Chapter-Chapter Kehidupan Kita bersama Anak : Apa yang Kita Tuliskan ?

Sebulan lalu, si abah mengirimkan beberapa foto motor touring via whatsapp. Karena kami LDR-an; maka selain weekend, komunikasi kami via wa, telpon dan video call. “Ini keren banget De…kita beli yuks…biar kita bisa touring berdua”. Bla..bla..bla… Ia menceritakan ke-kerenan motor-motor touring itu. Saya baca sambil pengen ketawa. Seperti bapak-bapak lainnya, kalau udah bicara tentang otomotif, persis kayak anak kecil pengen mainan. Persis juga sih sama kelakuan saya kalau lagi merajuk membujuk si abah untuk mengizinkan saya beli tas lah, batik lah, sepatu lah.  Sejak saya punya instagram, memang jadi terpapar barang-barang lutuuuu…. dan meskipun kalau saya beli barang pake uang sendiri dan  si abah pun kalau mau beli sesuatu pake uangnya sendiri, tapi kami punya perjanjian tak tertulis untuk saling minta izin . Kenapa ya? ya untuk saling menghargai saja. Dan kalau masing-masing kami bilang “engga”, biasanya kami urung. Meskipun saya lagi punya banyak uang, kalau si abah bilang “gak usah beli, kan tasmu udah banyak”, saya pasti urung. Demikian juga si abah.

Waktu liat foto-foto motor touring itu, saya mengakui sih…itu motor keren-keren banggets. Ya sesuai harganya lah haha… Mendengar cerita si abah tentang rencana touring berdua ke tempat-tempat yang keren, saya jadi membayangkan emang enak banget dibonceng sambil memeluk punggungnya ,,,ya…mirip-mirip adegan Dilan dan Milea lah #eaaaaa… Tapi ketika kita lagi asyik ngobrolin rencana itu, tiba-tiba terintas sesuatu di pikiran saya ; lalu saya sampaikan ke si abah: “Tapi bah, kapan kita mau touring berdua nya? segitu tiap weekend kita hectic  sama acara anak-anak…” . “Oh iya ya..” kata si abah. “Kapan ya, kita bisa punya waktu berdua di weekend? kayaknya 6 tahun lagi ya? kalau si bungsu udah SMP? Ya udah…beli motor touringnya 6 tahun lagi aja ya kalau begitu”. Kata si abah. “Iya, tapi 6 tahun lagi, kita masih kuat gitu touring berdua?” kata saya hahaha…..

Yups…saat ini, di tahun ke-15 pernikahan kami, dengan 4 anakumur 15, 12, 9 dan 6,  kami memang sedang hectic-hecticnya dengan urusan anak-anak. Setelah beberapa bulan ke belakang weekend kami dihasbisakn untuk survey boarding school SMA untuk si sulung dan survey SMP untuk si bujang, lalu lanjut rangkaian test, setelahnya, weekend kami juga selalu full untuk urusan anak-anak. Anter ekskul setiap sabtu, lalu nemenin  lomba, atau aktivitas lain yang pengen diikutin anak-anak. Kadang hiking, kadang mendongeng, kadang anter si sulung kerja kelompok ini, syuting itu, hunting ini, tryout itu…bahkan seperti minggu lalu, karena kegiatannya bareng, kita harus split, si abah nemenin anak yang mana, saya nemenin anak yang mana.

Kami tak pernah bicarakan ini secara lugas sih, tapi sepertinya kami berkomitmen untuk mendedikasikan weekend kami untuk anak-anak. Kalau gak kepepet-kepepet banget, gak pernah bikin acara sabtu minggu. Kalaupun akan ada acara yang gak bisa diganti hari lain, maka kami harus koordinasi jauh-jauh hari. Misalnya si abah ada rapat pentiiiing yang harus weekend, atau ikutan ujian sertifikasi apaaa gitu… atau saya ada undangan mengisi seminar, atau misalnya ada klien dari luar kota yang hanya bisa di weekend. Kenapa? karena kami tak punya ART. Anak-anak, terutama si gadis kecil dan si bungsu belum bisa ditinggal sendiri. Harus diawasi si sulung. Padahal si sulung punya segudang aktifitas di weekend.

Sejujurnya, banyak kesempatan pengembangan diri bagi saya dan si abah yang tak bisa dilakukan karena weekend kaki kami “terikat” oleh anak-anak. Kadang saya  dapat tawaran tampil di acara besaaar, kadang ada workshop keren banget, kumpul-kumpul asyik, kadang si abah ada kegiatan sertifikasi penting… Tapi kami selalu saling mengingatkan. Kami jadi rem buat masing-masing. Dan beberapa tahun terakhir ini, saya sangat menikmati kehectican di weekend untuk kegiatan anak-anak. Kenapa?

Beberapa bulan lalu, kami ke bioskop ber-5. Saya dan 4 anak saya. Saat itu anak-anak sedang libur, abahnya tentu kerja di luar kota. Kami bersepakat nonton, kebetulan film yang diputar di bioskop sedang bagus-bagus. Film apa yang akan kami tonton? anak-anak keukeuh pengen nonton film Coco. Saya pengeeeeen banget nonton film Wonder. Saya bingung. “Okelah, ibu gak akan nonton film Wonder. Nanti aja kalau udah ada DVDnya ibu beli”. Saya akhirnya memutuskan. Tapi lalu si sulung bilang: “Kenapa kita gak pisah aja bu? Sok aja ibu nonton Wonder, kayaknya ibu pengen banget. Ga apa-apa kita nonton Coco”. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya saya terima tawaran itu. Masalahnya adalah, selain kami tentunya beda studio, waktu tayangnya juga beda. Film Wonder diputar 45 menit lebih awal dari film Coco. “Percaya bu, kita berdua bisa jagain si dua krucil ini ” kata si sulung. Akhirnya rencana itu kita jalankan. Saya masuk saat film Wonder akan dimulai. Tentu sambil terus-terusan kontak anak-anak, yang dari video callnya sih baik-baik saja haha…

Sambil menikmati film Wonder yang super duper keren, saya merasa amazing dengan kondisi saya. 15 tahun menjadi ibu, inilah pertama kalinya saya menikmati hal-hal yang “entertaining” tanpa anak-anak. Ya, saya beberapa kali sih ke luar  negeri atau luar pulau dan luar kota untuk conference atau pekerjaan. Tapi full menghibur diri, sendirian…rasanya ajaib. Serasa gak percaya gitu haha…Jadi, sambil duduk rileks menyaksikan film, ngemil popcorn plus menyeruput soda, pikiran saya pun melayang.

Ada saat-saat dimana nonton film ke bioskop begitu melelahkan bagi saya. Kala saya masih punya balita. Melelahkan fisik dan psikologis. Psikologis? takut ada salah satu atau salah dua anak saya nangis, atau teriak. Jadi sepanjang film (biasanya kita nonton film anak-anak untuk si sulung), maka saya dan si abah sibuk menenangkan adik-adiknya. Takut ganggu orang. Belum lagi kalau anak laki-laki, kalau gak teriak atau ngomong keras dia jalan-jalan…aduuuh…buat pencemas sejati seperti saya, itu stressful bangget. Belum lagi kalau mau pipis. Trus pipisnya gantian. Baru balik anter pipis si ini, adiknya bilang pengen pipis. Alhasil, jarang bisa menikmati keseluruhan film. Jadi, saya bisa menikmati film dengan rileks, sendirian, itu saya rasakan sebagai sebuah pengalaman “baru”.

Saya juga ingat…. baru ramadhan kemarin saya menikmati itikaf. Full 10 hari terakhir, nginep tiap malam. Dulu waktu masih berdua kami beritikaf berdua. Waktu punya bayi satu, masih suka itikaf. Tapi setelah dua, tiga, empat; lebih banyak cemasnya dibanding khusyuknya saat itikaf dan tarawih. Takut nangis, takut teriak, takut ganggu orang lain… Si abah suka ngajak tarawih ke mesjid tiap ramadhan. “Dirimu kan seneng banget di mesjid” katanya. “Iya, tapi aku stress kalau sambil takut anak-anak teriak, nangis, lari-larian, aku sholat di rumah aja”. Begitu jawaban saya biasanya.  Nah kalau tahun kemarin, saya merasa nikmat banget. Kalau si bungsu bosen dan “rewel”, saya tugaskan si gadis kecil ngajak main di halaman. Antri makan sahur/buka? ada 4 anak yang siap mengambilkan. Wudhu gantian, jaga si bungsu gantian.

Ya, ya…ada masa-masa itu. Masa dimana saya gak mau diajak si abah silaturahim ke sosok-sosok yang kami hormati. Kenapa? dengan 4 anak yang lagi loncat sana-loncat sini, ngomong rebutan…saya engga nyaman bertamu. Kalau kondangan, kami gak pernah makan dulu. Datang, salaman, lalu pulang. Karena anak-anak gak nyaman di kondangan yang biasanya penuh sesak orang yang tak ia kenal.

Tapi sekarang, masa-masa itu sebagian sudah terlewati.

Maka, kalau ada adik-adikku yang nangis-nangis; merasa “lelah”, craving for me time; sini saya peluk. I feel it. I’ve been there. Saya ingat banget di rumah kontrakan saya di Tubagus Ismail 13 tahun lalu, saat si sulung masih berusia 2 tahun-an, waktu itu saya udah lama gak bisa sholat dan doa khusyuk. Waktu saya abis sholat lalu mau mulai menengadahkan tangan, eeeh…si sulung pipis. Di sajadah. Waktu itu saya nangis tersedu-sedu. Saya inget banget kata-kata saya “Ya Allah, plissss. Aku teh bukan pengen apa-apa. Bukan pengen main, bukan pengen tidur nyenyak… Aku cuman pengen berdoa khusyuk…masa gak bisa” ….

Maka, Kalau ada adik-adikku yang baru punya bayi dan tidak terlihat bahagia tapi justru kelelahan, sini saya peluk. I feel it. I’ve been there. Si sulung adalah anak yang “ajaib”. Tidurnya selalu harus digendong, sambil berdiri. Kalau dia udah tidur lalu saya duduk, maka ia akan bangun. Nangis. Saya ingat saat-saat itu, kami nangis berdua. Sampai saya bikin shif-shift-an gendong si sulung sama si abah, dan setiap kali si abah tertidur tak terbangun mendengar suara tangis bayi, padahal itu adalah shiftnya, saya akan nangis, capek plus kesel sama si abah haha…..

Maka, kalau adik-adikku merasa kehidupannya sangat “terikat”, jadi pendek langkah, sini saya peluk. I feel it. I’ve been there. Saya pernah ditegur sama pimpinan radio tempat dulu siaran rutin jadi narasumber, gara-gara tiap siaran saya bawa si sulung yang waktu itu umurnya 1,5 tahun-an. Katanya biarpun anteng, tapi suaranya masuk kerekam. Baiklah, saya memutuskan untuk berhenti siaran. Berat terasa, tapi ya gimana lagi.

Maka, kalau ada adik-adikku kebingungan saat anak-anaknya tantrum, merasa kesal, putus asa,  sini saya peluk. I feel it. I’ve been there. Saya ingat waktu diliatin orang se-BORMA waktu si bujang ngamuk-ngamuk pengen cd ultraman. Saya ingat hari pertama si sulung sekolah, jam 8 sampai jam 11 gak brenti nangis. Si bungsu, saya anter ke sekolah dengan pakaian batik terbaik saya karena mau ketemu pejabat universitas, eeeh..nangis sampai muntah ke dada saya. Ke kampus dengan sisa bau muntah plus bau tissue basah, pernah saya alami.

Maka, itulah sebabnya saya menikmati masa-masa hectic teroccupied di weekend oleh kegiatan anak-anak. Karena saya tahu, masa itu akan berlalu. Maka, selagi di masa ini, kita jalani saja sekhusyuk-kehusyuknya, ikuti saja alurnya, nikmati saja episodenya. Nanti ada saatnya episode itu berganti.

Saya selalu membayangkan bahwa kehidupan kita itu, seperti chapter-chapter di sebuah buku. Buku-buku yang bagus, tiap chapter sambung menyambung, tapi masing-masing chapter punya cerita yang berbeda. Punya warna yang berbeda, keasyikan yang berbeda saat kita membacanya. Seperti yang terjadi saat saya nonton wonder sendirian itu, saya menikmati momen saya saat itu, sambil tersenyum mengenang momen-momen berbeda sebelumnya.

large-kraft-memory-book-photo-album-ba-book-typography-photo-memory-bookMaka, buat adik-adikku yang masih berkutat dengan hal remeh-temeh terkait anak-anak, mari kita nikmati sepenuh hati episode-episode ini. Episode begadang, episode menghadapi tantrum, episode tas kita penuh dengan remah-remah makanan, episode keompolan, episode cemas takut ganggu orang lain, episode harus bawa anak kemana-mana, episode stress saat bawa anak-anak ke supermarket, kita nikmati aja, here and now. Kita tuliskan kisah episode kehidupan kita di chapter ini, dengan penghayatan terbaik yang kita punya, dengan effort terbaik yang kita bisa. Kita tuliskan keindahan dan keseruan rangkaian kata dan peristiwanya dengan ke khusyuk-an dan penerimaan kita.  Jangan memikirkan “pengen pindah chapter”. Nanti kita akan kehilangan keindahan kenangannya.

Biar nanti, saat kita akan menutup mata kembali pada yang Maha Kuasa, kita bisa membaca kembali chapter demi chapter kehidupan kita, dan kita bisa tersenyum bahagia karena keindahan kenangannya.

