Tiga Belas Tahun : Antara Romantisme dan Realitas

Hari ini, adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-13. Sejak sebulan lalu, saya sudah menyiapkan dua tulisan istimewa. Di dalam kepala tentunya, karena belum punya waktu luang untuk mengetiknya. Bahkan saya sudah menyimpan referensi dua tulisan itu di meja dekat kamar tidur saya. Satu paket referensi 3 buku tafsir dan satu lembar tulisan Prof. Sawitri mengenai gambaran dinamika pernikahan.

Rencananya, semalam saya akan bangun dini hari dan menulis dua tulisan itu. Namun apa daya….aktifitas full sabtu minggu, membuat saya terlelap dan bangun subuh pagi tadi. Kehectican pagi tadi bertambah dengan informasi dari teh Rini, pengasuh anak-anak yang izin hari ini karena akan ambil raport anaknya. Artinya, saya harus bawa Hana dan Azzam ke Jatinangor untuk mengawas ujian. Baca wa group, ada kabar RI 1 dan para mentri akan melantik para wisudawan IPDN yang artinya….harus berangkat lebih pagi biar nyampe kampus tepat waktu meskipun terhadang di IPDN. Si abah pun, tadi pagi hectic dengan proposal yang harus diselesaikannya. Pengen candle light dinner? sore ini saya udah janjian bawa Azka, Umar dan Hana ke dokter gigi. Biasanya akan sampe jam 7an.

Beberapa hari lalu, saya senyum-senyum baca status seorang teman saya, yang menggambarkan bagaimana romantisme sepasang kekasih yang menjadi suami istri dan menjadi bapak-ibu, telah berubah menjadi realistis membahas hal-hal “remeh temeh” soal anak.

Yups, tahun ini, keluarga kami masuk “fase baru”. Tampaknya si sulung Azka, telah “resmi” menjadi remaja. Dengan segala karakteristiknya, yang mewarnai pula keluarga kami. Maka, kami pun resmi menjadi “family with teenager” dalam tahap perkembangan keluarga. Tahap perkembangan baru, tentu saja tantangan baru dan butuh ilmu baru.

Di usia pernikahan ke-13 ini, hal-hal ideal dan romantis sudah tak sempat lagi kami usahakan. Lha wong tadi pagi saya nyari-nyari selembar kertas referensi buat tulisan yang udah saya siapin di meja kamar saya, udah ilang…saya curiga…kalau gak dipake “gambar rambutan” oleh Azzam, paling dipake bikin perahu sama Umar ;(

Seminggu lalu saya berkesempatan “mengobrol” dengan seorang “rekan” yang usia pernikahannya sudah 35 tahun ! Saya tanya, apa sih yang membuat ia dan pasangannya “bertahan”. Saya pernah melihat mereka berdua begitu….”romantis” gituh. Bukan…bukan romantis yang lebay seperti menuliskan perbincangan mesra di status atau gelendotan di tempat umum. Perilaku dua kakek nenek itu itu biasa saja, tapi aura kasih sayang, aura “i love you” itu begitu kuat terasa. Padahal mereka sering LDR-an, dengan aktivitas masing-maisng.

Cerita beliau mengenai perjalanan 35 tahun pernikahannya, suka dukanya, pasang surutnya, cinta-bencinya, idealisme dan realitasnya, membuat saya semakin yakin….mempertahankan pernikahan yang membawa kebaikan dan kebahagiaan itu, tak mudah. Ada banyak episode yang harus dilalui. Ada banyak proses perubahan yang harus dilakukan. Dan ada satu benang merah kekuatan yang akan membuat kita dan pasangan bertahan menghadapi tiap episode itu.Itulah yang harus saya aware-i dan harus saya pertahankan, bahkan perkuat.

Episode 13 tahun pernikahan kami, adalah episode realitas. Setiap hari kami disibukkan dengan beragam macam tetek bengek urusan anak-anak. Mulai dari hal filosofis sampai hal teknis remeh temeh. Pergi berdua? it’s not our style.

C360_2015-06-15-14-59-46-310~2Dalam hiruk pikuk reaalita sehari-hari dari tahun ke-13 ini, ada satu hal yang selalu bikin saya senyum. Bahwa semakin hari, kami semakin sering melakukan hal yang sama, di hari yang sama, tanpa janjian. Membelikan kebutuhan dan kesukaan masing-masing, paling sering membelikan kebutuhan dan kesukaan anak-anak. Misalnya, membelikan cemilan kesukaan anak-anak yang sama, sampai dengan beliin vitamin yang sama. Meskipun anak-anak suka “protes” …. “kenapa sih, ibu dan abah  suka beliin hal yang sama?” bahkan Azka yang lagi “nyinyir” suka bilang : “emang ibu dan abah gak koordinasi ya?” haha…namun dalam hati saya tersenyum. Semoga ini tanda bahwa dalam hiruk pikuk realitas pernikahan kita, hati kita semakin menyatu” haha……aamiin….

Advertisements

Renungan tahun ke-dua belas : Bisakah kita mengubah pasangan ?

112 tahun5 Juni lalu, pernikahan kami tepat berusia 12 tahun. 12×365 hari. Lumayan lama. Sejak dua tahun lalu, kami mendeklarasikan tanggal 15 Juni sebagai hari  ulang tahun keluarga pada anak-anak. Kami “memperingatinya” sebagai rasa syukur. Apalagi sejak beberapa tahun lalu, mulai ada beberapa teman yang  rumah tangganya kandas. Bukan oleh masalah besar. Tapi oleh masalah-masalah “biasa” yang juga kami alami. Artinya, “potensi” berpisah itu, juga kami miliki. Biasanya kami mensyukurinya dengan liburan  bersama. Ada sesi doa bersama untuk kebahagiaan keluarga kami.

