Tiga Belas Tahun : Antara Romantisme dan Realitas

Hari ini, adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-13. Sejak sebulan lalu, saya sudah menyiapkan dua tulisan istimewa. Di dalam kepala tentunya, karena belum punya waktu luang untuk mengetiknya. Bahkan saya sudah menyimpan referensi dua tulisan itu di meja dekat kamar tidur saya. Satu paket referensi 3 buku tafsir dan satu lembar tulisan Prof. Sawitri mengenai gambaran dinamika pernikahan.

Rencananya, semalam saya akan bangun dini hari dan menulis dua tulisan itu. Namun apa daya….aktifitas full sabtu minggu, membuat saya terlelap dan bangun subuh pagi tadi. Kehectican pagi tadi bertambah dengan informasi dari teh Rini, pengasuh anak-anak yang izin hari ini karena akan ambil raport anaknya. Artinya, saya harus bawa Hana dan Azzam ke Jatinangor untuk mengawas ujian. Baca wa group, ada kabar RI 1 dan para mentri akan melantik para wisudawan IPDN yang artinya….harus berangkat lebih pagi biar nyampe kampus tepat waktu meskipun terhadang di IPDN. Si abah pun, tadi pagi hectic dengan proposal yang harus diselesaikannya. Pengen candle light dinner? sore ini saya udah janjian bawa Azka, Umar dan Hana ke dokter gigi. Biasanya akan sampe jam 7an.

Beberapa hari lalu, saya senyum-senyum baca status seorang teman saya, yang menggambarkan bagaimana romantisme sepasang kekasih yang menjadi suami istri dan menjadi bapak-ibu, telah berubah menjadi realistis membahas hal-hal “remeh temeh” soal anak.

Yups, tahun ini, keluarga kami masuk “fase baru”. Tampaknya si sulung Azka, telah “resmi” menjadi remaja. Dengan segala karakteristiknya, yang mewarnai pula keluarga kami. Maka, kami pun resmi menjadi “family with teenager” dalam tahap perkembangan keluarga. Tahap perkembangan baru, tentu saja tantangan baru dan butuh ilmu baru.

Di usia pernikahan ke-13 ini, hal-hal ideal dan romantis sudah tak sempat lagi kami usahakan. Lha wong tadi pagi saya nyari-nyari selembar kertas referensi buat tulisan yang udah saya siapin di meja kamar saya, udah ilang…saya curiga…kalau gak dipake “gambar rambutan” oleh Azzam, paling dipake bikin perahu sama Umar ;(

Seminggu lalu saya berkesempatan “mengobrol” dengan seorang “rekan” yang usia pernikahannya sudah 35 tahun ! Saya tanya, apa sih yang membuat ia dan pasangannya “bertahan”. Saya pernah melihat mereka berdua begitu….”romantis” gituh. Bukan…bukan romantis yang lebay seperti menuliskan perbincangan mesra di status atau gelendotan di tempat umum. Perilaku dua kakek nenek itu itu biasa saja, tapi aura kasih sayang, aura “i love you” itu begitu kuat terasa. Padahal mereka sering LDR-an, dengan aktivitas masing-maisng.

Cerita beliau mengenai perjalanan 35 tahun pernikahannya, suka dukanya, pasang surutnya, cinta-bencinya, idealisme dan realitasnya, membuat saya semakin yakin….mempertahankan pernikahan yang membawa kebaikan dan kebahagiaan itu, tak mudah. Ada banyak episode yang harus dilalui. Ada banyak proses perubahan yang harus dilakukan. Dan ada satu benang merah kekuatan yang akan membuat kita dan pasangan bertahan menghadapi tiap episode itu.Itulah yang harus saya aware-i dan harus saya pertahankan, bahkan perkuat.

Episode 13 tahun pernikahan kami, adalah episode realitas. Setiap hari kami disibukkan dengan beragam macam tetek bengek urusan anak-anak. Mulai dari hal filosofis sampai hal teknis remeh temeh. Pergi berdua? it’s not our style.

C360_2015-06-15-14-59-46-310~2Dalam hiruk pikuk reaalita sehari-hari dari tahun ke-13 ini, ada satu hal yang selalu bikin saya senyum. Bahwa semakin hari, kami semakin sering melakukan hal yang sama, di hari yang sama, tanpa janjian. Membelikan kebutuhan dan kesukaan masing-masing, paling sering membelikan kebutuhan dan kesukaan anak-anak. Misalnya, membelikan cemilan kesukaan anak-anak yang sama, sampai dengan beliin vitamin yang sama. Meskipun anak-anak suka “protes” …. “kenapa sih, ibu dan abah  suka beliin hal yang sama?” bahkan Azka yang lagi “nyinyir” suka bilang : “emang ibu dan abah gak koordinasi ya?” haha…namun dalam hati saya tersenyum. Semoga ini tanda bahwa dalam hiruk pikuk realitas pernikahan kita, hati kita semakin menyatu” haha……aamiin….

Advertisements

“mencari” sekolah vs “mencari” jodoh ;)

6281573469377Seminggu ini, khususnya 3 hari ini, adalah hari-hari penting bagi sebagian ortu yang memiliki anak kelas 6 SD. Beragam doa untuk kemudahan dan kelancaran UN anak-anaknya, dipanjatkan para ibu baik dalam bentuk status bbm, status facebook maupun pastinya di saat-saat mustajabnya doa. Minggu lalu, beberapa sekolah menggelar semacam “doa bersama” yang dihadiri anak dan orangtua. Pun dengan sekolah Azka.

