Captain America vs Hulk : Obrolan Cinta dengan Kaka

Beberapa minggu lalu, kayaknya sebagai bagian dari promosi buat film Spiderman Homecoming yang tayang di bioskop, TV kabel yang kami langgan memutar film-film Marvel. Saya gak pernah tertarik untuk nonton film action kayak gitu. Lebih seneng drama tentunya. Tapi nemenin si sulung dan si bujang, jadilah saya nonton Captain America: Civil War. Seru juga ternyata. Dan Karena itu adalah sekuel terakhir dari film-film Marvel, maka sepanjang nonton saya terus nanya-nanya terus tentang tokoh2 disana. Si sulung dan si bujang menjawab: “Ibu…kalau ibu mau ngerti, ibu harus nonton Captain America: First Avenger, Captain America: Winter soldier, Thor, Thor The Dark World, Avenger, Avenger Age of Ultron, The Hulk, Incredible Hulk, Iron Man 1,2 dan 3″. Ya ampuun …. banyak amat. Mereka taunya dari mana ya? Harus bareng nih kalau nonton film-film kayak gitu. Daaaaan….seminggu itu, pas anak-anak belum masuk sekolah, sebagian film yang disebutkan si sulung dan si bujang, tayang juga. Jadilah tau sejarah Thor punya hammer, siapa itu Bucky dan Loki, Vision itu siapa, dll dll. Khatam lah pokoknya chapter Avengers kkk.

avengerWaktu itu, 4 hari si bujang kecil dan si gadis kecil ikutan kegiatan liburan. Si bungsu bobo siang. Jadilah saya dan si sulung nonton Avenger berdua. Sambil rebutan gurilem cemilan kami. Setelah nonton, saya tanya si sulung: “Kaka, dari Avengers Kaka paling seneng sama siapa?” Sepersekian detik, dia langsung jawab: “Kapten Amerika!”. “Kenapa?” tanya saya. Nah, bagian mendengarkan jawaban dari pertanyaan kenapa yang saya ajukan ke anak-anak, selalu seru dan selalu saya nikmati. Saya selalu excited mendengarkan pikiran dan perasaan anak-anak umur 5,8,11, dan 14 tahun itu. Teknik proyeksi kalau dari sudut pandang psikologi mah.

“Ya jelas lah ibu…..ganteng. Terus baik banget. Ibu inget kan waktu latihan trus dilemparin granat tea? yang  waktu dia masih ceking? trus dia teh malah meluk granat itu buat ngelindungin temen-temennya? so sweet banget …” Begitu jawab si sulung. Haha…memang sih..kalau film ini dimaksudkan untuk membentuk citra yang baik pada “prajurit Amerika”, film ini berhasil banget. Banget.

Lalu si sulung bertanya pada saya: “Kalau ibu suka sama siapa?” Saya jawab: “Dr. Bruce Banner”. “Haaaaah…beneran Bu, Ibu suka sama Hulk?” matanya membelalak tak percaya. “Bukan Hulk Kaka, Dr. Bruce Banner. Memang dia berubah jadi Hulk, tapi kan dia sendiri bilang Hulk itu the other guy. Beda sama dia”

“Ih, aneh ibu mah. Dia kan paling gak ganteng ibu”…… “Iya, tapi dia teh menurut ibu paling menonjol inner beautynya. Humble banget. Itu yang gak terlalu dimiliki yang lain. Padahal dia kan pinter banget. Dia tau banget kelemahan dia, dan dia berjuang mengendalikan. Kan dia mengabdikan dirinya di India”. Saya menjelaskan. “Tapi wajar sih Kaka pilih Kapten Amerika. Ibu juga kalau seumur Kaka pasti pilih Kapten Amerika”. Kata saya lagi. “Haha…iya Kaka juga ngerti kenapa Ibu suka sama Bruce Banner. Ibu kan udah tua haha….” nikmat banget ketawa si sulung.

“Yah, tapi itulah Ka…..rasa cinta itu berevolusi. Kalau seumur Kaka, meskipun ada unsur pertimbangan “baik atau engga”nya, tapi tampilan fiisk pasti yang utama. Pasti Kaka juga suka sama cowok pertimbangan utama karena menarik secara fisik. Bikin degdegan. Begitu juga Kaka disukain cowok karena fisik Kaka. Kalau kata teori, itu namanya romantic love. Gak salah sih. Kalau kayak Kapten Amerika ganteng dan baik, alhamdulillah. Tapi pada kenyataannya nanti, seringkali kita harus memilih. Antara ‘suka’ karena perasaan atau “suka” karena rasional, karena kualitas dirinya.”

“Nah, kualitas diri itu, baru ajeg kalau udah dewasa. Makanya, gapapa kalau Kaka suka dan disukai sama temen seumur Kaka. Tapi kalau memutuskan untuk memberikan seluruh diri kita sama orang itu saat ini, kayak misalnya berhubungan sex, itu salah banget. Simpan dulu aja rasa suka itu dalam hati. Karena belum keliatan kualitas sesungguhnya dari orang itu.” 

“Nah..kalau udah seumur ibu dan abah, fisik tuh udah gak penting lagi. Seganteng-ganteng orang, kalau udah tua ya gak ganteng lagi. Jadi gendut lah, botak lah, apalagi kalau udah kena penyakit. Suka sama fisik itu, kalau dijadikan satu-satunya pertimbangan, akan bentar banget bertahannya. Kalau udah seumur ibu dan abah, yang membuat jatuh cinta adalah kebaikan hati. Jadi kebaikan hati itu yang harus jadi pertimbangan utama. Kayak Dr. Bruce Banner haha….. Bayangkan kita akan hidup bersama dengan orang itu, menderita banget kita kalau dia ganteng tapi nyebelin”

“Tapi kalau ada yang kayak Kapten Amerika ganteng terus dan baik, oke kan bu?”//Iya sih, tapi kayaknya model gitu cuman ada dua orang Ka, satu udah meninggal satu lagi belum lahir” 

Hahaaa…kami pun tertawa nikmat bersama.

Kurang lebih dua tahun menjadi ibu dari seorang remaja, saya mengalami betapa sulitnya membuka dan menjalin komunikasi yang menyenangkan dengan mereka. Padahal nilai-nilai kehidupan justru kritis harus masuk di masa ini, sejalan dengan “studi kasus nyata” yang mereka hadapi sehari-hari. Dalam beberapa tulisan sebelumnya saya menuliskan pengalaman sulitnya “membuka pintu” masuk obrolan dengan remaja. Kalau sama adik-adiknya, gampang. Tinggal bilang: “sini, ibu peluk”. Dan sambil memeluk mereka, gampaaaaang banget ngajak ngobrol apapun. Dari yang remeh temeh gak penting, sampai dengan suara dari lubuk hati terdalam.

Nah kalau sama si remaja? meluk? kalau gak dalam konteks pamit, aneh banget. Ujug-ujug ngajak ngobrol? udah saya coba. Awkward banget. Obrolan dengan para orangtua remaja, membuat saya menyimpulkan bahwa hal yang paling sulit mengasuh remaja adalah, membuka obrolan untuk masuk ke konten “serius”

Maka, obrolan ringan seperti yang terjadi di atas, sangat saya nikmati. Saya merasa sudah menemukan satu lagi pintu masuk, menambah koleksi “pintu masuk” lainnya. Dan seperti yang dituliskan di beragam buku, remaja usia SMP itu, masih membutuhkan orangtuanya. Mereka senang ngobrol, haha hihi, curhat sama teman sebayanya. Tapi mereka juga masih enjoy ngobrol, haha hihi dan curhat sama orangtua serta sudara-saudaranya.

Saya sangat suka dengan perumpamaan mengasuh remaja itu seperti bermain layangan. Kadang benangnya kita ulur sampai tak terlihat, kadang kita tarik dan kita pegang. Tapi yang jelas, benangnya jangan sampai putus. Nah, mempertahankan agar benang itu tak putus, saya rasakan bukan hal yang mudah. Karena kalau sudah putus, sulit. sangat sulit menyambungkannya lagi. Maka, sekali lagi, obtrolan ringan dan lucu seperti ini, sangat saya nikmati dan saya syukuri.

 

Advertisements

WARAS

Pagi ini, saat saya melepasnya untuk berangkat sekolah, si bungsu yang lagi bangga-bangganya karena jadi “anak TK B” itu bertanya:

“Ibu, ibu pergi gak hari ini?”. Saya jawab : “engga, ibu mau ngerjain di rumah aja”. Hari ini saya dikepung deadline pengerjaan disertasi. Ada tiga PR yang harus selesai hari ini. Biasanya, jawaban “engga” dari saya terhadap pertanyaanya membuatnya bersorak kegirangan. Lalu dia akan memeluk saya dengan bahagia. Tapi hari ini berbeda. Segera setelah saya menjawab, wajahnya merengut dan lalu ia berkata: “kenapa sih ibu ada di rumah terus? De Azzam kan udah lama engga ke rumah teh Rini. De Azzam kangen ke rumah teh Rini”. Memang sejak setahun belakangan ini, sejak saya berstatus tugas belajar, mayoritas waktu saya habiskan di rumah, di meja kerja saya.

Kalau si bungsu adalah sulung, sepertinya saya sudah akan shock, lalu “down”. Seperti beberapa tahun lalu saat si sulung lebih memilih bermain dengan pengasuhnya ketimbang dengan saya, perasaan “marah, kesal, merasa ditolak, lalu merasa tidak kompeten” itu hadir. Tapi hari ini, setelah punya 4 anak dan menjalani 15 tahun sebagai ibu, saya bisa menjawab reaksi si sulung dengan senyum manis dan kata-kata: “Walaupun ibu ada di rumah, engga apa-apa kok De Azzam main ke rumah teh Rini kalau memang de Azzam kangen”. Jawaban saya, membuatnya melompat kegirangan, dan saya pun mendapat pelukan erat dan kecupan hangat.

