Huruf “QIQI” : Stimulasi Visual Perceptual Skill untuk anak usia 4-5 tahun

Hana, si pangais bungsu yang kini berusia 4,5 tahun ; 2 bulan terakhir ini lagi hobi banget “ngerjain”. Yang dia maksud “ngerjain” adalah ngerjain worksheet-worksheet. Minatnya terhadap kegiatan tulis menulis terlihat sangat signifikan. Ini perkembangan baru. Tiap wiken minta ke Gramedia, dan dia akan “ngeborong” beberapa buku worksheet. Mulai dari menebalkan garis putus, dot to dot, sorting, dan karena dia udah bisa membilang benda satu demi satu, semangat banget dengan worksheet “menjodohkan”  gambar dengan angka, atau bahkan menuliskan angkanya, meski semuanya masih terbalik arah kanan-kirinya. Apalagi sejak dia udah bisa nulis namanya, aduuuh…meni rajin pisan… Cukup pusing juga menyaksikan si beberapa buku yang total harganya ratusan ribu itu, selesai dikerjakan kurang dari satu jam. Dulu sih, waktu jaman Azka dan Umar, saya suka rajin memfotokopi buku-buku worksheet itu. Sekarang? mana sempaaaaaaat.

Sejak hari Selasa, karena saya ikutan libur sama dengan mahasiswa (hehe…..) dan gak ada jadwal praktek, bimbingan maupun seminar mahasiswa, maka…. seharian saya berada di depan laptop di meja kerja saya. Niatnya bikin PR setumpuk laporan yang belom beres-beres juga….tapi kenyataannya….ya, selang-seling lah…sambil pesbukan, ngeblog, nge-yutub, alhasil….3 hari kerjaan belom beres-beres 🙂

Ditambah lagi, kalau Hana udah pulang sekolah…gangguannya nambah (heu…nyalahin Hana 😉 Hana pasti minta dicariin worksheet di laptop, lalu minta di print. Sekarang dia cukup anteng menebalkan huruf. Dia belum hafal huruf-huruf siiih…emang belum saya ajarin. Naah, ini bedanya nasib anak pertama dan anak selanjutnya. Dulu, waktu Azka…di usia segini ibunya udah cemas dan intensif ngajarin huruf-huruf. Setelah Umar, emaknya nyantei….”nanti kalau sudah waktunya dan sudah minat, pasti dia minta diajarin” 😉 .

nebelin hanaNah, barusan dia teriak : “Ibu, ada huruf Qiqi disini!” sambil nunjuk huruf “Q”. Qiqi adalah nama temennya, salah satu teman favorit yang sering disebut namanya. Dia sangat terpesona dengan rumah Qiqi yang besar waktu ada program “kunjungan ke rumah teman”. Tiap menggambar rumah, dia pasti bilang “ini rumah Qiqi, jendelanya banyak…..” hehe…jadi inget…dulu di program yang sama, Umar sangat terkesan dengan rumah salah satu temannya : “rumahnya kayak harta karun bu, berkilauan…” cenah menggambarkan rumah temannya yang penuh dengan kristal-kristal 😉

Tapi lumayan juga…keinginan Hana dicarikan worksheet membuat saya jadi inget lagi….aspek kognitif apa aja yang bisa distimulasi pada anak usia 4-5 tahun, sebagai dasar untuk kemampuan akademik (calistung) maupun untuk menyelesaikan masalah (thinking skills) nantinya.

Valett (1968) menyatakan bahwa ada serangkaian “basic learning abilities” yang harus dikuasai anak untuk bisa memahami dan memenuhi tuntutan akademik di SD dan seterusnya. Kurang berkembangnya salah satu aspek ini, bisa menjadi deteksi dini kesulitan belajar yang bisa dialami anak jika tak mendapat stimulasi.

Karena tulisan ini hanya tentang worksheet kognitif, maka yang ingin saya ungkapkan ialah worksheet-worksheet apa saja yang dibutuhkan anak sebagai media untuk melatih salah satu basic learning skill menutut Valett, yaitu visual perceptual skill. Aspek ini penting banget sebagai dasar kemampuan membaca. Kemampuan dasar ini terdiri dari beberapa aspek tergambar dalam tabel dibawah.

Mangga, tinggal ketik di om “google image” aspek-aspek dibawah ini  plus kata “worksheet”,  dan akan muncul segambreng worksheet yang okeh buat anak-anak kita. Tinggal siapin tinta yang banyak…hehe…

Visual acuity

(ketajaman penglihatan)

Kemampuan untuk melihat dan membedakan secara bermakna dan akurat benda-benda dalam lapang pandangnya

Visual coordination & pursuit

Kemampuan untuk mengikuti dan menelusuri objek dan simbol dengan gerakan mata yang terkoordinasi.

Visual Form discrimination

Kemampuan untuk membedakan bentuk dan symbol secara visual dalam suatu lingkungan.

Visual Figure ground Differentiation

Kemampuan untuk mempersepsikan  objek secara bermakna dalam bagian/ latar depan atau belakang

Visual memory

Kemampuan untuk me-recall/mengingat  pengalaman visual sebelumnya

Visual motor memory

Kemampuan untuk menghasilkan kembali suatu bentuk berdasarkan apa yang dilihat sebelumnya

Visual motor fine muscle coordination

Kemampuan untuk mengkoordinasikan otot-otot halus yang dibutuhkan dan tugas-tugas yang melibatkan mata dan tangan

Visual motor spatial form manipulation

Kemampuan untuk melakukan gerakan dalam ruang dan memanipulasi materi 3 dimensi

Visual motor speed of learning

Kemampuan untuk belajar kemampuan visual-motor dari pengalaman yang berulang

Visual motor integration

Kemampuan untuk mengintegrasikan secara total kemampuan visual-motor dan menyelesaikan masalah yang kompleks

Seribu Satu Jalan Mengaji….

Saya masih ingat 12 tahun lalu, waktu saya mengabari seorang “teteh” bahwa ada seseorang yang berniat melamar saya, teteh itu bertanya: “dia ngaji gak Fit?”…….Meskipun saya kemudian tidak terlalu setuju dengan definisi “ngaji” versi beliau – yaitu mengaji dengan cara tertentu, pada orang-orang tertentu- namun ya, saya setuju bahwa “mengaji” adalah salah satu syarat yang harusnya kita perhatikan saat kita mencari atau menerima jodoh.

“Mengaji”, secara umum punya dua makna. (1) Membaca Qur’an, (2) Melakukan “kajian” terhadap ilmu agama; mencari ilmu agama secara rutin. Yang ingin saya ulas dalam tulisan ini adalah makna yang kedua.

Sudah tak terhitung banyaknya “pepatah”, hadits, ataupun “quotation” mengenai anjuran mencari ilmu. Bahwa ilmu itu harus kita cari sepanjang hidup, bahwa ilmu itu harus kita kejar sampai ke ujung dunia. Ilmu apapun. Ilmu dunia, dan ilmu akhirat. Ilmu yang tak berhubungan dengan agama, ataupun ilmu yang berhubungan dengan agama.

