Captain America vs Hulk : Obrolan Cinta dengan Kaka

Beberapa minggu lalu, kayaknya sebagai bagian dari promosi buat film Spiderman Homecoming yang tayang di bioskop, TV kabel yang kami langgan memutar film-film Marvel. Saya gak pernah tertarik untuk nonton film action kayak gitu. Lebih seneng drama tentunya. Tapi nemenin si sulung dan si bujang, jadilah saya nonton Captain America: Civil War. Seru juga ternyata. Dan Karena itu adalah sekuel terakhir dari film-film Marvel, maka sepanjang nonton saya terus nanya-nanya terus tentang tokoh2 disana. Si sulung dan si bujang menjawab: “Ibu…kalau ibu mau ngerti, ibu harus nonton Captain America: First Avenger, Captain America: Winter soldier, Thor, Thor The Dark World, Avenger, Avenger Age of Ultron, The Hulk, Incredible Hulk, Iron Man 1,2 dan 3″. Ya ampuun …. banyak amat. Mereka taunya dari mana ya? Harus bareng nih kalau nonton film-film kayak gitu. Daaaaan….seminggu itu, pas anak-anak belum masuk sekolah, sebagian film yang disebutkan si sulung dan si bujang, tayang juga. Jadilah tau sejarah Thor punya hammer, siapa itu Bucky dan Loki, Vision itu siapa, dll dll. Khatam lah pokoknya chapter Avengers kkk.

avengerWaktu itu, 4 hari si bujang kecil dan si gadis kecil ikutan kegiatan liburan. Si bungsu bobo siang. Jadilah saya dan si sulung nonton Avenger berdua. Sambil rebutan gurilem cemilan kami. Setelah nonton, saya tanya si sulung: “Kaka, dari Avengers Kaka paling seneng sama siapa?” Sepersekian detik, dia langsung jawab: “Kapten Amerika!”. “Kenapa?” tanya saya. Nah, bagian mendengarkan jawaban dari pertanyaan kenapa yang saya ajukan ke anak-anak, selalu seru dan selalu saya nikmati. Saya selalu excited mendengarkan pikiran dan perasaan anak-anak umur 5,8,11, dan 14 tahun itu. Teknik proyeksi kalau dari sudut pandang psikologi mah.

“Ya jelas lah ibu…..ganteng. Terus baik banget. Ibu inget kan waktu latihan trus dilemparin granat tea? yang  waktu dia masih ceking? trus dia teh malah meluk granat itu buat ngelindungin temen-temennya? so sweet banget …” Begitu jawab si sulung. Haha…memang sih..kalau film ini dimaksudkan untuk membentuk citra yang baik pada “prajurit Amerika”, film ini berhasil banget. Banget.

Lalu si sulung bertanya pada saya: “Kalau ibu suka sama siapa?” Saya jawab: “Dr. Bruce Banner”. “Haaaaah…beneran Bu, Ibu suka sama Hulk?” matanya membelalak tak percaya. “Bukan Hulk Kaka, Dr. Bruce Banner. Memang dia berubah jadi Hulk, tapi kan dia sendiri bilang Hulk itu the other guy. Beda sama dia”

“Ih, aneh ibu mah. Dia kan paling gak ganteng ibu”…… “Iya, tapi dia teh menurut ibu paling menonjol inner beautynya. Humble banget. Itu yang gak terlalu dimiliki yang lain. Padahal dia kan pinter banget. Dia tau banget kelemahan dia, dan dia berjuang mengendalikan. Kan dia mengabdikan dirinya di India”. Saya menjelaskan. “Tapi wajar sih Kaka pilih Kapten Amerika. Ibu juga kalau seumur Kaka pasti pilih Kapten Amerika”. Kata saya lagi. “Haha…iya Kaka juga ngerti kenapa Ibu suka sama Bruce Banner. Ibu kan udah tua haha….” nikmat banget ketawa si sulung.

“Yah, tapi itulah Ka…..rasa cinta itu berevolusi. Kalau seumur Kaka, meskipun ada unsur pertimbangan “baik atau engga”nya, tapi tampilan fiisk pasti yang utama. Pasti Kaka juga suka sama cowok pertimbangan utama karena menarik secara fisik. Bikin degdegan. Begitu juga Kaka disukain cowok karena fisik Kaka. Kalau kata teori, itu namanya romantic love. Gak salah sih. Kalau kayak Kapten Amerika ganteng dan baik, alhamdulillah. Tapi pada kenyataannya nanti, seringkali kita harus memilih. Antara ‘suka’ karena perasaan atau “suka” karena rasional, karena kualitas dirinya.”

“Nah, kualitas diri itu, baru ajeg kalau udah dewasa. Makanya, gapapa kalau Kaka suka dan disukai sama temen seumur Kaka. Tapi kalau memutuskan untuk memberikan seluruh diri kita sama orang itu saat ini, kayak misalnya berhubungan sex, itu salah banget. Simpan dulu aja rasa suka itu dalam hati. Karena belum keliatan kualitas sesungguhnya dari orang itu.” 

“Nah..kalau udah seumur ibu dan abah, fisik tuh udah gak penting lagi. Seganteng-ganteng orang, kalau udah tua ya gak ganteng lagi. Jadi gendut lah, botak lah, apalagi kalau udah kena penyakit. Suka sama fisik itu, kalau dijadikan satu-satunya pertimbangan, akan bentar banget bertahannya. Kalau udah seumur ibu dan abah, yang membuat jatuh cinta adalah kebaikan hati. Jadi kebaikan hati itu yang harus jadi pertimbangan utama. Kayak Dr. Bruce Banner haha….. Bayangkan kita akan hidup bersama dengan orang itu, menderita banget kita kalau dia ganteng tapi nyebelin”

“Tapi kalau ada yang kayak Kapten Amerika ganteng terus dan baik, oke kan bu?”//Iya sih, tapi kayaknya model gitu cuman ada dua orang Ka, satu udah meninggal satu lagi belum lahir” 

Hahaaa…kami pun tertawa nikmat bersama.

Kurang lebih dua tahun menjadi ibu dari seorang remaja, saya mengalami betapa sulitnya membuka dan menjalin komunikasi yang menyenangkan dengan mereka. Padahal nilai-nilai kehidupan justru kritis harus masuk di masa ini, sejalan dengan “studi kasus nyata” yang mereka hadapi sehari-hari. Dalam beberapa tulisan sebelumnya saya menuliskan pengalaman sulitnya “membuka pintu” masuk obrolan dengan remaja. Kalau sama adik-adiknya, gampang. Tinggal bilang: “sini, ibu peluk”. Dan sambil memeluk mereka, gampaaaaang banget ngajak ngobrol apapun. Dari yang remeh temeh gak penting, sampai dengan suara dari lubuk hati terdalam.

Nah kalau sama si remaja? meluk? kalau gak dalam konteks pamit, aneh banget. Ujug-ujug ngajak ngobrol? udah saya coba. Awkward banget. Obrolan dengan para orangtua remaja, membuat saya menyimpulkan bahwa hal yang paling sulit mengasuh remaja adalah, membuka obrolan untuk masuk ke konten “serius”

Maka, obrolan ringan seperti yang terjadi di atas, sangat saya nikmati. Saya merasa sudah menemukan satu lagi pintu masuk, menambah koleksi “pintu masuk” lainnya. Dan seperti yang dituliskan di beragam buku, remaja usia SMP itu, masih membutuhkan orangtuanya. Mereka senang ngobrol, haha hihi, curhat sama teman sebayanya. Tapi mereka juga masih enjoy ngobrol, haha hihi dan curhat sama orangtua serta sudara-saudaranya.

