Senyum Ramah yang Melekat di Hati

Kemarin sore, kabar duka itu saya terima. Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun. Allahummaghfirlaha warhamna waafihi wa’fuanha.

Sedih sekali setiap mendengar satu per satu guru kami kembali pada Yang Maha Kuasa. Meskipun itu adalah sebuah keniscayaan, namun tetap saja… rasa bahwa kami tak bisa lagi memeluk mereka, melihat senyum mereka, menyerap ilmu-ilmu mereka, itu terasa mengguncang.

Prof. Kusdwirati Setiono. Ibu Tri, kami memanggil beliau. Akan selalu lekat senyum ramah dan kelembutan suaranya bagi kami para muridnya. Saat beliau mengajar saya mata kuliah Psikologi Perkembangan Keluarga dan Metodologi Penelitian. Saya masih ingat intonasi beliau saat menyebutkan kata “hipotetico deduction“.

Setelah menjadi kolega, saya lebih banyak mengenal beliau, meskipun tak dekat seperti teman-teman lain yang satu jurusan dengan beliau. Karena pergaulan saya adalah di psikologi, maka saya banyak menemukan mozaik-mozaik kepribadian baik dari guru-guru, teman-teman, dan adik-adik saya di lingkungan ini.

Beberapa tahun lalu,  digelar acara pelepasan beliau sebagai profesor sekaligus launching buku beliau. Buku yang saya simpan di lemari dalam kategori buku “istimewa”. Dalam acara itu, ada tempat dimana kami bisa menuliskan pesan dan kesan mengenai beliau. Dan disana, saya menuliskan : “ibu adalah salah seorang role model bagi saya”.

Yups, yang saya tulis memang benar. Dalam dunia karier, beliau telah mencapai puncaknya. Profesor, dekan. Kecintaan pada bidang ilmunya, membuatnya banyak memberikan kontribusi baik pada ilmu pengetahuan maupun pada institusi dimana beliau berkarya. Saya ingin menjadi seperti itu? tentu.

Apakah setelah pensiun beliau “kehilangan arah” ? tidak. Beliau tetap berkarya dengan bentuk yang berbeda. Petikan kecapinya selalu hadir dalam kegiatan-kegiatan di universitas kami. Kecintaan beliau terhadap ilmu, sangat mengagumkan. Beberapa tahun terakhir, saat beliau mulai mengalami beberapa masalah kesehatan, beliau masih semangat menguji dengan ditemani suster yang membantu aktifitasnya.

Selain itu, yang membuat saya juga terpesona oleh beliau. Diri beliau sebagai ibu. Apakah karena beliau “sempurna” menjalankan peran sebagai ibu? Bukan. Justru sebaliknya. Dalam acara pelepasan itu, beliau bercerita bagaimana dulu putra-putrinya sering “protes” pada beliau, karena ketika minta dibacakan buku menjelang tidur, tidak pernah tamat karena beliau kelelahan dan ketiduran. Anak-anaknya akan membangunkannya, lalu beliau akan melanjutkan cerita dengan kepala pusing, untuk beberapa saat tertidur lagi. Entah mengapa, buat saya itu romantis sekali. Upaya beliau untuk tetap menjalankan peran beliau sebagai ibu, diantara aktivitas mencapai mimpinya. Beliau juga bercerita pernah merasa begitu “hancur” hatinya saat anak-anaknya ingin bermain, namun ia harus menyelesaikan disertasinya. Anak-anaknya biasa “ngintip” di kaca kamarnya.

Waktu saya ke rumah beliau beberapa tahun lalu untuk brainstorming mengenai topik disertasi saya, saya pun ditunjukkan ruang kerja dan kaca tempat putera-puteri beliau “ngintip”. Ya, saya ingat sekitar 5 tahun lalu, saya ingin mulai “memikirkan” topik disertasi, dan berdiskusi dengan beberapa senior. Saya memberanikan diri mengontak beliau. Beliau bersedia ditemui di rumahnya yang asri. Beberapa bahan beliau berikan, beliau mendengarkan dan menanggapi saya dengan penuh perhatian, dan kemudian kami berbincang-bincang mengenai manajemen waktu antara aktivitas di luar rumah dan di dalam rumah.

Pak Fuad Nashori dalam tulisan beliau di bawah ini, sudah merangkum keseluruhan kesan kami kepada ibu Tri. Semua yang beliau tulis, saya rasakan juga. Para murid dan koleganya, juga merasakan. Saya ingat salah seorang senior saya, bercerita bahwa saat itu, beliau sebagai mahasiswa sudah di ujung tanduk drop out. Ia sendiri sudah kehilangan fokus untuk menyelesaikan kuliahnya. Suatu siang, saat ia membuka pintu kost-an nya, Ibu Tri ada di sana, duduk menunggunya bangun. Mengajaknya untuk kembali menyelesaikan kuliahnya.

Ibu, tentu sebagai manusia ibu tidak sempurna. Ada tentunya kesalahan dan kekeliruan ibu. Tapi bagi saya, ketika seseorang kembali ke hadapan Allah dan hanya kebaikan yang dikenang orang-orang yang mengenalnya terhadap orang tersebut,  maka ia adalah orang baik. Ibu telah menjejakkan inspirasi bagi kami. Untuk menjadi pendidik yang baik, pecinta ilmu yang baik, berkarya, dan seorang ibu yang tak melupakan kodrat dan perannya.

Selamat jalan ibu. Kebaikan, karya, ilmu dan inspirasi dari ibu, semoga memeluk ibu dengan hangat. Amal jariah ibu bagi kami, akan menjadi penerang ibu di alam kubur. Semoga kami bisa kembali menikmati hangatnya senyum ibu, di syurga-Nya kelak Aamiin,

butri4

Tulisan Pak Fuad Nashori :

In Memorium
PROF Kusdwiratri Setiono
ORANG YANG SUPER BAIK

Dr. H. Fuad Nashori

Baru saja mendapat kabar dari Ibu Efi Fitriana (dosen Psikologi Unpad) bahwa Ibu Tri, panggilan akrab Prof Kusdwiratri Setiono, telah dipanggil kembali Allah swt. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga Allah memberikan ampunan untuk beliau, pahala yang berlipat atas semua amal baiknya, alam kubur yang penuh kedamaian, tempat yang terbaik di sisi-Nya, masuk surga, dan bebas dari neraka.
Perkenankan saya mengingatkan kembali kebaikan super dari beliau.

Saya pertama kali mengenal nama beliau (1994) saat membaca tulisannya di Jurnal Psikologi dan Masyarakat, yang terbit awal 1990-an. Beliau menulis artikel tentang penalaran moral. Sebuah tulisan yang sangat saya sukai. Sebuah tulisan yang saya banyak kutip untuk skripsi saya di Fakultas Psikologi UGM.
Dikarenakan berpikir ada ahlinya, saya ingin memahami kajian ini lebih mendalam dari beliau. Saya telepon beliau dari Yogya. Syukur alhamdulillah beliau membuka diri untuk berdiskusi di Kampus Dago, Bandung.

Suka Berbagi
Saya merasa begitu terhormat ketika memasuki ruangan kerjanya. Beliau tampak sangat siap menyambut saya. Di mejanya ada belsan atau bahkan puluhan buku yang bertema moral judgment. Tentu beliau menanggapi dengan suka hati topik dan judul skripsi yang saya ajukan. Sesekali menunjukkan bab buku yang terkait dengan isi pembicaraan kami. Di akhir pertemuan beliau mempersilakan saya meng-copy buku-buku tersebut. Saya masukkan dalam tas saya dan tas yang beliau pinjamkan buku-buku tersebut. Dari peristiwa ini saya catat orang baik adalah mau berbagi hal terbaik yang dimilikinya kepada orang lain. Tentu saja orang baik juga sangat mempercayai orang lain, sekalipun orang itu relative baru dikenalnya.

Memberi Surprise dan Perhatian Individual
Tiga tahun berikutnya (1997), karena kesan positif saya terhadap beliau, saya mengirim undangan ke beliau bahwa saya akan menikah di Sukabumi, lebih kurang 3 jam ke arah barat dari Bandung. Beliau lagi-lagi memberikan surprise. Beliau datang bersama suami beliau, Pak Setiono. Sesuatu yang sangat istimewa. Sesuatu banget. Saya sungguh tak menduganya. Dari sini saya catat orang yang sungguh-sungguh baik adalah orang yang memberi surprise yang menyenangkan.
Tak lupa, sering saya bertemu beliau di acara-acara temu ilmiah psikologi, saya sangat sering bertegur siapa dan bertukar kabar dengan beliau. Saya sangat senang setiap bertemu karena tokoh kita ini tampak selalu menunjukkan kasih sayangnya. Saat mengirim tulisan ke jurnal ilmiah yang saya kelola, Jurnal Psikologika, beliau juga beberapa mengirim leaflet tentang adanya peluang-peluang konferensi internasional di luar negeri. Beliau menunjukkan bahwa beliau selalu mengingat saya. Saya catat lagi ciri orang baik, yaitu suka menunjukkan perhatian individual.

