The Teenage Brain : Being Teen (1)

the-teenage-brain-hc-c-1420580254Paling seneng kalau lagi punya buku keyyen yang sedang dibaca. Kala penat melanda, membaca buku keyyeeen sambil tiduran adalah dream comes true. Buku keyyen yang sedang saya baca adalah The Teenage Brain : A Neuroscientist’s Survival Guide to Raising Adolescents and Young Adults. Buku ini sudah dibeli sejak April lalu, bareng sama buku Harry Potter and The Cursed Child. Tapi tentunya buku Harry Potter duluan yang tamat haha….Buku ini tebalnya 358 halaman, berisi 17 bab utama plus 2 bab pengantar dan penutup.

Saya baru baca bagian Introductionnya: Being Teen. Tapi saya udah jatuh cinta banget sama buku ini. Dan sangat kabita untuk bisa nulis buku kayak gini suatu saat nanti. Buku ini adalah buku “ilmiah”, terlihat jelas dari referensi yang terdiri dari jurnal-jurnal ilmiah plus adanya indeks di bagian belakang buku ini. Pantaslah karena ditulis oleh seorang profesor neurologi. Beliau adalah Frances E. Jensen, MD, kepala departemen neurologi di Perelman School of Medicine, University of Pennsylvania. Sebelumnya, beliau adalah profesor neurologi di Harvard Medical School.

Tapi bukan itu yang bikin buku ini mempesona. Beliau menuliskan buku ini bukan hanya sebagai seorang profesor, namun sebagai seorang ibu. Ke”kaget”annya menghadapi perubahan perilaku pada dua puteranya saat memasuki tahap perkembangan remaja-lah yang mendorong ia menuliskan buku ini. Karena itulah meskipun kontenya ilmiah, bahasa di buku ini jauh dari ke”garing”an bahasa ilmiah. Penuh dengan warna emosi yang menyentuh. Sebagai emak dari remaja, saya pengen toss-an sama beliau haha… Bahasanya mengalir ringan, bahasa “curhat” emak-emak kkk… Kebetulan bahasa Inggrisnya lumayan gampang untuk dipahami oleh saya yang kemampuan bahasa inggrisnya pas-pasan.

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, begitu kata Ali Bin Abi Thalib. Maka, bab per bab yang saya baca dalam buku ini ingin saya abadikan di sini. Meskipun saya bingung juga gimana nulisnya. Saya baca sambil pake stabilo. Dan kalau gak “ditahan”, pengen stabiloin semuanya haha… Sebenernya, sebagian besar yang tertulis dalam buku ini bukan pengetahuan baru. Namun seperti menguatkan dan melengkapi potongan puzzle pengetahuan dan pengalaman saya.

Baiklah…saya akan mulai menuliskan poin-poin bagian pengantar dari buku ini : being teen. Saya akan mengelaborasinya dengan pengetahuan dan pengalaman saya.

Pada bagian ini, beliau memulai dengan mengemukakan kekagetannya akan perubahan perilaku yang terjadi pada puteranya yang memasuki usia remaja. Is this really my child? Ia melihat puteranya seperti “terperangkap” di suatu tempat antara anak dan dewasa. Masih implusif dan labil dalam emosi, namun secara fisik dan intelektual lebih terlihat seperti orang dewasa dibandingkan seperti anak. Puteranya melakukan eksperimen terkait identitas dirinya, and the most basic element of his identity was his appearance.

Pause dulu.  Saya ingin membahas dulu mengenai kalimat yang saya miringkan. Buat para emak yang anaknya usia remaja, kemungkinan mengalami bagaimana anak mulai usia SMP, kalau beli baju, bingung menentukan. Atau udah dibeli, lalu gak dipake setelah sekali ia coba muter-muter di depan kaca dan ia merasa gak nyaman. Ujung-ujungnya, yang dipake cuman baju ituuuuu aja. Kesel? jujur, ya. Perilaku lain yang tampak adalah, ia mencoba-coba baju orang lain. Si sulung saya yang berumur 14 tahun, sering pake punya saya. Mulai baju, kulot dan sepatu, baik secara terang-terangan maupun tidak. Tidak terang-terangan maksudnya gimana? beberapa kali di gallery foto hapenya saya melihat foto atau video ia memakai baju-baju saya saat saya pergi. Saya ngerti sekarang. Itu bagian dari ekslporasi pencarian jatidiri. Si sulung juga beberapa kali mencoba “pergi ngumpet-ngumpet” karena gak mau diliat sama saya gaya berpakaiannya. Haha…jadi inget saya dulu, sering juga ngumpet-ngumpet pergi kayak gitu, waktu itu eksperimen pake kerudung hehe. Kenapa ngumpet-ngumpet? karena tahu gak akan disetujui. Tampaknya, demikian juga pemikiran si sulung. Ini adalah hal yang sederhana. Tapi kalau kita tidak paham, bisa jadi sumber keributan dan jadi jurang pemisah antara orangtua-anak. Saya ingat seorang ibu yang sangat kesal pada putri bungsunya yang sering memakai baju milik 3 kakak puterinya tanpa minta izin. Tentunya kakak-kakaknya merasa kesal, kenapa sih gak beli sendiri? Ibunya juga bingung. Diajak beli baju sendiri gak mau, tapi pake baju orang lain. Nah, ini jawabannya. Menemukan identitas diri. Identitas fisik adalah kulit paling luar dari identitas.  Kalau di barat, pencarian identitas itu bisa sampai ke hal-hal yang “dalam” loh… misalnya ke identitas gender. Sudah “biasa” di masa remaja ini seorang perempuan menjadi lesbian, anak laki-laki menjadi gay. Nanti setelah selesai beresksperimen, mereka akan menemukan “jatidiri” mereka sendiri.

Nah, kalau dikaitkan sebagai orangtau muslim, bagaimana sikap kita? menurut saya, pencarian jatidiri ini merupakan bagian penting dalam kehidupan individu. Buku-buku parenting menyebutkan bahwa tugas orangtua itu “hanya” dua. Socialization dan Individuation. Socialization artinya mengajarkan anak nilai-nilai yang diterima di masyarakat dimana ia hidup. Sebagai seorang muslim, nilai-nilai agama termasuk ke dalamnya. Individuation artinya ia menemani anak menemukan “dirinya”; sehingga ia akan menjalani nilai-nilai itu sebagai “dirinya” yang unik. Maka, kalau kita punya 4 anak (saya maksudnya hehe), tujuan pengasuhannya adalah menjadikan 4 anak ini sholeh, masuk syurga, dengan keunikannya sendiri-sendiri. Tidak harus semuanya jadi hafidz, karena tak semuanya punya memori yang kuat. Tapi semua sholeh sesuai dengan kekuatan dan keterbatasan yang Allah karuniakan. Maka, penemuan jatidiri ini menjadi penting.

Jadi biarkan aja gitu?remaja bereksplorasi sesukanya?  dalam buku ini, penulis menggambarkan bagamana shock-nya ia melihat anaknya mengecet warna rambutnya. Karena menyadari ini bagian dari pencarian identitas diri, maka ia memilih untuk “menemani” anaknya bereksplorasi. Ia temani anaknya ke salon. Memberi ruang bereksperimen namun tetap dalam pengawasan, itu jauh lebih aman. Dan saya setuju! sama lah kayak ke anak 2 tahun. Pengen berenang di tempat dalem. Kalau dilarang, ia jadi tak tahu apakah ia bisa atau engga. Kalau dibiarkan, berbahaya. Cara terbaik adalah, mengizinkannya dengan ditemani. Siapkan pelampung, temani. Anak akan mengalami dan menghayati kemampuan dan keterbatasan dirinya dengan cara ini. Saya ingat seorang teman saya, beberapa tahun lalu anak laki-lakinya sangat senang dengan aktivitas cosplay. Ia masuk ke komunitas itu. Anaknya memang nyeni. kreatif mendesain cosplay, bahkan di usia  SMP sudah sering dapat uang sendiri hasil aktivitasnya ikut lomba atau pameran cosplay. Teman saya ini menyadari bahwa kegiatan ini, ada positifnya namun ada potensi negatifnya. Komunitas cosplay tidak hanya berisi anak-anak “baik”. Maka, ia mengizinkan anaknya ikut kegiatan ini sampai ke luar kota, dengan satu catatan: ia ikut. Dan si anak menerimanya.

Dalam skala kecil, eksperimen dengan identitas dalam bentuk baju saya alami bersama si sulung. Dan saya ingat satu kalimat dari buku ini : try not to focus on winning the battles when you should be winning the war. The endgame is to help get them through the necessary experimentation that they instinctively need without any long term adverse effect. Pertama kali jadi emak anak remaja, saya dulu fokus pada pertempuran. Melihat dia pake celana ketat, langsung ingetin, si sulung merespons dengan marah. Lihat kerudungnya tak menutupi dada langsung saya minta dia ganti baju, dia nangis. Haha….dua tahun lalu inget sering banget “berantem” sama si sulung. Tiap mau pergi bareng pasti ada insiden dulu. But practice makes perfect. “Perang” yang harus kita menangkan dengan si remaja adalah kedekatan hati. Bukan berarti dia kita biarkan. Tapi menahan diri untuk memberikan kritik secara langsung, menggandengnya lalu “mengobrol” tentang ini-itu, lalu masuk ke nilai-nilai dan akhirnya ke topik pakaian, ternyata jauh lebih efektif mengubah perilaku si remaja. Pride and image are big for teens, and they are not able to look into themselves and be self critical. Begitu kata penulis buku ini.

