Mars and Venus on Earth : Introduction

Dalam waktu singkat taaruf kami 16,5 tahun lalu (mulai taaruf Februari, khitbah Maret, menikah Juni ;), salah satu buku yang saya khatamkan dan saya pelajari sungguh-sungguh sebagai persiapan menikah adalah buku “Men Are From Mars, Women Are From Venus”. Saat itu, baca sambil senyum-senyum, dan rasanya isinya udah ada di luar kepala haha…. Dan ketika masuk ke dunia pernikahan sesungguhnya, entah kenapa semua yang sudah ada di luar kepala itu kabur semua kkkk…..

Saya ingat, kurang lebih 11 tahun lalu (saya inget karena sudah ada si bujang); berarti di usia pernikahan 6 tahunan, suatu hari saya marah besar. Jadi waktu itu si abah sepertinya sedang ada masalah di kantor. Dan dalam bayangan saya sebagai istri, romantis banget gituh kalau suami teh curhat sama istri, lalu sebagai istri saya memberikan masukan, lalu suami berterima kasih terhadap istri, lalu berpelukan… haha…. Tapi kenyataannya bukan begitu. Dengan muka kusut, si abah lebih banyak tidur, menghindar dari saya. Akhirnya saya “meledak”, “ngambek”. Saya bilang, saya merasa tidak dihargai sebagai istri. Saya ingin kita berbagi suka dan duka. Saya gak tega liat dia pusing sendiri. Saya pengen bantu. Setelah bilang gitu, saya melancarkan aksi bisu (senjata istri itu kan diam seribu bahasa ;), dan konon katanya suami lebih tahan dicerewetin daripada didiemin kkk). Lalu kemudian, si abah pun bicara. Kurang lebih kayak gini lah : “Maaf ya De, bukan aku gak menghargaimu. Tapi kalau lagi ada problem, aku tuh lebih nyaman kalau tidur. Bangun tidur, pikiran lebih fresh dan aku bisa berpikir jernih untuk selesein masalahku. Aku malah tambah pusing kalau dirimu tanya-tanya terus”.

Mendengar kalimat itu, tiba-tiba saya teringat kalimat-kalimat dalam buku Mars & Venus yang saya baca waktu taaruf : A man goes into the cave when he wants to be alone to think, or rather not think, about a problem that’s currently weighing on his mind. Any number of reasons – from work to finances to health – could send him heading for his cave and, subsequently, leave a woman in the dust feeling confused and wronged. Semua yang disampaikan si abah benar. Dia bukan tak menghargai saya. Bukan tak ingin berbagi dengan saya. Dia sebagai laki-laki, hanya berbeda cara dalam menyelesaikan masalah, dengan saya sebagai perempuan. Saya, perempuan, bicara. Berbagi. Dia, laki-laki, “masuk ke dalam gua”. Tidur.

Kesadaran akan pengetahuan itu, membuat kami tak pernah lagi bertengkar mengenai hal itu. Saya tau kapan harus membiarkannya menyepi di “gua”nya, dan menjelaskan pada anak-anak. Dan semakin kesini saya juga tahu, bahwa itu gak hitam putih. Si abah akan cerita masalahnya ke saya, akan meminta pendapat saya, kalau dia sudah bisa mengurai masalahnya dengan lebih jernih. Bukan kayak saya yang kalau curhat, saya juga gak ngerti mana ujungnya mana pangkalnya, dan apa maunya saya haha….

Dan penjelasan saya ke si abah bahwa perempuan kalau lagi ada problem copingnya adalah cerita, bukan untuk mendapatkan solusi tapi untuk didengarkan, juga berhasil mengurangi pertengkaran kami. Dulu kan kalau saya cerita, si abah ngasih solusi, saya malah marah karena merasa gak dimengerti. Kesini-sini, si abah tau kalau saya lagi cerita, jawaban efektif yang bisa membuat saya “meleleh” adalah :’hhhmmm… oh gitu..”. Sampai si sulung dan si bujang suatu hari bilang : “kayaknya abah sebenernya gak ngedengerin deh, dalam pikirannya mikirin hal lain, cuman hemm..hemm aja” haha….gapapa… yang penting mau berproses belajar. Itu kunci penting.

