You Said “No Hope”? I Said “Yes Hope” : 10 hari yang ngangenin

Siapa yang tak resah mendengar beragam situasi dan kondisi anak-anak jaman sekarang? anak kuliahan yang tak punya empati, remaja SMA yang tawuran membawa samurai, anak SMP yang akrab dengan narkoba, anak SD yang jadi “korban” dan “pelaku” pornografi, anak prasekolah yang kesulitan melepaskan pandangan matanya dari game-game di gadget, daaaan beragam berita yang seringkali membuat kita resah dan gelisah, bagaimana nasib anak-anak kita nanti?

Setiap tahun,  saya punya momen yang saya tunggu-tunggu. 10 hari terakhir ramadhan. Saat saya menemukan realitas lain dari realitas yang tersaji mengenai “hancurnya’ generasi muda kita. Di masjid-masjid yang menyelenggarakan itikaf, kita akan menyaksikan realitas yang berbeda. Di sini, kita bisa menyaksikan puluhan anak mahasiswa, remaja SMA, remaja SMP, anak SD, anak TK….yang tak sedang mantengin pornografi dari internet, bukan sedang asyik main game. Namun mereka, diajak oleh orangtuanya untuk mendekatkan diri pada Tuhannya, Allah. Berdzikir, shalat, mengaji….

Cicendo-20140718-02728Saya pernah cerita, ada satu momen yang saya simpan sebagai salah satu momen terindah dalam hidup saya, yaitu saat belasan tahun lalu, di tengah keheningan itikaf jam 2 dinihari, seorang anak laki-laki berusia 7 tahunan asyik melantunkan surat Arrahman. Malam tadi saya menemukan momen serupa. Saat sebagian besar orang dewasa telah terlelap, seorang anak perempuan 7 tahun-an asyik tilawah dengan Qur’an kecil di tangannya.

Yups, saat segala di sekeliling kita terasa meresahkan dan menyesakkan, memiliki “tempat berpaling” yang menampilkan realitas yang berbeda tentunya sangat menyejukkan. Dan “ngangenin”.

Seperti doa yang dipanjatkan pak Ustadz semalam, semoga anak-anak itu, menjadi anak-anak yang dijaga oleh Allah untuk selalu berada dalam kebaikan dan menjadi penyebar kebaikan bagi lingkungannya. Semoga kebaikan mereka Allah jaga sampai hari akhir nanti. Semoga kecintaan mereka terhadap masjid, membuat mereka selalu kembali pada Rabb-nya saat masalah apapun dalam hidup mereka, mendera mereka.  Aamiin

Rabbi….Habli…Minas sholihin.

Advertisements

Meng-alam-i : mengajarkan anak menghargai

Saya pernah baca satu buku yang menjelaskan bahwa mengetahui dan meng-alam-i proses sesuatu, itu punya dampak besar buat anak. Waktu itu bukunya mengenai perkembangan kognitif anak. Jadi anak tau beras yang dia makan setiap hari itu asalnya dari mana, terus ke mana, lalu digimanain… atau telur yang ia makan itu berasal dari apa, lalu gimana bisa jadi telor dadar yang yummi….itu membuat “sense of…process” anak terasah. Bahwa segala sesuatu tidak ujug-ujug, ada prosesnya. Itulah sebabnya, pembelajaran pada anak haruslah melalui proses meng-alam-i. Anak melihat, menyentuh, menghirup…abstraksi dari pengalaman-pengalaman sensoris itu yang akan jadi bekal kemampuan berpikirnya.

Tapi seiring perjalanan waktu, ketika saya “mengamalkan” ilmu itu, saya menemukan “side effect” lain. Bahwa mengajak anak meng-alam-i suatu proses, itu menumbuhkan penghayatan akan upaya yang dilakukan oleh orang lain. Tak hanya pada anak. Tapi juga pada orang dewasa. Ujung-ujungnya…adalah kesadaran akan realitas dan penghargaanpada orang lain.Kesadaran akan realitas. Berapa banyak kita temukan anak SMA yang menganggap bahwa mereka bisa mencapai keinginanya tanpa herus melalui proses-proses dan tantangan-tantangan tertentu? Penghargaan pada orang lain. Berapa banyak kita lihat saat ini orang yang meremehkan apa yang sudah dilakukan oleh orang lain.

Beberapa kali saya menemani mamah masak, ternyata si soto kaki  kambing kesukaan saya itu, proses memasaknya luarrrr biasa. Dari bakar bulunya, rebus, bikin bumbunya…….dst dst. Kalau saya tak pernah ikutan masak, gak akan bisa saya menghayati “pengorbanan mama” dan menghargainya dengan berterima kasih. Beberapa kali saya mengajak anak-anak ikut proses memasak makanan kesukaan mereka, terucap juga dari mulut mereka: “ternyata susah, ribet ya bu”. Ya, mecahin telor aja tak mudah ternyata …

Nah, penghayatan itu yang ingin saya tanamkan pada anak-anak saya. Kita akan sulit untuk menghargai kalau tak menghayati. Dan menghayati itu, seringkali harus lewat meng-alam-i. Kalau tak pernah jadi koordinator mata kuliah, saya akan terus mengkritik tanpa empati koordinator mata kuliah saya yang saya nilai “kurang maksimal”. Setelah saya menjadi koordinator mata kuliah, tahulah saya bahwa ada kesulitan dan persoalan yang harus saya selesaikan. Tak semudah waktu saya jadi komentator. . Kalau saya tak meng-alam-i jadi ketua suatu unit, tak akan pernah saya bisa menghargai hal kecil yang  dilakukan oleh ketua unit tersebut, karena saya tak akan pernah tau betapa besarnya upaya yang harus dilakukan.