Setelah si bungsu pergi beberapa menit lalu, percikan-percikan memori muncul. Meskipun sedang minim bersosmed, tapi sesekali saya buka, tampaknya akhir-kahir sedang rame tema mengenai menjaga kewarasan seorang ibu. Sudah banyak yang mengulas hal-itu dari berbagai sisi. Dan percikan memori saya, terkait dengan itu.

Siapakah teh Rini yang rumahnya dikangenin si bungsu? Teh Rini adalah istri sopir saya. Rumahnya di depan komplek, dekat. 5 tahun lalu, saat teh Ema, pengasuh anak-anak yang sudah 10 tahun bersama kami menikah, saya kemudian tidak menemukan “jodoh” pengasuh lagi. Akhirnya, pada masa itu, si bungsu yang berusia 6 bulan dan baru disapih ASI eksklusif serta si gadis kecil yang berusia 3,5 tahun, saya boyong ke Jatinangor tiap pagi. Di sana, saya titipkan di penitipan anak untuk civitas academica UNPAD. Jujur saja, itu masa “terkelam” dalam pengasuhan anak-anak saya. Saya bahkan sama sekali  tidak punya foto selama beberapa bulan anak-anak saya di sana.

Bukan, bukan karena layanan di sana tidak bagus. Ini lebih ke penghayatan. Hati nurani saya mengatakan bahwa bayi berusia 6 bulan plus anak usia 3 tahun, harusnya berada di rumah. Setiap kali meninggalkan mereka disana, hati saya remuk rasanya. Tangis saya, lebih kencang dibanding tangis anak-anak saya yang tak mau ditinggalkan. Bedanya, tangisan saya saya simpan dalam hati.

Saat itu, saya memang minta bantuan teh Rini untuk beberes rumah. Suatu hari, teh Rini dan Pak Ayi bilang ke sana:“Bu, saya kasian liat anak-anak dibawa ke Jatinangor. Gimana kalau sama saya aja? tapi saya gak bisa seharian di rumah ibu. Gimana kalau saya bawa ke rumah?”. Saat itu, putera kedua teh Rini memang seusia si gadis kecil, 3 ,5 tahun, gak mungkin ditinggalkan. Jujur saja, saat itu saya keberatan. Saya pernah mendengar seorang teman saya, anaknya kena TBC karena ternyata rumah pengasuh yang ia titipi udaranya lembab dan tidak higienis. Untuk mengatasi kecemasan itu, saya mengecek rumah teh Rini. Bersih. Karakter teh Rini, tak diragukan lagi sangat responsif dan telaten. Meskipun tak berpendidikan tinggi, Pola asuh yang ia terapkan pada anak-anaknya sangat baik. Hangat, ada aturan yang jelas, memberi ruang juga bagi anak. Bahkan teh Rini ini terkenal kalau ada anak-anak di sekitarnya yang gak mau makan, kasih ke Teh Rini, anak itu akan mau.

Oke, secara objektif tidak ada masalah. Pilihan menitipkan si bungsu dan si gadis kecil sepulang sekolah Play Group di rumah teh Rini adalah pilihan yang jauh lebih baik. Saya mulai menjalani. Satu hari, dua hari, satu minggu, ternyata saya menghadapi “rintangan’ lain. Psikologis. Judgement orang lain. Bukan satu dua kali saya mendapat reaksi “negatif”, baik verbal ataupun non verbal ketika orang bertanya dan saya menjawab bahwa anak saya, selama saya di kampus, dititipkan di rumah pengasuh, saya lalu akan menjemputnya sepulang dari kampus. Dan seperti yang diungkapkan beberapa ibu muda yang merasa “dibully” mengenai caranya menjaga kewarasan, I do feel it. Saya sangat bisa merasakannya.

Secara rasional saya bisa berargument bahwa pilihan saya jauh lebih baik dibandingkan pilihan orang-orang yang berkomentar negatif. Tapi penilaian “ibu macam apa kau ini!” itu, terasa menusuk.  Beberapa tahun saya hidup dengan perasaan itu. Berkali-kali saya curhat dan tanya ke Mas, dan selalu keluar jawaban rasional: “Apa masalahnya? dirimu kan malah jadi bisa ngasih quality time pas pulang. Dibanding dulu sedih terus. Anak-anak juga perkembangannya bagus.”

Ya, memang benar sih. Karena ketelatenan teh Rini, kondisi kesehatan si bungsu bagus. Gendut, karena makannya bagus. Mandiri. Ia adalah satu-satunya anak saya yang gak pernah ngompol di kala tidur malam. Anak dua tahun itu, setiap mau tidur disiplin pipis dulu “kata teh Ini halus pipis dulu” . Tapi dalam penghayatan saya, masalah melebar terkait dengan judgement pilihan bekerja vs di rumah. Waktu saya curhat ke Mas, jawaban Mas: “Aku udah bilang beribu-ribu kali. aku ridho. Dirimu beraktivitas di luar rumah, itu pilihan kita. Secara pribadi dulu aku lebih seneng dirimu di rumah. Tapi aku tau, dirimu bisa gila kalau di rumah aja. Dan dirimu punya potensi untuk berkembang di luar. Selama dirimu bisa atur waktu, gak ada masalah apapun. Bantu orang lain, kita niatkan mencari berkah buat keluarga kita”. 

Baru mungkin 2 tahun lalu rasa “dijudgement negatif” itu hilang. Komentar orang lain, tetep sama. Sindiran-sindiran di meme, tak berubah. Tapi saya bisa “lempeng’. Saya bisa menjelaskan argumen-argumen saya secara rasional. Terkadang, saat saya sangat lelah, sepulang dari kampus saya engga langsung mampir jemput anak-anak. Saya pulang dulu, mandi dulu, relaksasi dulu, lalu jemput anak-anak ke rumah teh Rini. anak-anak senengnya jalan dari rumah teh Rini sampai rumah. Sambil saling bercerita tentang apa yang kita alami masing-masing.

Reaksi “dunia” tetap sama. Tapi ada yang berubah, dalam diri saya.  Saya tidak peduli apa yang dunia katakan mengenai pilihan saya. Saya yang merasakan dampaknya. Dalam perjalanan 15 tahun menjadi ibu, saya pernah merasakan episode hidup dengan perasaan bersalah, episode merasa jadi monster buat anak-anak saya saat saya berkutat dengan masalah pribadi saya. Episode berteriak keras pada anak-anak yang tak bersalah kala kondisi sedang stress karena kelelahan.

Pengalaman saya, plus pertemuan saya dengan beragam ibu yang merasa sulit menemukan fithrah keibuan mereka pada anak-anaknya, membuat saya menyimpulkan bahwa sesungguhnya, judgment negatif itu sebenarnya berasal dari diri kita, bukan dari dunia. Diri kita lah yang menjudge bahwa pilihan dan apa yang kita lakukan itu salah. Bagian-bagian dari diri kita lah yang belum saling berdamai. Karena jika bagian dalam diri kita sudah berdamai, seluruh penilaian dari luar diri kita akan menjadi tak bermakna buat kita.

Maka, Dari pengalam ini, saya ingin mengatakan pada para ibu-ibu muda: Kewarasan seorang ibu itu, adalah yang utama dan yang pertama.

Energi kita, fokuskan untuk berbincang dengan suami. Membuatnya memahami kondisi kita, mendengarkan nada keridhoan atau ketidakridhoan darinya, berdiskusi menemukan solusi terbaik. Jangan habiskan energi untuk mendengarkan evaluasi dari orang lain. Satu-satunya yang perlu kita pedulikan adalah evaluasi terhadap kualitas pengasuhan yang kita berikan pada anak-anak. Jangan habiskan energi untuk membandingkan  standar kebahagiaan keluarga dengan orang lain. Satu-satunya yang harus  dipedulikan adalah kebahagiaan anak dan suami kita.

sanity-insanity-road-signDan yang jauh lebih penting adalah, jangan habiskan energi untuk berbincang dengan orang lain. Porsi berbincang dengan diri sendiri harus lebih besar. Berdamai dengan komentar orang lain memang perlu, tapi berdamai dengan gugatan dari bagian diri kita yang lain, adalah yang paling penting. Damaikan diri dan maafkan diri kalau tak sempurna, maka kita tak perlu lagi beradu argumen dengan dunia.

 

(Jangan) memuji tanpa peduli ; catatan tentang ilmu memuji

Beberapa tahun lalu, saya janjian untuk ngobrol bareng sobat saya. Karena saya beres lebih awal, maka saya menjemput ke kantornya. Saat saya menunggu di lobi kantornya, terdengan suara : tak…tok..tak..tok… Suara hak sepatu yang mau tidak mau membuat mata saya teralih ke asal suara. Suara itu berasal dari suara hak sepatu seorang wanita. Seorang wanita yang memakai baju berwarna terang ngejreng, dengan aksesoris berupa kalung dan gelang yang menarik perhatian baik dari segi bentuk, ukuran dan motif. Wajah perempuan itu, full make up. Menor lah. Secara keseluruhan, terlihat wanita itu seperti akan ke pesta gitu. Masalahnya adalah, ini di sebuah kantor. Kantor yang aktivitasnya lebih sifatnya ke “edukatif”. Keberadaan wanita itu di sana, seperti sebuah….disharmoni. Gak match. Kalau wajah saya difoto saat itu, 100% sudah pasti gak KOBE alias gak “kontrol beungeut” hehe. Saking “khusyuk”nya perhatian saya tersedot pada si wanita, saya tak sadar teman saya sudah berada di samping saya.