Ada yang istimewa di hari “ulang tahun keluarga” tahun ini. Apakah itu? Yang pertama, si abah inget !!! haha…. saya agak kaget waktu 2 minggu sebelumnya si abah bbm bilang “ulang tahun keluarga kita liburan ke **** yuks” …. buat seseorang yang gak pernah inget hari ulangtahunnya sendiri, ini hal yang luar biasa….berarti saya berhasil membrain-wash nya haha…Yang kedua….selagi saya berencana untuk mengumpulkan foto momen bersama kami, si sulung Azka suatu hari datang dengan ide brilian. Dia akan bikin “short movie” perjalanan keluarga….maklum, baru 3 minggu lalu dia diajarin “movie maker” di les fotografinya…

Berdasarkan teori  “Kisaran Kerentanan Relasi Antar Pasangan Pada Usia Perkawinan” yang saya dapat dari  Prof Dr. Sawitri Supardi Sadarjoen, maka pernikahan kami ini (10-15/18) termasuk usia “lampu kuning”. Katanya di usia ini, baik istri maupun suami masuk ke masa “puber kedua”. Tapi istri biasanya fokus untuk menghadapi anak pertama yang umumnya sudah menginjak remaja. Bila tidak diwaspadai, suami bisa fokus pada remaja lain di luar perkawinan hehe …(wil gituh 😉. Tapi istri juga rentan dengan hadirnya pil, sehingga di usia pernikahan ini sering juga terjadi perceraian. Kalau ditinjau dari tahap perkembangan keluarga, maka menurut om Duvall (1977) kami sedang berada pada tahap perkembangan “family with school children”; yang salah satu tugas perkembangannya adalah “mempertahankan keintiman sebagai pasangan” disamping membantu anak-anak mencapai tugas perkembangannya.

Penghayatan kami sendiri…kami sedang merasa “nyaman-nyamannya” di usia pernikahan kami sekarang ini. Ya…berantem-berantem sih masih….tapi “basic trust” antar kami, rasanya telah terbentuk dengan kuat. Frekuensi pun sering nyambung. Empati dan “perspective taking” kerasa banget tumbuh dan berkembang. Pertengkaran-pertengkaran hanya berada di ranah “permukaan”; misalnya milih furniture…hehe…

Gak ada lagi “tragedi sukiyaki” seperti yang saya tulis di note facebook beberapa tahun yang lalu. Sekarang, bahkan  kami sudah bisa “bertelepati”. Di tempat yang berbeda, saya dan mas melakukan hal yang kami harapkan. Yang paling sederhana….pernah saya ke pasar tanpa mas. Di perjalanan pulang, mas nelpon minta dibeliin kue cucur kesukaannya. Tentu saya bilang “terlambat nelponnya”. Nyampe rumah….tadaaaaa….kue cucur saya hidangkan. Itu yang pertama kali saya beli di pasar tadi…haha…. Mas juga begitu. Pulang kerja, bawa sesuatu yang saya pengen banget, padahal saya gak bilang…

Sebulan lalu, si abah bilang gini: “enak ya de, kita sudah saling memahami” …. itu gara-garanya, saya minta tolong mas pesan sesuatu ke temennya. Tapi sebagai orang yang antisipatif dan tau kalau mas pelupa, saya juga langsung menghubungi temen mas tersebut untuk pesen. Dua minggu kemudian, saya “tagih” ke mas, mana pesenan ke temen mas? mas bilang lupa banget…maaf…begitu dia liat di meja…tadaaaa barangnya udah ada…… itu yang dia bilang “kita sudah saling memahami kekurangan masing-masing”. Demikian pun mas. Sudah sangat memahami kebiasaan-kebiasaan buruk saya, dan sudah tau harus bersikap gimana  yang membuat saya pas insyaf, jadi malu sendiri hehe…

Nah, artinya….selama 12 tahun ini kami sudah saling “bergerak”. Entah itu didorong oleh cinta atau komitmen. Gak penting lah…yang penting, kita mau “bergerak” memahami pasangan. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas dalam tulisan ini. Saya ingin mencoba menjawab pertanyaan seorang teman : “bisakah kita merubah pasangan?”.

Merubah pasangan. Merubah kepribadiannya, kebiasaan buruknya. Bisakah? mmmhhhh….karena ini dalam konteks sebagai seorang yang telah mengarungi perjalanan pernikahan selama 12 tahun, maka saya akan jawab dengan referensi pengalaman. Tapi sebelum itu, saya ingin mengajukan sekaligus menjawab satu pertanyaan.

Haruskah kita mengubah pasangan? itu pertanyaan saya. Jawaban saya? Harus. (Kau yang bertanya….engkau yang menjawab…#dinyanyiin pake lagu dangdut#). Kenapa harus? karena itu bagian dari kewajiban sesama muslim. Amar ma’ruf nahi munkar. Kalau suami kita merokok kita diem aja….suami kita suka mengejek orang kita diem aja….suami kita berlebihan main games kita diem aja…tentu itu tidak benar. Apalagi kalau nanti kita semakin “senior”… mungkin status sosial ekonomi  suami kita udah semakin tinggi….. jadi bos di kantor, disegani masyarakat…akan semakin sedikit orang yang bisa “mengingatkan”. Siapa lagi yang bisa “mengingatkan”nya selain kita, pasangannya? Jadi kita harus “mencanangkan” dalam hati, bahwa kita adalah orang yang selalu akan “menjaga pasangan kita” untuk selalu berada dalam kebenaran dan kebaikan.

Nah, sekarang baru ke pertanyaan temen saya itu. Bisakah kita merubah pasangan ? jawaban saya : BISA. Sejauh mana kita bisa merubah pasangan ? Naaah…ini yang rada “tricky”.

Mengubah kepribadian? berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya, kepribadian bukan hal yang mudah untuk diubah. Itulah sebabnya, para konselor pernikahan suka meminta calon pasangan suami istri untuk mengetahui kecenderungan-kecenderungan perilaku bermasalah pasangannya. Itu sebabnya juga, ketulusan untuk “mengubah pasangan” yang menggebu sebelum pernikahan, pada umumnya berakhir dengan keputusasaan. Kata rekan saya yang banyak bergerak di dunia KDRT, pada umumnya istri sudah mengetahui kecenderungan suami yang suka menganiaya fisik. Sebagian bahkan sudah mengalami KDP (kekerasan dalam pacaran).