Saya sangat suka dengan perumpamaan mengasuh remaja itu seperti bermain layangan. Kadang benangnya kita ulur sampai tak terlihat, kadang kita tarik dan kita pegang. Tapi yang jelas, benangnya jangan sampai putus. Nah, mempertahankan agar benang itu tak putus, saya rasakan bukan hal yang mudah. Karena kalau sudah putus, sulit. sangat sulit menyambungkannya lagi. Maka, sekali lagi, obtrolan ringan dan lucu seperti ini, sangat saya nikmati dan saya syukuri.

 

Advertisements

Al Kahfi di Pulau Bule ; Sebuah Catatan Perjalanan

Sudah seminggu lebih kami ber-piknik ria. “Tour de Java” adalah cita-cita si abah. Karena kami adalah pecinta jalur selatan tiap kali mudik, maka kali ini kami ingin mencoba jalur utara.  Keluar dari Cipali, kami  menyusuri kota-kota di pantai utara. Beli telur asin di Brebes, “iseng” mampir beli batik di Pekalongan, menginap di Semarang dan menyengajakan bertemu teman-teman kami di Semarang.

Ada percakapan lucu dengan si bujang kecil di Pekalongan. Jadi waktu itu, saya cuman bilang ke si abah: “mampir dulu bentaaaar aja. Masa lewat Pekalongan gak liat-liat batik”. Akhirnya kami berhenti di salah satu toko, daaaaan…. “sebentar” itu ternyata jadi satu jam haha…. soalnya batiknya keren-keren dan murah-murah! tadinya cuman mau beliin mamah dan emak, eh….jadi beliin adik-adik, ipar, ponakan, tetangga…haha… Itu juga kalau gak disusul si bujang kecil, bakal tambah lama tuh. Waktu saya tanya abah nunggu dimana, si bujang kecil bilang: abah nunggu di mobil, tidur kkkk. Padahal sebelum tenggelam dalam proses memilih-memilah batik yang lutu-lutu, si abah rasanya mendampingi saya tadi. Trus saya bilang ke si bujang kecil: “Mas, nanti kalau Mas Umar jadi suami, Mas Umar harus kayak abah. Ibu-ibu tuh kalau udah belanja, suka gak inget waktu. Nah, abah tuh kalau masih wajar, mau nungguin. Biasanya abah tidur. Jadi ibu gak keganggu, abah juga gak kesel.  Kecuali kalau ibu sudah keterlaluan, abah suka ingetin ibu dengan tegas. Ibu juga suka takut kalau diingetin abah. Jadi abah ngingetinnya efektif efisien”. Jawaban di bujang kecil: “iya, tapi mas Umar gak mau punya istri kayak ibu. Nanti kalau mas Umar taaruf, akan mas Umar tanya perempuan yang taaruf sama mas Umar: kalau belanja lama gak? kalau lama, Mas Umar akan cari yang lain yang gak suka belanja lama “ hahaha……

Tengah hari, kami melanjutkan perjalanan dari Semarang ke Kediri, tujuan utama kami. Anak-anak sudah sakaw untuk ketemu yangti-nya dan abahnya anak-anak udah sakaw untuk ketemu ……soto Kediri dan sambel tumpang kkkk. Beberapa hari di Kediri, kami melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Kami akan terbang ke Lombok dan piknik beberapa hari di sana.

Sebenarnya ide piknik ke Lombok ini adalah ide spontan si abah. Waktu ia melihat saya berhari-hari menghadapi laptop dikelilingi puluhan buku dan jurnal untuk persiapan ujian kualifikasi, dia bilang; “kayaknya dirimu abis ujian butuh liburan deh” . Gimana bisa keidean ke Lombok? Karena bisa lanjut dari Kediri hehe. Memang meskipun gak pernah janjian, tapi ternyata saya dan si abah punya keinginan yang sama: Lebih ingin menjelajahi Indonesia daripada menjelajahi dunia. Lebih ingin keliling Indonesia daripada keliling dunia.

Lalu beberapa hari kemudian si abah  booking tempat, pesen tiket….ngajak ngobrol saya sih, tapi saya gak konsen kkk…. itulah sebabnya si abah melakukan kesalahan fatal. Beli tiket pesawat sehari lebih awal dibanding booking tempat haha….Memang ia agak ADD sih (attention deficit disorder) kkk . Biasanya saya akan bertugas ngecek. Tapi karena saya gak konsen, maka kesalahan itu terjadi. Sebuah blessing in disguise. Gara-gara kesalahan itu, kami jadi gak langsung ke Gili Trawangan, tapi menghabiskan satu hari dulu di Senggigi.

Ini adalah pertamakalinya si bungsu naik pesawat. Dan sebagai seorang explorer sejati, dia mencoba segala hal yang baru buatnya. Buka tutup jendela pesawat, pake-lepas belt berpuluh-puluh kali, jalan-jalan, beberapa kali nyobain ke kamar mandi sendiri,  pengen coba pelampung setelah tanteu pramugari jelaskan kalau di bawah kursi ada pelampung, dan maksa mau masuk ke ruangan pilot: “de Azzam pengen ketemu sama om pilot”. Hadeeeuh….dengan kehebohan itu, perjalanan satu jam Surabaya-Lombok jadi tak terasa buat saya.

Dari bandara, kami memesan mobil untuk mengantar ke villa tempat kami menginap di Senggigi. Dalam perjalanan, kami diantar ke Sukarare. Di sana, kami didandani dengan baju khas suku Sasak, berfoto di rumah adatnya, dijelaskan filosofi menenun, lalu diajak berkeliling melihat hasil tenunan karya warga desa tersebut. Disini saya sangat bersyukur tak jadi perempuan desa itu. Karena kalau saya jadi perempuan desa itu, saya gak bakal nikah-nikah sodara-sodara…karena di sini, aturannya adalah ….. seorang perempuan gak boleh nikah kalau dia belum bisa menenun;)

Sepanjang perjalanan, kami ngobrol sama pak Sopir. Pengetahuan IPS saya banyak bertambah dengan penjelasan pak Sopir tentang sejarah yang membentuk sosio-demografi masyarakat Lombok saat ini. Suku Sasak adalah suku asli di Lombok. Dan mereka beragam Islam. Pak Sopir pun dengan sabar meladeni pertanyaan saya dan pertanyaan anak-anak. Misalnya ia menjawab pertanyaan saya kenapa Bali itu didominasi Hindu dan Lombok didominasi Islam. Ia juga menjawab pertanyaan si gadis kecil: “Kenapa Bali lebih terkenal daripada Lombok Om, padahal menurut teteh sih  Lombok udaranya lebih enak dibanding Bali”.

Di perjalanan, kami melihat banyak masjid. Begitu saya tanyakan, pak Sopir dengan nada bangga menceritakan bahwa Lombok memang terkenal sebagai “pulau seribu masjid”. Oh iya…saya pernah denger. Pak Sopir pun sangat bangga bercerita bahwa Gubernurnya, adalah seorang  “Tuan Guru”. Sebuah sebutan bagi ulama di Lombok. “Gubernur paling muda bu, penghafal Qur’an. Doktor lulusan Al Azhar” ucapnya bangga sambil menunjukkan bangunan islamic center yang keyyeen. Ya, ya….saya juga pernah membaca berita tentang Tuan Guru Bajang ini. Super duper keren ya….sayang berita menyejukkan tentang gubernur keren ini tenggelam oleh berita kontroversi mengenai gubernur yang lain…

Villa Kila, tempat kami menginap di Senggigi, super duper cozy. Tempatnya dikelilingi pantai. Disini aktifitas anak-anak hanya ada satu: berenang. Berenang di kolam renang, lalu ke laut, lalu ke kolam renang lagi, lalu ke laut lagi. Pantai yang indah dengan udara sejuk….it’s my dream. Eh eh tau gak….saya suka bayangin…apa yang paling saya pengen… dan jawabannya adalah…baca buku di pinggir pantai yang sejuk. And my dream comes true! bisa berjam-jam baca buku, memandang pantai yang indah, sambil menyaksikan anak-anak yang tahan berjam-jam berenang, lalu membuat istana pasir, lalu berenang lagi….