 

 

ISTI : Ikatan Suami ……. Istri

“Yes Mam, Yes Mam, Yes Mam” …. pria paruh baya itu mengangguk-angguk di telpon. Dia adalah “bos” kami dalam sebuah projek. Kami bertiga, sedang mengerjakan projek yang cukup besar. Kami bertiga adalah : Pak Bos, saya dan seorang sahabat saya. Pak Bos adalah seorang pria paruh baya yang sangat expert di bidangnya. Meskipun kami satu tim, tapi sebenarnya beliau bagai mahaguru bagi kami yang masih unyu-unyu di bidang ini. Karen ake-expert-an nya, beliau juga menduduki jabatan penting di instansinya. Kami bertiga cukup akrab karena sudah saling mengenal cukup lama.

Pak Bos sudah selesai menelpon, dan kembali berhadapan dengan kami. “Dimarahin mbak **** ya Bang?” kata sahabat saya. Mbak **** adalah istri beliau, yang juga kami kenal baik.  “Iya nih… gue tuh udah gak boleh minum kopi sama dokter. Trus dia tuh kayak punya telepati gitu. Tauuu aja gue bandel” katanya sambil melirik secangkir kopi dihadapannya (di komunitas kami, biasa ber- elu gue antara senior dan junior). “Trus kayaknya gue harus pulang sekarang uy, **** titip beliin bahan-bahan kue. Mana gue gak tau lagi bahan-bahan itu bentuknya kayak gimana. Makanya agak lama kayaknya muter-muter di supermarket untuk tanya-tanya. Dia lagi seneng banget nyobaik resep-resep dari yutub” katanya. Lalu kemudian ia membagi tugas yang harus dikerjakan oleh masing-masing kami di rumah, untuk dibahas pada pertemuan selanjutnya.

Dulu, duluuuuu banget….saya akan menganggap tipe suami seperti Pak Bos adalah suami yang “tidak berwibawa”. ISTI. Ikatan Suami Takut Istri. Membayangkan wibawa nya di hadapan publik, diantara para stafnya, di lingkungan expertisenya, sangat kontradiktif dengan sikap dihadapan istrinya, seperti yang ia tunjukkan di telpon tadi. Takut Istri. Itu yang suka digambarkan pada sinetron-sinetron, terutama sinetron komedi yang memang sering mengeksploitasi kontradiksi.

Tapi setelah saya menikah, 5, 10, 15 tahun…. mengamati banyak pernikahan, membantu klien-klien dengan masalah pernikahan, saya menjadi punya perspektif baru terhadap para bapak-bapak yang “melepaskan wibawanya” saat sedang berada di hadapan istri. Tetap ISTI. Ikatan Suami Thayank Istri haha….

Yups… tidak mudah bagi seorang suami yang secara agama, kultural maupun sosial dipandang sebagai figur superior dibanding istri, mau “mendengarkan” apalagi “menuruti” kata istrinya. Ada berapa banyak para istri yang sudah menikah belasan bahkan puluhan tahun; tapi si istri tak berani, takut untuk mengingatkan sang suami, memberi masukan pada sang suami, mengerem suami dari perilaku yang kurang pas; baik untuk dirinya maupun ada orang lain.

Misalnya, mengingatkan suami untuk tidak merokok, mengingatkan suami untuk tidak impulsif posting sesuatu di medsos, mengingatkan suami untuk tidak genit pada wanita lain, mengingatkan suami untuk menyeimbangkan hobi pribadi dengan waktu untuk keluarga, mengingatkan suami untuk menyeimbangkan waktu mengejar karier dengan waktu untuk keluarga, mengingatkan suami untuk meninggalkan hal-hal kecil yang gak bermanfaat, mengingatkan suami untuk merubah akhlak buruk.

Setiap kali saya mengingatkan suami saya dari satu perilakunya yang kurang pas, saya selalu bilang : ” I do it because I love you. I care about you. Di usiamu saat ini, di posisimu saat ini, gak akan banyak orang yang berani mengingatkanmu. Bahkan mungkin gak ada”. 

Ya, saya berpegang teguh pada definisi “cinta adalah saling menjaga”. Dengan dua makna:

(1)  Makna yang terkait dengan hubungan kami berdua. Setelah mengarungi pernikahan 15 tahun, saya semakin yakin bahwa Allah menciptakan laki-laki dan wanita itu setara.

Teori bahwa laki-laki itu rasional dan perempuan itu emosional, itu gak berlaku dalam pernikahan. Yang ada adalah, dalam situasi tertentu suami lebih rasional, dalam situasi tertentu ia emosional. Sama dengan istri. Maka, ketika istri sedang emosional, suami bersikap tenang dengan kekuatan rasionalitasnya. Dan ketika suami emosional, istri bisa menjernihkan pikiran suaminya dengan keteduhan rasionalitasnya.

Laki-laki itu pelindung dan wanita itu makhluk lemah yang harus dilindungi? Totally wrong ! Iyesh, sering wanita butuh perlindungan suaminya lewat kekokohan pelukannya. Kala ia sedih, kecewa, disakiti, mengalami kegagalan, dll.  Tapi saya sudah menyaksikan berpuluh-puluh suami; yang tak ingin melepaskan genggaman tangan istrinya, yang merasa kuat saat istrinya berada disampingnya;  kala mereka sakit, kala mereka down, kala mereka takut…

Dua gambaran yang sebenarnya sudah bisa kita ketahui lewat kisah Rasulullah yang merasa takut dalam pelukan istrinya Khadijah saat mendapatkan wahyu pertamanya.

(2) Makna yang terkait dengan pasangan kita dengan lingkungannya. Dalam perjalanan hidup ini, kita butuh rem. Agar tak melaju di jalan yang salah. Agar kita menjalani kehidupan ini tidak dengan menutup mata, yang penting cepat. Agar kita punya waktu untuk selalu awas pada belokan-belokan kebenaran yang mungkin kita lewatkan.

Suami dengan rasionalitasnya, bisa jadi rem untuk istrinya. Dengan pikirnya, ia akan bisa membayangkan resiko-resiko, dan beragam elemen yang akan mengarahkan jalan istrinya di jalan yang benar.

Di sisi lain, suami langkahnya lebih panjang. Ia tak terikat anak-anak. Tak terikat rumah. Darahnya cenderung bergejolak memenangkan kompetisi dalam beragam bentuk. Maka, istri-lah yang bisa jadi rem. Membuatnya melambatkan larinya, mengajaknya berbincang agar sempat ia melihat sekeliling dan berefleksi, menemaninya mengevaluasi arah hidupnya, menariknya kembali pada nilai-nilai yang akan menjadi berharga saat di akhir hidup ia mengevaluasi perjalanan kehidupannya.

Tak ada yang otomatis terjadi dalam dunia ini. Itu adalah sunnatullahNya. Tak ada cinta yang begitu saja tumbuh dan menguat. Tak ada komunikasi dari hati ke hati yang begitu saja terlatih, tak ada rasa yang begitu saja menyatu dalam satu frekuensi, “hanya” karena usia pernikahan telah bertambah. 

Saya ingat suatu saat Pak Bos menasehati kami: “Bagi kalian, di masa-masa ini mungkin merasa hubungan kalian dengan suami baik-baik saja. Karena masing-masing fokus dengan urusan anak. Tapi ketika tak ada lagi anak-anak yang harus diurus, saat kalian berduaan kembali, di situlah kedalaman hubungan kalian teruji. Bukan tak mungkin kalian akan jadi bingung, apa yang harus diobrolin. Ngomong ini, takut menyinggung, ngomong itu, gak tau mulainya dari mana. Bukan tak mungkin kalian merasa saling asing; kalau proses saling mendekat, saling menyelami, saling mendengarkan dan saling menghargai itu tak terus diusahakan dan diperjuangkan. Lebih asyik ngobrol sama teman di luar rumah atau dengan teman kerja, jangan sampai itu terjadi” katanya.

loveSaya juga ingat seorang ustadz di ceramah tarawih ramadhan masjid salman tahun lalu, menyampaikan bahwa ketika seseorang memutuskan untuk menikah, maka berarti ia bersedia mengikutsertakan pasangannya dalam setiap pertimbangan perilakunya. Sekecil apapun, sebesar apapun, sehebat apapun konteks perilakunya.

Kalau memegang teguh nasihat ini, masalah pelakor dan pebinor mah ga ada arti apa-apa.

Maka, buat saya sekarang, seorang laki-laki yang berkata: “yes mam” atau “oke bos” pada istrinya, bukanlah suami penakut. Tapi ia suami penyayang. Yang menganggap kata-kata istrinya perlu ia dengarkan, yang menghayati bahwa ia butuh dijaga oleh istrinya, yang menganggap bahwa istrinya setara dan berharga. Seorang suami yang mencintai istrinya.

PAUD dan PR

Hari Kamis lalu, menjelang long wiken, saat saya tiba di rumah sore, si bungsu TK B bercerita bahwa ia dikasih “PR” sama gurunya. Apaaaah? anak TK dikasih PR? TK apa itu? pasti TK gak bener itu ! pasti cuman bisnis doang ! makanya, sebelum SD itu anak gak usah “disekolahkan”. Ibu adalah guru terbaik buat anak. Tuh kaaan…kalau disekolahkan anak dikasih beban yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Anak PAUD itu harusnya bermain yang kreatif bersama ibu, bukan dibebani dengan PR.

Kira-kira begitulah reaksi saya kalau dikomik-kan heheh #hiperbola. Yups, saya pernah membaca pendapat yang meng”haram”kan PR. Apalagi pada anak PAUD. Kenapa ya, gak boleh ada PR ? Kenapa anak PAUD gak boleh dikasih PR?

Oh…oh…saya tau jawabannya: Karena “PR” itu identik dengan “akademik”. PR menghafalkan perkalian. PR ngerjain berlembar-lembar soal. Kadangkala, konon katanya PR dijadikan alat bagi guru-guru yang “malas” menjelaskan materi. Jadi murid dikasih PR yang belum dijelaskan materinya. Itulah sebabnya PR, konon juga katanya jadi pintu gerbang buat ibu-ibu yang gemesh sama anaknya yang gak ngerti materi pelajaran, dan melakukan KDRT dengan verbal : “masa gitu aja gak bisa?” atau dengan perilaku : mencubit, menjiwir, memukul. Duh, bahaya banget ya dampak PR itu 😉

Nah, bener-bener…kalau anak PAUD dikasih PR, bahaya banget tuh… padahal, setiap kali saya sharing sama ibu-ibu maupun guru TK, saya selalu bilang : “sekolah formal” pertama anak-anak itu adalah SD. SEKOLAH Dasar. Kalau TK, ya bukan sekolah. Namanya juga TAMAN. Secara filosofis nama juga beda. 

Oke…oke…kalau ngasih PR ke anak TK itu adalah “malpraktik” pendidikan anak usia dini, pasti anak akan terbebani, kesel, males, muncul emosi negatif. Baiklah, mari kita amati si bungsu…

Waktu si bungsu ngasih tau bahwa dia punya “PR” dari bu guru, kenapa dia memberi tahu saya dengan wajah “sumringah” ya? “Bu, de Azzam dikasih PR sama bu guru. Ibu tau gak PRnya? de Azzam harus bikin makanan atau minuman kesukaan de Azzam. Terus, pas bikinnya, de Azzam harus di video-in, terus dikirim ke bu guru. Gitu bu…de Azzam, gak sabar pengen ngerjain PRnya ! bikin apa ya bu? bikin nutrijel, de Azzam udah bisa sendiri belum? harus sendiri bu, jadi harus pilih bikin-bikin yang de Azzam gak perlu bantuan ibu dan abah”

Hhhmmm….aneh nih. Kan harusnya anak stress ya kalau dikasih PR, tapi ini kenapa gak stress ya? malah antusias. Yang salah teorinya atau anaknya ya? Seinget saya, ini memang bukan kali pertama si bungsu dapat “PR” dari gurunya.

Beberapa bulan lalu, pas long wiken juga, si bungsu dikasih PR menggambar. “Kata bu guru, menggambarnya jangan langsung sekali, harus dicicil tiap hari sedikit-sedikit. Biar bagus. Idenya harus kreatif”. Dan pesan gurunya, dia amalkan sepenuh hati. Tiap pagi dia akan mengingatkan saya untuk “temenin bikin PR menggambar”. Lalu seperempat jam kemudian, dia berhenti : “Kan kata bu guru gak boleh langsung selesai, biar bagus. Besok dikerjain lagi”. Dan jadilah gambar itu, hardfilenya dikumpulkan ke bu guru, softfilenya saya kirim ke majalah bobo junior, yang ternyata 2 minggu kemudian dimuat. Wah, bahagia sekali si bungsu (dan emaknya hehe).

PR lainnya yang saya ingat adalah : membuat roket dari barang bekas. Hasilnya dikirim via foto di grup wa. Ngerjainnya sama papanya masing-masing. Waaah…gile..kreatif-kreatif ternyata para papa memberikan ide dan mengerjakan “PR” itu bersama anak-anaknya. Akhirnya, setelah 2 minggu karena si abah lagi padet di luar kota, roket si bungsu pun jadi. Waktu bikin, dia semangaaat banget. Sampai pas udah jadi, sebelum dikumpulkan (dan ternyata hanya diperlihatkan aja sama bu guru, selanjutnya dibawa pulang lagi), dia pajang di lemari. Sesekali diambil, dipeluk, dicium-cium sambil muji diri sendiri : “ternyata de Azzam, bisa bikin roket yang bagus ya”.  Saking terharunya bu guru karena anak-anak begitu antusias mengerjakan, bu guru pun membuat gantungan kunci buat anak-anak, bergambar foto masing-masing anak dengan roket buatannya. Gantungan kunci itu jadi kebanggan si bungsu.

