The Teenage Brain : Being Teen (1)

the-teenage-brain-hc-c-1420580254Paling seneng kalau lagi punya buku keyyen yang sedang dibaca. Kala penat melanda, membaca buku keyyeeen sambil tiduran adalah dream comes true. Buku keyyen yang sedang saya baca adalah The Teenage Brain : A Neuroscientist’s Survival Guide to Raising Adolescents and Young Adults. Buku ini sudah dibeli sejak April lalu, bareng sama buku Harry Potter and The Cursed Child. Tapi tentunya buku Harry Potter duluan yang tamat haha….Buku ini tebalnya 358 halaman, berisi 17 bab utama plus 2 bab pengantar dan penutup.

Saya baru baca bagian Introductionnya: Being Teen. Tapi saya udah jatuh cinta banget sama buku ini. Dan sangat kabita untuk bisa nulis buku kayak gini suatu saat nanti. Buku ini adalah buku “ilmiah”, terlihat jelas dari referensi yang terdiri dari jurnal-jurnal ilmiah plus adanya indeks di bagian belakang buku ini. Pantaslah karena ditulis oleh seorang profesor neurologi. Beliau adalah Frances E. Jensen, MD, kepala departemen neurologi di Perelman School of Medicine, University of Pennsylvania. Sebelumnya, beliau adalah profesor neurologi di Harvard Medical School.

Tapi bukan itu yang bikin buku ini mempesona. Beliau menuliskan buku ini bukan hanya sebagai seorang profesor, namun sebagai seorang ibu. Ke”kaget”annya menghadapi perubahan perilaku pada dua puteranya saat memasuki tahap perkembangan remaja-lah yang mendorong ia menuliskan buku ini. Karena itulah meskipun kontenya ilmiah, bahasa di buku ini jauh dari ke”garing”an bahasa ilmiah. Penuh dengan warna emosi yang menyentuh. Sebagai emak dari remaja, saya pengen toss-an sama beliau haha… Bahasanya mengalir ringan, bahasa “curhat” emak-emak kkk… Kebetulan bahasa Inggrisnya lumayan gampang untuk dipahami oleh saya yang kemampuan bahasa inggrisnya pas-pasan.

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, begitu kata Ali Bin Abi Thalib. Maka, bab per bab yang saya baca dalam buku ini ingin saya abadikan di sini. Meskipun saya bingung juga gimana nulisnya. Saya baca sambil pake stabilo. Dan kalau gak “ditahan”, pengen stabiloin semuanya haha… Sebenernya, sebagian besar yang tertulis dalam buku ini bukan pengetahuan baru. Namun seperti menguatkan dan melengkapi potongan puzzle pengetahuan dan pengalaman saya.

Baiklah…saya akan mulai menuliskan poin-poin bagian pengantar dari buku ini : being teen. Saya akan mengelaborasinya dengan pengetahuan dan pengalaman saya.

Pada bagian ini, beliau memulai dengan mengemukakan kekagetannya akan perubahan perilaku yang terjadi pada puteranya yang memasuki usia remaja. Is this really my child? Ia melihat puteranya seperti “terperangkap” di suatu tempat antara anak dan dewasa. Masih implusif dan labil dalam emosi, namun secara fisik dan intelektual lebih terlihat seperti orang dewasa dibandingkan seperti anak. Puteranya melakukan eksperimen terkait identitas dirinya, and the most basic element of his identity was his appearance.

Pause dulu.  Saya ingin membahas dulu mengenai kalimat yang saya miringkan. Buat para emak yang anaknya usia remaja, kemungkinan mengalami bagaimana anak mulai usia SMP, kalau beli baju, bingung menentukan. Atau udah dibeli, lalu gak dipake setelah sekali ia coba muter-muter di depan kaca dan ia merasa gak nyaman. Ujung-ujungnya, yang dipake cuman baju ituuuuu aja. Kesel? jujur, ya. Perilaku lain yang tampak adalah, ia mencoba-coba baju orang lain. Si sulung saya yang berumur 14 tahun, sering pake punya saya. Mulai baju, kulot dan sepatu, baik secara terang-terangan maupun tidak. Tidak terang-terangan maksudnya gimana? beberapa kali di gallery foto hapenya saya melihat foto atau video ia memakai baju-baju saya saat saya pergi. Saya ngerti sekarang. Itu bagian dari ekslporasi pencarian jatidiri. Si sulung juga beberapa kali mencoba “pergi ngumpet-ngumpet” karena gak mau diliat sama saya gaya berpakaiannya. Haha…jadi inget saya dulu, sering juga ngumpet-ngumpet pergi kayak gitu, waktu itu eksperimen pake kerudung hehe. Kenapa ngumpet-ngumpet? karena tahu gak akan disetujui. Tampaknya, demikian juga pemikiran si sulung. Ini adalah hal yang sederhana. Tapi kalau kita tidak paham, bisa jadi sumber keributan dan jadi jurang pemisah antara orangtua-anak. Saya ingat seorang ibu yang sangat kesal pada putri bungsunya yang sering memakai baju milik 3 kakak puterinya tanpa minta izin. Tentunya kakak-kakaknya merasa kesal, kenapa sih gak beli sendiri? Ibunya juga bingung. Diajak beli baju sendiri gak mau, tapi pake baju orang lain. Nah, ini jawabannya. Menemukan identitas diri. Identitas fisik adalah kulit paling luar dari identitas.  Kalau di barat, pencarian identitas itu bisa sampai ke hal-hal yang “dalam” loh… misalnya ke identitas gender. Sudah “biasa” di masa remaja ini seorang perempuan menjadi lesbian, anak laki-laki menjadi gay. Nanti setelah selesai beresksperimen, mereka akan menemukan “jatidiri” mereka sendiri.

Nah, kalau dikaitkan sebagai orangtau muslim, bagaimana sikap kita? menurut saya, pencarian jatidiri ini merupakan bagian penting dalam kehidupan individu. Buku-buku parenting menyebutkan bahwa tugas orangtua itu “hanya” dua. Socialization dan Individuation. Socialization artinya mengajarkan anak nilai-nilai yang diterima di masyarakat dimana ia hidup. Sebagai seorang muslim, nilai-nilai agama termasuk ke dalamnya. Individuation artinya ia menemani anak menemukan “dirinya”; sehingga ia akan menjalani nilai-nilai itu sebagai “dirinya” yang unik. Maka, kalau kita punya 4 anak (saya maksudnya hehe), tujuan pengasuhannya adalah menjadikan 4 anak ini sholeh, masuk syurga, dengan keunikannya sendiri-sendiri. Tidak harus semuanya jadi hafidz, karena tak semuanya punya memori yang kuat. Tapi semua sholeh sesuai dengan kekuatan dan keterbatasan yang Allah karuniakan. Maka, penemuan jatidiri ini menjadi penting.

Jadi biarkan aja gitu?remaja bereksplorasi sesukanya?  dalam buku ini, penulis menggambarkan bagamana shock-nya ia melihat anaknya mengecet warna rambutnya. Karena menyadari ini bagian dari pencarian identitas diri, maka ia memilih untuk “menemani” anaknya bereksplorasi. Ia temani anaknya ke salon. Memberi ruang bereksperimen namun tetap dalam pengawasan, itu jauh lebih aman. Dan saya setuju! sama lah kayak ke anak 2 tahun. Pengen berenang di tempat dalem. Kalau dilarang, ia jadi tak tahu apakah ia bisa atau engga. Kalau dibiarkan, berbahaya. Cara terbaik adalah, mengizinkannya dengan ditemani. Siapkan pelampung, temani. Anak akan mengalami dan menghayati kemampuan dan keterbatasan dirinya dengan cara ini. Saya ingat seorang teman saya, beberapa tahun lalu anak laki-lakinya sangat senang dengan aktivitas cosplay. Ia masuk ke komunitas itu. Anaknya memang nyeni. kreatif mendesain cosplay, bahkan di usia  SMP sudah sering dapat uang sendiri hasil aktivitasnya ikut lomba atau pameran cosplay. Teman saya ini menyadari bahwa kegiatan ini, ada positifnya namun ada potensi negatifnya. Komunitas cosplay tidak hanya berisi anak-anak “baik”. Maka, ia mengizinkan anaknya ikut kegiatan ini sampai ke luar kota, dengan satu catatan: ia ikut. Dan si anak menerimanya.

Dalam skala kecil, eksperimen dengan identitas dalam bentuk baju saya alami bersama si sulung. Dan saya ingat satu kalimat dari buku ini : try not to focus on winning the battles when you should be winning the war. The endgame is to help get them through the necessary experimentation that they instinctively need without any long term adverse effect. Pertama kali jadi emak anak remaja, saya dulu fokus pada pertempuran. Melihat dia pake celana ketat, langsung ingetin, si sulung merespons dengan marah. Lihat kerudungnya tak menutupi dada langsung saya minta dia ganti baju, dia nangis. Haha….dua tahun lalu inget sering banget “berantem” sama si sulung. Tiap mau pergi bareng pasti ada insiden dulu. But practice makes perfect. “Perang” yang harus kita menangkan dengan si remaja adalah kedekatan hati. Bukan berarti dia kita biarkan. Tapi menahan diri untuk memberikan kritik secara langsung, menggandengnya lalu “mengobrol” tentang ini-itu, lalu masuk ke nilai-nilai dan akhirnya ke topik pakaian, ternyata jauh lebih efektif mengubah perilaku si remaja. Pride and image are big for teens, and they are not able to look into themselves and be self critical. Begitu kata penulis buku ini.