Dalam buku ini, diungkapkan juga bahwa selama ini, banyak miskonsepsi mengenai remaja yang tidak terbukti secara empirik-ilmiah. “Salah paham” itu diantaranya: remaja menjadi impulsif dan emosional karena hormon, remaja menjadi pembangkang karena mereka ingin terlihat berbeda. Penulis menekankan bahwa di chapter-chapter selanjutnya, ia akan mengungkapkan bahwa the teen brains is at very special point in development. There are unique vulnerabilities of this age windows, but  there is also ability to harness exceptional strength that fade as we enter into adulthood. Duuh…gak sabar ya pengen baca chapter selanjutnya hehe…

Penulis berulang kali menekankan bahwa otak remaja itu, unik. Berbeda. Kita tak bisa membandingkannya dengan otak orang dewasa. The adolescent brain works and responds to the world differently from the brain of either a child or an adult. Berbeda. Makanya, kita harus tahu bedanya gimana. Gak bisa pake kacamata kita sebagai orang dewasa. Memahami perbedaan otak mereka dengan kita, cara pikir mereka dengan kita, akan membuat kita mengetahui apa keterbatasan yang mereka miliki, dan apa yang bisa kita bantu untuk mereka. 

Kita sebagai orangtua, kata penulis too often we send them mixed messages. Kita berasumsi bahwa begitu tampilan mereka secara fisik seperti orang dewasa (para putri memiliki lekuk-lekuk tubuh, para putera memiliki jakun), maka kita langsung memperlakukannya sebagai orang dewasa, dengan tuntutan seperti orang dewasa. Hhhmmm…kalau di Islam, ketika anak sudah mimpi basah atau menstruasi di usia 13 tahun-an, sebagian berpendapat bahwa mereka sudah bisa diperlakukan sebagai pemuda dewasa. Diperlakukan dan diberi tuntutan seperti 30 tahun. Saya masih belajar tentang hal ini. Karena kalau demikian, saya masih belum menemukan jawaban: mengapa begitu masuk usia pubertas, Allah tidak langsung “mengubah” struktur dan fungsi otak mereka menjadi sama dengan dewasa ? Pasti ada hikmah yang tersembunyi dari fakta ini. Hikmah yang harus digali jawabannya.

Saya suka banget waktu penulis bilang bahwa : so take a lead, take control, and try to think for your teenage sons and daughters until their own brain are ready to take over the job. The important part of the human brain-the place where actions are weighed, situations judged and decision made- is right behind the forehead, in the frontal lobes. This is the last part of the brain to develop, and that is why you need to be your teens’s frontal lobes until their  brains are fully wired and hooked up and ready to go on their own

Bagian terakhir dari pengantar ini saya suka banget (haha….suka banget semuanya 😉 the most important advice I want to give you is to stay involved. We lose physical control as children leave childhood. Yups…yups…kalau bahasa saya: “kalau sebelum remaja, menjalin kedekatan teh gampang banget… tinggal peluk lama dan erat. Tapi kalau udah remaja, ketika kita jadi awkward kalau peluk mereka dengan lama dan erat, kedekatan itu menjadi lebih sulit untuk dijalin, karena tak kasat mata”

Yang dibutuhkan oleh remaja adalah model, template, structure. Anak butuh external cues. Jadi, dibandingkan dengan mengomel, ebih baik “temani” si remaja. MIsalnya saat mereka mengerjakan PR, daripada ngomel kenapa mereka masih main hape padahal jam belajar, lebih baik temani belajar, bantuin.

Demikianlah bagian pengantar buku ini. Insyaallah kalau udah ada waktu lagi, akan lanjut baca dan sharing chapter 1: Entering the Teens Years. 

Advertisements

Preparing Ramadhan : Mindful or Mind Full ?

Siapa yang ingin “sering” ke tanah suci? Saya ngacung. Tapi itu dulu. Waktu saya ke tanah suci pertama kali, tentu berdoa agar  bisa “sering” bisa ke tanah suci. Tapi seiring waktu, entahlah…. saya jadi enggan berdoa seperti itu. Saya lebih seneng berdoa agar diberikan “kekhusyukan” ketika ke tanah suci. Ya, seiring dengan usia dan pengalaman, doa-doa saya, tampaknya memang mengalami “evolusi”. Dulu berdoa pengen ini pengen itu, sekarang berubah. Gak pengen kaya. Pengennya diberikan kemurahan hati. Kenapa? karena saya melihat banyak  kenalan saya yang kaya, tapi beda antara kaya yang murah hati dan kaya yang hanya untuk dirinya sendiri. Bahwa untuk untuk bisa memberi banyak kita harus kaya, ya.  Pengen jadi profesional, punya ilmu banyaaaak, udah berubah. Pengennya punya semangat untuk berbagi dan mengamalkan ilmu. Karena pengalaman bertemu orang yang ilmunya keren, mereka memang mengagumkan. Tapi orang yang ilmunya keren dan ia senang berbagi serta semangat mengamalkan, mereka mempesona. Biar ilmu yang dibagi dan diamalkan banyak kita harus terus cari ilmu, ya. Bentuk luarnya sama, tapi yang saya mohonkan pada Yang Maha Kuasa berbeda.

Sebelum ke tanah suci, ustadz pembimbing selalu menekankan persiapan. If you fail to prepare, you prepare to fail. Itu kalimat yang selalu beliau ulang-ulang. Beliau bercerita, bahwa kalau kita tak mempersiapkan diri dengan ilmu, maka tempat-tempat dan waktu-waktu super mustajab di tanah suci saat berhaji, akan lewat dan terbuang dengan sia-sia. Arafah, misalnya. Sebuah tempat yang super duper sakral. Tapi kalau  kita tak menyiapkan ilmu dan menyiapkan hati, tak akan bermakna apa-apa.

Tapi saya gak percaya kata-kata Pak Ustadz. Saya begitu percaya kalau kita ke tanah suci, maka kita akan “tersihir” oleh ka’bah, “tersihir” oleh raudhah, “tersihir” oleh arafah. Dan saya salah. Pak Ustadz itu benar. Saya saksikan dengan mata kepala sendiri, waktu wukuf yang begitu “ajaib” dilewati banyak orang dengan mengobrol, tertawa-tawa, merokok….. Tempat yang sama, waktu yang sama, dimaknai berbeda. Intan dan batu kerikil, bagi yang gak tau sama aja gak berharganya.

Pengalaman ke tanah suci yang kedua, membuat saya semakin menyakini hal ini. Bukan atas pengamatan terhadap orang lain, namun penghayatan terhadap diri sendiri. Persiapan yang berbeda, “teman perjalanan” yang berbeda, membuat penghayatan, kedalaman makna  dan “rasa”nya menjadi berbeda. Kita berada di tanah suci yang menyediakan tak terhingga berkah, namun kita tak menyiapkan radar hati untuk “menangkap” frekuensi berkah itu, menurut saya adalah salah satu paradoks dan ironi yang paling menyedihkan dalam kehidupan ini. Itulah sebabnya saya tak pernah berdoa untuk “sering” bisa ke tanah suci. Saya berdoa agar setiap kali kesana, dikarunia kemampuan dan kemauan untuk menyiapkan diri, sehingga bisa khusyuk, radar hati-nya siap untuk menangkap seluruh frekuensi berkah yang berjejak menjadi kemabruran.

Kurang dari dua bulan lagi kita akan menyambut ramadhan. “Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballighnaa Romadhon”. Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan. Inilah doa yangbiasa kita panjatkan pada Allah. Meskipun ada sebagian ulama mengatakan hadits ini dhoif, namun tahun ini, saya punya makna lain terhadap doa ini. Ayah saya sedang sakit. Kami ikhtiar untuk penyembuhannya, namun kami pasrah jika Yang Maha Kuasa menjadikan sakit ini sebagai jalan memanggilnya. Di sisi lain, yang kami semua mohonkan adalah, beliau sampai pada bulan Ramadhan. Maka, doa ini, kami panjatkan dengan kesungguhan. Ya, kita tahu bahwa siapapun kita, gak ada jaminan bisa “ketemu sama ramadhan” yang “cuman” tinggal 2 bulan lagi itu. Tapi menghadapi secara konkrit situasi sakit yang dialami ayah saya, menumbuhkan kesadaran yang berbeda. Bahwa benar-benar tak ada jaminan kita sampai pada ramadhan. Kesadaran bahwa kita benar-benar menginginkannya. Memberi ruh pada doa itu. “Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballighnaa Romadhon”. Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan.

