Remaja dan Sastra

Siang ini, karena cukup luang, maka saya menyempatkan diri ke toko buku favorit keluarga kami. Sejak dua minggu lalu, si sulung bilang bahwa untuk pelajaran Bahasa Indonesia, ia mendapat tugas untuk membaca dan menceritakan tiga buku: satu buku biografi, satu buku terjemahan, dan satu buku puisi.

Buku biografi, adalah kesukaan si abah. Di lemari buku kami, ada puluhan buku biografi. Mulai dari biografi Rasulullah, Para Sahabat, Para Ulama, Tokoh Nasional, pengusaha, sampai dengan Udjo. Dengan semangat 45, si abah merekomendasikan buku “Ayah”, biografi Hamka yang ditulis puteranya, Irfan Hamka. Kata si abah bagus banget. Saya sendiri belum sempat membacanya. Untuk buku terjemahan, saya rekomendasikan salah satu dari puluhan buku Franklin the Turtle yang kami koleksi. Dan tadi siang, saya membelikannya buku kumpulan puisi.

IMG_20160125_154857Ketemulah saya dua buku ini. Yang satu adalah kumpulan 22 puisi cinta-nya si burung merak, W.S.Rendra. Yang satu lagi, novel sekuel Bumi dan Bulan, yang sudah lama ditunggu-tunggu si sulung. Novel karya penulis favorit kami, saya dan si sulung.

Jujur saja, saya senang sekali dengan tugas dari guru si sulung ini. Nanti pas bagi raport, saya akan bilang ke gurunya bahwa saya sangat mendukung tugas-tugas seperti ini. Kenapa?

Beberapa waktu lalu, waktu saya buka hape si sulung. Ssaya punya kesepakatan dengan si sulung: ia saya beri izin mengunci line-nya, karena itu pembicaraan personal dengan teman-temannya, yang ia tak mau saya mengetahuinya. Selain line, ia tidak kunci dan saya boleh membukanya. Di galery-nya, ada beberapa screenshoot percakapan ia dengan teman-temannya. Salah satunya bikin saya shock. Screenshoot percakapan line dari seorang temannya, tampaknya laki-laki. Begini tulisannya: “Aing cinta banget siah ka maneh. Soalnya maneh manis banget”. Haaaa? gelo ! kasar banget bahasanya….gak sopan! Tiba-tiba saya teringat beberapa ungkapan perasaan teman saya dulu untuk saya, yang ditulis dalam bentuk puisi. Beberapa rangkaian kalimatnya masih saya ingat, dan saya masih ingin tersenyum sambil masih deg-degan sedikit saat mengingatnya kini. Haha….kunaon jadi emaknya yang nostalgia…hihi….. Tapi yang jelas, dulu rasa suka diwujudkan dalam bentuk rangkaian kalimat yang halus dan indah. Tidak vulgar.

Tapi beberapa screenshoot pembicaraan si sulung dengan teman-temannya yang saya kenal baik, bahasanya juga memang begitu. Owh….baiklah….jadi itu bahasa gaul jaman sekarang ya….Saya jadi teringat beberapa waktu lalu, di bis wisata saat dalam perjalanan  bersama teman-teman saya, pak sopir menayangkan lagu-lagu, terdiri dari lagu jaman dulu dan lagu-lagu sekarang. Ya ampuuuun….kita semua ampe shock. Lagu dulu itu, menyatakan cinta, benci, kecewa, bahkan hilangnya “mahkota” dengan kalimat yang halus dan melibatkan rasa. Tapi lagu-lagu jaman sekarang, bahasanya teh gilaaa….vulgar banget…kayak gak pake rasa.

Padahal ya, kelembutan rasa itu adalah salah satu yang menurut saya penting. Rasa yang lembut, akan mudah menerima nasihat kebaikan. Mudah menghayati, mudah menghargai.

Dari dulu saya sudah tahu bahwa seni, adalah satu media mengolah rasa. Tapi apa daya…minimnya paparan seni pada saya, membuat saya serasa “musuhan” sama seni. Saya tak bisa menari, menyanyi, bermain musik, melukis, merajut….segala bentuk seni saya tak bisa. Tapi saya tahu bahwa seni itu bisa mengolah rasa. Ada musik-musik tertentu yang begitu terasa di hati. Ada lirik-lirik tertentu yang saya nyanyikan saat saya sangat senang, sangat sedih, sangat rindu. Baik pada manusia maupun pada yang Maha. Musik dan Lirik itu, dibuat oleh mereka yang terolah rasanya. Hingga rasa itu, bisa ia tularkan lewat karyanya.

Setahun lalu, saya semakin yakin bahwa seni adalah media mengolah rasa, saat mengikuti workshop art therapy. Setelah hari pertama saya “dipaksa” corat-coret, di hari kedua saya bilang ke fasilitatornya, saya menikmati sekali prosesnya. Mengayunkan kuas, membuat lengkungan-lengkungan, saya merindukannya. Saya membayangkan saya membuat lengkungan di kanvas yang besaaaaar….sambil menari. Rasanya nyamaaaaan sekali. Menenangkan.

Maka, pada akhirnya saya menemukan seni yang paling pas dengan kondisi saya, yang bisa saya “tularkan” pada anak-anak. Seni bahasa. Reseptifnya membaca, ekspresifnya menulis. Sastra. Rangkaian kalimat. Bisa menghidupkan  pikiran dan perasaan kita. Penulis-penulis yang bagus, bisa membuat kita tertawa bahagia, tersenyum simpul dan merona, berkaca-kaca, bahkan tersedu-sedu. Semua itu mengolah rasa kita.

Di rumah kami, kami punya 3 buku tafsir. Pertama buku tafsir Ibnu KAtsir, direkomendasikan oleh para ustadz sebagai “tafsir dasar” yang bisa kita pelajari untuk memahami ayat-ayatNya. Kedua buku tafsir Al Misbah dan Al Lubab, Karya Prof Quraish Shihab. Tafsir ini favorit saya, karena pendekatannya filosofis dan sangat sistematis. Teman-teman akademisi yang mengkaji konsep-konsep islam dengan sudut pandang ilmiah, biasanya menjadikan Tafsir Al Misbah sebagai referensi. Dan ketiga, tafsir Al Azhar karya Hamka, hadiah pernikahan dari sahabat-sahabat mas, favorit Mas. Sudah lama mas membujuk saya untuk baca tafsir Hamka ini. “Bagus banget bahasa, sastra dan penghayatannya de…” begitu kata mas. Beberapa bulan lalu, saya membacanya….dan saya langsung jatuh cinta. Sastranya begitu indah. Indaaaaaah banget.

