Ia, begitu menghargai ada dunia lain , ada cara pikir lain dalam kepala-kepala mungil dan wajah-wajah polos itu. Ia, begitu menghargai pengalaman yang dimiliki anak-anak itu. Dan ia menghargai keberanian anak-anak ini mengungkapkan pengalamannya.

Hana pun menceritakan jawaban beberapa temannya yang lain. Jawaban-jawaban lugu anak kecil. Andaikan bu guru menyalahkan jawaban-jawaban ini, mungkin anak-anak ini akan “layu sebelum berkembang”, saat apa yang mereka miliki tak dihargai, dan mereka  dipaksa untuk menghafal sesuatu yang tak bisa ia pahami.

Ya…banyak sekali puisi, kata-kata mutiara, tulisan, pesan-pesan para trainer parenting tentang menghargai anak. Tapi, sejatinya kita tak akan bisa menghargai anak kalau kita tak paham bahwa anak, bukalah orang dewasa yang bertubuh kecil.

Kita, akan selalu tak bisa menahan diri untuk melekatkan predikat “orang dewasa” pada anak, jika kita tak menghayati bahwa anak, bukanlah orang dewasa-mini. Kita akan mengatakan anak kita “pemalas”, “pemalu”, “pemarah”….

Kita, juga mungkin akan menakar ke”pintar”an anak-anak kita, dengan standar orang dewasa. Saat kita tak bisa menghayati bahwa anak bukan orang dewasa-mini, maka kita akan pelit memberikan jempol dengan tulus (catat: memberikan jempol DENGAN TULUS, bukan jempol basa-basi). Kita akan menyampaikan penghargaan yang tulus dari lubuk hati saat kita betul-betul paham bahwa untuk anak 3 tahun, berbagi itu sangat sulit.Bahwa untuk anak 4 tahun, berhenti main tablet pada waktu yang telah disepakati itu, bukan hal yang mudah.

Dan percayalah, anak tau mana pujian dan acungan jempol yang tulus dan yang tidak.

Satu kebaikan akan mengundang kebaikan yang lain. Penghayatan kita bahwa anak bukan dewasa-mini, juga akan membuat kita mampu menghargai orang-orang yang mampu menghayati hal itu. Kita akan tulus berterima kasih pada guru-guru anak kita, bahkan untuk “hal sederhana” yang mereka lakukan. Kita akan berterima kasih, karena mereka telah bersusah payah membuat skenario teater dan memberi peran si Playgroup untuk menari dengan gerakan super sederhana, repetitif dan dalam rentang waktu yang pendek. Sehingga si anak-anak tiga tahun itu, bisa tampil dengan “memuaskan”, sesuai dengan dunia mereka. Kita akan berterima kasih, si 4 tahun itu lebih banyak belajar dengan tubuhnya di lapangan dibandingkan diberikan worksheet-worksheet tak berwarna.

Bagaimana caranya menghayati bahwa anak itu bukan orang dewasa dalam wujud kecil? banyak mengamati, banyak berbincang, banyak mendengarkan mereka. Pasti kita akan banyak belajar dari mereka. Gampang kan? Tapi sssst….sini saya bisikin sesuatu….untuk bisa begitu, kita perlu rendah hati…….

emergency exit buat persoalan akademik si remaja

Sejak saya dengar suaranya di telpon saat saya masih di perjalanan sore tadi, saya tahu si sulung lagi bete. Dan itu terbukti dari raut wajahnya saat saya sampai rumah. Kayaknya bete banget. Hari-hari si remaja putri ini memang sangat fluktuatif emosinya. Adik-adiknya juga pada takut dan memilih menjaga jarak, takut kena semprot si kaka.

Kalau saya amati, emosinya memang lebih sering negatif. Kesel, marah. Dan menurut saya, itu wajar. Selain karena faktor keremajaannya, ia masih sedang masa adaptasi dengan sekolahnya. Adaptasi yang….kalau saya hayati, cukup berat juga. (1) Adaptasi rutinitas. Jam 6 pagi sudah dijemput, sampai rumah jam 6 sore. (2) Adaptasi tuntutan. Tuntutan dari dalam dan luar rumah terhadap anak SMP berbeda dengan tuntutan terhadap anak SD. (3) Adaptasi tuntutan akademis. Kalau ngintip buku-buku SMP, gileeee materinya kayaknya gak jauh beda sama materi jaman dulu kita belajar nyiapin untuk UMPTN. PLus metoda pembelajarannya yang banyak presentasi. (4) Adaptasi konteks sosial sekolah baru. Saya jadi ingat, dulu pernah diskusi sama seorang teman yang jadi psikolog sekolah. Azka kan masuk sebuah SMP IT yang ada SD-nya. 80% murid SMPnya, ya dari SD tsb. Jadi kebayang, sudah terbentuk dinamika sosial selama 6 tahun dari 80%teman-temannya. Dia dan teman-temannya dari SD “luar”, pastilah jadi “outsider” dan butuh proses untuk lebur. Memang proses sosial dalam konteks seperti ini menjadi lebih sulit adaptasinya, dibandingkan yang masuk SMP negeri misalnya, yang memang bener-bener bentuk kelompok baru.

Jadi, saya kebayang bertapa “berat” beban psikologis yang harus ditanggungnya. Saya coba kasih dia ruang. Kalau lagi bete gitu, saya kasih privasi. Adik-adiknya, udah tau kalau sebaiknya gak ganggu kaka. Biasanya, kalau dia udah siap cerita, dia akan datang ke saya dan cerita apa yang bikin dia sebel dan kesel. Kalau engga, pas saya sudah gak repot dengan adik2nya dan kondisi emosi saya pun oke, saya suka masuk ke kamarnya, ngajak dia ngobrol.

Ternyata malam ini, dia yang mendatangi saya. Dengan muka kusut, dia cerita kalau besok akan remedial ulangan IPS terpadu. Seangkatan diremedial, katanya. Dan dia gak ngerti materinya. Sudah sebulan terakhir ini memang saya mengalokasikan waktu khusus untuk nemenin dia belajar. Bukan nemenin deng…ngajarin dia materi pelajaran. Terutama matematika pastinya, yang dia rasa rumit banget. Memang kalau dilihat tingkat kesulitannya, seperti yang udah saya bilang….materinya teh asa materi jaman dulu ngulik pas mau persiapan UMPTN. Kalau dari segi potensi sih,  saya percaya Azka cukup mumpuni. Cuman masalah klasiknya di Indonesia kan….sistem pembelajaran kurang mendukung terbentuknya “pola pikir” dan “struktur berpikir” yang bertahap pada anak. Media pembelajaran kurang memfasilitasi pemaparan materi dalam cara yang dimengerti sesuai tahap perkembangan kognitif anak. Jadilah, saya guru matematika. Plus malam ini, guru IPS terpadu.

Tadi malam, karena masih riweuh dengan si bungsu dan si pangais bungsu yang masih aktif rebutan ngomong untuk cerita (padahal ya, tadi mereka sore berdua jemput saya ke jatinangor, lalu keliling-keliling cari baju buat manasik haji hari Jumat dan sepanjang perjalanan, ngomooooong terus. ceritaaaa terus. rebutan ceritaaaa terus. Tapi gak abis-abis tuh bahannya …hehe) saya tanya “kaka kan udah ibu ajarin bikin mind map”. “Iya tapi pusing banget, gak ngerti..”katanya setengah mau nangis

Akhirnya, saya ajak dia buat bikin mind map barengan. Materinya mengenai proses pembentukan permukaan bumi. Ah, kebetulan minggu depan saya akan ngajar mahasiswa gimana caranya baca buku, gimana caranya  nangkep struktur bacaan. Saya pun orat-oret…sambil nunjukin gimana caranya nangkep struktur bacaan. Tapi bentar…bentar…bentar….aduh…hiks…ini emang bukunya, bahan bacaannya, strukturnya gak bagus. Gak runtut. Mau bikin mindmap teh, susah banget. Harus baca bolak-balik untuk memahami gimana sih kerangkanya. Ya ampuuuun….pantesan aja 72 anak di sekolah Azka gak ngerti semua…gak cuman Azka yang pengen nangis. Saya juga ……Yah, ini adalah masalah klasik lagi. Banget. Menulis itu, tidak mudah. Menulis, kalau tujuannya membuat orang lain paham, tidak mudah. Apalagi menulis buku untuk anak. Kita harus bener-bener paham dan mau empati, pola pikir anak kayak gimana sih…..Kita harus berpikir keras,  struktur bacaan yang mudah dicerna anak. Pilihan katanya, lay outnya…..

Akhirnya, saya bilang ke Azka, tidur aja dulu. Saya nidurin adik-adiknya dulu. Nanti sebelum sahur akan saya bangunkan, untuk belajar. Saya bilang saya juga butuh waktu untuk paham materinya dan buatin dia mindmap. Saya menangkap raut tak percaya di wajahnya. Haha…memang sih, anak-anak saya tau kalau saya udah bilang “nanti”, itu mereka akan ingetin terus….apalagi kalau adik-adiknya masih bangun. Saya ngerti banget Azka setengah gak percaya. Mungkin di dalam hatinya bilang “yakin, ibu gak akan ketiduran bareng sama adik-adik?” kkkk…. Dan memang itu kejadian…saya ikut tertidur seiring tidurnya Azzam dan Hana….