Ramadhan. Usia saya sekarang 38 tahun. Berarti sudah 38 tahun juga saya mengalami ramadhan. Kalau diasumsikan saya puasa sejak usia 6 tahun, sudah 32 ramadhan saya berpuasa. Kalau diasumsikan saya baligh usia 12 tahun, sudah 26 kali saya puasa dengan kualitas yang dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. 26 kali ramadhan. Ramadhan yang sama. Keberkahan yang sama. Setiap tahun kita mendengar pak Ustadz sampaikan kemuliaan ramadhan. menghapuskan dosa, “obral pahala”, malam 1000 bulan. Ramadhan yang sama. Tapi apakah otomatis seluruh kemuliaan itu kita dapatkan? Tidak.

Saya mengenang, tahun demi tahun saya menjalani ramadhan dengan pemaknaan yang berbeda. Ramadhan yang sama, dengan kemuliaan yang sama. Ada masanya yang saya ingat dari ramadhan adalah “ngabuburit” bersama papa saya. Naik vespa putih kami, dengan adik saya pergi ke lapangan; lalu kami tiduran…menyaksikan matahari merah besar yang perlahan terbenam. Ada masanya yang saya ingat dari ramadhan adalah pesantren kilat di masjid yang besar, tempat saya bisa curi-curi pandang sama cowok kecengan saya, anak SMP sebelah. Ada masanya yang saya ingat dari ramadhan adalah keseruan pergi pulang taraweh dengan teman-teman, atau main sepeda selepas subuh. Ada masanya ramahan yang saya ingat adalah keseruan jadi panitia dan pengisi sanlat jaman SMA. Ada masanya ramadhan yang saya ingat adalah membagi-bagikan tajil ke masyarakat yang tak berada. Ada masanya yang saya ingat adalah keheningan itikaf, kenikmatan tangis mengadu padanya. Ada juga masanya ketika ramadan terasa “sama” dengan hari-hari biasa. Lewat begitu saja. Tertelan keriuhan rutinitas. Ada masanya saya berada di lingkungan yang seolah-olah ramadhan tak hadir disana. Ada masanya ramadhan saya dipenuhi dengan rencana-rencana tentang masakan, tentang baju-baju yang saya “hunting” untuk keluarga besar.

26 kali ramadhan yang akan saya pertanggungjawabkan. 26 Ramadhan mulia yang sama. 26 kali penghayatan yang berbeda. Dan salah satu faktor yang membedakannya adalah, persiapan. If you fail to prepare, you prepare to fail. Itulah sebabnya para salafusshalih konon menghabis sisa waktu 11 bulan selain ramadhan; 5,5 bulan setelah ramadhan untuk berdoa agar amal ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan diterima menjadi amal sholeh, dan 5,5 bulan sebelum ramadhan mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan.

Di luar sana, ada beragam reaksi mengenai ramadhan. Ada banyak keriuhan. Segala sesuatu, kini muda menjadi bahan keriuhan. Mulai dari topik yang buruk seburuk-buruknya, sampai topik yang baik sebaik-baiknya. Tapi semua itu adalah “keriuhan”.  Keriuhan di “luar sana”, yang kalau tak kita sadari dan kita kendalikan, keriuhan itu akan masuk ke pikiran kita, ke hati kita. Dan buat saya “keriuhan” adalah lawannya “kekhusyukan”. Jaman dulu, Kekhusyukan bisa kita upayakan secara fisik. Kita tinggal diam di rumah atau di masjid. Jaman kini, keriuhan bisa kita undang masuk ke dalam kamar kita, bahkan ke mihrab mesjid. Smartphone.

 

Sekolah anak saya, mulai minggu lalu mengkondisikan murid-muridnya untuk puasa senin kamis. Kantin tidak akan buka, makan siang diganti goodibag makanan ringan dan buah. Saya senang sekali dengan sistem ini. Sesuai dengan filosofi if you fail to prepare, you prepare to fail. Pada anak, yang harus dipersiapkan adalah hal yang konkrit. Kemampuan menahan lapar.

Bagi kita, yang sudah puluhan tahun melalui ramadhan, tentu “level” kita harus berbeda. Bukan hanya menahan hal sifatnya konkrit indrawi: perasa, penglihatan, pendengaran, perabaan. Namun yang harus sudah kita siapkan adalah hal yang sifatnya abstrak dan hakiki. Kekhusyukan.

Kekhusyukan. Menurut saya, konsep  Psikologi yang paling mendekati adalah  mindfulness. Mindfulness is a state of active, open attention on the present. When you’re mindful, you observe your thoughts and feelings from a distance, without judging them good or bad. Instead of letting your life pass you by, mindfulness means living in the moment and awakening to experience (https://www.psychologytoday.com/basics/mindfulness).

Apa yang paling mengganggu kekhusyukan kita? apa yang membuat kita dalam melakukan ibadah (yang paling rutin adalah sholat dan berdoa) tak khusyuk? masing-masing orang bisa beda. Tapi yang penting adalah penghayatan kita, kesadaran kita, dan kemauan kita berjuanga mengubah kondisi. Dan kemauan berjuang itu membutuhkan kerendahan hati

Smartphone. Internet. Menembus ruang dan dan waktu. Menurut saya, sangat potensial menggangu kekhusyukan kita. Sedih banget liat para itikaf-ers di ramadhan, “killing  the time” waktunya di masjid dengan bermedsos. Apalagi selfie dan posting “lagi itikaf nih” halah….  gak ada bedanya kalau kita gitu sama anak TK B yang belajar puasa trus nonton TV atau main game seharian. Just killing the time. Di tanah suci pun demikian. Kalau tak dikendalikan dan tak dihayati, tempat-tempat super duper penuh berkah seperti ka’bah, dua masjid suci, raudhah, hanya meninggalkan jejak berbentuk foto. Sudah.

Nah, disini kita butuhkan kerendahan hati. Tak perlu malu untuk mengakui bahwa kita “tak cukup kuat untuk menahan godaan medsos untuk jaga kekhusyukan kita” Teman saya, selama dia tak di jam kerja, terutama jam ibadah (sholat dan dzikir), menjauhkan hapenya. Saat itikaf, dia matikan hapenya. Atau pernah di awal-awal dia gak bawa hape. Dia sarankan ke saya untuk gak ngaji dari hape. Soalnya kalau ngaji dari hape mudah tergoda untuk liat fitur lain kata dia.

Kenikmatan beribadah, dalam bahasa psikologinya disebut flow. Dan flow tak akan tercapai dengan instan. Maka, kalau kita pengen nikmat baca Qur’an, baca tafsir, jangan mulai di day one ramadhan. Mulai sekarang, biar nanti udah flow. Saya suka bilang sama temen-temen yang belum dan pengen ke tanah suci, baca buku tentang haji jangan nanti pas manasik. Dari sekarang, meskipun gak kebayang perginya kapan. Baca siroh Rasul, sekarang. Jangan pas mau berangkat. Kalau sudah baca berkali-kali kisah perjalanan hijrah Rasulullah dan para sahabat dari Mekah ke Madinah, maka perjalanan dalam bis berAC dari Mekah ke Madinah dan sebaliknya, akan kita maknai berbeda. Kita tak hanya akan memandang, memotret dan memvideokan jajaran gunung batu dan padang pasir dalam perjalanan. Kalau kita sudah berkali-kali baca sejarah ka’bah, saat Nabi Ibrahim, saat serbuan Abrahah, saat futuh Mekah, maka akan beda penghayatan kita. Frekuensi kesakralan itu akan mudah kita tangkap kala radarnya sudah siap.

Demikian juga Ramadhan. Baca buku tentang kemuliaan ramadhan, lailatul qodar, keutamaan memberi makan buka puasa bagi kaum dhuafa, jangan nanti pas day one. Dari sekarang. Sehingga kalaupun nanti di luar penuh dengan keriuhan, aktivitas kita tetap padat, tapi hati kita sudah terkondisikan untuk khusyuk dan radarnya “siap” menangkap frekuensi keberkahannya. Secara “habit” kita sudah “flow”, jadi bener-bener ternikmati setiap detiknya.  Dengan demikian, output taqwa yang dijanjikan olehNya, semoga bukan kita hayati seperti “dongeng” yang tak kita hayati sungguh-sungguh.

Ramadhan yang hanya hitungan hari, belum tentu kita alami. Tak ada yang menjamin usia kita sampai di saat itu. Namun keinginan untuk menjalani ramadhan dengan khusyuk, harus  kita buktikan dengan upaya sungguh-sungguh untuk menyiapkannya.

Ramadhan yang akan kita jelang, adalah ramadhan yang sama dengan puluhan ramadhan yang telah kita jalani. Kemuliaan yang sama, berkah yang sama Allah tumpahkan di bulan ini. Kala kita tak menyiapkan diri, maka ramadhan tak akan bedanya dengan hari-hari biasa. 1000 bulan akan sama rasanya dengan satu bulan atau tanpa bulan. Yang membedakannya adalah, kesiapan radar hati kita untuk menerima frekuensi keberkahan itu.

