Sang Rahim

Terbanglah anakku,
terbanglah setinggi yang kau mau,
terbanglah setinggi yang kau bisa

More

Advertisements

PAUD : Yes or No? (studi kasus pola pikir para emak)

Awal semester lalu, saya dimintai bantuan oleh salah satu Taman Kanak-Kanak (TK) untuk sharing pada orangtua siswa baru di TK tersebut; temanya “pentingnya pendidikan anak usia dini”. Saya berusaha memikirkan apa yang akan saya sampaikan dalam acara sharing tersebut. Saya mengumpulkan buku-buku terkait topik tersebut, berusaha merenung apa yang kira-kira dibutuhkah oleh para mahmud (mamah muda) yang menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan prasekolah tersebut.

Dalam perjalanan ke kampus, salah satu wa grup yang saya ikuti mengirimkan sebuah tulisan. Tampaknya tulisan tersebut sedang viral di hari itu, terbukti beberapa wa grup yang saya ikuti, juga menyebarkan tulisan tersebut. Judul tulisan tersebut adalah “jika anak sekolah terlalu dini”. Sepertinya kalau di googling gampang ketemu.  Ada 14 poin yang dipaparkan dalam tulisan tersebut, intinya menyampaikan argumen di bawah usia 5 tahun, anak tidak perlu bersekolah. Poin ke-12, cukup bikin saya kaget. Memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker. Kita tidak tahu kapan kanker akan muncul & dlm jenis apa. Otaknya belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan ia kehilangan motivasi belajar. ……..

Saya yakin, penulis memiliki data yang menjadi dasar dari apa yang disampaikan. Saya sendiri belum punya data mengenai hal ini. Kalau ada lembaga yang bisa menyediakan data; misalnya yayasan yang punya PAUD, SD, SMP, SMA; sangat senang sekali kalau litbangnya mengajak saya bekerjasama melakukan penelitian. Membandingkan anak-anak yang “sudah sekolah” sebelum usia 5 tahun dengan anak-anak yang “tidak sekolah” sebelum usia 5 tahun dari berbagai aspek pada saat dia usia SD, SMP, SMA. Dari situ kita bisa punya fakta empirik yang sahih untuk mengatakan apa dampak “sekolah terlalu dini” bagi perkembangan anak selanjutnya.

Saking bikin seremnya poin tersebut, saya sendiri jadi mempertanyakan keputusan saya menyekolahkan 4 anak saya sejak mereka berusia 2 tahun. Kelompok Bermain 2 tahun, TK A 1 tahun, TK B 1 tahun. Waduh…. anak-anak saya udah 3 tahun sekolah sebelum mereka mencapai usia 5 tahun ! gawat banget nih…separah apa nanti kanker yang akan mereka derita ya? Serendah apa nanti motivasi belajarnya?

Lalu saya mengingat-ingat lagi alasan kenapa saya menyekolahkan anak-anak sejak mereka usia 2 tahun. Alasan utama adalah karena saya bekerja. Di rumah, anak-anak didampingi oleh pengasuh yang baik dan responsif, tapi jelas tidak bisa diharapkan menstimulasi secara terstruktur dengan optimal. Kalau begitu, harus berhenti kerja dong…masa ibunya S2 anaknya diasuh lulusan SMA. Berarti pekerjaan lebih berharga dibanding anak dong… Ah, saya mah udah bertahun-tahu lalu selesai dengan pergulatan itu. I love my job, because it’s not only job. It’s my ikigai.

Melakukan aktifitas pekerjaan saya: mengajar, berdiskusi dengan mahasiswa, membaca, praktek psikolog, selalu mengisi jiwa saya. Pulang ke rumah, tubuh saya lelah tapi jiwa saya rasanya terisi penuh. Jiwa yang sudah tercharge- full  itulah yang membuat saya punya energi untuk mengasuh anak-anak. Banyak hal dari luar rumah yang saya bawa ke rumah. Baik itu penghayatan, pengetahuan, keterampilan, dan banyak hal yang menjadi bekal untuk memberikan banyak hal pada anak-anak saya.

Kalau kata si abah : “sebenernya aku lebih suka dirimu di rumah. Tapi aku tau dirimu pasti gila kalau gak menjalankan profesimu. Jadi aku ridho dirimu beraktifitas di luar rumah”.  Jadi, saya mencintai anak-anak saya, tapi saya juga mencintai pekerjaan saya. Dan dalam kondisi saya, feasible untuk punya pilihan AND, bukan OR. My children AND my job; not my children OR my job.

Maka, jadilah saya mencari partner yang bisa memberikan stimulasi yang tidak bisa saya berikan selama saya beraktifitas di luar rumah. Partner yang paling gampang adalah sekolah. Paud. Play Group, TK A dan TK B. Setelah mencari-cari kesana kemari, ketemu lah saya sama sebuat sekolah yang “pas”dengan kebutuhan saya. Guru-gurunya responsif. Anak-anak saya yang perempuan, cenderung butuh waktu lama untuk adaptasi di lingkungan baru. Dan selama masa adaptasi itu, bu guru tak segan menggendong, memeluk, memangku anak-anak saya sampai mereka pelan-pelan merasa nyaman bergabung dengan teman-temannya. Ketika anak-anak gak mau ditinggal, guru-gurunya punya teknik “memisahkan” anak dengan orangtua yang efektif. Sehingga meskipun pas ditinggal nangis-nangis, 5 menit kemudian saya telpon gurunya, anak saya udah “lupa” aja…..atau bahkan bu gurunya yang proaktif memfoto 5 mrnit kemudian, mengirimkan pada saya.

Ah, tapi itu kan pengalaman subjektif sama. Pendapat saya pribadi. Bias ah….Aha….saya pun punya ide. Jadilah materi sharing di TK yang tadi saya ceritakan di awal, formatnya tidak ceramah dan tanya jawab seperti biasanya. Saya print artikel “Bila anak sekolah terlalu dini” tadi. Ada sekitar 80 orangtua yang hadir pada pertemuan itu, saya bagi menjadi sekian belas kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 orangtua.  Pada masing-masing kelompok, saya bagikan artikel tersebut, lalu saya beri waktu 30 menit untuk mendiskusikan.

Ada 3 hal yang saya mintakan:

(1) Menyimpulkan isi artikel itu dan menyampaikan dengan bahasa ibu-ibu sendiri (konon kan katanya emak-emak jaman now semangat menshare-nya jauh lebih besar dibanding semangat membaca isinya. Seringkali keputusan menshare cukup dengan membaca judulnya saja)

(2) Menyampaikan pendapat mengenai isi artikel tersebut. Adanya fitur “copy” dan “share” juga membuat kita jadi gak terbiasa mengolah informasi dan menyampaikan gagasan kita sendiri terhadap informasi itu.

Setelah 30 menit berlalu, beberapa kelompok saya minta mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.

Proses dan hasil diskusi yang terjadi, membuat saya bangga sama emak-emak yang hadir di ruangan tersebut.

Saya rangkum poin pendapat peserta mengenai isi artikel tersebut.

(1) Bahwa dalam artikel tersebut, ada poin-poin yang mereka setujui

Contohnya pernyataan: “Permainan terbaik adalah tubuh ayah ibunya! Bermain dengan ayah ibu juga menciptakan kelekatan. Misal: bermain peran, bermain pura-pura, muka jelek, petak umpet”.

(2) Sebagian poin-poin dalam artikel tersebut tidak mereka setujui

Contohnya pernyataan: Anak di bawah usia 5 tahun belum saatnya belajar sosialisasi. Ia belum bisa bermain bersama. Mereka baru bisa bermain bersama-sama. Bermain bersama-sama= bermain diwaktu & tempat yang sama namun tdk berbagi mainan yg sama (menggunakan mainan masing2). Bermain bersama= bermain permainan yg membutuhkan berbagi mainan yg sama.

Berdasarkan pengalaman ibu-ibu yang mempresentasikan hasil diskusinya, anak usia 4 tahunan udah bisa main bareng. Dan menurut teori pun, potensi anak untuk cooperative play memang sudah dimiliki di usia 4 tahun.

Bersosialisasi, berdasarkan hasil diskusi, adalah tujuan utama ibu-ibu menyekolahkan anak-anaknya di PAUD. Mengapa? peserta menyatakan bahwa mereka menghayati kemampuan sosialisasi adalah kemampuan penting untuk anak. Sosialisasi meliputi kemampuan untuk berbagi, bekerjasama, mengatasi konflik misalnya. Salah seorang ibu yang mempresentasikan mewakili kelompoknya menyatakan bahwa anaknya baru satu, di lingkungannya tidak ada teman sebaya.

Kenapa engga sosialisasi sama orangtuanya saja? Ya, saya memang tidak bekerja, punya waktu banyak main sama anak, kata ibu tersebut. Tapi saya lihat pola sosialisasi sama teman sebaya, misal kalau main sama sepupunya, itu beda dibanding sama orangtuanya. Kalau sama sebaya kan egonya sama, jadi saya liat dia juga belajar keterampilan yang dia gak dapat kalau interaksinya sama orangtua; begitu pendapatnya.

