Collateral Damage Sekolah Favorit : waspadalah ! waspadalah !

Satu bulan terakhir  ini adalah bulan yang “panas” buat para ortu yang anaknya akan masuk SMP, SMA dan atau Perguruan Tinggi. Ketegangan menunggu pengumuman NEM, disusul dengan ketegangan menunggu pengumuman sekolah. Saya sendiri baru akan memasuki zona “ketegangan” itu tahun depan, saat si sulung keluar SMP. Tahun depan, si sulung akan masuk SMA, si bujang kecil masuk SMP, si bungsu masuk SD. Si bujang kecil yang akan masuk SMP gak akan terlalu bikin tegang. Karena kami sudah memutuskan ia akan masuk SMP swasta, yang sistem maupun persaingannya tak akan se”panas” masuk sekolah negeri, terutama negeri “favorit”. Jadi, tahun depan adalah pengalaman pertama memasukkan anak ke SMA negeri melalui sistem PPDB yang setiap tahun selalu meninggalkan cerita.

Tema-tema status dan tema-tema obrolan di wag-wag, banyak memaparkan “ketegangan” para ortu. Apakah anak-anaknya pun ikutan tegang? wallahu alam. Saya gak punya akses ke mereka. Ada sebagian ortu yang mengatakan anaknya mah lempeng-lempeng aja hehe… Tapi who knows…. wallahu alam saya gak tahu.

Karena “panas”nya topik ini, saya juga jadi terpapar beberapa informasi, misalnya informasi nem-nem yang sudah mendaftar ke sekolah-sekolah favorit, peserta yang mendaftar ke sekolah favorit vs kuota yang tersedia. Membaca angkanya, saya sempat bergidik. Gile…zaman saya dulu, yang rata-rata 9 itu udah istimewa banget. Tapi kini, nem 27 buat anak SD atau 36 buat anak SMP, itu kayak “ga ada apa-apanya”.

Kenapa ya? apakah anak-anak sekarang demikian pinter-pinternya? atau, soal UN-nya gak punya “daya diskriminasi” yang baik sehingga tidak bisa “membedakan” kemampuan anak yang satu dengan yang lainnya? Atau …. seperti kasak-kusuk selama ini, ada upaya meng-up grade nilai di tiap sekolah? wallahu alam.

Tapi nilai-nilai yang tinggi ini berdampak pada satu hal : persaingan yang ketat untuk masuk “sekolah favorit”. Nah, ini yang ingin saya ulas. Sekolah favorit itu yang kayak gimana? Di semua kota, sudah ada label SMA favorit:  SMA ini SMA itu. SMP favorit: SMP ini SMP itu. Kefavorit-an sekolah-sekolah tersebut membuat banyak orangtua (dan anak?) menetapkan sekolah-sekolah itu menjadi tujuan. Di beberapa bimbel, ada program khusus intensif untuk menembus SMP itu dan SMA ini. Harganya, tentu lebih mahal dibandingkan program biasa.

Dugaan-dugaan mengenai “kecurangan” serta “tidak transparansnya” sistem di beberapa sekolah favorit sering muncul dalam obrolan, membuat kecewa orangtua yang “jujur”. Tapi tetep aja pengen anak-anak kita  masuk kesitu. Padahal iklim sekolahnya berarti kurang positif. Atau ada aspek penting lain yang kita perjuangkan?

Yang harus kita renungi sebenarnya adalah…mengapa sekolah-sekolah tersebut disebut favorit? karena bagus? oke, bagus dalam hal apanya? Beberapa hari yang lalu saya mendengar kabar di sebuah kota sebuah provinsi, sistem PPDB nya membuat anak-anak yang ber-NEM tinggi “takut” untuk mendaftar di sebuah sekolah favorit. Akibatnya, sekolah favorit itu kekurangan kuota dan akhirnya “terpaksa” menerima anak-anak dengan NEM “berapapun”. Salah seorang orangtua yang anaknya bernilai tinggi dan diterima di sekolah favorit tersebut, merasa resah. Ia mengatakan: kalau input anak-anaknya seperti itu, gimana kualitasnya? padahal ia memilih sekolah itu karena “kualitasnya”. Hal ini membuat saya menjadi berpikir: jadi ke”hebat”an, ke”bagus”an, ke”favorit”an sekolah itu pada aspek apa-nya? guru-nya kah? fasilitas-nya kah? input anak-anak yang masuk-nya kah? persaingan-nya kah? atau ….. “kebanggaan atas nama besar”nya?

Nah, yang terakhir itu, “kebanggaan atas nama besarnya”, psikologis sekali. Saya mendengar bahwa melalui sistem PPDBnya, Pemerintah kota tengah mengupayakan “penghapusan” favoritisme sekolah. Idenya ingin seperti di luar negeri: setiap sekolah unggul karena menyerap putera-puteri terbaik di daerah sekitar sekolah tersebut. Saya mendengar bahwa aspek-aspek yang terkait dengan sekolah, misalnya guru: dirolling. Fasilitas disamakan. Namun sepertinya itu tak banyak berdampak. Mungkin akarnya karena favoritisme itu terkait dengan aspek psikologis. Dan endorsement terhadap aspek psikologsi ini, sangat kuat. Apalagi di jaman medsos dimana semua informasi terpapar gamblang.

Maka, bisa jadi semua upaya penghapusan favoritisme sekolah itu menjadi hanya basa-basi. Misalnya saja, salah satu pejabat yang mengkampanyekan gagasan “Sekolah dimana saja sama saja”; namun pas putera/puteri-nya masuk di salah satu sekolah favorit, mengupload kebanggaan tak terkira. Lewat gambar, lewat kata-kata.

“Identitas kelompok” memang menjadi salah satu fenomena yang khas di negara-negara collectivism. Kalau suami saya alumni SMA itu, saya keren. Kalau ikutan reuni sekolah ini, berarti saya orang hebat. Kalau ikut kegiatan ini, berarti saya orang shaleh. Kalau nulis tema ini, berarti saya orang intelek.

Apakah salah? engga sih.  Cuman dalam konteks sebagai orangtua yang harus mengajarkan nilai -niai kehidupan pada anak-anak kita, jangan sampai sikap kita salah ditangkap oleh anak.

Saya sangat bisa memahami alasan logis orangtua berusaha agar anaknya masuk ke sekolah favorit. SMP favorit akan mengntarkan anak ke SMA favorit. SMA favorit akan mengantarkan anak ke PT favorit. PT favorit akan mengantarkan anak ke pekerjaan favorit. Lalu apa?

Saya banyak mengenal orang-orang dengan “jalur favorit” itu. Lalu apa? mereka jadi bahagia. sukses. bermanfaat untuk orang banyak. Alhamdulillah. Pertanyaannya adalah: apakah jalur “favorit” itu merupakan satu-satunya cara dan satu-satunya jaminan bagi anak-anak kita untuk bahagia, sukses, bermanfaat untuk orang banyak? oh ada satu lagi ! kebanggaan. Kebanggan buat siapa? buat anak? buat orangtua?

Membuat anak menetapkan target mencapai nilai tertentu untuk masuk sekolah favorit tertentu, is oke. Menjelaskan pada anak bahwa dengan masuk sekolah SMP favorit, ia akan mudah masuk SMA favorit, sehingga nanti akan mudah masuk PT favorit dan dapat kerja favorit, is oke. Namun menanamkan bahwa itu satu-satu cara (baik dengan bahasa lugas maupun eksplisit, baik secara verbal maupun non verbal) bagi anak untuk SUKSES dan BAHAGIA, itu tidak oke. Apalagi menanamkan keyakinan bahwa  masuk di sekolah-sekolah favorit itu adalah SATU-SATUNya cara baginya untuk MEMBAHAGIAKAN orangtuanya, itu salah besar. Itu akan menghancurkan anak-anak kita.

Dramatis? ya. Tapi pada kenyataannya, itu banyak terjadi. Saya pernah bertemu seorang anak usia belasan yang merasa hidupnya sudah gagal. “Hanya” karena ia tak bisa masuk sekolah favorit yang ditargetkan.

suksesiKenapa ia merasa SELURUH HIDUPNYA telah  gagal? karena sepanjang hidupnya telah tertanam dalam pikirannya, bahwa standar kesuksesan baginya adalah HANYA jika ia masuk SMP itu, masuk SMA itu, masuk JURUSAN itu, di PERGURUAN TINGGI  itu. Ia menganggap kegagalannya masuk SMP itu, adalah seperti keruntuhan domino. Skema ini yang telah tertanam, ia tak mengenal skema lain. Ia tak mengenal ada skema yang menunjukkan bahwa ada seribu satu jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuan akhir yang ia inginkan. Ia tak pernah mengenal skema bahwa ia bisa mengevaluasi, lalu memodifikasi bahkan mengubah tujuannya.

Kenapa ia merasa SELURUH HIDUPNYA telah gagal? karena sepanjang hidupnya telah tertanam dalam perasaannya, bahwa satu-satunya cara untuk membuat orangtuanya bangga dan bahagia adalah HANYA jika ia masuk SMP itu, masuk SMA itu, masuk JURUSAN itu, di PERGURUAN TINGGI itu. Ia menganggap kegagalannya masuk SMP itu, adalah seperti keruntuhan domino. Skema ini yang telah tertanam, ia tak mengenal skema lain. Ia tak mengenal ada skema yang menunjukkan bahwa ada seribu satu jalan yang bisa ditempuh untuk membuat orangtuanya bangga dan bahagia. Ia tak pernah mengenal skema bahwa orangtuanya bisa menerima bentuk prestasi yang lain selain prestasi masuk “jalur favorit”.

