We need you dad ….

Salah seorang mahasiswa bimbingan skripsi saya, Divo, melakukan penelitian mengenai peran ayah pada  remaja awal, usia 12-14 tahun. Penelitian ini didasari studi literatur yang menunjukkan bahwa penelitian mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, lebih banyak dilakukan pada anak usia dini sampai usia pra remaja. Di sisi lain, usia remaja awal merupakan usia yang “khas” dengan isu perpindahan “dunia” dari “dunia keluarga” menjadi “dunia teman”. Melalui penelitian ini, ingin diketahui 2 hal; (1) bagaimana persepsi remaja awal mengenai pentingnya peran ayah dalam kehidupannya? (2) bentuk perilaku ayah yang bagaimana yang dirasa bermakna bagi remaja awal?

Penelitian kualitatif menggunakan teknik wawancara mendalam (depth interview) dilakukan pada 102 remaja awal usia 12-14 tahun, baik laki-laki maupun perempuan dalam dua bulan terakhir ini. Hasil wawancara dicatat secara verbatim, lalu dicoding melalui beberapa tahap analisis. Singkat kata singkat cerita, hasilnya menunjukkan bahwa remaja awal, merasakan bahwa mereka masih sangat membutuhkan keterlibatan ayah dalam kehidupan mereka, baik keterlibatan yang sifatnya kehangatan, support material maupun kontrol. Mengapa? secara umum jawaban-jawabannya mengelompok menjadi nada-nada kasih sayang (misal: seneng deket sama ayah), nada-nada kompetensi (misal: ayah tahu mana yang lebih baik), dan yang secara pribadi menarik buat saya adalah, jawaban-jawaban bahwa ayah yang terlibat dalam kehidupan mereka merupakan “standar keluarga yang baik”. Jujur saja, entah mengapa saya merasa…terharu gitu dengan jawaban anak-anak remaja yang ini.

Salah satu temuan  menarik untuk menjawab pertanyaan penelitian yang kedua adalah, bentuk perilaku ayah yang dirasa bermakna adalah aktifitas bersama dalam kegiatan keseharian dan kumpul keluarga. Ini muncul dalam dimensi-dimensi yang terkait dengan kehangatan dan kasih sayang. Sedangkan dalam dimensi yang terkait dengan kontrol dan support material, tema sekolah mendominasi. Yang menarik,  mereka juga menyatakan bahwa saat ayah  memberikan support material tanpa diminta (misal membelikan sepatu yang sudah rusak, buku pengayaan yang mereka butuhkan), itu mereka rasakan sebagai perilaku yang bermakna. Kaitannya kayaknya dengan rasa “diperhatikan” ya…

Dalam tataran pemikiran, penelitian ini adalah satu dari sekian banyak penelitian mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, yang memperkuat penelitian-penelitian sebelumnya. Ini hanya salah satu bukti empiris-akademis,  memperkuat saya untuk semakin  tegas menyuarakan ketidaksetujuan  pribadi terhadap pembagian tugas hitam-putih; ayah cari nafkah-ibu ngurus anak.

Dalam literatur-literatur mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, kesediaan ayah untuk dengan sengaja meluangkan waktu, tenaga dan pikiran bagi anak-anaknya, digambarkan memiliki 2 panah dampak positif. (1) pengaruh langsung pada anak; seperti dalam penelitian mahasiswa saya di atas, (2) pengaruh tidak langsung melalui ibu. Ayah yang terlibat dalam pengasuhan anak, akan membuat ibu merasa didukung. Dan sudah bukan rahasia lagi bahwa bagi seorang ibu, seorang wanita, dukungan psikologis itu sudah cukup untuk menghasilkan energi tak terhingga -yang kadang tak masuk akal- untuk menghadapi seluruh kebutuhan anak-anaknya; fisik-kognitif-emosi-sosial-spiritual.

Sebenarnya, saya curiga sih….keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak ini punya satu panah lagi. Yang belum banyak diteliti. Yaitu…bagi ayah itu sendiri. Sering saya melihat, ayah-ayah yang begitu enjoy main dengan anak-anaknya. Di lapangan mesjid telkom setiap ahad jam 8-10.30, saat pengajian Percikan Iman,  saya banyak dan sering menyaksikan ayah-ayah yang begitu enjoy main bola, main gelembung sama anak-anaknya. Tertawa bersama, menikmati bersama permainan-permainan itu. Demikian pula di tempat-tempat umum lainnya. Saya berpikir, mungkin bagi para ayah yang bergelut dengan “dunia maskulin yang keras”, bermain tanpa melibatkan kognisi  itu, adalah refreshing banget. Bahkan ada seorang ayah yang bilang bahwa kalau dia ada kerjaan lebih dari dua hari di luar kota, dia jadi gak produktif. Stress. Makanya dia selalu nyempetin pulang buat liat dan ketemu anak-anaknya. Itu sih ayahnya anak-anak saya haha…(ssst….sebenernya kayaknya kangen sama ibunya juga sih, cuman gengsi mengakuinya … kkkk).

Kalau saat anak kecil, kebayang lah bagaimana bentuk dukungan dan keterlibatan ayah pada anak. Ngajak main. Bentuk dukungan pada ibu: bantuin pegang anak-anak saat ibu riweuh ngurus ini-itu yang lain. Dalam beberapa tulisan saya di folder “father involvement”, sudah banyak saya menuliskan hal tersebut.

Bagaimana kontribusi langsung ayah pada tumbuh kembang remaja awal? Penelitian Divo di atas sudah menjawabnya. Nah…dua minggu lalu dan minggu, saya punya pengalaman yang membuat saya menghayati bagaimana ibu juga sangat  membutuhkan ayah dalam menghadapi anak remaja.

Salah satu “isu” antara saya dan si sulung kelas 1 SMP adalah soal penampilan. Kami  selalu mengingatkan dia untuk memperhatikan pakaiannya. Kenapa? karena bentuk tubuhnya sekarang sedang “mekar-mekarnya” ibarat bunga mah. Jadilah kami polisi fashion. Kalau pake celana panjang, kaosnya yang panjang juga. Kerudung harus diurai, biar dadanya ketutup. Pilih kerudung yang gak tipis….. Namanya anak remaja ya….meskipun Azka anak yang “baik” dan sekolahnya juga cukup ketat soal pakaian, tetep we….ada eksplorasinya. Ngumpet2 pake jins yang ketat meskipun udah dibikinin celana  jeans yang agak longgar. Kerudung, harus selalu diingetin untuk dijulurkan ke dada.

Nah dua minggu lalu, saya liat dia kok gak pake daleman kerudung (selanjutnya akan disebut ciput kkkk). Ya jelaslah rambutnya keliatan melalui kerudungnya yang transparan. Waktu itu, kami pergi sekeluarga untuk makan. Ya jelaslah, saya tegur soal ia tidak memakai ciput. Tentu dengan nada kesal, karena saya inget banget, saya sering belikan dia ciput, bros dan segala perlengkapan kerudung. Sering banget malah. Bla…bla..bla…..Di luar dugaan, ternyata reaksinya tidak hanya cemberut, tapi dia menangis sesenggukan. Berlanjut sampai di tempat makan. Sesenggukan.