Dalam buku ini, diungkapkan juga bahwa selama ini, banyak miskonsepsi mengenai remaja yang tidak terbukti secara empirik-ilmiah. “Salah paham” itu diantaranya: remaja menjadi impulsif dan emosional karena hormon, remaja menjadi pembangkang karena mereka ingin terlihat berbeda. Penulis menekankan bahwa di chapter-chapter selanjutnya, ia akan mengungkapkan bahwa the teen brains is at very special point in development. There are unique vulnerabilities of this age windows, but  there is also ability to harness exceptional strength that fade as we enter into adulthood. Duuh…gak sabar ya pengen baca chapter selanjutnya hehe…

Penulis berulang kali menekankan bahwa otak remaja itu, unik. Berbeda. Kita tak bisa membandingkannya dengan otak orang dewasa. The adolescent brain works and responds to the world differently from the brain of either a child or an adult. Berbeda. Makanya, kita harus tahu bedanya gimana. Gak bisa pake kacamata kita sebagai orang dewasa. Memahami perbedaan otak mereka dengan kita, cara pikir mereka dengan kita, akan membuat kita mengetahui apa keterbatasan yang mereka miliki, dan apa yang bisa kita bantu untuk mereka. 

Kita sebagai orangtua, kata penulis too often we send them mixed messages. Kita berasumsi bahwa begitu tampilan mereka secara fisik seperti orang dewasa (para putri memiliki lekuk-lekuk tubuh, para putera memiliki jakun), maka kita langsung memperlakukannya sebagai orang dewasa, dengan tuntutan seperti orang dewasa. Hhhmmm…kalau di Islam, ketika anak sudah mimpi basah atau menstruasi di usia 13 tahun-an, sebagian berpendapat bahwa mereka sudah bisa diperlakukan sebagai pemuda dewasa. Diperlakukan dan diberi tuntutan seperti 30 tahun. Saya masih belajar tentang hal ini. Karena kalau demikian, saya masih belum menemukan jawaban: mengapa begitu masuk usia pubertas, Allah tidak langsung “mengubah” struktur dan fungsi otak mereka menjadi sama dengan dewasa ? Pasti ada hikmah yang tersembunyi dari fakta ini. Hikmah yang harus digali jawabannya.

Saya suka banget waktu penulis bilang bahwa : so take a lead, take control, and try to think for your teenage sons and daughters until their own brain are ready to take over the job. The important part of the human brain-the place where actions are weighed, situations judged and decision made- is right behind the forehead, in the frontal lobes. This is the last part of the brain to develop, and that is why you need to be your teens’s frontal lobes until their  brains are fully wired and hooked up and ready to go on their own

Bagian terakhir dari pengantar ini saya suka banget (haha….suka banget semuanya 😉 the most important advice I want to give you is to stay involved. We lose physical control as children leave childhood. Yups…yups…kalau bahasa saya: “kalau sebelum remaja, menjalin kedekatan teh gampang banget… tinggal peluk lama dan erat. Tapi kalau udah remaja, ketika kita jadi awkward kalau peluk mereka dengan lama dan erat, kedekatan itu menjadi lebih sulit untuk dijalin, karena tak kasat mata”

Yang dibutuhkan oleh remaja adalah model, template, structure. Anak butuh external cues. Jadi, dibandingkan dengan mengomel, ebih baik “temani” si remaja. MIsalnya saat mereka mengerjakan PR, daripada ngomel kenapa mereka masih main hape padahal jam belajar, lebih baik temani belajar, bantuin.

Demikianlah bagian pengantar buku ini. Insyaallah kalau udah ada waktu lagi, akan lanjut baca dan sharing chapter 1: Entering the Teens Years. 

Captain America vs Hulk : Obrolan Cinta dengan Kaka

Beberapa minggu lalu, kayaknya sebagai bagian dari promosi buat film Spiderman Homecoming yang tayang di bioskop, TV kabel yang kami langgan memutar film-film Marvel. Saya gak pernah tertarik untuk nonton film action kayak gitu. Lebih seneng drama tentunya. Tapi nemenin si sulung dan si bujang, jadilah saya nonton Captain America: Civil War. Seru juga ternyata. Dan Karena itu adalah sekuel terakhir dari film-film Marvel, maka sepanjang nonton saya terus nanya-nanya terus tentang tokoh2 disana. Si sulung dan si bujang menjawab: “Ibu…kalau ibu mau ngerti, ibu harus nonton Captain America: First Avenger, Captain America: Winter soldier, Thor, Thor The Dark World, Avenger, Avenger Age of Ultron, The Hulk, Incredible Hulk, Iron Man 1,2 dan 3″. Ya ampuun …. banyak amat. Mereka taunya dari mana ya? Harus bareng nih kalau nonton film-film kayak gitu. Daaaaan….seminggu itu, pas anak-anak belum masuk sekolah, sebagian film yang disebutkan si sulung dan si bujang, tayang juga. Jadilah tau sejarah Thor punya hammer, siapa itu Bucky dan Loki, Vision itu siapa, dll dll. Khatam lah pokoknya chapter Avengers kkk.

avengerWaktu itu, 4 hari si bujang kecil dan si gadis kecil ikutan kegiatan liburan. Si bungsu bobo siang. Jadilah saya dan si sulung nonton Avenger berdua. Sambil rebutan gurilem cemilan kami. Setelah nonton, saya tanya si sulung: “Kaka, dari Avengers Kaka paling seneng sama siapa?” Sepersekian detik, dia langsung jawab: “Kapten Amerika!”. “Kenapa?” tanya saya. Nah, bagian mendengarkan jawaban dari pertanyaan kenapa yang saya ajukan ke anak-anak, selalu seru dan selalu saya nikmati. Saya selalu excited mendengarkan pikiran dan perasaan anak-anak umur 5,8,11, dan 14 tahun itu. Teknik proyeksi kalau dari sudut pandang psikologi mah.

“Ya jelas lah ibu…..ganteng. Terus baik banget. Ibu inget kan waktu latihan trus dilemparin granat tea? yang  waktu dia masih ceking? trus dia teh malah meluk granat itu buat ngelindungin temen-temennya? so sweet banget …” Begitu jawab si sulung. Haha…memang sih..kalau film ini dimaksudkan untuk membentuk citra yang baik pada “prajurit Amerika”, film ini berhasil banget. Banget.

Lalu si sulung bertanya pada saya: “Kalau ibu suka sama siapa?” Saya jawab: “Dr. Bruce Banner”. “Haaaaah…beneran Bu, Ibu suka sama Hulk?” matanya membelalak tak percaya. “Bukan Hulk Kaka, Dr. Bruce Banner. Memang dia berubah jadi Hulk, tapi kan dia sendiri bilang Hulk itu the other guy. Beda sama dia”

“Ih, aneh ibu mah. Dia kan paling gak ganteng ibu”…… “Iya, tapi dia teh menurut ibu paling menonjol inner beautynya. Humble banget. Itu yang gak terlalu dimiliki yang lain. Padahal dia kan pinter banget. Dia tau banget kelemahan dia, dan dia berjuang mengendalikan. Kan dia mengabdikan dirinya di India”. Saya menjelaskan. “Tapi wajar sih Kaka pilih Kapten Amerika. Ibu juga kalau seumur Kaka pasti pilih Kapten Amerika”. Kata saya lagi. “Haha…iya Kaka juga ngerti kenapa Ibu suka sama Bruce Banner. Ibu kan udah tua haha….” nikmat banget ketawa si sulung.

“Yah, tapi itulah Ka…..rasa cinta itu berevolusi. Kalau seumur Kaka, meskipun ada unsur pertimbangan “baik atau engga”nya, tapi tampilan fiisk pasti yang utama. Pasti Kaka juga suka sama cowok pertimbangan utama karena menarik secara fisik. Bikin degdegan. Begitu juga Kaka disukain cowok karena fisik Kaka. Kalau kata teori, itu namanya romantic love. Gak salah sih. Kalau kayak Kapten Amerika ganteng dan baik, alhamdulillah. Tapi pada kenyataannya nanti, seringkali kita harus memilih. Antara ‘suka’ karena perasaan atau “suka” karena rasional, karena kualitas dirinya.”

“Nah, kualitas diri itu, baru ajeg kalau udah dewasa. Makanya, gapapa kalau Kaka suka dan disukai sama temen seumur Kaka. Tapi kalau memutuskan untuk memberikan seluruh diri kita sama orang itu saat ini, kayak misalnya berhubungan sex, itu salah banget. Simpan dulu aja rasa suka itu dalam hati. Karena belum keliatan kualitas sesungguhnya dari orang itu.” 

“Nah..kalau udah seumur ibu dan abah, fisik tuh udah gak penting lagi. Seganteng-ganteng orang, kalau udah tua ya gak ganteng lagi. Jadi gendut lah, botak lah, apalagi kalau udah kena penyakit. Suka sama fisik itu, kalau dijadikan satu-satunya pertimbangan, akan bentar banget bertahannya. Kalau udah seumur ibu dan abah, yang membuat jatuh cinta adalah kebaikan hati. Jadi kebaikan hati itu yang harus jadi pertimbangan utama. Kayak Dr. Bruce Banner haha….. Bayangkan kita akan hidup bersama dengan orang itu, menderita banget kita kalau dia ganteng tapi nyebelin”

“Tapi kalau ada yang kayak Kapten Amerika ganteng terus dan baik, oke kan bu?”//Iya sih, tapi kayaknya model gitu cuman ada dua orang Ka, satu udah meninggal satu lagi belum lahir” 

Hahaaa…kami pun tertawa nikmat bersama.