Sedih sekali kalau anak-anak kita menggantungkan harga diri, kepercayaan diri, cinta orangtua bahkan seluruh kehidupannya pada “sekolah favorit”. Seorang teman saya, seorang psikolog sekolah, bercerita bahwa kalau anak-anak sekarang ditanya cita-citanya apa, banyak yang jawabannya bukan profesi. Tapi “diterima di SMP ini”; “diterima di SMA itu”. Semoga haltersebut tidak menunjukkan ada perubahan posisi sekolah favorit dari SALAH SATU CARA menjadi SATU-SATUNYA TUJUAN

Maka, kalau kita jujur bahwa masuk sekolah favorit diposisikan sebagai “media” untuk memotivasi anak, kita hanya perlu bercermin saat anak kita diterima atau tidak diterima di sekolah favorit tersebut. Sikap kita, perilaku kita,  akan mengatakan segalanya.

Saya selalu ingat obrolan dengan seorang remaja belasan tentang hal ini. Begini kurang lebih kata-katanyanya;

“Sebenernya saya dan teman-teman banyak yang pede sih dengan kemampuan kita. Tapi yang bikin stress adalah, diri kita dinilai dan ditentukan oleh sebuah nilai, yang seolah-olah menggambarkan diri kita secara keseluruhan.”

“Sering orangtua hanya melihat satu hal aja, misalnya biar gampang masuk sekolah seterusnya. Tapi kan yang ngejalanin hari demi hari-nya kita. Yang ngerasain nyaman atau engga-nya kita. Meskipun kita bisa, kita mampu, kita gampang, kan kita juga pengen nyaman”

Maka, sekali lagi, sebagai orangtua kita perlu “menggugat niat” kita memotivasi anak kita untuk masuk skeolah favorit.

  • Sebagai SALAH SATU  cara untuk memotivasi sikap mental sungguh-sungguh?
  • Sebagai media bagi kita sebagai  “intellectual climber” (hehe…. ini adalah padanan dari “social climber”; dimana misalnya kita dulu gak bisa mencapai yang favorit-favorit itu, trus kita “maksa” anak biar kitanya jadi “keangkat” ke komunitas itu;)
  • Sebagai “piala” kebanggaan? anak gue masuk SMP ini, SMA itu loooh
  • Sebagai romantisme ? (Asiiik…nanti kita bisa reuni bareng). Keluarga besar kita alumni sekolah itu semua !

Kebanggaan sebagai alumni sekolah favorit, memang tak terkira. Membuncahnya perasaan ketika menyebutkan nama sekolah kita, menunjukkan logo sekolah, mengenang kisah dan gambar yang menunjukkan identitas sekolah kita, menikmati reaksi orang lain yang mengagumi kita saat kita tahu alumni sekolah mana. Nikmati saja selama itu tak berbenturan dengan kesejahteraan psikologis anak-anak kita. Tapi kalau efek sampingnya bikin anak kita “terancam”, maka perlu kita gugat ulang niat kita.

Kalau kita sedang tegang, sempatkah kita menatap wajah anak kita? apakah ia tegang juga? Kalau kita sedang sibuk dengan kecemasan kita, sempatkah kita menelisik perasaan anak kita? Kalau kita sedang sibuk mencari informasi, apakah kita sempat mengobrol dengan anak kita?

Hei….dia yang akan menjalaninya…bukan kita …Kita tidak sedang mencari sepatu yang pas buat kita. Sepatu itu akan dipakai oleh anak kita.

Kalau kita terlalu fokus dengan perasaan kita, pemikiran kita, keingian kita, lalu siapa yang akan peduli pada perasaannya, pemikirannya, keinginannya? Kalau kita terlalu fokus pada kata diterima atau ditolak, berhasil atau gagal, siapa yang akan memeluknya, menenangkannya? mengatakan bahwa hidupnya akan baik-baik saja, bahwa you are not alone? . Bahwa ini cuman masalah sekolah, bukan seluruh kehidupannya?

Perasaan dan kehidupan panjang anak kita, janganlah jadi collateral damage dari kebanggan kita terhadap sekolah favorit. Konon, untuk bisa survive di masa depan yang akan sangat cepat perubahannya, salah satu kompetensi yang diperlukan adalah fleksibilitas. Fleksibilitas ini akar dari kreatifitas, adaptasi, dan sejumlah kemampuan penting lainnya di masa depan. Maka, menanamkan sikap dan pola pikir bahwa kesuksesan hanya bisa dicapai dengan masuk SMP ini SMA itu, adalah seperti memberikan senjata makan tuan buat anak- anak kita.

Aku.Kamu.Kita : #Renungan 180 Purnama (Sneak Peek)

Beberapa tahun yang lalu, mas mengajak saya menghadiri undangan ulang tahun pernikahan ke-25 seorang seniornya. Ini adalah undangan ulang tahun pernikahan “orang lain” pertama yang saya hadiri. Acaranya meskipun sederhana namun meriah. Alur acara ditata apik dan dikomandoi oleh seorang MC profesional yang asik dan kocak, mengajak hadirin turut larut dalam kebahagiaan pasangan yang berulang tahun.

Dari rangkaian acara yang ada: tiup lilin, tausyiah dari ustadz, kuis-kuis dengan doorprize menarik, makanan yang enak-enak, ada satu mata acara yang sangat berkesan buat saya. Ialah ketika sang suami, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan 25 tahun pernikahannya. Ia, didampingi oleh istri dan anak-anaknya, menceritakan kisah perjalanan 25 tahun pernikahannya, diiringi oleh tayangan foto-foto sesuai dengan ceritanya. Mata beliau dan istrinya sesekali basah, sesekali tertawa riang…dan saya pun ikut larut dalam emosi mereka. Beliau menceritakan bagaimana latar belakang keluarganya dan istrinya, bagaimana mereka bertemu, perjuangan mereka di awal menikah, kisah kelahiran anak-anak mereka, suka duka saat kuliah di luar negeri, pengorbanan istrinya, …. sampai kini beliau pribadi maupun keluarganya menjadi keluarga yang “sukses”.

Pulang dari acara itu, di mobil topik pembicaraan kami masih seputar acara itu. Kami mengandai-andai pernikahan kami sampai di usia 25 tahun. Seperti apa kira-kira “rupa” keluarga kami ya? Mas berarti sudah umur 51 tahun. Karirnya udah sampai mana ya? Mimpi-mimpinya, target-target pribadinya, sejauh mana yang sudah tercapai? Saya sudah berumur 48 tahun. Udah jadi apa ya? Udah berkarya apa saja? Si sulung 24 tahun. Udah nikah? Udah punya anak? Si bujang kecil umur 21 tahun. Sudahkah kuliah di Swiss seperti yang ia impikan? Si gadis kecil umur 18 tahun. Si ceriwis itu penampakannya kayak gimana ya? Si bungsu 15 tahun, udah kayak apa ya? Masihkan selalu riang seperti saat ini?

Pembicaraan lalu beranjak pada milestone-milestone penting yang diceritakan senior mas tadi. Lalu kami pun mengenang milestone-milestone penting pernikahan kami. Mata berkaca dan tawa menertawai kebodohan kami berdua, juga mewarnai obrolan kami. Obrolan diakhiri dengan perdebatan panjang bagaimana bentuk acara yang akan kami gelar pas ulangtahun pernikahan ke 25 nanti haha…. Perdebatan panjang seperti yang biasa terjadi di toko mebel, di toko gorden, di toko wallpaper, juga di toko bunga setiap kali kami akan membeli barang-barang  untuk menghiasi rumah kami kkkk.

Dan seperti biasanya, perdebatan panjang kami belum menemukan titik temu. Memang biasanya titik temu akan terjadi ketika perdebatan sudah masuk ronde ke lima haha…Akhirnya kalimat penutup kami “nanti lah, kita obrolin lagi, masih lama ini”. Tapi satu hal yang kami sepakati dalam perbincangan dan perdebatan panjang kami, bahwa pernikahan yang telah kami jalani, harus kami syukuri.

Tgl 15 Juni, kami tetapkan sebagai hari ulang tahun keluarga. Merencanakan apa yang akan kami lakukan di tanggal itu, sudah jadi semacam ritual. Mulai dari makan bareng, bikin-bikin sesuatu yang akan jadi “jejak” dalam keluarga kami, dan saya selalu sempatkan untuk menuliskan renungan tahun demi tahun pernikahan kami. Sungguh, saya benar-benar bersyukur memiliki pasangan yang menjadi pelengkap hidup saya. Sebagai teman, sahabat, imam, soulmate. Tapi saya kadang suka berpikir: ih, lebay gak ya? Baru aja nikah segitu tahun. Belom ada apa-apanya kaleee…

Suatu waktu, dalam perbincangan saya dengan dua senior saya yang usia pernikahannya sudah menjelang tahun ke-40, saya bertanya: apa yang membuat mereka bisa mempertahankan pernikahan se-lama ini. Dari perbincangan itu saya menyimpulkan bahwa proses adaptasi, proses mengenal pasangan, proses belajar menyelesaikan masalah,  terus terjadi tahun demi tahun pernikahan. Mengapa? Karena suami dan istri, adalah manusia yang mengalami perubahan. Maka, sesungguhnya, orang yang kita nikahi, bisa jadi menjadi berbeda dalam sebagian dirinya. Demikian juga diri kita.

Kalau kata salah satu senior saya, menikah itu kayak kuliah. Setiap semester pelajarannya berbeda, ujiannya juga beda. Kata-kata itulah yang membuat saya yakin bahwa pernikahan yang telah kami jalani, harus kami syukuri. Tahun demi tahunnya, bulan demi bulannya, minggu demi minggunya, hari demi harinya. Tak perlu menunggu tahun ke-25. Kami tak tahu pelajaran apa yang akan kami pelajari di tahun-tahun ke depan, sesulit apa ujiannya, dan apakah kami akan sanggup melewatinya. Tapi yang pasti, pelajaran di 15 tahun ini, hasil ujian yang kami lewati 15 tahun ini, adalah sebuah “prestasi” yang harus benar-benar kami syukuri.