Si abah lalu bertanya kenapa…saya jelaskanlah kekesalan saya. “Caranya de, caranya…. dirimu bener, maksudnya baik….tapi caranya…”. Gitu kata si abah. “Ade udah pelan-pelan bah caranya….ade tadi tanya, kenapa kakak gak pake ciput..ibu kan udah sering beliin….bla..bla..bla..” saya berusaha menjelaskan bahwa saya mengingatkan Azka dengan cara yang “lemah lembut dan pelan-pelan”. Kkkkk…sebenarnya anak TK juga akan tahu bahwa jelas-jelas saya “mengomeli”, bukan “mengingatkan”. Tau gak…saat itu ya, saya tiba-tiba ingat ada istilah yang mengatakan “boy will be boy”. Ungkapan itu sering dikatakan sebagai kelakar bahwa buat seorang wanita, jumlah anaknya adalah plus , yaitu suaminya. Untuk menunjukkan bahwa suami sering berperilaku kekanak-kanankan. Nah, saat itu saya berpikir kayaknya situasi yang menggambarkan yang sedang saya alami adalah “girl will be girl” kkkk…saya bayangkan si abah  sedang menghadapi dua anak perempuannya yang sedang berantem haha…. Akhirnya, sudah bisa ditebak. Si abah mendekati si sulung, meredakan tangisnya. Saya amat mengandalkan si abah memang dalam kondisi sedang tidak waras seperti ini. Sering saya curhat sesuatu dengan diawali ….“Bah, tolong bilang ke Azka….bla..bla..bla..”. Dan saya percaya sekali  mas bisa menjadi “jembatan” penghubung saya dan Azka saat salah satu atau kami berdua sedang dikuasai emosi negatif.

Seminggu lalu, ada pengalaman lain. Kami mendaftarkan Azka ke sebuah tempat les bahasa inggris terpercaya. Kami sepakat bahwa sudah saatnya Azka mendapatkan stimulasi bahasa Inggris yang advance. Tapi sepanjang placement test dan proses registrasi, saya melihat Azak kurang semangat. Tapi saya  abaikan, bertekad untuk tetap mendaftarkannya. Si abah juga mendukung. Hari ahad lalu, sepulang menjemput Azka dari acara di sekolahnya, si abah bilang: “De, aku tadi ngobrol sama Azka, katanya dia gak mau les bahasa Inggris. Dia pengen weekend itu bener-bener istirahat. Dia bilang, dia merasa cukup dengan 3 sesi pelajaran bahasa Inggris tiap minggu di sekolahnya. Kan ada writing, listening, speaking. Pake native speaker lagi. Jadi menurutku ga usah aja”.

Setelah makan malam, waktu saya lagi beberes dapur dan Azka mencuci piring, saya tanya; “Gimana, Kaka teh jadi mau les Inggris engga? kok Ibu liat Kaka kurang semangat”. Karena lagi waras, saya berkata dengan lebut dan pelan. Dia menjawab pelan “gimana ibu aja”. Waktu saya bilang oke dia gak usah les karena pertimbangan yang disampaikan si abah pada saya, “Yess…“katanya….dan dia pun dengan riang cerita ini-itu tentang teman-temannya di sekolah.

Temans…tahukah….keterbukaan anak itu, amat mahal. Apalagi anak remaja. Beberapa kali  saya temui orangtu yang bingung …kenapa anaknya putus kuliah padahal dulu bilangnya mau, kenapa anaknya males ini-itu padahal gak nolak….Saya menghayati….seperti ketidakterbukaan Azka terhadap saya itu-lah prosesnya. Anak yang sudah besar, biasanya bisa menangkap harapan orangtua padanya. Saya menduga, Azka menangkap bahwa saya punya harapan besar padanya. Saya sering bilang bagaimana kesempatan yang bisa diraih teman-teman saya yang Bahasa Inggrsinya advance, saya juga suka bilang betapa beratnya saat saya harus menulis dalam bahasa Inggris, karena bahasa Inggris saya yang pas-pasan. Meskipun saya “tidak memaksa”, namun perasaan “engga tega” “tidak ingin mengecewakan orangtua” itu lah yang tampaknya justru menjadi benteng psikologis yang membuat Azka tak mau terbuka pada saya. Dan di saat-saat seperti itulah, saya perlu si abah. Di saat-saat itulah seorang ibu butuh suaminya,  sebagai seorang ayah.

Dalam praktek, sudah lama saya meyakini bahwa ayah, bukanlah “figur pelengkap penderita” dalam persoalan tumbuh kembang anak. Terutama untuk kasus-kasus yang “berat”; seperti ketergantungan anak pada sesuatu, anak terancam DO, hamil atau menghamili; saya melihat ayah sangat potensial untuk maju ke garda depan mendampingi anak melalui hari-hari sulitnya. Konon katanya, ibu kan lebih emosional. Sedih, biasanya saat menghadapi masalah anak.  Nah, anak…biasanya sangat sulit menghadapi kesedihan ibu. Airmata ibu. Beban masalahnya dihayati bertambah oleh anak saat harus menghadapi air mata dan wajah sedih ibu.

Dalam kultur Indonesia, “membahagiakan orangtua” adalah sebuah nilai yang begitu berharga. Indikator  keberhasilan. Oleh karena itu, “mengecewakan orangtua” adalah hal yang akan dimaknai sebagai suatu kegagalan. Suatu hal yang buruk. Nah, saat itulah…seorang ayah yang lebih rasional, biasanya menjadi potensi yang bisa dimanfaatkan. Ibu, back off dulu….Ayah dulu yang maju. Nah, kalau ayah tak punya hubungan emosional sama anak, “lepas”lah anak atau remaja  itu dari keluarga. Kalau anak atau remaja udah “lepas” dari keluarga, lebih sulit mencari figur yang menjadi “significant other” bagi anak dan remaja.

Ibu, bukanlah manusia sempurna. Menurut saya, amanah menjadi “madrasah utama dan pertama bagi anak” tak harus membentengi ibu dari objektifitas bahwa dirinya tak sempurna. Bahwa ada keterbatasan yang dimiliki ibu. Ada karakteristik khas dari ibu. Mungkin kita sebagai ibu adalah seorang yang terlalu lebay, terlalu high achiever, atau terlalu pencemas,  …. terlalu “terikat” sama anak-anak kita, dan terlalu-terlalu lainnya. Sehingga di saat itulah, kita butuh sosok yang bisa menjadi penyeimbang. Ayah.

