Aku.Kamu.Kita : #Renungan 180 Purnama (Sneak Peek)

Beberapa tahun yang lalu, mas mengajak saya menghadiri undangan ulang tahun pernikahan ke-25 seorang seniornya. Ini adalah undangan ulang tahun pernikahan “orang lain” pertama yang saya hadiri. Acaranya meskipun sederhana namun meriah. Alur acara ditata apik dan dikomandoi oleh seorang MC profesional yang asik dan kocak, mengajak hadirin turut larut dalam kebahagiaan pasangan yang berulang tahun.

Dari rangkaian acara yang ada: tiup lilin, tausyiah dari ustadz, kuis-kuis dengan doorprize menarik, makanan yang enak-enak, ada satu mata acara yang sangat berkesan buat saya. Ialah ketika sang suami, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan 25 tahun pernikahannya. Ia, didampingi oleh istri dan anak-anaknya, menceritakan kisah perjalanan 25 tahun pernikahannya, diiringi oleh tayangan foto-foto sesuai dengan ceritanya. Mata beliau dan istrinya sesekali basah, sesekali tertawa riang…dan saya pun ikut larut dalam emosi mereka. Beliau menceritakan bagaimana latar belakang keluarganya dan istrinya, bagaimana mereka bertemu, perjuangan mereka di awal menikah, kisah kelahiran anak-anak mereka, suka duka saat kuliah di luar negeri, pengorbanan istrinya, …. sampai kini beliau pribadi maupun keluarganya menjadi keluarga yang “sukses”.

Pulang dari acara itu, di mobil topik pembicaraan kami masih seputar acara itu. Kami mengandai-andai pernikahan kami sampai di usia 25 tahun. Seperti apa kira-kira “rupa” keluarga kami ya? Mas berarti sudah umur 51 tahun. Karirnya udah sampai mana ya? Mimpi-mimpinya, target-target pribadinya, sejauh mana yang sudah tercapai? Saya sudah berumur 48 tahun. Udah jadi apa ya? Udah berkarya apa saja? Si sulung 24 tahun. Udah nikah? Udah punya anak? Si bujang kecil umur 21 tahun. Sudahkah kuliah di Swiss seperti yang ia impikan? Si gadis kecil umur 18 tahun. Si ceriwis itu penampakannya kayak gimana ya? Si bungsu 15 tahun, udah kayak apa ya? Masihkan selalu riang seperti saat ini?

Pembicaraan lalu beranjak pada milestone-milestone penting yang diceritakan senior mas tadi. Lalu kami pun mengenang milestone-milestone penting pernikahan kami. Mata berkaca dan tawa menertawai kebodohan kami berdua, juga mewarnai obrolan kami. Obrolan diakhiri dengan perdebatan panjang bagaimana bentuk acara yang akan kami gelar pas ulangtahun pernikahan ke 25 nanti haha…. Perdebatan panjang seperti yang biasa terjadi di toko mebel, di toko gorden, di toko wallpaper, juga di toko bunga setiap kali kami akan membeli barang-barang  untuk menghiasi rumah kami kkkk.

Dan seperti biasanya, perdebatan panjang kami belum menemukan titik temu. Memang biasanya titik temu akan terjadi ketika perdebatan sudah masuk ronde ke lima haha…Akhirnya kalimat penutup kami “nanti lah, kita obrolin lagi, masih lama ini”. Tapi satu hal yang kami sepakati dalam perbincangan dan perdebatan panjang kami, bahwa pernikahan yang telah kami jalani, harus kami syukuri.

Tgl 15 Juni, kami tetapkan sebagai hari ulang tahun keluarga. Merencanakan apa yang akan kami lakukan di tanggal itu, sudah jadi semacam ritual. Mulai dari makan bareng, bikin-bikin sesuatu yang akan jadi “jejak” dalam keluarga kami, dan saya selalu sempatkan untuk menuliskan renungan tahun demi tahun pernikahan kami. Sungguh, saya benar-benar bersyukur memiliki pasangan yang menjadi pelengkap hidup saya. Sebagai teman, sahabat, imam, soulmate. Tapi saya kadang suka berpikir: ih, lebay gak ya? Baru aja nikah segitu tahun. Belom ada apa-apanya kaleee…

Suatu waktu, dalam perbincangan saya dengan dua senior saya yang usia pernikahannya sudah menjelang tahun ke-40, saya bertanya: apa yang membuat mereka bisa mempertahankan pernikahan se-lama ini. Dari perbincangan itu saya menyimpulkan bahwa proses adaptasi, proses mengenal pasangan, proses belajar menyelesaikan masalah,  terus terjadi tahun demi tahun pernikahan. Mengapa? Karena suami dan istri, adalah manusia yang mengalami perubahan. Maka, sesungguhnya, orang yang kita nikahi, bisa jadi menjadi berbeda dalam sebagian dirinya. Demikian juga diri kita.

Kalau kata salah satu senior saya, menikah itu kayak kuliah. Setiap semester pelajarannya berbeda, ujiannya juga beda. Kata-kata itulah yang membuat saya yakin bahwa pernikahan yang telah kami jalani, harus kami syukuri. Tahun demi tahunnya, bulan demi bulannya, minggu demi minggunya, hari demi harinya. Tak perlu menunggu tahun ke-25. Kami tak tahu pelajaran apa yang akan kami pelajari di tahun-tahun ke depan, sesulit apa ujiannya, dan apakah kami akan sanggup melewatinya. Tapi yang pasti, pelajaran di 15 tahun ini, hasil ujian yang kami lewati 15 tahun ini, adalah sebuah “prestasi” yang harus benar-benar kami syukuri.

