Itulah sebabnya, kita tak akan pernah bisa membalas sang surya …..

Beberapa hari lalu, saya bertemu seorang “senior” yang kebetulan membaca tulisan saya https://fitriariyanti.wordpress.com/2014/04/22/nyala-api-kehidupanmu-nikmatilah. Sebagai seorang ibu yang  telah berada di tahap ke-6 dalam perkembangan kehidupan keluarganya, dimana beliau akan segera me”launching” putri bungsunya, beliau menyampaikan bahwa …. “keriweuhan” di fase 3 dan 4, itu jauuuuh lebih “mudah” dibanding “mencari dan menyalakan kembali api kehidupan” kita di masa ketika tak ada anak-anak yang “tergantung” pada kita.

Saya terus terang merasa sangat beruntung bisa beraktifitas bersama banyak rekan-rekan, senior dan junior dari beragam tahap perkembangan kehidupan. Amat banyak pelajaran dan penghayatan yang saya dapat terutama mengenai hubungan orangtua-anak. Membaca puluhan kali buku “life span development” ga ada apa-apanya dibanding mendengarkan pengalaman dan perasaan mereka…

Selama ini, fokus saya adalah hubungan antara saya sebagai ibu, dengan anak-anak saya. “Bergaul” dengan para senior saya, melebarkan cakrawala penghayatan saya, pada hubungan ibu-anak, dimana saya sebagai anak.

Jujur saja, dalam tahap perkembangan kita sekarang, kita cenderung jauuuuh lebih fokus pada keluarga kita sekarang. Ibu-ayah kita, mungkin jadi prioritas keberapaaaa secara psikologis. Ruangnya di hati kita, keciiiil sekali. Rutinitas keseharian dengan anak-anak kita membuat kita seakan “melupakan” mereka. Mungkin secara psikologis kita hanya menghadirkan mereka setahun sekali, saat lebaran. Atau 2 tahun sekali, plus saat mereka ultah. Atau saat mereka sakit. Di hari-hari biasa… Mungkin kita tak merasakan kehadiran mereka, dan oleh karenanya tak memberi perhatian.

Saya dulu pernah terkaget-kaget, ketika mendengarkan  senior yang sedang mengobrol dan bercurhat ria tentang bagaimana “beratnya” rasa ketika mereka harus “melepas” anak-anak mereka pada orang lain. Saya gak pernah kebayang…dan karena mamah saya bukan orang yang biasa mengungkapkan emosinya pada saya, sangat mungkin mamah saya juga mengalami hal serupa, namun tak terungkapkan.

Ya, saat prosesi pernikahan kita sungkem pada ortu, kita saling menangis, seringkali kita merasakan sedih yang amat sangat. Rasanya, memori-meori indah selama puluhan tahun bersama orangtua, hadir kembali di moment itu. Sekarang saya tahu… bahwa kesedihan itu, tak ada apa-apanya dibandingkan kesedihan orangtua kita. Kenapa? Karena kita akan menyongsong kehidupan baru bersama orang yang kita cintai….sedangkan orangtua kita, ibu kita…mereka akan melepas orang yang mereka cintai, seseorang yang mereka “miliki”, seseorang yang menjadi “pusat dunia” mereka selama puluhan tahun. *berkaca-kaca*

Minggu lalu, di pengajian yang saya ikuti pak ustadz menceritakan satu kisah. Tentang seorang pemuda Yaman bernama Uwais Al Qorni. Saya pernah mendengar kisah ini waktu di tanah suci. Dia adalah seorang yang tak diketahui di kalangan manusia namun amat terkenal di kalangan malaikat. Kenapa? Karena pengorbanan pada ibunya. Ia menggendong ibunya yang tuli, buta dan lumpuh dari Yaman ke Mekah untuk berhaji. Pak Ustadz bercerita kalau Uwais Al-Qoniy bertanya pada Rasulullah, apakah apa yg ia lakukan bisa membalas jasda ibunya padanya? Rasulullah menjawab tidak. “Andaikan seluruh tubuh ibumu bernanah dan kau jilati seluruhnya, belum bisa membalas jasanya” begitu yang disampaika pak ustadz.

love motherDulu, setiap kali ada bahasan tentang orangtua, saya selalu membayangkan pengorbanan mereka yang sifatnya kasat mata. Semakin lemah dan bertambah lemahnya saat hamil, meregang nyawa saat melahirkan, jatuh bangun menyusui, kelelahan begadang menemani saat sakit…kini, saya menghayati satu aspek pengorbanan mereka, yaitu pengorbanan psikologis. Rasa cemas, khawatir, sedih, takut, campur aduk perasaan negatif mereka, mulai dari kita masih dari rahim, sampai mereka harus melepaskan kita….Dan tak hanya sampai itu! mereka pun harsu “belajar” bagaimana menjadi mertua, menjadi nenek….yang kadang…pengalaman belajar mereka tak selalu menyenangkan.

Ya, ya…kita memang tak akan pernah bisa membalas jasa mereka. Apalagi jasa ibu, yang diisyaratkan oleh Rasul, tiga kali  lipat dari ayah.

Saya jadi malu…kadang saya menilai mama saya “lebay” kalau sering nelpon bilang kangen cucu-cucu, padahal baru minggu kemarin berkunjung. Saya juga malu karena dengan alasan kesibukan rutinitas gak rutin telpon mertua setiap minggu.

Ya, kita memang tak bisa membalas jasa ibu-ayah kita. Namun sedikit  membahagiakan meraka, masih bisa kita lakukan. Dengan menelpon, berkunjung, dan pak ustadz bilang, mendoakan ba’da sholat itu WAJIB ! Hukumnya. Apalagi jika ortu kita sudah wafat. Doa adalah satu-satunya cara “memeluknya”. Melapangkan dan menerangi kuburnya.

Dan yang lebih penting lagi, ingetin pula suami kita. Jangan sampai justru kita jadi penghgalang cinta suami kita sama ibu mereka. Dorong suami untuk prioritaskan ibunya dibanding kita. Kalau terasa berat, bayangkanlah bagaimana beratnya perasaan mertua, saat anak laki-laki yang mereka urus sejak kecil, mereka sekolahkan sampai sarjana, mereka khawatirkan, kini kita “rebut cintanya”. Kalau kata mamah dedeh mah gini : “eh, istri…elu tuh ketemu sama suami dia udah ganteng, udah keren, udah sarjana. Nah emaknya…die yang ngurus dari suami kita gak bisa apa-apa sampai jadi keren pas ketemu kita “

Robbighfirli wali walidayya warhamhumma kama robbayani soghiro.
Ya Tuhan kami ampunilah kedua orangtuaku dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka telah mengasihi dan mendidikku di waktu kecil.{QS: AL ISRO’ 24}

Kasih ibu….Kepada beta….Tak terhingga sepanjang masa…. Hanya memberi …… tak harap kembali ……

Bagai sang surya menyinari dunia….

Saat anak kita mengalami kegagalan …..

Kalau ada yang bilang wanita itu tidak bisa mencintai lebih dari satu orang pada waktu yang sama, saya gak setuju. Karena saya bisa. Saya mencintai 4 orang yang berbeda, dalam waktu yang sama. Dengan cinta yang sama besar, namun berbeda rasanya. Empat orang itu tentulah anak-anak saya. Kaka Azka si hampir 11 tahun, Mas Umar si 8 tahun. Kaka Hana si hampir 5 tahun, dan de Azzam si 2 tahun.

Saya mencintai mereka sama besar. Mereka berempat sudah hafal cerita “empat gunung sayang” yang suka saya ceritakan, terutama meladeni request Hana. Saya bilang “ibu punya empat gunung sayang. Satu gunung buat Kaka Azka, satu gunung buat Mas Umar, satu gunung buat de Azzam…….” saya menikmati sekali saat Hana bertanya “Satu gunung lagi buat siapa?” dengan wajah ekspresifnya yang cemas….biasanya, sengaja saya menunjukkan wajah bingung. “Buat siapa ya……buat ab……” nah, dia biasanya sampai nangis kalau dibilangin gitu. Tapi begitu saya bilang “satu gunung lagi buat  si kriwil yang istimewa” ….binar matanya yang rada sipit itu terlihat jelas sambil jerit-jerit kegirangan atau peluk-peluk dan cium basah haha…

Seperti semua ibu yang lain, saya mencintai mereka sama besar namun dengan “romantisme” yang berbeda. Saya punya memori-memori yang tak terlupakan dengan masing-masing dari mereka. Dan, dalam tulisan ini yang ingin saya ceritakan adalah memori bersama Kaka Azka. Saya punya “chemistry” yang kuat dengan Azka. Mungkin karena sama-sama anak pertama. Daaan…kalau Umar itu adalah “little abah”, maka Azka adalah “kembaran ibu”  kata si abah. Mulai dari hal-hal yang positif seperti rajin belajar, gemar menabung dan banyak sahabat haha….sampai hal negatif misalnya cara marah hehe….

azkaWaktu kelas empat, Azka pengen banget jadi dokter kecil. Karena cita-citanya ingin jadi dokter. Saya mendukungnya sepenuh hati. Dan saya pun menyemangatinya dengan menceritakan bagaimana dulu pun saya menjadi dokter kecil waktu SD. “Kebanggaan” memakai jas putih dokter itu, semangat saat mengikuti lomba dokter kecil antar sekolah….dll dll. Sayangnya karena kuota untuk jadi dokter kecil di sekolah Azka terbatas, dilakukan seleksi. Seleksinya 2 tahap. Tulis dan praktek. Di semester pertama dia ikut test, dia gagal. Semester selanjutnya, saya kembali mendorong dia. Dia pun rajin menghafalkan materi-materi yang akan diujiankan. Sampai suatu hari dengan riang dia mengatakan lolos seleksi tertulis. Tinggal test praktek.