Jadi, kesimpulan dari paparan panjang kali ini adalah:

cowgirl-border-We Need You(1) Ayah, sangat bermakna bagi kehidupan anak. Anak membutuhkan ayah,  di tahap perkembangan apapun. Hanya berbeda bentuknya.

(2) Ayah, sangat bermakna bagi ibu. Istri membutuhkan suamianya dalam konteks mengasuh anak, di tahap perkembangan apapun anaknya. Hanya berbeda bentuknya.

Abstraksi dari dua point di atas adalah,

we need you…. dad, abi, ayah, abah, papa, papi, bapak….

your daughter, your son, your wife  really need you….

sumber gambar : http://www.timbertrailparents.org/cms/NewsDetail.aspx?id=1190

Tulisan seorang remaja tentang ayahnya

Seorang ibu membaca tulisan anak remajanya  tentang ayahnya.

Si remaja menulis  : “……Aku belajar tentang Al Quran darinya. Darinya aku mengerti bahwa Islam ini sangat berharga dan benar-benar agama yang layak untuk dipilih. …. Ia juga yang mengajariku untuk menjadi orang yang bermanfaat. Cita-cita bersama abahku saat besar adalah membuka rumah sakit gratis bagi orang yang tidak mampu …..”

Rangkaian kalimat itu, membuat si ibu berkaca-kaca. Terutama rangkaian kalimat: “Bahwa Islam adalah benar-benar agama yang layak untuk dipilih”. Itu bukan kalimat normatif yang sering ditemui. Semoga itu kalimat yang keluar dari lubuk hati terdalam si remaja.

Si ibu juga berkaca-kaca menghayati dalamnya ikatan antara si remaja dengan ayahnya. Kata-kata “cita-cita bersama abahku” itu, begitu menyentuh. Sebuah cita-cita yang tak ia ketahui selama ini.

…………

Baru seminggu lalu si ibu mengikuti satu presentasi. Presentasi dari seorang peneliti, yang meneliti tentang TRUST, atau kepercayaan. Dilakukan di konteks Indonesia. Saat ditanyakan “siapa orang yang paling anda percayai?” Jawaban responden setelah direkap, menempatkan IBU di urutan pertama dan AYAH di urutan kedua.

Saat digali faktor-faktor apa yang berkontribusi terhadap KEPERCAYAAN anak terhadap ibu dan ayah, ada satu temuan menarik. Seorang anak, PERCAYA pada IBUNYA, karena faktor relasional. KARENA DIA IBU SAYA. Sedangkan KEPERCAYAAN seorang anak pada AYAHNYA, adalah karena faktor kompetensi. BAHWA IA PUNYA KUALITAS untuk saya percaya.

father daughterMaka, jauh lebih mudah menjadi seorang Ibu. Seorang ibu, seburuk apapun ia, si anak akan mengatakan DIA ADALAH IBU SAYA. Namun seorang ayah, ia harus berusaha untuk menunjukkan kualitas agar ia menjadi sosok yang berharga dan bermakna pada diri anak. Seorang ibu, tanpa ia mau pun, Allah telah “memaksa”nya untuk punya ikatan tak terpisahkan dengan anaknya selama 9 bulan. Tapi seorang ayah, dia bisa memilih untuk “tidak mau” membangun ikatan dengan anaknya

Karena itulah si ibu berkaca-kaca. Ia menghayati, salah satu bakti yang bisa ia berikan pada suaminya adalah, memberi ruang dan waktu agar suaminya, menjadi ayah yang bermakna untuk anak-anaknya.

sumber gambar : http://everydaylife.globalpost.com/suggestions-fatherdaughter-outing-18491.html

Dear Para Ayah, Jangan Under-estimate dirimu …..

Tulisan ini sebenarnya untuk para ayah, meskipun saya pesimis ada ayah yang baca tulisan ini hehe… Yowis lah, gak apa-apa dibaca para ibu juga. Nanti isi tulisan ini tolong bisikin ke suami masing-masing ya…..hehe…

Penelitian terhadap peran ayah pada tumbuh kembang anak dimulai sejak jaman Perang Dunia ke II dulu. Ketika para ahli mempertanyakan apa dampak ketiadaan ayah karena pergi ke medan peran, bagi anak. Dari penelitian-penelitian tersebut, muncullah terminologi “paternal deprivation”. Paternal deprivation is a term that can be used to include various inadequacies in a child’s experience with his father” . Pendekatan penelitian yang menekankan “dampak negatif” pada anak yang diakibatkan oleh ketiadaan ayah disebut  pendekatan deficit model.

Jadi, kalau sekarang ada yang membahas pentingnya peran ayah pada tumbuh kembang anak dengan mengungkapkan kalau ayah tidak ada atau tidak terlibat pada pengasuhan anak maka anaknya akan ini-itu (yang negatif), akan tidak berkembang ininya itunya ….. maka berarti masih memakai pendekatan yang sangat jadul, yang sudah tidak dipakai lagi di dunia akademis. Secara filosofis, deficit model adalah pendekatan yang “pesimistis”, yang sebaiknya memang tidak kita gunakan lagi.

Pendekatan yang sekarang digunakan untuk meneliti mengenai peran ayah pada tumbuh kembang anak adalah pendekatan dengan sudut pandang yang positif. Bagaimana dampak positif keberadaan ayah atau keterlibatan ayah dalam tumbuh kembang anak, pada tumbuh kembang anak.

Pause dulu sampai sini. Saat saya membaca paparan tersebut di buku Conceptualizing and Measuring Father Involvement, yang merupakan kumpulan tulisan para peneliti di bidang ini (2004), saya pun Pause. Apa bedanya dua pendekatan diatas? kayaknya sama aja. Bentar…bentar …ini mah harus dihayati.

Menurut penghayatan saya, ini bedanya :

Pendekatan terdahulu, deficit model yang berfokus pada dampak negatif yang akan dialami anak jika ayah tidak terlibat pengasuhan anak; secara implisit mengatakan bahwa, anak yang ayahnya tidak terlibat dalam pengasuhannya akan kehilangan dan akan kurang sesuatu dalam tumbuh kembangnya. Output dalam diri anak, negatif.

Pendekatan selanjutnya, yang berfokus pada dampak positif yang akan dialami anak jika ayah terlibat pengasuhan anak; secara implisit mengatakan bahwa anak yang ayahnya tidak terlibat, akan baik-baik saja, tidak kurang suatu apapun. Tapi jika ayahnya terlibat, itu akan menambah kualitas pada aspek-aspek tertentu pada diri anak. Output pada diri anak, positif.

Mari kita lanjutkan ….

Maka, sebenarnya kajian tentang peran ayah dalam tumbuh kembang anak  bukanlah masalah tugasku-tugasmu dalam hubungan suami istri. Bukan masalah “gantian” pegang anak-anak. Bukan. Sama sekali bukan. Da ibu-ibu mah, saya yakin…. bisa, sanggup ngurus anak 24 jam 7 hari dalam seminggu sendirian.