marsvenusPernikahan, adalah sebuah perjalanan panjang pembelajaran. Yups, ada pernikahan-pernikahan yang diusahakan segimananya pun, akan tetap “sakit”. Maka, perceraian akan membuat pasangan menjadi lebih “sehat”. Biasanya, itu karena salah satu atau keduanya punya masalah psikologis yang “berat”, misalnya sangat tidak matang kepribadiannya, dll. Tapi ada banyak perceraian yang terjadi, yang diakibatkan oleh masalah-masalah yang dialami oleh semua pasangan lain di dunia ini. “suami tidak romantis, istri yang terlalu cerewet, suami yang tak mau disalahkan, istri yang baperan”……itu mah keluhan semua pasangan di dunia ini. Masalah-masalah kecil yang bisa kita selesaikan, dengan langkah awal : “tahu”. Tahu bahwa ada hal-hal yang memang Allah ciptakan berbeda antara laki-laki dan perempuan. Kenapa Allah ciptakan banyak perbedaan padahal mereka berdua harus “menyatu?” tentu ada hikmah besar dibalik itu. Salah satu hikmahnya : biar kita terus belajar, biar pikir kita terus terasah, rasa kita terus terolah. Sakinah Mawaddah Warohmah itu, bukan cerita dongeng. Ia harus kita raih dengan perjuangan berupa mencari pengetahuan, melatih kerendahan hati, menjaga kesungguhan. Perjuangan itulah hakikatnya manfaat dari pernikahan. Pernikahan, tak otomatis membuat kita menjadi “bijak” kalau kita tak mau belajar. Trust me, usia pernikahan tak selalu berbanding lurus dengan kemampuan mengenali diri dan pasangan, dengan kemampuan mengelola konflik, jika kita tak mau belajar.

Maka, ketika awal tahun ini saya menemukan seri buku-buku bernuansa “Mars & Venus” di Toko Buku Periplus langganan saya; Why Men don’t Listen and Women Can’t Read Maps, Why Men Lie and Woman Cry, Why Men Want Sex and Woman Need Love, langsung saya borong. Setiap wiken saya baca, kali ini bukan sambil senyum-senyum, tapi sambil ketawa ngakak (gak pake guling-guling sih haha…). Beberapa kali, saya “baca bareng” si abah. Maksudnya baca bareng adalah saya baca buku itu, si abah baca buku lain atau nonton TV atau tidur kkkk….

Dan yesh, hadits “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.”; nyata kebenarannya. Ada banyak hal yang biasanya bikin saya marah atau kezel, setelah baca buku itu jadi berkurang frekuensi dan intensitasnya (meskipun masih dipengaruhi faktor PMS haha….). Misalnya, dulu suka kezeeeeel banget kalau si abah nyari sesuatu dan bilang “gak ada” . Dan setelah saya datang kesitu, ya ampuuun….itu di depan mata apa bah….. Sekarang jadi berkurang setelah mengetahui bahwa sistem dan proses penginderaan laki-laki dan perempuan memang berbeda. Lalu satu hal lagi, dulu saya suka marah kalau nanya si abah, “abah sayang gak sama aku?” trus si abah gak bisa jawab atau jawabannya gak memuaskan kkkk (Sampai sekarang juga doi belum memberikan jawaban yang memuaskan loooooh….kkk). Ternyata di salah satu buku itu diceritakan, bahwa “do you love me?” adalah pertanyaan paling sulit buat seorang pria haha…. ternyata suamiku normal hihihi….

Dan yang jauh lebih penting, pengetahuan ini membuat pandangan saya pada si abah lebih positif. Maklum, rasanya sumber kemarahan seorang istri  dari suaminya itu banyak banget ya? kkk… Saya tersadar bahwa banyak hal sumber konflik, terjadi bukan karena dia “gak peduli” (kan buat perempuan mah berlaku ungkapan ” lawannya cinta bukan benci, melainkan tidak peduli; right? ;), Tapi karena dia berbeda.

Nah, karena tidak semua teman-teman punya kesempatan baca buku-buku seri Mars & Venus itu, insyaallah saya akan share isinya disini. Seru deh pokoknya kkk. Insyaallah, semoga ALlah memberikan izinNya.