Maka, di jaman dimana seolah kita digiring untuk hanya melihat dua warna : hitam dan putih – ini, penghayatan rasa, adalah salah satu hal yang mahal. Dan tak mungkin Allah ciptakan rasa kalau ia tak berguna bukan? Rasa atau bahasa ilmiahnya emosi itu berasal dari akar kata yang sama dengan motivasi. “Movere”. Artinya menggerakkan.

Menghidupkan rasa itu bukan kelemahan. Karena kalau kita menghidupkannya, maka berarti kita mengenalinya, dan berarti kita bisa mengendalikannya. Tapi kalau ia mati, maka pikiran seorang diri akan membuat kita menjadi mudah melihat hitam menjadi putih, putih menjadi hitam. Kita akan berpikir bahwa menghinakan orang yang berbeda pendapat dengan kita itu sah. Kita akan mudah meremehkan orang lain tanpa perlu bersusah payah memahami keadaannya.

Sungguh, saya sangat sedih sekali dengan kondisi ini. Apalagi dalam kehidupan beragama. Seolah kelembutan itu selalu berada di ujung yang berbeda dengan kebaikan. Saya tidak mau anak-anak saya sepeti itu. Maka, saya akan kenalkan anak-anak saya pada lembutnya seni. Pada indahnya sastra. Biar mereka bisa menebar kebaikan dengan rasa, menjadi apapun mereka nanti.

 

 

Advertisements

Ortu Remaja; don’t worry be happy …

Dua minggu lalu, 28 November 2015.

C360_2015-12-09-00-42-34-652Setengah delapan pagi sampai dengan setengah sepuluh, kami sekeluarga berada di tengah-tengah tiga puluhan anak remaja tanggung. Anak-anak tanggung yang canggung, berusia 12 sampai 14 tahun. Mereka adalah siswa/siswa yang mengikuti kegiatan panahan dari beberapa sekolah, yang “terpilih” untuk mengikuti pembinaan. Sehingga ketika ada perlombaan nanti, mereka diharapkan sudah “matang”. Si sulung Azka ada diantara mereka.

Jujur saja saya sangat menikmati mengamati perilaku para remaja tanggung yang canggung itu. Oh, inilah masa transisi itu. Perilaku yang serba “kagok”. Lirik-lirikan malu antara remaja putri dan putra, obrolan-obrolan patah-patah dengan teman baru, volume suara dan sikap yang terlihat “bingung”. Saya kagum banget sama si kakak atlet panahan yang bisa luwes mendekati remaja yang sikapnya, terkadang “mengesalkan” itu. Misalnya diminta pemanasan, malah bergerombol. Diminta ini itu, gak langsung nurut gituh 😉

Saya juga menikmati saat simulasi pertandingan dilakukan. Satu demi satu remaja tanggung itu merentang busur panah. Dengan penuh konsentrasi yang diwarnai kecemasan, melepaskan anak panah, dan bersiap akan hasilnya. Entah itu memuaskan kena tepat ke sasaran, atau melenceng jauh.

………………………….

Dua jam kemudian, setengah 12. Saya sudah berada di Jatinangor. Si abah dan anak-anak setia mengantar 😉 Sebagai dosen pembimbing, saya harus menutup kegiatan Pengabdian Masyarakat Mahasiswa. Program ini bernama Peri Psikologi. Meskipun tak selalu mendampingi selama 2 bulan mereka mengajar di salah satu SD di Jatinangor, tapi saya benar-benar bangga sama 38 mahasiswa Peri Psikologi. Bangga dengan semangat, keceriaan, kerja keras, kesungguhan dan ketulusan mereka. Serunya kegiatan Peri Psikologi bisa dilihat di blog https://beyondiary.wordpress.com/2015/11/02/peri-psikologi-2015/.

Siang itu, acara penutupan. Sejak jam 6 pagi, sebenarnya acara sudah mulai. Mereka membawa para “Adik” yang mereka ajar selama ini ke kampus. Dikemas dalam bentuk edutainment, adik-adik kelas satu dan dua itu diajak “berpetualang” melalui games dan kunjungan ke kandang satwa, yang bekerjasama dengan mahasiswa pertanian.

C360_2015-12-09-00-25-38-290Ada mata yang berkaca-kaca dalam acara itu. Bahkan ada isak tangis. Mata berkaca-kaca dan isak tangis itu, milik para mahasiswa dan juga para adik. Ada seorang adik yang menangis tersedu-sedu sulit untuk dihentikan, sedih karena tak akan “bertemu” kakaknya lagi. Si kakak dengan beragam gaya “remaja akhir”, tampak begitu lekat dengan adik-adik itu. Saya, juga berkaca-kaca. Terharu. Apalagi saat melihat salah seorang mahasiswa laki-laki (ya iyalah…kalau perempuan namanya mahasiswi hehe..) yang “digandulin” empat adiknya: satu diatas pundak, satu di punggung, dua di kaki. Proud of you, my students….

…………………………

Kurang lebih tiga minggu lalu, seorang teman meminta saya mengisi pembekalan pada para kader BKR (Bina Keluarga Remaja) se-Jawa Barat. Diselenggarakan oleh BKKBN dan PKK Jabar. Materinya…Psikologi Remaja.

Koreh-koreh ppt mengenai psikologi remaja di laptop, belum ada ternyata. Memang biasanya saya menolak kalau diminta bicara tentang remaja. Karena merasa kurang menghayati. Tapi sekarang saya oke-kan, karena sudah menghayati dengan si sulung yang sudah remaja.

Akhirnya, untuk bisa bikin materinya, saya pun membaca buku “Adolescence” yang ditulis oleh Laurence Steinberg. Buku itu edisi ke-10, terbitan tahun 2014. Tahun lalu saya beli khusus ketika saya terkaget-kaget melihat perubahan perilaku si sulung yang berubah saat masuk fase remaja.

Waktu saya cari gambar mengenai remaja Indonesia di mbah Gugel, ternyata saya tidak menemukan gambaran remaja yang “positif”.Gambar-gambar yang muncul ketika saya ketika kata kunci “remaja” berkisar seputar gambaran remaja yang corat-coret baju setelah lulus, genk motor, seks bebas, narkoba. Gak ada yang positif.