Gue tau apa yang ada di pikiran lo” katanya. “Too much kan?” katanya. Lalu tanpa saya minta, ia bercerita panjang lebar tentang si wanita, yang ternyata salah satu staff di kantor ini.  “Meskipun gue bukan orang psikologi, tapi gue dan beberapa teman bisa menilai lah, dia tuh butuh perhatian besar dari lingkungan. Awalnya dulu dia gak gitu. Biasa aja. Trus mulai pake baju warna ngejreng yang menarik perhatian. Orang-orang pada komentar : kereeen. Meskipun yang berkomentar itu ada yang beneran, ada yang cuman “basa-basi”. Selanjutnta, karean udah biasa dia pake baju gitu, udah gak ada yang komentar lagi. Lalu dia mulai pake aksesoris. Asalnya kalung kecil. Dipuji keren, trus gak ada yang muji lagi, dia tambah lagi, sampai sekarang kalungnya jadi segede-gede gaban gitu. Lalu dia mulai pake make up. Orang-orang komentar: cantiiik… Saampai sekarang, kita suka sebel banget dia yang nyari komentar: keren gak? cantik gak? Dan lu liat sendiri dia jadinya gimana. Dan gue jadi sebel sama temen-temen gue yang masih aja ngeladenin dia. Muji-muji yang bikin dia gak nyadar kalau sebenernya dia udah berlebihan. Trus di belakang ngomongin kalau dia berlebihan. Gue pengen ngingetin kalau dia udah jadi bahan ejekan orang di belakang.  Tapi gimana ya, gue gak terlalu deket ama dia. Gak ada yang deket sebenernya. Jadi sekarang kita sepakat gak muji-muji dia lagi. Apa sih istilah psikologinya? gak ngasih reinforcement ya? atau reward? Bukan. Bukan kita jahat. Tapi menurut gue, kita tahu dia haus  perhatian, craving for pujian, lalu kita ngasih pujian yang dia pengen  tanpa peduli apa akibatnya buat dia, itu yang justru jahat banget. Kayak kita menjerumuskan dia”. 

Panjang lebar penjelasan (plus curcol) teman saya, mengingatkan saya pada Buku Tafsir Al Misbah Karya  Pak Quraish Shihab saat beliau memaparkan tafsir ayat ke  2 surat Al Fatihah. Alhamdulillahi Robbil Alamiin. Segala puji hanya bagi Allah pemelihara seluruh alam.

Pada paparannya, Pak Quraish membedakan antara memuji dan bersyukur. Pujian adalah ucapan yang ditujukan kepada yang dipuji atas sikap atau perbuatannya yang baik walau ia tidak memberi sesuatu kepada si pemuji. Sedangkan syukur adalah mengakui dengan tulus dan penuh hormat pemberian yang dianugerahkan oleh siapa yang disyukuri itu.

Pak Quraish juga memaparkan ada 3 unsur dalam perbuatan yang harus dipenuhi oleh yang dipuji sehingga dia wajar mendapatkan pujian: (1) Indah (baik); (2) Dilakukan secara sadar; (3) Tidak terpaksa/dipaksa. Di poin ini, saya jadi memahami kebingungan saya beberapa tahun lalu. Saat itu, ada seorang wanita Indonesia yang berpose bugil untuk sebuah majalah laki-laki dewasa. Tentu kontroversial, menuai cacian dan pujian. Pihak yang memuji mengatakan bahwa ia layak diapresiasi karena “keberaniannya mengambil resiko mendapatkan cacian” (mengingat saat itu baru kasus pertama yang terekspose). Bener juga ya. Disitu saya jadi bingung. Tapi kalau wanita itu dipuji karena “keberaniannya mengambil resiko”, para perampok dan pembunuh juga harus dipuji atuh. Kurang berani apa coba mereka? Nah. Setelah membaca paparan ini, saya jadi mengerti. Bahwa syarat pertama memuji itu adalah jika perilaku yang akan kita puji memenuhi syarat ke-baik-an. Dan ini sejalan dengan teori Psikologi yang memposisikan pujian sebagai penguat perilaku. Tentu sebagai orang beragama, kita ingin perilaku yang dikuatkan adalah perilaku yang baik.

Paparan lain mengenai puji memuji ynag disampaikan oleh Pak Quraish adalah, Allah mengajarkan manusia memujiNya dengan kata yang amat sederhana. Padahal Dia adalah Sang Maha. Pujian yang berlebihan sangat efektif menumbuhkan keangkuhan, ujub dan kesombongan. Manusia mana yang gak seneng dipuji? Fitrahnya manusia itu senang akan pujian. Maka, kalau kita memuji seseorang, seseorang itu akan cenderung mengulangi dan meningkatkan perilaku yang dipuji tersebut.

Yang terakhir, Pak Quraish menyampaikan bahwa dalam ayat kedua Surat Al Fatihah ini, pujian dikemukakan dalam bentuk persona ketiga, seakan-akan yang dipuji tidak berada di hadapan yang memuji. Ini adalah pelajaran agar pujian tidak disampaikan  langsung dihadapan yang dipuji.

……

Setiap kali saya membaca tafsir Al Qur’an, saya sellau tersadar bahwa agama ini sungguh-sungguh sempurna, dan Al-Qur’an sungguh-sungguh petunjuk hidup. Dikaitkan dengan Psikologi sebagai ilmu “dunia”, kalau kita memahami setiap hal yang ada dalam Al-Qur’an, maka gak akan ada lagi duni vs akhirat. Orang yang nantinya masuk syurga, akan sangat mempesona juga ia bagi orang lain di dunia. Setiap hal secara detil diungkap dan diarahkan oleh AL Qur’an.

Di zaman ini, mudah sekali bagi kita untuk memuji dan dipuji. Di era medsos, ada tombol like, tombol “love”. Kalau kita buka instagram, akan banyaaaaak komentar2 bernada pujian. Cantiiiiiiiiiiiiiiiik!!!! kereeeeeen !!!! so sweeeeeeet !!!! . Mudah sekali buat kita melontarkan pujian. Mudah juga buat kita menuai pujian. Tapi ternyata, memuji itu ada ilmunya juga. Saya menyebutnya, memuji dengan peduli. Tak semua hal harus kita puji, Dan kalaupun harus kita puji, ternyata ada caranya biar pujian kita, tidak menjerumuskan teman-teman kita.

Sejak tgl 7 kemarin, timeline saya bertabur pujian pada sepasang mempelai yang bikin “baper dunia akhirat”. Pujian setinggi langit. Saya ingat, meskipun saya tak mengenal si pemuda “impian” itu, namun saya pernah berdoa khusus untuknya. Berdoa agar ia dikaruniai kekuatan dan tetap berdiri tegak dalam keikhlasan di tengah lautan pujian terhadap “kesempurnaannya”. Itu sungguh tak mudah. Dalam skala yang jauuuuuh lebih kecil, setiap kali mendapatkan banyak pujian, terasa betul bahwa itu bisa mneghanyutkan, bahkan potensial membuat kita teralihkan dari esensi yang ingin kita tuju dari perilaku kita. Itu dampak yang tak kasat mata.

Kalau kita perhatikan, pada orang-orang tertentu, kita tahu bahwa pujian kita berdampak buruk, secara kasat mata. Ambil contoh temannya teman saya tadi. Atau saya ingat, teman saya pernah cerita kliennya senang sekali mencoba bunuh diri karena ketika ia memposting tetesan darah dan tangannya yang teriris saat ia berniat memotong nadinya, pujian yang ia terima. Saya selalu berpikir. Kalau kita tetap memuji walaupun tahu itu bisa “menjerumuskannya”; bukankah kita telah menanam saham keburukan yang harus kita tanggung juga? misalnya teman kita pasangan yang belum menikah. Lalu posting foto mesra. Kita jempolin atau kita puji “so sweeeet”. Nah, setiap kali di pasangan itu semakin mesra karena ter-reinforce perilakunya oleh pujian kita, bukankah kita dapat dosanya? Atau setiap kali orang yang kita puji “sholeh banget” itu merasa ujub, bukankah kita berkontribusi dan dapat juga dosanya?

I Care Maka, sekali lagi, ternyata semua hal ada ilmunya. Pantaslah wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah adalah “Iqro”; membaca; menelaah; mencari ilmu. Ini  saatnya kita mengevaluasi lagi apakah mudahnya kita memuji orang lain diiringi oleh rasa peduli pada dampak pujian kita terhadapnya. Apakah akan membuat ia terjaga  kebaikannya, keselamatannya; atau kita tidak peduli.

Kalau kita peduli, kita akan memikirkan cara dan konten pujian kita. Kan katanya, lawannya cinta bukan benci, melainkan tidak peduli.

 

Sumber : Tafsir Al Misbah. Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an;. Volume 1;  M. Quraish Shihab; Lentera Hati; 2000; hal. 26-29.

Sumber Gambar : http://bcchewteachingblog.blogspot.co.id/2012/02/individual-assignment-of-blhc4062-due.html

 

 

 

Collateral Damage Sekolah Favorit : waspadalah ! waspadalah !