DSC_0348Tapi jam setengah 2 tadi, saya bangun. Saya inget PR saya. Lalu saya pun mulai baca. Bolak-balik. Gileee materinya pedet banget…banyaaaak banget…Nama-nama batu, jenis-jenis gunung, sedimen, istilah-istilah ajaib seperti epirogenetik, hiposentrum, dll dll. Lalu saya lihat latihan soalnya. Hafalan mengenai istilah-istilah itu. Ah, pantes aja anak-anak di Indonesia pada umumnya benci IPS. Emang paparan materi dan soal-soalnya menyebalkan. Bener….apa sih tujuan pembelajarannya? padahal ya, materi intinya tuh menarik loh. Tentang gimana relief di muka bumi ini terbentuk. Dipengaruhi dua energi. Endogen dan eksogen. Endogen itu apa, gimana prosesnya, reliefnya jadi apa. Demikian juga eksogen.  Tapi kayaknya kalau dari paparan dan soal latihannya, bukan “big picture”nya itu yang dituntut dipahami, tapi detil-detil hafalan yang saya gak yakin akan dibutuhkan oleh anak-anak umur 12 tahun.  Itu, mindmap yang saya bikin itu, cuman big picturenya doang loh…detil hafalannya, masih banyak.

Setelah selesai, saya bangunkan Azka. Saya jelaskan, saya coba kasih ilustrasi dengan contoh-contoh pengalaman dia. Saya perhatikan, wajahnya awalnay sangat kusut, tapi saya coba yakinkan lagi, ceritakan lagi inti materi itu, bahwa ini bisa dipahami. Lalu kita bareng-bareng isi soal latihan.

Anak SMP, dibikinin mindmap? dijelasin? mana kemandirian belajarnya? saya menyebut apa yang saya lakukan sebagai “emergency exit”. Pintu keluar emergency. Kenapa? karena telah terjadi “kebakaran” dalam diri Azka. “Kebakaran psikologis” yang bisa berdampak fatal dan jangka panjang. Apa itu? (1) Hilangnya motivasi belajar. (2) Gak tau gimana menyelesaikan masalah. Helpless. Dua hal yang sangat gawat kalau sampai terjadi.

Saya berharap yang saya lakukan, bisa membantu dia terhindar dari dua dampak di atas. Meskipun saya menjanjikan “ice skating” kalau dia bisa mencapai KKM, tapi bukan itu tujuan utama saya. Saya berusaha agar ia tak apatis, kehilangan motivasi dan perasan tertantang. Konon katanya, motivasi berprestasi itu tumbuh jika tingkat kesulitan yang kita hadapi adalah moderat. Artinya, menantang tapi mungkin untuk kita tundukkan. Nah, kalau 72 anak diremedial, berarti tantangannya tak moderat. Faktor media buku dan metoda pengajaran berarti tak membantu. Nah, kalau anak mengalami kesulitan dan ia merasa tak ada yang membantu, bisa frustrasi dia. Dampaknya, bisa merasa “tak berdaya”. Ini sikap mental yang bahaya banget. Saya mencoba untuk menunjukkan bahwa masalah ini bisa diselesaikan. Bahwa I’m here with you.

Mmmmhhh….pada dasarnya, setiap hari-hari  yang anak-anak kita jalani, adalah ujian kehidupan ya…Pikiran dan perasaan yang mereka alami sehari-hari, akan tersedimentasi menjadi “relief” kepribadian mereka. Saat dunia “tak ramah”, kurikulum “tak ramah”, buku pelajaran “tak ramah”, metode pelajaran “tak ramah”,  maka ya…. tinggal kita orangtuanya ya, yang harus jadi “jangkar pelindung psikologis” mereka. Dan kita pasti bisa….kita punya energi endogen  dan eksogen yang berlimpah …. Rahman dan Rahim Nya, yang ia titipkan pada kita.

mantra ajaib dari seorang remaja untuk ibunya

Minggu lalu, setelah beraktivitas seharian di hari senin, tiba-tiba malamnya tubuh saya menggigil. Ternyata, itu awal dari demam selama dua hari, lemes dan gemeter plus vertigo empat hari setelahnya. Maka, praktis seminggu kemarin saya tak bisa beraktivitas. Hanya jempol yang bisa beraktivitas. Beberapa diskusi dengan mahasiswa tak bisa ditunda. Demikian pula beberapa koordinasi pekerjaan tak bisa menunggu.

Setiap kali sakit, saya selalu merasa “stress”. Kenapa? karena itu berarti anak-anak akan terlantar. Dalam arti yang sebenarnya. Gak ada yang masakin. Gak ada yang ngurus. Stres semakin meningkat saat pagi hari. Azka si sulung, tak bisa bantu karena jam 6 jemputannya sudah datang. Semandiri-mandirinya Hana, anak kelas 1 SD itu tetap saja belum bisa diandalkan mandiri sepenuhnya. Nyiapin sarapan, turun tangga dalam kondisi vertigo plus lemes itu…tak mudah. Apalagi si abah sedang full di luar kota.

Hari Senin kemarin, meskipun belum fit betul, saya sudah buat janji bimbingan dengan 7 mahasiswa saya. Mereka sedang semangat mengejar lulus bulan depan. Tak tega kalau target mereka mundur karena saya. Pagi-pagi, dapat kabar bahwa ibu teh Rini, istri pak Ayi sopir kami yang bantu membereskan rumah plus menjaga Azzam si bungsu selama saya beraktivitas, jatuh di kamar mandi. Memang kondisinya belum sepenuhnya pulih dari stroke. Pak Sopir pun izin absen karena harus bawa mertuanya tersebut ke rumah sakit. Mmmmhhh….padahal sudah berharaaaaap banget nanti pulang, rumah dalam kondisi kinclong. Maklum, di weekend, justru ketika anak-anak full beraktivitas di rumah dengan segala “kreativitas”nya, saya belum kuat juga untuk beberes. Meskipun berbagi tugas dengan Azka, namun kecepatan beberes kami tak sanggup menandingi “kreativitas” dan “eksplorasi” si bungsu dan pangais bungsu yang membuat rumah seperti kapal pecah.

Baiklah. Jadi, di pagi senin “terpaksa” saya harus membawa si bungsu ke kampus. Membawa si bungsu yang super cerewet dan super aktif serta belum bisa menunggu lama, untuk bimbingan 7 mahasiswa? Segera saya sampaikan pada si 3,5 tahun itu : “dede, dede ikut ibu ke kampus ya. Tapi disana nanti, dede tidak rewel ya, ibu akan beliin mainan dan makanan. Nanti ibu ngobrol sama mahasiswa ibu, dede main dan makan ya, tidak mengganggu. Kalau dede mau menunggu dan engga rewel, nanti dede boleh main playground di borma”. Dan, untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan, dalam perjalanan ke kampus pake ojek, saya pun mampir ke Yens. Beli beberapa set playdough bersama alat-alatnya. Lalu mampir Yomart. Beliin segala macem cemilan. Sambil terus berdoa, semoga si bungsu sholeh, mau kooperatif sampai jam 13 nanti….

Alhamdulillah….selesai juga bimbingan 7 mahasiswa. Tentunya, mahasiswa yang menunggu, ada yang jadi “pengasuh” Azzam karena ….seperti yang saya prediksi, dia baru bisa “menunggu” dua jam-an. Itu juga udah “amazing” banget ….Setelah dua jam, di apun tak lagi tertarik dengan playdough, buku stiker maupun beragam cemilan kesukaannya. Minta ditemenin main. Minta  jalan-jalan.  Jam 13, harus meluncur ke Cimahi jemput Hana. Jam 11 tadi saya dapat kabar bahwa mertu pak Sopir wafat. Baiklah, jemput Hana pake ojek.

Kirain si bungsu lupa janji ke borma. Eeeh…nagih. Baiklah. Plus Hana juga nagih minta eskrim karena jumat lalu mau diimunisasi di sekolahnya, tanpa menangis. Biasanya saya gak sanggup bawa dua anak itu ke swalayan sendiri. Kenapa? ibu-ibu yang punya anak balita, tau gimana repotnya bawa balita ke swalayan.  Tapi gimana lagi. Saya udah janji. Jadilah dengan sisa tubuh yang masih meriang-meriang dikit plus laper, harus nemenin dulu main di Borma. Syukurnya Azzam udah bisa dikasih “jatah” koin dan udah ngerti ketika koin habis harus pulang. Jam stgh 3, pulang dari Borma naik ojek dengan dua anak, bawa balon hadiah, dengan pantat setengah nempel di motor dan setengah lagi gak muat….setengah pusing karena belum sempet makan siang. Mau pake taksi? gak dapet-dapet hiks…

Kebayangna sampai rumah…pengen rebahan… o ow….lupa…tadi kan ninggalin rumah dalam kondisi berantakan bekas ekeplorasi anak-anak di weekend. Pas buka pintu rumah, rasanya setengah pengen nangis setengah pengen pingsan. Apalagi baca pesan teh Rini kemudian kalau beliau izin gak masuk samapi tujuh harian wafat ibunya. Sedangkan minggu ini, jadwal sudah disusun padat untuk “bayar” seminggu kemarin.

