38. I Miss U Already

Hari selasa jam 6 pagi kami dijadwalkan untuk berangkat ke Madinah. Senin malam bada isya, kami akan berthawaf wada.

Rasa “sedih” akan berpisah dengan ka’bah, dengan masjidil harom, mulai menjalar diantara kami sejak beberapa hari lalu. Rasa tak ingin berpisah ini mengalahkan rasa rindu pada tanah air, pada keluarga dan anak-anak yang kami tinggalkan.

Siapapun diantara kami tak ingin kehilangan momen-momen terakhir ini. Yang kurang sehat pun memaksakan diri ke Harom. Yang sehat dan kuat, bahkan beritikaf.

Kami belum berpisah dengan masjid yang paling Allah cintai di muka bumi ini,  tapi kami sudah rindu ingin kembali. Tidak hanya memandang ka’bah yang dijanjikan Allah 20 rahmat dari 100 rahmat yang Ia turunkan di masjidil harom…Buat saya sendiri, yang akan paling membuat kangen adalah suara imam yang begitu agung, yang kadang terisak membaca ayat-ayat suci al qur’an, dan tengadah-tengadah tangan  diiringi tangisan dari beragam wajah…wajah amerika-eropa dengan baju-baju yang casual, wajah-wajah cina dengan kerudungnya yang khas, “seuprit” dan menerawang…wajah-wajah afrika dengan kaki-kaki yang telanjang, wajah india-bangladesh dengan pakaiannya yang amat sederhana, wajah-wajah wanita “berbungkus” kain hitam…wajah-wajah saudara-saudara seindonedia… Wajah-wajah beraneka ragam, yang akan kita temui di padang mahsyar nanti…

Ya Allah, undanglah kami kembali untuk mengobati kerinduan ini… Amiiin..amiiin..ya robbal alamiiin..
Menjelang subuh, ahad 27 nov

37. Harus Sebelum Jam 10

Seperti biasa, semalam kami ke Al-Harom jam 2. Dua amalan yang baru kami ketahui saat di sini adalah shalat syuruq dan shalat dhuha di rukun yamani.

Kata Pak Ustadz, seseorang yang shalat subuh berjamaah, lalu dia duduk di tempat tersebut, berdzikir sampai terbit fajar dan sholat dua rakaat, maka pahalanya seperti haji dan umroh, sempurna sempurna sempurna….“Barang siapa menengakkan sholat Shubuh berjamaah di masjid, lalu dia duduk berdzikir (tadarussan, halaqoh ilmu, diskusi dan sebagainya) sampai matahari terbit, kemudian menegakkan sholat dua rakaat, maka ia akan mendapatkan pahala haji dan umrah “sempurna” (HR. At-Tirmidzi).

Dan keutamaan ini tak hanya berlaku di harom aja, tapi di rumah kita… Asal syaratnya; subuh berjamaah, lalu duduk melakukan amalan baik di tempat tersebut sampai terbit fajar terpenuhi. Haduuuuh…. Bener kata pak ustadz. Kalau kita kurang ilmu, pasti kurang amal. Tapi better late than never lah…alhamdulillah bisa tau ilmu hal ini… Lumayan… Bisa diagendakan haji dan umroh tiap minggu di rumah nanti 😉

Saya juga baru tau kalau shalat dhuha itu, bukan cuman dua rokaat … Hadeuuuh….udah 34 tahun baru tau kalau hadits yang shohihnya, shalat dhuha itu 8 rakaat. Tiap dua rakaat salam. Dan, pak ustadz memperkenalkan satu amalan yang menggiurkan, yang hanya bisa dilakukan di harom: shalat dhuha di rukun yamani, satu salam satu permintaan. Allah pasti akan kabulkan. Si jin aladdin pun kalah hebat bukan? Dia kan cuman mengabulkan 3 permintaan haha….

Riwayat yang mendasari amalan ini adalah :

Dalam salah satu riwayat, Nabi saw pernah bersabda, “setiap aku melewati Rukun Yamani tampak ada Malaikat yang mengucapkan kalimat aamiin… aamiin…, maka setiap melewatinya bacalah doa; Allahhumma Rabbanaa Aatina Fiddunyaa Hasanah, Wafil Aakhirati Hasanah, Waqina Adzaaban Naar”. (kalimat aamiin kalau diterjemahkan berarti: ya Allah kabulkanlah doa itu). 
eh, bukan deng….hehe…ini riwayat yang mendasarinya :

Seperti yang diceritakan dalam kitab Al-Jami’ Al-Lathif, diriwayatkan oleh Amir bin Syaraahil Al-Sya’bi; aku membuktikan suatu keajaiban, yaitu pada suatu hari aku dan Abdullah bin Ummar dan Abdullah bin Zubair dan Mus’ab bin Zubair dan Abdul Malik bin Marwan sedang duduk bercakap-cakap di ruang terbuka dekat ka’bah. 

Kemudian disepakati, sebelum bubaran kita satu persatu harus berdoa di Rukun Yamani. Abdullah bin Zubair kita tunjuk sebagai orang yang pertama, lalu ia berdiri dengan memegang Rukun Yamani berdoa, “ya Allah, aku mohon kepada-mu agar dapat menguasai seluruh wilayah hijaz sebagai khalifah sebelum aku meninggal dunia”. Kemudian ganti Mus’ab bin Zubair, “ya Allah, aku mohon kepada-mu agar dapat menguasai Iraq dan mengawini Sakinah binti Al-Husain”. 
Kemudian ganti Abdul Malik bin Marwan, “ya Allah, aku mohon kepada-mu agar aku dapat menguasai dunia timur dan dunia barat dan tidak ada yang berani melawan kecuali kau serahkan kepadaku batok kepalanya”. Kemudian ganti Abdullah bin Ummar, “ya Allah, aku mohon kepada-mu agar jangan kau matikan aku sebelum kau wajibkan aku masuk surga”. 
Sungguh aku buktikan dengan mataku sendiri bahwa mereka telah benar-benar mendapatkan apa yang mereka minta.