Citarasa tanah seribu masjid, kami rasakan di sini. Di tiap kamar disediakan sajadah, ada Qur’an juga. Memang ada bibel juga. Anak-anak yang baru pertama kali mengenal bibel, pada rebutan pengen baca; sambil heboh berdebat mengenai boleh tidaknya seorang muslim baca bibel.

Hanya satu hari kami di Senggigi. Namanya juga kesalahan haha…. Hari selanjutnya kami menuju ke Gili Trawangan yang terkenal itu. Ada dua pilihan menuju ke sana. Pake speed boat atau slow boat. Bedanya, selain di kata “speed” dan “slow” adalah: harga, waktu dan jumlah orang. Kalau pake speedboat, harganya lebih mahal, waktuya lebih cepat dan bisa eksklusif sekeluarga. Slow boat sebaliknya. Dan kami memilih slow boat, Anak-anak pengen lebih lama di perahunya. “Biar bisa menikmati bu” kata si sulung. “Biar kayak Moana bu” kata si gadis kecil. Baiklah. Daaaan…. 45 menit berperahu, membuat saya menyadari bahwa keseruan petualangan Moana, adalah kartun belaka haha…. aslinya sih….ayunan gelombang yang cukup besar itu bikin stress, terutama buat sayah. Si abah dan anak-anak sangat menikmati menertawakan emaknya yang udah pengen nangis haha…

Menginjakkan kaki di Gili Trawangan, kami langsung berkesimpulan: kami lebih suka di Senggigi daripada di sini. Terasa banget bedanya. Di sini, kami adalah minoritas. Sejauh mata memandang adalah para bule. Tentu dengan pakaian yang tidak syar’i hehe….Baik yang berjalan kaki, naik delman maupun sepeda. Delman dan sepeda adalah transportasi yang digunakan di Gili ini. Saat menuju villa yang sudah kami booking, kami banyak melewati bar yang penuh hiruk pikuk, atau dengan musik dag-dug-dag-dug yang “terlalu bising” buat kami. Daftar menu yang terpampang di bar, sebagian besar gak familiar buat saya. Bir dan wine, tampaknya jumlahnya lebih banyak variannya dibandingkan soft drink.

Alhamdulillaaaah…. villa yang dibooking si abah, adalah tipe villa buat “keluarga”. Tempatnya tenaaang…. jauh dari hiruk pikuk. Hanya dua keluarga termasuk kami yang non bule. Tapi yang bule pun, kebanyakan adalah keluarga dengan ayah-ibu yang telah berumur. “Satu frekuensi” lah dengan kami hehe… Seneng deh pas sarapan, liat keluarga-keluarga ini bercengkrama. Asik mengobrol satu sama lain….pagi tadi, si ayah dari keluarga Indonesia bercerita sesuatu tampaknya pengalamannya, yang membuat dua anak remajanya tertawa terbahak-bahak…. Sesekali terdengar nasihat si ayah untuk anak-anaknya tersebut.

Punya privat pool, membuat anak-anak juga hanya punya dua aktifitas: berenang di kolam dan ke pantai. Berenang lagi, ke pantai lagi. Nah… disini, citarasa tanah seribu masjid sudah tak terasa. Tandanya satu. Di kamar, tak ada penunjuk arah kiblat sehingga kami harus ngecek sendiri. Tapi yang amazing adalah, di tiap waktu sholat, kami mendengar suara adzan !

Siang tadi, kami snorkling dan mengunjugi dua gili lainnya: gili Meno dan Gili Air. Kami = tiga anak itu; si sulung, si bujang kecil dan si gadis kecil. Saya, dari awal memutuskan tidak. Saya takut air hehe… jadi saya pilih menilmati pemandangan dari kaca di dasar perahu kami sajah. Si bungsu, awalnya sangat semangat pake perlengkapan snorkling. Berjam-jam berenang hari-hari kemarin, membuatnya bisa “menyelam” dan “lompat” ke air. Udah jelas kalau berenang pake pelampung tangan, dia udah berani meskipun dalem. Turun beberapa menit, ternyata  dia nangis. “Dede seneng berenang di air yang gak asin, ini airnya asin. Dede gak suka. Dede takut”. Gitu katanya. Di Gilir Air, kami turun dan makan siang disana. Kalau kesini lagi, kayaknya kami akan menginap di Gili Air. Meskipun kurang komersil, tapi kayaknya lebih pas buat kami. Gak terlalu “heboh”. Sore tadi, kami bersepeda menuju tempat sunset. Lumayan keringetan juga sepedaan sekitar 45 menit-an…..

kuranMalam ini, selain suara adzan, setelah maghrib sampai isya, lantunan ayat suci terdengar dari masjid. Mengingatkan saya bahwa walaupun sedang “bersenang-senang”, namun ini malam Jumat. Malam istimewa buat muslim/ah. Malam penuh berkah. Suara lantunan ayat suci itu, mengingatkan bahwa Al Kahfi harus tetap dibaca. Teringat salah satu meme yang saya pernah saya baca: “meskipun liburan, catatan amal jalan terus”.

Ah, senang sekali saya berkunjung ke pulau ini. Beragam orang, datang dari jauh, “hanya” untuk menikmati ke-maha-an ciptaan Allah: matahari, pantai-pantai indah, keindahan bawah laut, debur ombak, kura-kura, ikan warna-warni, lukisan alam…

Seribu mesjid itu…semoga tetap terjaga. Semoga keberkahannya tetap menjaga kebaikan dalam hati orang-orang di pulau ini, juga di negeri ini.

Dendeng Batokok

Saya mah orangnya “konvensional”. Cinta kemapanan dan setia haha….. Dari sekian banyak restoran di Bandung, tempat yang saya kunjungi kalau makan di luar cuman dua. Dan di dua restoran itu, saya selalu duduk di tempat yang sama, memesan menu yang sama. Sejak bertahun-tahun lalu. Memang jadinya tidak kreatif sih. Salah satu “kelakuan” saya yang menunjukkan saya tidak kreatif adalah, rutinitas makanan setiap kali “ngantor” di Dago tiap hari Jumat. Teman-teman saya udah tau kalau hari Jumat saya ke Dago (dulu), pasti saya sarapannya lontong padang Uda Pero yang di simpang dago. Sayurnya sayur daun pakis haha…. Trus makan siangnya, OB yang suka beliin makanan udah gak pernah tanya lagi. Pasti saya pesen dendeng batokok kkkkk.

Buat temen-temen yang kemampuan memasaknya amatiran kayak saya, coba deh buka page nya “tastemade indonesia” di facebook. Ada banyak video2 memasak singkat, dengan menu-menu sederhana. Ah, saya suka banget sama page itu. Seumur2 gak pernah sukses sesuai standar yang dicita-citakan kalau bikin bakwan jagung, beberapa bulan lalu saya bahagia banget…mengikuti cara yang ditunjukkin di page itu, berhasil ! yeay !!!! Sampai kata si bujang kecil; “ini berarti sejarah ya bu, dalam hidup ibu” kkkk.

Jadi, ketika suatu saat saya liat ada video cara bikin dendeng batokok, langsung lah saya dengan semangat 45 mempraktekkannya. Nah, itu yang mau saya sampaikan di tulisan ini hihi….