……….

Setiap membuka mata di pagi hari, sejak tidak ada yang bantu, saya selalu menaik nafas panjaaaaaang….diiringi doa agar hari ini, diberi kekuatan. Jujur saja, tidak mudah mengatur aktifitas  kegiatan di luar rumah yang kian padat disaat yang sama dengan mengelola anak-anak, fisik dan psikologisnya. Plus spiritualnya juga kali ya….dengan support yang saya punya. Tapi ya…gimana lagi…..berkali-kali, selama beberapa tahun ini cari pembantu nginep, belum jodoh aja. Ada yang cuman setengah hari lah, ada yang seminggu lalu pergi tak kembali dengan membawa beberapa barang berharga, ada yang pas dijemput tiba-tiba berubah pikiran. Intinya, kesimpulan saya, belum rejeki kami.

Berhenti bekerja? saya dan mas sudah sepakat tak memilih itu. I Love My Job. I Love My Family too, of course. Maka, mari kita jalani saja konsekuensinya. Badan letih, pikiran penuh, emosi bergejolak nano-nano, sudah biasa. Apalagi ditambah kurikulum 2013 yang dijalanin Umar dan Hana. Kurikulum yang menuntut keterlibatan dan kreativitas ortu itu, terus terang membuat saya kewalahan juga. Saya cuman minta satu ke Allah. Agar saya jangan cengeng. Nangis, itu salah satu kekuatan saya. Tapi nangis beda sama cengeng.

Hari Senin itu, saya pun merasakan kelelahan luar biasa. Tapi ada satu mantra yang selalu terngiang selama saya menjalani hari Senin itu. Mantra yang entah bagaimana, memberikan kekuatan super buat saya. Mantra itu, bergaung dari awan putih yang berarak saat saya menatap langit sambil berdoa agar si bungsu “kooperatif” pagi hari saat saya akan membawanya ke kampus. Mantra itu, menggema dari  pohon-pohon yang saya lewati dalam perjalanan membawa dua anak di siang hari terik di ojek, dalam kondisi pening dan lelah. Mantra itu, memantul dari dinding-dinding  saat saya melihat berantakannya rumah. Mantra itu, bergema saat saya membaca sms bahwa teh Rini izin tidak masuk sampai tujuh hari ke depan.

Mantra itu, adalah kalimat yang saya baca sebulan lalu.

Malam itu, saya mengintip tugas Azka. Ada mata pelajaran “leadership” di sekolahnya. Sampai jam setengah 12 malam, ia menyelesaikan tugas mata pelajaran itu. Tugasnya adalah, membuat tulisan tentang dirinya di karton manila. Tentang diri, dan orang-orang yang paling berpengaruh dalam dirinya.  Saya baca bagaimana ia menggambarkan dirinya, keinginannya, cita-citanya. Ada gambar saya dan abahnya, ia tempel di bagian “orang-orang yang paling berpengaruh dalam hidupku”.

Saya baca tulisannya tentang ayahnya. Rangkaian kalimatnya, membuat saya berkaca-kaca. Lalu saya beralih pada tulisannya tentang ibu.  “Ibuku adalah harta terbesarku karena ia mengandung, melahirkan dan merawat serta mendidikku…..bla..bla..bla..”. Hmmmm…kalimat yang normatif. Kalimat terakhir yang menarik perhatian saya. “Dari ibu aku mengerti hidup itu apa. Bahwa hidup tak selalu senang. Aku jadi tau bahwa hidup itu punya masa-masa sulit yang harus diselesaikan.”

Saya baca berkali-kali kalimat itu. Saya berusaha keras mengingat, kapan ya saya mengajarkan kata-kata itu. Saya memang banyak sekali “memberi pesan”. Semua hal yang saya hayati dan saya anggap penting, saya sampaikan pada anak-anak. Tapi rangkaian kalimat itu….rasanya saya tak pernah sampaikan.

Sampai berhari-hari kemudian, saya masih tak ingat kapan saya menyampaikan kalimat itu padanya. Sampai akhirnya saya menyerah….saya tak ingat. Mungkin itu bukanlah apa yang ia dengar, namun  apa yang ia hayati dari pengalamannya berinteraksi dengan saya. Apakah itu hal yang bagus? saya tak tahu.

Tapi entahlah… sejak hari itu, setiap kali saya merasa “lelah” dan rasanya “tak sanggup” menghadapi tanggung jawab saya di dalam dan di luar rumah,  kalimat itu terngiang-ngiang selalu. Setiap kali saya merasa “putus asa” karena tak punya waktu untuk finishing touch naskah buku yang tergolek di meja saya sejak beberapa bulan lalu, kalimat itu terdengar. Saat saya terpaksa harus menutup laptop padahal sedang seru baca jurnal karena Azzam rewel, terngiang kalimat itu. Saat saya merasa “putus asa” membayangkan kapan saya bisa sekolah lagi, saat saya harus melerai pertengkaran si bungsu dan si pangais bungsu, saat saya harus menahan kesal karena untuk kesekian kalinya lembaran penting Umar terselip entah dimana… saat si bungsu  membuka mata saya dengan paksa ketika saya tertidur di tengah membacakan cerita untuknya, ketika tubuh terasa amat lelah tapi tak bisa istirahat ….kalimat itu selalu terdengar.

Hidup itu tak selalu senang. Hidup itu punya masa-masa sulit yang harus diselesaikan.

Kalimat itu, entah mengapa menjelma menjadi kekuatan. Kekuatan yang membuat saya merasa bisa menghadapi seluruh kondisi  itu dengan kepala tegak.

mantraYa Ka, betul. Hidup itu tak selalu senang. Hidup itu punya masa-masa sulit yang harus diselesaikan. Dan Allah, sudah mengukur dengan sempurna bahwa kesulitan itu, bisa kita hadapi. Bisa kita selesaikan.

Terima kasih, sudah menemani ibu menghadapi setiap hari sulit yang harus ibu hadapi. Sulitnya hari-hari yang akan ibu jalani, tak lagi penting. Tapi dengan siapa ibu akan menghadapinya, itu yang tak membuat ibu khawatir.

Proud and Love you …

sumber gambar : https://www.etsy.com/listing/99041856/mother-and-daughter-art-print

Tulisan seorang remaja tentang ayahnya

Seorang ibu membaca tulisan anak remajanya  tentang ayahnya.

Si remaja menulis  : “……Aku belajar tentang Al Quran darinya. Darinya aku mengerti bahwa Islam ini sangat berharga dan benar-benar agama yang layak untuk dipilih. …. Ia juga yang mengajariku untuk menjadi orang yang bermanfaat. Cita-cita bersama abahku saat besar adalah membuka rumah sakit gratis bagi orang yang tidak mampu …..”

Rangkaian kalimat itu, membuat si ibu berkaca-kaca. Terutama rangkaian kalimat: “Bahwa Islam adalah benar-benar agama yang layak untuk dipilih”. Itu bukan kalimat normatif yang sering ditemui. Semoga itu kalimat yang keluar dari lubuk hati terdalam si remaja.

Si ibu juga berkaca-kaca menghayati dalamnya ikatan antara si remaja dengan ayahnya. Kata-kata “cita-cita bersama abahku” itu, begitu menyentuh. Sebuah cita-cita yang tak ia ketahui selama ini.

…………

Baru seminggu lalu si ibu mengikuti satu presentasi. Presentasi dari seorang peneliti, yang meneliti tentang TRUST, atau kepercayaan. Dilakukan di konteks Indonesia. Saat ditanyakan “siapa orang yang paling anda percayai?” Jawaban responden setelah direkap, menempatkan IBU di urutan pertama dan AYAH di urutan kedua.