Ada tiga alasan “kuat” kenapa kita harus berupaya mengaji secara rutin :

(1) Memahami ilmu agama, kunci kebahagiaan hidup di dunia.

Saya sangat setuju dengan hadits yang mengatakan bahwa kalau kita menguasai ilmu akhirat, pastilah kita pun “selamat di dunia”. Belajar mengenai  ilmu yang terkait dengan “ritual” hubungan kita dengan Allah, akan membuat kita paham bahwa seluruh ritual dalam agama kita, pada dasarnya adalah media bagi kita untuk “menggembleng” kepribadian kita, membuat kita bahagia dengan kondisi diri kita.  Sedangkan  ilmu-ilmu akhirat yang meng”guide” kita bahwa kita harus baik pada sesama manusia, pada alam, bahwa kita harus berprestasi, tolong-menolong, akan membuat kita menjadi bahagia karena punya arahan untuk hidup harmonis. Kalau “semboyan” sebuah sekolah favorit di Bandung ini adalah “knowledge is power, but character is more”, maka belajar ilmu agama akan membuat kita dapet dua-duanya: knowledge and character. Tambah lagi: kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan 😉

(2) Kurang ilmu, pasti kurang amal.

Contohnya, kalau kita gak tau adanya yang namanya sholat syuruq, maka kita tak akan pernah melakukannya. Padahal, “Barangsiapa yang shalat shubuh dengan berjama’ah kemudian dia berdzikir kepada Allah Ta’ala sampai terbitnya matahari lalu dia shalat dua raka’at, maka pahalanya seperti pahala berhaji dan ‘umrah, sempurna, sempurna, sempurna,”. Saya jadi inget…ada seorang jamaah haji yang “protes” waktu disampaikan hadits ini : “kok enak banget dapet balasannya sempurna….lha wong kita aja yang capek-capek haji belum tentu sempurna dan diterima” katanya. Pak Ustadz yang bijak pun berkata: “Itulah rahmatnya Allah….itulah keadilan Allah bagi orang-orang yang belum memiliki kemampuan untuk berhaji”.

Itu satu dari sekian banyak contoh bahwa….banyak sekali keuntungan-keuntungan yang bisa kita dapatkan, sekaligus akan kita lewatkan kalau kita tak punya ilmu. Dan ilmu-ilmu ini, bisa kita dapatkan lewat mengaji.

(3) Memelihara motivasi.

Hidayah itu, ada dua. Hidayah berupa pengetahuan, dan hidayah berupa “kekuatan untuk melakukan”. Mungkin kita akan bilang: “ah, buat apa ngaji? Saya sudah tau kok …. bahwa kita teh harus sholat tepat waktu, dianjurkan tahajud, sholat rawatib, saya udah tau lah…”. Namun, “tahu” dan “punya energi” untuk melakukan, itu dua hal yang berbeda. Nah, dengan mengaji, walaupun pengetahuan kita tak bertambah, namun kita akan mendapatkan informasi dari sudut pandang yang beragam mengenai satu pengetahuan, sehingga dari beragam sudut pandang yang berbeda itu, moga2 ada satu sudut pandang yang “nyantol” dan menjadi mesin penggerak motivasi kita.

Misalnya … kita sudah tahu bahwa sholat rawatib itu sangat dianjurkan. Namun mungkin kita belum tergerak untuk melakukannya. Bisa jadi  suatu hari ada ustadz yang menceritakan bahwa Rasulullah itu, tidak pernah meninggalkan shalat rawatib. Bahkan ketika ba’da Dhuhur beliau ada tamu sampai ashar, beliau sampai mengqodho shalat sunnah ba’da dhuhurnya setelah ashar. Atau mengenai keutamaan sholat rawatib qobla shubuh, diriwayatkan suatu hari, dalam perjalanan pulang perang Rasul dan sahabat-sahabatnya bangun kesiangan untuk shalat Subuh, sudah terbit Fajar. Namun dalam keadaan itu, RAsul tetap melakukan sholat rawatib qobla subuh terlebih dahulu. Dari kisah-kisah itu kita bisa mengabstraksikan, betapa amat pentingnya shalat Rawatib itu.

Walaupun tahu begitu pentingnya mengaji, namun kita mungkin masih merasakan hambatan: (1) mengaji itu “membosankan (2) waktu uy waktu! kapan waktunya? sibuk sama kerjaan, sama anak-anak, sama hobi…..

mapiMmmhh…liat gambar di atas ini? percayakah kalau ini adalah suasana di pengajian?

Yups…ini adalah suasana pengajian. Setiap ahad jam 8-11, di Mesjid Al Murasalah Telkom Gerlong. Namanya Majlis Kajian Percikan Iman. Penceramahnya Pak Aam Amiruddin, seorang ustadz dan doktor di bidang ilmu komunikasi. Bicaranya sistematis dengan gaya komunikasi yang “cair” dan “humoris”. Sementara ibu-bapaknya bisa mendengarkan kajian, anak-anaknya bisa berlarian bebas dengan beragam mainan yang dijual di sana. Kalau saya dan mas sih, biasanya sambil dengerin kajian juga sambil makan pecel madiun yang maknyussss…..

Hambatan waktu? mmmmmhhh….media pengajan kini semakin beragam.Bisa undang ustadz privat ke rumah,  selain lewat TV dan radion, ada lewat streaming,  sms, fesbuk, twitter, bbm, whats app, radio, yutub ! sambil makan siang di kantor, menjelang tidur, kita bisa klik yutub dan bisa pilih sesuka hati, mau dengerin kajian ustadz mana yang nge-klik ama kita.

Kagum sama kajian tafsir Al-Misbahnya Pak Quraish Shihab? salah satu linknya adalah ini http://www.youtube.com/watch?v=uZY1NsenTRI

Terpesona sama konsep Shodaqohnya ustadz Yusuf Mansur ? salah satu linknya adalah ini http://www.youtube.com/watch?v=KG2ZUJKYhZM

Tersentuh sama pendekatan Qolbun Salimnya Aa Gym? salah satu linknya adalah ini http://www.youtube.com/watch?v=CCuuBD01KVU

Pas sama ilmunya ustadz Firanda ? salah satu linknya adalah ini http://www.youtube.com/watch?v=hAh-iTcPo60

Ngefans  sama pendekatan dzikrnya  ustadz Arifin Ilham ? salah satu linknya adalah ini http://www.youtube.com/watch?v=1g0rfmap0FI

Tetep suka sama nasihatnya alm. Zainuddin MZ? salah satu linknya adalah ini http://www.youtube.com/watch?v=3Z4UQr7AyaE

Dan beribu-ribu link lainnya…..

Masih ada satu alasan lagi : “ngaji itu ada yang bikin tersesat…nanti jadi NII, atau jadi aneh” …..Yups, tak dipungkiri ada kajian-kajian kayak gitu. Tapi nge-screening-nya gampang : ciri pengajian yang “gak bener” adalah : yang eksklusif (baik tempat maupun pesertanya), gak boleh dikethui orang, gak boleh diikuti sembarang orang dan yang nyalah2in pihak lain.