Mmmhhh….Jujur saja, memang sangat wajar kalau para ortu remaja merasa “cemas”. Bombardir informasi negatif mengenai remaja, berasal dari segala penjuru. 3 dari 5 remaja kecanduan pornografi. 9 dari 10 remaja sudah tak perawan. 7 dari 10 remaja pernah mengkonsumsi narkoba…..5 dari 6 remaja terlibat tawuran. Siapa yang tidak panik dan khawatir?

Salah satu yang menjadi tantangan “berat” buat ortu jaman sekarang adalah, jaman digital. Internet. Salah satu karakteristiknya adalah; bahwa informasi “menyerbu” kita. Beragam informasi. Baik yang baik, yang buruk, yang akurat, yang fakta, yang mitos, yang opini, semua tercampur baur. Kalau tak punya pegangan, maka kita akan megap-megap dan ikut arus tak jelas tujuan. Panik.

Tapi kan beragam informasi mengenai remaja itu membuat ortu jadi waspada? Waspada bagus. Panik dan cemas  jangan. Apa bedanya waspada dan panik/cemas? ini dia yang akan dibahas dalam tulisan ini. Tulisan ini akan diakhiri dengan tips gimana biar sebagai ortu remaja, kita gak panik/cemas.

Temans, hasil intipan saya thdp kbbi, waspada artinya berhati-hati dan berjaga-jaga; bersiap siaga. Cemas artinya tidak tenteram hati (karena khawatir, takut); gelisah. Nah, kalau Panik artinya  bingung, gugup, atau takut dengan mendadak (sehingga tidak dapat berpikir dengan tenang).

Kalau kita waspada, maka saat mendengar informasi tentang “bobroknya pergaulan remaja”, atau membaca hasil survey misalnya”9 dari 10 remaja sudah tidak perawan”, kita akan “memfilter” itu terlebih dahulu. Bentar-bentar….ini remaja di mana ya? 9 dari 10 remaja…. dimana ini? remaja mana yang dijadikan sampel penelitian? berapa banyak? remaja yang jadi sampel mewakili beragam kalangan remaja gak? apakah hasilnya bisa berlaku pada seluruh remaja di Indonesia? Gimana cara ngukurnya? ….Kalau kita mendengar “ada remaja umur 15 tahun yang meninggal karena OD”. “remaja umur 17 tahun bunuh diri karena kebanyakan PR”. Oke, gimana dinamika kehidupan si remaja tersebut ? apakah semua remaja yang kebanyakan PR akan bunuh diri?

Kalau kita “waspada”, kita akan “mengolah” informasi yang kita terima, mana yang “boleh” masuk ke “hati”, mana yang bisa kita abaikan. Kalau “panik”, sesuai dengan definisi dari kbbi di atas, setiap kali kita dapat informasi buruk tentang remaja, kita akan resah dan gelisah. Dampaknya apa? kalau waspada, kita akan tetap “berpikir jernih” menghadapi si remaja.

Si remaja pake laptop, browsing sana sini, kita gak akan panik. Yups, kita minta si remaja untuk gak mempassword laptopnya sehingga kita bisa cek historynya, tapi gak melarang si remaja bereksplorasi mencari informasi karena khawatir. Kalau kita waspada, saat si remaja minta izin untuk kerja kelompok di rumah teman atau kafe tertentu, kita akan siapkan keamanan berangkat dan pulangnya. Kita akan tanya ngerjainnya sama siapa, no hapenya berapa, berapa lama ngerjainnya. Kalau cemas dan panik, mungkin kita gak akan mengizinkan si remaja pergi. Kalau kita waspada, saat anak terlihat bete dan kesal, waktu udah tenang kita bisa ajak ngobrol apa yang membuat ia kesal. Kalau panik, kita akan nyuri-nyuri baca diarynya, kepo-in chattingan di hapenya.

Apa dampaknya kalau kita cemas dan panik?

(1) Rasanya gak enak. Tidak baik untuk kesehatan mental. Dan kesehatan mental, itu kaitannya erat dengan kesehatan fisik. Come on ! jadi ortu dan emak kan harus selalu prima ….lahir batin ;).

(2) Pola kecemasan dan kepanikan kita bisa menular sama anak.

(3) Membuat “hak” anak remaja tak tertunaikan. Apa sih, “hak” anak remaja? “dilepas” sedikit demi sedikit. Kenapa? karena, tahap remaja adalah tahap persiapan untuk menjadi dewasa. Saat ia dewasa, ia harus menjadi individu yang sepenuhnya mandiri. Kalau saat remaja ia “tak diatih untuk dilepas” sama ortu, bagaimana ia bisa berkembang menjadi individu yang mandiri? mandiri di sini mandiri psikologis ya…karena saya bicara dalam setting psikologis. Kan katanya sekarang lagi nge-hits istilah “peter pan syndrom” (meskipun saya mah gak terlalu setuju  sama istilah sindrom-sindroman…;) .

Yah…memang tugas menjadi ortu itu “subhanallah” ya…. kita harus lekat, tapi tak beoleh membuat anak tergantung. Saat kecil kita harus jadi “sandaran” bagi mereka, mulai dari mereka 100% persen tergantung sama kita (tentu sama Allah juga lah ya…) . Eeeh…udah lekat, kitanya udah seneng anak “membutuhkan” kita…lalu pada saat mereka remaja…kita harus “berbesar hati” mempercayai mereka, melepas mereka sedikit demi sedikit. Orangtua, adalah representasi dari satu perbuatan. Ikhlas.

Nah, sampailah kita di bagian akhir tulisan ini. Bagaimana caranya biar kita sebagai ortu remaja, waspada tapi gak panik/cemas.Tentu kita tak bisa meminta para penyedia informasi tentang remaja untuk tak hanya memberitakan yang buruk tentang remaja. Buat para penyebar berita…bad news is a good news ! Kita juga tak bisa meminta para penyebar informasi mengenai berbagai survey untuk menjelaskan secara lengkap “metodologi penelitian” mereka. Tapi kita bisa mengubah diri kita. Hei hei….inga…inga…. kita bukan korban ! kita “berdaya” !

Menurut saya, 3 hal ini yang bisa kita lakukan:

(1) Mengolah dan menyaring informasi. Sudah saya jelaskan di atas ya….

(2) Baca sumber yang komprehensif.

