Ngajak Anak Nonton Film G30S/PKI: berdampak baik atau buruk?

Hari-hari kemarin timeline facebook saya penuh dengan pro & kontra mengenai kegiatan nobar film G30S/PKI bagi anak-anak. Sebagai pengamat amatir, seru juga baca beragam argumen orang-orang, baik yang pro maupun kontra. Dari mulai para akademisi, politisi, praktisi, sampai “semua orang”. Dari mulai yang pake literatur sampai yang common sense. Dari yang pake logika sampai pengalaman pribadi. Dari yang sistematis sampai yang emosional.

Berbeda dengan suami saya yang katanya gak pernah nonton film itu, jaman saya kecil rasanya selalu jadi rutinitas tahunan nonton film itu. Dalam suatu obrolan di sebuah wa grup, saat ada yang tanya pendapat mengenai nobar anak-anak terhadap film ini, saya bilang saya pribadi gak akan mengizinkan anak-anak saya nonton film ini. Alasannya sederhana saja : durasi, alur, visualisasi film ini gak didesain untuk anak. Saya ingat kalau mahasiswa-mahasiswa saya di magister psikolog bikin film untuk anak, banyak aspek yang harus diperhatikan. Durasi, alur, visualisasi, dll dll. Itu kalau memang ada tujuan spesifik yang ingin dicapai.

Tadi siang, si sulung  ujug-ujug bilang: “Bu, kita nonton film G30S/PKI yu” katanya. Trus dia cerita, sobatnya katanya semalam nonton. “Tapi katanya garing bu, banyak yang disensor. Lambang PKInya, trus darahnya jadi abu-abu katanya bu”. Hehe…seru juga denger pendapat remaja umur 15an itu. Karena TV langganan kami bisa “play back”, maka kami bisa menonton kembali tayangan film yang sudah diputar semalam di salah satu stasiun TV itu. Tiga puluh menit kami berdua menonton, sebelum harus berhenti karena kami harus ke Purwakarta, janji ke rumah neneknya. Saya tanya kesan dan pendapat si sulung tentang film yang ditontonnya : si sulung menjawab “serem”. “Apanya yang serem?” saya tanya. “Gak tau…suasananya gitu. Musiknya…Teknik pengambilan gambarnya…” katanya.

Besok, saya janjian sama si sulung untuk melanjutkan nonton film itu. Nanti saya akan ajak adik2nya juga. Kenapa?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Pro kontra mengenai dampak dari sesuatu, sudah amat amat sangat sering terjadi di kalangan masyarakat kita.

Misalnya nobar G30S/PKI ini. Yang pro mengatakan: kegiatan ini bisa menumbuhkan rasa cinta tanah air, menumbuhkan kesadaran akan bahayanya PKI, dll. Yang kontra berkata: anak bisa cuman nangkap sadisme nya aja, anak bisa terdorong untuk melakukan tindakan agresi, dll.

Kasus lain yang saya ingat, kasus anak melihat penyembelihan hewan qurban. Kata yang pro : bisa menumbuhkan rasa tauhid. Kata yang kontra : bisa menumbuhkan perasaan trauma.

Kasus lainnya lagi: soal tepuk “islam yes kafir no”. Kata yang pro: tepuk ini bisa menumbuhkan tauhid. Kata yang kontra: tepuk ini bisa menumbuhkan radikalisme.

Debat pro dan kontra ini, biasanya gak berujung pada satu titik temu. Malah biasanya merembet ke hal-hal lain yang seringkali “gak nyambung”. Biasa…hitam putih gitu.

“Gak ngijinin anak ikut nobar film G30S/PKI? berarti kamu pendukung PKI”.

“Ngebolehin anak liat penyembelihan hewan qurban? berarti menanamkan bibit traumatik pada anak. Artinya tidak siap jadi orangtua”.

Seolah-olah gak mungkin ada opsi lain. Seolah-olah setelah nonton, kalau gak cinta tanah air ya jadi PKI. Seolah-olah setelah liat penyembelihan hewan qurban, kalau engga bertauhid, ya traumatik. Seolah-seolah setelah tepuk “islam yes kafir no”, kalau engga tauhid ya radikal.

Dan memang pro kontra ini gak akan pernah bisa ketemu karena…. masing-masing pihak beranjak dari asumsi masing-masing. Asumsi.

pkiHanya ada satu cara yang bisa mempertemukan dua asumsi ini. Dan rasanya belum banyak yang mengemukakan: buktikan secara empirik ! Kita suka lupa kalau yang kita omongin itu, anak-anak itu, bukan benda mati. Mereka hidup. Dan mereka pemeran utamanya. Seolah-olah yang menentukan apa yang tumbuh dalam pemikiran dan perasaan mereka itu kita. Buktikan secara empirik apa yang sesungguhnya terjadi pada mereka. Mereka yang mengalami dan menjalani kok. Anak-anak itu. Mereka narasumber yang paling sahih.

Misalnya dalam kasus tepuk “islam yes kafir no”. Apakah yakin dengan melakukan tepuk itu ketauhidan anak-anak tumbuh? apa indikatornya? apakah yakin dengan tepuk itu anak akan tumbuh menjadi radikal? apa indikatornya?

Mari temukan jawabannya dengan data empirik. Ilmiah. Ada metodenya. Eksperimental atau kuasi eksperimental. Buat indikator ketauhidan dan radikalisme. Buat treatmentnya. Satu kelompok lakukan tepuk itu sebulan berturut-turut, satu kelompok engga. Lalu ukur ketauhidan dan radikalismenya.

Jangan-jangan, saya curiga….tauhid gak tumbuh, radikalisme gak tumbuh. Lempeng aja gitu. Karena mungkin bukan di tepuknya tauhid atau radikalisme itu tumbuh. Tapi dari penjelasan dan elaborasi guru terhadap tepuk itu. Anak-anak TK kan konkrit. Sedangkan “yes” dan “no” itu abstrak.

Demikian juga pada kasus-kasus lain. Kasus melihat penyembelihan hewan Qurban misalnya. Soalnya tiap tahun ituuuuuu aja yang yang diperdebatkan. Juga soal nobar ini. Buat indikator “cinta tanah air”; buat indikator “mewaspadai paham komunisme”. Lalu ukur pada dua kelompok: yang nonton sama yang engga. Bisa pake desai ex post facto, eksperimental atau kuasi eksperimental. Saya juga curiga, jangan-jangan “tak berbekas” apa-apa.

Itulah sebabnya saya gak akan mengizinkan anak-anak saya kalau ada acara nobar film ini di sekolahnya. Apalagi anak SD. Gak kebayang anak-anak millenial kelas 1 – 3 SD, yang rentang konsentrasinya masih bergerak di kisaran 60 menit, nonton film yang sangat tidak menarik buat usia mereka (buat yang nonton, coba ingat-ingat lagi adegan-adegan awal. Narasi dengan kalimat2 panjang dengan gambar-gambar tak bergerak, orang lagi sholat diserang, kakek-kakek nenek-nenek antri, presiden disuntik, ….). Dengan durasi sekian panjangnya.

Menurut saya, menumbuhkan sesuatu itu tidak mudah. Menumbuhkan rasa cinta tanah air. Menumbuhkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap paham komunisme…. itu harus ada penjelasan yang age-appropriate.

Misalnya aja, Tadi, setelah nonton 30 menit itu, saya dan abahnya bertanya; “Kaka ngerti gak paham komunis itu apa? bisa gak ngasih contoh?” si kelas 9 itu menggeleng. “Kalau misalnya kaka di kelas, ulangan. Ada yang belajar ada yang engga. Terus yang belajar harus ngasih tau yang gak belajar, biar nilainya sama. Gak boleh ada yang 100, gak boleh ada yang 0. Harus 70 semua. Nah, itu sama rata sama rasa. Menurut ibu dan abah, kayak gitu ideologi komunis teh. Kaka setuju gak?” “Ih, engga atuh, enak aja gak menghargai yang berusaha”. 

Nah, kalau ibu guru-bapak guru gak melakukan elaborasi apa-apa, cuman nobar aja, saya gak tau apa yang ketangkep sama anak-anak itu.

Si pencarian fakta empirik, penelitian yang saya usulkan untuk dilakukan itu, emang ada yang mau melakukan? emang negara mau melakukan? Kalau saya jadi mentri mah mau saya lakukan da  (haha…halusinasi tengah malem).

Tapi yang jelas, saya akan lakukan. Saya akan ajak 4 anak saya nonton, lalu masing-masing akan saya amati reaksinya, saya tanya pemahaman mereka apa, perasaan mereka gimana, kalau negatif akan saya berikan debriefing, kalau takut saya bisa hentikan, akan saya catat rentang konsentrasi masing-masing anak berapa lama; kayak kalau mahasiswa saya bikin film untuk anak lalu mereka lakukan uji coba.  Sehingga kalau tahun depan ada polemik pro kontra soal nobar ini, trus saya ditanya sebagai psikolog, saya punya data empirik untuk menjawabnya. Tidak hanya berdasarkan asumsi dan perasaan semata.