Setelah program tambahan belajar plus tryot setiap hari Sabtu selama satu semester kemarin, kegiatan ditutup dengan acara mabit anak-anak yang ditujukan untuk “relaksasi” melalui beragam games yang ringan dan lucu. Dan hari Kamis lalu, saat tanggal merah, digelar acara “doa restu”. Tujuannya sama, relaksasi. Tapi lebih diarahkan untuk orangtuanya. Pengisi acaranya pas sih menurut saya, seorang trainer parenting yang kocak abis, mampu mengocok perut para orangtua dengan gayanya yang lucu abissss….

Betul sekali yang disampaikan trainer parenting tersebut, kayaknya yang tegang emak-bapaknya, terutama banget emak-emaknya hehe….. begitu masuk ruangan bawaannya udah pada berkaca-kaca ajah. Padahal anak-anaknya mah udah haha hihi.

Untuk yang berniat masuk SMP negeri, wajar kalau 3 hari ini akan merasa tegang. Karena perjalanan 6 tahun sekolah putera-puterinya, diukur dengan beberapa puluh soal. Beberapa puluh soal dari 3 mata pelajaran yang hasilnya, akan menentukan masuk SMP mana. Sekolah, buat sebagian orangtua, bukan hanya berfungsi sebagai institusi yang mengajarkan pelajaran. Tapi mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang akan masuk menjadi kepribadian anak.

Saya sendiri, jujur saja sudah tak tegang. Sudah antiklimaks buat saya. Tegang dan cemas abis, saya rasakan 5 minggu lalu, waktu Azka test di sebuat SMPIT. SMPIT yang menurut “penerawangan” kami, paling pas untuk jadi partner dalam mendidik Azka. Karena itu satu-satunya sekolah yang dirasa paling pas dalam segala sesuatunya dan kami gak punya pilihan kedua, maka wajarlah kalau saya cemas banget menghadapi testnya. Padahal yang test Azka ya…kkkk

Hihi…kalau saya flashback, suka pengen ketawa sendiri. Beberapa waktu sebelumnya, saya sempat galau abis. Testnya tuh kan 3 ya, psikotest, test akademik dan test praktek ibadah. Nah, untuk  test praktek, saya percaya lah…sama Azka. Test akademik….dengan tambahan belajar di sekolah, tryout tiap minggu plus bimbel seminggu tiga kali, cukup lah…kami pun belikan beberapa buku soal sampai Azka bilang…hadeeuh…bosen bu, ngerjain soal terus haha….Nah, yang bikin galau adalah soal psikotest ini. Masalahnya adalah, saya tahu banget lah, apa yang akan diukur, gimana cara ngukurnya daaaan…..alat ukurnya, alias alat psikotestnya, itu ada di ruang kerja sayah….

Beberapa hari menjelang test, kegalauan saya meningkat. Insting seorang ibu kan ingin selalu melindungi anaknya ya? saya galau….saya bisa banget ngasih “latihan psikotest” sama Azka. Atau minimal, kasih tau nanti soalnya kayak apa, Azka harus gimana biar hasil evaluasinya bisa bagus. Tapi….terngiang-ngiang sumpah profesi, kode etik dan…tentunya ingat bahwa nanti saya harus pertanggungjawabkan di akhirat. Tapi sebagai seorang ibu….ingin sekali all out membantu anak….tapi kode etik….tapi sebagai seorang ibu….

Yang akhirnya menguatkan saya untuk tidak melakukan pelanggaran kode etik itu adalah, seorang sahabat saya. Waktu saya curcol soal kecemasan saya pada dia, dia bilang gini …“gw paham banget kecemasan elu, tapi tenang lah, gw yakin Azka punya potensi dan kemampuan”. JLEB. Banget. Saya tertohok. Perasaan saya “ingin membantu” Azka, membuat saya terbutakan akan satu hal. Kalau saya lakukan itu, berarti saya meragukan potensinya. Saya tidak mempercayai kemampuannya. Aduuuhhh….saya menghayati betul sekarang. Itu tidak mudah sodara-sodara….Insting seorang ibu yang ingin selalu melindungi anaknya, membuat kita tidak mudah untuk “percaya” pada kemampuan anak kita ! Ini pengalaman berharga banget buat saya. Struggle to surrender banget lah….

Pas hari h, kecemasan saya udah naik ke ubun-ubun. Subuhnya ampe “berantem” sama si abah. Saking cemasnya takut telat karena jarak dari rumah ke sekolah tsb cukup jauh dan bisa macet, saya pengen anter pake motor. Karena saya gak bisa nyetir apapun kecuali nyetir sepeda, pastinya kami akan bertiga naik motor. Si abah bilang, itu malah riskan ditilang. Jadi lebih baik pake mobil. Saya, keukeuh sureukeuh pengen pake motor, biar kalau macet bisa nyelap-nyelip. Akhirnya, setelah masing-masing keukeuh dengan pendapatnya, dengan wajah manyun dan mata berkaca-kaca saya ikutin saran mas, tapi berangkatnya 2 jam sebelum jam mulai test haha….orang cemas dilawan…. jadilah setengah 7, kami sudah nangkring di sekolah tsb, datang sebagai peserta kedua haha….