Nah, bada dhuha tadi pagi, kami langsung thawaf. Tanya dong thawafnya di mana… Di zamzam tower yang ada di pelataran Harom…haha… Perut sudah memainkan musik keroncongannya. Satu paket kentang+ayam n burger KFC seharga 23 real, satu gelas kopi seharga 4 rael, satu gelas teh manis seharga 2 real dan satu cup buah potong seharga 10 real menamani brunch kami berdua (breakfast+lunch kkkkk).

Sayangnya, kami terlalu betah menikmati brunch kami. Jam 10 kami menuju Harom, hadeuuuuuh…udah padet uy…maklum, ini hari jumat. Jutaan orang, baik laki-laki maupun perempuan tak ingin melewatkan shalat jumat di Harom. Para “tentara” sudah berjaga-jaga di depan pintu yang sudah tidak boleh dimasuki lagi. Bersama arus manusia yang beragam, kami mencari-cari tempat…sana sini sana sini…akhirnya alhmd ada juga tempat nyempil. Mas ga tau dimana…

Sebenernya saya paling ga suka dateng ke Harom mepet-mepet. Situasi gak jelas nyari tempat, diusir-usir asykar saat sudah duduk nyaman, atau ditolak-tolak orang saat minta izin nyempil, atau ada orang yang tiba-tiba nyempil tanpa izin meskipun space tidak memungkinkan, atau liat orang berdebat, berantem rebutan tempat …. Itu…. Sangat tidak menyennagkan.

Jadi, kalau nanti teman-teman  mau ikutan jumatan diHharom, harus sudah duduk manis sebelum jam 10, di tempat yang dapat dipastikan bahwa itu tempat perempuan….jangan lupa untuk  puas-puasin pipis, jangan banyak minum dan untuk emergency, siapkan air dalam botol in case kita batal… Sehingga bisa wudhu minimalis di tempat kita duduk…

Last Jumat @harom, 25 oktober 2013

36. Bijak Ber-barokah Ria

kamar barokah40 hari bukan waktu yang sebentar. Sebagai manusia wajar kalau dalam jangka waktu tersebut ada kebutuhan seksual yang harus disalurkan. Tentunya bagi pasangan suami istri.

Dan karena islam adalah agama yang adil, maka hal tersebut sangat difahami. Larangan ihrom untuk tidak berhubungan seksual pada suami istri hanya berlaku saat ihrom umroh dan saat berhaji. Itu hanya kurang lebih 10 hari. Diluar waktu itu, monggo…bebas bas bas….

Tak seperti peserta ONH plus yang bias pesan kamar berdua, kami peserta haji reguler harus berbagi kamar. Perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan laki-laki. Satu kamar 4 sampai 6 orang. Maka, sejak manasik kami sudah mengenal istilah “kamar barokah”. Kamar barokah adalah kamar yang bisa khusus dipesan untuk melakukan hubungan seksual suami istri. Pernah kita iseng survey dan tanya, tarifnya 200 real, sekitar 600-700 ribu 2 jam booking. Itupun tak akan tersedia kalau mendekati sebelum dan setelah pelaksanaan haji.

Nah, mengingat uang segitu cukup besar (dan kalaupun bapak-bapak bersedia bayar, ibu-ibunya yang sangat ekonomis biasanya akan minta mentahnya, dan mengupayakan kamar yang gratis haha….eta mah saya deng 😉 kalau pembicaraan antar ibu-ibu : “wah, 200 real bisa beli sajadah sejumlah ini, kalau dibeliin kerudung bisa dapet sejumlah ini, apalagi kalau dibeliin abaya, bisa dapet yang keren banget…haha…”

Jadi memang sudah dipahami bersama bahwa dimungkinkan ada pembagian kamar bersama tersebut untuk dijadikan kamar barokah gratis…

Meskipun hal tersebut halal dan baik, tapi ternyata butuh ke “bijak” an dalam pelaksanaannya. Benarrr…hubungan seksual suami istri adalah hak yang bersangkutan. Tapi…..inga..inga…ada hak orang lain atas kamar tersebut. Jadi….pembagian harus dilakukan seadil mungkin. Harus disepakati semua pihak penghuni kamar, dipastikan semua ridho, terutama kalau di kamarnya ada yang single…yang gak sama suami/istri.

Pemilihan waktunya juga harus pas. Jangan siang-siang pas orang lain mau istirahat, atau pas orang lain mau nyuci… Sekali lagi…benar, hubungan seksual suami istri bernilai ibadah. Tapi menghargai orang lain juga ibadah. Haduuuuh…jangan sampe silaturahim dengan teman sekamar jadi retak gara-gara kebutuhan yang tak terkendali. Kalau kebutuhannya “istimewa”, misalnya harus sering, maka … “no gain without pain’…harus mau kluar uang dung buat sewa kamar barokah….atau, ada cara lain….yaitu “mengakali” waktu-waktu dimana teman-teman sekamar sedang tidak ada. Misalnya saat yang lain sudah pergi ke Masjidil  Harom, pasangan bisa “mencuri waktu” dulu…atau “strategi” yang lain.  Yang penting, jangan merugikan orang lain … 😉

35. Bapak yang ditinggal wafat istrinya

Saat kami baru saja tiba di lobi hotel maktab kami dari bandara Jeddah, ada pemandangan yang membuat kami tersentak. Sebuah kasur dorong berisi jenazah keluar dari lift. Petugas medis mengiringi jenazah yang tertutup kain tersebut. Dibelakangnya, seorang bapak menangis tersedu-sedu. Haduh, kalau saya bayangin itu, gak tahan pengen nangis lagi. Buat kami yang baru menginjakkan kaki di tanah suci, peristiwa itu begitu membangkitkan emosi. Cemas. Takut.