 

 

Advertisements

Mencerna Duka

Setiap kali saya membuka agenda saya, setiap hari Kamis, 2 minggu sekali, tertulis dengan spidol merah: “Kemo Papah”. Hari ini, hari ke-22 papah tiada. Setiap teman yang bertemu, selalu bertanya: “gimana mamah?”. Khusus teman-teman dekat Psikologi, mereka juga bertanya: “Lu sendiri gimana?”.

Sampai hari ke-7 papah tiada, saya menemani mamah di Purwakarta. Selain menemani secara fisik, saya ingin memastikan bahwa mamah melalui proses berduka dengan sehat. Saya tahu bahwa perilaku yang kasat mata terlihat “hebat, kuat, ikhlas”; seringkali tak berarti baik secara psikologis. Dan jika tak baik, artinya ada dampak tak baik juga. Saya mencermati apakah mamah akan punya social support yang memadai untuk melalui kedukaan ini.

Berduka. Ya. Tidak mudah bagi seseorang kehilangan pasangannya, setelah 39 tahun bersama. Salah satu butinya, Holmes and Rahe pada tahun  1967 mengembangkan  kuesioner yang bernama The  Social Readjustment Rating Scale (SRRS), untuk mengidentifikasi kejadian hidup yang membuat stress (stressful life events). Hasilnya, menempatkan “kematian pasangan” sebagai kejadian yang menimbulkan stress di urutan pertama, dengan skala 100.

Di 7 hari pertama itu, saya menemani mamah mencerna ketiadaan papah. Dan saya melihat, cara budaya membantu mamah menjalani proses berduka di tahap awal, sangat terasa. Selama 7 hari, ada pengajian setiap bada isya. Tamu-tamu masih mengalir. Mendengarkan kenangan-kenangan baik sahabat-sahabat, kenalan, para “mantan”  murid, “mantan” mahasiswa papah, membantu kami merasa tenang. Secara kognitif.

Mempersiapkan “gudibag” di pagi hari bagi puluhan jamaah masjid yang mengaji mendoakan papah, dengan bantuan dari teman-teman pengajian mamah, membantu mamah meluapkan segala rasanya. Saya mengamati teman-teman pengajian mamah yang rata-rata juga sudah ditinggalkan wafat suaminya, menemani mamah dengan caranya masing-masing. Ada yang menyampaikan pendekatan agama: “kalau kangen, doa aja sama baca Al Ikhlas. Biar kita ingat bahwa rasa kita ini gak boleh melebihi tauhid kita pada Allah”. Ada yang menyampaikan pendekatan “humoris”: “sebenernya kalau seumur kita, yang bikin sedih itu kalau pas genteng bocor, gak ada yang dimintai tolong”. Ada juga pendengar yang baik, yang memvalidasi semua perasaan mamah. “Iya, wajar kalau nanti kasuat-suat. Gapapa nangis aja yang puas”.

Di hari ketujuh, budaya di derah mamah adalah, keluarga memberikan/membagikan pakaian almarhum pada kerabat/jamaah pengajian. Maka di hari ketiga, mamah mengajak saya mengeluarkan baju papah. Saat itu, setiap baju yang keluar dari lemari, mamah ceritakan belinya dimana, dipakai waktu kapan, lalu mamah menentukan itu akan dikasih ke siapa. Saya sendiri memilih sarung yang 2 hari sebelum wafatnya papah, masih papah pakai untuk sholat Iedul Adha. Mamah melakukan proses itu sambil tersedu. Saya merasa kegiatan ini menfasilitasi cara berduka yang sehat.

Besok harinya, giliran saya yang tersedu-sedu. Kami akan membagikan buku-buku papah. Buku-buku agama yang sekiranya tidak akan dibaca mamah, kami sumbangkan ke perpustakaan mesjid. Kebanyakan tugas-tugas mahasiswanya. Sebagian besar yang lain referensi saat papah menyususn tesis 2012 lalu. Saya berikan pada adik saya yang guru, untuk diberikan pada rekannya yang membutuhkan. Sebagian besar yang lain adalah buku-buku bahasa dan sastra juga karya-karya tulis papah. Yang ini, saya bawa ke Bandung.

Kenapa saya yang tersedu-sedu? Karena saya ingat bagaimana asal muasal dunia saya kini. Waktu SD, sepulang sekolah saya selalu dibawa papah mengajar. Dan perpustakaan, adalah tempat favorit saya. Saya benar-benar tenggelam dalam buku. Dan nikmat sekali rasanya. Setiap tugas mahasiswa dulu, resensi roman-roman semacam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Robert Anak Surapati…. setiap ada buku baru yang datang ke perpustakaan di SMA tempat papah mengajar, rasanya saya yang baca terlebih dahulu. Lalu bagaimana papah mengajarkan mengarang yang baik, menyusun naskah pidato yang baik, mengikutsertakan saya di berbagai perlombaan mengarang dan pidato, menemani saya kala degdegan di pertandingan tingkat kabupaten, provinsi, tersenyum bangga saat saya pulang membaaw piala, atau menghibur saya kala saya pulang dengan tangan hampa.

Hari ke-9, mamah ke rumah saya, karena mengurus berbagai surat ke Bandung. Memasuki kamar tempat papah ia rawat 7 bulan terakhir, melihat tongkat papah, kursi yang biasa diduduki papah, mamah tersedu lagi. Wajar. Ketemu tukang sayur yang suka ngobrol sama papah saat papah berjemur, mamah menangis. Ketemu tukang baso malang langganan papah, ketemu pak satpam yang suka nemenin papah jalan pagi, nangis. Ya, saya sangat bisa memahaminya. Itu adalah proses yang sehat menurut saya.

Kemarin mamah bilang bahwa setiap malam ia tidak bisa tidur, inget papah terus. Saya bilang wajar. Lalu saya ceritakan beberapa pengalaman senior saya atau klien saya, para istri yang ditinggal wafat suaminya. Tidak mudah. Sangat tidak mudah. Dan saya tahu betul itu tidak mudah.

Mamah, 39 tahun bersama dalam berbagai episode kehidupan. Susah senang, pahit manis, tertawa menangis…. Saya, mungkin intensif dengan papah 15 tahun pertama saja. Tapi sampai hari ini, saya masih “mencerna” kematiannya, masih “mencerna” kejadian ini. Sejak kembali dari Purwakarta 2 minggu lalu sampai sekarang, saya masih drop. Tekanan darah drop, asam lambung naik. Teman saya, dokter yang saya datangi  bilang: “kayaknya lu kurang istirahat deh, kecapean kali”. Apa ya? padahal justru otak ini kayak belum mau diajak “kerja”. Pekerjaan yang membutuhkan pemikiran “serius” belum bisa saya lakukan. Oh ya…saya tahu… setiap malam, saya tidur. Tapi rasanya pikiran saya tidak tidur. Saya masih mencerna apa makna kematian papah. Padahal saya ikut semua prosesnya. Memandikan, mengkafani, menyolatkan, sampai ke liang lahat. Tapi saya tetap merasa butuh waktu untuk mencerna semua ini.

Berbeda dengan si bungsu yang dengan “sederhana”nya berkata: “kakek kan udah meninggal, udah dikubur, udah gak ada”. Bagi saya, ternyata tak sesederhana itu. Saya tidak tahu apa nama rasa yang saya rasa kala saya tiba-tiba menangis. Secara kognitif, saya tahu ini yang terbaik untuk papah. Saat minggu kemarin saya demam, saya sesak, saya batuk, saya ingat bahwa sakit yang saya rasa, tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang papah alami. Jadi, ini yang terbaik. Bahwa setiap manusia akan wafat… ya, saya mengerti. Rasa yang menyertai tangis ini…bukan sedih yang sakit, tapi …mungkin ini yang namanya “duka”

Seperti juga yang saya bilang pada mamah dan adik-adik saya yang punya cara berduka dan meresapi kehilangan dengan caranya masing-masing, saya juga membiarkan saya melalui proses ini. Proses mencerna ini, rasa “aneh” ini, tangis ini, rindu ini…

Saya ingin perasaan ini  larut perlahan, saya akan menikmati prosesnya. Maka, pada teman-teman psikologi yang sangat concern bertanya: “lu sendiri gimana?”. Saya bilang: “gue menjalani proses berduka. tenaaang…gue nangis kok”. Ya, seperti yang saya bilang pada mamah, akan butuh waktu lama and it is oke not to forget someone we love. Saya tahu, akan ada moment-moment yang mengingatkan setiap waktu, situasi atau tempat pada kehadiran papah. Kami mungkin akan menangis tahun depan, tahun depannya lagi, tahun depannya lagi, but i think it is oke. Saya berusaha mengimbangi setiap titik air mata dengan doa. Biar hujan airmata ini, papah rasakan sebagai hujan pelukan doa.

Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu.