Sepanjang perjalanan, cemas saya memuncak sampai sakit perut…Aduh, bener deh,,,seumur-umur kalau menghadapi ujian, 3 kali sidang skripsi-profesi-tesis, gak pernah sampai sakit perut. Ini terjadi …. ! sambil menunggu jam mulai test, ngobrol ini itu dengan ibu-ibu teman Azka, kecemasan mulai reda. Menjelang jam 8, tim psikologi datang. Begitu tim psikologi turun dari mobil, eh…sebelum masuk ke ruang test, mereka menghampiri saya, trus pada cium tangan …. ternyata mereka adalah mahasiswa-mahasiswi saya….dari Biro tetangga yang bekerjasama dengan sekolah ini untuk psikotestnya. Aduuuh, sakit perut lagi. Apalagi saat ibu salah satu teman Azka bertanya mengapa, dan ketika saya bilang itu mahasiswa saya, beliau berkata : “ya ampun, mama Azka teh psikolog, kenapa gak bilang-bilang? kalau tau kan bisa minta latihan dulu..” ….. si syetan bertanduk hadir lagi dan bilang ke saya “iya ih, kenapa resource yang kamu punya gak kamu kasih all out ke anak kamu, kalau gagal, kamu nyesel loh”. Sakit peruuuuuut !!!! Apalagi tambah dapat info kalau persaingannya ketat, plus Azka kan SDnya bukan dari sekolah ini. Meskipun berkali-kali saya tanya ke yayasannya dan mereka bilang gak ada keistimewaan untuk calon yang berasal dari SD mereka, tetep we…liat daftar nama banyak banget yang dari SD mereka, hati jadi ciut.

Selama 2 minggu menunggu pengumuman, saya bener-bener berjuang untuk “ikhlas” berdoa mohon yang terbaik. Bukan berdoa biar diterima. Katanya kan, hakikat muslim itu adalah “berserah”. Puncak ketauhidan kita adalah, saat kita yakin apapun yang terjadi adalah yang terbaik dariNya. Selama kita masih yakin dan merasa yang kita inginkan yang terbaik, ya berarti belum sepenuhnya berserah. Struggle to surrender tea…

Sampai 3 minggu lalu, alhamdulillah Azka diterima. Sejak saat itu, buat saya udah selesai. Udah bayaran, udah dapet seragam, udah antiklimaks.

Minggu lalu, kami diundang oleh SMP tersebut untuk wawancara. Saya dan mas hadir. Satu jam wawancara dan dialog, saya seneng banget. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pihak sekolah pada kami, menurut saya bagus. Karena dalam proses itu, kami menyamakan “nilai”. Dan item pertanyaan yang dipilih pun, pas menurut saya. Tidak hanya yang sifatnya umum dan normatif. Misal mereka bertanya, bagaimana pendapat kami mengenai gadget terutama hape. Mereka juga bertanya bagaimana pendapat kami tentang “rasa suka-sukaan” yang sangat biasa terjadi di usia SMP, lalu bagaimana value kami tentang pacaran. Saya juga banyak bertanya mengenai hal-hal yang saya anggap penting, misalnya saya menanyakan bagaimana prinsip mereka mengenai anak yang “bermasalah”, bagaimana sistem penanganan jika terjadi kasus bullying yang sedang marak, dll dll. Alhamdulillah bikin lega, karena value kami sama. Baik dalam hal “agama” maupun mengenai aspek-aspekkepribadian  yang akan dibangun oleh sekolah tersebut. Salah satu konsep yang saya suka adalah, sekolah ini melalui program-programnya tidak mengedepankan kompetisi, melainkan kerjasama. Itu sesuai banget sama kepengenan kami. Juga skeolah ini tidak mencetak individu-individu yang “eksklusif”, tapi berbaur dan terjun ke masyarakat.

Saat tahu ketatnya persaingan masuk sekolah ini plus cukup mahalnya biaya masuk sekolah ini, sopir saya bertanya “bagusnya apa sih bu, sekolah ini?” haha….pertanyaan kritis …. Lalu saya menjawab kurang lebih begini: bahwa dengan pilihan aktifitas saya, harus diakui minim sekali waktu saya untuk Azka. Begitu juga abahnya yang sering di luar kota. Saya perlu bantuan skeolah yang gak cuman ngajarin pelajaran, tapi juga ngajarin nilai. Nilai yang harus sama dengan nilai yang kami ingin tanamkan pada Azka.

Dipikir-pikir, proses ikhtiar mencari skeolah buat anak itu sama dengan proses iktiar “mencari jodoh” ya…hehe

Apa aja prinsipnya?

(1) Tidak ada pasangan yang sempurna, yang ada adalah pasangan yang sesuai. Demikian pula tidak ada sekolah yang sempurna, yang ada adalah sekolah yang sesuai.

Untuk mengetahui apakah sesuai atau tidak, maka kita harus tau dulu siapa kita, apa value kita. Apa yang penting dan gak penting buat kita. Apa yang kurang dalam diri kita, yang ingin kita lengkapi dari pasangan kita. Pokoknya mah harus “kutahu yang kumau” lah. Yups…pastinya kita semua pengen anak kita sholeh. Tapi, kita harus bisa operasionalkan. Karena karakteristik sekolah itu beda-beda. Mau sholeh yang kayak gimana? Mau sholeh yang orientasinya kemana? Seperti apa? Mau sholeh yang kompetitif? its oke. Mau sholeh yang kolaboratif? its oke too. Mau sholeh dengan dominansi pengetahuan agama? okeh. Mau sholeh dengan dominansi pengetahuan sains? bahasa? sosial? its oke too.

