Adakah “remaja” dalam Islam ?

Suatu sore, saya menyaksikan adegan yang membuat saya pengen ketawa guling-guling. Si gadis kecil 7 tahun yang sedang asyik membaca buku, tiba-tiba bangkit, memakai kacamata plastik hello kitty-nya, mengambil pulpen, dan mendekati si sulung 13 tahun  yang sedang asyik ber-hape ria. Dengan gaya reporter, si gadis kecil berkata:

Gadis kecil : “Kaka, apakah kaka mudah tersinggung?”

Si sulung : “Apaan sih kamu? ganggu aja…”

Gadis kecil : “Ya, betul. Barusan Kaka menunjukkan perilaku mudah tersinggung. Pertanyaan selanjutnya: apakah Kaka perasaannya mudah berubah-ubah dengan cepat?”

Si sulung: “Ih, kamu….gak ada kerjaan lain apa?” (dan dia pun beranjak ke kamarnya).

Lalu si gadis kecil pun mendekati saya, menunjukkan sejumlah poin dengan kolom checklist yang ada di buku “pubertas” yang sedang dibacanya. Lalu dia berkata: “Bu, Kaka positif remaja bu….bener kata ibu”.

Adegan itu, kepolosan si gadis kecil, lucuuu banget. Memang sejak dua tahun lalu, sejak si sulung yang baik hati, tidak sombong dan super ngemong itu berubah perilakunya menjadi jutek, saya menjelaskan pada adik-adiknya bahwa kakaknya, memasuki masa remaja. Apakah remaja itu? bla..bla..bla…pubertas…bla..bla..bla…hormon…bla..bla..bla..emosi…bla..bla..bla..

Ah, remaja. Pemikiran yang tidak islami. Tak ada remaja dalam Islam. Adanya istilah remaja itu hanya upaya pihak-pihak tertentu untuk menghancurkan generasi muslim. Biar aqil-nya gak bareng sama baligh-nya.

Sudah sering saya dengar dan baca pendapat tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat pada yang berpendapat demikian, saya punya sudut pandang lain.

Bahwa dalam Islam periode perkembangan manusia itu hanya ada dua yaitu belum aqil baligh dan sudah aqil baligh, Yups. Absolutely. Ajaran agama, jika dituliskan dalam Al Qur’an dan sunnahnya, areanya iman. Percaya.

Istilah remaja itu adalah upaya-upaya pihak tertentu untuk menghancurkan generasi muslim, agar kita sebagai orangtua mentolelir “kesalahan-kesalahan” dan memaklumi “proses pencarian jati diri” remaja? No comment. Wallahu alam. Saya tidak punya informasi yang bisa saya percaya untuk mengatakan itu betul atau salah.

Lalu, kenapa saya masih menghidupkan kata dan konsep “remaja” dalam kepala saya, padahal saya muslimah?

Biar saya ceritakan dulu asal-usul munculnya istilah “remaja” ini. Istilah “remaja” atau adolescence, berasal dari bahasa latin yang artinya “to grow into adulthood”. (Tuuuuh ka, dari latin, bukan dari Islam). Mengapa para ahli psikologi memunculkan “remaja” sebagai salah satu tahap perkembangan manusia ? tahap perkembangan manusia itu, dirumuskan berdasarkan karakteristik segi biologis/fisik dan  kognitif/pemikiran yang berdampak pada perilaku yang khas.

Mengapa periode anak dibedakan dengan periode dewasa? karena ada perubahan biologis/fisik dan kognitif/pemikiran yang berbeda secara signifikan pada anak dan pada dewasa. Mengapa individu usia 40 sampai 60 tahun dikelompokkan dalam kelompok yang sama? karena secara umum, karakteristik segi biologis/fisik dan  kognitif/pemikirannya tidak berbeda secara signifikan.

Jadi, adanya istilah REMAJA adalah berdasarkan pengamatan bahwa ada kekhasan perubahan biologis/fisik dan kognitif/pemikiran pada kelompok usia tertentu, antara usia anak dan usia dewasa. Usia berapa? nah, ini pertanyaan gampang yang susah jawabannya. Karena parameter yang digunakan juga  berbeda-beda. Namun intinya, masa ini pada hakikatnya adalah masa dimana anak mengalami perubahan dalam semua aspek perkembangannya  untuk menjadi dewasa. Makanya suka disebut masa transisi.

Mengapa transisi? karena tidak JRENG !!! begitu menginjak usia tertentu, atau begitu mengalami kejadian tertentu, perilaku anak langsung berubah menjadi perilaku yang dewasa. Ada proses. Proses itu terjadi bertahap. Dari segi biologis dalam tataran sel, fungsi otak, yang berdampak pada kemampuan berpikir, yang seterusnya berdampak pada perilaku.

Jadi, kalau yang saya tangkap, literatur psikologi yang menyebutkan ada tahap yang namanya remaja dengan karakteristik perubahan biologis begini, perubahan fungsi otaknya begitu, perubahan emosinya begono, dll… itu bicara tentang fakta empiris. Kenyataan di lapangan. Tinggal kita berpikir kritis: di lapangan yang mana? amerika? negara barat? timur? indonesia? timur tengah? …. apakah di semua tempat ditemukan perilaku  pada usia tertentu yang khas, berbeda dengan perilaku anak-anak dan perilaku orang dewasa di daerah tersebut? Mangga pertanyaan itu dicari jawabannya sendiri.

Saya sendiri, sependek pengalaman saya, melihat bahwa perilaku khas itu -perilaku khas yang bukan perilaku anak-anak namun bukan perilaku dewasa- ada di rumah saya, nyata di lingkungan sekitar saya. Maka, saya sendiri percaya bahwa ada perubahan biologis/fisik dan kognitif/pemikiran yang terjadi pada anak yang akan berproses menjadi dewasa. Mau dinamakan REMAJA, mau dinamakan pemuda, mau gak dikasih nama juga, bukan itu hakikatnya. What in a name…. tapi bahwa secara lapangan kenyataan itu ada, ya.

Lalu, bagaimana dengan ajaran Islam yang mengatakan bahwa setelah baligh anak dituntut dengan kewajiban yang sama seperti orang dewasa? mmmhhh….saya sendiri tidak melihat dua hal ini sebagai suatu pertentangan, versus.

Bahwa remaja putri itu kalau lagi PMS emosinya naik turun, YA. Faktanya demikian. Bahwa dengan kondisi tersebut ia tetap wajib sholat, YA. Itu adalah aturan agama yang tak bisa diganggu gugat. Dimana pertentangannya?

Bahwa anak remaja putra usia 13 tahun itu lagi suka-sukanya sama lawan jenis, YA. Faktanya demikian. Bahwa dengan kondisi demikian ia tetap tidak boleh berzina dan tidak boleh mendekati zina, YA. Itu adalah aturan  agama yang tak bisa diganggu gugat. Dimana pertentangannya?

Tanpa mengurangi rasa hormat pada mereka yang berpendapat bahwa ilmu yang boleh kita dengar, pelajari dan amalkan itu hanya ilmu yang berasa dari dunia islam dan ilmuwan islam, saya memiliki sudut pandang yang berbeda. Saya menghargai mereka yang berpendapat bahwa Psikologi itu ilmu sekuler. Haram untuk kita pelajari dan amalkan. Ya, ada sebagian teori Psikologi yang didasari oleh pemahaman  hakikat  manusia yang berbeda dengan pemahaman hakikat  manusia menurut agama Islam. Tapi sebagian lainnya, yang tak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, adalah ilmu alat yang bisa membantu kita memahami sistem keMahaannya. Wallahu alam.

Jadi, kesimpulannya, karena saya sendiri melihat bahwa fenomena di lapangan perilaku khas remaja itu ada, maka saya memutuskan untuk mempelajari mengenai remaja ini. Untuk apa? untuk menanamkan nilai-nialai agama padanya.

Saya gak bisa tutup mata dalam menanamkan nilai-nilai. Resikonya terlalu besar. Gak percaya? coba bilang sama anak 7 tahun. “Ayo sholat. Kalau gak sholat, nanti gak ibu ajak jalan-jalan”. Mungkin si 7 tahun akan menurut. Coba katakan hal yang sama pada anak umur 13 tahun. Dia akan nurut?

Ada yang berubah dalam diri si anak. Maka, cara kita mengajarkan nilai agama pun harus berubah. Yang tidak boleh berubah adalah satu, Nilai-nilai agama yang ingin kita tanamkan pada anak.

Kita mau tutup mata tak mau melihat perubahan dalam diri anak? tetap memakai cara yang sama seperti cara yang biasa kita lakukan ? silahkan. Saya tak mau ambil resiko itu.

Beberapa hari lalu saya membaca secara lebih detil mengenai perubahan struktur dan fungsi otak pada remaja. Ini adalah topik yang relatif baru, dan sedang ngehits di dunia psikologi, yang memandang manusia sebagai entitas yang lengkap: bio-psiko-sosial. Tau gak…saya pengen nangis loh…membaca perubahan yang terjadi pada otak “remaja”, yang … amazing banget. Saat itu, hati saya merasa …“Ya Allah, Engkau teh Maha Sempurna banget. Detiiiiiil dan sempurnaaaa sekali engkau menyiapkan tahap demi tahap perkembangan manusia”. Insyaalah kalau ada usia dan kesempatan saya akan berbagi mengenai hal ini.

Saya jadi inget, 4 hari lalu, di kampus kami mengadakan acara mempersiapkan Ramadhan. Dua orang pembicara keren kami undang. Satu mas Budi Prayitno. Kami minta beliau berbicara mengenai fiqih shaum ramadhan. Karena latar belakang beliau psikologi, beliau memaparkan juga mengenai happines kaitannya dengan puasa ramadhan. Pembicara lainnya adalah Ustadz Tauhid Nur Azhar, doktor yang menguasai bidang neurologi. Beliau kami minta berbicara mengenai puasa dalam perspektif neurosains.

37 tahun umur saya, baru kali ini saya faham mengapa dalam puasa ini, Allah mengatur yang ditahan adalah hawa nafsu “makan, minum dan seksual”. Tiga hal itu.  Dengan fasih beliau menjelaskan dari sudut pandang neuro sains. Yang terkait dengan tulisan ini adalah, saat beliau menjelaskan keteraturan yang terjadi dalam tubuh manusia, yang beliau jelaskan sudah bukan di tataran sel lagi, tapi jauh…jauh..jauh lebih kecil dari sel. Beliau menjelaskan kompleksitas otak, sel-sel syaraf, mekanisme enzim-enzim….saya tidak sepenuhnya mengerti, tapi yang berkesan buat saya adalah, dengan penuh penghayatan beliau berkata: “Keren banget Allah tuh…indah banget sistem otak itu…”.