Beberapa tahun terakhir ini, cukup banyak mahasiswa saya yang menikah. Beberapa dari mereka, mengantarkan undangannya secara personal, entah janjian di kampus atau di rumah. Dalam kesempatan tersebut, sebagian curcol mengenai hal-hal yang diresahkan, sebagian meminta “nasihat pernikahan” haha…jelas banget saya udah tua 😉. Tapi dari obrolan itu, membuat saya menyadari bahwa teryata banyak hal-hal yang saya pelajari dalam perjalanan pernikahan ini. Ya…hal-hal yang engga kepikir waktu saya dalam posisi seperti mahasiswa-mahasiwa saya, yang baru akan memasuki dunia pernikahan. Ternyata, pelajaran-pelajaran itu adalah hal yang berharga bagi yang belum menjalaninya.

Tahun-tahun terakhir ini pula, saya banyak bertemu dengan persoalan-persoalan yang terkait dengan pernikahan. Meskipun fokus utama dalam menjalani profesi saya adalah kesejahteraan anak, namun nyatanya kesejahteran anak dalam keluarga tak lepas dari kualitas pernikahan orangtuanya. Maka, membahas persoalan anak, biasanya lekat dengan bahasan mengenai kualitas pernikahan. Oleh karena itulah, akhirnya saya belajar mengenai couple therapy dan family therapy. Kerangka pikir yang saya dapat dari hasil belajar tersebut, dipadukan dengan hasil penelitian teman-teman saya yang area penelitiannya di bidang pernikahan serta pengamatan dan penghayatan saya terhadap kehidupan pernikahan, maka semakin jelas “peta potensi masalah dan kunci-kunci keberhasilan sebuah pernikahan”. Saya juga semakin menyadari bahwa hal-hal “kecil” yang terkadang luput dari perhatian dalam kehidupan pra dan pasca pernikahan, bila tak kita sadari, pada suatu saat akan menjadi bom waktu yang membuat pernikahan yang seharusnya menjadi syurga dunia, berbalik menjadi neraka dunia.

Untuk mensyukuri keberkahan yang kami rasakan selama 15 tahun kebersamaan kami, mas memprovokasi saya untuk menyusun sejumlah tulisan dengan tema-tema yang kami temui dalam perjalanan 15 tahun ini. Buku ini tidak bertutur banyak mengenai perjalanan pernikahan kami. Biarlah itu tersimpan di diary saya pribadi hehe… tapi topik-topik dalam buku ini, terinspirasi dari perjalanan pernikahan kami.

Tadinya, buku ini akan launching tepat hari ini. Seorang teman yang mengetahui rencana ini, berkomentar: “swit swiw…romantis amat launching buku pas wedding anniversary”. Iya, rencananya memang se-romantis itu. Tapi romantisme itu ternyata berbenturan dengan kenyataan. Jadwal finalisasi naskah bentrok sama deadline target disertasi. Mana yang harus lebih diprioritaskan? tentunya realitas. Sama persis situasinya sama kondisi pernikahan di usia 15 tahun ini hehe…

Insya allah, beberapa bulan yang akan datang buku ini akan launching, dalam bentuk ebook, free download. Buat yang suka dan pengen punya versi hardnya, insyaallah akan dicetak juga.

Cover cantik buku ini adalah buah karya teman saya yang coretan-coretannya, selalu membuat saya jatuh cinta. Laila Qodariah, Lai panggilan sayangnya. Karya-karya cantiknya bisa dilihat di instagram @gambaremak. Bentuk gambar, font sampai printil-printil adalah hasil vote dari si abah dan anak-anak.

Semoga tulisan-tulisan sederhana dalam buku ini bisa menemani perjuangan dalam sebuah marathon bernama pernikahan. Mohon doa juga semoga  pernikahan kami, keluarga kami, selalu dikarunia keberkahan di dunia dan keselamatan di akhirat nanti.

15 Juni 2017

Advertisements

Dia Ciptakan Seorang Kekasih: Tak Sekedar Puisi

Beberapa minggu terakhir ini, entah mengapa saya teringat sebuah puisi. Bukan puisi biasa. Puisi istimewa. Karena ia sangat istimewa, 15 tahun lalu, saya tuliskan puisi itu di undangan pernikahan kami. Saya juga engga tau kenapa tiba-tiba ingat puisi itu. Padahal ulang tahun pernikahan kami masih 5 bulan lagi.

Masalahnya adalah…. saya gak ingat puisi itu judulnya apa, kata-katanya gimana. Yang saya ingat persis adalah, puisi itu karya Kang Jalal, Jalaludin Rakhmat. Yups, Kang Jalal yang “syiah” itu. Apa itu berarti saya juga syiah? Mangga aja kalau mau menyimpulkan begitu. Tapi saya sendiri berprinsip bahwa fakta bahwa beliau syiah, tak berarti membuat saya harus melihat beliau sebagai orang yang 100% JELEK. Saya tetap mengakui bahwa beliau adalah seorang komunikator yang baik, yang memiliki kemampuan untuk menyampaikan konsep-konsep rumit menjadi bahasan yang ringan dan mudah dicerna. Beberapa karya puisi beliau juga sangat dalam maknanya. Salah satunya adalah yang berusaha setengah mati saya ingat, yang saya tuliskan di surat undangan pernikahan kami 15 tahun lalu.

Saya tanya si abah: “bah, inget gak puisi Kang Jalal yang kita tulis di undangan pernikahan kita?”. Si abah menjawab dengan spontan: “inget” . Wah, surprise banget nih si abah yang selalu lupa dimana nyimpen kunci, dimana nyimpen kacamata, dimana nyimpen pulpen, sabuk, dll inget puisi ! dari 15 tahun lalu! “Apa sih bah judulnya?” tanya saya lagi. “Antara Krawang dan Bekasi kan?” Jawabnya pede. Dasarrrrr….