PR lainnya yang saya ingat adalah, sebulan lalu bu guru minta anak-anak yang sudah bisa menulis untuk menulis kata, yang berawalan huruf tertentu. Hurufnya berurut mulai dari a,b,c,d, dst per hari. Si bungsu yang termasuk sudah terlatih motorik halusnya dan sudah bisa mengeja, juga semangat mengerjakan “PR” ini. Meskipun dia bilang: “Bu guru engga bilang harus nulis berapa kata, katanya terserah. Kalau de Azzam tulisannya kecil, berarti harus banyak. De Azzam mau tulisannya besar aja aaah….biar sedikit kata-nya”. Cukup menyenangkan menemaninya mengerjakan PR ini. Terutama ketika si bungsu “mikir” kata apa yang berawalan huruf tersebut, lalu terpikir satu kata yang lucu: seperti “cangcut dan dodolipret” 😉

Dan, PR membuat makanan kesukaan ini, akhirnya dikerjakan dengan tak kalah antusiasnya dengan PR-PR nya sebelumnya. Saya jadi penonton, si abah jadi kameramen. Dia sudah memutuskan akan membuat telor ceplok kesukaannya. Mulai dari memecahkan telur, memasukkan ke wajan, membalik telur, sampai mengangkat ke piring. Menyalakan dan mematikan kompor, di hasil video terlihat tangan si abah membantu hehe… Sambil melakukan aksinya, gaya si bungsu udah kayak youtuber-youtuber gitu, Meskipun gak pake kata “gays” ya kkk… “Haloo…kita akan membuat ceplok telor…oke, kita mulai saja….”.

Kemarin, ketika saya pulang sore, dia cerita : “Bu, yang kirim video ke Bu Guru cuman bertiga. Dia sebut nama temannya dan apa yang dibuatnya. Gak apa-apa gak ngumpulin juga. Tapi yang ngumpulin dikasih kertas stiker …yeay….

PR2Nah..dari pengamatan saya terhadap jenis PR, sikap si bungsu terhadap PR dan sikap bu guru terhadap PR, saya jadi bisa menyimpulkan : Bukan “Ada PR” atau “Tidak ada PR” yang menjadi inti permasalahan. Tapi yang harus kita cermati adalah:

(1) Apa tujuan PR? Menurut saya, di jenjang pendidikan manapun, tujuan memberi PR atau tugas, akan menentukan bentuk PR apa yang diberikan dan bagaimana sikap siswa terhadap PR tersebut. Misal, di sebuah Perguruan Tinggi nun jauh disana, PR yang diberikan dosen pada mahasiswa adalah menerjemahkan buku/chapter buku. Lalu hasil PR mahasiswa tersebut, di klaim sebagai kinerja menerjemahkan buku untuk kepentingan dosen tersebut. Nah, kalau tugasnya macam ini, mahasiswa gak merasa ada manfaatnya buat dia. Ya, kalau dibikin-bikin sih bisa ada aja. Tapi kalau secara tulus kita hayati, mahasiswa bisa jadi gak dapet apa-apa dengan tugas semacam ini. Saya sendiri sebagai dosen merasakan; ketika merancang tugas/PR itu, tidak mudah. Harus kita hayati betul bentuk aktifitasnya seperti apa, tingkat kesulitannya, lalu nanti bentuk feedbacknya seperti apa.

(2) Bentuk PRnya seperti apa? Setelah saya ngobrol dengan bu guru, ternyata bentuk-bentuk PR yang diberikan pada anak-anak itu, adalah upaya bu guru agar anak-anak terisi waktu luangnya dengan kegiatan yang menstimulasi daya kreatifitas dan kemandirian anak. Maklum, saat libur, para ortu mengeluh ke bu guru: “anak-anak kalau di rumah main gadget terus”. Saya sih gak ikut mengeluh karena saya tahu bahwa  kalau  saya mengeluh begitu, senjata makan tuan buat saya. Kenapa ibu kasih gadget dan gak nemenin anak main? Gak mungkin dong anak  umur 5 tahun main sendiri sementara emaknya gadget-an ;). Dan tugas-tugas tersebut, disesuaikan tingkat kesulitannya dengan kemampuan anak. Juga disesuaikan dengan kondisi “jaman now”. Misal mengirim PR berbentuk foto dan video ke wa bu guru 😉

(3) Reward/punishment terhadap PR. Apakah anak-anak yang tidak mengumpulkan PR diberi hukuman? tidak. Yang mengumpulkan yang diberi reward. Pas dengan tahap perkembangan anak.

Maka, dari pengalaman ini saya mendapatkan satu pelajaran : jangan terjebak nama/istilah. Kita biasakan untuk mengamati (atau bahasa kerennya “menganalisa”) elemen-elemen dari suatu kejadian. Ada banyak keterjebakan yang bisa kita hindari dengan pola seperti ini : mengamati elemen-elemen dari suatu kejadian. Katanya itu yang namanya CRITICAL THINKING. Itu yang membedakan manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna dengan makhluk lainnya : manusia diberi akal. 

Apalagi para emaks jaman now yang mengalami tsunami informasi : kata pakar ini boleh, kata ahli ini gak boleh, kata BC-an yang ini harus begini, kata BC-an yang itu gak boleh begini…

Ketika Allah mentakdirkan kita menjadi ibu, maka Allah sudah menganugerahi potensi untuk berpikir, merasa dan bertindak yang paling tepat bagi anak-anak kita. Ya, ilmu pengasuhan harus kita cari untuk mengaktivasi potensi tersebut. Lalu kemudian, curahkan energi kita untuk mengamati anak, mengamati elemen-elemen kejadian dalam persoalan anak. Kalau ada kebimbangan, diskusikan dengan orang yang kita percayai keilmuannya. Insyaallah, kita akan rileks dan tenang dalam menjalani beragam perjalanan bersama buah hati. Itulah hakikatnya “bukan emak biasa” (yang perlu bukunya inbox ya..haha….pesan sponsor)

Sang Rahim

Terbanglah anakku,
terbanglah setinggi yang kau mau,
terbanglah setinggi yang kau bisa

More

PAUD : Yes or No? (studi kasus pola pikir para emak)

Awal semester lalu, saya dimintai bantuan oleh salah satu Taman Kanak-Kanak (TK) untuk sharing pada orangtua siswa baru di TK tersebut; temanya “pentingnya pendidikan anak usia dini”. Saya berusaha memikirkan apa yang akan saya sampaikan dalam acara sharing tersebut. Saya mengumpulkan buku-buku terkait topik tersebut, berusaha merenung apa yang kira-kira dibutuhkah oleh para mahmud (mamah muda) yang menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan prasekolah tersebut.

Dalam perjalanan ke kampus, salah satu wa grup yang saya ikuti mengirimkan sebuah tulisan. Tampaknya tulisan tersebut sedang viral di hari itu, terbukti beberapa wa grup yang saya ikuti, juga menyebarkan tulisan tersebut. Judul tulisan tersebut adalah “jika anak sekolah terlalu dini”. Sepertinya kalau di googling gampang ketemu.  Ada 14 poin yang dipaparkan dalam tulisan tersebut, intinya menyampaikan argumen di bawah usia 5 tahun, anak tidak perlu bersekolah. Poin ke-12, cukup bikin saya kaget. Memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker. Kita tidak tahu kapan kanker akan muncul & dlm jenis apa. Otaknya belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan ia kehilangan motivasi belajar. ……..

Saya yakin, penulis memiliki data yang menjadi dasar dari apa yang disampaikan. Saya sendiri belum punya data mengenai hal ini. Kalau ada lembaga yang bisa menyediakan data; misalnya yayasan yang punya PAUD, SD, SMP, SMA; sangat senang sekali kalau litbangnya mengajak saya bekerjasama melakukan penelitian. Membandingkan anak-anak yang “sudah sekolah” sebelum usia 5 tahun dengan anak-anak yang “tidak sekolah” sebelum usia 5 tahun dari berbagai aspek pada saat dia usia SD, SMP, SMA. Dari situ kita bisa punya fakta empirik yang sahih untuk mengatakan apa dampak “sekolah terlalu dini” bagi perkembangan anak selanjutnya.

Saking bikin seremnya poin tersebut, saya sendiri jadi mempertanyakan keputusan saya menyekolahkan 4 anak saya sejak mereka berusia 2 tahun. Kelompok Bermain 2 tahun, TK A 1 tahun, TK B 1 tahun. Waduh…. anak-anak saya udah 3 tahun sekolah sebelum mereka mencapai usia 5 tahun ! gawat banget nih…separah apa nanti kanker yang akan mereka derita ya? Serendah apa nanti motivasi belajarnya?

Lalu saya mengingat-ingat lagi alasan kenapa saya menyekolahkan anak-anak sejak mereka usia 2 tahun. Alasan utama adalah karena saya bekerja. Di rumah, anak-anak didampingi oleh pengasuh yang baik dan responsif, tapi jelas tidak bisa diharapkan menstimulasi secara terstruktur dengan optimal. Kalau begitu, harus berhenti kerja dong…masa ibunya S2 anaknya diasuh lulusan SMA. Berarti pekerjaan lebih berharga dibanding anak dong… Ah, saya mah udah bertahun-tahu lalu selesai dengan pergulatan itu. I love my job, because it’s not only job. It’s my ikigai.

Melakukan aktifitas pekerjaan saya: mengajar, berdiskusi dengan mahasiswa, membaca, praktek psikolog, selalu mengisi jiwa saya. Pulang ke rumah, tubuh saya lelah tapi jiwa saya rasanya terisi penuh. Jiwa yang sudah tercharge- full  itulah yang membuat saya punya energi untuk mengasuh anak-anak. Banyak hal dari luar rumah yang saya bawa ke rumah. Baik itu penghayatan, pengetahuan, keterampilan, dan banyak hal yang menjadi bekal untuk memberikan banyak hal pada anak-anak saya.

Kalau kata si abah : “sebenernya aku lebih suka dirimu di rumah. Tapi aku tau dirimu pasti gila kalau gak menjalankan profesimu. Jadi aku ridho dirimu beraktifitas di luar rumah”.  Jadi, saya mencintai anak-anak saya, tapi saya juga mencintai pekerjaan saya. Dan dalam kondisi saya, feasible untuk punya pilihan AND, bukan OR. My children AND my job; not my children OR my job.

Maka, jadilah saya mencari partner yang bisa memberikan stimulasi yang tidak bisa saya berikan selama saya beraktifitas di luar rumah. Partner yang paling gampang adalah sekolah. Paud. Play Group, TK A dan TK B. Setelah mencari-cari kesana kemari, ketemu lah saya sama sebuat sekolah yang “pas”dengan kebutuhan saya. Guru-gurunya responsif. Anak-anak saya yang perempuan, cenderung butuh waktu lama untuk adaptasi di lingkungan baru. Dan selama masa adaptasi itu, bu guru tak segan menggendong, memeluk, memangku anak-anak saya sampai mereka pelan-pelan merasa nyaman bergabung dengan teman-temannya. Ketika anak-anak gak mau ditinggal, guru-gurunya punya teknik “memisahkan” anak dengan orangtua yang efektif. Sehingga meskipun pas ditinggal nangis-nangis, 5 menit kemudian saya telpon gurunya, anak saya udah “lupa” aja…..atau bahkan bu gurunya yang proaktif memfoto 5 mrnit kemudian, mengirimkan pada saya.

Ah, tapi itu kan pengalaman subjektif sama. Pendapat saya pribadi. Bias ah….Aha….saya pun punya ide. Jadilah materi sharing di TK yang tadi saya ceritakan di awal, formatnya tidak ceramah dan tanya jawab seperti biasanya. Saya print artikel “Bila anak sekolah terlalu dini” tadi. Ada sekitar 80 orangtua yang hadir pada pertemuan itu, saya bagi menjadi sekian belas kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 orangtua.  Pada masing-masing kelompok, saya bagikan artikel tersebut, lalu saya beri waktu 30 menit untuk mendiskusikan.

Ada 3 hal yang saya mintakan:

(1) Menyimpulkan isi artikel itu dan menyampaikan dengan bahasa ibu-ibu sendiri (konon kan katanya emak-emak jaman now semangat menshare-nya jauh lebih besar dibanding semangat membaca isinya. Seringkali keputusan menshare cukup dengan membaca judulnya saja)

(2) Menyampaikan pendapat mengenai isi artikel tersebut. Adanya fitur “copy” dan “share” juga membuat kita jadi gak terbiasa mengolah informasi dan menyampaikan gagasan kita sendiri terhadap informasi itu.

Setelah 30 menit berlalu, beberapa kelompok saya minta mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.

Proses dan hasil diskusi yang terjadi, membuat saya bangga sama emak-emak yang hadir di ruangan tersebut.

Saya rangkum poin pendapat peserta mengenai isi artikel tersebut.

(1) Bahwa dalam artikel tersebut, ada poin-poin yang mereka setujui

Contohnya pernyataan: “Permainan terbaik adalah tubuh ayah ibunya! Bermain dengan ayah ibu juga menciptakan kelekatan. Misal: bermain peran, bermain pura-pura, muka jelek, petak umpet”.

(2) Sebagian poin-poin dalam artikel tersebut tidak mereka setujui

Contohnya pernyataan: Anak di bawah usia 5 tahun belum saatnya belajar sosialisasi. Ia belum bisa bermain bersama. Mereka baru bisa bermain bersama-sama. Bermain bersama-sama= bermain diwaktu & tempat yang sama namun tdk berbagi mainan yg sama (menggunakan mainan masing2). Bermain bersama= bermain permainan yg membutuhkan berbagi mainan yg sama.

Berdasarkan pengalaman ibu-ibu yang mempresentasikan hasil diskusinya, anak usia 4 tahunan udah bisa main bareng. Dan menurut teori pun, potensi anak untuk cooperative play memang sudah dimiliki di usia 4 tahun.