Bahan-bahan: daging sapi yang kualitasnya bagus;  bumbu-bumbu: garam, bawang putih, ketumbar, jahe, garam; dan air kelapa untuk merebus daging. Buat sambel ijo-nya: cabe ijo, bawang merah, bawang putih, garam,

Langkah pertama: blender bawang putih, ketumbar dan jahe. Lumuri daging. Diamkan sekitar 5-10 menit. Ssssttt…tahu gak…saya sering lupa loh langkah pertama ini haha…jadi kalau lupa, keburu nyemplungin daging ke air kelapa, setelah ber”astagfirullah”, saya suka cheating. bikin bumbu trus saya cemplungin ke air rebusan itu haha…. better late than never kan ? kkkk

Langkah kedua: didihkan air kelapa, masukkan daging. Kenapa harus air kelapa bukan air biasa? katanya sih bikin empuk. Dan saya pernah coba ya, pake air biasa. Gak tau sugesti gak tau objektif, tapi emang dagingnya emang gak seempuk kalau direbus pake air kelapa. Orang kimia kayaknya yang bsia menjelaskan secara ilmiah, zat-zat apa saja yang berinteraksi antara air kelapa dan daging hingga jadi lebih empuk.

Setelah empuk, potong-potong sesuai selera (kayak ukuran gepuk gitu), lalu pukul-pukul pake ulekan hingga jadi gepeng. Tahap selanjutnya adalah memanggang. Dagingnya dilumuri minyak. Lebih sehat kalau minyak dendengzaitun. Panggang hingga ada gosong-gosongnya. Sajikan di piring.

Untuk sambel ijonya: blender cabe ijo, bawang merah dan bawang putih. Tumis, kasih garam. Buat saya yang gak kuat makan pedes, pedesnya cabe ijo ini pas banget. Jadi gak usah dibuang bijinya. Praktis kaaaan masaknya buat emak-emak rempong kayak kita. Dan tadaaaa hasilnya seperti gambar ini 😉

Anak-anak saya, bilangnya makanan ini adalah “gepuk” haha…. apapun namanya, yang penting mereka suka. Ada 4 madzhab cara makan dendeng batokok ini di rumah kami.

(1) madzhab si bungsu: karena gak mau ada “item-itemnya”, si bungsu gak mau makan yang udah dipanggang. Jadi begitu diambil dari panci, dipukul-pukul ampe gepeng, disuir-suir, langsung dimakan ama dia. Bumbunya udah meresap, jadi enak.

(2) madzhab si bujang kecil dan si gadis kecil: dipanggang, tanpa cabe ijo.

(3) madzhab si sulung: yang udah dipanggang disuir, sambel cabe ijo disimpen di pinggir piring

(4) madzhab ibu dan abahnya: sambel ijo diaduk sama nasi. Itu uenaaaaak banget. Bisa nambah nasi dua piring. Dendengnya sih kadang kebagian kadang engga. Haha….

Baiklah, demikian tulisan ringan dan lucu pagi ini…warming up buat ngerjain kerjaan yang super seurieus hari ini 😉

Sariwangi, suatu pagi yang dingin #sok romantis 😉

 

 

 

 

 

 

 

(Jika kita menjadi) Dilan dan Milea

Jadi, begini ceritanya:

Weekend lalu, kami berenam berkunjung ke toko buku favorit kami. “Masing-masing boleh pilih 5 buku”. itu aturannya (sssttt…..meskipun saya sering melanggar aturan itu sih kkk… terutama kalau lagi banyak buku catatan atau agenda yang lutu-lutu ….suka kalap ;). 30 menit berpencar, masing-masing mulai “setor” buku hasil buruannya. Memang ada aturan tak tertulis bahwa buku-buku pilihan anak-anak, akan saya sensor. Lucu deh kalau liat ekspresi si bungsu. Si 4,5 tahun itu ngasihin buku hasil “buruan”nya dengan ekspresi harap-harap cemas. Apalagi kalau buku yang dia pengen banget, dia akan bilang: “boleh ya bu…plis plis pliiiiis” ;). Buku-buku “aktifitas prasekolah” bergambar boboyboy, cars dan spiderman si bungsu lolos sensor emaknya. Buku-buku komik KKPK si gadis kecil juga lolos sensor, membuat si 7 tahun itu bersorak. Demikian juga buku “Reptil”nya si bujang kecil. Dia memutuskan satu aja bukunya, soalnya mahal katanya. Hehe…si 10 tahun itu, makin hari makin bijaksana ;).

Tibalah giliran si sulung. Dengan ragu, dia menyodorkan sebuah novel. Critical Eleven judulnya. Karya Ika Natassa. Saya pernah denger buku ini dididskusikan oleh temen-temen “dosen muda” di kampus. Saya agak ragu juga sih…soalnya buku itu kayaknya seru … tapi…dibahasnya kan sama yang umurnya udah akhir 20an dan awal 30an…Cocok gitu buat gadis remaja umur 13 tahun?

Saya bilang: “Kaka, ibu engga yakin buku ini bagus untuk Kaka baca. Ibu mau tanya temen ibu dulu yang udah pernah baca”. “Tapi temen-temen Kaka juga pada baca…” katanya. “Iya, kalau bagus, ibu gak masalah”. Kata saya. Si remaja itu langsung cemberut maksimal. Emak-emak yang punya anak remaja, pasti kebayang gimana cemberutnya si remaja haha…. Saya kontak beberapa teman yang saya ingat pernah baca buku itu. Gak ada yang angkat. Saya baca bagian belakang ringkasan buku itu…yang jelas temanya percintaan, tapi gak terlalu tergambar isinya gimana. Si abah lalu mendekat. Saya ceritakan perasaan saya terhadap buku itu, lalu si abah memutuskan untuk browsing resensi novel itu. “Not recommended de” kata si abah pada saya. “Kaka, menurut resensi yang abah baca, buku ini gak cocok untuk Kaka baca. Nih, kaka mau baca beberapa resensinya?” kata si abah menyorongkan hapenya. Si sulung yang udah cemberut maksimal, menambah intensitas cemberutnya, dah mendung mau nangis wajahnya.

Sampai di antrian kasir, jawaban dari salah seorang temen saya tentang buku itu saya terima; “jangan mbaaaak…..buku itu bnovel percintaan dewasa….ada adegan dewasanya….” Alhamdulillah. “Kaka jadinya beli buku apa?” tanya saya. “Gak ada yang bagus” katanya. “Dari sekian banyak ini? gak ada?” kata saya. Si sulung menggeleng lalu diam. Wajahnay masih bete. Saya melirik tumpukan buku yang paling dekat dengan posisi antrian saya dekat kasir.

Sejak beberapa bulan lalu, saya sudah melihat tumpukan buku karya salah satu penulis favorit saya, Pidi Baiq. Judulnya. Dilan. Lalu saya lihat cover buku yang senada bertambah dua. Judulnya Dilan#buku kedua dan Milea. Saya fans nya Pidi Baiq. Saya koleksi buku seri “drunken-nya”; drunken monster, drunken mama, drunken molen, drunken marmut. Saya suka banget gaya humornya. Itulah sebabnya, akhir tahun lalu saya meminta beliau yang menulis endorsement utama untuk buku “Bukan Emak Biasa” saya. Kenapa sampai saya belum beli buku seri Dilan-nya Pidi Baiq? Gak tau. Tapi dalam situasi sore itu, spontan saya membeli tiga buku seri Dilan: Dilan, Dilan buku kedua dan Milea. Untuk si sulung. Saya percaya meskipun sepertinya itu buku tentang cicintaan remaja, gak akan ada hal-hal yang “aneh-aneh” dalam buku tersebut. Saya percaya pada “idealisme” penulisnya, dibalik gaya humor yang jadi ciri khasnya.