Rajin Memberi Bimbingan
Ketika akhirnya saya memutuskan Unpad sebagai tempat studi S3 saya, saya memiliki harapan agar beliau bersedia menjadi salah seorang pembimbing disertasi. Alloh mengabulkan doa saya. Di kampus inilah saya menemukan salah satu penggalan kisah terindah dalam hidup saya. Saya dibimbing oleh promotor-promotor terbaik, orang-orang yang teramat baik. Para promotor yang sangat dekat secara personal (misalkan saya sempat menginap di rumah Prof Zulrizka dan Kang Gimmy, dengan inisiatif mereka sendiri mengajak makan di restoran terbaik di Bandung, dsb).
Saya fokuskan ke Ibu Tri. Beliau menyediakan diri untuk membimbing saya setiap akhir pekan. Yang istimewa -dan ini dibilang sahabat-sahabat saya sebagai kisah termanis saya saat studi- adalah hampir selalu tiga promotor saya hadir dalam bimbingan bersama. Ibu Tri, sekalipun usianya sudah lebih dari 70 tahun saat itu, hampir selalu hadir dalam bimbingan.

Rendah Hati dan Percaya
Ada beberapa sikap yang menunjukkan beliau orang yang sangat baik. “Mas Fuad, bila nanti ada perbedaan pendapat antara saya dan Promotor Utama, anda ikuti saja pendapat beliau,” ungkap beliau. Sebuah sikap yang menunjukkan kerendahhatian. Orang baik selalu berendah hati.
Suatu saat Ibu Tri minta agar bimbingan dilakuan di rumah beliau. Saat ada di rumahnya, beliau memberikan pesan via whatssapp bahwa beliau ada di luar rumah, belum bisa ke rumah sebagaimana janji. Beliau pesan agar saya masuk dalam rumah dengan mengambil kunci yang beliau letakkan di salah satu sudut rumah, lalu bersantai-santai di sana. Naun, saya menolaknya dengan alasan yang dapat beliau terima. Saya catat orang baik adalah orang percaya kepala orang lain.

Meluruskan yang Bengkok
Sebagai orang yang baik, Ibu Tri juga memberitahu saya kalau ada yang salah. Pada suatu hari saya membuat janji dengan beliau di rumah beliau. Saya pikir tamu yang baik ya bawa oleh-oleh. Saya bawa bakpia Yogya. “Selama periode bimbingan gini sebaiknya mahasiswa tak bawa oleh-oleh. Ini agar tidak ditafsirkan macam-macam. Kalau mau ngasih nanti saja setelah lulus, ” ungkap beliau. “Setelah hubungan pembimbing-mahasiswa selesai, berubah jadi bimbingan personal, dikasih pesawat pun saya terima.” Saya paham bahwa orang baik adalah orang yang meluruskan apa yang bengkok.

Penutup: Menghibur yang Bersedih
Di bawah para pembimbing yang hebat, alhamdulillah saya dapat menyelesaikan studi dengan sangat lancar. Ketika saya menunjukkan sedikit kekecewaan karena tidak berhasil meggapai cumlaude (syarat cumlaude di Unpad min 3,80, saya dapat 3,78), beliau berbisik. “Disertasi anda sangat bagus, dapat nilai terbaik.” Orang yang baik bisa membaca perasaaan dan menghiburnya.
Ringkas cerita, senangnya bertemu dan bergaul dengan orang-orangterbaik. Semoga kebaikan mengalir terus kepada penerus-penerus kebaikan. Menjadi amal baik bagi mereka dan kita sebagai penerusnya.

Advertisements

Kisah seorang Ibu

Tak ada yang sederhana

Tentang kisah menjadi seorang ibu

Terutama tentang berjuta rasa yang menderanya,

Tentang anak-anaknya

 

Tak pernah ada kisah sederhana bagi seorang ibu,

Kala terkait dengan anak-anaknya

Meski sang ari telah terputus setelah 9 bulan menyatu,

Namun takkan ada yang mampu memutuskan ikatan rasa selamanya

 

Seluruh bahagia, seluruh rasa suka, seluruh resah, seluruh gundah, seluruh luka

Yang dirasa anak, dirasa pula oleh ibu

Bedanya, sang ibu merasakan 2 kali lipatnya.

Atau lebih

 

Lima tahun, lima belas tahun, dua puluh lima tahun, … lima puluh lima tahun usia anak,

Walau berbeda kisah,

Namun berjuta rasa yang dialami seorang ibu tentang anak-anaknya,

Tak akan pernah berubah.

 

Seluruh kisah tentang seorang anak, adalah bagian kisah ibunya.

ibuuuuuuuuuuu

Calon Mantu

Ada banyak “rules of life” yang saya “temukan” dalam kurun waktu  39 tahun menjalani kehidupan ini. Salah satunya adalah, bahwa dalam menjalani kehidupan ini, tak akan pernah ada kata EXPERT. Berbeda dengan profesi atau bidang kerja yang setelah kita jalani bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun membuat kita menjadi EXPERT, tidak demikian dengan hidup.

Mengapa?

Karena setelah kita “expert” dalam suatu situasi, maka Allah Sang Maha Kuasa lalu membuat kita harus selalu bisa move on dari ke-expert-an kita, dengan memberikan kita situasi dan kondisi kehidupan yang berubah dari sebelumnya. Psikologi, menyebutnya life span development; perkembangan sepanjang rentang kehidupan.

Perkembangan sepanjang rentang kehidupan adalah perkembangan yang terjadi pada diri manusia sepanjang hidupnya. Dari sejak kecil sampai dewasa? Bukan. Sejak konsepsi sampai dengan wafat. Perkembangan itu berupa perubahan fisik, biologis, berpikir, emosi (yang ada di dalam manusia), serta tuntutan sosial ( yang ada di luar tubuh manusia)

Setiap kali mengamati dan menghayati perkembangan pada manusia, saya selalu berpikir: Kenapa Ya, Allah ciptakan sistem seperti ini ? Kenapa Allah membuat anak yang sudah “anteng” di usia SD, menjadi  “dis-equilibrium” dengan kecamuk hormon pubertas yang mengubah “penampakan” dirinya?  Kenapa anak laki-laki yang udah enak lempeng-lempeng aja kemudian harus mengalami rasa ser-ser-an kala lihat lekuk tubuh teman perempuannya?

Lalu setelah gejolak hormon pubertas itu mereda, mereka sudah “stabil” dalam hal itu, muncullah gejolak baru. Tidak berbentuk kecamuk fisik, tapi kecamuk rasa dan pikir. Mereka dihadapkan pada pilihan-pilihan penting : memilih jurusan, lalu memilih bidang kerja, memilih pasangan hidup. Ketika itu semua sudah didapat, apakah “stabil”? tidak. Muncul “dis-equilibrium” yang lain : jadi menantu, jadi istri/suami, jadi ibu/ayah, lalu jadi mertua, jadi nenek/kakek, terus…terus… dan terus..   Dalam psikologi, perubahan yang membuat dis-equilbrium itu  disebut tugas perkembangan.

Kenapa Allah ciptakan episode kehiduan manusia seperti itu? Bertahun-tahun saya mempertanyakan hal itu, sampai akhirnya menemukan jawabannya. Jawabannya adalah, biar kita terus “bergerak”. Perubahan itu, dis-equilibrium itu, adalah “dinamika” yang Allah ciptakan untuk menggerakkan mesin kehidupan diri kita, menuju akhir hidup yang penuh wisdom kalau kata pendekatan psikososial Erikson. Khusnul Khatimah kalau kata Islam. Nafsul muthmainnah.

Jadi, perubahan yang kita rasakan dalam diri, adalah wajar. Kegalauan, keresahan, kekhawatiran yang menyertai perubahan itu, juga wajar. Dosen saya pernah mencontohkan perubahan itu dengan sebuah demonstrasi. Dia menunjuk gelas yang berisi air. Beliau simpan di atas meja. Air tenang. Stabil. Tidak bergerak. Lalu ia pindahkan, air bergejolak sebentar, sebelum kemudian tenang lagi.

Maka, demikian pula hidup kita. Galau-galau saat mengalami perubahan, adalah sangat manusiawi. Yang penting jangan galau terus-terusan hehe… Kegalauan itu, jadikan nyala api untuk membuat kita “bergerak” : mencari ilmu, belajar keterampilan baru, menghayati hal baru, beradaptasi dengan cara baru. Kita jadi move on terus. Diri kita “berkembang”. Menjadi lebih baik dan lebih bijak. Kalau tidak, kita akan tetap stuck di satu titik. Misalnya dalam konteks pengasuhan: anak kita udah remaja, skill pengasuhan kita masih mengandalkan pola untuk anak TK. Anak kita makin dewasa, tapi kita tak ikut mendewasa.

