Berkelompok Dengan Dewasa

Sebagai “homo homini socius”, adalah sebuah keniscayaan kalau kita punya kecenderungan untuk bergabung bersama kelompok orang yang biasanya punya sisi kesamaan dengan kita. Entah itu kesamaan hobi, profesi, pandangan agama, keluarga, dll dll. Bahkan dalan ajaran agama, “kebersamaan” ini mendapatkan perhatian juga. Shalat berjamaah misalnya, derajatnya lebih tinggi daripada sholat sendirian. Bahkan kejahatan yang dilakukan bersama secara terorganisir, hasilnya akan lebih sukses dibandingkan kebaikan yang dilakukan sendiri-sendiri. Dari pandangan barat, Stephen R. Covey dengan teori “interdependensi”nya menyatakan bahwa di masa depan, orang yang akan sukses adalah orang yang bisa membangun kerjasama dengan orang lain yang memiliki kompetensi berbeda, mengingat tantangan di masa depan tak akan bisa dihadapi oleh “single competence”.

Kalau dilihat dari sudut pandang psikologi perkembangan, berkelompok ini merupakan tanda kematangan sosial anak. Biasanya anak di usia “late childhood”, sudah bisa atau sudah harus bisa berkelompok bersama teman sebayanya. Memang sih, karena sudut pandang kognitif anak yang masih diwarnai oleh “egocentrism” yaitu belum sepenuhnya bisa menempatkan diri pada sudut pandang orang lain, maka kelompok2 anak usia SD, SMP dan SMA ini seringkali bersifat eksklusif dan konformis. Eksklusif karena biasanya mereka menutup diri dari masuknya orang lain. Biasanya mereka punya simbol tersendiri, seragam, gaya, bahasa, sampai “salam rahasia”. Mereka juga menganggap hanya kelompok mereka yang paling hebat. Ciri lain yaitu konformis. Kata om Wiki, Conformity is the act of matching attitudes, beliefs, and behaviors to group norms.  Ciri konformitas yang paling utama menurut saya yaitu…TIDAK KRITIS ! pokonya yang penting sama, seragam. Banyak kita dengar peristiwa yang mencerminkan hal ini. Misalnya remaja anggota geng motor. Satu orang yang berselisih karena masalah pribadi, seluruh kelompok menyerang kelompok yang lain. Right or wrong he/she is my friend ! kita harus membelanya ! begilah kira2 semboyan mereka.

Seiring dengan perkembangan akal kita, seharusnya orang dewasa yang berkelompok  bisa menunjolkan ciri-ciri yang lebih “dewasa”. Apalagi orang dewasa biasanya berkelompok untuk suatu misi yang mulia. Misi menyebarkan kebaikan agama misalnya.  Sayangnya, kemuliaan misi ini sering tercoreng oleh sikap-sikap yang sifatnya emosional dari anggota kelompok yang bersangkutan. Sikap emosional ini kemudian yang membuat suatu kelompok menjadi eksklusif. Eksklusifitas inilah yang membuat kebaikan yang dibawa dan ingin disebarkan oleh kelompok tersebut, menjadi terhambat.

Ada beberapa pengalaman saya terkait hal itu. Dulu, pernah dalam suatu situasi pemilihan ketua suatu organisasi saya  berada dalam perbincangan dengan beberapa teman. Topik pembicaraan kami adalah menentukan siapa yang akan lebih baik untuk kami pilih. Teman-teman saya ini bergabung dalam sebuah kelompok. Bla..bla…bla…bla… intinya, kami sepakat bahwa dari segi kompetensi, si A yang lebih kompeten. Lalu tiba-tiba, salah seorang teman saya bicara: “tapi kan…si A itu bukan i****h…” (i****h adalah panggilan untuk sesama anggota kelompok teman saya tersebut). Kata-kata seorang teman saya itu diamini oleh teman saya yang lain dan akhirnya, semua bersepakat untuk memilih si B yang dari segi kompetensi pas-pasan…(kecuali saya tentunya, saya kan teguh pendirian haha…muji diri sorangan ;). Waktu itu, sebagai orang yang “culun”, saya merasakan perasaan …. marah…..It’s unfair !!!

Dan rasa marah yang sama terbangkitkan kembali beberapa bulan ke belakang. Saya membantu seleksi masuk siswa sekolah milik satu kelompok tertentu. Setelah dikeluarkan rekomendasinya…. ternyata… beberapa bulan kemudian sekolah ybs mengirimkan anak yang dirasa “bermasalah” . Saya lihat lagi rekomendasi yang saya berikan saat seleksi, ternyata memang si anak berada di urutan paling bawah. Waktu itu saya tanyakan pada pihak sekolah..pihak sekolah bilang “ya bu, kami memiliki kebijakan kalau i****h, apapun kondisinya akan kami terima”. Saat itu rasa marah langsung terbangkitkan. Bukan…saya bukan marah karena rekomendasi saya tidak diikuti. Itu memang kewenangan sekolah. Yang saya marah adalah, It’s unfair !!!!! kenapa kalau memang ada policy itu, kenapa tidak disampaikan secara transparan? ada berapa puluh anak yang “tergeser” posisinya oleh kebijakan itu. Kalaulah kebijakan itu disampaikan transparan, pastilah orang lain lebih bisa mengantisipasi. Waktu saya sarankan untuk melakukan transparansi itu, mereka tidak mau dengan alasan “itu dapat menimbulkan gejolak di masyarakat bu”. Akhirnya, karena kali ini saya sudah tidak culun lagi, saya  sampaikan bahwa itu bertentangan dengan hati nurani saya, dan saya tidak mau bekerjasama lagi.