Satu bulan terakhir  ini adalah bulan yang “panas” buat para ortu yang anaknya akan masuk SMP, SMA dan atau Perguruan Tinggi. Ketegangan menunggu pengumuman NEM, disusul dengan ketegangan menunggu pengumuman sekolah. Saya sendiri baru akan memasuki zona “ketegangan” itu tahun depan, saat si sulung keluar SMP. Tahun depan, si sulung akan masuk SMA, si bujang kecil masuk SMP, si bungsu masuk SD. Si bujang kecil yang akan masuk SMP gak akan terlalu bikin tegang. Karena kami sudah memutuskan ia akan masuk SMP swasta, yang sistem maupun persaingannya tak akan se”panas” masuk sekolah negeri, terutama negeri “favorit”. Jadi, tahun depan adalah pengalaman pertama memasukkan anak ke SMA negeri melalui sistem PPDB yang setiap tahun selalu meninggalkan cerita.

Tema-tema status dan tema-tema obrolan di wag-wag, banyak memaparkan “ketegangan” para ortu. Apakah anak-anaknya pun ikutan tegang? wallahu alam. Saya gak punya akses ke mereka. Ada sebagian ortu yang mengatakan anaknya mah lempeng-lempeng aja hehe… Tapi who knows…. wallahu alam saya gak tahu.

Karena “panas”nya topik ini, saya juga jadi terpapar beberapa informasi, misalnya informasi nem-nem yang sudah mendaftar ke sekolah-sekolah favorit, peserta yang mendaftar ke sekolah favorit vs kuota yang tersedia. Membaca angkanya, saya sempat bergidik. Gile…zaman saya dulu, yang rata-rata 9 itu udah istimewa banget. Tapi kini, nem 27 buat anak SD atau 36 buat anak SMP, itu kayak “ga ada apa-apanya”.

Kenapa ya? apakah anak-anak sekarang demikian pinter-pinternya? atau, soal UN-nya gak punya “daya diskriminasi” yang baik sehingga tidak bisa “membedakan” kemampuan anak yang satu dengan yang lainnya? Atau …. seperti kasak-kusuk selama ini, ada upaya meng-up grade nilai di tiap sekolah? wallahu alam.

Tapi nilai-nilai yang tinggi ini berdampak pada satu hal : persaingan yang ketat untuk masuk “sekolah favorit”. Nah, ini yang ingin saya ulas. Sekolah favorit itu yang kayak gimana? Di semua kota, sudah ada label SMA favorit:  SMA ini SMA itu. SMP favorit: SMP ini SMP itu. Kefavorit-an sekolah-sekolah tersebut membuat banyak orangtua (dan anak?) menetapkan sekolah-sekolah itu menjadi tujuan. Di beberapa bimbel, ada program khusus intensif untuk menembus SMP itu dan SMA ini. Harganya, tentu lebih mahal dibandingkan program biasa.

Dugaan-dugaan mengenai “kecurangan” serta “tidak transparansnya” sistem di beberapa sekolah favorit sering muncul dalam obrolan, membuat kecewa orangtua yang “jujur”. Tapi tetep aja pengen anak-anak kita  masuk kesitu. Padahal iklim sekolahnya berarti kurang positif. Atau ada aspek penting lain yang kita perjuangkan?

Yang harus kita renungi sebenarnya adalah…mengapa sekolah-sekolah tersebut disebut favorit? karena bagus? oke, bagus dalam hal apanya? Beberapa hari yang lalu saya mendengar kabar di sebuah kota sebuah provinsi, sistem PPDB nya membuat anak-anak yang ber-NEM tinggi “takut” untuk mendaftar di sebuah sekolah favorit. Akibatnya, sekolah favorit itu kekurangan kuota dan akhirnya “terpaksa” menerima anak-anak dengan NEM “berapapun”. Salah seorang orangtua yang anaknya bernilai tinggi dan diterima di sekolah favorit tersebut, merasa resah. Ia mengatakan: kalau input anak-anaknya seperti itu, gimana kualitasnya? padahal ia memilih sekolah itu karena “kualitasnya”. Hal ini membuat saya menjadi berpikir: jadi ke”hebat”an, ke”bagus”an, ke”favorit”an sekolah itu pada aspek apa-nya? guru-nya kah? fasilitas-nya kah? input anak-anak yang masuk-nya kah? persaingan-nya kah? atau ….. “kebanggaan atas nama besar”nya?

Nah, yang terakhir itu, “kebanggaan atas nama besarnya”, psikologis sekali. Saya mendengar bahwa melalui sistem PPDBnya, Pemerintah kota tengah mengupayakan “penghapusan” favoritisme sekolah. Idenya ingin seperti di luar negeri: setiap sekolah unggul karena menyerap putera-puteri terbaik di daerah sekitar sekolah tersebut. Saya mendengar bahwa aspek-aspek yang terkait dengan sekolah, misalnya guru: dirolling. Fasilitas disamakan. Namun sepertinya itu tak banyak berdampak. Mungkin akarnya karena favoritisme itu terkait dengan aspek psikologis. Dan endorsement terhadap aspek psikologsi ini, sangat kuat. Apalagi di jaman medsos dimana semua informasi terpapar gamblang.

Maka, bisa jadi semua upaya penghapusan favoritisme sekolah itu menjadi hanya basa-basi. Misalnya saja, salah satu pejabat yang mengkampanyekan gagasan “Sekolah dimana saja sama saja”; namun pas putera/puteri-nya masuk di salah satu sekolah favorit, mengupload kebanggaan tak terkira. Lewat gambar, lewat kata-kata.

“Identitas kelompok” memang menjadi salah satu fenomena yang khas di negara-negara collectivism. Kalau suami saya alumni SMA itu, saya keren. Kalau ikutan reuni sekolah ini, berarti saya orang hebat. Kalau ikut kegiatan ini, berarti saya orang shaleh. Kalau nulis tema ini, berarti saya orang intelek.

Apakah salah? engga sih.  Cuman dalam konteks sebagai orangtua yang harus mengajarkan nilai -niai kehidupan pada anak-anak kita, jangan sampai sikap kita salah ditangkap oleh anak.

Saya sangat bisa memahami alasan logis orangtua berusaha agar anaknya masuk ke sekolah favorit. SMP favorit akan mengntarkan anak ke SMA favorit. SMA favorit akan mengantarkan anak ke PT favorit. PT favorit akan mengantarkan anak ke pekerjaan favorit. Lalu apa?

Saya banyak mengenal orang-orang dengan “jalur favorit” itu. Lalu apa? mereka jadi bahagia. sukses. bermanfaat untuk orang banyak. Alhamdulillah. Pertanyaannya adalah: apakah jalur “favorit” itu merupakan satu-satunya cara dan satu-satunya jaminan bagi anak-anak kita untuk bahagia, sukses, bermanfaat untuk orang banyak? oh ada satu lagi ! kebanggaan. Kebanggan buat siapa? buat anak? buat orangtua?

Membuat anak menetapkan target mencapai nilai tertentu untuk masuk sekolah favorit tertentu, is oke. Menjelaskan pada anak bahwa dengan masuk sekolah SMP favorit, ia akan mudah masuk SMA favorit, sehingga nanti akan mudah masuk PT favorit dan dapat kerja favorit, is oke. Namun menanamkan bahwa itu satu-satu cara (baik dengan bahasa lugas maupun eksplisit, baik secara verbal maupun non verbal) bagi anak untuk SUKSES dan BAHAGIA, itu tidak oke. Apalagi menanamkan keyakinan bahwa  masuk di sekolah-sekolah favorit itu adalah SATU-SATUNya cara baginya untuk MEMBAHAGIAKAN orangtuanya, itu salah besar. Itu akan menghancurkan anak-anak kita.

Dramatis? ya. Tapi pada kenyataannya, itu banyak terjadi. Saya pernah bertemu seorang anak usia belasan yang merasa hidupnya sudah gagal. “Hanya” karena ia tak bisa masuk sekolah favorit yang ditargetkan.

suksesiKenapa ia merasa SELURUH HIDUPNYA telah  gagal? karena sepanjang hidupnya telah tertanam dalam pikirannya, bahwa standar kesuksesan baginya adalah HANYA jika ia masuk SMP itu, masuk SMA itu, masuk JURUSAN itu, di PERGURUAN TINGGI  itu. Ia menganggap kegagalannya masuk SMP itu, adalah seperti keruntuhan domino. Skema ini yang telah tertanam, ia tak mengenal skema lain. Ia tak mengenal ada skema yang menunjukkan bahwa ada seribu satu jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuan akhir yang ia inginkan. Ia tak pernah mengenal skema bahwa ia bisa mengevaluasi, lalu memodifikasi bahkan mengubah tujuannya.

Kenapa ia merasa SELURUH HIDUPNYA telah gagal? karena sepanjang hidupnya telah tertanam dalam perasaannya, bahwa satu-satunya cara untuk membuat orangtuanya bangga dan bahagia adalah HANYA jika ia masuk SMP itu, masuk SMA itu, masuk JURUSAN itu, di PERGURUAN TINGGI itu. Ia menganggap kegagalannya masuk SMP itu, adalah seperti keruntuhan domino. Skema ini yang telah tertanam, ia tak mengenal skema lain. Ia tak mengenal ada skema yang menunjukkan bahwa ada seribu satu jalan yang bisa ditempuh untuk membuat orangtuanya bangga dan bahagia. Ia tak pernah mengenal skema bahwa orangtuanya bisa menerima bentuk prestasi yang lain selain prestasi masuk “jalur favorit”.

Sedih sekali kalau anak-anak kita menggantungkan harga diri, kepercayaan diri, cinta orangtua bahkan seluruh kehidupannya pada “sekolah favorit”. Seorang teman saya, seorang psikolog sekolah, bercerita bahwa kalau anak-anak sekarang ditanya cita-citanya apa, banyak yang jawabannya bukan profesi. Tapi “diterima di SMP ini”; “diterima di SMA itu”. Semoga haltersebut tidak menunjukkan ada perubahan posisi sekolah favorit dari SALAH SATU CARA menjadi SATU-SATUNYA TUJUAN

Maka, kalau kita jujur bahwa masuk sekolah favorit diposisikan sebagai “media” untuk memotivasi anak, kita hanya perlu bercermin saat anak kita diterima atau tidak diterima di sekolah favorit tersebut. Sikap kita, perilaku kita,  akan mengatakan segalanya.