Tahun-tahun terakhir dan beberapa tahun ke depan;  saya dan keluarga kami, sedang berada di masa “bergejolak” itu. Ada 3 orang yang akan mengalami masa transisi dalam kehidupan psikologisnya. Saya, beranjak 40 tahun. Transisi dari tahap “dewasa awal” ke “dewasa madya” mulai terasa. Baik dalam segi fisik, pemikiran, emosi dan tuntutan sosial. Syukurlah si abah, sudah melewati masa itu 2-3 tahun lalu, dan saya melihat ia melewatinya dengan sangat baik. Kegalauan yang ia rasakan berujung pada perubahan perspektif dalam memandang kehidupan, alhamdulillahnya ke arah yang baik dan benar. Jadi saya bisa nyontek hehe.

Si sulung, tahun ini akan meninggalkan masa remaja awal dengan tema persoalan khas remaja putri. Dan si bujang, masuk ke masa remaja awal. Tanda-tandanya sudah terlihat dan menguat. Tanda-tanda yang berbeda dengan si sulung. Membuat saya cemas, namun jadi banyak belajar.

Secara umum, keluarga kami pun mengalami perubahan. Penelitian menyebutkan bahwa masa ini, adalah masa rentan kedua setelah 5 tahun pertama pernikahan. Secara sederhana, saya suka bilang : “di masa ini, emaknya biasanya lagi pusing 7 keliling menghadapi perilaku si remaja. Nah bapaknya, kalau gak kuat iman dan regulasi diriya lemah, bisa sibuk dengan “remaja” lain di luar rumah “😉.  Puber kedua juga biasanya dirasakan tak hanya oleh bapak-bapak, tapi juga ibu-ibu. Perselingkuhan, rentan terjadi di usia pernikahan seperti kami, 16-an. Demikian pula perceraian. Apalagi dengan dunia medsos yang membuat potensi “khalwat” dan “mendekati zina”, bisa terjadi meskipun kita mengisolasi diri dalam ruangan tertutup (asal ada hape, kuota dan charger hehe).

Dampak perubahan yang sedang dialami masing-masing anggota keluarga kami yang paling gampang terdeteksi adalah, tema obrolan. Akhir-akhir ini ada beberapa kejadian terkait si sulung yang menginjak usia 15 tahun, yang membuat tema “calon mantu”, menjadi tema obrolan paling intens di keluarga kami. Saya tak menduga sebenarnya issue ini mulai jadi berarti. Karena saya pikir, “saatnya” masih lama, 7-10 tahunan lagi. Dan memang apa yang terjadi, masih berupa “kembang-kembang” aja. Tapi itu cukup untuk membuat saya menyadari bahwa saya-keluarga kami, akan menghadapi hal ini.

calon mantuSeperti yang saya bilang di atas, setiap perubahan membuat kita galau, gelisah, khawatir. Karena kita belum tahu. Demikian juga yang saya alami. Isue tentang calon mantu ini “mengubek-ubek”perasaan saya mengenai 2 hal : melepaskan dan menerima.

 

Satu, melepaskan. Saya menjadi tersadar, bahwa akan ada waktu dimana kita harus “melepasakan anak kita” pada orang lain. Seluruh cinta yang kita punya buat anak-anak kita, seluruh perlindungan yang bisa kita berikan pada mereka, akan sampai pada satu titik, dimana kita menyerahkan yang tersayang, pada “orang lain”. Penghayatan mengenai melepaskan  ini memunculkan suatu refleksi dalam diri saya : betapa kita sering meremehkan perasaan orangtua. Saya jadi paham betul sekarang, mengapa istri yang mengalami KDRT, biasanya masih bisa memaafkan suaminya. Tapi orangtua dari si istri tersebut, biasanya akan sangat terluka. Saya jadi paham mengapa suami yang dikhianati, masih bisa menerima. Tapi orangtuanya, tak bisa memberikan toleransi. Ya, saya ngerti sekarang betapa berat effort yang harus dilakukan orangtua untuk bisa “melepas” anaknya, dan betapa akan terluka hatinya saat orang yang ia percaya, melukai anaknya. Dalam tataran aplikatif, jadi terhayati bahwa sebagai pasangan, kita harus memberikan keyakinan pada mertua kita bahwa kita “bisa dipercaya” untuk memberikan cinta yang sama besar pada anaknya.

Dua,  menerima. Akan ada masanya kami harus menerima “orang lain” menjadi bagian dari keluarga kami. “Gimana kita bisa percaya 100 persen sama orang lain itu ya?” Itu jadi pembicaraan seru saya dengan si abah. Muncullah beragam gagasan, mulai dari yang  konyol kayak : kita sewa detektif (haha….) sampai yang serius : kita jodohkan aja sama anaknya teman yang udah kita kenal banget. Muncul juga obrolan bahwa kita harus belajar legowo dari sekarang, untuk menerima hal-hal yang tak ideal sesuai dengan harapan kita, andai hal-hal itu bukanlah hal prinsip. Misal pengen punya mantu yang rame, eh dapetnya yang pendiam 😉 .

Meski kata si sulung “ibu lebay banget sih, masih lama juga” … tapi saya sangat bersyukur dengan kejadian yang membuat saya “aware” bahwa kurang dari 10 tahun lagi, saya akan menghadapi situasi ini. Untuk seorang pencemas sseperti saya, tak ada yang lebih baik dibandingkan mempersiapkan diri. Dan dalam profesi saya, saya tahu betul, ada banyak potensi masalah rumah tangga kala seorang ibu tak siap melepas anaknya, ataupun menerima calon mantunya.

Kegalauan lain yang saya rasakan  juga adalah, bagaimana bersikap kepada si sulung terkait issue ini. Sudah fitrah-nya bahwa ia menyukai dan disukai oleh lawan jenisnya. Saya mengamati, ada beberapa  pilihan orangtua terkait isu ini, di usia anak usia 15an . (1) membolehkan “pacaran” (2) melarang keras “pacaran” (3) menikahkan dengan alasan “daripada zina”.

Setelah galau memilih pilihan pertama, kedua, atau ketiga; saya pun memutuskan untuk memilih yang keempat haha… yaitu … menjadikan situasi ini “pembelajaran” memilih calon suami buat si sulung kkkk….

Saya merasa untuk diri saya sendiri;  mendengarkan cerita si sulung, perasaannya, pengalamannya… lalu kemudian mengajukan beberapa pertanyaan, mengobrol, membuat saya banyak tahu mengenai apa yang ada di kepala dan hati si sulung terkait issue ini . Siapa yang dia suka, siapa yang dia gak suka, kenapa suka, kenapa gak suka. Bahasa teknik parentingnya, proses ini namanya adalah PACING. Sederhananya “menyamakan langkah”

Dari situ, jadi tau apa yang udah bener, apa yang belum bener. Bisa juga membantu merefleksikan diri padanya untuk mengenal dirinya, sehingga dia jadi tau pasangan hidup seperti apa yang bisa melengkapi dirinya. Yang sholeh? Iya…pasti. Tapi kan yang sholeh teh ada yang romantis ada yang lempeng. Ada yang smart, ada yang biasa aja. Ada yang seneng baca buku, ada yang seneng ngobrol.  Mulai mengidentifikasi mana kriteria prinsip, penting dan kriteria yang “pengen tapi bisa diabaikan”.

Ini adalah pintu masuk yang paling pas untuk mengajarkan salah satu materi sekolah pranikah : menentukan kriteria pasangan hidup haha…. Seru deh membahas apa yang penting di usianya saat ini, apa yang penting di usianya nanti pada saatnya. Apa yang dia rasa gak penting saat ini, padahal itu penting banget “pada saatnya nanti”. Jadi we buka-buka lagi ppt materi sekolah pranikah yang pernah saya bikin buat salah satu sekolah pranikah beberapa tahun lalu, judulnya “evolusi kriteria pasangan hidup” haha…. Proses ini, bahasa parentingnya adalah LEADING. Mengarahkan.

PACING dan LEADING ini jadi resep jitu menanamkan nilai-nilai pada anak. Karena nilai hanya bisa diterima melalui dialog. Kalau divisualisasikan, kayak kita udah melangkah jauh di depan, anak tertinggal, PACING adalah “mundur, lalu menyamakan posisi dengan anak”. Kemudian kita gandeng anak berjalan selangkah demi selangkah menuju titik yang kita mau anak ada di sana, itulah LEADING.

Terakhir, kegelisahan dan kekhawatiran mengenai issue ini menjadi bensin buat saya untuk: berdoa. Berdoa sepenuh hati, agar Allah mempertemukan anak-anak saya dengan jodoh terbaiiiiik…. Yang bersatunya mereka, bisa mengeluarkan kebaikan masing-masing dan menebar kebaikan untuk semesta.  Berdoa sepenuh rasa, agar anak-anak saya dilindungi dari jodoh yang akan membawa keburukan dan melukai. Aamin…ya robbal aalamiin

 

 

 

Sepasang rantang, jalan yang lurus, dan the art of listening #ParentingGame02

Sebulan ke belakang, aktivitas saya padat. Pergi pagi pulang sore tiap hari, beraktivitas di Jatinangor. Pulang lelah, pengennya langsung mandi dan rebahan. Gak sanggup rasanya masak makan malam buat anak-anak. Akhirnya, dengan restu si abah, saya pun memutuskan menggunakan bantuan jasa catering. Ada yang menyediakan jasa catering harian deket rumah saya, dengan harga terjangkau dan yang terutama, menu-menu sehat yang pas buat anak-anak. Alhamdulillah. Bu catering senang, saya senang, anak-anak senang.