Saat digali faktor-faktor apa yang berkontribusi terhadap KEPERCAYAAN anak terhadap ibu dan ayah, ada satu temuan menarik. Seorang anak, PERCAYA pada IBUNYA, karena faktor relasional. KARENA DIA IBU SAYA. Sedangkan KEPERCAYAAN seorang anak pada AYAHNYA, adalah karena faktor kompetensi. BAHWA IA PUNYA KUALITAS untuk saya percaya.

father daughterMaka, jauh lebih mudah menjadi seorang Ibu. Seorang ibu, seburuk apapun ia, si anak akan mengatakan DIA ADALAH IBU SAYA. Namun seorang ayah, ia harus berusaha untuk menunjukkan kualitas agar ia menjadi sosok yang berharga dan bermakna pada diri anak. Seorang ibu, tanpa ia mau pun, Allah telah “memaksa”nya untuk punya ikatan tak terpisahkan dengan anaknya selama 9 bulan. Tapi seorang ayah, dia bisa memilih untuk “tidak mau” membangun ikatan dengan anaknya

Karena itulah si ibu berkaca-kaca. Ia menghayati, salah satu bakti yang bisa ia berikan pada suaminya adalah, memberi ruang dan waktu agar suaminya, menjadi ayah yang bermakna untuk anak-anaknya.

sumber gambar : http://everydaylife.globalpost.com/suggestions-fatherdaughter-outing-18491.html

Yang mengakar yang terlupakan : catatan tentang fondasi belajar anak

Kata pengantar : akhir-akhir ini saya kurang kreatip mencari pilihan kata untuk judul. Jadi judulnyah rada lebay kkk (emang pernah kreatip? haha….)

Beberapa waktu yang lalu, saya membantu sebuah institusi pendidikan pra sekolah, yang ingin mengetahui apakah  aspek-aspek perkembangan anak-anak didiknya sesuai dengan usianya. Sekitar 50 anak usia 3 sampai 5 tahun. Saya menggunakan alat “sederhana”, yaitu  Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak dari Yayasan Puspa Suryakanti, yang posternya bisa didonlot dengan mengetikkan kata “suryakanti” “deteksi dini tumbuh kembang anak” lalu klik image,  pada mbak Gugel. Kalau mau bukunya yang lengkap dengan stimulasinya, bisa pesan langsung kesana. Alamat dan nomor telponnya mudah di dapat, dari mbah Gugel juga.

Hasilnya, aspek yang paling banyak berada di bawah usia anak-anak tersebut adalah ….. jeng jeng jeng…..gerakan kasar, atau motorik kasar. Pause dulu. Sebelum lanjut, bagi ibu-ibu yang punya anak balita…coba cek dulu perkembangan motorik kasar anaknya :

  • usia 4 bulan : mampu menumpu dengan kedua lengan dan berusaha mengangkat kepala
  • usia 8 bulan : mampu duduk sendiri dan kemudian mengambil posisi ongkong-ongkong dan bertahan sebentar
  • usia 12 bulan : mampu berjalan sendiri dan berjalan sambil berpegangan
  • usia 18 bulan : mampu berlari tanpa jatuh
  • usia 24 bulan : mampu melompat dengan dua kaki sekaligus
  • usia 36 bulan : mampu turun tangga dengan kaki bergantian tanpa berpegangan
  • usia 48 bulan : mampu melompat dengan satu kaki (engklek) di tempat
  • usia 60 bulan : mampu melompat dengan satu kaki (engklek) ke arah depan.

Nah, bagaimana ibu-ibu? kalau anak kita mampu melakukan gerakan kasar sesuai dengan usianya, alhamdulillah. Bila belum, berarti kita harus extra menstimulasinya.

Mengapa harus ekstra? apa pentingnya? mari kita perhatikan gambar yang saya copy dari link http://dorsetadultaspergerssupport.org.uk/bmth-20mar12-review ini:

march2012-diagramGambar ini menunjukkan bagaimana proses belajar terjadi pada manusia, pada anak-anak kita. Gerakan kasar, berada di level kedua, yaitu sensory motor development. Jauuuuh sebelum kita mengajarkan anak kita a-b-c dan 1-2-3, kita harus tanam dulu akar yang kuat dan kokoh. calistung mah buahnya. Akarnya dulu yang harus kita tanam. Apakah itu? kekuatan, pengendalian, kesimbangan  dan koordinasi tubuh.

Coba saja kita ajarkan anak yang belum bisa duduk diam membaca. Atau kita coba ajarin anak yang gak bisa duduk tegak, yang nyenderin kepalanya di atas meja, menulis. Kemungkinan  kita akan kesal, dan anak pun tak mudah berhasil.

Memang yang “tricky”nya adalah, sering kali kita menganggap kemampuan gerak kasar: berlari, melompat, berguling, dll dll itu, “otomatis”. Dan sesuatu yang “otomatis” biasanya menjadi tak begitu kita hargai. Saya juga dulu berpikir begitu. Sampai saya bertemu dengan anak-anak yang mengalami hambatan dalam kemampuan gerakan kasarnya.

Setiap kali menyaksikan bahwa –tak semua anak umur 2 tahun bisa jalan “ajeg”; tak semua anak umur 3 tahun bisa lari kelak-kelok lalu berhenti tanpa jatuh; tak semua anak umur 4 tahun “berani” spontan lompat sana lompat sini gak mau diem, tak semua anak umur 5 tahun bisa lentur berkoprol ria, ber-engklek ria ke sana kemari- saya kemudian sadar bahwa saat kita pusing melihat anak balita kita yang “gak mau diem”, di saat yang sama kita harus bersyukur. Kalau istilah seorang terapis, saat ia menjelaskan perkembangan anak…… bergerak itu, harusnya anak gak pake mikir. Harus spontan. Karena ia diproses di “otak bawah”. Nah, kalau mau lompat aja mikir, mau manjat bingung….maka …ia belum punya “akar yang kuat” untuk nanti ia “dituntut” mikir beneran.

Perkembangan motorik kasar ini, bagi anak-anak yang tidak mengalami masalah secara biologis, banyak dipengaruhi oleh pengalaman. Ketika seorang anak  melompati sebuah parit kecil dengan lompatan yang besar lalu ia melompat terlalu jauh, selanjutnya ia akan melompat dengan lompatan yang lebih kecil. Ia akan belajar banyak hal….perencanaan (motor planning), keakuratan tenaga yang perlu ia keluarkan, strategi tubuh apa yang harus ia lakukan saat akan terjengkang misalnya… yang semua pembelajaran itu, harus DIALAMI oleh anak.

Kalau saya amati, sebenarnya sudah banyak sekali, dalam beragam konteks, yang memaparkan bahwa semakin hari, anak-anak kita semakin sedikit punya kesempatan untuk MENGALAMI gerakan tubuh. Beberapa tahun lalu, waktu saya nemenin anak-anak nonton film Garuda di Dadaku, digambarkan anak-anak main bola di kuburan. Karena gak ada lapangan. Dan itu memang real. Setiap kali dalam perjalanan aktifitas saya, saya melihat …. sekarang ini banyak TK atau PAUD yang bangunannya berupa rumah, langsung berbatasan dengan jalan raya. Tak ada halaman. Terasnya hanya cukup untuk satu perosotan. Tak ada tempat untuk berlarian, kejar-kejaran, main bola. Sebenarnya saya sedih banget loh….

Dalam berbagai kesempatan ngobrol dengan orangtua, anak-anak prasekolah sekarang banyak yang tidak bisa main sepeda roda dua. Bukan…bukan karena orangtuanya tak punya uang buat beliin sepeda. Tapi mau sepedahan dimana? Saya menghayati betul “keluhan” dan masalah yang dirasakan oleh para orangtua tersebut. Saya pun mengalaminya. Hana, baru bisa sepeda roda dua umur 5,5 tahun. Padahal kakak-kakaknya umur 4 tahun. Sepeda ada. Tapi mainnya dimana? pagi dan sore, jalanan komplek kami ramai oleh mobil yang keluar dan masuk. Masalah lainnya adalah, gak ada yang nemenin main, dengan susahnya cari ART sekarang. Mau ibu bekerja mau ibu rumahtangga, kalau tanpa ART problemnya sama, keterbatasan waktu.

Orangtua kalangan atas, yang rumahnya ratusan meter -tiga lantai di kompleks yang  luas-luas, yang bisa menggaji satu anak satu suster, problemnya beda lagi. Keamanan. Takut anaknya ada yang menculik. Saya juga memahami dan menghayati hal ini. Lha wong kemarin, Umar main sepedahan keluar komplek aja, saya udah panik…minta sopir cariin. Pas dateng, dia sih cuek aja bilang “mas Umar cuman liat komplek baru di depan kok” katanya. Di jaman kejahatan begitu sudah sangat merebak seperti ini, kita memang jadi sangat khawatir akan keselamatan anak kita.

Nah, jujur saja saya benar-benar memeras otak untuk mencari solusi bagi masalah ini. Bukan apa-apa, karena saya tak bisa hanya “melempar masalah”; mengatakan pada orangtua bahwa mereka perlu menstimulasi motorik kasar anak-anaknya. Menjelaskan urgensinya, dampak jangka panjangnya. Saat orangtua mengeluhkan masalah-masalah di atas dan kembali bertanya harusnya gimana, saya minimal harus bisa memfasilitasi diskusi mengenai alternatif-alternatif yang bisa dilakukan. Dan alternatif-alternatif itu, memang HARUS dilakukan. Stimulasi motorik kasar pada anak prasekolah, HARUS dilakukan.