Saya, dengan penghayatan yang sama, bisa mengatakan hal yang sama: “Keren banget ALlah itu. Ya, manusia  itu makhluk yang paling sempurna, mahakaryaNya. Sungguh-sungguh sekali Ia menciptakan manusia tuh”. Kalimat itu keluar dari hati saya setelah saya mempelajari suatu topik Psikologi secara detil.  Terutama bagian-bagian ilmu yang menjelaskan hal-hal yang sifatnya basic. Seperti perubahan yang terjadi dalam diri manusia sepanjang hidup manusia. Atau tentang bagaimana manusia berpikir. Proses transduksi dalam sensasi-persepsi. Proses memory, proses learning. Amazing. Speechless. Allahu Akbar. Memahami proses yang Ia ciptakan, selalu memunculkan kekaguman pada keagunganNya.

Kesimpulannya adalah, ada banyak cara menuju kebaikan. Kebaikan yang ingin kita capai adalah, anak-anak kita tumbuh menjadi individu dewasa, yang aqil baligh, yang mencintai Allah, yang selamat menjalani kehidupan ini.

Bagaimana cara mencapai itu, berbeda-beda. Ada yang berpendapat anak harus disterilkan. Jauhkan dengan berbagai potensi godaan. Pisahkan dengan lawan jenisnya, tutup aksesnya terhadap dunia luar. Salah? tidak.          Ada yang berendapat berbeda. Memberikan anak akses terhadap potensi godaan, dengan batasan-batasan dan umpan balik tertentu. Salah? tidak.

Ada yang berpendapat bahwa ajaran agama harus diajarkan tanpa pertanyaan. “Allah sudah menetapkan aturan itu, pasti itu aturan yang sempurna. Ikuti saja”. Salah? tidak. Ada juga yang berpendapat untuk menanamkan pemahaman agama yang mengakar, perlu adanya dialog. Membuka ruang saat anak bertanya “kenapa sih aku harus pake jilbab? kenapa sih harus sholat?”. Salah? tidak.

Yang salah adalah kalau kita tak peduli dan tak sungguh-sungguh mendidik. Yang salah adalah ketika kita melihat cara kita tak berhasil, kita diam saja, bersikeras bahwa cara ini yang paling benar. Yang salah adalah saat kita tak mau belajar dengan sungguh-sungguh.

Pesan saya, cara apapun yang kita putuskan sebagai orangtua, pelajari cara itu dengan sungguh-sungguh. Dari A sampai Z. Jangan hanya berhenti di tataran konsep. Berpikir kritis. Jangan ragu bertanya pada ahlinya. Tentang remaja dan aqil baligh ini, bagi yang percaya bahwa masa transisi itu ada, tanyakan pada ahlinya….jadi harus bagaimana dalam praktek pengasuhannya? apa batasan-batasan boleh dan tidak boleh yang bisa kita sampaikan pada si remaja? tekniknya gimana? gimana kalau respons si remaja begini, begitu? apa yang kita khawatirkan?

Bagi yang percaya bahwa tidak ada fase remaja, juga tanyakan pada ahlinya…berpikir kritis. Apakah sama kadar dewasa remaja putri berusia 13 tahun yang sudah baligh dengan pada waita usia 30 tahun? misalnya. JIka sama gimana, kalau beda gimana? Tanya…dari A sampai Z.Karena setiap kerangka pikir, ada jalurnya masing-masing. Kalau dicampur, nanti bingung sendiri. Intinya mah, jika akan mempelajari satu hal, pelajari sungguh-sungguh, tak boleh hanya berhenti sebagai wawawsan dan ilmu, tapi pahami sumbernya, dasarnya, kejar sampai tataran aplikatif.

Tulisan di atas, semoga bermanfaat.

41B+rV6mZ2L-e1415201455240Yang jelas, pandangan bahwa munculnya istilah remaja itu adalah untuk melemahkan generasi muda, secara pribadi kurang saya percayai.

Kalau ada yang mengatakan hal itu dan memandang remaja adalah masa untuk kita mentolelir keburukan, saya melihat trend psikologi tidak ke sana.

Salah satunya adalah dengan munculnya buku dari salah satu ahli yang sudah lebih dari 40 tahun mempelajari mengenai remaja di samping ini.

Wallahu alam. Semoga kita dikaruniai kesungguhan dan kerendahan hati untuk mencari ilmu, serta kekuatan untuk mengamalkan ilmu. Aamiin…

#Ramadhan 1437 _ day one

Advertisements

Nasehat yang Gatot

Saya : “Kaka, kalau lagi haid, harus sangat memperhatikan kebersihan. Jangan lupa ganti pembalut minimal sekali pas di sekolah. Tapi kalau lagi banyak, beberapa kali. Bawa pembalut dari rumah. Nih, sengaja ibu beliin tissue yang gambarnya kucu. Kaka bawa tiap hari ke sekolah. Kalau sudah pipis, harus pake tisu. Biar kering gak lembab. Karena kalau lembab nanti bisa banyak kuman”

Si sulung : “Ngapain Kaka harus bawa tissue sendiri….di kamar mandi sekolah Kaka kan selalu ada tissue bu”

Krik….krik….

Saya : “Teteh, kalau teteh mau pipis ke toilet, jangan lupa minta dianter ya…kalau bisa dianter bu Guru. Jangan sendirian …bla..bla..bla..”

Si pangais bungsu: “Ih, ibu…ngapain teteh minta dianter segala…orang kamar mandinya di dalam kelas juga….masa minta dianter …”

Krik…krik….

Dalam dua perbincangan dengan si kelas 1 SMP dan dengan si kelas 1 SD di atas, saya merasa “garing” banget. Nasehat “penting” yang saya sampaikan menjadi gatot, gagal total. Dan itu karena eh karena…..saya sok tahu. Saya “berbicara pada”, bukan “berbicara dengan” si sulung dan si pangais bungsu.

Kalau saya “berbicara dengan”, maka saya seharusnya memulai dengan bertanya gimana kondisi toilet di sekolah anak-anak. Jadi gak usah mubadzir keluar nasihat garing itu hehe….Keliatan banget bloonnya saya, lupa kalau sekolah anak saya, jauuuh berbeda jenis maupun waktunya dengan sekolah saya. Yang ada di kepala saya waktu memberi nasehat itu adalah, kondisi toilet di SD, SMP dan SMA saya yang horornya minta ampun kkkk

Mmmmhhh…syukurlah topik pembicaraan saya di atas ringan dan lucu, bukan yang berat-berat. Kalau yang berat-berat, bahayya. Saya pernah ya, ngobrol sama beberapa anak terutama remaja. Dan tau gak….mereka tuh paliiiiiiing sebel kalau ortunya, udah menasehati dengan kata pertama: “Dulu, mama ….. umi….bunda….”. “Masa kamu….bla..bla..bla…waktu papa…abi…..ayah…seumur kamu….”. Jawaban yang spontan jeluar dari hati atau mulut anak-anak adalah :”Aku kan bukan mama”. “Aku kan bukan abi”.

Poinnya adalah, seringkali kita lupa. Berbicara PADA anak, bukan berbicara DENGAN anak. Berbicara PADA anak, ciri-cirinya adalah :

  1. Startingnya tidak dari kondisi anak, tapi mulai dengan apa yang ada di kepala kita sebagai orang orangtua.
  2. Porsi bicara kita lebih banyak, atau jauh lebih banyak dibandingkan porsi bicara anak.

Masih banyak sih cirinya. Tapi udah dua dulu aja.

Setelah ngobrol ama para anak dan remaja itu, saya jadi ngeuh apa yang mereka maksud dan rasakan. Misalnya pernah saya ngobrol sama teman saya. Anaknya, menurut saya selalu menetapkan target yang terlalu tinggi, kurang realistis dengan kemampuannya. Ibunya, teman saya memang memberikan target yang tinggi. Waktu kami mengobrol, teman saya itu cerita ….“gue yakin dia bisa…lu tau kan, dulu gue juga bla..bla..bla…tapi dengan upaya yang gue lakukan, buktinya gue bisa…bahkan gue bisa mencapai ini….itu…bla..bla..bla…”. Setelah beres dia cerita…dengan iseng saya bilang:“bentar…kita teh sebenernya lagi bahas elu atau bahas anak lu sih?”… dan kami pun tertawa bersama.

Tapi serius…kita (saya kaleeee) sering lupa mungkin ya, suka semangat memberi nasihat  tanpa menghayati bahwa kondisi anak kita, bisa jadi beda banget ama kita. Yang jelas mah secara genetik udah “terkontaminasi” ole gen pasangan kita. Jadi anak kita, pasti beda ama kita. Kalaupun kita dan anak kita mengalami situasi yang sama, penghayatan anak kita bisa beda banget. “ngapain gitu aja malu….dulu bunda bla..bla..bla…” .. “Itu kan bunda …bukan aku…. “kata si anak.

Talking-with-kidsHakikat peran orangtua-anak itu adalah sebuah “hubungan”. “Relationship”. Dan hal yang paling mendasar dari sebuah relationship adalah, adanya “komunikasi”. Dan komunikasi yang paling mendasar adalah “kontak mata”. Kalau kita niat berbicara DENGAN anak, maka lakukan kontak mata. Dengarkan intonasi suaranya. Ekspresi wajahnya. Gestur tubuhnya.

Boleh kita ceritakan masa lalu kita? boleh. Tapi dalam konteks apa? kalau dalam konteks berempati? oke. “Aku gak mau sekolah….aku diejek terus. aku malu”. “Iya …mama juga dulu suka diejek gitu. mama juga malu dan gak mau sekolah…tapi kan itu gak menyelesaikan masalah …”. Anak jadi merasa oke kalau saat ini, ia merasa malu.