Saya selalu ingat obrolan dengan seorang remaja belasan tentang hal ini. Begini kurang lebih kata-katanyanya;

“Sebenernya saya dan teman-teman banyak yang pede sih dengan kemampuan kita. Tapi yang bikin stress adalah, diri kita dinilai dan ditentukan oleh sebuah nilai, yang seolah-olah menggambarkan diri kita secara keseluruhan.”

“Sering orangtua hanya melihat satu hal aja, misalnya biar gampang masuk sekolah seterusnya. Tapi kan yang ngejalanin hari demi hari-nya kita. Yang ngerasain nyaman atau engga-nya kita. Meskipun kita bisa, kita mampu, kita gampang, kan kita juga pengen nyaman”

Maka, sekali lagi, sebagai orangtua kita perlu “menggugat niat” kita memotivasi anak kita untuk masuk skeolah favorit.

  • Sebagai SALAH SATU  cara untuk memotivasi sikap mental sungguh-sungguh?
  • Sebagai media bagi kita sebagai  “intellectual climber” (hehe…. ini adalah padanan dari “social climber”; dimana misalnya kita dulu gak bisa mencapai yang favorit-favorit itu, trus kita “maksa” anak biar kitanya jadi “keangkat” ke komunitas itu;)
  • Sebagai “piala” kebanggaan? anak gue masuk SMP ini, SMA itu loooh
  • Sebagai romantisme ? (Asiiik…nanti kita bisa reuni bareng). Keluarga besar kita alumni sekolah itu semua !

Kebanggaan sebagai alumni sekolah favorit, memang tak terkira. Membuncahnya perasaan ketika menyebutkan nama sekolah kita, menunjukkan logo sekolah, mengenang kisah dan gambar yang menunjukkan identitas sekolah kita, menikmati reaksi orang lain yang mengagumi kita saat kita tahu alumni sekolah mana. Nikmati saja selama itu tak berbenturan dengan kesejahteraan psikologis anak-anak kita. Tapi kalau efek sampingnya bikin anak kita “terancam”, maka perlu kita gugat ulang niat kita.

Kalau kita sedang tegang, sempatkah kita menatap wajah anak kita? apakah ia tegang juga? Kalau kita sedang sibuk dengan kecemasan kita, sempatkah kita menelisik perasaan anak kita? Kalau kita sedang sibuk mencari informasi, apakah kita sempat mengobrol dengan anak kita?

Hei….dia yang akan menjalaninya…bukan kita …Kita tidak sedang mencari sepatu yang pas buat kita. Sepatu itu akan dipakai oleh anak kita.

Kalau kita terlalu fokus dengan perasaan kita, pemikiran kita, keingian kita, lalu siapa yang akan peduli pada perasaannya, pemikirannya, keinginannya? Kalau kita terlalu fokus pada kata diterima atau ditolak, berhasil atau gagal, siapa yang akan memeluknya, menenangkannya? mengatakan bahwa hidupnya akan baik-baik saja, bahwa you are not alone? . Bahwa ini cuman masalah sekolah, bukan seluruh kehidupannya?

Perasaan dan kehidupan panjang anak kita, janganlah jadi collateral damage dari kebanggan kita terhadap sekolah favorit. Konon, untuk bisa survive di masa depan yang akan sangat cepat perubahannya, salah satu kompetensi yang diperlukan adalah fleksibilitas. Fleksibilitas ini akar dari kreatifitas, adaptasi, dan sejumlah kemampuan penting lainnya di masa depan. Maka, menanamkan sikap dan pola pikir bahwa kesuksesan hanya bisa dicapai dengan masuk SMP ini SMA itu, adalah seperti memberikan senjata makan tuan buat anak- anak kita.

Aku.Kamu.Kita : #Renungan 180 Purnama (Sneak Peek)

Beberapa tahun yang lalu, mas mengajak saya menghadiri undangan ulang tahun pernikahan ke-25 seorang seniornya. Ini adalah undangan ulang tahun pernikahan “orang lain” pertama yang saya hadiri. Acaranya meskipun sederhana namun meriah. Alur acara ditata apik dan dikomandoi oleh seorang MC profesional yang asik dan kocak, mengajak hadirin turut larut dalam kebahagiaan pasangan yang berulang tahun.

Dari rangkaian acara yang ada: tiup lilin, tausyiah dari ustadz, kuis-kuis dengan doorprize menarik, makanan yang enak-enak, ada satu mata acara yang sangat berkesan buat saya. Ialah ketika sang suami, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan 25 tahun pernikahannya. Ia, didampingi oleh istri dan anak-anaknya, menceritakan kisah perjalanan 25 tahun pernikahannya, diiringi oleh tayangan foto-foto sesuai dengan ceritanya. Mata beliau dan istrinya sesekali basah, sesekali tertawa riang…dan saya pun ikut larut dalam emosi mereka. Beliau menceritakan bagaimana latar belakang keluarganya dan istrinya, bagaimana mereka bertemu, perjuangan mereka di awal menikah, kisah kelahiran anak-anak mereka, suka duka saat kuliah di luar negeri, pengorbanan istrinya, …. sampai kini beliau pribadi maupun keluarganya menjadi keluarga yang “sukses”.

Pulang dari acara itu, di mobil topik pembicaraan kami masih seputar acara itu. Kami mengandai-andai pernikahan kami sampai di usia 25 tahun. Seperti apa kira-kira “rupa” keluarga kami ya? Mas berarti sudah umur 51 tahun. Karirnya udah sampai mana ya? Mimpi-mimpinya, target-target pribadinya, sejauh mana yang sudah tercapai? Saya sudah berumur 48 tahun. Udah jadi apa ya? Udah berkarya apa saja? Si sulung 24 tahun. Udah nikah? Udah punya anak? Si bujang kecil umur 21 tahun. Sudahkah kuliah di Swiss seperti yang ia impikan? Si gadis kecil umur 18 tahun. Si ceriwis itu penampakannya kayak gimana ya? Si bungsu 15 tahun, udah kayak apa ya? Masihkan selalu riang seperti saat ini?

Pembicaraan lalu beranjak pada milestone-milestone penting yang diceritakan senior mas tadi. Lalu kami pun mengenang milestone-milestone penting pernikahan kami. Mata berkaca dan tawa menertawai kebodohan kami berdua, juga mewarnai obrolan kami. Obrolan diakhiri dengan perdebatan panjang bagaimana bentuk acara yang akan kami gelar pas ulangtahun pernikahan ke 25 nanti haha…. Perdebatan panjang seperti yang biasa terjadi di toko mebel, di toko gorden, di toko wallpaper, juga di toko bunga setiap kali kami akan membeli barang-barang  untuk menghiasi rumah kami kkkk.

Dan seperti biasanya, perdebatan panjang kami belum menemukan titik temu. Memang biasanya titik temu akan terjadi ketika perdebatan sudah masuk ronde ke lima haha…Akhirnya kalimat penutup kami “nanti lah, kita obrolin lagi, masih lama ini”. Tapi satu hal yang kami sepakati dalam perbincangan dan perdebatan panjang kami, bahwa pernikahan yang telah kami jalani, harus kami syukuri.

Tgl 15 Juni, kami tetapkan sebagai hari ulang tahun keluarga. Merencanakan apa yang akan kami lakukan di tanggal itu, sudah jadi semacam ritual. Mulai dari makan bareng, bikin-bikin sesuatu yang akan jadi “jejak” dalam keluarga kami, dan saya selalu sempatkan untuk menuliskan renungan tahun demi tahun pernikahan kami. Sungguh, saya benar-benar bersyukur memiliki pasangan yang menjadi pelengkap hidup saya. Sebagai teman, sahabat, imam, soulmate. Tapi saya kadang suka berpikir: ih, lebay gak ya? Baru aja nikah segitu tahun. Belom ada apa-apanya kaleee…

Suatu waktu, dalam perbincangan saya dengan dua senior saya yang usia pernikahannya sudah menjelang tahun ke-40, saya bertanya: apa yang membuat mereka bisa mempertahankan pernikahan se-lama ini. Dari perbincangan itu saya menyimpulkan bahwa proses adaptasi, proses mengenal pasangan, proses belajar menyelesaikan masalah,  terus terjadi tahun demi tahun pernikahan. Mengapa? Karena suami dan istri, adalah manusia yang mengalami perubahan. Maka, sesungguhnya, orang yang kita nikahi, bisa jadi menjadi berbeda dalam sebagian dirinya. Demikian juga diri kita.

Kalau kata salah satu senior saya, menikah itu kayak kuliah. Setiap semester pelajarannya berbeda, ujiannya juga beda. Kata-kata itulah yang membuat saya yakin bahwa pernikahan yang telah kami jalani, harus kami syukuri. Tahun demi tahunnya, bulan demi bulannya, minggu demi minggunya, hari demi harinya. Tak perlu menunggu tahun ke-25. Kami tak tahu pelajaran apa yang akan kami pelajari di tahun-tahun ke depan, sesulit apa ujiannya, dan apakah kami akan sanggup melewatinya. Tapi yang pasti, pelajaran di 15 tahun ini, hasil ujian yang kami lewati 15 tahun ini, adalah sebuah “prestasi” yang harus benar-benar kami syukuri.