Kurang lebih dua tahun menjadi ibu dari seorang remaja, saya mengalami betapa sulitnya membuka dan menjalin komunikasi yang menyenangkan dengan mereka. Padahal nilai-nilai kehidupan justru kritis harus masuk di masa ini, sejalan dengan “studi kasus nyata” yang mereka hadapi sehari-hari. Dalam beberapa tulisan sebelumnya saya menuliskan pengalaman sulitnya “membuka pintu” masuk obrolan dengan remaja. Kalau sama adik-adiknya, gampang. Tinggal bilang: “sini, ibu peluk”. Dan sambil memeluk mereka, gampaaaaang banget ngajak ngobrol apapun. Dari yang remeh temeh gak penting, sampai dengan suara dari lubuk hati terdalam.

Nah kalau sama si remaja? meluk? kalau gak dalam konteks pamit, aneh banget. Ujug-ujug ngajak ngobrol? udah saya coba. Awkward banget. Obrolan dengan para orangtua remaja, membuat saya menyimpulkan bahwa hal yang paling sulit mengasuh remaja adalah, membuka obrolan untuk masuk ke konten “serius”

Maka, obrolan ringan seperti yang terjadi di atas, sangat saya nikmati. Saya merasa sudah menemukan satu lagi pintu masuk, menambah koleksi “pintu masuk” lainnya. Dan seperti yang dituliskan di beragam buku, remaja usia SMP itu, masih membutuhkan orangtuanya. Mereka senang ngobrol, haha hihi, curhat sama teman sebayanya. Tapi mereka juga masih enjoy ngobrol, haha hihi dan curhat sama orangtua serta sudara-saudaranya.

Saya sangat suka dengan perumpamaan mengasuh remaja itu seperti bermain layangan. Kadang benangnya kita ulur sampai tak terlihat, kadang kita tarik dan kita pegang. Tapi yang jelas, benangnya jangan sampai putus. Nah, mempertahankan agar benang itu tak putus, saya rasakan bukan hal yang mudah. Karena kalau sudah putus, sulit. sangat sulit menyambungkannya lagi. Maka, sekali lagi, obtrolan ringan dan lucu seperti ini, sangat saya nikmati dan saya syukuri.

 

Kala ibu tak lagi “hebat”

Dear Para Emak, pernahkah kita melakukan hal kecil atau atraksi kecil, lalu anak-anak kita begitu terkagum-kagum dan dengan mata berbinar mengatakan “ibu hebat!”…”ibu keren”… ? pasti pernah kaaaan…

Bahkan mungkin kadang kita suka heran…hal yang “biasa banget” buat orang dewasa, di mata si kecil, seringkali dinilai suatu hal yang luar biasa. Saya sering sekali mendapat tepuk tangan atau pekikan kekaguman dari si bungsu 4 tahun dan si gadis kecil 7 tahun. Saat saya membuatkan si bungsu pesawat kertas; si bungsu bilang: “wow, ibu ahli pembuat pesawat”. Kala saya membuat gambar singa (yang wajahnya lebih mirip monyet), si bungsu masih terkagum-kagum: “ibu keren gambarnya rapih banget”. Kala saya menggoreng telur, si gadis kecil bilang: “hebat ih, ibu mah bisa mecahin telor dengan mulus”. 

Kalau…ini mah kalau ya…ada teman-teman yang gak pernah “dikagumi” ama anak-anaknya, saya mau ngasih resep satu atraksi favorit saya, yang dijamin akan bikin anak-anak kita terkagum-kagum. Saya menyebutnya: ATRAKSI TELUR AJAIB.

Alat dan bahan: satu atau lebih telur (boleh telur ayam atau telur bebek); direbus sampai matang (catatan, saat merebus, jangan sampai anak-anak tahu). Setelah matang, angkat, tiriskan, setelah dingin masukkan ke tempat telur di kulkas bersama “teman-temannya” para telur mentah. Tapi kasih tanda. Lalu, ajak anak-anak ke dapur dan katakan: “ibu mau melakukan atraksi. Ibu bisa lempar-tangkap telur tanpa pecah”. Ambil telur yang tadi sudah kita rebus, lalu lemparkan-tangkap. Buat se-atraktif mungkin; misal: lemparan telur sampai mengenai langit-langit, kita menangkapnya dengan berbagai gaya; hampir terjatuh, tangan kiri, tangan kanan… Untuk menambah kesan, bilang sama anak-anak: “mau coba? tapi awas pecah ya” ... Trus sesekali, kalau gak tertangkap, gapapa telornya jatuh ambil lagi, lalu tunjukkan bahwa telur tersebut tidak pecah. Kalau pada anak-anak saya, si bungsu dan si gadis kecil berteriak kegirangan sambil bertepuk tangan dan bilang: “ibu hebat…ibu hebat…”.

Nah…teman-teman… mudah bukan, membuat kita terlihat “hebat” di mata si kecil? Sekarang coba bayangkan kalau atraksi heboh itu kita lakukan di depan anak remaja kita. Minimal anak kelas 1 SMP lah. Hiii…sebenernya saya pengen eksperimen sih…beratraksi di depan si sulung…tapi gak berani nanggung resikonya uy haha…. kebayang saya, si sulung akan mengeryitkan dahinya dan berkata: “ibu ngapain? geje banget”. Dan yang pasti, rahasia identitas si telur sebgai telur rebus, akan sangat mudah terbongkar. Jangankan si sulung yang udah kelas 8…si bujang kecil saja, kelas 5…hanya butuh waktu sebentar untuk bilang: “coba bu, sini aku pegang telurnya…kayaknya bukan telur mentah deh”. 

Temans…moral of the storynya adalah…betapa sangat mudah kita menjadi “hebat dan mengagumkan” buat si kecil. Tapi untuk menjadi “hebat dan mengagumkan” buat si remaja? Tak mudah. 1#Mengapa bisa begitu? Dan …. 2#itu sangat tak menyenangkan bukan? 3#Lalu kita harus bagaimana? Saya akan jawab satu-satu pertanyaan tsb.

#Mengapa bisa begitu?

Saya ingat suatu waktu, saya mendampingi seorang senior saya memberikan penyuluhan pengasuhan. Itu adalah acara pengabdian masyarakat yang saya buat, untuk ibu-ibu di kalangan menangah ke bawah di suatu desa. Setelah masing-masing ibu diminta mengungkapkan kesulitan pengasuhan yang intinya adalah ibu kesal karena anak melawan, senior saya berkata: “waktu bayi, anak kita melawan gak bu?” “engga…” jawab ibu-ibu itu. Kenapa sekarang melawan? “karena udah bisa ngomong” celetuk seorang ibu. “Nah, dulu anak ibu gak bisa ngomong. Sekarang bisa ngomong. Artinya apa bu? artinya anak kita berkembang”. “Ibu kasih makan gak anak ibu?” . “Iyaaaa” jawab ibu-ibu itu kompak. “Biar apa ibu kasih makan? “Biar tambah besar….” “Nah, itu…artinya, anak kita melawan karena ia tumbuh. Berkembang. Kalau ibu gak mau anak ibu tumbuh dan berkembang, ya udah… gak usah kasih makan aja…” para ibu itu hampir semua tertawa, sebagian mengangguk-angguk.

Yups…. saya sering sekali mendapatkan keluhan anak remaja yang “berubah” menjadi “melawan”. Biasanya, saya suka ajak orangtua untuk membayangkan perilaku apa yang diharapkan. Misalnya: kita ingin anak kita mengatakan “ya” pada semua yang kita katakan? Kita bilang: “hari ini kamu pake baju ini ya….”.Anak remaja kita bilang “ya”. “Hari ini kita ke undangan teman ibu ya, kamu harus ikut”. Anak kita bilang ya. .. hanya ya dan ya. Itu yang kita inginkan? ya? konsekuensinya, jika itu yang kita inginkan, kita ingin saat kita beratraksi telur tadi si remaja kita ikut berteputk tangan dan bilang kita hebat?

Saya sih tidak mau. Kalau kita mau jujur, perkembangan anak itu selalu amazing dalam setiap tahapnya. Teori menjelaskan bahwa anak “melawan” karena perkembangan kemampuan berpikirnya berkembang. Piaget bilang, setelah anak berusia 12 tahun, kemampuan berpikirnya sama dengan orang dewasa, di tahap formal operational. kalau baca buku tentang remaja, dikatakan bahwa remaja sudah bisa deductive reasoning & hypothetical thinking. Intinya adalah, dia sudah bisa berpikir seperti orang dewasa. Maka, ketika kita biscara pada remaja, kita seperti bicara dengan orang dewasa. Dia bisa melihat beberapa kemungkinan. Dia bisa memikirkan hal-hal yang abstrak, yang belum pernah ia lihat, dengar dan alami sebelumnya. Kalau kita bilang pada si remaja “bawa payung, nanti kamu kehujanan”. Trus si remaja bilang: “ih, males banget, aku pake jaket aja”. Berarti, dia sudah bisa membayangkan bahwa membawa payung itu konsekuensinya gimana.Lalu ia membandingkan antara membawa payung dengan memakai jaket. Lalu ia sampai pada kesimpulan  bahwa memakai jaket, benefitnya yaitu gak kehujanan dapet, tapi costnya lebih ringan dibanding harus bawa payung. Artinya, ia sudah bisa berpikir kompleks. Kita, tak menyadari karena proses berpikir itu berlangsung sedemikian cepatnya, sepersekian detik. Lalu kita bilang si remaja “melawan” karena “langsung nyahut”.

Maka, sekali lagi saya ingin sampaikan bahwa perkembangan manusia, dalam setiap tahapnya, itu selalu amazing. Coba kita coba amati si remaja kita. Cara dia bicara, cara dia merencanakan sesuatu, cara dia membuat keputusan, itu beda banget dibanding ketika dia anak.