Seorang ibu yang lain menyampaikan bahwa walaupun anaknya punya 3 kakak, ia pun menilai bahwa interaksi dengan teman sebaya itu berbeda dengan interaksi dengan yang tidak sebaya. Dan itu mereka rasa penting.

(3) Artikel ini tujuannya bagus, namun cara penyampaian di artikel itu menurut peserta terlalu “judgmental”;  satu perspektif, tidak membuka peluang adanya perspektif lain.

Misal kalimat : “Betapa kita disiapkan untuk menjadi ahli namun tdk disiapkan jadi orangtua, shg tidak punya kesabaran & endurance utk jadi ortu”.

Menilai orangtua yang menyekolahkan anaknya di PAUD sebelum usia 5 tahun berarti orangtua tersebut tidak punya kesabaran dan endurance untuk jafdi ortu dinilai terlalu judgmental oleh para peserta.

(4) Ada pertanyaan juga terkait dengan pernyataan “memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker”; beberapa ibu menyampaikan, ia mengamati bahwa anak-anaknya atau anak-anak yang ia kenal yang sekolah sejak  usia kecil, tampak baik-baik saja. Apakah sekolah dini hanya satu-satunya faktor yang bisa menyebabkan anak jadi bermasalah? atau ada faktor lain ? 

Menurut saya, pertanyaan itu adalah pertanyaan keren banget, yang mengantar kami pada diskusi selanjutnya ….

HAsil dari diskusi itu adalah :

Hasil “baik” atau “buruk” dari keputusan memasukkan anak ke PAUD, tergantung dari beberapa hal :

  1. Kondisi anak
  2. Kondisi orangtua
  3. Kondisi sekolah dan guru

Jadi, kesimpulannya,

memasukkan anak ke PAUD “Iyesh” kalau:

  1. Anak enjoy sekolah. Di awal semester, anak “engga betah” itu wajar. Anak nangis ditinggal ortu itu wajar. Kalau sesudah itu anak gak ngamuk-ngamuk  setiap hari saat harus sekolah, gak marah setiap kali diingetin harus sekolah, berarti baik-baik saja.
  2. Ibu bekerja, atau ibu di rumah tapi ibu merasa tidak akan punya waktu berkualitas untuk menstimulasi anak. Misal : ibu gak punya pembantu, jadi sebagian besar waktunya dipakai untuk beberes rumah, dll. Anak bersama ibu sih di rumah, tapi gak diapa-apain. Atau malah jadi objek kemarahan. Atau ibu punya waktu luang, tapi gak tau harus menstimulasi anak dengan cara gimana. Bingung gimana harus menyikapi anak, gak tau perilaku anak di usia segini wajar atau engga, perkembangan kayak gini telat atau engga. Pengalaman saya, jenjang pendidikan tinggi dan tingkat kecerdasan ibu tidak otomatis sejalan dengan pengetahuan dan keterampilan mengasuh. Ya, ada beberapa keterampilan dasar yang harus dan bisa dimiliki ibu. Tapi tentu tidak semua ibu punya kompetensi menyusun kurikulum, melakukan evaluasi dari aspek-aspek yang harus distimulasi pada anak-anak usia prasekolahnya.
  3. PAUD itu semuanya bisnis? mungkin ya. Saya sendiri gak punya data, belum pernah mensurvey dan gak punya indikator yang dinamakan PAUD adalah bisnis itu kayak gimana. Mungkin benar. Tapi minimal, ada 2 PAUD di Bandung, yang saya tahu persis tidak berorientasi bisnis. Dua PAUD ini saya bantu sejak beberapa tahun lalu. Salah satu PAUD, bahkan membiayai full anak-anak dhuafa dengan latar belakang pemikiran, anak-anak ini sangat terlantar. Ibu-ibunya rata-rata pembantu rumah tangga, rumahnya cuman sepetak. Anak-anak ini ditinggal di rumah. Kadang sendirian, kadang dititipin tetangga; sering dimarahi, bahkan dipukul; mainan boro-boro punya, pengetahuan ibu-ibu untuk kreatif menggunakan alat yang ada di rumah untuk mainan anak boro-boro… Nah di PAUD, mereka dipegang oleh guru-guru yang punya pengetahuan dan keterampilan lebih baik dibanding orangtuanya. Orangtua anak-anak dhuafa itu, diwajibkan mengikuti program sekolah ibu. Saya membantu menjadi fasilitatornya. Di sana ibu-ibu dikasih tau kenapa mukul anak itu gak boleh, ibu-ibu akan belajar latihan gimana caranya kalau lagi kesel sama suami, atau lagi pusing gak punya uang, jangan sampai melampiaskan ke anak. Di PAUD satunya lagi, saya membantu guru-guru menangani kasus-kasus anak dimana para guru itu butuh “second opinion” dari psikolog anak.  Misalnya anak usia 4 tahun, belum bisa toliet training karena ibunya single mother harus bekerja.  Di rumah pake pampers terus, karena tinggal di rumah nenek dan nenek sudah renta, gak mau rumah bau pesing dan gak kuat harus melatih anak toliet training. Di sekolah tersebut, salah satu aturannya adalah anak gak boleh pake pampers di kelas. Meskipun beberapa ibu terutama ibu-ibu playgroup suka “nego” karena khawatir anaknya ngompol, tapi guru-guru di sekolah ini akan mengatakan : “gapapa bu, kalau ngompol tinggal di pel”. Dan mereka konsisten … setiap berapa jam sekali anter anak-anak pipis lah, pup lah…. termasuk si anak 4 tahun tadi. Guru-guru itu yang kemudian mengajari dan meyakinkan si orangtua untuk “berani” melepas pampers anak, menyadarkan ibu apa dampak jika itu tak dimulai sekarang, dll.

Sebaliknya, memasukkan anak di bawah 5 tahun ke PAUD “NO” jika :

  1. Anak sama sekali gak pisah dari ibu. Misalnya mengalami “separation anxiety” (harus didiagnosa sama psikolog), atau anak punya banyak teman sebaya di lingkungan rumah, bisa main bola, main sepeda, masin boneka bareng sama temen-temen di rumah. Atau anak nangis tiap ada PR, sakit perut tiap mau berangkat sekolah.
  2. Ibu, bisa memanage dirinya sehingga punya energi emosi yang berlimpah. Misal anak ikut nyuci, anak ikut masak, meskipun lama tapi ibu gak marah, anak enjoy belajar banyak hal. Anak selalu ngeberantakin mainan, ibu bisa tenang aja, lalu ibu punya waktu mendengarkan anak, mengajak anak main dengan playful. Ibu kreatif mempersiapkan aktivitas beragam buat anak tiap hari, sehingga gak cuman fisik aja bareng sama ibu di rumah, tapi ada interaksi yang berkualitas. Aturan bisa ibu tegakkan dengan tegas.
  3. Gak nemu sekolah yang “ramah anak”. Misalnya, PAUD yang ada hanyalah PAUD yang dari mulai anak 3 tahun sampai 5 tahun, pelajarannya adalah menjumlah dan mengurang. menulis huruf sambung. Yang gak bisa gak boleh pulang. Anak ada PR sekian lembar menulis dan menghitung. Guru-gurunya “galak”.

paudBegitu sih rambu-rambunya menurut saya. Intinya adalah, bahwa anak usia dini perlu mendapatkan stimulasi/pendidikan; IYESH. Golden age tea…. Bahwa bentuknya dengan “sekolah” PAUD, atau dengan ibu di rumah, atau melalui aktifitas lainnya, itu bisa berbeda keputusannya antara satu ibu dengan ibu lainnya. Yang penting bertanggung jawab dan memahami hakikatnya. Stimulasi. Apapun pilihannya, kalau didasari oleh kepedulian, pasti ada upaya mengevaluasi. Gimana proses belajar di sekolah ini? Gimana proses stimulasi di rumah?

Saya ingat, dalam salah satu kesempatan, saya membantu acara “parents meeting” di acara pembagian raport di sebuah PAUD. Modelnya, guru akan memberikan raport sambil menjelaskan perkembangan anak selama 1 term sekolah pada orangtua, lalu saya mendampingi untuk menjawab pertanyaan orangtua terkait masalah anaknya. Ada salah seorang anak, perkembangannya bagus banget. Melampaui anak-anak seusianya, di usia 4 tahunan. Si ibu itu bilang: “iya, dia udah sekolah dari umur 6 bulan bu. Waktu itu kan saya baby blues gitu, saya tuh kerjaannya nangis aja, merasa gak mampu gitu jadi orangtua, nyusuin gak bisa..kalau lama-lama gendong bayi tuh rasanya jadi gak sayang sama bayinya. Ya udah sama suami saya akhirnya anak saya diikutin sekolah bayi gitu…yang dipijet-pijet, terus distimulasi apa gitu…pas merangkak, terus pas jalan, terus melompat gitu…di XXX (ia menyebutkan sebuah lembaga  pendidikan anak ternama). Nah..kalau anak saya dibawa pergi, gak terus-terusan saya yang gendong, pas dateng saya jadi kayak kangen gitu bu, jadi saya enak meluknya juga. Kerasa sayang gitu. ASI saya juga jadi keluar. Pas saya udah lewat masa itunya, alhamdulillah jadi deket gitu rasanya, penerimaan saya tuh sama dia jadi normal.”