Beberapa hari kemudian, kami se-lift dengan bapak tersebut. Bapak tersebut ternyata dari medan. Mas mengucapkan belasungkawa pada bapak tersebut. Lalu bapak itu cerita, kurang lebih begini: “ya, tadinya saya sedih…tapi setelah saya ikut memandikan, lalu saya temanin dia disholatkan di masjidil haram, disholatkan oleh ribuan orang, didoakan oleh imam masjidil haram, saya jadi berpikir kalau dia jauh lebih beruntung dibanding saya. Saya, tidak tahu kapan dan dimana saya akan meninggal, dalam keadaan apa. Memang perasaan masih sedih. Tapi mengingat kemuliaan itu, membuat saya terhibur”.

Ya..ya…ya… Dulu, setiap kami mendengar berita ada yang wafat saat berhaji sebelum hari wukuf, yang artinya ia belum jadi “haji” saya suka bilang “kasian ya…”. Tapi sekarang pandangan saya berubah. Mereka-mereka, telah melakukan upaya untuk berhaji. Menyiapkan fisik, materi, psikologis, ruhiyah, tak ada ruginya wafat disini, Allah sudah mencatat niatnya.

Setiap kali bada sholat wajib kami melakukan sholat jenazah, setelah takbir ketiga kami membaca doa untuk jenazah : allahummaghfirlahu, ha warhamhu, ha waafihi wa’fuanhu. Waktu saya tau bahwa doa itu artinya Ya Allah, ampunilah dosanya, berilah rahmatMu ke atasnya, sejahtera dan maafkanlah Ia”  Ya ampuuuun…. Betapa bahagianya yang wafat disana….jutaan orang, orang-orang  sholeh dari seluruh penjuru dunia, para hafidz imam masjidil harom, memohonkan doa pada Allah untuk mereka ……Betapa beruntungnya mereka ….

Setiap kali saya kembali bertemu bapak itu; saat ia membeli makan sendiri, ke mesjid sendiri, menjemur baju sendiri…meski secara manusiawi merasa iba, namun saya melihat…ia tak sedih…ya, ia beruntung. Istrinya beruntung.

34. Sibling Rivalry dalam Thawaf ? no no no

Di sinilah kami kembali, setelah menuntaskan rukun haji…..kembali melepas rindu dengan berlama-lama memandang ka’bah dan berthawaf.

Setiap kali berthawaf, kembali saya melihat beragam perilaku yang ditampilkan saudara-saudara kita sesama muslim. Beragam. Benar-benar beragam. Sebagian begitu “mempesona”, sebagian begitu memiriskan hati.

Tampaknya, perilaku saat berthawaf diawali dengan persepsi mengenai thawaf itu sendiri, dan informasi yang diterima tentang thawaf. Saya ingat, banyak kenalan yang berpesan dan menekankan; bahwa mas harus menjaga saya saat berthawaf. Secara implisit, dari pesan itu terkandung persepsi bahwa thawaf itu membahayakan.

Mmmh…sebagai orangtua, tentunya saya ingin memberikan informasi yang baik dan benar mengenai thawaf ini pada anak-anak saya. Kalau sampai waktunya nanti, inilah yang akan saya pesankan…insya allah.

Yang tersayang Kaka Azka, Mas Umar, Kaka Hana dan De Azzam…
Thawaf itu amalannya malaikat. Tepat di atas ka’bah, di baitul makmur, para malaikat tak pernah berhenti bertasbih dan berthawaf. Maka, setiap kali kalian berthawaf, bayangkanlah bagaimana perilaku malaikat di langit sana. Hidupkan jiwa malaikat dalam diri kita, bahkan kita harus lebih baik dari malaikat, karena Allah sang pencipta pun meminta malaikat sujud pada manusia.

Anak-anakku,
Putaran pertama, bertaubatlah. Beristighfar dan bacalah doa taubat nabi Adam dan nabi Yunus. Meskipun mereka manusia-manusia terpilih, namun saat mereka tak berdaya dan  memerlukan pertolongan Allah, yang mereka lakukan adalah…bertaubat.

Putaran kedua, ucapkanlah dari lubuk hatima doa-doa para malaikat. Subhanallah, walhamdulillah, walaila hailllalah hu wallahu akbar.

Putara ketiga, ucapkan shalawat pada Rasulullah. Setiap sholawat yang kita panjatkan, akan diampuni 10 dosa, diangkat derajat…. Dan yang paling penting. Mohonlah syafaat dari Rasulullah saat kita di padang mahsyar nanti.

Putaran keempat, berdoalah untuk dirimu sendiri. Ingat nak, berdoalah untuk akhiratmu. Yang abadi. Boleh minta kebaikan dunia, tapi jangan lupa sertakan pula doa agar ap-apa yang kita inginkan di dunia itu menjadi jalan bagi kita untuk bisa menjalani kehidupan ini dengan kebaikan, merasakan kebahagiaan dan menjadi jalan keselamatan bagi kita.

Putaran kelima, berdoalah untuk ayah ibumu. Mohonkan ampunan dosa dan barokah untuk sisa hidupnya.

Putara keenam,  berdoalah untuk pasanganmu dan anak-anakmu…mintakan agar kalian nanti Allah pertemukan dan kumpulkan lagi di syurgaNya yang abadi.

Putaran ketujuh, doakanlah sahabat-sahabatmu. Mereka yang sedang dililit kesulitan, terbatas dalam rejeki, belum mendapatkan belahan jiwa, belum dikaruniai momongan, belum dapat hidayah untuk sholat atau berbuat baik, bayangkan mereka satu persatu. Baik yang meminta didoakan ataupun tidak. Lalu, akhirilah dengan memohon agar semua nama yang telah kalian sebutkan, dan orang-orang yang berazzam serta berikhtiar untuk ingin berkunjung ke baitullah, Allah mudahkan, mampukan dan segerakan.