Tapi masalahnya adalah, ada kualitas-kualitas tertentu dalam diri para ayah, baik dengan fitrah dia sebagai laki-laki maupun sebagai seorang individu dengan kelebihan-kelebihannya, yang kalau itu “ditransfer” pada anak melalui interaksi dengan anak, akan menambah kualitas diri seorang anak, akan menambah “jaring pengaman psikologis” jika suatu saat nanti anak mengalami hal-hal yang buruk. Ah, sayang banget kalau kesempatan itu ada, dan ayah tak memanfaatkannya. Sayang banget kalau anak merasa ayahnya ada atau engga ada, sama aja. Menurut saya sih, agak kurang mensyukuri nikmat Allah gitu….

Betul, bahwa ayah gak bisa lembut, gak bisa sabar kayak ibu. Tapi apakah itu berarti ayah tidak punya apa-apa buat diajarkan ke anak? jangan under-estimate diri sendiri dong para ayah….. Itu …kehebatan presentasi sana sini, keberanian ambil resiko, kemampuan membuat keputusan, mengelola banyak orang dan banyak projek, teguh hati dan tak mudah menyerah saat menghadapi persaingan, kreativitas yang spontan…..itu kualitas-kualitas yang tak dibutuhkan anak-anak kita gitu?

Maka, kalau kita sepakat bahwa ayah juga punya kualitas-kualitas yang akan menambah kualitas anak-anak kita, pembicaraan selanjutnya adalah, bagaimana cara ayah terlibat dalam pengasuhan anak.

Sayangnya, penelitian mengenai peran ayah dalam tumbuh kembang anak banyak dilakukan di negara Barat. Sedikit banyak, hal ini berdampak pada gambaran prototype ayah yang terlibat dalam pengasuhan anak, versi sana. Digambarkan ayah yang hangat, interaktif, bicara tentang konten-konten perasaan, nyanyi bareng, curhat…..gambaran-gambaran yang mungkin kurang pas dengan budaya kita, dimana laki-laki masih dilihat sebagai gambaran kualitas maskulin. Padahal, bentuk keterlibatan ayah tak harus seperti yang digambarkan di barat itu loh…. Ngajak ke mesjid anak-anaknya…sepanjang perjalanan pergi dan pulang ke masjid ngobrol….anak cape digendong… itu bukan interaksi yang dua arah dan berkualitas gitu? Main bola bareng anak laki-laki, tebak-tebakan lucu sama anak perempuan, ah banyak kok…..be your self, with your own style aja ayah….

Tahun lalu, dalam satu forum saya bertemu dengan para ayah, dan dari situ kita berdiskusi. Ayah-ayah muda jaman sekarang, rata-rata sudah ngeuh loh, bahwa ia bisa memberikan sesuatu pada anak-anaknya. Tapi masalahnya adalah ….waktunya !!!! kapan waktunya????? mana banyak commuter father lagi sekarang, ayah sabtu minggu gituh…kayak ayahnya anak-anak sayah….

Nah, menurut penerawanganfather saya sih…..dua hari wiken, sabtu-minggu, itu cukup loh, buat keterlibatan ayah dalam tumbuh kembang anak. Dengan catatan…nah, ini catatannya…..ayah “mengerem” diri dari aktifitas “untuk diri sendiri”. Ya, kalau sekali-kali ada yang penting dan urgent sih gapapa. Tapi kalau setiap sabtu atau setiap hari minggu, atau sabtu minggu si ayah punya jadwal full untuk dirinya sendiri…entah itu pengembangan diri atau hobi atau apapun, ….ya jadi memang gak ada waktu sih buat sama anak.

Tapi kan ayah butuh refreshing….setelah 5 hari full kerja…ya, itu mah balik lagi ke pilihan masing-masing sih…tapi dengan pertimbangan di atas, dan dengan pengalaman bertemu anak-anak dengan beragam tipe orangtua dan beragam tipe ayah, saya yakin bahwa anak-anak memang butuh ayahnya, dan ayahnya memang punya kualitas yang bisa menguatkan anak. Dengan latar belakang itulah, kalau saya sendiri mengajak si ayah-nya anak-anak  “berkomitmen bersama” untuk “mengerem” sementara kebutuhan pengembangan dirinya di wiken. Sementara aja kok…pengalaman si sulung yang udah remaja….mulai kelas 5 aja…anak-anak tuh udah gak perlu interaksi intensif lagi kok…jadi sabar dulu nunggu anak-anak “gak butuh” orangtuanya. Insya allah, meskipun secara kasat mata mungkin banyak kesempatan yang hilang yang tak diambil saat wiken, keberkahan keluarga mah tak akan tergantikan oleh apapun…

Setahun belakangan ini saya banyak bertemu dengan orangtua yang usia nya cukup lanjut, usia dimana anak-anaknya sudah remaja…sudah  dewasa. Dan saya sering tidak tahan saat menyaksikan orangtua, terutama ayah, menangis karena menyesal dan sedih, begitu ingin mengulang waktu …. menebus saat-saat ia semangat bekerja dan “melupakan” anak-anaknya, yang kini melupakan dirinya.

Dari pengalaman itu, saya jadi menghayati bahwa  pencapaian diri, seharusnya merupakan pencapaian keluarga. Seorang ayah yang hebat, yang dikagumi banyak orang, dijempolin puluhan-ratusan orang di medsos karena prestasinya, diteladani karena kerja kerasnya,  ternyata merasa menjadi tak berarti apa-apa ketika anak-anaknya, tak merasakan ayahnya hebat. Tak kagum sama sekali pada ayahnya, masa bodoh dengan prestasi ayahnya, tak peduli pada kerja keras ayahnya, karena si anak sama sekali tak “terpapar” kualitas-kualitas itu.

Buat ayah-ayah yang anaknya masih kecil, hayu…..jangan sampai menyesal nanti….Waktu tak dapat diulang lagi…

 

 

 

 

 

Peran Ayah pada anak : Penting atau gak penting siiiih? (mengenal risk & protective factors)

ayahMumpung belum ngantuk, malam ini saya teringat utang pada seorang teman. Utang tulisan. Begini ceritanya…

Beberapa minggu yang lalu, saat di perjalanan menuju Jatinangor, seorang teman menelpon saya. Tanpa basa-basi, ia langsung bertanya; “Fit, sebenernya ayah teh gimana sih? Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata pertanyaan tersebut didasari oleh kegalauannya terhadap topik “peran ayah pada anak”, yang sedang “hot” dibahas di dua wa grup yang ia ikuti. Masalahnya adalah, dua wa grupnya ini katanya membahas tema ini dari sudut pandang yang berbeda 180 derajat.