Maka, langkah terakhir adalah….membuka contekan haha. Saya buka laci tempat saya menyimpan puluhan diary sejak kelas 1 SMP dulu, tempat saya nyimpen file email-emailan kita saat taaruf dulu, tempat saya nyimpen hasil USG anak-anak waktu masih di perut…. dan di situ ada surat undangan pernikahan kami.

Tadaaa…inilah puisi itu ….

Dia Ciptakan Seorang Kekasih

Diciptakan Allah bumi dengan segala isinya
Samudera luas, bukit tinggi, hutan belantara
Diedarkan Allah mentari, rembulan dan gemintang
Diturunkan hujan, ditumbuhkannya pepohonan
Dan disiramkannya tetanaman
Semuanya untuk kebahagiaan manusia

Tetapi Allah Maha Tahu,
Memberikan lebih daripada itu
Diketahuinya getar dada kerinduan hati
Dia tahu, betapa kita sering memerlukan seseorang
Yang mendengar bukan saja kata yang diucapkan
Namun juga jeritan hati yang tak terungkapkan
Yang mau menerima perasaan

Allah tahu pada saat kita diharu-biru
Dihempas ombak, diguncang badai, dan dilanda duka
Kita memerlukan seseorang
Yang mampu meniupkan kedamaian,
Mengobati luka, menopang tubuh yang lemah, memperkuat hati

Allah tahu, kadang kita berdiri sendirian
Lantaran keyakinan atau mengejar impian
Kita memerlukan seseorang
Yang bersedia berdiri di samping kita

………

15 tahun lalu, puisi ini saya maknai hanya sekedar sebagai rangkatan kata yang indah. Tapi saat ini, menjelang 15 tahun menjalani pernikahan, saya menghayati tak sekedar rangkaian kalimatnya, tapi juga maknanya.

Apa yang diungkapkan dalam puisi di atas adalah pengejawantahan dari makna bahwa suami/istri kita, adalah seseorang yang “melengkapkan separuh agama”. Pengejawantahan dari kata “sakinah”; menentramkan. Penggambaran dari keinginan “growing together with you”.

Di usia kita yang menjelang 40 tahun, (usia saya maksudnya haha…); ada sebagian teman kita diuji kesabarannya dengan belum dipertemukan dengan belahan jiwanya dalam ikatan pernikahan. Atau pernah dipertemukan, namun terpisah. Padahal kata seorang teman, memiliki seorang “kekasih” seperti tergambar dalam puisi di atas, adalah suatu fitrah, keinginan terdalam seseorang. Se”hebat” apapun dia sebagai individu. Teman saya tersebut, menyampaikan keprihatinannya akan banyaknya kasus perceraian saat ini. Tapi saya punya keprihatinan yang lain. Keprihatinan bahwa banyak pasangan, menjalani kehidupan pernikahan hanya secara “kasat mata”. Mereka tinggal bersama, ke kondangan pake baju seragam, foto di medsos berdua, tapi secara psikologis, secara batin, mereka terpisah jauh.

Dulu, saya berpikir bahwa waktu, akan menyelesaikan banyak hal. Lamanya waktu menikah, akan membuat kita semakin menyatu dengan pasangan kita. Tapi ternyata tidak. Ada banyak pernikahan yang usianya belasan, puluhan tahun, tapi masih merasa asing dengan pasangannya, hubungan masih didominasi rasa “takut”, atau rasa”tidak percaya”, atau bahkan rasa “gak tau harus gimana”. Padahal tinggal bersama, bicara, berhubungan badan, memiliki putra/putri selama belasan/puluhan tahun.

Lalu apa yang salah? lama waktunya-kah? bukan. Waktu, memang akan mengajarkan banyak hal. Pengalaman, memang menjadi guru yang terbaik. Namun cara kerjanya, bukan dengan otomatis. Allah menganugerahkannya sebagai konsekuensi jika kita sungguh-sungguh mau menghayati dan belajar, mau mencurahkan seluruh energi untuk saling menumbuhkan rasa percaya, peduli, menghargai, menerima, mencintai.

Ya, ada sebagian dari kita diuji dengan psangan yang memiliki gangguan psikologis. Pasangan yang tak punya empati, tak mau belajar, pasangan yang rapuh pribadinya sehingga ia tak bisa mendapatkan masukan, pasangan yang merasa perlu mempertahankan egonya dengan menunjukkan kuasanya. Tapi itu hanya berapa persen? Sebagian besar dari kita, hidup bersama pasangan yang bisa belajar.

Kata seorang teman saya yang penelitiannya di bidang perkawinan, saat ini banyak orang yang kehilangan kepercayaan pada institusi perkawinan. Sebagian dari mereka memutuskan untuk tidak menikah. Sebagiannya memutuskan menikah namun tak percaya bahwa pernikahan ini akan menjadi yang pertama dan terakhir seumur hidup.

Ada juga sebagian yang menyatakan ingin berjuang untuk “tumbuh menua bersama” pasangannya. Sebuah cita-cita mulia. Namun, cita-cita semata tak cukup. Ia harus diwujudkan dalam sebuah kesadaran. Kesadaran ini yang akan membuat kita selalu mengevaluasi. Apakah pasangan kita adalah seorang “kekasih” bagi kita? atau ia hanya sekedar seorang “suami” yang fotonya tertera di buku nikah kita? apakah istri yang telah belasan tahun bersama kita adalah seorang yang menentramkan kita? atau ia hanyalah seseorang yang mendampingi kita saat undangan?