Beberapa tahun terakhir ini, cukup banyak mahasiswa saya yang menikah. Beberapa dari mereka, mengantarkan undangannya secara personal, entah janjian di kampus atau di rumah. Dalam kesempatan tersebut, sebagian curcol mengenai hal-hal yang diresahkan, sebagian meminta “nasihat pernikahan” haha…jelas banget saya udah tua 😉. Tapi dari obrolan itu, membuat saya menyadari bahwa teryata banyak hal-hal yang saya pelajari dalam perjalanan pernikahan ini. Ya…hal-hal yang engga kepikir waktu saya dalam posisi seperti mahasiswa-mahasiwa saya, yang baru akan memasuki dunia pernikahan. Ternyata, pelajaran-pelajaran itu adalah hal yang berharga bagi yang belum menjalaninya.

Tahun-tahun terakhir ini pula, saya banyak bertemu dengan persoalan-persoalan yang terkait dengan pernikahan. Meskipun fokus utama dalam menjalani profesi saya adalah kesejahteraan anak, namun nyatanya kesejahteran anak dalam keluarga tak lepas dari kualitas pernikahan orangtuanya. Maka, membahas persoalan anak, biasanya lekat dengan bahasan mengenai kualitas pernikahan. Oleh karena itulah, akhirnya saya belajar mengenai couple therapy dan family therapy. Kerangka pikir yang saya dapat dari hasil belajar tersebut, dipadukan dengan hasil penelitian teman-teman saya yang area penelitiannya di bidang pernikahan serta pengamatan dan penghayatan saya terhadap kehidupan pernikahan, maka semakin jelas “peta potensi masalah dan kunci-kunci keberhasilan sebuah pernikahan”. Saya juga semakin menyadari bahwa hal-hal “kecil” yang terkadang luput dari perhatian dalam kehidupan pra dan pasca pernikahan, bila tak kita sadari, pada suatu saat akan menjadi bom waktu yang membuat pernikahan yang seharusnya menjadi syurga dunia, berbalik menjadi neraka dunia.

Untuk mensyukuri keberkahan yang kami rasakan selama 15 tahun kebersamaan kami, mas memprovokasi saya untuk menyusun sejumlah tulisan dengan tema-tema yang kami temui dalam perjalanan 15 tahun ini. Buku ini tidak bertutur banyak mengenai perjalanan pernikahan kami. Biarlah itu tersimpan di diary saya pribadi hehe… tapi topik-topik dalam buku ini, terinspirasi dari perjalanan pernikahan kami.

Tadinya, buku ini akan launching tepat hari ini. Seorang teman yang mengetahui rencana ini, berkomentar: “swit swiw…romantis amat launching buku pas wedding anniversary”. Iya, rencananya memang se-romantis itu. Tapi romantisme itu ternyata berbenturan dengan kenyataan. Jadwal finalisasi naskah bentrok sama deadline target disertasi. Mana yang harus lebih diprioritaskan? tentunya realitas. Sama persis situasinya sama kondisi pernikahan di usia 15 tahun ini hehe…

Insya allah, beberapa bulan yang akan datang buku ini akan launching, dalam bentuk ebook, free download. Buat yang suka dan pengen punya versi hardnya, insyaallah akan dicetak juga.

Cover cantik buku ini adalah buah karya teman saya yang coretan-coretannya, selalu membuat saya jatuh cinta. Laila Qodariah, Lai panggilan sayangnya. Karya-karya cantiknya bisa dilihat di instagram @gambaremak. Bentuk gambar, font sampai printil-printil adalah hasil vote dari si abah dan anak-anak.

Semoga tulisan-tulisan sederhana dalam buku ini bisa menemani perjuangan dalam sebuah marathon bernama pernikahan. Mohon doa juga semoga  pernikahan kami, keluarga kami, selalu dikarunia keberkahan di dunia dan keselamatan di akhirat nanti.

15 Juni 2017

Skill Penting Buat Ibu : Self Compassion

Saya mengenal istilah compassion dari teman saya yang disertasinya mengenai topik itu. Melalui diskusi-diskusi kami, saya sedikit banyak mengenal konsep ini. Compassion, dapat diartikan sebagai “belas kasih”. Kata teman saya, compassion terbagai menjadi dua: compassion to other (belas kasih pada orang lain) dan self compassion (belas kasih terhadap diri sendiri).

Dalam tulisan ini, saya ingin mengulas mengenai self compassion pada seorang ibu. Belas kasih seorang wanita yang menjalankan peran sebagai ibu, terhadap dirinya sendiri.

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh penerawangan saya (hehe… dukun mode: on) mengenai kondisi psikologis ibu yang bisa menjadi “prasyarat” terjadinya interaksi yang positif dengan anak-anaknya. Dalam beberapa tulisan sebelumnya, saya sering menyampaikan bahwa ilmu pengasuhan se”keren” apapun, se”islami” apapun, se”baik” apapun, tak akan bisa kita amalkan dengan baik apabila kondisi emosi kita sedang “rusuh”. Susah banget untuk menjadi playful sama si kecil kalau kita lagi “tegang”. Sangat gak mudah bisa menerima kekurangan anak kita kalau kitanya “gak rileks”. Super duper sulit menghargai si remaja kalau kitanya lagi “mumet”.

Dan, salah satu sumber ketegangan, sumber stress seorang ibu adalah perasaan “bersalah” karena kekeliruan langkah pengasuhan yang ia lakukan. Sebenarnya, kesadaran bahwa kita pernah “salah langkah” dalam mengasuh, adalah hal positif. Namun bila tidak kendalikan, itu bisa jadi bumerang. Ada banyak ibu yang kemudian “tenggelam” dalam rasa bersalahnya, sehingga malah gak bisa “memperbaiki situasi”.

Rasa bersalah seperti apa sih? Saya punya pengalaman rasa bersalah yang bisa jadi ilustrasi.

Waktu pertama kali melahirkan, 14 tahun lalu, sakit melahirkan dengan induksi bisa saya tahan. Tidak menjadi “traumatis” buat saya, karena saya sudah sering denger cerita dan sudah banyak baca tentang cerita sakitnya melahirkan. Jadi secara psikologis saya sudah menyiapkan diri.  Tapi sakit yang membekas banget adalah pada saat menyusui pertama kali. Bukan di putingnya. Berbekal puluhan buku yang saya baca untuk persiapan hamil, melahirkan dan merawat bayi, sejak hamil saya sudah melakukan perawatan pada puting sehingga pas bayi lahir, sudah dalam kondisi “elastis”. Yang luput dari perhatian saya  dan gak pernah ada yang cerita adalah, sakitnya rahim saat si kecil menyusu. Belakangan saay tahu bahwa ketika bayi mengisap susu, berdampak pada pengerutan kembali rahim untuk kembali pada ukurannya semula. Sakitnya itu, buat saya ngalahin sakit kontraksi. Dan karena tidak ada antisipasi secara psikologis, maka “memori tubuh” terhadap rasa sakit itu terbawa pada saat saya melahirkan anak kedua, si bujang kacil, 3 tahun kemudian.

“Rekaman” kejadian 11 tahun lalu, masih jelas di kepala saya. Disadari atau tidak, saya “enggan” menyusui si bujang kecil di hari-hari pertama kelahirannya. Saya tahu betul, kolostrum itu penting, produksi susu hari-hari pertama sangat diperlukan bayi. Namun “ingatan tubuh” itu sulit saya lawan. Sampai saya ditegur dokter. Kurang telatennya saya mempersiapkan perawatan puting pra-kelahiran juga membuat puting saya lecet berat. Meskipun saya tetap bertekad untuk memberikan ASI exclusive, namun ingatan akan rasa sakit di rahin ynag tak tertahankan, membuat semangat saya menyusui tak seperti waktu menyusui si sulung.

Di hari ke-4nya, saat kontrol, si bujang kecil tak bisa saya bawa pulang. Ia harsu masuk ruang perawatan untuk “disinar” karena bilirubinnya tinggi. Aqiqah yang sudah dipersiapkan di hari ke-7nya, kami batalkan. Saya menghayati saat itu, itu adalah hukuman Allah buat saya. Kontan. Rasa bersalah saya tak tertahankan. Ekspresinya, adalah tindakan irasional. Setiap hari, sambil tak henti menangis, saya memerah ASI saya, yang keluar bercampur darah karena lecet puting. Cuman dapat 30 ml paling; tapi saya paksa suami saya antar ke Rumah Sakit. Mas berangkat, saya tak henti-henti memerah. Sakit sih, tapi saya pikir saya harus dihukum. Saya layak mendapatkannya. Alhamdulillahnya meskipun kala itu pernikahan kami baru berjalan 4 tahun, Mas memahami kondisi psikologis saya. Dia bisa tiga kali bolak-balik ke RS yang tak dekat jaraknya dari rumah, untuk mengantarkan ASI. Sepertinya ia paham bahwa hal ini penting untuk membuat saya merasa bahwa saya bisa “menebus” kesalahan saya. Seminggu kemudian si bujang kecil bisa pulang, alhamdulillah kemudian ASI lancar.

Menjelang usia 2 tahun, si bujang kecil belum bisa mengucakan kata dengan jelas. Selain itu, ia mengalami masalah dalam integrasi sensoris. Ada “tactile defensiveness”, yang tampil dalam perilaku “jijik-an”, juga hipersensitif dalam indera pengecap dan pembau. Sampai usia itu (dan berlanjut sampai usia 4 tahun), ia tidak bisa makan nasi. Perilaku yang tampak adalah picky eater. hanya 3 jenis makanan yang bisa ia “toleransi”. Kalau saya sedang masak, ia akan tutup hidung. Kalau diajak ke restoran terutama restoran padang, ia gak mau turun. Tutup hidung. Di masa inilah saya jadi kenal dengan ilmu sensory integrasi. Saya cari buku-bukunya, online resource dan course-nya. Alhamdulillah, sangat bermanfaat dalam profesi saya sebagai psikolog.