Saya ingat banget saat itu suatu sore, sepulang sekolah dia dibawa sopir menjemput saya. Dengan ragu dia berkata…“bu, Kaka gagal lagi”. “Oh kenapa?” saya tak berhasil menyembunyikan kekagetan saya. “Iya, tadi kan ujian prakteknya disuruh praktek P3K membalut luka, terus dikasih batas waktu. Pas waktunya habis Kaka belum selesai“. Saya ingat betul apa yang saya rasakan saat itu. Saya ingat bahwa saya tidak tahu apa nama perasaan yang saya rasa. Yang jelas, rangkaian kalimat ini yang dengan lancar keluar dari diri saya adalah: “tuh kan..ibu kan udah bilang…Kaka itu, kalau apa-apa itu harus lebih cepet. Udah sering loh, ibu bilang gitu. Nah, akibatnya gini kan….Makanya, coba kaka turutin ibu…berusaha lebih cepet kalau apa-apa teh”. Tapi syukurnya, kalimat itu hanya terucap dalam hati.

Ada yang menahan saya untuk tak mengucapkannya. Yaitu kata-kata Azka selanjutnya. “Tapi gak apa-apa bu….banyak kok temen-temen Kaka juga yang gagal”. Dia menyebutkan beberapa nama sahabatnya. “Lagian kan, Kaka mungkin masih bisa ikut lagi semester depan. Kaka akan berusaha lebih keras”. Hiks..hiks…kenapa sekarang jadi berlinang ya…persis seperti saat itu. Saya sangat mengenal kalimat itu. Bukan persis kalimatnya. Tapi “pesan” yang ingin disampikan dibalik kalimat itu.Itu adalah “pesan” yang selalu saya sampaikan pada mama, pada papa saya saat saya mengalami “kegagalan”. “Menghibur mereka”. Karena saya merasa, telah mengecewakan mereka”. Saya harus menunjukkan bahwa saya kuat, I’m oke. Tapi benarkah saya sekuat itu?

Dalam waktu sepersekian detik, saya pun teringat satu pengalaman. Saya pernah bertemu seorang anak remaja. Dia gagal masuk di jurusan-jurusan yang diinginkannya di perguruan tinggi. Ibunya yang terlebih dahulu berkata pada saya, menyampaikan betapa hancur hatinya, betapa cemas dia akan masa depan anaknya. Si ibu pun mengatakan anaknya malah “lempeng-lempeng aja”. Lalu saat saya bertemu si anak, ia menyampaikan sesuatu yang tak pernah saya duga. “Ibu pikir saya tidak kecewa dengan kegagalan saya? saya kecewa bu, sedih, hancur. Dan saya harus mengatasi kekecawaan saya, juga mengatasi kekecewaan orangtua saya”.

Saat itu, saya ingat betul, saya “tersadar” dan memeluk Azka dengan erat. Saya …. secara “refleks” hampir saja akan menjadi ibu yang menambah beban bagi anaknya. Saya tahu, Azka kecewa. Sangat kecewa. Sedih, sangat sedih. Ia begitu ingin menjadi dokter kecil. Tapi dia berusaha tegar. Sikap ibunya membuatnya harus berusaha mengobati kekecawaan dan kesedihannya seorang diri, PLUS mengatasi kekecewaan ibunya. Waktu itu lalu saya tanya….“Kaka sedih ya?” dan pecahlah tangisnya. Kami pun berdua berpelukan sambil menangis. Saya usap-usap kepalanya. Saya tak mau bilang apa-apa. Takut terdengar sebagai basa-basi. Saya cuman mau peluk dia, semoga dia merasa bahwa dia tak perlu merasa  harus menguatkan diri. Saya maluuu sekali. Saya hampir melakukan satu kesalahan fatal. Seharusnya, sebagai seorang ibu saya yang “melindungi” dia, bukan dia yang berusaha “melindungi” saya.

Ya, salah satu hal terindah yang saya pelajari dari anak-anak saya adalah, bagaimana saya harus terus…terus dan terus belajar untuk mencintai mereka. Dalam keadaan apapun. Peka menghayati perasaan mereka, bersikap “bijak” menemani mereka dengan tulus, tanpa syarat. Saat anak kita mengalami kegagalan, yang mereka butuhkan adalah dukungan. Bukan celaan. Ya, seringkali kekecewaan kita sebenarnya lebih pada karena kita merasa bahwa keberhasilan yang seharusnya diraih itu, sangat penting buat anak kita. Kita sangat ingin anak kita bahagia dan berhasil mencapai apa yang kita inginkan. Sayangnya, sikap kita secara spontan sama sekali tak menggambarkan hal itu. Mungkin karena kita terlalu egois untuk lebih peduli pada perasaan kita dibanding perasaan anak kita.

Kaka Azka, Ibu love You…More and more…

Suatu hari….di kala kita duduk di tepi pantai …

Berawal dari obral-obrol di wa grup, alhamdulillah long wiken kemarin saya bisa bersilaturahim dengan 9 keluarga sahabat aktivitas di KARISMA Salman ITB di salah satu villa di kawasan Pantai Carita-Cilegon. Acara kumpul-kumpul pasca kami menjadi “alumni” ini adalah yang kedua kalinya. Kumpul-kumpul pertama adalah di Gambung, Ciwidey. Bulan Maret juga. Lima tahun lalu. Dari 9 keluarga itu, 5 diantaranya “pasangan incest” termasuk saya hehe…

Acaranya? tak ada yang terjadwal. Karena semua sibuk dengan balita-nya masing-masing. Apalagi TKPnya di pantai. Tak kenal waktu, anak-anak selalu tak bisa tertahankan untuk bermain di pantai. Beres main di pantai? langsung nyebur ke kolam renang. Begitu terus siklusnya dari sabtu siang sampai minggu siang kita berpisah.

Di sela-sela kehebohan mengurus anaknya masing-masing, minggu pagi kami sempat berkumpul “mengenang” mentoring pagi yang kami lakukan belasan tahun lalu. Belasan tahun lalu, waktu sebagian besar kami masih “belum berbobot”, waktu belum ada balita yang mengganduli kami. Meskipun hanya kurang lebih setengah jam, sesi itu berhasil mengundang gelak tawa. Si bapak-bapak, semalam setelah acara barbeque ternyata melanjutkan percakapannya sampai jam setengah 12 membocorkan sedikit apa yang mereka bahas semalam. Walau tak tahu pasti apa yang dibicarakan, saya jamin pasti seru. Pasti temanya macem-macem dari sabang sapai merauke, debatnya panas, yang ujungnya satu : gelak tawa. Persis belasan tahun lalu. Ibu-ibunya? juga masih seperti belasan tahun lalu. Kalau ketemu curcol. Cuman beda topik. curcolnya kini tentang anak.

Setelah itu, ada sedikit game untuk anak-anak. Mengamati interaksi ke-26 anak yang hadir, menjadi keseruan tersendiri buat saya. Senaaaang sekali mereka masing-masing menjalin “geng-geng” persahabatan, dengan caranya masing-masing. Melihat interaksi para bapak-bapak yang begitu hangat sama anak-anaknya, juga sangat memperkaya hati. Sementara ibu-ibunya, setelah bertransformasi menjadi emak dengan beberapa anak, ternyata kemampuan manajemennya tak berkurang sama sekali. Masih setangkas waktu mengelola mentoring atau pembinaan calon pembina belasan tahun lalu. Cuman beda aja yang dikelola. Kali ini yang dikelola adalah beragam masakan yang maknyusss waktu disantap beramai-ramai.

Dulu, sekitar tahun 2011, ketika waktu saya beraktifitas di karisma telah habis karena mau lulus, saya pernah duduk di tangga masjid Salman ITB, menatap satu demi satu tempat kami biasa berkumpul entah untuk rapat ataupun hanya ngobrol-ngobrol. Koridor, lantai kayu, halaman rumput….aduuuh…saya gak kuat nangis waktu itu (hiks…kenapa jadi berkaca-kaca gini ya…). Saya ingat waktu itu bertanya dalam hati..”bagaimana saya dan sahabat-sahabat saya 1o tahun lagi ya? semoga dipanjangkan umur…”. Kini ….10 tahun itu sudah berlalu. Saya bersyukuuur sekali masih bisa bertemu dan “menjalin persahabatan” dengan teman-teman di Karisma.