Jadi, apa dong yang bisa diubah? Ada hukum dasar dalam psikologi: B=f (P,E). Behaviour atau perilaku adalah fungsi dari environment dan personality. Kita sulit untuk mengubah personality pasangan kita, yang udah terbentuk saat kita bertemu dengannya. TApi kita BISA mengubah behaviour pasangan kita. Artinya, perilaku dalam konteks tertentu.

JAdi, kita tak akan pernah bisa mengubah suami kita yang pendiam jadi supel. Tapi kita bisa membantu agar  PERILAKU suami kita berubah,  tak mengurung diri di kamar saat berkunjung ke rumah orangtua kita. Kita akan sulit mengubah kecenderungan agresi suami kita, tapi kita bisa mengubah perilaku suami kita untuk tak memaki-maki orang yang nyalip saat ia menyetir, di depan anak-anak. Biar berimbang…suami akan sulit mengubah sikap impulsif istrinya untuk belanja. Tapi suami bisa mengubah perilaku belanja istrinya, saat ia lagi bokek.

Dan perubahan PERILAKU itu, sudah cukup untuk membuat kehidupan berumahtangga menjadi nyaman. Apapun dasar pernikahan kita- entah itu cinta, komitmen, atau intimacy kalau pake teori Triangular Love-nya Sternberg; itu akan cukup membuat kita merubah PERILAKU yang diharapkan oleh pasangan. HAnya satu syaratnya. KEDEWASAAN. Itulah sebabnya pernikahan itu, adalah tugas perkembangan di usia dewasa.

Jadi, kalau mau flashback…memilih calon pasangan itu….ganteng/cantik boleh; soleh/solehah harus; kaya gak apa-apa, pinter gak salah…namun yang WAJIB harus di-cek adalah, apakah ia cukup dewasa untuk mau MENDENGARKAN dan FLEKSIBEL untuk MAU MENGUBAH  PERILAKUNYA DALAM SITUASI TERTENTU, situasi yang bermakna bagi pasangannya.

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj-’alna lil-muttaqîna imama.
  “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqan: 74).

Itulah sebabnya, kita tak akan pernah bisa membalas sang surya …..

Beberapa hari lalu, saya bertemu seorang “senior” yang kebetulan membaca tulisan saya https://fitriariyanti.wordpress.com/2014/04/22/nyala-api-kehidupanmu-nikmatilah. Sebagai seorang ibu yang  telah berada di tahap ke-6 dalam perkembangan kehidupan keluarganya, dimana beliau akan segera me”launching” putri bungsunya, beliau menyampaikan bahwa …. “keriweuhan” di fase 3 dan 4, itu jauuuuh lebih “mudah” dibanding “mencari dan menyalakan kembali api kehidupan” kita di masa ketika tak ada anak-anak yang “tergantung” pada kita.

Saya terus terang merasa sangat beruntung bisa beraktifitas bersama banyak rekan-rekan, senior dan junior dari beragam tahap perkembangan kehidupan. Amat banyak pelajaran dan penghayatan yang saya dapat terutama mengenai hubungan orangtua-anak. Membaca puluhan kali buku “life span development” ga ada apa-apanya dibanding mendengarkan pengalaman dan perasaan mereka…

Selama ini, fokus saya adalah hubungan antara saya sebagai ibu, dengan anak-anak saya. “Bergaul” dengan para senior saya, melebarkan cakrawala penghayatan saya, pada hubungan ibu-anak, dimana saya sebagai anak.

Jujur saja, dalam tahap perkembangan kita sekarang, kita cenderung jauuuuh lebih fokus pada keluarga kita sekarang. Ibu-ayah kita, mungkin jadi prioritas keberapaaaa secara psikologis. Ruangnya di hati kita, keciiiil sekali. Rutinitas keseharian dengan anak-anak kita membuat kita seakan “melupakan” mereka. Mungkin secara psikologis kita hanya menghadirkan mereka setahun sekali, saat lebaran. Atau 2 tahun sekali, plus saat mereka ultah. Atau saat mereka sakit. Di hari-hari biasa… Mungkin kita tak merasakan kehadiran mereka, dan oleh karenanya tak memberi perhatian.

Saya dulu pernah terkaget-kaget, ketika mendengarkan  senior yang sedang mengobrol dan bercurhat ria tentang bagaimana “beratnya” rasa ketika mereka harus “melepas” anak-anak mereka pada orang lain. Saya gak pernah kebayang…dan karena mamah saya bukan orang yang biasa mengungkapkan emosinya pada saya, sangat mungkin mamah saya juga mengalami hal serupa, namun tak terungkapkan.

Ya, saat prosesi pernikahan kita sungkem pada ortu, kita saling menangis, seringkali kita merasakan sedih yang amat sangat. Rasanya, memori-meori indah selama puluhan tahun bersama orangtua, hadir kembali di moment itu. Sekarang saya tahu… bahwa kesedihan itu, tak ada apa-apanya dibandingkan kesedihan orangtua kita. Kenapa? Karena kita akan menyongsong kehidupan baru bersama orang yang kita cintai….sedangkan orangtua kita, ibu kita…mereka akan melepas orang yang mereka cintai, seseorang yang mereka “miliki”, seseorang yang menjadi “pusat dunia” mereka selama puluhan tahun. *berkaca-kaca*

Minggu lalu, di pengajian yang saya ikuti pak ustadz menceritakan satu kisah. Tentang seorang pemuda Yaman bernama Uwais Al Qorni. Saya pernah mendengar kisah ini waktu di tanah suci. Dia adalah seorang yang tak diketahui di kalangan manusia namun amat terkenal di kalangan malaikat. Kenapa? Karena pengorbanan pada ibunya. Ia menggendong ibunya yang tuli, buta dan lumpuh dari Yaman ke Mekah untuk berhaji. Pak Ustadz bercerita kalau Uwais Al-Qoniy bertanya pada Rasulullah, apakah apa yg ia lakukan bisa membalas jasda ibunya padanya? Rasulullah menjawab tidak. “Andaikan seluruh tubuh ibumu bernanah dan kau jilati seluruhnya, belum bisa membalas jasanya” begitu yang disampaika pak ustadz.

love motherDulu, setiap kali ada bahasan tentang orangtua, saya selalu membayangkan pengorbanan mereka yang sifatnya kasat mata. Semakin lemah dan bertambah lemahnya saat hamil, meregang nyawa saat melahirkan, jatuh bangun menyusui, kelelahan begadang menemani saat sakit…kini, saya menghayati satu aspek pengorbanan mereka, yaitu pengorbanan psikologis. Rasa cemas, khawatir, sedih, takut, campur aduk perasaan negatif mereka, mulai dari kita masih dari rahim, sampai mereka harus melepaskan kita….Dan tak hanya sampai itu! mereka pun harsu “belajar” bagaimana menjadi mertua, menjadi nenek….yang kadang…pengalaman belajar mereka tak selalu menyenangkan.