Baru sekali ini saya dapat kasus kayak gini. Dan saya menyimpulkan: oh ya…setiap keputusan itu sangat tergantung konteks dan kebutuhan masing-masing keluarga. Karena setiap keluarga punya keterbatasan pilihan yang berbeda. Gak semua ibu punya pilihan tinggal di rumah, punya pengetahuan dan keterampilan, serta kesediaan dan kapasitas emosi  yang mumpuni untuk menstimulasi anak. Dan kalaupun ada ibu yang tipenya kayak gitu, bisa jadi kebutuhannya berbeda, kebutuhan anak berbeda.

Bagi saya sendiri, saya banyak belajar dari para guru PAUD anak-anak saya. Setiap kali membawa hasil kreasi seni, saya belajar …oh, botol bekas tuh bisa dibikin roket ya, gitu caranya. Oh, pendekatan ke anak tuh  yang efektif gitu ya, oh reward yang dirasa asyik oleh anak tuh yang kayak gini ya. Sebaliknya, kalau ada yang bisa di sharing, saya dan mahasiswa bantu para guru PAUD melalui program pengabdian masyarakat. Karena PAUD yang berbayar cukup besar, memang diatur bahwa gurunya minimal harus Sarjana Pendidikan Anak Usia Dini (S,Pd.AUD). Tapi banyak juga PAUD di desa yang guru-gurunya belum punya latar pendidikan yang memadai, itu yang kita bantu.

Proses berpikir dan konklusi yang dihasilkan dari diskusi dengan para emak di atas, adalah proses berpikir yang menurut saya , wajib dimiliki oleh MOM JAMAN NOW. Jaman saya jadi mahmud dulu, baru punya anak satu, untuk cari menu MPASI itu harus ke gramedia, beli bukunya. Banyak pengetahuan yang hanya bisa dimiliki oleh ibu-ibu yang niat beli dan baca buku. Tapi JAMAN NOW, informasi bagai tsunami. Bukan kita yang mencari, namin mereka yang mendatangi kita.

Dulu, saya berpikir ini adalah sebuah keuntungan. Saya berpikir, klien-klien dengan permasalahan stimulasi anak akan jauh berkurang, karena ibu-ibu udah banyak tahu. Tapi ternyata permasalahannya beda. Kalau dulu permasalahannya adalah ibu “tidak tahu”; jaman sekarang adalah “ibu bingung karena terlalu banyak tahu”.

Maka, menurut saya, kemampuan ibu berpikir kritis dalam mengolah informasi, adalah keterampilan strategis bagi seorang emak. Konon, jumlah emak bergadget yang ada, adalah sumber penyebaran hoax tercepat. Artinya, kekuatan emak bergadget tak bisa disepelekan. Nah, kalau semua emak bergadget punya kemampuan mengolah informasi sehingga gak semua infromasi disebar bulat-bulat, diikuti bulat-bulat, dinilai benar 100% atau jelek 100%; lalu menularkan pola pikir itu pada anak-anaknya, bayangkan kekuatan yang akan dimiliki oleh bangsa ini

Dear emaks, kita gak perlu galau dengan  seliweran berita. Gak perlu buang waktu ikutan mom war yang konon katanya menghabiskan energi. Kita berlatih menganalisa informasi yang ada, menilai mana yang perlu diambil mana yang bisa diabaikan. Kita belajar  percaya diri membuat pilihan sesuai kondisi kita, tanpa harus minder atau merasa lebih hebat dibandingkan pilihan emak lain. Kalau ada emak yang merasa hebat dengan pilihannya, tinggalin aja, jangan diladeni. Mending energi kita, kita curahkan untuk mengevaluasi, dan menelusuri sumber daya yang kita punya, potensi yang kita punya. Diskusi tentu saja boleh, sekarang banyak narasumber parenting. Cari  narasumber yang mau mendengarkan kondisi kita, tak hanya sekedar memberi nasihat, saran atau bahkan menilai kita selalu salah dalam mendidik anak.

Dengan proses seperti yang dilakukan para emak dalam kegiatan di atas, insya allah waktu kita tak akan terbuang untuk galau; termasuk pilihan memasukkan atau tidak memasukkan anak ke PAUD.

 

I hate you but i love you ; catatan tentang ekspresi cinta

Tulisan ini adalah lanjutan tulisan https://fitriariyanti.com/2017/12/28/my-amazing-mother-days/.

wheelchairSejujurnya, ada beragam rasa ketika melihat foto-foto anak-anak bergembira-ria di sana. Pertama dapat foto yang dikirimkan si abah, tak terasa air mata mengalir. Sedih. “If I were there”. Jadi inget ketika akhirnya saya memutuskan “memerintahkan” anak-anak untuk pergi, kala berdua dengan Mas, terucap juga kata-kata menyalahkan Mas atas peristiwa yang terjadi : “Mas sih, aku kan udah bilang pelan-pelan aja jalanin motornya. Kasian anak-anak” ; sambil sesenggukan. Ya, sebagai introvert sejati, harus bedrest beberapa hari, harus ditinggal sendirian, no problem at all. Ada segambreng aktivitas yang bisa saya lakukan. Baca, nulis, ngerjain buku, ngerjain disertasi, ngerjain ini-itu. Tapi yang bikin gak tega adalah liat konflik di anak-anak.

Meskipun setelah ngomong gitu ke Mas sih langsung istighfar. Kalau Allah sudah mentakdirkan, bagaimanapun caranya, kejadian ini sudah pasti terjadi. Dan si awal kejadian, Mas udah berkali-kali minta maaf. Tapi da ini mah udah takdir.

Hari ini adalah hari ke-3 perjalanan anak-anak dan abahnya. Hari kedua perjalanan, si bungsu yang awalnya begitu ekspresif di setiap video call, menunjukkan perilaku aneh. Dia gak mau video call-an dengan saya. Dia selalu berusaha menghindar kontak mata. Atau malah pergi.  Bahkan ketika kakak-kakaknya memaksa mendekatkan layar handphone ke wajahnya, dia menutup matanya. Kalau kakak-kakaknay begitu ekspresif: “ibu kangen…” atau “coba ibu ada di sini…”; si bungsu malah menghindar.

Perilakunya yang dengan sengaja menghindari kontak mata dengan saya, mengingatkan saya pada perilakunya 4 tahun lalu. waktu ia berumur 18 bulan, ketika saya tinggalkan ia 40 hari berhaji. Pulang ke rumah, waktu saya peluk ia dalam tidurnya, ketika terbangun, ia langsung menolak. Ia minta dipeluk kakaknya, si sulung yang waktu itu masih berumur 11 tahun. Dua hari ia menghindari saya, tidak mau saya sentuh. Mas sempat bingung, tapi saya bisa memahami perilakunya. Saya beri dia ruang, sambil memberi ruang juga buat saya (memberi ruang: Saya sesenggukan haha… ). Hari ketiga, dia mulai mau saya sentuh tapi masih menghindari kontak mata. Hari selanjutnya, ia rewel, marah, perlu seminggu untuk memulihkan perasaannya.

Kemarin, perilaku menghindar saat video call itu bertambah jadi perilaku marah. Ketika kakaknya memaksa mendekatkan layar handphone, ia tak hanya menhindar, tapi juga marah. Dan pagi tadi, ia tak hanya marah. Tapi mengancam akan mematikan layar handphone, ancaman yang benar-benar ia lakukan. Tentu tanpa melihat ke layar handphone.

Apakah ia marah pada saya? Ekspresinya marah. Tapi sesungguhnya, yang terjadi adalah, psikisnya sedang menjalankan apa yang disebut sebagai defense mechanism. Mekanisme pertahanan diri secara psikologis saat seseorang sedang merasa “tidak nyaman dan terancam sesuatu yang berat buatnya”. Defense mechanism yang ia tunjukkan namanya adalah “reaction formation”. Ia berperilaku sebaliknya dari apa yang ia rasakan. Semakin meningkat intensitas perilaku “reaction formation”nya, menunjukkan semakin besar kadar rasa tidak nyaman yang ia rasakan. Maka,  dibanding kakak-kakaknya yang begitu lugas mengekspresikan kangennya, saya tahu kadar kangennya si bungsu pada saya, jauh lebih besar. Sedemikian besarnya sampai ia butuh mekanisme pertahanan diri.