Saya juga masih ingat waktu saya akan menikah dengan mas dan mengabarkan pada seorang teman di kelompok ini, teman saya bertanya ” dia  ngaji gak Fit?” waktu itu saya jawab: “Ngaji rutin di Daarut Tauhiid dan Percikan Iman”. Saya terkaget-kaget ketika teman saya itu bilang “itu mah bukan ngaji Fit. Ngaji itu bla..bla.bla..”. Untunglah saya tidak perlu meminta restu teman saya tersebut..karena ternyata walaupun tidak “ngaji”, kebaikan suami saya cukup memadai (haha….)

Beberapa waktu lalu saya membaca buku Dr. Ali Syariati tentang Haji. Di dalamnya ada pembahasan mengenai thawaf. Dalam thawaf, yang menjadi pusat putaran umat muslim sedunia bukan hanya ka’bah, tapi juga makam Siti Hajar. Siti Hajar Allah muliakan sebagai salah satu tokoh ibu, istri dan wanita yang mulia. Ali Syariati menyampaikan pertanyaan2 yang menggugah kesadaran tentang eksklusivisme ini. Beliau mengungkapkan: Dari sekian banyak wanita, mengapa Allah memilih budak? Dari sekian banyak budak, mengapa Allah memilih budak miskin dari ethiopia? menurut pandangan manusia, posisi Siti Hajar adalah terendah. Tapi Allah ingin menunjukkan bahwa kotak-kotak status itu tak ada !

Kalau kita sebagai orang dewasa berkelompok, juga sebenarnya harus kritis dan tak harus konformis. Itu hanya mengaburkan perjuangan dan visi yang diusung. Tak harus membela semua orang yang menjadi bagian kelompok kita. Tak harus sikap kita seragam. Itu hanya membuat kita “malas” berpikir bagaimana caranya berkomunikasi dan menyatukan perbedaan.

Tapi, sebagai orang yang “ingin dewasa” saya menyadari dan mengakui…banyak teman-teman saya di kelompok ini yang juga kritis, bisa menghargai orang lain di luar kelompoknya, tak ragu menyebut “salah” pada anggota kelompoknya yang memang salah tanpa merasa “mengkhianati perjuangan” dan merasa tetap merasa menjadi “someone” meskipun mungkin “rejected” di kelompoknya …

Yups..kelompok itu kan cuman pilhan “sajadah panjang” aja. Toh, di hadapan Allah, nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban masing-masing bukan? kayaknya gak bisa ya, kita bilang “kata ketua kelompok saya” sama Allah….

Advertisements

Kita Bukan Korban !!

1997. Mata kuliah Psikologi Umum. Seorang dosen senior yang waktu itu menjadi idola mahasiswa seantero psikopad memperkenalkan satu konsep yang baru buat saya.  Beliau mengatakan kurang lebih : “kalau saya mengusir anda lalu anda keluar….jangan bilang kalau anda keluar karena diusir saya. Anda yang memilih, memutuskan keluar. Itu sepenuhnya keputusan anda. Kenapa? karena sebenarnya anda punya pilihan untuk tetap berada di ruangan ini”. Sebagai anak lulusan SMA yang culun dan tengah mencari jati diri (halah….), saat itu saya tidak mengerti tapi terpesona dengan konsep itu. Itu adalah cara pandang dan dimensi yang tak pernah terpikirkan di benak saya. Walaupun saat itu tidak mengerti, namun saya memegang prinsip itu.

Beberapa bulan lalu, ingatan saya tersegarkan kembali. Saat itu talkshow mengenai pengaruh media pada anak. Kenalan saya, seorang dosen fikom senior mengisahkan pertemuannya dengan seorang sobatnya yang kini malang melintang memproduseri sebuah acara terkenal. Sayangnya, acara itu secara umum bukanlah acara yang “mendidik”. Kenalan saya tersebut mengisahkan, ia bertanya pada si sobat: “ngapain lu bikin acara kayak gitu…itu gak mendidik…merusak…bla..bla…bla..”. Si sobat menjawab: “alahhhh…lu susah-susah amat…kan ada remot. Tinggal lu pencet tuh remote, matiin acara gue, bebas….”. Mmmmhhh…saya sepakat sekali dengan kesimpulan yang diambil oleh kenalan saya tersebut, bahwa…seberbahaya apapun efek dari sesuatu,  kita lah yang sepenuhnya pegang kendali ! kita lah yang sepenuhnya memutuskan tindakan kita ! kita punya sepenuhnya hak veto untuk menentukan informasi apa yang kita masukkan ke indra kita.