 

Advertisements

Cinta Gothel vs Makna Hamdalah

Minggu lalu, (untuk yang kesekian puluh kali-nya), saya menemani anak-anak nonton film TANGLED, yang diputar di channel TV yang kami langgan. Meskipun sudah puluhan kali menonton bersama, tetap saja kami menikmatinya. Setiap kali saya nonton film ini, saya selalu teringat tafsir ayat kedua dan ketiga surat Al Fatihah. “Alhamdulillahi robbil alamiin”. “Arrahmanirrohiim”. Kalimat pertama adalah kalimat hamdalah, yang otomatis sering kita ucapkan. Asa gak nyambung? haha… trust me, nyambung banget.

Buat yang gak pernah nonton film Tangled, film ini menceritakan tentang Rapunzel, seorang putri berambut ajaib. Rambutnya bisa bercahaya kala ia menyanyi, dan punya banyak khasiat. Khasiat rambut itu akan hilang kalau rambutnya dipotong. Itulah sebabnya Rapunzel punya rambut yang sangat panjang. Rapunzel tinggal bersama “ibunya” bernama Gothel,  yang sebenarnya adalah penyihir yang menculiknya dari kerajaan. Rapunzel diculik karena rambut ajaib Rapunzel berkhasiat membuatnya tetap awet muda. Setiap Rapunzel menyanyi, rambut emasnya akan bersinar, dan Gothel yang sebenarnya sudah berusia ratusan tahun akan tetap muda dan cantik. Dalam film tersebut, Gothel digambarkan sebagai seorang ibu yang cukup penyayang. Ia memelihara Rapunzel, mengupayakan permintaan Rapunzel, melindunginya untuk tidak keluar rumah dan bertemu orang lain, namun semua itu dilakukan dengan satu motif : agar ia tetap bisa mendapatkan manfaat dari rambut Rapunzel.

Nah, apa hubungannya dengan hamdalah ? Saya akan cerita dulu sekilas mengenai tafsir hamdalah versi tafsir Al Misbah karya Prof. Quraish Shihab dan tafsir Al Azhar karya Prof. Hamka. Arti “Alhamdulillahirobbil aalamin” adalah “Segala puji bagi Allah pemelihara seluruh alam’. Lebih spesifik, makna Rabb adalah “pemelihara, penjaga, pendidik, pengasuh”. Pemelihara, penjaga, pendidik dan pengasuh yang bagaimana? Penjelasannya ada di ayat selanjutnya. “Arrahmanirrohiim”. Pemeliharaan, penjagaan, pendidikan dan pengasuhan tak akan dapat terlaksana dengan baik dan sempurna jika tak diserta oleh rahmat dan kasish sayang. Jadi, Allah “memelihara, menjaga, mendidik dan mengasuh” seluruh alam termasuk manusia, bukan untuk kepentingannya atau sesuatu pamrih. Waktu baca rangkaian kalimat di atas, jujur saya masih belum mengerti. Saya baru mengerti ketika kedua mufassir kebanggaan Nusantara ini memaparkan contohnya. Kalau ada seorang CEO perusahaan menyekolahkan karyawannya, apakah ia meneladani sifat “Rabb”? Tidak. Karena ia menyekolahkan karyawannya untuk pamrih. Agar karyawan tersebut setelah sekolah punya kompetensi dan skill yang bisa memajukan perusahaannya. Benefitnya tidak murni untuk si karyawan, tapi untuk dirinya. Contoh lain : Seorang peternak sapi. Ia menyayangi sapinya, memberi makanan terbaik, mengusahakan kesehatan terbaik. Untuk apa ia lakukan ini  ? agar sapinya montok, dan kalau dijual mahal. Jadi si peternak tidak meneladani sifat “Rabb”, karena “kasih sayang, pemeliharaan, penjagaan” yang ia lakukan terhadap si sapi adalah untuk kepentingannya. Keren banget ya makna Al Qur’an itu….. Ayat-ayat ini, yang sudah turun sekian abad lalu, sangat sempurna menggambarkan apa yang kemudian oleh Psikologi disebut sebagai “unconditional love”, cinta tak bersyarat.
gothelNah… dengan paparan di atas, jelas bahwa Gothel, si ibu Rapunzel, sama sekali tidak mengasuh, mendidik, menjaga Rapunzel dengan semangat rahman dan rahiim; tapi untuk penetingannya semata. Ia tak meneladani sifat Rabb. Apa buktinya? buktinya ia marah dan menjadi “jahat” ketika Rapunzel ingin pergi dan mencari kebahagiannya sendiri.

……………………………..