Sayangku,
Mungkin kalian akan melihat ada yang berdoa dengan keras. Jangan ikuti. Karena Allah maha mendengar. Tetaplah khusyuk kan hatimu walau dalam keriuhan. Seperti itu jugalah dalam hari-hari kita. Tetap khusyuk walaupun sekitar kita begitu riuh.

Anak-anakku,
Pasti kalian akan terdorong sana-sini. Nikmati saja. Jangan bertahan, apalagi menyerang. Ikuti saja gelombangnya.
Kalau memungkinkan, sentuhlah dinding-dinding ka’bah. Ada barokah di dalamnya. Bila masih memungkinkan, masuklah ke Hijr ismail. Sholat dan berdoa di sana, sama dengan sholat dan berdoa di dalam ka’bah. Di rumah seorang ibu yang paling agung di mata Allah itu, berdoalah… Agar kalian diberikan kekuatan tauhid sekuat tauhidnya  Hajar, diberikan semangat ikhtiar sesemangat ikhtiarnya  Hajar, diberikan cinta yang besar, sebesar cinta  Hajar pada puteranya Ismail.

Jika memungkinkan juga, sentuhlah rukun yamani, berdoalah sepuasmu. Jangan lupa…jangan hanya berdoa untuk kebaikan dunia, karena itu amat sangat mudah. Berdoa pulalah untuk kebaikan akhiratmu. Dan jika masih  memungkinkan, ciumlah batu dari syurga-hajar aswad, sambil berdoa semoga kita dikarunia anugerah untuk kembali bertemu batu itu di syurgaNya yang abadi kelak.

Tapi anak-anakku…ingat…bukan untuk itu tujuan kalian berthawaf. Ya, banyak kemuliaan yang Allah janjikan jika kita bisa menyentuh dinding ka’bah, sholat di Hijr Ismail dan mencium hajar aswad. Tapi ingat nak…itu bukan tujuan. Jangan mencapai hal itu dengan menyakiti orang lain dan tak peduli pada orang lain.

Anak-anakku, tak seperti cinta makhluk-termasuk cinta ibu, cinta Allah itu maha luas. Tak perlu diperebutkan. Tak perlu cari perhatian. Tak mungkin kita dapat Rohman-RohimNya, kasih sayangnya dengan perilaku yang berkebalikan. Jangan sangka cinta Allah hanya bisa “dibeli” dengan prestasi hijr ismail dan hajar aswad. Allah tak akan “tertipu” dengan shalat di hijr ismail dan mencium hajar aswad. Kebaikan-kebaikan amalan itu  tidak akan kita dapatkan  jika kita mendapatkannya dengan cara yang tidak baik.

Semoga setiap selesai thawaf, kita berhasil menghidupkan jiwa malaikat dalam diri kita, dan rahmatNya tercurah pada kita. Apa yang lebih berharga dari rahmatNya ?

Masjidil Haram, Dzulhijah 1434.

33. Ka’bah Yang Sederhana

Ali Syariati sudah mengungkapkan dalam bukunya “Makna Haji” bahwa ka’bah itu “hanyalah” sebuah bangunan persegi dan kosong. Di dalam ka’bah tidak ada keahlian arsitektural, keindahan, seni, prasasti ataupun kualitas yang dapat kita saksikan…..

Tapi dasar saya bloon. Saya tak menghayatinya. Saya lebih percaya pada gambar-gambar yang saya lihat, yang menunjukkan betapa ka’bah adalah bangunan yang “megah”. Saya baru percaya apa yang diungkapkan Ali Syariati setelah saya melihat ka’bah langsung.

Ya, saya setuju dengan penilaian beliau, bahwa ka’bah secara fisik memanglah bangunan yang sederhana. Dan dari situ saya menghayati satu hal….bahwa dalam islam, memang “penampakan fisik” bukanlah menjadi hal yang penting.

Bagaimana penampakan Bilal? Ia adalah seorang budak yang amat hitam ! Baru disini saya melihat orang-orang Afrika yang amat sangat hitam. Waktu saya memandang mereka, saya bayangkan seperti itulah Bilal. Maaf, “jelek” di mata manusia. Tapi, kata ustadz saya…bayangkan bagaimana kemuliaan Bilal. Ia yang rasul pilih untuk mengumandangkan adzan. Ia naik ke aats ka’bah saat futuh Mekkah,  mengumandangkan seruan adzan. Dan suara terompahnya di syurga, sudah terdengar saat ia masih hidup. Budak yang amat hitam dan jelek itu, dijamin masuk syurga !!!!

Ada lagi kisah Uwais al Qorni. Seorang pemuda dari Yaman. Jelek, miskin, berpenyakit kusta. Tapi Rasul berpesan pada Abu Bakar dan Umar Bin Khatab, untuk meminta syafaat pada Uwais Al Qorni. Kenapa? Karena dia, pemuda jelek dan miskin itu, menggendong ibunya yang buta dan lumpuh, dari Yaman ke Masjidil Haram untuk berhaji. Pemuda itu jelek dan berpenyakit kusta. Tak ada yang mengenal dia di bumi ini. Tapi ia sangat terkenal di langit, di kalangan malaikat.

Apa yang ada di lingkungan kita saat ini, seringkali sebaliknya. Seseorang justru dinilai kemuliaannya karena tampilan fisiknya, karena status sosialnya, karena keterkenalannya. Selebritis mencari berbagai cara, termasuk cara-cara yang buruk agar terkenal. Laki-laki dan wanita berupaya segala macam cara agar aksesoris yang dipakainya bisa “eye cathing”, banyak yang menilai bahwa orang-orang yang sering tampil di TV, orang-orang yang menduduki jabatan tinggi, entah itu dalam organisasi umum atau keagamaan, sebagai orang yang dijamin mulia.