Yups… saya tidak sepakat pada pandangan bahwa teknologi membuat kita dan anak-anak kita adalah korban zaman dan tak berdaya. Memang kalau mau bicara tentang banyak hal di zaman kita ini…tak pernah terbayangkan sebelumnya. Coba saja sebutkan dampak negatif dari beragam tools di sekitar kita:

TV: sinetron yang tak mendidik, acara idol-idolan yang membuat anak2 dan remaja semua ingin jadi artis, kartun yang memberi contoh agresi, gosip yang membuat ibu2 tidak sadar mengkonsumsi ghibah, iklan makanan tak sehat yang bikin anak keranjingan jajan, pemberitaan yang menggiring opini publik, dll dll…

INTERNET: facebook yang mangancam keharmonisan keluarga karena potensial bikin CLBK, mudahnya akses pornografi untuk anak, banyaknya iklan online shop yang menggoda, perang status yang berujung pada emosi jiwa, macam-macam info tidak jelas yang dengan satu klik saja bisa kita sebarkan dengan mudah, dll dll

BB: bisa menjauhkan yang dekat,mengganggu komunikasi keluarga karena tiap detik tang tung tang tung bunyi, bikin apa-apa pengennya ditunjukkin ke orang lain hingga tak tersisa amal yang menjadi “rahasia” dengan tuhannya…dll, dll

IPAD: bikin anak malas belajar dan bergerak, kurang sosialisasi, dll dll

KARTU KREDIT: dengan beragam promo dan diskonnya membuat kita terbutakan untuk tak lagi berpikir rasional mengenai apa yang diperlukan ….

2 tahun, 5 tahun, 10 tahun lagi…entah apa lagi yang akan ditemukan…tak akan terbayangkan oleh kita.

Mudah, memang mudah sekali buat kita untuk “menyalahkan” semua tools itu. “Gara-gara kartu kredit gampang gesek sih, gw jadi kalap kalau belanja…jadi we gaji gue gak pernah cukup”…”Gara-gara ipad, anak gw jadi sering ngamuk kalau ipadnya diambil…” … “gara-gara hitam putih sih, gw jadi sholat maghribnya telat”. Yups, its an easy way menyatakan kita adalah “KORBAN” dari arus yang tengah terjadi di sekitar kita.

Apalagi kalau dilebarkan ke hal lain…” masalahnya gw dulu suka dipukul sih ama ortu gw, jadi wajar kan kalau sekarang gw juga pengennya ngejiwir anak gue”… “suami gw selingkuh sih, jadi aja gw pengen bales selingkuh lagi”…

No No No…..Kita bukan korban  !!!! kenapa? karena kita makhluk Allah yang paling mulia !!! karena kita punya akal.

Kemuliaan kita, terletak pada kemampuan kita untuk memilih. Malaikat, meskipun ia senantiasa berdzikir dan beribadah, tak semulia manusia. Karena ia tak punya pilihan lain.

Maka, stop …. memiliki sikap mental bahwa kita adalah korban, bahwa kita tak berdaya.

Kita berdaya! kita yang sepenuhnya memutuskan apakah kita akan mengambil benefitnya atau mau menikmati negatifnya…

Yups, memang adakalanya kita tak bisa sendirian untuk menentukan pilihan yang tepat. Tapi tetap, penghayatan bahwa kita bukanlah korban adalah titik pijak pertama untuk meminta bantuan, memBERDAYAkan diri kita.

 

 

Lingkaran Setan Bullying : Jangan Terjebak….

Berbincang dengan seorang psikolog senior, kami mendapati bahwa kini kasus bullying anak semakin marak. Dalam beragam bentuknya. Kalau kami tidak langsung berhadapan dengan klien, pastilah kami tak percaya ada beragam cerita bullying di kalangan anak SD. Tapi, begitulah kenyataannya.

Saya sendiri, beberapa kali diminta membantu anak yang menjadi korban bullying, membantu orangtua dari anak yang menjadi korban bullying, membantu anak yang menjadi “pelaku bullying”, membantu orangtua yang anaknya “pelaku bullying”. Saya sepakat dengan ibu psikolog senior tersebut, bahwa bullying harus direduksi dan dihilangkan oleh seluruh elemen dari sekolah. Oleh value yang dikembangkan sekolah itu. Mengapa? Karena dalam kasus bullying, masing-masing pihak yang terkait di dalamnya, yaitu orangtua-anak-teman-guru; memiliki peran yang berkontribusi pada terjadinya atau tidak terjadinya kasus bullying.