Di grup wa-nya yang kesatu, didiskusikan bagaimana peran ayah buat anak itu PENTING BANGET. Baik pengalaman pribadi, share tulisan maupun cuplikan penelitian entah dari mana diajukan masing-masing anggota grup wa ini untuk mendukung argument betapa vital peran ayah. Anak yang ayahnya tak terlibat dalam pengasuhan mereka, katanya akan tumbuh jadi anak yang terlambat dewasa, kalau laki-laki bisa jadi gay, perempuan tidak akan bisa menjalin hubungan yang kuat dengan lawan jenis, dll dll…pokoknya…serem-serem deh. Pokoknya kalau ayah tak terlibat dalam pengasuhan anak, kayaknya anaknya akan hancur gituh (eh, ini beneran kata-kata temen saya loh …kkkkk). Oleh karena itulah menurut para anggota di grup wa ini, maka ibu-ibu harus “memaksa” para suaminya untuk aktif terlibat dalam pengasuhan anaknya.

Nah, di grup wa-nya yang kedua, pembahasan tentang ayah ini justru sebaliknya. Di grup ini, sebagian besar anggotanya kontra terhadap pendapat pentingnya peran ayah. Ada yang mengkaitkannya dengan sejarah Nabi. Nabi Isa gak punya ayah, baik-baik saja. Rasulullah Muhammad saw, ayahnya sudah wafat saat ia lahir, menjadi manusia sempurna. Ada yang menceritakan pengalaman pribadi ditinggal ayahnya wafat sejak kecil, tapi tumbuh baik-baik saja. Kata teman saya, grup ini memandang isu pelibatan ayah dalam pengasuhan anak adalah upaya-upaya kelompok tertentu untuk membuat para ibu menghindar dari kodratnya, membuat ibu-ibu malas menjalankan kewajiban pengasuhan, tidak empati pada suami yang sudah amat lelah mencari nafkah.

Abis bla..bla..la…teman saya menumpahkan seluruh kegalauannya, tibalah saat saya memberikan tanggapan. Tanggapan pertama saya adalah “ledekan” buat dia; “too much wa-group will kill you” kata saya haha… Tapi beneran loh… dalam wa-grup, biasanya kita cenderung berbagi pengalaman dan perasaan subjektif. Formatnya tidak mendukung untuk membahas sesuatu secara sistematis. Gimana mau sistematis, lha wong pembagian perannya aja gak ada. Kalau dibikin aturan…siapa yang jadi narasumber….kapan waktunya boleh bertanya, antri satu demi satu….buat saya pribadi sih malahan aneh dan “gak enakeun”. Jadi buat saya pribadi, wa grup memang lebih cucok dipake buat ajang silaturahim haha-hehe selingan aktivitas. Kalau mau berargumen atau mempersuasi sesuatu, agak sulit karena di wa group kita kehilangan informasi mengenai “kondisi awal” masing-masing lawan bicara kita, yang akan sangat mempengaruhi konten dan cara kita menyampaikan satu informasi.

Kembali pada kisah teman saya….akhirnya, saya pun membalas uraiannya yang panjang lebar dengan jawaban yang panjang lebar juga. Saya jelaskan mengenai “sejarah” munculnya isu dan penelitian peran ayah dalam perkembangan anak, apa saja sudut pandang dan pendekatannya, serta bagaimana sebaiknya kita memposisikannya. Tak terasa saat itu, saya sudah samapi di Jatinangor. Sebelum menutup telopon, teman saya bilang: “kayaknya yang tadi elu jelaskan perlu ditulis deh….siapa tahu ada beberapa orang lain yang lagi galau kayak aku tentang hal ini” katanya. Saya pun meng-iyakan…dan itulah sejarah utang saya haha…

Saya akan membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian. Pada bagian ini, saya akan mengulas peran ayah dalam perkembangan anak dari perspektif risk & protective factor.

Dalam tumbuh kembang anak, para ahli mengenai istilah risk factor dan protective factor. Secara sederhananya begini: Kita, gak akan pernah tau tantangan apa yang akan dihadapi oleh anak-anak kita. Kalau pake bahasa agama, kita gak akan pernah tau ujian apa yang Dia berikan pada anak-anak kita. Mungkin guru yang merendahkannya, teman sekolah yang membully, suami yang melakukan kdrt, kematian orang terdekat, sampai yang tak terduga seperti bencana alam atau peperangan.

Dalam diri dan lingkungan anak-anak kita, ada yang namanya RISK FACTOR , ialah aspek dalam diri atau lingkungan anak yang bisa meningkatkan kemungkinan kondisi negatif pada diri anak. Saat menghadapi kondisi yang tidak diharapkan, faktor ini akan memperburuk situasi anak. Yang termasuk dalam risk factor, bisa dari kesehatan dan lingkungan psikologis. Dari kesehatan misalnya berat lahir rendah, kualitas pengasuhan yang buruk, kecerdasan yang rendah, dll dll. Intinya, ini adalah faktor “kerentanan”.

Di sisi lain, kita pun bisa “menyediakan” PROTECTIVE FACTOR, ialah aspek yang bisa mengurangi dampak buruk dari peristiwa yang tidak menguntungkan bagi anak. Nah, salah satu protective factors adalah, “a strong relationship with a father figure”. Protective factors lainnya apa? pola asuh ibu yang hangat, kecerdasan yang tinggi, kompetensi sosial dan penerimaan teman, serta keterlibatan dalam kegiatan keagamaan.

Risk dan protective factors lainnya apa lagi?  googling aja…. banyak … sesuai dengan konteksnya.

Nah, jumlah dan kualitas si RISK FACTOR dan si PROTECTIVE FACTOR pada anak inilah, yang akan menentukan daya tahan dan daya bangkit si anak saat menghadapi “ujian” kehidupannya, terutama jika ia ditakdirkan mengalami kondisi yang tidak baik. Sederhananya, kita sebagai orangtua harus berupaya sekuat tenaga untuk meminimalisir risk factor dan memaksimalkan protective factor. Karena kita gak pernah tau….ujian apa yang akan dihadapi anak kita.

Nah, upaya untuk mengajak ayah terlibat dalam pengasuhan anak, hendaklah diposisikan dalam kerangka pikir risk & protective factor ini. Artinya, jika kita bisa mengkondisikan suami untuk terlibat dalam pengasuhan anak kita, alhamdulillah ….. berarti kita telah memberikan tambahan satu “senjata perlindungan” buat anak kita. Sebaliknya, jika kita kebetulan diuji dengan suami yang keukeuh berpendapat “tugas suami adalah mencari nafkah, mengasuh anak adalah sepenuhnya tugas istri”, kebetulan suami kita galak, bikin anak-anak kita ketar-ketir kalau ada dalam radius satu meter dekatnya, suami kita sibuk sendiri dengan pengembangan diri atau hobinya, atau suami kita ditakdirkan mendahului kita wafat, atau kita bercerai dengan suami…. ya dont worry be happy.… masih banyak protective factor yang bisa kita upayakan berikan pada anak, di luar hubungan yang kuat antara anak kita sama ayahnya.