So, harusnya sih…ga ada alasan lagi buat gak ngaji. Di jaman ini, kita gak bisa lagi “bersembunyi” di balik alasan bahwa “kita tak tahu hukumnya” karena tak dapet paparan ilmu. Memang yang “engga tahu” tidak akan dikenai hukum, namun itu beda sama yang  “engga mau tahu” 😉

“Sidang Terbuka” Azka

Sejak akhir tahun lalu (hehe..itu berarti 3 minggu lalu ya….), Azka sangat cemas. Dan kecemasannya teruuuuuuus meningkat sampai akhirnya mereda hari Senin lalu. Akhir tahun lalu itu, ia dinobatkan menjadi salah seorang nominasi calon peserta haflah hafalan al-Qur’an. Apakah Haflah itu? Haflah artinya perayaan (ssssttttt…saya juga baru tau itu dari sambutan pak Hilman, gurunya Azka Senin lalu pas membuka acara hehe….).

Begini ceritanya… jadi di sekolah Azka-Umar itu, ada target hafalan Al-Qur’an sampai dengan 2 juz. Artinya, lulusan sekolah itu diharapkan hafal juz 29 dan 30 Al-Qur’an. Kegiatan membaca dan menghafal Qur’an ini dikelola oleh manajemen tersendiri, beda dari sekolah. Tapi tentunya saling berkoordinasi. Nah, setiap tahun diadakan haflah, perayaan bagi anak-anak yang telah mencapai hafalan juz 30 dan 29. Dan ini tak tergantung kelas, tapi tergantung kemampuan anak masing-masing. Kelompok TTQnya pun dikelompokkan berdasarkan kemampuan anak.

Beberapa teman Azka sesama kelas 5 yang menonjol kekuatan menghafalnya sudah lulus juz 30 tahun lalu. Tahun ini, di lampiran surat undangannya, selain kelas 6, ada juga kelas 4 dan 3 yang bersama Azka, akan “diwisuda” lulus juz 30. Makanya Umar ditantang ….akan dihadiahi umroh kalau tahun depan bisa hafal juz 30. Ternyata, para “nominasi” untuk haflah itu, tak semuanya bisa “diwisuda”. Mereka harus melewati “munaqosyah”, ujian. Ada 5 bentuk ujian yang harus mereka lewati untuk membuktikan mereka hafal seluruh rangkaian ayat di juz 30 itu. Dan mengingat tingkat kesulitannya, maka anak-anak itu diberi kesempatan 3 kali untuk mengikuti ujian.

Di ujian pertama, Azka gagal. Tiap malam dia curhat betapa amat cemasnya ia….Alhamdulillah…ujian kedua, ia lulus. Tapi kecemasannya ternyata semakin meningkat. Itu karena, pada acara haflah nanti, itu semacam “sidang terbuka” gitu. Anak-anak masih akan diuji di depan para penonton yaitu para orangtua, dan tanpa rekayasa. Artinya, mereka tetap harus bersiap dengan segala kemungkinan jenis soal yang akan dihadapi…..dan, yang paling dicemaskan adalah…bagaimana kalau nge-blank… Jadi, selain ujian hafalan, ini adalah ujian keberanian juga. Tak heran ada beberapa teman Azka yang mengundurkan diri “tidak berani” ikut Haflah ini. Saya mencoba memahami kecemasannya dengan menceritakan bagaimana saya dulu juga “pengen kabur” kalau mau naik panggung dan berlomba, lalu saya coba “mengajarkan” teknik relaksasi untuk meredakan kecemasan.

Sebenarnya saya agak bingung juga dengan pelaksanaan kegiatan di hari Senin. Soalnya itu jadwal praktek saya di biro. Setelah kasak-kusuk-kasak-kusuk…alhamdulillah…ada teman yang bisa menggantikan saya di pagi hari. Saya akan masuk setelah makan siang. Dan saya begitu terharu ketika meng-bbm si abah bahwa Azka lulus ujan haflah dan bertanya apakah abah bisa ikut hadir hari senin, si abah jawab “harus bisa” katanya.

Ya, memang ada yang berubah pada kami sepulang dari tanah suci. Salah satu hasil “reset” dalam pendidikan anak adalah, bahwa kami bercita-cita keempat anak kami menjadi hafidz/hafidzah. Menjalani profesi apapun mereka kelak, hafidz dan hafidzah haruslah mereka upayakan.

Saya pribadi, jujur saja …. tak pernah “tergiur” ingin anak saya menjadi hafidz/hafidzah sebelum ke tanah suci. Meskipun banyak sekali sekarang program untuk mendidik anak-anak menjadi penghafal al-Qur’an. Baik itu lembaga pesantren maupun beragam program luar sekolah. Saya lebih ingin anak-anak saya “memahami” AL-Qur’an. Itulah sebabnya saya mewajibkan Azka-Umar membaca artinya dan membelikan mereka set tafsir al-Qur’an untuk anak. Hadits yang menyatakan bahwa anak yang hafal Al-Qur’an akan mempersembahkan mahkota cahaya di yaumil akhir nanti, juga tak mampu menggoda saya. Saya lebih ingin anak-anak saya menginternalisasikan nilai-nilai al-Qur’an dalam kepribadian mereka.

Namun waktu di tanah suci, saya begitu tergoda oleh para imam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang begitu syahdu suaranya…..dan meraka adalah para hafidz ! Lalu saat saya membaca tafsir al-Qur’an yang membahas mengenai mukjizat, diuraikan disitu bahwa mukjizat itu, adalah sesuatu yang paling “mutakhir” di jaman itu. Nabi Musa, dikaruniai mukjizat Ular besar yang memakan ular kecil…karena saat itu, orang yang hebat adalah penyihir yang paling kuat. Nabi Shaleh, mukjizatnya adalah pahatan unta yang bisa hidup. Karena pada saat itu, teknologi pahatan menyerupai bentuk aslinya adalah teknologi yang paling mutakhir. Begitu juga nabi Isa dikaruniai mukjizat bisa menghidupkan yang mati, karena saat itu ilmu pengobatan di zamannya amatlah maju.

Lalu, apa mukjizat yang diturunkan Allah pada Nabi Muhammad dan umatnya, yaitu kita? AL-Qur’an !!!! Saya seakan tersentak….Al-Qur’an itu…..yang ada di setiap rumah kita, adalah mukjizat !!!! yang akan membuat kita memiliki seuatu yang paling mutakhir di zaman kita ini !!!

Sejak menghayati itu, saya bertekad bahwa saya, kami, harus mulai “menghidupkan” mukjizat itu dalam diri kami. Teknisnya, kami akan melakukan beragam cara untuk “mengeksplore” mukjizat itu. Membaca, menghafal, membaca tafsir, menumbuhkan ikatan emosional dengan ayat-ayat tertentu, dan akhirnya mengamalkan serta mengajarkan….