Tumbuh tua bersama, kalau itu menjadi cita-cita kita, semoga Allah memudahkan jalannya. Namun, cita-cita semata tak cukup. Ia harus diwujudkan dalam sebuah perjuangan. Perjuangan ini yang akan membuat kita setelah mengevaluasi, mau “bergerak” untuk mengubah keadaan. Tak hanya diam dan berlindung dibalik kata “sabar”. Karena sabar sama sekali berbeda makna dengan diam tak berupaya.

Ada satu  indikator nyata proses pembelajaran kita dalam pernikahan. Komunikasi. Semakin kita “dekat” secara hati dengan seseorang, maka akan semakin yakin bagi kita untuk mencoba membicarakan apa yang kita pikir dan rasakan pada orang tersebut. Meskipun apa yang akan kita bicarakan adalah sesuatu yang tak nyaman bagi kita atau baginya, kalau hati kita dekat, kita akan punya kekuatan untuk tak menyerah, terus berusaha membicarakannya. Mengapa? kita tahu pembicaraan ini mungkin akan mengesalkan, mungkin akan menyedihkan, mungkin akan melukai, tapi kita saling percaya bahwa ia tak akan pergi. You know what? yang paling menyedihkan buat saya adalah saat bertemu pasangan-pasangan yang pernikahannya telah puluhan tahun, namun menyimpan bom waktu yang meledak di akhir kehidupan mereka.

oldMaka, kalau pernikahan kita sudah belasan atau puluhan tahun, semoga kita semakin dekat pada cita-cita “tumbuh menua bersama”. Namun, ada yang jauh lebih penting dari itu. Apa yang akan kita rasakan saat kita telah berhasil meraihnya?

Apakah saat itu, meskipun tubuh kita telah renta dan ringkih, namun kita tak merasa “sendiri” saat kita berpelukan? sedalam apa pembicaraan kita saat tangan-tangan keriput kita bergenggaman? Apa yang akan kita kenang saat ia meninggalkan kita terlebih dahulu? apakah hanya sebagai seorang suami/istri kita? ayah/ibu nya anak-anak? orang yang selama ini menafkahi keluarga? orang yang selama ini mengelola keluarga? atau, ia sebagai “kekasih” kita? yang kita rindukan untuk menyertai kita di dunia abadi nanti?

Memiliki belahan jiwa adalah sebuah fithrah, kebutuhan terdalam seorang manusia. Maka, bagi kita yang diberikan dengan karunia itu, cara terbaik  untuk mensyukurinya adalah dengan berjuang sekuat tenaga. Sebagai diri, mari kita berusaha menjadi indah, agar pasangan menjadi jatuh hati pada kebaikan kita. Sebagai pasangan, mari kita belajar bagaimana membuka lapis demi lapir barrier psikologis antara kita dan pasangan.

Berpuluh tahun bersamanya, kita harus semakin mengenalnya. Semakin mengenalnya, seharusnya kita semakin tau bagaimana teknik dan strategi bicara padanya. Untuk apa ? untuk mengungkapkan perasaan kita. Untuk memberikan umpan balik padanya. Agar kita semakin saling mendekat. Jangan sampai “keburukan kita”, “keburukan psangan kita”, adalah sama, sejak tahun pertama pernikahan sampai dengan belasan atau puluhan tahun kemudian.

Ikhtiar dan doa adalah dua sayap yang tak terpisahkan. Jangan malas berikhtiar, jangan ragu berdoa. Kebahagiaanperkawinan, adalah sesuatu yang layak kita perjuangkan sampai titik darah penghabisan !

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj-’alna lil-muttaqîna imama. “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqan: 74)

Sumber gambar : https://id.pinterest.com/pin/560909328569893742/

Dear Soulmate

Dear Soulmate,
Tak terasa hari ini, 14 tahun sudah kita bersama.
Lebih dari 5000 hari kita lalui.
Sudah banyak cerita, tawa bahagia diselingi sesekali mata yang berkaca-kaca.

Dear soulmate,
Jangan lupa kita punya janji untuk tumbuh tua bersama
Bergenggaman sampai tangan-tangan kita menjadi keriput
Terpisahkan sementara oleh ajal,
Lalu bertemu kembali bersama anak cucu kita di hari-hari yang abadi.

Dear soulmate, Terima kasih ya…
Untuk telinga lebarmu
Yang selalu siap mendengarkan segala kisah dari relung asa dan rasa
Hingga tak ada cerita yang tersisa yang kau tak tau dari diriku

Dear  soulmate,Terima kasih ya…
Untuk tawa nikmatmu mentertawakanku
Yang justru membuatku menikmati kebodohanku
Membuatku merasa bodoh itu indah haha….

Dear  soulmate, Terima kasih ya…
Untuk pelukanmu yang selalu hangat
Yang membuat aku berani menghadapi segala ketakutanku
Membuatku tak pernah merasa sendirian

Dear soulmate, Terima kasih ya…
Telah menjadi tangan guritaku
Saat aku menyadari bahwa tanganku hanya dua

Dear soulmate, Terima kasih ya…
Untuk teori cintamu yang super sederhana
Yang tak banyak kata namun tak pernah lupa mengamalkannya

Dear soulmate, Terima kasih ya…
Telah memberiku ruang dan waktu
Untukku tetap bisa memeluk erat mimpi-mimpiku
Walau kau terkadang tak sepenuh hati setuju

Dear soulmate, Terima kasih ya…
Untuk nasehat-nasehatmu yang selalu bisa menenangkan batinku
Kala aku gundah dan tak tahu arah

Dear soulmate, Terima kasih ya…
Atas kesabaranmu
Menanggapi kemarahan-kemarahanku

Dear Soulmate, Terima kasih ya…
Untuk pelukan eratmu,
Yang telah mempercayaiku tanpa ragu
Bahwa aku tak akan pernah meninggalkanmu
Sebesar apapun mimpi yang ingin kukejar

Dear soulmate, I love You
Semoga seluruh kebaikan, kebahagiaan
dan keberkahan
di penjuru langit dan bumi tercurah pada kita

13221027_10209481292770052_6854373361520096318_n

 

Hai Soulmate ….