Terkait poin kedua ini, saya mau cerita sesuatu. Suatu saat saya pernah seperjalanan ke Jatinangor dengan seorang senior saya. Usianya dengan saya…terpaut 20 tahun lah. Beliau produktif sekali menulis, meneliti, dan berkarya Beliau mengajak ngobrol saya. Beliau “mengeluhkan” waktunya yang ter”occupied” oleh obrolan di Wa Grup. Lalu beliau menunjukkan salah satu obrolan di Wa Grupnya, yang saat itu sedang aktif-aktifnya. Wow! pas saya liat nama-nama di Wa Grup tsb, widiiiih….itu nama-nama yang sering saya baca di berita dan suka nampil di TV…. sedang membiacarakan tentang “bangsa dan negara”…. beda kelas lah ama saya mah. Lalu beliau bercerita mengenai betapa mudahnya informasi tersebar. Lalu kita bla..bla..bla..ngobrol tentang dampak positif dan negatifnya…dan ada satu kalimat beliau yang saya ingat sampai sekarang; “yang saya sedih, dengan adanya wa ini, dan mudahnya mendapatkan informasi, saya jadi kurang waktu untuk membaca buku”.

Tah, eta….. temans….informasi yang beragam apalagi di sosmed, itu bukanlah informasi yang terstruktur. Kalau kita gak punya kerangka berpikir, dijamin pusing dan akhirnya resah dan gelisah. Golput vs milih pilkada langsung hari ini, imunisasi vs non imunisasi, jaket warsito vs kemoterapi, parenting nabawiyah vs parenting sekuler, disiplin vs kreatif, masa remaja vs masa akil baligh…dijamin lieur….

Kalau kita pengen punya alur kerangka pikir yang baik, baca buku atau tanya ahli. Misal soal remaja ini. Benarkah remaja itu merupakan masa “storm and stress?” kalau baca buku tahun 2014, istilah itu sudah tak dikenal lagi. Perubahan hormonal pada remaja tak otomatis membuat remaja “jadi monster”. Apakah remaja itu akan mudah terkena pornografi, seks bebas dan narkoba? apakah “generation gap” itu ada? kalau baca buku Sternberg 2014, disitu dinyatakan bahwa kebanyakan permasalahan “perbedaan dan pertengkaran remaja dan ortu”, itu bukan pada NILAI YANG MENDASAR. Tapi biasanya pada gaya. Cara ngomong. Selera musik. Warna dan gaya baju. Gak akan ujug-ujug amak laki-laki kita yang rajin ke mesjid tiba-tiba menghamili anak orang. Gak akan ujug-ujug remaja putri kita yang tilawahnya one day one juz tiba-tiba kabur sama orang yang baru dikenal di facebook. Mencari informasi yang komprehensif itu, menenangkan. menentramkan.

(3) Banyak-banyaklah “menyetok” pengalaman yang positif dengan si remaja. Dua kisah yang saya tulis di awal adalah salah satunya….eh, salah duanya 😉 Mereka adalah dua kelompok remaja. Satu remaja awal, satu remaja akhir. Yang katanya paling bergejolak. Saat memandang para remaja awal yang merentang busur panah itu, tenaaaang rasanya. Bahwa ada loh, sekelompok anak remaja yang gak menghabiskan waktu luangnya dengan main online games atau nonton video porno. Saat memandang wajah-wajah ke-38 mahasiswa saya, mengajari anak-anak kelas dua yang belum hafal huruf dengan sabar; menghembuskan harapan, bahwa gak semua remaja gak peduli seperti kasus “bunga amarylis” yang sempet ngehits kemaren 😉

Saya seneng banget kalau Azka udah cerita kakak-kakak kelasnya. Ada yang fokus dengan hobinya masing-masing; fotografi, film, memasak, dll. Saya juga seneng saat Azka menghabiskan waktunya memikirkan proposal yang harus ia buat untuk “melamar” jadi pengurus OSIS, lalu ia cerita bahwa kakak-kakaknya lagi buat proposal dana dan merancang acara baksos. Hei….masih ada loh, remaja yang “baik”….

Sepuluh hari ramadhan, saat itikaf, saya selalu menyengaja menatap wajah-wajah para remaja, yang khusyuk membaca Qur’an, khusyuk sholat dan berdoa. Di kampus, beberapa bulan terakhir ini saya punya kebiasaan baru. Di ruang kerja saya di lantai 3, saya sering berdiri depan jendela kaca yang besar. Dari sana, saya bisa melihat aktifitas mahasiswa-mahasiswa saya di halaman dan teras gedung-gedung kampus. Ada yang sedang latihan menari, terdengar suara latihan angklung atau paduan suara, kelompok-kelompok yang serius dengan laptop-laptop mereka, ada yang latihan untuk pentas sosiodrama, BEM, mentoring, dll. Dalam perkuliahan, saya juga sekarang sangat menikmati poster-poster kreatif yang mereka buat, tampilan ppt kreatif yang mereka sajikan….saya berusaha membangun keyakinan yang besar dalam diri saya….tak semua remaja seusia mereka sibuk dengan kenarsisan, drug ataupun pornografi.

So, ortu remaja, dont worry be happy. Waspada, tapi jangan panik dan cemas. Semangat !

 

 

 

 

 

emergency exit buat persoalan akademik si remaja

Sejak saya dengar suaranya di telpon saat saya masih di perjalanan sore tadi, saya tahu si sulung lagi bete. Dan itu terbukti dari raut wajahnya saat saya sampai rumah. Kayaknya bete banget. Hari-hari si remaja putri ini memang sangat fluktuatif emosinya. Adik-adiknya juga pada takut dan memilih menjaga jarak, takut kena semprot si kaka.

Kalau saya amati, emosinya memang lebih sering negatif. Kesel, marah. Dan menurut saya, itu wajar. Selain karena faktor keremajaannya, ia masih sedang masa adaptasi dengan sekolahnya. Adaptasi yang….kalau saya hayati, cukup berat juga. (1) Adaptasi rutinitas. Jam 6 pagi sudah dijemput, sampai rumah jam 6 sore. (2) Adaptasi tuntutan. Tuntutan dari dalam dan luar rumah terhadap anak SMP berbeda dengan tuntutan terhadap anak SD. (3) Adaptasi tuntutan akademis. Kalau ngintip buku-buku SMP, gileeee materinya kayaknya gak jauh beda sama materi jaman dulu kita belajar nyiapin untuk UMPTN. PLus metoda pembelajarannya yang banyak presentasi. (4) Adaptasi konteks sosial sekolah baru. Saya jadi ingat, dulu pernah diskusi sama seorang teman yang jadi psikolog sekolah. Azka kan masuk sebuah SMP IT yang ada SD-nya. 80% murid SMPnya, ya dari SD tsb. Jadi kebayang, sudah terbentuk dinamika sosial selama 6 tahun dari 80%teman-temannya. Dia dan teman-temannya dari SD “luar”, pastilah jadi “outsider” dan butuh proses untuk lebur. Memang proses sosial dalam konteks seperti ini menjadi lebih sulit adaptasinya, dibandingkan yang masuk SMP negeri misalnya, yang memang bener-bener bentuk kelompok baru.