Duh, kalau udah gini teh meni rasanya pengen terbang, pengen peluk dia erat. Perasaan yang persis saya rasakan sebulan lalu, ketika suatu siang di Jatinangor saya mendapat telpon dari gurunya, bahwa si bungsu sedang di IGD, telinganya harus dijahit karena terjatuh di sekolah. Menunggu jemputan datang, rasanya pengen terbang sambil tak bisa menahan air mata.

Sebelum liburan kemarin, saat saya melaporkan progres penelitian disertasi pada promotor, kembali promotor meminta saya untuk apply program sandwich. 3 bulan di luar negeri untuk mengolah data, berdiskusi bersama profesor pemilik teori yang saya gunakan. Saat itu saya bilang bahwa saya sudah memutuskan untuk tidak apply, dengan alasan keluarga. Promotor saya meminta saya mendiskusikan ulang dengan keluarga, mempertimbangkan sang profesor sudah membuka peluang dan waktu studi masih panjang.

Saya sudah tahu jawaban yang akan saya sampaikan pada beliau. Saya sudah bulat. Ah, seperti de ja vu dua tahun lalu. Saat saya begitu galau antara mengejar impian menindaklanjuti tawaran LOA di luar, atau memilih mengajak mas bicara dari ke hati karena sikap “diam”nya terhadap semangat saya yang menggebu untuk mengejar impian di luar.

Saat itu, saya membaca buku Bukan Emak Biasa untuk melakukan revisi di cetakan kedua. Satu buku penuh, tamat dari awal hingga akhir. Setelah membaca buku itu, saya baru sadar, betapa saya sangat mencintai keluarga ini, betapa saya sangat mencintai anak-anak saya. Bersama mereka, tak sebanding dengan pencapaian apapun. Rasa yang persis saya rasakan saat ini.

My family, my chidren is not an excuse, they are my priority.

Can’t wait to hug you all…

 

 

My Amazing Mother Day(s)

Tgl 22 Desember lalu, dikenal sebagai mother day. Hari ibu. Di hari itu, banyaaaak sekali ungkapan cinta terhadap ibu. Berupa gambar, untaian kata-kata, rangkaian tulisan, lagu, bahan meme-meme; dari yang bikin terharu sampai yang lucu. Di hari itu, saya menguji mahasiswa magister bimbingan saya. Mahasiswa-mahasiswa yang saya temui di kampus, saat bertemu saya melemparkan senyum, menyapa, sebagian salaman dan cium tangan, sambil bilang: “selamat hari ibu, mbak” ;). Ibu ketua ujian, sebelum memulai dan mempersiapkan mahasiswa presentasi, juga mengucapkan “Selamat hari ibu” buat kami semua di ruangan ujian. Ya, di ruangan itu kami semua memang perempuan semua. Secara di psikologi, laki-laki adalah makhluk langka ;).

Sehari sebelumnya, tgl 21, saya mengambil raport si gadis kecil dan si bujang kecil. Di kelas 3, kelasnya si gadis kecil, selain raport saya menerima juga setangkai mawar putih dan kartu yang beberapa hari sebelumnya sudah dibuat si gadis kecil atas permintaan gurunya.

Di pagi harinya, waktu saya bangun, saya bilang ke si bungsu : “Dede, hari ini hari ibu loh”. Si bungsu yang terpapar dengan informasi mengenai hari ibu dari film-film yang ia tonton di TV kabel yang kami langgan, bilang: “Wah, de Azzam harus bikin sesuatu yang istimewa buat ibu. Apa ya? bikin kue? dede gak bisa. masakin sarapan? dede belum bisa”. “Doain ibu dong”; kata saya. “Itu mah gak istimewa, kan udah setiap abis sholat”. “Oh, dede tau …bikin kartu!” katanya. Semenit kemudian, si TK B itu menyerahkan sebuah kertas kecil berisi gambar bunga, love, matahari, bertuliskan “ibu”. Udah…gitu aja. Nothing special.

Sejak saya “bebas tugas” mengajar tahun lalu karena sekolah, kami merencanakan akhir tahun sebagai liburan besar, karena saya jadi leluasa gak terbatas oleh tanggal merah dan cuti bersama. Si abah, sejak beberapa minggu lalu tiap hari “lembur”, gak pulang-pulang dari Jakarta untuk menyelesaikan pekerjaannay agar bisa leluasa liburan. Rencana pun sudah disusun matang.

Tgl. 24-25 kami ada family gathering bersama teman-teman alumni Karisma ITB. Gathering tahunan yang selalu kami nantikan untuk melepaskan rindu dengan sahabat-sahabat seperjuangan dulu.

Tgl. 25 pagi, 6 tiket pesawat menuju Kediri sudah kami pesan. Meskipun hanya ketemu setahun dua kali, tapi anak-anak saya dengan sepupu-sepupunya, cukup dekat. Terutama dengan sepupu yang di Kediri. Mereka sering video call-an melepas rindu. Semua ponakan akan pulang kampung dan semua keluarga Kediri akan ketemuan seperti lebaran.

Tgl. 28, kami akan bergabung dengan family gathering kantor mas, menjelajah destinasi wisata di Malang dan Bromo, kembali ke Bandung tgl 2.

What a colourful holiday … maka tak heran, kami dan anak-anak menunggu-nunggu moment tersebut.

Tgl 24 pagi, saya dan Mas memutuskan untuk ke pasar. Kami akan membeli jagung buat acara gathering alumni Karisma. Kalau berdua, kami pake motor. Nostalgia saat masih berdua haha…. Di perjalanan pulang, saat itu kami sambil ngobrol, tiba-tiba dari jauh, di depan kami, berlawanan arah, terlihat ada motor kencang. Saya minta mas lebih minggir, karena keliatan si motor itu berada di tengah. Tapi hanya beberapa detik kemudian, sebelum mas meminggirkan motor, si motor di hadapan kami sudah melesat, dan senggolan tak terelakkan. Terdengar suara agak keras, motor kami oleng, saya pikir cuman senggolan bodi motor aja. Tapi kemudian saya menyadari telapak kaki kanan saya mati rasa. Ya Allah…saya lihat, ada luka dan …. “something happened”.

Si motor yang bersenggolan tetap melaju kencang, mas memeriksa kaki saya, dan kami segera melaju pulang. Sampai di rumah, turun dari motor, si mati rasa tadi sudah berubah menjadi rasa nyeri yang perlahan menjalar. Mas langsung memanggil tukang urut langganan kami, yang terpercaya menangani beberapa kali keseleo keluarga kami. Benturan tadi sepertinya mengenai bagian jari kaki kanan saya, dari arah bawah. Luka berdarahnya dikit, namun “keseleo”nya tampaknya cukup parah. Saya tak malu menangis sambil dipeluk mas saat diurut.

Setelah selesai, mulailah kami membicarakan rencana kami nanti siang. Kayaknya gak bisa ikut deh. Padahal saya adalah salah seorang “ketua suku” yang mengurus family gathering ini ;). Maka, saya langsung menyiapkan beberapa hal, mengontak beberapa teman, “mendelegasikan” apa-apa yang seharusnya saya lakukan.

Lalu gimana besok pagi ke Kediri? Lihat besok aja. Moga-moga sudah membaik. Tapi menjelang siang, rasa sakit semakin terasa. Rasanya kaki saya hancur gitu, kayak diatasnya ada buldozer hiks…hiperbola ya? tapi bener…rasanya kayak gitu. Saya termasuk orang yang ambang sakitnya tinggi. Setiap melahirkan, baru kalau udah bukaan 9, nangis-nangis. Sebelum bukaan 9 biasanya masih tahan. Tapi rasa sakit ini, bikin air mata saya gak ketahan. Melihat itu, mas meminta anak-anak berkumpul. Membahas rencana besok. Saya sih meminta mas dan anak-anak tetep pergi. Gak tega liat anak-anak udah nunggu-nunggu, juga sayang uang tiket angus (emak-emak mode: on;). Anak-anak juga ikut nangis, bahkan si gadis kecil tersedu-sedu beberapa jam. Alasan anak-anak menangis beragam: si sulung dan si bujang kecil menangis kasian liat ibu, si bungsu nangis karena pengen mudik sama ibu, si gadis kecil nangis karena konflik; di satu sisi pengen banget mudik, di sisi lain gak mau ninggalin ibu.