Si sulung, saat ini sedang jatuh cinta. Saya beberapa kali menemukan lembaran kertas berisi ungkapan perasaannya, tercecer di meja belajar atau di kasurnya. Ya ampuuun…ia sudah bisa merasakan perasaan yang begitu kompleks. Beda banget sama si gadis kecil yang minggu lalu bilang: “bu, teteh suka sama ***. dia teh gak ganteng, tapi baik banget. Gak pernah berantem, gak pernah berisik di kelas”. Anak umur 7 tahun dan anak umur 13 trahun, sama-sama sedang “menyukai” seseorang tapi dengan proses dan penghayatan yang jauh sekali bedanya. Si  7 tahun sangat simpel, sangat konkrit, si 13 tahun sangat kompleks. Abstrak.

2#itu sangat tak menyenangkan bukan?

Ya, perkembangan anak, itu selalu amazing. Namun apakah kita rasa menyenangkan atau tidak, seringkali standarnya adalah kebutuhan kita. Kita ingin si kecil tampil menawan di undangan, kita beliin satu baju, si kecil mau, kita senang. Kita ingin si remaja tampil anggun di acara keluarga, kita minta dia pake baju tertentu, si remaja gak mau, kita kesal. Kita kesal karena ia tak mengikuti keinginan kita, tak memenuhi kebutuhan kita.

3#Lalu kita harus bagaimana?

Tapi gimana kalau untuk hal-hal yang baik? misalnya kita ingin dia belajar… kan itu untuk kebaikan dia, kebutuhan dia, bukan kebutuhan orangtua… nah…ayo kita hayati. Kalau kita keseeeel si remaja gak mau belajar, sedangkan kita pengen dia belajar, maka belajar itu, nilai baik itu, kebutuhan siapa hayo…kebutuhan kita atau kebutuhan anak?

Bahwa belajar itu baik dan harusnya jadi kebutuhan anak? Yes, absolutely. Jadi, apa yang salah? yang salah adalah, kita mengerahkan energi agar anak kita mau memenuhi kebutuhan kita, bukan mengerahkan energi agar belajar itu, prestasi itu menjadi kebutuhannya. Sama juga kita memfokuskan perhatian agar anak kita beresin kasurnya karena kita pengen kamarnya rapi, dan lupa untuk memfokuskan perhatian untuk membuatnya merasa perlu membereskan kasurnya dan menanamkan nilai mengapa kamar harsu terlihat rapi.

Menginternalisasikan nilai, membuat kebutuhan kita (yang baik) menjadi kebutuhan anak, itu memang tidak mudah. Butuh proses. Gak instan. Butuh dialog. Butuh kesediaan mendengarkan. Intinya butuh usaha. Tapi setelah kita berhasil…kita akan tenang melepas anak menghadapi dunianya. Ingat…kita tak akan pernah bisa selalu berada di samping anak dan memberithu apa yang boleh dan apa yang tidak boeleh dilakukannya.

Maka, beri kesempatan mereka untuk menganalisa. Membandingkan satu pilihan dengan pilihan lainnya. Membandingkan alternatif yang kita sampaikan dengan alternatif yang muncul dari hasil olah pikirnya sendiri. Biarkan ia memutuskan. Belajar memahami dan menjalani kosekuensi pilihannya. Saat remaja awal, konsekuensinya kan masih ringan. untuk kasus payung tadi, konsekuensi terberat adalah dia kehujanan, jadi flu…

ec982bdb8bb6cc84963fbedeb220faceTeknisnya dengan cara apa? dialog. Dialog yang kita lakukan dengan tulus. Tanpa prasangkan bahwa si remaja “sengaja bikin kita kesel”. Kalau kita bilang sesuatu dan dia bilang: “iya….udah tahu”…maka, percayailah bahwa ia memang sudah tahu. Lalu bisa kita lanjutkan: “kalau kamu udah tau kalau gak belajar nilainya bakal jelek, kenapa kamu gak belajar?” ….. (bukan pertanyaan menghakimi, tapi kita tulus bene pengen tau apa yang dipikirkan anak) “kenapa kamu gak mau renkingnya bagus?” …. teruuuuuus….selami cara berpikir anak. Kita tahu sesuatu, …sampaikan pada anak. “kalau kamu gak belajar, nanti kamu gak dapet SMA bagus. Kalau kamu gak dapet SMA bagus, nanti susah dapet jurusan yang kamu pengenin di Perguruan Tinggi. Padahal, ayah liat  teman-teman ayah, jurusan di Perguruan Tinggi itu sebagian besar menentukan profesi apa yang akan kita jalani” ……..”oh, jadi menurut kamu, gapapa kuliah di bidang apa tapi kerjanya di bidang apa? tapi kalau menurut ayah, kok sayang ya…kuliah kamu kalau ilmunya gak diamalkan. Menurut ayah, akan lebih baik kalau selama 4 tahun kuliah, kamu memang mendalami bidang yang kamu suka”……. teruuuus aja… kalau kita beneran pengen tau, lama-lama seneng kok ngobrol sama si remaja-remaja teh…Kadang banyak pengetahuan yang kita baru tahu dari mereka. Sudut pandang yang kita gak pernah pikirkan sebelumnya. Apalagi di zaman internet sekarang ini. Anak-anak kita bisa dapat informasi yang lebih banyak dibandingkan kita. Nah… ini bedanya remaja sama anak. Kalau pada anak, kita kayak “give”, mereka “take”. Tapi kalau dengan remaja, kit audah saling take and give. 

Dan efek samping dari proses dialog ini, super duper keren. Didengarkan. Sederhana ya. Tapi  gak mudah kan? Ya, karena ada proses mendalam ynag berujung pada kesediaan kita mendengarkan. Kepercayaan kita pada anak. Kita baru akan bisa mendengarkan kalau kita percaya pada anak. Dan “dipercayai” itu… dampaknya luar biasa banget buat si remaja. Ingat…remaja itu adalah proses ia menjadi “seseorang”. Dan dipercayai sehingga didengarkan, akan menumbuhkan perasaan saya adalah “seseorang”. Pikiran saya berharga, sehingga layak didengarkan. Perasaan saya berharga. Gagasan saya berharga. Pengetahuan saya berharga. Keinginan saya berharga. SAYA BERHARGA.

Maka, kalau hari-hari ini kita merasa kesal dengan anak remaja kita, itu wajar. Sangat wajar. Saat keinginan kita tak terpenuhi, itu namanya kita frustrasi. Tapi trus gimana? Coba buang dulu kekesalan kita, lalu nikmati interaksi dengan mereka: tatap lekat wajahnya, dengarkan setiap rangkaian kata yang ia ucapkan, perhatikan gesturnya, sama seperti kita menikmati si kecil 1 tahun yang sedang tertatih-tatih belajar berjalan. Jatuh, bangun …jatuh bangun… tapi kita tetap antusias, memberikan semangat, memeluk kala jatuh.

__anak, dalam setiap tahap perkembangannya, selalu amazing. Yang membuatnya menjadi tidak amazing adalah, karena ia tak memenuhi keinginan kita__

sumber gambar: https://id.pinterest.com/explore/parenting-humor-teenagers/

Sepatu Zebra : serunya jadi ortu anak remaja

Waktu si sulung masih kecil, sebagai mahmud (mamah muda) yang baru punya anak pertama dan anaknya perempuan, saya seneng banget dandanin si sulung pake baju plus aksesori girly. Pinky girl lah…. Kini, si gadis kecil itu sudah 13 tahun. Sudah menjadi “gadis besar”. Gayanya, jauh dari girly. Pilihan warnanya adalah warna gelap. Bahan dan modelnya, super casual. Dari mulai kerudung sampai sepatu. Tiap menjelang lebaran, tantenya yang punya butik pakaian muslimah minta kami memilih sesuka hati model baju yang kami pengen. Tantenya biasanya semangat menunjukkan beragam model rok atau gamis remaja yang feminin; dia akan menggeleng dengan mantap. Sebenarnya kalau mau cari kambing hitam, secara genetik mau secara contoh; memang gaya dan pilihan dia persiiiiiis gaya dan pilihan saya. Casual, gak mau ribet, praktis. Tapi dasar emak-emak…tetep aja sebenernya saya pengen dia tampil feminin 😉

Akhir tahun lalu, waktu saya ke Bali, saya belikan dia sepatu casual yang bahannya dari kain tenun, kembaran sama saya. Tentu bukan jenis sepatu yang kuat. Tapi dia seneng banget. Dipakenyaaaa terus sepatu itu sampai sudah robek-robek. Saya bilang “Kaka, udah waktunya Kaka beli sepatu lagi, itu sudah robek”. Tapi dia selalu menolak. Hampir sepuluh kali lah saya ajak dia -baik tidak sengaja maupun menyengajakan- ke toko sepatu. Semua….dia jawab dengan gelengan kepala. Sampai waktu mau lebaran, saya keseeel banget :“Kaka, masa sih Kaka mau lebaran pake sepatu kayak gitu? ayo masa dari ratusan sepatu di sini gak ada satu pun yaag Kaka suka?”. Dan respons si sulung adalaaaaah….nangis sesenggukan. Sampai saya diliatin sama pengunjung se-jagat toko sepatu itu hehe…

sepatu-kets-model-zebra-wanitaSuatu hari, waktu kita jalan-jalan ke Borma (saat itu saya sudah hopeless dan mengikuti nasihat si abah, membiarkannya “memilih” tetap memakai sepatu butut itu), tiba-tiba si sulung menarik tangan saya; “Bu, ada sepatu yang Kaka mau” katanya. Ah, saya bahagia banget. Saya ikuti dia menunjukkan tempat sepatu itu. Dan, tadaaaa …. saya mau pingsan pas liat sepatu yang ia tunjukkan. Sepatu zebra! kayak yang di samping ini! si gadis manisku suka dan mau pake sepatu kayak gini… saya inget…kalau ada mahasiswa yang pake motif kayak gini saya suka agak “nyureng” hehe…

“Hargai pilihan si remaja, jangan terlalu baper untuk pilihan yang sifatnya tidak prinsip”. Langsung saya inget hal ini. “Owh, emang ini cukup di kaki Kaka? kayaknya kekecilan deh” kata saya. “Iya emang. Kaka mau tanya siapa tau nomernya ada yang pas” katanya penuh semangat. Sambil menunggu si sulung bertanya sama SPGnya, saya langung menghampiri si abah dan curhat: “abah…tau gak…ini sepatu yang dipengenin si Kaka…ya ampuuun….”. Reaksi si abah, udah bisa saya tebak. “Kan dirimu yang bilang….. beda generasi, beda selera. Biarin lah selama bukan hal prinsip”. “Iya, aku tau…tapi motif ini …ya ampuuun..” .Saya masih ingin mengekspresikan perasaan haha…

Si sulung kembali menemui saya, wajahnya sedih; “Engga ada yang pas nomornya Bu”. katanya. Alhamdulillah….sorak hati saya hehe… “Ini bagus Ka…” kata saya menyodorkan sepatu manis bermotif bunga kecil. Si sulung menggeleng dengan mantap. Baiklah….