Dengan kerangka pikir ini, harusnya tak ada saling menyalahkan sih…Semoga tulisan ini cukup memberikan bekal kerangka pikir yang membuat kita memandang persoalan ayah ini menjadi lebih proporsional.

 

 

Satu lagi jawaban : mengapa ayah harus terlibat dalam pengasuhan anak ?

Beragam teori dan penelitian baik di dalam maupun di luar negeri, tak terkira jumlahnya,  yang hasilnya menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, dampaknya positif bagi anak dan bagi hubungan pernikahan. Bagi anak, keterlibatan ayah membuat mereka lebih unggul dalam seluruh aspek perkembangannya, pendidikan maupun kesehatan mentalnya dibandingkan dengan anak yang ayahnya tak terlibat.

fathers-day-clip-art-2Pengamatan saya pribadi, saya melihat bahwa ayah yang terlibat, bukan hanya memberi manfaat untuk anak dan istrinya. Saya melihat bahwa saat ayah terlibat dalam pengasuhan anak, maka tak hanya anak yang menikmati, tapi juga ayahnya. Apalagi dalam kegiatan bermain. Di pengajian Percikan Iman setiap hari ahad, dimana kami bisa mendengarkan kajian di hamparan terpal di bawah pohon-pohon rindang di lapangan, kami bisa melihat ada puluhan ayah yang begitu asyik bermain dengan anaknya. Bermain bola, meniup gelembung, bermain bulutangkis, kejar-kejaran….. Bahkan seringkali saya melihat ayahnya yang lebih “hepi” dibanding anaknya.

Saya sendiri, sepengamatan saya yang terbatas, melihat bahwa keterlibatan ayah akhir-akhir ini cukup meningkat. Dua mahasiswa saya dan saya sendiri melakukan penelitian mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pada responden kami, ayah terlibat aktif dalam pengasuhan anak. Di usia prasekolah dan usia sekolah. Kami belum melakukan penelitian pada usia anak selanjutnya.

Setiap pagi kalau saya mengantar anak-anak sekolah, terlihat cukup banyak Bapak yang mengantar. Menjemput anak ikut ekskul, mendaftarkan anak sekolah, frekuensi bapak semakin meningkat dari waktu-waktu sebelumnya. Dan juga, jumlah ayah yang datang ke acara parenting, konsul parenting atau konsultasi masalah anak, kini semakin banyak juga dibandingkan waktu sebelumnya. Kadang, jujur saja saya suka “under estimate” ayah saat menanyakan tahap perkembangan anak. Usia berapa bisa bicara jelas, usia berapa bisa berjalan, dll. Amazingnya, kini para ayah yang datang ke ruang konsultasi bisa menjawab loh, lengkap dengan kisah “berkesan” terkait perkembangan anak tersebut.

Tadinya, dari pengamatan saya yang terbatas itu saya berpikir bahwa kita mesti bersyukur. Dengan keterlibatan ayah yang semakin intens, maka diasumsikan perkembangan anak-anak kita pun akan lebih optimal. Yups, memang di desa, partisipasi ayah dalam pengasuhan masih minim dibandingkan dengan di kota dan pada ayah yang berpendidikan tinggi. Pembagian “ayah bekerja, ibu ngurus anak” masih sangat kental menjadi prinsip yang dipegang teguh.

Apakah prinsip tersebut salah? menurut hasil penelitian sih salah. Saya pribadi berpendapat bahwa prinsip  itu perlu diubah. Tapi sayangnya, kadang ada yang berpendapat kalau ibu-ibu seperti saya berpendapat bahwa ayah harus terlibat dalam pengasuhan anak, artinya ia mau “enak-enakan”. Seolah-olah, kalau pembagian tugas mencari nafkah vs mengurus anak itu 1:1, maka dengan permintaan ayah harus terlibat dalam pengasuhan anak, itu membuat perbadingannya menjadi 1,5:0,5. Apalagi kalau si ibu bekerja, dianggapnya mau bertukar peran : “ibu bekerja, ayah ngasuh anak”. Mentang-mentang bisa menghasilkan duit sendiri. Gak mau melakukan tugasnya…Lalu mulailah tuduhan feminis, mengingkari fitrah, sampai konspirasi wahyudi bisa diungkapkan. Ya, sah-sah aja sih suudzhonitas seperti itu…. yang penting suami saya mah sepakat dan komitmen serta menikmati terlibat penuh dalam pengasuhan anak kami. Monggo, pilihan kembali ke keluarga masing-masing.

Beberapa bulan terakhir ini, saya pribadi menemukan satu alasan lagi, yang memperkuat keyakinan saya bahwa ayah, memang harus terlibat dalam pengasuhan anak. Satu sudut pandang yang berbeda. Beberapa bulan lalu, seorang teman saya, ibu dari 3 anak wafat. Anak-nya masih usia SD dan balita. Salah satu anaknya, “lengket” banget sama ibunya sebelum ibunya wafat. Sang ayah, saya kagum banget kepada beliau, beberapa bulan ini berusaha “mengambil alih” peran ibunya. Salah satunya adalah, beliau masuk grup orangtua murid yang isinya, semua ibu-ibu. Tanpa segan si ayah bertanya mengenai berbagai hal terkait aktivitas sekolah anaknya.

Yups, si ayah mungkin di masa yang akan datang akan menikah lagi. Tapi coba kita bayangkan….kalau si ayah ini tipe ayah yang “gue kerja, lu urus anak”. Selama masa tak ada ibu itu, gimana kondisi psikologis anak? Dan kalaupun sudah ada ibu yang baru, bagaimana proses membangun kelekatan antara si anak dan si ibu baru, harus ada yang memediasi bukan?Ayah yang sudah biasa terlibat dalam pengasuhan anaknya, tak akan gagap melakukan rutinitas yang buat anak, amat penting menjaga kenyamanan psikologisnya. Mereka tak akan canggung menggangtikan ibu mereka membacakan cerita, menyuapi, menemani mengerjakan PR…Suami teman saya yang wafat ini, kalaupun nanti menikah lagi, tampaknya akan bisa mendampingi anak-anaknya melewati masa adaptasi dengan smooth, dibanding ayah yang setelah menikah lagi lalu menyerahkan sepenuhnya pengasuhan anak-anak pada ibu baru-nya.

Baiklah, demikian curhat saya malam ini …;)

sumber gambar : http://november2013calendar.org/fathers-day-clip-art-and-nice-pictures.html

mau jadi ayah berkualitas buat anak? ini caranya……

Bahwa seorang ayah memiliki peran yang penting dalam tumbuh kembang anaknya, itu merupakan sebuah fakta yang tak terbantahkan. Baik menurut agama, menurut akal sehat, dan kini, secara empiris terbukti melalui beragam penemuan ilmiah. Karena itulah, pemahaman “aku harus melibatkan diri dalam pengasuhan anak” sudah dimiliki banyak ayah sekarang, terutama ayah-ayah muda. Namun demikian, tak dapat disangkal juga ada sekian banyak faktor yang menjadi pertanyaan serta hambatan yang dirasakan ayah, yang membuat niat untuk terlibat menjadi tak benar-benar terwujud secara nyata.