Beberapa tahun terakhir ini, cukup banyak mahasiswa saya yang menikah. Beberapa dari mereka, mengantarkan undangannya secara personal, entah janjian di kampus atau di rumah. Dalam kesempatan tersebut, sebagian curcol mengenai hal-hal yang diresahkan, sebagian meminta “nasihat pernikahan” haha…jelas banget saya udah tua 😉. Tapi dari obrolan itu, membuat saya menyadari bahwa teryata banyak hal-hal yang saya pelajari dalam perjalanan pernikahan ini. Ya…hal-hal yang engga kepikir waktu saya dalam posisi seperti mahasiswa-mahasiwa saya, yang baru akan memasuki dunia pernikahan. Ternyata, pelajaran-pelajaran itu adalah hal yang berharga bagi yang belum menjalaninya.

Tahun-tahun terakhir ini pula, saya banyak bertemu dengan persoalan-persoalan yang terkait dengan pernikahan. Meskipun fokus utama dalam menjalani profesi saya adalah kesejahteraan anak, namun nyatanya kesejahteran anak dalam keluarga tak lepas dari kualitas pernikahan orangtuanya. Maka, membahas persoalan anak, biasanya lekat dengan bahasan mengenai kualitas pernikahan. Oleh karena itulah, akhirnya saya belajar mengenai couple therapy dan family therapy. Kerangka pikir yang saya dapat dari hasil belajar tersebut, dipadukan dengan hasil penelitian teman-teman saya yang area penelitiannya di bidang pernikahan serta pengamatan dan penghayatan saya terhadap kehidupan pernikahan, maka semakin jelas “peta potensi masalah dan kunci-kunci keberhasilan sebuah pernikahan”. Saya juga semakin menyadari bahwa hal-hal “kecil” yang terkadang luput dari perhatian dalam kehidupan pra dan pasca pernikahan, bila tak kita sadari, pada suatu saat akan menjadi bom waktu yang membuat pernikahan yang seharusnya menjadi syurga dunia, berbalik menjadi neraka dunia.

Untuk mensyukuri keberkahan yang kami rasakan selama 15 tahun kebersamaan kami, mas memprovokasi saya untuk menyusun sejumlah tulisan dengan tema-tema yang kami temui dalam perjalanan 15 tahun ini. Buku ini tidak bertutur banyak mengenai perjalanan pernikahan kami. Biarlah itu tersimpan di diary saya pribadi hehe… tapi topik-topik dalam buku ini, terinspirasi dari perjalanan pernikahan kami.

Tadinya, buku ini akan launching tepat hari ini. Seorang teman yang mengetahui rencana ini, berkomentar: “swit swiw…romantis amat launching buku pas wedding anniversary”. Iya, rencananya memang se-romantis itu. Tapi romantisme itu ternyata berbenturan dengan kenyataan. Jadwal finalisasi naskah bentrok sama deadline target disertasi. Mana yang harus lebih diprioritaskan? tentunya realitas. Sama persis situasinya sama kondisi pernikahan di usia 15 tahun ini hehe…

Insya allah, beberapa bulan yang akan datang buku ini akan launching, dalam bentuk ebook, free download. Buat yang suka dan pengen punya versi hardnya, insyaallah akan dicetak juga.

Cover cantik buku ini adalah buah karya teman saya yang coretan-coretannya, selalu membuat saya jatuh cinta. Laila Qodariah, Lai panggilan sayangnya. Karya-karya cantiknya bisa dilihat di instagram @gambaremak. Bentuk gambar, font sampai printil-printil adalah hasil vote dari si abah dan anak-anak.

Semoga tulisan-tulisan sederhana dalam buku ini bisa menemani perjuangan dalam sebuah marathon bernama pernikahan. Mohon doa juga semoga  pernikahan kami, keluarga kami, selalu dikarunia keberkahan di dunia dan keselamatan di akhirat nanti.

15 Juni 2017

Skill Penting Buat Ibu : Self Compassion

Saya mengenal istilah compassion dari teman saya yang disertasinya mengenai topik itu. Melalui diskusi-diskusi kami, saya sedikit banyak mengenal konsep ini. Compassion, dapat diartikan sebagai “belas kasih”. Kata teman saya, compassion terbagai menjadi dua: compassion to other (belas kasih pada orang lain) dan self compassion (belas kasih terhadap diri sendiri).

Dalam tulisan ini, saya ingin mengulas mengenai self compassion pada seorang ibu. Belas kasih seorang wanita yang menjalankan peran sebagai ibu, terhadap dirinya sendiri.

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh penerawangan saya (hehe… dukun mode: on) mengenai kondisi psikologis ibu yang bisa menjadi “prasyarat” terjadinya interaksi yang positif dengan anak-anaknya. Dalam beberapa tulisan sebelumnya, saya sering menyampaikan bahwa ilmu pengasuhan se”keren” apapun, se”islami” apapun, se”baik” apapun, tak akan bisa kita amalkan dengan baik apabila kondisi emosi kita sedang “rusuh”. Susah banget untuk menjadi playful sama si kecil kalau kita lagi “tegang”. Sangat gak mudah bisa menerima kekurangan anak kita kalau kitanya “gak rileks”. Super duper sulit menghargai si remaja kalau kitanya lagi “mumet”.

Dan, salah satu sumber ketegangan, sumber stress seorang ibu adalah perasaan “bersalah” karena kekeliruan langkah pengasuhan yang ia lakukan. Sebenarnya, kesadaran bahwa kita pernah “salah langkah” dalam mengasuh, adalah hal positif. Namun bila tidak kendalikan, itu bisa jadi bumerang. Ada banyak ibu yang kemudian “tenggelam” dalam rasa bersalahnya, sehingga malah gak bisa “memperbaiki situasi”.

Rasa bersalah seperti apa sih? Saya punya pengalaman rasa bersalah yang bisa jadi ilustrasi.

Waktu pertama kali melahirkan, 14 tahun lalu, sakit melahirkan dengan induksi bisa saya tahan. Tidak menjadi “traumatis” buat saya, karena saya sudah sering denger cerita dan sudah banyak baca tentang cerita sakitnya melahirkan. Jadi secara psikologis saya sudah menyiapkan diri.  Tapi sakit yang membekas banget adalah pada saat menyusui pertama kali. Bukan di putingnya. Berbekal puluhan buku yang saya baca untuk persiapan hamil, melahirkan dan merawat bayi, sejak hamil saya sudah melakukan perawatan pada puting sehingga pas bayi lahir, sudah dalam kondisi “elastis”. Yang luput dari perhatian saya  dan gak pernah ada yang cerita adalah, sakitnya rahim saat si kecil menyusu. Belakangan saay tahu bahwa ketika bayi mengisap susu, berdampak pada pengerutan kembali rahim untuk kembali pada ukurannya semula. Sakitnya itu, buat saya ngalahin sakit kontraksi. Dan karena tidak ada antisipasi secara psikologis, maka “memori tubuh” terhadap rasa sakit itu terbawa pada saat saya melahirkan anak kedua, si bujang kacil, 3 tahun kemudian.

“Rekaman” kejadian 11 tahun lalu, masih jelas di kepala saya. Disadari atau tidak, saya “enggan” menyusui si bujang kecil di hari-hari pertama kelahirannya. Saya tahu betul, kolostrum itu penting, produksi susu hari-hari pertama sangat diperlukan bayi. Namun “ingatan tubuh” itu sulit saya lawan. Sampai saya ditegur dokter. Kurang telatennya saya mempersiapkan perawatan puting pra-kelahiran juga membuat puting saya lecet berat. Meskipun saya tetap bertekad untuk memberikan ASI exclusive, namun ingatan akan rasa sakit di rahin ynag tak tertahankan, membuat semangat saya menyusui tak seperti waktu menyusui si sulung.

Di hari ke-4nya, saat kontrol, si bujang kecil tak bisa saya bawa pulang. Ia harsu masuk ruang perawatan untuk “disinar” karena bilirubinnya tinggi. Aqiqah yang sudah dipersiapkan di hari ke-7nya, kami batalkan. Saya menghayati saat itu, itu adalah hukuman Allah buat saya. Kontan. Rasa bersalah saya tak tertahankan. Ekspresinya, adalah tindakan irasional. Setiap hari, sambil tak henti menangis, saya memerah ASI saya, yang keluar bercampur darah karena lecet puting. Cuman dapat 30 ml paling; tapi saya paksa suami saya antar ke Rumah Sakit. Mas berangkat, saya tak henti-henti memerah. Sakit sih, tapi saya pikir saya harus dihukum. Saya layak mendapatkannya. Alhamdulillahnya meskipun kala itu pernikahan kami baru berjalan 4 tahun, Mas memahami kondisi psikologis saya. Dia bisa tiga kali bolak-balik ke RS yang tak dekat jaraknya dari rumah, untuk mengantarkan ASI. Sepertinya ia paham bahwa hal ini penting untuk membuat saya merasa bahwa saya bisa “menebus” kesalahan saya. Seminggu kemudian si bujang kecil bisa pulang, alhamdulillah kemudian ASI lancar.

Menjelang usia 2 tahun, si bujang kecil belum bisa mengucakan kata dengan jelas. Selain itu, ia mengalami masalah dalam integrasi sensoris. Ada “tactile defensiveness”, yang tampil dalam perilaku “jijik-an”, juga hipersensitif dalam indera pengecap dan pembau. Sampai usia itu (dan berlanjut sampai usia 4 tahun), ia tidak bisa makan nasi. Perilaku yang tampak adalah picky eater. hanya 3 jenis makanan yang bisa ia “toleransi”. Kalau saya sedang masak, ia akan tutup hidung. Kalau diajak ke restoran terutama restoran padang, ia gak mau turun. Tutup hidung. Di masa inilah saya jadi kenal dengan ilmu sensory integrasi. Saya cari buku-bukunya, online resource dan course-nya. Alhamdulillah, sangat bermanfaat dalam profesi saya sebagai psikolog.