Dari sekian banyak kegiatan dan pertemanan yang saya alami, jujur saja pertemanan dengan orang-orang Karisma adalah yang paling berkesan untuk saya. Mungkin karena waktunya pas di tahap usia saya “sedang mencari jatidiri”; sehingga pengalaman yang  saya hayati dari  sahabat-sahabat di Karisma cukup memberi warna pada diri saya sekarang.

karismaUniknya, pertemanan kami justru erat karena kami yang amat berbeda. Dari jaman kita culun dulu sampai jaman sekarang kami, kami mengambil jalan yang berbeda. Mulai dari cara berpakaian, aspirasi politik, madzhab fikih, pilihan profesi…apapun…..di WA grup, diskusi kami bisa sangat panas….sepanas raker belasan tahun lalu. Tapi….mungkin teori “sibling” berlaku pada kami. Kan katanya, antar saudara itu berantemnya bisa hebat banget karena masing-masing merasa “aman” dan yakin bahwa saudaranya tak akan melakukan hal yang menyakiti dan melukai. Sepanas apapun perdebatan kami, setelah itu tak ada jejak perasaan personal apapun. Akhirnya, selalu kami mengambil jalan masing-masing dan menghargai perbedaan yang ada.

Waktu koordinasi untuk ketemuan di Gambung Ciwidey 5 tahun lalu, kami masih menggunakan media milis sebagai sarana komunikasi. Setelah milis cuman diisi jangkrik yang mengisi keheningan, akhir tahun lalu tiba-tiba saya diinvite ke grup wa. Tahun-tahun ke depan, entah apa lagi yang jadi media kami. Yang jelas, saya senaaaaang sekali ikatan antara kami tak terputus. Minimal di milestone kehidupan sahabat kami  bertemu. Menikah, punya anak…mudah-mudahan  teruuuus sampai nanti saatnya menikahkan putera-puterinya, dan merayakan kelahiran cucu-cucunya.

Sebenarnya, di luar romantisme persahabatan, saya dapat satu hal dari sahabat-sahabat saya ini. Role model. Kesederhanaan, keikhlasan, konsistensi, kesungguhan, dll dll  yang sejak dulu kita bicarakan sebagai idealisme, mewujud dalam bentuk tiga dimensi dalam diri sahabat-sahabat saya itu. Saya punya role model sahabat yang sangat menonjol keistiqomahannya, saya punya role model sahabat yang unggul dalam kesungguhannya, dll dll…..

Semoga persahabatan kita abadi. Dengan media doa, tak hanya di dunia. Tapi juga di akhirat. Nanti kita bisa mentoring lagi disana.

 

Saat anak kita “bermasalah” ….

Dalam beberapa sesi parenting yang saya isi, biasanya saya memulai dengan memberikan “kuis”. Kuisnya sih sederhana, saya berikan pernyataan dan peserta diminta memilih apakah jawabannya benar atau salah. Selain berfungsi sebagai ice breaker, melalui “kuis sederhana” ini saya bisa mengetahui pengetahuan serta “value” peserta mengenai materi yang akan saya bawakan. Salah satu pertanyaan yang sering dijawab salah oleh para peserta adalah pertanyaan saat anak kita “bermasalah” atau melakukan perilaku yang “buruk”, kita harus menerimanya. Rata-rata peserta menjawab “salah” …..

Saya percaya dan meyakini, bahwa orangtua terutama ibu adalah “perwujudan” sifat Rahim-nya Allah. Salah satu penafsiran “Rahim” dalam tafsir Al Misbah adalah, rahim itu adalah kasih sayang Allah untuk seluruh umat manusia. Mau muslim atau bukan, mau baik atau jahat….  Di dalam diri seorang ibu ada yang namanya “rahim”, tempat ia mengandung anaknya selama sembilan bulan. Jadi, seorang ibu haruslah memiliki sifat rahim; yaitu menyayangi anaknya; mau anaknya melakukan perbuatan baik atau buruk, berprestasi atau tidak, “bermasalah” atau tidak……dalam psikologi, itulah namanya unconditional love. Anak tak perlu memenuhi  persyaratan apapun untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang ibunya.

Salah satu bentuk dasar dari mencintai dan menyayangi adalah menerima apapun kondisi anak kita. Baik kondisi yang baik maupun yang buruk. Secara lebih konkrit, saat anak kita mengalami kondisi perkembangan yang kurang ideal: misalnya mengalami gangguan perkembangan tertentu, yang pertama kali yang harus kita lakukan adalah menerima kondisi itu. Misalnya anak kita mengalami mental retardation sehingga perilakunya jauuuuh dibanding usianya, anak kita mengalami autism, speech delay, attention deficit disorder, kesulitan belajar, dll dll. Demikian pula jika anak kita melakukan sesuatu yang buruk; misalnya kecanduan nonton pornografi, agresif sehingga membully temannya, melawan, sampai hal-hal sederhana seperti malas belajar, tidak disiplin, dll.

Kenapa menerima ini menjadi hal yang sangat penting? Karena sikap ini akan menentukan secara signifikan langkah apa yang selanjutnya dilakukan oleh si ibu, dan apa efek jangka panjangnya pada anak. Ibu yang “tidak menerima” kondisi anaknya, output perilakunya ada dua : (1) dia akan menyalahkan lingkungan, atau (2) dia akan menyalahkan anaknya. Misalnya seorang ibu punya anak hiperaktif. Di tempat umum, anak tersebut “mengganggu” orang lain. Jadilah orang lain komplain terhadap si ibu. Jika si ibu tidak menerima kondisi anaknya, yang mungkin dilakukan si ibu adalah tidak mau mendengarkan dan menyalahkan orang yang complain terhadapnya, atau memarahi anaknya yang sudah “mengganggu” orang lain. Kalau seorang ibu tak mau menerima bahwa anaknya mencuri uang teman sekelasnya, bisa jadi sikap ibu adalah mengatakan itu salah sekolah atau teman anaknya, atau memarahi anaknya.

Saya tidak mau bicara teori mengenai sikap “menerima” seorang ibu ini. Saya ingin cerita tentang penghayatan saya, karena saya mengalaminya.

Berbeda dengan kakaknya yang perkembangannya smooth dan “baik-baik saja”, anak kedua saya Umar yang sekarang sudah kelas dua SD, kondisinya membuat saya harus menghayati dan belajar mengenai makna unconditional love. Ya, hanya mengenai Umarlah saya sering menangis. Beragam macam tangis. Ia punya kelebihan yang amat menonjol sehingga beberapa kali saya menangis haru atau bangga, di sisi lain dia pun punya kekurangan yang menonjol yang membuat saya menangis sedih, khawatir atau kesal karena perilakunya.

Salah satu kondisi yang harus saya terima dari dia adalah kecenderungan perilaku “ADD”-attention deficit disorder- atau bahasa indonesianya “gangguan pemusatan perhatian”. Memang sangat ringan. Bahkan untuk akademik tidak mengganggu. Alhamdulillahnya dia dikarunia kecerdasan sehingga dengan masalahnya ini, dia tetap mendapatkan nilai-nilai yang menonjol. Hanya yang terasa cukup siginifikan adalah dalam perilakunya dan muncul secara nyata waktu dia mulai masuk SD. Kehilangan buku dan alat tulis di sekolah seriiiing sekali terjadi. Ketinggalan alat tulis dan buku untuk dibawa ke sekolah pun bukan sekali-dua kali. Kehilangan jadwal pelajaran, jadwal ujian dan informasi penting lainnya dari sekolah pun tak jarang terjadi. Di semester satu kelas satu, yang saya lakukan adalah …. “menasehati”, “memberi konsekuensi” (gak beliin lagi dia alat tulis untuk ganti alat tulisnya yang ilang)….”mengomeli” …… yang semuanya itu, ternyata tak berhasil menyelesaikan masalah. Saya tetap kesal, perilaku Umar tak berubah. Nangis karena kehilangan barang atau gak tau besok mau ujian apa, sering terjadi.

Sampai suatu saat, saya ketemu dengan seorang anak. Remaja. Dia kecanduan main game. Ada  kata-kata anak itu yang begitu “menusuk” buat saya : “Saya pengen mama bantu saya. Nyita komputer saya kek, apa kek…gak cuman nasehatin atau marahin. Saya tau banget apa yang saya lakukan salah, sia-sia, gak berguna…saya juga pengen berhenti….tapi saya gak bisa sendiri…. saya perlu dibantu….saya gak mau ditinggalin berjuang sendirian” .

Ya Allah…..itulah yang selama ini saya lakukan pada Umarku. Saya “meninggalkannya berjuang sendirian”. Saya hanya menuntutnya…tak mau peduli kesulitan yang ia alami. Ya, sebagai psikolog harusnya saya paham betul bahwa perilakunya selama ini bukan karena dia “lalai”, “tidak bertanggungjawab”, tapi dia mengalami situasi yang harus dibantu !