Meskipun saya sering diminta berbagi mengenai pengasuhan, namun saya senang juga cerita mengenai “babak belurnya” saya menjalani peran mendampingi anak-anak saya dalam tahap-tahap perkembangannya. Jadi apa dong gunanya “belajar parenting” ? kalau tetap merasa kesel, marah, sedih, khawatir, bingung…saat menghadapi episode pengasuhan yang sesungguhnya?

Hhhmmm….menurut saya, belajar ilmu pengasuhan itu bukan untuk membuat kita jadi “lempeng” saat menghadapi situasi yang menantang. Tapi pengetahuan itu akan membuat kita “sadar”, apa yang tengah terjadi pada kita dan pada anak kita saat itu. Istilah keren psikologinya mah mungkin  “metacognition”. Kita jadi kemampuan untuk “thinking about thinking”. Kita jadi tau dan sadar bagaimana cara kita berpikir.

Kalau saya mah suka ngebayangin….dengan pengetahuan kita tentang perkembangan anak, tentang kondisi psikologis orangtua….pas lagi momen kejadiannya teh…kita kesel, kita marah, kita bingung, tapi pengetahuan yang kita punya, membuat seolah-olah “diri” kita keluar, menyaksikan diri kita yang lagi mengalami kejadian tersebut. Kayak kejadian sepatu zebra itu, meskipun saya merasa pengen pingsan dan langsung curhat sepenuh hati ama si abah, tapi pas lagi curhat itu, bagian dari diri saya ada yang menyaksikan itu, lalu ngetawain diri saya haha…

Nah, metakognisi ini yang menurut saya, membuat meskipun kita merasakan emosi negatif, tapi emosi itu “gak masuk ke hati” dan “gak jadi penyakit”. Beberapa waktu lalu ada yang memberi feedbak mengenai tulisan saya di blog ini: “tulisan-tulisan pengasuhan di blog ini membuat saya merasa tidak sendirian” katanya. Yes ! emang itu harapan saya. Demikian pun kalau sharing tema pengasuhan. Bukan untuk mengajari. Da aku mah apa atuh…. GAk ada istilah “ahli parenting”… Tapi niat saya adalah sharing fakta, sharing pengalaman. Karena saya punya kesempatan baca buku, baca hasil penelitian, lakukan penelitian, ketemu klien-klien….

Mengasuh  itu seperti perjalanan panjang. Kalau kita fokus hanya pada akhirnya, sayang…lebih baik kita nikmati pemandangan, cuaca dan segala rintangan yang kita hadapi di sepanjang perjalanan. Geleng-geleng kepala, shock, pengen pingsan, pengen nangis, keseeel bangeeet, …. semua rasa itu, adalah ke-seru-an yang mari kita nikmati. Sambil kita tahu bahwa itu adalah bagian dari perjalanan panjang ini.

 

 

 

 

Jadi ortu remaja: jangan baper. Kenapa?

Dalam tulisan sebelumnya, https://fitriariyanti.com/2016/06/06/adakah-remaja-dalam-islam/, saya menyampaikan bahwa entah diberi nama apa, namun  nyatanya, ada masa “transisi” dalam diri seorang anak untuk “belajar menjadi dewasa”, yang dalam literatur psikologi dinamakan masa remaja.

Dalam proses transisi ini, terjadi perkembangan fisiologis dan neuropsikologis yang pada hakikatnya menyiapkan anak untuk menjadi individu dewasa. Misalnya, yang paling menonjol adalah aktifnya sistem reproduksi seksual, yang Allah siapkan agar si anak yang akan menjadi dewasa ini, siap untuk melanjutkan keturunan. Perkembangan kognitif yang berubah adalah media yang Allah siapkan agar si anak yang tadinya “tergantung” pada orangtua, mulai bisa “bertanggungjawab atas dirinya sendiri” sebagai ciri utama manusia dewasa.

Memang dampak dari perubahan yang terjadi di dalam diri si remaja, membuat perilakunya menjadi berbeda. Dan pada dasarnya, ketika terjadi perubahan pada diri anak, maka agar terjadi keselarasan dengan lingkungan, maka lingkungan juga harus berubah. Apa yang berubah? cara. Bukan nilai yang kita tanamkan. Dalam hal ini, lingkungan saya maksudkan adalah kita sebagai orangtua. Jika anak berubah namun orangtua tidak berubah, maka disequilibrium atau ketidakseimbangan terjadi. Bentuk nyatanya: pertengkaran ortu-anak, kekesalan ortu-anak yang bisa bermuara pada menjauhnya ikatan hati ortu-anak.

Situasi inilah yang menurut literatur-literatur parenting, membuat pengasuhan orangtua pada remaja menjadi “chalenging”. Terutama di masa remaja awal, 10-13 tahun. Hal ini semakin terasa pada keluarga yang memiliki remaja untuk pertama kalinya, alias si sulungnya yang masuk masa remaja. Perhatian orangtua pada si sulung remaja, biasanya terbagi pada adik-adiknya.  Hal ini membuat upaya untuk “mencari ilmu” tentang pengasuhan remaja pun menjadi kurang optimal.

Parenting pada anak prasekolah biasanya sangat digemari ortu, karena biasanya pada saat itu anak mereka baru satu atau dua. Parenting masa SD….tidak terlalu banyak. Parenting remaja? jarang. Padahal, tubuh remaja itu tidak transparan. Kita tidak bisa melihat secara konkrit bahwa ada yang berubah dalam dirinya. Itu membuat kita sering “lupa” bahwa ada bagian dari dirinya yang sudah “dewasa”, ada bagian dari dirinya yang “masih anak-anak”. Mereka pada dasarnya butuh bantuan kita sebagai orangtuanya untuk membantu menyelaraskan aspek-aspek perkembangan dalam dirinya, belajar dari anak menjadi dewasa.

Meskipun sebelum si sulung masuk ke masa remaja saya sering bertemu klien remaja, membaca literatur tentang remaja, menyelami masalah-masalahnya, memahami keluhan-keluhan orangtuanya, namun tetap…penghayatan terdalam adalah ketika menjalani fase itu, fase menjadi orangtua remaja. Saya ingin menceritakan satu kejadian yang membuat saya merasakan sekali proses belajar menjadi orangtua remaja.

Beberapa waktu yang lalu, si sulung 12,5 tahun minta dibelikan kerudung hitam langsungan untuk acara sekolahnya, solo bivak selama 3 hari. Tapi kemudian dia bilang, “Ga apa-apa bu, kalau ibu engga sempet. Kaka mau titip temen aja. Kaka punya kok uangnya”. Tapi  tentu saya berupaya untuk membelikannya. Saya ingat betul, waktu itu jadwal saya padet banget. Tiap hari baru beres jam 5 dari Jatinangor. Sedangkan kalau saya telat pulang, berarti anak-anak juga telat makan malam. Tapi suatu hari, saya sengaja meminta anak-anak jemput ke Jatinangor, beli makanan sehingga anak-anak makan malam di mobil, jadi saya bisa  mampir ke sebuah toko kerudung remaja, memilih-milih model kerudung berwarna hitam. Ukurannya? M. Lalu saya simpen di meja kerja saya. Saya bilang ke si sulung, saya sudah belikan kerudungnya.  Tiga hari kemudian, saya melihat tiga buah kerudung hitam itu masih tergeleteak di meja saya. Hari itu hari terakhir packing untuk acara di sekolahnya. Saya tegur dia. Dalam hati, ada perasaan kesal. Rasa “tidak dihargai” muncul. Padahal effort saya untuk belikan keruudng itu, dalam kesempitan waktu saya, menurut saya cukup besar. Si sulung bilang “iya”.

Hari h, di apun berangkat. Pake kerudung item. Tapi bukan yang saya belikan. Modelnya beda. Menurut saya lebih jelek. Ukurannya S. Saya tanya “Kaka itu kerudung darimana?”. Dia bilang “Kaka titip beli ke temen”. Saya tanya lagi: “kerudung yang ibu beliin gimana?”. “Iya Kaka bawa” katanya. Oke. Meskipun agak ngeganjel dan menangkap sesuatu yang berbeda dari nada bicaranya. Siangnya, saya tidak sengaja buka lemarinya. Hwaaaa hiks….3 kerudung yang saya belikan, tergolek manis di tumpukan lemarinya. Sedih? Merasa tidak dihargai? ya.