…………………………

Makanya hari Senin pagi itu, kami hadir di sekolah Azka dengan hati yang amat “bahagia”. Sejak dihadirkannya bintang tamu seorang putra ustadz, lulusan sekolah Azka yang dalam waktu 8 bulan hafal sisa 28 juz dan menjadi hafidz, saya sudah tak bisa menahan air mata. Ustadz ini, adalah pembimbing kami waktu ke tanah suci. Saya ingat beliau pernah cerita bahwa putranya ini, awalnya hobi banget main game-online. Lalu beliau berkata ” suatu hari saya tersadar harus melakukan sesuatu untuk anak ini. Masa anak ustadz hobinya nge-game … asa teu pantes nya” 😉 Dan beliau pun mendoakan dan mencarikan lembaga yang pas buat anak ini.

Duh, anak umur 15 tahun itu ya, begitu matang kepribadiannya…. banyak yang tak kuat menahan air mata saat ia menyampaikan kembali hadits : “Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur’an.” (HR Abu Daud)

IMG_4193Tibalah saat Azka dan teman-teman naik panggung. Kesempatan menguji pertama….Gurunya menawarkan siapa orangtua yang mau mengambil kertas (berisi sepotong ayat) yang harus dilanjutkan anaknya. Seorang ibu ngacung. Saya gak kuat nangis saat anaknya ditanya sama pak guru…”siap nak?” lalu anak itu menjawab “siap ma, Allahu Akbar”…. si anak tadi lalu meneruskan ayat yang dibacakan ibunya…terus…dengan suara yang amat bergetar namun mengharukan.

Saya hampir-hampir mengurungkan niat untuk “ngacung” dan ngasih pertanyaan ke Azka. Tapi saya kuatkan…saya ngacung di kesempatan kedua, membacakan sepotong ayat yang ada di kertas yang terambil oleh saya….dan tak kuat menahan tangis saat Azka menjawab pertanyaan gurunya “Siap Azka?” …”Siap bu….allahu akbar”…itu suara Azka yang paling merdu yang saya dengar 10 tahun ini. Lalu Azka pun meneruskan potongan ayat yang saya bacakan…jujur saja saya tidak tahu benar atau tidak, karena ayat itu, surat itu tidak saya hafal. Setelahnya, pak Guru “mewawancarai” saya, bertanya mengenai perasaan saya…dan saya tidak bisa menjawab apa-apa…..

Ya, menghafal Al-Qur’an, bagi saya dulu sama saja dengan menghafal kosakata bahasa asing, menghafal rumus-rumus matematika-fisika, menghafal informasi-informasi lainnya. Saya memandangnya sebagai upaya menstimulasi otak dan daya pikir. Tapi sekarang, pandangan dan perasaan saya berbeda. Karena menghafal al-Qur’an, adalah sebagian upaya untuk mengenali dan mendapatkan mukjizatNya. Dan manfaatnya, tak hanya untuk dunia. Tapi juga untuk akhirat yang abadi.

besar & KECIL ; belajar dari DESPICABLE ME

mmmmhhhmmm… sudah lima tulisan mengantri manis di kepala. Menunggu giliran untuk diketik. Namun apa daya, tumpukan PR masih menggunung, dari kemaren baru berkurang dikiiiiit. Dan hasrat untuk menulis yang sudah menjerit keras harus belajar tunduk pada hasrat untuk mendisiplinkan diri menyelesaikan pekerjaan yang sudah tertunda lamaaaa. Mekanisme “self punishment” dan “self rewarding” ini sengaja di set-up biar everything goes well….segala kewajiban tetap terpenuhi secara seimbang…..

Kalau mau menyalahkan sih, ini karena saya ditakdirkan sebagai wanita. Jadi we harus pasrah saat mood dan semangat mengerjakan tugas terpengaruh oleh gejolak hormon-hormon, yang kali ini bergejolak lebih lama ;( . Dua hari ini,  hanya 10 % pekerjaan yang tergarap, teu nanaon lah slowly but slow juga…;( Saatnya memberi reward dengan mengetik satu tulisan….

Kemaren, saking tak semangatnya saya, akhirnya nemenin anak-anak nonton “Despicable Me”. Di rumah tentunya. Sambil nyalain laptop sih, dengan ditemani setumpuk kerjaan itu, yang tak tersentuh juga…..kekuatan si HARO begitu kuatnya (haroream kkkk…)

………………..

Terakhir saya dan anak-anak nonton bioskop adalah waktu film “Planes” diputar, bulan Agustus. Berarti 4 bulan lalu. Sekuel film Cars 1 dan 2 ini memang ditunggu sama anak-anak. Meskipun saya dan mas bukan sufi (suka film) dan tidak menjadikan “bioskop” sebagai tempat yang rutin dikunjungi, namun saya senang nonton bioskop. Dengan syarat sama anak-anak. Dan tentunya nonton film anak-anak. Kalau film orang dewasa? walaupun pengen banget nonton film-film bagus yang diputar di bioskop, kalau itu hanya bisa ditonton sama saya…..hasrat saya tak cukup kuat. Dan akhir-akhir ini, itu berlaku juga buat film anak-anak. Waktu “Monster University” tayang di bioskop, adaaaa aja alasannya yang bikin ga jadi. Alasan terakhir adalah….”mending uangnya ditabung”. Akhirnya, anak-anak pun sudah tau jawabannya : “nanti kalau cd udah keluar, kita tonton di rumah”.

Yups, akhirnya…tampaknya anak-anak memang lebih suka nonton di rumah; dengan segala keuntungannya : (1) suasana bioskop masih bisa terasa. Pasang sofa, lampu dimatiin, ibu nyiapin popcorn (2) bisa dengan beragam gaya. Bisa duduk, tiduran, selonjor, dan kalau ada adegan yang menakutkan, bisa di-pause dulu. Atau ada adegan lucu, bisa direwind (3) buat saya, selain lebih hemat dan bisa punya koleksi cd bagus untuk diputar lain kali, saya juga jadi leluasa untuk “menghayati” pesan moral yang ada di film tersebut dan “menginternalisasikannya” pada anak-anak.

Sebagai orang yang tidak kreatif, tak terkira kagumnya saya sama para pembuat film-film anak “bermutu” yang begitu keren menampilkan adegan aksi-nya, begitu menyentuh adegan emosinya (padahal itu kartun loooh…karakternya sebagian besar bukan manusia lagi…tapi bisa bikin nangis bombay….); dengan value-value yang amat mendalam. You name it ! Kungfu Panda, Finding Nemo, Tangled, Enchanted, Monster Inc, Monster University, Cars 1, Cars 2, Planes, Toy Story 1, Toy Story 2, Toy Story 3, The Incredibles, A Bugs Life, Despicable Me …..

Nah, yang mau saya ceritain  despicable meadalah adegan mengharukan dan penghayatan saya waktu nonton film “Despicable Me” ini. Ada satu adegan yang maknanya “dalem” banget….Yaitu waktu si Gru berhasil telah berhasil mengecilkan bulan yang akan dia curi, lalu di saat yang bersamaan, ia melihat tiket resital musik “tiga anak angkatnya”. Keren banget visualisasinya !!!!