Saya masih ingat paparan seorang psikolog-terapis dalam satu seminar yang saya ikuti: Secara statistik, anak-anak yang memang butuh terapi itu, hanya 20%. 80%nya tak butuh terapi. 80% punya modal dasar yang bisa berkembang optimal.  Namun sayangnya, yang 80% itu, tak semuanya perkembangannya berjalan “mulus”; karena faktor PENGALAMAN itu tadi… Sayaaaang banget kalau anak kita sebenarnya bisa berkembang optimal, tapi karena kurang stimulasi, harus ikut terapi. Terapi itu mahal loh … mungkin bisa dihitung jari sekarang yang harganya kurang dari 100 ribu per jam. Kali berapa pertemuan seminggu. Belum lagi kita harus meluangkan waktu, juga psikologis membujuk anak….

Nah, sekarang jadi gimana caranya biar anak-anak kita, terstimulasi motorik kasarnya dengan optimal, hingga dia punya “akar yang kuat” untuk perkembangannya? yang terpikir oleh saya adalah beberapa poin di bawah ini:

(1) Kita harus “berkorban”. Balik lagi ke prinsip dasar kehidupan ini: No gain without pain. Anak akan memberi tanda, kapan dia butuh stimulasi motorik kasar. Biasanya mulai dari usia 1 tahun, saat ia bisa melakukan hal-hal fisik-motorik sendiri. Daaan…memuncak di usia 3-4 tahun, seperti yang sedang saya alami dengan si bungsu Azzam.

Apa yang harus kita lakukan? berikan lingkungan rumah yang memungkinkan  anak untuk melakukan beragam kegiatan motorik kasar DENGAN AMAN. Anak umur 1 tahun seneng banget naik turun tangga. Bisa berjam-jam dia naik-turun-naik-turun-naik-turun tangga. Saya lebih setuju membiarkannya sambil menjaga agar anak tidak jatuh, dibanding melarangnya. Coba saja amati…anak umur 1 tahun pun, dia sudah punya “strategi” loh, untuk naik-turun tangga. Strategi yang berbeda dibandingkan strategi si anak umur 2,3,4 tahun. Kalau rumah kita agak luas, beri space untuk beraktivitas motorik kasar. Lantai bawah rumah saya, meskipun saya ingin banget mengisinya dengan furnitur ini-itu, akhirnya saya menyerah. Membiarkannya menjadi “lapangan” buat main sepeda, main badminton, main bola…. 😉

Sediakan pula waktu untuk “main fisik” dengan si kecil. Nah, ini agak berat nih buat ibu-ibu….karena mungkin “fitrah”nya ibu-ibu mah mainnya yang lembut-lembut. Saya juga sangat kewalahan dan sering “enggan” saat si bungsu 3,3 tahun yang lagi puncak-puncaknya banget ngajak main motorik kasar; main bola, main “lawan-lawanan”, main “perang bantal”, kuda-kudaan, sepedahan…. Nah, disinilah para Bapak berfungsi. Saya sangat mengandalkan si abah ……Atau kalau karena satu dan lain hal harus kita yang nemenin anak-anak, ya …. mari kita lakukan. Kalau kita enggan ke luar rumah, balik lagi…bikin medianya di dalam rumah. IMG-20150622-WA0011Tadi sore, saya bikin sonlah-sonlahan di balkon. Gara-gara udah mati gaya sama si bungsu. Si 3 tahun ini, ampe setengah jam bolak-balik-bolak-balik engklek, sampe teler …udah teler gitu, kirain udahan…eh, ngajak lagi…

(2) Kalau dalam wekdays minim banget waktu yang bisa kita alokasikan untuk main motorik kasar, manfaatkan dua hari weekend ! Nah, ini kojo saya nih…weekend ! ajaklah anak-anak main ke tempat-tempat yang membuat mereka bisa lari, lompat, manjat, meniti….sekarang udah banyak tempat hiburan yang berupa wahana outbond. Beragam taman di Bandung buat orang Bandung, kayaknya bisa juga tuh. Atau kalau di mall, ajak anak-anak kita ke tempat bermain yang luas. Kayak Gym and Jump gituh. Banyak kok. Minggu lalu, saya ajak Azzam ke Jatos, “mall” yang ada di Jatinangor, mainan favorit mereka adalah …. trampolin….dua jam memainkan beragam wahana disana, masih ngambek pas diajak pulang. Beberapa keluarga saya amati punya habit olahraga di weekend, bersama anak-anaknya. That’s cool ! keyyen ! lari bareng, berenang bareng….

(3) Bagi yang memiliki kemampuan, bisa memfasilitasi kegiatan motorik kasar buat anak-anak dalam lingkup yang lebih luas. Beberapa waktu lalu, seorang senior saya menyatakan keprihatiannaya  karena katanya anak-anak sekarang pada gak bisa koprol ! padahal koprol itu konon kemampuan motorik kasar yang penting. Kata teman saya yang pernah tinggal lama di luar negeri, salah satu kekurangan di Indonesia adalah bahwa di sekolah-sekolah, minim sekali pelajaran “senam”. Nah, kalau ada teman yang bisa memfasilitasi anak-anak kita penerus masa depan bangsa untuk terstimulasi motorik kasarnya lewat aktifitas-aktifitas yang stimulatif, ah…insya allah sangaaaaat bermanfaat.

Nah, baru itu sih yang kepikiran…bagi yang punya saran lain, monggo….

Sebagai muslim, apalagi pas saat romadhon gini, saya selalu ingat kisah bahwa Rasul itu, dalam tarawihnya membaca dalam satu rakaat surat Al-Baqarah, kemudian An-Nisa, kemudian Ali Imran. Beliau membacanya dengan lambat dan panjang. Kalau tubuh Rasulullah tidak seimbang, mana mungkin beliau punya daya tahan sekuat itu? se-tumaninah itu? “softwarenya” keimanan. “hardwarenya” … tubuh yang terolah dengan baik. Sekarang, kita lihat  anak-anak kita, yang usia 5 tahun masih susah banget buat engklek, cuman bisa duduk diam semenit dua menit. Kalau dibiarkan… apakah bisa se-tumaninah beliau saat sholat?

Jadi biar tambah semangat, kalau kita bercita-cita ingin anak kita sholeh, jadi ahli ibadah yang khusyuk dan tumaninah, cerdas dan bisa menyerap banyak ilmu karena konsentrasi yang kuat, mampu memahami hal-hal abstrak dengan mudah, menstimulasi motorik kasar insya allah menjadi bagian dari perjuangan mewujudkan cita-cita itu. Aamiin…

 

 

“Dunia Baru” Si Emak Remaja

2 hari lalu, Azka si sulung genap berusia 12 tahun. Seperti biasa, kami mengadakan “perayaan kecil”. Membangunkannya saat sahur, menyiapkan kue tart kecil dan kado istimewa, lalu berdoa bersama. Tahun ini kami menghadiahinya laptop. Sebenarnya gak kaci sih, soalnya laptop ini hadiah yang kami janjikan juga kalau dia lulus test SMPIT 3 bulan lalu. Tapi dia juga gak protes, jadi two ini one ajah haha…

Kata Duvall & Miller (1985), saat ini keluarga kami sudah “berubah status”, dari family with school children menjadi family with teenager. Sekilas info, Duvall & Miller adalah seorang ahli yang meneliti mengenai keluarga. Beliau membedah perkembangan keluarga melalui 8 tahap perkembangan, mulai sejak pasangan menikah sampai dengan wafat. Ke-8 tahap itu adalah : (1) Marriage Couple, (2) Childbearing family, (3) Family with preschool children, (4) Family with school children, (5) Family with teenager, (6) Family launching young adult, (7) Middle Age, (8) Aging. Tahap perkembangan keluarga tersebut didasarkan pada usia anak pertama. Pentahapan tersebut adalah hasil riset beliau, yang merupakan dinamika dari perubahan psikologis masing-masing individu di dalam keluarga tersebut. Kata teman saya yang mengajar mata kuliah Perkembangan Kehidupan Keluarga, sampai sekarang belum ditemukan ahli yang mengeluarkan teori se-komprehensif Duvall mengenai kehidupan keluarga.

Saya sendiri, merasakan bahwa hasil Penelitian Duvall ini, bener loh. Sebagai seorang ibu bagian dari sebuah keluarga, sejak Azka baligh, terasa sekali memasuki “dunia baru” yang relatif berbeda dengan sebelumnya. Yang paling jelas adalah, perubahan fisik dan psikologis Azka, yang mewarnai perubahan dinamika di keluarga kami.

Misalnya, kalau dulu dia yang suka kesel nunggu adiknya, Umar setiap mau berangkat sekolah, sejak semester terakhir ini sebaliknya. Kenapa? karena si kakak, mandinya lamaaaaaa, dandannya lamaaaaa……Lalu super sensitifnya, adik-adiknya udah tau kalau wajah kakaknya lagi jutek, harus jaga jangan sampai melewati batas radius satu meter haha…. Dan “kebluk”nya itu loh….tiduuuuur terus. Konflik-konflik sama adiknya, meningkat tajam. Misalnya karena kelenjar keringat yang lagi aktif, badan si remaja ini mudah bau, meskipun udah dikasih deodoran. Hana yang suka “polos”, kalau dekat kakaknya pasti bilang “kaka teh udah mandi belum sih?” sampai dia punya julukan “si Nyonya Bau” buat kakaknya. Ampuuuun deh.