Kita mau cerita gimana kita dulu bekerja keras biar jadi contoh, boleh banget. Tapi konteksnya gimana? Kalau lagi santai, lalu cerita…..oke. Tapi kalau dalam rangka menanggapi atau mengomeli anak? Coba hayati percakapan berikut ini:

“Masa baru dikasih PR segitu aja nyerah? abi dulu, ke sekolah harus jalan kaki, gak dianter kayak kamu. terus buku, gak punya sendiri. Tapi abi gak malu pinjem sama teman-teman abi. Meskipun abi harus buru-buru nyalin soalnya, orang lain pada main pas istirahat, abi gak pernah bisa karena harus menyalin. Sekarang, temen-teman yang abi pinjem bukunya, cuman lulus S1 aja, gak kayak abi sampai S2“.

Mungkin dalam hati anaknya bilang: “Hello….ini topiknya ngingetin untuk ngerjain PR atau membanggakan diri abi sih?” itu yang pertama.

Yang kedua…coba hayati perasaan si anak. “Iya yah, gue teh cemen banget…jauh lah dibandingkan abi mah….parah banget gue”. Kalimat lain yang sering terlontar secara spontan juga adalah: “Masa gitu aja engga bisa?” Perasaan anak: iya ya, gue bego banget berarti. masa sih gini aja gak bisa. Apakah perasaan ini kemudian bisa menumbuhkan motivasi? bisa ya bisa tidak.

Bandingkan dengan tanggapan seperti ini: “Oh, menurut kamu ini susah? Hmm…ayah bisa sih, tapi buat anak seumur kamu susah ya? . Coba kamu kerjain, ayah pengen liat susahnya pas bagian mana. Eh,  bagus tuh…kamu merasa susah, tapi kamu mau tanya ke ayah”. Pembicaraan ini, pokus. Bicara tentang masalah yang dihadapi dan dirasakan anak. Ada solusi.

Tapi kalimat senada “masa gitu aja gak bisa” itu kan maksudnya memotivasi? itu niat kita. Kalau kita yakin “ya, ini cara ini bisa memotivasi anak”. Tolong di cek. Benarkah? Inga..inga..yang dimotivasi adalah anak kita, bukan kita. Maka, kita harus pastikan, bener gak cara ini pas. Dalam agama, niat baik itu nilainya satu. Amal baik itu nilainya 10. Ada selisih nilai 9 antara niat dan amal.Secara implisit, dari niat sampai amal yang baik itu, ada proses yang panjang. Proses berpikir dan merasa. Gimana agar niat baik ini, tersampaikan dengan cara yang pas sesuai dengan tujuannya.

Kita gak akan pernah bisa memotivasi orang lain, selama tujuan yang ingin dicapai itu adalah tujuan kita, bukan tujuan orang lain tersebut. Jadi, kalau kita bingung kenapa anak kita gak termotivasi untuk renking 1, maka mungkin kita harus ngobrol apa sih makna renking 1 buat dia. Dan….yang tak kalah pentingnya…menghayati apa makna ranking 1 buat kita ….

Kalau kita kesel anak kita warna bajunya  “kurang meremaja”,  mungkin kita harus ngobrol mulai dari apa yang membuat dia nyaman pake baju dengan warna itu. Kalau kita gak mulai dari dasarnya, gak akan ketemu. Apalagi sama remaja. “Kamu tuh keliatan tua kalau pake baju warna gelap”. “Biarin aja”. Stop. Saling kesal. Karena kita berbicara PADA anak. Bukan berbicara DENGAN anak.

Dan yang penting juga, berbicara dengan anak, dijamin akan membuat kita gak akan mati gaya bingung memulai pembicaraan dengan anak, terutama si remaja.

Ih, ribet amat. Kayaknya susah. Udah lah, “mengalir aja”. …Practice make perfect …saya percaya banget. Kalau kita sudah memasukkan satu ilmu ke kepala kita, minimal itu jadi alarm, yang akan mendorong kita berusaha lebih baik.  Misalnya, kemarin saya ngobrol sama si bungsu 4 tahun yang baru selesai cukur rambut.

Ibu : “dede, nanti sampai rumah harus keramas ya…”// Azzam : “Gak mau …dede takut”// Ga apa-apa takut, ibu juga waktu kecil suka takut. Nanti ibu bantu ya…. (biasanya dia suka mau sendiri). //Azzam : “gak mau…takut”

Dalam hati, rasanya udah bener nih tanggapan kayak gini. Daripada tanggapan: “ah, masa gitu aja takut….” atau “jangan takut dong…kan jagoan”. Tapi lalu, saya inget tulisan ini. Ingat..ingat….bicara DENGAN  anak. Bukan bicara PADA anak.

Kemudian saya tanya: “yang membuat dede takut itu, apa de?” . Si bungsu itu menjawab: “dede takut airnya masuk ke mata…jadi perih”. Mendengar itu, kakak-kakaknya langsung menanggapi. Kata teteh Hana: “merem aja de….” . Kata Kaka Azka ” Dedenya nunduk”… dan yang paling unik ide mas Umar : “pake kacamata renang aja de!”.

Akhirnya, mendapatkan masukan itu, si bungsu mau keramas.

Practice makes perfect. Kita “bukan emak biasa” kalau mau sabar menjalani proses. Tidak terlalu menuntut diri sempurna., tapi tak berhenti mencari dan mempraktekkan ilmu.

 

sumber gambar : http://whengodisfaithful.com/useful-resources/formoms/how-to-tell-the-kids/

 

 

 

 

Tentang Hadiah dan Sogokan pada Anak : part one

Semester ini, saya dan tim Psikologi Umum Psikopad mengajar mengenai topik “Learning” pada mahasiswa semester 2. Saya suka sekali dan sangat tersentuh dengan kata-kata David G. Myers, penulis buku Psychology in Moduls, 9th edition saat memberikan pengantar mengenai topik ini.

Learning breeds hope. What is learnable we can potentially teach—a fact that encourages
parents, educators, coaches, and animal trainers. What has been learned we
can potentially change by new learning—an assumption that underlies counseling,
psychotherapy, and rehabilitation programs. No matter how unhappy, unsuccessful,
or unloving we are, that need not be the end of our story. No topic is closer to the heart of psychology than learning, a relatively permanent behavior change due to experience.

Secara spiritual, saya menghayati bahwa kemampuan “belajar” adalah salah satu Rahmat Allah yang ia turunkan di muka bumi ini. Kita dikarunia kemampuan untuk mengubah pengetahuan, keterampilan, pikiran dan perasaan melalui proses belajar ini. Learning breeds hope. No matter how unhappy, unsuccessful,or unloving we are, that need not be the end of our story Ih, rangkaian kata itu powerfull banget. Keren. Dalam. Menyentuh. Pengetahuan akan kemampuan belajar ini, membuat kita yakin kita bisa mengubah perilaku buruk menjadi perilaku baik. Baik perilaku kita, maupun perilaku orang lain.

Ada tiga proses belajar dasar yang kami pelajari. Classical Conditioning, Operant Conditioning dan Observational Learning. Dulu ya, waktu saya masih jadi mahasiswa dan waktu jadi dosen culun, saya berpikir….ini tuh teori banget….US, CS, UR, CR, Schedule of Reinforcement, positif reinforcement, negative reinforcement,  mirror neuron….oke, akan saya hafalkan, ujian, setelah itu …daaaah….Tapi semua itu berubah ketika saya menjadi tim pengajar bersama seorang kolega senior. Dalam diskusi-diskusi kami menyiapkan perkuliahan, beliau selalu bisa menjelaskan teori-teori itu melalui beragam perilaku sehari-hari. Yang lebih “ajaib” lagi, saat saya menghadapi kasus klien yang rumit dan berdiskusi dengan beliau, ya ampuuuun….beliau bisa mengurai persoalan klien, merencanakan bentuk terapinya pake teori lerning dasar ituuuh….Gak akan pernah lupa saya waktu beliau mengurai kasus trauma karena perkosaan, kasus kecanduan narkoba menggunakan teori classical conditioning yang “amat sederhana” itu !

Hehe…kepanjangan ya curhat pembuka-nya ….;)

Karena 3 proses belajar itu adalah proses belajar yang “dasar”, maka memang aplikasinya erat sekali dengan pengasuhan pada anak. Mengapa? karena tiga proses belajar itu tidak terlalu banyak melibatkan faktor kognitif, masih bertumpu pada pengarahan dari lingkungan. Nah, masalahnya adalah, sebagai orangtua, kita bisa secara SENGAJA membuat anak belajar sesuatu (dan kalau sengaja, pasti tujuannya adalah membentuk perilaku yang baik), atau tanpa sadar, kita TIDAK SENGAJA melakukan sesuatu yang membuat anak belajar sesuatu (dan kalau tidak sengaja, bisa baik…bisa juga buruk ya…). Makanya, akan lebih baik jika kita mengetahui proses-proses belajar mendasar pada anak, biar kita bisa SENGAJA mengkondisikan pembelajaran pada anak untuk membentuk perilaku yang positif. Dijamin gak rumit kok….tapi ada aturannya.

Dalam tulisan ini, saya akan mengulas mengenai salah satu teori belajar “operant conditioning”. Cita-citanya sih pengen nyontek senior saya itu, mencoba menguraikan dengan ringan. Kalau teman-teman akrab dengan istilah “reward” dan “punishment”, maka istilah itu adalah milik proses belajar operant conditioning ini. Kalau teman-teman suka liat acara-acara seperti Nanny 911, maka teman-teman akan melihat bagaimana upaya merubah perilaku buruk anak, menggunakan prinsip-prinsip reward dan punishment.

2260Tulisan ini didasari oleh pertanyaan beberapa teman; “bolehkah memotivasi anak untuk mau puasa nanti dengan hadiah? apa bedanya memberi hadiah dengan menyogok? apakah memberi hadiah akan berdampak negatif buat anak?”

 

Dalam tulisan ini, saya secara heuseus akan menguraikan: (1) “hakikat” (kkk….gara-gara terpaksa baca buku-buku pilsapat, jadi kesengsem sama kata “hakikat” ;), (2) aturan dan (3)”jebakan” dalam proses pemberian hadiah sebagai salah satu cara yang kita lakukan untuk mengarahkan perilaku anak. Plus nanti tips and tricknya kalau mau mempraktekkan teori belajar ini ….