Karena khawatir dengan kemampuan bicara-nya, saya bawa ke seorang dokter tumbuh kembang ternama. Ia juga memiliki tempat terapi dengan pendekatan SI. Setelah diobservasi beberapa waktu, dokter menyatakan si bujang kecil memiliki simptom autisme. Dokter berusaha meyakinkan saya bahwa kontak mata si bujang kecil sangat minim. Saya sangat terpukul. Saat itu, saya sudah mulai bekerja secara formal. Rasa bersalah itu, muncul kembali.  Saya ingat sekali, waktu itu di depan dokter saya menyusui si bujang kecil, lalu dokternya bilang: “tuh liat bu, dia gak liat mata ibu kan?” Hiks…. rasa bersalah saya muncul lagi. Teringat kembali “keengganan” saya menyusui si bujang kecil, inget juga bahwa setiap kali menyusui, saya tidak “secara sadar” menatapnya seperti seharusnya dan saya lakukan pada si sulung. Banyak momen menyusui yang saya lalui sambil melakukan hal lain. Baca buku, jawab sms, bahkan mengetik mengerjakan ini-itu di laptop. Dan karena anaknya cukup anteng dan “gak protes”, maka kebiasaan itu berlanjut. Cukup lama saya down oleh judgement sang dokter. Down nya karena rasa bersalah itu! Saya ingat beberapa kasus yang diceritakan senior saya tentang “penolakan” ibu terhadap anaknya. Yang meskipun tidak disadari dan hanay ada dalam hati & kepala ibu, tetap secara psikologis berdampak pada anak. Karena perasaan “tak disadari” itu tetap muncul dalam perilaku baik verbal maupun non verbal, yang “terasa” oleh anak. Dan saya merasa, keengganan saya menyusui di hari-hari pertama kehidupannya adalah bentuk “penolakan” dari saya yang membuat si bujang kecil menjadi “tak terkoneksi dengan saya” . Runtuh rasanya dunia saat itu.

Sekitar satu bulan kemudia, rasionalitas saya mulai muncul. Saya membaca hasil observasi sang dokter, saya melihat ada yang kurang pas dalam metode observasinya. Misalnya ia meminta saya bermain dengan si bujang kecil selama 10 menit. Dianya ada di situ. Saya, bukan tipe orang yang mudah “ekspresif”. Maka, selama 10 menit dengan kehadiran beliau disana, saya gak bisa mensimulasikan bermain dengan si bujang kecil secara natural, sehingga respons si bujang kecil juga menjadi tidak tertangkap secara valid dari momen 10 menit itu.

Setelah saya observasi kembali dan minta teman saya mengobservasi, simptom autism itu tidak terlalu nyata. Saya harus berterima kasih banyak pada dokter, karena ada beberapa informasi  yang penting. Misal: tonus otot si kecil tergolong lemah. Maka, di usia 2-4 tahun, saya mulai men-terapi si bujang kecil. Inget banget eksplore metode dan cari alat buat menstimulasi tactile-nya. Mulai dari gak mau pegang playdough, anti banget pegang lem, sampai akhirnya 2 tahun kemudian bisa meremas-remas cairan telur mentah tanpa ekspresi jijik.

Perasaan bersalah masih terus menghantui, sampai akhirnya saya melihat…. klien-klien saya. Rasa bersalah seperti yang saya alami, jika tidak dikendalikan, dampaknya membuat kita tidak bisa menjadi rileks. Kenapa? karena kita belum memaafkan diri kita sendiri. Sama kayak kalau kita belum maafin orang yang bikin salah sama kita, bawaannya kesel kan…kan bisa objektif kan… demikian pula perasaan kita sama diri kita sendiri. Dan gawatnya, itu bisa jadi afirmasi buat kondisi anak kita. Saya banyak bertemu ibu yang menggambarkan anaknya, seperti gambaran sesuai rasa bersalahnya. Misalnya: anak saya gampang marah banget, soalnya pas hamil saya lagi ada masalah sama suami, dan tiap hari pasti saya ngamuk sama suami saya. Pas saya observasi anaknya, intensitas “gampang marah” si anak gak segitunya seperti yang digambarkan ibu. Anak saya punya masalah gangguan bicara ekspresif. Umur 4 tahun belum bisa ngomong. Itu karena saya terlalu riweuh, jadi anak dikasih tablet sama yutub aja, gak saya stimulasi. Anak saya begitu karena saya. Salah saya. Perasaan itu, sangat kontraproduktif. Sama seperti saya ketika saya dikungkung perasaan bersalah, maka simptom-simptom autism itu tampak banyak. Iya ya gak kontak mata. Nonverbal. Gak terkoneksi. Gak ada attachment …. dan dalam kondisi kayak gitu, maka kita dalam kondisi “tegang”; gak bisa rileks untuk fleksibel lihat sisi lain kemampuan anak, kelebihan anak.

Maka, berbelas kasih terhadap diri sendiri, self-compassion, untuk seorang ibu, sangatlah penting. Anaknya tetap sama, namun saya merasakan sekali beda rasanya setelah saya “memaafkan diri saya”. Mengakui dengan jujur bahwa saya dulu “enggan” menyusui si bujang kecil karena bla..bla..bla… Saya tahu itu salah, tapi itu wajar terjadi bagi “ibu muda” seperti saya. Tak akan saya ulangi lagi, tapi saya sama sekali tidak berniat menolak si bujang kecil, dan saya berusaha menebus kesalahan saya. Proses itu, sampai saya bisa “memaafkan diri” saya, butuh proses. Puluhan tulisan mengenai hal ini, baik di diary maupun di tulisan publik, adalah bagian dari proses itu. Sampai saat ini, saya bisa menulisnya tanpa air mata. Setelah proses itu terjadi, saya jauh lebih rileks. Lebih objektif. Lebih acceptance juga. Lebih jernih dalam menanggapi dan menstimulasi.

Berbelas kasih terhadap diri, beda jauh dengan denial. Berbelas kasih itu mengakui, lalu memaafkan. Denial itu tidak mengakui. Saya menemukan satu website bagus mengenai self compassion dalam parenting. Adalah Kristin Neff, PhD, seorang  associate professor of human development and culture at the University of Texas at Austin. Beliau pionir dalam penelitian mengenai self compassion dan di artikelnya  https://www.seleni.org/advice-support/article/the-newest-parenting-skill-self-compassion; sejalan dengan “penerawangan” saya hehe….

Secara lebih praktis, latihannya ada di http://self-compassion.org/category/exercises/.

3-Elements-of-Self-Compassion1Insyaallah, kalau panjang umur, beres sekolah 2 tahun lagi, saya bercita-cita banget kita para emak secara rutin kumpul buat latihan kayak gini-gini. Latihan worldview, latihan mendengarkan, latihan self-compassion; da kalau pengetahuan mah kayaknya udah bagai tsunami ya di era medsos kayak saat ini. Parenting group via wa juga udah gak terhitung. Yang dibutuhkan latihan menurut saya mah. Biar ilmunya tak hanya jadi koleksi, tapi teramalkan dan jadi berkah.

 

 

 

mendengarkan vs menasihati

Salah satu rejeki yang harus disyukuri oleh “anak sekolahan” adalah bila dapat Pembimbing yang supportif. Di jenjang pendidikan mana pun, S1 apalagi S2 dan S3, hubungan dengan Pembimbing selalu menjadi faktor yang berdampak besar pada “kesuksesan” penyelesaikan skripsi/tesis/disertasi dan kesejahteraan psikologis penyusunnya. Maka, tentu saya bercita-cita menjadi Pembimbing yang supportif terhadap mahasiswa saya. Bukan apa-apa…saya tuh suka ngebayangin pertanggungjawaban di akhirat uy… kalau sampai mahasiswa saya menuntut bahwa saya menghambat karirnya, membuat harga dirinya hancur lebur, kesehatan mentalnya menurun…. Dear mahasiswa-mahasiswi bimbingan saya, maapken kalau saya kurang supportif ya….

Masalahnya adalah, untuk bisa supportif ini, tidak cukup dengan cita-cita. Salah satu issu yang sering didiskusikan oleh kami para dosen “muda” adalah, bagaimana belajar teknik-teknik untuk memberi tanggapan yang supportif pada mahasiswa, se-gimana-pun kondisi mahasiswanya. Buat kami-kami yang lagi sekolah, kami suka sharing pengalaman gimana cara Promotor dan atau Supervisor kami memberikan feedback yang kami rasa supportif.

Setelah 11 tahun berperan sebagai Pembimbing, mulai tahun lalu saya berperan sebagai mahasiswa. Selama satu tahun ini, banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari Tim Promotor saya  mengenai cara bersikap dan berperilaku sebagai Pembimbing yang supportif. Itulah yang ingin saya ulas dalam tulisan ini.

Tim Promotor saya adalah 3 orang ibu. Seorang ibu Profesor dan dua orang ibu doktor. Bersama saya, dua rekan mahasiswa satu bimbingan adalah dua orang ibu juga. Saya ber-anak 4, teman saya ber-anak 3 dan 1. Jadilah kami 6 orang emak yang berada dalam situasi akademik.

Saya ingat, setelah kami diterima, kami berkumpul dalam satu pertemuan untuk orientasi awal. Saya sudah menyiapkan mental bahwa kami akan diberikan arahan untuk masuk ke dunia akademik dengan “disiplin”, dan harus “meninggalkan” identitas ke-emak-an kami sebagai konsekuensi pilihan kami sekolah lagi. Apalagi ini jenjang S3, di almamater saya yang cukup dikenal “susah masuk susah keluar” haha….