Padahal, belajar dari ka’bah yang sederhana, menurut saya…harusnya kita belajar untuk tak melihat hal-hal yang sifatnya “fisik” dan “material” dalam menilai dan menghormati orang lain. Mungkin, “ustadz kampung” yang lugu, tausyiahnya bisa lebih menggetarkan dibanding ustadz-ustadz berbaju “matching” yang kegiatannya dikelola manajemen tersendiri. Mungkin, wanita-wanita yang berpakaian sederhana lebih baik dijadikan istri dibanding wanita-wanita supermodis yang perhatian utamanya pada tampilan fisik. Mungkin, laki-laki yang halaman fesbuknya sepi-sepi  aja, prestasi dan amalannya jauh lebih banyak dibanding yang suka pamer-pamerin kehebatannya di page fesbuknya…

Dan yang lebih penting adalah, ka’bah yang sederhana mengajarkan kita untuk tak mencurahkan perhatian kita guna membentuk “citra diri” yang lebih wokeh dihadapan manusia, dengan tampilan fisik dan material. Ka’bah yang sederhana mengajarkan kita bahwa, penilaian visual di mata manusia gak penting.

DSC_0078Yang penting adalah hakikat. Ka’bah adalah simbol tauhid.Walaupun sederhana; ia dirindukan, diagungkan dan dimuliakan. Begitulah seharusnya juga kita.

32. WasWas, (+) dan (-) nya.

Sabtu, 14 Dzulhijah 1434

Alhamdulillah, hari ini kami sudah menyelesaikan thawaf ifadah dan sai. Artinya, seluruh rukun haji sudah kami selesaikan. Rasa lega pastinya adalah perasaan yang kami rasakan. Untuk sebagian jamaah, mungkin lega karena gelar “haji”/”hajjah” kini telah resmi disandang. Buat sebagian jamaah  yang lain terutama pasangan muda, mungkin kelegaan itu dikarenakan kini satu larangan yang menyebabkan harus membayar dam seekor unta dan hajinya batal, kini telah hilang; yaitu larangan untuk berhubungan suami-istri. Kelompok jamaah ketiga, merasakan kelegaan karena sudah menyempurnakan ikhtiar melaksanakan seluruh rukun dalam ibadah haji ini. Menurut saya, alasan ini yang paling tepat.

Tapi, dibalik kelegaan-kelegaan  itu, terselip pula rasa was-was. Rasa khawatir. Takut kalau rukun yang terakhir ini tidak terlaksana dengan sempurna. Maklum, yang namanya rukun, kalau tak dipenuhi dengan benar akan berakibat tidak syahnya haji yang kami lakukan. Kecemasan itu membuat pak ustadz pembimbing kami kebajiran beragam pertanyaan.

Jujur, rasa cemas itu saya rasakan pula. Intensitasnya begitu tinggi. Meskipun mas mengingatkan saya untuk menyeimbangkan Roja dengan Khauf, namun hanya sedikiiiit mengurangi kecemasan saya. Seperti beberapa teman yang lain, saya merasa lebih tenang setelah mengulang sa’i saya, karena saya merasa ada aturan sa’i yang kurang sempurna saya penuhi sebelumnya.

Ya, dalam psikologi, was-was ini namanya cemas. Rasa cemas ini muncul sebagai akibat “insecure”; perasaan  tidak aman. Memang kita harus berlindung dari rasa was-was yang berlebihan. Karena bisa merusak ibadah dan merusak husnudzhan kita pada Allah. Misalnya, kita was-was apakah wudhu kita sempurna atau tidak, niat kita saat sholat benar atau tidak, sehingga mengulang-ulang wudhu atau mengulang-ulang takbiratul ihram. Ini adalah simptom obsesive compulsice disorder.

Saya menghayati, tingginya intensitas kecemasan saat melaksanakan rukun-rukun haji disebabkan oleh perasaan bahwa haji ini, adalah ibadah “sekali seumur hidup”. Kalau sholat, puasa, rasanya kalau tak sempurna bisa kita “perbaiki” dengan sholat atau puasa selanjutnya. Tapi haji? Tak mudah dan belum tentu bisa mengulang jika aturan ritualnya tak terpenuhi dengan sempurna sehingga hajinya tidak sah.

Jadi, dalam kadar yang pas, was-was ini harus kita miliki. Kalau tidak, kita bisa jadi “psikopat” dalam beribadah. Cuek, berpegang pada alasan “Allah kan maha tahu”. Padahal, seperti yang diungkap pak Quraish Shihab, dalam beribadah itu ada tujuan dan esensi, juga ada “aturan protokoler” yang tak boleh diabaikan dan harus disempurnakan.

Ya Allah semoga engkau menerima haji kami, mengampuni dosa-dosa kami, menyempurnakan segala kekurangan yang kami lakukan. Allahummaj’alhu hajjan mabruro wasakyan masykuro wadhzambam maghfuro waa tijarotan lan tabuur…

31. Life : Is Never Ending Jumroh

Mina, 13 Dzulhijah 1434

Hari ini hari terakhir kami melempar jumroh.  Seperti yang sudah disampaikan pak ustadz pembimbing kami, hari ini akan sangat lengang. Karena sebagian besar jamaah sudah melakukan nafar awal, yaitu melempar jumroh sampai hari kemarin.

IMG-20131018-00969Ternyata apa yang dikatakan pak ustadz 100 persen benarrr… Tempat melempar jumroh yang biasanya padat, kosong song song…istilahnya, kita bisa “one on one” lempar setannya (biasanya kan si setan dikeroyok sama banyakan tuh..hehe…). Jadi inget kemaren, waktu saya telpon Hana nanyain gimana manasik hajinya di sekolah, dengan antusias Hana menjawab …”Ibu, kaka lempar batunya hebat…kena sama setannya, setannya sampai benjol, pingsan terus mati deh”.  Hadeeeuh…ini pasti ulah gurunya Hana yang super imaginatif hehe..