Tapi nanti ya, sekarang mau masak dan beres-beres rumah dulu. Maklum emak-emak kkk

To be continued…

sumber gambar : http://www.kiplinger.com/article/saving/T065-C000-S001-using-money-to-reward-or-punish.html

 

 

 

Mothers and Others : Super Mom vs Collaborative Mom

Bulan lalu, saya ber-wa ria dengan seorang kolega senior saya, seorang dosen di salah satu Universitas di Belanda. Meskipun pertemuan kami beberapa tahun lalu dalam setting akademik, dimana saya menjadi LO saat beliau tiga tahun berturut-turut menjadi dosen tamu di kampus, namun selanjutnya hubungan kami lebih bernuansa non-akademik. Mungkin karena dalam salah satu kegiatan mengajar, ia mengalami sakit dan saya yang mengantar beliau ke IGD, menemani beliau sampai pulih kembali. Beliau yang seusia ayah saya, memiliki anak seusia saya. Obrolan kami jadinya tentang cucunya, tentang anak-anak saya. Setiap kali beliau berkunjung ke Indonesia, beliau membelikan oleh-oleh entah itu buku untuk anak saya, atau apaaaa gitu. Demikian juga saya kalau ada teman yang berkunjung ke kota beliau, suka menitipkan oleh-oleh kecil buat beliau.

Bulan lalu, saat beliau bertanya : “kapan kamu mau lanjut sekolah di sini?” saya mengalihkan perhatian dengan menyampaikan bahwa hobi menulis saya sudah dibukukan. Lalu setelah bla..bla..bla ngobrol mengenai isi buku BEB, ia menulis :I am quite enthusiastic about the book by Sarah Hrdy, Mothers and Others. She gives an evolutionary-antropological explanation for the fact that “others” are involved, sisters, grandmothers, fathers. It takes a village to raise a child “is her message”.

Ah, saya jadi inget salah satu dari ratusan draft tulisan  di dashboard blog saya; tulisan-tulisan yang baru setengah, seperempat atau sepersepuluh jadi. Ada sepotong tulisan yang nyambung sama apa yang beliau sampaikan: “Mother and other”.

Temans, gagasan bahwa seorang ibu bisa memenuhi seluruh kebutuhan anaknya SENDIRIAN, memang terdengar romantis. Dan hebat. Memasak makanan dan cemilan sehat nan bergizi dengan tangannya sendiri, mengajak main anak-anaknya seharian, bahkan merencanakan, menyusun dan membuat beragam media pembelajaran di rumah, sendiri. Saya, menyebut mereka Super Mom.

Kata “Super Mom”, memang terdengar keren. Mungkin menjadi cita-cita kita; bahwa anak-anak kita suatu hari mengatakan: “Aku ingin menjadi seperti ibuku. Ia adalah ibu, sekaligus guru. Semua hal yang harus aku tahu, kudapat dari ibuku. Bukan dari orang lain”. So sweet bukan? So sweet kata saya mah.

Namun pada kenyataannya di lapangan, semangat untuk menjadi Super Mom itu, terkadang tak mudah dalam aplikasinya. Apakah ibu-ibu super mom itu ada? ada. Namun, secara statistik, super mom ini kalau digambarkan di kurva normal, ia tidak berada di tengah. Maka, jumlahnya pun tidak terlalu banyak dibandingkan populasi ibu yang ada. Kenyataannya, semangat menjadi “super mom” bisa jadi pisau bermata dua. Ia bisa jadi penyemangat di satu sisi, namun menjadi stressor di sisi lain. Stressor itu sumber stress. Beban.

Nah, bicara tentang stress yang dihayati seorang ibu, haduuuuh…..peran menjadi seorang ibu itu…beurat. Karena di saat yang bersamaan, ia juga menjalankan peran sebagai istri, sebagai anggota masyarakat, sebagai bagian dari keluarga besarnya. Dan kalau seorang ibu sudah merasa stress…..maka ia bisa jadi monster. Hiperbolis? ya. Tapi saya pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi ibu yang stress. Dan saat itu, saya benar-benar merasa menjadi seorang monster. Serius. Nanti saya ceritakan kapan itu terjadi, mengapa dan bagaimana itu berakhir.

Oleh karena itu, saat kita membaca atau menyaksikan kehidupan para Super Mom yang menghayati bahwa seluruh pengasuhan anak harus ia yang pegang, kagum oke. Ingin mencontoh, gak salah. Langsung ingin mempraktekkannya? Bentar dulu. Ada baiknya kita menghayati dulu 2 hal.

(1) Kita memberikan sendiri seluruh kebutuhan anak, sebaiknya bukan karena didasari oleh rasa “tidak percaya” kita pada lingkungan. Rasa tak percaya pada institusi atau orang lain di luar diri kita. Mengapa kita tak boleh menumbuhkembangkan rasa “tidak percaya” pada lingkungan? karena itu namanya scarcity mentallity. Kita menganggap lingkungan sebagai ancaman. Jelek semua. Sekolah, gak ada yang bagus, bobrok semua. Pergaulan, bikin anak terjerumus. Nenek, bikin anak manja . Internet, menyebarkan pornografi dan online games. Kita tak percaya pada orang lain. Kita merasa bahwa hanya kita yang bisa memberikan kebaikan buat anak.

Saya, pribadi, tak setuju dengan pandangan ini. Bahwa ada potensi keburukan dari lingkungan, ya. Bahwa sulit bagi kita saat ini menemukan sekolah yang ideal sesuai keinginan kita, ya. Tapi suatu saat, di masa dewasanya nanti, anak-anak kita pada akhirnya akan terjun di masyarakat. Masyarakat yang tak semuanya baik. Untuk bisa menebarkan kebaikan, Ia harus mau membuka diri. Ia harus bisa bekerjasama dengan orang-orang yang berbeda dengannya. Ia harus bisa teguh, yakin akan nilai-nilai yang kita tanamkan, bahkan bisa berargumen dan mempersuasi orang lain, dalan lingkungan yang heterogen. Rasa “percaya” bahwa diantara keburukan-keburukan yang ada itu terdapat pula kebaikan sebagai wujud rahmat Allah, menurut saya adalah satu hal yang penting untuk kita tumbuhkembangkan pada diri kita dan anak kita.

(2) Mengukur kapasitas diri kita. Tak semua ibu punya kapasitas berpikir, emosi dan sosial yang keyyen. Menjadi madrasah yang utama dan pertama, mungkin bukan berarti bahwa kita yang harus memberikan seluruh pendidikan dan pengasuhan dengan tangan kita langsung, sendirian. Semangat tanpa akurasi pengukuran terhadap kapasitas diri, tidak baik untuk kesehatan mental ibu dan anak. Bahkan bisa jadi berujung kedzaliman pada anak.

Misalnya, ibu ingin anak makan masakan ibunya sendiri. Ibu habiiiiis waktu di dapur, cape, marah-marah ke anak. Yang intinya malah gak tercapai. Ingin anak mendapatkan pendidikan terbaik sehingga sekolah di rumah saja tapi gak dilandasi oleh pemahaman kebutuhan anak secara menyeluruh, mungkin membuat si anak terhambat sosialisasinya karena gak punya media untuk menyelesaikan konflik atau bekerjasama dengan teman sebaya. Atau anak menjadi kurang resiliens (lentur secara psikologis) karena selalu merasa menjadi paling pintar. Atau bahkan, karena kita tak punya ilmu yang memadai, anak jadi terbengkalai tak mendapat stimulasi apapun.

Oleh karena itu, saya pribadi, lebih suka dengan gagasan “collaborative mom” (kkk…ini teori baru sodara-sodara) .   Ibu yang kolaboratif. Formula ini, lebih pas untuk emak-emak dengan kapasitas biasa seperti saya. Menyimpan energi terbaik, untuk kualitas hubungan dengan anak.Percayalah….kita butuh energi besar untuk mencintai anak kita tanpa syarat. Mengatakan “it’s oke” dengan tulus saat ia tak memenuhi harapan kita, memeluknya dengan tulus saat ia mengalami kegagalan, meyakinkannya kalau kita tetap ada di sampingnya, menerimanya saat ia melakukan kesalahan. Itu butuh energi besar.

Pengajaran? bisa kita percayakan pada sekolah. Mau pesantren, mau sekolah islam terpadu, mau sekolah negeri, apapun pilihannya, bukan hal yang perlu dipersoalkan.  Kita coba tanamkan optimisme bahwa masih ada guru-guru yang baik, yang punya ilmu memadai untuk mendidik anak-anak kita. Ada hal yang buruk terjadi dalam proses pengajaran anak? ya kita perbaiki. Kita beri masukan gurunya. Kita ikhtiar cari sekolah yang mendekati harapan kita. Lumayan loh, buat kita yang gak punya ilmu menyusun kurikulum atau mencari media dan metoda pembelajaran yang beragam, stressor itu menjadi tidak ada. Tinggal kita temenin anak belajar, bikin PR, ngecek apa yang dipelajari di sekolah, menajamkan yang kurang dalam.

Memasak? mencuci? menyetrika? kalau ada bantuan, menurut saya sih tak ada salahnya dimanfaatkan. Gimana nanti pahalanya berkurang… Nah, pahala itu kan didapat dari keikhlasan bukan? masalah strategi terbaik untuk bisa ikhlas, setiap orang tampaknya berbeda-beda.

Yang terakhir nih, peran nenek. Jujur aja ya, waktu saya masih muda dulu (haha…sekarang ngaku sudah tak muda lagi) ….saya suka setuju dengan pandangan yang melihat nenek-kakek itu sebagai “ancaman”, dengan pola asuhnya yang biasanya lebih permisif. Tapi akhir-akhir ini, mungkin karena cukup banyak kolega saya yang sudah menjadi nenek dan saya mendapat perspektif yang berbeda, bisa memandang dari sudut pandang mereka sebagai si nenek, serta beberapa kali juga diajak diskusi di forum nenek, saya merasa…kayaknya kok kurang bijak ya kalau kita menganggap nenek sebagai “ancaman” bagi pola asuh anak kita …  Bahwa potensi “negatif” itu ada, ya. Itu perlu kita minimalisir dengan komunikasi dan strategi-strategi tertentu. Tapi janga lupa…si nenek/kakek juga punya sejumlah kebaikan yang bisa ia “tularkan” pada cucu-cucunya loh…. Yups, kita punya pengetahuan lebih mungkin, Tapi nenek punya wisdom. Saya ingin berpesan pada adik-adik saya para mahmud….cara menyampaikan perbedaan pengasuhan pada orangtua kita, harus kita perhatikan. Sebaiknya tidak menggurui. Nanti lah, kalau ada kesempatan saya pengen sharing apa yang saya dapat dari hasil diskusi dengan para nenek 😉

Jadi, memberikan kesempatan anak-anak kita mendapatkan pengalaman dan pengetahuan  dari orang lain, mempercayakan anak kita pada nenek/kakeknya dalam situasi tertentu selama mereka ridho, why not.