Dua hal “diperbandingkan” secara visual dalam adegan itu; Satu hal BESAR, achievement yang selama ini ia nantikan, untuk membuktikan pada dunia bahwa ia HEBAT, terutama untuk membuktikan pada ibunya (ini juga keren penggambarannya, ibunya tak pernah mengapresiasi achievemennya, dari mulai achievement sederhana sampai achievement yang besar-pun). Satu lagi adalah hal KECIL, menghadiri resital musik anak-anak. Digambarkan pula betapa besar konflik yang ia rasakan saat itu.

Yups…konflik-konflik semacam itu, akan sering kita hadapi sebagai orang dewasa. Dan di usia menjelang 35 ini, saya semakin dihadapkan pada kesadaran dari konsekuensi pilihan itu. Bahwa dalam proses memilih itu, ada batasannya. Umur. Jadi, upaya memilih itu, harus lebih sungguh-sungguh kita hayati. Biar kita “gak salah kejar” dalam hidup ini. Karena seringkali, pilihan itu adalah 0-1. Saat kita memilih yang satu, berarti kita gak akan dapat yang satunya. Gak bisa dua-duanya kita dapet.

Saya sukaaaaa dan masih tetep suka sama konsep “memilih jalan hidup” dalam buku yang saya baca waktu masih lajang dulu … “first thing first”. Bahwa patokan yang harus kita pegang, bukanlah hanya jam. Bukan hanya: “umur segini harus udah mencapai ini, umur segini harus sudah jadi itu, umur segini harus udah bisa ini…”. Ada satu yang harus lebih dahulu kita pertimbangkan: kompas kehidupan kita. Apa arah akhir yang akan kita tuju? Jangan-jangan, setelah kita mencapai semuanya, dalam batas waktu yang sesuai dengan target kita, kita baru sadar bahwa…..kita berjalan ke arah yang salah. Katanya, kita tak boleh hanya jadi “manager” dari kehidupan kita, tapi harus jadi “leader”. Kan katanya “Managers do things right but leaders do the right things”.

Beberapa tahun terakhir ini, beberapa kenalan saya wafat. Ada yang sudah senior, ada yang masih muda. Beberapa kali saya mendapat kesempatan menengok dan mengetahui proses yang dialami kenalan yang terkena sakit sampai akhirnya wafat. Proses fisik, namun yang menarik perhatian saya adalah proses kecamuk psikologisnya. Saat kemampuan fisik kita menjadi terbatas, saat kita merasa waktu yang kita miliki sudah semakin sempit, pastilah saat itu….kita berpikir …. apakah saya sukses menjalani kehidupan saya? dan kesuksesan atau ketidaksuksesan itu, seringkali merupakan jawaban dari pertanyaan….”apakah saya melakukan hal yang benar yang harus saya lakukan dalam kehidupan ini?”

Saya yakin, seperti juga proses sakaratul maut, bagaimana hari-hari terakhir kita dalam kehidupan, adalah cerminan atau abstraksi dari proses kehidupan yang kita jalani. Apa yang kita kejar, apa yang kita pentingkan, akan kita petik buahnya di hari-hari akhir kehidupan kita. Dan saya melihat, bahwa “hal kecil” yang kita pilih, seringkali justru menjadi pilihan yang tepat yang akan kita petik buahnya di hari-hari akhir kehidupan kita.

Ikatan emosional dengan pasangan, kelekatan perasaan dengan anak-anak, hubungan erat dengan saudara….adalah “hal-hal KECIL” yang di akhir hidup kita, adalah hal yang paling kita butuhkan. Kenapa saya bilang “hal KECIL” karena dalam prosesnya, memang begitulah. Saya belajar banyak hal ini dari mas. Di akhir pekan, tak ada asisten yang membantu kami. Dan kami berdua, akan disibukkan dengan beragam hal “kecil”. Mas, yang Doktor itu, akan sibuk seharian memandikan Azzam dan Hana, mengganti baju Azzam berkali-kali karena ketumpahan makanan, nyebokin, nemenin Hana main plastisin atau mengecat, mengelap tumpahan di sana-sini, masakin telor kesukaan anak-anak, masakin nutrijel….membujuk Azzam yang ngamuk, nemenin main bola…. Padahal di saat yang sama, ada beragam hal “BESAR” yang bisa ia lakukan di luar sana. Konferensi ini, Workshop itu..dll…(saya tahu persis karena saya langsung akan pasang wajah “galak” saat mas buat acara di weekend). Setiap weekend, saya bayangkan mas seperti si Gru….ia harus memilih antara bulan yang akan ia curi, yang bisa membuktikan kehebatannya, atau memilih tiket resital musik anak-anak.

Hal-hal KECIL yang “dipilih” untuk dilakukan oleh Mas, buahnya tak perlu menunggu sampai akhir hidupnya. Setiap hari, saat membuka mata, kalimat yang diucapkan anak-anak adalah “abah mana?” si bungsu Azzam bahkan langsung teriak “Abaaaah…” kalau tak melihat abahnya di kasur. Juga teriakan ceria dan binar bahagia anak-anak waktu abahnya datang dari luar kota.

Mungkin itu sebabnya ya, di awal tahun ini, resolusi saya tak ada yang “BESAR”. Resolusi saya adalah, melakukan hal-hal “KECIL” rutinitas saya, dengan sebaik-baiknya dan sepenuh hati. Mengajar, membimbing mahasiswa, praktek, menemani anak-anak jalan-jalan setiap weekend, menanggapi curhatan Kaka Azka, menemani Hana mencari buku-buku yang dia lagi suka banget, mendampingi prose “keakuan” Azzam, mendampingi mas….

Saya memilih melakukan hal-hal KECIL yang membuat saya tak akan menyesal andaipun waktu hidup saya harus berakhir.

 

 

 

 

 

 

berkata TIDAK pada si “terrible two”

by Fitri Ariyanti (Notes) on Wednesday, March 16, 2011 at 6:45am

Aduuuh….rasanya baruuu kemarin buat tulisan ini, sekarang adiknya “si bungsu Hana” yang umurnya 20 bulan 😉

Tak terasa, si bungsu Hana sudah akan berusia 20 bulan akhir bulan ini. Beberapa bulan terakhir ini, mulailah perilaku “terrible two” muncul diantara kelucuan-kelucuan dan pesatnya perkembangan motorik, kognitif dan bahasanya.

 Terrible two adalah istilah yang menggambarkan betapa “sulitnya” perilaku anak di usia 2 tahun.

Konon, pada usia ini “self” anak mulai berkembang.

Rasa keAKUan mulai muncul seiring dengan perkembangan motorik yang membuat ia menjadi tidak lagi harus tergantung orang lain untuk bisa “bergerak” ke manapun ia mau.Akibatnya…dia akan mengatakan TIDAK untuk sesuatu yang kita minta, dan akan keukeuh sureukeuh untuk sesuatu yang kita larang. istilahnya mah “negativistik”.