 

Tiga tahun lagi saya akan masuk fase “melepaskan” anak, si sulung. Meskipun sudah “latihan” dengan melepaskannya ke Boarding School, namun masuk Perguruan Tinggi adalah sebuah milestone perkembangan hidup yang signifikan, karena anak mulai memilih hal-hal penting dan signifikan dalam hidupnya. Pilihan penting yang akan menunjukkan dan menjadi jalan baginya “menjadi diri sendiri”, yang mungkin bisa berbeda dengan pilihan saya.  Saya harus “melepaskan” dia memilih jurusan dan bidang aktualisasi diri yang paling dia mau, dan mungkin beberapa tahun kemudian, saya harus “melepaskannya” memilih pasangan hidup, melepaskannya memilih pola asuh untuk anaknya, dll dll.

Situasi ini membuat saya banyak merenung mengenai hakikat relasi kami. Saya banyak menelisik pikiran dan perasaan saya dalam pengasuhan. Saya ingat, beberapa puluh tahun lalu, senior-senior saya di Fakultas Psikologi UNPAD tergabung dalam sebuah penelitian internasional di sekian puluh negara, mengenai topik value of children. Apa makna anak bagi para responden dari puluhan negara tersebut. Salah satu hasil dari Indonesia adalah, orangtua menilai anak sebagai “investasi”. Kita juga serung denger ya, narasumber yang bilang bahwa anak itu investasi dunia akhirat. Yups, banyak diantara orangtua Indonesia merasa bahwa punya anak itu, jaminan agar “nanti kalau udah tua ada yang ngurus”.

Saya menelisik ke lubuk hati saya, apakah saya juga memaknakan demikian? memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya sekarang ini ketika mereka “belum berdaya” , agar nanti saya bisa “menagih” pada saat saya sudah tidak berdaya? Jika ya, apakah itu benar? atau salah? Rasanya sih benar… tapi kalau merenungi makna Rabb dari tafsir tadi, rasanya kok salah ya? Apa bedanya saya dengan Gothel? memelihara agar bisa memetik untung untuk diri.  Bukannya kita harus meneladani asmaul husna?

Saya banyak mengamati para sepuh yang sudah punya anak-anak dewasa. Dan saya melihat… para orangtua yang tulus, mendidik, memelihara anaknya, legowo dengan pilihan anak yang berbeda selama masih dalam koridor kebenaran dan kebaikan… itu mereka mendapatkan balasannya. Apa balasannya? cinta yang tulus juga dari anak-anaknya. Mereka orangtua yang tidak pernah secara verbal mendoktrin anak-anaknya : “sebagai anak kamu harusnya ini itu, kamu berkewajiban ini itu sama orangtua”; justru mereka mendapatkannya. Karena kerelaan anak mencintai orangtua itu tumbuh dari ketulusan orangtua mencintai anak-anaknya, tanpa pamrih.

Sebaliknya, orangtua yang mendoktrin anaknya secara verbal: “sebagai anak kamu harusnya ini itu, kamu berkewajiban ini itu sama orangtua, ridho orangtua itu segalanya loh”; anak-anaknya tidak tulus melakukannya. Terpaksa. “Saya mendoakan ibu saya sih, tapi jujur doanya teh kayak kewajiban aja gitu, gak pake perasaan”. Begitu kata salah seorang anak yang “didoktrin” harus sayang sama orangtua.

Sebagai seorang ibu, meneladani sifat Rabb yang Rahman dan Rahiim, adalah sebuah perjalanan panjang. Mengatakan : “ibu udah cape-cape masak, malah kamu gak makan. kamu gak menghargai ibu” itu wajar, tapi menahannya dalam hati, itu latihan untuk tak berpamrih. ” Percuma ibu  berkorban anterin kamu les kumon tiap hari, ternyata nilai matematika kamu tetep jelek, malu-maluin ibu aja” itu ungkapan fakta, tapi menahannya dalam hati, itu latihan untuk tak berpamrih. “Ibu dulu mengorbankan waktu kerja nemenin kamu sakit, masa sekarang kamu gak bisa cuti untuk nemenin ibu?” itu logis, tapi menahannya dalam hati, itu latihan untuk tak berpamrih.

Semoga kita terus dituntun oleh cahaya Illahi untuk meluruskan niat kita dalam mengasuh anak; belajar untuk terus meneladani sifat-sifat sang Maha Kuasa, karena dalam tubuh kita, ada jejak Asmaul Husna-Nya. Rahim.