(2) Tak ada pasangan yang gak punya kekurangan. Yang penting, dia dewasa dan mau menerima masukan, mau berubah ke arah lebih baik. Tak ada sekolah yang tak punya kekurangan. Yang penting, sekolah itu terbuka menerima masukan, dan mau beruba saat ada masukan yang lebih baik.

Saya sudah menemukan TK dan SD yang “pas” buat anak-anak saya. Apakah TK dan SD itu sempurna? no no no. Beberapa kali saya memberikan masukan terhadap hal yang saya pikir penting untuk diluruskan. Dan ciri sekolah yang baik adalah, ia  mau menerima masukan yang objektif. Mau mengakui kesalahan, mau meminta bantuan, mau berubah. Itu pula yang kita harapkan dari pasangan kita bukan?

(3) Dalam proses mencari pasangan hidup yang mengikuti syariat islam, faktor sumber informasi menjadi krusial. Demikian pula saat mencari sekolah.

Kita tidak diperbolehkan melakukan perkenalan dengan berduaan….tapi kita harus pandai-pandai mencari sumber informasi yang akurat mengenai calon pasangan kita. Rasul bilang, seseorang itu menjadi teman setelah menginap bersama. Teman satu kost, informasinya akan lebih valid dibandingkan teman-teman lain yang hanya tahu calon pasangan kita “dari luar” aja.

Saya sering bilang, kalau cari sekolah, jangan percaya brosur. Pasti kalau cuman liat dari brosur atau web, bagus semua. Apalagi sekolah baru. Idealismenya hebat, tapi belum punya pengalaman bagaimana membumikan idealisme tersebut dalam kenyataannya. Salah satu cara ampuh adalah, cari testimoni. Dari orang yang kita percaya, dari orang yang valuenya sama dengan kita. Memilih SMP ini, buat saya cukup dengan meminta pendapat seorang teman, yang anak nya sekolah di situ, dan punya value yang sama dengan saya. Baik value agama maupun value psikologi yang buat saya cukup penting hehe…. Dan beliau pun memberikan informasi yang objektif, sehingga kami bisa timbang-timbang, apakah fit gak dengan kebutuhan kami.

Semoga, di SMPnya nanti, kami mendapatkan sakinah mawaddah warohmah hehe….

Buat ibu-ibu/bapak-bapak  yang masih berjuang cari pasangan hidup sekolah yang pas, Semangat ! Insya allah ikhtiar kita smeoga mengundang keberkahan buat anak-anak kita. Aamiin….

 

 

Buku Plus Plus

Salah satu tantangan utama ibu bekerja P4 seperti saya adalah, memanfaatkan seuprit waktu setiap harinya untuk aktivitas yang high quality. (Note : P4= Pergi Pagi Pulang Petang). Bayangkan … kalau kita di rumah, 10 jam yang kita lewatkan untuk aktifitas di luar rumah, bisa kita pake stimulasi segala macem tuh … sementara untuk ibu bekerja, paling waktu yang dimiliki untuk bermain bersama anak PUREnya 1-2 jam-an lah…

Salah satu moment harian untuk “menebus” 10 jam yang saya lewatkan bersama anak-anak adalah, membaca buku sebelum tidur. Tentu “sebelum tidur” ini bukan dalam artian harfiah. Biasanya saya mengajak anak-anak terutama si TK B Teteh Hana dan si “mau Playgroup” Azzam mulai naik tempat tidur J-2. Dua jam sebelum jam tidur mereka. Bukan apa-apa sih, soalnya setelah seharian beraktivitas, rebahan meluruskan punggung adalah hal ynag sangat saya rindukan hehe… Stimulasi motorik jatahnya Sabtu dan Minggu 😉

Dan “buku” yang dibacakan pada ritual sebelum tidur, bukan buku biasa. Namun Buku Plus Plus. Karena sayah bukan ibu yang kreatif, maka segala macam buku, terutama buku yang “tiga dimensi” menjadi penting dan ada di rumah saya. Buku suara, buku pop up, buku dengan beragam tekstur, bantal buku, buku kain, buku puzzle, buku yang ada boneka jari-nya, dan beragam jenis buku lainnya. Nanti saya ceritain satu-satu ya…

Di tulisan ini saya mau ceritain satu buku yang akhir-akhir ini jadi favorit si bungsu 3 tahun Azzam. Meskipun jatah baca bukunya cuman 2 (jadinya 4 karena 2×2 sama Hana 😉 … dia cuman mau dibacain satu buku. Tapi 4 kali haha…. Meskipun “cape deeeeeh” baca buku yang sama empat kali berturut-turut, tapi saya seneng banget saat anak-anak menikmati, dan emosinya larut dalam satu buku.

Saya masih inget, buku kesukaan si sulung Kaka Azka adalah “Pak Badru Kebingungan”. Buku kesukaan Mas Umar, adalah ….”atlas dunia” haha….. ciyuss… awalnya saya kaget waktu dia saya minta bawa buku yang mau dibacain. Dia bawa atlas. Tapi dia menikmati banget waktu saya tunjukkan … ‘ini amerika, ini eropa, ini australia, ini jawa, ini surabaya”. Tamat petanya, masuklah ke bagian favoritnya: bendera-bendera negara. Ini jepang, ini korea, ini italia….itulah “buku bacaan yang ia nikmati”.

Hana, buku kesukaannya adalah segala macam koleksi buku Princess Islami. Princess Rahima, Adila, Karima, Aziza, dll dll. Nah, si bungsu Azzam baru dua minggu ini-sejak dia ulang tahun ke-3,  bisa “anteng” dibacain satu buku plus punya buku favorit.  Buku favoritnya bcovererjudul “Tiga Babi Kecil”, sebuah cerita terkenal dari barat sono, yang diterjemahkan oleh Erlangga for Kids. Sebenarnya saya punya semua serinya, termasuk Goldilocks dan Tiga Beruang yang fenomenal itu. Tapi saya lupa simpennya dimana hehe….