Dan…ternyata, pilihan spontan saya   berhasil membuat cemberut di wajah si sulung berangsur menghilang, dan dampak buat emaknya, lebih luar biasa lagi. Berawal dari iseng baca buku itu, saya merasa…meskipun si sulung bilang buku-buku itu “rame”, tapi saya, jauh lebih menikmatinya. Kenapa? karena buku itu bercerita tentang masa SMA yang settingnya tak jauh dari zaman saya. 1992 ceritanya, dan saya menjalani  SMA tahun 1994-1997.

Ah, bener kan…gak salah saya ngefans sama Pidi Baiq…. dia emang keren. Cerita di tiga buku ini, biasa banget. Sangat biasa. Cerita cinta anak SMA. Tapi gaya bahasanya, memang selalu luar biasa. Sederhana, natural  dan sangat lugu, tapi itu yang bikin istimewa. Pidi Baiq berhasil membuat saya yang pernah berada di setting zaman itu….dengan nama mata pelajaran saat itu, rutinitas saat itu, istilah-istilah khas terkait sekolah zaman itu…. ia berhasil membawa kita jalan-jalan ke masa itu, seolah kita berada di dalamnya…ah, keren banget deh. Rasa humornya masih khas, bikin saya minimal senyum dan sering ngakak sendiri saat baca buku itu. Yang sangat saya kagumi adalah, detil deskripsinya. Membaca rangkaian kalimatnya, seolah-olah kita berada di tempat yang ia gambarkan, saat itu juga.

SMA. SMU. Dari sekian perjalanan hidup kita,  tampaknya masa SMA sering menjadi masa yang istimewa. Terutama kalau terkait percintaan. Kenapa ya? menurut “penerawangan” saya, mungkin karena rasa cinta yang kita miliki dan cerita cinta yang terjadi saat SD dan atau SMP, itu adalah rasa cinta yang …. orang bilang cinta monyet. Sedangkan rasa cinta waktu jaman kuliah apalagi setelah lulus kuliah, adalah rasa cinta yang …. “relatif matang”. Ada unsur rasio yang semakin mendominasi perasaan dan hubungan cinta. Nah…rasa cinta dan kisah cinta saat SMA, memang tampaknya adalah rasa cinta yang full “RASA yang KAYA”. Romantic love lah….makanya, jejaknya biasaya mendalam.

Mungkin banyak diantar kita yang pernah menjadi Milea atau Dilan, dengan rasa dan kisah cinta yang begitu mendalam. Nah, cuman….kalau tak dikelola, pengalaman dan jejak rasa yang mendalam itu bisa berbuah bencana. Bencananya apa? bencananya bernama CLBK. CLBK ini adalah singkatan dari: (a)  Cinta Lama Bersemi Kembali ; (b)  Cinta Lama Belum Kelar; (c)  Cinta Lama Bubarkan Keluarga.

Ah, sebagai orang yang engga kreatip, suka kagum ama kreatipitas orang-orang merangkai bahasa. Mungkin sebenarnya ada lebih dari 3 singkatan dari CLBK. Tapi dari 3 singkatan yang saya tahu, ayo tebak…. apa persamaannya? Persamaannya adalaaaaah…. kepanjangan dari dua huruf singkatan pertama: CL. Cinta Lama.

Sejujurnya ya, dulu saya “gak percaya” pada fenomena CLBK. Baik yang singkatannya a, b, apalagi yang c. Tapi kemudian ada beberapa pengalaman terkait fenomena CLBK yang membuat saya ingin membuat catatan tentang hal ini. (Note: pengalaman terkait fenomena CLBK ya, bukan pengalaman CLBK … kkkk).

Meskipun konon yang bisa menghidupkan CLBK adalah  “reuni” (sampai ada beberapa suami/istri yang tau adakisah cinta pasangannya saat di SMA tak mengizinkan untuk ikutan reuni SMA), tapi menurut beberapa cerita teman, “reuni” tak terlalu berbahaya memunculkan CLBK. Ada yang jauh lebih berbahaya. Yaitu …..WA Group ! Kenapa? Kalau reuni, kita bertemu mantan secara konkrit. Kita dibantu untuk meregulasi diri dengan adanya batasan-batasan yang kasat mata. Penilaian sosial yang akan menentukan perilaku kita, lebih “jalan” di “dunia nyata”, karena “umpan balik” yang kita dapat dari panca indera kita lebih kumplit. “Pantas” atau “tidak pantas” suatu perilaku saya tunjukkan; misal: menatap si mantan, atau berkata dengan intonasi “romantis” atau menungkapkan kangen pada mantan, menjadi relatif terbatas.

Berbeda dengan saat kita berkomunikasi di dunia tak nyata, dunia maya. Ada fenemona dis-inhibition. Lebih detil mengenai apa itu disinhibition, bisa dibaca di tulisanhttps://fitriariyanti.com/2014/05/17/mengapa-kita-bisa-vulgar-dan-kasar-di-facebook/ . Intinya, saat berkomunikasi di dunia maya dengan sang mantan, maka regulasi diri dari dalam pribadi kita lah satu-satunya rem. Karena “umpan balik” dari lingkungan sosial menjadi minim.

Seperti yang Milea tulis di akhir buku Dilan#buku kedua; maka mungkin banyak diantara kita yang juga mengalami hal yang sama dengan Milea. Kita sudah menikah, punya anak… namun kenangan terhadap “Dilan kita”, sulit untuk dihilangkan. Rasa itu masih ada, tersimpan dengan orisinal. Rasa yang persis sama mudah terbangkit saat ada candaan-candaan “biasa” di wa grup bersamanya. Entah candaan iseng temen-temen, atau… satu dua kata dari “Dilan kita” yang mengungkit lagi rasa itu. Bukan…bukan berupa bujuk rayu kata-kata mesra yang bisa menghidupkan kembali rasa itu, Tapi kadang hal yang amat sederhana. Misalnya percakapan gak penting di wa grups seperti ini :

Teman-teman: ih, tumben grup ini sepi banget. ngobrol yuks…//…… beberapa teman memberi komentar….ngobrol ini itu…..lalu, ada seorang teman yang me-mention kita: “***” mana nih, kok gak muncul (misal *** adalah nama kita)//mantan kita lalu berkomentar “***” lagi ngemil rambutan kali//. 

Obrolan yang “biasa banget” kan…. tapi obrolan yang “biasa banget” itu, bisa memicu kembali beragam rasa bersama si mantan, karena hanya dia yang tau, bahwa rambutan, adalah makanan favorit kita. Dan perasaan “dia masih ingat hal itu”, akan membuat kita mulai dari senyum2, merasakan debaran di dada, sampai dengan menikmati berjam-jam memori bersamanya yang dengan kompak muncul dalam pikiran kita. Berawal dari episode-episode kayak gini nih…kehancuran rumah tangga bisa terjadi.

Nah, maka, berdasarkan hal itu, dalam tulisan ini saya ingin “menghimbau” (haha…siapa elu….) pada para pemirsa waGrup:

(1) Untuk bu mimin dan pak admin; sebaiknya sebelum membuat wa grup, minta izin pada yang akan diinvite. Memang sih di Indonesia, orang masih menganggap consent itu gak perlu. Tapi sebaiknya kita mulai menghargai pilihan orang lain, yang pastinya paling tau apa yang terbaik untuk dirinya. Hargai bila ada yang tak mau masuk grup. Mungkin bukan karena sombong atau gak mau bergaul. Tapi mungkin ia ingin menjada diri dan keluarganya. Sikap menghargai juga harus ditunjukkan saat ada teman kita yang left group. Itu hak nya. Tak boleh dijudge atau dihakimi.