Gimana kalau saat nanti ditanya, anak kita idolanya bukan ibunya? ah, itu mah gak penting. Toh, tujuan kita mengasuh tak untuk menjadi idola bagi anak-anak bukan? Bahkan kalau kita berperan mengenalkan anak untuk percaya pada lingkungan yang baik, itu hal yang bagus….

You-can-Bb-a-Mother-and-be-YourselfMenjadi super mom atau collaborative mom, itu diferensiasi. Bukan stratifikasi. Itu strategi, sesuai dengan karakteristik kita masing-masing. Selama niat kita tulus dan kita bersungguh-sungguh sampai titik darah penghabisan menjalankan peran sebagai ibu; strategi apa yang akan kita pilih, semoga menjadi kebaikan buat kita dan keluarga kita.

Yang penting mah jangan stress ya…. Karena kalau stress, kita merasa tegang. Kalau merasa tegang, kita akan mudah marah. Padahal, menurut hasil penelitian yang saya lakukan mengenai persepsi kebahagiaan dari kacamata anak usia 6-12 tahun, seluruh responden anak mempersepsi orang yang suka marah-marah itu sebagai orang yang tidak bahagia.

Padahal kan kita ingin menanamkan bahwa sebagai muslim kita harus bahagia dunia akhirat bukan?

Wallahu alam

 

 

 

Puber kedua, Romantic love, Selingkuh, dan Poligami abal-abal

Lima hari lalu si yayang ulangtahun ke40. Asa gak percaya dia udah se”tua” itu, asa masih ganteng da haha…..(kalau bukan istrinya, siapa lagi yang akan muji hayooo). Ujug-ujug saya teringat 4 hal terkait umur 40 tahun ini: puber kedua, romantic love, selingkuh dan poligami.

Beberapa tahun lalu, seorang teman bertanya pada saya mengenai fenomena puber kedua pada laki-laki. Teman saya itu, bertanya karena suaminya saat itu berusia 40 tahun dan ia ingin “mengantisipasi” terjadinya puber kedua pada suaminya tersebut. Terkait dengan puber kedua, fakta dan data berikut  ini yang saya temui dalam perjalanan hari-hari saya:

Dalam literatur, tak ada yang “jentre” menjelaskan fenomena puber kedua secara biologis. Namun secara psikologis, konon fenomena puber kedua ini bisa dijelaskan dengan konsep “midlife crisis”. Dalam kacamata psikologi perkembangan, usia 40 adalah transisi saat seseorang “naik tingkat” dari tahap perkembangan dewasa awal ke dewasa madya/tengah. Dewasa madya/tengah ini berlangsung sampai usia 60. Seperti biasa, masa transisi selalu berdampak pada dua hal: excitement dan anxiety. Perubahan selalu menimbulkan rasa semangat di satu sisi, dan kecemasan di sisi yang lain. Konon katanya, demikian juga perasaan seseorang saat ia berusia 40 tahun. Ada kecemasan bahwa ia “tak muda lagi”. Maka, kalau transisi dari anak ke remaja biasanya fenomena yang terjadi adalah si anak ingin membuktikan bahwa ia sudah “dewasa”, konon transisi dari dewasa awal ke dewasa tengah ditandai dengan keinginan untuk membuktikan bahwa “saya masih muda”. Salah satu pembuktiannya adalah dalam perasaan menaklukkan hati seseorang …halah 😉

Itu teori pertama. Teori kedua, berasal dari pengalaman teman saya yang pernikahannya kandas. Beliau, seorang suami yang tergoda dan berselingkuh dengan wanita lain. Beliau berpesan pada saya: Di usia 40an tahun itu, seorang laki-laki itu lagi mapan-mapannya. Lagi di puncak karir dan kesuksesan. Secara finansial maupun psikologis, biasanya lagi di puncak. Intinya mah lagi “mempesona” lah… Nah, tak heran kalau banyak wanita yang datang menggoda. Tak hanya yang masih single, juga para “mahmud” -baik yang divorced maupun yang tidak. Godaan itu terkadang sangat kuat dan sulit dilawan, apalagi di rumah ada celah masalah dengan istri. Maka, beliau pun berpesan pada saya sebagai istri, jangan membuka celah masalah itu. Komunikasi intinya. Begitu katanya…..

Pesan dari teman saya itu, yang kemudian tampaknya menyesal setelah pernikahnnya kandas, dari sudut pandang perkembangan kehidupan keluarga bisa dijelaskan sebagai berikut : di usia 40 tahun-an, biasanya keluarga berada pada tahap “family with teenager”. Anak pertama, biasanya di usia remaja. Kalau ditinjau dari sudut pandang “family system theory” yang memandang bahwa keluarga itu adalah sebuah sistem, dimana perubahan pada satu subsistem akan berdampak pada keseluruhan sistem, maka perubahan psikologis yang terjadi pada anak remaja mereka akan berdampak pada keluarga. Terutama ibu yang biasanya berperan sebagai primary caregiver. Kasat matanya, ibu akan riweuh dengan beragam perubahan yang muncul pada si remaja atau si remaji nya. Nah…kalau keluarga ini tidak terbiasa memandang bahwa persoalan anak adalah persoalan bersama ibu dan ayah, maka bisa jadi pada saat itu,  si ibu stress menghadapi si remaja, berdampak pada “kurang segarnya” penampakan fisik dan psikologis si ibu, tepat pada saat si ayah butuh merasa “menaklukkan” hati seorang wanita. Karena si ibu terlalu riweuh untuk “takluk”, sementara ada wanita lain yang potensial untuk takluk, maka terjadilah hal-hal yang tak diharapkan.

Ada teori ketiga mengenai kejadian puber kedua ini. Teori ini berdasarkan pengalaman teman saya juga. Teori tentang jatuh cinta. Kita pake teori cinta yang paling sederhana deh….Triangular Theory of Love nya Sternberg. Gugling aja….banyak yang menjelaskan dan mudah dipahami. Saya copas dari situs https://packbackbooks.com/answers/1694178/Sternberg-s-Triangular-Theory-as-a-braid, berikut penjelasan dan ilustrasinya :

questionImage1614900-31031658-fullThe 3 main components:
Intimacy (mind) is the feeling of closeness to your partner. The partners are able to emotionally support one another as well as communicate to eachother. This is why I added a picture of a couple smiling and holding each other at the top the triangle.
Passion (Body) is the romantic, sexual and attraction part. The partners are driven by a sexual desire for one another. So in the passion corner of the triangel I put a picture of a couple kissing.
Commitment (spirit) is the decision to stay loyal to one another. Which explains why I put a wedding ring in this corner of the triangle.

 

The Combinations:
Intimacy + Passion = Romantic Love
meaning these couples are emotionally close and physically attracated to one another but are not commited.
Passion + Commiment = Fatuous Love
Meaning commitment is made to one another based off passion before having an intimate relationship.

Commitment + Intimacy = Companionate Love
Meaning there is high amounts of affection towards each other while there is still commitment.

“Bosan” adalah sifat alami manusia. Bosan dengan situasi pernikahan, orang dan bentuk hubungan yang sama selama tahunan, belasan tahun atau puluhan tahun dalam sebuah pernikahan, itu wajar. Entah itu pada pasangan yang dulunya merasa saling degdegan (passion), apalagi pada pasangan yang menikah tanpa rasa (commitment). Kebutuhan akan romantic love ; rasa nyaman saat mengobrol, dagdigdugdegdor saat menatap dan berdekatan…yang tak terpenuhi oleh pasangan di rumah, juga bisa menimbulkan fenomena puber kedua ini.

Dan hei ! ini tak hanya terjadi pada laki-laki yang “matanya jelalatan” aja looooh. Aktivis mesjid? bisa kena…..laki-laki yang “super serius’ dengan pekerjaannya, bisa….. laki-laki yang super lempeng, bisa juga…..dan … kebutuhan atau perasaan “romantic love” ini tak hanya terjadi pada laki-laki looooh….tapi pada perempuan juga ! masa sih? ciyusss….ah, mungkin pada wanita yang beraktivitas di luar rumah aja kaliii….kalau yang aktivitasnya di rumah mah amaaaaan….eh jangan salah loh….romatic love itu, bisa terjadi secara virtual  sekarang. Bisa sama artis korea yang dramanya ditonton tiap hari….bisa sama ustadz yang kita dengarkan nasihatnya tiap hari…bisa juga sama temen kuliah, temen sma, temen smp, sd, tk, yang kini satu waG sama kita.

Meskipun tingkat keberbahayaannya berbeda sih…..beberapa waktu yang lalu teman saya, perempuan, bilang lagi jatuh cinta berat sama seorang aktor hollywood yang punya “deep eyes”… 😉 pas saya liat, emang kasep dan mempesona pisan sih, tapi tenaaang lah…kondisinya lebih mudah dibandingkan jatuh cinta sama seseorang yang accessible. Kalau jatuh cinta sama aktor hollywood mah pastinya akan bertepuk sebelah tangan kkkk….

Nah, yang bahaya memang kalau romantic love itu kita rasakan pada seseorang yang accessible. Dan yang namanya cinta mah pan jorok banget ya… suami kita, bisa merasakan romantic love pada rekan kerjanya, kliennya, mahasiswanya, bosnya, dll. Hal yang sama juga bisa terjadi pada kita perempuan. Harus digarisbawahi pada perempuan yang bekerja, harus benar-benar bisa jaga diri. Kalau saya lihat sekeliling saya, memang umur 30-50an teh bener juga sih, kita lagi mateng-matengnya. Dewasa. Jadi tampak “mempesona” buat orang-orang sekeliling kita.

Nah, jadi gimana dong? kita wajib cemas gitu? panik? yang beraktivitas di luar rumah langsung resign? suami kita juga kerjanya di rumah aja?

Tenang…tenang….mari saya ceritakan beberapa kisah tentang puber kedua dan romantic love ini. Kisah yang akan membuat kita tetap jernih.