Menemukan binar di mata anak-anak kita

Rasanya udah dua kali deh saya menulis tema ini; “binar mata”. Ih, suka banget sama frase ini.  Salah satu yang saya ingat adalah tulisan yang berjudul https://fitriariyanti.com/2017/02/06/tentang-binar-mata-anak-anak-kita/

Salah satu kalimat dari tulisan tersebut adalah “…. sesuatu yang dipilih dan digeluti karena passion, akan dilakukan dengan penuh kesungguhan. Dan orang yang bersungguh-sungguh itu, selalu mempesona. Selalu menginspirasi. Selalu menggerakkan”.

IkigaiNah, di tulisan ini saya akan menceritakan 3 orang yang saya temui, yang sudah menemukan “ikigai”nya.

Bahasa populernya, ikigai adalah the thing that gets you up in the morning. Apa yang membuat kita semangat bangun di pagi hari dan semangat menjalani hari demi hari kita, membuat kita mengatakan : I love my day, I love my life. 

Ah, bagi kita yang muslim mah yang harus jadi ikigai teh beribadah atuh; kan Allah menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepadaNya. Yups! Seratus! Tapi kalau ibadah itu hanya dimaknakan sholat-tilawah-puasa; kurang pas. Bukankah setiap helaan nafas dan tiap detik hidup kita ibadah?  Dan Allah gak memerintahkan kita buat sholat tanpa henti. Itu artinya, setiap yang kita lakukan, adalah bernilai ibadah jika memenuhi syarat syar’inya.

Menjadi ibu rumah tangga: mencuci, menyetrika, nyebokin anak-anak, masak, adalah ibadah. Menjadi profesor fisika, menguak misteri alam semesta, menemukan sunnatullahNya, adalah ibadah. Menjadi dokter, akuntan, guru, terapis, Konsultan IT, pelayan minimarket; apapun yang kita lakukan, bisa jadi ibadah.

Tentu berbeda saat kita mengerjakan aktifitas yang bernilai ibadah dengan “malas-malasan”; “tertekan”; “merasa itu adalah kewajiban”; dan kehilangan makna- dengan ketika kita menjalankan ibadah dengan mata berbinar, penuh kerelaan, penuh semangat-penuh penghayatan dan pemaknaan.

Seorang ibu yang menemukan bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah ikigai-nya, akan menjalani pekerjaan “remeh-temeh-monoton” yang membosankan dan menekan bagi sebagian ibu lain, dengan penuh penerimaan dan sukacita. Apa tanda seseorang telah menemukan “ikigai”nya? ia tampil mempesona, menginspirasi dan menggerakkan buat orang-orang yang terpapar olehnya. Menjadi apapun ia! dengan atau tanpa prestasi kasat mata.

Beberapa bulan lalu, saya menemui seorang dokter untuk membantu permasalahan kesehatan ayah saya. Nama dokter ini, sudah sering saya dengar dari beberapa kenalan yang memiliki kondisi kesehatan serupa ayah saya. Recommended. Ketika saya telpon tempat praktek dokter tersebut, costumer service-nya minta saya datang tepat waktu. “dokternya on time banget bu” katanya. Oke.

Waktu menunjukkan jam 4 kurang 5 menit di ruang praktek dokter tersebut. seorang bapak masuk ke ruang tunggu dengan wajah ramah. Menyapa beberapa petugas, dan menghampiri ibu-ibu customer service. “Pa kabar? gimana anaknya udah sembuh? Nih, aku punya oleh-oleh kemarin dari Bangkok”. “Ih dokter…selalu aja kalau dari mana-mana inget oleh-oleh buat kita”. Oh…dia dokter toh. Bla,,bla,,bla,,perbincangan ringan dan penuh tawa. Masuk ruangan, lalu kami dipanggil. Ternyata dokter yang sering saya dengar namanya itu ! langsung jatuh cinta deh. Sama keramahannya, sama caranya menjelaskan kondisi ayah saya yang secara medis berat  namun bisa ia paparkan dengan perspektif lain sehingga bikin kita menerimanya dengan “ringan”, kesediaannya menghubungi dokter lain di RS yang akan kami tuju. Bidangnya yang terkait dengan penyakit kronis dan terminal, tidak membuatnya kehilangan “kehidupan”. Beliau begitu  “hidup dan menghidupkan”. Enjoy, sangat menikmati profesinya. Menurut saya, ia telah menemukan ikigai-nya. Mempesona.

April lalu, setelah pentas seni perpisahan di sekolahnya, si bungsu “terpilih” untuk kembali mementaskan sandiwara yang sama, di festival hutan raya juanda. Sutradara sekaligus pembimbing teater anak-anak TK itu, adalah seorang Bapak dua anak. Menurut kacamata psikologi, dia sangat bisa membuat alur yang “pas” untuk kodisi anak-anak umur 3,4,5 tahun itu. Alur cerita, dialog, gerak dan kombinasinya membuat sandiwara anak-anak itu begitu hidup dan dapat dinikmati secara “profesional”. Baru kali itu saya melihat proses bagaimana beliau melatih anak-anak ini. Beliau yang juga berperan sebagai “pemain utama”; musuh dari anak-anak itu, all out sekali bermain perannya. Ia tak menegur anak-anak yang mengobrol, yang gak mau diem, tapi ia menjadikan itu bagian dari cerita. Yang bikin mata saya berkaca-kaca dan “jatuh cinta” padanya adalah, pada saat ia menutup sesi latihan itu. “Anak-anak, anak-anak latihannya hebat sekali. Semangat, dan bergembira. Besok, kita akan ditonton tidak hanya oleh mama papa kalian, tapi oleh orang lain yang tidak kalian kenal. Besok anak-anak mainnya harus lebih …..” Saya menduga ia akan mengatakan “lebih sungguh-sungguh, atau lebih serius”. Tapi diluar dugaan, ia mengatakan: “lebih bergembira lagi ….” Kata-kata akhir itu, disambut sorak -sorai anak-anak. Ah, ia begitu larut dengan keriangan anak-anak. Menurut saya, ia telah menemukan ikigai-nya. Mempesona.

Tahun lalu, saya sempat akan memindahkan sekolah si gadis kecil. Gurunya mengecewakan sekali. Sudah sampai batas toleransi saya. Padahal selama menyekolahkan si sulung 6 tahun, si bujang kecil 5 tahun, dan si gadis kecil satu tahun di sekolah tersebut, selalu kagum dengan sistem pembelajaran dan pendekatan guru di sekolah ini. Karena si gadis kecil tidak mau pindah, maka saya berharap guru di kelasnya sekarang, kembali guru-guru yang menyenangkan seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya. Dan doa saya terkabul. Wali kelas si kelas 3 itu, adalah guru “favorit” semua anak. Dan sangat terasa sejak awal bergabung di grup wa, semakin jelas saat pertemuan dengan orang tua minggu lalu. Beliau sangat enerjik.

Saya psikolog anak. Tapi mendengarkan penuturan beliau mengenai sistem yang ia bangun, perspektif-perspektif beliau tentang anak-anak, jujur saya sampai berkaca-kaca. Begitu menggerakkan. Di saat saya sering mendengar perspektif guru: “yang paling berperan kan orangtua di rumah”, jadi tetap tanggung jawab orangtua yang lebih besar; bu guru ini tiap jumat sore berpesan pada kami: “ayah bunda, titip anak-anak ya….sholat lima waktunya, sholat dhuhanya, adab-nya” . Ya ampuuun…menyentuuuh banget.  Seolah anak-anak ini sepenuhnya tanggung jawab beliau. Tiap hari, sepulang sekolah, kami akan mendapatkan foto-foto bahkan video proses pembelajaran hari itu. Si gadis kecil pun cerita: “Pas belajar selalu sambil ada lagu bu, lagu anak-anak. Jadi enakeun belajarnya.” Si gadis kecil yang “free spirit” dan gak terlalu minat ke akademik pun tiap hari jadi semangat. Ngapalin perkalian lah, minta latihan mencongak lah…. Ibu guru itu, begitu dinamis, begitu menikmati perannya. Menurut saya, ia telah menemukan ikigai-nya. Mempesona.

Dari ketiga orang yang saya temui di atas, saya menarik satu kesimpulan baru, selain kesimpulan sebelumnya :

(1) Sesuatu yang dipilih dan digeluti karena passion, akan dilakukan dengan penuh kesungguhan. Dan orang yang bersungguh-sungguh itu, selalu mempesona. Selalu menginspirasi. Selalu menggerakkan”.

(2) Ikigai bukan tentang “menjadi apa” dan “di lingkungan bagaimana”. Mau pekerjaan formal atau pekerjaan informal; pekerjaan yang stressful atau pekerjaan freelance; pekerjaan besar atau pekerjaan kecil; bidang   akademik atau non akademik, kalau itu adalah ikigai kita, kita akan melakukannya dengan penuh kebahagiaan. Badan boleh lelah, namun jiwa selalu penuh. Eksistensi dan prestasi mah hanya konsekuensi.

