mendengarkan vs menasihati

Salah satu rejeki yang harus disyukuri oleh “anak sekolahan” adalah bila dapat Pembimbing yang supportif. Di jenjang pendidikan mana pun, S1 apalagi S2 dan S3, hubungan dengan Pembimbing selalu menjadi faktor yang berdampak besar pada “kesuksesan” penyelesaikan skripsi/tesis/disertasi dan kesejahteraan psikologis penyusunnya. Maka, tentu saya bercita-cita menjadi Pembimbing yang supportif terhadap mahasiswa saya. Bukan apa-apa…saya tuh suka ngebayangin pertanggungjawaban di akhirat uy… kalau sampai mahasiswa saya menuntut bahwa saya menghambat karirnya, membuat harga dirinya hancur lebur, kesehatan mentalnya menurun…. Dear mahasiswa-mahasiswi bimbingan saya, maapken kalau saya kurang supportif ya….

Masalahnya adalah, untuk bisa supportif ini, tidak cukup dengan cita-cita. Salah satu issu yang sering didiskusikan oleh kami para dosen “muda” adalah, bagaimana belajar teknik-teknik untuk memberi tanggapan yang supportif pada mahasiswa, se-gimana-pun kondisi mahasiswanya. Buat kami-kami yang lagi sekolah, kami suka sharing pengalaman gimana cara Promotor dan atau Supervisor kami memberikan feedback yang kami rasa supportif.

Setelah 11 tahun berperan sebagai Pembimbing, mulai tahun lalu saya berperan sebagai mahasiswa. Selama satu tahun ini, banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari Tim Promotor saya  mengenai cara bersikap dan berperilaku sebagai Pembimbing yang supportif. Itulah yang ingin saya ulas dalam tulisan ini.

Tim Promotor saya adalah 3 orang ibu. Seorang ibu Profesor dan dua orang ibu doktor. Bersama saya, dua rekan mahasiswa satu bimbingan adalah dua orang ibu juga. Saya ber-anak 4, teman saya ber-anak 3 dan 1. Jadilah kami 6 orang emak yang berada dalam situasi akademik.

Saya ingat, setelah kami diterima, kami berkumpul dalam satu pertemuan untuk orientasi awal. Saya sudah menyiapkan mental bahwa kami akan diberikan arahan untuk masuk ke dunia akademik dengan “disiplin”, dan harus “meninggalkan” identitas ke-emak-an kami sebagai konsekuensi pilihan kami sekolah lagi. Apalagi ini jenjang S3, di almamater saya yang cukup dikenal “susah masuk susah keluar” haha….

Ternyata eh ternyata, dugaan saya meleset jauh. Pada pertemuan pertama tersebut, kami ditanyai satu-satu mengenai kehidupan keluarga kami. Anak berapa, umur berapa aja, suami kerjanya bagaimana, support system yang kami miliki apa saja, ada pembantu nginep atau engga, aktivitas kami selain kuliah apa saja. Setelah itu, Tim Promotor menjelaskan tanggung jawab kami dikaitkan dengan kurikulum. Lingkup penelitian yang harus kami lakukan, diseminasi nasional dan internasional, publikasi nasional dan internasional, dan terakhir…ini yang paling saya suka, Beliau memberikan arahan alternatif strategi sesuai dengan kondisi kami saat ini. Ya, Beliau tetap memberikan arahan minimal harus baca jurnal berapa per hari, menyisihkan waktu menulis berapa jam per hari, namun sama sekali tak mengabaikan kondisi “semesta” kami sebagai emak dan istri. 

“Karena kita sudah berkeluarga, punya peran sebagai istri dan ibu, jangan sampai sekolah ini melalaikan peran kita dalam keluarga. Oleh karena itu, kita harus pinter-pinter dan komitmen bagi waktu. Pagi-pagi, kita nyiapin anak-anak dulu. Nah, pas anak-anak sekolah, kita full konsentrasi ngerjain. Boleh di rumah, boleh di kampus, hayati di mana kita bisa konsentrasi penuh. Anak-anak pulang sekolah, berhenti dulu mengerjakan Disertasi. Dampingi, main sama anak. Nanti malem, pas anak-anak tidur, bangun jam 2. Yang muslim sholat dulu, lalu ngerjain lagi. sampai Shubuh. Shubuh bangunin anak-anak, bertugas lagi. Dengan cara begitu, minimal 5 jam kita punya waktu sehari untuk mengerjakan Disertasi. Trus harus disiplin memanfaatkan waktu. Karena kan kadang anak-anak sakit mendadak, suami juga misalnya sedang punya masalah perlu ditemenin….kalau kita disiplin, kita gak akan kena deadline. Jadi kita punya spare waktu untuk nemenin anak sakit atau nemenin suami”. 

Meskipun itu adalah nasihat “sederhana”, tapi buat saya punya daya “menggerakkan” yang sangat besar. Mengapa? Karena diawali dengan kesediaan untuk memahami. Dan dipahami itu, rasanya….. segalanya. Kalau seseorang bersedia memahami kondisi kita, kita akan merasa dianggap ada, dipedulikan, dihargai, ditemani, dicintai. Dan awal pemahaman itu adalah, dengan kesediaan mendengarkan. Saya pernah dengar cerita teman saya di Universitas yang lain, kebetulan Promotornya memiliki pendekatan yang berbeda. Promotornya “menutup mata” terhadap kondisi dirinya sebagai emak. Kala anaknya sakit, keluar kata-kata “ini sudah konsekuensi kamu yang memilih untuk sekolah lagi”. Kalimat pendek itu, sangat efektif untuk membuat teman saya jadi ilfill. Anaknya dianggap “tidak ada”, kondisinya tidak dipedulikan, terasa tidak diharga, apalagi ditemani dan dicintai.

Ya, keluarga memang tidak boleh jadi excuse. Dan agar keluarga tidak jadi excuse, perlu manajemen yang baik. Dan Promotor saya, menggambarkan jalan yang sangat gamblang bagaimana caranya memprioritaskan keluarga, bukan menjadikan keluarga sebagai excuse. (Lebih lanjut tentang issue ini, dapat dibaca pada https://fitriariyanti.com/2015/10/08/keluarga-prioritas-atau-excuse/ )

Selama proses bimbingan,  dua minggu sekali kami harsu presentasi di hadapan tim Promotor dan tim mahasiswa, dan mendapatkan feedback. Setiap kali selesai presentasi dan mendapat feedback, saya selalu merasa…. apa yang harus saya lakukan masih banyak banget, tidak akan mudah. Tapi perasaan itu selalu diiringi dengan perasaan bahwa “Saya akan bisa!”, excited, “on fire” haha… Itu adalah buah dari cara Tim Promotor memberikan feedback. Tidak menjatuhkan. Memposisikan kami dengan setara. Beliau-beliau selalu mengatakan: “Kalian akan menjadi doktor di bidang ini. Ini akan jadi expertise kalian. Kalian yang lebih paham. Yang kami lakukan adalah mengklarifikasi dan memberikan masukan”. Kalimat itu, membuat saya jadi merasa “tertantang”.