Jadi, saya kebayang bertapa “berat” beban psikologis yang harus ditanggungnya. Saya coba kasih dia ruang. Kalau lagi bete gitu, saya kasih privasi. Adik-adiknya, udah tau kalau sebaiknya gak ganggu kaka. Biasanya, kalau dia udah siap cerita, dia akan datang ke saya dan cerita apa yang bikin dia sebel dan kesel. Kalau engga, pas saya sudah gak repot dengan adik2nya dan kondisi emosi saya pun oke, saya suka masuk ke kamarnya, ngajak dia ngobrol.

Ternyata malam ini, dia yang mendatangi saya. Dengan muka kusut, dia cerita kalau besok akan remedial ulangan IPS terpadu. Seangkatan diremedial, katanya. Dan dia gak ngerti materinya. Sudah sebulan terakhir ini memang saya mengalokasikan waktu khusus untuk nemenin dia belajar. Bukan nemenin deng…ngajarin dia materi pelajaran. Terutama matematika pastinya, yang dia rasa rumit banget. Memang kalau dilihat tingkat kesulitannya, seperti yang udah saya bilang….materinya teh asa materi jaman dulu ngulik pas mau persiapan UMPTN. Kalau dari segi potensi sih,  saya percaya Azka cukup mumpuni. Cuman masalah klasiknya di Indonesia kan….sistem pembelajaran kurang mendukung terbentuknya “pola pikir” dan “struktur berpikir” yang bertahap pada anak. Media pembelajaran kurang memfasilitasi pemaparan materi dalam cara yang dimengerti sesuai tahap perkembangan kognitif anak. Jadilah, saya guru matematika. Plus malam ini, guru IPS terpadu.

Tadi malam, karena masih riweuh dengan si bungsu dan si pangais bungsu yang masih aktif rebutan ngomong untuk cerita (padahal ya, tadi mereka sore berdua jemput saya ke jatinangor, lalu keliling-keliling cari baju buat manasik haji hari Jumat dan sepanjang perjalanan, ngomooooong terus. ceritaaaa terus. rebutan ceritaaaa terus. Tapi gak abis-abis tuh bahannya …hehe) saya tanya “kaka kan udah ibu ajarin bikin mind map”. “Iya tapi pusing banget, gak ngerti..”katanya setengah mau nangis

Akhirnya, saya ajak dia buat bikin mind map barengan. Materinya mengenai proses pembentukan permukaan bumi. Ah, kebetulan minggu depan saya akan ngajar mahasiswa gimana caranya baca buku, gimana caranya  nangkep struktur bacaan. Saya pun orat-oret…sambil nunjukin gimana caranya nangkep struktur bacaan. Tapi bentar…bentar…bentar….aduh…hiks…ini emang bukunya, bahan bacaannya, strukturnya gak bagus. Gak runtut. Mau bikin mindmap teh, susah banget. Harus baca bolak-balik untuk memahami gimana sih kerangkanya. Ya ampuuuun….pantesan aja 72 anak di sekolah Azka gak ngerti semua…gak cuman Azka yang pengen nangis. Saya juga ……Yah, ini adalah masalah klasik lagi. Banget. Menulis itu, tidak mudah. Menulis, kalau tujuannya membuat orang lain paham, tidak mudah. Apalagi menulis buku untuk anak. Kita harus bener-bener paham dan mau empati, pola pikir anak kayak gimana sih…..Kita harus berpikir keras,  struktur bacaan yang mudah dicerna anak. Pilihan katanya, lay outnya…..

Akhirnya, saya bilang ke Azka, tidur aja dulu. Saya nidurin adik-adiknya dulu. Nanti sebelum sahur akan saya bangunkan, untuk belajar. Saya bilang saya juga butuh waktu untuk paham materinya dan buatin dia mindmap. Saya menangkap raut tak percaya di wajahnya. Haha…memang sih, anak-anak saya tau kalau saya udah bilang “nanti”, itu mereka akan ingetin terus….apalagi kalau adik-adiknya masih bangun. Saya ngerti banget Azka setengah gak percaya. Mungkin di dalam hatinya bilang “yakin, ibu gak akan ketiduran bareng sama adik-adik?” kkkk…. Dan memang itu kejadian…saya ikut tertidur seiring tidurnya Azzam dan Hana….

DSC_0348Tapi jam setengah 2 tadi, saya bangun. Saya inget PR saya. Lalu saya pun mulai baca. Bolak-balik. Gileee materinya pedet banget…banyaaaak banget…Nama-nama batu, jenis-jenis gunung, sedimen, istilah-istilah ajaib seperti epirogenetik, hiposentrum, dll dll. Lalu saya lihat latihan soalnya. Hafalan mengenai istilah-istilah itu. Ah, pantes aja anak-anak di Indonesia pada umumnya benci IPS. Emang paparan materi dan soal-soalnya menyebalkan. Bener….apa sih tujuan pembelajarannya? padahal ya, materi intinya tuh menarik loh. Tentang gimana relief di muka bumi ini terbentuk. Dipengaruhi dua energi. Endogen dan eksogen. Endogen itu apa, gimana prosesnya, reliefnya jadi apa. Demikian juga eksogen.  Tapi kayaknya kalau dari paparan dan soal latihannya, bukan “big picture”nya itu yang dituntut dipahami, tapi detil-detil hafalan yang saya gak yakin akan dibutuhkan oleh anak-anak umur 12 tahun.  Itu, mindmap yang saya bikin itu, cuman big picturenya doang loh…detil hafalannya, masih banyak.