Saya akan cerita plus plus nya buku itu ya…

(1) Buku ini mengajarkan konsep kuat-rapuh. Memang konsep perbandingan lebih banyak diajarkan di buku Goldilocks. Tapi persamaannya dengan buku Goldilocks adalah, konsep itu diajarkan melalui cerita yang keren banggetssssss !!!

(2) Pas dibeli, di buku ini ada 50 stiker. 15 diantaranya adalah stiker bebek. Stiker bebek itu harus ditempel di setiap halaman, di gambar bebek yang “bersembunyi” diantara gambar lainnya. Ada dua aspek perkembangan anak yang terstimulasi disini. Motorik halus (melepas dan menempel stiker) dan ketajaman persepsi visual; tepatnya visual figure-ground discrimination (menemukan bebek yang “bersembunyi”). Yakinlah, anak usia 2-5 tahun, sangat suka dengan jenis buku seperti ini ! Jadi, pengalaman pertama bagi anak dibacakan buku ini, akan sangat menyenangkan. Kalau saya, setelah stiker bebeknya habis pas baca pertama kali, membaca kedua kali dan seterusnya tetap pake pola itu namun anak diminta menemukan gambar lain yang “tersembunyi”. Dalam buku ini, di setiap halaman selalu ada tikus dan serigala jahat yang bersembunyi. Percaya atau tidak, berhasil menemukan serigala jahat di tiap halaman merupakan hal yang mengasyikkan dan “membanggakan” buat anak 3 tahun !

babi1(3) Selain stiker bebek, di dalam buku ini pada bagian bacaannya ada kata yang disertai gambar. Gambar itu, stickernya harus ditempel. Aspek apa yang terstimulasi dalam kegiatan mencari stiker yang sesuai gambar ini? aspek persepsi visual juga , yaitu mencari perbedaan bentuk plus motorik halus tentunya (visual form discrimination).

(4) Bagaimana setelah semua stiker habis? pada saat kita membacakan, pada bagian kata yang ada gambarnya, tunjuk gambarnya. Biarkan anak yang menyebutkan katanya. Ini menstimulasi apa? working memory. Anak akan terus “alert” saat menikmati bacaan. Sekilas mengenai working memory….dulu jaman saya kuliah 18 tahun lalu, dalam proses mengingat teorinya mengatakan bahwa berdasarkan jenis dan kapasitasnya, memory itu ada 3 : sensory memory, short term memory, dan long term memory. Saat saya mulai ngajar 10 tahun lalu, muncul istilah working memory. Bahwa “short term memory” yang tadinya kita pikir pasif, ternyata tidak. saat kita mengingat, kita pun aktif mengolah. Intinya dan sederhananya mungkin begitu. Anak harus alert untuk mengingat dan menyebutkan gambar dalam bagian cerita itu. Apa gunanya working memory? oh, banyak banggets….banyak sekali aktivitas akademik anak yang menggunakan kemampuan working memory. Membaca dan berhitung adalah dua diantaranya. Coba perhatikan anak yang lagi belajar baca dengan mengeja. Misalnya dia mengeja BE-CA. be-e, be. ce-a, ca. PAs dia baca “ca”, dia lupa lagi “be” nya. Jadi ulang lagi. Nah, itu artinya working memorynya belum kuat. Saat mengeja “ca”, ia juga harusnya tetap mengingat si “be”. Begitu lah kira-kira….Saat anak sudah bisa mengucap dengan jelas, anak bisa diajak aktivitas ini. Mulai usia 2 tahun, anak udah bisa banget.

babi2(5) Nah, ini dia bagian klimaks yang ditunggu-tunggu Hana dan Azzam saat dibacakan buku ini. Ada bagian cerita si serigala jahat meniup rumah babi pertama yang terbuat dari jerami, rumah babi kedua yang terbuat dari ranting, dan rumah babi ketiga yang terbuat dari batu bata. Di bagian ini, saya akan meniup mereka….jadi di halaman ini Azzam udah siap-siap nutup wajahnya dan lalu teriak “tolong..tolong….ada ujan acay ibu!!” haha…..tapi kalau saya berenti dia teriak lagi ” lagi bu…hujan acaynya….lagi….”

Dan begitu sampai halaman terakhir lalu saya menyudahi dengan kalimat “aya si tata sareng si mamat”….Azzam pun akan teriak “bacain dari awal lagi…bacain dari awal lagi…” Nah, disitu saya merasa senang sambil ngantuk kkkk

Selamat menikmati kebersamaan dengan buah hati kita….ada tak terhingga caranya. Buku yang wokeh, akan sangat membantu kita. Percayalah, tak hanya mereka yang terhibur. Kita pun. Mari kita nikmati.

 

Ber-JOHARI WINDOWS bersama keluarga

Dulu, jaman saya masih centil sebagai mahasiswa psikologi yang suka diundang untuk ngisi materi pengembangan diri buat remaja/mahasiswa, salah satu materi “kojo” saya adalah JOHARI WINDOWS.

JOHARI WINDOWS sangat pas dilakukan sebagai games pada anak remaja/ mahasiswa, ditutup oleh debriefing dan konklusi mengenai pengembangan diri. Karena saya sedang malas menulis, bagi yang belum tahu maka monggo dibaca di link http://www.kursikayu.com/2011/05/jendela-johari-johari-window.html tentang Johari Windows.

