Patah Hati

Jam di pergelangan tangan Rara menunjukkan waktu 18.45. Lima belas menit lagi kereta akan sampai di stasiun Maastricht. Rara bersiap-siap,  disekanya sisa air mata yang masih menggenang di matanya. Ia tak mau bertemu Amelie dengan wajah yang mendung, meskipun ia tahu tak mungkin memakai topeng keceriaan di depan sobatnya itu. Setiap kali berkunjung ke Maastricht, biasanya ia menikmati 3 jam perjalanan Amsterdam-Maastricht dengan memandang lahan-lahan luas dari jendela keretanya. Tapi tidak kali ini. Ia berusaha mengalihkan perhatiannya dengan membaca buku, tapi kata-kata yang ia baca tak bisa ia cerna. Seluruh inderanya tak mau beranjak dari situasi 7 jam lalu. Di telinganya masih terdengar jelas suara berat itu, rangkaian kalimat itu, kulitnya masih bisa merasakan dinginnya kursi kayu yang ia genggam saat dirinya terasa limbung setelah mendengar kalimat itu. Hanya matanya yang cukup kooperatif, bisa ia minta mengusir bayangan dia, dengan cara mengerdipkan mata.

patahhati_stasiunKereta berhenti, dengan pemberitahuan sudah sampai di stasiun Maastricht. Ia hanya membawa ransel abu yang setia menemaninya. Meskipun mungkin akan menginap beberapa hari di rumah Amelie, mana sempat tadi ia pulang ke apartmentnya. Kalimat Amelie tadi seperti hipnotis baginya. “Kamu naik intercity jam 16.30an dari Amsterdam Zuid, jam 19 aku jemput di stasiun Maastricht”. Begitu Rara melihat aplikasi 9292nya, dia tersenyum. Perintah Amelie sangat akurat. Ada kereta menuju Maastricht bertolak jam 16.26 dari Platform 2 Amsterdam Zuid.

Tak seperti stasiun-stasiun di Amsterdam yang selalu penuh orang, stasiun Maastricht agak lengang. Belum sampai Rara di pintu keluar stasiun, sosok tinggi besar-yang wajahnya selalu tampak tersenyum itu, dengan rambutnya yang keriting berwarna merah kecoklatan, telah menghambur ke arahnya. Amelie, sahabatnya. Memeluknya dengan super erat.  “Kupikir akan telat. Tadi aku ke toko Turki dulu menyiapkan perbekalan buatmu, biar kamu nanti langsung makan dan istirahat. Tadi cari parkirnya susah banget”. Ah, setiap kali Amelie atau Om Mark-ayah Amelie menjemputnya dari stasiun, agenda pertama selalu ke toko Turki, untuk membeli persediaan makanan halal untuknya.

“Sori aku kasih tau Papa. Aku gak tahan” katanya dengan wajah baby-facenya, begitu kami sampai di mobilnya. “It’s oke“, jawab Rara. Buat Rara, Om Mark sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri. Ayah yang tak pernah ia miliki. “How is your feeling now?” tanya Amelie. Tangan kirinya memegang kemudi, tangan kanannya menggenggam tangan Rara. “I don’t know” jawab Rara.

Dua puluh menit kemudian, mereka mulai memasuki gerbang “desa” dimana rumah Amelie berada. Kali ini, dengan sepenuh perasaan, Rara menikmati pemandangan sekitar. Saat itu, bulan November. Di Amsterdam, pohon-pohonnya sudah sepenuhnya gundul, menyisakan batang, dahan dan ranting berwarna hitam. Tapi disini, warna orange-kuning-emas daun masih terlihat. Bangunan gereja tua yang dikelilingi oleh kolam mulai terlihat. Beberapa angsa putih terlihat berenang-renang.

patahhati_rumahRumah Amelie mulai terlihat. Rumah ‘sederhana” berbata merah, dengan kaca besar yang tirainya hampir selalu terbuka, seperti lazimnya rumah di Belanda.Tak seperti di Amsterdam yang didominasi oleh apartemen, di desa Amelie rumah-rumahnya berbentuk “rumah” yang benar-benar terasa hommy. Belum sampai mobil berhenti, pintu  bercat putih itu sudah terbuka. Om Mark, sama tinggi-besarnya dengan Amelie, sudah mengembangkan tangannya untuk memeluk Rara. “Welcome home, my daughter”, begitu bisiknya di telinga Rara. 