Saat melempar jumroh, secara psikologis kita membayangkan kita membuang semua sifat buruk yang kita miliki. Kita juga bayangkan kalau kita melempari setan-setan yang menghalangi kita dari kebaikan dan mengajak pada keburukan.Sssst…dalam psikologi, teknik “imagery” ini terbukti ampuh untuk mengarahkan perilaku loh…jadi kalau teman-teman nanti melempar jumroh, benar-benar hayati dan bayangkan hal-hal tersebut… Saya sangat terkesan dengan ibadah ini.

Ternyata saya tak sendiri. Melalui tayangan National Geografic yang saya tonton di yutub: http://www.youtube.com/watch?v=lGykoUtHk0A, Seorang ahli neurosains dari Amerika, juga mengatakan kurang lebih begini : “I love the jamarat. I think this ritual have a tremendous power.  Semakin banyak cara yang kita gunakan: fisik, mental, spiritual dalam amalan ini, semakin besar hasilnya untuk menjaga kita dari godaan syetan. Dari sudut saintifik, ini ritual yang amat bermanfaat”

Ya, sebenarnya….kalau kita hayati….setiap detik kehidupan kita, harusnya kita terus melempar jumroh. Tak berhenti. Mengapa? Karena syetan juga tak pernah berhenti menggoda kita. Kadang dia hanya menunggu waktu, seringkali dia hanya berubah wujud. Kita melempari mereka yang menggoda kita untuk sombong. Saat sudah berhasil menjadi seorang yang rendah hati, mereka akan datang menggoda kita untuk “merasa kita lebih rendah hati dari yang lain” ….terus…terus…demikian. Seperti janjinya, syetan tak akan berhenti sampai hari kematian kita tiba.

Saya sangat terkesan dengan uraian Ali Syariati dalam buku fenomenalnya-Makna Haji. Pada terbitan Zahra, mulai halaman 193, beliau menulis sub-bab Serangan-serangan Pasca Id.

Ketiga hari setelah hari Id ini disebut Hari Tasyriq. Apakah artinya? pada hari 10 Dzulhijah engkau naik ke tingkatan Ibrahim, engkau mendapatkan keberanian untuk “mengorbankan Ismail”. Engkau mengalahkan setan di basis terakhirnya pada seranganmu yang pertama, engkau berkorban, engkau melepaskan pakaian ihrom dan menghasilkan kemenangan dari front pertempuran Mina. Mengapa engkau harus meneruskan pertempuran? Ada pelajaran darimu- jangan lupa bahwa setan mampu bertahan hidup meskipun setelah dikalahkan

…..Kemenangan jangan sampai menyebabkanmu terlena. Karena itu, jika engkau telah menaklukkan Mina maka tetaplah tanganmu menggenggam senjata. Engkau harus memaksa setan keluar dari pintumu. Tapi setan bisa kembali lewat jendela. Ia kalah “di luar dirimu” tapi ia bisa bangkit “di dalam dirimu”. Ia dirobohkan dalam pertempuran, tapi ia bisa memperoleh kekuatan kembali dalam perdamaian. Ia lenyap di Mina, tapi kini ia bisa subur dalam dirimu

…Godaan memiliki ribuan wajah.

….Janganlah engkau begitu naif mengira perang telah usai setelah mengalahkan setan di Mina, dan melepaskan baju besimu, memakai make up dan parfum, merayakan kemenanganmu, mengabaikan ancaman, merasa bebas untuk meninggalkan Mina menuju Mekah, terus sibuk beribadah atau pulang ke kampung halaman dan memulai bisnismu lagi. Wahai engkau pejuang kemerdekaan, pengikut Ibrahim, jangan lupa 10 Zulhijah adalah hari “id Kurban” bukan “id kemenangan”. Pengorbanan Ismail adalah awal haji, bukan akhir haji.

…Setelah hari id, engkau harus tetap mempertahankan semangat heroikmu dan siap setiap saat untuk bertempur.….Setan memiliki banyak warna dan tipu daya. Setan pernah mencoba memperdaya engkau dengan nyawa Ismail dan sekarang Engkau mungkin ditipu oleh rasa bangga karena telah mengorbankan Ismail.

30. I Miss You All, Kids……

Ada pemandangan yang mengagetkan saya setiap kali pulang melempar jumroh. Yaitu banyaknya pengemis berkulit hitam di sepanjang jalan pulang. Biasanya mereka membawa anak-anak kecil…ada bahkan yang masih bayi merah, disimpen di kardus. Banyak juga yang cacat. Gak ada tangan, gak ada kaki, bahkan tak ada tangan dan kaki. Menurut pembimbing kami, mereka sulit diberantas karena dibacking oleh mafia yang sangat kuat. Mereka didrop dari negara-negara miskin Afrika, bahkan konon disana banyak bayi-bayi yang sengaja dipotong tangan-kakinya biar bisa lebih “laku”. Naudzubillahi min dzalik. Pembimbing kami juga mengingatkan agar kami waspada. Kalau mau berniat memberi, siapkan uang di luar. Jangan membuka dompet di luar. Memang kejadian, seorang teman kami “dipepet” beberapa orang dari pengemis itu saat mengeluarkan dompet. Ada juga bapak yang kehilangan hape dan dompet.

Beberapa anak-anak itu seusia Azka, Umar, Hana dan Azzam. Haduuuuuuh…saya langsung tak bisa menahan air mata. Saya berdoa semoga anak-anak ini, dijaga oleh Allah keselamatan dunia dan akhiratnya, juga anak-anak saya….

Parompong-20130513-00013Jadi kangen anak-anak…. Kalau mengikuti perasaan, mana tega meninggalkan mereka, terutama si bungsu Azzam yang masih menikmati ASI-selama 40 hari. Selama ini saya tak pernah tega ninggalin anak-anak nginep kecuali kalau terpaksa banget. Pernah beberapa tahun lalu, ikut conference di Jogja. Bawa anak-anak semobil. Hebohnya dua hari dua malam, padahal presentasinya dan hadir di konferensinya cuman beberapa jam.