Setelah selesai, saya bangunkan Azka. Saya jelaskan, saya coba kasih ilustrasi dengan contoh-contoh pengalaman dia. Saya perhatikan, wajahnya awalnay sangat kusut, tapi saya coba yakinkan lagi, ceritakan lagi inti materi itu, bahwa ini bisa dipahami. Lalu kita bareng-bareng isi soal latihan.

Anak SMP, dibikinin mindmap? dijelasin? mana kemandirian belajarnya? saya menyebut apa yang saya lakukan sebagai “emergency exit”. Pintu keluar emergency. Kenapa? karena telah terjadi “kebakaran” dalam diri Azka. “Kebakaran psikologis” yang bisa berdampak fatal dan jangka panjang. Apa itu? (1) Hilangnya motivasi belajar. (2) Gak tau gimana menyelesaikan masalah. Helpless. Dua hal yang sangat gawat kalau sampai terjadi.

Saya berharap yang saya lakukan, bisa membantu dia terhindar dari dua dampak di atas. Meskipun saya menjanjikan “ice skating” kalau dia bisa mencapai KKM, tapi bukan itu tujuan utama saya. Saya berusaha agar ia tak apatis, kehilangan motivasi dan perasan tertantang. Konon katanya, motivasi berprestasi itu tumbuh jika tingkat kesulitan yang kita hadapi adalah moderat. Artinya, menantang tapi mungkin untuk kita tundukkan. Nah, kalau 72 anak diremedial, berarti tantangannya tak moderat. Faktor media buku dan metoda pengajaran berarti tak membantu. Nah, kalau anak mengalami kesulitan dan ia merasa tak ada yang membantu, bisa frustrasi dia. Dampaknya, bisa merasa “tak berdaya”. Ini sikap mental yang bahaya banget. Saya mencoba untuk menunjukkan bahwa masalah ini bisa diselesaikan. Bahwa I’m here with you.

Mmmmhhh….pada dasarnya, setiap hari-hari  yang anak-anak kita jalani, adalah ujian kehidupan ya…Pikiran dan perasaan yang mereka alami sehari-hari, akan tersedimentasi menjadi “relief” kepribadian mereka. Saat dunia “tak ramah”, kurikulum “tak ramah”, buku pelajaran “tak ramah”, metode pelajaran “tak ramah”,  maka ya…. tinggal kita orangtuanya ya, yang harus jadi “jangkar pelindung psikologis” mereka. Dan kita pasti bisa….kita punya energi endogen  dan eksogen yang berlimpah …. Rahman dan Rahim Nya, yang ia titipkan pada kita.

Cita-cita Remaja Zaman Sekarang

Beberapa waktu lalu, saat Azka lulus dari SDnya, bersama dengan foto wisuda, ia pun mendapatkan buku angkatan. Yang excited liat buku angkatannya, gak cuman dia. Tapi adik-adik dan emaknya juga hehe… Bukunya bagus, di dalamnya ada foto-foto ke-71 teman seangkatan Azka yang sebagian besar sudah saya kenal. Selain nama, tempat tanggal lahir, alamat, dan pesan untuk teman-temannya, mereka juga mengungkap cita-cita mereka.

Cita-cita yang mereka ungkap, itu yang menarik perhatian saya. Jaman kita dulu, cita-cita yang kita ungkapkan tak begitu beragam; paling-paling …dokter, insinyur, pilot, polisi, tentara, astronot, presiden. Jaman saya remaja, gak ada temen yang bercita-cita jadi psikolog hehe… lha wong saya sendiri engga kok kkk…

Tapi udah beda banget dengan cita-cita anak sekarang, saya senyum-senyum sendiri bacanya. Secar umum, cita-cita anak jaman sekarang dibandingkan cita-cita anak jaman dulu lebih beragam dan lebih spesifik. Ada yang mau jadi psikolog, profesor fisika, ahli kimia, chef, fotografer, desainer handphone, atlet basket, dan Azka sendiri ternyata menuliskan cita-citanya: penulis novel hehe….Yang bikin saya terharu, ada beberapa diantara teman-teman Azka, yang menuliskan cita-citanya adalah : “kuliah di Standford University”, kuliah di “Harvard Medical School”. Gak tau ya, saya sampai berkaca-kaca bacanya.

Apa makna dari cita-cita yang mereka ungkap? bahwa wawasan pengetahuan anak-anak jaman sekarang, jauuuuh lebih luas dibanding kita dulu. Spesifikasi yang mereka ungkapkan, bisa jadi indikasi minat mereka.

Minat. suatu kata sederhana yang… ternyata akan sangat “merepotkan” dan “merugikan” kalau tak dimiliki sampai dewasa. Berapa banyak mahasiswa yang DO kuliahnya, bukan karena mereka tidak pintar. Tapi karena mereka merasa “gak minat”, namun saat ditanya “jadi minat kamu apa?” menggeleng. Berapa banyak dewasa yang membutuhkan pemeriksan psikologi untuk  “bimbingan karir”, karena merasa “gak menemukan pekerjaan yang disukai”, lalu saat ditanya “apa pekerjaan yang kamu sukai?” bingung.

i-have-a-dream-520x336Minat: menghayati apa yang disukai dan apa yang tidak disukai, adalah cikal bakal yang terus harus dipupuk pada anak-anak dan remaja kita. Punya makanan kesukaan, punya film kesukaan, punya pelajaran favorit, punya guru favorit, punya kegiatan yang disukai….. itu adalah penghayatan yang penting. Konon katanya remaja adalah masa “pencarian jatidiri”. Jangan sampai ketika mereka telah selesai melalui masa remaja mereka, mereka masih belum “kenal” siapa diri mereka, mereka belum menghayati apa yang menjadi minat mereka, apa cita-cita mereka.

Karena perasaan itu, makna katanya sama dengan motivasi. “Menggerakkan”

sumber gambar : https://windamaki.wordpress.com/deklarasi-2014-_9/

menyelami dunia remaja : dari siapa kita berguru?

Pada beberapa tulisan sebelumnya saya sudah sampaikan, bahwa tahun-tahun ini, keluarga kami masuk ke tahap perkembangan baru. Family with teenager. Hal ini “resmi” setelah si sulung Azka menjadi remaja.Ternyata benar, “perubahan hormon” itu nyata adanya. Perubahan emosi dan perilaku itu, nyata adanya. Perubahan bentuk tubuh itu, sangat nyata.