Bagi saya yang bergerak di bidang individul differences, saya sangat yakin dengan hadis “setiap orang dimudahkan untuk apa ia diciptakan”.

desktop_ikigaiMaka, sebagai orangtua, tugas kita adalah mendampingi anak-anak kita menemukan ikigainya, menemukan “binar mata”nya. Kalau kita lihat dari diagram venn-nya, ikigai adalah irisan dari :

(1) what you love; (2) what you are good at; (3) what you can be paid for; (4) what the world need. 

Kapan anak kita harus menemukan ikigainya? kalau dari psikologi perkembangan, harusnya di usia dewasa muda. Tapi itu berproses. Ikigai adalah journey of self discovery. Dan self discovery itu, dimulai sejak dini.

Menurut saya, dua poin pertama: what they love dan what they are good at, sudah mulai bisa diamati dan dieksplor sejak prasekolah, terutama di usia SD, dan sudah semakin mengerucut serta menguat di usia SMP. Diskusi mengenai dua poin selanjutnya ; what you can be paid for dan what the world need, bisa memanfaatkan moment pemilihan jurusan di Perguruan Tinggi saat anak di SMA. Poin terakhir levelnya sudah abstrak.

Tapi yang harus diingat: itu adalah proses. Sering orangtua bertanya: apakah ada test untuk menemukan minat dan bakat anak? banyak yang menawarkan dengan segala macam bentuk dan harga. Tapi saya sendiri selalu mengatakan, alat test yang paling akurat adalah, pengamatan orangtua yang sekian tahun bersama anak. Yang lain hanya membantu.

Mengapa kita orangta sering “nge-blank” melihat arah potensi anak? menurut pengamatan saya, salah satunya adalah karena kita membatasi apa yang diamati hanya dalam konteks akademik. Matematika jelek, bahasa gak suka, seni gak terampil. Jadi diarahkan kemana dong? Padahal kalau kita membuka mata, mungkin kita akan melihat jelas bagaimana anak kita  adalah seorang yang supel. temennya banyaaaak…selalu kepilih jadi ketua, kalau jadi sie danus pas bazar SMA, selalu dapet banyak karena bisaan melobi donatur.

Anak kita nilanya lempeng…gak ada yang menonjol. 8 semua. Arahkan kemana dong? Bingung. Mari buka mata. Dia selalu jadi tempat curhat temennya. Dia selalu ngemong adik-adiknya. dia selalu care sama kondisi orangtuanya. Banyaaaak profesi di bidang social service yang akan bisa dilakukan anak ini dengan mata yang berbinar dengan potensinya ini.

Pengalaman saya dalam kasus-kasus penjurusan, orangtua yang anaknya “gak menonjol” bisa jadi sama pusingnya dengan orangtua yang anaknya “menonjol semua”. Matematika, 10, bahasa 10, IPA 10, harus diarahkan kemana?

Tetap, mata dan telinga orangtua adalah alat test terbaik. Dengarkan intonasi saat ia menceritakan sesuatu. Lihat binar matanya, semangatnya, antusiasmenya. Itulah potensi ikigainya. Saya menyimpulkan ini dari si bujang kecil. Setiap kali bagi raport, saya minta masukan dari gurunya, guru-gurunya selalu bilang: “Apa ya, Udah bagus da. Nilainya bagus semua. Bisa diarahkan ke mana aja”. Oke…jurusan apa yang keren? informatika! si abah nyariin website yang berisi latihan koding untuk anak. Ada level-levelnya. Sehari, dia udah gak keliatan main itu lagi di laptopnya. Saya tanya, “udah beres sampai level terakhir bu”. Mudah buat dia. Tapi apakah matanya berbinar? apakah ia bangga? engga. Mungkin kalau saya “paksa” dia masuk bidang seperti itu, dia bisa. Tapi apakah ia akan bahagia dan “mempesona?” I’m not sure. 

Tapi kalau dia udah ngomongin fakta-fakta fisika, apa yang ia baca, apa yang ia dengar, intonasi semangat itu saya dengar. Tontonanfavoritnya di TV, science of stupid yang membahas prinsip-prinsip fisika dalam kehidupan sehari-hari. Tontonan yutubnya, eksperimen-eksperimen sains. Kalau ditawarin hadiah, mintanya kit sains. Pernah dia bikin eksperimen apaaa gitu… saya gak pernah liat dia setekun itu berjam-jam dan ber yes ria semembuncah itu saat saat berhasil. Fisika murni! itu kesimpulan kami sejauh ini. Gak masuk teknik? gak keren atuh…sayang kan pinter. Ah, hidup mah terlalu singkat untuk cuman buat dapetin kata keren menurut orang lain.

Gimana kalau gak kunjung terlihat? mungkin kita kurang memberikan wawasan dan pengalaman buat anak. Ikutkan anak macam-macam kegiatan, bereksplorasi, lalu amati. Tenaaaang…jangan kabita sama kabar kalau di luar negeri anak udah menjurus ke salah satu bidang di usia dini. Beda sistem, beda kultur. Sistem besarnya gak pas sama di Indonesia. Begitu kesimpulan disertasi teman saya.

Jadi, mari berseluncur ke dalam diri kita, temani anak-anak kita berseluncur ke dalam dirinya, menemukan fithrah keuikan penciptaan Sang Maha dalam dirinya. Kalau udah ketemu, binar mata itu akan terlihat. Mempesona.

 

 

 

 

The Teenage Brain : Being Teen (1)

the-teenage-brain-hc-c-1420580254Paling seneng kalau lagi punya buku keyyen yang sedang dibaca. Kala penat melanda, membaca buku keyyeeen sambil tiduran adalah dream comes true. Buku keyyen yang sedang saya baca adalah The Teenage Brain : A Neuroscientist’s Survival Guide to Raising Adolescents and Young Adults. Buku ini sudah dibeli sejak April lalu, bareng sama buku Harry Potter and The Cursed Child. Tapi tentunya buku Harry Potter duluan yang tamat haha….Buku ini tebalnya 358 halaman, berisi 17 bab utama plus 2 bab pengantar dan penutup.

Saya baru baca bagian Introductionnya: Being Teen. Tapi saya udah jatuh cinta banget sama buku ini. Dan sangat kabita untuk bisa nulis buku kayak gini suatu saat nanti. Buku ini adalah buku “ilmiah”, terlihat jelas dari referensi yang terdiri dari jurnal-jurnal ilmiah plus adanya indeks di bagian belakang buku ini. Pantaslah karena ditulis oleh seorang profesor neurologi. Beliau adalah Frances E. Jensen, MD, kepala departemen neurologi di Perelman School of Medicine, University of Pennsylvania. Sebelumnya, beliau adalah profesor neurologi di Harvard Medical School.

Tapi bukan itu yang bikin buku ini mempesona. Beliau menuliskan buku ini bukan hanya sebagai seorang profesor, namun sebagai seorang ibu. Ke”kaget”annya menghadapi perubahan perilaku pada dua puteranya saat memasuki tahap perkembangan remaja-lah yang mendorong ia menuliskan buku ini. Karena itulah meskipun kontenya ilmiah, bahasa di buku ini jauh dari ke”garing”an bahasa ilmiah. Penuh dengan warna emosi yang menyentuh. Sebagai emak dari remaja, saya pengen toss-an sama beliau haha… Bahasanya mengalir ringan, bahasa “curhat” emak-emak kkk… Kebetulan bahasa Inggrisnya lumayan gampang untuk dipahami oleh saya yang kemampuan bahasa inggrisnya pas-pasan.

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, begitu kata Ali Bin Abi Thalib. Maka, bab per bab yang saya baca dalam buku ini ingin saya abadikan di sini. Meskipun saya bingung juga gimana nulisnya. Saya baca sambil pake stabilo. Dan kalau gak “ditahan”, pengen stabiloin semuanya haha… Sebenernya, sebagian besar yang tertulis dalam buku ini bukan pengetahuan baru. Namun seperti menguatkan dan melengkapi potongan puzzle pengetahuan dan pengalaman saya.

Baiklah…saya akan mulai menuliskan poin-poin bagian pengantar dari buku ini : being teen. Saya akan mengelaborasinya dengan pengetahuan dan pengalaman saya.

Pada bagian ini, beliau memulai dengan mengemukakan kekagetannya akan perubahan perilaku yang terjadi pada puteranya yang memasuki usia remaja. Is this really my child? Ia melihat puteranya seperti “terperangkap” di suatu tempat antara anak dan dewasa. Masih implusif dan labil dalam emosi, namun secara fisik dan intelektual lebih terlihat seperti orang dewasa dibandingkan seperti anak. Puteranya melakukan eksperimen terkait identitas dirinya, and the most basic element of his identity was his appearance.