Setelah nangisnya reda, si abah dan anak-anak membahas lagi beberapa opsi. Opsi gak jadi liburan, opsi pergi tanpa ibu, opsi hanya sebagian yang pergi, sebagian nemenin ibu. Dua anak besar bulat gak mau pergi, mau nemenin ibu. “Ibu kan gak bisa bergerak. Walaupun minta nenek nemenin, pasti ibu lebih enak sama kita”. Si gadis kecil masih bingung, nangis lagi. Si bungsu yang awalnya memutuskan pilih opsi tetep mudik sama abah “dibantai” kakak-kakaknya: “Kamu teh gak empati banget sih…kan kita satu keluarga. Keluarga itu harus bersama dalam suka dan duka. Kamu gak kasian liat ibu? Kita juga gak akan seneng-seneng disana, pasti inget ibu terus. Kalau de Azzam sakit kan ibu juga suka batalin acara ibu sepenting apapun…itu karena ibu sayang sama de Azzam… kita kan sayang sama ibu…mana tega ninggalin ibu. Apalagi buat liburan”. Haha…memang si bungsu, dengan keterbatasan penghayatan perasaan di usianya, tiap berpisah bawaannya paling “perkasa”. Nah, nanti pas menjelang tidur, biasanya muncul video call dia nangis-nangis mau dipeluk ibu ;). Pengen ketawa deh denger dinamika musyawarah mereka di ruang tengah, sementara saya nguping dari kamar.

Maka, saya pun merelakan tiket pesawat angus. Malam itu, saya terpaksa minum obat pereda sakit karena sampai malam, rasa nyeri kian bertambah. Alhamdulillah, besoknya nyeri sudah hilang, berganti bengkak. Saya benar-benar tak bisa bergerak. Syukurlah ada 5 perawat pribadi. Gantian membawakan minum, menyuapi, mendorong kursi beroda ke kamar mandi, dll.

Memperhatikan anak-anak berempat beraktivitas di rumah, ber video call dengan keponakan-keponakannya dan bilang : “kita gak jadi liburan..mau nemenin ibu”; akhirnya saya bilang ke mas bahwa saya “memerintahkan” mas dan anak-anak untuk liburan ke Malang ikut family gathering. Saya panggil lagi anak-anak.

Mereka masih keukeuh gak mau, mau nemenin ibu. Bahkan si bungsu pun sudah ter”brain wash”; dengan alasan khasnya: “kalau ibu gak ikut, nanti siapa yang peluk de Azzam kalau bobo? gak ada yang badannya se-anget ibu”. 

Sambil tak kuasa menahan tangis, saya bilang: “Ibu seneng banget anak-anak sayang sama ibu, pengen nemenin ibu. Ibu terima sayang kalian. Tapi ibu juga sayang sama anak-anak. Ibu pengen kalian bersenang-senang. Ga apa-apa ibu ada nenek yang nemenin di sini. Betul, keluarga itu harus bersama dalam suka dan duka. Tapi kondisi ibu gak apa-apa ditinggal sendiri. Ibu bisa beresin buku ibu, ibu bisa baca banyak. Ibu gak akan menderita”. Lama……akhirnya anak-anak tetap ingin saya ikut, solusinya adalah pakai kursi roda. Oke, carilah tempat sewa kursi roda. Kondisi kaki saya sudah lebih baik dari hari sebelumnya, meskipun masih bengkak dan belum bisa menjejak.

Keputusan finalnya, kami akan ke dokter dulu, minta pendapat dokter bagaimana. Pas mau pergi ke dokter sambil ambil kursi roda …huaaa hiks…. ternyata kaki ini belum bisa ditekuk … gak mungkin bermobilitas. Maka dari situ saya ketok palu. “Anak-anak, melihat kondisi ibu, ibu perintahkan kalian liburan sama abah, ibu istirahat di rumah, nanti kita ketemu seminggu lagi, ibu udah baikan, kalian udah besenang-sennag, kita jalan-jalan lagi”.

Dan kemarin pagi mereka berangkat. Saya cium mereka satu-satu. Sejam sekali mereka video call, tanya kondisi ibu; cerita aktivitas mereka di perjalanan panjang pake bis ke malang. Si gadis kecil asyik tiduran sambil menikmati buku “Amelia”nya, si sulung dan si bujang asyik ngobrol berdua, si bungsu di pangkuan abahnya, menunjukkan alat sulap yang dia beli di perjalanan…

Dan saya…berdua dengan mamah. Ya, meskipun satu hari setelah menikah kami langsung memisahkan diri dari mamah-papah; namun setiap ada situasi emergency: melahirkan, sakit, operasi, ke luar kota, dan tentu saja saat ini, mamah adalah bantuan yang selalu bisa diandalkan. Mamah dan papah ketika masih ada, adalah back up andalan kami, baik secara teknis maupun psikologis.

Seharian kemarin, berjam-jam kami mengobrol tentang beragam hal di sela-sela aktifitas mamah mengaji, membuat makanan untuk saya, mendorong kursi roda ke kamar mandi, olesin obat…

quote-our-family-is-a-circle-2Hari ibu tahun ini, adalah hari ibu super istimewa buat saya. Karena hidup saya begitu penuh cinta. Sebagai ibu, tak diragukan lagi besarnya cinta anak-anak saya kepada saya. Dan sebagai seorang anak, saya pun bisa merasakan besarnya cinta ibu saya pada saya.

Terima kasih ya Allah, telah memberikan rasa dan mengajarkan makna cinta melalui ibuku dan pengalamanku menjadi ibu.

 

 

Ngajak Anak Nonton Film G30S/PKI: berdampak baik atau buruk?

Hari-hari kemarin timeline facebook saya penuh dengan pro & kontra mengenai kegiatan nobar film G30S/PKI bagi anak-anak. Sebagai pengamat amatir, seru juga baca beragam argumen orang-orang, baik yang pro maupun kontra. Dari mulai para akademisi, politisi, praktisi, sampai “semua orang”. Dari mulai yang pake literatur sampai yang common sense. Dari yang pake logika sampai pengalaman pribadi. Dari yang sistematis sampai yang emosional.

Berbeda dengan suami saya yang katanya gak pernah nonton film itu, jaman saya kecil rasanya selalu jadi rutinitas tahunan nonton film itu. Dalam suatu obrolan di sebuah wa grup, saat ada yang tanya pendapat mengenai nobar anak-anak terhadap film ini, saya bilang saya pribadi gak akan mengizinkan anak-anak saya nonton film ini. Alasannya sederhana saja : durasi, alur, visualisasi film ini gak didesain untuk anak. Saya ingat kalau mahasiswa-mahasiswa saya di magister psikolog bikin film untuk anak, banyak aspek yang harus diperhatikan. Durasi, alur, visualisasi, dll dll. Itu kalau memang ada tujuan spesifik yang ingin dicapai.

Tadi siang, si sulung  ujug-ujug bilang: “Bu, kita nonton film G30S/PKI yu” katanya. Trus dia cerita, sobatnya katanya semalam nonton. “Tapi katanya garing bu, banyak yang disensor. Lambang PKInya, trus darahnya jadi abu-abu katanya bu”. Hehe…seru juga denger pendapat remaja umur 15an itu. Karena TV langganan kami bisa “play back”, maka kami bisa menonton kembali tayangan film yang sudah diputar semalam di salah satu stasiun TV itu. Tiga puluh menit kami berdua menonton, sebelum harus berhenti karena kami harus ke Purwakarta, janji ke rumah neneknya. Saya tanya kesan dan pendapat si sulung tentang film yang ditontonnya : si sulung menjawab “serem”. “Apanya yang serem?” saya tanya. “Gak tau…suasananya gitu. Musiknya…Teknik pengambilan gambarnya…” katanya.

Besok, saya janjian sama si sulung untuk melanjutkan nonton film itu. Nanti saya akan ajak adik2nya juga. Kenapa?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Pro kontra mengenai dampak dari sesuatu, sudah amat amat sangat sering terjadi di kalangan masyarakat kita.

Misalnya nobar G30S/PKI ini. Yang pro mengatakan: kegiatan ini bisa menumbuhkan rasa cinta tanah air, menumbuhkan kesadaran akan bahayanya PKI, dll. Yang kontra berkata: anak bisa cuman nangkap sadisme nya aja, anak bisa terdorong untuk melakukan tindakan agresi, dll.

Kasus lain yang saya ingat, kasus anak melihat penyembelihan hewan qurban. Kata yang pro : bisa menumbuhkan rasa tauhid. Kata yang kontra : bisa menumbuhkan perasaan trauma.

Kasus lainnya lagi: soal tepuk “islam yes kafir no”. Kata yang pro: tepuk ini bisa menumbuhkan tauhid. Kata yang kontra: tepuk ini bisa menumbuhkan radikalisme.

Debat pro dan kontra ini, biasanya gak berujung pada satu titik temu. Malah biasanya merembet ke hal-hal lain yang seringkali “gak nyambung”. Biasa…hitam putih gitu.

“Gak ngijinin anak ikut nobar film G30S/PKI? berarti kamu pendukung PKI”.

“Ngebolehin anak liat penyembelihan hewan qurban? berarti menanamkan bibit traumatik pada anak. Artinya tidak siap jadi orangtua”.

Seolah-olah gak mungkin ada opsi lain. Seolah-olah setelah nonton, kalau gak cinta tanah air ya jadi PKI. Seolah-olah setelah liat penyembelihan hewan qurban, kalau engga bertauhid, ya traumatik. Seolah-seolah setelah tepuk “islam yes kafir no”, kalau engga tauhid ya radikal.