Namanya juga hal yang baru, pasti bikin kaget. Baik kaget yang menyenangkan maupun kaget yang mengesalkan. Tak hanya untuk anaknya, tapi juga buat emaknya. Status sebagai ibu seorang remaja, dengan tantangan baru….. menjanjikan banyak pembelajaran yang sangat menarik. Dan….sebagai “new comer”, saya mencoba menyiapkan diri dengan baca buku, sampe beli khusus buku Adolescence karya Sterberg 2014 (yang baru saya baca sampai bab tentang perubahan fisik, lalu gak sempet tersentuh lagi selama dua bulan sampai sekarang), lalu sering-sering ngobrol sama ibu-ibu yang udah duluan punya anak remaja untuk tau pengalamannya, dan…. last but not least, saya belajar dari aktor utamanya langsung: si remaja itu sendiri, Azka dan teman-temannya. Beberapa kali saya menyatakan pada Azka, bahwa “ibu harus belajar nih dari Kaka tentang remaja…ibu gak tau remaja sekarang tuh kayak gimana”. Beberapa kali saya minta izin baca percakapan di grup line nya Azka.

Banyak hal-hal yang membuat saya angguk-angguk saat menyaksikan, mengobrol, membaca postingan di facebook atau membaca obrolan di line group Azka dan teman-teman. Cucok dengan yang ada di buku. Tapi tak jarang saya terkaget-kaget juga….banyak hal di luar dugaan saya.

teenagers_quotes_about_parents_6310548Oleh karena itu, saya juga ingin mengajak ibu-ibu lain, hayu kita belajar tentang remaja dari si remaja itu sendiri. Mengamati, mendengarkan….. porsinya haruuuuus lebih banyak daripada berbicara. Yups, mereka butuh arahan. Mereka sangat butuh nasehat. Tapi mereka akan membanting pintu kamar dan pintu hati mereka kalau kita tak mendasarkan apa yang kita arahkan dan apa yang kita nasehatkan, pada apa yang mereka pikir, rasa dan hayati.

Saya ingat beberapa waktu yang lalu, seorang senior yang concern ke masalah remaja mengajak saya buat booklet-booklet populer mengenai bagaimana sebaiknya orangtua “mendekati, menyikapi” remaja. Waktu itu, saya tak tertarik. Sekarang, waktu saya ketemu beliau, saya bilang….bener!!!! ilmu itu diperlukan banget sama ortu remaja !!! Pendekatan pada anak remaja itu harus beda banget !!! something new banget !!! Kita harus luwes banget “mengolah peran” sebagai sahabat yang mendengarkan dan memahami dan  sebagai orangtua yang memberi batasan, memberi arahan yang bertanggung jawab.

Di tulisan-tulisan selanjutnya, khusus dalam folder remaja,  saya akan berbagi pengalaman bagaimana saya belajar jadi ibu dari seorang remaja putri.

Semoga bermanfaat.

sumber gambar : http://www.relatemnk.co.uk/spage-services-parenting_troubled_teenagers_.html

Mengintip “tema hidup” si Pre-Adolescent

Saya menghargai, memahami dan menghayati alasan teman-teman yang berpendapat bahwa “tidak bijak memberikan hape dan mengenalkan media sosial pada anak”. Tapi saya tetap merasa nyaman dengan pilihan saya memberikan hape pada Azka, saat ia naik ke kelas 5 lalu, sebagai hadiah karena prestasi akademiknya yang baik.

Salah satu alasannya adalah karena saya, ingin “menyelami” dunia-nya. Sebagai ibu 4 anak, dua telah melawati masa balita dan dua di masa balita, saya merasa memang hukum “practice make perfect” berlaku sekali. Sekarang ini, mengalami “perilaku sulit’ Azzam, di usia menjelang 2 tahun, saya sudah “ahli” haha…baik secara emosi, pengetahuan maupun keterampilan menghadapinya. Tapi menjadi ibu dari seorang remaja? I’m a new comer. Dan….perubahan sosial yang amat masif serta sangat kontekstual, membuat saya tak lagi bisa “mengandalkan” referensi-referensi luar negeri.

Sebagai ibu bekerja, saya juga tak bisa selalu mendampingi aktivitas Azka. Maka, dari aktivitas hape-nya lah saya bisa mengetahui dan memahami “dunia”nya. Setiap pagi setelah Azka pergi sekolah, saya biasa melihat-lihat aktifitas hapenya. wa-wa dengan teman-temannya, termasuk mengamati “posisi sosialnya”nya diantara teman-temannya, lewat percakapan di wa grup angkatannya.

Hasilnya… ada yang membuat saya terkaget-kaget, ada yang membuat senang, bangga, haru….dan saya jadi tahu apa sih “tema hidup” si anak pre-adolescent teh….Berikut “temuan” sayah:

  • Ternyata anak-anak preadolescent  sekarang itu, suka banget sama anime dan kokorea-an. Profile Picture di wa dan di fesbuknya, hampir semua anime dan kokoreaan. Termasuk Azka hehe…
  • “Tema hidup” anak usia 10 tahunan di kelas ini adalah, “cicintaan” hehe…yang selalu jadi topik utama adalah si ini suka sama si ini, si itu suka sama si itu, si ini ngeliyatin si itu, …..tapi alhamdulillahnya, “no action”. Artinya, gak ada yang “merealisasikan” rasa cicintaan itu dalam wujud nyata “pacaran”.
  • Anak-anak itu, mulai ter”papar” oleh konten-konten dewasa. Hadeeeuuuh…ada seorang teman laki-laki Azka yang merayu-rayu Azka dengan gombalnyah…haha…bilang Azka cantik lah, dan…ada dramanya segala…katanya dia ngaku suka sama si “X” buat bikin Azka cemburu, pengen liyat reaksinya Azka….ampyuuuun deh…Tapi saya merasa belum harus mengintervensi. Karena tanggapan Azka terhadap perilaku temannya itu masih “pas” menurut saya.
  • Yang menggembirakannya adalah, perkembangan sosial dalam pertemanan anak di usia ini melesat banget. Saya seneeeeng banget baca kalau anak-anak itu membuat rencana bikin ultah surprise buat gurunya, merencanakan beli kado spesial buat temennya, janjian nengok temen yang lagi dirawat di rumah sakit, rame-rame menghibur temennya yang berduka karena kucingnya mati…..