Pause dulu.  Saya ingin membahas dulu mengenai kalimat yang saya miringkan. Buat para emak yang anaknya usia remaja, kemungkinan mengalami bagaimana anak mulai usia SMP, kalau beli baju, bingung menentukan. Atau udah dibeli, lalu gak dipake setelah sekali ia coba muter-muter di depan kaca dan ia merasa gak nyaman. Ujung-ujungnya, yang dipake cuman baju ituuuuu aja. Kesel? jujur, ya. Perilaku lain yang tampak adalah, ia mencoba-coba baju orang lain. Si sulung saya yang berumur 14 tahun, sering pake punya saya. Mulai baju, kulot dan sepatu, baik secara terang-terangan maupun tidak. Tidak terang-terangan maksudnya gimana? beberapa kali di gallery foto hapenya saya melihat foto atau video ia memakai baju-baju saya saat saya pergi. Saya ngerti sekarang. Itu bagian dari ekslporasi pencarian jatidiri. Si sulung juga beberapa kali mencoba “pergi ngumpet-ngumpet” karena gak mau diliat sama saya gaya berpakaiannya. Haha…jadi inget saya dulu, sering juga ngumpet-ngumpet pergi kayak gitu, waktu itu eksperimen pake kerudung hehe. Kenapa ngumpet-ngumpet? karena tahu gak akan disetujui. Tampaknya, demikian juga pemikiran si sulung. Ini adalah hal yang sederhana. Tapi kalau kita tidak paham, bisa jadi sumber keributan dan jadi jurang pemisah antara orangtua-anak. Saya ingat seorang ibu yang sangat kesal pada putri bungsunya yang sering memakai baju milik 3 kakak puterinya tanpa minta izin. Tentunya kakak-kakaknya merasa kesal, kenapa sih gak beli sendiri? Ibunya juga bingung. Diajak beli baju sendiri gak mau, tapi pake baju orang lain. Nah, ini jawabannya. Menemukan identitas diri. Identitas fisik adalah kulit paling luar dari identitas.  Kalau di barat, pencarian identitas itu bisa sampai ke hal-hal yang “dalam” loh… misalnya ke identitas gender. Sudah “biasa” di masa remaja ini seorang perempuan menjadi lesbian, anak laki-laki menjadi gay. Nanti setelah selesai beresksperimen, mereka akan menemukan “jatidiri” mereka sendiri.

Nah, kalau dikaitkan sebagai orangtau muslim, bagaimana sikap kita? menurut saya, pencarian jatidiri ini merupakan bagian penting dalam kehidupan individu. Buku-buku parenting menyebutkan bahwa tugas orangtua itu “hanya” dua. Socialization dan Individuation. Socialization artinya mengajarkan anak nilai-nilai yang diterima di masyarakat dimana ia hidup. Sebagai seorang muslim, nilai-nilai agama termasuk ke dalamnya. Individuation artinya ia menemani anak menemukan “dirinya”; sehingga ia akan menjalani nilai-nilai itu sebagai “dirinya” yang unik. Maka, kalau kita punya 4 anak (saya maksudnya hehe), tujuan pengasuhannya adalah menjadikan 4 anak ini sholeh, masuk syurga, dengan keunikannya sendiri-sendiri. Tidak harus semuanya jadi hafidz, karena tak semuanya punya memori yang kuat. Tapi semua sholeh sesuai dengan kekuatan dan keterbatasan yang Allah karuniakan. Maka, penemuan jatidiri ini menjadi penting.

Jadi biarkan aja gitu?remaja bereksplorasi sesukanya?  dalam buku ini, penulis menggambarkan bagamana shock-nya ia melihat anaknya mengecet warna rambutnya. Karena menyadari ini bagian dari pencarian identitas diri, maka ia memilih untuk “menemani” anaknya bereksplorasi. Ia temani anaknya ke salon. Memberi ruang bereksperimen namun tetap dalam pengawasan, itu jauh lebih aman. Dan saya setuju! sama lah kayak ke anak 2 tahun. Pengen berenang di tempat dalem. Kalau dilarang, ia jadi tak tahu apakah ia bisa atau engga. Kalau dibiarkan, berbahaya. Cara terbaik adalah, mengizinkannya dengan ditemani. Siapkan pelampung, temani. Anak akan mengalami dan menghayati kemampuan dan keterbatasan dirinya dengan cara ini. Saya ingat seorang teman saya, beberapa tahun lalu anak laki-lakinya sangat senang dengan aktivitas cosplay. Ia masuk ke komunitas itu. Anaknya memang nyeni. kreatif mendesain cosplay, bahkan di usia  SMP sudah sering dapat uang sendiri hasil aktivitasnya ikut lomba atau pameran cosplay. Teman saya ini menyadari bahwa kegiatan ini, ada positifnya namun ada potensi negatifnya. Komunitas cosplay tidak hanya berisi anak-anak “baik”. Maka, ia mengizinkan anaknya ikut kegiatan ini sampai ke luar kota, dengan satu catatan: ia ikut. Dan si anak menerimanya.

Dalam skala kecil, eksperimen dengan identitas dalam bentuk baju saya alami bersama si sulung. Dan saya ingat satu kalimat dari buku ini : try not to focus on winning the battles when you should be winning the war. The endgame is to help get them through the necessary experimentation that they instinctively need without any long term adverse effect. Pertama kali jadi emak anak remaja, saya dulu fokus pada pertempuran. Melihat dia pake celana ketat, langsung ingetin, si sulung merespons dengan marah. Lihat kerudungnya tak menutupi dada langsung saya minta dia ganti baju, dia nangis. Haha….dua tahun lalu inget sering banget “berantem” sama si sulung. Tiap mau pergi bareng pasti ada insiden dulu. But practice makes perfect. “Perang” yang harus kita menangkan dengan si remaja adalah kedekatan hati. Bukan berarti dia kita biarkan. Tapi menahan diri untuk memberikan kritik secara langsung, menggandengnya lalu “mengobrol” tentang ini-itu, lalu masuk ke nilai-nilai dan akhirnya ke topik pakaian, ternyata jauh lebih efektif mengubah perilaku si remaja. Pride and image are big for teens, and they are not able to look into themselves and be self critical. Begitu kata penulis buku ini.

Dalam buku ini, diungkapkan juga bahwa selama ini, banyak miskonsepsi mengenai remaja yang tidak terbukti secara empirik-ilmiah. “Salah paham” itu diantaranya: remaja menjadi impulsif dan emosional karena hormon, remaja menjadi pembangkang karena mereka ingin terlihat berbeda. Penulis menekankan bahwa di chapter-chapter selanjutnya, ia akan mengungkapkan bahwa the teen brains is at very special point in development. There are unique vulnerabilities of this age windows, but  there is also ability to harness exceptional strength that fade as we enter into adulthood. Duuh…gak sabar ya pengen baca chapter selanjutnya hehe…

Penulis berulang kali menekankan bahwa otak remaja itu, unik. Berbeda. Kita tak bisa membandingkannya dengan otak orang dewasa. The adolescent brain works and responds to the world differently from the brain of either a child or an adult. Berbeda. Makanya, kita harus tahu bedanya gimana. Gak bisa pake kacamata kita sebagai orang dewasa. Memahami perbedaan otak mereka dengan kita, cara pikir mereka dengan kita, akan membuat kita mengetahui apa keterbatasan yang mereka miliki, dan apa yang bisa kita bantu untuk mereka. 

Kita sebagai orangtua, kata penulis too often we send them mixed messages. Kita berasumsi bahwa begitu tampilan mereka secara fisik seperti orang dewasa (para putri memiliki lekuk-lekuk tubuh, para putera memiliki jakun), maka kita langsung memperlakukannya sebagai orang dewasa, dengan tuntutan seperti orang dewasa. Hhhmmm…kalau di Islam, ketika anak sudah mimpi basah atau menstruasi di usia 13 tahun-an, sebagian berpendapat bahwa mereka sudah bisa diperlakukan sebagai pemuda dewasa. Diperlakukan dan diberi tuntutan seperti 30 tahun. Saya masih belajar tentang hal ini. Karena kalau demikian, saya masih belum menemukan jawaban: mengapa begitu masuk usia pubertas, Allah tidak langsung “mengubah” struktur dan fungsi otak mereka menjadi sama dengan dewasa ? Pasti ada hikmah yang tersembunyi dari fakta ini. Hikmah yang harus digali jawabannya.

Saya suka banget waktu penulis bilang bahwa : so take a lead, take control, and try to think for your teenage sons and daughters until their own brain are ready to take over the job. The important part of the human brain-the place where actions are weighed, situations judged and decision made- is right behind the forehead, in the frontal lobes. This is the last part of the brain to develop, and that is why you need to be your teens’s frontal lobes until their  brains are fully wired and hooked up and ready to go on their own

Bagian terakhir dari pengantar ini saya suka banget (haha….suka banget semuanya 😉 the most important advice I want to give you is to stay involved. We lose physical control as children leave childhood. Yups…yups…kalau bahasa saya: “kalau sebelum remaja, menjalin kedekatan teh gampang banget… tinggal peluk lama dan erat. Tapi kalau udah remaja, ketika kita jadi awkward kalau peluk mereka dengan lama dan erat, kedekatan itu menjadi lebih sulit untuk dijalin, karena tak kasat mata”

Yang dibutuhkan oleh remaja adalah model, template, structure. Anak butuh external cues. Jadi, dibandingkan dengan mengomel, ebih baik “temani” si remaja. MIsalnya saat mereka mengerjakan PR, daripada ngomel kenapa mereka masih main hape padahal jam belajar, lebih baik temani belajar, bantuin.