Saya juga jadi ingat….dua poin dalam kuesioner yang bisa digunakan dalam pemeriksaan psikologi pada siswa adalah poin pertanyaan: (1) a. apa mata pelajaran yang kamu rasakan sulit? b. bagaimana reaksi orangtuamu? (2) a. pada mata pelajaran apa kamu sering mendapat nilai jelek? b. bagaimana reaksi orangtuamu? Dari ratusan data yang pernah saya baca, hampir seluruh  jawaban untuk pertanyaan 1b adalah “menasehati”, dan hampir seluruh jawaban untuk pertanyaan 2b adalah “memarahi”.

Tidak !!! saat anak kita mengalami masalah, dia tidak butuh dinasehati, apalagi dijudge, diomelin, dihukum, dimarahi……yang dia butuhkan adalah diterima, dipahami, ditemani dan dibantu untuk memecahkan masalahnya.
Jangan-jangan, saat kita hanya menuntut dan tak mau “terjun” membantu anak kita mengatasi masalahnya, itu karena kita juga gak tau gimana cara mengatasinya !!! Sebenarnya, kita gak perlu jadi “super” dan “bisa” memecahkan masalah anak kita sendirian….tapi sikap menerima, memahami, menemani dan membantu, akan mengarahkan kita pada upaya mencari bantuan dari pihak lain…jadi anak juga belajar dan punya model untuk melakukan langkha-langkah pemecahan masalah…

Sejak saat itu sikap saya pada Umar berubah. Memang berproses. Saya harus berterima kasih banyak pada Mas, yang banyak membantu saya untuk memahami kondisi Umar (mungkin karena mas memiliki kecenderungan yang sama dengan Umar haha….). Saya mengajarkannya untuk melakukan tindakan antisipasi untuk menanggulangi masalahnya. Setiap kali dia mendapat surat penting, entah itu jadwal uts, jadwal pelajaran, dll saya ajarkan dia untuk menscannya langsung. Jadi, saat hilang dia masih punya kopiannya di komputer. Saya ajarkan dan ingatkan terus untuk menyimpan semua keperluan sekolahnya di meja dan lemari belajarnya. Saya belikan styrofoam buat dia menempelkan seluruh lembaran penting yang dia dapat dari sekolah. Dan dengan cara yang amat sederhana ini, seluruh permasalahan mengenai kehilangan informasi penting dari sekolah, terselesaikan ! Lupa bikin PR yang dulu sering terjadi? sudah tak pernah terjadi lagi dengan aturan membereskan buku dan mengecek pelajaran untuk pelajaran besok siang hari sepulang sekolah, sebagai syarat dia boleh main.

Tentunya masih ada stau-dua insiden. Minggu lalu dia menangis pagi-pagi sambil mencari buku PKNnya hilang. Ada yang berubah dalam diri saya. Dulu, kalau dia nangis gitu, saya akan mengomeli dia….tapi minggu lalu itu, saya tatap wajahnya….saya rasakan kepanikannya dan ketakutannya…ya, saya tahu….dia menangis bukan karena tidak bertanggungjawab seperti yang sebelumnya suka saya bilang ke dia. Dia menangis karena bingung bagaimana dia belajar di sekolah nanti…dia menangis karena menyesal tidak disiplin menyimpan bukunya. Dia menangis, perlu dibantu. Akhirnya saya tenangkan dia, menawarkan mengontak gurunya untuk menjelaskan, dan meminta dia meminjam buku temannya untuk difotokopi kalau sampai besok buku itu dicari tidak ketemu.

Malam ini, dia minta saya membantunya menghafal perkalian. Gurunya bilang  yang belum lulus test gak boleh ikut fieldtrip lusa. Fieldtripnya ke waterboom, yang dia suka banget. Senin dan Selasa dia sudah ditest dan gagal. Saya pandangi wajah kusut dan cemasnya. Saya carikan link di youtube yang bisa memudahkan menghafal perkalian itu. Saya ajak dia liat yutub itu, saya test dia…dan ketika jawabannya selalu salah serta membuat saya secara otomatis ingin marah, saya coba ingatkan diri saya….dia perlu dibantu. Saya minta dia tidur dan janji membangunkannya jam empat untuk mulai menghafal lagi. Setengah jam lalu dia terbangun, mengambil kertas PRnya yaitu menuliskan perkalian itu dalam 3 lembar HVS yang belum dia selesaikan….

you are not aloneSaya selalu menghayati bahwa, setiap anak yang Allah anugerahkan pada kita, mengajarkan sesuatu pada kita. Dan dari Umar-ku, saya belajar bagaimana mencintainya dengan tulus, dan selalu mengatakan “you are not alone, i’m here with you…”

My Love Songs (Edisi Lebay haha…)

Nantikanku di Batas Waktu
By Kang Deden Edcoustic-Karisma
Berdoa di kedalaman hatiku/Tersembunyi harapan yang suci/Tak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihanmu/Yang terukir menghiasi dirimu/Tak perlu dengan kata-kata
Sungguh walau ku kelu/Tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku/Jangan salahkan
Kalau memang kau pilihkan aku/Tunggu sampai aku datang/Nanti kubawa kau pergi/Ke surga abadi
Kini belumlah saatnya/ Aku membalas cintamu/Nantikanku di batas waktu

Ketika  Dua Hati Menyatu

By Kang Dani Seismic/Epicentrum

Saat dua hati berjanji/Tuk arungi hidup di jalan-Nya/Allah kan berkahi mereka/Kala dalam doa kala dalam asa

Menjadilah mentari bening pagi/Terangi bumi terangi hati/Menjadilah keheningan malam/Kala berjuta insan larut dalam doa

Selamat datang kawan/Di duniamu yang baru/Kudoakan semoga bahagia

When two people get marry/To take the life together on the way/Allah shall give them one more bless

When life in love and try/When life in love and pray

Just be the sunshine in the morning day/Give it shine to the world let everyone to see
Just be the quiteness in the night/When many people cry when many people pray

Welcome to the new world my friends/You both have to face all in love
All I could do just pray/And I do I pray

Rembulan Di Langit Hatiku

By Kang Dani Seismic/Epicentrum

Rembulan di langit hatiku/Menyalalah engkau selalu/Temani kemana meski kupergi/Mencari tempat kita tuju
Kan ku jaga nyalamu selalu/Pelita perjalananku/Kan ku jaga nyalamu selalu/Rembulan di langit hatiku
Rembulan di langit hatiku/Teguhlah engkau pandu aku/Ingatkanlahku bila tersalah/Menempuh tempat kita tuju
Doakanlahku di shalat malammu/Pelita perjalananku/Doakanlahku di shalat malammu/Rembulan di langit hatiku

For The Rest of My Life

By Maher Zain

I praise Allah for sending me you my love/You found me home and sail with me/

And I`m here with you/Now let me let you know/

You`ve opened my heart/I was always thinking that love was wrong/But everything was changed when you came along/

And theres a couple words I want to say
For the rest of my life/I`ll be with you/I`ll stay by your side honest and true

Till the end of my time/I`ll be loving you….loving you

For the rest of my life/Thru days and night/I`ll thank Allah for open my eyes/Now and forever I I`ll be there for you

I know that deep in my heart/I feel so blessed when I think of you/And I ask Allah to bless all we do/

You`re my wife and my friend and my strength/And I pray we`re together eternally/Now I find myself so strong

For the rest of my lifeI`l/l be with you/I`ll stay by your side honest and true/

Till the end of my time/I`ll be loving you… loving youF

or the rest of my life/Thru days and night/I`ll thank Allah for open my eyes

Now and forever I I`ll be there for you
I know that deep in my heart/ now that you`re here/In front of me/ I strongly feel love/

And I have no doubt/And I`m singing loud that I`ll love you eternally

love

Sebelas Tahun : Dua Pertanyaan

Konon, agar memiliki akar yang kokoh, seorang atau sepasang yang akan menikah harus bisa menjawab dua pertanyaan. Kalau pake bahasa Dr. Ali Syariati mah “kita harus menggugat niat kita terlebih dahulu” kali ya….. Dua pertanyaan itu, pertanyaan pertama adalah; “mengapa aku menikah?”. Sedangkan pertanyaan kedua adalah ; “mengapa aku menikah dengannya?”.

Menurut teman saya yang bergelut di bidang penelitian pernikahan, jawaban pertama biasanya dijawab oleh responden Indonesia yang beragama Islam dengan jawaban : “untuk menggenapkan separuh din, mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, wa rohmah, dan mengikuti sunnah”. Meskipun jawaban tersebut “seragam” diberikan oleh responden dari beragam tingkat pendidikan dan sosial ekonomi, akan tetapi ketika ditanya lebih lanjut mengenai makna dari jawaban-jawaban itu, hanya sedikiiiiiiiiiiit yang paham. Apalagi menghayatinya.

Menilik fenomena di atas, tampaknya kita harus menyisihkan waktu untuk merenung….memahami, lalu menghayati…apa jawaban dari lubuk hati terdalam kita terhadap pertanyaan pertama. Dan buat kita yang sudah menikah, kita bisa tau apakah jawaban kita jujur atau hanya “basa-basi” dari perwujudan keluarga yang telah kita bangun, atau dari upaya yang kita lakukan untuk mewujudkan keluarga kita. Jangan-jangan, kita sudah menikah bertahun-tahun atau berbelas tahun, tapi kita tak tahu pasti, tak begitu menghayati apa yang mendorong kita untuk menikah. Mungkin sejujurnya, kita menikah hanya karena “memang sudah saatnya aja menikah”…atau “masa gak nikah?” … atau “malu sama orang lain” atau…jawaban-jawaban lain yang membuat kita tak tahu apa sesungguhnya yang ingin kita tuju melalui pernikahan ini.