Seperti biasanya saat saya “kesal” sama si sulung, langkah pertama yang saya lakukan adalah …cari tempat sampah. Tempat sampah emosi maksudnya. Curcol. Sama siapa? sama best friend dong. Si abah. Saya telpon si abah yang sedang di luar kota. Bla…bla…bla…bla…Sekitar 10 menit. Dan si abah tau persis apa yang harus ia lakukan. Mendengarkan. Dan ditutup dengan kalimat: “dirimu kan tau ilmunya. Nanti aku ngobrol sama dia” .

Baiklah. Emosi sudah keluar. Sekarang bisa berpikir jernih. Pertama, saya selalu ingat kalimat-kalimat dari Om (atau Opa ya ? hehe…) Laurence Steinberg, psikolog yang fokus meneliti mengenai remaja. Dalam berbagai artikelnya, berdasarkan penelitian-penelitiannya, beliau mengatakan bahwa biasanya, yang menjadi sumber “pertengkaran” orangtua dan remaja adalah perbedaan dalam hal-hal yang sifatnya “permukaan”. Bukan karena hal-hal yang sifatnya nilai-nilai dasar. Mengapa? karena nilai dasar itu penanamannya kan berproses. Kalau keluarga menanamkan sebuah nilai terus menerus pada anak, maka kalau nilai itu terhayati, gak akan ujug-ujug tercerabut dari si anak di masa remajanya.

Oke. Apa tadi masalahnya yang bikin saya nyesek? si sulung pake kerudung ukurannya S. Tapi masih menutupi dadanya.  Modelnya gak sebagus model yang saya pilihkan? bentar…bentar…itu masalah “permukaan” atau masalah “nilai dasar?” hehe…jujur sih, itu masalah selera. Gak prinsip.

Tapi kan dia tidak menghargai orangtua! satu sisi batin saya berteriak. Wajar dong kalau nanti tiga hari kemudian dia pulang saya bilang ke dia: “Kaka, kaka berdosa loh….bikin ibu sedih dan kesal. Tau gak…ibu udah berkorban beliin Kaka kerudung…bla..bla..bla..Engga boleh loh Kaka, bikin ibu sedih. Ingat, surga itu ada di telapak kaki ibu”. Salah gak kalau saya bilang gitu? engga. Emang benar kan, fakta dan ajaran agamanya gitu. Apalagi kita sebagai ibu punya satu senjata: keridhoan. Tak terhitung ajaran agama yang menyatakan pentingnya keridhoan seorang ibu untuk anaknya, bukan?

Lalu kemudian saya teringat senior saya. Putra pertamanya kini berusia 18 tahun. Beberapa tahun yang lalu, dalam perbincangan kami, ia menceritakan bahwa puteranya ini memiliki hobi tertentu. Hobi yang positif dan konstruktif sih, meskipun “tidak islami”. Tapi tak keluar dari koridor baik dan benar.  Hobinya ini membuat si anak yang waktu itu masih di SMP, harus mengikuti beragam kegiatan dan bertemu komunitas sejenis, yang ia khawatirkan berdampak negatif. Oleh karena itu, setiap kali puteranya meminta izin mengikuti kegiatan tersebut bahkan sampai ke luar kota, ia akan mengizinkan dengan satu syarat: ia ikut. Repot, ya. Kenapa harus gitu? Bukankah kita bisa gak mengizinkan? tanya saya waktu itu. Jawaban senior saya itu, membuat dahi saya berkerut sat itu. “Aku tau Fit, kalau aku gak izinin, dia tetap akan pergi karena buat dia ini tuh penting banget. Kalau dia pergi tanpa seizin aku, dia kan berdosa. Nah, oleh karena itu aku mengizinkan dengan syarat aku ikut”.

marvel-greatSaya baru mengerti logika itu, pada saat mengalami kejadian “kerudung hitam” dengan si sulung. Seperti kata Uncle Ben-nya spiderman, with great power comes great responsibility. Sebagai ibu, kita punya great power. Doa. Kerdihoan. KIta punya pilihan, apakah akan menggunakanpower ini  untuk “menuntutnya”, mengukuhkan posisi kita sebagai “otoritas”. Atau, kita berusaha untuk memanfaatkan power ini untuk “melidunginya”.

 

Minggu lalu, Ustadz Aam di Majelis Percikan Iman menyinggung hal ini. Bahwa seorang ibu harus punya kebijaksanaan untuk meridhoi sesuatu yang ia tak setujui dari anaknya. Tentunya selama pilihan anaknya tak keluar dari koridor kebaikan dan kebenaran. Hal ini beliau sampaikan menanggapi  wawancara dengan dua orang hafidz/hafidzah, yang salah satunya mengatakan bahwa awalnya orangtuanya tidak ridho ia menunda kuliah untuk menghafal AlQuran. Selama masa itu, sulit buatnya menghafal. Hingga pada suatu hari, ia menemui orangtuanya, berbincang, sampai orangtuanya mengatakan Ridho dengan pilihan putrinya. Setelah itu, entah mengapa…mudah sekali buatnya menghafal. Sang hafidzah mengatakan bahwa ridho orangtua, ia hayati sebagai pembuak pintu kemudahan menjalani pilihannya.

Tapi si sulung udah berbohong. Ya, saya punya pilihan. “menghukumnya”, atau “mendidiknya”. Kalau saya pilih menghukumnya, saya bisa tegur dia. Kalau saya  pilih mendidik, saya bisa ajak ngobrol dia. “Kaka, ibu tahu Kaka engga suka kerudung yang ibu berikan. Lain kali, kalau Kaka engga suka, lebih baik Kaka bilang. Ibu ngerti, mungkin Kaka engga enak sama ibu. Ya, ibu juga pengennya Kaka pake sih, tapi kalau Kaka bilang, ibu akan berusaha untuk menghargai Kaka. Daripada Kaka bilang iya tapi kenyataannay Kaka engga pake. “

Ya, sebagai orangtua, kita selalu punya pilihan. Tak hanya pilihan bersikap tidak benar atau benar, tapi juga pilihan bersikap benar atau bersikap bijak.

Kesimpulannya, sesuai judul tulisan ini, salah satu hal yang harus kita pelajari sebagai orangtua dari remaja adalah: jangan baper. Jangan bawa perasaan. Tersinggung, tak merasa dihargai….untuk hal-hal atau persoalan-persoalan yang sifatnya “permukaan”, tak prinsip, harus kita latih untuk mudah menjadikan perbedaan antara keinginan kita dan pilihan si remaja, menjadi  persoalan kecil yang bisa diabaikan.

Dan kalau menurut penghayatan saya, kita memang perlu sungguh-sungguh berlatih ini saat anak kita masih remaja. Mengapa? karena saat ia dewasa, anak kita punya hak sepenuhnya untuk menentukan pilihan-pilihan besar dalam hidupnya. Dan kita harus menghargainya. Meridhoinya. Ajaran agama mengisyaratkan hal itu. Bukankah pernah datang seorang wanita pada Rasulullah dan bertanya apakah boleh ia keberatan dengan jodoh yang ditentukan oleh ayahnya, dan Rasulullah mengatakan boleh?

Di masa depan, saat anak kita menjadi dewasa, akan semakin banyak pilihan-pilihan besar yang akan ia putuskan sendiri, yang tak selalu sesuai dengan keinginan kita. Pilihan jurusan kuliah, pilihan jenis pekerjaan, pilihan pasangan hidup. Maka, perbedaan-perbedaan kecil yang kita hadapi dengan si remaja, sesungguhnya adalah fasilitas dari sang Maha  untuk mengasah sikap mental kita. Belajar menganalisa: ini prinsip gak? melanggar kebaikan dan kebenaran gak? kalau engga, kalau perbedaannya masalah selera, disitu kita harus belajar bijak dan legowo. KiIta harus berlatih karena kalau engga, nanti kita sulit dan menyulitkan anak kita saat ciri utama kedewasaannya, yaitu membuat keputusan sendiri, kita intervensi.

Jadi, kalau kita latihan dari sekarang, semoga nanti kita bisa mengatakan: “Sebenarnya ibu pengen kamu jadi dokter. Apalagi kamu udah diterima di Fakultas Kedokteran. Tapi kalau kamu maunya jadi wartawan, engga apa-apa. Ibu ridho. Ibu doakan semoga kuliah kamu lancar, jadi wartawan yang baik, yang jujur, berintegritas”. Atau kita bisa mengatakan: “Sebenarnya ibu pengen punya menantu yang satu suku, yang pake kacamata, yang humoris. Tapi kalau kamu sudah memilih dia yang beda negara, gak pake kacamata dan pendiam, it’s oke. Toh dia sholeh. Kewajiban-kewajiban agama tidak pernah ditinggalkan, akhlaknya baik. Ibu Ridho”.

Menurut pengalaman saya dengan klien-klien saya, konflik dengan orangtua atau dengan anak, adalah salah satu konflik yang paling membuat batin menderita. Dan seringkali, sayangnya, konflik itu, bukan pada hal-hal yang sifatnya prinsipil, tapi pada hal-hal “permukaan”, namun kita tak terbiasa melatihnya.

Wallahu alam. Semoga bermanfaat.

sumber gambar : https://hendosays.wordpress.com/tag/great-power/

 

 

 

Adakah “remaja” dalam Islam ?

Suatu sore, saya menyaksikan adegan yang membuat saya pengen ketawa guling-guling. Si gadis kecil 7 tahun yang sedang asyik membaca buku, tiba-tiba bangkit, memakai kacamata plastik hello kitty-nya, mengambil pulpen, dan mendekati si sulung 13 tahun  yang sedang asyik ber-hape ria. Dengan gaya reporter, si gadis kecil berkata:

Gadis kecil : “Kaka, apakah kaka mudah tersinggung?”

Si sulung : “Apaan sih kamu? ganggu aja…”

Gadis kecil : “Ya, betul. Barusan Kaka menunjukkan perilaku mudah tersinggung. Pertanyaan selanjutnya: apakah Kaka perasaannya mudah berubah-ubah dengan cepat?”