Demikianlah bagian pengantar buku ini. Insyaallah kalau udah ada waktu lagi, akan lanjut baca dan sharing chapter 1: Entering the Teens Years. 

Seribu satu ibu, siapa bintangnya?

personalised-learning-whySebagian teman-teman mungkin sudah pernah melihat gambar di samping ini.

Gambar di samping ini biasanya banyak muncul saat musin UN. Pesan yang ingin disampaikan melalui gambar ini adalah: bahwa setiap anak berbeda. Mereka punya potensi masing-masing, namun tak sama. Oleh karena itu, tidak benar kalau mereka diuji dengan cara yang seragam.

Sebagai pendidik, saya setuju dengan filosofi dasar itu. (1) setiap manusia punya potensi; (2)  potensi setiap manusia itu berbeda-beda. Yang ingin saya garisbawahi adalah kata “manusia”-nya. Manusia itu, adalah semua orang. Anak, remaja, dewasa; dengan peran masing-masing: sebagai siswa, sebagai istri/suami, sebagai ibu.

Sebagai lanjutan dari filosofi itu, maka dalam tataran aplikatif psikologi positif memberikan arahan:

(1) Identifikasi dan hayati kelebihan kita, maksimalkan. (2) Kenali dan akui kelemahan kita, belajar memperbaikinya namun kita kenali batasnya.

Orang yang telah berhasil melakukan dua hal diatas, akan tumbuh menjadi pribadi yang “lentur”, atau bahasa psikologi-nya “resilient”. Bahasa populernya tangguh, kuat.

Anak-anak yang  kenal dan menghayati kelebihannya di satu sisi namun mengakui kelemahannya di sisi lain, akan bisa menertawakan kelemahannya tanpa merasa harga dirinya terluka. Karena ia masih punya “harga” dalam hal yang lain. “Iya, gue emang bego banget kalau belajar matematika. Tapi kalau main basket, gue jagonya. Makanya kalau belajar matematika gue harus ekstra. Dan target gue nilai 80 aja udah cukup”.

Seorang suami yang  kenal dan menghayati kelebihannya di satu sisi namun mengakui kelemahannya di sisi lain, akan bisa menertawakan kelemahannya tanpa merasa harga dirinya terluka. Karena ia masih punya “harga” dalam hal yang lain. “Iya, Aa emang susah banget untuk bisa romantis. Tapi kalau Eneng dan keluarag besar Eneng butuh bantuan apapun, asal Eneng bilang, malaikat juga tahu, Aa yang akan jadi juaranya” (haha……. udah mulai romantis tuh si aa).

Seorang ibu yang  kenal dan menghayati kelebihannya di satu sisi namun mengakui kelemahannya di sisi lain, akan bisa menertawakan kelemahannya tanpa merasa harga dirinya terluka. Karena ia masih punya “harga” dalam hal yang lain. “Mendongeng buat anak sebelum tidur? duuuuh…saya mah angkat tangan. Tapi kalau cariin buku cerita yang seru, lalu bacain dengan cara yang seru, saya jagonya”.

Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada ibu yang sempurna. Kita sudah tau itu. Masalahnya adalah di jaman medsos ini, informasi yang kita serap sebagian besar adalah informasi yang menggambarkan “kesempurnaan” seseorang.

Misal, kalau saya liat-liat di instagram, orang-orang yang posting foto disana teh meni gareuliiiiiiis banget. Yang bukan artis teh meni kayak artis semua. Haduuuh…stress sayah kalau suami sayah ketemu wanita di luar teh sekinclong itu semuah.  Tapi kalau dipikir pas lagi jernih, ya iya lah …mereka kan posting foto terbaik ya? hanya sedikit yang “berani” posting foto “jelek”nya. Maka, dunia di medsos adalah dunia maya. Bukan dunia nyata. Bukan realitas yang sesungguhnya.

Tidak ada anak yang sempurna. Kalau kita baca di medsos para ibu menampilkan prestasi anak-anaknya; sudah hafal sekian juz di usia semuda itu, memegang piala juara lomba main piano, terlihat foto sertifikat juara olimpiade, foto nilai NEM yang rata-ratanya diatas 9, atau kita membaca cuplikan pembicaraan ibu-anak dengan bahasa yang “dewasa”, atau membaca cerita betapa sholehnya anak usia belasan;  kalau kita lalu menganggap itu adalah realitas sesungguhnya semua anak di dunia,  dan betapa “gak punya apa-apa”nya anak kita, maka kita telah terjebak di dunia maya, dunia semu. Kita harus menjernihkan pikiran kita agar kembali ke realitas: tidak semua anak juara, tidak semua anak hebat. Anak-anak yang ditampilkan sebagai anak yang “hebat” itu, sebagai manusia pasti punya sisi “biasa” yang kebetulan tak ditampilkan oleh ibunya di medsos.

Tidak ada ibu yang sempurna. Kalau kita lihat di medsos ibu yang kreatif bikin bento untuk anaknya tiap hari dengan tema yang beragam, atau ibu yang sharing kurikulum dan worksheet homeschooling yang super keyyeen,  atau ibu-ibu yang bercerita betapa sabarnya ia menangapi kerewelan anak-anaknya, dan kita menganggap bahwa semua ibu di dunia ini seperti itu, lalu kita merasa kita tidak layak jadi ibu, maka… kita telah terbawa arus dunia maya. Kita harus kembali ke realitas. Ibu-ibu yang kreatif bikin bento, belum tentu telaten menemani anaknya bermain. Ibu-ibu yang keren bikin program homeschooling, belum tentu kreatif bikin makanan kesukaan anak-anak. Ibu-ibu yang sabar, belum tentu bisa tegas memberikan batasan.

Menjadikan orang lain sebagai panutan untuk menjalankan peran kita sebagai ibu dengan sebaik mungkin, adalah hal yang baik. Namun berusaha menjadi seperti “dia”, itu adalah salah. Karena kita bukan dia, anak kita tidak sama dengan anak dia. Kalau kita merasa panutan kita sempurna dan kita tak pantas serta tak layak jadi ibu karena tak seperti itu, kita telah melecehkan Allah. Allah yang maha sempurna tentu sudah mengukur; saat ia titipkan janin ke rahim kita, telah disertai potensi untuk menjalankan amanah ini dengan baik.

Potensi ini harus diasah, ya. Dengan cara memahami bahwa kita tidak sempurna. Allah sudah ciptakan kita dengan kelebihan kita. Maka, karena waktu kita hanya 24 jam sehari, kita boleh mencari informasi dari lingkungan. Melihat kreatifitas para ibu, membaca prestasi anak-anak lain, berbincang tentang isu-isu pengasuhan… Namun jangan terlena. Jangan sampai tidak ada waktu untuk berselancar menghayati kelebihan diri sendiri dan mengakui kelemahan diri. Berbincang dengan diri untuk mengevaluasi seefektif apa pendekatan kita sama anak kita.

Sekarang ini banyaaaak sekali grup-grup parenting, dengan segala macam bentuknya. Dengan beragam tipe narasumber. Ada yang bentuknya seperti guru-murid; ada yang bentuknya model-follower, ada yang bentuknya diskusi. Sebagai khtiar menjalankan peran sebagai ibu dengan baik, itu oke. Tapi ingat… mencari imu itu buahnya adalah amal. Segera setelah dapat suatu ilmu, amalkan. Monitoring. Evaluasi.

Kalau setelah dapat ilmu lalu kita jadi stress, jadi merasa tak pantas, jadi gak pede, anak kita kayaknya gak ada kelebihannya,  banyak kurangnya, anak kita bukan anak yang sholeh, nah…mungkin kita harus evaluasi kembali cara kita belajar.

Yang kita harus ambil itu adalah “prinsip”nya, bukan bentuknya. “Aduh, teteh itu mah kalau anaknya mau tidur dinyanyiin, pantes deket banget sama anak”. Bukan “nyanyi”nya yang harus kita ambil. Tapi prinsip bahwa ibu harus dekat dengan anak. Caranya? be your self, ibu ! bisa dengan jalan-jalan bareng, bisa masak bareng, nyalon bareng. Gimana taunya anak kita udah deket atau belum sama kita? kita yang evaluasi. Kita rasakan. Kita tanya anak kita. Kita akan tahu. Tapi kalau kita fokuskan energi kita untuk tanya tips dari orang lain, kepekaan kita jadi gak terasah.

“Aduh, ibu itu mah kreatif banget bikin stiker sebagai reward kalau anaknya disiplin”. Bukan kemampuan bikin stiker lutu nya yang harsu kita ambil, tapi konsistensi ngasih rewardnya. Caranya? be yourself ibu ! bisa pake “toples kebaikan”; beli toples lalu reward buat anaknya adalah dengan masukin kelereng… Gimana taunya cara kita efektif engga bikin anak disiplin?   kita yang evaluasi. Kita rasakan. Kita cermati kedisplinannya, meningkat atau engga. Kita akan tahu. Tapi kalau kita fokuskan energi kita untuk tanya tips dari orang lain, kecermatan pengamatan kita jadi gak terasah.