Dua minggu lalu, satu tahun setelah “wejangan awal” yang kami terima di atas, kami kembali berkumpul. Alhamdulillah target semester pertama Ujian Kualifikasi serta target semester kedua Seminar Usulan Penelitian Disertasi telah kami capai. Kini, kami bertiga adalah tiga emak Kandidat Doktor yang siap melakukan penelitiannya.

“Wejangan” untuk kami, nadanya sama dengan “wejangan” pertama. Masih diawali dengan kondisi kami masing-masing. Jujur saja, saya terharu sekali ketika Beliau memasukkan variabel “ayah saya yang sedang sakit” sebagai variabel yang perlu dipertimbangkan untuk menentukan strategi saya di semseter-semester ke depan. Demikian pula dengan kondisi masing-masing kami yang lain, sangat individual dan dipahami. Termasuk masalah finansial, karena kami akan mengambil data. Beliau tanyakan sumber pendanaan kami, jenis beasiswa, besarannya segimana, sumber lainnay darimana, sehingga bagaimana strateginya beda-beda.

Selain “wejangan” lain mulai dari hal filosofis sampai ke tataran praktis (misal : harus ngirit, jangan beli-beli yang gak perlu dulu, beli baju, tas, liburan, tunda dulu. Nabung buat ambil data. Ambil data itu butuh uang yang tidak sedikit). Ada satu hal yang berkesan sekali buat saya; yaitu saat Beliau menyampaikan bahwa di fase ini, bukan hal tak mungkin kita akan mengalami kondisi stress. Ya, ya, ya, sehebat apapun orangnya, saya selalu mendengar ada “fase” itu. Beberapa senior saya yang menurut saya super cemerlang pernah cerita pengalamannya. “Kalau belum nangis-nangis, belum merasa hopeless, gak akan lulus S3 mah Fit”. Kata seorang senior “Pernah ya, saya dieeem aja tiga hari. Air mata netes-netes aja…gak tau lagi harus gimana…” kata senior saya yang lain.

Nah, di pertemuan itu, Tim Promotor saya juga cerita bagaimana “fase airmata” itu ia alami. Bagaimana stresfull nya Beliau, sampai suaminya nelpon, langsung pulan dari kantor, menghibur, sampai beliau nge-blank, nangis-nangis, sampai harus fisioterapi karena tangannya sakit mengetik terus, dll dll.

Apakah cerita dari para senior dan promotor yang saya kagumi itu membuat nilai mereka “turun” di hadapan saya? no no no. Malah sebaliknya. Mengetahui bahwa mereka pernah mengalami periode “jatuh” dan lalu mereka bisa bangkit kembali dan jadi “hebat” seperti sekarang, memberikan kekuatan bahwa kalau saya pun juga mengalami fase itu, saya yakin bisa bangkit dan tegak berdiri seperti mereka. Perasaan “berdaya” itu tumbuh dengan role model dari mereka.

Menjadi ibu, menjadi dosen, menjadi psikolog, menjadi profesional di bidang apapun, menjadi ustadz/ustadzah, menjadi “duta agama”, menjadi istri, menjadi suami, menjadi teman; dalam hubungan apapun dengan sesama manusia, menurut saya punya satu kesamaan. Semua peran itu intinya adalah HELPING RELATIONSHIP. Hubungan membantu.

Dengan ilustrasi pengalaman saya dengan Tim Promotor, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa syarat-syarat hubungan membantu itu adalah:

  1. Kesediaan untuk mendengarkan kondisi awal orang lain
  2. Kesediaan untuk memahami kondisi awal orang lain; untuk mengajaknya memenuhi “target” yang akan dicapai
  3. Memperlakukan orang lain sebagai seseorang yang “setara”; dengan memberikan penghargaan atas capaiannya, sekecil apapun capaian itu
  4. Menjadi role model sebagai “manusia”; yang punya kelemahan, pernah mengalami kegagalan, kesulitan, namun berupaya untuk bangkit kembali.

Silhouette of helping hand between two climberCita-cita semulia apapun: mendidik, berdakwah, membimbing, mengasuh, mengajak pada kebaikan, …. tanpa 4 prinsip itu, hanya basa-basi semata.

Jangan “bodoh” memaknai kata  “menasihati” di Al-Qur’an dengan menutup mata terhadap kondisi orang yang akan kita ajak ke kebaikan, lalu meluncurkan serangkaian kata-kata bijak harusnya begini begitu begini begitu. Kita diberikan akal oleh Yang Maha Kuasa untuk “menasihati” anak-anak kita sesuai dengan usianya dan  kondisinya.

Cita-cita mulia untuk “membantu” dan “mendidik”, hanya akan menjadi basa-basi jika kita memposisikan diri sebagai “orang sempurna” yang mendikte harusnya begini- harusnya begitu tanpa kesediaan membuka mata membuka telinga terhadap kondisi orang yang akan kita ajak, tanpa kesediaan untuk menempatkan mereka secara setara (punya potensi kebaikan) dan menghargai setiap proses yang dilakukan.

 

 

 

Advertisements

Air Mata Ibu di Hari Ibu; catatan tentang “self” ibu

Catatan: butuh satu tahun untuk menyelesaikan tulisan ini. Dimulai tgl 22 Desember 2016, Selesai tgl 2 Januari 2017 😉

22 Desember (2016) adalah Hari Ibu.

Bagi kami sejumlah Ibu yang memutuskan untuk kembali ke bangku sekolah, Hari ini adalah Hari kedua ujian kualifikasi. Apakah ujian kualifikasi itu? Secara filosofis, ujian kualifikasi ditujukan untuk menguji apakah kami qualified (memenuhi syarat) untuk menempuh tuntutan akademik di jenjang Doktoral. Dan karena program Doktor di tempat kami menuntut ilmu menganut falsafah PhD atau doktor philosophy, maka kami tidak hanya diharapkan mampu melakukan penelitian yang excellent, namun juga ditempa unntuk memiliki pola pikir seperti para filsuf yang selalu mempertanyakan secara kritis akar dari segala sesuatu, mulai dari “realitas” yang akan kami teliti. Bagaimana kami memandang “manusia”, juga akan berdampak pada hakikat metodologi yang kami gunakan.  Jika kami “lulus” ujian ini, maka kami berhak menyandang gelar “kandidat doktor”.

Satu semester berlalu, memang sangat terasa tempaan yang kami terima. Untuk bisa memetakan dimana “posisi kami” dalam penelitian di topik serupa dalam jagad raya ilmu pengetahuan, maka kami harus “melahap” puluhan jurnal, mengkritisi, analisa-sintesa… Tapi jujur saja, yang kami rasa paling berat adalah saat kami dituntut untuk berpikir “radikal”, “fundamental”, “mengakar” terhadap segala sesuatu. Padahal, karena sebagian besar kami adalah dosen, dalam ujian atau membimbing mahasiswa, rasanya kami sudah mengajak mahasiswa untuk berpikir sangat mengakar. Misalnya saat mahasiswa meneliti relasi antara ibu dan anak. Kami akan mengajak mahasiswa untuk bisa memahami betul; “apa sih hakikatnya relasi itu? apa sih pentingnya relasi anak dan ibu? kenapa ibu harus menjalin relasi dengan anak? mengapa bentuk relasinya harus memenuhi persyaratan tertentu? ” Nah ternyata, kemampuan kami berpikir “mendasar” itu tak ada apa-apanya di jenjang ini.