(2) Jangan iseng becanda mengungkit kisah asmara masa lalu teman kita. Karena CLBK tipe c mungkin terjadi awalnya karena “becandaan” kita.

(3) Jangan follow up pertemanan di wa grup dengan mantan menjadi wa japri. Walaupun topik pembicaraannya bisa jadi sanjungan mengenai suami/istri si mantan, atau obrolan mengenai anak-anak masing2, namun konon katanya itu adalah mekanisme tak sadar untuk menutupi maksud kita sebenarnya: ingin mengenang kembali rasa yang pernah ada hehe…waspadalah….waspadalah…

Jika kita jadi Milea atau Dilan, yang141515_29155_mantan_chi punya rasa dan kisah cinta  tak terlupakan di masa SMA, yang merasa bahwa memori itu adalah bagian hidup kita yang berharga dan tak mungkin dilupakan, maka dewasalah…. seperti juga dewasanya Milea dan Dilan. Yang menghargai dan menyimpan kenangan itu sebagai kenangan. Bagian dari perjalanan hidup yang tak harus menghancurkan apa yang kita miliki saat ini.

Jangan sampai, kita mengalami total gerhana mantan haha…..;)

Dapur yang Dirindukan

Seminggu lalu, emak dan mbak Lies,  mertua dan kakak ipar saya, berkunjung dari Kediri.  Biasanya, akhir tahun kami agendakan mudik. Si abah biasanya udah “sakaw” kangen soto kediri dan sambel tumpang. Tapi akhir tahun ini, justru emak dan mbak Lies,  membawa dua ponakan yang ingin liburan ke Bandung. Emak ke Bandung,  berarti bisa sekaligus ketemu 3 putranya yang ada di Bandung, Cimahi dan Bogor. Tiga hari emak dan mbak Lies di rumah kami, saya mendapat misi khusus dari mas. Yaitu…belajar bikin sambel tumpang dan sambel teri favoritnya, langsung dari Chefnya, Mbak Lies. Sebagai istri yang baik hati dan tidak sombong, saya pun berusaha menjalankan misi itu.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan menshare resep sambel tumpang atau sambel teri. Saya ingin menceritakan sesuatu yang saya ingat selama saya beraktivitas di dapur, berguru pada emak dan Mbak Lies.

Dapur. Saya teringat dapur emak di Kediri. Tampilannya? 180 derajat dengan dapur-dapur “modern” yang kita lihat seliweran di internet terutama di medsos. Dapurnya “kumuh”. Jujur. Tak ada kompor canggih, tak ada dinding dengan warna yang senada dengan peralatan masaknya. Peralatan masaknya, pasti tak dibeli di ace hardware atau Informa. Peralatannya dibeli di pasar. Tak indah dipandang mata, beberapa panci sudah copot telinganya.

Tapi dapur itu, bagai magnet kuat yang selalu menarik 4 putra emak yang sudah menyebar di berbagai kota. Empat putranya yang sudah “jadi orang”, yang punya kesempatan melanglang buana ke berbagai tempat dan mencoba berbagai masakan, minimal setahun sekali  selalu tertarik untuk kembali ke dapur itu. Saya selalu terharu menyaksikan bagaimana keempat anak laki-laki yang sudah menjadi para ayah itu, mengerumuni meja makan sederhana di rumah Kediri, heboh mengambil sambel tumpang, soto Kediri dan peyek buatan Mbak Lies, satu-satunya perempuan putri emak. Seringkali aktivitas mereka diiringi nostalgia kisah  mereka waktu kecil; baik kisah yang membanggakan, tapi banyaknya kisah yang lucu yang membuat kami semua- emak, 5 putranya, 5 menantunya, dan sekian belas cucunya, tertawa bersama.

Saya ingat satu dapur yang punya magnet yang sama. Tempatnya di Purwakarta. Dapur itu, juga tak memiliki desain yang menarik mata. Tapi disanalah awal mula masakan mamah yang selalu saya- dan adik-adik rindukan itu.

Di jaman ini, saya tahu, karena saya menyaksikan, banyak ibu-ibu muda yang seperti emak dan mamah. Mereka pantang membeli bumbu instan, tak merasa “sia-sia” menghabiskan berjam-jam waktunya untuk membuat bumbu, mengolah makanan melalui beberapa tahap, untuk menyiapkan masakan istimewa untuk anak-anaknya. Mereka, adalah ibu-ibu yang mengikat cinta anak-anaknya dengan masakannya.

Saya, bukan tipe ibu seperti itu. Memasak bukan kompetensi saya, dan bukan pula minat saya. Saya punya cara lain untuk mengikat cinta anak-anak saya. Tapi untukteman-teman yang  menjadikan dapur sebagai studio kerjanya, saya ingin mengatakan:

thumb_COLOURBOX5819950Jangan pernah “terintimidasi” dengan gambar-gambar dapur yang menarik hati dan super kinclong. Jangan sedih kalau tak punya waktu untuk mencari peralatan masak yang warnanya matching dengan warna dinding dapur. Sebab mungkin, kita terlalu sibuk menuangkan seluruh tenaga dan cinta kita, dalam beragam masakan yang kita buat untuk si buah hati.

Mungkin dapur  yang setiap harinya selalu berantakan karena digunakan, adalah dapur-dapur yang selalu dirindukan oleh seorang anak dan orang dewasa yang pernah menjadi anak. Sebab disana, ada menu yang tak bisa ditemukan di dapur manapun di dunia ini. Cinta ibunya, dan kenangan masa kecil yang manis.

sumber gambar : https://www.colourbox.com/vector/i-love-cooking-kitchen-utensils-sketch-heart-shape-vector-5819952

senjata-senjata kecil untuk menghadapi pertempuran yang (bisa jadi) besar

Lusa, liburan usai. “Warna” status-status di medsos mulai berubah dari keriaan liburan, ke arah persiapan “kembali ke realitas”. Meski sebagian sudah mulai masuk kerja di minggu ini, tapi tampaknya “gong” bahwa libur tlah benar-benar selesai, adalah lusa, senin tgl 27. Di dunia nyata, lebih terasa lagi. Terutama di tempat-tempat yang menjual baju seragam, sepatu dan alat tulis. Penuh. Saya tau karena sejak siang sampai menjelang maghrib tadi, puter-puter melengkapi peralatan 4 anak yang hari senin akan mulai sekolah.

Empat. Yups, empat-empatnya, dari si sulung sampai si bungsu masuk sekolah tahun ini. Perubahan besar terjadi karena si sulung masuk SMP, si pangais bungsu masuk SD, dan si bungsu yang sebelumnya “sekolah” di rumah, kini mulai masuk PlayGrup. Alhamdulillahnya, emaknya gak ikutan sekolah juga hehe… Buat emak-emak seperti saya, yang harus berangkat kerja plus tanpa pembantu nginep dan suami lebih sering di luar kota, situasi perubahan ini salah satu dampaknya adalah….pagi hari akan semakin hectic! Hana yang biasanya masuk jam 8 dan masih bebas merdeka kalau telat (dan seringnya telat hehe….), kini harus berangkat setengah 7. Azzam, yang seringkali saya tinggalkan dalam kondisi belum mandi karena rewel atau kurang kooperatif, sekarang harus siap berangkat sekolah juga maksimal jam setengah 8. Arah sekolah yang berbeda-beda juga jadi “tantangan” tersendiri. Azka ke Dago, Umar-Hana ke Cimahi, Azzam ke Gerlong, dan saya ke Jatinangor. Kalau pas si abah gak lagi di luar kota (tapi sangat jarang hiks…) alhamdulillah ada Plan B yang membuat bisa bernafas karena ada bala bantuan. Tapi defaultnya without si abah…

Sebenarnya kalau saya bisa nyetir motor atau mobil sih mungkin masalah berkurang ya…cuman ya itu…karena saya tidak (mau) bisa, jadilah tumpuan harapan mobilitas tertumpu pada Pak Ayi, sopir kami. Alhamdulillahnya kini dibantu Pak Nden, kakaknya pak Ayi yang akan khusus jadi sopir pribadi ojek Azka bolak-balik Dago-Sariwangi. Tapi kalau kondisi tahun lalu aja saya sering keteteran, gimana tahun ini ya……hiks hiks….