Dalam tulisan ini, saya ingin menyoroti konteks yang lebih luas. Bagaimana masalah bullying ini bisa meluas menjadi besar dan panjang serta menjadi lingkaran setan bila tak diselesaikan dengan arif. Dan fokus dari tulisan ini adalah pesan pada orangtua.

Ibu-ibu dan teman-teman orangtua, saya yakin tidak ada yang mencintai anak kita lebih besar dari kita sebagai ibunya. Oleh karena itu, saya yakin….apabila suatu saat anak kita dibully oleh temannya, beragam rasa negatif kita hayati. Sedih dan marah, pasti kita rasakan. Insting melindungi anak kita, pasti langsung terbangkitkan. Mungkin kita tersulut oleh luka fisik yang dialami anak-anak kita yang amat kita sayangi itu, atau oleh ekspresi sedih dan luka hati yang dirasakan anak kita. Itu wajar.

Namun, pada saat emosi itu kita rasakan, berhenti dulu sejenak. Tenangkan diri. Jangan langsung marah. Jangan langsung bertindak. Yang sebaiknya dilakukan adalah:

  • Memberikan dukungan emosi pada anak kita. Misalnya kalau anak kita menangis, kita peluk, kita “terima” kesedihannya.
  • Cari informasi seluas-luasnya. Bisa jadi anak kita, sebagai “anak” punya persepsi yang subjektif terhadap peristiwa yang dialaminya. Sebuah peristiwa itu, pada dasarnya merupakan rangkaian aksi-reaksi. Alangkah baiknya kita memahami rangkaian peristiwa itu secara utuh. Jangan hanya memfokuskan perhatian pada perisiwa “aku dipukul” , “aku didorong”. Cari informasi pada guru, untuk memahami  situasinya secara objektif.
  • Setelah mendapatkan informasi yang utuh, baru tentukan tindakan. Misalnya memberi masukan ke gurunya untuk lebih tanggap terhadap situasi yang terjadi di kelas kalau memang  kita menilai sikap guru membuka peluang terjadinya peristiwa itu.
  • Pikirkan matang-matang bagaimana caranya memberikan tanggapan pada anak kita. “Menyepelekan” perasaan dan persepsi anak kita atau terlalu membesar-besarkan situasi yang terjadi dan habis-habisan membela anak kita….dua2nya adalah perilaku yang efeknya sama negatifnya pada anak kita. Kalau kita menyepelekan situasi itu, anak akan merasa “sendirian” dan itu akan berbekas pada kepribadian dan cara anak memandang lingkungan. Kalau kita terlalu berlebihan membela anak kita, juga kita akan menumbuhkembangkan kebencian anak kita pada teman yang membullynya.

Sebaliknya…..JANGAN….saya mohon…JANGAN lakukan hal ini:

  • Memarahi anak yang membully anak kita, apalagi di depan teman-temannya. Selain itu artinya kita membully anak lain dan efeknya bisa negatif ke anak yang bersangkutan, efek sampingnya juga, bisa jadi bumerang buat anak kita. Apalagi kalau anak kita cukup besar. Bisa jadi dia tidak akan terbuka lagi sama kita karena “malu” atas perilaku kita.
  • Menghasut anak kita dan teman-temannya untu me”reject” anak yang melakukan perilaku bullying pada anak kita, misal “biarin dia jangan diajak main”…
  • Menggalang kekuatan orangtua untuk “menyingkirkan” anak yang melakukan bullying pada anak kita.

Mengapa saya sampai pake kata MOHON?

Karena saat saya menulis tulisan ini, terbayang jelas  wajah seorang gadis kecil. Meskipun bertahun-tahun lalu, tapi masih saya ingat dengan jelas wajahnya. Anak ini, karena situasi orangtua yang kurang kondusif, beberapa kali tidak bisa menahan emosi negatifnya. Ditambah dengan guru yang kurang bisa memanage kelas dengan baik, terjadilah perilaku ia membully temannya. Memukul, menendang….Orangtua anak yang dibully, menggalang kekuatan dan membuat petisi yang mengultimatum pihak sekolah untuk mengeluarkan anak ini karena “keamanan anak kami sudah terganggu”. Tidak hanya orangtua yang kekuatannya digalang, si anak yang dibully pun menggalang kekuatan teman-temannya, sehingga tak ada seorangpun anak yang mau menemani si gadis kecil tadi.

Saya masih ingat wajah si gadis kecil, saya masih bisa mendengar teriakannya di sela isak tangisnya: “seluruh sekolah ini benci aku…gak ada yang sayang sama aku, gak ada yang peduli sama aku…aku mau bunuh diri aja…”. Saat itu, saya hanya bisa memeluknya. Saya tidak ingin jadi psikolog saat itu. Lewat pelukan saya, saya hanya ingin mengatakan bahwa dia tidak sendirian. Bahwa … ia melakukan kesalahan, tapi tidak layak diperlakukan demikian oleh orang dewasa…bahwa saya mengerti, yang ia butuhkan adalah bantuan, bukan kebencian….