Jangan habiskan waktu untuk mengelola pertempuran emosi negatif dalam diri, apalagi bergumul untuk mencari jawaban: apakah saya ibu yang baik? apakah saya pantas? apakah saya layak?

Waktu kita sangat terbatas, sedangkan anak-anak, butuh emosi terbaik dari diri kita. Ibu yang mengenali dan menghayati kelebihannya serta mengakui kelemahannya, berusaha belajar namun tetap memaafkan ketidaksempurnaan diri, akan menjalankan perannya dengan harga diri yang tinggi namun tetap rendah hati. Dia tak akan patah dan menyerah. Dia akan menertawakan kegagalannya, lalu bangkit mencari cara lain.

Kalau ada 1001 satu ibu, ada 1001 kepribadian yang berbeda. 1001 potensi diri yang berbeda. 1001 gaya yang berbeda namun dengan prinsip kebaikan yang sama.  Tapi kalau 1001 ibu itu mencurahkan seluruh nerginya untuk mengamalkan, memonitor, mengevaluasi secara serius pengasuhannya, maka mereka semua adalah bintang. Dalam bahasa saya, mereka adalah bukan emak biasa. 

Memandang anak sebagai manusia

Dulu kulihat kau tersenyum
Mengulurkan tangan, hai siapa namamu
Awal kita bertemu
Bertatapan malu, penuh dengan bisu

Mengawali lembaran baru
Untuk mengukir
Sejarah yang takkan terhapus

Jangan berjalan di hadapanku
Mungkin aku tak dapat mengikutimu
Jangan berjalan di belakangku
Mungkin aku tak sadar kehilanganmu
Tapi berjalanlah bersamaku

Jadilah temanku …. selamanya

Beberapa hari lalu adalah hari anak nasional. Saya gak ngeuh, sampai sebuah stasiun TV lokal mewawancara saya mengenai anak dan gadget. Dalam rangka hari anak nasional, kata mereka. Gak tau jadi tayang gak wawancara itu hehe…

Banyak teman-teman saya yang mumpuni, membuat tulisan di hari h- hari anak nasional. Saya punya penghayatan tersendiri terkait dengan “anak”. Kalau dibaca di sejarahnya, “anak”, dulu gak “dianggap ada”. Lalu anak mulai  “dianggap ada”, namun dipandang sebagai miniatur orang dewasa. Orang dewasa dalam ukuran mini. Perkembangan selanjutnya, semakin menghargai anak sebagai “manusia” yang punya “dunia”nya. Punya cara berpikir dan  cara merasa yang berbeda dari orang dewasa. Berbeda, namun tak selalu immature. 

Saya mengamati, memandang anak sebagai seorang manusia yang punya potensi, kemampuan dan kebijaksanaannya sendiri itu, bagi orangtua, tidak selalu mudah. Termasuk saya. Penilaian bahwa mereka itu “inferior”, belum punya apa-apa, belum tau apa-apa, belum bisa apa-apa, membuat kita merasa bahwa sumber kekuatan anak 100% berasal dari sumberdaya kita sebagai orangtua.

Ya, memang ada masa-masa dimana hidup-mati anak tergantung pada kita. usia 0-2 tahun pastinya. Tapi selanjutnya…. 3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,….. saya melihat bahwa anak punya kemampuan dan kekuatan untuk menyelesaikan masalahnya, dengan cara mereka sendiri. Dan efektif. Misalnya, saya ingat si bujang kecil waktu kelas 2 suka lupa beresin buku sesuai jadwal. Sebagai solusinya, tiap hari dia bawa semua bukunya. Waktu itu, 4 tahun lalu, reaksi saya marah. Saya bilang dia males, bahaya bawa tas berat banget. Tapi selanjutnya, setelah jernih  berpikir, saya bisa melihat itu sebagai bentuk kemampuan menyelesaikan masalah dengan efektif. Masalah berat bawa buku? bener juga kata dia. Dia cuman bawa tas dari mobil ke kelas pas mau masuk dan dari kelas ke mobil pas pulang.

Bahasa teorinya adalah autonomy. Perasaan bahwa saya adalah makhluk yang “otonom dan berdaya”, itu merupakan bekal penting. Dari rasa itulah akan muncul perasan kompeten, percaya diri. Tapi…memberi kepercayaan pada anak, menghargai anak, itu memang susah. Tidak instan. Harus berproses.  Dan menurut pengalaman saya, proses yang bisa kita jalani adalah dengan membuka mata dan telinga lebar-lebar terhadap pengalaman anak. Mengamati bahwa mereka mampu, lalu kita akan percaya, anak merasa berharga dengan kepercayaan kita, membuat mereka semakin mampu, lalu kita makin percaya…teruuuus siklusnya gitu.

Saya ingat, dua tahun lalu, si sulung baru awal kelas 7. Sekolah si sulung memang menekankan teamwork. Maka, konsep angkatan pun dibentuk. Ada satu acara dimana mereka seangkatan, ber-72 orang, harus memilih ketua angkatannya. Tapi syaratnya adalah, tidak boleh pake cara voting. Harus musyawarah. Sejumlah kandidat terpilih akan dipisahkan dari mereka, lalu mereka harus bermusyawarah secra terbuka untuk mencapai kesepakatan siapa yang akan jadi ketua angkatan mereka.

Si sulung cerita bahwa di akhir, ada dua kandidat kuat, dan sulit sekali mencapai kata mufakat. Sampai berjam-jam. Yang jadi issu adalah, satu bukan alumni  SD yayasan tsb, yang satu lagi alumni SD yayasan tsb. Yang mendukung non alumni mengatakan bahwa meskipun mereka baru kenal beberapa bulan, tapi leadership anak ini bagus banget. Yang mendukung si alumni mengatakan bahwa mereka sudah kenal baik si kandidat ini 6 tahun. Dan mayoritas warga angkatan mereka adalah alumni SD yayasan tsb, jadi lebih tepat. Teruuuus beradu argument. Si sulung menceritakan dengan detil argumen-argumen dalam musyawarah itu.  Saya mendengarkan sambil…..jujur saja, terkaget-kaget. Anak-anak umur 12 tahun itu, buah pikirannya amazing banget. Gagasan-gasan dan pertimbangannya, komprehensif banget. Kalah lah para pendukung fanatik capres  ini capres itu yang berpikirnya gak jernih mah.

anakCerita si sulung itu adalah salah satu titik yang membuat saya menjadi percaya bahwa anak khususnya usia SMP, harus kita perlakukan secara “setara”. Kita hargai pendapatnya, kita dengarkan. Kenapa? karena mereka sudah punya kemampuan untuk kita hargai.

Coba baca bait-bait yang saya tuliskan di awal. Indah bukan? Dalem banget. TErutama bagian reff-nya. Itu adalah lagu angkatan si sulung. Kalau denger nadanya, instrumen yang mengiringinya; gitar, biola…. bakalan berkaca-kaca deh. Keren banget ! dan itu karya anak-anak umur 14 tahun !

Maka, terutama pada si remaja, kalau kita bepikir “ibu yang paling tau, kamu gak tau apa-apa!” “harus nurut sama orangtua, kamu belum ngerti apa-apa”….. ah, engga banget deh. Jangan-jangan kita sedang mengabaikan fitrah yang Allah berikan pada anak-anak kita.

Menghargai kebijaksanaan anak, adalah akar gunung es yang permukaannya akan tampak dalam bentuk: mendengarkan, menghargai, memberikan ruang untuk  pilihan anak. Sungguh, itu tak mudah. Maka, kiat harus memupuk keyakinan bahwa anak layak kita percaya dengan cara: mengamati dengan rendah hati bagaimana anak-anak kita menyelesaikan masalah-masalahnya dan berkarya.

WARAS

Pagi ini, saat saya melepasnya untuk berangkat sekolah, si bungsu yang lagi bangga-bangganya karena jadi “anak TK B” itu bertanya:

“Ibu, ibu pergi gak hari ini?”. Saya jawab : “engga, ibu mau ngerjain di rumah aja”. Hari ini saya dikepung deadline pengerjaan disertasi. Ada tiga PR yang harus selesai hari ini. Biasanya, jawaban “engga” dari saya terhadap pertanyaanya membuatnya bersorak kegirangan. Lalu dia akan memeluk saya dengan bahagia. Tapi hari ini berbeda. Segera setelah saya menjawab, wajahnya merengut dan lalu ia berkata: “kenapa sih ibu ada di rumah terus? De Azzam kan udah lama engga ke rumah teh Rini. De Azzam kangen ke rumah teh Rini”. Memang sejak setahun belakangan ini, sejak saya berstatus tugas belajar, mayoritas waktu saya habiskan di rumah, di meja kerja saya.