Satu. Saya inget ya, ada seorang teman saya, dulu kita pernah ada kerjaan bareng satu tim. Ada laki-laki ada perempuan. Nah, seorang teman saya yang perempuan, harus berkoordinasi sama ketua tim, laki-laki. Saya ingat sekali dia meminta saya menemaninya. Waktu saya tanya kenapa, jawabannya bikin kita ngakak bermenit-menit: “kalau ketemu dia berdua teh, gue mah suka ser-seran uy” hahahahaha…. kenapa ketawa? karena gak nyangka sih, teman saya itu, sangat keibuan dan sudah memiliki beberapa putra. Demikian juga teman saya yang laki-laki. Setelah saya pikir-pikir, emang wajar sih, si temen saya yang laki-laki teh memang kasep dan terkenal bikin para wanita klepek-klepek. Untung bukan tipe saya hingga pesonanya tak mempan buat saya haha…. Tapi jujur, saya sangat menghargai teman saya itu. Dia punya self awareness yang baik, dan menggunakannya untuk menjaga dirinya.

Dua. Seorang teman saya yang lain bercerita, suatu saat ia melihat perubahan pada suaminya. Suaminya menjadi lebih romantis, suaminya juga mengubah suasana rumah, menambah dinding dengan wallpaper, mengajak dirinya makan malam berdua, menggenggam tangannya saat jalan-jalan, membelikannya hadiah, perilaku yang membuat dirinya menjadi “bogoh deui” pada suaminya …Bertahun-tahun kemudian, sang suami mengaku kalau pada saat itu, ia merasakan kebutuhan romantic love. Karena ia potensial merasakannya pada yang lain, maka “energi” itu, “rasa” itu, ia kendalikan dan ia arahkan pada keluarganya.

Nah, dari dua kisah itu, ada satu kesimpulan yang bisa kita tarik. Bahwa potensi rasa cinta yang dirasakan oleh kita atau pasangan pada orang lain, tak selalu harus berujung pada hal-hal yang merusak. Faktor pembedanya adalah “Self awareness” dan “self control”

Dan kalau tadi saya katakan bahwa fenomena puber kedua dan romantic love ini bisa terjadi pada laki-laki maupun perempuan, pada kenyataannya, apabila itu terjadi pada laki-laki, maka potensi untuk berujung pada kerusakan menjadi lebih besar dibandingkan kalau itu terjadi pada wanita.

Kenapa? karena laki-laki, muslim, punya satu legitimasi: poligami. Saat seorang wanita jatuh cinta pada laki-laki lain, ia akan berpikir seribu kali untuk memilih laki-laki itu dan meninggalkan keluarganya. Apalagi kalau sudah punya anak. Yang belum punya anak pun, pilihannya adalah 1-0. Keluarga sebelumnya, harus ia tinggalkan. Ia harus memilih. Salah satu. Berbeda bagi laki-laki. Secara kognitif, ada peluang untuknya tak harus memilih 1-0. Ia bisa tetap mendapatkan “benefit” dari keluarga sebelumnya, dan “hasrat” untuk memenuhi kebutuhan yang baru pun bisa ia dapatkan. Poligami jalan keluarnya.

Poligami dibolehkan dalam islam? ya. Absolutely. Tak ada keraguan. Poligami seperti apa yang disyariatkan dalam islam? itu hal lain. Aspek ini, hanya akan dipikirkan oleh orang-orang, oleh laki-laki, yang punya “Self awareness” yang baik plus “self control” yang kuat. Mereka akan mencoba menghayati, apa “semangat” dibalik turunnya ayat mengenai bolehnya beristri 1, 2, 3, 4. Semangat menahan diri. Itu yang bisa kita tangkap dari asbabun nuzul ayat ini. Maka, jika poligami ini ditempuh sebagai alasan “dari pada selingkuh” , atau sebagai jawaban “istri saya udah gak bisa bikin saya degdegan lagi”, maka….ada asumsi dasar yang tak terpenuhi. Jika asumsinya tak terpenuhi, maka kebaikan dari syariat ini pun akan sulit untuk didapat.

Kebaikan poligami apa yang didapat dari seorang istri tua yang “sakit hati” karena suaminya berpoligami dengan selingkuhannya? Kebaikan poligami apa yang bisa didapat dari seorang istri muda yang usianya sama dengan anak sulung, tak punya empati, merasa unggul dan menjadi  “dewi penolong” dengan wajah dan tubuh yang (tentu saja) jauh lebih fresh daripada istri pertama? Kebaikan poligami apa yang didapat dari sikap mental suami yang mengatakan “keburukan istri saya udah susah diubah, ya udah silahkan pilih mau cerai atau izinkan saya poligami”. Kebaikan apa yang akan didapat dari suami yang mengatakan “istri saya bilang boleh”, dan dia menafikkan seluruh bahasa nonverbal istrinya?

Poligami yang tak didasari oleh semangat menahan diri, saya menyebutnya : poligami abal-abal.

Suatu malam, saya pernah mengatakan semua yang saya tulis di atas pada mas. Diakhiri oleh kalimat -kalimat penutup:

Aku tidak menutup kemungkinan bahwa kita bisa jatuh cinta lagi pada orang lain. Mungkin dirimu, mungkin juga aku. Namanya juga syetan, dia sangat lihai. Itu gak penting. Yang jauh lebih penting dari itu adalah, bagaimana proses sehingga romantic love itu tumbuh dan berkembang. Cinta itu hanya akan berkembang kalau dipelihara. Maka, saat kita merasa “nyaman” dengan orang lain, kita harus aware, dan kita lakukan upaya untuk menghindar. Romantic love itu, engga ujug-ujug. Kenyamanan itu, bisa kita deteksi. Mungkin awalnya hanya diskusi-diskusi soal politik, soal pengalaman masa lalu, soal rencana kegiatan sosial, bahkan mungkin soal kegiatan keagamaan atau bisa jadi haha hihi soal remeh temeh. Tapi kalau kita merasa nyaman, maka kita harus sadari segera. Itu yang pertama.

Yang kedua, saat rasa itu sudah ada, yang menjadi masalah adalah bagaimana reaksi kita. Membiarkannya…tumbuh…berkembang….atau berupaya mengendalikannya? bagaimana sikap mental kita saat itu? merasa “tak berdaya”? atau merasa sebagai makhluk Allah yang paling mulia, yang dibekali akal dan rasa yang mengarah pada kebaikan? Lakukan upaya pengendalian diri sampai titik darah penghabisan.

Kalau tak bisa sendirian, mari kita bicarakan. Kita hadapi berdua. Mungkin kita bisa melihat foto-foto kebersamaan kita, dengan anak-anak….mulai anak pertama…kedua…dan selanjutnya. Mungkin kita bisa melihat bersama foto-foto kita saat tertawa, bahagia….penghayatan bahwa kita punya kenangan yang begitu berharga itu, semoga manjur membuat rasa yang terpedaya menjadi jernih kembali.

Bahwa keluarga kita ditakdirkan menjalani poligami, aku tak menutup kemungkinan. Tapi saat itu harus terjadi, mari pastikan bahwa prosesnya benar. Indikatornya adalah, membawa manfaat dan kebaikan bagi seluruh pihak yang terlibat di dalamnya. Mungkin rasa sedih akan ada, tapi tak boleh ada rasa tersakiti dan terdzalimi. Jalan ini, jangan hanya sebagai excuse dari kalimat: daripada selingkuh.

Kita bercerai? mungkin saja. Kalau takdir sudah menuliskan, dan kita sudah berupaya maksimal sehingga takdir itu yang kita temui, mengapa tidak? tapi saat itu harus terjadi, mari pastikan bahwa jalan itu kita lakukan dengan cara yang benar. Cara yang benar, akan membawa manfaat dan kebaikan.

Ternyata panjang juga ya…sebenarnya cucoknya ditulis pas wedding anniversary juni nanti haha….

Semoga bermangpaat

 

 

 

 

 

 

 

Ortu Remaja; don’t worry be happy …

Dua minggu lalu, 28 November 2015.

C360_2015-12-09-00-42-34-652Setengah delapan pagi sampai dengan setengah sepuluh, kami sekeluarga berada di tengah-tengah tiga puluhan anak remaja tanggung. Anak-anak tanggung yang canggung, berusia 12 sampai 14 tahun. Mereka adalah siswa/siswa yang mengikuti kegiatan panahan dari beberapa sekolah, yang “terpilih” untuk mengikuti pembinaan. Sehingga ketika ada perlombaan nanti, mereka diharapkan sudah “matang”. Si sulung Azka ada diantara mereka.

Jujur saja saya sangat menikmati mengamati perilaku para remaja tanggung yang canggung itu. Oh, inilah masa transisi itu. Perilaku yang serba “kagok”. Lirik-lirikan malu antara remaja putri dan putra, obrolan-obrolan patah-patah dengan teman baru, volume suara dan sikap yang terlihat “bingung”. Saya kagum banget sama si kakak atlet panahan yang bisa luwes mendekati remaja yang sikapnya, terkadang “mengesalkan” itu. Misalnya diminta pemanasan, malah bergerombol. Diminta ini itu, gak langsung nurut gituh 😉

Saya juga menikmati saat simulasi pertandingan dilakukan. Satu demi satu remaja tanggung itu merentang busur panah. Dengan penuh konsentrasi yang diwarnai kecemasan, melepaskan anak panah, dan bersiap akan hasilnya. Entah itu memuaskan kena tepat ke sasaran, atau melenceng jauh.

………………………….

Dua jam kemudian, setengah 12. Saya sudah berada di Jatinangor. Si abah dan anak-anak setia mengantar 😉 Sebagai dosen pembimbing, saya harus menutup kegiatan Pengabdian Masyarakat Mahasiswa. Program ini bernama Peri Psikologi. Meskipun tak selalu mendampingi selama 2 bulan mereka mengajar di salah satu SD di Jatinangor, tapi saya benar-benar bangga sama 38 mahasiswa Peri Psikologi. Bangga dengan semangat, keceriaan, kerja keras, kesungguhan dan ketulusan mereka. Serunya kegiatan Peri Psikologi bisa dilihat di blog https://beyondiary.wordpress.com/2015/11/02/peri-psikologi-2015/.

Siang itu, acara penutupan. Sejak jam 6 pagi, sebenarnya acara sudah mulai. Mereka membawa para “Adik” yang mereka ajar selama ini ke kampus. Dikemas dalam bentuk edutainment, adik-adik kelas satu dan dua itu diajak “berpetualang” melalui games dan kunjungan ke kandang satwa, yang bekerjasama dengan mahasiswa pertanian.