Dari tadi siang saya mulai mereka-reka rencana dan strategi persiapan pagi. Maklum, waktu 2-2,5 jam menyiapkan anak-anak itu; serasa cuman 2,5 menit pas jreng-nya. Apalagi sekarang…harus mengarahkan si bungsu bersiap juga…plus nyiapin sarapan 4 anak, tambah lagi nyiapin bekal makanan sehat si bungsu …. kalau dibayangin, bikin stress sendiri. Plus lagi, semester ini saya jadwal ngajar  pagi, berarti setengah 9 harus ada di Jatinangor, maksimal setengah 8 dari sekolah Azzam, berarti Hana dan Umar harus berangkat jam 6. Dududududu….

planTadi sore sampai malem, Azka dan Umar sudah dibriefing ulang. Tentang jadwal mandi. Kaka dan Mas Umar di kamar mandi bawah, masing-masing maksimal 15 menit. Mandi langsung setelah sholat subuh. Paling telat jam setengah 6 sampai jam 6. Jam 6 harus udah mulai sarapan, biar sarapannya banyak sampai jam setengah 7. Kaka Azka, bertanggung jawab ngecek dan masak nasi malemnya. Cek galon juga, pesen galon jadi tanggung jawab kaka Azka. Umar, tanggungjawabnya adalah urus diri sendiri on time.

Minggu sebelum mudik saya sudah inspeksi alat tulis, seragam, kaos kaki, sepatu…. Meja belajar, pin board  dan lemari baju udah punya masing-masing….teh Rini yang bantu setrika udah dibriefing seragam masing-masing harus digantung dimana….terakhir, yang suka jadi masalah adalah…kaos kaki. Kalau dalam situasi hectic, adaaa aja godaannya. Salah satunya adalah, lama milih kaos kaki. Akhirnya, tadi malam saya siapin 6 kotak sepatu bekas, lalu saya kasih nama masing-masing 6 anggota keluarga, dan anak-anak diminta nyortir kaos kaki masing-masing.

Moga-moga hal-hal “kecil” kayak gini, membantu pas “jreng”nya mulai lusa. Bukan apa-apa….menurut pengalaman, seringkali hal-hal “kecil” dan “teknis” kayak semacam gini, kalau gak kita “aware”in, bisa jadi sumber stress besar buat emak-emak. Yang paling sederhana adalah, kalau gak disiapin dan hectic banget, nada suara si emak bisa naik beberapa oktaf. Kalau anaknya lagi sensi, respons terhadap nada suara tinggi ini biasanya adalah ….tangisan. Hwa…hiks….kalau situasi udah begini….runyam deh….lalu anak-anak sarapannya dikit….lalu muncullah perasaan itu…perasaan “i’m not a good mother”.

Ternyata dari pengalaman saya dengan beberapa ibu yang merasakan perasaan itu, buat emak-emak …perasaan “i’m not a good mother” itu…..sebuah perasaan negatif yang dampaknya bisa “besar” loh…gabungan dari perasaan sedih, merasa bersalah, kecewa pada diri sendiri, merasa gagal….intinya gabungan perasaan negatif lah… dan perasaan-perasaan itu bisa jadi percik pertama p stress. Yang kalau tak segera diantisipasi, bisa merembet terus…terus dan teruuuuus….Ibu-ibu yang lagi “stress”, mana bisa menemani belajar anak dengan sabar. Ibu-ibu yang lagi “tegang”, mana bisa rileks enjoy ngajak anak main…Ibu-ibu yang merasa “tak sukses”, mana bisa lapang hati menerima masukan suami. Ibu-ibu yang dikuasai perasaan negatif mengenai dirinya, “sumbu”nya akan menjadi “lebih pendek”….

Makanya, dunia ibu-ibu mah memang dunia “hal-hal kecil”. Ngecek misting makanan anak, ngecek tempat minum, ngecek pensil, ngecek serutan, ngecek penghapus, ngecek buku, ngecek galon, ngecek gas, isi kulkas….atau memanage anak ngecek ini-ngecek itu. Coba aja cek “to do list” harian ibu-ibu….baik yang imajiner, yang hi tech maupun yang tradisional tertulis di agendanya….pasti hal-hal “remeh-temeh” seperti di atas. Tapi kalau itu gak dilakukan….dampaknya akan besaaaar….bayangin anak kita nangis pagi-pagi gak mau sekolah karena penghapusnya ilang…atau si balita rewel terus karena mainan kesayangannya gak ketemu….atau kita bingung ternyata telor di kulkas abis…atau galon buat bikin susu ternyata abis…..

Tak ada pertempuran kecil buat ibu-ibu….upaya kecilnya, bisa selalu bermakna besar buat anak-anaknya….

Semangat ibu-ibu !!!!

sumber gambar : http://cliparts.co/planning-clip-art

“Dunia Baru” Si Emak Remaja

2 hari lalu, Azka si sulung genap berusia 12 tahun. Seperti biasa, kami mengadakan “perayaan kecil”. Membangunkannya saat sahur, menyiapkan kue tart kecil dan kado istimewa, lalu berdoa bersama. Tahun ini kami menghadiahinya laptop. Sebenarnya gak kaci sih, soalnya laptop ini hadiah yang kami janjikan juga kalau dia lulus test SMPIT 3 bulan lalu. Tapi dia juga gak protes, jadi two ini one ajah haha…

Kata Duvall & Miller (1985), saat ini keluarga kami sudah “berubah status”, dari family with school children menjadi family with teenager. Sekilas info, Duvall & Miller adalah seorang ahli yang meneliti mengenai keluarga. Beliau membedah perkembangan keluarga melalui 8 tahap perkembangan, mulai sejak pasangan menikah sampai dengan wafat. Ke-8 tahap itu adalah : (1) Marriage Couple, (2) Childbearing family, (3) Family with preschool children, (4) Family with school children, (5) Family with teenager, (6) Family launching young adult, (7) Middle Age, (8) Aging. Tahap perkembangan keluarga tersebut didasarkan pada usia anak pertama. Pentahapan tersebut adalah hasil riset beliau, yang merupakan dinamika dari perubahan psikologis masing-masing individu di dalam keluarga tersebut. Kata teman saya yang mengajar mata kuliah Perkembangan Kehidupan Keluarga, sampai sekarang belum ditemukan ahli yang mengeluarkan teori se-komprehensif Duvall mengenai kehidupan keluarga.

Saya sendiri, merasakan bahwa hasil Penelitian Duvall ini, bener loh. Sebagai seorang ibu bagian dari sebuah keluarga, sejak Azka baligh, terasa sekali memasuki “dunia baru” yang relatif berbeda dengan sebelumnya. Yang paling jelas adalah, perubahan fisik dan psikologis Azka, yang mewarnai perubahan dinamika di keluarga kami.