 

 

Mendampingi anak belajar = Mengajarkan nilai-nilai kehidupan

Kalau di dunia maya minggu ini  masih riuh membahas tentang aksi lalu membahas roti; di dunia nyata, minggu ini anak-anak kita sedang UAS. Beberapa teman saya, me-rearrange kegiatannya karena adanya hal ini. “gue harus nemenin anak gue belajar uy” begitu kata mereka. Saya termasuk emak yang memasukkan agenda “menemani anak belajar” dalam kegiatan saya. Oleh karena itu, seminggu ini saya juga me-rearrange semua kegiatan saya. Sejujurnya, saya senang sekali menemani persiapan ujian anak-anak saya. Mengumpulkan bahan-bahan ujian baik buku, berkas ulangan atau handout, menyisir pelajarannya satu demi satu sesuai dengan kisi-kisi, lalu ketika si gadis kecil atau si bujang kecil sudah “menguasai” poin itu, dengan bahagia mereka “mencontreng” poin kisi-kisi itu. Setelahnya, saya akan mengecek alat tulis mereka, menyerut pensil-pensil yang tumpul, lalu paginya akan berpesan berulang-ulang sambil mencium kepala mereka:  “jangan lupa baca doa dulu, kalau udah selesai cek lagi dua kali. Yang penting berusaha maksimal”. Semua ritual itu adalah apa yang mama saya lakukan pada saya waktu jaman SD dulu. Haha…makanya engga tau siapa yang lebih semangat sebenarnya, anaknya atau emaknya.

Sebenarnya saya sudah pernah menulis mengenai prinsip pendampingan belajar anak di buku Bukan Emak Biasa. Oh ya…buat yang masih tertarik, masih ada ready stock loh (kesempatan dalam kesempitan haha….)

Saya selalu menganggap mendampingi anak belajar, terutama di momen ujian sebagai hal yang penting. Bukan. Bukan soal nilai. Tapi jauh lebih dari itu, Saya selalu memposisikan “pelajaran” sebagai representasi dari persoalan kehidupan. Oleh karena itu, pelajaran di sekolah menjadi media untuk melatih sikap mental anak. Ada banyak nilai kehidupan yang bisa kita ajarkan melalui momen mendampingi anak belajar. Bukan semata-mata untuk menguasai materinya.

Materi pelajaran yang mudah? jangan menggampangkan. Kalau kita “sombong” karena menganggap gampang, biasanya jadi kurang teliti. Ada materi yang susah? kita bisa lihat sikap mental anak kita. Mudah menyerah? gak pede? apatis? kita bisa ajak anak untuk hayu kita pelajari bareng…apa yang susah, susahnya kenapa. Apa yang bisa dilakukan. Melalui proses ini, kita sudah mengajarkan anak bahwa : (1) setiap masalah punya solusi (2) kita ajarkan keterampilan menganalisa masalah (3) kalau ada masalah, kamu bisa minta tolong orang lain. I’m here with you.

Nah, sampai sini pause dulu. Pada umumnya, waktu mendampingi belajar, kita jadinya “ngetes”. Ayo belajar dulu, nanti mama tes. Langkah pertama, itu oke. Namun ketika anak salah atau belum bisa, sikap kita akan menentukan nilai apa yang tertanam pada anak. Kalau kita marahi, kita omeli, haqqul yaqin anak pasti “menghindar” belajar sama kita. Dengan beragam alasan dan caranya. Ada yang nangis, ada yang marah… Kenapa? siapa yang mau coba… udah susah, malah ditambah susah dengan dimarahi atau diomeli.No solution.  Tapi kalau kita cek kenapa dia gak bisa…. males baca kah? salah ngerti kah? belum kuat dasarnya kah? kurang teliti kah? bisa beda-beda alasannya; lalu kita umpan balikkan ke mereka, itu kesempatan langka. Kan gak bisa kita ujug-ujug “nasihatin” anak untuk tidak mudah menyerah kalau gak ada konteksnya.

Sampai kapan mendampingi anak belajar? Menurut saya, karena pelajaran kehidupan itu sepanjang masa, mendampingi anak menyelesaikan masalah pelajaran sebagai salah satu representasi masalah kehidupan, bisa sepanjang masa. Gak membuat anak tergantung gitu? Kalau kita mendampingi dan memberi umpan balik pada sikap anak kita secara intensif saat SD, biasanya saat SMP anak sudah “lepas landas”. Sudah punya tanggung jawab. Itu biasanya buah dari proses panjang selama 6 tahun mendampingi.

“Ah, males saya kalau nemenin anak belajar. Suka jadi emosi”. Yups, saya pun merasakannya. Lalu, kita hindari aktifitas mendampingi belajar anak? itu mah sama atuh sikap mentalnya dengan anak kita. Mengajar anak = mengajar diri sendiri. Mendidik anak = mendidik diri sendiri. Kalau kita mau mengajarkan anak untuk mengelola emosinya, kita amalkan itu pada diri sendiri. Kalau kita mau mengajarkan anak bahwa kalau ia punya kesulitan ia bisa minta tolong, kita bisa mengamalkan pelajaran itu untuk diri kita sendiri.

Saya mengalaminya. Si sulung kelas 8, seperti pada umumnya anak2 lain, sulit memahami matematika. Untuk mata pelajaran lain, dia semangat dan mandiri banget. Tapi heuseus matematika, ketika sulit, kecenderungannya adalah menghindar. Gak mau latihan. Padahal logika pikir matematika akan terasah kalau sering dilatih. Saya udah wanti-wanti kalau dia harus kasih tau saya seminggu sebelum ujian matematika, biar saya bisa dampingi dia nyicil. Biar latihannya makin banyak. Saya udah sering ingetin dan tanya, eh… lalu kamis sore minggu lalu, dia telpon saya. Bu, kaka ujian matematikanya besok. Tapi udah belajar kok. Dikasih latihan soal sama guru. Katanya. Saya cek, salah semua. Saya keseeeeel banget. Kesel plus plus karena wanti-wanti saya untuk ngasih tau saya jauh-jauh hari tidak ia lakukan. Kalau saya terus dampingi dia, bisa saya yang meledak nih. Emak-emak kan punya kecenderungan melampiaskan kekesalannya pada anak. Maka, saya delegasikan dampingi belajarnya sama si abah. Saya meledaknya sama si abah aja haha…

Saya menenangkan diri dengan mandi, lalu relaksasi. Terdengar gelak tawa si sulung sama si abah. Biasa…..emak-emak kan suka kesel ya… para pak suami biasanya lebih rileks karena gak masuk ke lingkaran keseharian sama anak . Beda sama emak-emak. Trus nasehatin kita supaya lebih sabar….Tapi daripada kesel, kita manfaatkan sajah.

Setelah beberapa jam, kesel saya mereda, baru saya bicara sama si sulung. “Kaka, tadi ibu kesel banget. Ibu kan udah bilang kita ciciil matematikanya. Ibu lihat Kaka tuh bisa, tapi males latihan. Emang Kaka merasa susah ya?”

bla…bla..si sulung menumpahkan kekesalannya. Guru yang terlalu cepat ngajarnya…PR yang banyak…latihan yang susah…

Iya, ibu ngerti. Tapi bukan begitu cara menyelesaikan masalah. Menghindari masalah hanya akan memperbesar masalah. Inget gak kakak waktu Kaka gak ngerti materi persamaan linear dua variabel? dua bulan lalu? kita belajar seminggu, sampai belajar jam 3 pagi… sampai kaka nangis-nangis. Tapi ibu inget banget waktu itu Kaka pulang sekolah lompat-lompat seneng karena nilainya bagus. Belum pernah ibu liat Kaka seseneng itu.

Coba Kaka inget-inget lagi perasaan Kaka waktu Kaka bisa persamaan linear dua variabel itu gimana rasanya?  Si Kaka menjawab: bla…bla..bla..

“Iya, Merasa bisa dengan kerja keras itu penting banget. Karena bikin kita percaya sama diri kita. Kadang kita menyerah karena kita merasa sendiri. Nah, itu sebabnya ibu nemenin Kaka.” 

13_tree-hearts-handsYups…orangtua dan guru adalah sama-sama pendidik anak. Tapi kelebihan orangtua adalah, kita  punya momen -momen kehidupan sehari-hari yang tak dimiliki guru. Momen-momen kehidupan sehari-hari itu, adalah media jitu untuk mengajarkan tentang nilai kehidupan. Kapan dan dari siapa lagi anak dan juga kita sendiri  belajar nilai kehidupan ?

sumber gambar : http://crosslight.org.au/2013/06/01/learning-for-life-2/

Menasihati anak tanpa kata

Salah satu hal klise yang sering disebut sebagai faktor penting dalam sebuah hubungan adalah KOMUNIKASI. Kalau komunikasi baik, hubungan baik. Kalau komunikasi buruk, hubungan pun buruk. Dalam semua bentuk relasi. Dan sejatinya, sepanjang hidup kita diisi oleh relasi. Bahkan identitas diri kita pun, kalau kita hayati, menunjukkan relasi. Saya anaknya …..; saya ibunya ….; saya saudaranya …..; saya istrinya ….. Anak, ibu, saudara, istri, itu adalah identitas yang menunjukkan relasi.