Ternyata eh ternyata, dugaan saya meleset jauh. Pada pertemuan pertama tersebut, kami ditanyai satu-satu mengenai kehidupan keluarga kami. Anak berapa, umur berapa aja, suami kerjanya bagaimana, support system yang kami miliki apa saja, ada pembantu nginep atau engga, aktivitas kami selain kuliah apa saja. Setelah itu, Tim Promotor menjelaskan tanggung jawab kami dikaitkan dengan kurikulum. Lingkup penelitian yang harus kami lakukan, diseminasi nasional dan internasional, publikasi nasional dan internasional, dan terakhir…ini yang paling saya suka, Beliau memberikan arahan alternatif strategi sesuai dengan kondisi kami saat ini. Ya, Beliau tetap memberikan arahan minimal harus baca jurnal berapa per hari, menyisihkan waktu menulis berapa jam per hari, namun sama sekali tak mengabaikan kondisi “semesta” kami sebagai emak dan istri. 

“Karena kita sudah berkeluarga, punya peran sebagai istri dan ibu, jangan sampai sekolah ini melalaikan peran kita dalam keluarga. Oleh karena itu, kita harus pinter-pinter dan komitmen bagi waktu. Pagi-pagi, kita nyiapin anak-anak dulu. Nah, pas anak-anak sekolah, kita full konsentrasi ngerjain. Boleh di rumah, boleh di kampus, hayati di mana kita bisa konsentrasi penuh. Anak-anak pulang sekolah, berhenti dulu mengerjakan Disertasi. Dampingi, main sama anak. Nanti malem, pas anak-anak tidur, bangun jam 2. Yang muslim sholat dulu, lalu ngerjain lagi. sampai Shubuh. Shubuh bangunin anak-anak, bertugas lagi. Dengan cara begitu, minimal 5 jam kita punya waktu sehari untuk mengerjakan Disertasi. Trus harus disiplin memanfaatkan waktu. Karena kan kadang anak-anak sakit mendadak, suami juga misalnya sedang punya masalah perlu ditemenin….kalau kita disiplin, kita gak akan kena deadline. Jadi kita punya spare waktu untuk nemenin anak sakit atau nemenin suami”. 

Meskipun itu adalah nasihat “sederhana”, tapi buat saya punya daya “menggerakkan” yang sangat besar. Mengapa? Karena diawali dengan kesediaan untuk memahami. Dan dipahami itu, rasanya….. segalanya. Kalau seseorang bersedia memahami kondisi kita, kita akan merasa dianggap ada, dipedulikan, dihargai, ditemani, dicintai. Dan awal pemahaman itu adalah, dengan kesediaan mendengarkan. Saya pernah dengar cerita teman saya di Universitas yang lain, kebetulan Promotornya memiliki pendekatan yang berbeda. Promotornya “menutup mata” terhadap kondisi dirinya sebagai emak. Kala anaknya sakit, keluar kata-kata “ini sudah konsekuensi kamu yang memilih untuk sekolah lagi”. Kalimat pendek itu, sangat efektif untuk membuat teman saya jadi ilfill. Anaknya dianggap “tidak ada”, kondisinya tidak dipedulikan, terasa tidak diharga, apalagi ditemani dan dicintai.

Ya, keluarga memang tidak boleh jadi excuse. Dan agar keluarga tidak jadi excuse, perlu manajemen yang baik. Dan Promotor saya, menggambarkan jalan yang sangat gamblang bagaimana caranya memprioritaskan keluarga, bukan menjadikan keluarga sebagai excuse. (Lebih lanjut tentang issue ini, dapat dibaca pada https://fitriariyanti.com/2015/10/08/keluarga-prioritas-atau-excuse/ )

Selama proses bimbingan,  dua minggu sekali kami harsu presentasi di hadapan tim Promotor dan tim mahasiswa, dan mendapatkan feedback. Setiap kali selesai presentasi dan mendapat feedback, saya selalu merasa…. apa yang harus saya lakukan masih banyak banget, tidak akan mudah. Tapi perasaan itu selalu diiringi dengan perasaan bahwa “Saya akan bisa!”, excited, “on fire” haha… Itu adalah buah dari cara Tim Promotor memberikan feedback. Tidak menjatuhkan. Memposisikan kami dengan setara. Beliau-beliau selalu mengatakan: “Kalian akan menjadi doktor di bidang ini. Ini akan jadi expertise kalian. Kalian yang lebih paham. Yang kami lakukan adalah mengklarifikasi dan memberikan masukan”. Kalimat itu, membuat saya jadi merasa “tertantang”.

Dua minggu lalu, satu tahun setelah “wejangan awal” yang kami terima di atas, kami kembali berkumpul. Alhamdulillah target semester pertama Ujian Kualifikasi serta target semester kedua Seminar Usulan Penelitian Disertasi telah kami capai. Kini, kami bertiga adalah tiga emak Kandidat Doktor yang siap melakukan penelitiannya.

“Wejangan” untuk kami, nadanya sama dengan “wejangan” pertama. Masih diawali dengan kondisi kami masing-masing. Jujur saja, saya terharu sekali ketika Beliau memasukkan variabel “ayah saya yang sedang sakit” sebagai variabel yang perlu dipertimbangkan untuk menentukan strategi saya di semseter-semester ke depan. Demikian pula dengan kondisi masing-masing kami yang lain, sangat individual dan dipahami. Termasuk masalah finansial, karena kami akan mengambil data. Beliau tanyakan sumber pendanaan kami, jenis beasiswa, besarannya segimana, sumber lainnay darimana, sehingga bagaimana strateginya beda-beda.

Selain “wejangan” lain mulai dari hal filosofis sampai ke tataran praktis (misal : harus ngirit, jangan beli-beli yang gak perlu dulu, beli baju, tas, liburan, tunda dulu. Nabung buat ambil data. Ambil data itu butuh uang yang tidak sedikit). Ada satu hal yang berkesan sekali buat saya; yaitu saat Beliau menyampaikan bahwa di fase ini, bukan hal tak mungkin kita akan mengalami kondisi stress. Ya, ya, ya, sehebat apapun orangnya, saya selalu mendengar ada “fase” itu. Beberapa senior saya yang menurut saya super cemerlang pernah cerita pengalamannya. “Kalau belum nangis-nangis, belum merasa hopeless, gak akan lulus S3 mah Fit”. Kata seorang senior “Pernah ya, saya dieeem aja tiga hari. Air mata netes-netes aja…gak tau lagi harus gimana…” kata senior saya yang lain.

Nah, di pertemuan itu, Tim Promotor saya juga cerita bagaimana “fase airmata” itu ia alami. Bagaimana stresfull nya Beliau, sampai suaminya nelpon, langsung pulan dari kantor, menghibur, sampai beliau nge-blank, nangis-nangis, sampai harus fisioterapi karena tangannya sakit mengetik terus, dll dll.

Apakah cerita dari para senior dan promotor yang saya kagumi itu membuat nilai mereka “turun” di hadapan saya? no no no. Malah sebaliknya. Mengetahui bahwa mereka pernah mengalami periode “jatuh” dan lalu mereka bisa bangkit kembali dan jadi “hebat” seperti sekarang, memberikan kekuatan bahwa kalau saya pun juga mengalami fase itu, saya yakin bisa bangkit dan tegak berdiri seperti mereka. Perasaan “berdaya” itu tumbuh dengan role model dari mereka.

Menjadi ibu, menjadi dosen, menjadi psikolog, menjadi profesional di bidang apapun, menjadi ustadz/ustadzah, menjadi “duta agama”, menjadi istri, menjadi suami, menjadi teman; dalam hubungan apapun dengan sesama manusia, menurut saya punya satu kesamaan. Semua peran itu intinya adalah HELPING RELATIONSHIP. Hubungan membantu.

Dengan ilustrasi pengalaman saya dengan Tim Promotor, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa syarat-syarat hubungan membantu itu adalah:

  1. Kesediaan untuk mendengarkan kondisi awal orang lain
  2. Kesediaan untuk memahami kondisi awal orang lain; untuk mengajaknya memenuhi “target” yang akan dicapai
  3. Memperlakukan orang lain sebagai seseorang yang “setara”; dengan memberikan penghargaan atas capaiannya, sekecil apapun capaian itu
  4. Menjadi role model sebagai “manusia”; yang punya kelemahan, pernah mengalami kegagalan, kesulitan, namun berupaya untuk bangkit kembali.

Silhouette of helping hand between two climberCita-cita semulia apapun: mendidik, berdakwah, membimbing, mengasuh, mengajak pada kebaikan, …. tanpa 4 prinsip itu, hanya basa-basi semata.

Jangan “bodoh” memaknai kata  “menasihati” di Al-Qur’an dengan menutup mata terhadap kondisi orang yang akan kita ajak ke kebaikan, lalu meluncurkan serangkaian kata-kata bijak harusnya begini begitu begini begitu. Kita diberikan akal oleh Yang Maha Kuasa untuk “menasihati” anak-anak kita sesuai dengan usianya dan  kondisinya.

Cita-cita mulia untuk “membantu” dan “mendidik”, hanya akan menjadi basa-basi jika kita memposisikan diri sebagai “orang sempurna” yang mendikte harusnya begini- harusnya begitu tanpa kesediaan membuka mata membuka telinga terhadap kondisi orang yang akan kita ajak, tanpa kesediaan untuk menempatkan mereka secara setara (punya potensi kebaikan) dan menghargai setiap proses yang dilakukan.

 

 

 

How To Be A Playful Mother

Dari sekian banyak teori-teori pengasuhan, Skinner, Johnson dan Snyder pada tahun 2005 melakukan review yang menyeluruh dan mengemukakan bahwa seluruh teori pengasuhan bisa diekstraksi menjadi 6 dimensi inti. Enam dimensi inti pengasuhan tersebut adalah warmth, structure, autonomy support, rejection, chaos dan coercion. Nanti kita bahas satu-satu ya, dari A sampai Z.