Dan memang pro kontra ini gak akan pernah bisa ketemu karena…. masing-masing pihak beranjak dari asumsi masing-masing. Asumsi.

pkiHanya ada satu cara yang bisa mempertemukan dua asumsi ini. Dan rasanya belum banyak yang mengemukakan: buktikan secara empirik ! Kita suka lupa kalau yang kita omongin itu, anak-anak itu, bukan benda mati. Mereka hidup. Dan mereka pemeran utamanya. Seolah-olah yang menentukan apa yang tumbuh dalam pemikiran dan perasaan mereka itu kita. Buktikan secara empirik apa yang sesungguhnya terjadi pada mereka. Mereka yang mengalami dan menjalani kok. Anak-anak itu. Mereka narasumber yang paling sahih.

Misalnya dalam kasus tepuk “islam yes kafir no”. Apakah yakin dengan melakukan tepuk itu ketauhidan anak-anak tumbuh? apa indikatornya? apakah yakin dengan tepuk itu anak akan tumbuh menjadi radikal? apa indikatornya?

Mari temukan jawabannya dengan data empirik. Ilmiah. Ada metodenya. Eksperimental atau kuasi eksperimental. Buat indikator ketauhidan dan radikalisme. Buat treatmentnya. Satu kelompok lakukan tepuk itu sebulan berturut-turut, satu kelompok engga. Lalu ukur ketauhidan dan radikalismenya.

Jangan-jangan, saya curiga….tauhid gak tumbuh, radikalisme gak tumbuh. Lempeng aja gitu. Karena mungkin bukan di tepuknya tauhid atau radikalisme itu tumbuh. Tapi dari penjelasan dan elaborasi guru terhadap tepuk itu. Anak-anak TK kan konkrit. Sedangkan “yes” dan “no” itu abstrak.

Demikian juga pada kasus-kasus lain. Kasus melihat penyembelihan hewan Qurban misalnya. Soalnya tiap tahun ituuuuuu aja yang yang diperdebatkan. Juga soal nobar ini. Buat indikator “cinta tanah air”; buat indikator “mewaspadai paham komunisme”. Lalu ukur pada dua kelompok: yang nonton sama yang engga. Bisa pake desai ex post facto, eksperimental atau kuasi eksperimental. Saya juga curiga, jangan-jangan “tak berbekas” apa-apa.

Itulah sebabnya saya gak akan mengizinkan anak-anak saya kalau ada acara nobar film ini di sekolahnya. Apalagi anak SD. Gak kebayang anak-anak millenial kelas 1 – 3 SD, yang rentang konsentrasinya masih bergerak di kisaran 60 menit, nonton film yang sangat tidak menarik buat usia mereka (buat yang nonton, coba ingat-ingat lagi adegan-adegan awal. Narasi dengan kalimat2 panjang dengan gambar-gambar tak bergerak, orang lagi sholat diserang, kakek-kakek nenek-nenek antri, presiden disuntik, ….). Dengan durasi sekian panjangnya.

Menurut saya, menumbuhkan sesuatu itu tidak mudah. Menumbuhkan rasa cinta tanah air. Menumbuhkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap paham komunisme…. itu harus ada penjelasan yang age-appropriate.

Misalnya aja, Tadi, setelah nonton 30 menit itu, saya dan abahnya bertanya; “Kaka ngerti gak paham komunis itu apa? bisa gak ngasih contoh?” si kelas 9 itu menggeleng. “Kalau misalnya kaka di kelas, ulangan. Ada yang belajar ada yang engga. Terus yang belajar harus ngasih tau yang gak belajar, biar nilainya sama. Gak boleh ada yang 100, gak boleh ada yang 0. Harus 70 semua. Nah, itu sama rata sama rasa. Menurut ibu dan abah, kayak gitu ideologi komunis teh. Kaka setuju gak?” “Ih, engga atuh, enak aja gak menghargai yang berusaha”. 

Nah, kalau ibu guru-bapak guru gak melakukan elaborasi apa-apa, cuman nobar aja, saya gak tau apa yang ketangkep sama anak-anak itu.

Si pencarian fakta empirik, penelitian yang saya usulkan untuk dilakukan itu, emang ada yang mau melakukan? emang negara mau melakukan? Kalau saya jadi mentri mah mau saya lakukan da  (haha…halusinasi tengah malem).

Tapi yang jelas, saya akan lakukan. Saya akan ajak 4 anak saya nonton, lalu masing-masing akan saya amati reaksinya, saya tanya pemahaman mereka apa, perasaan mereka gimana, kalau negatif akan saya berikan debriefing, kalau takut saya bisa hentikan, akan saya catat rentang konsentrasi masing-masing anak berapa lama; kayak kalau mahasiswa saya bikin film untuk anak lalu mereka lakukan uji coba.  Sehingga kalau tahun depan ada polemik pro kontra soal nobar ini, trus saya ditanya sebagai psikolog, saya punya data empirik untuk menjawabnya. Tidak hanya berdasarkan asumsi dan perasaan semata.

 

 

Mencerna Duka

Setiap kali saya membuka agenda saya, setiap hari Kamis, 2 minggu sekali, tertulis dengan spidol merah: “Kemo Papah”. Hari ini, hari ke-22 papah tiada. Setiap teman yang bertemu, selalu bertanya: “gimana mamah?”. Khusus teman-teman dekat Psikologi, mereka juga bertanya: “Lu sendiri gimana?”.

Sampai hari ke-7 papah tiada, saya menemani mamah di Purwakarta. Selain menemani secara fisik, saya ingin memastikan bahwa mamah melalui proses berduka dengan sehat. Saya tahu bahwa perilaku yang kasat mata terlihat “hebat, kuat, ikhlas”; seringkali tak berarti baik secara psikologis. Dan jika tak baik, artinya ada dampak tak baik juga. Saya mencermati apakah mamah akan punya social support yang memadai untuk melalui kedukaan ini.

Berduka. Ya. Tidak mudah bagi seseorang kehilangan pasangannya, setelah 39 tahun bersama. Salah satu butinya, Holmes and Rahe pada tahun  1967 mengembangkan  kuesioner yang bernama The  Social Readjustment Rating Scale (SRRS), untuk mengidentifikasi kejadian hidup yang membuat stress (stressful life events). Hasilnya, menempatkan “kematian pasangan” sebagai kejadian yang menimbulkan stress di urutan pertama, dengan skala 100.

Di 7 hari pertama itu, saya menemani mamah mencerna ketiadaan papah. Dan saya melihat, cara budaya membantu mamah menjalani proses berduka di tahap awal, sangat terasa. Selama 7 hari, ada pengajian setiap bada isya. Tamu-tamu masih mengalir. Mendengarkan kenangan-kenangan baik sahabat-sahabat, kenalan, para “mantan”  murid, “mantan” mahasiswa papah, membantu kami merasa tenang. Secara kognitif.

Mempersiapkan “gudibag” di pagi hari bagi puluhan jamaah masjid yang mengaji mendoakan papah, dengan bantuan dari teman-teman pengajian mamah, membantu mamah meluapkan segala rasanya. Saya mengamati teman-teman pengajian mamah yang rata-rata juga sudah ditinggalkan wafat suaminya, menemani mamah dengan caranya masing-masing. Ada yang menyampaikan pendekatan agama: “kalau kangen, doa aja sama baca Al Ikhlas. Biar kita ingat bahwa rasa kita ini gak boleh melebihi tauhid kita pada Allah”. Ada yang menyampaikan pendekatan “humoris”: “sebenernya kalau seumur kita, yang bikin sedih itu kalau pas genteng bocor, gak ada yang dimintai tolong”. Ada juga pendengar yang baik, yang memvalidasi semua perasaan mamah. “Iya, wajar kalau nanti kasuat-suat. Gapapa nangis aja yang puas”.

Di hari ketujuh, budaya di derah mamah adalah, keluarga memberikan/membagikan pakaian almarhum pada kerabat/jamaah pengajian. Maka di hari ketiga, mamah mengajak saya mengeluarkan baju papah. Saat itu, setiap baju yang keluar dari lemari, mamah ceritakan belinya dimana, dipakai waktu kapan, lalu mamah menentukan itu akan dikasih ke siapa. Saya sendiri memilih sarung yang 2 hari sebelum wafatnya papah, masih papah pakai untuk sholat Iedul Adha. Mamah melakukan proses itu sambil tersedu. Saya merasa kegiatan ini menfasilitasi cara berduka yang sehat.

Besok harinya, giliran saya yang tersedu-sedu. Kami akan membagikan buku-buku papah. Buku-buku agama yang sekiranya tidak akan dibaca mamah, kami sumbangkan ke perpustakaan mesjid. Kebanyakan tugas-tugas mahasiswanya. Sebagian besar yang lain referensi saat papah menyususn tesis 2012 lalu. Saya berikan pada adik saya yang guru, untuk diberikan pada rekannya yang membutuhkan. Sebagian besar yang lain adalah buku-buku bahasa dan sastra juga karya-karya tulis papah. Yang ini, saya bawa ke Bandung.