Nah, tapi… mengkomunikasikan sesuatu dengan baik, itu memang menantang, tidak selalu mudah. Kalau kita lagi curcol sama temen tentang hubungan kita yang sedang tidak baik dengan seseorang, teman kita umumnya akan mengatakan: “ya kamu ngomong aja atuh sama dia…” Dan kita akan bilang “gak semudah itu….”. Yups, berkomunikasi memang tak sekadar ngomong. Kalau kita udah berhasil ngomong pun, apakah dampaknya yang kita omongkan  sesuai dengan harapan kita? belum tentu.

Salah satu tantangan buat para emak adalah gimana caranya “ngomong”, “menasihati” anak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, dengan efektif. Yang umumnya terjadi adalah, emak ngomeeeeeel panjang x lebar = luas, anaknya lempeeeeng aja. Dalam tulisan ini saya mau cerita tentang eksperimen yang saya lakukan pada anak-anak saya. Eksperimen tentang gimana cara yang efektif mengubah perilaku anak-anak sesuai harapan saya, tanpa harus ngomel.

Jadi ya, di Psikologi itu ada ilmu namanya psikologi kerekayasaan. Human factor enginering. Apa yang direkayasa? yang direkayasa adalah lingkungan manusia. Untuk apa? untuk mengubah proses mental yang terjadi dalam diri manusia yang mendasari perilaku tertentu, sehingga perilakunya juga berubah. Sssstt…Psikologi UNPAD adalah satu-satunya Fakultas Psikologi yang membuka Program S2 Magister Psikolog Kerekayasaan loooh… (sempet-sempetnya promosi haha…).

Contohnya gimana sih aplikasi psikologi kerekayasaan dalam kehidupan sehari-hari? Suatu hari, saya sedang antri di sebuah rumah sakit. Saya adalah orang keempat yang datang. Kami berempat, saya dan tiga orang di depan saya berusaha membuat antrian. Berjejer ke belakang. Eeeh…orang kelima dan seterusnya gak mau nerusin antrian itu…langsung ke depan loket…semakin banyak…semakin banyak…bejubel. Akhirnya ribut. Petugas loket teriak: antri pak..antri bu….kasian dia. Diprotes sama yang antri, tapi bingung juga karena dokumen udah numpuk, orang-orang mulai “berantem”…Syukurlah kemudian ada petugas yang membawa penghalang dan membuat “garis antrian”. Sebuah garis yang dibatasi kiri-kanan, hanya cukup untuk satu orang. Kayak di BANK gitu loh…”Alat” itu “memaksa” orang untuk berjejer ke belakang satu demi satu. Udah aja….rapi aja.

Nah, ceritanya saya menerapkan prinsip “mengubah lingkungan untuk mengubah perilaku” ini pada anak-anak saya. Kejadiannya udah lama sih. Tahun lalu. Waktu itu, saya melihat si bujang kecil yang sudah duduk di kelas 4, males banget baca buku pelajaran. Oke, memang buku pelajarannya menyajikan maeri tidak dengan cara yang menarik buat anak. Saya punya 4 lemari buku  untuk anak-anak, dari berbagai seumber. Ada  yang tentang matematik, ada yang tentang sejarah, nabi, pengetahuan alam, ensiklopedia, dan segala macamnya. Seri buku-buku edukatif yang rajin saya cicil sejak belum menikah dulu hehe. Lalu saya pilihlah buku-buku yang sesuai dengan tema pelajarannya. Lemari buku kami ada di lantai bawah, sedangkan aktivitas keseharian kami banyak di atas.  Saya minta si bujang kecil baca buku yang sudah saya pilih itu. Gak dilakukan.

Hhhhmmm..menggunakan prinsip kerekayasaan tadi, saya bawa buku-buku itu ke atas, ke ruangan tempat kami berkumpul, saya beli lemari pajangan buku yang lucu, saya kasih karpet berbulu empuk, Lalu saya simpen buku-buku yang ingin anak-anak saya baca disitu. Ada buku tentang kisah Rasulullah, ada buku-buku pengetahuan yang sesuai dengan tema pelajaran, ada buku novel berkualitas yang saya ingin dibaca si sulung, komik-komik agama buat dibaca si gadis kecil, buku worksheet buat si bungsu, dan buku-buku yang saya lihat belum dibaca sama anak-anak. Saya gak ngomong apa-apa … daaaan… yeay….eksperimen say berhasil ! setiap ada waktu luang, anak-anak akan selonjoran di karpet empuk itu, sambil….baca buku ! Nah, jadi…tiap minggu saya ganti buku-bukunya dengan buku-buku lain yang saya pengen anak-anak baca. Hhhmm..hemat omelan berapa ratus kalimat tuh hehe…

Lalu, saya lebarkan eksperimen ini pada hal-hal yang lain. Saya ingin “menasihati” si bungsu 4 tahun untuk mandiri ambil minum sendiri atau bikin susu sendiri. Waktu dia minta minum dan saya bilang: “dede ambil sendiri dong, kan gampang tinggal pencet air dari galon”; dia jawab : “tapi dede takut gelasnya pecah”. Oh, baiklah…saya ganti lah semua gelas di rumah saya dengan gelas berbahan non kaca. Dan itu membuat si bungsu leluasa ambil minum sendiri. Kalau uda gini, tinggal kita “recognition” : “wah, dede mandiri banget ya” . Senyum manis dan binar mata si kecil itu, tak akan tergantikan dengan apapun. Seiring dengan tumbuhnya bunga “i believe i can!” dalam hatinya. Gitu kata buku sih ….;)

Saya ingin menasihati si bungsu untuk mandiri makan sendiri, waktu saya bilangin dia jawab: “tapi dede takut sayurnya tumpah ke kursi…nanti kotor..nanti ibu marah” (ssst…seperti juga emak-emak yang lain, saya stress lah kalau kursi ketumpahan sesuatu…iiih…warnanya kan jadi jelek banget dan kesannya jorok gitu…wajar lah itu mah). Denger jawaban si bungsu, si abah langsung mendapat kesempatan: “Tuh de…kataku juga apa…pas anak-anak masih kecil gini…kita ganti lah kain kursi dan sofa kita   jadi yang gak tembus air, warna gelap, biar bisa di lap…dirimu gak stress, anak-anak juga lebih leluasa”. Yups…maka kulit sofa pun kami ganti, saya ajarkan kalau tumpah gak apa-apa, lap aja. Dan kini, saya bisa dengar anak-anak melapor : “ibu, teteh tumpahin susu…tapi udah teteh lap” …. everyone is happy…

Waktu mas dengan semangat 45 pengen ganti TV pake layar yang lebar, saya menggeleng dengan mantap. Membeli TV layar lebar, plus sofa nyaman di depan TV, berarti kita “menasihati” anak untuk nonton TV terus …lha wong enak banget kok…Sofa nonton TV itu, emang didesain biar secara anatomis tubuh nyamaaaan duduk di situ dalam jangka waktu lama. Begitu juga rengekan anak-anak untuk pasang VCD  player di mobil biar bisa nonton film kesukaan mereka di mobil, saya tolak mentah-mentah. Saya sangat menikmati obrolan seru dan beragam permainan yang “terpaksa” diciptakan anak-anak kala kemacetan melanda, dibanding keantengan dengan menonton video di dalam mobil.

Pada anak, saya percaya bahwa mengubah lingkungan adalah cara alternatif yang jitu untuk menasehati. Buat ibu-ibu yang harus beraktivitas di luar rumah, anak kita lebih seneng main tablet dibanding baca buku? mungkin karena kita meninggalkan anak di rumah dengan tablet dan chargernya. Gimana kalau kita ubah: tinggalin tablet yang cuman tinggal 20 persen batrenya, chargernya kita bawa, lalu kita tempatkan lemari buku dan mainan edukatif di tempat biasa ia main di rumah.

Kita bisa membuat si TK A tergantung pada kita untuk memakai sepatu karena belum bisa membedakan kiri dan kanan,  membuat kita mengomel karena dia salah pake sepatu, atau …. kita bisa potong stiker smiley di tengahnya, tempelin di masing-masing sepatu, dan kita ajarin si anak: kalau mau pake sepatu, si smileynya harus ketemu jadi senyum ya…

Kalau kita liat di sekolah TK yang bagus, kita akan liat wastafelnya dibikin pendek, jadi anak bisa cuci tangan tanpa bantuan. Satu design itu, bisa menggantikan beragam program dan kata-kata untuk membuat anak merasa “aku bisa” dan “aku mandiri”.