Om Mark adalah Profesor Filosofi di Universitas Maastricht. Ia baru pensiun tahun lalu. Di usia 75 tahun saat ini, ia masih tampak gagah. Tak seperti Amelie yang wajahnya selalu tampak sumringah, wajah om Mark selalu tampak “serius”. Rambut abu bercampur putih, bagian depannya panjang menutupi keningnya. Setiap bicara, ia seperti bicara dengan jiwanya, seperti berpuisi. Rara selalu merasa om Mark adalah “filsuf sejati”.

Masuk rumah, Om Mark melepaskan jaket  Rara, menggantung di tempatnya. Om Mark memang masih memegang teguh etika penghormatan laki-laki pada perempuan. Melepaskan jaket, membukakan pintu mobil, menarik kursi, ia lakukan pada istrinya, Amelie, dan tentunya pada Rara. Tante Imke, ibu Amelie, wafat karena kanker setahun lalu. Sejak saat itu, om Mark tinggal sendiri sementara Amelie menyelesaikan PhDnya di Amsterdam, bersama Rara.

“Maaf Om, Amelie, Rara sepertinya akan langsung istirahat. Tadi sudah makan roti di kereta”, kata Rara. Ia tau jam  makan malam yaitu jam 18 sudah lewat. Mungkin om Mark dan Amelie menunggunya, tapi ia benar-benar tak ingin air matanya tumpah. Ia belum siap menceritakan kejadian siang tadi. Padahal meja makan adalah tempat paling menggoda untuk saling berbagi cerita di rumah ini. “We understand, Rara. Kamarmu udah disiapkan di atas. Meskipun Amelie pengen tidur bareng kamu, tapi pasti kamu pengen sendirian malam ini” kata Om Mark. “Aku sudah menyimpan baju-baju panjangku yang cocok buat kamu di kamar atas” tambah Amelie. Setelah berpelukan, Rara naik ke kamar atas, yang ada di lantai 3. Ia menaiki tangga sempit yang curam-khas Belanda, berwarna abu. Ia tersenyum sendiri saat mengingat kekonyolan Amelie yang setiap menemukan tangga, kalau sempit dan curam akan berseru “Dutch stairs”. Jika tangganya lebar dan tidak curam, ia akan berseru “Indonesian stairs”.

Kamar itu  terletak di lantai 3, atapnya berbentuk segitiga. Ukurannya 3×3 meter, diperuntukkan untuk tamu.  Rumah ini hanya memiliki 3 kamar. Dua kamar di lantai 2, satu kamar tamu di lantai 3. Tiap berkunjung kesini, biasanya Rara tidur di kamar Amelie di lantai 2.  Kasur di kamar ini  berupa kasur portabel, kasur angin yang bisa dipompa. Selain kasur, kamar ini dipenuhi buku. Membaca adalah nafas bagi Om Mark. Bukunya beragam macam. Di ujung, ada jendela yang membuat Rara bisa menatap pepohonan dan atap rumah di sebrang. Di ujung satunya, sajadah batik biru miliknya sudah teretang di atas karpet yang tebal, menghadap kiblat. Meskipun Amelie dan Tante Imke penganut Katolik taat dan Om Mark menyatakan “I am not a religious person”, tapi Rara merasa ia sangat diterima di keluarga ini. Sajadah batik biru itu ia bawa saat pertama kali berkunjung ke rumah ini 3 tahun lalu. Tante Imke sangat mengagumi motif batik di sajadah itu, membuat Rara menghadiahkan sajadah itu untuk tante Imke. Tante Imke senang sekali. Setiap Rara berkunjung, sajadah itu selalu sudah disiapkan tante Imke. Kali ini, mungkin Amelie yang menyiapkannya.