Begitulah….saya tidak bisa membayangkan….bagaimana kalau benar-benar kejadian si gadis kecil ini dikeluarkan dari sekolah. Bagaimana persepsinya terhadap dunia…Lalu para orangtua…sebenarnya tidak menyelesaikan masalah..hanya menghilangkan masalah. Anak-anak  mungkin akan puas “musuh”nya sudah tidak ada. Tapi apakah ia belajar sesuatu? tidak…

Ibu-ibu…kita adalah perwakilan Rahman dan Rahim nya ALlah di muka bumi ini. Yakinlah bahwa kasih sayang yang Allah anugerahkan pada kita itu, amat besar…cukup besar untuk menyayangi dan mempedulikan seluruh anak di muka bumi ini, bukan hanya anak kita saja…

Kalaulah anak yang “bermasalah” itu sebuah apel yang sebagiannya busuk, maka buang saja bagian busuknya…jangan buang apelnya….

Cinta : Saling Menjaga

Jaman dahulu kala, waktu saya masih lebay (haha…kayak sekarang gak lebay ajah…) pernah suatu waktu saya dan seorang teman berbincang tentang “makna cinta”. Referensinya adalah beragam puisi, quote di majalan remaja, hadits2, sampai dengan kata-kata di kartu harvest (mmmmhhh…begitu banyak waktu untuk melakukan hal2 yang gak penting kayak gitu ya, kalau diliat dari kacamata emak berbuntut 4 sekarang hehe..).

Singkat kata singkat cerita, saya lupa apa perbincangan itu menghasilkan kesepakatan atau tidak (waduh, mulai deh simptop PDI …penurunan daya ingat 😉 . Tapi yang saya ingat, sejak saya itu saya punya definisi sendiri tentamg cinta….cinta itu adalah….”saling menjaga”. Huhuy…menurut penghayatan saya, dua frase itu cukup mewakili romantisme sekaligus “tanggug jawab” yang menuru saya harus ada dalam sebuah perasaan cinta.

Demikianlah definisi cinta saya itu menjadi penggerak dan pengarah perilaku cinta  saya (ke..ke…perilaku cinta teh  nu kumaha nya? Wkwkwk). Menurut saya, kalau kita mencintai seseorang, maka kita akan berupaya untuk membut orang itu menjadi pribadi yang lebih baik. Dimata manusia maupun dimata Allah. Demikian juga kalau seseorang itu mencintai saya, maka ia pun harus  berusaha menjadikan saya pribadi yang lebih baik, di dunia maupun akhirat.

Makanya, saya tidak ingin punya suami yang selalu “mengangguk” atas apapun yang saya lakukan. Menurut saya, ajaran agama dengan jelas eksplisit menyatakan…bahwa memang….harusnya pasanganlah yang menjadi perwujudan sifat-sifat Allah di dunia. Tak ada hubungan yang paling dekat selain dengan pasangan pernikahan. Harusnya memang pasangan lah yang paling bisa memberikan “kasih sayang” yang membuat kita merasa tenang dan nyaman. Pasanganlah ynag harusnya menjadi orang yang “mendidik” kita agar seluruh potensi kebaikan yang ada dalam diri kita menjadi berkembang….

Dan …. pasangalah yang sejatinya harus menjadi “rem” bagi kita untuk menahan hawa nafsu kita. Poin ini nih…yang sekarang sedang saya hayati dan saya rasakan “nikmatnya”. Yups..yups…menahan hawa nafsu, adalah PR kita dalam setiap helaan nafas kita. Dan kita tak selalu bisa sendiri melawan si hawa nafsu ini.

Dua issue yang paling sering  adalah (1) pengen vs perlu dan (2) benar vs bijak.

Saya rasa setiap orang punya issue ini. Dan semakin tahun bertambah, mas sudah hafal dalam area apa saja saya bisa “kehilangan akal sehat” keukeuh menginginkan sesuatu yang sebenarnya tak diperlukan….demikian pula sebaliknya, saya sudah tau betul “modus operandi” mas saat ia merasionalisasi keinginan menjadi kebutuhan ;). Seiring waktu kebersamaan kami, saya juga sudah tau karakteristik kepribadian mana yang membuatnya kurang mempertimbangkan konteks masalah , dan mas juga sudah mengerti hal apa yang membuat saya tak bersikap bijak .

Proses ini yang kini tengah kami nikmati. Seru…karena itu tak mudah. Terkadang saya harus menunggu bertahun-tahun  untuk menemukan momen yang pas saat mengingatkan mas dalam suatu hal. Mas juga harus mencari seribu satu cara untuk bisa membuat saya mau diingatkan.

Tapi efeknya luar biasa…menghasilkan perasaan nyaman dan aman. Bahwa  kami saling mencintai. Bahwa kami peduli, dan kami ingin kebersamaan kami tidak hanya di dunia, tapi sampai akhirat nanti.