Bersosialisasi, berdasarkan hasil diskusi, adalah tujuan utama ibu-ibu menyekolahkan anak-anaknya di PAUD. Mengapa? peserta menyatakan bahwa mereka menghayati kemampuan sosialisasi adalah kemampuan penting untuk anak. Sosialisasi meliputi kemampuan untuk berbagi, bekerjasama, mengatasi konflik misalnya. Salah seorang ibu yang mempresentasikan mewakili kelompoknya menyatakan bahwa anaknya baru satu, di lingkungannya tidak ada teman sebaya.

Kenapa engga sosialisasi sama orangtuanya saja? Ya, saya memang tidak bekerja, punya waktu banyak main sama anak, kata ibu tersebut. Tapi saya lihat pola sosialisasi sama teman sebaya, misal kalau main sama sepupunya, itu beda dibanding sama orangtuanya. Kalau sama sebaya kan egonya sama, jadi saya liat dia juga belajar keterampilan yang dia gak dapat kalau interaksinya sama orangtua; begitu pendapatnya.

Seorang ibu yang lain menyampaikan bahwa walaupun anaknya punya 3 kakak, ia pun menilai bahwa interaksi dengan teman sebaya itu berbeda dengan interaksi dengan yang tidak sebaya. Dan itu mereka rasa penting.

(3) Artikel ini tujuannya bagus, namun cara penyampaian di artikel itu menurut peserta terlalu “judgmental”;  satu perspektif, tidak membuka peluang adanya perspektif lain.

Misal kalimat : “Betapa kita disiapkan untuk menjadi ahli namun tdk disiapkan jadi orangtua, shg tidak punya kesabaran & endurance utk jadi ortu”.

Menilai orangtua yang menyekolahkan anaknya di PAUD sebelum usia 5 tahun berarti orangtua tersebut tidak punya kesabaran dan endurance untuk jafdi ortu dinilai terlalu judgmental oleh para peserta.

(4) Ada pertanyaan juga terkait dengan pernyataan “memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker”; beberapa ibu menyampaikan, ia mengamati bahwa anak-anaknya atau anak-anak yang ia kenal yang sekolah sejak  usia kecil, tampak baik-baik saja. Apakah sekolah dini hanya satu-satunya faktor yang bisa menyebabkan anak jadi bermasalah? atau ada faktor lain ? 

Menurut saya, pertanyaan itu adalah pertanyaan keren banget, yang mengantar kami pada diskusi selanjutnya ….

HAsil dari diskusi itu adalah :

Hasil “baik” atau “buruk” dari keputusan memasukkan anak ke PAUD, tergantung dari beberapa hal :

  1. Kondisi anak
  2. Kondisi orangtua
  3. Kondisi sekolah dan guru

Jadi, kesimpulannya,

memasukkan anak ke PAUD “Iyesh” kalau:

  1. Anak enjoy sekolah. Di awal semester, anak “engga betah” itu wajar. Anak nangis ditinggal ortu itu wajar. Kalau sesudah itu anak gak ngamuk-ngamuk  setiap hari saat harus sekolah, gak marah setiap kali diingetin harus sekolah, berarti baik-baik saja.
  2. Ibu bekerja, atau ibu di rumah tapi ibu merasa tidak akan punya waktu berkualitas untuk menstimulasi anak. Misal : ibu gak punya pembantu, jadi sebagian besar waktunya dipakai untuk beberes rumah, dll. Anak bersama ibu sih di rumah, tapi gak diapa-apain. Atau malah jadi objek kemarahan. Atau ibu punya waktu luang, tapi gak tau harus menstimulasi anak dengan cara gimana. Bingung gimana harus menyikapi anak, gak tau perilaku anak di usia segini wajar atau engga, perkembangan kayak gini telat atau engga. Pengalaman saya, jenjang pendidikan tinggi dan tingkat kecerdasan ibu tidak otomatis sejalan dengan pengetahuan dan keterampilan mengasuh. Ya, ada beberapa keterampilan dasar yang harus dan bisa dimiliki ibu. Tapi tentu tidak semua ibu punya kompetensi menyusun kurikulum, melakukan evaluasi dari aspek-aspek yang harus distimulasi pada anak-anak usia prasekolahnya.
  3. PAUD itu semuanya bisnis? mungkin ya. Saya sendiri gak punya data, belum pernah mensurvey dan gak punya indikator yang dinamakan PAUD adalah bisnis itu kayak gimana. Mungkin benar. Tapi minimal, ada 2 PAUD di Bandung, yang saya tahu persis tidak berorientasi bisnis. Dua PAUD ini saya bantu sejak beberapa tahun lalu. Salah satu PAUD, bahkan membiayai full anak-anak dhuafa dengan latar belakang pemikiran, anak-anak ini sangat terlantar. Ibu-ibunya rata-rata pembantu rumah tangga, rumahnya cuman sepetak. Anak-anak ini ditinggal di rumah. Kadang sendirian, kadang dititipin tetangga; sering dimarahi, bahkan dipukul; mainan boro-boro punya, pengetahuan ibu-ibu untuk kreatif menggunakan alat yang ada di rumah untuk mainan anak boro-boro… Nah di PAUD, mereka dipegang oleh guru-guru yang punya pengetahuan dan keterampilan lebih baik dibanding orangtuanya. Orangtua anak-anak dhuafa itu, diwajibkan mengikuti program sekolah ibu. Saya membantu menjadi fasilitatornya. Di sana ibu-ibu dikasih tau kenapa mukul anak itu gak boleh, ibu-ibu akan belajar latihan gimana caranya kalau lagi kesel sama suami, atau lagi pusing gak punya uang, jangan sampai melampiaskan ke anak. Di PAUD satunya lagi, saya membantu guru-guru menangani kasus-kasus anak dimana para guru itu butuh “second opinion” dari psikolog anak.  Misalnya anak usia 4 tahun, belum bisa toliet training karena ibunya single mother harus bekerja.  Di rumah pake pampers terus, karena tinggal di rumah nenek dan nenek sudah renta, gak mau rumah bau pesing dan gak kuat harus melatih anak toliet training. Di sekolah tersebut, salah satu aturannya adalah anak gak boleh pake pampers di kelas. Meskipun beberapa ibu terutama ibu-ibu playgroup suka “nego” karena khawatir anaknya ngompol, tapi guru-guru di sekolah ini akan mengatakan : “gapapa bu, kalau ngompol tinggal di pel”. Dan mereka konsisten … setiap berapa jam sekali anter anak-anak pipis lah, pup lah…. termasuk si anak 4 tahun tadi. Guru-guru itu yang kemudian mengajari dan meyakinkan si orangtua untuk “berani” melepas pampers anak, menyadarkan ibu apa dampak jika itu tak dimulai sekarang, dll.

Sebaliknya, memasukkan anak di bawah 5 tahun ke PAUD “NO” jika :

  1. Anak sama sekali gak pisah dari ibu. Misalnya mengalami “separation anxiety” (harus didiagnosa sama psikolog), atau anak punya banyak teman sebaya di lingkungan rumah, bisa main bola, main sepeda, masin boneka bareng sama temen-temen di rumah. Atau anak nangis tiap ada PR, sakit perut tiap mau berangkat sekolah.
  2. Ibu, bisa memanage dirinya sehingga punya energi emosi yang berlimpah. Misal anak ikut nyuci, anak ikut masak, meskipun lama tapi ibu gak marah, anak enjoy belajar banyak hal. Anak selalu ngeberantakin mainan, ibu bisa tenang aja, lalu ibu punya waktu mendengarkan anak, mengajak anak main dengan playful. Ibu kreatif mempersiapkan aktivitas beragam buat anak tiap hari, sehingga gak cuman fisik aja bareng sama ibu di rumah, tapi ada interaksi yang berkualitas. Aturan bisa ibu tegakkan dengan tegas.
  3. Gak nemu sekolah yang “ramah anak”. Misalnya, PAUD yang ada hanyalah PAUD yang dari mulai anak 3 tahun sampai 5 tahun, pelajarannya adalah menjumlah dan mengurang. menulis huruf sambung. Yang gak bisa gak boleh pulang. Anak ada PR sekian lembar menulis dan menghitung. Guru-gurunya “galak”.

paudBegitu sih rambu-rambunya menurut saya. Intinya adalah, bahwa anak usia dini perlu mendapatkan stimulasi/pendidikan; IYESH. Golden age tea…. Bahwa bentuknya dengan “sekolah” PAUD, atau dengan ibu di rumah, atau melalui aktifitas lainnya, itu bisa berbeda keputusannya antara satu ibu dengan ibu lainnya. Yang penting bertanggung jawab dan memahami hakikatnya. Stimulasi. Apapun pilihannya, kalau didasari oleh kepedulian, pasti ada upaya mengevaluasi. Gimana proses belajar di sekolah ini? Gimana proses stimulasi di rumah?

Saya ingat, dalam salah satu kesempatan, saya membantu acara “parents meeting” di acara pembagian raport di sebuah PAUD. Modelnya, guru akan memberikan raport sambil menjelaskan perkembangan anak selama 1 term sekolah pada orangtua, lalu saya mendampingi untuk menjawab pertanyaan orangtua terkait masalah anaknya. Ada salah seorang anak, perkembangannya bagus banget. Melampaui anak-anak seusianya, di usia 4 tahunan. Si ibu itu bilang: “iya, dia udah sekolah dari umur 6 bulan bu. Waktu itu kan saya baby blues gitu, saya tuh kerjaannya nangis aja, merasa gak mampu gitu jadi orangtua, nyusuin gak bisa..kalau lama-lama gendong bayi tuh rasanya jadi gak sayang sama bayinya. Ya udah sama suami saya akhirnya anak saya diikutin sekolah bayi gitu…yang dipijet-pijet, terus distimulasi apa gitu…pas merangkak, terus pas jalan, terus melompat gitu…di XXX (ia menyebutkan sebuah lembaga  pendidikan anak ternama). Nah..kalau anak saya dibawa pergi, gak terus-terusan saya yang gendong, pas dateng saya jadi kayak kangen gitu bu, jadi saya enak meluknya juga. Kerasa sayang gitu. ASI saya juga jadi keluar. Pas saya udah lewat masa itunya, alhamdulillah jadi deket gitu rasanya, penerimaan saya tuh sama dia jadi normal.”

Baru sekali ini saya dapat kasus kayak gini. Dan saya menyimpulkan: oh ya…setiap keputusan itu sangat tergantung konteks dan kebutuhan masing-masing keluarga. Karena setiap keluarga punya keterbatasan pilihan yang berbeda. Gak semua ibu punya pilihan tinggal di rumah, punya pengetahuan dan keterampilan, serta kesediaan dan kapasitas emosi  yang mumpuni untuk menstimulasi anak. Dan kalaupun ada ibu yang tipenya kayak gitu, bisa jadi kebutuhannya berbeda, kebutuhan anak berbeda.

Bagi saya sendiri, saya banyak belajar dari para guru PAUD anak-anak saya. Setiap kali membawa hasil kreasi seni, saya belajar …oh, botol bekas tuh bisa dibikin roket ya, gitu caranya. Oh, pendekatan ke anak tuh  yang efektif gitu ya, oh reward yang dirasa asyik oleh anak tuh yang kayak gini ya. Sebaliknya, kalau ada yang bisa di sharing, saya dan mahasiswa bantu para guru PAUD melalui program pengabdian masyarakat. Karena PAUD yang berbayar cukup besar, memang diatur bahwa gurunya minimal harus Sarjana Pendidikan Anak Usia Dini (S,Pd.AUD). Tapi banyak juga PAUD di desa yang guru-gurunya belum punya latar pendidikan yang memadai, itu yang kita bantu.

Proses berpikir dan konklusi yang dihasilkan dari diskusi dengan para emak di atas, adalah proses berpikir yang menurut saya , wajib dimiliki oleh MOM JAMAN NOW. Jaman saya jadi mahmud dulu, baru punya anak satu, untuk cari menu MPASI itu harus ke gramedia, beli bukunya. Banyak pengetahuan yang hanya bisa dimiliki oleh ibu-ibu yang niat beli dan baca buku. Tapi JAMAN NOW, informasi bagai tsunami. Bukan kita yang mencari, namin mereka yang mendatangi kita.

Dulu, saya berpikir ini adalah sebuah keuntungan. Saya berpikir, klien-klien dengan permasalahan stimulasi anak akan jauh berkurang, karena ibu-ibu udah banyak tahu. Tapi ternyata permasalahannya beda. Kalau dulu permasalahannya adalah ibu “tidak tahu”; jaman sekarang adalah “ibu bingung karena terlalu banyak tahu”.

Maka, menurut saya, kemampuan ibu berpikir kritis dalam mengolah informasi, adalah keterampilan strategis bagi seorang emak. Konon, jumlah emak bergadget yang ada, adalah sumber penyebaran hoax tercepat. Artinya, kekuatan emak bergadget tak bisa disepelekan. Nah, kalau semua emak bergadget punya kemampuan mengolah informasi sehingga gak semua infromasi disebar bulat-bulat, diikuti bulat-bulat, dinilai benar 100% atau jelek 100%; lalu menularkan pola pikir itu pada anak-anaknya, bayangkan kekuatan yang akan dimiliki oleh bangsa ini

Dear emaks, kita gak perlu galau dengan  seliweran berita. Gak perlu buang waktu ikutan mom war yang konon katanya menghabiskan energi. Kita berlatih menganalisa informasi yang ada, menilai mana yang perlu diambil mana yang bisa diabaikan. Kita belajar  percaya diri membuat pilihan sesuai kondisi kita, tanpa harus minder atau merasa lebih hebat dibandingkan pilihan emak lain. Kalau ada emak yang merasa hebat dengan pilihannya, tinggalin aja, jangan diladeni. Mending energi kita, kita curahkan untuk mengevaluasi, dan menelusuri sumber daya yang kita punya, potensi yang kita punya. Diskusi tentu saja boleh, sekarang banyak narasumber parenting. Cari  narasumber yang mau mendengarkan kondisi kita, tak hanya sekedar memberi nasihat, saran atau bahkan menilai kita selalu salah dalam mendidik anak.