Pada tulisan ini saya ingin menyinggung sedikit mengenai dimensi pertama, yaitu warmth. Warmth atau “kehangatan”, adalah inti dari beragam istilah yang dikemukakan oleh beragam ahli. Istilah lainnya adalah penerimaan, cinta, dukungan, keterlibatan yang positif, kedekatan, hubungan, sensitifitas, attchment, keterikatan emosi. Intinya adalah ekspresi ce-i-en-te-a hehe…. Aspek ini merupakan aspek yang super duper penting; dan selalu ditemukan dalam beragam penelitian yang mengkaji pengasuhan orangtua pada anak.

Saya ingat salah satu status teman saya, seorang dokter gigi yang meneliti dan meyakini bahwa relasi yang baik antara dokter-pasien adalah unsur penting dalam profesinya. Statusnya kurang lebih begini: “peralatan canggih, teknik up to date, gak ada gunanya kalau pasien gak mau buka mulut”. Dalam praktek pengasuhan, saya pernah mendengar seorang ibu berkata: “percuma lah ikutan parenting ini itu; gak bisa dipraktekin kalau kitanya lagi kesel mah”.

Yups; syarat perlu dari semua teknik pengasuhan adalah suasana hati positif seorang ibu. Tau sih, kalau bangunin si remaja buat sholat subuh itu gak boleh sambil marah. Tapi kalau hati lagi kesel, boro-boro bisa sabar. Tau sih, kalau ngingetin anak itu jangan sambil ngomel. Tapi ini lagi bete, ngomel adalah hal yang “spontan”. Tau sih, si balita yang gak mau mandi itu, kalau dibujuk diajak main mah pasti seneng dan sukarela melakukannya. Tapi kalau lagi gak mood, semua pengetahuan itu menguap. Jadilah ilmu pengasuhan itu sebatas jadi koleksi, bukan ilmu yang bisa kita amalkan.

Nah…jadi, penting sekali buat emak-emak untuk menjaga moodnya tetap baik. Coba visualisasikan bentuk cinta dalam bayangan kita secara konkrit. Pasti sesuatu yang lembut, mengalir, halus, feminin. Bukan sesuatu yang keras atau tajam. Nah, itu nyambung dengan kondisi fisik kita. Kalau kiat lagi cemas, lagi kesel, lagi bete; badan kita tegang. Boro2 bisa meluk. Boro2 bisa membelai. Boro2 bisa berkata pelan dan berbisik. Maka, kalau kita sedang tegang secara psikologis, kita harus berusaha untuk mengembalikan kondisi menjadi rileks.

Gimana caranya biar bisa menjaga mood tetap baik, diantara keriweuhan kita sebagai emak? Beberapa hari lalu, saya dalam kondisi “tegang” itu. Sore sampai  malam, saya ngomel terus. Saya menguping obrolan si bungsu 5 tahun dan si gadis kecil 8 tahun yang sedang bermain bajak laut, begini: “kapten, ibu kita marah-marah terus ya..” //”iya, aku tidak suka mendengar marahnya. Ibu kita jadi sangat menyebalkan kalau marah-marah”//”iya, ibu kita jadi seperti monster laut kalau sedang marah-marah”//”ayo kita pergi saja mencari harta karun kapten, siapa tau harta karun yang kita dapatkan, bisa membuat marah ibu kita jadi hilang”//

Haha…hayang seuri jadinya. Paginya, saya bertekad memperbaiki mood saya. Waktu saya buka yutub mencari tutorial sebuah program yang belum saya pahami, di list yutub ada nursery rhymes. Tiba-tiba saya ingat satu video yang dulu kita suka nonton. Gerak dan lagu “hokey pokey”. Saya temukan video itu https://www.youtube.com/watch?v=d6d6Avbpjf8.  Si bungsu dan si gadis kecil yang mendengar suara lagunya di yutub langsung mendekat, lalu meraih tangan saya. Memang dulu kita sering joget bareng. Abis hokey pokey biasanya lanjut ke head shoulder knee and toe, dan selanjutnya dan selanjutnya.

Lalu, kami pun menari hokey pokey. Selesai satu lagu, ulang lagi..ulang lagi…ulang lagi… tak terasa, saya pun jadi menikmati dan berimprovisasi. Improvisasi yang membuat kami tertawa bersama, lalu mereka pun mengatakan “lagi…lagi….”. 30 menit saja…dan tadaaaa anak-anak senang, saya pun senang. Mood saya kembali positif. Setelah itu, meskipun yang harus saya lakukan masih banyak, saya masih nangkring seharian di depan laptop, tapi saya sesekali mengejutkan anak-anak yang lagi senang main bajak laut dengan tiba-tiba jadi monster; atau break untuk main game plants versus zombie; ketawa-ketawa mentertawakan kebodohan strategi kami, atau diajak nyanyi lagu-lagu yang akan ditampilkan di pentas nanti  lengkap dengan gerakannya:

hatiku bahagia//berkumpul bersama// hutanku lestari//alampun berseri//kamipun menari//kamipun menyanyi //makanan berlimpah//minuman beruah//pohonan berbuah//semakpun berbunga//kamipun//bernyanyi//kamipun menari…

lalu lanjut lagu lainnya:

panon poe mawa caang//unggal isuk tangtu datang//manuk recet nitah hudang//ngajurungkeun nu rek miang//hayu batur dialajar//ulah sok bari talangke//diajar tong hararese//tong eleh ku panonpoe//

lanjut lagi lagi favorit kami bertiga:

Five Little Speckled Frogs// Sat on a speckled log//Eating the most delicious bugs. NYAM NYAM//One jumped into the pool//Where it was nice and cool//Now there are Four green speckled frogs. GLUP GLUP
Four Little Speckled Frogs//Sat on a speckled log//Eating the most delicious bugs. NYAM NYAM//One jumped into the pool//Where it was nice and cool//Now there are Three green speckled frogs. GLUP GLUP …. demikian selanjutnya sampai dengan one little speckled frog

Waktu saya ikutan workshop family therapy, contoh-contoh yang ditunjukkan oleh coach dari Belanda itu kebanyakan persoalan remaja. Lalu saat break, saya tanya gimana caranya menghadapi remaja yang biasanya cenderung “bermuka tembok” alias lempeng. Maksud saya sih nanya soal si remaja saya yang di rumah haha…. Pak coach menjelaskan mengapa si remaja wajar “bermuka tembok”, dan yang harus dilakukan adalah tetap menjalin koneksi dengannya. “but, you have to be playful” dia bilang. Kalau engga, si remaja akan “kabur” semakin jauh.

Playful. Menyenangkan. Rileks. Tertawa. Cinta. Tahun lalu, saya melakukan penelitian pada anak usia prasekolah, mengenai persepsi mereka tentang cinta. Saya bertanya siapa yang mereka rasa paling mencintai mereka, dan apa tanda bahwa orang itu mencintai mereka. Jawaban untuk pertanyaan yang kedua kebanyakan adalah “dipeluk, dicium”.

Yups… setiap kali sharing mengenai pengasuhan; saya selalu bilang: buat ibu yang anaknya masih bayi, usia prasekolah, masih usia sekolah, ayo jangan sia-siakan untuk memupuk cinta dan menabung keterikatan emosional. Kenapa? karena gampaaaaaang banget. Semenyebalkan-menyebalkannya perilaku mereka, tapi mereka tuh masih lucu banget. Beda sama anak remaja yang gak ada lucu-lucunya sama sekali.

Membangun koneksi cinta dengan anak prasekolah; tinggal peluk erat, cium, gelitikin, kejar lalu peluk, gampang banget. Anak sekolah, juga masih gampang. Masih bisa dipeluk, dicium, dibelai. Ngebodor sama mereka masih lucu. Sulap-sulapan masih dinilai kita teh “hebat”. Mereka suka, kita pun suka. Nah kalau anak udah remaja, lebih sulit mengekspresikan cinta kita. Belum tentu sama lagi persepsinya dengan anak.

hokpokMaka, untuk para ibu yang punya anak balita dan anak sekolahan…ayooooo kita nikmati senikmat-nikmatnya. Bukan “mengajak anak bermain, menemani anak bermain”. Tapi “bermain bersama anak”. Apa bedanya? kuncinya di kata “bersama”. Bersama-sama menikmati, bersama-sama tertawa, bersama-sama menari, bersama-sama menyanyi, bersama-sama menikmati peran dalam main pura-pura, bersama-sama menikmati main playdough, mewarnai, engklek…

Siapa bilang aktifitas itu hanya bermanfaat untuk anak-anak? jangan-jangan, sebenarnya kita yang lebih butuh loh… dan anak adalah rejeki berupa media dari yang Maha Kuasa buat kita.  Kita sangat memerlukannya sebagai refreshing di tengah ketegangan-ketegangan dan tuntutan dunia “dewasa”. Kapan lagi bisa joget; nyanyi dengan spontan dan lepasss. Beneran loh, hiburaaaan banget kalau kita benar-benar bermain secara berkualitas bersama anak. Membaui rambutnya, aroma asem tubuhnya, lengket keringetnya, menatap wajahnya, memperhatikan ingusnya, mendengar kecadelannya, benar-benar bikin kita jadi playful. Koneksi emosi terjalin, aura cinta pun jadi terasa #eaaaaa

Jadi, how to be a playful mother? Play with the children !

 

 

Peluk Hangat Untuk Andung …

Timeline saya hari ini bertabur doa dan kenangan baik atas kembalinya sahabat, guru, kolega kami; Ibu Elmira N. Sumintardja. Andung, begitu panggilan “sayang” kami di Fakultas kepada beliau. Meskipun kabar drop-nya kesehatan beliau telah kami ketahui beberapa hari lalu, namun tetap saja, kabar semalam  yang menyampaikan kembalinya beliau pada Sang Maha Kuasa jam 00:00, menyesakkan dada kami.

Tentu tak ada manusia yang sempurna. Begitu pula Andung. Namun ketika memori kita  dipenuhi oleh kebaikan seseorang, maka untuk saya sendiri, orang tersebut adalah orang yang baik. Dan memori saya, dipenuhi oleh kebaikan Andung.