Menurut penghayatan saya, jawaban dari pertanyaan pertama memang haruslah sesuatu yang filosofis; buat kita muslim, memang seharusnya jawabannya berupa hal yang spiritual. Karena itu bagaikan janji sekaligus permohonan kita pada Allah. Dan janji serta permohonan ini hanya akan sampai kalau kita menghayatinya dengan hati yang paling dalam. Kalau kita tak paham dan tidak menghayati tujuan kita, bagaimana mungkin kita bisa tau apakah kita menuju tujuan tersebut atau tidak? kita akan “tersesat”…

Sedangkan jawaban yang kedua, menurut saya haruslah bersifat unik. Pertanyaan yang kedua ini memberikan ruang keunikan individual. Setiap wanita pasti mendambakan suami yang bisa jadi “imam”. Begitupun seorang laki-laki pasti mendambakan istri yang sholihah. Tapi, dari sekian banyak laki-laki yang bisa jadi imam itu, kenapa seorang wanita lebih memilih si A ketimbang si B atau si C? demikian juga dari sekian banyak wanita yang sholihah, mengapa seorang lelaki lebih suka pada si sholihah yang ceria dan dinamis dibanding si sholihah yang pendiam? sedangkan seorang lelaki lain sebaliknya? itulah jawaban dari pertanyaan kedua.

Dalam psikologi, memilih pasangan hidup adalah tugas perkembangan pada tahap dewasa. Sebelum itu, seorang individu haruslah menyelesaikan tugas perkembangan di tahap remaja. Dalam tahap perkembangan remaja, seorang individu mengidentifikasi “self”nya. Siapa aku? jawaban dari pertanyaan itu haruslah sudah relatif matang. Mengapa harus begitu? karena seorang yang tidak tahu siapa dirinya, masih bingung siapa dirinya, tak akan bisa menghayati  seperti apa pendamping hidup yang ia butuhkan. Karena pada dasarnya, pendamping hidup, pasangan menikah adalah refleksi dari ke”diri”an kita, yang kita harapkan bisa menemani sekaligus melengkapkan diri kita di mata manusia maupun di mata Allah. Menurut penghayatan saya, itulah makna “melengkapkan separuh dinn”.

Maka oleh karena itulah, tak perlu kita heran kalau ada seorang pemuda yang memilih seorang wanita dengan usia yang jauuuuuh lebih tua darinya untuk menjadi istrinya. Tak perlu heran juga kalau ada si A memilih si B padahal rasanya gak matching. Hehe…jadi inget saya juga dulu terheran-heran kenapa ada seorang teman saya yang berpendidikan sangat tinggi, biasa cas cis cus dan keliling dunia di pekerjaannya, memilih istri seorang gadis desa berpendidikan rendah…….Itu karena ….. kebutuhan seseorang terhadap pendampingnya bersifat personal.

Dan….menurut saya, saat kita bisa menjawab pertanyaan  “mengapa saya menikah dengannya?” dengan jawaban yakin dan mantap berdasarkan penghayatan dari lubuk hati paling dalam, itu adalah pilar pernikahan yang amat kokoh..Ia adalah penangkal dari segala macam badai yang dihadapi dalam kehidupan bermah tangga.

Mengapa begitu? …… saya yakin….tak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna. Sebab sempurna berarti memenuhi harapan kita setiap saat. Sedangkan harapan kita sering berubah-ubah. Begitupun dalam menikah. Tak akan pernah ada pasangan yang sempurna. Coba kita ingat-ingat lagi saat sebelum menikah dulu, saat ada beberapa pilihan, dengan kualitasnya masing-masing. Kalaulah kita akhirnya memilih si A, itu bukan karena dia sempurna bukan? tapi ada satu kualitas utama darinya yang paling kita butuhkan. Itu semacam “key competence” kalau dalam kompetensi SDM di perusahaan mah. Sebuah kualitas yang membuat kita mengabaikan hal-hal lain yang menjadi “kekurangan” dia di mata kita.

Dan, “key competence” itu berbeda-beda untuk setiap pasangan. Tergantung kepribadian dan  value masing-masing. Ada yang key competencenya kecantikan/kegantengan; kesetiaan; kecerdasan; kesederhanaan; dan amat banyak kombinasi lainnya. Tapi yang jelas….itu sangat personal. Itu sebabnya ukuran-ukuran dalam pernikahan itu sangat individual. Tak bisa dibandingkan.

Hehe…saya jadi ingat…tahun lalu, saya diingatkan teman saya untuk lebih sering ke salon. “cewek-cewek sekarang kan gila Fit…yang hijaber-hijaber juga pada kinclong…kita sebagai istri gak boleh kalah…godaan suami di luar berat banget…”. Wah..saya tergoda juga..makanya…meskipun saya paling males bersalon ria, kali ini saya mendatangi sebuah salon kecantikan, berkonsultasi dan membeli serangkaian produknya. Waduh….harganya setengah gaji saya…gak apa-apa lah….Selain itu, saya pun menuliskan “ke salon sebulan sekali” dalam resolusi tahun 2013 saya. Mengoleskan beragam krim di saat akan bepergian dan menjelang malam sangat meribetkan buat saya…tapi saya ingat kata2 teman saya tadi…ga apa-apa lah…ternyata eh ternyata…suami saya juga komplain. Dan ketika saya “mempresentasikan” resolusi ke salon tiap bulan itu, suami saya langsung bereaksi ” ngapain? kurang kerjaan banget…bla..bla..bla..itu juga pake krim-krim itu buat apa..yang penting, perempuan itu secara fisik bersih, segar, sehat, ….olahraga..jauh lebih penting daripada salon-salonan” katanya…. Cihuy!!!! tentulah saya berbahagia…lepas sudah penderitaan sayah haha… saya jadi sadar…”key competence” saya memang bukan disitu. Da kalau suami saya memilih istri karena kecantikannya, pastilah dia tidak akan memilih saya haha…

Hari ini, 15 Juni, tepat 11 tahun saya dan suami membentuk keluarga. Pada tanggal ini di setiap tahunnya, saya selalu berusaha menyempatkan waktu menghayati kembali perjalanan pernikahan kami. Terlebih sejak tahun lalu, saat beberapa teman terpaksa mengakhiri pernikahannya dengan alasan yang amat bisa terjadi pada kami, syukur saya bahwa pernikahan ini bertahan sampai selama ini, menjadi lebih besar.

Tentunya karena kami bukan pasangan dongeng, selain hari-hari indah dan bahagia, ada-ada juga hari “kelam” yang kami jalani. Kekesalan, kemarahan, kekecewaan, bahkan lintasan untuk “berpisah” hadir….Namun yang saya hayati, jawaban dari pertanyaan kedua; “mengapa saya menerima mas menjadi suami saya” adalah senjata jitu yang selalu bisa mengaburkan kekesalan dan kemarahan saya. Dan lalu, biasanya ingatan tentang kejadian yang mengesalkan itu perlahan tergantikan oleh memori-memori mengenai situasi di saat mas menunjukkan “key competence”nya… Dan di titik itu, hati saya biasanya mengatakan bahwa “saya tidak menyesal menikah dengannya”. Kemudian…permasalahan yang biasanya printil-printil itu menjadi gak penting lagi ……kemudian diakhiri dengan kelegaan perasaan untuk bisa membicarakan itu dengan mas, yang biasanya diakhiri gelak tawa menertawakan “kebodohan” kami …

Kesaktian dari jawaban “mengapa aku menikah denganmu” juga berlaku saat kita mengetahui “key competence” apa yang kita miliki yang membuat pasangan kita memilih kita. Buat saya, mengetahui hal itu menumbuhkan kepercayaan diri, bahwa saya tak perlu menjadi “istri super” yang harus prima dalam segalanya. Bahwa dia menerima kekurangan-kekurangan saya, karena saya memiliki sesuatu yang berharga untuknya….

Pagi ini, Azka dan Umar memberikan surat ucapan untuk abah-ibunya. Tapi hari ini bukan saja hari jadi pernikahan ibu-abah, tapi hari jadi keluarga kita. Semoga, Allah mengabulkan semua doa yang Kaka Azka dan Mas Umar tuliskan untuk keluarga kita. Semoga ibu dan abah bisa menyaksikan anak-anak tumbuh besar, mendampingi anak-anak di masa-masa sulit dan berat, ikut tersenyum di hari-hari bahagia anak-anak…semoga ibu dan abah bisa terus bersama sampai menua…dan saat ajal memisahkan, itu hanya perpisahan sementara karena kita akan berkumpul kembali di syurgaNya.

Abah, Kaka Azka, MAs Umar, Kaka Hana, de Azzam, I Love U. Allah, terimakasih …..