Dengan proses seperti yang dilakukan para emak dalam kegiatan di atas, insya allah waktu kita tak akan terbuang untuk galau; termasuk pilihan memasukkan atau tidak memasukkan anak ke PAUD.

 

Ngajak Anak Nonton Film G30S/PKI: berdampak baik atau buruk?

Hari-hari kemarin timeline facebook saya penuh dengan pro & kontra mengenai kegiatan nobar film G30S/PKI bagi anak-anak. Sebagai pengamat amatir, seru juga baca beragam argumen orang-orang, baik yang pro maupun kontra. Dari mulai para akademisi, politisi, praktisi, sampai “semua orang”. Dari mulai yang pake literatur sampai yang common sense. Dari yang pake logika sampai pengalaman pribadi. Dari yang sistematis sampai yang emosional.

Berbeda dengan suami saya yang katanya gak pernah nonton film itu, jaman saya kecil rasanya selalu jadi rutinitas tahunan nonton film itu. Dalam suatu obrolan di sebuah wa grup, saat ada yang tanya pendapat mengenai nobar anak-anak terhadap film ini, saya bilang saya pribadi gak akan mengizinkan anak-anak saya nonton film ini. Alasannya sederhana saja : durasi, alur, visualisasi film ini gak didesain untuk anak. Saya ingat kalau mahasiswa-mahasiswa saya di magister psikolog bikin film untuk anak, banyak aspek yang harus diperhatikan. Durasi, alur, visualisasi, dll dll. Itu kalau memang ada tujuan spesifik yang ingin dicapai.

Tadi siang, si sulung  ujug-ujug bilang: “Bu, kita nonton film G30S/PKI yu” katanya. Trus dia cerita, sobatnya katanya semalam nonton. “Tapi katanya garing bu, banyak yang disensor. Lambang PKInya, trus darahnya jadi abu-abu katanya bu”. Hehe…seru juga denger pendapat remaja umur 15an itu. Karena TV langganan kami bisa “play back”, maka kami bisa menonton kembali tayangan film yang sudah diputar semalam di salah satu stasiun TV itu. Tiga puluh menit kami berdua menonton, sebelum harus berhenti karena kami harus ke Purwakarta, janji ke rumah neneknya. Saya tanya kesan dan pendapat si sulung tentang film yang ditontonnya : si sulung menjawab “serem”. “Apanya yang serem?” saya tanya. “Gak tau…suasananya gitu. Musiknya…Teknik pengambilan gambarnya…” katanya.

Besok, saya janjian sama si sulung untuk melanjutkan nonton film itu. Nanti saya akan ajak adik2nya juga. Kenapa?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Pro kontra mengenai dampak dari sesuatu, sudah amat amat sangat sering terjadi di kalangan masyarakat kita.

Misalnya nobar G30S/PKI ini. Yang pro mengatakan: kegiatan ini bisa menumbuhkan rasa cinta tanah air, menumbuhkan kesadaran akan bahayanya PKI, dll. Yang kontra berkata: anak bisa cuman nangkap sadisme nya aja, anak bisa terdorong untuk melakukan tindakan agresi, dll.

Kasus lain yang saya ingat, kasus anak melihat penyembelihan hewan qurban. Kata yang pro : bisa menumbuhkan rasa tauhid. Kata yang kontra : bisa menumbuhkan perasaan trauma.

Kasus lainnya lagi: soal tepuk “islam yes kafir no”. Kata yang pro: tepuk ini bisa menumbuhkan tauhid. Kata yang kontra: tepuk ini bisa menumbuhkan radikalisme.

Debat pro dan kontra ini, biasanya gak berujung pada satu titik temu. Malah biasanya merembet ke hal-hal lain yang seringkali “gak nyambung”. Biasa…hitam putih gitu.

“Gak ngijinin anak ikut nobar film G30S/PKI? berarti kamu pendukung PKI”.

“Ngebolehin anak liat penyembelihan hewan qurban? berarti menanamkan bibit traumatik pada anak. Artinya tidak siap jadi orangtua”.

Seolah-olah gak mungkin ada opsi lain. Seolah-olah setelah nonton, kalau gak cinta tanah air ya jadi PKI. Seolah-olah setelah liat penyembelihan hewan qurban, kalau engga bertauhid, ya traumatik. Seolah-seolah setelah tepuk “islam yes kafir no”, kalau engga tauhid ya radikal.

Dan memang pro kontra ini gak akan pernah bisa ketemu karena…. masing-masing pihak beranjak dari asumsi masing-masing. Asumsi.

pkiHanya ada satu cara yang bisa mempertemukan dua asumsi ini. Dan rasanya belum banyak yang mengemukakan: buktikan secara empirik ! Kita suka lupa kalau yang kita omongin itu, anak-anak itu, bukan benda mati. Mereka hidup. Dan mereka pemeran utamanya. Seolah-olah yang menentukan apa yang tumbuh dalam pemikiran dan perasaan mereka itu kita. Buktikan secara empirik apa yang sesungguhnya terjadi pada mereka. Mereka yang mengalami dan menjalani kok. Anak-anak itu. Mereka narasumber yang paling sahih.

Misalnya dalam kasus tepuk “islam yes kafir no”. Apakah yakin dengan melakukan tepuk itu ketauhidan anak-anak tumbuh? apa indikatornya? apakah yakin dengan tepuk itu anak akan tumbuh menjadi radikal? apa indikatornya?

Mari temukan jawabannya dengan data empirik. Ilmiah. Ada metodenya. Eksperimental atau kuasi eksperimental. Buat indikator ketauhidan dan radikalisme. Buat treatmentnya. Satu kelompok lakukan tepuk itu sebulan berturut-turut, satu kelompok engga. Lalu ukur ketauhidan dan radikalismenya.

Jangan-jangan, saya curiga….tauhid gak tumbuh, radikalisme gak tumbuh. Lempeng aja gitu. Karena mungkin bukan di tepuknya tauhid atau radikalisme itu tumbuh. Tapi dari penjelasan dan elaborasi guru terhadap tepuk itu. Anak-anak TK kan konkrit. Sedangkan “yes” dan “no” itu abstrak.

Demikian juga pada kasus-kasus lain. Kasus melihat penyembelihan hewan Qurban misalnya. Soalnya tiap tahun ituuuuuu aja yang yang diperdebatkan. Juga soal nobar ini. Buat indikator “cinta tanah air”; buat indikator “mewaspadai paham komunisme”. Lalu ukur pada dua kelompok: yang nonton sama yang engga. Bisa pake desai ex post facto, eksperimental atau kuasi eksperimental. Saya juga curiga, jangan-jangan “tak berbekas” apa-apa.

Itulah sebabnya saya gak akan mengizinkan anak-anak saya kalau ada acara nobar film ini di sekolahnya. Apalagi anak SD. Gak kebayang anak-anak millenial kelas 1 – 3 SD, yang rentang konsentrasinya masih bergerak di kisaran 60 menit, nonton film yang sangat tidak menarik buat usia mereka (buat yang nonton, coba ingat-ingat lagi adegan-adegan awal. Narasi dengan kalimat2 panjang dengan gambar-gambar tak bergerak, orang lagi sholat diserang, kakek-kakek nenek-nenek antri, presiden disuntik, ….). Dengan durasi sekian panjangnya.

Menurut saya, menumbuhkan sesuatu itu tidak mudah. Menumbuhkan rasa cinta tanah air. Menumbuhkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap paham komunisme…. itu harus ada penjelasan yang age-appropriate.

Misalnya aja, Tadi, setelah nonton 30 menit itu, saya dan abahnya bertanya; “Kaka ngerti gak paham komunis itu apa? bisa gak ngasih contoh?” si kelas 9 itu menggeleng. “Kalau misalnya kaka di kelas, ulangan. Ada yang belajar ada yang engga. Terus yang belajar harus ngasih tau yang gak belajar, biar nilainya sama. Gak boleh ada yang 100, gak boleh ada yang 0. Harus 70 semua. Nah, itu sama rata sama rasa. Menurut ibu dan abah, kayak gitu ideologi komunis teh. Kaka setuju gak?” “Ih, engga atuh, enak aja gak menghargai yang berusaha”. 

Nah, kalau ibu guru-bapak guru gak melakukan elaborasi apa-apa, cuman nobar aja, saya gak tau apa yang ketangkep sama anak-anak itu.

Si pencarian fakta empirik, penelitian yang saya usulkan untuk dilakukan itu, emang ada yang mau melakukan? emang negara mau melakukan? Kalau saya jadi mentri mah mau saya lakukan da  (haha…halusinasi tengah malem).

Tapi yang jelas, saya akan lakukan. Saya akan ajak 4 anak saya nonton, lalu masing-masing akan saya amati reaksinya, saya tanya pemahaman mereka apa, perasaan mereka gimana, kalau negatif akan saya berikan debriefing, kalau takut saya bisa hentikan, akan saya catat rentang konsentrasi masing-masing anak berapa lama; kayak kalau mahasiswa saya bikin film untuk anak lalu mereka lakukan uji coba.  Sehingga kalau tahun depan ada polemik pro kontra soal nobar ini, trus saya ditanya sebagai psikolog, saya punya data empirik untuk menjawabnya. Tidak hanya berdasarkan asumsi dan perasaan semata.

 

 

Mencerna Duka

Setiap kali saya membuka agenda saya, setiap hari Kamis, 2 minggu sekali, tertulis dengan spidol merah: “Kemo Papah”. Hari ini, hari ke-22 papah tiada. Setiap teman yang bertemu, selalu bertanya: “gimana mamah?”. Khusus teman-teman dekat Psikologi, mereka juga bertanya: “Lu sendiri gimana?”.

Sampai hari ke-7 papah tiada, saya menemani mamah di Purwakarta. Selain menemani secara fisik, saya ingin memastikan bahwa mamah melalui proses berduka dengan sehat. Saya tahu bahwa perilaku yang kasat mata terlihat “hebat, kuat, ikhlas”; seringkali tak berarti baik secara psikologis. Dan jika tak baik, artinya ada dampak tak baik juga. Saya mencermati apakah mamah akan punya social support yang memadai untuk melalui kedukaan ini.

Berduka. Ya. Tidak mudah bagi seseorang kehilangan pasangannya, setelah 39 tahun bersama. Salah satu butinya, Holmes and Rahe pada tahun  1967 mengembangkan  kuesioner yang bernama The  Social Readjustment Rating Scale (SRRS), untuk mengidentifikasi kejadian hidup yang membuat stress (stressful life events). Hasilnya, menempatkan “kematian pasangan” sebagai kejadian yang menimbulkan stress di urutan pertama, dengan skala 100.

Di 7 hari pertama itu, saya menemani mamah mencerna ketiadaan papah. Dan saya melihat, cara budaya membantu mamah menjalani proses berduka di tahap awal, sangat terasa. Selama 7 hari, ada pengajian setiap bada isya. Tamu-tamu masih mengalir. Mendengarkan kenangan-kenangan baik sahabat-sahabat, kenalan, para “mantan”  murid, “mantan” mahasiswa papah, membantu kami merasa tenang. Secara kognitif.

Mempersiapkan “gudibag” di pagi hari bagi puluhan jamaah masjid yang mengaji mendoakan papah, dengan bantuan dari teman-teman pengajian mamah, membantu mamah meluapkan segala rasanya. Saya mengamati teman-teman pengajian mamah yang rata-rata juga sudah ditinggalkan wafat suaminya, menemani mamah dengan caranya masing-masing. Ada yang menyampaikan pendekatan agama: “kalau kangen, doa aja sama baca Al Ikhlas. Biar kita ingat bahwa rasa kita ini gak boleh melebihi tauhid kita pada Allah”. Ada yang menyampaikan pendekatan “humoris”: “sebenernya kalau seumur kita, yang bikin sedih itu kalau pas genteng bocor, gak ada yang dimintai tolong”. Ada juga pendengar yang baik, yang memvalidasi semua perasaan mamah. “Iya, wajar kalau nanti kasuat-suat. Gapapa nangis aja yang puas”.

Di hari ketujuh, budaya di derah mamah adalah, keluarga memberikan/membagikan pakaian almarhum pada kerabat/jamaah pengajian. Maka di hari ketiga, mamah mengajak saya mengeluarkan baju papah. Saat itu, setiap baju yang keluar dari lemari, mamah ceritakan belinya dimana, dipakai waktu kapan, lalu mamah menentukan itu akan dikasih ke siapa. Saya sendiri memilih sarung yang 2 hari sebelum wafatnya papah, masih papah pakai untuk sholat Iedul Adha. Mamah melakukan proses itu sambil tersedu. Saya merasa kegiatan ini menfasilitasi cara berduka yang sehat.

Besok harinya, giliran saya yang tersedu-sedu. Kami akan membagikan buku-buku papah. Buku-buku agama yang sekiranya tidak akan dibaca mamah, kami sumbangkan ke perpustakaan mesjid. Kebanyakan tugas-tugas mahasiswanya. Sebagian besar yang lain referensi saat papah menyususn tesis 2012 lalu. Saya berikan pada adik saya yang guru, untuk diberikan pada rekannya yang membutuhkan. Sebagian besar yang lain adalah buku-buku bahasa dan sastra juga karya-karya tulis papah. Yang ini, saya bawa ke Bandung.

Kenapa saya yang tersedu-sedu? Karena saya ingat bagaimana asal muasal dunia saya kini. Waktu SD, sepulang sekolah saya selalu dibawa papah mengajar. Dan perpustakaan, adalah tempat favorit saya. Saya benar-benar tenggelam dalam buku. Dan nikmat sekali rasanya. Setiap tugas mahasiswa dulu, resensi roman-roman semacam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Robert Anak Surapati…. setiap ada buku baru yang datang ke perpustakaan di SMA tempat papah mengajar, rasanya saya yang baca terlebih dahulu. Lalu bagaimana papah mengajarkan mengarang yang baik, menyusun naskah pidato yang baik, mengikutsertakan saya di berbagai perlombaan mengarang dan pidato, menemani saya kala degdegan di pertandingan tingkat kabupaten, provinsi, tersenyum bangga saat saya pulang membaaw piala, atau menghibur saya kala saya pulang dengan tangan hampa.