Setelah berganti baju, mencuci muka dan menyikat gigi di kamar mandi depan kamarnya, Rara menenggelamkan diri di bawah selimut hangat berwarna abu. Ia matikan lampu, segera menutup matanya. Ia berdoa semoga lelap segera menghampirinya. Pikirannya terasa penuh. Ia tak ingin memikirkan apapun, dan tak ingin merasakan apapun, apalagi memikirkan dan merasakan kejadian tadi siang.

……….

Ia terbangun oleh alarm dari handphonenya. Jam 4. Subuh jam 06.30 hari ini. Bangun jam 4 lalu mandi, adalah satu kebiasaan yang tak bisa diubahnya, yang ia bawa dari Indonesia. Jam berapapun subuhnya, Ia akan terbangun jam 4, dan merasa “harus” mandi, di musim apapun. Seperti sebuah keterikatan psikologis. Setelah itu, ia akan sholat, lalu membuka laptopnya. Hal-hal yang sulit akan ia kerjakan di rentang waktu itu, dimana ia merasa kepalanya sangat jernih dan pikiran cemerlang mudah mendatanginya.

Kali ini, ia tak mau membuka laptop. Setelah mandi, sholat, ia terpekur di sajadahnya. Ia masih belum ingin mengolah perasaannya terkait kejadian kemarin siang, meskipun kali ia merasa pikirannya lebih jernih. Ia justru menghadirkan memorinya tentang Bunda, di Bandung sana. Kalau ia sudah siap, ia akan bercerita pada Bunda tentang kejadian kemarin siang.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan jam 7. Langit mulai terang, terlihat dari jendela kamar. Rara turun ke dapur. Amelie dan om Mark belum bangun tampaknya. Ia menuangkan “chocomel”, susu coklat favoritnya ke dalam gelas, lalu menghangatkannya di  microwave. Di belakang rumah ini ada taman kecil. Ia bisa melihatnya melalui kaca besar di depannya. Kini terlihat kurang terawat. Dibukanya pintu yang mengarah ke taman itu. Udara dingin 1 derajat langsung terasa menggigit. Rara mengambil jaket dan syalnya, lalu kembali keluar. Terasa sejuk kali ini. Ia menuju taman itu, meletakkan gelas chocomel-nya di meja, dan ia duduk di kursi kayu yang sama dinginnya dengan kursi kayu di Vondelpark, yang ia duduki kemarin siang.

patahhati_taman

“Morning!” suara Om Mark mengagetkan Rara. Om Mark tampaknya sudah mandi, Rambutnya basah tapi tersisir rapi. “Gak kedingian disana Rara?” katanya dari pintu dapur. “Engga om”, jawab Rara. “I’ll make you a cup of Het Wonder Van Nijmegen, ok” katanya. “Het Wonder Van Nijmegen” atau “The miracle of Nijmegen” adalah teh kesukaan Rara. Teh kesukaan Om Mark adalah teh Tjibuni, yang Rara bawakan setiap kali pulang ke Indnesia. Sepuluh menit kemudian, Om Mark telah berjaket membawa dua gelas teh yang masih mengepul. Rara melingkarkan jemarinya menggenggam gelas yang diberikan om Mark, terasa hangat di tangannya yang dingin.

patahhati_teh

“Om belum pernah cerita ya, taman ini om namakan taman patah hati” katanya sambil tersenyum dengan cara bicaranya yang seperti berpuisi. “Kenapa om?” tanya Rara. “Karena setiap kali Amelie patah hati, dia selalu cerita sama om disini”. Katanya sambil tersenyum. Rara ikut tersenyum, membayangkan sahabatnya pasti bercerita dengan ekspresifnya pada ayahnya. “Ah, Om baru ingat. Amelie pertama kali patah hati sama cowok yang namanya Martin, waktu itu dia kelas 4 SD”. Kami tertawa bersama. Saat ini Amelie telah bertunangan dengan Martin. “Tapi bukan Martin Van Rijn kan?” tanya Rara menyebutkan nama lengkap tunangan Amelie. “Tentu bukan”. jawab om Mark sambil tertawa.

Sejenak, suasana menjadi hangat. Rara menyesap tehnya, saat ia menyadari bahwa kalimat Om Mark terkait dengan kondisi dirinya. “Kamu memang istimewa, Rara” tiba-tiba om Mark berkata lirih. Rara menatap om Mark yang tengah menatap lembut dirinya. “I am proud of you, kamu memilih untuk berani patah hati saat kamu punya pilihan untuk berbahagia”. Kata-kata Om Mark, tak ayal membuat mata Rara berkaca-kaca.