Hai Soulmate,
Terima kasih ya…
Untuk telinga lebarmu
Yang selalu siap mendengarkan segala kisah dari relung asa dan rasa
Hingga tak ada cerita yang tersisa yang kau tak tau dari diriku

Hai soulmate,
Terima kasih ya…
Untuk tawa nikmatmu mentertawakanku
Yang justru membuatku menikmati kebodohanku
Membuatku merasa bodoh itu indah haha….

Hal soulmate,
Terima kasih ya…
Untuk pelukanmu yang selalu hangat
Yang membuat aku berani menghadapi segala ketakutanku
Yang membuatku tak pernah merasa sendirian

Hai soulmate,
Terima kasih ya…
Telah menjadi tangan guritaku
Saat aku menyadari bahwa tanganku hanya dua

Hai soulmate,
Terima kasih ya…
Untuk teori cintamu yang super sederhana
Yang tak banyak kata namun tak pernah lupa mengamalkannya

Hai soulmate,
Terima kasih ya…
Telah memberiku ruang dan waktu
Untukku tetap bisa memeluk erat mimpi-mimpiku
Walau kau tak sepenuh hati setuju

Hai soulmate,
Terima kasih ya…
Untuk pelukan eratmu,
Yang telah mempercayaiku tanpa ragu
Bahwa aku tak akan pernah meninggalkanmu
Sebasar apapun mimpi yang ingin kukejar

I-heart-you-hanging-Happy-Valentines-Day-2015-WallpaperHai soulmate,
I love you …

 

 

sumber gambar : http://gotomarketguy.com/love/

 

Tiga Belas Tahun : Antara Romantisme dan Realitas

Hari ini, adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-13. Sejak sebulan lalu, saya sudah menyiapkan dua tulisan istimewa. Di dalam kepala tentunya, karena belum punya waktu luang untuk mengetiknya. Bahkan saya sudah menyimpan referensi dua tulisan itu di meja dekat kamar tidur saya. Satu paket referensi 3 buku tafsir dan satu lembar tulisan Prof. Sawitri mengenai gambaran dinamika pernikahan.

Rencananya, semalam saya akan bangun dini hari dan menulis dua tulisan itu. Namun apa daya….aktifitas full sabtu minggu, membuat saya terlelap dan bangun subuh pagi tadi. Kehectican pagi tadi bertambah dengan informasi dari teh Rini, pengasuh anak-anak yang izin hari ini karena akan ambil raport anaknya. Artinya, saya harus bawa Hana dan Azzam ke Jatinangor untuk mengawas ujian. Baca wa group, ada kabar RI 1 dan para mentri akan melantik para wisudawan IPDN yang artinya….harus berangkat lebih pagi biar nyampe kampus tepat waktu meskipun terhadang di IPDN. Si abah pun, tadi pagi hectic dengan proposal yang harus diselesaikannya. Pengen candle light dinner? sore ini saya udah janjian bawa Azka, Umar dan Hana ke dokter gigi. Biasanya akan sampe jam 7an.

Beberapa hari lalu, saya senyum-senyum baca status seorang teman saya, yang menggambarkan bagaimana romantisme sepasang kekasih yang menjadi suami istri dan menjadi bapak-ibu, telah berubah menjadi realistis membahas hal-hal “remeh temeh” soal anak.

Yups, tahun ini, keluarga kami masuk “fase baru”. Tampaknya si sulung Azka, telah “resmi” menjadi remaja. Dengan segala karakteristiknya, yang mewarnai pula keluarga kami. Maka, kami pun resmi menjadi “family with teenager” dalam tahap perkembangan keluarga. Tahap perkembangan baru, tentu saja tantangan baru dan butuh ilmu baru.

Di usia pernikahan ke-13 ini, hal-hal ideal dan romantis sudah tak sempat lagi kami usahakan. Lha wong tadi pagi saya nyari-nyari selembar kertas referensi buat tulisan yang udah saya siapin di meja kamar saya, udah ilang…saya curiga…kalau gak dipake “gambar rambutan” oleh Azzam, paling dipake bikin perahu sama Umar ;(

Seminggu lalu saya berkesempatan “mengobrol” dengan seorang “rekan” yang usia pernikahannya sudah 35 tahun ! Saya tanya, apa sih yang membuat ia dan pasangannya “bertahan”. Saya pernah melihat mereka berdua begitu….”romantis” gituh. Bukan…bukan romantis yang lebay seperti menuliskan perbincangan mesra di status atau gelendotan di tempat umum. Perilaku dua kakek nenek itu itu biasa saja, tapi aura kasih sayang, aura “i love you” itu begitu kuat terasa. Padahal mereka sering LDR-an, dengan aktivitas masing-maisng.

Cerita beliau mengenai perjalanan 35 tahun pernikahannya, suka dukanya, pasang surutnya, cinta-bencinya, idealisme dan realitasnya, membuat saya semakin yakin….mempertahankan pernikahan yang membawa kebaikan dan kebahagiaan itu, tak mudah. Ada banyak episode yang harus dilalui. Ada banyak proses perubahan yang harus dilakukan. Dan ada satu benang merah kekuatan yang akan membuat kita dan pasangan bertahan menghadapi tiap episode itu.Itulah yang harus saya aware-i dan harus saya pertahankan, bahkan perkuat.

Episode 13 tahun pernikahan kami, adalah episode realitas. Setiap hari kami disibukkan dengan beragam macam tetek bengek urusan anak-anak. Mulai dari hal filosofis sampai hal teknis remeh temeh. Pergi berdua? it’s not our style.