 

 

Cinta : Saling Menjaga

Jaman dahulu kala, waktu saya masih lebay (haha…kayak sekarang gak lebay ajah…) pernah suatu waktu saya dan seorang teman berbincang tentang “makna cinta”. Referensinya adalah beragam puisi, quote di majalan remaja, hadits2, sampai dengan kata-kata di kartu harvest (mmmmhhh…begitu banyak waktu untuk melakukan hal2 yang gak penting kayak gitu ya, kalau diliat dari kacamata emak berbuntut 4 sekarang hehe..).

Singkat kata singkat cerita, saya lupa apa perbincangan itu menghasilkan kesepakatan atau tidak (waduh, mulai deh simptop PDI …penurunan daya ingat 😉 . Tapi yang saya ingat, sejak saya itu saya punya definisi sendiri tentamg cinta….cinta itu adalah….”saling menjaga”. Huhuy…menurut penghayatan saya, dua frase itu cukup mewakili romantisme sekaligus “tanggug jawab” yang menuru saya harus ada dalam sebuah perasaan cinta.

Demikianlah definisi cinta saya itu menjadi penggerak dan pengarah perilaku cinta  saya (ke..ke…perilaku cinta teh  nu kumaha nya? Wkwkwk). Menurut saya, kalau kita mencintai seseorang, maka kita akan berupaya untuk membut orang itu menjadi pribadi yang lebih baik. Dimata manusia maupun dimata Allah. Demikian juga kalau seseorang itu mencintai saya, maka ia pun harus  berusaha menjadikan saya pribadi yang lebih baik, di dunia maupun akhirat.

Makanya, saya tidak ingin punya suami yang selalu “mengangguk” atas apapun yang saya lakukan. Menurut saya, ajaran agama dengan jelas eksplisit menyatakan…bahwa memang….harusnya pasanganlah yang menjadi perwujudan sifat-sifat Allah di dunia. Tak ada hubungan yang paling dekat selain dengan pasangan pernikahan. Harusnya memang pasangan lah yang paling bisa memberikan “kasih sayang” yang membuat kita merasa tenang dan nyaman. Pasanganlah ynag harusnya menjadi orang yang “mendidik” kita agar seluruh potensi kebaikan yang ada dalam diri kita menjadi berkembang….

Dan …. pasangalah yang sejatinya harus menjadi “rem” bagi kita untuk menahan hawa nafsu kita. Poin ini nih…yang sekarang sedang saya hayati dan saya rasakan “nikmatnya”. Yups..yups…menahan hawa nafsu, adalah PR kita dalam setiap helaan nafas kita. Dan kita tak selalu bisa sendiri melawan si hawa nafsu ini.

Dua issue yang paling sering  adalah (1) pengen vs perlu dan (2) benar vs bijak.

Saya rasa setiap orang punya issue ini. Dan semakin tahun bertambah, mas sudah hafal dalam area apa saja saya bisa “kehilangan akal sehat” keukeuh menginginkan sesuatu yang sebenarnya tak diperlukan….demikian pula sebaliknya, saya sudah tau betul “modus operandi” mas saat ia merasionalisasi keinginan menjadi kebutuhan ;). Seiring waktu kebersamaan kami, saya juga sudah tau karakteristik kepribadian mana yang membuatnya kurang mempertimbangkan konteks masalah , dan mas juga sudah mengerti hal apa yang membuat saya tak bersikap bijak .

Proses ini yang kini tengah kami nikmati. Seru…karena itu tak mudah. Terkadang saya harus menunggu bertahun-tahun  untuk menemukan momen yang pas saat mengingatkan mas dalam suatu hal. Mas juga harus mencari seribu satu cara untuk bisa membuat saya mau diingatkan.

Tapi efeknya luar biasa…menghasilkan perasaan nyaman dan aman. Bahwa  kami saling mencintai. Bahwa kami peduli, dan kami ingin kebersamaan kami tidak hanya di dunia, tapi sampai akhirat nanti.

Sakinah: Jangan Larak-Lirik Rumput Sebelah

Saya bukan orang yang anti perceraian. Saya lebih mendukung “perceraian yang sehat dibanding perkawinan yang sakit”. Namun gagasan “menjadi tua bersama” pasangan, sangatlah menggoda. Sangatlah mempesona. Dan untuk membuat gagasan yang amat mempesona itu mewujud menjadi nyata, tentunya butuh upaya yang amat besar, energi yang amat kuat. No gain without pain, begitu bahasa kerennya.

Meskipun secara kognitif pengetahun bahwa  “untuk mewujudkan pernikahan yang bahagia itu perlu perjuangan” sudah melekat sejak jaman dahulu kala, namun penghayatan akan hal itu baru terasa sekali tahun lalu. Saat secara nyata, saya mengetahui beberapa teman yang seusia saya, beberapa teman yang usia pernikahannya seumur dengan usia pernikahan saya, gagal mewujudkan gagasan “menjadi tua bersama” dengan pasangan tercintanya (semoga gagasan tersebut tetap mewujud bersama pasangan selanjutnya….amiiiiin….). Tiba-tiba saya tercekat, merinding, ketakutan….perceraian yang selama ini saya tonton di TV, atau saya dengar sayup-sayup dari kejauhan, kini mewujud nyata di depan mata saya, dialami oleh beberapa teman dekat saya. Dengan penyebab yang ….. “biasa-biasa saja”, yang…. bibit2nya potensial saya miliki.

Maka, kini saya mengatakan pada diri saya dan seluruh dunia. Mempertahankan pernikahan bahagia sampai hanya maut yang memisahkan itu, butuh perjuangan. Ini bukan basa-basi. Ini bukan teori. Ini adalah keyakinan dari lubuk hati saya yang paling dalam.

Dalam terminologi agama, gagasan kebahagiaan dalam pernikahan itu disebut sakinah. Dalam terminologi psikologi, gagasan kebahagiaan dalam pernikahan itu disebut marital satisfaction.Menurut Pak Quraish Shihab, sakinah terambil dari akar kata sakana yang berarti diam atau tenangnya sesuatu setelah bergejolak. “Gejolak” itu diturunkan dengan lebih rinci dalam konsep “Marital Satisfaction”. Kapuasan pernikahan, adalah   sebuah hasil dari interaksi beragam variabel yang membangunnya. Variabel apa saja? name it !!!! kompleks…bahkan super kompleks.Mulai dari karakteristik individu yang meliputi kognisi, emosi, sosial, variabel interaksi antar pasangan, kultur (keluarga, agama, etnis), social support,  bla..bla..bla…Intinya adalah…kalau satu individu saja sudah sedemikian kompleksnya, kebayang kan bagaimana kompleksitas dua individu yang menyatu?

Dua terminologi tersebut- sakinah dan marital satisfaction menurut saya sejalan, menunjukkan “separuh dinn” yang dilengkapkan oleh pernikahan itu, bukan sesuatu yang otomatis mengikuti ijab kabul. Tapi ia adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Dengan sekuat tenaga. Dari mulai hal yang filosofis sampai hal teknis. Dalam bentuk jeritan dalam doa sholat malam kita, sampai dengan upaya dalam hal remeh temeh.

Nah, karena mewujudkan pernikahan itu membutuhkan seluruh energi yang kita miliki, maka tak ada pilihan lain yang bisa kita lakukan selain mengarahkan pandangan HANYA pada pasangan kita. Tak ada pasangan yang sempurna. Trust me! saya sudah tanya mereka-mereka yang menikahi “pujaan hatinya, wanita/lelaki impiannya”…. ternyata tak sempurna seperti yang dibayangkan. Tugas kita sepanjang hayat adalah menemukan poin-poin menarik, titik-titik yang meluluhkan, seluk beluk yang menentramkan, pesona-pesona yang terselubung dari pasangan kita.

Contoh sederhana saja, setiap wanita butuh romantisme dari suaminya. Apakah romantisme itu dalam bentuk bunga? coklat? hadiah berpita indah? puisi? hohoho….jangan terjebak hal teknis….temukan bentuk romantisme khas pasangan kita. Sikap atau perilakunya yang bisa meluluhkan dan menggetarkan hati kita sama hebatnya dengan efek coklat dan kawan-kawannya. Ssssttt…ini bukan karena suami sayah gak pernah beromantis ria dalam bentuk bunga, coklat, dan puisi looooh…haha…Tapi karena, dari sekian banyak teman-teman yang saya kenal, ternyata laki-laki yang memberikan bunga, coklat dan puisi pada istrinya itu hanya ada di sinetron, atau terjadi sebelum pernikahan. Setelah menikah, issu dan keluhan para istri sama: udah sms panjang-panjang….jawabnya cuman “ok” haha…..

Saya bukan orang yang punya masa lalu yang banyak dengan perasaan-perasaan cinta. Tapi buat teman-teman yang punya masa lalu penuh aneka warna perasaan terhadap beberapa orang; jangan…. jangan pernah mengalihkan fokus perhatian dari pasangan, pada orang lain di masa lalu, atau pada pasangan orang lain. Jangan buat perbandingan. Baik dalam lintasan hati atau terucapkan. Jangan buka-buka halaman  facebook orang lain. Jangan iri dan membayangkan orang lain menjadi pasangan kita. Itu hanya akan menggerogoti energi yang kita miliki untuk mencintai pasangan kita.