Si sulung: “Ih, kamu….gak ada kerjaan lain apa?” (dan dia pun beranjak ke kamarnya).

Lalu si gadis kecil pun mendekati saya, menunjukkan sejumlah poin dengan kolom checklist yang ada di buku “pubertas” yang sedang dibacanya. Lalu dia berkata: “Bu, Kaka positif remaja bu….bener kata ibu”.

Adegan itu, kepolosan si gadis kecil, lucuuu banget. Memang sejak dua tahun lalu, sejak si sulung yang baik hati, tidak sombong dan super ngemong itu berubah perilakunya menjadi jutek, saya menjelaskan pada adik-adiknya bahwa kakaknya, memasuki masa remaja. Apakah remaja itu? bla..bla..bla…pubertas…bla..bla..bla…hormon…bla..bla..bla..emosi…bla..bla..bla..

Ah, remaja. Pemikiran yang tidak islami. Tak ada remaja dalam Islam. Adanya istilah remaja itu hanya upaya pihak-pihak tertentu untuk menghancurkan generasi muslim. Biar aqil-nya gak bareng sama baligh-nya.

Sudah sering saya dengar dan baca pendapat tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat pada yang berpendapat demikian, saya punya sudut pandang lain.

Bahwa dalam Islam periode perkembangan manusia itu hanya ada dua yaitu belum aqil baligh dan sudah aqil baligh, Yups. Absolutely. Ajaran agama, jika dituliskan dalam Al Qur’an dan sunnahnya, areanya iman. Percaya.

Istilah remaja itu adalah upaya-upaya pihak tertentu untuk menghancurkan generasi muslim, agar kita sebagai orangtua mentolelir “kesalahan-kesalahan” dan memaklumi “proses pencarian jati diri” remaja? No comment. Wallahu alam. Saya tidak punya informasi yang bisa saya percaya untuk mengatakan itu betul atau salah.

Lalu, kenapa saya masih menghidupkan kata dan konsep “remaja” dalam kepala saya, padahal saya muslimah?

Biar saya ceritakan dulu asal-usul munculnya istilah “remaja” ini. Istilah “remaja” atau adolescence, berasal dari bahasa latin yang artinya “to grow into adulthood”. (Tuuuuh ka, dari latin, bukan dari Islam). Mengapa para ahli psikologi memunculkan “remaja” sebagai salah satu tahap perkembangan manusia ? tahap perkembangan manusia itu, dirumuskan berdasarkan karakteristik segi biologis/fisik dan  kognitif/pemikiran yang berdampak pada perilaku yang khas.

Mengapa periode anak dibedakan dengan periode dewasa? karena ada perubahan biologis/fisik dan kognitif/pemikiran yang berbeda secara signifikan pada anak dan pada dewasa. Mengapa individu usia 40 sampai 60 tahun dikelompokkan dalam kelompok yang sama? karena secara umum, karakteristik segi biologis/fisik dan  kognitif/pemikirannya tidak berbeda secara signifikan.

Jadi, adanya istilah REMAJA adalah berdasarkan pengamatan bahwa ada kekhasan perubahan biologis/fisik dan kognitif/pemikiran pada kelompok usia tertentu, antara usia anak dan usia dewasa. Usia berapa? nah, ini pertanyaan gampang yang susah jawabannya. Karena parameter yang digunakan juga  berbeda-beda. Namun intinya, masa ini pada hakikatnya adalah masa dimana anak mengalami perubahan dalam semua aspek perkembangannya  untuk menjadi dewasa. Makanya suka disebut masa transisi.

Mengapa transisi? karena tidak JRENG !!! begitu menginjak usia tertentu, atau begitu mengalami kejadian tertentu, perilaku anak langsung berubah menjadi perilaku yang dewasa. Ada proses. Proses itu terjadi bertahap. Dari segi biologis dalam tataran sel, fungsi otak, yang berdampak pada kemampuan berpikir, yang seterusnya berdampak pada perilaku.

Jadi, kalau yang saya tangkap, literatur psikologi yang menyebutkan ada tahap yang namanya remaja dengan karakteristik perubahan biologis begini, perubahan fungsi otaknya begitu, perubahan emosinya begono, dll… itu bicara tentang fakta empiris. Kenyataan di lapangan. Tinggal kita berpikir kritis: di lapangan yang mana? amerika? negara barat? timur? indonesia? timur tengah? …. apakah di semua tempat ditemukan perilaku  pada usia tertentu yang khas, berbeda dengan perilaku anak-anak dan perilaku orang dewasa di daerah tersebut? Mangga pertanyaan itu dicari jawabannya sendiri.

Saya sendiri, sependek pengalaman saya, melihat bahwa perilaku khas itu -perilaku khas yang bukan perilaku anak-anak namun bukan perilaku dewasa- ada di rumah saya, nyata di lingkungan sekitar saya. Maka, saya sendiri percaya bahwa ada perubahan biologis/fisik dan kognitif/pemikiran yang terjadi pada anak yang akan berproses menjadi dewasa. Mau dinamakan REMAJA, mau dinamakan pemuda, mau gak dikasih nama juga, bukan itu hakikatnya. What in a name…. tapi bahwa secara lapangan kenyataan itu ada, ya.

Lalu, bagaimana dengan ajaran Islam yang mengatakan bahwa setelah baligh anak dituntut dengan kewajiban yang sama seperti orang dewasa? mmmhhh….saya sendiri tidak melihat dua hal ini sebagai suatu pertentangan, versus.

Bahwa remaja putri itu kalau lagi PMS emosinya naik turun, YA. Faktanya demikian. Bahwa dengan kondisi tersebut ia tetap wajib sholat, YA. Itu adalah aturan agama yang tak bisa diganggu gugat. Dimana pertentangannya?

Bahwa anak remaja putra usia 13 tahun itu lagi suka-sukanya sama lawan jenis, YA. Faktanya demikian. Bahwa dengan kondisi demikian ia tetap tidak boleh berzina dan tidak boleh mendekati zina, YA. Itu adalah aturan  agama yang tak bisa diganggu gugat. Dimana pertentangannya?

Tanpa mengurangi rasa hormat pada mereka yang berpendapat bahwa ilmu yang boleh kita dengar, pelajari dan amalkan itu hanya ilmu yang berasa dari dunia islam dan ilmuwan islam, saya memiliki sudut pandang yang berbeda. Saya menghargai mereka yang berpendapat bahwa Psikologi itu ilmu sekuler. Haram untuk kita pelajari dan amalkan. Ya, ada sebagian teori Psikologi yang didasari oleh pemahaman  hakikat  manusia yang berbeda dengan pemahaman hakikat  manusia menurut agama Islam. Tapi sebagian lainnya, yang tak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, adalah ilmu alat yang bisa membantu kita memahami sistem keMahaannya. Wallahu alam.

Jadi, kesimpulannya, karena saya sendiri melihat bahwa fenomena di lapangan perilaku khas remaja itu ada, maka saya memutuskan untuk mempelajari mengenai remaja ini. Untuk apa? untuk menanamkan nilai-nialai agama padanya.

Saya gak bisa tutup mata dalam menanamkan nilai-nilai. Resikonya terlalu besar. Gak percaya? coba bilang sama anak 7 tahun. “Ayo sholat. Kalau gak sholat, nanti gak ibu ajak jalan-jalan”. Mungkin si 7 tahun akan menurut. Coba katakan hal yang sama pada anak umur 13 tahun. Dia akan nurut?

Ada yang berubah dalam diri si anak. Maka, cara kita mengajarkan nilai agama pun harus berubah. Yang tidak boleh berubah adalah satu, Nilai-nilai agama yang ingin kita tanamkan pada anak.

Kita mau tutup mata tak mau melihat perubahan dalam diri anak? tetap memakai cara yang sama seperti cara yang biasa kita lakukan ? silahkan. Saya tak mau ambil resiko itu.

Beberapa hari lalu saya membaca secara lebih detil mengenai perubahan struktur dan fungsi otak pada remaja. Ini adalah topik yang relatif baru, dan sedang ngehits di dunia psikologi, yang memandang manusia sebagai entitas yang lengkap: bio-psiko-sosial. Tau gak…saya pengen nangis loh…membaca perubahan yang terjadi pada otak “remaja”, yang … amazing banget. Saat itu, hati saya merasa …“Ya Allah, Engkau teh Maha Sempurna banget. Detiiiiiil dan sempurnaaaa sekali engkau menyiapkan tahap demi tahap perkembangan manusia”. Insyaalah kalau ada usia dan kesempatan saya akan berbagi mengenai hal ini.

Saya jadi inget, 4 hari lalu, di kampus kami mengadakan acara mempersiapkan Ramadhan. Dua orang pembicara keren kami undang. Satu mas Budi Prayitno. Kami minta beliau berbicara mengenai fiqih shaum ramadhan. Karena latar belakang beliau psikologi, beliau memaparkan juga mengenai happines kaitannya dengan puasa ramadhan. Pembicara lainnya adalah Ustadz Tauhid Nur Azhar, doktor yang menguasai bidang neurologi. Beliau kami minta berbicara mengenai puasa dalam perspektif neurosains.

37 tahun umur saya, baru kali ini saya faham mengapa dalam puasa ini, Allah mengatur yang ditahan adalah hawa nafsu “makan, minum dan seksual”. Tiga hal itu.  Dengan fasih beliau menjelaskan dari sudut pandang neuro sains. Yang terkait dengan tulisan ini adalah, saat beliau menjelaskan keteraturan yang terjadi dalam tubuh manusia, yang beliau jelaskan sudah bukan di tataran sel lagi, tapi jauh…jauh..jauh lebih kecil dari sel. Beliau menjelaskan kompleksitas otak, sel-sel syaraf, mekanisme enzim-enzim….saya tidak sepenuhnya mengerti, tapi yang berkesan buat saya adalah, dengan penuh penghayatan beliau berkata: “Keren banget Allah tuh…indah banget sistem otak itu…”.