Terpaksalah saya bikin konferensi pers buat adik-adiknya, kalau kakak sekarang udah remaja. Remaja itu artinya, mau berubah dari anak-anak jadi dewasa. Ciri-cirinya ….bla..bla..bla…saya memanggil kembali memory saat menyusun materi kesehatan reproduksi remaja…15 tahun lalu. Kematangan  seksual, primer… sekunder…. bla..bla.. Dengan diselingin beragam interupsi dari si 9 tahun dan 6 tahun itu, mengerti-lah sekarang mereka apa yang terjadi pada kakaknya.

TEENAGERSaya baru menghayati betul  sekarang, apa yang dikatakan si literatur-literatur mengenai remaja itu. Perubahan fisik, hormonal yang begitu melonjak di masa remaja, itu perubahan besar bagi si remaja itu sendiri, yang berdampak pada berbagai aspek kehidupannya. Yang kalau kita gak ngerti, bukan hanya adik-adiknya saja, tapi emaknya pun, bisa  berantem tiap hari sama si gadis.

Pendekatan, cara ngingetin, maupun konten obrolan pun sekarang berubah. bener-bener perlu ilmu baru memang. Konten obrolan yang lagi ngehits sama Azka sekarang adalah, tentang “berat badan”. Minimal satu hari satu kali, dia bilang gini sama saya : “Bu, kok Kaka gendut banget ya, sebel banget ih”… atau ..“Ibu waktu seumur Kaka beratnya berapa kilo?” …atau … “Kok ibu waktu belum nikah kurus banget sih..”.

Di umurnya sekarang ini, saya juga mulai merasa perlu menyampaikan sex education tahap 2. Kalau tahap 1 kan untuk mengenalkan bagian tubuh mana yang boleh terlihat-tak boleh terlihat, yang boleh disentuh-tak boleh disentuh; siapa yang boleh melihat siapa yang boleh menyentuh. Pada Azka, saya mulai jelaskan juga soal pacaran. Bahwa value agama yang kami yakini, tidak memperbolehkan pacaran. Kenapa. Saya tambahkan juga info hasil penelitian teman saya tentang KDP, kekerasan dalam pacaran, terutama kekerasan psikologis yang rentan dialami anak-anak remaja putri. Suka-sukaan itu wajar, boleh. Tapi mengekespresikannya yang harus tau cara dan batasannya.

Yups, sejak kelas 5, tema perbincangan Azka via wa maupun via line dengan temna-temannya, tak lain dan tak bukan adalah….suka-sukaan. Si ini suka sama si itu, Si anu kesengsem sama si ono…sejak setahun lalu saya sudah benar-benar menghargai privacy Azka, gak pernah cek hapenya. Tapi saya minta dia gak mengunci hapenya, dengan janji saya tak akan membuka hapenya. Saya cukup seneng dia terbuka sama adiknya, Umar. Mereka berdua saling terbuka siapa yang mereka suka, dan mereka saling jaga rahasia. Meskipun kayaknya siapa yang disukain Umar berubah-ubah tiap minggu haha…Dan kalau lagi berantem, mereka suka “ancam-ancaman” buka rahasia, tapi saya suka ngingetin kalau kepercayaan masing-masing harus dijaga.

Tentang pacaran, saya dan mas agak strict. Menurut diskusi dengan teman-teman yang udah punya anak remaja, katanya memang tantangan mengasuh anak remaja adalah menanamkan value keluarga. Dan kalau udah terlanggar, susah banget menegakkannya kembali. Apalagi anak-anak jaman sekarang….. bahasanya udah dahsyat, gombal-gombal…..suatu hari pernah Hana bawa selembar kertas…dia yang lagi belajar baca, tanya  tulisan ini isinya apa. Rupanya, itu kertas yang tercecer dari meja belajar Azka. Isinya gini : “Azka, tolong pergi jauh… aduh, saya mulai deg-degan…apa Azka berantem sama temennya…tapi pas baca lanjutannya, saya pengen ketawa banget …. ” biarkan rasa ini hilang seiring waktu” hahaha….

Lalu saya jelaskan juga kalau sekarang ini Kaka udah bisa hamil. jadi pergaulan harus dijaga betul.  Yang terakhir ini, kembali jadi bahan ledekan Hana buat kakaknya. “haha…kakak udah bisa hamil…haha..” katanya …buat dia, hal ini lucu banget kayaknya …mungkin dia bayangin kakaknya tiba-tiba perutnya membesar gituh kkk….

Gambaran di atas, adalah sedikit perubahan yang “visible” dengan perubahan status menjadi ibu dari remaja. Setiap hal, mulai dari masalah hape sampai pilihan sanlat, kalau gak luwes, pokoknya bisa bikin “meledak”. Baik emaknya maupun si remajanya kkkk…NAh ada satu lagi perubahan yang “invisible”.

Beberapa wkatu yang lalu, ada satu kejadian yang membuat saya “menasehati” Umar begini: “mas, nanti kalau kamu cari istri, harus hati-hati loh…gak bisa liat dari luarnya aja. Misalnya terlihat baik, berjilbab, sopan, gak bisa. Harus tau bener nilai-nilai yang dia pegang, apa yang menurut dia baik dan buruk, apa yang menurut dia boleh dan tidak boleh, itu harus kita tau betul. Banyak penampilan yang menipu sekarang mas” …kkkk…gak tau anak umur 9 tahun itu ngerti gak..ini mah emang  emaknya setengah curhat ….. yang pasti, si Kakak langsung nyamber: “dan yang terpenting bu, perempuannya itu, mau gak sama si Umar…haha…”

Tapi bener loh…. saya sekarang mulai kepikiran soal jodoh anak-anak, terutama tentnya Azka haha… Pernah ngobrol sama seorang senior yang ketiga putera-puterinya sudah berkeluarga, dia setuju dengan “nasehat” yang saya sampaikan pada Umar. “Itu sebabnya, ketiga anak saya itu saya arahkan untuk berkenalan dengan anak dari sahabat-sahabat dan teman-teman, yang saya tahu betul, value keluarganya seperti apa Fit” katanya….

Bener ya….mungkin ini alasannya para orangtua dulu suka mengadakan perjodohan … Sekarang, sebagai orangtua, jujur aja…saya mulai bisa menghayati…kayaknya perjodohan dengan seseorang yang menurut kita “baik” itu rasanya lebih aman kkk….Tapi kan ….kalau tanpa cinta…kehidupan pernikahan anak kita bisa hampa….ya..ya…baiklah…tapi usaha boleh kan? “makanya kita harus terus jaga silaturahim sama teman-teman kita yang kita tahu value-nya sama dengan kita” kata si abah….dan suatu hari, saya dan si abah  pernah iseng mengingat-ingat anaknya siapa-anaknya siapa yang “potensial” untuk jadi calon mantu haha….. engga…engga sampai dicatet kok…kalau 10 tahun lagi, mungkin mulai dicatet kkk 😉

“mencari” sekolah vs “mencari” jodoh ;)

6281573469377Seminggu ini, khususnya 3 hari ini, adalah hari-hari penting bagi sebagian ortu yang memiliki anak kelas 6 SD. Beragam doa untuk kemudahan dan kelancaran UN anak-anaknya, dipanjatkan para ibu baik dalam bentuk status bbm, status facebook maupun pastinya di saat-saat mustajabnya doa. Minggu lalu, beberapa sekolah menggelar semacam “doa bersama” yang dihadiri anak dan orangtua. Pun dengan sekolah Azka.

Setelah program tambahan belajar plus tryot setiap hari Sabtu selama satu semester kemarin, kegiatan ditutup dengan acara mabit anak-anak yang ditujukan untuk “relaksasi” melalui beragam games yang ringan dan lucu. Dan hari Kamis lalu, saat tanggal merah, digelar acara “doa restu”. Tujuannya sama, relaksasi. Tapi lebih diarahkan untuk orangtuanya. Pengisi acaranya pas sih menurut saya, seorang trainer parenting yang kocak abis, mampu mengocok perut para orangtua dengan gayanya yang lucu abissss….

Betul sekali yang disampaikan trainer parenting tersebut, kayaknya yang tegang emak-bapaknya, terutama banget emak-emaknya hehe….. begitu masuk ruangan bawaannya udah pada berkaca-kaca ajah. Padahal anak-anaknya mah udah haha hihi.

Untuk yang berniat masuk SMP negeri, wajar kalau 3 hari ini akan merasa tegang. Karena perjalanan 6 tahun sekolah putera-puterinya, diukur dengan beberapa puluh soal. Beberapa puluh soal dari 3 mata pelajaran yang hasilnya, akan menentukan masuk SMP mana. Sekolah, buat sebagian orangtua, bukan hanya berfungsi sebagai institusi yang mengajarkan pelajaran. Tapi mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang akan masuk menjadi kepribadian anak.