C360_2015-06-15-14-59-46-310~2Dalam hiruk pikuk reaalita sehari-hari dari tahun ke-13 ini, ada satu hal yang selalu bikin saya senyum. Bahwa semakin hari, kami semakin sering melakukan hal yang sama, di hari yang sama, tanpa janjian. Membelikan kebutuhan dan kesukaan masing-masing, paling sering membelikan kebutuhan dan kesukaan anak-anak. Misalnya, membelikan cemilan kesukaan anak-anak yang sama, sampai dengan beliin vitamin yang sama. Meskipun anak-anak suka “protes” …. “kenapa sih, ibu dan abah  suka beliin hal yang sama?” bahkan Azka yang lagi “nyinyir” suka bilang : “emang ibu dan abah gak koordinasi ya?” haha…namun dalam hati saya tersenyum. Semoga ini tanda bahwa dalam hiruk pikuk realitas pernikahan kita, hati kita semakin menyatu” haha……aamiin….

Renungan tahun ke-dua belas : Bisakah kita mengubah pasangan ?

112 tahun5 Juni lalu, pernikahan kami tepat berusia 12 tahun. 12×365 hari. Lumayan lama. Sejak dua tahun lalu, kami mendeklarasikan tanggal 15 Juni sebagai hari  ulang tahun keluarga pada anak-anak. Kami “memperingatinya” sebagai rasa syukur. Apalagi sejak beberapa tahun lalu, mulai ada beberapa teman yang  rumah tangganya kandas. Bukan oleh masalah besar. Tapi oleh masalah-masalah “biasa” yang juga kami alami. Artinya, “potensi” berpisah itu, juga kami miliki. Biasanya kami mensyukurinya dengan liburan  bersama. Ada sesi doa bersama untuk kebahagiaan keluarga kami.

Ada yang istimewa di hari “ulang tahun keluarga” tahun ini. Apakah itu? Yang pertama, si abah inget !!! haha…. saya agak kaget waktu 2 minggu sebelumnya si abah bbm bilang “ulang tahun keluarga kita liburan ke **** yuks” …. buat seseorang yang gak pernah inget hari ulangtahunnya sendiri, ini hal yang luar biasa….berarti saya berhasil membrain-wash nya haha…Yang kedua….selagi saya berencana untuk mengumpulkan foto momen bersama kami, si sulung Azka suatu hari datang dengan ide brilian. Dia akan bikin “short movie” perjalanan keluarga….maklum, baru 3 minggu lalu dia diajarin “movie maker” di les fotografinya…

Berdasarkan teori  “Kisaran Kerentanan Relasi Antar Pasangan Pada Usia Perkawinan” yang saya dapat dari  Prof Dr. Sawitri Supardi Sadarjoen, maka pernikahan kami ini (10-15/18) termasuk usia “lampu kuning”. Katanya di usia ini, baik istri maupun suami masuk ke masa “puber kedua”. Tapi istri biasanya fokus untuk menghadapi anak pertama yang umumnya sudah menginjak remaja. Bila tidak diwaspadai, suami bisa fokus pada remaja lain di luar perkawinan hehe …(wil gituh 😉. Tapi istri juga rentan dengan hadirnya pil, sehingga di usia pernikahan ini sering juga terjadi perceraian. Kalau ditinjau dari tahap perkembangan keluarga, maka menurut om Duvall (1977) kami sedang berada pada tahap perkembangan “family with school children”; yang salah satu tugas perkembangannya adalah “mempertahankan keintiman sebagai pasangan” disamping membantu anak-anak mencapai tugas perkembangannya.

Penghayatan kami sendiri…kami sedang merasa “nyaman-nyamannya” di usia pernikahan kami sekarang ini. Ya…berantem-berantem sih masih….tapi “basic trust” antar kami, rasanya telah terbentuk dengan kuat. Frekuensi pun sering nyambung. Empati dan “perspective taking” kerasa banget tumbuh dan berkembang. Pertengkaran-pertengkaran hanya berada di ranah “permukaan”; misalnya milih furniture…hehe…

Gak ada lagi “tragedi sukiyaki” seperti yang saya tulis di note facebook beberapa tahun yang lalu. Sekarang, bahkan  kami sudah bisa “bertelepati”. Di tempat yang berbeda, saya dan mas melakukan hal yang kami harapkan. Yang paling sederhana….pernah saya ke pasar tanpa mas. Di perjalanan pulang, mas nelpon minta dibeliin kue cucur kesukaannya. Tentu saya bilang “terlambat nelponnya”. Nyampe rumah….tadaaaaa….kue cucur saya hidangkan. Itu yang pertama kali saya beli di pasar tadi…haha…. Mas juga begitu. Pulang kerja, bawa sesuatu yang saya pengen banget, padahal saya gak bilang…

Sebulan lalu, si abah bilang gini: “enak ya de, kita sudah saling memahami” …. itu gara-garanya, saya minta tolong mas pesan sesuatu ke temennya. Tapi sebagai orang yang antisipatif dan tau kalau mas pelupa, saya juga langsung menghubungi temen mas tersebut untuk pesen. Dua minggu kemudian, saya “tagih” ke mas, mana pesenan ke temen mas? mas bilang lupa banget…maaf…begitu dia liat di meja…tadaaaa barangnya udah ada…… itu yang dia bilang “kita sudah saling memahami kekurangan masing-masing”. Demikian pun mas. Sudah sangat memahami kebiasaan-kebiasaan buruk saya, dan sudah tau harus bersikap gimana  yang membuat saya pas insyaf, jadi malu sendiri hehe…

Nah, artinya….selama 12 tahun ini kami sudah saling “bergerak”. Entah itu didorong oleh cinta atau komitmen. Gak penting lah…yang penting, kita mau “bergerak” memahami pasangan. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas dalam tulisan ini. Saya ingin mencoba menjawab pertanyaan seorang teman : “bisakah kita merubah pasangan?”.