Saya, dengan penghayatan yang sama, bisa mengatakan hal yang sama: “Keren banget ALlah itu. Ya, manusia  itu makhluk yang paling sempurna, mahakaryaNya. Sungguh-sungguh sekali Ia menciptakan manusia tuh”. Kalimat itu keluar dari hati saya setelah saya mempelajari suatu topik Psikologi secara detil.  Terutama bagian-bagian ilmu yang menjelaskan hal-hal yang sifatnya basic. Seperti perubahan yang terjadi dalam diri manusia sepanjang hidup manusia. Atau tentang bagaimana manusia berpikir. Proses transduksi dalam sensasi-persepsi. Proses memory, proses learning. Amazing. Speechless. Allahu Akbar. Memahami proses yang Ia ciptakan, selalu memunculkan kekaguman pada keagunganNya.

Kesimpulannya adalah, ada banyak cara menuju kebaikan. Kebaikan yang ingin kita capai adalah, anak-anak kita tumbuh menjadi individu dewasa, yang aqil baligh, yang mencintai Allah, yang selamat menjalani kehidupan ini.

Bagaimana cara mencapai itu, berbeda-beda. Ada yang berpendapat anak harus disterilkan. Jauhkan dengan berbagai potensi godaan. Pisahkan dengan lawan jenisnya, tutup aksesnya terhadap dunia luar. Salah? tidak.          Ada yang berendapat berbeda. Memberikan anak akses terhadap potensi godaan, dengan batasan-batasan dan umpan balik tertentu. Salah? tidak.

Ada yang berpendapat bahwa ajaran agama harus diajarkan tanpa pertanyaan. “Allah sudah menetapkan aturan itu, pasti itu aturan yang sempurna. Ikuti saja”. Salah? tidak. Ada juga yang berpendapat untuk menanamkan pemahaman agama yang mengakar, perlu adanya dialog. Membuka ruang saat anak bertanya “kenapa sih aku harus pake jilbab? kenapa sih harus sholat?”. Salah? tidak.

Yang salah adalah kalau kita tak peduli dan tak sungguh-sungguh mendidik. Yang salah adalah ketika kita melihat cara kita tak berhasil, kita diam saja, bersikeras bahwa cara ini yang paling benar. Yang salah adalah saat kita tak mau belajar dengan sungguh-sungguh.

Pesan saya, cara apapun yang kita putuskan sebagai orangtua, pelajari cara itu dengan sungguh-sungguh. Dari A sampai Z. Jangan hanya berhenti di tataran konsep. Berpikir kritis. Jangan ragu bertanya pada ahlinya. Tentang remaja dan aqil baligh ini, bagi yang percaya bahwa masa transisi itu ada, tanyakan pada ahlinya….jadi harus bagaimana dalam praktek pengasuhannya? apa batasan-batasan boleh dan tidak boleh yang bisa kita sampaikan pada si remaja? tekniknya gimana? gimana kalau respons si remaja begini, begitu? apa yang kita khawatirkan?

Bagi yang percaya bahwa tidak ada fase remaja, juga tanyakan pada ahlinya…berpikir kritis. Apakah sama kadar dewasa remaja putri berusia 13 tahun yang sudah baligh dengan pada waita usia 30 tahun? misalnya. JIka sama gimana, kalau beda gimana? Tanya…dari A sampai Z.Karena setiap kerangka pikir, ada jalurnya masing-masing. Kalau dicampur, nanti bingung sendiri. Intinya mah, jika akan mempelajari satu hal, pelajari sungguh-sungguh, tak boleh hanya berhenti sebagai wawawsan dan ilmu, tapi pahami sumbernya, dasarnya, kejar sampai tataran aplikatif.

Tulisan di atas, semoga bermanfaat.

41B+rV6mZ2L-e1415201455240Yang jelas, pandangan bahwa munculnya istilah remaja itu adalah untuk melemahkan generasi muda, secara pribadi kurang saya percayai.

Kalau ada yang mengatakan hal itu dan memandang remaja adalah masa untuk kita mentolelir keburukan, saya melihat trend psikologi tidak ke sana.

Salah satunya adalah dengan munculnya buku dari salah satu ahli yang sudah lebih dari 40 tahun mempelajari mengenai remaja di samping ini.

Wallahu alam. Semoga kita dikaruniai kesungguhan dan kerendahan hati untuk mencari ilmu, serta kekuatan untuk mengamalkan ilmu. Aamiin…

#Ramadhan 1437 _ day one

Menghindari “that awkward moment” dengan si remaja awal

Dalam salah satu jurnal yang saya baca dikatakan bahwa dari sekian tahap perkembangan anak, waktu pengasuhan yang paling chalenging itu adalah mengasuh anak usia 2 tahunan dan mengasuh anak di tahap remaja awal (10-13). Mengapa? karena pada dua tahap usia tersebut, terjadi perubahan dahsyat pada diri si anak.

Bagi teman-teman yang tidak setuju terhadap penamaan istilah “remaja” karena di Islam hanya adalah istilah baligh dan aqil, bisa mengamati juga bahwa pada usia 10-13 tahun, ada karakteristik anak yang berubah dari karakteristik sebelumnya. Dalam Islam, pada umumnya anak di usia ini mencapai kondisi baligh. Kita harus persiapkan agar antara kondisi baligh dan aqil, itu sejalan. That’s right ! sehingga memahami karakteristik anak di usia ini, bisa kita posisikan sebagai ikhtiar untuk mematangkan kondisi aqil sesuai dengan kondisi balighnya.

Di usia 10-13 tahun, anak mulai memiliki “referensi lain” untuk perilakunya, bukan hanya orangtua tapi teman. Sebenarnya, kondisi ini adalah mekanisme dari Yang Maha Kuasa, yang menyiapkan anak untuk mulai otonom secara emosi dan sosial. Hal ini sebagai dasar untuk anak menjalin “intimate relationship” dengan orang lain, melalui persahabatan dan lalu nantinya hubungan saling percaya dengan pasangannya. Jadi, kalau di usia ini anak mulai menyembunyikan diarynya, mulai mempassword beberapa fitur handphonenya, mulai gak segala diceritain, jangan kaget. Jangan juga merasa “I’m not a good mother”. Si remaja  memang harus mulai belajar memilah. Mana yang pas untuk diobrolkan dengan orangtua, mana yang ia lebih nyaman diskusikan dengan teman.

Nah, beberapa teman yang udah duluan meneliti mengenai remaja awal, menemukan fakta bahwa pada usia ini, sesungguhnya si anak masih sangat merasa membutuhkan orangtuanya. Maka, sesungguhnya hubungan si remaja dengan orangtua, masih ingin ia jalin.

c2Nah, sekarang kita meluncur ke bumi. Ke realitas. Dengan pemahaman seperti yang saya tulis di atas, maka saya berusaha untuk terus “menjalin hubungan” dengan si sulung saya, remaja putri kelas 1 SMP itu. Nah, ternyata itu tak mudah. Secara fisik, sekolahnya fullday. Berangkat jam 6, pulang setengah 6. Lalu dia mandi. Makan. Belajar. Tidur. Pintu kamarnya, lebih banyak tertutup. Saya memang sengaja menempatkan si gadis kecil  Hana adiknya sekamar sama si sulung. Sengaja untuk tujuan agar kami bisa askses kamarnya, dan ia tidak keberatan. Kadang saya masuk ke kamarnya. Dia lagi belajar, atau baca novel, atau ketak-ketik tugas, atau lagi “ngehape”. Kadang saya suka ajak ngobrol, tanyi ini itu. Tapi  kalau ujug-ujug gitu, saya suka merasa awkward. Si sulung lempeeeng aja. Jawabannya pendek-pendek. Boro-boro mau membahas hal-hal sensitif atau mendalam….ahirnya saya jadi suka merasa garing sendiri.

Nah…beberapa bulan terakhir ini, saya punya tips gimana bisa ngobrol panjang lebar sama si remaja itu, tanpa merasa awkward. Tipsnya adalah, saya ajak ngobrol saat lagi berkegiatan bareng. Masak makan malam bareng, itu jadi momen harian. Trus waktu itu ke pasar bareng. Berdua. Atau kalau pas jalan-jalan wiken, sengaja saya deketin dia…jalan bareng…nah, disitulah obrolan lancar mengalir. Tentang kebingungannya nyari nama angkatan, tentang keinginannya untuk jadi “tim sembilan” (ialah 9 siswa terpilih untuk membantu guru saat penerimaan siswa baru anti), tentang kekesalannya pada guru x, perasaannya pada teman y, dsb dsb.

Hmmmmhhh….meskipun tips ini seperti sederhana, namun berdasarkan pengalaman saya, saat kita mengalami sesuatu pertama kalinya, hal-hal sederhana pun bisa menjadi sesuatu “big problem” buat kita. Demikian pula saat kiat pertama kali mengalami pengasuhan di fase tertentu. Seperti masalah awkward itu, sempat menjadi pikiran saya berbulan-bulan.

Saya jadi ingat, beberapa orang bertanya, “kapan bikin buku lagi?”. Jawaban saya: “6 tahun lagi”. Kalau saya panjang umur, insya allah buku itu akan bercerita bagaimana pengalaman saya menghadapi remaja perempuan dan remaja laki-laki. Ah, jadi excited nih. Penasaran gimana penampakan dan pengalaman-pengalaman saat si bujang kecil Mas Umar jadi remaja (si emak cengar-cengir cendili 😉

Previous Older Entries