Saya sendiri, jujur saja sudah tak tegang. Sudah antiklimaks buat saya. Tegang dan cemas abis, saya rasakan 5 minggu lalu, waktu Azka test di sebuat SMPIT. SMPIT yang menurut “penerawangan” kami, paling pas untuk jadi partner dalam mendidik Azka. Karena itu satu-satunya sekolah yang dirasa paling pas dalam segala sesuatunya dan kami gak punya pilihan kedua, maka wajarlah kalau saya cemas banget menghadapi testnya. Padahal yang test Azka ya…kkkk

Hihi…kalau saya flashback, suka pengen ketawa sendiri. Beberapa waktu sebelumnya, saya sempat galau abis. Testnya tuh kan 3 ya, psikotest, test akademik dan test praktek ibadah. Nah, untuk  test praktek, saya percaya lah…sama Azka. Test akademik….dengan tambahan belajar di sekolah, tryout tiap minggu plus bimbel seminggu tiga kali, cukup lah…kami pun belikan beberapa buku soal sampai Azka bilang…hadeeuh…bosen bu, ngerjain soal terus haha….Nah, yang bikin galau adalah soal psikotest ini. Masalahnya adalah, saya tahu banget lah, apa yang akan diukur, gimana cara ngukurnya daaaan…..alat ukurnya, alias alat psikotestnya, itu ada di ruang kerja sayah….

Beberapa hari menjelang test, kegalauan saya meningkat. Insting seorang ibu kan ingin selalu melindungi anaknya ya? saya galau….saya bisa banget ngasih “latihan psikotest” sama Azka. Atau minimal, kasih tau nanti soalnya kayak apa, Azka harus gimana biar hasil evaluasinya bisa bagus. Tapi….terngiang-ngiang sumpah profesi, kode etik dan…tentunya ingat bahwa nanti saya harus pertanggungjawabkan di akhirat. Tapi sebagai seorang ibu….ingin sekali all out membantu anak….tapi kode etik….tapi sebagai seorang ibu….

Yang akhirnya menguatkan saya untuk tidak melakukan pelanggaran kode etik itu adalah, seorang sahabat saya. Waktu saya curcol soal kecemasan saya pada dia, dia bilang gini …“gw paham banget kecemasan elu, tapi tenang lah, gw yakin Azka punya potensi dan kemampuan”. JLEB. Banget. Saya tertohok. Perasaan saya “ingin membantu” Azka, membuat saya terbutakan akan satu hal. Kalau saya lakukan itu, berarti saya meragukan potensinya. Saya tidak mempercayai kemampuannya. Aduuuhhh….saya menghayati betul sekarang. Itu tidak mudah sodara-sodara….Insting seorang ibu yang ingin selalu melindungi anaknya, membuat kita tidak mudah untuk “percaya” pada kemampuan anak kita ! Ini pengalaman berharga banget buat saya. Struggle to surrender banget lah….

Pas hari h, kecemasan saya udah naik ke ubun-ubun. Subuhnya ampe “berantem” sama si abah. Saking cemasnya takut telat karena jarak dari rumah ke sekolah tsb cukup jauh dan bisa macet, saya pengen anter pake motor. Karena saya gak bisa nyetir apapun kecuali nyetir sepeda, pastinya kami akan bertiga naik motor. Si abah bilang, itu malah riskan ditilang. Jadi lebih baik pake mobil. Saya, keukeuh sureukeuh pengen pake motor, biar kalau macet bisa nyelap-nyelip. Akhirnya, setelah masing-masing keukeuh dengan pendapatnya, dengan wajah manyun dan mata berkaca-kaca saya ikutin saran mas, tapi berangkatnya 2 jam sebelum jam mulai test haha….orang cemas dilawan…. jadilah setengah 7, kami sudah nangkring di sekolah tsb, datang sebagai peserta kedua haha….

Sepanjang perjalanan, cemas saya memuncak sampai sakit perut…Aduh, bener deh,,,seumur-umur kalau menghadapi ujian, 3 kali sidang skripsi-profesi-tesis, gak pernah sampai sakit perut. Ini terjadi …. ! sambil menunggu jam mulai test, ngobrol ini itu dengan ibu-ibu teman Azka, kecemasan mulai reda. Menjelang jam 8, tim psikologi datang. Begitu tim psikologi turun dari mobil, eh…sebelum masuk ke ruang test, mereka menghampiri saya, trus pada cium tangan …. ternyata mereka adalah mahasiswa-mahasiswi saya….dari Biro tetangga yang bekerjasama dengan sekolah ini untuk psikotestnya. Aduuuh, sakit perut lagi. Apalagi saat ibu salah satu teman Azka bertanya mengapa, dan ketika saya bilang itu mahasiswa saya, beliau berkata : “ya ampun, mama Azka teh psikolog, kenapa gak bilang-bilang? kalau tau kan bisa minta latihan dulu..” ….. si syetan bertanduk hadir lagi dan bilang ke saya “iya ih, kenapa resource yang kamu punya gak kamu kasih all out ke anak kamu, kalau gagal, kamu nyesel loh”. Sakit peruuuuuut !!!! Apalagi tambah dapat info kalau persaingannya ketat, plus Azka kan SDnya bukan dari sekolah ini. Meskipun berkali-kali saya tanya ke yayasannya dan mereka bilang gak ada keistimewaan untuk calon yang berasal dari SD mereka, tetep we…liat daftar nama banyak banget yang dari SD mereka, hati jadi ciut.

Selama 2 minggu menunggu pengumuman, saya bener-bener berjuang untuk “ikhlas” berdoa mohon yang terbaik. Bukan berdoa biar diterima. Katanya kan, hakikat muslim itu adalah “berserah”. Puncak ketauhidan kita adalah, saat kita yakin apapun yang terjadi adalah yang terbaik dariNya. Selama kita masih yakin dan merasa yang kita inginkan yang terbaik, ya berarti belum sepenuhnya berserah. Struggle to surrender tea…

Sampai 3 minggu lalu, alhamdulillah Azka diterima. Sejak saat itu, buat saya udah selesai. Udah bayaran, udah dapet seragam, udah antiklimaks.

Minggu lalu, kami diundang oleh SMP tersebut untuk wawancara. Saya dan mas hadir. Satu jam wawancara dan dialog, saya seneng banget. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pihak sekolah pada kami, menurut saya bagus. Karena dalam proses itu, kami menyamakan “nilai”. Dan item pertanyaan yang dipilih pun, pas menurut saya. Tidak hanya yang sifatnya umum dan normatif. Misal mereka bertanya, bagaimana pendapat kami mengenai gadget terutama hape. Mereka juga bertanya bagaimana pendapat kami tentang “rasa suka-sukaan” yang sangat biasa terjadi di usia SMP, lalu bagaimana value kami tentang pacaran. Saya juga banyak bertanya mengenai hal-hal yang saya anggap penting, misalnya saya menanyakan bagaimana prinsip mereka mengenai anak yang “bermasalah”, bagaimana sistem penanganan jika terjadi kasus bullying yang sedang marak, dll dll. Alhamdulillah bikin lega, karena value kami sama. Baik dalam hal “agama” maupun mengenai aspek-aspekkepribadian  yang akan dibangun oleh sekolah tersebut. Salah satu konsep yang saya suka adalah, sekolah ini melalui program-programnya tidak mengedepankan kompetisi, melainkan kerjasama. Itu sesuai banget sama kepengenan kami. Juga skeolah ini tidak mencetak individu-individu yang “eksklusif”, tapi berbaur dan terjun ke masyarakat.

Saat tahu ketatnya persaingan masuk sekolah ini plus cukup mahalnya biaya masuk sekolah ini, sopir saya bertanya “bagusnya apa sih bu, sekolah ini?” haha….pertanyaan kritis …. Lalu saya menjawab kurang lebih begini: bahwa dengan pilihan aktifitas saya, harus diakui minim sekali waktu saya untuk Azka. Begitu juga abahnya yang sering di luar kota. Saya perlu bantuan skeolah yang gak cuman ngajarin pelajaran, tapi juga ngajarin nilai. Nilai yang harus sama dengan nilai yang kami ingin tanamkan pada Azka.

Dipikir-pikir, proses ikhtiar mencari skeolah buat anak itu sama dengan proses iktiar “mencari jodoh” ya…hehe

Apa aja prinsipnya?

(1) Tidak ada pasangan yang sempurna, yang ada adalah pasangan yang sesuai. Demikian pula tidak ada sekolah yang sempurna, yang ada adalah sekolah yang sesuai.