Begitu sementara yang saya dapat. Memang semua cerita itu,  saya dapet juga dari Azka. Tapi membaca bahasa, ekspresi anak-anak itu….very exciting….saya seperti sedang mempelajari ilmu baru yang…mengasyikkan…

My Preadolescent Girl

Dulu, saya selalu berpikir bahwa setelah anak-anaknya lepas usia balita, maka seorang ibu akan merasa “bebas”, dengan asumsi bahwa di usia SD, anak sudah “tidak terlalu membutuhkan kehadiran ibunya secara fisik” lagi. Apalagi kalau anak sudah masa remaja….Makanya, saya merencanakan kuliah S3 lima tahun lagi, saat Azzam sudah masuk SD. Jadi bisa ambil program sandwich gitu, biar ngerasain kuliah di luar negeri haha….

Tapi suatu hari, saat saya sedang menonton acara talkshow mengenai wanita-wanita enterpreuneur yang sukses, salah seorang wanita pengusaha itu menuturkan bahwa ia menjadi pengusaha dan berhenti kerja kantoran ketika anaknya menjelang usia remaja. “di usia menjelang remaja, kehadiran saya sangat dibutuhkan oleh anak saya” katanya. Keheranan saya terjawab dari hasil penelitian rekan saya yang menyatakan bahwa bagi mahasiswa semester 2 pun, ternyata orangtua masih menjadi “significant others” yang mereka butuhkan kehadirannya.

………………..

Beberapa bulan terakhir ini, ada satu perubahan besar dalam “konstelasi hubungan” Azka dan Umar. Hal itu disebabkan oleh perubahan sikap dan perilaku yang amat drastis dari si sulung, Kaka Azka. Dia yang begitu “baik hati, tidak sombong, rajin menabung, taat pada orangtua” tiba2 berubah menjadi “galak” dan “menyeramkan”. Kegiatan hariannya didominasi oleh tiga hal: nangis, marah, ngomel. Yang jadi subjek kemarahan, sumber tangisan dan subjek omelan tak lain dan tak bukan adalah … Umar. Karena mereka berdua beraktivitas bersama.

Yups..yups…saya tahu…bahwa menjelang usia 10 tahun ini, Azka sudah memasuki usia prapubertas. Itu artinya hormon2 dalam tubuhnya tengah “bergejolak” untuk mempersiapkan kematangan ciri seksual primer maupun sekunder. Saya juga tahu bahwa di usia ini, anak menjadi sangat “tidak nyaman” dengan diri dan lingkungannya, jadinya super sensi dalam artian negatip.

Tapi ya, pemahaman itu tak ada apa2nya dibanding pengalaman meng-alam-i langsung situasi itu. Teteeeeep aja saya terkaget2 ketika mengingatkan Azka untuk sholat, untuk makan…padahal cuman sekali, dengan nada “biasa”….tiba-tiba yang bersangkutan langsung marah dan ….bruuuuk….pintu kamar pun dibanting….mmmmmhhhh…..*relaksasi*. Atau kalau Azka udah berdekatan sama Umar ….pasti deh…ujung2nya dua-duanya nangis.

Sejauh ini, yang ibu lakukan tiga  hal:

(1) Ibu tahu, ibu harus merespons emosi Kaka Azka. Tak ada alasan. Jadi, karena kalau bahas kasus pertengkaran dengan Umar satu persatu kadang2 gak jelas gimana ceritanya…. (kata umar: mas umar cuman diem aja..engga ngapa2in…kata azka: iya, tapi kakinya nempel ke kaka…kaka engga suka!) …. akhirnya ibu mengeluarkan jurus pamungkas…PELUK…Seperti kemarin pagi…ibu udah mau berangkat banget….Azka marah-marah dan nangis engga tau kenapa…. baiklah…ibu peluk dulu….setengah jam…. Tapi lumayan lah, jitu juga….biasanya kalau udah dipeluk gitu, 2-3 hari mah bisa “normal”  perilakunya 😉

(2) Ibu ajak Kaka dan Umar bicara….bahwa ya…….Kaka emang lebih sensitif karena tubuhnya sedang berubah … bla..bla..bla…ujung dari pembicaraan itu? kata Umar: “berarti kaka udah remaja…udah baligh…berarti kalau engga sholat udah berdosa…tuuuh…kaka kadang masih suka ketiduran untuk sholat isya…”. Langsung dibalas Azka: “enak aja…kamu tuh…..emang kamu engga pernah ketiduran gitu? kamu juga suka ketiduran lupa beresin buku !” bla…bla..bla…*ibu relaksasi lagi ….*

(3) Ibu mengajarkan “teknik” menghindari pertengkaran Azka-Umar. “Kaka jangan komentarin mas Umar. Jangan ngomel.”. “MAs Umar, kalau kaka komentar, jangan langsung marah”….

Mmmmhhhmmm… 3 anak, dengan keunikan dan PR stimulasi yang berbeda2, rasanya dunia anak prasekolah sudut dan lika-likunya sudah terjelajahi semua. Tapi ini adalah “rimba baru” buat ibu. Exciting journey….

Sebagai bekal mengarungi new journey ini, ibu belajar lagi-lah tentang si preadolescent :

  • The preadolescent experiences physical growth that is more rapid than at any other time since infancy.
  • The preadolescent begins to develop bodily characteristics that distinguish the adult male and female.
  • The preadolescent may begin to feel extremely self-conscious. 
  • The preadolescent may experience rapid emotional swings which can be confusing to both parent and child.
  • The preadolescent may experience feelings with more intensity than an adult and give into impulses more than an adult. 
  • The preadolescent may begin to analyze situations and use reason with abstract thought, and hence think more like an adult than a younger child.
  • The preadolescent may use reason and abstract thought to question authority and parental values. 
  •  The preadolescent shifts social priorities to peer friendships, wishing to spend all free time with friends.
  • The preadolescent experiences a loss of self-confidence, while sometimes appearing cocky and self-assured.

Tips for Parents:

  • Listen to your preadolescents and take their feelings seriously. 
  • Work together to solve problems when they arise.
  • Talk with your child about changes. 
  • Talk to parents of older children to get perspective.
  • Realize that your child’s growing sense of independence is normal and healthy. 
  • Be in touch with the school if there are any concerns.
  • Look for the counseling department’s upcoming parenting workshop on preadolescence.

Mmmmhhhh…..jadi, memang ternyata pengalaman menjadi ibu itu, selalu membuat kita belajar. Mulai ketika test pack menunjukkan dua garis, sampai dengan ajal memisahkan……

*loveazka*

Next Newer Entries