Ya, ya…kita memang tak akan pernah bisa membalas jasa mereka. Apalagi jasa ibu, yang diisyaratkan oleh Rasul, tiga kali  lipat dari ayah.

Saya jadi malu…kadang saya menilai mama saya “lebay” kalau sering nelpon bilang kangen cucu-cucu, padahal baru minggu kemarin berkunjung. Saya juga malu karena dengan alasan kesibukan rutinitas gak rutin telpon mertua setiap minggu.

Ya, kita memang tak bisa membalas jasa ibu-ayah kita. Namun sedikit  membahagiakan meraka, masih bisa kita lakukan. Dengan menelpon, berkunjung, dan pak ustadz bilang, mendoakan ba’da sholat itu WAJIB ! Hukumnya. Apalagi jika ortu kita sudah wafat. Doa adalah satu-satunya cara “memeluknya”. Melapangkan dan menerangi kuburnya.

Dan yang lebih penting lagi, ingetin pula suami kita. Jangan sampai justru kita jadi penghgalang cinta suami kita sama ibu mereka. Dorong suami untuk prioritaskan ibunya dibanding kita. Kalau terasa berat, bayangkanlah bagaimana beratnya perasaan mertua, saat anak laki-laki yang mereka urus sejak kecil, mereka sekolahkan sampai sarjana, mereka khawatirkan, kini kita “rebut cintanya”. Kalau kata mamah dedeh mah gini : “eh, istri…elu tuh ketemu sama suami dia udah ganteng, udah keren, udah sarjana. Nah emaknya…die yang ngurus dari suami kita gak bisa apa-apa sampai jadi keren pas ketemu kita “

Robbighfirli wali walidayya warhamhumma kama robbayani soghiro.
Ya Tuhan kami ampunilah kedua orangtuaku dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka telah mengasihi dan mendidikku di waktu kecil.{QS: AL ISRO’ 24}

Kasih ibu….Kepada beta….Tak terhingga sepanjang masa…. Hanya memberi …… tak harap kembali ……

Bagai sang surya menyinari dunia….

Saat anak kita mengalami kegagalan …..

Kalau ada yang bilang wanita itu tidak bisa mencintai lebih dari satu orang pada waktu yang sama, saya gak setuju. Karena saya bisa. Saya mencintai 4 orang yang berbeda, dalam waktu yang sama. Dengan cinta yang sama besar, namun berbeda rasanya. Empat orang itu tentulah anak-anak saya. Kaka Azka si hampir 11 tahun, Mas Umar si 8 tahun. Kaka Hana si hampir 5 tahun, dan de Azzam si 2 tahun.

Saya mencintai mereka sama besar. Mereka berempat sudah hafal cerita “empat gunung sayang” yang suka saya ceritakan, terutama meladeni request Hana. Saya bilang “ibu punya empat gunung sayang. Satu gunung buat Kaka Azka, satu gunung buat Mas Umar, satu gunung buat de Azzam…….” saya menikmati sekali saat Hana bertanya “Satu gunung lagi buat siapa?” dengan wajah ekspresifnya yang cemas….biasanya, sengaja saya menunjukkan wajah bingung. “Buat siapa ya……buat ab……” nah, dia biasanya sampai nangis kalau dibilangin gitu. Tapi begitu saya bilang “satu gunung lagi buat  si kriwil yang istimewa” ….binar matanya yang rada sipit itu terlihat jelas sambil jerit-jerit kegirangan atau peluk-peluk dan cium basah haha…

Seperti semua ibu yang lain, saya mencintai mereka sama besar namun dengan “romantisme” yang berbeda. Saya punya memori-memori yang tak terlupakan dengan masing-masing dari mereka. Dan, dalam tulisan ini yang ingin saya ceritakan adalah memori bersama Kaka Azka. Saya punya “chemistry” yang kuat dengan Azka. Mungkin karena sama-sama anak pertama. Daaan…kalau Umar itu adalah “little abah”, maka Azka adalah “kembaran ibu”  kata si abah. Mulai dari hal-hal yang positif seperti rajin belajar, gemar menabung dan banyak sahabat haha….sampai hal negatif misalnya cara marah hehe….

azkaWaktu kelas empat, Azka pengen banget jadi dokter kecil. Karena cita-citanya ingin jadi dokter. Saya mendukungnya sepenuh hati. Dan saya pun menyemangatinya dengan menceritakan bagaimana dulu pun saya menjadi dokter kecil waktu SD. “Kebanggaan” memakai jas putih dokter itu, semangat saat mengikuti lomba dokter kecil antar sekolah….dll dll. Sayangnya karena kuota untuk jadi dokter kecil di sekolah Azka terbatas, dilakukan seleksi. Seleksinya 2 tahap. Tulis dan praktek. Di semester pertama dia ikut test, dia gagal. Semester selanjutnya, saya kembali mendorong dia. Dia pun rajin menghafalkan materi-materi yang akan diujiankan. Sampai suatu hari dengan riang dia mengatakan lolos seleksi tertulis. Tinggal test praktek.

Saya ingat banget saat itu suatu sore, sepulang sekolah dia dibawa sopir menjemput saya. Dengan ragu dia berkata…“bu, Kaka gagal lagi”. “Oh kenapa?” saya tak berhasil menyembunyikan kekagetan saya. “Iya, tadi kan ujian prakteknya disuruh praktek P3K membalut luka, terus dikasih batas waktu. Pas waktunya habis Kaka belum selesai“. Saya ingat betul apa yang saya rasakan saat itu. Saya ingat bahwa saya tidak tahu apa nama perasaan yang saya rasa. Yang jelas, rangkaian kalimat ini yang dengan lancar keluar dari diri saya adalah: “tuh kan..ibu kan udah bilang…Kaka itu, kalau apa-apa itu harus lebih cepet. Udah sering loh, ibu bilang gitu. Nah, akibatnya gini kan….Makanya, coba kaka turutin ibu…berusaha lebih cepet kalau apa-apa teh”. Tapi syukurnya, kalimat itu hanya terucap dalam hati.