Dalam focus group discussion yang kami lakukan pada 11 orang ayah di Bandung Oktober 2012 lalu, hambatan utama yang dirasakan para ayah untuk lebih terlibat dalam pengasuhan anaknya adalah “kurangnya waktu”. Yups….dengan fungsi utama ayah sebagai pencari nafkah, wajar hal tersebut dirasakan.

“How much is enough?” “How much time and attention do I need to give my child to ensure she or he grows up healthy?” begitu mungkin kurang lebih pertanyaan para ayah.

Palkoviz (2002) menjawab pertanyaan para ayah tersebut : Instead of counting how many minutes youspend with your child as a measure of “good” fathering, ask yourself, “What do I do with my child with the time that I have?” Researchers generally find the quality and type of activities that you do with your child are far more important than the amount of time you spend with them.

Ada beberapa poin penting yang bisa “dipegang” para ayah saat ingin melibatkan diri dalam hidup anak-anaknya:

(1) Usahakan adanya waktu berkualitas bersama anak.

Apa tandanya waktu kebersamaan ayah dan anak adalah waktu yang berkualitas? buat para ayah, pertanyaan2 ini membantu mengidentifikasinya.

  • Apakah anak menjadi pusat perhatian anda? atau…anda  hanya berusaha membuat anak sibuk saat anda  mengerjakan hal lain?
  • Selama bersama dengan anak, apakah anda benar-benar terlibat sehingga baik anda maupun anak menikmatinya?
  • Apakah anda meluangkan waktu secara sengaja untuk menstimulasi aspek-aspek perkembangan anak anda?
  • Apakah anda benar-benar merencanakan waktu kebersamaan dengan anak?
  • Apakah anda merasa bahagia saat bersama dengan anak anda meskipun kegiatan anda dan anak “tidak bertujuan?”

(2) Terlibatlah dalam setiap fase kehidupan anak.

Siapa bilang anak hanya butuh orangtuanya pada fase kehidupan tertentu saja? anak membutuhkan orangtunya dalam setiap fase kehidupannya. Hanya bentuknya saja yang berbeda. Demikian juga kebutuhan anak terhadap ayah.

  • Pada fase bayi dan prasekolah, keterlibatan ayah bisa berbentuk bantuan mengurus secara fisik seperti mengganti popok, memangku/menggendong, meninabobokan, serta mengajak bermain  (Bronte-Tinkew et al., 2008).
  • Pada fase anak sekolah, keterlibatan ayah bisa berbentuk mengantar kegiatan di sekolah, menemani belajar, dll.

(3) Jangan merasa bahwa pemenuhan kebutuhan fisik anak adalah yang paling utama.

Being a good father doesn’t mean making sure your child has all the best toys, or lives in the best neighborhood. It means making sure your child has all the benefits of having you in his or her life.

Dalam sejarahnya, meskipun kini disadari bahwa peran ayah bukanlah peran “pembantu” dalam tumbuh kembang anak, namun rekonstruksi budaya telah menempatkan ayah tidak berada di garis depan dalam hidup anak-anaknya. Maka, jangan heran kalau seringkali seorang anak (yang telah tumbuh dewasa), kesulitan untuk mengingat kenangan manis bersama ayah. Dan akibatnya, pola asuh ayah terhadap dirinya pun cenderung terulang dalam caranya mengasuh anak-anaknya. Tak akan ada yang menyalahkan jika seorang ayah menghabiskan seluruh waktunya untuk bekerja, sampai tak punya waktu dengan anak.

Namun, pengalaman menjadi seorang ayah adalah pengalaman berharga yang tak akan terbeli dengan apapun.

Memang, Akan ada banyak situasi yang bisa jadi alasan untuk tak punya waktu untuk “hanya”  bersama anak. Akan ada banyak kegiatan lan yang lebih “penting” untuk dilakukan.Namun, Realize that, as you become more involved in your child’s life, you may become less involved inother areas of your life. You may not be able to work as many overtime shifts or stay as late at work. You may have to say no to an outing or two with the guys, take a season off from your bowling or soccer league. Know that in the end, most fathers agree that the benefits that they receive through building their relationship with their child far outweigh thesesacrifices. Last, these benefits influence the development of your child into a successful adult and future parent.

 

Sumber:

Artikel : Being an Involved Father: What Does It Mean?. Kate Fogarty and Garret D. Evans.2009.

 

Ingin Jadi Ayah Hebat? Cermati Hal-Hal Berikut…..

Sejak 30 tahun yang lalu, di negara-negara barat sono, para peneliti mulai tertarik untuk meneliti subjek baru dalam konteks pengasuhan anak, yaitu : ayah. Ada dua hal yang mendasari mengapa seorang ayah kini juga disorot. Dua hal tersebut adalah:

(1)  Adanya trend peningkatan jumlah ibu yang bekerja. Di  Amerika, didapatkan data bahwa pada tahun 1950, hanya 12% ibu yang memiliki anak prasekolah yang bekerja. Di tahun 1983 meningkat menjadi 50% dan di tahun 1997, jumlah ibu bekerja dengan anak usia prasekolah adalah 2/3nya (Bureau of Labor Statistic, 1986, 1997). Bekerjanya ibu di luar rumah tidak diimbangi oleh adanya fasilitas pengasuhan anak, sehingga mau tidak mau kemudian ayah dituntut untuk lebih terlibat dalam pengasuhan anak.

(2)  Perkembangan sosial lain yang membuat keberadaan ayah bagi anak-anaknya menjadi sorotan adalah semakin banyaknya keluarga yang tanpa ayah. Data di Amerika menunjukkan bahwa pada tahun 1997, 24% anak tinggal hanya bersama ibunya. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah ada dampak pada anak sebagai akibat dari ketidakhadiran ayah mereka?

Di Indonesia, saya belum berhasil menemukan data yang komprehensif untuk menggambarkan apakah jumlah ibu bekerja juga menjadi bertambah. Demikian juga mengenai gambaran poin yang kedua (apakah ada yang bisa memberikan info, kira2 data itu bisa saya dapat dari mana? maklum saya mah kuper 😉 Namun dari pengamatan, tampaknya dua fenomena diatas mulai terlihat juga di Indonesia.