Merubah pasangan. Merubah kepribadiannya, kebiasaan buruknya. Bisakah? mmmhhhh….karena ini dalam konteks sebagai seorang yang telah mengarungi perjalanan pernikahan selama 12 tahun, maka saya akan jawab dengan referensi pengalaman. Tapi sebelum itu, saya ingin mengajukan sekaligus menjawab satu pertanyaan.

Haruskah kita mengubah pasangan? itu pertanyaan saya. Jawaban saya? Harus. (Kau yang bertanya….engkau yang menjawab…#dinyanyiin pake lagu dangdut#). Kenapa harus? karena itu bagian dari kewajiban sesama muslim. Amar ma’ruf nahi munkar. Kalau suami kita merokok kita diem aja….suami kita suka mengejek orang kita diem aja….suami kita berlebihan main games kita diem aja…tentu itu tidak benar. Apalagi kalau nanti kita semakin “senior”… mungkin status sosial ekonomi  suami kita udah semakin tinggi….. jadi bos di kantor, disegani masyarakat…akan semakin sedikit orang yang bisa “mengingatkan”. Siapa lagi yang bisa “mengingatkan”nya selain kita, pasangannya? Jadi kita harus “mencanangkan” dalam hati, bahwa kita adalah orang yang selalu akan “menjaga pasangan kita” untuk selalu berada dalam kebenaran dan kebaikan.

Nah, sekarang baru ke pertanyaan temen saya itu. Bisakah kita merubah pasangan ? jawaban saya : BISA. Sejauh mana kita bisa merubah pasangan ? Naaah…ini yang rada “tricky”.

Mengubah kepribadian? berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya, kepribadian bukan hal yang mudah untuk diubah. Itulah sebabnya, para konselor pernikahan suka meminta calon pasangan suami istri untuk mengetahui kecenderungan-kecenderungan perilaku bermasalah pasangannya. Itu sebabnya juga, ketulusan untuk “mengubah pasangan” yang menggebu sebelum pernikahan, pada umumnya berakhir dengan keputusasaan. Kata rekan saya yang banyak bergerak di dunia KDRT, pada umumnya istri sudah mengetahui kecenderungan suami yang suka menganiaya fisik. Sebagian bahkan sudah mengalami KDP (kekerasan dalam pacaran).

Jadi, apa dong yang bisa diubah? Ada hukum dasar dalam psikologi: B=f (P,E). Behaviour atau perilaku adalah fungsi dari environment dan personality. Kita sulit untuk mengubah personality pasangan kita, yang udah terbentuk saat kita bertemu dengannya. TApi kita BISA mengubah behaviour pasangan kita. Artinya, perilaku dalam konteks tertentu.

JAdi, kita tak akan pernah bisa mengubah suami kita yang pendiam jadi supel. Tapi kita bisa membantu agar  PERILAKU suami kita berubah,  tak mengurung diri di kamar saat berkunjung ke rumah orangtua kita. Kita akan sulit mengubah kecenderungan agresi suami kita, tapi kita bisa mengubah perilaku suami kita untuk tak memaki-maki orang yang nyalip saat ia menyetir, di depan anak-anak. Biar berimbang…suami akan sulit mengubah sikap impulsif istrinya untuk belanja. Tapi suami bisa mengubah perilaku belanja istrinya, saat ia lagi bokek.

Dan perubahan PERILAKU itu, sudah cukup untuk membuat kehidupan berumahtangga menjadi nyaman. Apapun dasar pernikahan kita- entah itu cinta, komitmen, atau intimacy kalau pake teori Triangular Love-nya Sternberg; itu akan cukup membuat kita merubah PERILAKU yang diharapkan oleh pasangan. HAnya satu syaratnya. KEDEWASAAN. Itulah sebabnya pernikahan itu, adalah tugas perkembangan di usia dewasa.

Jadi, kalau mau flashback…memilih calon pasangan itu….ganteng/cantik boleh; soleh/solehah harus; kaya gak apa-apa, pinter gak salah…namun yang WAJIB harus di-cek adalah, apakah ia cukup dewasa untuk mau MENDENGARKAN dan FLEKSIBEL untuk MAU MENGUBAH  PERILAKUNYA DALAM SITUASI TERTENTU, situasi yang bermakna bagi pasangannya.

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj-’alna lil-muttaqîna imama.
  “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqan: 74).

Itulah sebabnya, kita tak akan pernah bisa membalas sang surya …..

Beberapa hari lalu, saya bertemu seorang “senior” yang kebetulan membaca tulisan saya https://fitriariyanti.wordpress.com/2014/04/22/nyala-api-kehidupanmu-nikmatilah. Sebagai seorang ibu yang  telah berada di tahap ke-6 dalam perkembangan kehidupan keluarganya, dimana beliau akan segera me”launching” putri bungsunya, beliau menyampaikan bahwa …. “keriweuhan” di fase 3 dan 4, itu jauuuuh lebih “mudah” dibanding “mencari dan menyalakan kembali api kehidupan” kita di masa ketika tak ada anak-anak yang “tergantung” pada kita.

Saya terus terang merasa sangat beruntung bisa beraktifitas bersama banyak rekan-rekan, senior dan junior dari beragam tahap perkembangan kehidupan. Amat banyak pelajaran dan penghayatan yang saya dapat terutama mengenai hubungan orangtua-anak. Membaca puluhan kali buku “life span development” ga ada apa-apanya dibanding mendengarkan pengalaman dan perasaan mereka…

Selama ini, fokus saya adalah hubungan antara saya sebagai ibu, dengan anak-anak saya. “Bergaul” dengan para senior saya, melebarkan cakrawala penghayatan saya, pada hubungan ibu-anak, dimana saya sebagai anak.