Kami ditempa untuk berpikir jauuuuuuuh lebih mendasar lagi. Apa sih ilmu itu? buat apa ada ilmu? Psikologi itu ilmu atau bukan? Manusia itu apa sih? Apa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya? human nature manusia? emang kenapa sih manusia harus menjalin relasi? gak bisa gitu dia hidup sendiri? bener gak bisa? apa yang bikin gak bisa? Pfuih….meskipun dosen filsafat kami super duper keyyen dalam menyajikan berbagai fakta dan fenomena menarik dan kekinian untuk menggiring kami agar bisa berpikir filosofis, tetep aja kami tertatih-tatih untuk bisa merunut variabel-variabel keren dan kompleks kami ke pemikiran dasarnya, ke filosofinya, ke hakikatnya.

Tapi, buah dari tempaan itu sudah terasa. “Efek samping” dari 2 proses itu amat terasa.

(1) Saya jadi merasa bahwa kemampuan berpikir kami terbataaaaas banget. Saya sampe berhari-haribahkan berminggu-minggu memikirkan gimana ya cara mensintesa semua hasil bacaan saya, menuangkannya menjadi kalimat yang runtut satu sama lain. Udah pake segala cara; mind map, pake sticky notes, pake kertas super besar…. tapi masih sering kebingungan gimana caranya merangkum semua fakta dan data itu.

(2) Saya jadi merasa; ilmu yang kami ketahui itu sedikiiiiiiiiiiit banget. Gagasan “besar” dan “keren” yang kami pikirkan selama ini, ternyata sudah digagas orang lain belasan tahun lalu, misalnya. Kalaupun kami berkonstribusi terhadap imlmu pengetahuan, maka kontribuisnya bagai setitik debu di antara gunungan ilmu di topik penelitian ini.

(3) Saya jadi semakin terpesona sama kesungguhan para ilmuwan dalam mencari “kebenaran”. Upaya yang mereka lakukan, kerumitan metodologinya, mereka adalah para “mujahid” di bidang mereka masing-masing.

Tapi saya tahu, “efek samping” yang kami rasakan, sesungguhnya adalah bagian dari proses pendidikan di jenjang ini. Saya ingat kalimat salah seorang dosen saya, yang menurut saya sangat “mempesona”. “Ini adalah jenjang pendidikan akademik terakhir bagi kalian. Di jenjang ini, kalian akan belajar tentang kehidupan. Maka, sejatinya, seorang doktor adalah seorang yang secara keilmuan ia adalah ahli di bidangnya, namun secara kepribadian ia adalah seorang yang rendah hati dan bijak”. Ah, semoga saya bisa menyelesaikan jenjang pendidikan ini dengan juga memiliki kualitas-kualitas itu.

Dengan gambaran di atas, maka 3 hari ujian kualifikasi tgl 21,22 dan 23, bukanlah ujian “biasa” buat kami (gambarannya ternyata panjang ya… sambil curcol soalnya haha…..). Hari pertama, jam 09.00-16.00 kami harus menjawab 3 pertanyaan filsafat mengenai topik penelitian masing-masing. Waktu maghrib saya sampai rumah dengan wajah kuyu, si gadis kecil bertanya pada saya: ” ibu, emang ujiannya berapa soal sih?”. “Tiga”. jawab saya. “Hah? tiga soal? trus ibu ngerjain dari pagi sampai sore? Teteh kemaren pas UAS 30 soal, waktunya satu jam  teteh bisa. Kayaknay ibu kurang rajin belajar deh”… haha…lumayan jadi refreshing  kata-kata anak-anak teh.

Tgl 22, hari kedua, adalah hari terberat buat kami. Kami harus bisa menjawab 8 pertanyaan. 4 pertanyaan mengenai penguasaan teori dan 4 pertanyaan mengenai penguasaan metodologi terkait dengan penelitian yang akan kami lakukan. Kasat matanya sih 8 soal. Tapi “the facto”, dalam satu butir soal bisa terkandung 2, 3, 4, 5 dst butir soal.

Teknis ujian adalah, kami dibagi dalam ruangan-ruangan. Open book tentu saja. Kami pun bebas membawa dan atau mencari beragam sumber dari internet. Saya sendiri membawa sekoper penuh print out jurnal haha…. Rajin? bukan. Jadul. Karena saya lebih seneng stabilo-in dan corat-coret di hardfile ketimbang di softfile seperti teman-teman saya yang lain yang ratusan jurnalnya tersimpan di tablet atau laptop.

Saya satu ruangan dengan 2 teman. Salah satunya, adalah seorang ibu yang baru saja 2,5 bulan lalu melahirkan. Setelah dibagikan soal, lalu kami pun “menyisir” mana soal yang “gampang”, mana yang susah bahkan blank jawabannya. Masing-masing mendapatkan soal yang berbeda dari promotor masing-masing, sesuai dengan naskah makalah yang kami masukkan seminggu sebelumnya.  Tapi kami bisa berdiskusi memberi masukan dan gagasan. Dan kami bertiga sepakat, soal yang diterima oleh teman kami, si busui (ibu menyusui) itu memang susah. Terlebih lagi, selama melahirkan kemarin ia agak tertinggal bimbingan. Setelah diskusi sebentar, kami pun segera memfokuskan diri pada laptop kami. Pengalaman hari pertama, jam 9-12 tuh berlalu dengan sangat cepat.

Jam 09.30, telpon saya berbunyi. Saya angkat, terdengar isak tangis di ujung telpon. Si gadis kecil. “tadi teteh denger ibu bilang ke abah ibu akan pulang malem…teteh gak mau ibu pulang malem….” kataya diantara isaknya. “belum pasti ibu pulang malem teteh…memang hari ini ibu ujiannya soalnya banyak, mungkin ibu belum selesai sore. Tapi ibu akan usahakan maksimal jam 5 selesai” jawab saya sambil menatap nanar soal-soal yang jawabannya, akan puluhan lembar. Saya sendiri tidak yakin apakah akan selesai sore atau harus extend sampai malem. bla..bla..bla..bla… 15 menit telponan, si gadis kecil sudah berhenti nangisnya. Tutup telpon, kerjain lagi.