Daripada sibuk memikirkan betapa bahagianya orang lain, lebih baik kita menelisik apa yang bisa membuat kita bahagia. Daripada terbuai dalam bayangan akan kebaikan, romantisme dan kenyamanan bersama pasangan orang lain, lebih baik kita menghayati waktu-waktu indah bersama pasangan kita….saat-saat hati kita tergetar oleh kebaikannya, dan merasa amat nyaman bersamanya. Menonton video pernikahan kita, atau melihat-lihat kembali foto-foto selama kebersamaan kita….akan sangat membantu.

Saya yakin, cinta yang dalam itu…. tumbuh perlahan sampai mengakar kuat. Kita sirami dengan doa dan sepenuh upaya yang kita bisa, biar kita bisa menua bersama pasangan kita, bahagia.

*menunggu mas pulang, i love u mas…*

Ketika Umar diejek

Setiap kali Umar pulang sekolah dan terlihat sumringah, atau ketika ia tanpa disuruh mengerjakan PR atau mengulang pelajarannya dengan semangat, atau dengan mata berbinar ceritain pengalamannya bersama teman-teman di sekolah hari itu, perasaan ibu gimanaaaa gituh. Enggak sampai pengen bilang wow sambil koprol siiih…. hehe…. cuman seneng banget dan bersyukur.

Itu karena….minggu dan bulan pertama Umar masuk SD, beberapa bulan lalu…ternyata prosesnya tak semulus ketika Kaka Azka masuk SD 4 tahun lalu. Bulan pertama masuk SD, Umar menunjukkan beberapa tanda stress. Diantaranya adalah tics, “gerakan2 kepala/suara yang tidak terkontrol”. Menurut psikologi, tics ini adalah “visible sign of stress”. Dan karena simptomnya muncul tiba-tiba, maka kemungkinan besar itu terkait dengan kejadian faktual yang sedang dialaminya. Puncaknya, ada satu kejadian yang memastikan Umar merasakan stress berat…tapi ibu gak bisa ceritakan di sini, karena ibu janji itu adalah rahasia antara ibu dan mas Umar 😉

Akhirnya ibu evaluasi…mungkin salah satu faktornya adalah ibu yang terlalu menekankan pada mas Umar, bahwa di SD ini berbeda dengan TK. Dengan demikian, sikapnya juga harus berbeda. Padahal justru kalau dari SDnya, proses adaptasi anak TK itu dibuat smooth banget. Dari sisi akademik, sampai sebulan di kelas 1, kegiatannya masih kayak di TK. Mewarnai, menggambar….pake krayon. Gak ada huruf dan angka, apalagi calistung….Demikian pula suasana di kelas, selain ada meja kursi yang bisa diubah susunanya, ada juga karpet bagi yang mau disana. Bu guru Umar selalu menekankan; “anak-anak, di kelas 1 ini yang ibu harap bukanlah anak-anak jadi pinter…tapi yang penting, anak-anak kelas 1 SD itu harus mandiri…makan sendiri, cuci piringnya sendiri, mandi sendiri, pake seragam sendiri, nyiapin buku sendiri….. yang paling mandiri, itu yang paling oke”. Berdasarkan evaluasi itu, akhirnya pendekatan ibu sama Umar diubah jadi lebih afektif dan lebih toleransi…

Salah satu masalah yang tidak ibu temui saat menemani Kaka Azka melewati adaptasi kelas 1 SDnya adalah…..Umar sering diejek oleh teman-temannya…. karena….. dia itu cadel, sama sekali gak bisa bilang “r”. Padahal namanya jelas-jelas mengandung huruf  “r”. Akibatnya, suatu hari dia bilang kalau teman-temannya tidak memanggilnya Umar, tapi “Umal”, “sambil mukanya teh ngejek mas Umal” katanya dengan wajah sedih. Besoknya, dia curhat lagi…. “temen-temen mas Umal bilang gini…kasian deh lu…udah gede belum bisa bilang “r”…

Ibu ingat, beberapa tahun lalu pernah mendapatkan klien anak SD yang mengalami bullying. Oleh karena itu ibu pernah baca beberapa literatur mengenai hal ini. Penanganan terhadap kasus bullying, terutama yang telah berdampak negatif pada anak yang menjadi “korban” memang haruslah komprehensif. Melibatkan intervensi pada si anak yang menjadi “korban” dan  anak yang menjadi “pelaku”, dengan tujuannya masing-masing. Prosesnya harus melibatkan kerjasama antara kedua orangtua, dan pihak sekolah. Makanya, akan lebih baik kalau yang dilakukan adalah tindakan preventif.

Ibu mencoba mengingat2 apa yang harus dilakukan oleh orangtua si korban bullying, seperti yang tengah ibu hadapi. Dalam bayangan ibu, langsung mencuat tiga hal, yang TIDAK AKAN ibu lakukan, yaitu ; (1) mengajarkan Umar untuk balik mengejek anak-anak yang mengejeknya (2) “memarahi” teman-teman yang mengejek Umar (3)”Mengadukan” perilaku teman Umar yang mengejek Umar pada orangtuanya, meskipun ibu mengenal orangtuanya.

Secara normatif, umumnya kita tahu bahwa 3 hal diatas bukanlah problem solving yang baik. Akan tetapi, pada kenyataannya…langkah-langkah itu yang sering pertama mencuat dalam pikiran orangtua yang anaknya mengalami bullying. Setidaknya dari pengalaman-pengalaman ibu.

Terutama untuk point 1, biasanya para ayah yang menyarankan, terutama jika anak yang menjadi korban bullying adalah anak laki-laki. “Laki-laki jangan ngalahan gitu…kalau ada yang ngejek, ejek lagi aja…kalau ada yang mukul, bales pukul aja…atau kalau kamu gak berani, lempar terus lari…harus berani kalau laki-laki !” umumnya itu yang dikatakan para ayah pada anak laki-lakinya…Untuk point 2 dan 3, biasanya ibu2 yang mengambil langkah ini. Yang kalau tak dimanage dengan baik, biasanya hubungan anak-anaknya sudah oke, tinggal emak-emaknya deh yang saling berantem…

Tiga langkah diatas, secara logis sih tampak oke…dan mungkin secara instan menjadi problem solver. Namun, efek sampingnya adalah…menimbulkan masalah yang lain. Anak yang jadi agresif misalnya efekcsamping dari point 1. Oleh karena itu, ibu lebih memilih langkah-langkah yang ibu baca dari literatur2 itu. Intinya adalah, memampukan anak untuk bisa “mengabaikan” ejekan-ejekan itu. Langkah-langkahnya kurang lebih begini:

(1) Ajarkan anak sikap assertif saat menerima ejekan

(2) Ajarkan anak empati agar ia tak melakukan itu pada anak lain

(3) Jaga agar jangan sampai ejekan itu merendahkan kepercayaan diri anak, bantu anak mengenali kekuatan dirinya.

Ibu mencoba melakukan langkah-langkah itu. Langkah ke-0 adalah berusaha menyelami perasaan Umar. Setiap malam, ibu usahakan ngobrol sebelum tidur sama mas Umar. Tanya perasaannya. “Mas Umal sedih…mas Umal teh udah belusaha untuk latihan bilang “l” … ibu juga tau kan, tapi gak belhasil telus” katanya sambil berkaca-kaca. Lalu ibu pun berusaha membantu mas Umar menyadari bahwa itu memang hal yang tidak bisa ia lakukan, bahkan mungkin sampai mas Umar besar pun mas Umar gak akan bisa. Ibu pun ceritakan beberapa teman ibu yang sampai besar tidak bisa bilang “r”, tapi “berhasil”. Ada yang bisa dapet beasiswa sekolah ke luar negeri, ada yang juara lomba bahasa inggris….malah ibu tawarkan kalau mas Umar mau ketemu sama om-tante temen-temen ibu dan abah itu untuk ngobrol.

Selanjutnya, ibu coba memahamkan mas Umar bahwa setiap orang itu punya kelebihan dan kekurangan, gak ada yang semuanya hebat. Ibu bacain lagi tuh cerita “si gajah yang selalu kalah lomba lari”, “perlombaan si elang, si harimau dan si ikan”….bacain cerita “Franklin berbohong”, sampai dengan contoh konkrit Kaka Azka kelebihannya apa, kekurangannya apa…Kaka Hana kelebihannya apa, kekurangannya apa….. serta cerita masa kecil ibu dan abah yang menunjukkan bahwa ibu dan abah pun punya kekurangan dan pernah diejek teman-teman. Waktu ibu tanya mas Umar kelebihannya apa, seperti si Franklin di cerita “Franklin berbohong”, tiba-tiba ia lupa….maka Kaka Azka pun cerita…”kan mas Umar hebat nyusun puzzle…cepet kalau belajar komputer….suka jadi pemeran utama kalau pentas….” seneng deh..liat matanya yang tadinya berkaca-kaca jadi berbinar-binar….”oh iya yah, mas Umar lupa….” katanya….