Cuman ada satu masalah. Bu catering mengirimkan makanannya menggunakan styrofoam. Dilapisi daun pisang sih, tapi sebagai orang yang tahu efek styrofoam terhadap lingkungan, asa ngeganjel. Anak-anak saya berkomentar semua. Saya juga bilang gak nyaman sih… tapi ya gimana lagi. Tiap menerima 3 styrofoam per hari, hati saya berontak, tapi ya…gimana lagi.

Adalah si gadis kecil, si 9 tahun kelas 3 SD itu yang protesnya paling keras. Dia memang pecinta lingkungan sejati.  Gara-gara bacaannya Bobo dan Kuark, yang selalu memaparkan tema-tema cinta lingkungan. Dia yang cerewetin saya soal penggunaan listrik yang gak perlu, penggunaan kendaraan secara minimal, membawa bekal minum daripada beli air mineral dalam botol, memakai saputangan dibanding pake tissue; sampai kalau saya masak, dikomentarin juga. “Ibu, harusnya wajannya dibersihin bawahnya, itu meminimalisir pembakaran bu… sama ibu pake wajan yang permukaannya luas harusnya, karena bla..bla..bla……”. Tiap menerima catering styrofoam, kalau kakak-kakak dan adiknya cuman komentar saja, dia melayangkan protest keras. Protesnya semakin meningkat setiap hari. “Ibu, coba ibu bayangkan… keluarga kita aja 3 kali 5 sama dengan 15 styrofoam tiap minggu. Berapa orang yang langganan?” styrofoam itu gak bisa diurai ibu…bayangkan gimana jadinya bumi kita….”. Hari lain, dia memaksa untuk mengumpulkan styrofoamnya, untuk di re-cycle katanya. “Nanti teteh cari di youtube gimana re-cyclenya” katanya. Daaan..akhirnya, suatu hari protestnya berubah menjadi ancaman : “Kalau masih pake styrofoam, teteh gak akan mau makan”. Waduh, gawat ini….

Saya tak bisa lagi mengabaikan pendapatnya. Akhirnya 2 minggu lalu, saya sengaja sempatkan ke borma beli sepasang rantang. Saya sampaikan ke bu catering kalau saya gak mau pake styrofoam lagi. Bu catering bilang ia juga pengennya gitu, tapi belum ada modal. Saya doakan semoga ibu catering seger apunya modal untuk beli rantang-rantang, Alhamdulillah semua kembali senang.

 

 

 

Temans para ibu  muslimah, minimal 17 kali dalam sehari kita memohon pada Yang Maha Kuasa : “ihdinassirootol mustaqiim” . Tunjukkan kepada kami jalan yang lurus. Jalan yang lurus itu, adalah jalan kebaikan dan kebenaran. Jalan yang membawa kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Secara garis besar, melalui doa itu, kita bermohon agar Allah tetapkan kita dalam agama yang kiya yakini baik dan benar ini, yaitu Islam. Dan kalau kita perluas secara operasional, doa itu kita mohonkan agar dalam day to day aktifitas kita, Allah juga tunjukkan jalan dan cara yang baik dan benar, yang membawa kebahagiaan dan keselamatan.

Apa kaitan cerita saya tentang si gadis kecil dengan ihdinassirootol mustaqiim?

Saya menghayati, bahwa melalui kata-kata anak, banyak sekali jawaban Allah atas doa mohon ditujukkan jalan lurus yang kita mohonkan minimal sehari 17 kali itu. Dalam situasi yang saya gambarkan di atas: Islam meminta kita mencintai lingkungan, mencintai bumi. Tapi tanpa ada “desakan” dari si gadis kecil, pengetahuan saya untuk mencintai bumi sebagai rasa syukur atas nikmat bumi ini, hanya sekedar pengetahuan saja. Tak berbuah menjadi amal. Saya percaya bahwa terutama anak yang belum baligh, basyirah-nya masih jernih. Nurani mereka belum terhalangi oleh jelaga dosa. Maka, pikiran dan perasaan mereka sangat berarti. Harusnya kita dengarkan.

Dalam konteks pengasuhan, kita sangat ingin cara kita mengasuh adalah cara yang baik dan benar. Cara yang bisa membawa kita dan anak kita pada kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Pikiran dan perasaan anak mengenai bagaimana cara kita mengasuh mereka, adalah kompas yang berharga bagi saya. Itulah yang mendasari #ParentingGames 02 di status facebook saya tanggal 27 Maret lalu.

Kita tanya pada anak-anak kita,
(1) kamu paling seneng kalau ibu/ayah (tergantung siapa yg bertanya) gimana sama kamu?
(2) kamu paling gak seneng kalau ibu/ayah (tergantung siapa yang bertanya) gimana sama kamu?
Note : 
Formulasi pertanyaan bisa diubah sesuai pemahaman anak
Usia anak tidak dibatasi ya… usia dewasa pun oke banget

Sayangnya, berbeda dengan #ParentingGames 01, tak banyak yang ikut sharing kali ini. Hanya 4 orang.

Buat saya pribadi, bertanya mengenai pikiran dan pendapat anak-anak terhadap perilaku saya, benar-benar menyediakan cermin sekaligus kompas untuk menjalani pengasuhan ini. Misalnya, ketika si bujang kecil yang berumur 11 tahun bilang : “Paling gak suka kalau ibu kayak peribahasa seekor kerbau berkubang, semua kena lumpurnya. Ibu marah sama satu anak, semua anak dimarahin”. Saya ternganga. Oh ya? bener gitu kelakuan saya kayak gitu? Lalu si bujang menjelaskan beberapa peristiwa dimana saya menunjukkan perilaku itu, dan bagaimana perasaannya. Itu benar-benar feedback berharga buat saya. Saya pribadi, seorang diri, sama sekali tidak bisa “melihat” perilaku itu dalam diri saya. Karena saya hanya punya 2 mata, yang saya arahkan pada orang lain, pada anak-anak. Oleh karena itu saya butuh bantuan mata anak-anak yang bisa melihat ke arah diri saya. Bayangkan kalau saya gak pernah nanya. Maka, saya akan terus mengulang perilaku “menyebalkan” itu tanpa saya sadar. Saya tak akan pernah jadi ibu yang lebih baik dalam hal tersebut.

Lalu, jawaban si bujang kecil bahwa “kalau ibu nanya pendapat dan perasaan aku” sebagai hal yang paling ia sukai dari saya, juga membuat saya ternganga. Saya tak menyangka bahwa hal “sederhana” itu ternyata sangat ia sukai dan berharga buatnya. Saya suka bilang pada ibu-ibu yang merasa mereka “tidak kompeten” atau “gak pede” mengasuh anak, tanya apa yang paling anak-anak mereka sukai dari ibu. Jawaban anak-anak kita, trust me, seringkali membuat kita merasa perasaan kita jauh lebih baik. Karena ternyata, untuk jadi ibu yang “kompeten” itu, tak harus seideal yang sering dikatakan para narasumber parenting. Ternyata buat anak-anak kita, banyak hal-hal baik yang sudah kita lakukan, yang membuat mereka senang dan berharga.

Yups, kadang-kadang kita suka lupa. Mencari ilmu pengasuhan ke sana kemari, Dan memperlakukan anak-anak kita sebagai “objek”. Padahal, children has their own wisdom. Ilmu pengasuhan, diperlukan sampai tataran prinsip . Komunitas pengasuhan, diperlukan untuk memberikan ide-ide operasionalisasi prinsip pengasuhan.Untuk bisa mengamalkan ilmu itu di rumah, pada anak-anak kita,  Jangan lupa…. Posisikan mereka sebagai subjek. Tanya kebutuhan/pendapat mereka dengan tulus, Tumbuhkan kerendahan hati untuk mau mendengarkan, Mempercayai dan menghargai kebutuhan/pendapat mereka.

Karena saya sudah menjanjikan untuk memberikan “sesuatu” pada yang sharingnya paling istimewa, maka dari 4 sharing inspiratif, saya memilih satu yang menurut saya paling istimewa. Adalah sharing dari Ibu Lenny Kendhawati. Yang istimewa dari sharing beliau adalah, “anak” yang beliau tanya bukan berusia 3 tahun atau 13 tahun. Tapi 32 tahun ! yang juga sudah menjadi seorang ibu.  Hal ini membuat saya kembali teringatkan bahwa peran menjadi ibu itu, hanya selesai pada saat salah satu dari kita- ibu atau anak-; menutup mata. Peran menyayangi, melindungi, menjaga, mendidik itu terus melekat dalam diri kita. 