Ada yang menahan saya untuk tak mengucapkannya. Yaitu kata-kata Azka selanjutnya. “Tapi gak apa-apa bu….banyak kok temen-temen Kaka juga yang gagal”. Dia menyebutkan beberapa nama sahabatnya. “Lagian kan, Kaka mungkin masih bisa ikut lagi semester depan. Kaka akan berusaha lebih keras”. Hiks..hiks…kenapa sekarang jadi berlinang ya…persis seperti saat itu. Saya sangat mengenal kalimat itu. Bukan persis kalimatnya. Tapi “pesan” yang ingin disampikan dibalik kalimat itu.Itu adalah “pesan” yang selalu saya sampaikan pada mama, pada papa saya saat saya mengalami “kegagalan”. “Menghibur mereka”. Karena saya merasa, telah mengecewakan mereka”. Saya harus menunjukkan bahwa saya kuat, I’m oke. Tapi benarkah saya sekuat itu?

Dalam waktu sepersekian detik, saya pun teringat satu pengalaman. Saya pernah bertemu seorang anak remaja. Dia gagal masuk di jurusan-jurusan yang diinginkannya di perguruan tinggi. Ibunya yang terlebih dahulu berkata pada saya, menyampaikan betapa hancur hatinya, betapa cemas dia akan masa depan anaknya. Si ibu pun mengatakan anaknya malah “lempeng-lempeng aja”. Lalu saat saya bertemu si anak, ia menyampaikan sesuatu yang tak pernah saya duga. “Ibu pikir saya tidak kecewa dengan kegagalan saya? saya kecewa bu, sedih, hancur. Dan saya harus mengatasi kekecawaan saya, juga mengatasi kekecewaan orangtua saya”.

Saat itu, saya ingat betul, saya “tersadar” dan memeluk Azka dengan erat. Saya …. secara “refleks” hampir saja akan menjadi ibu yang menambah beban bagi anaknya. Saya tahu, Azka kecewa. Sangat kecewa. Sedih, sangat sedih. Ia begitu ingin menjadi dokter kecil. Tapi dia berusaha tegar. Sikap ibunya membuatnya harus berusaha mengobati kekecawaan dan kesedihannya seorang diri, PLUS mengatasi kekecewaan ibunya. Waktu itu lalu saya tanya….“Kaka sedih ya?” dan pecahlah tangisnya. Kami pun berdua berpelukan sambil menangis. Saya usap-usap kepalanya. Saya tak mau bilang apa-apa. Takut terdengar sebagai basa-basi. Saya cuman mau peluk dia, semoga dia merasa bahwa dia tak perlu merasa  harus menguatkan diri. Saya maluuu sekali. Saya hampir melakukan satu kesalahan fatal. Seharusnya, sebagai seorang ibu saya yang “melindungi” dia, bukan dia yang berusaha “melindungi” saya.

Ya, salah satu hal terindah yang saya pelajari dari anak-anak saya adalah, bagaimana saya harus terus…terus dan terus belajar untuk mencintai mereka. Dalam keadaan apapun. Peka menghayati perasaan mereka, bersikap “bijak” menemani mereka dengan tulus, tanpa syarat. Saat anak kita mengalami kegagalan, yang mereka butuhkan adalah dukungan. Bukan celaan. Ya, seringkali kekecewaan kita sebenarnya lebih pada karena kita merasa bahwa keberhasilan yang seharusnya diraih itu, sangat penting buat anak kita. Kita sangat ingin anak kita bahagia dan berhasil mencapai apa yang kita inginkan. Sayangnya, sikap kita secara spontan sama sekali tak menggambarkan hal itu. Mungkin karena kita terlalu egois untuk lebih peduli pada perasaan kita dibanding perasaan anak kita.

Kaka Azka, Ibu love You…More and more…

Suatu hari….di kala kita duduk di tepi pantai …

Berawal dari obral-obrol di wa grup, alhamdulillah long wiken kemarin saya bisa bersilaturahim dengan 9 keluarga sahabat aktivitas di KARISMA Salman ITB di salah satu villa di kawasan Pantai Carita-Cilegon. Acara kumpul-kumpul pasca kami menjadi “alumni” ini adalah yang kedua kalinya. Kumpul-kumpul pertama adalah di Gambung, Ciwidey. Bulan Maret juga. Lima tahun lalu. Dari 9 keluarga itu, 5 diantaranya “pasangan incest” termasuk saya hehe…

Acaranya? tak ada yang terjadwal. Karena semua sibuk dengan balita-nya masing-masing. Apalagi TKPnya di pantai. Tak kenal waktu, anak-anak selalu tak bisa tertahankan untuk bermain di pantai. Beres main di pantai? langsung nyebur ke kolam renang. Begitu terus siklusnya dari sabtu siang sampai minggu siang kita berpisah.

Di sela-sela kehebohan mengurus anaknya masing-masing, minggu pagi kami sempat berkumpul “mengenang” mentoring pagi yang kami lakukan belasan tahun lalu. Belasan tahun lalu, waktu sebagian besar kami masih “belum berbobot”, waktu belum ada balita yang mengganduli kami. Meskipun hanya kurang lebih setengah jam, sesi itu berhasil mengundang gelak tawa. Si bapak-bapak, semalam setelah acara barbeque ternyata melanjutkan percakapannya sampai jam setengah 12 membocorkan sedikit apa yang mereka bahas semalam. Walau tak tahu pasti apa yang dibicarakan, saya jamin pasti seru. Pasti temanya macem-macem dari sabang sapai merauke, debatnya panas, yang ujungnya satu : gelak tawa. Persis belasan tahun lalu. Ibu-ibunya? juga masih seperti belasan tahun lalu. Kalau ketemu curcol. Cuman beda topik. curcolnya kini tentang anak.