Karena khawatir dengan kemampuan bicara-nya, saya bawa ke seorang dokter tumbuh kembang ternama. Ia juga memiliki tempat terapi dengan pendekatan SI. Setelah diobservasi beberapa waktu, dokter menyatakan si bujang kecil memiliki simptom autisme. Dokter berusaha meyakinkan saya bahwa kontak mata si bujang kecil sangat minim. Saya sangat terpukul. Saat itu, saya sudah mulai bekerja secara formal. Rasa bersalah itu, muncul kembali.  Saya ingat sekali, waktu itu di depan dokter saya menyusui si bujang kecil, lalu dokternya bilang: “tuh liat bu, dia gak liat mata ibu kan?” Hiks…. rasa bersalah saya muncul lagi. Teringat kembali “keengganan” saya menyusui si bujang kecil, inget juga bahwa setiap kali menyusui, saya tidak “secara sadar” menatapnya seperti seharusnya dan saya lakukan pada si sulung. Banyak momen menyusui yang saya lalui sambil melakukan hal lain. Baca buku, jawab sms, bahkan mengetik mengerjakan ini-itu di laptop. Dan karena anaknya cukup anteng dan “gak protes”, maka kebiasaan itu berlanjut. Cukup lama saya down oleh judgement sang dokter. Down nya karena rasa bersalah itu! Saya ingat beberapa kasus yang diceritakan senior saya tentang “penolakan” ibu terhadap anaknya. Yang meskipun tidak disadari dan hanay ada dalam hati & kepala ibu, tetap secara psikologis berdampak pada anak. Karena perasaan “tak disadari” itu tetap muncul dalam perilaku baik verbal maupun non verbal, yang “terasa” oleh anak. Dan saya merasa, keengganan saya menyusui di hari-hari pertama kehidupannya adalah bentuk “penolakan” dari saya yang membuat si bujang kecil menjadi “tak terkoneksi dengan saya” . Runtuh rasanya dunia saat itu.

Sekitar satu bulan kemudia, rasionalitas saya mulai muncul. Saya membaca hasil observasi sang dokter, saya melihat ada yang kurang pas dalam metode observasinya. Misalnya ia meminta saya bermain dengan si bujang kecil selama 10 menit. Dianya ada di situ. Saya, bukan tipe orang yang mudah “ekspresif”. Maka, selama 10 menit dengan kehadiran beliau disana, saya gak bisa mensimulasikan bermain dengan si bujang kecil secara natural, sehingga respons si bujang kecil juga menjadi tidak tertangkap secara valid dari momen 10 menit itu.

Setelah saya observasi kembali dan minta teman saya mengobservasi, simptom autism itu tidak terlalu nyata. Saya harus berterima kasih banyak pada dokter, karena ada beberapa informasi  yang penting. Misal: tonus otot si kecil tergolong lemah. Maka, di usia 2-4 tahun, saya mulai men-terapi si bujang kecil. Inget banget eksplore metode dan cari alat buat menstimulasi tactile-nya. Mulai dari gak mau pegang playdough, anti banget pegang lem, sampai akhirnya 2 tahun kemudian bisa meremas-remas cairan telur mentah tanpa ekspresi jijik.

Perasaan bersalah masih terus menghantui, sampai akhirnya saya melihat…. klien-klien saya. Rasa bersalah seperti yang saya alami, jika tidak dikendalikan, dampaknya membuat kita tidak bisa menjadi rileks. Kenapa? karena kita belum memaafkan diri kita sendiri. Sama kayak kalau kita belum maafin orang yang bikin salah sama kita, bawaannya kesel kan…kan bisa objektif kan… demikian pula perasaan kita sama diri kita sendiri. Dan gawatnya, itu bisa jadi afirmasi buat kondisi anak kita. Saya banyak bertemu ibu yang menggambarkan anaknya, seperti gambaran sesuai rasa bersalahnya. Misalnya: anak saya gampang marah banget, soalnya pas hamil saya lagi ada masalah sama suami, dan tiap hari pasti saya ngamuk sama suami saya. Pas saya observasi anaknya, intensitas “gampang marah” si anak gak segitunya seperti yang digambarkan ibu. Anak saya punya masalah gangguan bicara ekspresif. Umur 4 tahun belum bisa ngomong. Itu karena saya terlalu riweuh, jadi anak dikasih tablet sama yutub aja, gak saya stimulasi. Anak saya begitu karena saya. Salah saya. Perasaan itu, sangat kontraproduktif. Sama seperti saya ketika saya dikungkung perasaan bersalah, maka simptom-simptom autism itu tampak banyak. Iya ya gak kontak mata. Nonverbal. Gak terkoneksi. Gak ada attachment …. dan dalam kondisi kayak gitu, maka kita dalam kondisi “tegang”; gak bisa rileks untuk fleksibel lihat sisi lain kemampuan anak, kelebihan anak.

Maka, berbelas kasih terhadap diri sendiri, self-compassion, untuk seorang ibu, sangatlah penting. Anaknya tetap sama, namun saya merasakan sekali beda rasanya setelah saya “memaafkan diri saya”. Mengakui dengan jujur bahwa saya dulu “enggan” menyusui si bujang kecil karena bla..bla..bla… Saya tahu itu salah, tapi itu wajar terjadi bagi “ibu muda” seperti saya. Tak akan saya ulangi lagi, tapi saya sama sekali tidak berniat menolak si bujang kecil, dan saya berusaha menebus kesalahan saya. Proses itu, sampai saya bisa “memaafkan diri” saya, butuh proses. Puluhan tulisan mengenai hal ini, baik di diary maupun di tulisan publik, adalah bagian dari proses itu. Sampai saat ini, saya bisa menulisnya tanpa air mata. Setelah proses itu terjadi, saya jauh lebih rileks. Lebih objektif. Lebih acceptance juga. Lebih jernih dalam menanggapi dan menstimulasi.

Berbelas kasih terhadap diri, beda jauh dengan denial. Berbelas kasih itu mengakui, lalu memaafkan. Denial itu tidak mengakui. Saya menemukan satu website bagus mengenai self compassion dalam parenting. Adalah Kristin Neff, PhD, seorang  associate professor of human development and culture at the University of Texas at Austin. Beliau pionir dalam penelitian mengenai self compassion dan di artikelnya  https://www.seleni.org/advice-support/article/the-newest-parenting-skill-self-compassion; sejalan dengan “penerawangan” saya hehe….

Secara lebih praktis, latihannya ada di http://self-compassion.org/category/exercises/.

3-Elements-of-Self-Compassion1Insyaallah, kalau panjang umur, beres sekolah 2 tahun lagi, saya bercita-cita banget kita para emak secara rutin kumpul buat latihan kayak gini-gini. Latihan worldview, latihan mendengarkan, latihan self-compassion; da kalau pengetahuan mah kayaknya udah bagai tsunami ya di era medsos kayak saat ini. Parenting group via wa juga udah gak terhitung. Yang dibutuhkan latihan menurut saya mah. Biar ilmunya tak hanya jadi koleksi, tapi teramalkan dan jadi berkah.

 

 

 

mendengarkan vs menasihati

Salah satu rejeki yang harus disyukuri oleh “anak sekolahan” adalah bila dapat Pembimbing yang supportif. Di jenjang pendidikan mana pun, S1 apalagi S2 dan S3, hubungan dengan Pembimbing selalu menjadi faktor yang berdampak besar pada “kesuksesan” penyelesaikan skripsi/tesis/disertasi dan kesejahteraan psikologis penyusunnya. Maka, tentu saya bercita-cita menjadi Pembimbing yang supportif terhadap mahasiswa saya. Bukan apa-apa…saya tuh suka ngebayangin pertanggungjawaban di akhirat uy… kalau sampai mahasiswa saya menuntut bahwa saya menghambat karirnya, membuat harga dirinya hancur lebur, kesehatan mentalnya menurun…. Dear mahasiswa-mahasiswi bimbingan saya, maapken kalau saya kurang supportif ya….

Masalahnya adalah, untuk bisa supportif ini, tidak cukup dengan cita-cita. Salah satu issu yang sering didiskusikan oleh kami para dosen “muda” adalah, bagaimana belajar teknik-teknik untuk memberi tanggapan yang supportif pada mahasiswa, se-gimana-pun kondisi mahasiswanya. Buat kami-kami yang lagi sekolah, kami suka sharing pengalaman gimana cara Promotor dan atau Supervisor kami memberikan feedback yang kami rasa supportif.

Setelah 11 tahun berperan sebagai Pembimbing, mulai tahun lalu saya berperan sebagai mahasiswa. Selama satu tahun ini, banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari Tim Promotor saya  mengenai cara bersikap dan berperilaku sebagai Pembimbing yang supportif. Itulah yang ingin saya ulas dalam tulisan ini.

Tim Promotor saya adalah 3 orang ibu. Seorang ibu Profesor dan dua orang ibu doktor. Bersama saya, dua rekan mahasiswa satu bimbingan adalah dua orang ibu juga. Saya ber-anak 4, teman saya ber-anak 3 dan 1. Jadilah kami 6 orang emak yang berada dalam situasi akademik.

Saya ingat, setelah kami diterima, kami berkumpul dalam satu pertemuan untuk orientasi awal. Saya sudah menyiapkan mental bahwa kami akan diberikan arahan untuk masuk ke dunia akademik dengan “disiplin”, dan harus “meninggalkan” identitas ke-emak-an kami sebagai konsekuensi pilihan kami sekolah lagi. Apalagi ini jenjang S3, di almamater saya yang cukup dikenal “susah masuk susah keluar” haha….