15 menit kemudian, masuk video call. Kali ini si bungsu, yang 4 hari lalu baru operasi hernia dan sunat, dan masih belum pulih sepenuhnya. “Ibu, dede mau pipis. Tapi masih takut. Mau sama ibu pipisnya….” Bla..bla..bla… 10 menit. Berhasil membuatnya mengangguk untuk pipis sama kakaknya, si sulung. Tak lupa diakhiri pesan: “kalau mau telpon lagi, jam 12 ya… biar ibu cepet selesai kerjainnya, jadi cepet pulang…”

15 menit kemudian, jadwal teman saya si busui memerah ASI. Setelah kami bantu persiapannya (mengunci ruangan, menyiapkan kursi), teman saya pun mulai memerah. “Hiks…liat…ASInya dikit banget…..” katanya sambil berkaca-kaca. Kami berdua menenangkan lalu menyemangatinya. Ia terus berusaha memeras, dengan genangan di air matanya. “Kayaknya aku stress deh. jadi dikit banget ASInya” katanya. Setelah ASInya tak keluar lagi, ia kembali meneruskan pekerjaannya. Saya salut banget sama teman saya ini. Dia sedih, tapi tak lebay. Air mata masih menggenang, tapi ia kembali tekun mengerjakan. “Aku gak boleh kepecah konsesntrasi. Biar cepet selesai, cepet pulang ketemu si dede” katanya. 30 menit kemudian, ia menerima telpon. Dari nada suaranya, tampaknya dari anaknya. Anak pertamanya seusia si bungsu, TK A. Lalu ia menerima telpon tsb di luar ruangan. Masuk ke ruangan, air mata yang tadi menggenang mengalir …. lalu ia cerita. Hari ini, adalah pembagian raport anaknya. Dan ia gak bisa ambilkan juga. Katanya anaknya bilang teman-temannya diambilkan raport sama ibunya. Itu yang membuat air matanya mengalir. “Sedih banget aku. ASI gak keluar, anakku sedih, aku disini susah banget ngerjain…ngapain sih aku teh….” gitu kurang lebih yang ia katakan di sela isaknya. Kami berdua memeluknya. Lima menit, ia menghapus air matanya. Lalu kami kembali mengerjakan. Posisi duduknya, meskipun agak jauh, namun berhadapan dengan saya. Saya bisa melihat bahwa ia tekun mengerjakan, tapi kadang air mata menggenang, kadang mengalir, tapi tak membuatnya mengalihkan perhatian dari laptopnya. Tanpa sadar, air mata saya juga ikut menggenang. Saya pernah merasakan perasaan itu. Saya sekuat tenaga menahan agar air mata saya tak samapi mengalir.

Hari itu hari ibu. Pagi tadi sampai siang itu, beragam lagu, doa, kata-kata indah tentang kasih sayang ibu, terus mengalir di medsos. Dan di ruangan itu, saya menyaksikan betul adegan nyata yang menggambarkan kasih sayang seorang ibu. Perjuangan seorang ibu. Ibu-ibu macam teman yang ada di hadapan saya itu, yang “tega” meninggalkan anaknya yang masih bayi, bagi sebagian orang dianggap sebagai ibu yang “kurang mulia”. Sampai saya pulang, saya masih teringat kata-kata terakhir yang ia ucapkan…. “…..ngapain sih aku teh?”

Pertanyaan itu, merupakan pertanyaan yang amat fundamental. Saat hati nurani bertanya seperti itu, saya pribadi dan juga saya menyampaikan pada teman-teman yang bercerita pada saya, memilih untuk “menjawab pertanyaan itu dengan jujur”. Kalau kita mau jujur, pertanyaan itu sesungguhnya adalah awal dari pertanyaan yang sangat panjang. Dan ujung jawaban dari pertanyaan panjang itu, akan memantapkan diri kita, keputusan apapun yang kita pilih nantinya.

Akan ada banyak skenario dari rangkaian pertanyaan-jawaban itu:

“Ngapain sih aku teh?”/”Bantu suami mencari nafkah”/”Kenapa harus bantu dia cari nafkah?”/”Karena kapasitas suami kurang memadai, jadi kesempatan yang ia dapat minimal, penghasilan pun minim. Tidak cukup. Suami jadi merasa tidak memenuhi kewajibannya. Saya, punya kapasitas lebih besar dari suami. Pekerjaan saya halal, tidak melalaikan kewajiban domestik, dan membuat kebutuhan kami tercukupi. Harga diri suami jadi terjaga”.

“Ngapain sih aku teh?”/”Saya punya keahlian membantu orang lain dengan profesi ini”/”Emang gak ada orang lain gitu?”/”Ada sih, tapi emang kenapa kalau saya memilih tetap beraktifitas? suami mengizinkan, kualitas buat keluarga ada, kalau gak beraktifitas sesuai profesi saya, saya merasa gak berkembang, saya malah bete sama suami dan anak”

“Ngapain sih aku teh?”/”Mencari uang”/”Kan itu kewajiban suami?”/”Iya, tapi keluarga saya sangat miskin. Saya anak pertama. Kalau saya gak bantu keluarga, adik-adik saya gak akan bisa sekolah. Penghasilan suami cukup, untuk keluarga saja. Tidak cukup untuk membiayai orangtua dan adik-adik saya. Suami saya mengizinkan, pekerjaan ini halal”

“Ngapain sih aku teh?”/”Kerja”/”Kenapa harus kerja”/”Iya yah, kenapa….padahal aku teh orangnya cape-an. Dengan kerja ini, aku jadi gampang stress. Kalau aku jadi stress, marah-marah ke anak-anak. Emang nambah penghasilan sih. Tapi penghasilan suami juga sebenernya cukup. Ngapain ya? kalau aku brenti kerja, situasi akan lebih baik gak? kayaknya lebih baik deh”.

……..dan tak terhingga skenario lainnya.

Buat saya, keputusan akhir seorang wanita untuk beraktifitas di dalam atau di luar rumah, bukan masalah yang esensial; dengan catatan aktifitasnya (baik di dalam maupun di luar) memenuhi syarat-syarat kebaikan dan kebenaran. Yang esensial adalah alasan yang mendasarinya. Pertimbangan dan strategi yang akan memberikan kita resultan kebaikan yang lebih besar. Apapun bentuk aktifitas yang dipilih, saya mengamati, kesadaran akan manfaat bentuk pilihan itu buat ybs, plus penghayatan akan konsekuensi dari pilihan itu, yang membuat seorang ibu bisa tegar berdiri, percaya diri namun rendah hati dengan pilihannya.

Episode sedih akan ada, tapi tak lebay. Persis seperti teman saya yang saya ceritakan di atas. Gak bisa ambil raport karena ada kegiatan yang gak bisa digeser? Apa yang esensial dari pembagian raport? Perhatian orangtua terhadap perkembangan anak. Oke,  janjian di lain waktu dengan gurunya untuk ngobrol perkembangan anak.

Tapi kan…. itu pemikiran kita. Gimana kalau anak merasa ia tidak diperhatikan, merasa ia tidak lebih penting dari kegiatan ibunya? Nah, disini berlaku hukum “exception”. Kita harus bersikap dengan tulus, sehingga anak menghayati bahwa ibunya gak bisa ambil raport, maknanya adalah ibuku gak bisa ambil raport karena ada kegiatan lain yang gak bisa digeser, bukan ibuku gak peduli sama aku. Gimana caranya? ketika ada momen-momen anak dimana kita gak ada kegiatan, ya kita hadir. Ketika kita luang, ya kita perhatikan dia. Ketika kita memang gak ada yang urgen, ya kita prioritaskan dia.