Setelah itu, ada sedikit game untuk anak-anak. Mengamati interaksi ke-26 anak yang hadir, menjadi keseruan tersendiri buat saya. Senaaaang sekali mereka masing-masing menjalin “geng-geng” persahabatan, dengan caranya masing-masing. Melihat interaksi para bapak-bapak yang begitu hangat sama anak-anaknya, juga sangat memperkaya hati. Sementara ibu-ibunya, setelah bertransformasi menjadi emak dengan beberapa anak, ternyata kemampuan manajemennya tak berkurang sama sekali. Masih setangkas waktu mengelola mentoring atau pembinaan calon pembina belasan tahun lalu. Cuman beda aja yang dikelola. Kali ini yang dikelola adalah beragam masakan yang maknyusss waktu disantap beramai-ramai.

Dulu, sekitar tahun 2011, ketika waktu saya beraktifitas di karisma telah habis karena mau lulus, saya pernah duduk di tangga masjid Salman ITB, menatap satu demi satu tempat kami biasa berkumpul entah untuk rapat ataupun hanya ngobrol-ngobrol. Koridor, lantai kayu, halaman rumput….aduuuh…saya gak kuat nangis waktu itu (hiks…kenapa jadi berkaca-kaca gini ya…). Saya ingat waktu itu bertanya dalam hati..”bagaimana saya dan sahabat-sahabat saya 1o tahun lagi ya? semoga dipanjangkan umur…”. Kini ….10 tahun itu sudah berlalu. Saya bersyukuuur sekali masih bisa bertemu dan “menjalin persahabatan” dengan teman-teman di Karisma.

Dari sekian banyak kegiatan dan pertemanan yang saya alami, jujur saja pertemanan dengan orang-orang Karisma adalah yang paling berkesan untuk saya. Mungkin karena waktunya pas di tahap usia saya “sedang mencari jatidiri”; sehingga pengalaman yang  saya hayati dari  sahabat-sahabat di Karisma cukup memberi warna pada diri saya sekarang.

karismaUniknya, pertemanan kami justru erat karena kami yang amat berbeda. Dari jaman kita culun dulu sampai jaman sekarang kami, kami mengambil jalan yang berbeda. Mulai dari cara berpakaian, aspirasi politik, madzhab fikih, pilihan profesi…apapun…..di WA grup, diskusi kami bisa sangat panas….sepanas raker belasan tahun lalu. Tapi….mungkin teori “sibling” berlaku pada kami. Kan katanya, antar saudara itu berantemnya bisa hebat banget karena masing-masing merasa “aman” dan yakin bahwa saudaranya tak akan melakukan hal yang menyakiti dan melukai. Sepanas apapun perdebatan kami, setelah itu tak ada jejak perasaan personal apapun. Akhirnya, selalu kami mengambil jalan masing-masing dan menghargai perbedaan yang ada.

Waktu koordinasi untuk ketemuan di Gambung Ciwidey 5 tahun lalu, kami masih menggunakan media milis sebagai sarana komunikasi. Setelah milis cuman diisi jangkrik yang mengisi keheningan, akhir tahun lalu tiba-tiba saya diinvite ke grup wa. Tahun-tahun ke depan, entah apa lagi yang jadi media kami. Yang jelas, saya senaaaaang sekali ikatan antara kami tak terputus. Minimal di milestone kehidupan sahabat kami  bertemu. Menikah, punya anak…mudah-mudahan  teruuuus sampai nanti saatnya menikahkan putera-puterinya, dan merayakan kelahiran cucu-cucunya.

Sebenarnya, di luar romantisme persahabatan, saya dapat satu hal dari sahabat-sahabat saya ini. Role model. Kesederhanaan, keikhlasan, konsistensi, kesungguhan, dll dll  yang sejak dulu kita bicarakan sebagai idealisme, mewujud dalam bentuk tiga dimensi dalam diri sahabat-sahabat saya itu. Saya punya role model sahabat yang sangat menonjol keistiqomahannya, saya punya role model sahabat yang unggul dalam kesungguhannya, dll dll…..

Semoga persahabatan kita abadi. Dengan media doa, tak hanya di dunia. Tapi juga di akhirat. Nanti kita bisa mentoring lagi disana.

 

Saat anak kita “bermasalah” ….

Dalam beberapa sesi parenting yang saya isi, biasanya saya memulai dengan memberikan “kuis”. Kuisnya sih sederhana, saya berikan pernyataan dan peserta diminta memilih apakah jawabannya benar atau salah. Selain berfungsi sebagai ice breaker, melalui “kuis sederhana” ini saya bisa mengetahui pengetahuan serta “value” peserta mengenai materi yang akan saya bawakan. Salah satu pertanyaan yang sering dijawab salah oleh para peserta adalah pertanyaan saat anak kita “bermasalah” atau melakukan perilaku yang “buruk”, kita harus menerimanya. Rata-rata peserta menjawab “salah” …..

Saya percaya dan meyakini, bahwa orangtua terutama ibu adalah “perwujudan” sifat Rahim-nya Allah. Salah satu penafsiran “Rahim” dalam tafsir Al Misbah adalah, rahim itu adalah kasih sayang Allah untuk seluruh umat manusia. Mau muslim atau bukan, mau baik atau jahat….  Di dalam diri seorang ibu ada yang namanya “rahim”, tempat ia mengandung anaknya selama sembilan bulan. Jadi, seorang ibu haruslah memiliki sifat rahim; yaitu menyayangi anaknya; mau anaknya melakukan perbuatan baik atau buruk, berprestasi atau tidak, “bermasalah” atau tidak……dalam psikologi, itulah namanya unconditional love. Anak tak perlu memenuhi  persyaratan apapun untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang ibunya.