C360_2015-12-09-00-25-38-290Ada mata yang berkaca-kaca dalam acara itu. Bahkan ada isak tangis. Mata berkaca-kaca dan isak tangis itu, milik para mahasiswa dan juga para adik. Ada seorang adik yang menangis tersedu-sedu sulit untuk dihentikan, sedih karena tak akan “bertemu” kakaknya lagi. Si kakak dengan beragam gaya “remaja akhir”, tampak begitu lekat dengan adik-adik itu. Saya, juga berkaca-kaca. Terharu. Apalagi saat melihat salah seorang mahasiswa laki-laki (ya iyalah…kalau perempuan namanya mahasiswi hehe..) yang “digandulin” empat adiknya: satu diatas pundak, satu di punggung, dua di kaki. Proud of you, my students….

…………………………

Kurang lebih tiga minggu lalu, seorang teman meminta saya mengisi pembekalan pada para kader BKR (Bina Keluarga Remaja) se-Jawa Barat. Diselenggarakan oleh BKKBN dan PKK Jabar. Materinya…Psikologi Remaja.

Koreh-koreh ppt mengenai psikologi remaja di laptop, belum ada ternyata. Memang biasanya saya menolak kalau diminta bicara tentang remaja. Karena merasa kurang menghayati. Tapi sekarang saya oke-kan, karena sudah menghayati dengan si sulung yang sudah remaja.

Akhirnya, untuk bisa bikin materinya, saya pun membaca buku “Adolescence” yang ditulis oleh Laurence Steinberg. Buku itu edisi ke-10, terbitan tahun 2014. Tahun lalu saya beli khusus ketika saya terkaget-kaget melihat perubahan perilaku si sulung yang berubah saat masuk fase remaja.

Waktu saya cari gambar mengenai remaja Indonesia di mbah Gugel, ternyata saya tidak menemukan gambaran remaja yang “positif”.Gambar-gambar yang muncul ketika saya ketika kata kunci “remaja” berkisar seputar gambaran remaja yang corat-coret baju setelah lulus, genk motor, seks bebas, narkoba. Gak ada yang positif.

Mmmhhh….Jujur saja, memang sangat wajar kalau para ortu remaja merasa “cemas”. Bombardir informasi negatif mengenai remaja, berasal dari segala penjuru. 3 dari 5 remaja kecanduan pornografi. 9 dari 10 remaja sudah tak perawan. 7 dari 10 remaja pernah mengkonsumsi narkoba…..5 dari 6 remaja terlibat tawuran. Siapa yang tidak panik dan khawatir?

Salah satu yang menjadi tantangan “berat” buat ortu jaman sekarang adalah, jaman digital. Internet. Salah satu karakteristiknya adalah; bahwa informasi “menyerbu” kita. Beragam informasi. Baik yang baik, yang buruk, yang akurat, yang fakta, yang mitos, yang opini, semua tercampur baur. Kalau tak punya pegangan, maka kita akan megap-megap dan ikut arus tak jelas tujuan. Panik.

Tapi kan beragam informasi mengenai remaja itu membuat ortu jadi waspada? Waspada bagus. Panik dan cemas  jangan. Apa bedanya waspada dan panik/cemas? ini dia yang akan dibahas dalam tulisan ini. Tulisan ini akan diakhiri dengan tips gimana biar sebagai ortu remaja, kita gak panik/cemas.

Temans, hasil intipan saya thdp kbbi, waspada artinya berhati-hati dan berjaga-jaga; bersiap siaga. Cemas artinya tidak tenteram hati (karena khawatir, takut); gelisah. Nah, kalau Panik artinya  bingung, gugup, atau takut dengan mendadak (sehingga tidak dapat berpikir dengan tenang).

Kalau kita waspada, maka saat mendengar informasi tentang “bobroknya pergaulan remaja”, atau membaca hasil survey misalnya”9 dari 10 remaja sudah tidak perawan”, kita akan “memfilter” itu terlebih dahulu. Bentar-bentar….ini remaja di mana ya? 9 dari 10 remaja…. dimana ini? remaja mana yang dijadikan sampel penelitian? berapa banyak? remaja yang jadi sampel mewakili beragam kalangan remaja gak? apakah hasilnya bisa berlaku pada seluruh remaja di Indonesia? Gimana cara ngukurnya? ….Kalau kita mendengar “ada remaja umur 15 tahun yang meninggal karena OD”. “remaja umur 17 tahun bunuh diri karena kebanyakan PR”. Oke, gimana dinamika kehidupan si remaja tersebut ? apakah semua remaja yang kebanyakan PR akan bunuh diri?

Kalau kita “waspada”, kita akan “mengolah” informasi yang kita terima, mana yang “boleh” masuk ke “hati”, mana yang bisa kita abaikan. Kalau “panik”, sesuai dengan definisi dari kbbi di atas, setiap kali kita dapat informasi buruk tentang remaja, kita akan resah dan gelisah. Dampaknya apa? kalau waspada, kita akan tetap “berpikir jernih” menghadapi si remaja.

Si remaja pake laptop, browsing sana sini, kita gak akan panik. Yups, kita minta si remaja untuk gak mempassword laptopnya sehingga kita bisa cek historynya, tapi gak melarang si remaja bereksplorasi mencari informasi karena khawatir. Kalau kita waspada, saat si remaja minta izin untuk kerja kelompok di rumah teman atau kafe tertentu, kita akan siapkan keamanan berangkat dan pulangnya. Kita akan tanya ngerjainnya sama siapa, no hapenya berapa, berapa lama ngerjainnya. Kalau cemas dan panik, mungkin kita gak akan mengizinkan si remaja pergi. Kalau kita waspada, saat anak terlihat bete dan kesal, waktu udah tenang kita bisa ajak ngobrol apa yang membuat ia kesal. Kalau panik, kita akan nyuri-nyuri baca diarynya, kepo-in chattingan di hapenya.

Apa dampaknya kalau kita cemas dan panik?

(1) Rasanya gak enak. Tidak baik untuk kesehatan mental. Dan kesehatan mental, itu kaitannya erat dengan kesehatan fisik. Come on ! jadi ortu dan emak kan harus selalu prima ….lahir batin ;).

(2) Pola kecemasan dan kepanikan kita bisa menular sama anak.

(3) Membuat “hak” anak remaja tak tertunaikan. Apa sih, “hak” anak remaja? “dilepas” sedikit demi sedikit. Kenapa? karena, tahap remaja adalah tahap persiapan untuk menjadi dewasa. Saat ia dewasa, ia harus menjadi individu yang sepenuhnya mandiri. Kalau saat remaja ia “tak diatih untuk dilepas” sama ortu, bagaimana ia bisa berkembang menjadi individu yang mandiri? mandiri di sini mandiri psikologis ya…karena saya bicara dalam setting psikologis. Kan katanya sekarang lagi nge-hits istilah “peter pan syndrom” (meskipun saya mah gak terlalu setuju  sama istilah sindrom-sindroman…;) .

Yah…memang tugas menjadi ortu itu “subhanallah” ya…. kita harus lekat, tapi tak beoleh membuat anak tergantung. Saat kecil kita harus jadi “sandaran” bagi mereka, mulai dari mereka 100% persen tergantung sama kita (tentu sama Allah juga lah ya…) . Eeeh…udah lekat, kitanya udah seneng anak “membutuhkan” kita…lalu pada saat mereka remaja…kita harus “berbesar hati” mempercayai mereka, melepas mereka sedikit demi sedikit. Orangtua, adalah representasi dari satu perbuatan. Ikhlas.

Nah, sampailah kita di bagian akhir tulisan ini. Bagaimana caranya biar kita sebagai ortu remaja, waspada tapi gak panik/cemas.Tentu kita tak bisa meminta para penyedia informasi tentang remaja untuk tak hanya memberitakan yang buruk tentang remaja. Buat para penyebar berita…bad news is a good news ! Kita juga tak bisa meminta para penyebar informasi mengenai berbagai survey untuk menjelaskan secara lengkap “metodologi penelitian” mereka. Tapi kita bisa mengubah diri kita. Hei hei….inga…inga…. kita bukan korban ! kita “berdaya” !

Menurut saya, 3 hal ini yang bisa kita lakukan:

(1) Mengolah dan menyaring informasi. Sudah saya jelaskan di atas ya….

(2) Baca sumber yang komprehensif.

Terkait poin kedua ini, saya mau cerita sesuatu. Suatu saat saya pernah seperjalanan ke Jatinangor dengan seorang senior saya. Usianya dengan saya…terpaut 20 tahun lah. Beliau produktif sekali menulis, meneliti, dan berkarya Beliau mengajak ngobrol saya. Beliau “mengeluhkan” waktunya yang ter”occupied” oleh obrolan di Wa Grup. Lalu beliau menunjukkan salah satu obrolan di Wa Grupnya, yang saat itu sedang aktif-aktifnya. Wow! pas saya liat nama-nama di Wa Grup tsb, widiiiih….itu nama-nama yang sering saya baca di berita dan suka nampil di TV…. sedang membiacarakan tentang “bangsa dan negara”…. beda kelas lah ama saya mah. Lalu beliau bercerita mengenai betapa mudahnya informasi tersebar. Lalu kita bla..bla..bla..ngobrol tentang dampak positif dan negatifnya…dan ada satu kalimat beliau yang saya ingat sampai sekarang; “yang saya sedih, dengan adanya wa ini, dan mudahnya mendapatkan informasi, saya jadi kurang waktu untuk membaca buku”.

Tah, eta….. temans….informasi yang beragam apalagi di sosmed, itu bukanlah informasi yang terstruktur. Kalau kita gak punya kerangka berpikir, dijamin pusing dan akhirnya resah dan gelisah. Golput vs milih pilkada langsung hari ini, imunisasi vs non imunisasi, jaket warsito vs kemoterapi, parenting nabawiyah vs parenting sekuler, disiplin vs kreatif, masa remaja vs masa akil baligh…dijamin lieur….