Langkah selanjutnya…mengajarkan secara konkrit skill saat menghadapi situasi diejek. Nah, ini yang sempet bikin ibu khawatir… waktu ibu memberi contoh beberapa jawaban yang bisa mas Umar bilang, dia bilang gini: “jawaban itu mengandung huruf “r” engga? kalau mengandung huruf “r” mas Umal gak mau, soalnya malah diejek lagi, tambah diejek sama diketawain lagi”. Ibu khawatirt banget karena takutnya, peristiwa ini menghambat dia untuk mengungkapkan gagasan, bahkan dalam situasi belajar. Oleh karena itu ibu terpikir kalau dalam waktu sebulan Umar tidak berhasil mengatasinya, mungkin ibu akan menghubungi gurunya, untuk menanamkan nilai “jangan mengejek” dan “setiap orang punya kelebihan dan kekuarangan ” ini di kelas.

Abahnya bilang, mas Umar harus membuktikan kalau mas Umar lebih baik dari teman yang mengejek mas Umar dengan tidak mengejek lagi dan mendapat nilai yang lebih bagus di pelajaran.

Suatu hari, mas Umar pernah bilang: “mas Umal mau pindah sekolah aja”. Ibu bilang: “boleh…tapi kalau di sekolah yang baru temen-temen ngejek lagi gimana?” Lalu ibu coba bilang dengan bahasa yang mas Umar pahami, bahwa kita tidak selalu bisa membuat orang lain gak mengejek kita…tapi kita bisa membuat kita jadi gak peduli sama ejekan orang lain…

Seminggu…dua minggu…tiga minggu…empat minggu…lima minggu…teruuus prosesnya berlangsung. Sampai Umar gak mengeluh lagi…. suatu saat, ibu tanya..”mas, temen kamu masih ngejek?”..”masih” katanya…”tapi mas Umal cuekin aja…” good…

Sebulan kemudian ibu tanya lagi pertanyaan yang sama , dia bilang…”engga, malah sekalang **** sama *** baik banget sama mas Umal… malah belsahabat sama mas Umal”

hepi ending…..

Semoga pengalaman ini membuatmu menjadi kuat mas….yang jelas, pengalaman ini membuat ibu dan abah jadi banyak belajar….

Unforgetable October 2012 : Shocked

30 September 2012….

Harusnya menjadi hari perayaan wisuda. Wisuda ASIX ibu n de Azzam, yang tepat 6 bulan berhasil melaksanakan ASI eksklusif. Haha…lebay..kenapa musti wisudaan segala? Karena….baru kali ini ibu merasa pesimis  bisa memberikan ASI eksklusif untuk anak ibu. Sebenarnya setelah melahirkan Azzam, ASI mengalir deras…bahkan tak butuh stimulasi seperti sayur daun katuk dll. Seabrek Pil milmor dan moloco B12 yang diresepkan dokter, malah ibu kasihin ke tetangga yang baru melahirkan. Di freezer, berlusin-lusin botol ASI perah talah tersedia.

Namun apa daya…di bulan ke3 dan ke4, Azzam melakukan apa yang konon katanya disebut “nursing strike”. Bahasa gaulnya mah…mogok nenen dari botol !!!! dudududu… Maka…berlusin2 botol ASIP di freezer itu pun tak terkonsumsi. Dan semangat ibu untuk memerah ASI, langsung drop….

Tak disangka tak dinyana, bulan ke5, Azzam mau lagi nenen dari botol !! waduh…. produksi ASI tentu tak lagi sebanyak waktu diperah… Sebulan terakhir itu…penuh perjuangan lah…Sampai-sampai…sering ibu mau pergi jam 8, setengah delapan baru ada 1 botol, dan selama 30 menit itu, ibu berusaha menghasilkan 1 botol lagi. Saking sempet desperate-nya, untuk jaga-jaga ibu sampai beli sufor…..jangan sampai Azzam kelaparan kehabisan ASI waktu ditingggal ibu. Dengan pesan……jangan sampai si Sufor itu ketahuan si abah ! maklum….si abah malah marahin ibu waktu ibu bilang “menyerah” dan “pesimis” bisa ngasih ASIX sampai 6 bulan. Memang sih, gak cuman marahin…si abah juga menyetok berdus-dus susu ibu, kalau ke pasar selalu mengingatkan untuk beli daun katuk, beiliin pil-pil pelancar ASI….Makanya, begitu jreng…ulang bulan Azzam yang ke-6 merupakan kelulusan yang amat melegakan buat ibu.

Tapi….takdir berkata lain ….. halah;)

Sehari sebelumnya, teh AI (ini ceritanya inisial) minta izin pulang untuk menjemput teman sekampungnya untuk menemani kerja di ibu. Oke….tapi karena hari Minggu tgl 30 itu ibu mengisi seminar, maka ibu wanti-wanti agar teh AI gak nginep. Malah mau dijemput aja ama sopir, om Ayi. Tapi teh AI gak mau. Baiklah…..

Sabtu sore, jam 4…jam 5….jam 6…. teh AI belum datang. Hp-nya mati. Jam 7….jam 8….jam 9….ibu masih menunggu. Ibu percaya banget sama teh AI. Apalagi baju teh AI pun masih full di lemarinya. Jam 10…jam 11….ibu mulai khawatir…..takut ada apa-apa yang terjadi ama teh AI di jalan…mana hapenya mati lagih…jam 12…jam 1…jam 2….akhirnya ibu menyerah…setengah tak percaya…tapi itulah kenyataannya.

Seminar tak mungkin dibatalkan, karena acaranya cukup besar. Maka, tak ada jalan lain selain meninggalkan my little four terutama si baby Azzam sama abahnya, yang terpaksa membatalkan meetingnya karena….’mau gimana lagih?”

Duh….. itu mah ngisi seminar …meni gak konsentrasiii banget. Padahal panel ama dokter-dokter keren…. Gimana mau konsentrasi? Setiap 15 menit sekali si abah sms….

“azzam rewel banget nih…gimanain?” ….. jawab ibu: “ajak keluar rumah”

“azzam ngamuk….gimana?“….. jawab ibu : “buka aja pampersnya”

“masih ngamuk….gimana?“ …. jawab ibu: “mandiin…”

…………………..

Sms terakhir berupa laporan yang melegakan: “Akhirnya Azzam tidur, kuajak naik motor dipegangin Azka” hehe…rupanya si abah ingat formula jaman di rumah kontrakan dulu, kalau Azka ngamuk gak bisa didiemin, kita ajak aja puter-puter naik motor… paling lama 10 menit, udah pingsan;)

Selesai seminar…ngiler sih liat beragam makanan hotel yang menggiurkan yang sudah disiapkan….tapi liat hape, ada 8 miskol dari si abah….baiklah…langsung cabut pulang. Nyampe rumah…jangan tanya berantakannya rumah… di ruang tengah, 5 orang yang paling kusayang di dunia ini tengah makan makanan siap saji …. peyyuks….

Malam itu, mulailah meng sms-sms banyak orang. Membatalkan janji….meminta izin dari beragam rutinitas ibu. Sebenarnya masih fifty-fifty sih, dengan harapan teh AI datang lagih. Tapi hari Senin, ayahnya datang mau ngambil baju teh AI. “Bade nikah enjing bu” katanya…duh….kalau inget saat itu, pengen joget sambil nyanyi lagu Rhoma Irama “sungguh teganya dirimu teganya…teganya…teganya…” 😉

Yang paling jadi pikiran ibu adalah…gimana nasib Azzam? Dan Hana kalau hari Selasa dan Kamis gak sekolah….. triiiing…..untunglah beberapa bulan lalu ibu pernah ditugaskan fakultas untuk jadi konsultan parenting di acara PUSPA ANAK SEHAT. Itu adalah singkatan dari Pusat penitipan anak …. punya UNPAD yang dikelola oleh fakultas keperawatan. Langsung deh telpon temen di keperawatan. Tanya fasilitas, dll dll….Hari Senin itu, ibu langsung ke Jatinangor, survey tempatnya. Maklum…jadwal ngajar ibu full di hari Selasa, Rabu dan Kamis…. Ibu-ibu pengasuhnya sih sudah kenal…waktu acara parenting itu…Ada perawatnya…. pada sabar dan lembut….okeh…tenang…. meskipun harus melawan “value” dalam lubuk hati paling dalam kalau “home is the best place for my children” tapi….. si magic word keluar…”mau gimana lagi”….

Pas Bandung Air Show, ibu melihat atraksi solo pesawat yang terbang vertikal ke atas….atas…atassssss banget….lalu di satu titik, turun vertikal ke bawah…..bawah…bawaaaaaaah banget. Sampai hampir menyentuh tanah….

Ibu menghayati, seperti itulah hari-hari ibu… Sejak punya anak pertama umur 1,5 tahun, sampai anak ke-4, ibu selalu ada yang membantu. Asisten utama selalu teh Ema, dan dibantu oleh asisten pendamping. Dan sekarang, dengan 4 anak….1 bayi… no assistant….dan…sedang mengambil peran yang sangat aktif di luar…. dudududu….

…..bersambung…

Previous Older Entries Next Newer Entries