Berikut adalah jawaban dari puteri ibu Lenny : P_32_(+) kalau ibu bekelin makanan / P_32_(-) kalau ibu meragukan aku. Pas bacanya saya sampai berkaca-kaca… See? hal sederhana “bekelin” makanan, ternyata begitu berkesan. “Diragukan” adalah hal yang paling tidak disukai. Dengan cara ini; dengan ketulusan bertanya, dengan kerendahan hati mendengarkan, kita jadi punya kompas, jalan mana yang tak boleh kita ulangi. Bukankah jawaban-jawaban seperti ini adalah jawaban dari doa “ihdinassirootol mustaqiim” kita? 

Meskipun tak banyak yang sharing di postingan #ParentingGames 02, saya berharap kegiatan ini benar-benar dilakukan, untuk beragam hal dalam pengasuhan. Jangan budayakan “saya menyimak”, tapi budayakan “saya amalkan”. Jujur saja, memang aktifitas ini bukan hal yang mudah. Karena kita sebagai “orang dewasa” selalu punya pilihan untuk mengabaikan pikiran dan perasaan anak-anak. Merasa tak perlu mendengarkannya, merasa tak perlu menggali lebih jauh apa maksudnya, merasa tak perlu merenungkan pikiran dan pendapat mereka. Hanya saja, kalau kita terus bersikap demikian, kita telah menutup mata dari kompas pengasuhan yang Allah sediakan sebagai jawaban dari permohonan kita. Atau, mungkin permohonan kita pada Allah hanya basa-basi saja.

Percayalah, “working together with our children” membuat penjelajahan dan perjalanan pengasuhan menjadi seru dan menarik.

 

 

Connection Before Correction #ParentingGame01

Ada beragam macam teori dalam pengasuhan, yang diformulasikan melalui beragam perspektif dan beragam metode. Tapi dari seluruh teori pengasuhan, hampir selalu ada komponen yang namanya cinta, penerimaan, dukungan, keterlibatan, kedekatan, kelekatan, koneksi. Intinya adalah, hubungan yang baik dan dekat antara orangtua dan anak.

Kalau kita ibaratkan kehidupan yang akan anak lalui  sebagai sebuah labirin yang rumit dimana kita harus menunjukkan pada anak lorong mana yang benar dan lorong mana yang berujung pada kesesatan, maka sebelum kita bisa melakukan hal itu, kita harus membuat anak membuka pintu dirinya, mempersilahkan kita masuk untuk menemaninya melalui atau menunjukkan arah di lorong-lorong itu. Sehebat apapun kemampuan kita untuk menunjukkan anak kita jalur labirin yang benar, sebesar apapun keinginan kita untuk menemani anak agar terhindar dari jalur labirin yang salah, tak akan bisa lakukan kalau ia tak membuka pintunya untuk kita.

Dan yang bisa menjadi kunci pembuka, yang akan membuatnya mempersilahkan kita menemaninya lalu  menunjukkan jalan yang benar, adalah kedekatan hubungan kita dengan anak. Connection before correction. Suatu frase yang super duper saya sukai. Iyesh. Jalin hubungan dulu, buat anak kita membuka hatinya buat kita, buat anak menerima kita dengan sukarela. Barulah kita bisa memberikan arahan-arahan yang akan dihayati oleh anak untuk kemudian ia internalisasikan dalam dirinya.

Membangun koneksi dengan anak itu, gampang-gampang susah. Awalnya gampang, lama-lama kalau yang gampang kita lewatkan, bisa jadi susah. Sesungguhnya, Allah Yang Maha Sempurna sudah membuat perkembangan manusia sedemikian sempurna-nya sehingga sebenarnya, secara fitrah, hubungan yang dekat antara orangtua dengan anak, bisa terjalin.

Ada yang pernah liat bayi yang wajahnya menyebalkan? 99,99 persen gak akan ada. Saya pernah membaca sebuah penelitian bahwa proporsi wajah bayi (yang berbeda dengan wajah orang dewasa), itu Allah desain sedemikian rupa sehingga memandangnya, akan mengaktifkan pengeluaran hormon oksitosin, si hormon cinta. Bahkan wanita yang wajahnya “baby face”, konon lebih menarik bagi laki-laki karena proporsi wajah bayi atau seperti bayi, menunjukkan kebutuhan akan kasih sayang dan perlindungan. Belum lagi aroma yang keluar dari bayi. Hhmm…keringetnya, “bau acem”nya, “memaksa” kita untuk menciumnya, mendekapnya. Kenapa Allah buat seperti itu ? karena bayi membutuhkannya. Ia sangat tergantung pada orang dewasa. Maka ia harus punya sesuatu yang menarik hati orang dewasa. Selelah apapun seorang ibu, memandang wajahnya, tak akan tega mengabaikannya.

Allah menyediakan fasilitas “penampakan” dan perilaku anak usia bayi sampai dengan usia prasekolah yang selalu mengandung  aspek lucu dan menggemaskan, agar kita bisa menjalin relasi dengan anak, dengan cara yang paling primitif, mudah dan sederhana; kontak fisik. Memeluk, mencium. Gak usah bicara. Peluk dan cium saja mereka, maka jalinan yang kuat, hangat dan dekat akan terjalin. Saya pernah melakukan penelitian, “ngobrol” dengan 100an anak usia TK A dan TK B, kurang lebih mengenai kapan mereka merasa “disayangi” oleh ibu mereka. Dan jawaban mereka adalah : ketika dipeluk dan dicium ibu.

Selanjutnya, mulai usia pra pubertas, kelas 5an SD, kita harus mulai memikirkan bentuk lain untuk mempertahankan jalinan hubungan yang hangat dan dekat tadi. Kenapa? karena rutinitas memeluk, mencium, menjadi berkurang. Anak kelas 5an mungkin sudah tidak mau lagi kiat “kelonin” saat menjelang tidur. Belum lagi biasanya mereka sudah punya adik. 1 atau 2 biasanya. Tak ada momen khusus ynag membuat kita bisa mendekapnya erat dan hangat dalam waktu yang lama.

Lalu ketika mulai masuk pubertas, sekitar kelas 6 atau kelas 7 untuk anak perempuan dan kelas 7 atau kelas 8 untuk anak laki-laki, secara fisik, sulit bagi kita untuk “menyukai” anak. Ketek bau menyengat, wajah berminyak dan atau berjerawat, raut merengut, saat ini adalah saat yang paling kritis. Biasanya, kalau hubungan dekat di fase sebelumnya belum terjalin, maka di usia ini hubungan ortu-anak rentan untuk  “putus” . Bentuknya apa? saling kesal, selalu saling marah, selalu merasa saling salah. Nah, kalau sudah situasi gini, gimana kita bisa menemani mereka menjalani kehidupannya? menunjukkan jalan yang benar dan salah dalam setiap kasus di keseharian mereka? padahal di usia ini lah mereka mulai menjelajah duna luar. DI usia inilah mereka mulai merasakan naik angkutan umum, pesan kendaraan online, punya smartphone sendiri, memiliki rasa suka dengan lawan jenis, rasa penasaran terhadap hal-hal baru.

Ada beberapa ibu yang kadang “mati gaya”, kehabisan ide, bagaimana secara teknis menjalin hubungan baik dengan anak-anaknya. Berdasarkan pemikiran tersebutlah, tgl. 7 Maret lalu, saya membuat status mengenai hal ini. Dan amazing, Beragam sharing mengenai aktifitas yang real bisa dilakukan pada anak di beragam usia, membuat saya berkaca-kaca saat membacanya. Ternyata banyaaaaaaaak yang bisa kita lakukan untuk membuka pintu hati anak kita, membuat mereka mempersilahkan kita masuk ke dalam kehidupan mereka.

Semuan sharingnya keren dan inspiratif. Dan saya sudah menjanjikan utuk memilih 3 sharing yang paling inspiratif untuk saya kasih buku Bukan Emak Biasa. Seperti saya bilang di atas, semua sharingnya keren. Tapi 3 sharing yang saya pilih ini unik dan menarik untuk diulas.

Yang pertama adalah dari Andy Nuriya Setiawan. Salam kenal kang, karena saya belum mengenal beliau. Sharing beliau adalah :  P_3_cerita tentang waktu dia bayi sebelum tidur. 

Yesh… “cerita kelahiran” adalah juga kisah favorit buat anak-anak saya, yang selalu direquest hampir setiap malam. Buat saya yang gak kreatif, menceritakan kisah kelahiran mereka, dibumbui oleh emosi positif dan intonasi yang”dramatis”, adalah sangat mudah karena tak harus mengarang. Kita tinggal “memanggil kenangan indah itu”. Lalu, kenapa anak suka? Karena itu bermakna sangat dalam. Setiap orang butuh akar hubungan. Itu adalah identitas diri paling dasar. Dan diceritakan bagaimana kehidupannya bermula, bagaimana kebahagiaan orangtuanya menyambutnya, mengokohkan keyakinan akan akar dan perasaannya dicintai.