Tapi akan susah buat anak untuk menghayati exception kalau pas kerjaan penuh maupun lagi santai, kita cuek sama anak. Pas dikejar deadline kita marah-marah minta anak gak ganggu kita ngerjain, pas gak dikejar deadline kita minta anak gak ganggu kita medsos-an.

Saya pernah membantu keluarga-keluarga TKW. Ibu-ibu yang “super tega” meninggalkan anaknya bertahun-tahun. Ada sebagian anak yang “marah” lalu melakukan kenakalan bahkan kejahatan. Tapi ada sebagian yang “baik”, “hormat”, bahkan sangat sayang pada ibunya. Apa pembedanya? exception. Dan komunikasi. Bahwa pilihan ini, dengan tulus, adalah pilihan yang membawa resultan kebaikan yang lebih banyak dan lebih baik untuk keluarga kita.

33c1a94682502b1c77bab148ee4cf655Seorang wanita, ketika ia menjadi ibu, memang ia tidak lagi menjadi dirinya yang “original”. Bahasa ilmiahnya, “self”nya berubah. Seorang wanita, kalau ia menjadi seorang ibu, harus memikirkan, menghayati ulang keinginannya, cita-citanya, idealismenya, harapannya, impiannya.

Ada beragam jalan yang ditempuh. Ada yang tetap ingin mencapainya, ada yang menunda waktunya, ada yang memodifikasinya, ada yang menggantinya, ada yang melupakannya.

Penelitian tentang “self” terbaru menemukan, bahwa penghayatan tentang siapa diri kita, adalah hal yang kompleks. Kita adalah perempuan, anak, adik, kakak, istri, ibu, karyawan, muslimah, orang sunda, orang indonesia, direktur, penulis, artis, dokter, penjahit, mentri, dll dll…………. Nah…katanya kapasitas kita tidak memadai untuk mengaktifkan seluruh mode SELF kita dalam satu situasi. Maka, dalam situasi tertentu, kita hanya bisa mengaktifkan sebagian dari “self” kita dan akan mempengaruhi perilaku kita. Saat seorang wanita berhadapan dengan anak-anaknya, dan ia bisa berkomitmen mengaktifkan mode self “IBU” sebagai mode yang dominan, bukan mode self yang lain, maka dialah seorang ibu 

Apapun pilihannya, pilihan yang didasari oleh perenungan yang mendalam dan pemikiran yang matang, adalah pilihan yang akan membuat seorang ibu tegar berdiri dengan rendah hati. Pilihan yang didasari oleh keikhlasan dan penghayatan bahwa ini sajadah panjang yang ia pilih. Apapun pilihannya, ia akan melalui episode sulit dan  sedih, tapi ia tak akan cengeng.

 

 

 

 

 

Kisah Satu Jam Bersama Tim Hulk ;)

Siang itu, saya bersama seorang teman sedang di kampus Dago. Saya sedang semangat 45 mengerjakan tugas kuliah. Makan siang yang kami pesan sudah datang. Saat itu, kondisi saya gak seratus persen fit sih. Sejak Sabtu, badan saya anget semriwing-semriwing gitu. Plus tenggorokan sakit. Ah, mau ngedrop kali. Maka, hari Minggunya saya sengaja full istirahat di rumah.

Senin pagi ada kegiatan yang harus saya ikuti. Semriwing-semriwing udah mulai berkurang, tapi entah kenapa perut gak enak plus mual banget. Sampai-sampai akhirnya paginya saya beli obat maag. Gak pernah semual ini sih. Rahim juga agak kram. Biasa sih, kalau lagi nge drop, si IUD suka beraksi. Sebenernya setelah acara saya ingin langsung pulang. Kayaknya butuh istirahat lagi. Setelah istirahat, biasanya semua keluhan berkurang. Tapi ada rapat jam 15. Ya udah sambil munggu rapat, sambil saya kerjain PR.

Tiba-tiba…ada sakit yang menjalar dari perut bawah, ke atas, dan memuncak di sebelah kanan. Sakiiiit banget. Menyebar, lalu meningkat intensitasnya…cenut-cenut hebat di kanan atas….perut rasanya mau pecah. Kayak bukaan 10 melahirkan gituh. Waduh…langsung saya telpon sopir. Saya minta jemput saya pake mobil. 1,5 jam menunggu sopir, badan saya meriang, keringet dingin, pengen muntah…aduuuh….tiap 10 menit sekali telpon sopir saya. “Pak udah sampe mana? cepet ya….” .

Saya putuskan mampir di IGD Hermina. Jam 14 saat itu, saya masuk sendiri bawa ransel yang setia menemani hari-hari aktifitas saya (haha…lebay)

Saya telpon si abah, mengabarkan saya di IGD. Cek lab….Kadar leukosit menunjukkan ada infeksi akut. Sore, si abah datang. Dokter bedah datang. Dokter bedah? “Bu, kalau dari gejala dan hasil lab, sepertinya sih radang di usus buntu. Dan kalau radang di usus buntu, obatnya satu…operasi…kita operasi besok ya, jam 8” . Demikian kata si dokter.

Untuk memastikan, dilakukan serangkaian test lagi. Mengingat sakit di “daerah” itu, bisa usus buntu, bisa masalah kandung kemih, bisa masalah kehamilan. Jujur ya, yang paling degdegan waktu test kehamilan dong….Hiks…hamil, adalah kondisi yang sedang tidak saya harapkan saat ini. Alhamdulillah setelah di periksa sama dokter SpOG, si dokter ramah itu bilang “Ibu, kondisi rahim dan alat kontrasepsi ibu baik, tidak ada masalah dalam organ reproduksi, saya setuju dengan diagnosa sejawat saya, tampaknya masalah ibu di usus buntu”. 

Baiklah. Operasi. Besok. Di tengah-tengah semangat dan target aktifitas yang tengah dihadapi. Baiklah. Kita jalani saja episodenya. Sempet nangis? sempet dooong…biar sehat mental haha… nangis waktu ngontak anak-anak. Si gadis kecil yang mengangkat telpon bertanya: “Ibu kenapa udah sore ibu belum pulang? Kan kita mau belajar buat UTS”. Nangis lagi waktu si bujang kecil merebut telpon dan bertanya: “operasi? usus buntu? serius bu? “.

Karena anak-anak sedang UTS dan mamah dari Purwakarta baru bisa datang besok, maka malam itu, si abah saya minta pulang. Nemenin anak-anak belajar. “Tapi setengah tujuh harus udah disini ya bah…aku takut masuk ruang operasi”.