Selama 30 tahun tersebut, banyak hasil telah didapat. Telah ada model yang komprehensif mengenai “fatherhood” dan “fathering” . Model psikologis, sosiologis, antropologis, ekonomis, dan model yang interdisipliner.  Salah satu yang sering dipublikasikan adalah mengenai “dampak keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak”. Intinya adalah; keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak berdampak positif pada anak di usia manapun, baik itu pada aspek kognitif (kemampuan problem solving, prestasi akademik, dll dll), emosi (regulasi, awarenes, dll dll) dan sosial (kepercayaan diri, kepekaan, dll dll). Dengan hasil-hasil tersebut, maka gambaran ayah yang “baik” sekarang bergeser ke konsep ayah yang lebih “hangat” dan “afektif” pada anak-anaknya.

Itu di negara2 “western” sonoh. Di Asia, pada International Conference on Fatherhood in 21st Century Asia: Research, Interventions, and Policies di Singapura 3 tahun lalu, disimpulkan bahwa para ayah di Asia masih “tertinggal jauh” dalam kegiatan melibatkan diri dalam pengasuhan anak.

Saya sendiri, meskipun penelitian di Indonesia mengenai dampak keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak belum banyak yang melakukan, tapi  saya meyakini bahwa ayah, memang harus terlibat dalam pengasuhan anak. Tidak saja efeknya buat anak, tapi juga buat si ayah sendiri. Seorang rekan senior saya pernah menyatakan bahwa ia mengkondisikan hubungan yang “romantis” antara ayah dan anak-anaknya. Saya masih ingat kata-kata beliau: “sejelek-jeleknya ibu, dia tuh pasti dicari sama anak, dibutuhkan oleh anak. Tapi ayah? kalau dia tak meng-eksis-kan dirinya buat anak-anaknya, tak akan ada “jejak”nya dalam kehidupan anak”….

Yups…yups…saya meyakini bahwa peng-alam-an dan penghayatan “keayahan” itu, adalah “sesuatu” buat si ayah. Jadi, buat ibu-ibu….memang harus mendorong dan mengkondisikan agar ayah mau melibatkan diri dalam kehidupan putera-puterinya.

Berikut adalah faktor-faktor yang bisa menjadi pendorong, namun juga bisa jadi penghambat keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak:

(1)    Kesehatan mental ayah

Ayah yang “sehat mental” akan jauuuuh lebih berkualitas dalam hubungan dengan anak-anaknya dibandingkan ayah-ayah yang kurang sehat mental; misalnya memiliki adiksi tertentu, atau emosinya sangat labil, dll.

(2)    Harapan mengenai peran keayahan

Sikap ayah terhadap perannya sebagai ayah memprediksi kualitas hubungan dan ikatan emosi dengan anak  pada usia anak 12 bulan . Positif parenting ayah juga berkorelasi kuat dengan apakah kehamilannya diharapkan atau tidak. Ada banyak penelitian juga yang mengkaji bagaimana para pria itu “bertransisi” menjadi seorang “Ayah” baik dalam kognisi maupun emosi. Seruuuu deh penelitian-penelitiannya teh. Intinya, menurut saya sih…seperti juga seorang ibu yang melakukan upaya “menyiapkan diri” untuk menjadi seorang ibu yang baik, harus ada awareness juga pada seorang pria ketika  statusnya berubah menjadi “ayah”.

(3)    Hubungan dengan ibu 

Ayah yang memiliki hubungan yang positif dengan ibu akan lebih terlibat dengan kehidupan anak.  Penelitian juga menunjukkan bahwa ibu yang memiliki keyakinan  bahwa ayah tidak akan mampu dan kurang pantas melakukan kegiatan domestik dan pengasuhan anak akan menghambat keterlibatan ayah untuk terlibat dengan anak-anaknya. Pandangan ibu mengenai pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dan kepuasan  karena ayah terlibat dalam pengasuhan anak memprediksi frekuensi dari keterlibatan ayah. Jadi, kalau si ayah enggan untuk “dekat” dengan anak-anaknya, mungkin perlu dilihat bagaimana hubungan si ayah dengan ibu. Poin kedua adalah, seringkali justri ibu yang menjadi “gatekeeper”, menghalangi keterlibatan si ayah dengan beragam alasannya.

(4)    Keluarga asal ayah

Hubungan ayah dengan anggota keluarganya maupun teman-temannya juga merupakan faktor penting . Laki-laki yang menerima lebih banyak dukungan emosional dari tempat kerja dan keluarga asalnya memiliki anak yang lebih merasa “aman”. Ingatan ayah mengenai pengalaman masa kecilnya juga mempengaruhi keterlibatan mereka dengan anak-anak mereka. Tapi, ini bukan berarti bahwa seorang laki-laki yang tidak memiliki pengalaman positif dengan ayah menjelma menjadi seperti ayahnya itu. Ingat….ingat…manusia punnya satu hal yang tak dimiliki makhluk lain, yaitu : BELAJAR !

(5)    Latar belakang dan faktor kontekstual

Status sosial ekonomi ayah jelas mempengaruhi  hubungannya dengan istri maupun anaknya. Ayah yang memiliki tingkat pendidikan tinggi lebih sering bermain dengan anaknya dibandingkan ayah-ayah yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah . Pencapaian akademis ayah berkorelasi dengan jumlah waktu yang diberikan ayah untuk melakukan pengasuhan.

(6)    Karakteristik anak

Semua hubungan sosial antara ayah dengan anak adalah proses yang sifatnya transaksional. Keterlibatan ayah dengan anaknya akan dipengaruhi oleh karakteristik anak, respons serta perilaku anak akan dipengaruhi oleh karakteristik dan perilaku ayah.

(7)    Kebijakan publik

Kebijakan publik berdampak pada jumlah, frekuensi, dan jenis keterlibatan ayah. Misalnya: jam kerja ayah, jenis dan tempat kerja ayah.

Nah… faktor-faktor diatas memang hasil penelitian dalam konteks kondisi ayah di “western” sono. Bagaimana dengan di Indonesia? Itulah yang sedang coba saya pahami. Harus dimulai dari persepsi mengenai konsep “ayah” dalam kultur kita. Itulah yang berusaha saya “garap” dalam roadmap penelitian saya. Sudah ada beberapa hasil, misalnya …konsep ayah dan penghayatan peran ayah bagi orang di desa dan di kota beda loh…. lalu jenis aktifitas yang dilakukan ayah yang berasal dari suku tertentu, ternyata berbeda dengan ayah dari suku lainnya….penelitian lainnya sedang berjalan dan sedang direncanakan. Moga2 beberapa tahun ke depan sudah ada model yang fit mengenai fatherhood di Indonesia.

Yang jelas, pengetahuan mengenai  peran ayah dalam pengasuhan anak  buat saya pribadi, “ultimate goal”nya adalah…“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (Annisa:9). Apalagi menurut seorang ustadz, tokoh pengasuhan anak yang diungkap dalam AlQur’an adalah seorang ayah, yaitu Lukman.

A man may biologically father a child, but that does not guarantee that he will be a father

Menjadi ayah yang hebat hanya membutuhkan satu syarat, yaitu: MAU !!!

 

Previous Older Entries