Dengan tauhid saya yang masih di level ini, ada perasaan khawatir yang amat sangat … Kalau saya pergi, tak ada yg “menjaga” mereka. Apalagi saat denger Hana sakit, udah 2 kali ke dokter belum sembuh, aduuuuh….rasanya sakiiiiit banget, sediiiih….

Kemaren, pas Idul Adha, saat saya lempar jumroh yang pertama, pas telpon rumah baru tahu ternyata anak-anak tercerai berai. Azka dan Umar di rumah neneknya di Purwakarta. Hana karena sakit dibawa pulang ke kampungnya teh Ema pengasuhnya karena teh Ema lebaran di kampungnya, dan Azzam ditinggal di Bandung sama yang ngasuhnya haduuuuuh…cuman bisa nangis sesenggukan sambil meluk mas. Hati rasanya teriris-iris…pengen langsung terbang ke Indonesia saat itu juga.

Tapi Alhamdulillah, di saat-saat seperti itu ada teman-teman disini  yang selalu menguatkan. Mereka meyakinkan bahwa Allah gak mungkin mengundang kita kesini dan tak menjaga anak-anak kita. Dan setiap kali ada diantara kami yang berkaca-kaca ataupun terisak karena anak, kami saling menghibur, menguatkan dan mengingatkan. Memang seorang ibu, berapapun usia anak-anaknya, tak akan pernah bisa lepas ikatan emosinya. Kemarin ada seorang ibu yang sudah cukup senior, tiba-tiba terisak setelah membaca sms. Beliau cerita ke saya kalau anak-anaknya yang sudah besar bahkan sudah berkeluarga meng-sms : “mama semoga sehat ya…cepat pulang karena kami semua sudah merindukan mama”….aduuh….sambil gak kuat menahan air mata juga, saya peluk ibu itu.

Berbagi dengan teman-teman disini menjadi hiburan yang mujarab untuk mengobati kerinduan kami. Selain saling memperlihatkan dan menceritakan foto-foto anak-anak kami di hape masing-masing, berbagi cerita tentang tingkah polah anak juga sangat menghibur.

Seperti Hana, yang seminggu pertama…setiap kali pulang sekolah, katanya selalu bertanya : “ibu udah pulang belum?” Hehe…tepatlah dugaan saya bahwa meskipun berulang kali saya bilang dan menjelaskan dengan tanggal-tanggal di kalender untuk menggambarkan bahwa 40 hari itu lama, hana belum mengerti. Dia bilang : “iya, kaka tau ibu haji pergi 40 hari. Nanti ibu pulangnya jam berapa?” Teu nyambung hehe…

Seorang teman bercerita kalau anaknya berpersepsi bahwa “arab” itu tempatnya di Mapolda. Maklum, si anak mengantar si ibu pas mau berangkat ke Mapolda. Tiap ditelpon, si anak bilang : “umi, boleh gak aku ke Mapolda buat ketemu umi?” Saat si umi bilang: “umi kan di arab”… Si anak bilang : “iya, aku tau umi ada di arab. Boleh ya, aku ke Mapolda… ” Tampaknya si anak menyangka Arab itu ada di Mapolda hehe… Begitu pula saat si umi bilang : “umi kan jauh, naik pesawat”, si anak bilang: ah, umi bohong…aku liat umi naik bis bukan naik pesawat” hehe….

Ah, dalam suasana berjauhan gini, terasa banget bahwa anak-anak itu adalah karunia yg tak terkira…I miss u all, girls…boys…
Biarlah ini menjadi latihan buat kita semua…latihan untuk berusaha menumbuhkan cinta kita pada Allah, lebih besar dari cinta ibu pada kalian, dan cinta kalian pada ibu….

29. “Sentilan” Allah di Terowongan Muaisim

Mina, 12 Dzulhijah 1434

muaisimHari ini hari ketiga kami melempar jumroh. Meskipun pihak muassasah Asia Tenggara “melarang” kami untuk melempar jumroh pada waktu afdol yaitu bada dhuhur (di pintu masuk terowongan Muaisim, ada petugas yang halo-halo : “kepada saudaraku jemaah haji asal Indonesia…demi keselamatan saudara…dilarang melempar jumroh antara jam 10 sampai jam 14.30“)… Hadeeeeuuuh…kata-katanya itu loh… Meni DILARANG… Menurut saya sih akan lebih baik SEBAIKNYA…KARENA…. bla…bla…bla…Memang saya bisa memahami alasan Pemerintah Indonesia “melarang” melempar Jumroh di waktu afdhol tersebut. Karena akan banyak jamaah yang mengambil “nafar awal”; artinya melempar jumroh sampai dengan hari ini saja dan lalu pulang ke Mekah serta juga ingin mengambil waktu afdhol, maka pasti akan amat berdesakan. Dan kembali, tubuh jamaah Indonesia yang mungil-mungil dibanding jamaah dari negara-negara lain, dikhawatirkan keselamatannya.

Meskipun pembimbing kami memberi kebebasan bagi kami jika ingin lebih leluasa berangkat melempar jumroh bada Shubuh, akan tetapi beliau menyarankan untuk  tetap pergi dari tenda jam 11, sehingga di pintu masuk pas adzan dzhuhur dan melempar jumroh pun tepat di waktu yang sempurna.Alasannya ada dua. (1) Secara “emosi”, masa sih haji yang mungkin hanya sekali seumur hidup ini,  gak kita upayakan  untuk dapet yang sempurna-sempurna… (2) Sunnahnya memang demikian. Saat haji wada dulu, Rasulullah menunggu waktu yang afdhal yaitu ba’da Dhuhur, meskipun beliau membawa banyak unta untuk Qurban. Sebenarnya hal ini amat menyulitkan. Dan Rasulullah, jika dihadapkan pada dua pilihan selalu memilih yang paling mudah dan ringan. Maka, pilihan beliau untuk tetap mengambil waktu bada Dhuhur untuk melempar jumroh meskipun merepotkan, tentulah mengandung hikmah yang besar.