Nah, waktu beberapa waktu lalu, saya menemani seorang kolega yang menjelaskan mengenai JOHARI WINDOWS di salah satu sesi kuliah di sebuah fakultas non psikologi. Wah, sudah lamaaaa sekali saya tak melakukan “Johari Windows” ya….terakhir jaman kulaih S1….artinya…kurang lebih 14 tahun lalu.

johari

Lalu tinggggg!!! saya kepikiran…kayaknya asik juga ya, Jo-JOHARI WINDOWS-an sekeluarga….ama anak-anak dan mas….siapa tahu menemukan BLIND WINDOW yang mengagetkan hehe…

Kita minta anak/suami kita nulis penilaian mereka terhadap kita, 5 plus 5 minus. Demikian juga kita sama mereka. Nah, lalu penilaian-penilaian itu kita “letakkan” di 4 jendela ini…

Yuks ah kita coba…aktivitas yang kayak gini nih….yang katanya kegiatan berkualitas…insighfull, memperkuat ikatan antar anggota keluarga….dan…murah !!!

Kalau kita “gak berani” …jangan-jangan….hubungan kita sama keluarga gak “terbuka” ya….karena kan anak-anak dan diri kita sendiri harus merasa “aman dan nyaman” untuk mengemukakan penilaian….waduh…belom melakukan, udah dapet insight nih…berarti wajib dicoba dilakukan ! hehe

#yang lagi males nulis#

 

Derita VENUS : memutuskan jodoh, memutuskan kerja, memutuskan ART ,,,,,

Dua hari yang lalu, ART saya yang pulang pergi bantu beberes rumah dan nemenin Hana sebelum saya pulang, resign. Meskipun secara finansial masih sangat membutuhkan, namun penyakit yang ia derita tak memungkinnya untuk membantu saya lagi.

Jadilah sejak dua hari lalu saya mulai “menebar jala” untuk cari-cari ART. Yang bisa nginep kalau bisa. Sambil merencanakan Plan A, B, C, D…kalau-kalau sampai minggu depan belum nemu yang bisa bantu.

Nah, dari “jala yang ditebar” itu mulailah ada informasi-informasi. Tadi pagi saya diskusikan sama si abah.

Ada yang mau, tapi cuman bisa siang sampai jam 2. Gimana? terima atau tunggu kemungkinan lain? Kalau  diterima…gak sreg…gak bisa memenuhi semua kebutuhan….kalau gak diterima, gimana kalau nanti gak dapet-dapet juga? Kalau diterima…gimana kalau nanti ada yang bisa nginep….sayang kalau ditolak….tapi masa yang udah diterima ini dibrentiin baru sebentar….

Begitulah kira-kira kecamuk di pikiran saya. Diskusi tadi pagi belum terlalu membantu. Maklum, si abah dengan ke “mars” annya, dengan sederhana mengusulkan: “ya udah kalau gak memenuhi kebutuhan kita, gak usah diterima, tunggu lagi aja nanti sampai ada yang bisa nginep”. Namun dengan ke”venus”an saya, saya menangkal…”nanti kalau gak ada sama sekali….sampai minggu depan…sampai sebulan..gimana?” dengan mudahnya si abah menjawab: “ya nanti kita pikirkan strategi lain”…..saya gak setuju…tapi, parahnya, saya juga gak bisa memutuskan….

venusKegalauan khas VENUS seperti ini mengantarkan ingatan saya pada saat menghadapi situasi yang relatif sama belasan tahun lalu. Saat bingung memutuskan “apakah mau menerima si X ini untuk menjadi suami, tapi ada yang kurang….tapi nanti kalau ditolak…kalau gak nemu jodoh sampai tua gimana…” maupun saat bingung memutuskan waktu ada panggilan kerja dari perusahaan “A”. Kalau ini diterima, nanti  neyesel kalau minggu depan ada panggilan dari perusahaan B yang lebih keren.. tapi kalau ditolak…trus ga ada panggilan juga dari perusahaan B juga …nyesel gak?

Teori-teori manajemen resiko, tak pernah mempan mengatasi kompleksitas pemikiran si Venus seperti saya. Dan saya yakin, saya tak sendiri haha…ada banyak venus-venus lain yang akan mengalami “kompleksitas pemikiran” seperti saya 😉

Konon, itulah katanya mengapa Allah memasangkan venus dengan mars. wanita dengan pria. hawa dengan adam. saya dengan si abah. Biar “kompleksitas pemikiran” yang sering kali tak berujung pada keputusan itu, diimbangi oleh “kesimpelan berpikir” ala Mars.

Baiklah, sepertinya daripada tak bisa memutuskan, saya serahkan saja keputusannya sama si abah…haha…

Who Is Our Children’s True Love?

Ini adalah malam ketiga saya begadang. Bukan nyiapin materi kuliah. Bukan periksa tugas mahasiswa. Bukan juga bikin laporan penelitian, atau ngerjain projek evaluasian. Saya begadang karena si bungsu dan si pangais bungsu, Azzam dan Hana sedang sakit. Sakit apa? standar sebenarnya. Batuk, pilek, panas. Cuman entah mengapa, mungkin saking eratnya ikatan emosional antara mereka berdua, maka kalau sakit mereka selalu kompak. Bersama.