Belasan tahun lalu, waktu saya masih mahasiswa S1, saya mengikuti projek beliau. Berminggu-minggu kami bermalam di rumah beliau….Yang saya ingat, kala kami sudah terlelap, beliau dan sahabatnya, Ceu Tetty, masih tetap bekerja mendiskusikan konten projek kami saat itu. Tapi saya ingat juga…nanti beliau akan mengajak kami keluar makan-makan, atau …. terkadang beliau memainkan organnya bernyanyi untuk kami. Working hard – Playing Hard; buat saya kehidupan beliau mempesona sekali.

Waktu saya kuliah profesi, ingat sekali beliau menjelaskan kepribadian …narcissistic, histrionic personality, dll dll dengan suara khasnya yang “merdu” dan keibuan. Setelah jadi kolega, di balik nama besar beliau sebagai salah seorang “suhu” psikodiagnostik, saya menemukan sisi beliau yang lain; humoris. Beberapa kali kami menjadi asisten di kelas psikodiagnostiknya, tak habis rasa kagum kami kepada keluasan dan kedalaman ilmu beliau. Suatu saat beberapa tahun lalu, beliau mengajak kami, para ‘dosen muda” untuk belajar cara mengajarkan psikodiagnostik pada mahasiswa, di rumahnya jalan harendong. Seruuu banget. Dengan gayanya yang “enakeun”, kami yang merasa super bloon ini tetap merasa nyaman belajar dengan beliau.

Berita sakitnya beliau sudah kami ketahui beberapa tahun lalu. Saya sempat membayangkan…gimana ya beliau…yang tadinya sangat aktif kesana-kesini berbagi ilmu …”down” kah dengan sakitnya ini. Tapi kemudian, kami melihat beliau tak “menyerah”. Beraktifitas menggunakan kursi roda, tabung oksigen… Saat melihat beliau, yang terbayang oleh saya adalah kuda perang. Konon, kuda perang tak akan berhenti berlari sampai menjelang ajalnya.

Saya ingat sekali setahun lalu, saya menjadi panitia sidang promosi doktor seorang teman. Ada seorang dari tim panitia yang bertugas menyambut Andung. Kami sudah menyiapkan jalan khusus untuk kursi roda, dll. Tapi kemudian, saya yang menjaga buku tamu rasanya tak percaya melihat sosok beliau berjalan. Memang menggunakan tongkat, tubuhnya menyusut, tapi semangat itu, sorot semangat mata itu, tak berkurang sedikitpun.

Selanjutnya, keajaiban terjadi. Andung bisa mengajar lagi, terkadang tidak menggunakan tongkat. Saya ingat suatu saat datang bersama, lalu menemani beliau naik tangga ke lantai tiga. Sampai di lantai dua, beliau bilang: “udah Fit, duluan, saya harus istirahat dulu 20 menitan, biasa….”. Kata-kata itu diiringi senyum manisnya. Tak ada keluhan, meskipun saya membayangkan bahwa untuk bisa “legowo” dengan kondisinya tersbeut, pasti tak mudah.

2 Desember akhir tahun lalu, kami sefakutas “liburan” ke Ciater. Beliau ikut. Paginya, kami bert”tea-walk” ria. Beliau ikut! Kami sempat degdegan dengan kondisi beliau, tapi beliau menikmati sekali. Sampai kami yang “muda” merasa “malu” oleh semangatnya.

Akhir tahun 2013, beliau menulis puisi yang sangat indah, menggambarkan pengalaman beliau mendampingi kepergian sahabat kami, Mas Harry Suherman

Begini bagian akhir dari puisi indah itu:

Ya ALLAH, aku belajar dari wajah yang pergi dengan ikhlas//Kematian tidak harus dilalui dengan kengerian dan kesakitan, //Ketika pasrah pada ILLAHI lebih utama //Mas Harry ….. Selamat jalan adikku //ALLAH sudah bersama-mu // Terima kasih atas ilmu terakhir yang kamu berikan padaku//Dan yang harus kusampaikan kepada semua teman-teman kita // Kematian pasti datang // Detik kapan-pun itu pasti terjadi atas ketentuannNYA, // dan Allah SWT Maha Pengasih Maha Melindungi, // Menyambut datangnya insan yang tulus ikhlas beriman dan bertaqwa pada NYA // 

Tadi pagi, seorang perawat di ujung pulau jawa meng-sms saya. Ia adalah salah seorang mahasiswa yang pernah kami bimbing bersama. Ia bertanya apakah benar berita yang ia terima tentang kepulangan Andung? Lalu panjang lebar ia mengatakan betapa sedih hatinya, ia paparkan kebaik-kebaikan Andung.

Andung, saya tak bisa menulis puisi seindah Andung. Tapi saya yakin, kembalinya Andung pada sang Maha Rahman Rahim seindah puisi yang Andung tuliskan.

Tugas Andung sudah selesai. Rasa sakit yang mendera Andung, menjadi pembersih jiwa Andung. Kini tak ada rasa sakit lagi. Secara fisik kami tak bisa memeluk Andung lagi. Yang tertinggal adalah kenangan indah mengenai sorot mata semangat Andung, kata-kata bijak yang Andung pesankan pada kami, kedalaman ilmu yang terpapar lewat suara merdu Andung, dan jiwa pantang menyerah sampai detik ajal menjemput.

Sesaknya dada kami, kesedihan kami, kristal-kristal air mata kami, doa-doa yang dilantunkan oleh orang-orang yang terpapar kebaikan Andung, akan menjelma menjadi pelukan hangat untuk Andung di alam barzakh.  Keluasan dan kedalaman ilmu yang Andung bagikan dengan tulus, akan menjadi penerang bagi Andung.

Allahummaghfilaha warhamha waafihi wa’fuanha.

Preparing Ramadhan : Mindful or Mind Full ?

Siapa yang ingin “sering” ke tanah suci? Saya ngacung. Tapi itu dulu. Waktu saya ke tanah suci pertama kali, tentu berdoa agar  bisa “sering” bisa ke tanah suci. Tapi seiring waktu, entahlah…. saya jadi enggan berdoa seperti itu. Saya lebih seneng berdoa agar diberikan “kekhusyukan” ketika ke tanah suci. Ya, seiring dengan usia dan pengalaman, doa-doa saya, tampaknya memang mengalami “evolusi”. Dulu berdoa pengen ini pengen itu, sekarang berubah. Gak pengen kaya. Pengennya diberikan kemurahan hati. Kenapa? karena saya melihat banyak  kenalan saya yang kaya, tapi beda antara kaya yang murah hati dan kaya yang hanya untuk dirinya sendiri. Bahwa untuk untuk bisa memberi banyak kita harus kaya, ya.  Pengen jadi profesional, punya ilmu banyaaaak, udah berubah. Pengennya punya semangat untuk berbagi dan mengamalkan ilmu. Karena pengalaman bertemu orang yang ilmunya keren, mereka memang mengagumkan. Tapi orang yang ilmunya keren dan ia senang berbagi serta semangat mengamalkan, mereka mempesona. Biar ilmu yang dibagi dan diamalkan banyak kita harus terus cari ilmu, ya. Bentuk luarnya sama, tapi yang saya mohonkan pada Yang Maha Kuasa berbeda.

Sebelum ke tanah suci, ustadz pembimbing selalu menekankan persiapan. If you fail to prepare, you prepare to fail. Itu kalimat yang selalu beliau ulang-ulang. Beliau bercerita, bahwa kalau kita tak mempersiapkan diri dengan ilmu, maka tempat-tempat dan waktu-waktu super mustajab di tanah suci saat berhaji, akan lewat dan terbuang dengan sia-sia. Arafah, misalnya. Sebuah tempat yang super duper sakral. Tapi kalau  kita tak menyiapkan ilmu dan menyiapkan hati, tak akan bermakna apa-apa.

Tapi saya gak percaya kata-kata Pak Ustadz. Saya begitu percaya kalau kita ke tanah suci, maka kita akan “tersihir” oleh ka’bah, “tersihir” oleh raudhah, “tersihir” oleh arafah. Dan saya salah. Pak Ustadz itu benar. Saya saksikan dengan mata kepala sendiri, waktu wukuf yang begitu “ajaib” dilewati banyak orang dengan mengobrol, tertawa-tawa, merokok….. Tempat yang sama, waktu yang sama, dimaknai berbeda. Intan dan batu kerikil, bagi yang gak tau sama aja gak berharganya.

Pengalaman ke tanah suci yang kedua, membuat saya semakin menyakini hal ini. Bukan atas pengamatan terhadap orang lain, namun penghayatan terhadap diri sendiri. Persiapan yang berbeda, “teman perjalanan” yang berbeda, membuat penghayatan, kedalaman makna  dan “rasa”nya menjadi berbeda. Kita berada di tanah suci yang menyediakan tak terhingga berkah, namun kita tak menyiapkan radar hati untuk “menangkap” frekuensi berkah itu, menurut saya adalah salah satu paradoks dan ironi yang paling menyedihkan dalam kehidupan ini. Itulah sebabnya saya tak pernah berdoa untuk “sering” bisa ke tanah suci. Saya berdoa agar setiap kali kesana, dikarunia kemampuan dan kemauan untuk menyiapkan diri, sehingga bisa khusyuk, radar hati-nya siap untuk menangkap seluruh frekuensi berkah yang berjejak menjadi kemabruran.