Misalnya, kalau dulu dia yang suka kesel nunggu adiknya, Umar setiap mau berangkat sekolah, sejak semester terakhir ini sebaliknya. Kenapa? karena si kakak, mandinya lamaaaaaa, dandannya lamaaaaa……Lalu super sensitifnya, adik-adiknya udah tau kalau wajah kakaknya lagi jutek, harus jaga jangan sampai melewati batas radius satu meter haha…. Dan “kebluk”nya itu loh….tiduuuuur terus. Konflik-konflik sama adiknya, meningkat tajam. Misalnya karena kelenjar keringat yang lagi aktif, badan si remaja ini mudah bau, meskipun udah dikasih deodoran. Hana yang suka “polos”, kalau dekat kakaknya pasti bilang “kaka teh udah mandi belum sih?” sampai dia punya julukan “si Nyonya Bau” buat kakaknya. Ampuuuun deh.

Terpaksalah saya bikin konferensi pers buat adik-adiknya, kalau kakak sekarang udah remaja. Remaja itu artinya, mau berubah dari anak-anak jadi dewasa. Ciri-cirinya ….bla..bla..bla…saya memanggil kembali memory saat menyusun materi kesehatan reproduksi remaja…15 tahun lalu. Kematangan  seksual, primer… sekunder…. bla..bla.. Dengan diselingin beragam interupsi dari si 9 tahun dan 6 tahun itu, mengerti-lah sekarang mereka apa yang terjadi pada kakaknya.

TEENAGERSaya baru menghayati betul  sekarang, apa yang dikatakan si literatur-literatur mengenai remaja itu. Perubahan fisik, hormonal yang begitu melonjak di masa remaja, itu perubahan besar bagi si remaja itu sendiri, yang berdampak pada berbagai aspek kehidupannya. Yang kalau kita gak ngerti, bukan hanya adik-adiknya saja, tapi emaknya pun, bisa  berantem tiap hari sama si gadis.

Pendekatan, cara ngingetin, maupun konten obrolan pun sekarang berubah. bener-bener perlu ilmu baru memang. Konten obrolan yang lagi ngehits sama Azka sekarang adalah, tentang “berat badan”. Minimal satu hari satu kali, dia bilang gini sama saya : “Bu, kok Kaka gendut banget ya, sebel banget ih”… atau ..“Ibu waktu seumur Kaka beratnya berapa kilo?” …atau … “Kok ibu waktu belum nikah kurus banget sih..”.

Di umurnya sekarang ini, saya juga mulai merasa perlu menyampaikan sex education tahap 2. Kalau tahap 1 kan untuk mengenalkan bagian tubuh mana yang boleh terlihat-tak boleh terlihat, yang boleh disentuh-tak boleh disentuh; siapa yang boleh melihat siapa yang boleh menyentuh. Pada Azka, saya mulai jelaskan juga soal pacaran. Bahwa value agama yang kami yakini, tidak memperbolehkan pacaran. Kenapa. Saya tambahkan juga info hasil penelitian teman saya tentang KDP, kekerasan dalam pacaran, terutama kekerasan psikologis yang rentan dialami anak-anak remaja putri. Suka-sukaan itu wajar, boleh. Tapi mengekespresikannya yang harus tau cara dan batasannya.

Yups, sejak kelas 5, tema perbincangan Azka via wa maupun via line dengan temna-temannya, tak lain dan tak bukan adalah….suka-sukaan. Si ini suka sama si itu, Si anu kesengsem sama si ono…sejak setahun lalu saya sudah benar-benar menghargai privacy Azka, gak pernah cek hapenya. Tapi saya minta dia gak mengunci hapenya, dengan janji saya tak akan membuka hapenya. Saya cukup seneng dia terbuka sama adiknya, Umar. Mereka berdua saling terbuka siapa yang mereka suka, dan mereka saling jaga rahasia. Meskipun kayaknya siapa yang disukain Umar berubah-ubah tiap minggu haha…Dan kalau lagi berantem, mereka suka “ancam-ancaman” buka rahasia, tapi saya suka ngingetin kalau kepercayaan masing-masing harus dijaga.

Tentang pacaran, saya dan mas agak strict. Menurut diskusi dengan teman-teman yang udah punya anak remaja, katanya memang tantangan mengasuh anak remaja adalah menanamkan value keluarga. Dan kalau udah terlanggar, susah banget menegakkannya kembali. Apalagi anak-anak jaman sekarang….. bahasanya udah dahsyat, gombal-gombal…..suatu hari pernah Hana bawa selembar kertas…dia yang lagi belajar baca, tanya  tulisan ini isinya apa. Rupanya, itu kertas yang tercecer dari meja belajar Azka. Isinya gini : “Azka, tolong pergi jauh… aduh, saya mulai deg-degan…apa Azka berantem sama temennya…tapi pas baca lanjutannya, saya pengen ketawa banget …. ” biarkan rasa ini hilang seiring waktu” hahaha….

Lalu saya jelaskan juga kalau sekarang ini Kaka udah bisa hamil. jadi pergaulan harus dijaga betul.  Yang terakhir ini, kembali jadi bahan ledekan Hana buat kakaknya. “haha…kakak udah bisa hamil…haha..” katanya …buat dia, hal ini lucu banget kayaknya …mungkin dia bayangin kakaknya tiba-tiba perutnya membesar gituh kkk….

Gambaran di atas, adalah sedikit perubahan yang “visible” dengan perubahan status menjadi ibu dari remaja. Setiap hal, mulai dari masalah hape sampai pilihan sanlat, kalau gak luwes, pokoknya bisa bikin “meledak”. Baik emaknya maupun si remajanya kkkk…NAh ada satu lagi perubahan yang “invisible”.

Beberapa wkatu yang lalu, ada satu kejadian yang membuat saya “menasehati” Umar begini: “mas, nanti kalau kamu cari istri, harus hati-hati loh…gak bisa liat dari luarnya aja. Misalnya terlihat baik, berjilbab, sopan, gak bisa. Harus tau bener nilai-nilai yang dia pegang, apa yang menurut dia baik dan buruk, apa yang menurut dia boleh dan tidak boleh, itu harus kita tau betul. Banyak penampilan yang menipu sekarang mas” …kkkk…gak tau anak umur 9 tahun itu ngerti gak..ini mah emang  emaknya setengah curhat ….. yang pasti, si Kakak langsung nyamber: “dan yang terpenting bu, perempuannya itu, mau gak sama si Umar…haha…”

Tapi bener loh…. saya sekarang mulai kepikiran soal jodoh anak-anak, terutama tentnya Azka haha… Pernah ngobrol sama seorang senior yang ketiga putera-puterinya sudah berkeluarga, dia setuju dengan “nasehat” yang saya sampaikan pada Umar. “Itu sebabnya, ketiga anak saya itu saya arahkan untuk berkenalan dengan anak dari sahabat-sahabat dan teman-teman, yang saya tahu betul, value keluarganya seperti apa Fit” katanya….

Bener ya….mungkin ini alasannya para orangtua dulu suka mengadakan perjodohan … Sekarang, sebagai orangtua, jujur aja…saya mulai bisa menghayati…kayaknya perjodohan dengan seseorang yang menurut kita “baik” itu rasanya lebih aman kkk….Tapi kan ….kalau tanpa cinta…kehidupan pernikahan anak kita bisa hampa….ya..ya…baiklah…tapi usaha boleh kan? “makanya kita harus terus jaga silaturahim sama teman-teman kita yang kita tahu value-nya sama dengan kita” kata si abah….dan suatu hari, saya dan si abah  pernah iseng mengingat-ingat anaknya siapa-anaknya siapa yang “potensial” untuk jadi calon mantu haha….. engga…engga sampai dicatet kok…kalau 10 tahun lagi, mungkin mulai dicatet kkk 😉

Previous Older Entries