Esensi

Saya paling suka dengan pengajian yang tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai beragam ayat dan hadits, tapi juga menjelaskan asbabun nuzul dari ayat/hadits tersebut, serta mengulasnya dalam konteks kekinian. Keuntungan menyampaikan ajaran agama dengan cara demikian adalah, kita diajak berpikir kritis mengenai konteks situasi saat suatu ayat/hadits itu ada, dan apa semangat yang terkandung dari ayat/hadits tersebut. “Semangat” … atau “ruh” …atau “makna” …. atau “esensi” inilah yang menurut saya, akan terinternalisasi menjadi suatu energi yang membuat ajaran agama itu benar-benar berfungsi sebagai “the way of life” bagi setiap pribadi yang menghayatinya. Bukan hanya sebagai ritual atau simbol yang tak dipahami maknanya, sehingga tak berjejak menjadi kepribadian.

Misalnya, esensi sholat dan berdoa itu adalah “berkomunikasi” dengan Allah. Syariat poligini itu didasari oleh semangat “membatasi”, karena saat itu sudah biasa para pria di budaya arab memiliki banyak istri. Makna berjilbab itu adalah menjaga kehormatan diri, dll.

Menurut saya, banyak syariat agama yang esensinya terikat dengan benang merah yang sama, yaitu “menahan diri, mengalahkan hawa nafsu”. Salah satu penjelasan yang  sangat sederhana namun “dalam” mengenai hal ini diutarakan oleh Kang Jalal dalam salah satu bab di bukunya “Meraih Cinta Illahi”. Kurang lebih beliau menyampaikan bahwa ketika kita ingin mendekatkan diri pada Allah, bagaikan seseorang yang terhalang tembok bata. Terlebih dahulu ia harus merobohkan satu demi satu batu bata yang menghalanginya tersebut untuk bisa bergerak mendekat menuju Allah. Proses merobohkan satu demi satu bata itu, adalah proses “mengalahkan” hawa nafsu. Maka, orang yang tak biasa menahan diri dan mengalahkan hawa nafsunya, tak akan bisa mendekat padaNya.

Memang, adalah hal yang manusiawi saat kita ingin menikmati yang “enak-enak” baik dalam hal fisik (makanan, pakaian, seksual) atau psikologis (dipuji, dipandang hebat, dikagumi,dll). Namun kita harus ingat…bahwa kita punya potensi untuk menjadi lebih baik dibanding malaikat, karena kita punya satu hal yang tak dimiliki makhluk apapun di dunia ini, yaitu…akal.

Maka, apapun yang kita lakukan, apapun…apapun itu….entah itu berhaji, berpoligami, berhijab, berpartai, berfacebook, dll… kalau itu dimaksudkan sebagai bagian dari menjalani sajadah panjang dalam kehidupan ini, hendaknya didorong oleh semangat untuk menahan hawa nafsu, bukan menyalurkan hawa hafsu.

Saya ingat ajaran “ustadz” saya dalam rangka berlatih “menghancurkan tembok” hawa nafsu kita. “Lakukan apa yang tidak ingin dilakukan, jangan lakukan apa yang ingin dilakukan” kata beliau. Melaksanakan rumus itu, buat saya amat sangat berat.  Menahan untuk tak membeli ini-itu yang sejatinya tak saya perlukan padahal hati pengen banget dan uangnya ada, menahan untuk tak komentar ini itu yang sesungguhya tak bermanfaat padahal gak tahan banget, menahan untuk melakukan ini-itu yang bisa menghasilkan  pujian pada diri saya …. tapi… saya yakin…begitu satu demi satu bata hawa nafsu itu terrobohkan…bukan hanya hawa nafsu yang terkalahkan, namun kita pun akan menjelma menjadi seorang yang berkepribadian kuat. Kita tak hanya menjadi indah di mata ALlah, juga menyejukkan di mata manusia.  Karena itulah esensi ajaran agama. …..

Lagu, Sinetron dan Infotainment : Bagaimana Kita Menyikapinya?

ku telepon gak diangkat-angkat/aku sms gak dibales-bales/sudah sebulan gak pulang-pulang/aku di rumah nunggu kebingungan
ada tetangga tahu, bawa berita duka/rupanya suamiku sedang bahagia bersama …
kawin lagi, suamiku istrinya baru lagi/stress lagi, aku jadi stress lagi
kawin lagi, suamiku direbut orang lagi/nangis lagi, aku jadi nangis lagi
hancur, hatiku hancur, rasanya ku ingin kabur/sakit, batinku sakit, dunia terasa pahit

…….. baris2 di atas adalah syair lagu “kawin lagi”; lagu dangdut yang dinyanyikan oleh Siti Badriah ( haha…..pengen ketawa sendiri nih…). Lagu itu pertama kali saya dengar beberapa bulan lalu, waktu saya terpaksa kerja di salah satu ruangan di kampus, menggunakan komputer umum yang ternyata, selama satu jam saya bekerja di sana nonstop memutar lagu tersebut. Sejam non stop gituh loh…..lirik lagu itu terngiang terus sampe beberapa hari kemudian;). Kemarin pagi, saat saya sarapan di kampus bersama seorang teman, lagu itu terdengar lagi…..haha…..