Hari ke-9, mamah ke rumah saya, karena mengurus berbagai surat ke Bandung. Memasuki kamar tempat papah ia rawat 7 bulan terakhir, melihat tongkat papah, kursi yang biasa diduduki papah, mamah tersedu lagi. Wajar. Ketemu tukang sayur yang suka ngobrol sama papah saat papah berjemur, mamah menangis. Ketemu tukang baso malang langganan papah, ketemu pak satpam yang suka nemenin papah jalan pagi, nangis. Ya, saya sangat bisa memahaminya. Itu adalah proses yang sehat menurut saya.

Kemarin mamah bilang bahwa setiap malam ia tidak bisa tidur, inget papah terus. Saya bilang wajar. Lalu saya ceritakan beberapa pengalaman senior saya atau klien saya, para istri yang ditinggal wafat suaminya. Tidak mudah. Sangat tidak mudah. Dan saya tahu betul itu tidak mudah.

Mamah, 39 tahun bersama dalam berbagai episode kehidupan. Susah senang, pahit manis, tertawa menangis…. Saya, mungkin intensif dengan papah 15 tahun pertama saja. Tapi sampai hari ini, saya masih “mencerna” kematiannya, masih “mencerna” kejadian ini. Sejak kembali dari Purwakarta 2 minggu lalu sampai sekarang, saya masih drop. Tekanan darah drop, asam lambung naik. Teman saya, dokter yang saya datangi  bilang: “kayaknya lu kurang istirahat deh, kecapean kali”. Apa ya? padahal justru otak ini kayak belum mau diajak “kerja”. Pekerjaan yang membutuhkan pemikiran “serius” belum bisa saya lakukan. Oh ya…saya tahu… setiap malam, saya tidur. Tapi rasanya pikiran saya tidak tidur. Saya masih mencerna apa makna kematian papah. Padahal saya ikut semua prosesnya. Memandikan, mengkafani, menyolatkan, sampai ke liang lahat. Tapi saya tetap merasa butuh waktu untuk mencerna semua ini.

Berbeda dengan si bungsu yang dengan “sederhana”nya berkata: “kakek kan udah meninggal, udah dikubur, udah gak ada”. Bagi saya, ternyata tak sesederhana itu. Saya tidak tahu apa nama rasa yang saya rasa kala saya tiba-tiba menangis. Secara kognitif, saya tahu ini yang terbaik untuk papah. Saat minggu kemarin saya demam, saya sesak, saya batuk, saya ingat bahwa sakit yang saya rasa, tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang papah alami. Jadi, ini yang terbaik. Bahwa setiap manusia akan wafat… ya, saya mengerti. Rasa yang menyertai tangis ini…bukan sedih yang sakit, tapi …mungkin ini yang namanya “duka”

Seperti juga yang saya bilang pada mamah dan adik-adik saya yang punya cara berduka dan meresapi kehilangan dengan caranya masing-masing, saya juga membiarkan saya melalui proses ini. Proses mencerna ini, rasa “aneh” ini, tangis ini, rindu ini…

Saya ingin perasaan ini  larut perlahan, saya akan menikmati prosesnya. Maka, pada teman-teman psikologi yang sangat concern bertanya: “lu sendiri gimana?”. Saya bilang: “gue menjalani proses berduka. tenaaang…gue nangis kok”. Ya, seperti yang saya bilang pada mamah, akan butuh waktu lama and it is oke not to forget someone we love. Saya tahu, akan ada moment-moment yang mengingatkan setiap waktu, situasi atau tempat pada kehadiran papah. Kami mungkin akan menangis tahun depan, tahun depannya lagi, tahun depannya lagi, but i think it is oke. Saya berusaha mengimbangi setiap titik air mata dengan doa. Biar hujan airmata ini, papah rasakan sebagai hujan pelukan doa.

Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu.

Menemukan binar di mata anak-anak kita

Rasanya udah dua kali deh saya menulis tema ini; “binar mata”. Ih, suka banget sama frase ini.  Salah satu yang saya ingat adalah tulisan yang berjudul https://fitriariyanti.com/2017/02/06/tentang-binar-mata-anak-anak-kita/

Salah satu kalimat dari tulisan tersebut adalah “…. sesuatu yang dipilih dan digeluti karena passion, akan dilakukan dengan penuh kesungguhan. Dan orang yang bersungguh-sungguh itu, selalu mempesona. Selalu menginspirasi. Selalu menggerakkan”.

IkigaiNah, di tulisan ini saya akan menceritakan 3 orang yang saya temui, yang sudah menemukan “ikigai”nya.

Bahasa populernya, ikigai adalah the thing that gets you up in the morning. Apa yang membuat kita semangat bangun di pagi hari dan semangat menjalani hari demi hari kita, membuat kita mengatakan : I love my day, I love my life. 

Ah, bagi kita yang muslim mah yang harus jadi ikigai teh beribadah atuh; kan Allah menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepadaNya. Yups! Seratus! Tapi kalau ibadah itu hanya dimaknakan sholat-tilawah-puasa; kurang pas. Bukankah setiap helaan nafas dan tiap detik hidup kita ibadah?  Dan Allah gak memerintahkan kita buat sholat tanpa henti. Itu artinya, setiap yang kita lakukan, adalah bernilai ibadah jika memenuhi syarat syar’inya.

Menjadi ibu rumah tangga: mencuci, menyetrika, nyebokin anak-anak, masak, adalah ibadah. Menjadi profesor fisika, menguak misteri alam semesta, menemukan sunnatullahNya, adalah ibadah. Menjadi dokter, akuntan, guru, terapis, Konsultan IT, pelayan minimarket; apapun yang kita lakukan, bisa jadi ibadah.

Tentu berbeda saat kita mengerjakan aktifitas yang bernilai ibadah dengan “malas-malasan”; “tertekan”; “merasa itu adalah kewajiban”; dan kehilangan makna- dengan ketika kita menjalankan ibadah dengan mata berbinar, penuh kerelaan, penuh semangat-penuh penghayatan dan pemaknaan.

Seorang ibu yang menemukan bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah ikigai-nya, akan menjalani pekerjaan “remeh-temeh-monoton” yang membosankan dan menekan bagi sebagian ibu lain, dengan penuh penerimaan dan sukacita. Apa tanda seseorang telah menemukan “ikigai”nya? ia tampil mempesona, menginspirasi dan menggerakkan buat orang-orang yang terpapar olehnya. Menjadi apapun ia! dengan atau tanpa prestasi kasat mata.

Beberapa bulan lalu, saya menemui seorang dokter untuk membantu permasalahan kesehatan ayah saya. Nama dokter ini, sudah sering saya dengar dari beberapa kenalan yang memiliki kondisi kesehatan serupa ayah saya. Recommended. Ketika saya telpon tempat praktek dokter tersebut, costumer service-nya minta saya datang tepat waktu. “dokternya on time banget bu” katanya. Oke.

Waktu menunjukkan jam 4 kurang 5 menit di ruang praktek dokter tersebut. seorang bapak masuk ke ruang tunggu dengan wajah ramah. Menyapa beberapa petugas, dan menghampiri ibu-ibu customer service. “Pa kabar? gimana anaknya udah sembuh? Nih, aku punya oleh-oleh kemarin dari Bangkok”. “Ih dokter…selalu aja kalau dari mana-mana inget oleh-oleh buat kita”. Oh…dia dokter toh. Bla,,bla,,bla,,perbincangan ringan dan penuh tawa. Masuk ruangan, lalu kami dipanggil. Ternyata dokter yang sering saya dengar namanya itu ! langsung jatuh cinta deh. Sama keramahannya, sama caranya menjelaskan kondisi ayah saya yang secara medis berat  namun bisa ia paparkan dengan perspektif lain sehingga bikin kita menerimanya dengan “ringan”, kesediaannya menghubungi dokter lain di RS yang akan kami tuju. Bidangnya yang terkait dengan penyakit kronis dan terminal, tidak membuatnya kehilangan “kehidupan”. Beliau begitu  “hidup dan menghidupkan”. Enjoy, sangat menikmati profesinya. Menurut saya, ia telah menemukan ikigai-nya. Mempesona.

April lalu, setelah pentas seni perpisahan di sekolahnya, si bungsu “terpilih” untuk kembali mementaskan sandiwara yang sama, di festival hutan raya juanda. Sutradara sekaligus pembimbing teater anak-anak TK itu, adalah seorang Bapak dua anak. Menurut kacamata psikologi, dia sangat bisa membuat alur yang “pas” untuk kodisi anak-anak umur 3,4,5 tahun itu. Alur cerita, dialog, gerak dan kombinasinya membuat sandiwara anak-anak itu begitu hidup dan dapat dinikmati secara “profesional”. Baru kali itu saya melihat proses bagaimana beliau melatih anak-anak ini. Beliau yang juga berperan sebagai “pemain utama”; musuh dari anak-anak itu, all out sekali bermain perannya. Ia tak menegur anak-anak yang mengobrol, yang gak mau diem, tapi ia menjadikan itu bagian dari cerita. Yang bikin mata saya berkaca-kaca dan “jatuh cinta” padanya adalah, pada saat ia menutup sesi latihan itu. “Anak-anak, anak-anak latihannya hebat sekali. Semangat, dan bergembira. Besok, kita akan ditonton tidak hanya oleh mama papa kalian, tapi oleh orang lain yang tidak kalian kenal. Besok anak-anak mainnya harus lebih …..” Saya menduga ia akan mengatakan “lebih sungguh-sungguh, atau lebih serius”. Tapi diluar dugaan, ia mengatakan: “lebih bergembira lagi ….” Kata-kata akhir itu, disambut sorak -sorai anak-anak. Ah, ia begitu larut dengan keriangan anak-anak. Menurut saya, ia telah menemukan ikigai-nya. Mempesona.

Tahun lalu, saya sempat akan memindahkan sekolah si gadis kecil. Gurunya mengecewakan sekali. Sudah sampai batas toleransi saya. Padahal selama menyekolahkan si sulung 6 tahun, si bujang kecil 5 tahun, dan si gadis kecil satu tahun di sekolah tersebut, selalu kagum dengan sistem pembelajaran dan pendekatan guru di sekolah ini. Karena si gadis kecil tidak mau pindah, maka saya berharap guru di kelasnya sekarang, kembali guru-guru yang menyenangkan seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya. Dan doa saya terkabul. Wali kelas si kelas 3 itu, adalah guru “favorit” semua anak. Dan sangat terasa sejak awal bergabung di grup wa, semakin jelas saat pertemuan dengan orang tua minggu lalu. Beliau sangat enerjik.

Saya psikolog anak. Tapi mendengarkan penuturan beliau mengenai sistem yang ia bangun, perspektif-perspektif beliau tentang anak-anak, jujur saya sampai berkaca-kaca. Begitu menggerakkan. Di saat saya sering mendengar perspektif guru: “yang paling berperan kan orangtua di rumah”, jadi tetap tanggung jawab orangtua yang lebih besar; bu guru ini tiap jumat sore berpesan pada kami: “ayah bunda, titip anak-anak ya….sholat lima waktunya, sholat dhuhanya, adab-nya” . Ya ampuuun…menyentuuuh banget.  Seolah anak-anak ini sepenuhnya tanggung jawab beliau. Tiap hari, sepulang sekolah, kami akan mendapatkan foto-foto bahkan video proses pembelajaran hari itu. Si gadis kecil pun cerita: “Pas belajar selalu sambil ada lagu bu, lagu anak-anak. Jadi enakeun belajarnya.” Si gadis kecil yang “free spirit” dan gak terlalu minat ke akademik pun tiap hari jadi semangat. Ngapalin perkalian lah, minta latihan mencongak lah…. Ibu guru itu, begitu dinamis, begitu menikmati perannya. Menurut saya, ia telah menemukan ikigai-nya. Mempesona.

Dari ketiga orang yang saya temui di atas, saya menarik satu kesimpulan baru, selain kesimpulan sebelumnya :

(1) Sesuatu yang dipilih dan digeluti karena passion, akan dilakukan dengan penuh kesungguhan. Dan orang yang bersungguh-sungguh itu, selalu mempesona. Selalu menginspirasi. Selalu menggerakkan”.

(2) Ikigai bukan tentang “menjadi apa” dan “di lingkungan bagaimana”. Mau pekerjaan formal atau pekerjaan informal; pekerjaan yang stressful atau pekerjaan freelance; pekerjaan besar atau pekerjaan kecil; bidang   akademik atau non akademik, kalau itu adalah ikigai kita, kita akan melakukannya dengan penuh kebahagiaan. Badan boleh lelah, namun jiwa selalu penuh. Eksistensi dan prestasi mah hanya konsekuensi.

Bagi saya yang bergerak di bidang individul differences, saya sangat yakin dengan hadis “setiap orang dimudahkan untuk apa ia diciptakan”.

desktop_ikigaiMaka, sebagai orangtua, tugas kita adalah mendampingi anak-anak kita menemukan ikigainya, menemukan “binar mata”nya. Kalau kita lihat dari diagram venn-nya, ikigai adalah irisan dari :

(1) what you love; (2) what you are good at; (3) what you can be paid for; (4) what the world need. 

Kapan anak kita harus menemukan ikigainya? kalau dari psikologi perkembangan, harusnya di usia dewasa muda. Tapi itu berproses. Ikigai adalah journey of self discovery. Dan self discovery itu, dimulai sejak dini.