Jangankan pada anak loh…pada orang dewasa aja, rekayasa lingkungan ini berlaku. Saya sering mengalami kesulitan mengendalikan frekuensi posting di facebook. Tentu posting yang gak jelas. Saya pengen ubah perilaku saya…tapi susah…. baiklah…kenapa saya bisa sering banget posting? karena facebooknya terinstall di hape saya. Oke, saya uninstal. Minimal, saya cuman bisa akses facebook pas buka laptop, dan itu jauh lebih terbatas dibanding buka hape. Kalau udah merasa “waras”, baru saya install lagi. Gak waras lagi? uninstall lagi. Soalnya kalau udah se”tua” saya gini, siaapa coba yang mau nasihatin? ya nasihatin diri sendiri hehe…

talk-observeMaka, kalau kita udah capek ngomel ini itu gak berhasil merubah perilaku anak-anak kita, maka mungkin kita perlu berheneti bicara dan mulai mengamati serta mendengarkan. Seperti waktu si bungsu bilang “dede takut gelasnya pecah”… itu hal yang gak kepikiran sama saya loh…

 

Setelah mengamati dan mendengarkan, mungkin yang perlu kita ubah adalah lingkungan. Tata letak di rumah kita, material benda-benda di rumah kita, apa yang mudah dilihat, didengar, dijangkau anak, mungkin bukan hal-hal yang kita inginkan. Mungkin itu yang harus diubah. Dan mumpung anak kita masih anak-anak, mengubah perilakunya dengan mengubah benda fisik, jauh lebih mudah dibanding mengubah dengan kata-kata.

Selamat mencoba 😉

Jika kita tak dimaafkan

Meskipun secara syar’i momen  idul Fitri bukanlah momen untuk saling memaafkan, namun menurut saya, saling memohon maaf dan memaafkan saat idul Fitri adalah budaya yang baik dan sangat menguntungkan. Jika kita manfaatkan momen ini dengan kesungguhan dari lubuk hati paling dalam, maka momen tahunan ini bisa jadi momen penyelamat kita di akhirat nanti.

Mengapa? Karena kesalahan dan  dosa-dosa yang kita lakukan, berdasarkan subjeknya bisa dibagi dua: kesalahan/dosa kepada Allah dan kesalahan/dosa kepada manusia. Syarat diampuninya kesalahan/dosa adalah, apabila subjek yang kita bersalah/berdosa padanya ridha dan memaafkan.

Seorang ustadz mengatakan bahwa kesalahan/dosa pada Allah lebih “mudah” untuk kita mohonkan ampunanNya.  Dengan taubatan nasuha -taubat yang sungguh-sungguh; merasa menyesal dan berupaya keras untuk tak mengulanginya lagi- dan keyakinan bahwa Allah itu maha penerima taubat juga maha pengasih dan maha penyayang, kesalahan/dosa kita bisa diampuniNya.

Kesalahan/dosa pada manusia, selain bertaubat juga perlu mendapatkan ridho dan maaf dari orang bersangkutan yang kita bersalah/melakukan dosa padanya. Nah, di poin inilah…sebenarnya kita harus benar-benar berhati-hati. Jika kita melakukan kesalahan/dosa pada seseorang, lalu ia tidak memaafkan kita, maka urusannya akan berlanjut sampai ke akhirat. Jadi kesalahan pada manusia itu, harusnya tidak dianggap sepele loh….

Tanpa sadar memaki orang di jalan raya, misalnya sampai orang itu merasa sakit hati. Gimana coba minta maaf dan keridhoannya? Menulis status yang menyinggung perasaan orang lain sampai orang lain itu terluka ….gimana minta maafnya? menulis tulisan di blog yang menyinggung orang lain….banyak sekali potensi kita melakukan kesalahan dan dosa pada sesama manusia.

Maka, sekali lagi, sesungguhnya kita harus bersyukur difasilitasi oleh budaya untuk memiliki momen khusus mohon maaf dan memberi maaf pada orang-orang yang sering berinterkasi dengan kita, dalam acara halal bi halal. Bertahun-tahun mengikuti seremoni halal bi halal baik di keluarga maupun di tempat aktifitas, saya melihat ada yang memang menjalani acara bermaaf-maafan (musafahah) itu sebagai momen rutinitas semata. Nah, sikap kayak gini mungkin yang bikin seorang teman saya berkata “gue gak suka sama halal bi halal. Seolah-olah semua orang boleh melakukan kesalahan semau dia, dan lalu dengan entengnya tanpa kesungguhan, mohon maaf dan berasumsi kesalahan dimaafkan saat halal bi halal”.

Sebagian orang yang lain, saya lihat memanfaatkan momen halal bi halal ini dengan sungguh-sungguh. Saat menjabat tangan saya, mereka sungguh, meminta maaf. Kadang sampai basah mata mereka karena air mata. Nah, pengen banget mencontoh tipe orang-orang ini. Memanfaatkan budaya baik ini untuk sungguh-sungguh memohon maaf dan memberikan maaf. Seiring dengan tangan saling menggenggam, luka hati pun saling lebur.

Tentang hakikat memohon maaf, memberi maaf dan saling memaafkan sudah pernah saya tuliskan, salah duanya di tulisan https://fitriariyanti.com/2013/08/20/halal-bi-halal-bermaafan-atau-berekonsiliasi/ dan https://fitriariyanti.com/2014/08/04/halal-bi-halal-ber-maafan-atau-ber-rekonsiliasi-versi-2-0/

Masalahnya adalah, bagaimana kalau kita sudah sungguh-sungguh meminta maaf, namun orang yang terluka hatinya oleh kita, tak memaafkan? Nah, pastinya urusan ini akan sampai di akhirat nanti, saat kita berada di hari perhitungan.

Ada satu ilmu yang baru saya peroleh di ramadhan tahun ini. Dalam salah satu kajian tafsir Al Misbah-nya, pak Quraish Shihab menyoal hal ini dan menyampaikan bahwa dalam kondisi kita tak dimaafkan, solusi yang bisa kita lakukan adalah memohon pada Allah agar Ia Sang Maha mengambil alih persoalan ini.

Beliau menganalogikan seperti kita punya utang pada seseorang, tapi kita tak sanggup bayar. Maka yang bisa kita lakukan adalah, mendatangi orang kaya, lalu meminta orang kaya itu untuk mengambil alih utang kita. Demikian pula untuk kasus saat kesalahan kita tak dimaafkan oleh orang lain. Kita mohonkan Sang Maha untuk mengambil alih “utang” kita pada orang-orang yang tak memaafkan kita saat mereka menuntut kita di akhirat nanti.  Kita berharap, RahmatNya yang seluas langit dan bumi, akan melindungi kita dari kerugian disebabkan tuntutan orang-orang yang tak memaafkan kesalahan kita di dunia.

maaf-3Minggu depan, kita akan menghadiri banyak acara halal bi halal. Kita manfaatkan momen itu untuk sungguh-sungguh memohon maaf dan memaafkan. Sambil menyalami atau mengirim wa pada setiap orang, bayangkan kesalahan-kesalahan yang kita ingat terhadap orang itu, baik yang mereka ketahui ataupun yang tak mereka kerahui. Sesali lalu tekadkan untuk tidak mengulanginya lagi. Dan karena mungkin kita tak tahu siapa saja yang sudah memafkan kita dan siapa yang tak ridho pada kita, maka kita sungguh-sungguh berdoa juga, memohon Dia Sang MAha untuk mengambil alih urusan kita dengan orang-orang yang tak memaafkan kita di akhirat nanti.

 

Kediri, 3 Syawal 1437. The last day.

sumber gambar : https://maskakank.wordpress.com/2014/07/27/makna-dibalik-kata-maaf/

 

Jadi ortu remaja: jangan baper. Kenapa?

Dalam tulisan sebelumnya, https://fitriariyanti.com/2016/06/06/adakah-remaja-dalam-islam/, saya menyampaikan bahwa entah diberi nama apa, namun  nyatanya, ada masa “transisi” dalam diri seorang anak untuk “belajar menjadi dewasa”, yang dalam literatur psikologi dinamakan masa remaja.

Dalam proses transisi ini, terjadi perkembangan fisiologis dan neuropsikologis yang pada hakikatnya menyiapkan anak untuk menjadi individu dewasa. Misalnya, yang paling menonjol adalah aktifnya sistem reproduksi seksual, yang Allah siapkan agar si anak yang akan menjadi dewasa ini, siap untuk melanjutkan keturunan. Perkembangan kognitif yang berubah adalah media yang Allah siapkan agar si anak yang tadinya “tergantung” pada orangtua, mulai bisa “bertanggungjawab atas dirinya sendiri” sebagai ciri utama manusia dewasa.

Memang dampak dari perubahan yang terjadi di dalam diri si remaja, membuat perilakunya menjadi berbeda. Dan pada dasarnya, ketika terjadi perubahan pada diri anak, maka agar terjadi keselarasan dengan lingkungan, maka lingkungan juga harus berubah. Apa yang berubah? cara. Bukan nilai yang kita tanamkan. Dalam hal ini, lingkungan saya maksudkan adalah kita sebagai orangtua. Jika anak berubah namun orangtua tidak berubah, maka disequilibrium atau ketidakseimbangan terjadi. Bentuk nyatanya: pertengkaran ortu-anak, kekesalan ortu-anak yang bisa bermuara pada menjauhnya ikatan hati ortu-anak.

Situasi inilah yang menurut literatur-literatur parenting, membuat pengasuhan orangtua pada remaja menjadi “chalenging”. Terutama di masa remaja awal, 10-13 tahun. Hal ini semakin terasa pada keluarga yang memiliki remaja untuk pertama kalinya, alias si sulungnya yang masuk masa remaja. Perhatian orangtua pada si sulung remaja, biasanya terbagi pada adik-adiknya.  Hal ini membuat upaya untuk “mencari ilmu” tentang pengasuhan remaja pun menjadi kurang optimal.