Meskipun teman saya yang dokter bedah menjelaskan panjang lebar di wa bahwa operasi usus buntu itu sudah “biasa”, resikonya kecil, tenang aja, dll….tapi pada akhirnya kita sepakat bahwa siapapun yang akan masuk ruang operasi, pasti merasa takut. Apalagi sebulan lalu, ada rekan saya yang wafat pasca operasi, karena tekanan darah yang naik. Konon ia stress banget menjelang masuk ruang operasi. Hhhmmm…tak ada alternatif lain selain TRUST pada para dokter dan perawat, YAKIN dan PASRAH pada skenarioNya. Bahwa mungkin saya tak hidup lagi setelah keluar ruang operasi…terpikir doong. Makanya malam itu, sambil memandang kerlip cahaya lampu kota dari jendela kamar saya, sambil beristighfar dan bersyahadat, saya berusaha mengevaluasi kehidupan saya. Tenangkah meninggalkan mas, anak-anak? ada yang dikhawatirkan kah? Gimana kewajiban-kewajiban lain ? a

Paginya…serangkaian prosedur lagi….lalu dilepas si abah masuk ruang operasi. Owh….ngalamin juga berada di ruang operasi. Ruang yang sama dengan ruang saat si bujang kecil dioperasi fimosis-sunat 6 tahun lalu. Ada 6 orang pasukan Hulk-pasukan berseragam hijau. Si dokter bedah ramah yang humoris dan easy going, sudah ada di sana. Saya liat jam. 8.20. Terbersit itu adalah hal terakhir yang bisa saya lihat di dunia ini, saat dokter anestesi yang sigap berkata pada saya: “kita mulai ya bu”, lalu memberikan masker bius. Saya pikir saya akan tidur perlahan. Ternyata tidak. Seluruh tubuh saya merasakan anestesinya bekerja. Saya bersyahadat dan…

Saat saya membuka mata, saya jam menunjukkan 9.40. Operasinya pasti sudah selesai. Saya didorong ke ruang pemulihan. Si abah sudah menunggu di sana. Di ruang pemulihan, saya sampai jam setengah 2. Dua orang yang bersama saya, adalah para ibu yang habis melahirkan sesar.

Saya sudah tau dari beberapa teman yang sesar, bahwa “musuh”nya abis operasi itu adalah batuk dan ketawa. Nah…di ruang pemulihan itu, ada satu kejadian yang bikin saya ketawa lalu meringis karena lukanya jadi kerasa. Ada seorang ibu yang melahirkan sesar, suaminya yang bule baru datang. Begitu melihat bayinya, si bule itu terkaget-kaget dan berseru: “wow bule bangget euy” haha… Tapi itu tak seberapa. Yang paling bikin sakit adalah saat kemarin, saya sudah dinyatakan boleh pulang, infus udah dibuka, saat saya mau ke kamar mandi, si abah memapah saya sambil…..bawa2 tiang infus yang tak terhubung apa-apa lagi dengan saya…haha…bodor banget. Tiap inget itu masih pengen ketawa ….

Sampai seminggu ke depan, dokter meminta saya tidak beraktifitas ke luar rumah dulu untuk memulihkan luka fisik. Banyak kegiatan yang ter-cancel. Ada beberapa keinginan yang tak bisa terpenuhi. Ada beberapa target yang tak mungkin tercapai jadinya.

Saya jadi ingat…paper yang sedang saya baca ketika tiba-tiba sakit hebat menyerang perut adalah paper tentang happiness vs meaningfulness. Senada dan menguatkan konsep hedonic well being vs eudaimonic well being di tulisan saya sebelumnya  https://fitriariyanti.com/2016/09/14/merenungi-makna-kehidupan-yang-baik-catatan-kecil-tentang-well-being/

Di usia 37 tahun ini, saya semakin banyak melihat bahwa … menetapkan keinginan, lalu mengevaluasi apakah tercapai atau tidak-sebagai acuan menilai kebahagiaan hidup kita, bukanlah cara yang tepat. Dulu saya selalu kagum pada orang-orang yang berhasil mencapai keinginannya. Tapi kini, saya jauh lebih terpesona, pada orang-orang yang bisa bangkit kembali, setelah menghadapi situasi yang tak sesuai harapannya. Ibu yang ditinggal wafat anak kesayangannya, pebisnis yang ditipu kliennya, suami yang disakiti istrinya, mahasiswa yang gagal kuliahnya, atlit yang mengalami kecelakaan, namun mereka bisa bangkit lagi berdiri.

Ada banyak, sangat banyak ketidaksesuaian yang Allah terjadi-kan dalam kehiduan kita. Karena faktanya, Dia Sang Maha, bukanlah Dzat yang memanja-kan kita dengan memberikan semua yang kita mau. Ia, adalah Sang Maha Pemelihara. Ya, ia menciptakan kesedihan, kesakitan, kekecewaan, kepedihan… Namun seiring dengan itu, Ia pun menciptakan rasa dan pikir yang membuat kita selalu  bisa melihat kebaikan di balik episode kehidupa yang tak sesuai harapan kita.

bungaKesungguhan dan profesionalitas para dokter bedah, dokter SpOG, dokter penyakit dalam, dokter anestesi yang begitu menenangkan saya, keramahan para perawat, binar mata para ibu dengan luka di perut itu saat menggendong bayi mereka, rasa syukur karena ada mama dan papa yang selalu sigap datang kapanpun saya membutuhkan, “kedewasaan” si bujang kecil membuatkan soal-soal matematika buat latihan belajar si gadis kecil, suapan lembut si sulung kala menyuapi saya, 100 persen rasa aman dan nyaman yang saya dapatkan dari si abah, ketelatenan dan kesabaran si abah menemani saya, bantuan tulus dari sopir saya, adik-adik saya, doa dan perhatian dari teman-teman…. hal itu menciptakan gelombang kebahagiaan yang sifatnya lebih ….deep impact. 

Saat ini, memang hidup saya tidak “hepi”. Keinginan saya sehat wal afiat tidak tercapai. Tapi episode ini memberikan makna dalam hidup saya. Bahwa ada suatu masa dimana saya merasa takut, merasa tak berdaya, dan ada banyak kebaikan dan ketulusan yang Sang Maha tunjukkan.

Episode-episode kehidupan seperti ini, jauh lebih bermakna dibandingkan sebuah momen ketercapaian keinginan dan harapan. Momen-moment seperti ini, adalah moment-moment yang menguatkan. Moment-moment yang kalau ditranformasi dalam bentuk suara, ia akan menjelma menjadi sebuah bisikan: “sesakit apapun episode yang harus kau lalui, you’ll be oke. Menangislah. Merasa perih lah. But. you’ll be ok”. 

Episode-episode kehidupan seperti ini, mudah-mudahan akan membuat kita siap menghadapi ketercapaian harapan kita dengan sepenuh rasa bahagia, namun di sisi lain, tak membuat kita cengeng, membuat kita menjadi tak takut lagi, saat kenyataan tak sesuai dengan harapan.

Semangat !!!!

 

 

 

 

 

Merenungi makna kehidupan yang baik; catatan kecil tentang well being

Temans, kalau kita bertemu seseorang, sangat lazim kita bertanya atau ditanya: “Apa kabar?” dan kita mendapatkan jawaban atau menjawab “baik”.

note_2933Nah temans, pernahkah kita merenungi, apa makna “baik” itu? apakah kehidupan yang kita jalani benar kita rasakan “baik”? kapan kita merasa hidup kita “baik-baik saja” ? kapan kita merasa hidup kita “tidak baik-baik saja”? Lalu, apa makna kehidupan yang baik itu?