 Apalagi perkembangan bahasa Hana lebih cepat dibanding kakak-kakaknya dulu (mungkin karena setiap hari terpapar kecerewetan 2 kakaknya yang baru brenti bicara kalau tidur). Saat ini ia sudah bisa mengucapkan kata-kata dengan cukup jelas dan bisa merangkai 3 kata menjadi kalimat. Maka, kalau dilarang ….beberapa bulan lalu dia masih bilang “no..no..” ..sekarang ini …sudah teriak-teriak: “jangan matiin ibu, tipinya…”…

 Teh Ema, sudah dari beberapa bulan lalu mengeluh “aduh bu, gimana ya ade gak bisa dilarang…makin dilarang, makin keukeuh…”…dan keluhan teh ema memang benar…….susahnya, anak usia segini belum bisa dikasih penjelasan mengenai sebab akibat…apalagi diajak diskusi…..dan lagi…dia mengembangkan satu metode yang membuat kita “takluk”….MENANGIS!!!….

Tapi saya ingat…bahwa anak seusia ini harus sudah mulai diajari aturan, meskipun ia mungkin tidak selalu mau mengikutinya.

Dan…saya pun punya kesempatan mempraktekkannya 2 hari lalu.

Saat itu saya tengah mengetik di PC, sambil memangku Hana….

Tiba-tiba…klik…monitor mati…

Ternyata eh ternyata, HAna yang pencet tombol power di CPU….

“dede, tidak boleh sayang…ibu kan sedang ngerjain” kata ibu…

Hana menunjukkan wajah “cemberut”….

 

Ibu menyalakan lagi komputer…

Mengerjakan lagi…

Klik…monitor mati lagi.

“dede…tidak boleh sayang…ibu sedang mengerjakan…” nada suara ibu meninggi…

Langsunglah si “terrible two” yang satu ini menggunakan jurus mautnya: nangis heboh.

Kata teh Ema : “ih, emang gitu bu..makanya sering berantem ama mas Umar…mas Umar lagi asik main game, ujug-ujug dimatiin….Nanti nangis dua-duanya kalau de Hana dibilangin…”.

 mmmmhhhmmmm…

Tapi saya ingat, bahwa anak usia ini tetap harus diajari apa yang boleh dan tidak boleh, dan mereka sudah bisa.

Jadi,saya biarkan dia nangis.

Nangisnya lama loh…1 jam…

Sorenya, saya bekerja di depan komputer lagi. Hana sambil nenen.

Jarinya mengarah ke tombol CPU…

Saya tatap matanya dengan wajah “tegas”…dan telunjuk saya mengatakan tidak…

Langsung nangis heboh lagi …1 jam…

Saya biarkan…

 

Besoknya…

Situasi yang sama…

Telunjuk Hana terarah lagi ke CPU…tapi wajahnya menatap ibu. Ibu menggeleng.

Hana tidak nangis.

 Sorenya…

Kutanya Hana: “dede, boleh engga matiin ini? “

Hana menjawab: “enggak boleh” …:):):):)

 cihuy….alhmd berhasil.

 

Peristiwa lain,

adalah 3 hari terakhir ini ia tidur kemaleman karena senneg nonton waybulo, film kesukaannya jam 21.30.

Kalau kakak-kakaknya bisa dibilang “abis ini udah ya”…Maka Hana tentu saja bilang “jangan…” dan langsung nangis

Nah, semalam, saya bilang…”ade, udah nonton TVnya ya, udah waktunya tidur”.

Maka….nangislah dia…

 

SAya tiba2 punya ide:

“baca buku yuuuk…mana ya buku dede…”alhamdulillah aku punya tangan”, “alhamdulillah aku punya telinga”, “alhamdulillah aku punya hidung”….kataku mengambil buku2 favoritnya dari rak bukunya

“dede mau baca” katanya ..

“sok atuh matiin dulu TVnya” (bari gak yakin dia mau melakukannya di tengah2 film kesukaannya)

ajaibnya…dia mau!! klik..dia matiin TVnya dan mengikuti ibu ke kamar…

 So…dari 2 kasus tersebut…mungkin dapat diambil kesimpulan “TIPS MENGATAKAN TIDAK PADA ANAK USIA 2 TAHUN” 😉

1. Tetap katakan “tidak” dengan tegas dan konsisten. Yakinlah bahwa dia akan menurut, meskipun prosesnya bercucuran air mata;)

2. Alihkan dengan kegiatan lain yang lebih menarik buat anak

Mengenal si Dua Tahun

Di usia 2 tahun ini, perkembangan yang paling menakjubkan pada anak adalah perkembangan bahasa dan bicara. Selain itu, di usia ini anak mulai bermain “pura-pura”. Anak usia ini juga mulai menyadari perasaan mereka dan perasaan orang lain. Selain itu, usia ini adalah usia dimana toilet training biasanya  berhasil.

 Secara lebih spesifik, perkembangan mereka adalah sebagai berikut:

 Perkembangan motorik kasar

Perkembangan motorik kasar anak di usia ini berkembang pesat. Fokus stimulasi kita adalah untuk memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan beragam kegiatan melompat, berguling, dan memanjat dengan nyaman dan aman.

Beragam alternative kegiatan yang bisa dilakukan adalah:

  • Minta anak membawa sesuatu. Anak suka sekali melakukannya. Biasanya anak merasa “bangga” jika disuruh mengambilkan sesuatu. Bantal, dompet, telpon, tas ibu, sepatu ayah….
  • Memanjat. Tanpa diminta pun, anak usia ini senang sekali memanjat. Kursi, lemari, jendela, teralis, semua bisa dipanjat. Yang penting arahan dan pengawasan dari kita agar kegiatannya aman. Dripada minta anak untuk turun, arahkan anak bagaimana memegang atau menggerakkan kaki dengan benar dan aman.
  • Kegiatan gerak tubuh. Anak usia ini senang sekali menggearakkan tubuhnya. Senam, joget, gerakan hoki-poki, permainan “mengikuti pimpinan”, akan sangat diikuti anak dengan penuh antusiasme.
  • Permainan yang bisa dinaiki. Sepeda, kuda-kudaan, mobil-mobilan, selain melatih kemampuan motorik, juga biasanya digunakan oleh anak sebagai media bermain pura-pura.

 

Perkembangan motorik halus

Kegiatan motorik halus terkoordinasi dengan otak, karena melatih koordinasi visual motorik. Kegiatan motorik halus yang bisa dilakukan pada si 2 tahun adalah:

Puzzle bentuk dari kayu yang bentuknya geometris sederhana, permainan meronce yang bolong dan talinya besar, bermain lilin.

Perkembangan bahasa

Konon di usia ini, anak sudah mengiasai 1000 kata ! Inilah waktu yang tepat untuk menstimulasi kemampuan bahasa dan komunikasi anak. Yang perlu diingat adalah, JANGAN MENGKOREKSI KESALAHAN UCAP ANAK, BERIKAN SAJA CONTOH PENGUCAPAN YANG BENAR!

Misal: “dede mau cucu” ….”oh, dede mau susu ya?”