Parenting pada anak prasekolah biasanya sangat digemari ortu, karena biasanya pada saat itu anak mereka baru satu atau dua. Parenting masa SD….tidak terlalu banyak. Parenting remaja? jarang. Padahal, tubuh remaja itu tidak transparan. Kita tidak bisa melihat secara konkrit bahwa ada yang berubah dalam dirinya. Itu membuat kita sering “lupa” bahwa ada bagian dari dirinya yang sudah “dewasa”, ada bagian dari dirinya yang “masih anak-anak”. Mereka pada dasarnya butuh bantuan kita sebagai orangtuanya untuk membantu menyelaraskan aspek-aspek perkembangan dalam dirinya, belajar dari anak menjadi dewasa.

Meskipun sebelum si sulung masuk ke masa remaja saya sering bertemu klien remaja, membaca literatur tentang remaja, menyelami masalah-masalahnya, memahami keluhan-keluhan orangtuanya, namun tetap…penghayatan terdalam adalah ketika menjalani fase itu, fase menjadi orangtua remaja. Saya ingin menceritakan satu kejadian yang membuat saya merasakan sekali proses belajar menjadi orangtua remaja.

Beberapa waktu yang lalu, si sulung 12,5 tahun minta dibelikan kerudung hitam langsungan untuk acara sekolahnya, solo bivak selama 3 hari. Tapi kemudian dia bilang, “Ga apa-apa bu, kalau ibu engga sempet. Kaka mau titip temen aja. Kaka punya kok uangnya”. Tapi  tentu saya berupaya untuk membelikannya. Saya ingat betul, waktu itu jadwal saya padet banget. Tiap hari baru beres jam 5 dari Jatinangor. Sedangkan kalau saya telat pulang, berarti anak-anak juga telat makan malam. Tapi suatu hari, saya sengaja meminta anak-anak jemput ke Jatinangor, beli makanan sehingga anak-anak makan malam di mobil, jadi saya bisa  mampir ke sebuah toko kerudung remaja, memilih-milih model kerudung berwarna hitam. Ukurannya? M. Lalu saya simpen di meja kerja saya. Saya bilang ke si sulung, saya sudah belikan kerudungnya.  Tiga hari kemudian, saya melihat tiga buah kerudung hitam itu masih tergeleteak di meja saya. Hari itu hari terakhir packing untuk acara di sekolahnya. Saya tegur dia. Dalam hati, ada perasaan kesal. Rasa “tidak dihargai” muncul. Padahal effort saya untuk belikan keruudng itu, dalam kesempitan waktu saya, menurut saya cukup besar. Si sulung bilang “iya”.

Hari h, di apun berangkat. Pake kerudung item. Tapi bukan yang saya belikan. Modelnya beda. Menurut saya lebih jelek. Ukurannya S. Saya tanya “Kaka itu kerudung darimana?”. Dia bilang “Kaka titip beli ke temen”. Saya tanya lagi: “kerudung yang ibu beliin gimana?”. “Iya Kaka bawa” katanya. Oke. Meskipun agak ngeganjel dan menangkap sesuatu yang berbeda dari nada bicaranya. Siangnya, saya tidak sengaja buka lemarinya. Hwaaaa hiks….3 kerudung yang saya belikan, tergolek manis di tumpukan lemarinya. Sedih? Merasa tidak dihargai? ya.

Seperti biasanya saat saya “kesal” sama si sulung, langkah pertama yang saya lakukan adalah …cari tempat sampah. Tempat sampah emosi maksudnya. Curcol. Sama siapa? sama best friend dong. Si abah. Saya telpon si abah yang sedang di luar kota. Bla…bla…bla…bla…Sekitar 10 menit. Dan si abah tau persis apa yang harus ia lakukan. Mendengarkan. Dan ditutup dengan kalimat: “dirimu kan tau ilmunya. Nanti aku ngobrol sama dia” .

Baiklah. Emosi sudah keluar. Sekarang bisa berpikir jernih. Pertama, saya selalu ingat kalimat-kalimat dari Om (atau Opa ya ? hehe…) Laurence Steinberg, psikolog yang fokus meneliti mengenai remaja. Dalam berbagai artikelnya, berdasarkan penelitian-penelitiannya, beliau mengatakan bahwa biasanya, yang menjadi sumber “pertengkaran” orangtua dan remaja adalah perbedaan dalam hal-hal yang sifatnya “permukaan”. Bukan karena hal-hal yang sifatnya nilai-nilai dasar. Mengapa? karena nilai dasar itu penanamannya kan berproses. Kalau keluarga menanamkan sebuah nilai terus menerus pada anak, maka kalau nilai itu terhayati, gak akan ujug-ujug tercerabut dari si anak di masa remajanya.

Oke. Apa tadi masalahnya yang bikin saya nyesek? si sulung pake kerudung ukurannya S. Tapi masih menutupi dadanya.  Modelnya gak sebagus model yang saya pilihkan? bentar…bentar…itu masalah “permukaan” atau masalah “nilai dasar?” hehe…jujur sih, itu masalah selera. Gak prinsip.

Tapi kan dia tidak menghargai orangtua! satu sisi batin saya berteriak. Wajar dong kalau nanti tiga hari kemudian dia pulang saya bilang ke dia: “Kaka, kaka berdosa loh….bikin ibu sedih dan kesal. Tau gak…ibu udah berkorban beliin Kaka kerudung…bla..bla..bla..Engga boleh loh Kaka, bikin ibu sedih. Ingat, surga itu ada di telapak kaki ibu”. Salah gak kalau saya bilang gitu? engga. Emang benar kan, fakta dan ajaran agamanya gitu. Apalagi kita sebagai ibu punya satu senjata: keridhoan. Tak terhitung ajaran agama yang menyatakan pentingnya keridhoan seorang ibu untuk anaknya, bukan?

Lalu kemudian saya teringat senior saya. Putra pertamanya kini berusia 18 tahun. Beberapa tahun yang lalu, dalam perbincangan kami, ia menceritakan bahwa puteranya ini memiliki hobi tertentu. Hobi yang positif dan konstruktif sih, meskipun “tidak islami”. Tapi tak keluar dari koridor baik dan benar.  Hobinya ini membuat si anak yang waktu itu masih di SMP, harus mengikuti beragam kegiatan dan bertemu komunitas sejenis, yang ia khawatirkan berdampak negatif. Oleh karena itu, setiap kali puteranya meminta izin mengikuti kegiatan tersebut bahkan sampai ke luar kota, ia akan mengizinkan dengan satu syarat: ia ikut. Repot, ya. Kenapa harus gitu? Bukankah kita bisa gak mengizinkan? tanya saya waktu itu. Jawaban senior saya itu, membuat dahi saya berkerut sat itu. “Aku tau Fit, kalau aku gak izinin, dia tetap akan pergi karena buat dia ini tuh penting banget. Kalau dia pergi tanpa seizin aku, dia kan berdosa. Nah, oleh karena itu aku mengizinkan dengan syarat aku ikut”.

marvel-greatSaya baru mengerti logika itu, pada saat mengalami kejadian “kerudung hitam” dengan si sulung. Seperti kata Uncle Ben-nya spiderman, with great power comes great responsibility. Sebagai ibu, kita punya great power. Doa. Kerdihoan. KIta punya pilihan, apakah akan menggunakanpower ini  untuk “menuntutnya”, mengukuhkan posisi kita sebagai “otoritas”. Atau, kita berusaha untuk memanfaatkan power ini untuk “melidunginya”.

 

Minggu lalu, Ustadz Aam di Majelis Percikan Iman menyinggung hal ini. Bahwa seorang ibu harus punya kebijaksanaan untuk meridhoi sesuatu yang ia tak setujui dari anaknya. Tentunya selama pilihan anaknya tak keluar dari koridor kebaikan dan kebenaran. Hal ini beliau sampaikan menanggapi  wawancara dengan dua orang hafidz/hafidzah, yang salah satunya mengatakan bahwa awalnya orangtuanya tidak ridho ia menunda kuliah untuk menghafal AlQuran. Selama masa itu, sulit buatnya menghafal. Hingga pada suatu hari, ia menemui orangtuanya, berbincang, sampai orangtuanya mengatakan Ridho dengan pilihan putrinya. Setelah itu, entah mengapa…mudah sekali buatnya menghafal. Sang hafidzah mengatakan bahwa ridho orangtua, ia hayati sebagai pembuak pintu kemudahan menjalani pilihannya.

Tapi si sulung udah berbohong. Ya, saya punya pilihan. “menghukumnya”, atau “mendidiknya”. Kalau saya pilih menghukumnya, saya bisa tegur dia. Kalau saya  pilih mendidik, saya bisa ajak ngobrol dia. “Kaka, ibu tahu Kaka engga suka kerudung yang ibu berikan. Lain kali, kalau Kaka engga suka, lebih baik Kaka bilang. Ibu ngerti, mungkin Kaka engga enak sama ibu. Ya, ibu juga pengennya Kaka pake sih, tapi kalau Kaka bilang, ibu akan berusaha untuk menghargai Kaka. Daripada Kaka bilang iya tapi kenyataannay Kaka engga pake. “

Ya, sebagai orangtua, kita selalu punya pilihan. Tak hanya pilihan bersikap tidak benar atau benar, tapi juga pilihan bersikap benar atau bersikap bijak.