Menurut saya, dua poin pertama: what they love dan what they are good at, sudah mulai bisa diamati dan dieksplor sejak prasekolah, terutama di usia SD, dan sudah semakin mengerucut serta menguat di usia SMP. Diskusi mengenai dua poin selanjutnya ; what you can be paid for dan what the world need, bisa memanfaatkan moment pemilihan jurusan di Perguruan Tinggi saat anak di SMA. Poin terakhir levelnya sudah abstrak.

Tapi yang harus diingat: itu adalah proses. Sering orangtua bertanya: apakah ada test untuk menemukan minat dan bakat anak? banyak yang menawarkan dengan segala macam bentuk dan harga. Tapi saya sendiri selalu mengatakan, alat test yang paling akurat adalah, pengamatan orangtua yang sekian tahun bersama anak. Yang lain hanya membantu.

Mengapa kita orangta sering “nge-blank” melihat arah potensi anak? menurut pengamatan saya, salah satunya adalah karena kita membatasi apa yang diamati hanya dalam konteks akademik. Matematika jelek, bahasa gak suka, seni gak terampil. Jadi diarahkan kemana dong? Padahal kalau kita membuka mata, mungkin kita akan melihat jelas bagaimana anak kita  adalah seorang yang supel. temennya banyaaaak…selalu kepilih jadi ketua, kalau jadi sie danus pas bazar SMA, selalu dapet banyak karena bisaan melobi donatur.

Anak kita nilanya lempeng…gak ada yang menonjol. 8 semua. Arahkan kemana dong? Bingung. Mari buka mata. Dia selalu jadi tempat curhat temennya. Dia selalu ngemong adik-adiknya. dia selalu care sama kondisi orangtuanya. Banyaaaak profesi di bidang social service yang akan bisa dilakukan anak ini dengan mata yang berbinar dengan potensinya ini.

Pengalaman saya dalam kasus-kasus penjurusan, orangtua yang anaknya “gak menonjol” bisa jadi sama pusingnya dengan orangtua yang anaknya “menonjol semua”. Matematika, 10, bahasa 10, IPA 10, harus diarahkan kemana?

Tetap, mata dan telinga orangtua adalah alat test terbaik. Dengarkan intonasi saat ia menceritakan sesuatu. Lihat binar matanya, semangatnya, antusiasmenya. Itulah potensi ikigainya. Saya menyimpulkan ini dari si bujang kecil. Setiap kali bagi raport, saya minta masukan dari gurunya, guru-gurunya selalu bilang: “Apa ya, Udah bagus da. Nilainya bagus semua. Bisa diarahkan ke mana aja”. Oke…jurusan apa yang keren? informatika! si abah nyariin website yang berisi latihan koding untuk anak. Ada level-levelnya. Sehari, dia udah gak keliatan main itu lagi di laptopnya. Saya tanya, “udah beres sampai level terakhir bu”. Mudah buat dia. Tapi apakah matanya berbinar? apakah ia bangga? engga. Mungkin kalau saya “paksa” dia masuk bidang seperti itu, dia bisa. Tapi apakah ia akan bahagia dan “mempesona?” I’m not sure. 

Tapi kalau dia udah ngomongin fakta-fakta fisika, apa yang ia baca, apa yang ia dengar, intonasi semangat itu saya dengar. Tontonanfavoritnya di TV, science of stupid yang membahas prinsip-prinsip fisika dalam kehidupan sehari-hari. Tontonan yutubnya, eksperimen-eksperimen sains. Kalau ditawarin hadiah, mintanya kit sains. Pernah dia bikin eksperimen apaaa gitu… saya gak pernah liat dia setekun itu berjam-jam dan ber yes ria semembuncah itu saat saat berhasil. Fisika murni! itu kesimpulan kami sejauh ini. Gak masuk teknik? gak keren atuh…sayang kan pinter. Ah, hidup mah terlalu singkat untuk cuman buat dapetin kata keren menurut orang lain.

Gimana kalau gak kunjung terlihat? mungkin kita kurang memberikan wawasan dan pengalaman buat anak. Ikutkan anak macam-macam kegiatan, bereksplorasi, lalu amati. Tenaaaang…jangan kabita sama kabar kalau di luar negeri anak udah menjurus ke salah satu bidang di usia dini. Beda sistem, beda kultur. Sistem besarnya gak pas sama di Indonesia. Begitu kesimpulan disertasi teman saya.

Jadi, mari berseluncur ke dalam diri kita, temani anak-anak kita berseluncur ke dalam dirinya, menemukan fithrah keuikan penciptaan Sang Maha dalam dirinya. Kalau udah ketemu, binar mata itu akan terlihat. Mempesona.

 

 

 

 

The Teenage Brain : Being Teen (1)

the-teenage-brain-hc-c-1420580254Paling seneng kalau lagi punya buku keyyen yang sedang dibaca. Kala penat melanda, membaca buku keyyeeen sambil tiduran adalah dream comes true. Buku keyyen yang sedang saya baca adalah The Teenage Brain : A Neuroscientist’s Survival Guide to Raising Adolescents and Young Adults. Buku ini sudah dibeli sejak April lalu, bareng sama buku Harry Potter and The Cursed Child. Tapi tentunya buku Harry Potter duluan yang tamat haha….Buku ini tebalnya 358 halaman, berisi 17 bab utama plus 2 bab pengantar dan penutup.

Saya baru baca bagian Introductionnya: Being Teen. Tapi saya udah jatuh cinta banget sama buku ini. Dan sangat kabita untuk bisa nulis buku kayak gini suatu saat nanti. Buku ini adalah buku “ilmiah”, terlihat jelas dari referensi yang terdiri dari jurnal-jurnal ilmiah plus adanya indeks di bagian belakang buku ini. Pantaslah karena ditulis oleh seorang profesor neurologi. Beliau adalah Frances E. Jensen, MD, kepala departemen neurologi di Perelman School of Medicine, University of Pennsylvania. Sebelumnya, beliau adalah profesor neurologi di Harvard Medical School.

Tapi bukan itu yang bikin buku ini mempesona. Beliau menuliskan buku ini bukan hanya sebagai seorang profesor, namun sebagai seorang ibu. Ke”kaget”annya menghadapi perubahan perilaku pada dua puteranya saat memasuki tahap perkembangan remaja-lah yang mendorong ia menuliskan buku ini. Karena itulah meskipun kontenya ilmiah, bahasa di buku ini jauh dari ke”garing”an bahasa ilmiah. Penuh dengan warna emosi yang menyentuh. Sebagai emak dari remaja, saya pengen toss-an sama beliau haha… Bahasanya mengalir ringan, bahasa “curhat” emak-emak kkk… Kebetulan bahasa Inggrisnya lumayan gampang untuk dipahami oleh saya yang kemampuan bahasa inggrisnya pas-pasan.

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, begitu kata Ali Bin Abi Thalib. Maka, bab per bab yang saya baca dalam buku ini ingin saya abadikan di sini. Meskipun saya bingung juga gimana nulisnya. Saya baca sambil pake stabilo. Dan kalau gak “ditahan”, pengen stabiloin semuanya haha… Sebenernya, sebagian besar yang tertulis dalam buku ini bukan pengetahuan baru. Namun seperti menguatkan dan melengkapi potongan puzzle pengetahuan dan pengalaman saya.

Baiklah…saya akan mulai menuliskan poin-poin bagian pengantar dari buku ini : being teen. Saya akan mengelaborasinya dengan pengetahuan dan pengalaman saya.

Pada bagian ini, beliau memulai dengan mengemukakan kekagetannya akan perubahan perilaku yang terjadi pada puteranya yang memasuki usia remaja. Is this really my child? Ia melihat puteranya seperti “terperangkap” di suatu tempat antara anak dan dewasa. Masih implusif dan labil dalam emosi, namun secara fisik dan intelektual lebih terlihat seperti orang dewasa dibandingkan seperti anak. Puteranya melakukan eksperimen terkait identitas dirinya, and the most basic element of his identity was his appearance.

Pause dulu.  Saya ingin membahas dulu mengenai kalimat yang saya miringkan. Buat para emak yang anaknya usia remaja, kemungkinan mengalami bagaimana anak mulai usia SMP, kalau beli baju, bingung menentukan. Atau udah dibeli, lalu gak dipake setelah sekali ia coba muter-muter di depan kaca dan ia merasa gak nyaman. Ujung-ujungnya, yang dipake cuman baju ituuuuu aja. Kesel? jujur, ya. Perilaku lain yang tampak adalah, ia mencoba-coba baju orang lain. Si sulung saya yang berumur 14 tahun, sering pake punya saya. Mulai baju, kulot dan sepatu, baik secara terang-terangan maupun tidak. Tidak terang-terangan maksudnya gimana? beberapa kali di gallery foto hapenya saya melihat foto atau video ia memakai baju-baju saya saat saya pergi. Saya ngerti sekarang. Itu bagian dari ekslporasi pencarian jatidiri. Si sulung juga beberapa kali mencoba “pergi ngumpet-ngumpet” karena gak mau diliat sama saya gaya berpakaiannya. Haha…jadi inget saya dulu, sering juga ngumpet-ngumpet pergi kayak gitu, waktu itu eksperimen pake kerudung hehe. Kenapa ngumpet-ngumpet? karena tahu gak akan disetujui. Tampaknya, demikian juga pemikiran si sulung. Ini adalah hal yang sederhana. Tapi kalau kita tidak paham, bisa jadi sumber keributan dan jadi jurang pemisah antara orangtua-anak. Saya ingat seorang ibu yang sangat kesal pada putri bungsunya yang sering memakai baju milik 3 kakak puterinya tanpa minta izin. Tentunya kakak-kakaknya merasa kesal, kenapa sih gak beli sendiri? Ibunya juga bingung. Diajak beli baju sendiri gak mau, tapi pake baju orang lain. Nah, ini jawabannya. Menemukan identitas diri. Identitas fisik adalah kulit paling luar dari identitas.  Kalau di barat, pencarian identitas itu bisa sampai ke hal-hal yang “dalam” loh… misalnya ke identitas gender. Sudah “biasa” di masa remaja ini seorang perempuan menjadi lesbian, anak laki-laki menjadi gay. Nanti setelah selesai beresksperimen, mereka akan menemukan “jatidiri” mereka sendiri.

Nah, kalau dikaitkan sebagai orangtau muslim, bagaimana sikap kita? menurut saya, pencarian jatidiri ini merupakan bagian penting dalam kehidupan individu. Buku-buku parenting menyebutkan bahwa tugas orangtua itu “hanya” dua. Socialization dan Individuation. Socialization artinya mengajarkan anak nilai-nilai yang diterima di masyarakat dimana ia hidup. Sebagai seorang muslim, nilai-nilai agama termasuk ke dalamnya. Individuation artinya ia menemani anak menemukan “dirinya”; sehingga ia akan menjalani nilai-nilai itu sebagai “dirinya” yang unik. Maka, kalau kita punya 4 anak (saya maksudnya hehe), tujuan pengasuhannya adalah menjadikan 4 anak ini sholeh, masuk syurga, dengan keunikannya sendiri-sendiri. Tidak harus semuanya jadi hafidz, karena tak semuanya punya memori yang kuat. Tapi semua sholeh sesuai dengan kekuatan dan keterbatasan yang Allah karuniakan. Maka, penemuan jatidiri ini menjadi penting.

Jadi biarkan aja gitu?remaja bereksplorasi sesukanya?  dalam buku ini, penulis menggambarkan bagamana shock-nya ia melihat anaknya mengecet warna rambutnya. Karena menyadari ini bagian dari pencarian identitas diri, maka ia memilih untuk “menemani” anaknya bereksplorasi. Ia temani anaknya ke salon. Memberi ruang bereksperimen namun tetap dalam pengawasan, itu jauh lebih aman. Dan saya setuju! sama lah kayak ke anak 2 tahun. Pengen berenang di tempat dalem. Kalau dilarang, ia jadi tak tahu apakah ia bisa atau engga. Kalau dibiarkan, berbahaya. Cara terbaik adalah, mengizinkannya dengan ditemani. Siapkan pelampung, temani. Anak akan mengalami dan menghayati kemampuan dan keterbatasan dirinya dengan cara ini. Saya ingat seorang teman saya, beberapa tahun lalu anak laki-lakinya sangat senang dengan aktivitas cosplay. Ia masuk ke komunitas itu. Anaknya memang nyeni. kreatif mendesain cosplay, bahkan di usia  SMP sudah sering dapat uang sendiri hasil aktivitasnya ikut lomba atau pameran cosplay. Teman saya ini menyadari bahwa kegiatan ini, ada positifnya namun ada potensi negatifnya. Komunitas cosplay tidak hanya berisi anak-anak “baik”. Maka, ia mengizinkan anaknya ikut kegiatan ini sampai ke luar kota, dengan satu catatan: ia ikut. Dan si anak menerimanya.

Dalam skala kecil, eksperimen dengan identitas dalam bentuk baju saya alami bersama si sulung. Dan saya ingat satu kalimat dari buku ini : try not to focus on winning the battles when you should be winning the war. The endgame is to help get them through the necessary experimentation that they instinctively need without any long term adverse effect. Pertama kali jadi emak anak remaja, saya dulu fokus pada pertempuran. Melihat dia pake celana ketat, langsung ingetin, si sulung merespons dengan marah. Lihat kerudungnya tak menutupi dada langsung saya minta dia ganti baju, dia nangis. Haha….dua tahun lalu inget sering banget “berantem” sama si sulung. Tiap mau pergi bareng pasti ada insiden dulu. But practice makes perfect. “Perang” yang harus kita menangkan dengan si remaja adalah kedekatan hati. Bukan berarti dia kita biarkan. Tapi menahan diri untuk memberikan kritik secara langsung, menggandengnya lalu “mengobrol” tentang ini-itu, lalu masuk ke nilai-nilai dan akhirnya ke topik pakaian, ternyata jauh lebih efektif mengubah perilaku si remaja. Pride and image are big for teens, and they are not able to look into themselves and be self critical. Begitu kata penulis buku ini.