Tips-tips untuk menstimulasi perkembangan  bahasa anak:

  • Bicara dengan artikulasi yang jelas
  • Bicaralah dengan detil: “de, ambil hape ibu di meja TV”…jangan “de, ambil meja ibu di sana”
  • Lakukan kontak mata dengan anak saat sedang bicara dengannya, sehingga kita tahu apakah anak mengerti atau bingung
  • Perhatikan adanya suara lain yang bisa mengganggu penangkapan anak
  • Sesuaikan bahsa yang digunakan dengan bahasa anak. Gunakan bahasa yang sederhana.
  • Ajari bahasa yang terkait dengan waktu dan ruang. Misal: di depan, di belakang, di atas, di bawah, dll
  • Gunakan benda-benda untuk mengajarkan perbandingan. Mana yang lebih besar, lebih tinggi, lebih berat, dll.
  • Manfaatkan komunikasi untuk memberikan pujian, tapi yang spesifik. Bukan “dede hebat ya..” tapi “dede pinter udah bisa ngambilin ibu bantal”.
  • Ajarkan keterampilan sosial yang positif; misalnya membiasakan anak mengucapkan terima kasih, tolong, maaf. Biasakan kita mengucapkan kata –kata itu pada anak, agar anak bisa meniru.
  • Buat “kesalahan” untuk mengembangkan daya kritis anak. Misal; “aduh, mata ibu sakit” (ibu pegang telinga). Anak biasanya suka “lelucon” ini.
  • Biasakan membacakan cerita pada anak

 Perkembangan kognitif

Perkembangan kognitif terkait erat dengan perkembangan bahasa. Pada usia ini, anak punyarasa ingin tahu yang sangat besar terhadap segala seuatu. Anak akan banyak bertanya dan bahkan “ikut campur” saat orangtua sedang ngobrol. Yang penting, tanggapi secara positif, jangan membuat anak “bertepuk sebelah tangan”.

Jangan mulai mengajarkan hal-hal yang sifatnya akademis pada anak di usia ini. Misalnya mengajarkan huruf, angka atau berhitung. Boleh saja sih, mengenalkan….tapi sebagai “fun” aja…soalnya biasanya anak sendiri yang berinisiatif menyebut huruf dan angka, walaupun absolutely ngaco, puji aja….

 Stimulasi pada kognisi anak bisa dilakukan melalui kegiatan:

  • Cerita mengenai kegiatan kita sebelumnya, dan yang akan dilakukan. Tanya juga kegiatan anak yang telah dilakukan, yang sedang dan akan dilakukan.
  • Berhitung satu-satu, sampai dengan 3 atau 5 benda (satu angka, satu benda)
  • Mengelompokkan (warna, bentuk, jenis) tapi 1 dimensi saja. Misal warna saja, atau bentuk saja.
  • Bernyanyi

Perkembangan emosi-sosial dan harga diri

Anak usia 2 tahun terkait dengan istilah “terrible two” . Namun di sisi lain, akan jadi “terrible” atau tidak perilaku anak di usia ini katanya tergantungdari bagaimana cara kita menanggapi mereka.

Beberapa hal yang dominan pada anak usia 2 tahun adalah:

  • Keukeuh sureukeuh suradimeukeuh 😉

Di usia ini, mereka akan sangat keukeuh sureukeuh terhadap segala sesuatu. Hal ini sebenarnya disebabkan oleh rasa “aku bisa” karena terkait dengan kemampuan motorik, kognitif serta bahasa mereka. Di usia ini, kita akan sering mendengar kata “tidak”, “tidak mau” dari mereka. Itu karena mereka ingin memastikan bahwa mereka punya “power” sekarang. Tapi jangan kaget kalau saat ibunya tidak ada di rumah, kita mendengar laporan bahwa anak bersikap lebih “manis” dibanding saat ada ibu 😉

Gimana cara mengatasi sikap keukeuh anak? Katanya, kita mesti tau gimana caranya memberikan “power” pada anak. Biarkan anak menentukan hal-hal yang tidak berbahaya. Misalnya biarkan anak menentukan dimana ia akan menempel gambar hasil karyanya, menentukan baju apa yang mau dipakainya, menentukan apa kegiatan yang ingin mereka lakukan. Di usia ini, mereka jauh lebih membutuhkan kesenangan dalam beraktivitas, jangan terlalu banyak mengarahkan.

  • Susah adaptasi

Buat ortu yang memasukkan anaknya ke playgroup di usia ini, anak akan masih sulit untuk berpisah dari ibu. Di usia ini, yang jauh lebih penting adalah memastikan rasa aman anak. Kalau anak menangis tidak mau ditinggalkan di day care atau playgroupnya, itu hal yang wajar. Jangan mengatakan; “sudah besar kok masih nangis”…terima saja kesedihannya, lalu alihkan pada kegiatan lain. 

  • Rentang perhatian/konsentrasi yang pendek

Jangan berpikir bahwa anak mengalami gangguan konsentrasi kalau pada usia ini anak cepat beralih dari kegiatan satu pada kegiatan lainnya.

  • Mulai tumbuhnya “hati nurani”

Anak usia 2 tahun masih sangat impulsive dan sulit untuk mengontrol perilaku mereka. Itu sebabnya seringkali mereka tahu bahwa suatu hal tidak boleh dilakukan; misalnya tidak boleh memukul, tapi mereka tidak bisa mengontrol perilaku mereka. Karena “hati nurani” mereka belum bisa diandalkan, maka ia sangat membutuhkan bantuan dari luar untuk mengarahkan perilaku mereka, untuk tidak melakukan hal yang buruk dan melakukan hal yang baik. Larangan dan pujian akan sangat membantu tumbuhnya “hati nurani” mereka sendiri. Dalam membuat larangan, mungkin kita akan mengalami kendala mengingat si dua tahun ini masih egosentris dan memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya saja. Nah, ini kesempatan kita untuk mengenalkan bagaimana perasaan dan situasi orang lain terkait perilaku anak. Misal: “jangan mukul kakak dong, kan kakaknya sakit” atau “jangan sobek gambar kakak, nanti kakak sedih”. 

  • Mainan yang “hangat”

Konon katanya di usia ini, mainan yang “hangat” seperti boneka kesayangan atau selimut kesayangan (jadi ingat selimut biru-nya si Franklin) anak membuat anak cepat merasa aman dan nyaman, karena mainan yang “hangat” itu adalah “pengingat fisik” bahwa mereka dicintai dan disayangi.

Hubungan dengan anak lain

Si 2 tahun sangat suka bermain dengan anak lain. Meskipun komunikasi mereka masih dicampur dengan komunikasi nonverbal, akan tetapi mereka sangat senang “ngobrol” (sok aja nguping obrolan mereka, dijamin kita akan cengar cengir sendiri;). Mereka akan lebih memilih anak lain yang memiliki kesamaan minat, yang suka melakukan kegiatan yang sama, misalnya sama-sama suka main sepeda di pagi hari, sama-sama suka nonton Barney;). Mereka juga lebih suka bersama anak yang secara fisik mirip dengan mereka.

 Biasanya, tahap-tahap mereka “bermain bersama” adalah:

Mereka saling melihat, lalu kontak mata, lalu salah satu atau masing-masing meniru gerakan atau permainan yang dilakukan anak lain, lalu…mereka pun main “bersama” deh…..