Untuk mengetahui apakah sesuai atau tidak, maka kita harus tau dulu siapa kita, apa value kita. Apa yang penting dan gak penting buat kita. Apa yang kurang dalam diri kita, yang ingin kita lengkapi dari pasangan kita. Pokoknya mah harus “kutahu yang kumau” lah. Yups…pastinya kita semua pengen anak kita sholeh. Tapi, kita harus bisa operasionalkan. Karena karakteristik sekolah itu beda-beda. Mau sholeh yang kayak gimana? Mau sholeh yang orientasinya kemana? Seperti apa? Mau sholeh yang kompetitif? its oke. Mau sholeh yang kolaboratif? its oke too. Mau sholeh dengan dominansi pengetahuan agama? okeh. Mau sholeh dengan dominansi pengetahuan sains? bahasa? sosial? its oke too.

(2) Tak ada pasangan yang gak punya kekurangan. Yang penting, dia dewasa dan mau menerima masukan, mau berubah ke arah lebih baik. Tak ada sekolah yang tak punya kekurangan. Yang penting, sekolah itu terbuka menerima masukan, dan mau beruba saat ada masukan yang lebih baik.

Saya sudah menemukan TK dan SD yang “pas” buat anak-anak saya. Apakah TK dan SD itu sempurna? no no no. Beberapa kali saya memberikan masukan terhadap hal yang saya pikir penting untuk diluruskan. Dan ciri sekolah yang baik adalah, ia  mau menerima masukan yang objektif. Mau mengakui kesalahan, mau meminta bantuan, mau berubah. Itu pula yang kita harapkan dari pasangan kita bukan?

(3) Dalam proses mencari pasangan hidup yang mengikuti syariat islam, faktor sumber informasi menjadi krusial. Demikian pula saat mencari sekolah.

Kita tidak diperbolehkan melakukan perkenalan dengan berduaan….tapi kita harus pandai-pandai mencari sumber informasi yang akurat mengenai calon pasangan kita. Rasul bilang, seseorang itu menjadi teman setelah menginap bersama. Teman satu kost, informasinya akan lebih valid dibandingkan teman-teman lain yang hanya tahu calon pasangan kita “dari luar” aja.

Saya sering bilang, kalau cari sekolah, jangan percaya brosur. Pasti kalau cuman liat dari brosur atau web, bagus semua. Apalagi sekolah baru. Idealismenya hebat, tapi belum punya pengalaman bagaimana membumikan idealisme tersebut dalam kenyataannya. Salah satu cara ampuh adalah, cari testimoni. Dari orang yang kita percaya, dari orang yang valuenya sama dengan kita. Memilih SMP ini, buat saya cukup dengan meminta pendapat seorang teman, yang anak nya sekolah di situ, dan punya value yang sama dengan saya. Baik value agama maupun value psikologi yang buat saya cukup penting hehe…. Dan beliau pun memberikan informasi yang objektif, sehingga kami bisa timbang-timbang, apakah fit gak dengan kebutuhan kami.

Semoga, di SMPnya nanti, kami mendapatkan sakinah mawaddah warohmah hehe….

Buat ibu-ibu/bapak-bapak  yang masih berjuang cari pasangan hidup sekolah yang pas, Semangat ! Insya allah ikhtiar kita smeoga mengundang keberkahan buat anak-anak kita. Aamiin….

 

 

Apa yang lebih mahal dari batu akik? ;)

inisiatip

Tiga bulan lalu, di pin board Umar si kelas 3 di kamarnya, diantara tempelan jadwal pelajarannya, saya mendapatkan surprise. Ada tulisan cakar ayamnya : “Rabu, PR matematika. Kamis, SBK bawa kardus bekas”. Saya tanya itu tulisan apa, dia bilang “Iya, mas Umar kan pelupa, mas Umar tulis biar mas Umar inget”.

Sebulan lalu, waktu kami ke toko buku, seperti biasa dia menghilang dan ketika ketemu, menyodorkan dua buah buku. Tumben bukan buku komik, melainkan buku “Aku Jago Menggambar”. Ada dua Buku: Aku Jago menggambar Bunga dan Aku Jago Menggambar Pemandangan. Saya merasa aneh banget. Menggambar adalah “musuhnya”. Motorik halus adalah kelemahannya.Tak heran kalau mata pelajaran SBK, entah itu menggambar, menggunting, membuat prakarya, nilainya selalu di bawah rata-rata kelas. Saya penasaran banget,  saya tanya kenapa dia pilih dua buku tersebut.  Dia bilang “Mas Umar kan paling gak bisa menggambar bu, nilai SBKnya suka jelek terus…buku ini kan ngajarin langkah-langkahnya menggambar, jadi mas Umar bisa latihan”. katanya

Dalam dua peristiwa tersebut, saya peluk dia, saya bilang saya bangga pada dia…. Kenapa?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Setiap orangtua, punya “nilai-nilai” tertentu yang ingin ditanamkan dan ditumbuhkembangkan dalam diri anaknya. Salah satu cara bagi kita, orangtua,  mengidentifikasi kualitas penting apa yang ingin kita tanamkan pada anak kita, adalah dengan mengingat momen-momen membahagiakan/membanggakan apa yang kita ingat dari anak-anak kita.

Bisa jadi, peristiwa yang “membanggakan” dari satu anak dengan anak lainnya berbeda. Kalau istilah saya, sebagai orangtua dari waktu ke waktu kita selalu punya “PR” dalam konteks pengasuhan pada anak. PR-nya, bisa jadi pada satu anak atau anak lain,  berubah dari waktu ke waktu.

Misalnya pada si sulung, PR kita adalah menumbuhkan kepercayaan diri, si tengah PR kita menguatkan kemampuan pengendalian emosi, pada si bungsu PR kita untuk mengasah keterampilan sosialnya. Tahun depannya, mungkin PR kita beda lagi.

Kalau saya sendiri, PR saya sekarang ini terutama pada si nomor 2. Umar si kelas 3. Si anak unik yang baru mau makan nasi di usia 4 tahun, satu-satunya anak yang harus “berpisah” di awal-awal kehidupannya karena harus di blue-light (ah, meskipun sudah 9 tahun lalu, masih teringat saat saya sujud syukur karena dapat berita dari RS kalau dia bisa dijemput pulang), si anak yang  beberapa kali tengah malam dibawa ke ugd untuk mengeluarkan feces dan pipisnya …. Si anak yang “terkenal” di TK nya karena “pemberani” dan selalu jadi pemeran utama di setiap pentas, si anak yang jarang belajar tapi  nilainya selalu bagus di kelasnya, si anak yang “lebay” kalau dapat masalah, si anak “pelupa” yang sering sekali  kehilangan jadwal, buku, pensil, penghapus, penyerut, tempat minum, sendal sampai seragam di sekolah. Si anak yang seringkali gak tau kalau besok waktunya ujian.

PR apa yang saya punya buat Umar? PR membangun “mentalnya”. Setiap kali dia menunjukkan nilai ujiannya yang selalu diatas 97 meskipun dengan belajar minim (tanya jawab sama saya sambil sarapan pagi) atau gak belajar sama sekali karena malemnya ketiduran, saya selalu curhat sama si abah, ya…saya senang..tapi rasanya belum tenang.

Menurut pengalaman saya, anak pinter tuh sekarang banyak banget. Gizi yang baik plus stimulasi yang mudah dilakukan pada anak kita sekarang ini, membuat anak yang pinter tuh jadi gak istimewa. Yang IQnya 130, 135, 145, sekarang tuh gak aneh lagi. Tapi, prestasi akademis itu cuman berarti sampai SMA doang. Atau sampai kuliah lah. Setelah itu? kemampuan akademis tak akan banyak bermakna. Ini bukan teori. Ini empirik. Kata temen-temen saya yang bergerak di bidang industri, perusahaan-perusahaan besar sekarang lebih mempersyaratkan “softskill” yang baik, kepribadian yang matang dibandingkan kemampuan kognitif. Apalagi eneterpreuneur.

Maka, saya khawatir banget Umar, yang akan menggantikan abahnya menjadi imam keluarga ini, tak punya “mental” yang matang. Tak punya pribadi yang kuat. Salah satunya yang paling saya takutkan adalah, ia tak punya inisiatif. Aspek ini banyak hilang dari remaja-remana  saat ini. Banyak  anak-anak SMA ber-IQ istimewa namun blank gak tau mau lanjutin ke mana. Jurusan yang dipilihnya adalah “disuruh orangtua”. Informasi yang didapat mengenai jurusan yang akan dimasukinya, “kata mama”/ “kata papa”. Sehari-hari pake gadget canggih, tapi sama sekali tak tergugah untuk mencari informasi.

Inisiatif, menurut penghayatan saya, menjadi amat mahal. Dan dua kejadian di atas, perilaku Umar menempel catatan biar dia gak lupa dan mencari buku untuk latihan menggambar, buat saya membanggakan karena, seperti  yang selalu saya bilang padanya:

“Tidak ada seorang pun anak  yang sempurna mas, pasti setiap anak  punya kekurangan. Anak yang hebat itu bukan anak  yang gak punya kekurangan. Tapi, anak  yang menyadari kekurangannya apa, menerimanya dan berusaha keras  untuk mengatasi kekurangannya. Ibu pengen mas Umar kayak gitu.”

 

Previous Older Entries Next Newer Entries