Daaan….semua ibu tahu. Kalau anaknya sakit, maka ….. selucu, seanteng, se”baik” apapun anaknya, berubah 180 derajat menjadi amat sangat rewel. Azzam sudah pasti pengen dipangku terus. Hana, tiap 15 menit sekali bangun. Nangis. Minta minum, mau susu, daaan…mau dipeluk. Hana pengen ibu memeluk dia sambil batuk-batuk, sedangkan Azzam langsung terbangun dan rewel kalau mendengar suara batuknya Hana. Pusing bukan? Untunglah malam ini ada si abah. Dua malam kemarin, teler sendirian…. Ini punggung udah mulai cenut-cenut gara-gara si ndut Azzam pengen digendong terus dengan posisi sama, di bahu sebelah kiri. Dua bulan lalu, akibat Azzam sakit seminggu, bahu dan punggung saya sakiiit banget selama sebulan…Alhamdulillah malam ini mereka bisa tidur agak pulas. Panasnya udah stabil turun. Cuman daripada tidur lalu kebangun lalu tidur gak jelas yang bikin pusing, saya putuskan untuk terus terbangun dan mengerjakan ini-itu aja.

Tapi deng, sebenernya ada atau gak ada si abah kalau anak-anak lagi sakit, gak ngaruh. Kenapa? karena….kalau anak-anak lagi sakit, abahnya jadi “gak laku”. Padahal saya berharap Hana dan Azzam ini berbeda. Maklum, kedua anak ini entah dijampe-in apa ama abahnya, dekeeet banget sama abahnya. Hana itu, kalau udah sore pasti nanya…”abah pulang gak?” kalau saya jawab “engga”. Langsung deh dia berkaca-kaca dan bilang…”kangen abah”. Si  bungsu Azzam, kini semakin sering berhasil dalam melakukan trial-error menelpon si abah. Dia bisa menelpon abahnya bermenit-menit, gak peduli abahnya lagi meeting penting. Dan kalau si abah ada di rumah, kalimat favorit Azzam adalah “sama abah aja”. Mandi, makan, pake baju, pipis, semuanya mau dengan syarat: “sama abah aja”.

Jadi…kalaupun si abah ada saat anak-anak sakit, fungsinya lebih sebagai “asisten”…bikinin susu, ambilin air minum, dan….menjadi “emotional support” buat sayah…hehe…Soalnya, walaupun si abah sepenuh hati berniat gantian mangku Azzam, jangankan mangku…abah tidur di kasur yang sama aja, Azzam langsung usir “abah sana!”.

Mmmhhh…jadi inget curhatan adik saya….dia curhat: “kenapa sih teh, kalau lagi hepi, lagi goodmood, sama abinya….aja. Eeeh…pas lagi rewel, ngantuk, sakit, bagian uminya deh”… Waktu itu saya jawab ngasal sambil nyengir: “ya bagus atuh, berarti dalam situasi gak enak dia lebih nyaman sama uminya. Berarti Uminya bisa membuat dia nyaman..bagus itu”…

Eh, setelah saya baca buku tentang attachment, ternyata jawaban ngasal saya itu didukung oleh teori…..(haha….sombong euy….). Jadi, dinyatakan kurang lebih begini: “bahwa salah satu indikator seseorang itu menjadi figur attachment buat anak, adalah jika figur itu yang dicari anak saat ia merasakan emosi negatif. Kenapa? karena ikatan emosinal yang kuat dengan figur itu akan membuat anak merasa aman dan nyaman”. Ya, ya, ya…kita memang bisa berbagi suka dengan banyak orang, namun untuk berbagi duka? pasti hanya dengan orang-orang tertentu bukan?

Saya jadi inget. Dulu, watrue lovektu zaman Umar kecil, saya sering bertanya-tanya…siapa sih figur “primary attachmentnya” Umar. Apakah saya? atau bukan? Keraguan dan kecemasan  itu muncul karena Umar tampaknya “tidak membutuhkan saya”. Sehari-harinya, karena Azka lebih “nempel” pada saya, maka Umarlah yang “dikorbankan” beraktivitas bersama teh Ema, pengasuhnya. Apalagi saat itu juga saya mulai “serius” menjadi working woman. Sampai suatu saat Umar sakit, dan dia tak mau disentuh siapapun kecuali saya. Horeeee….waktu itu saya merasa “menang” melawan teh Ema…You can have Umar’s body, but his heart is mine…gitu lah kurang lebih perasaan sayah. Haha….lebay banget ya?

Jadi…sepadan lah….pusing kepala yang dialami sebagai akibat tiga malam begadang, cenut- cenut di punggung, tumpukan PR yang harus diselesaikan, jadwal-jadwal dan acara yang terpaksa dicancel….dengan mendapatkan kepastian bahwa…saya adalah “cinta sejati” anak-anak sayah….cihuy….haha….

sumber gambar : http://www.okiraa.com/HDwallpapers/768×885/true-love-quotes-wallpaper-63164.html

Sekali JeU, Tetep JeU !!! (Catatan Tentang IRT JeU ;)

jeuCatatan: JeU adalah singkatan dari “Juara Umum”. Istilah “gaul” untuk seseorang yang “high achiever” 😉

Waktu beberapa tahun yang lalu di Bandung ini ada kasus seorang ibu lulusan jurusan dan Perguruan Tinggi ternama mengalami permasalahan psikologis dan melakukan hal yang negatif pada anak-anaknya, beberapa teman lulusan perguruan tinggi tersebut mengontak saya. Maklum, beredar rumor bahwa permasalahan psikologis yang dialami ibu tersbeut disebabkan karena beliau yang terkenal cerdas kini “hanya” menjadi IRT. Beberapa teman yang menelpon itu; mereka adalah teman-teman saya yang JeU dan memilih jadi IRT. Mereka menyatakan kekhawatirannya, takut mereka mengalami kondisi psikologis yang sama, dan melakukan hal yang sama dengan ibu yang diatas. Curhat lalu berlanjut dengan kekhawatiran bahwa mereka “tidak akan berkembang” dengan “hanya” di rumah saja.