Konon katanya, kalau kita sudah tua, kita akan mengevaluasi hidup kita dengan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Nah, gapapa kita belum tua juga bertanya tentang itu yuks…biar gak telat hehe…

Tulisan di bawah ini mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.  Etapi, sebelum baca tulisan ini, coba masing-masing renungkan pertanyaan di atas, dan coba buat jawabannya masing-masing. Engga apa-apa sih, kalau gak melakukan proses itu juga. Tapiii…dijamin kurang seru nanti baca tulisan di bawah ini …ciyus….jadi gak ada unsur refleksinya gitu hehe…”.

“Good life”; atau kehidupan yang baik, telah menjadi bahan pemikiran sejak ribuan tahun lalu. Adalah Om Aristippus (haha…panggil Om…sok kenal ), seorang filsuf Yunani dari abad ke 4 sebelum masehi, mencoba merumuskan apa yang menjadi tujuan kehidupan. Menurut beliau, tujuan kehidupan ini adalah mengalami kesenangan yang semaksimal mungkin (kemal; bukan kepo maksimal. Tapi kesenangan maksimal kkk). Maka, saat semua keinginan kita terpenuhi, saat itulah kita mengalami kehidupan yang baik. Saat kita terhindar dari ketidaknyamanan, saat itulah kita bahagia. Pandangan Om Aristippus ini menjadi falsafah bagi penelitian-penelitian well being (kesejahteraan) yang sifatnya subjektif atau dikenal dengan SWB, subjective well being. Tokoh yang paling moncer dalam SWB ini adalah Diener, yang merumuskan kesejahteraan = kebahagiaan = perasaan puas terhadap kehidupan + dirasakannya mood positif + tidak adanya mood negatif. Aliran ini disebut aliran “hedonis” . Tapi kata “hedonis” ini beda banget loh ya…sama kata “hedonis” atau “hedon” yang kita kenal dan rasa bahasanya negatif. Tokoh lain menamakan teori-teori kesejahteraan psikologis dalam kelompok ini sebagai teori mental state.

Nah, sampai sini ….cung dulu yang masuk kelompok Om Aristippus… yang merasa bahagia kalau keinginan kita terpenuhi. Ingin punya pasangan yang romantis, terkabul. Bahagia. Ingin punya anak yang gak rewelan, tercapai…bahagia. Pengen pesbukan tapi batre hape drop, merasa gak bahagia? …

Om Plato, pada kenal doooong….rupanya tidak sependapat dengan om Aristippus. Ia memiliki pandangan yang berbeda mengenai makna “good life”. Menurut beliau, sejahtera,  tak hanya perasaan bahagia. Namun lebih dari itu. “Good life” tak hanya apabila keinginan kita terpenuhi. Namun lebih dari itu, yaitu saat kita menemukan “true daimon” kita, saat kita menemukan “nilai-nilai yang mendasar dalam diri kita”. Oleh karena itu, “madzhab” ini disebut madzhab eudaimonic. Penelitian yang berlandaskan falsafah ini dimotori oleh om Ryff & Singer, yang dikenal dengan istilah PWB atau Psychological Well Being. Tokoh lain menamakan teori-teori kesejahteraan psikologis dalam kelompok ini sebagai teori desired based.

Nah, mana yang benar? ah, tulisan ini tak bermaksud menganalisa mana yang benar mana yang salah. Tulisan ini lebih ditujukan bagi kita untuk berefleksi.

Buat kita para emak, refleksi ini bisa dilanjutkan dengan merenungi: “good life” seperti apa yang kita inginkan dijalani oleh anak kita? apakah good life versi hedonic? atau good life versi eudaimonic? atau gabungan keduanya? atau bukan keduanya? pertanyaan ini harus kita jawab dulu, sebelum kemudian kita bertanya pada diri kita; sikap dan perilaku pengasuhan seperti apa yang perlu kita jalankan agar anak-anak kita bisa menjalani “good life” dalam kehidupannya. Kalau kita tak merenungi dulu hal ini, jangan-jangan selama ini kita berjalan tak tahu arah.

Selamat merenung, semoga bermanfaat 😉

Sumber bacaan:

Raghavan, R., & Alexandrova, A. (2014). Towards a Theory of Child Wellbeing. Social Indicators Research, 121 887-902

R. M. Ryan and E. D. Deci, ‘On Happiness and Human Potentials: A Review of Research on Hedonic and Eudaimonic Well-being’, Annual Review of Psychology, 2001, 52, 141–66.

 

Sumber gambar:

http://www.visualreads.com/post/latest.cfm?category=0&page=294

 

 

 

 

 

 

 

Mengapa anak harus dibuat “senang?” dan “manja”?

Ada minus plus jika kita punya teman yang amat beragam dalam hal nilai kehidupan yang dipegangnya.  Buat saya sendiri, minusnya adalah bahwa kita sering “terbentur-bentur”; mendapatkan informasi, opini dan sikap  yang super ekstrim, yang membuat kita menjadi terus mengevaluasi nilai kita sendiri. Plusnya apa? Plusnya adalah, cakrawala wawasan kita jadi luas, dan kita selalu dalam posisi “bergerak” untuk mencari gimana yang “pas” dan “yang paling benar” menurut kita.

Ya, saya punya teman yang amat beragam. Sebenarnya tak cukup  menggambarkan keberagamannya melalui  satu garis linear saja. Tapi okelah, untuk sederhananya, kita gambarkan dalam satu garis linear.

Saya punya teman beragam, dari yang menganggap selain ustadznya dia adalah salah, sampai dengan teman yang menggap semua agama, termasuk tak beragama adalah “sama”. Saya punya teman beragam, dari yang sangat serius menekuni ilmu kedokteran sampai ia menganggap hasil riset  itu di atas agama, sampai dengan teman yang menganggap bahwa memvaksin anak itu sama dengan mendahului takdir Allah. Saya punya teman dari yang berpendapat bahwa anak itu harus diberikan batasan seketat-ketatnya, sampai dengan teman yang berpendapat bahwa anak itu harus diberikan kebebasan sebebas-bebasnya. Dan, beragam teman yang berbeda kutub secara ekstrim dalam beragam dimensi kehidupan lainnya.

Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah, dua titik ekstrim mengenai pendidikan anak.

Salah satu isue dalam dalam psikologi pendidikan dan pengasuhan adalah, bagaimana orangtua/guru perlu memahami dan  “mempertimbangkan” karakteristik perkembangan anak. Dalam buku-buku introduction to Educational Psychology, dalam bagan yang menjelaskan bagaimana aplikasi psikologi dalam bidang pendidikan, selalu akan ditemui “learner characteristics”. Bahwa guru, harus memahami karakteristik anak. Maka, muncullah beragam macam metode yang akarnya berawal dari sudut pandang ini. Beragam macam metode.  Tujuannya adalah, agar anak “senang” dan “menikmati” proses belajar. Asumsinya adalah, jika anak “senang” dan “menikmati”, maka apa yang diajarkan akan “nempel”. Baik itu berupa pengetahuan, pemahaman, sikap maupun keterampilan.

Selama ini, saya berada di arus ini.