Dalam buku ini, diungkapkan juga bahwa selama ini, banyak miskonsepsi mengenai remaja yang tidak terbukti secara empirik-ilmiah. “Salah paham” itu diantaranya: remaja menjadi impulsif dan emosional karena hormon, remaja menjadi pembangkang karena mereka ingin terlihat berbeda. Penulis menekankan bahwa di chapter-chapter selanjutnya, ia akan mengungkapkan bahwa the teen brains is at very special point in development. There are unique vulnerabilities of this age windows, but  there is also ability to harness exceptional strength that fade as we enter into adulthood. Duuh…gak sabar ya pengen baca chapter selanjutnya hehe…

Penulis berulang kali menekankan bahwa otak remaja itu, unik. Berbeda. Kita tak bisa membandingkannya dengan otak orang dewasa. The adolescent brain works and responds to the world differently from the brain of either a child or an adult. Berbeda. Makanya, kita harus tahu bedanya gimana. Gak bisa pake kacamata kita sebagai orang dewasa. Memahami perbedaan otak mereka dengan kita, cara pikir mereka dengan kita, akan membuat kita mengetahui apa keterbatasan yang mereka miliki, dan apa yang bisa kita bantu untuk mereka. 

Kita sebagai orangtua, kata penulis too often we send them mixed messages. Kita berasumsi bahwa begitu tampilan mereka secara fisik seperti orang dewasa (para putri memiliki lekuk-lekuk tubuh, para putera memiliki jakun), maka kita langsung memperlakukannya sebagai orang dewasa, dengan tuntutan seperti orang dewasa. Hhhmmm…kalau di Islam, ketika anak sudah mimpi basah atau menstruasi di usia 13 tahun-an, sebagian berpendapat bahwa mereka sudah bisa diperlakukan sebagai pemuda dewasa. Diperlakukan dan diberi tuntutan seperti 30 tahun. Saya masih belajar tentang hal ini. Karena kalau demikian, saya masih belum menemukan jawaban: mengapa begitu masuk usia pubertas, Allah tidak langsung “mengubah” struktur dan fungsi otak mereka menjadi sama dengan dewasa ? Pasti ada hikmah yang tersembunyi dari fakta ini. Hikmah yang harus digali jawabannya.

Saya suka banget waktu penulis bilang bahwa : so take a lead, take control, and try to think for your teenage sons and daughters until their own brain are ready to take over the job. The important part of the human brain-the place where actions are weighed, situations judged and decision made- is right behind the forehead, in the frontal lobes. This is the last part of the brain to develop, and that is why you need to be your teens’s frontal lobes until their  brains are fully wired and hooked up and ready to go on their own

Bagian terakhir dari pengantar ini saya suka banget (haha….suka banget semuanya 😉 the most important advice I want to give you is to stay involved. We lose physical control as children leave childhood. Yups…yups…kalau bahasa saya: “kalau sebelum remaja, menjalin kedekatan teh gampang banget… tinggal peluk lama dan erat. Tapi kalau udah remaja, ketika kita jadi awkward kalau peluk mereka dengan lama dan erat, kedekatan itu menjadi lebih sulit untuk dijalin, karena tak kasat mata”

Yang dibutuhkan oleh remaja adalah model, template, structure. Anak butuh external cues. Jadi, dibandingkan dengan mengomel, ebih baik “temani” si remaja. MIsalnya saat mereka mengerjakan PR, daripada ngomel kenapa mereka masih main hape padahal jam belajar, lebih baik temani belajar, bantuin.

Demikianlah bagian pengantar buku ini. Insyaallah kalau udah ada waktu lagi, akan lanjut baca dan sharing chapter 1: Entering the Teens Years. 

Seribu satu ibu, siapa bintangnya?

personalised-learning-whySebagian teman-teman mungkin sudah pernah melihat gambar di samping ini.

Gambar di samping ini biasanya banyak muncul saat musin UN. Pesan yang ingin disampaikan melalui gambar ini adalah: bahwa setiap anak berbeda. Mereka punya potensi masing-masing, namun tak sama. Oleh karena itu, tidak benar kalau mereka diuji dengan cara yang seragam.

Sebagai pendidik, saya setuju dengan filosofi dasar itu. (1) setiap manusia punya potensi; (2)  potensi setiap manusia itu berbeda-beda. Yang ingin saya garisbawahi adalah kata “manusia”-nya. Manusia itu, adalah semua orang. Anak, remaja, dewasa; dengan peran masing-masing: sebagai siswa, sebagai istri/suami, sebagai ibu.

Sebagai lanjutan dari filosofi itu, maka dalam tataran aplikatif psikologi positif memberikan arahan:

(1) Identifikasi dan hayati kelebihan kita, maksimalkan. (2) Kenali dan akui kelemahan kita, belajar memperbaikinya namun kita kenali batasnya.

Orang yang telah berhasil melakukan dua hal diatas, akan tumbuh menjadi pribadi yang “lentur”, atau bahasa psikologi-nya “resilient”. Bahasa populernya tangguh, kuat.

Anak-anak yang  kenal dan menghayati kelebihannya di satu sisi namun mengakui kelemahannya di sisi lain, akan bisa menertawakan kelemahannya tanpa merasa harga dirinya terluka. Karena ia masih punya “harga” dalam hal yang lain. “Iya, gue emang bego banget kalau belajar matematika. Tapi kalau main basket, gue jagonya. Makanya kalau belajar matematika gue harus ekstra. Dan target gue nilai 80 aja udah cukup”.

Seorang suami yang  kenal dan menghayati kelebihannya di satu sisi namun mengakui kelemahannya di sisi lain, akan bisa menertawakan kelemahannya tanpa merasa harga dirinya terluka. Karena ia masih punya “harga” dalam hal yang lain. “Iya, Aa emang susah banget untuk bisa romantis. Tapi kalau Eneng dan keluarag besar Eneng butuh bantuan apapun, asal Eneng bilang, malaikat juga tahu, Aa yang akan jadi juaranya” (haha……. udah mulai romantis tuh si aa).

Seorang ibu yang  kenal dan menghayati kelebihannya di satu sisi namun mengakui kelemahannya di sisi lain, akan bisa menertawakan kelemahannya tanpa merasa harga dirinya terluka. Karena ia masih punya “harga” dalam hal yang lain. “Mendongeng buat anak sebelum tidur? duuuuh…saya mah angkat tangan. Tapi kalau cariin buku cerita yang seru, lalu bacain dengan cara yang seru, saya jagonya”.

Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada ibu yang sempurna. Kita sudah tau itu. Masalahnya adalah di jaman medsos ini, informasi yang kita serap sebagian besar adalah informasi yang menggambarkan “kesempurnaan” seseorang.

Misal, kalau saya liat-liat di instagram, orang-orang yang posting foto disana teh meni gareuliiiiiiis banget. Yang bukan artis teh meni kayak artis semua. Haduuuh…stress sayah kalau suami sayah ketemu wanita di luar teh sekinclong itu semuah.  Tapi kalau dipikir pas lagi jernih, ya iya lah …mereka kan posting foto terbaik ya? hanya sedikit yang “berani” posting foto “jelek”nya. Maka, dunia di medsos adalah dunia maya. Bukan dunia nyata. Bukan realitas yang sesungguhnya.

Tidak ada anak yang sempurna. Kalau kita baca di medsos para ibu menampilkan prestasi anak-anaknya; sudah hafal sekian juz di usia semuda itu, memegang piala juara lomba main piano, terlihat foto sertifikat juara olimpiade, foto nilai NEM yang rata-ratanya diatas 9, atau kita membaca cuplikan pembicaraan ibu-anak dengan bahasa yang “dewasa”, atau membaca cerita betapa sholehnya anak usia belasan;  kalau kita lalu menganggap itu adalah realitas sesungguhnya semua anak di dunia,  dan betapa “gak punya apa-apa”nya anak kita, maka kita telah terjebak di dunia maya, dunia semu. Kita harus menjernihkan pikiran kita agar kembali ke realitas: tidak semua anak juara, tidak semua anak hebat. Anak-anak yang ditampilkan sebagai anak yang “hebat” itu, sebagai manusia pasti punya sisi “biasa” yang kebetulan tak ditampilkan oleh ibunya di medsos.

Tidak ada ibu yang sempurna. Kalau kita lihat di medsos ibu yang kreatif bikin bento untuk anaknya tiap hari dengan tema yang beragam, atau ibu yang sharing kurikulum dan worksheet homeschooling yang super keyyeen,  atau ibu-ibu yang bercerita betapa sabarnya ia menangapi kerewelan anak-anaknya, dan kita menganggap bahwa semua ibu di dunia ini seperti itu, lalu kita merasa kita tidak layak jadi ibu, maka… kita telah terbawa arus dunia maya. Kita harus kembali ke realitas. Ibu-ibu yang kreatif bikin bento, belum tentu telaten menemani anaknya bermain. Ibu-ibu yang keren bikin program homeschooling, belum tentu kreatif bikin makanan kesukaan anak-anak. Ibu-ibu yang sabar, belum tentu bisa tegas memberikan batasan.

Menjadikan orang lain sebagai panutan untuk menjalankan peran kita sebagai ibu dengan sebaik mungkin, adalah hal yang baik. Namun berusaha menjadi seperti “dia”, itu adalah salah. Karena kita bukan dia, anak kita tidak sama dengan anak dia. Kalau kita merasa panutan kita sempurna dan kita tak pantas serta tak layak jadi ibu karena tak seperti itu, kita telah melecehkan Allah. Allah yang maha sempurna tentu sudah mengukur; saat ia titipkan janin ke rahim kita, telah disertai potensi untuk menjalankan amanah ini dengan baik.

Potensi ini harus diasah, ya. Dengan cara memahami bahwa kita tidak sempurna. Allah sudah ciptakan kita dengan kelebihan kita. Maka, karena waktu kita hanya 24 jam sehari, kita boleh mencari informasi dari lingkungan. Melihat kreatifitas para ibu, membaca prestasi anak-anak lain, berbincang tentang isu-isu pengasuhan… Namun jangan terlena. Jangan sampai tidak ada waktu untuk berselancar menghayati kelebihan diri sendiri dan mengakui kelemahan diri. Berbincang dengan diri untuk mengevaluasi seefektif apa pendekatan kita sama anak kita.

Sekarang ini banyaaaak sekali grup-grup parenting, dengan segala macam bentuknya. Dengan beragam tipe narasumber. Ada yang bentuknya seperti guru-murid; ada yang bentuknya model-follower, ada yang bentuknya diskusi. Sebagai khtiar menjalankan peran sebagai ibu dengan baik, itu oke. Tapi ingat… mencari imu itu buahnya adalah amal. Segera setelah dapat suatu ilmu, amalkan. Monitoring. Evaluasi.

Kalau setelah dapat ilmu lalu kita jadi stress, jadi merasa tak pantas, jadi gak pede, anak kita kayaknya gak ada kelebihannya,  banyak kurangnya, anak kita bukan anak yang sholeh, nah…mungkin kita harus evaluasi kembali cara kita belajar.

Yang kita harus ambil itu adalah “prinsip”nya, bukan bentuknya. “Aduh, teteh itu mah kalau anaknya mau tidur dinyanyiin, pantes deket banget sama anak”. Bukan “nyanyi”nya yang harus kita ambil. Tapi prinsip bahwa ibu harus dekat dengan anak. Caranya? be your self, ibu ! bisa dengan jalan-jalan bareng, bisa masak bareng, nyalon bareng. Gimana taunya anak kita udah deket atau belum sama kita? kita yang evaluasi. Kita rasakan. Kita tanya anak kita. Kita akan tahu. Tapi kalau kita fokuskan energi kita untuk tanya tips dari orang lain, kepekaan kita jadi gak terasah.

“Aduh, ibu itu mah kreatif banget bikin stiker sebagai reward kalau anaknya disiplin”. Bukan kemampuan bikin stiker lutu nya yang harsu kita ambil, tapi konsistensi ngasih rewardnya. Caranya? be yourself ibu ! bisa pake “toples kebaikan”; beli toples lalu reward buat anaknya adalah dengan masukin kelereng… Gimana taunya cara kita efektif engga bikin anak disiplin?   kita yang evaluasi. Kita rasakan. Kita cermati kedisplinannya, meningkat atau engga. Kita akan tahu. Tapi kalau kita fokuskan energi kita untuk tanya tips dari orang lain, kecermatan pengamatan kita jadi gak terasah.

Jangan habiskan waktu untuk mengelola pertempuran emosi negatif dalam diri, apalagi bergumul untuk mencari jawaban: apakah saya ibu yang baik? apakah saya pantas? apakah saya layak?

Waktu kita sangat terbatas, sedangkan anak-anak, butuh emosi terbaik dari diri kita. Ibu yang mengenali dan menghayati kelebihannya serta mengakui kelemahannya, berusaha belajar namun tetap memaafkan ketidaksempurnaan diri, akan menjalankan perannya dengan harga diri yang tinggi namun tetap rendah hati. Dia tak akan patah dan menyerah. Dia akan menertawakan kegagalannya, lalu bangkit mencari cara lain.

Kalau ada 1001 satu ibu, ada 1001 kepribadian yang berbeda. 1001 potensi diri yang berbeda. 1001 gaya yang berbeda namun dengan prinsip kebaikan yang sama.  Tapi kalau 1001 ibu itu mencurahkan seluruh nerginya untuk mengamalkan, memonitor, mengevaluasi secara serius pengasuhannya, maka mereka semua adalah bintang. Dalam bahasa saya, mereka adalah bukan emak biasa. 

Previous Older Entries Next Newer Entries