Saya pernah membaca literatur mengenai adopsi anak, dan disana dikatakan bahwa bagi anak yang diadopsi, ada fase keraguan mengenai identitas. Itu sebabnya seorang teman saya yang mengadopsi anak, selalu menceritakan kisah bagaimana awal mulai ia mengadopsi anak tersebut. Bagaimana ketika pertama kali ibunya “jatuh cinta” melihat wajahnya di panti asuhan, bagaimana perasaan ibunya ketika pertama kali memeluknya, membawanya ke rumah. Sehingga meskipun anak tau bahwa ibunya bukan yang melahirkannya, tak ada keraguan mengenai identitas diri dan keyakinan bahwa ia dicintai. Sejarahnya jelas. Itu yang dibutuhkan anak.

Sebaliknya, percaya atau tidak, seorang ibu pernah bercerita pada saya, karena salah satu anaknya punya warna kulit yang berbeda, iseng ia suka cerita, ngegodain kalau anaknya itu diambil dari rumah sakit karena ibunya meninggal.  Keisengan itu terus berlanjut sampai si anak usia SD kelas 2an. Dan betapa kagetnya ia ketika si anak pada usia SMA, benar-benar mengadakan pencarian. Menelusuri setiap rumah sakit di kota itu, bertanya data di tahun ia lahir mengenai ibu yang melahirkan dan wafat, sampai akhirnya sambil menangis bertanya serius pada orangtuanya, benar gak dia anaknya. Perlu berkali-kali ibunya meyakinkan bahwa benar ia anaknya.

Saya juga pernah sekali, cuman sekali, bercanda bilang bahwa si bungsu “bukan anak ibu”, tapi “anak teteh” (pengasuhnya). Dan reaksi si bungsu bikin saya kapok. Anak 5 tahun itu marah bukan main, Dia pukul saya, sesuatu yang tidak pernah ial lakukan, lalu bilang; “jangan pernah bilang gitu!”. Maka, buat para ibu, jangan iseng soal identitas anak; dan buat yang belum pernah, menceritakan kelahirannya, wajib kudu dicoba dilakukan. APalagi menjelang tidur. Saat tubuh biasanya rileks, sambil dipeluk, sambil diceritakan tentang “akar”nya, seberapa besar ia berharga, ah precious banggets!

Sharing kedua ini saya pilih karena originalitas gagasannya. Teh Rika Tjahyani  dengan sharingnya : L_11_jalan2 backpacking naik kereta berdua ke luar kota. Teh Rika ini kebetulan tetangga satu kompleks dengan saya. Tapi tentu bukan karen aitu saya memilih sharingnya. Saya tahu, puteranya saat ini adalah putera tunggal. Tapi gagasan jalan-jalan backpaking naik kereta berdua ke  luar kota, adalah gagasan yang keren, dan wajib dicoba oleh ortu lain, yang memungkinkan untuk berperjalanan berdua dengan si anak praremaja.

Dalam tulisan saya https://fitriariyanti.com/2015/03/02/xx-x-2/, saya menyampaikan bahwa dalam sebuah keluarga, hubungan interpersonal antara dua orang di dalamnya, perlu untuk dilakukan. Apalagi buat si sulung yang biasanya setelah punya adik, tak pernah lagi punya waktu “berdua” dengan ibu, pengalaman teh Rika ini sangat bisa dicoba. Apa sih yang bisa dilakukan dalam perjalanan berdua ini? Ngobrol lama dengan suasana rileks. Cuman gitu doang? ya, gitu doang. Tapi ini langka dan sulit terjadi kenyataannya saat ini. Kesibukan ibu dan atau anak, gadget…Jujur aja, berapa lama sih kita bisa ngobrol berdua sama anak kita di rumah dalam satu hari? Padahal di usia  11 tahun ini, menjelang baligh, saatnya kita menanamkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran melalui aplikasi langsung pada pengalaman keseharian anak. Sehingga nilai-nilai kebaikan dan kebenaran itu akan anak rasakan sebagai nilai-nilai yang membumi, nyata, hidup dan terintegrasi dalam kesehariannya. Bukan hanya berupa “nilai langit” yang ia dengar dari nasihat demi nasihat  orangtua maupun guru.

Sharing ketiga yang saya pilih adalah dari Mamanya Dea Dimas. Dea, adalah seorang gadis cantik teman TK si sulung. Sudah lebih dari 7 tahun kita gak ketemu face to face. Halo mbak Laxmi :). Sharing beliau adalah :  P_15 ngebahas cowok ganteng yg ditaksir kaka. Kenapa saya pilih sharing mama Dea  sebagai sharing yang inspiratif? karena saya tahu bahwa menjalin hubungan dekat dengan gadis berusia 15 tahun itu, adalah tidak mudah. Sangat tidak mudah.

Di usia ini, teman perlahan menjadi jauh lebih asyik dari ortu. Maka, kalau ada anak gadis mau cerita tentang hal yang paling privat yaitu cowok yang ditaksirnaya dengan mamanya, berarti mamanya berhasil membuat hubungan dekat dan hangat itu bertahan di masa-masa kritis ini.

Dua tahun lalu, waktu saya mendengar si sulung punya hubungan istimewa dengan salah seorang teman laki-lakinya, saya perlu mengingatkan batasan hubungan laki-laki perempuan di usianya. Jadi, waktu itu saya masuk ke kamarnya, memulai pembicaraan dengan serius tentang kabar yang saya dengar dan hasilnya…sumpah ! awkward banget haha… Yups, saya berhasil memberinya nasehat mengenai batasan pergaulan, yang saya yakin dia sudah tau kkk.

Tapi rasa awkward itu tak terlalu terasa saat saya mengobrolkan pesan yang sama saat kami berdua nonton film Kapten Amerika, seperti yang pernah saya tulis di  https://fitriariyanti.com/2017/07/25/captain-america-vs-hulk-obrolan-cinta-dengan-kaka/. Juga ketika kami bahas lagi tema yang sama, tentang bagaimana mengelola rasa suka tanpa melanggar batas agama, setelah kami berdua nonton film Dilan.

Connection before correction. Raih dulu hati anak, biar ia mau membukakan telinganya buat kita. Keneksi itu, muahaaaal…. banget. Setiap kali dapet kasus yang kemudian membutuhkan terapi keluarga (family therapy) untuk menghubungkan kembali koneksi antara orangtua dengan anak di usia remaja ke atas, kami harus bekerja ekstra keras.

Kami siapa? pertama, saya dan rekan-rekan saya sebagai psikolog yang membantu. Kami harus berpikir keras mencari teknik-teknik yang terstruktur, merekonstruksi kembali hubungan yang telah terputus.  Teman saya yang punya sertifikasi dalam hal tersebut, mendapatkan sertifikasi tersebut untuk level basic, dengan harga 12 juta dan sekian jam praktek. Mahal. Itu dari segi kami psikolog. Dari segi ortu dan anak; butuh komitmen kuat dan minimal belasan sesi untuk kembali membangun hubungan itu. Artinya apa? artinya koneksi itu muahallll. Kalau udah “putus”, muahal di uang, waktu, energi untuk menyambungkannya kembali.

connection before correction2Maka, jalin koneksi itu sedejat-dekatnya, sehangat-hangatnya, sekuat-kuatnya ketika anak masih bisa kita peluk, kita cium. Lalu pertahankan dengan sikap fleksibel dan aktivitas kreatif  saat ia tak bisa lagi selalu kita rengkuh dengan pelukan dan ciuman. Ingat ….connction before correction. Kalau mati gaya, meluncur aja ke status saya di tgl 7 Maret. Ada banyak gagasan keren yang disharing oleh teman-teman saya disana.

sumber gambar : https://www.positivediscipline.com/articles/connection-correction-0

 

 

 

 

 

ISTI : Ikatan Suami ……. Istri

“Yes Mam, Yes Mam, Yes Mam” …. pria paruh baya itu mengangguk-angguk di telpon. Dia adalah “bos” kami dalam sebuah projek. Kami bertiga, sedang mengerjakan projek yang cukup besar. Kami bertiga adalah : Pak Bos, saya dan seorang sahabat saya. Pak Bos adalah seorang pria paruh baya yang sangat expert di bidangnya. Meskipun kami satu tim, tapi sebenarnya beliau bagai mahaguru bagi kami yang masih unyu-unyu di bidang ini. Karen ake-expert-an nya, beliau juga menduduki jabatan penting di instansinya. Kami bertiga cukup akrab karena sudah saling mengenal cukup lama.

Pak Bos sudah selesai menelpon, dan kembali berhadapan dengan kami. “Dimarahin mbak **** ya Bang?” kata sahabat saya. Mbak **** adalah istri beliau, yang juga kami kenal baik.  “Iya nih… gue tuh udah gak boleh minum kopi sama dokter. Trus dia tuh kayak punya telepati gitu. Tauuu aja gue bandel” katanya sambil melirik secangkir kopi dihadapannya (di komunitas kami, biasa ber- elu gue antara senior dan junior). “Trus kayaknya gue harus pulang sekarang uy, **** titip beliin bahan-bahan kue. Mana gue gak tau lagi bahan-bahan itu bentuknya kayak gimana. Makanya agak lama kayaknya muter-muter di supermarket untuk tanya-tanya. Dia lagi seneng banget nyobaik resep-resep dari yutub” katanya. Lalu kemudian ia membagi tugas yang harus dikerjakan oleh masing-masing kami di rumah, untuk dibahas pada pertemuan selanjutnya.