Lalu beberapa waktu yang lalu, seorang teman menyampaikan sebuah pernyataan yang “mengobrak-abrik” apa yang sudah ada di kepala saya. Menurut teman saya itu, arus pendidikan saat ini, membuat anak-anak menjadi “manja”. Anak “dimanjakan” dengan beragam metoda pembelajaran yang menyenangkan. Tak ada hukuman yang “membuat jera”. Padahal kalau liat jaman dulu, orang-orang “besar” itu belajr tidak dengan cara yang menyenangkan. Menurut teman saya, justru anak-anak ini harus dibuat “bosan”. Biar “ambang kebosanan” mereka jadi tinggi. Tidak selalu menunutut orangtua atau guru untuk mencari 1001  cara agar mereka senang belajar. Lalu ia menunjukkan sebuah share-an berita yang menjelaskan adanya sebuah sekolah yang menganut madzhab “anak jangan dibuat manja”.

Hmmm….bener juga ya…bener kan teman-teman? gimana menurut teman-teman? Argumennya terasa benar…tapi …jujur saja, sulit bagi saya menerimanya. Dari pernyataan teman saya tadi jadi muncul pertanyaan: kenapa sih anak harus dibuat senang dengan kegiatannya? bukankah itu membuat mereka menjadi manja? Kenapa tidak kita “paksa” anak kita untuk mengikuti kegiatan itu?

Saya terus berusaha cari jawabannya, dan hari ini saya dapat jawabannya.

Begini temans….kalau kita renungi…apa sih yang sebenarnya kita harapkan dari anak kita? bahasa agamanya bahagia dunia akhirat. Bahasa psikologinya, well being. Sejahtera. Lagi ngehits nih penelitian children well being di Indonesia. Secara sederhana orang yang well being atau sejahtera bisa diartikan bahagia dan puas dengan kehidupannya, implisit di dalamnya bahwa mereka mampu memenuhi berbagai tuntutan kehidupan sesuai dengan perkembangannya, dengan baik.

36348017-media_httpwwwfuturity_ACizpNah, dalam bahasa well being pada anak, ada satu istilah yang membuat saya kesengsem, yaitu istilah well-becoming. Ada dimensi waktu saat kita membahas kesejahteraan anak. Bahwa mereka, tak hanya harus kita bantu untuk sejahtera saat ini. Tapi sejahtera dalam kehidupannya mendatang. Kalau dalam pandangan psikologi, kehidupan mendatang adalah selama anak hidup.  Dalam sudut pandang agama, sampai pada rentang kehidupan setelah kematian.

Maka, dalam beragam tataran praktisnya, apapun yang kita lakukan pada anak,  selain kita harap bisa melihat dampak positifnya pada saat ini, kita juga harus meninggalkan “jejak” dalam dirinya, yang bisa membuat dampak positif untuk masa yang akan datang. Kita tak tahu apa yang akan dihadapi anak di masa yang akan datang. Tapi ada bekal mendasar yang harus kita pastikan mengakar dalam diri mereka. 

Kembali lagi pada kasus pembelajaran tadi….kenapa kita harus berupaya mempelajari ini itu, menggunakan metoda ini itu untuk anak? untuk apa effort sebesar itu? apa “imbalan” ya ng kita dapat? Jawabannya adalah…karena tujuan kita bukan hanya agar anak duduk diam mendengarkan. Bukan hanya agar anak memahami pelajaran itu. Bukan hanya agar anak menguasai apa yang kita ajarkan. Tapi lebih jauh dari itu, agar anak tumbuh motivasi intrinsiknya untuk balajar.

Mengapa harus ada beragam riset untuk menemukan metoda menghafal AlQuran? itu membuat anak manja. Kita “paksa” aja anak dengan metoda konvensional…..Jawabannya adalah….Karena tujuan kita bukan hanya anak hafal pada saat pendidikan. Tapi kita ingin meninggalkan jajak, bahwa menghafal alQur’an itu menyenangkan. Kita ingin ada dorongan yang mengakar dalam diri anak untuk menghafal al quran. Karena kita ingin  memastikan bahwa tanpa kehadiran kita, anak akan terus menghafal al qur an. Sepanjang hidupnya.

Mengapa harus ada berbagai penelitian untuk menemukan metoda belajar matematika agar menyenangkan? bukankah itu membuat anak kita manja? Kta “paksa” aja anak dengan metoda konvensional…… Jawabannya adalah …..Karena tujuan kita bukan hanya anak mengerti dan mendapat nilai baik. Tapi kita ingin meninggalkan jejak yang mengakar, bahwa belajar matematika  itu menyenangkan. Bahwa sesuatu yang sulit itu bisa ditaklukkan.  Karena kita ingin memastikan,   bahwa tanpa kehadiran kita, anak punya dorongan yang mengakar untuk belajar. Sepanjang hiupnya.

Kita tentu sudah banyak mendengar bagaimana ada sejumlah anak yang “baik” saat ada di lingkungan yang baik, namun lingkungan baik itu tak berjejak pada dirinya saat ia tak ada di lingkungan baik tersebut. Kita juga sudah banyak mendengar anak yang baik saat didampingi oleh orangtua yang baik, namun jejak kebaikan orangtuanya tak mengakar dalam dirinya.

Saya pernah bertanya pada diri saya sendiri; mengapa Allah menciptakan manusia dalam tahapan2: bayi, anak, remaja, dewasa. Waktu itu saya tanyakan pada anak saya, dia jawab; “ya ampun, ibu….gimana ngelahirinnya kalau langsung gede”. Bener juga ya…tapi kenapa Allah tidak menciptakan fisiknya aja yang bertahap-bayi, anak, remaja, dewasa” tapi secara psikologis udah langsung dewasa gitu? Kenapa coba? Yang ini saya belum punya jawaban yang “clear”, Masih mencari.

Tapi yag jelas, bayi, anak …itu akan tumbuh menjadi seseorang yang dewasa. Kalau kita percaya bahwa sebagai orangtua kita memiliki kewajiban untuk memberikan “bekal” pada anak-anak kita, maka kita harus bekalkan sesuatu yang akan abadi ada dalam diri anak kita, tanpa kita harus hadir bersama mereka.

Sebut beragam istilah. Tapi saat ini, saya mendekatinya dengan istilah motivasi instrinsik. Dorongan yang muncul dari dalam dirinya untuk melakukan sesuatu. Sesuatu itu; adalah nilai-nilai yang ingin kita tanamkan. Ritual ibadah. Belajar. Menaklukkan tantangan.

Dan konon, dorongan dari dalam diri itu, hanya akan tumbuh jika anak merasa : (1) memiliki “kendali” terhadap dirinya, tidak “dikendalikan” oleh orang lain. (2) merasa kompeten, “aku bisa”. (3) merasa terhubung dengan orang lain. Dengan orangtuanya, dengan gurunya.

Dan ketiga hal tadi, akan terasa oleh anak, jika kita mengupayakan sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi anak. Pengalaman yang memberikan jejak kesenangan dan ketertarikan, meskipun apa yang dialami tidak selalu hal yang mereka sukai dan mereka minati.

Wallahu alam