Saya lupa waktu itu jawab apa…(haha…sudah menunjukkan tanda-tanda PDI: Penurunan Daya Ingat). Tapi kalau pertanyaan itu diajukan pada saya sekarang, saya akan menceritakan sesuatu….eh, dua suatu deng J  

Pertama. Tayangan yang saya tonton di BBC beberapa tahun yang lalu juga. Tayangan tersebut tentang seorang juara dunia main game dari Korea. Saya juga baru tau…ternyata main gameitu ada kejuaraannya. Tingkat dunia pula. Waktu itu diadakan di Singapura. Diliputlah persiapan si juara yang sudah 2 tahun berturut-turut memenangkan lomba game tingkat dunia ini. Bahwa ia harus kuat terjaga belasan jam, berpikir dan bertindak cepat, dll dll. Akhir kata, singkat cerita…si juara dunia ini ternyata kalah. Ia harus mengakui kehebatan pemain game yang lebih muda dan fisiknya lebih kuat. Ternyata, dia tak patah hati. Dia lalu banting setir berencana akan menekuni cabang olahraga tinju gitu…lupa….Ada satu kalimat yang saya ingat keluar dari tokoh itu: “ Saya yakin, kalau saya bisa jadi yang terbai dalam kejuaraan game, saya juga bisa jadi yang terbaik dalam kejuaraan lainnya. Karena saya sudah punya sikap mental dan persiapan menjadi seorang juara” katanya….

Kedua.  Beberapa tahun yang lalu juga, saya berkunjung ke rumah seorang teman. IPKnya Cum Laude. Hanya karena jurusannya selama ini ia rasa kurang cocok, maka ia pun memilih jadi Ibu Rumah Tangga. Begitu masuk ke rumahnya dan bertemu dengan anaknya yang waktu masih prasekolah, anaknya itu, mateeeng banget untuk seusianya. Beragam piala berjejer. Ada piala juara storytelling, ada piala juara kreativitas apa…..gitu. Trus si anak itu menunjukkan “komik” yang sedang ia buat. Sesekali sambil bercerita, dia “mengutip” kata-kata ibunya. “Kata ibu aku….bla…bla..bla…”. Anak yang cerdas dan percaya diri. Begitu keluar rumah itu, kalimat pertama yang saya ucapkan pada mas adalah, “beda ya, anak yang ibunya cum laude mah” 😉

Benang merah dari dua fragmen di atas adalah, seorang wanita  yang cerdas, punya wawasan luas, manajemen diri yang baik, kepedulian pada lingkungan; di mana pun ia berada, menjadi apapun ia, akan menunjukkan keJeU annya. Mau jadi manager, mau jadi dosen, mau penulis, mau jadi ibu rumahtangga, akan tetep kliyatan ke JeU annya. Gak akan ilang.

Ibu-ibu rumah tangga yang semasa sekolah, kuliah dan semasa lajang di organisasinya JeU, tidak akan menjadi ibu rumah tangga yang menghabiskan hari-harinya dengan nonton drama korea, mantengin fesbuk, belanja-belanji online, gonta-ganti status di bb nya, lebih sering menitipkan anak pada asistennya dengan alasan “me time”…..

Kalau saya membayangkan, ibu-ibu rumahtangga yang JeU ini, seperti air. Terus mengalir, terus mencari celah sekecil apapun untuk mengaktualisasikan ke JeU annya. Kenapa? Karena si “JeU” ini sudah melekat menjadi kepribadiannya.

Bentuknya? Ibu-ibu RT ini akan tetap produktif. Menulis, membuat karya, membuat kegiatan komunitas, advokasi, dll.  Produktif. Tidak konsumtif. Saya seringkali minder sama ibu-ibu RT di salah satu wa grup yang saya ikuti. Pagi-pagi, sudah membicarakan sarapan super sehat buat anak-suaminya. Lalu bicarakan menu kreatif buat siang dan malam harinya. Sore-sore, saat saya masih di jalan menuju rumah, ibu-ibu hebat ini meng-upload foto cemilan sehat buat anak-anaknya. Soal wawasan? Saya mah ketinggalan jauuuuh….masalah kesehatan, imunisasi, parenting…..

Saya punya teman laki-laki, yang istrinya tergolong “IRT JeU”. Tiap hari bawabe kel makanan sehat dari rumah, juga cerita tentang beberapa menu kreatif bayi yang diciptakan oleh istrinya. Haduuh….saya yang hanya mengandalkan gasol buat baby Azzam waktu itu, bener-bener minder deh… Demikian juga pada anak-anaknya, sebagai efek dari full attention yang diberikan.

Jadi, saya akan bilang pada siapapun teman saya yang memilih menjadi ibu rumah tangga……di jaman sekarang ini, fisik boleh di rumah… tapi tak akan sanggup membendung dan memasung kualitas seorang wanita. Pilihan aktivitas, hanya media. Siapapun dia, dimana pun dia, menjadi apapun dia, sekali JeU, tetep JeU !

Previous Older Entries Next Newer Entries