Kenapa saya yang tersedu-sedu? Karena saya ingat bagaimana asal muasal dunia saya kini. Waktu SD, sepulang sekolah saya selalu dibawa papah mengajar. Dan perpustakaan, adalah tempat favorit saya. Saya benar-benar tenggelam dalam buku. Dan nikmat sekali rasanya. Setiap tugas mahasiswa dulu, resensi roman-roman semacam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Robert Anak Surapati…. setiap ada buku baru yang datang ke perpustakaan di SMA tempat papah mengajar, rasanya saya yang baca terlebih dahulu. Lalu bagaimana papah mengajarkan mengarang yang baik, menyusun naskah pidato yang baik, mengikutsertakan saya di berbagai perlombaan mengarang dan pidato, menemani saya kala degdegan di pertandingan tingkat kabupaten, provinsi, tersenyum bangga saat saya pulang membaaw piala, atau menghibur saya kala saya pulang dengan tangan hampa.

Hari ke-9, mamah ke rumah saya, karena mengurus berbagai surat ke Bandung. Memasuki kamar tempat papah ia rawat 7 bulan terakhir, melihat tongkat papah, kursi yang biasa diduduki papah, mamah tersedu lagi. Wajar. Ketemu tukang sayur yang suka ngobrol sama papah saat papah berjemur, mamah menangis. Ketemu tukang baso malang langganan papah, ketemu pak satpam yang suka nemenin papah jalan pagi, nangis. Ya, saya sangat bisa memahaminya. Itu adalah proses yang sehat menurut saya.

Kemarin mamah bilang bahwa setiap malam ia tidak bisa tidur, inget papah terus. Saya bilang wajar. Lalu saya ceritakan beberapa pengalaman senior saya atau klien saya, para istri yang ditinggal wafat suaminya. Tidak mudah. Sangat tidak mudah. Dan saya tahu betul itu tidak mudah.

Mamah, 39 tahun bersama dalam berbagai episode kehidupan. Susah senang, pahit manis, tertawa menangis…. Saya, mungkin intensif dengan papah 15 tahun pertama saja. Tapi sampai hari ini, saya masih “mencerna” kematiannya, masih “mencerna” kejadian ini. Sejak kembali dari Purwakarta 2 minggu lalu sampai sekarang, saya masih drop. Tekanan darah drop, asam lambung naik. Teman saya, dokter yang saya datangi  bilang: “kayaknya lu kurang istirahat deh, kecapean kali”. Apa ya? padahal justru otak ini kayak belum mau diajak “kerja”. Pekerjaan yang membutuhkan pemikiran “serius” belum bisa saya lakukan. Oh ya…saya tahu… setiap malam, saya tidur. Tapi rasanya pikiran saya tidak tidur. Saya masih mencerna apa makna kematian papah. Padahal saya ikut semua prosesnya. Memandikan, mengkafani, menyolatkan, sampai ke liang lahat. Tapi saya tetap merasa butuh waktu untuk mencerna semua ini.

Berbeda dengan si bungsu yang dengan “sederhana”nya berkata: “kakek kan udah meninggal, udah dikubur, udah gak ada”. Bagi saya, ternyata tak sesederhana itu. Saya tidak tahu apa nama rasa yang saya rasa kala saya tiba-tiba menangis. Secara kognitif, saya tahu ini yang terbaik untuk papah. Saat minggu kemarin saya demam, saya sesak, saya batuk, saya ingat bahwa sakit yang saya rasa, tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang papah alami. Jadi, ini yang terbaik. Bahwa setiap manusia akan wafat… ya, saya mengerti. Rasa yang menyertai tangis ini…bukan sedih yang sakit, tapi …mungkin ini yang namanya “duka”

Seperti juga yang saya bilang pada mamah dan adik-adik saya yang punya cara berduka dan meresapi kehilangan dengan caranya masing-masing, saya juga membiarkan saya melalui proses ini. Proses mencerna ini, rasa “aneh” ini, tangis ini, rindu ini…

Saya ingin perasaan ini  larut perlahan, saya akan menikmati prosesnya. Maka, pada teman-teman psikologi yang sangat concern bertanya: “lu sendiri gimana?”. Saya bilang: “gue menjalani proses berduka. tenaaang…gue nangis kok”. Ya, seperti yang saya bilang pada mamah, akan butuh waktu lama and it is oke not to forget someone we love. Saya tahu, akan ada moment-moment yang mengingatkan setiap waktu, situasi atau tempat pada kehadiran papah. Kami mungkin akan menangis tahun depan, tahun depannya lagi, tahun depannya lagi, but i think it is oke. Saya berusaha mengimbangi setiap titik air mata dengan doa. Biar hujan airmata ini, papah rasakan sebagai hujan pelukan doa.

Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu.

Jiwa Tenang Itu Telah Bersama Rabbnya

“Ya Ayyatuhan Nafsul Muthmainnah. Irji’i ila rabbiki raa dhiyatam mardhiyyah.  Fadkhuli fi ’ibadi. Wadkhuli jannatii…”

“Wahai jiwa yang tenang… Kembalillah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” ( Qs Al Fajr : 27-30)..

Jiwa yang tenang….
Itulah yang menggambarkan 7 bulan terakhir kehidupan papah, sampai dengan wafatnya subuh tadi.

Sejak Februari, kanker papah yang telah terdiagnosa sejak setahun lalu, telah menyebar ke paru. Stadium lanjut. Dokter yang berdiskusi dengan saya, menyatakan bahwa secara medis, sesungguhnya sudah tidak ada harapan. Treatmen yang disarankan dokter adalah, kemoterapi. 

Sebenarnya sejak tahun lalu, ketika terdiagnosa ada tumor di usus papah dan lalu tumor itu berhasil diangkat  melalui operasi, dokter menyarankan kemoterapi. Hanya setelah kami sekeluarga berembuk, mempertimbangkan kondisi psikologis papah dan juga mamah yang akan menjadi caregiver utama, saya menyampaikan pada dokter bahwa kami belum siap menjalaninya. 

Kami sekeluarga siap menjalani kemoterapi dengan satu keinginan: menghilangkan rasa sakit yang dirasakan papah. Ada masa dimana kami tidak sanggup melihat papah menahan sakit yang amat sangat. Dengan seluruh kesadaran mengenai dampak kemoterapi, kami menjalaninya. 

12 kali, per 2 minggu. Itulah treatment kemoterapi yang harus papa jalani. Sekali kemoterapi, 4 hari menginap di RS. 1 hari persiapan, dan 3 hari kemoterapi. Sehabis kemoterapi pertama ketika dampaknya mulai terasa, saya bertanya pada papah: “apakah papah akan lanjut? kalau papah gak kuat, kita cari alternatif lain”. Papah bilang lanjut. Ya, papah memang pejuang. Saya tahu betul perjuangan hidup papah. Kisah masa kecil dan perjuangan papah, adalah kisah favorit yang selalu saya minta ulang untuk diceritakan kala kecil dulu. 

Selama 7 bulan perawatan, beragam episode kami lalui. Di awal-awal kemoterapi, beberapa kali kondisi papah naik turun, beberapa kali mamah merasa “ini adalah saatnya papah pergi, ketika melihat papah tidak bisa bernafas tanpa alat bantu oksigen. Meskipun saya ingin papah selalu di Bandung di rumah saya selama pengobatan, tapi sesekali papah pulang. Kadang sehari kemudian kami jemput lagi karena drop, tapi  kadang papah cukup baik kondisinya sehingga pulang selepas kemo, dan kembali ke Bandung  menjelang kemo. Beberapa kali kami ke UGD karena kondisi papah yang drop. Terkadang papah tampak sangat segar… hingga harapan kami papah bisa kembali beraktifitas tumbuh kembali. 

Tapi selama episode jatuh bangun itu, satu yang tak berubah dari papah. Semangatnya. Kala papah sudah perlu tongkat untuk berjalan, papah tetap berjalan pagi di komplek kami. Ada satu lagi yang amazing dari papah. Kesabarannya. Kondisi yang semakin lama semakin drop, pastinya akan membuat frustrasi. Mobilitas yang menjadi terbatas, di akhir-akhir suara papah menjadi mengecil dan sempat hilang. Namun tidak pernah terlihat rasa kesal apalagi marah. Saya selalu terharu mendengar doa papah yang didahului oleh kalimat: “Gusti, abdi nampi, abdi ridho….” . Yang membuat papah selalu sedih adalah tiap adik saya, mas dan anak-anak saya ke mesjid terutaam sholat jumat, juga ketika kami berbuka puasa senin-kamis. Papah sedih karena tidak bisa melakukannya.