Salah satu bentuk dasar dari mencintai dan menyayangi adalah menerima apapun kondisi anak kita. Baik kondisi yang baik maupun yang buruk. Secara lebih konkrit, saat anak kita mengalami kondisi perkembangan yang kurang ideal: misalnya mengalami gangguan perkembangan tertentu, yang pertama kali yang harus kita lakukan adalah menerima kondisi itu. Misalnya anak kita mengalami mental retardation sehingga perilakunya jauuuuh dibanding usianya, anak kita mengalami autism, speech delay, attention deficit disorder, kesulitan belajar, dll dll. Demikian pula jika anak kita melakukan sesuatu yang buruk; misalnya kecanduan nonton pornografi, agresif sehingga membully temannya, melawan, sampai hal-hal sederhana seperti malas belajar, tidak disiplin, dll.

Kenapa menerima ini menjadi hal yang sangat penting? Karena sikap ini akan menentukan secara signifikan langkah apa yang selanjutnya dilakukan oleh si ibu, dan apa efek jangka panjangnya pada anak. Ibu yang “tidak menerima” kondisi anaknya, output perilakunya ada dua : (1) dia akan menyalahkan lingkungan, atau (2) dia akan menyalahkan anaknya. Misalnya seorang ibu punya anak hiperaktif. Di tempat umum, anak tersebut “mengganggu” orang lain. Jadilah orang lain komplain terhadap si ibu. Jika si ibu tidak menerima kondisi anaknya, yang mungkin dilakukan si ibu adalah tidak mau mendengarkan dan menyalahkan orang yang complain terhadapnya, atau memarahi anaknya yang sudah “mengganggu” orang lain. Kalau seorang ibu tak mau menerima bahwa anaknya mencuri uang teman sekelasnya, bisa jadi sikap ibu adalah mengatakan itu salah sekolah atau teman anaknya, atau memarahi anaknya.

Saya tidak mau bicara teori mengenai sikap “menerima” seorang ibu ini. Saya ingin cerita tentang penghayatan saya, karena saya mengalaminya.

Berbeda dengan kakaknya yang perkembangannya smooth dan “baik-baik saja”, anak kedua saya Umar yang sekarang sudah kelas dua SD, kondisinya membuat saya harus menghayati dan belajar mengenai makna unconditional love. Ya, hanya mengenai Umarlah saya sering menangis. Beragam macam tangis. Ia punya kelebihan yang amat menonjol sehingga beberapa kali saya menangis haru atau bangga, di sisi lain dia pun punya kekurangan yang menonjol yang membuat saya menangis sedih, khawatir atau kesal karena perilakunya.

Salah satu kondisi yang harus saya terima dari dia adalah kecenderungan perilaku “ADD”-attention deficit disorder- atau bahasa indonesianya “gangguan pemusatan perhatian”. Memang sangat ringan. Bahkan untuk akademik tidak mengganggu. Alhamdulillahnya dia dikarunia kecerdasan sehingga dengan masalahnya ini, dia tetap mendapatkan nilai-nilai yang menonjol. Hanya yang terasa cukup siginifikan adalah dalam perilakunya dan muncul secara nyata waktu dia mulai masuk SD. Kehilangan buku dan alat tulis di sekolah seriiiing sekali terjadi. Ketinggalan alat tulis dan buku untuk dibawa ke sekolah pun bukan sekali-dua kali. Kehilangan jadwal pelajaran, jadwal ujian dan informasi penting lainnya dari sekolah pun tak jarang terjadi. Di semester satu kelas satu, yang saya lakukan adalah …. “menasehati”, “memberi konsekuensi” (gak beliin lagi dia alat tulis untuk ganti alat tulisnya yang ilang)….”mengomeli” …… yang semuanya itu, ternyata tak berhasil menyelesaikan masalah. Saya tetap kesal, perilaku Umar tak berubah. Nangis karena kehilangan barang atau gak tau besok mau ujian apa, sering terjadi.

Sampai suatu saat, saya ketemu dengan seorang anak. Remaja. Dia kecanduan main game. Ada  kata-kata anak itu yang begitu “menusuk” buat saya : “Saya pengen mama bantu saya. Nyita komputer saya kek, apa kek…gak cuman nasehatin atau marahin. Saya tau banget apa yang saya lakukan salah, sia-sia, gak berguna…saya juga pengen berhenti….tapi saya gak bisa sendiri…. saya perlu dibantu….saya gak mau ditinggalin berjuang sendirian” .

Ya Allah…..itulah yang selama ini saya lakukan pada Umarku. Saya “meninggalkannya berjuang sendirian”. Saya hanya menuntutnya…tak mau peduli kesulitan yang ia alami. Ya, sebagai psikolog harusnya saya paham betul bahwa perilakunya selama ini bukan karena dia “lalai”, “tidak bertanggungjawab”, tapi dia mengalami situasi yang harus dibantu !

Saya juga jadi ingat….dua poin dalam kuesioner yang bisa digunakan dalam pemeriksaan psikologi pada siswa adalah poin pertanyaan: (1) a. apa mata pelajaran yang kamu rasakan sulit? b. bagaimana reaksi orangtuamu? (2) a. pada mata pelajaran apa kamu sering mendapat nilai jelek? b. bagaimana reaksi orangtuamu? Dari ratusan data yang pernah saya baca, hampir seluruh  jawaban untuk pertanyaan 1b adalah “menasehati”, dan hampir seluruh jawaban untuk pertanyaan 2b adalah “memarahi”.

Tidak !!! saat anak kita mengalami masalah, dia tidak butuh dinasehati, apalagi dijudge, diomelin, dihukum, dimarahi……yang dia butuhkan adalah diterima, dipahami, ditemani dan dibantu untuk memecahkan masalahnya.
Jangan-jangan, saat kita hanya menuntut dan tak mau “terjun” membantu anak kita mengatasi masalahnya, itu karena kita juga gak tau gimana cara mengatasinya !!! Sebenarnya, kita gak perlu jadi “super” dan “bisa” memecahkan masalah anak kita sendirian….tapi sikap menerima, memahami, menemani dan membantu, akan mengarahkan kita pada upaya mencari bantuan dari pihak lain…jadi anak juga belajar dan punya model untuk melakukan langkha-langkah pemecahan masalah…