Untuk mengantisipasi situasi hari ini yang akan amat padat, kami diminta kompak bersatu dalam barisan dan mengenakan atribut-atribut identitas kami.

Setiap kali mendengar kata “melempar jumroh” dan “Mina”, mungkin sebagian dari kita termasuk saya, teringat pada “tragedi terowongan mina” bertahun-tahun lalu, dimana banyak jemaah haji yang wafat akibat terinjak-injak disebabkan “bentrokan” dua arus manusia yang menuju dan pulang melempar jumroh.jamarat Kabarnya, sejak kejadian tersebut pihak penyelenggara haji Kerajaan Saudi terus melakukan pengembangan untuk mencegah tragedi semacam itu terjadi lagi. Dan hasilnya terlihat jelas. Kawasan dan bangunan untuk melempar jumroh terlihat tak hanya “megah”, tapi juga mengandung sistem kemananan yang wokeh. Setiap area di Mina akan melalui jalan yang langsung mengarah pada salah satu bagian melempar jumroh; misalnya daerah kami akan masuk langsung ke lantai 3. Dengan demikian, tak akan mungkin terjadi penumpukan jamaah di satu area. Jalan-jalan dibuat satu arah, tak mungkin bertabrakan. Rambu-rambu visual berupa gambar maupun tulisan berbahasa Arab dan Inggris banyak sekali dan amat memadai untuk memberikan infrormasi.terowongan1380255_10151918205038094_1027029238_nDari area tenda ke tempat melempar jumroh, kami melewati terowongan; yaitu gunung-gunung batu yang ditembus. Namanya terowongan Muaisim. Terowongan ini satu arah, lebarnya kurang lebih 7 meter dan di tengah-tengahnya ada “lantai berjalan” kayak yang di bandara gituh. Kata pembimbing kami, “lantai berjalan” ini baru difungsikan tahun ini. Buat ibu-ibu sepuh, “lantai berjalan” ini sangat membantu. Maklum, perjalanan kurang lebih 3 kilo dari tenda kami menuju tempat melempar jumroh. Bolak-balik 6 kilo, lumayan juga.Nah, tadi saya sedang nikmat-nikmatnya berdiri di “lantai berjalan”, menyender ke pinggirnya. Di kiri kanan kami jamaah dari Belanda, Australia dan beragam negara lain yang badannya tinggi-tinggi besar. Suara takbir mengiringi langkah kami, tapi suasana sangat rileks.

Tiba-tiba…..terdengar gemuruh keras seperti hujan batu. Dan beberapa detik kemudian, tiba-tiba orang-orang di depan saya berhamburan berbalik arah ke arah saya…kepanikan melanda. Teriakan, jeritan, dan kekacauan terjadi begiru cepat, tanpa kami tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saya sendiri bingung, saya menyangka arus kami bertemu dengan arus balik ke arah kami. Tapi kenapa bisa begitu? bukankah ini satu arah?

Kepanikan saya bertambah karena saat itu saya sedang tak berpegangan tangan dengan mas. Meskipun mas tepat berada di belakang saya, namun tetap saja sempat terpisah karena chaos yg terjadi. Secara instinktif, saya mengikuti arus orang yang lari berbalik arah. Alhamdulillah mas segera menarik saya ke pinggir dan mengarahkan untuk tak ikut lari. Karena resiko tabrakan atau tergencet, sudah terlihat jelas terjadi di depan mata kami. Apalagi secara fisik badan kami kecil-kecil dibanding dengan jemaah dari negara lain.
Meskipun kejadian itu hanya berlangsung beberapa menit, namun efek fisik dan psikologisnya luar biasa. Ada  yang terinjak-injak, bahkan yang berkursi roda ada juga yang tertabrak. Barang-barang, tas, sendal berceceran. Beberapa teman saya kehilangan sendal pada saat itu. Secara psikologis, beberapa teman menangis histeris, bahkan beberapa ingin mengurungkan melanjutkan perjalanan.
Selanjutnya, meskipun situasi sudah lebih terkendali, namun suasana masih mencekam. Para polisi yang berjaga memberikan arahan-arahan pada kami, dengan teriakan maupun dengan bahasa tubuh, yang sayangnya….sama sekali tak kami mengerti. Kami maju sedikit demi sedikit, dengan pikiran bahwa situasi tadi sangat mungkin terjadi lagi. Disinilah saya memahami betapa besarnya “potesi bahaya” bila ada sejumlah besar orang berkumpul, namun dengan bahasa yang berbeda. Baik bahasa verbal maupun non verbal. Sedikit misunderstanding saja bisa mengakibatkan kondisi yang tak terkendali dan membahayakan.Satu hal yang jelas adalah, dari bibir-bibir kami yang bergetar dan dari dada-dada kami yang deg-degan, kami mengucap dzikir dengan sungguh-sungguh. Saat itulah kami menghayati kembali bahwa dalam situasi seperti ini, kami hanya bisa bergantung pada Allah. Bukan pada apa atau siapa.ARABIA_SAUDITA_-_Jamarat_(600_x_450)Alhamdulillah selanjutnya kami bisa melempar jumroh dan kembali dengan aman. Ternyata chaos tadi disebabkan oleh berhentinya “lantai berjalan” secara mendadak, membuat orang-orang panik dan menimbulkan gelombang kepanikan tadi.
Di tenda, saya dan teman-teman berbincang berintrospeksi diri. Yups…  tadi, walaupun sambil jalan mulut kami mengucap takbir, tapi tanpa diiringi kehadiran hati. Oleh karena itulah Allah “menyentil” kami dengan peristiwa tadi. Untuk menyadarkan kami … Untuk tak “berbasa-basi” saat berdzikir…

Previous Older Entries Next Newer Entries