Kalau si bungsu adalah sulung, sepertinya saya sudah akan shock, lalu “down”. Seperti beberapa tahun lalu saat si sulung lebih memilih bermain dengan pengasuhnya ketimbang dengan saya, perasaan “marah, kesal, merasa ditolak, lalu merasa tidak kompeten” itu hadir. Tapi hari ini, setelah punya 4 anak dan menjalani 15 tahun sebagai ibu, saya bisa menjawab reaksi si sulung dengan senyum manis dan kata-kata: “Walaupun ibu ada di rumah, engga apa-apa kok De Azzam main ke rumah teh Rini kalau memang de Azzam kangen”. Jawaban saya, membuatnya melompat kegirangan, dan saya pun mendapat pelukan erat dan kecupan hangat.

Setelah si bungsu pergi beberapa menit lalu, percikan-percikan memori muncul. Meskipun sedang minim bersosmed, tapi sesekali saya buka, tampaknya akhir-kahir sedang rame tema mengenai menjaga kewarasan seorang ibu. Sudah banyak yang mengulas hal-itu dari berbagai sisi. Dan percikan memori saya, terkait dengan itu.

Siapakah teh Rini yang rumahnya dikangenin si bungsu? Teh Rini adalah istri sopir saya. Rumahnya di depan komplek, dekat. 5 tahun lalu, saat teh Ema, pengasuh anak-anak yang sudah 10 tahun bersama kami menikah, saya kemudian tidak menemukan “jodoh” pengasuh lagi. Akhirnya, pada masa itu, si bungsu yang berusia 6 bulan dan baru disapih ASI eksklusif serta si gadis kecil yang berusia 3,5 tahun, saya boyong ke Jatinangor tiap pagi. Di sana, saya titipkan di penitipan anak untuk civitas academica UNPAD. Jujur saja, itu masa “terkelam” dalam pengasuhan anak-anak saya. Saya bahkan sama sekali  tidak punya foto selama beberapa bulan anak-anak saya di sana.

Bukan, bukan karena layanan di sana tidak bagus. Ini lebih ke penghayatan. Hati nurani saya mengatakan bahwa bayi berusia 6 bulan plus anak usia 3 tahun, harusnya berada di rumah. Setiap kali meninggalkan mereka disana, hati saya remuk rasanya. Tangis saya, lebih kencang dibanding tangis anak-anak saya yang tak mau ditinggalkan. Bedanya, tangisan saya saya simpan dalam hati.

Saat itu, saya memang minta bantuan teh Rini untuk beberes rumah. Suatu hari, teh Rini dan Pak Ayi bilang ke sana:“Bu, saya kasian liat anak-anak dibawa ke Jatinangor. Gimana kalau sama saya aja? tapi saya gak bisa seharian di rumah ibu. Gimana kalau saya bawa ke rumah?”. Saat itu, putera kedua teh Rini memang seusia si gadis kecil, 3 ,5 tahun, gak mungkin ditinggalkan. Jujur saja, saat itu saya keberatan. Saya pernah mendengar seorang teman saya, anaknya kena TBC karena ternyata rumah pengasuh yang ia titipi udaranya lembab dan tidak higienis. Untuk mengatasi kecemasan itu, saya mengecek rumah teh Rini. Bersih. Karakter teh Rini, tak diragukan lagi sangat responsif dan telaten. Meskipun tak berpendidikan tinggi, Pola asuh yang ia terapkan pada anak-anaknya sangat baik. Hangat, ada aturan yang jelas, memberi ruang juga bagi anak. Bahkan teh Rini ini terkenal kalau ada anak-anak di sekitarnya yang gak mau makan, kasih ke Teh Rini, anak itu akan mau.

Oke, secara objektif tidak ada masalah. Pilihan menitipkan si bungsu dan si gadis kecil sepulang sekolah Play Group di rumah teh Rini adalah pilihan yang jauh lebih baik. Saya mulai menjalani. Satu hari, dua hari, satu minggu, ternyata saya menghadapi “rintangan’ lain. Psikologis. Judgement orang lain. Bukan satu dua kali saya mendapat reaksi “negatif”, baik verbal ataupun non verbal ketika orang bertanya dan saya menjawab bahwa anak saya, selama saya di kampus, dititipkan di rumah pengasuh, saya lalu akan menjemputnya sepulang dari kampus. Dan seperti yang diungkapkan beberapa ibu muda yang merasa “dibully” mengenai caranya menjaga kewarasan, I do feel it. Saya sangat bisa merasakannya.

Secara rasional saya bisa berargument bahwa pilihan saya jauh lebih baik dibandingkan pilihan orang-orang yang berkomentar negatif. Tapi penilaian “ibu macam apa kau ini!” itu, terasa menusuk.  Beberapa tahun saya hidup dengan perasaan itu. Berkali-kali saya curhat dan tanya ke Mas, dan selalu keluar jawaban rasional: “Apa masalahnya? dirimu kan malah jadi bisa ngasih quality time pas pulang. Dibanding dulu sedih terus. Anak-anak juga perkembangannya bagus.”

Ya, memang benar sih. Karena ketelatenan teh Rini, kondisi kesehatan si bungsu bagus. Gendut, karena makannya bagus. Mandiri. Ia adalah satu-satunya anak saya yang gak pernah ngompol di kala tidur malam. Anak dua tahun itu, setiap mau tidur disiplin pipis dulu “kata teh Ini halus pipis dulu” . Tapi dalam penghayatan saya, masalah melebar terkait dengan judgement pilihan bekerja vs di rumah. Waktu saya curhat ke Mas, jawaban Mas: “Aku udah bilang beribu-ribu kali. aku ridho. Dirimu beraktivitas di luar rumah, itu pilihan kita. Secara pribadi dulu aku lebih seneng dirimu di rumah. Tapi aku tau, dirimu bisa gila kalau di rumah aja. Dan dirimu punya potensi untuk berkembang di luar. Selama dirimu bisa atur waktu, gak ada masalah apapun. Bantu orang lain, kita niatkan mencari berkah buat keluarga kita”. 

Baru mungkin 2 tahun lalu rasa “dijudgement negatif” itu hilang. Komentar orang lain, tetep sama. Sindiran-sindiran di meme, tak berubah. Tapi saya bisa “lempeng’. Saya bisa menjelaskan argumen-argumen saya secara rasional. Terkadang, saat saya sangat lelah, sepulang dari kampus saya engga langsung mampir jemput anak-anak. Saya pulang dulu, mandi dulu, relaksasi dulu, lalu jemput anak-anak ke rumah teh Rini. anak-anak senengnya jalan dari rumah teh Rini sampai rumah. Sambil saling bercerita tentang apa yang kita alami masing-masing.

Reaksi “dunia” tetap sama. Tapi ada yang berubah, dalam diri saya.  Saya tidak peduli apa yang dunia katakan mengenai pilihan saya. Saya yang merasakan dampaknya. Dalam perjalanan 15 tahun menjadi ibu, saya pernah merasakan episode hidup dengan perasaan bersalah, episode merasa jadi monster buat anak-anak saya saat saya berkutat dengan masalah pribadi saya. Episode berteriak keras pada anak-anak yang tak bersalah kala kondisi sedang stress karena kelelahan.

Pengalaman saya, plus pertemuan saya dengan beragam ibu yang merasa sulit menemukan fithrah keibuan mereka pada anak-anaknya, membuat saya menyimpulkan bahwa sesungguhnya, judgment negatif itu sebenarnya berasal dari diri kita, bukan dari dunia. Diri kita lah yang menjudge bahwa pilihan dan apa yang kita lakukan itu salah. Bagian-bagian dari diri kita lah yang belum saling berdamai. Karena jika bagian dalam diri kita sudah berdamai, seluruh penilaian dari luar diri kita akan menjadi tak bermakna buat kita.

Maka, Dari pengalam ini, saya ingin mengatakan pada para ibu-ibu muda: Kewarasan seorang ibu itu, adalah yang utama dan yang pertama.

Energi kita, fokuskan untuk berbincang dengan suami. Membuatnya memahami kondisi kita, mendengarkan nada keridhoan atau ketidakridhoan darinya, berdiskusi menemukan solusi terbaik. Jangan habiskan energi untuk mendengarkan evaluasi dari orang lain. Satu-satunya yang perlu kita pedulikan adalah evaluasi terhadap kualitas pengasuhan yang kita berikan pada anak-anak. Jangan habiskan energi untuk membandingkan  standar kebahagiaan keluarga dengan orang lain. Satu-satunya yang harus  dipedulikan adalah kebahagiaan anak dan suami kita.

sanity-insanity-road-signDan yang jauh lebih penting adalah, jangan habiskan energi untuk berbincang dengan orang lain. Porsi berbincang dengan diri sendiri harus lebih besar. Berdamai dengan komentar orang lain memang perlu, tapi berdamai dengan gugatan dari bagian diri kita yang lain, adalah yang paling penting. Damaikan diri dan maafkan diri kalau tak sempurna, maka kita tak perlu lagi beradu argumen dengan dunia.

 

Previous Older Entries