Kesimpulannya, sesuai judul tulisan ini, salah satu hal yang harus kita pelajari sebagai orangtua dari remaja adalah: jangan baper. Jangan bawa perasaan. Tersinggung, tak merasa dihargai….untuk hal-hal atau persoalan-persoalan yang sifatnya “permukaan”, tak prinsip, harus kita latih untuk mudah menjadikan perbedaan antara keinginan kita dan pilihan si remaja, menjadi  persoalan kecil yang bisa diabaikan.

Dan kalau menurut penghayatan saya, kita memang perlu sungguh-sungguh berlatih ini saat anak kita masih remaja. Mengapa? karena saat ia dewasa, anak kita punya hak sepenuhnya untuk menentukan pilihan-pilihan besar dalam hidupnya. Dan kita harus menghargainya. Meridhoinya. Ajaran agama mengisyaratkan hal itu. Bukankah pernah datang seorang wanita pada Rasulullah dan bertanya apakah boleh ia keberatan dengan jodoh yang ditentukan oleh ayahnya, dan Rasulullah mengatakan boleh?

Di masa depan, saat anak kita menjadi dewasa, akan semakin banyak pilihan-pilihan besar yang akan ia putuskan sendiri, yang tak selalu sesuai dengan keinginan kita. Pilihan jurusan kuliah, pilihan jenis pekerjaan, pilihan pasangan hidup. Maka, perbedaan-perbedaan kecil yang kita hadapi dengan si remaja, sesungguhnya adalah fasilitas dari sang Maha  untuk mengasah sikap mental kita. Belajar menganalisa: ini prinsip gak? melanggar kebaikan dan kebenaran gak? kalau engga, kalau perbedaannya masalah selera, disitu kita harus belajar bijak dan legowo. KiIta harus berlatih karena kalau engga, nanti kita sulit dan menyulitkan anak kita saat ciri utama kedewasaannya, yaitu membuat keputusan sendiri, kita intervensi.

Jadi, kalau kita latihan dari sekarang, semoga nanti kita bisa mengatakan: “Sebenarnya ibu pengen kamu jadi dokter. Apalagi kamu udah diterima di Fakultas Kedokteran. Tapi kalau kamu maunya jadi wartawan, engga apa-apa. Ibu ridho. Ibu doakan semoga kuliah kamu lancar, jadi wartawan yang baik, yang jujur, berintegritas”. Atau kita bisa mengatakan: “Sebenarnya ibu pengen punya menantu yang satu suku, yang pake kacamata, yang humoris. Tapi kalau kamu sudah memilih dia yang beda negara, gak pake kacamata dan pendiam, it’s oke. Toh dia sholeh. Kewajiban-kewajiban agama tidak pernah ditinggalkan, akhlaknya baik. Ibu Ridho”.

Menurut pengalaman saya dengan klien-klien saya, konflik dengan orangtua atau dengan anak, adalah salah satu konflik yang paling membuat batin menderita. Dan seringkali, sayangnya, konflik itu, bukan pada hal-hal yang sifatnya prinsipil, tapi pada hal-hal “permukaan”, namun kita tak terbiasa melatihnya.

Wallahu alam. Semoga bermanfaat.

sumber gambar : https://hendosays.wordpress.com/tag/great-power/

 

 

 

Dayung, Dayung, Dayung ….

Minggu lalu, saya membaca sebuah ebook berjudul “How To Build a Happy Family”. Pengarangnya adalah Bo Sanchez, yang setelah saya googling ternyata penulis terkenal dari Filipina. Pantesan meskipun bukunya terdiri dari 148 halaman, saya bisa membacanya sampai tuntas kurang dari 2 jam. Ringan dan enakeun bacanya.

Saya terkesan dengan salah satu perumpamaan yang diungkapkan oleh penulis dalam salah satu chapter bukunya, Chapter 9 hal. 49: Why Our Hearts Move Apart.  Di chapter ini, beliau memperkenalkan istilah “relationship drift”. Kalau dibahasaindonesiakan artinya …. “hubungan yang hanyut” (??:). Beliau menyampaikan bahwa relationship drift ini adalah suatu penyakit seperti kanker, yang fatal akibatnya namun kita seringkali tak merasakannya. Jika kita biarkan, maka “relationship drift” ini akan berujung pada “relationship dead” begitu beliau menulis.

Beliau mengumpamakan kita, anggota keluarga adalah perahu-perahu yang tengah mengapung di lautan. Kalau kita diam, maka arus, secara alamiah, akan saling menjauhkan perahu-perahu itu. Ini yang namanya “relationship drift”. Saat kita, tak sadar sedang saling menjauh dari hubungan dengan anggota keluarga yang lain. Menurut beliau, susahnya, “penyakit” ini sulit dideteksi. Karena tak ada yang mencolok dalam prosesnya. Secara nyata di rumah kita, relationship drift ini tidak berbentuk pertengkaran. Tapi tenggelam dalam rutinitas masing-masing, hidup dalam “dunia psikologis” masing-masing, saya bayangkan adalah bentuk konkrit dari relationship drift ini.

Apa yang harus kita lakukan agar penyakit ini tak menggerogoti keluarga kita? kembali lagi ke perumpamaan perahu tadi. Penulis mengatakan dalam buku ini, yang harus kita lakukan adalah Paddle! If you don’t want to drift, you’ll have to go against the flow and paddle your way to each other. You’ll have to work hard, muscle your way, sweat like crazy and fight to be together (hal. 51).

Dayung…dayung….dayung !!! Kayuh…kayuh…kayuh…!!! Gagasan mengenai upaya secara “sadar” dan “sengaja” melawan arus rutinitas masing-masing anggota keluarga ini, buat saya pribadi selalu mempesona. Dalam salah satu tulisan saya (yang saya lupa lagi yang mana hehe…) rasanya saya pernah menulis mengenai seorang senior saya, yang dalam suatu perbincangan mengatakan pada saya bahwa ia sengaja hanya memiliki satu mobil yang dipakai oleh suami, dirinya dan anaknya yang telah bekerja. Melihat kesuksesan finansial senior saya tersebut, saya yakin itu bukan alasan dari ketidakmampuannya membeli mobil masing-masing. Meskipun konsekuensinya ia harus menunggu sampai sore untuk dijemput puterinya dan datang jauh lebih awal karena di drop oleh puterinya. Ia bersikukuh dengan cara itu. Saya masih ingat kata-kata beliau: “kalau engga gini, kapan lagi coba waktu kita untuk ngobrol dan ketawa-ketawa bareng?”.

Ya, ya….tanpa kita sadari, memang aktifitas dan rutinitas keseharian kita, bisa membuat kita hanyut dan tanpa sadar saling menjauh. Ayah yang kelelahan mencari nafkah, ibu yang ter-occupied dengan urusan dapur dan anak-anak atau urusan aktifitasnya di luar rumah, anak-anak yang tengelam dalan tugas-tugas sekolahnya, remaja yang tenggelam dan gadgetnya… Kata tak sadar penyakit mematikan mengintai kita. “Relationship dead”.

Maka, yang harus kita lakukan adalah…dayung, dayung, dayung. Bentuknya? setiap keluarag punya caranya masing-masing. Ada yang lewat ritual makan bersama di meja makan, ada yang mengusahakan lewat jadwal sholat bersama, atau seperti saya: selalu menghabiskan 2 hari weekend dengan full quality.

Salah satu “arus” yang potensial menjauhkan hubungan pasangan adalah, ketika istri beraktifitas di luar rumah, atau kerennya menjadi “working mom”. Entah karena alsaan finansial, aktualisasi atau profesi, namun harus disadari bahwa adanya jalinan komitmen dengan “pihak lain” dalam bentuk aktifitas di luar rumah: dengan bos, dengan tupoksi, dengan tim kerja, potensial menjadi arus kuat yang menjauhkan.

13450802_10209661842643686_3097426860658458444_nMaka, dalam sebuah pernikahan, kesadaran mendayung untuk selalu menjadai agar hubungan tetap hidup, mengakar dan bertumbuh harus selalu ada. Pembaharuan perjanjian-perjanjian,  pembaharuan dukungan dan cinta harus selalu dilakukan.

Atas dasar inilah kegiatan di samping ini dilaksanakan.Kita tak hanya akan berbagi pengetahuan, tapi juga semoga bisa menyentuh penghayatan dan keterampilan kita untuk mengokohkan hubungan.

Ada yang mengatakan bahwa Ramadhan adalah bulan keluarga. Bagi yang membutuhkan, semoga keikusertaan dalam acara ini bisa kita niatkan dan tercatat sebagai upaya untuk mempertahankan sakinah mawaddah wa rohmah di keluarga kita tetap ada, tumbuh dan mengakar.

Insya Allah.

Previous Older Entries