Jujur saja, dalam tahap perkembangan kita sekarang, kita cenderung jauuuuh lebih fokus pada keluarga kita sekarang. Ibu-ayah kita, mungkin jadi prioritas keberapaaaa secara psikologis. Ruangnya di hati kita, keciiiil sekali. Rutinitas keseharian dengan anak-anak kita membuat kita seakan “melupakan” mereka. Mungkin secara psikologis kita hanya menghadirkan mereka setahun sekali, saat lebaran. Atau 2 tahun sekali, plus saat mereka ultah. Atau saat mereka sakit. Di hari-hari biasa… Mungkin kita tak merasakan kehadiran mereka, dan oleh karenanya tak memberi perhatian.

Saya dulu pernah terkaget-kaget, ketika mendengarkan  senior yang sedang mengobrol dan bercurhat ria tentang bagaimana “beratnya” rasa ketika mereka harus “melepas” anak-anak mereka pada orang lain. Saya gak pernah kebayang…dan karena mamah saya bukan orang yang biasa mengungkapkan emosinya pada saya, sangat mungkin mamah saya juga mengalami hal serupa, namun tak terungkapkan.

Ya, saat prosesi pernikahan kita sungkem pada ortu, kita saling menangis, seringkali kita merasakan sedih yang amat sangat. Rasanya, memori-meori indah selama puluhan tahun bersama orangtua, hadir kembali di moment itu. Sekarang saya tahu… bahwa kesedihan itu, tak ada apa-apanya dibandingkan kesedihan orangtua kita. Kenapa? Karena kita akan menyongsong kehidupan baru bersama orang yang kita cintai….sedangkan orangtua kita, ibu kita…mereka akan melepas orang yang mereka cintai, seseorang yang mereka “miliki”, seseorang yang menjadi “pusat dunia” mereka selama puluhan tahun. *berkaca-kaca*

Minggu lalu, di pengajian yang saya ikuti pak ustadz menceritakan satu kisah. Tentang seorang pemuda Yaman bernama Uwais Al Qorni. Saya pernah mendengar kisah ini waktu di tanah suci. Dia adalah seorang yang tak diketahui di kalangan manusia namun amat terkenal di kalangan malaikat. Kenapa? Karena pengorbanan pada ibunya. Ia menggendong ibunya yang tuli, buta dan lumpuh dari Yaman ke Mekah untuk berhaji. Pak Ustadz bercerita kalau Uwais Al-Qoniy bertanya pada Rasulullah, apakah apa yg ia lakukan bisa membalas jasda ibunya padanya? Rasulullah menjawab tidak. “Andaikan seluruh tubuh ibumu bernanah dan kau jilati seluruhnya, belum bisa membalas jasanya” begitu yang disampaika pak ustadz.

love motherDulu, setiap kali ada bahasan tentang orangtua, saya selalu membayangkan pengorbanan mereka yang sifatnya kasat mata. Semakin lemah dan bertambah lemahnya saat hamil, meregang nyawa saat melahirkan, jatuh bangun menyusui, kelelahan begadang menemani saat sakit…kini, saya menghayati satu aspek pengorbanan mereka, yaitu pengorbanan psikologis. Rasa cemas, khawatir, sedih, takut, campur aduk perasaan negatif mereka, mulai dari kita masih dari rahim, sampai mereka harus melepaskan kita….Dan tak hanya sampai itu! mereka pun harsu “belajar” bagaimana menjadi mertua, menjadi nenek….yang kadang…pengalaman belajar mereka tak selalu menyenangkan.

Ya, ya…kita memang tak akan pernah bisa membalas jasa mereka. Apalagi jasa ibu, yang diisyaratkan oleh Rasul, tiga kali  lipat dari ayah.

Saya jadi malu…kadang saya menilai mama saya “lebay” kalau sering nelpon bilang kangen cucu-cucu, padahal baru minggu kemarin berkunjung. Saya juga malu karena dengan alasan kesibukan rutinitas gak rutin telpon mertua setiap minggu.

Ya, kita memang tak bisa membalas jasa ibu-ayah kita. Namun sedikit  membahagiakan meraka, masih bisa kita lakukan. Dengan menelpon, berkunjung, dan pak ustadz bilang, mendoakan ba’da sholat itu WAJIB ! Hukumnya. Apalagi jika ortu kita sudah wafat. Doa adalah satu-satunya cara “memeluknya”. Melapangkan dan menerangi kuburnya.

Dan yang lebih penting lagi, ingetin pula suami kita. Jangan sampai justru kita jadi penghgalang cinta suami kita sama ibu mereka. Dorong suami untuk prioritaskan ibunya dibanding kita. Kalau terasa berat, bayangkanlah bagaimana beratnya perasaan mertua, saat anak laki-laki yang mereka urus sejak kecil, mereka sekolahkan sampai sarjana, mereka khawatirkan, kini kita “rebut cintanya”. Kalau kata mamah dedeh mah gini : “eh, istri…elu tuh ketemu sama suami dia udah ganteng, udah keren, udah sarjana. Nah emaknya…die yang ngurus dari suami kita gak bisa apa-apa sampai jadi keren pas ketemu kita “

Robbighfirli wali walidayya warhamhumma kama robbayani soghiro.
Ya Tuhan kami ampunilah kedua orangtuaku dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka telah mengasihi dan mendidikku di waktu kecil.{QS: AL ISRO’ 24}

Kasih ibu….Kepada beta….Tak terhingga sepanjang masa…. Hanya memberi …… tak harap kembali ……

Bagai sang surya menyinari dunia….

Previous Older Entries