Saya lupa saya baca di artikel apa, namun saya ingat sekali isinya: bahwa budaya (lagu, film, tayangan TV) pada suatu masa, di suatu komunitas, merupakan cermin dari gambaran nyata komunitas tersebut. Budaya itu merupakan indikator yang paling jujur dari sebuah kondisi masyarakat. Begitu katanya.

Jadi…balik lagi ke lagu Siti Badriah…meskipun buat saya “gak kebayang” ada peristiwa seperti yang digambarkan dalam lirik lagu tersebut, namun….saya meyakini…bahwa itulah potret masyarakat kita. Bahwa kejadian itu terjadi. Sungguh. Di kalangan masyarakat tertentu. Demikian juga dengan sinetron. Akhir2 ini sedang rame keberatan dengan sinetron “Tukang Bubur Naik Haji”. Bahwa dalam keidupan masyarakat kita ada seorang haji yang perangainya seperti itu, ya…itulah realitanya. Ketika saya sedang scanning channel, saya pernah sekilas melihat adegan sinetro TBNH ini, seorang wanita tokoh antagonis berkata kurang lebih begini: “waduh, gue udah lama gak denger gosip … gue harus dateng pengajian nih… soalnya kan…sumber gosip itu dari ibu2 pas pengajian”….

Sedih? sebagai muslimah, saya sedih sekali. Tapi saya sama sekali tidak mau men”deny” bahwa fenomena itu tidak ada di masyarakat kita. Ada. Bahkan mungkin menggejala. Lalu Infotainment….melihat “trend” berita yang dibuat TV, pengarahan opini publik tentang yang benar jadi salah dan sebaliknya…..ya, itulah gambaran kehidupan masyarakat kita. Sekali lagi, itu bukan untuk di “deny”, tapi untuk disadari.

Lalu, setelah disadari apa? Kesadaran bahwa demikianlah potret sebagian masyarakat kita, menurut saya akan membuat kita aware, bagaimana seharusnya kita mengarahkan keluarga kita. Sisi positifnya, kita menjadi punya gambaran konkrit mengenai sikap-sikap dan perilaku-perilaku apa yang harus kita hindari. Kalau kita berhaji, berarti kita harus luruskan niat, karena gampang sekali nanti kita dinilai “ah, hajinya kayak haji x”. Kalau mau pengajian, berarti kita jadi aware untuk tidak membuat efek samping perkumpulan pengajian itu membicarakan hal2 yang malah “menghapus” informasi yang kita dapat dari pengajian.

Meskipun, kalau saya menjadi orang “behind the scene”nya media, saya akan memegang teguh prinsip “cover both side”. Saya akan menunjukkan ada haji yang kelakuannya menggerahkan, ada haji yang perilakunya menyejukkan; ada ibu-ibu pengajian yang hobinya bergosip, ada ibu-ibu pengajian yang hobinya beramal. Dan saya akan menggunakan kemampuan saya untuk mempersuasi orang untuk mewujudkan hal yang positif … karena kan, satu orang melakukan kebaikan karena upaya yang kita lakukan, pahalanya mengalir pada kita.

Tapi ya….karena saya cuman seorang ibu, jadi yang bisa saya lakukan adalah membentengi keluarga saya dari arus penggiringan opini dan nilai yang menyesatkan….minimal membentengi agar tidak terpapar oleh tayangan2 itu…

My Preadolescent Girl

Dulu, saya selalu berpikir bahwa setelah anak-anaknya lepas usia balita, maka seorang ibu akan merasa “bebas”, dengan asumsi bahwa di usia SD, anak sudah “tidak terlalu membutuhkan kehadiran ibunya secara fisik” lagi. Apalagi kalau anak sudah masa remaja….Makanya, saya merencanakan kuliah S3 lima tahun lagi, saat Azzam sudah masuk SD. Jadi bisa ambil program sandwich gitu, biar ngerasain kuliah di luar negeri haha….

Tapi suatu hari, saat saya sedang menonton acara talkshow mengenai wanita-wanita enterpreuneur yang sukses, salah seorang wanita pengusaha itu menuturkan bahwa ia menjadi pengusaha dan berhenti kerja kantoran ketika anaknya menjelang usia remaja. “di usia menjelang remaja, kehadiran saya sangat dibutuhkan oleh anak saya” katanya. Keheranan saya terjawab dari hasil penelitian rekan saya yang menyatakan bahwa bagi mahasiswa semester 2 pun, ternyata orangtua masih menjadi “significant others” yang mereka butuhkan kehadirannya.

………………..