Di bulan April, saya ingat saya mempersiapkan Naskah Usulan Penelitian saya, sebagian besar di kamar rumah sakit sambil menunggui papah. Secara rasional, tidak optimal. Tapi entahlah….kata-kata yang mengalir dari papah yang mendoakan kelancaran studi saya, keberadaan papah di rumah saat saya mencium tangannya di pagi saya akan ujian, menumbuhkan kayakinan yang kuat bahwa … saya berada dalam gelembung keberkahan. Gelembung keberkahan yang akan membuat saya baik-baik saja, seberat apapun episode hidup yang akan terjadi pada saya. 

Sebulan lalu, hasil CT Scan papah menunjukkan bahwa kanker terus menyebar, ke liver dan tulang. Beraaat sekali rasanya saya harus menyampaikan pada papah kabar bahwa 9 kali kemoterapi yang telah dijalani akan di stop, dan papah akan memulai pengobatan baru. Berat karena papah sudah menghitung …. bahwa kemo-nya tinggal 3 lagi. Setelah itu, papah merasa akan “sembuh”. Kami sudah merencanakan akan umroh bersama. “Papah pengen sholat deket ka’bah, tapi suka kasian mamah gak ada yang jaga. Kalau sama teteh dan mas kan mamah ada yang jaga”.  

Padahal yang terjadi adalah, kami harus memulai kembali sesi kemoterapi selanjutnya. Dari beberapa opsi yang ada, kami memilih kemoterapi dengan dosis rendah. “Papah tidak kesakitan”. Itu saja keinginan kami. Pelan-pelan saya jelaskan kondisinya….bahwa kanker itu, masih ada dan perlahan menyebar dalam tubuh papah.  Di luar dugaan saya, papah mengerti, dan menerima. Saya kaget ketika papah bilang: “Oh, jadi sekarang papah harus bersahabat dengan kanker ini ya…”. Saya tanya apakah papah masih mau lanjutkan pengobatan, papah tanpa ragu mengatakan ya. 

Seminggu menjelang sesi kemoterapi baru, kondisi papah semakin ngedrop. Papah tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Kalau ke kamar mandi jadinya harus diangkat. Saat itu, saya sampai tak berani menatap wajah papa. Tampak sangat lelaaaah dan kesakitan. Namun tidak ada rasa sakit yang terasa sebenarnya. Hasil lab papah buruk sekali. Tiap saya jenguk ke kamarnya, entah papah sedang tidur atau sedang bangun, tangannya menggenggam tangan mamah. Tak pernah lepas.

Tapi setelah kemoterapi tgl 30, 5 hari lalu, saya terkaget-kaget ketika siangnya saya sampai rumah, papah sedang di teras dengan kursi rodanya. Wajahnya tampak segar. Hari itu hari rabu, 2 hari menjelang idul adha. 

Setiap idul adha, adalah waktu keluarga kami berkumpul. Setelah kami bertiga menikah, maka disepakati idul fitri di keluarga menantunya, idul adha di purwakarta. Kami bertanya pada papah, papah mau idul adha dimana? di Purwakarta atau di Bandung? Papah menjawab di sini saja, di rumah saya. Sebelumnya, kami pesimis apakah papah masih bisa ikut sholat Ied. Tapi subuh itu, saat saya belum mandi, papah sudah siap. Sebelumnya kami sudah mensurvey tempat sholat yang mudah medannya menggunakan kursi roda. Saat itu, papah masih merasa sulit menggerakkan tubuhnya. Jadi dari mobil ke kursi roda dan dari kursi roda ke mobil, sudah kami pangku. Tapi komunikasi papah masih dua arah, meskipun suaranya sudah banyak menghilang. 

Selepas sholat, menyaksikan cucu-cucunya heboh membakar sate, nafsu makan papah yang sempat hilang muncul lagi. Kami sama-sama menikmati masakan spesial mamah. Sudah sekitar seminggu papah harus disuapi, karena tangannya tidak bertenaga lagi. Saat itu, sudah ada rencana papah ingin pulang dulu sebelum kemo selanjutnay tgl 14. Saya sendiri, selalu mengikuti apa yang papah inginkan. Kenyamanan rasa. Apa lagi yang bisa kami berikan pada papah dalam kondisinya? menurut saya itu yang terbaik yang biaa kami berikan. Hari Sabtu, papah masih ragu pulang atau tidak. Hari Minggu pagi, bada subuh mamah bilang papah pengen banget pulang ke Purwakarta. Melihat kondisinya yang cukup segar, saya pun izinkan. Kami gendong papah ke mobil adik saya yang akan mengantar, kami cium tangannya. 

Jam 3 kemarin, adik saya mengirim foto. Papah sedang duduk di pinggir kolam, melihat ikannay yang besar-besar. Meskipun di kursi roda, namun bahasa tubuhnya menunjukkan ia memiliki “daya”; tidak lemas. Saya senang sekali. 

Tadi subuh, telpon rumah berdering-dering. Di sebrang telpon, terdengar suara isak tangis mamah. 

Papah…subuh tadi, sang malaikat maut menjemputnya dengan lembut. Ya….kami menangis, kami bersedih, kami kehilangan. Namun semua itu diiiringi oleh perasaan tenang. Tenang karena seluruh doa kami, telah dikabulkan olehNya. Doa bahwa papah tidak diambil dalam keadaan kesakitan. Beberapa bulan terakhir ini, tidak ada keluhan sakit yang papah rasa. Dampak kemo pun tampak minimal. Dan doa agar papah diambil nyawanya dengan cara yang mudah. Doa ini, papah sendiri yang panjatkan sebulan terakhir ini. 

Kala memandikan papah tadi, saya genggam terus tangannya. Ya, saya tidak lagi bisa mencium harum khas kulit papah lagi. Tentu saya sedih sekali. Tapi kesedihan ini diiringi  ketenangan. Tangan itu, adalah tangan yang saya lihat selalu dipakai bertakbir segera setelah adzan selesai. Dalam segala situasi: berdiri, duduk, berbaring; di rumah saya, di rumah sakit, di UGD….

Orang bilang, sebagai anak saya sudah maksimal berbakti pada papah di akhir hidupnya. Tapi entahlah…masih banyak penyesalan yang saya rasakan. Masih banyak “kurang” yang saya rasa. Saya ingat, setiap kali saya cium tangan papah selama papah sakit, papah yang selalu bilang “hampura papah nya teh”. Rasanya saya belum banyak meminta maaf sama papah. 

Waktu awal kakeknya ada di rumah kami, saya jelaskan pada anak-anak kondisi sakit kakek. Saya jelaskan tentang kanker. Si gadis kecil yang ceriwis bertanya pada saya: “Kenapa sih bu, Allah teh menciptakan penyakit jahat banget kayak gitu, Allah gak sayang gitu sama kakek?”

Saat itu saya jelaskan bahwa Allah memang memberikan kesakitan, kesedihan, tapi Allah tidak pernah memberikan keburukan. Selalu kebaikan yang Allah berikan. Hanya bentuknya yang berbeda.

Kebaikan apa yang Allah berikan dengan sakitnya papah?

Mendengarkan dzikir istighfar papah setiap kali merasa kesakitan, saya teringat kata-kata seorang ustadz: “Allah mungkin menciptakan kesakitan, karena hanya dengan cara itu dosa seseorang bisa terampuni, jika dia ikhlas”. Menyaksikan penerimaan yang papah tunjukkan dengan sikap, perilaku dan kata-kata terhadap kondisinya, membuat saya memahami bahwa seberat apapun ujian, kita punya kapasitas untuk menjalaninya. Melihat bagaiman mamah dan papah terikat begitu kuat, membuat saya yakin “growing old together” dan cinta sejati itu ada. Dan bersama-sama menjalani ujian ini sebagai satu keluarga; kami 5 putera/puteri, 3 mantu dan 8 cucu yang saling bahu-membahu, memberikan semua yang kita punya -harta, tenaga, waktu, pengetahuan, kelucuan- , membuat saya yakin bahwa kerja keras membangun sebuah keluarga, tak akan berakhir sia-sia.

papahIstirahatlah pah. Perjuangan papah sebagai seorang suami, sebagai seorang ayah, telah berakhir. Kini saatnya papah menikmati buah dari perjuangan papah: untaian doa yang tak akan lupa kami panjatkan minimal 5 Kali sehari. Meskipun secara raga papah sendiri, tapi secara ruh, kami selalu bersama papah. Mamah selalu menggenggam tangan papah, kami – 5 anak, 3 mantu, 8 cucu- selalu bersama papah; seperti 4 hari lalu. 

Kami akan teruskan kebaikan-kebaikan papah. Kami akan terus saling menjaga. Sampai bertemu lagi di syurgaNya pah. Banyak yang rindu suara papah kala menjadi imam di mesjid. Apalagi kami. 

Allahummaghfirlahu warhamhu, waafihi wa’fuanhu.

Previous Older Entries Next Newer Entries