Sejak saat itu sikap saya pada Umar berubah. Memang berproses. Saya harus berterima kasih banyak pada Mas, yang banyak membantu saya untuk memahami kondisi Umar (mungkin karena mas memiliki kecenderungan yang sama dengan Umar haha….). Saya mengajarkannya untuk melakukan tindakan antisipasi untuk menanggulangi masalahnya. Setiap kali dia mendapat surat penting, entah itu jadwal uts, jadwal pelajaran, dll saya ajarkan dia untuk menscannya langsung. Jadi, saat hilang dia masih punya kopiannya di komputer. Saya ajarkan dan ingatkan terus untuk menyimpan semua keperluan sekolahnya di meja dan lemari belajarnya. Saya belikan styrofoam buat dia menempelkan seluruh lembaran penting yang dia dapat dari sekolah. Dan dengan cara yang amat sederhana ini, seluruh permasalahan mengenai kehilangan informasi penting dari sekolah, terselesaikan ! Lupa bikin PR yang dulu sering terjadi? sudah tak pernah terjadi lagi dengan aturan membereskan buku dan mengecek pelajaran untuk pelajaran besok siang hari sepulang sekolah, sebagai syarat dia boleh main.

Tentunya masih ada stau-dua insiden. Minggu lalu dia menangis pagi-pagi sambil mencari buku PKNnya hilang. Ada yang berubah dalam diri saya. Dulu, kalau dia nangis gitu, saya akan mengomeli dia….tapi minggu lalu itu, saya tatap wajahnya….saya rasakan kepanikannya dan ketakutannya…ya, saya tahu….dia menangis bukan karena tidak bertanggungjawab seperti yang sebelumnya suka saya bilang ke dia. Dia menangis karena bingung bagaimana dia belajar di sekolah nanti…dia menangis karena menyesal tidak disiplin menyimpan bukunya. Dia menangis, perlu dibantu. Akhirnya saya tenangkan dia, menawarkan mengontak gurunya untuk menjelaskan, dan meminta dia meminjam buku temannya untuk difotokopi kalau sampai besok buku itu dicari tidak ketemu.

Malam ini, dia minta saya membantunya menghafal perkalian. Gurunya bilang  yang belum lulus test gak boleh ikut fieldtrip lusa. Fieldtripnya ke waterboom, yang dia suka banget. Senin dan Selasa dia sudah ditest dan gagal. Saya pandangi wajah kusut dan cemasnya. Saya carikan link di youtube yang bisa memudahkan menghafal perkalian itu. Saya ajak dia liat yutub itu, saya test dia…dan ketika jawabannya selalu salah serta membuat saya secara otomatis ingin marah, saya coba ingatkan diri saya….dia perlu dibantu. Saya minta dia tidur dan janji membangunkannya jam empat untuk mulai menghafal lagi. Setengah jam lalu dia terbangun, mengambil kertas PRnya yaitu menuliskan perkalian itu dalam 3 lembar HVS yang belum dia selesaikan….

you are not aloneSaya selalu menghayati bahwa, setiap anak yang Allah anugerahkan pada kita, mengajarkan sesuatu pada kita. Dan dari Umar-ku, saya belajar bagaimana mencintainya dengan tulus, dan selalu mengatakan “you are not alone, i’m here with you…”

My Love Songs (Edisi Lebay haha…)

Nantikanku di Batas Waktu
By Kang Deden Edcoustic-Karisma
Berdoa di kedalaman hatiku/Tersembunyi harapan yang suci/Tak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihanmu/Yang terukir menghiasi dirimu/Tak perlu dengan kata-kata
Sungguh walau ku kelu/Tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku/Jangan salahkan
Kalau memang kau pilihkan aku/Tunggu sampai aku datang/Nanti kubawa kau pergi/Ke surga abadi
Kini belumlah saatnya/ Aku membalas cintamu/Nantikanku di batas waktu

Ketika  Dua Hati Menyatu

By Kang Dani Seismic/Epicentrum

Saat dua hati berjanji/Tuk arungi hidup di jalan-Nya/Allah kan berkahi mereka/Kala dalam doa kala dalam asa

Menjadilah mentari bening pagi/Terangi bumi terangi hati/Menjadilah keheningan malam/Kala berjuta insan larut dalam doa

Selamat datang kawan/Di duniamu yang baru/Kudoakan semoga bahagia

When two people get marry/To take the life together on the way/Allah shall give them one more bless

When life in love and try/When life in love and pray

Just be the sunshine in the morning day/Give it shine to the world let everyone to see
Just be the quiteness in the night/When many people cry when many people pray

Welcome to the new world my friends/You both have to face all in love
All I could do just pray/And I do I pray

Rembulan Di Langit Hatiku

By Kang Dani Seismic/Epicentrum

Rembulan di langit hatiku/Menyalalah engkau selalu/Temani kemana meski kupergi/Mencari tempat kita tuju
Kan ku jaga nyalamu selalu/Pelita perjalananku/Kan ku jaga nyalamu selalu/Rembulan di langit hatiku
Rembulan di langit hatiku/Teguhlah engkau pandu aku/Ingatkanlahku bila tersalah/Menempuh tempat kita tuju
Doakanlahku di shalat malammu/Pelita perjalananku/Doakanlahku di shalat malammu/Rembulan di langit hatiku

For The Rest of My Life

By Maher Zain

I praise Allah for sending me you my love/You found me home and sail with me/

And I`m here with you/Now let me let you know/

You`ve opened my heart/I was always thinking that love was wrong/But everything was changed when you came along/

And theres a couple words I want to say
For the rest of my life/I`ll be with you/I`ll stay by your side honest and true

Till the end of my time/I`ll be loving you….loving you

For the rest of my life/Thru days and night/I`ll thank Allah for open my eyes/Now and forever I I`ll be there for you

I know that deep in my heart/I feel so blessed when I think of you/And I ask Allah to bless all we do/

You`re my wife and my friend and my strength/And I pray we`re together eternally/Now I find myself so strong

For the rest of my lifeI`l/l be with you/I`ll stay by your side honest and true/

Till the end of my time/I`ll be loving you… loving youF

or the rest of my life/Thru days and night/I`ll thank Allah for open my eyes

Now and forever I I`ll be there for you
I know that deep in my heart/ now that you`re here/In front of me/ I strongly feel love/

And I have no doubt/And I`m singing loud that I`ll love you eternally

love

Previous Older Entries Next Newer Entries