Kurang dari dua bulan lagi kita akan menyambut ramadhan. “Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballighnaa Romadhon”. Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan. Inilah doa yangbiasa kita panjatkan pada Allah. Meskipun ada sebagian ulama mengatakan hadits ini dhoif, namun tahun ini, saya punya makna lain terhadap doa ini. Ayah saya sedang sakit. Kami ikhtiar untuk penyembuhannya, namun kami pasrah jika Yang Maha Kuasa menjadikan sakit ini sebagai jalan memanggilnya. Di sisi lain, yang kami semua mohonkan adalah, beliau sampai pada bulan Ramadhan. Maka, doa ini, kami panjatkan dengan kesungguhan. Ya, kita tahu bahwa siapapun kita, gak ada jaminan bisa “ketemu sama ramadhan” yang “cuman” tinggal 2 bulan lagi itu. Tapi menghadapi secara konkrit situasi sakit yang dialami ayah saya, menumbuhkan kesadaran yang berbeda. Bahwa benar-benar tak ada jaminan kita sampai pada ramadhan. Kesadaran bahwa kita benar-benar menginginkannya. Memberi ruh pada doa itu. “Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballighnaa Romadhon”. Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan.

Ramadhan. Usia saya sekarang 38 tahun. Berarti sudah 38 tahun juga saya mengalami ramadhan. Kalau diasumsikan saya puasa sejak usia 6 tahun, sudah 32 ramadhan saya berpuasa. Kalau diasumsikan saya baligh usia 12 tahun, sudah 26 kali saya puasa dengan kualitas yang dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. 26 kali ramadhan. Ramadhan yang sama. Keberkahan yang sama. Setiap tahun kita mendengar pak Ustadz sampaikan kemuliaan ramadhan. menghapuskan dosa, “obral pahala”, malam 1000 bulan. Ramadhan yang sama. Tapi apakah otomatis seluruh kemuliaan itu kita dapatkan? Tidak.

Saya mengenang, tahun demi tahun saya menjalani ramadhan dengan pemaknaan yang berbeda. Ramadhan yang sama, dengan kemuliaan yang sama. Ada masanya yang saya ingat dari ramadhan adalah “ngabuburit” bersama papa saya. Naik vespa putih kami, dengan adik saya pergi ke lapangan; lalu kami tiduran…menyaksikan matahari merah besar yang perlahan terbenam. Ada masanya yang saya ingat dari ramadhan adalah pesantren kilat di masjid yang besar, tempat saya bisa curi-curi pandang sama cowok kecengan saya, anak SMP sebelah. Ada masanya yang saya ingat dari ramadhan adalah keseruan pergi pulang taraweh dengan teman-teman, atau main sepeda selepas subuh. Ada masanya ramahan yang saya ingat adalah keseruan jadi panitia dan pengisi sanlat jaman SMA. Ada masanya ramadhan yang saya ingat adalah membagi-bagikan tajil ke masyarakat yang tak berada. Ada masanya yang saya ingat adalah keheningan itikaf, kenikmatan tangis mengadu padanya. Ada juga masanya ketika ramadan terasa “sama” dengan hari-hari biasa. Lewat begitu saja. Tertelan keriuhan rutinitas. Ada masanya saya berada di lingkungan yang seolah-olah ramadhan tak hadir disana. Ada masanya ramadhan saya dipenuhi dengan rencana-rencana tentang masakan, tentang baju-baju yang saya “hunting” untuk keluarga besar.

26 kali ramadhan yang akan saya pertanggungjawabkan. 26 Ramadhan mulia yang sama. 26 kali penghayatan yang berbeda. Dan salah satu faktor yang membedakannya adalah, persiapan. If you fail to prepare, you prepare to fail. Itulah sebabnya para salafusshalih konon menghabis sisa waktu 11 bulan selain ramadhan; 5,5 bulan setelah ramadhan untuk berdoa agar amal ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan diterima menjadi amal sholeh, dan 5,5 bulan sebelum ramadhan mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan.

Di luar sana, ada beragam reaksi mengenai ramadhan. Ada banyak keriuhan. Segala sesuatu, kini muda menjadi bahan keriuhan. Mulai dari topik yang buruk seburuk-buruknya, sampai topik yang baik sebaik-baiknya. Tapi semua itu adalah “keriuhan”.  Keriuhan di “luar sana”, yang kalau tak kita sadari dan kita kendalikan, keriuhan itu akan masuk ke pikiran kita, ke hati kita. Dan buat saya “keriuhan” adalah lawannya “kekhusyukan”. Jaman dulu, Kekhusyukan bisa kita upayakan secara fisik. Kita tinggal diam di rumah atau di masjid. Jaman kini, keriuhan bisa kita undang masuk ke dalam kamar kita, bahkan ke mihrab mesjid. Smartphone.

 

Sekolah anak saya, mulai minggu lalu mengkondisikan murid-muridnya untuk puasa senin kamis. Kantin tidak akan buka, makan siang diganti goodibag makanan ringan dan buah. Saya senang sekali dengan sistem ini. Sesuai dengan filosofi if you fail to prepare, you prepare to fail. Pada anak, yang harus dipersiapkan adalah hal yang konkrit. Kemampuan menahan lapar.

Bagi kita, yang sudah puluhan tahun melalui ramadhan, tentu “level” kita harus berbeda. Bukan hanya menahan hal sifatnya konkrit indrawi: perasa, penglihatan, pendengaran, perabaan. Namun yang harus sudah kita siapkan adalah hal yang sifatnya abstrak dan hakiki. Kekhusyukan.

Kekhusyukan. Menurut saya, konsep  Psikologi yang paling mendekati adalah  mindfulness. Mindfulness is a state of active, open attention on the present. When you’re mindful, you observe your thoughts and feelings from a distance, without judging them good or bad. Instead of letting your life pass you by, mindfulness means living in the moment and awakening to experience (https://www.psychologytoday.com/basics/mindfulness).

Apa yang paling mengganggu kekhusyukan kita? apa yang membuat kita dalam melakukan ibadah (yang paling rutin adalah sholat dan berdoa) tak khusyuk? masing-masing orang bisa beda. Tapi yang penting adalah penghayatan kita, kesadaran kita, dan kemauan kita berjuanga mengubah kondisi. Dan kemauan berjuang itu membutuhkan kerendahan hati

Smartphone. Internet. Menembus ruang dan dan waktu. Menurut saya, sangat potensial menggangu kekhusyukan kita. Sedih banget liat para itikaf-ers di ramadhan, “killing  the time” waktunya di masjid dengan bermedsos. Apalagi selfie dan posting “lagi itikaf nih” halah….  gak ada bedanya kalau kita gitu sama anak TK B yang belajar puasa trus nonton TV atau main game seharian. Just killing the time. Di tanah suci pun demikian. Kalau tak dikendalikan dan tak dihayati, tempat-tempat super duper penuh berkah seperti ka’bah, dua masjid suci, raudhah, hanya meninggalkan jejak berbentuk foto. Sudah.

Nah, disini kita butuhkan kerendahan hati. Tak perlu malu untuk mengakui bahwa kita “tak cukup kuat untuk menahan godaan medsos untuk jaga kekhusyukan kita” Teman saya, selama dia tak di jam kerja, terutama jam ibadah (sholat dan dzikir), menjauhkan hapenya. Saat itikaf, dia matikan hapenya. Atau pernah di awal-awal dia gak bawa hape. Dia sarankan ke saya untuk gak ngaji dari hape. Soalnya kalau ngaji dari hape mudah tergoda untuk liat fitur lain kata dia.

Kenikmatan beribadah, dalam bahasa psikologinya disebut flow. Dan flow tak akan tercapai dengan instan. Maka, kalau kita pengen nikmat baca Qur’an, baca tafsir, jangan mulai di day one ramadhan. Mulai sekarang, biar nanti udah flow. Saya suka bilang sama temen-temen yang belum dan pengen ke tanah suci, baca buku tentang haji jangan nanti pas manasik. Dari sekarang, meskipun gak kebayang perginya kapan. Baca siroh Rasul, sekarang. Jangan pas mau berangkat. Kalau sudah baca berkali-kali kisah perjalanan hijrah Rasulullah dan para sahabat dari Mekah ke Madinah, maka perjalanan dalam bis berAC dari Mekah ke Madinah dan sebaliknya, akan kita maknai berbeda. Kita tak hanya akan memandang, memotret dan memvideokan jajaran gunung batu dan padang pasir dalam perjalanan. Kalau kita sudah berkali-kali baca sejarah ka’bah, saat Nabi Ibrahim, saat serbuan Abrahah, saat futuh Mekah, maka akan beda penghayatan kita. Frekuensi kesakralan itu akan mudah kita tangkap kala radarnya sudah siap.

Demikian juga Ramadhan. Baca buku tentang kemuliaan ramadhan, lailatul qodar, keutamaan memberi makan buka puasa bagi kaum dhuafa, jangan nanti pas day one. Dari sekarang. Sehingga kalaupun nanti di luar penuh dengan keriuhan, aktivitas kita tetap padat, tapi hati kita sudah terkondisikan untuk khusyuk dan radarnya “siap” menangkap frekuensi keberkahannya. Secara “habit” kita sudah “flow”, jadi bener-bener ternikmati setiap detiknya.  Dengan demikian, output taqwa yang dijanjikan olehNya, semoga bukan kita hayati seperti “dongeng” yang tak kita hayati sungguh-sungguh.

Ramadhan yang hanya hitungan hari, belum tentu kita alami. Tak ada yang menjamin usia kita sampai di saat itu. Namun keinginan untuk menjalani ramadhan dengan khusyuk, harus  kita buktikan dengan upaya sungguh-sungguh untuk menyiapkannya.

Ramadhan yang akan kita jelang, adalah ramadhan yang sama dengan puluhan ramadhan yang telah kita jalani. Kemuliaan yang sama, berkah yang sama Allah tumpahkan di bulan ini. Kala kita tak menyiapkan diri, maka ramadhan tak akan bedanya dengan hari-hari biasa. 1000 bulan akan sama rasanya dengan satu bulan atau tanpa bulan. Yang membedakannya adalah, kesiapan radar hati kita untuk menerima frekuensi keberkahan itu.

 

 

Previous Older Entries Next Newer Entries