Ternyata eh ternyata, dugaan saya meleset jauh. Pada pertemuan pertama tersebut, kami ditanyai satu-satu mengenai kehidupan keluarga kami. Anak berapa, umur berapa aja, suami kerjanya bagaimana, support system yang kami miliki apa saja, ada pembantu nginep atau engga, aktivitas kami selain kuliah apa saja. Setelah itu, Tim Promotor menjelaskan tanggung jawab kami dikaitkan dengan kurikulum. Lingkup penelitian yang harus kami lakukan, diseminasi nasional dan internasional, publikasi nasional dan internasional, dan terakhir…ini yang paling saya suka, Beliau memberikan arahan alternatif strategi sesuai dengan kondisi kami saat ini. Ya, Beliau tetap memberikan arahan minimal harus baca jurnal berapa per hari, menyisihkan waktu menulis berapa jam per hari, namun sama sekali tak mengabaikan kondisi “semesta” kami sebagai emak dan istri. 

“Karena kita sudah berkeluarga, punya peran sebagai istri dan ibu, jangan sampai sekolah ini melalaikan peran kita dalam keluarga. Oleh karena itu, kita harus pinter-pinter dan komitmen bagi waktu. Pagi-pagi, kita nyiapin anak-anak dulu. Nah, pas anak-anak sekolah, kita full konsentrasi ngerjain. Boleh di rumah, boleh di kampus, hayati di mana kita bisa konsentrasi penuh. Anak-anak pulang sekolah, berhenti dulu mengerjakan Disertasi. Dampingi, main sama anak. Nanti malem, pas anak-anak tidur, bangun jam 2. Yang muslim sholat dulu, lalu ngerjain lagi. sampai Shubuh. Shubuh bangunin anak-anak, bertugas lagi. Dengan cara begitu, minimal 5 jam kita punya waktu sehari untuk mengerjakan Disertasi. Trus harus disiplin memanfaatkan waktu. Karena kan kadang anak-anak sakit mendadak, suami juga misalnya sedang punya masalah perlu ditemenin….kalau kita disiplin, kita gak akan kena deadline. Jadi kita punya spare waktu untuk nemenin anak sakit atau nemenin suami”. 

Meskipun itu adalah nasihat “sederhana”, tapi buat saya punya daya “menggerakkan” yang sangat besar. Mengapa? Karena diawali dengan kesediaan untuk memahami. Dan dipahami itu, rasanya….. segalanya. Kalau seseorang bersedia memahami kondisi kita, kita akan merasa dianggap ada, dipedulikan, dihargai, ditemani, dicintai. Dan awal pemahaman itu adalah, dengan kesediaan mendengarkan. Saya pernah dengar cerita teman saya di Universitas yang lain, kebetulan Promotornya memiliki pendekatan yang berbeda. Promotornya “menutup mata” terhadap kondisi dirinya sebagai emak. Kala anaknya sakit, keluar kata-kata “ini sudah konsekuensi kamu yang memilih untuk sekolah lagi”. Kalimat pendek itu, sangat efektif untuk membuat teman saya jadi ilfill. Anaknya dianggap “tidak ada”, kondisinya tidak dipedulikan, terasa tidak diharga, apalagi ditemani dan dicintai.

Ya, keluarga memang tidak boleh jadi excuse. Dan agar keluarga tidak jadi excuse, perlu manajemen yang baik. Dan Promotor saya, menggambarkan jalan yang sangat gamblang bagaimana caranya memprioritaskan keluarga, bukan menjadikan keluarga sebagai excuse. (Lebih lanjut tentang issue ini, dapat dibaca pada https://fitriariyanti.com/2015/10/08/keluarga-prioritas-atau-excuse/ )

Selama proses bimbingan,  dua minggu sekali kami harsu presentasi di hadapan tim Promotor dan tim mahasiswa, dan mendapatkan feedback. Setiap kali selesai presentasi dan mendapat feedback, saya selalu merasa…. apa yang harus saya lakukan masih banyak banget, tidak akan mudah. Tapi perasaan itu selalu diiringi dengan perasaan bahwa “Saya akan bisa!”, excited, “on fire” haha… Itu adalah buah dari cara Tim Promotor memberikan feedback. Tidak menjatuhkan. Memposisikan kami dengan setara. Beliau-beliau selalu mengatakan: “Kalian akan menjadi doktor di bidang ini. Ini akan jadi expertise kalian. Kalian yang lebih paham. Yang kami lakukan adalah mengklarifikasi dan memberikan masukan”. Kalimat itu, membuat saya jadi merasa “tertantang”.

Dua minggu lalu, satu tahun setelah “wejangan awal” yang kami terima di atas, kami kembali berkumpul. Alhamdulillah target semester pertama Ujian Kualifikasi serta target semester kedua Seminar Usulan Penelitian Disertasi telah kami capai. Kini, kami bertiga adalah tiga emak Kandidat Doktor yang siap melakukan penelitiannya.

“Wejangan” untuk kami, nadanya sama dengan “wejangan” pertama. Masih diawali dengan kondisi kami masing-masing. Jujur saja, saya terharu sekali ketika Beliau memasukkan variabel “ayah saya yang sedang sakit” sebagai variabel yang perlu dipertimbangkan untuk menentukan strategi saya di semseter-semester ke depan. Demikian pula dengan kondisi masing-masing kami yang lain, sangat individual dan dipahami. Termasuk masalah finansial, karena kami akan mengambil data. Beliau tanyakan sumber pendanaan kami, jenis beasiswa, besarannya segimana, sumber lainnay darimana, sehingga bagaimana strateginya beda-beda.

Selain “wejangan” lain mulai dari hal filosofis sampai ke tataran praktis (misal : harus ngirit, jangan beli-beli yang gak perlu dulu, beli baju, tas, liburan, tunda dulu. Nabung buat ambil data. Ambil data itu butuh uang yang tidak sedikit). Ada satu hal yang berkesan sekali buat saya; yaitu saat Beliau menyampaikan bahwa di fase ini, bukan hal tak mungkin kita akan mengalami kondisi stress. Ya, ya, ya, sehebat apapun orangnya, saya selalu mendengar ada “fase” itu. Beberapa senior saya yang menurut saya super cemerlang pernah cerita pengalamannya. “Kalau belum nangis-nangis, belum merasa hopeless, gak akan lulus S3 mah Fit”. Kata seorang senior “Pernah ya, saya dieeem aja tiga hari. Air mata netes-netes aja…gak tau lagi harus gimana…” kata senior saya yang lain.

Nah, di pertemuan itu, Tim Promotor saya juga cerita bagaimana “fase airmata” itu ia alami. Bagaimana stresfull nya Beliau, sampai suaminya nelpon, langsung pulan dari kantor, menghibur, sampai beliau nge-blank, nangis-nangis, sampai harus fisioterapi karena tangannya sakit mengetik terus, dll dll.

Apakah cerita dari para senior dan promotor yang saya kagumi itu membuat nilai mereka “turun” di hadapan saya? no no no. Malah sebaliknya. Mengetahui bahwa mereka pernah mengalami periode “jatuh” dan lalu mereka bisa bangkit kembali dan jadi “hebat” seperti sekarang, memberikan kekuatan bahwa kalau saya pun juga mengalami fase itu, saya yakin bisa bangkit dan tegak berdiri seperti mereka. Perasaan “berdaya” itu tumbuh dengan role model dari mereka.

Menjadi ibu, menjadi dosen, menjadi psikolog, menjadi profesional di bidang apapun, menjadi ustadz/ustadzah, menjadi “duta agama”, menjadi istri, menjadi suami, menjadi teman; dalam hubungan apapun dengan sesama manusia, menurut saya punya satu kesamaan. Semua peran itu intinya adalah HELPING RELATIONSHIP. Hubungan membantu.

Dengan ilustrasi pengalaman saya dengan Tim Promotor, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa syarat-syarat hubungan membantu itu adalah:

  1. Kesediaan untuk mendengarkan kondisi awal orang lain
  2. Kesediaan untuk memahami kondisi awal orang lain; untuk mengajaknya memenuhi “target” yang akan dicapai
  3. Memperlakukan orang lain sebagai seseorang yang “setara”; dengan memberikan penghargaan atas capaiannya, sekecil apapun capaian itu
  4. Menjadi role model sebagai “manusia”; yang punya kelemahan, pernah mengalami kegagalan, kesulitan, namun berupaya untuk bangkit kembali.

Silhouette of helping hand between two climberCita-cita semulia apapun: mendidik, berdakwah, membimbing, mengasuh, mengajak pada kebaikan, …. tanpa 4 prinsip itu, hanya basa-basi semata.

Jangan “bodoh” memaknai kata  “menasihati” di Al-Qur’an dengan menutup mata terhadap kondisi orang yang akan kita ajak ke kebaikan, lalu meluncurkan serangkaian kata-kata bijak harusnya begini begitu begini begitu. Kita diberikan akal oleh Yang Maha Kuasa untuk “menasihati” anak-anak kita sesuai dengan usianya dan  kondisinya.

Cita-cita mulia untuk “membantu” dan “mendidik”, hanya akan menjadi basa-basi jika kita memposisikan diri sebagai “orang sempurna” yang mendikte harusnya begini- harusnya begitu tanpa kesediaan membuka mata membuka telinga terhadap kondisi orang yang akan kita ajak, tanpa kesediaan untuk menempatkan mereka secara setara (punya potensi kebaikan) dan menghargai setiap proses yang dilakukan.

 

 

 

Previous Older Entries Next Newer Entries