Dulu, duluuuuu banget….saya akan menganggap tipe suami seperti Pak Bos adalah suami yang “tidak berwibawa”. ISTI. Ikatan Suami Takut Istri. Membayangkan wibawa nya di hadapan publik, diantara para stafnya, di lingkungan expertisenya, sangat kontradiktif dengan sikap dihadapan istrinya, seperti yang ia tunjukkan di telpon tadi. Takut Istri. Itu yang suka digambarkan pada sinetron-sinetron, terutama sinetron komedi yang memang sering mengeksploitasi kontradiksi.

Tapi setelah saya menikah, 5, 10, 15 tahun…. mengamati banyak pernikahan, membantu klien-klien dengan masalah pernikahan, saya menjadi punya perspektif baru terhadap para bapak-bapak yang “melepaskan wibawanya” saat sedang berada di hadapan istri. Tetap ISTI. Ikatan Suami Thayank Istri haha….

Yups… tidak mudah bagi seorang suami yang secara agama, kultural maupun sosial dipandang sebagai figur superior dibanding istri, mau “mendengarkan” apalagi “menuruti” kata istrinya. Ada berapa banyak para istri yang sudah menikah belasan bahkan puluhan tahun; tapi si istri tak berani, takut untuk mengingatkan sang suami, memberi masukan pada sang suami, mengerem suami dari perilaku yang kurang pas; baik untuk dirinya maupun ada orang lain.

Misalnya, mengingatkan suami untuk tidak merokok, mengingatkan suami untuk tidak impulsif posting sesuatu di medsos, mengingatkan suami untuk tidak genit pada wanita lain, mengingatkan suami untuk menyeimbangkan hobi pribadi dengan waktu untuk keluarga, mengingatkan suami untuk menyeimbangkan waktu mengejar karier dengan waktu untuk keluarga, mengingatkan suami untuk meninggalkan hal-hal kecil yang gak bermanfaat, mengingatkan suami untuk merubah akhlak buruk.

Setiap kali saya mengingatkan suami saya dari satu perilakunya yang kurang pas, saya selalu bilang : ” I do it because I love you. I care about you. Di usiamu saat ini, di posisimu saat ini, gak akan banyak orang yang berani mengingatkanmu. Bahkan mungkin gak ada”. 

Ya, saya berpegang teguh pada definisi “cinta adalah saling menjaga”. Dengan dua makna:

(1)  Makna yang terkait dengan hubungan kami berdua. Setelah mengarungi pernikahan 15 tahun, saya semakin yakin bahwa Allah menciptakan laki-laki dan wanita itu setara.

Teori bahwa laki-laki itu rasional dan perempuan itu emosional, itu gak berlaku dalam pernikahan. Yang ada adalah, dalam situasi tertentu suami lebih rasional, dalam situasi tertentu ia emosional. Sama dengan istri. Maka, ketika istri sedang emosional, suami bersikap tenang dengan kekuatan rasionalitasnya. Dan ketika suami emosional, istri bisa menjernihkan pikiran suaminya dengan keteduhan rasionalitasnya.

Laki-laki itu pelindung dan wanita itu makhluk lemah yang harus dilindungi? Totally wrong ! Iyesh, sering wanita butuh perlindungan suaminya lewat kekokohan pelukannya. Kala ia sedih, kecewa, disakiti, mengalami kegagalan, dll.  Tapi saya sudah menyaksikan berpuluh-puluh suami; yang tak ingin melepaskan genggaman tangan istrinya, yang merasa kuat saat istrinya berada disampingnya;  kala mereka sakit, kala mereka down, kala mereka takut…

Dua gambaran yang sebenarnya sudah bisa kita ketahui lewat kisah Rasulullah yang merasa takut dalam pelukan istrinya Khadijah saat mendapatkan wahyu pertamanya.

(2) Makna yang terkait dengan pasangan kita dengan lingkungannya. Dalam perjalanan hidup ini, kita butuh rem. Agar tak melaju di jalan yang salah. Agar kita menjalani kehidupan ini tidak dengan menutup mata, yang penting cepat. Agar kita punya waktu untuk selalu awas pada belokan-belokan kebenaran yang mungkin kita lewatkan.

Suami dengan rasionalitasnya, bisa jadi rem untuk istrinya. Dengan pikirnya, ia akan bisa membayangkan resiko-resiko, dan beragam elemen yang akan mengarahkan jalan istrinya di jalan yang benar.

Di sisi lain, suami langkahnya lebih panjang. Ia tak terikat anak-anak. Tak terikat rumah. Darahnya cenderung bergejolak memenangkan kompetisi dalam beragam bentuk. Maka, istri-lah yang bisa jadi rem. Membuatnya melambatkan larinya, mengajaknya berbincang agar sempat ia melihat sekeliling dan berefleksi, menemaninya mengevaluasi arah hidupnya, menariknya kembali pada nilai-nilai yang akan menjadi berharga saat di akhir hidup ia mengevaluasi perjalanan kehidupannya.

Tak ada yang otomatis terjadi dalam dunia ini. Itu adalah sunnatullahNya. Tak ada cinta yang begitu saja tumbuh dan menguat. Tak ada komunikasi dari hati ke hati yang begitu saja terlatih, tak ada rasa yang begitu saja menyatu dalam satu frekuensi, “hanya” karena usia pernikahan telah bertambah. 

Saya ingat suatu saat Pak Bos menasehati kami: “Bagi kalian, di masa-masa ini mungkin merasa hubungan kalian dengan suami baik-baik saja. Karena masing-masing fokus dengan urusan anak. Tapi ketika tak ada lagi anak-anak yang harus diurus, saat kalian berduaan kembali, di situlah kedalaman hubungan kalian teruji. Bukan tak mungkin kalian akan jadi bingung, apa yang harus diobrolin. Ngomong ini, takut menyinggung, ngomong itu, gak tau mulainya dari mana. Bukan tak mungkin kalian merasa saling asing; kalau proses saling mendekat, saling menyelami, saling mendengarkan dan saling menghargai itu tak terus diusahakan dan diperjuangkan. Lebih asyik ngobrol sama teman di luar rumah atau dengan teman kerja, jangan sampai itu terjadi” katanya.

loveSaya juga ingat seorang ustadz di ceramah tarawih ramadhan masjid salman tahun lalu, menyampaikan bahwa ketika seseorang memutuskan untuk menikah, maka berarti ia bersedia mengikutsertakan pasangannya dalam setiap pertimbangan perilakunya. Sekecil apapun, sebesar apapun, sehebat apapun konteks perilakunya.

Kalau memegang teguh nasihat ini, masalah pelakor dan pebinor mah ga ada arti apa-apa.

Maka, buat saya sekarang, seorang laki-laki yang berkata: “yes mam” atau “oke bos” pada istrinya, bukanlah suami penakut. Tapi ia suami penyayang. Yang menganggap kata-kata istrinya perlu ia dengarkan, yang menghayati bahwa ia butuh dijaga oleh istrinya, yang menganggap bahwa istrinya setara dan berharga. Seorang suami yang mencintai istrinya.

PAUD dan PR

Hari Kamis lalu, menjelang long wiken, saat saya tiba di rumah sore, si bungsu TK B bercerita bahwa ia dikasih “PR” sama gurunya. Apaaaah? anak TK dikasih PR? TK apa itu? pasti TK gak bener itu ! pasti cuman bisnis doang ! makanya, sebelum SD itu anak gak usah “disekolahkan”. Ibu adalah guru terbaik buat anak. Tuh kaaan…kalau disekolahkan anak dikasih beban yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Anak PAUD itu harusnya bermain yang kreatif bersama ibu, bukan dibebani dengan PR.

Kira-kira begitulah reaksi saya kalau dikomik-kan heheh #hiperbola. Yups, saya pernah membaca pendapat yang meng”haram”kan PR. Apalagi pada anak PAUD. Kenapa ya, gak boleh ada PR ? Kenapa anak PAUD gak boleh dikasih PR?

Oh…oh…saya tau jawabannya: Karena “PR” itu identik dengan “akademik”. PR menghafalkan perkalian. PR ngerjain berlembar-lembar soal. Kadangkala, konon katanya PR dijadikan alat bagi guru-guru yang “malas” menjelaskan materi. Jadi murid dikasih PR yang belum dijelaskan materinya. Itulah sebabnya PR, konon juga katanya jadi pintu gerbang buat ibu-ibu yang gemesh sama anaknya yang gak ngerti materi pelajaran, dan melakukan KDRT dengan verbal : “masa gitu aja gak bisa?” atau dengan perilaku : mencubit, menjiwir, memukul. Duh, bahaya banget ya dampak PR itu 😉

Nah, bener-bener…kalau anak PAUD dikasih PR, bahaya banget tuh… padahal, setiap kali saya sharing sama ibu-ibu maupun guru TK, saya selalu bilang : “sekolah formal” pertama anak-anak itu adalah SD. SEKOLAH Dasar. Kalau TK, ya bukan sekolah. Namanya juga TAMAN. Secara filosofis nama juga beda. 