Kalau kita pengen punya alur kerangka pikir yang baik, baca buku atau tanya ahli. Misal soal remaja ini. Benarkah remaja itu merupakan masa “storm and stress?” kalau baca buku tahun 2014, istilah itu sudah tak dikenal lagi. Perubahan hormonal pada remaja tak otomatis membuat remaja “jadi monster”. Apakah remaja itu akan mudah terkena pornografi, seks bebas dan narkoba? apakah “generation gap” itu ada? kalau baca buku Sternberg 2014, disitu dinyatakan bahwa kebanyakan permasalahan “perbedaan dan pertengkaran remaja dan ortu”, itu bukan pada NILAI YANG MENDASAR. Tapi biasanya pada gaya. Cara ngomong. Selera musik. Warna dan gaya baju. Gak akan ujug-ujug amak laki-laki kita yang rajin ke mesjid tiba-tiba menghamili anak orang. Gak akan ujug-ujug remaja putri kita yang tilawahnya one day one juz tiba-tiba kabur sama orang yang baru dikenal di facebook. Mencari informasi yang komprehensif itu, menenangkan. menentramkan.

(3) Banyak-banyaklah “menyetok” pengalaman yang positif dengan si remaja. Dua kisah yang saya tulis di awal adalah salah satunya….eh, salah duanya 😉 Mereka adalah dua kelompok remaja. Satu remaja awal, satu remaja akhir. Yang katanya paling bergejolak. Saat memandang para remaja awal yang merentang busur panah itu, tenaaaang rasanya. Bahwa ada loh, sekelompok anak remaja yang gak menghabiskan waktu luangnya dengan main online games atau nonton video porno. Saat memandang wajah-wajah ke-38 mahasiswa saya, mengajari anak-anak kelas dua yang belum hafal huruf dengan sabar; menghembuskan harapan, bahwa gak semua remaja gak peduli seperti kasus “bunga amarylis” yang sempet ngehits kemaren 😉

Saya seneng banget kalau Azka udah cerita kakak-kakak kelasnya. Ada yang fokus dengan hobinya masing-masing; fotografi, film, memasak, dll. Saya juga seneng saat Azka menghabiskan waktunya memikirkan proposal yang harus ia buat untuk “melamar” jadi pengurus OSIS, lalu ia cerita bahwa kakak-kakaknya lagi buat proposal dana dan merancang acara baksos. Hei….masih ada loh, remaja yang “baik”….

Sepuluh hari ramadhan, saat itikaf, saya selalu menyengaja menatap wajah-wajah para remaja, yang khusyuk membaca Qur’an, khusyuk sholat dan berdoa. Di kampus, beberapa bulan terakhir ini saya punya kebiasaan baru. Di ruang kerja saya di lantai 3, saya sering berdiri depan jendela kaca yang besar. Dari sana, saya bisa melihat aktifitas mahasiswa-mahasiswa saya di halaman dan teras gedung-gedung kampus. Ada yang sedang latihan menari, terdengar suara latihan angklung atau paduan suara, kelompok-kelompok yang serius dengan laptop-laptop mereka, ada yang latihan untuk pentas sosiodrama, BEM, mentoring, dll. Dalam perkuliahan, saya juga sekarang sangat menikmati poster-poster kreatif yang mereka buat, tampilan ppt kreatif yang mereka sajikan….saya berusaha membangun keyakinan yang besar dalam diri saya….tak semua remaja seusia mereka sibuk dengan kenarsisan, drug ataupun pornografi.

So, ortu remaja, dont worry be happy. Waspada, tapi jangan panik dan cemas. Semangat !

 

 

 

 

 

Pelukan itu bernama “Aturan”

Kurang lebih setahun lalu, saya megikuti Workshop Art Therapy. Trainernya, seorang art psychotherapist muda berbakat lulusan FSRD yang mendapat ijazah art psychoterapistnya dari London. Meskipun awalnya saya agak ragu karena saya selalu merasa “musuhan” sama apapun yang namanya art, namun tanpa saya sangka, workshop dua hari itu ternyata sangat saya nikmati. Saya pernah menuliskan oleh-oleh engikuti Art Therapy ini dalam tulisan https://fitriariyanti.com/2014/11/14/oleh-oleh-workshop-art-therapy-siapa-murid-siapa-guru/

Namun bukan tentang art therapy  yang akan saya ceritakan di tulisan ini.
Pada saat sesi tanya jawab berlangsung, ada pertanyaan menarik dari salah satu peserta. “Jika waktu therapy selama 1 jam sudah habis sedangkan klien masih mau melanjutkan, apa yang sebaiknya dilakukan oleh therapist? Apakah tidak sebaiknya memberikan waktu perpanjangan?”. Ini menarik karena bagi saya pribadi, masih sulit untuk “disiplin” membatasi waktu konseling 1 jam dengan klien.

Sang Trainer menjawab tegas, bahwa lebih baik tidak diperpanjang. Strict to the time yang telah disepakati dengan klien sebelumnya. Mengapa? Karena adanya struktur itu, penting sekali untuk klien. Lalu dengan gaya khas “anak muda”nya yang ekspresif, sang trainer menjelaskan lebih lanjut …. Kurang lebih seperti ini: “ya, kayak kita dikasih batasan dan aturan sama ortu kita, misalnya gak boleh pulang lebih jam 9 malem… kan enak gitu…dibandingkan kita gak dikasih batasan…terserah mo pulang jam berapa aja….dikasih aturan dan batasan itu, rasanya kayak dijagain gitu, rasanya kayak dipeluk”. Kalimat terakhir, ia katakan dengan gesture memeluk.

Buat saya, kalimat “anak muda” itu, sangat mengesankan, saya seperti menemukan afirmasi sekaligus terpesona dengan  penghayatan dan kata-kata yang gak pernah terpikirkan oleh saya.

Konon katanya, salah satu “tantangan” orangtua sekarang ini adalah kekurangtegaan saat memberikan batasan atau aturan.

Kalau mengacu pada dua dimensi parenting styles yang paling klasik dari Baumrind bahwa pengasuhan yang efektif itu harus mengandung 2 hal: (1) kehangatan, (2) control. 4 jenis parenting style yang udah tenar yaitu authoritative, authoritarian, permissive dan passive. Parenting style yang menurut penelitian terbukti menghasilkan anak-anak yang paling “positif” adalah authoritarian, yaitu saat orangtua memberikan kasih sayang dan kehangatan, sama besar dengan memberikan arahan, tuntutan dan batasan.

Nah, menurut pengalaman saya berinteraksi dengan ibu-ibu, kalau ngasih kehangatan mah keahlian ibu-ibu lah….tapi konsisten menegakkan aturan dan batasan itu yang challenging banget. Tidak mudah bagi seorang ibu melihat anaknya nangis, ngamuk dan “menderita” karena aturan yang dibuatnya.

Saya sendiiri masih ingat saat Umar berumur 4 tahun, 5 tahun lalu, setiap kali saya keukeuh memegang aturan, dia akan marah dan berteriak: “Ibu mah keras kepala kalau udah ngasih aturan teh!”. Dan sekarang, si bungsu Azzam, kalau saya keukeuh memegang aturan, dia aan memukul-mukuil saya.

Tapi perjalanan saya membantu anak-anak dan remaja yang “bermasalah”, menujukkan bahwa banyak potensi masalah yang bisa diantisipasi untuk tidak jadi masalah dengan adanya konsistensi aturan yang diberikan oleh orang tua.

Mengapa? Ada dua alasannya.
1.  Aturan  dan batasan itu membentuk self control. Pada anak usia dini, “hati nurani”nya belum kuat terbentuk. Kita, sebagai orangtua yang harus membantu membuatkan “pagar” mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak boleh ia lakukan, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh ia langgar, sehingga di masa depannya, “hati nurani”nya yang akan mengatakan “hei, jangan lakukan iti”.

Bahkan dalamm salah satu jurnal yang saya baca, self control ini merupakan akar dari semua permasalahan pada anak dan remaja. Kecanduan main games, kecanduan pornografi, vandalism, bullying, you name it….semuanya berakar dari control diri yang kurang kuat, yang berinteraksi dengan hal-hal pendukung lainnya.

2. Nah, ini terkait sama apa yang diungkapkan sang Trainer tadi. Secara lebih “mendalam”, saya menghayati dari klien anak-anak dan remaja yang berinteraksi dengan saya, bahwa bagi mereka, diberikan batasan dan aturan itu, bisa dihayati  sebagai wujud kepedulian dan kasih sayang. Bahwa saya dijaga. Saya dipedulikan. Saya dicintai.

Penghayatan kedua ini, akan muncul jika kita jelaskan pada anak, mengapa kita kasih aturan itu. “Teteh hanya boleh makan permen hari Sabtu. Kerena kalau terlalu sering, gigi teteh nanti rusak”. “Dede hanya boleh nonton ultraman sehari satu kali, karena kalau kebanyakan nonton ultraman, dede nanti suka pukul-pukul orang lain”. “Kaka hanya boleh main tablet sehari 30 menit. Kalau kebanyakan, Kaka nanti engga tertarik main sama temen. Padahal main sama temen itu, membuat Kaka pinter”.

Nah, cara kedua ini yang tampaknya diajarkan oleh Ibunda sang Trainer, sehingga aturan dan batasan, bisa dihayati sedemikian romantisnya menjadi sebuah pelukan yang hangat dan menenangkan. Tepat seperti demikianlah memang maksud dari adanya batasan dan aturan itu. Bukan untuk mengekang dan menyakiti.

Ah, kebetulan saya kenal ibu dari trainer muda berbakat itu..nanti saya mau tanya ah, gimana cara beliau memberikan aturan sehiungga putrinya bisa menghayati sedemikian romantisnya;)

Buat ibu-ibu….jangan ragu memberikan aturan dan batasan. Jangan ragu pula mengatakan bahwa aturan dan batasan itu, kita berikan because we love them….

 

cover buku FAA-BEB (RGB)-pp(1)Temans, sejumlah tulisan ringan seperti ini, telah dibukukan dalam buku “Bukan Emak Biasa”.

Bergabunglah bersama 250 orang yang telah mendaftar  Pre Order,

Berlaku sampai dengan tgl. 7 Desember 2015

Diskon 15% (Harga Buku Rp. 69.000,-, menjadi Rp. 58.650,-)
Mendapatkan tanda tangan basah Penulis

Caranya: mengisi form pendaftaran di link berikut ini: https://docs.google.com/forms/d/1x-3wxAJ99a6ZtjQjgJiNwNIKN119kulybLe98Joxtyg/viewform?usp=form_confirm

Kami akan menkonfirmasi pendaftaran teman-teman dan memberikan informasi harga+ongkirnya tgl 30 November, dan buku akan dikirimkan tgl 7 Desember

 

 

 

Previous Older Entries Next Newer Entries