Perkembangan Keterampilan Sosial

Anak mulai membangun “persahabatan” di usia yang beragam. Namun, usia 2 tahun ini adalah usia yang tepat untuk mengajarkan kompetensi dasar untuk anak agar bisa membangun persahabatan kelak. 

Berikut adalah dasar-dasar yang dibutuhkan anak:

  • Belajar bagaimana memulai dan masuk ke permainan.

Saat memasuki situasi baru di mana sudah ada anak lain yang sudah mulai bermain, ajarkan anak untuk mengamati terlebih dahulu ap ayang sedang dimainkan, situasinya bagaimana, agar anak terlatih untuk menilai situasi dan menyesuaikan diri.

  • Meniru

Meniru apa yang sedang dilakukan anak lain, terutama untuk hal yang positif, merupakan dasar untuk menyesuaikan diri juga.

  • Menyampaikan apa yang anak inginkan
  • Mendengarkan orang lain

Arahkan dan bantu anak untuk mendengarkan apa yang dikatakan anak lain kepadanya, terlebih di usia ini kemampuan reseptif maupun ekspresif anak masih terbatas.

Bermain dan Permainan

Permainan apa yang cocok untuk anak di usia ini?

  • Permainan bersama teman sebaya. Meskipun kegiatan yang dilakukan masih masing-masing, biasanya anak usia ini senang berada dekat dengan anak lain.
  • Bermain “anyang-anyangan”. Masak-masakan,mobil-mobilan, dan sebagainya. Inilah saatnya membelikan mainan “miniature”
  • Mencoret. Jangan heran kalau anak sudah mint akertas dan alat tulis. Meskipun belum terlihat jelas bentuknya, namun anak suka sekali “menggambar” atau “mewalnai”. 

Hati-hati ! Benci = Cinta (Tanggapan untuk Kasus FA)

Ada satu kalimat yang selalu saya ingat dan entah kenapa berkesan buat saya, meskipun saya bener-bener  lupa sumbernya dari mana.

“Lawannya Cinta Bukan Benci, Melainkan Tidak Peduli” . Biasanya ini adalah kalimat sakti yang saya kirimkan lewat sms, bbm atau email sama mas kalau saya sedang merasa bahwa mas sedang “tidak peduli” pada saya….lebay bukan ? haha….

Tapi kalau dihayati, dari sudut pandang psikologi…..kalimat ini maknanya dalem loooh….dan kalimat itu bener banget.

Plutchik-wheel.svgCinta dan Benci adalah sebuah emosi. Bukan emosi dasar. Kalau kata Plutchik (1980) kan “basic emotion” itu cuman ada 4 pasang, yaitu  : anger, fear, sadness, disgust, surprise, anticipation, trust, dan joy. Beragam emosi lainnya, adalah gabungan dari ke-delapan emosi dasar tadi. Misalnya saja, LOVE adalah gabungan dari joy and trust. Ada  6 syarat sebuah “perasaan” bisa disebut emosi. Uraian selengkapnya bisa didapat di mata kuliah PEPSI (Pengantar Psikologi) Fakultas Psikologi Semester 1 haha…

Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah, bahwa dalam emosi itu, ada suatu “keterbangkitan”. Atau bahasa mahasiswa saya mah “intensi”. Sederhananya mah ada “ketergerakan”. Jadi, balik lagi ke kalimat “lawannya cinta bukan benci, melainkan tidak peduli”….memang seseorang yang membenci, itu artinya dia masih “peduli”. Kalau kita membenci seseorang, sampai kita mencacinya, dll….orang itu masih “eksis” secara psikologis dalam perasaan kita. Semakin dalam kebencian kita, semakin besar eksistensi orang itu dalam perasaan kita. Tapi kalau kita gak peduli pada seseorang? … orang itu “gak ada” di mata kita. Begitu lah kira-kira hehe…

Nah….dari uraian “filosofis” di atas, kita menuju aplikasi konkritnya.

Ada kalanya seorang anak “mencari perhatian” ibunya, atau seorang murid “mencari perhatian” gurunya, dengan melakukan perilaku yang “negatif”. Kata buku-buku parenting, cara terbaik menyikapi anak dengan sikap tersebut adalah dengan mengabaikannya. Kenapa? karena kalau kita “memarahi”nya, dia mendapat apa yang ia inginkan. Perhatian. Jadi, reaksi kita terhadap anak tersebut….entah itu reaksi positif ataupun negatif, berfungsi sebagai “reinforcement”, penguat perilakunya. Maka jangan heran kalau perilaku tersebut akan dipertahankan anak, bahkan mengalami eskalasi-peningkatan.

Di jaman sekarang ini, ternyata tak hanya anak yang senang mencari perhatian dengan cara berperilaku negatif. Orang dewasa pun. Dan gila-nya, perilaku mencari perhatian ini ditunjukkan di media yang bisa dikonsumsi oleh seantero Indonesia raya bahkan oleh dunia. Hari-hari belakangan ini, konon seorang pencari perhatian (bukan anak kecil) ber-inisial FA (bukan Fitri Ariyanti ya…), tengah menjadi “trending topic” di kalangan sosial media. Perhatian terhadapnya, konon katanya mengalahkan perhatian masyarakat terhadap hal-hal lain yang lebih penting untuk diperhatikan.

Semua yang berpikiran waras tentunya tahu bahwa apa yang dilakukan beliau bukanlah perilaku yang baik, yang positif. Dilihat dari kacamata apapun. Dan tidak sedikit yang merasa sebel, kesel, benci, pengen muntah. Cuman salahnya, para “hater”nya ini justru malah memberikan reinforcement terhadap dia. Men-share berita tentang dia, mengomentari sikap dia, bikin komik atau candaan tentang dia, dll dll. Seperti anak kecil, tampak si beliau ini merasa girang saat ia mendapat perhatian. Tak peduli perhatian itu bentuknya kebencian atau hal negatif. Ia telah mendapatkan apa yang ia inginan. EKSISTENSI. Bahwa SAYA ADA.

Sebenarnya saya agak khawatir sih, dengan tulisan ini saya juga mereinforce dia. Cuman saya ingin sekali menyampaikan gagasan saya. Cara yang paling efektif untuk menghentikan beliau, adalah dengan tak mempedulikannya ! jangan tonton dia, jangan baca berita tentang dia, jangan share berita tentang dia, jangan komentar apapun soal dia….buatlah dia “putus asa” dan “merasa frustasi” bahwa upayanya, tidak berhasil. Bahwa dia, “gak penting” dan “tak ada”.

Mudah-mudahan dengan cara demikian, dia akan mencari jalan yang lebih produktif dan konstruktif sebagai jalan untuk menunjukkan Eksistensinya. Aamiin.

Six Basic Emotions: Anger, Fear, Disgust, Surprise, Happiness, Sadness
Six Basic Emotions: Anger, Fear, Disgust, Surprise, Happiness, Sadness
Six Basic Emotions: Anger, Fear, Disgust, Surprise, Happiness, Sadness
Six Basic Emotions: Anger, Fear, Disgust, Surprise, Happiness, Sadness

Previous Older Entries