Beberapa bulan terakhir ini, ada satu perubahan besar dalam “konstelasi hubungan” Azka dan Umar. Hal itu disebabkan oleh perubahan sikap dan perilaku yang amat drastis dari si sulung, Kaka Azka. Dia yang begitu “baik hati, tidak sombong, rajin menabung, taat pada orangtua” tiba2 berubah menjadi “galak” dan “menyeramkan”. Kegiatan hariannya didominasi oleh tiga hal: nangis, marah, ngomel. Yang jadi subjek kemarahan, sumber tangisan dan subjek omelan tak lain dan tak bukan adalah … Umar. Karena mereka berdua beraktivitas bersama.

Yups..yups…saya tahu…bahwa menjelang usia 10 tahun ini, Azka sudah memasuki usia prapubertas. Itu artinya hormon2 dalam tubuhnya tengah “bergejolak” untuk mempersiapkan kematangan ciri seksual primer maupun sekunder. Saya juga tahu bahwa di usia ini, anak menjadi sangat “tidak nyaman” dengan diri dan lingkungannya, jadinya super sensi dalam artian negatip.

Tapi ya, pemahaman itu tak ada apa2nya dibanding pengalaman meng-alam-i langsung situasi itu. Teteeeeep aja saya terkaget2 ketika mengingatkan Azka untuk sholat, untuk makan…padahal cuman sekali, dengan nada “biasa”….tiba-tiba yang bersangkutan langsung marah dan ….bruuuuk….pintu kamar pun dibanting….mmmmmhhhh…..*relaksasi*. Atau kalau Azka udah berdekatan sama Umar ….pasti deh…ujung2nya dua-duanya nangis.

Sejauh ini, yang ibu lakukan tiga  hal:

(1) Ibu tahu, ibu harus merespons emosi Kaka Azka. Tak ada alasan. Jadi, karena kalau bahas kasus pertengkaran dengan Umar satu persatu kadang2 gak jelas gimana ceritanya…. (kata umar: mas umar cuman diem aja..engga ngapa2in…kata azka: iya, tapi kakinya nempel ke kaka…kaka engga suka!) …. akhirnya ibu mengeluarkan jurus pamungkas…PELUK…Seperti kemarin pagi…ibu udah mau berangkat banget….Azka marah-marah dan nangis engga tau kenapa…. baiklah…ibu peluk dulu….setengah jam…. Tapi lumayan lah, jitu juga….biasanya kalau udah dipeluk gitu, 2-3 hari mah bisa “normal”  perilakunya 😉

(2) Ibu ajak Kaka dan Umar bicara….bahwa ya…….Kaka emang lebih sensitif karena tubuhnya sedang berubah … bla..bla..bla…ujung dari pembicaraan itu? kata Umar: “berarti kaka udah remaja…udah baligh…berarti kalau engga sholat udah berdosa…tuuuh…kaka kadang masih suka ketiduran untuk sholat isya…”. Langsung dibalas Azka: “enak aja…kamu tuh…..emang kamu engga pernah ketiduran gitu? kamu juga suka ketiduran lupa beresin buku !” bla…bla..bla…*ibu relaksasi lagi ….*

(3) Ibu mengajarkan “teknik” menghindari pertengkaran Azka-Umar. “Kaka jangan komentarin mas Umar. Jangan ngomel.”. “MAs Umar, kalau kaka komentar, jangan langsung marah”….

Mmmmhhhmmm… 3 anak, dengan keunikan dan PR stimulasi yang berbeda2, rasanya dunia anak prasekolah sudut dan lika-likunya sudah terjelajahi semua. Tapi ini adalah “rimba baru” buat ibu. Exciting journey….

Sebagai bekal mengarungi new journey ini, ibu belajar lagi-lah tentang si preadolescent :

  • The preadolescent experiences physical growth that is more rapid than at any other time since infancy.
  • The preadolescent begins to develop bodily characteristics that distinguish the adult male and female.
  • The preadolescent may begin to feel extremely self-conscious. 
  • The preadolescent may experience rapid emotional swings which can be confusing to both parent and child.
  • The preadolescent may experience feelings with more intensity than an adult and give into impulses more than an adult. 
  • The preadolescent may begin to analyze situations and use reason with abstract thought, and hence think more like an adult than a younger child.
  • The preadolescent may use reason and abstract thought to question authority and parental values. 
  •  The preadolescent shifts social priorities to peer friendships, wishing to spend all free time with friends.
  • The preadolescent experiences a loss of self-confidence, while sometimes appearing cocky and self-assured.

Tips for Parents:

  • Listen to your preadolescents and take their feelings seriously. 
  • Work together to solve problems when they arise.
  • Talk with your child about changes. 
  • Talk to parents of older children to get perspective.
  • Realize that your child’s growing sense of independence is normal and healthy. 
  • Be in touch with the school if there are any concerns.
  • Look for the counseling department’s upcoming parenting workshop on preadolescence.

Mmmmhhhh…..jadi, memang ternyata pengalaman menjadi ibu itu, selalu membuat kita belajar. Mulai ketika test pack menunjukkan dua garis, sampai dengan ajal memisahkan……

*loveazka*

Previous Older Entries