Bersambung

 

Prolog

missBeberapa tahun yang lalu, saya dan anak-anak menonton film seru berjudul Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children. Anak-anak lalu bilang, ada bukunya. Kita pun hunting. Di sebuah toko buku, dapat buku tersebut dan buku lanjutannya : Hollow City. Berbahasa Inggris British uy… saya terseok2 bacanya. Jauh lebih susah dibanding English Amerika kalau buat saya mah. Seperti biasa, meskipun udah nonton film-nya, tapi membaca rangkaian kalimat di buku jauh lebih seru. Tapi ternyata, ada yang lebih seru lagi. Cerita di balik proses penulisan novel yang menjadi #1 New York Times best seller  tersebut. Ransom Riggs, penulis buku ini, menulis rangkaian cerita di buku ini berdasarkan foto-foto yang ia punya. “The photo came first, and then I shaped the story around the imagery” katanya. Keyen dan kreatif !

Menurut survey mengenai urutan 24 character strength yang saya isi di  https://www.viacharacter.org/account/register, “appreciation of beauty and excellent” adalah peringkat pertama. Artinya, karakter yang paling kuat dalam diri saya adalah “noticing and appreciating beauty, excellence, and/or skilled performance in various domains of life, from nature to art to mathematics to science to everyday experience“. Aih, pantesan aja hal-hal yang buat orang lain mah retjeh, buat saya mah mempesona. Pantesan juga sering minta si abah brenti kalau lagi jalan buat moto hal-hal yang kata si abah mah biasa, kata saya mah keren banget. Tapi alhamdulillah juga, pas sama profesi saya sebagai ibu, dosen dan psikolog yang sifatnya “mengembangkan orang lain”, sehingga  mudah untuk melihat dan menghargai progres & usaha sekecil apapun.

Jadi gak aneh kalau jalan2 ke tempat baru, saya punya banyak foto. Lha wong perjalanan ke Jatinangor aja bisa menambah puluhan foto. Awan lah, pohon lah, bunga lah haha… ditambah lagi dimodalin hape yang lumayan bagus sama si abah, seneng banget menikmati capture-an situasi dalam perjalanan hidup sejauh ini.

Tiga bulan di Tanah Van Orange, kebayang dong berapa ribu foto “keren” yang saya punya hehe… Buat saya, setiap foto punya ceritanya sendiri2. Makanya, sebenernya pengen ceritain masing-masing foto. Gak pengen cuman disimpen di softfile dan diliat aja. Nah, saya jadi inget sama buku yang saya ceritain di atas. Foto-foto itu ditampilkan dan dirangkai jadi satu novel… seru kayaknya.  Akan jadi petualangan baru buat saya, karena saya merasa saya gak bisa bikin tulisan fiksi. Daya imajinasi saya terbatas. Apalagi waktu ketemuan sama temen saya Ruthie yang udah ahli bikin cerita fiksi, Ruthie bilang kalau cerita fiksi tuh harus ada drama-dramanya gitu.

Pas saya ceritain sama si abah pengen mengabadikan  rangkaian foto2 itu menjadi sebuah cerita fiksi, si abah mendukung. Dengan satu pesan : “tapi tetep, harus ada pesan moral yang valuable de”. Aduh… fiktif, dramatis tapi punya pesan moral yang valuable. Hhhmmm… triple uy tantangannya.

Tulips from AmsterdamSetelah 3 bulan berlalu, ada suatu kejadian yang membuat saya dapat wangsit untuk alur ceritanya haha…. Maka, mari kita mulai new adventure ini. Resmilah blog saya nambah satu category berjudul : Tulips from Amsterdam. Konon, life begin at 40. Mungkin “life” yang dimaksud adalah “brave to try something new”. Tapi seperti biasanya, I do it for my self. Sebagai salah satu tambahan coping kalau lagi stress. Jadi ceritanya akan dibuat cerbung dengan waktu tayang menggunakan rumus “saka” : sakainget, sakahoyong 😉