Oke…oke…kalau ngasih PR ke anak TK itu adalah “malpraktik” pendidikan anak usia dini, pasti anak akan terbebani, kesel, males, muncul emosi negatif. Baiklah, mari kita amati si bungsu…

Waktu si bungsu ngasih tau bahwa dia punya “PR” dari bu guru, kenapa dia memberi tahu saya dengan wajah “sumringah” ya? “Bu, de Azzam dikasih PR sama bu guru. Ibu tau gak PRnya? de Azzam harus bikin makanan atau minuman kesukaan de Azzam. Terus, pas bikinnya, de Azzam harus di video-in, terus dikirim ke bu guru. Gitu bu…de Azzam, gak sabar pengen ngerjain PRnya ! bikin apa ya bu? bikin nutrijel, de Azzam udah bisa sendiri belum? harus sendiri bu, jadi harus pilih bikin-bikin yang de Azzam gak perlu bantuan ibu dan abah”

Hhhmmm….aneh nih. Kan harusnya anak stress ya kalau dikasih PR, tapi ini kenapa gak stress ya? malah antusias. Yang salah teorinya atau anaknya ya? Seinget saya, ini memang bukan kali pertama si bungsu dapat “PR” dari gurunya.

Beberapa bulan lalu, pas long wiken juga, si bungsu dikasih PR menggambar. “Kata bu guru, menggambarnya jangan langsung sekali, harus dicicil tiap hari sedikit-sedikit. Biar bagus. Idenya harus kreatif”. Dan pesan gurunya, dia amalkan sepenuh hati. Tiap pagi dia akan mengingatkan saya untuk “temenin bikin PR menggambar”. Lalu seperempat jam kemudian, dia berhenti : “Kan kata bu guru gak boleh langsung selesai, biar bagus. Besok dikerjain lagi”. Dan jadilah gambar itu, hardfilenya dikumpulkan ke bu guru, softfilenya saya kirim ke majalah bobo junior, yang ternyata 2 minggu kemudian dimuat. Wah, bahagia sekali si bungsu (dan emaknya hehe).

PR lainnya yang saya ingat adalah : membuat roket dari barang bekas. Hasilnya dikirim via foto di grup wa. Ngerjainnya sama papanya masing-masing. Waaah…gile..kreatif-kreatif ternyata para papa memberikan ide dan mengerjakan “PR” itu bersama anak-anaknya. Akhirnya, setelah 2 minggu karena si abah lagi padet di luar kota, roket si bungsu pun jadi. Waktu bikin, dia semangaaat banget. Sampai pas udah jadi, sebelum dikumpulkan (dan ternyata hanya diperlihatkan aja sama bu guru, selanjutnya dibawa pulang lagi), dia pajang di lemari. Sesekali diambil, dipeluk, dicium-cium sambil muji diri sendiri : “ternyata de Azzam, bisa bikin roket yang bagus ya”.  Saking terharunya bu guru karena anak-anak begitu antusias mengerjakan, bu guru pun membuat gantungan kunci buat anak-anak, bergambar foto masing-masing anak dengan roket buatannya. Gantungan kunci itu jadi kebanggan si bungsu.

PR lainnya yang saya ingat adalah, sebulan lalu bu guru minta anak-anak yang sudah bisa menulis untuk menulis kata, yang berawalan huruf tertentu. Hurufnya berurut mulai dari a,b,c,d, dst per hari. Si bungsu yang termasuk sudah terlatih motorik halusnya dan sudah bisa mengeja, juga semangat mengerjakan “PR” ini. Meskipun dia bilang: “Bu guru engga bilang harus nulis berapa kata, katanya terserah. Kalau de Azzam tulisannya kecil, berarti harus banyak. De Azzam mau tulisannya besar aja aaah….biar sedikit kata-nya”. Cukup menyenangkan menemaninya mengerjakan PR ini. Terutama ketika si bungsu “mikir” kata apa yang berawalan huruf tersebut, lalu terpikir satu kata yang lucu: seperti “cangcut dan dodolipret” 😉

Dan, PR membuat makanan kesukaan ini, akhirnya dikerjakan dengan tak kalah antusiasnya dengan PR-PR nya sebelumnya. Saya jadi penonton, si abah jadi kameramen. Dia sudah memutuskan akan membuat telor ceplok kesukaannya. Mulai dari memecahkan telur, memasukkan ke wajan, membalik telur, sampai mengangkat ke piring. Menyalakan dan mematikan kompor, di hasil video terlihat tangan si abah membantu hehe… Sambil melakukan aksinya, gaya si bungsu udah kayak youtuber-youtuber gitu, Meskipun gak pake kata “gays” ya kkk… “Haloo…kita akan membuat ceplok telor…oke, kita mulai saja….”.

Kemarin, ketika saya pulang sore, dia cerita : “Bu, yang kirim video ke Bu Guru cuman bertiga. Dia sebut nama temannya dan apa yang dibuatnya. Gak apa-apa gak ngumpulin juga. Tapi yang ngumpulin dikasih kertas stiker …yeay….

PR2Nah..dari pengamatan saya terhadap jenis PR, sikap si bungsu terhadap PR dan sikap bu guru terhadap PR, saya jadi bisa menyimpulkan : Bukan “Ada PR” atau “Tidak ada PR” yang menjadi inti permasalahan. Tapi yang harus kita cermati adalah:

(1) Apa tujuan PR? Menurut saya, di jenjang pendidikan manapun, tujuan memberi PR atau tugas, akan menentukan bentuk PR apa yang diberikan dan bagaimana sikap siswa terhadap PR tersebut. Misal, di sebuah Perguruan Tinggi nun jauh disana, PR yang diberikan dosen pada mahasiswa adalah menerjemahkan buku/chapter buku. Lalu hasil PR mahasiswa tersebut, di klaim sebagai kinerja menerjemahkan buku untuk kepentingan dosen tersebut. Nah, kalau tugasnya macam ini, mahasiswa gak merasa ada manfaatnya buat dia. Ya, kalau dibikin-bikin sih bisa ada aja. Tapi kalau secara tulus kita hayati, mahasiswa bisa jadi gak dapet apa-apa dengan tugas semacam ini. Saya sendiri sebagai dosen merasakan; ketika merancang tugas/PR itu, tidak mudah. Harus kita hayati betul bentuk aktifitasnya seperti apa, tingkat kesulitannya, lalu nanti bentuk feedbacknya seperti apa.

(2) Bentuk PRnya seperti apa? Setelah saya ngobrol dengan bu guru, ternyata bentuk-bentuk PR yang diberikan pada anak-anak itu, adalah upaya bu guru agar anak-anak terisi waktu luangnya dengan kegiatan yang menstimulasi daya kreatifitas dan kemandirian anak. Maklum, saat libur, para ortu mengeluh ke bu guru: “anak-anak kalau di rumah main gadget terus”. Saya sih gak ikut mengeluh karena saya tahu bahwa  kalau  saya mengeluh begitu, senjata makan tuan buat saya. Kenapa ibu kasih gadget dan gak nemenin anak main? Gak mungkin dong anak  umur 5 tahun main sendiri sementara emaknya gadget-an ;). Dan tugas-tugas tersebut, disesuaikan tingkat kesulitannya dengan kemampuan anak. Juga disesuaikan dengan kondisi “jaman now”. Misal mengirim PR berbentuk foto dan video ke wa bu guru 😉

(3) Reward/punishment terhadap PR. Apakah anak-anak yang tidak mengumpulkan PR diberi hukuman? tidak. Yang mengumpulkan yang diberi reward. Pas dengan tahap perkembangan anak.

Maka, dari pengalaman ini saya mendapatkan satu pelajaran : jangan terjebak nama/istilah. Kita biasakan untuk mengamati (atau bahasa kerennya “menganalisa”) elemen-elemen dari suatu kejadian. Ada banyak keterjebakan yang bisa kita hindari dengan pola seperti ini : mengamati elemen-elemen dari suatu kejadian. Katanya itu yang namanya CRITICAL THINKING. Itu yang membedakan manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna dengan makhluk lainnya : manusia diberi akal. 

Apalagi para emaks jaman now yang mengalami tsunami informasi : kata pakar ini boleh, kata ahli ini gak boleh, kata BC-an yang ini harus begini, kata BC-an yang itu gak boleh begini…

Ketika Allah mentakdirkan kita menjadi ibu, maka Allah sudah menganugerahi potensi untuk berpikir, merasa dan bertindak yang paling tepat bagi anak-anak kita. Ya, ilmu pengasuhan harus kita cari untuk mengaktivasi potensi tersebut. Lalu kemudian, curahkan energi kita untuk mengamati anak, mengamati elemen-elemen kejadian dalam persoalan anak. Kalau ada kebimbangan, diskusikan dengan orang yang kita percayai keilmuannya. Insyaallah, kita akan rileks dan tenang dalam menjalani beragam perjalanan bersama buah hati. Itulah hakikatnya “bukan emak biasa” (yang perlu bukunya inbox ya..haha….pesan sponsor)

Previous Older Entries