Ini salah satu kesedihan saya. Begitu mudahnya kita “meniadakan” upaya besar yang orang lain telah lakukan….begitu mudahnya kita menghilangkan rekam jejak kebaikan yang telah dilakukan seseorang.  Padahal sikap kita, tak akan meniadakan kualitas mereka. Sikap kita hanya akan menunjukkan kualitas kita.

Sebagai seorang enterpreuner, saya sering mendengar betapa suami saya menghargai si X, si Y, si Z, karena dia tau betapa beratnya tantangan yang harus dihadapi di dunia enterpreuneur…Teman saya yang penghafal al-Qur’an, begitu dalam penghargaannya pada para hafidz karena ia tahu amat sangat sulit menjaga hafalan secara konsisten. Sebagai seorang akademisi, saya meng-alam-i begitu amat sulitnya menulis karya ilmiah yang sangat sistematis. Maka, saya amat menghargai orang-orang yang telah berupaya dan berhasil melakukannya.

Yups, kita tak mungkin meng-alami-i semuanya. Namun kalau kita menghayati bahwa ada proses untuk mencapai sesuatu, bahwa untuk membuat baju kotor ini bisa dipakai lagi ada sekian panjang proses yang harus dilakukan… semoga itu menjadi bekal buat kita untuk menghayati…bahwa orang yang berbuat itu, melakukan satu proses.

Jangan-jangan, kalau kita sangat mudah meniadakan karya orang lain, begitu sulit menghargai upaya orang lain, itu karena kita tak pernah berbuat apa-apa. Sehingga dalam bayangan kita, semua yang orang lain buat itu amat mudah dan tak butuh upaya.

respectAjari anak-anak kita untuk meng-alam-i proses, untuk meng-harga-i upaya yang dilakukan, untuk tak mudah me-niada-kan hasil karya orang lain.

Seragam vs Tidak Seragam

Sepuluh tahun lalu, 2004, selepas kuliah profesi dan jadi “freshgraduate psikolog”, saya punya minat yang amat besar ke dunia pendidikan. Maka saat itu, saya banyak baca tentang konsep-konsep pendidikan, beragam konsep sekolah. Kebetulan saat itu juga mulai muncul beragam sekolah swasta dengan konsep yang beragam di Bandung. Salah satu sekolah yang saya menarik buat saya adalah sekolah yang  menerapkan konsep dan teknis kegiatan yang merupakan “antitesis” dari konsep yang selama ini ada. Konsep sekolah formal diubah 180 derajat menjadi informal. Operasionalisasinya? murid tanpa seragam, bangunan sekolah terbuka, relasi guru-murid begitu “cair”. Saya membantu sekolah tersebut. Sampai sekarang. Meskipun bentuk dan intensitasnya sudah jauh berubah.

Namun filosofi “tak memakai seragam sekolah”, baru saya ketahui setelah beberapa tahun saya di sana. Dari sebuah buku. Buku biografi penggagas konsep sekolah tersebut. Dan saya, begitu terkesan dengan paparan beliau mengenai alasan mengapa beliau tak memberlakukan seragam di sekolahnya.

Selama ini, saya amat setuju dengan konsep seragam. Alasannya? ia bisa mengurangi kesenjangan sosial. Bayangkan si miskin yang mungkin, dalam seminggu bajunya itu…itu aja. Lusuh. Kucel. Sedangkan si kaya, mungkin bajunya selalu berbeda…dengan mereka-merek tertentu….Ya, saya setuju. Saya lupa dapat pemahaman itu dari mana ya…;)

Namun beliau, punya sudut pandang yang sama sekali berbeda. Bahwa keragaman itu, tak akan pernah bisa kita hindari. Dan sedari kecil, anak-anak kita perlu dilatih untuk berada dalam keberagaman. Agar bisa bersikap benar dalam keberagaman. Tak terbawa arus, namun tak terkucilkan. Si miskin, dilatih untuk percaya diri dan tidak menilai kualitas dirinya hanya dari baju yang ia pakai. Si kaya, belajar mengasah empati untuk menahan keinginannya menunjukkan kemewahan yang ia punya. Dengan melihat adanya “realitas lain” dari “realitas tempat selama ini ia berada”, ia akan punya lantang pandang yang lebih luas dalam bersikap, menilai masalah dan berperilaku.  Itu secara konseptual.

Secara operasional? saya selalu terpesona melihat anak-anak itu, tampil dengan ciri khasnya masing-masing. Saya jadi hafal, kalau yang pake baju batman tiap hari, pasti si X. Saya juga kenal si Y karena anak itu selalu bergaya girly dengan segala macam aksesoris princessnya. Berawal dari hal fisik, moga-moga proses ini membuat anak jadi mengenal siapa dirinya.

Ya, ditunda selama apapun, anak kita akan terjun dalam masyarakat yang beragam. Dan bagaimana ia melihat keberagaman dan perbedaan, tergantung dari pengalaman dan nilai-nilai yang ia pelajari  mengenai perbedaan tersebut.

Duluuuu, saya pernah mengobrol dengan beberapa ibu. Tentang sekolah. Beberapa ibu tersebut menyayangkan sekolah anaknya kini menjadi sekolah inklusi, dimana anak-anak berkebutuhan khusus berada dalam satu kelas bersama anak-anak mereka. Beberapa ibu bahkan secara gamblang menyatakan menghindari sekolah yang menerima anak-anak berkebutuhan khusus. Saya ingin tahu apa yang menjadi landasan pandangan mereka. Sebagian bilang “takut terpengaruh. Nanti anak saya jadi ikut autis”. Sebagian lagi bilang “gak tau ya, gak enak aja gitu…mereka kan beda ya…”. Jujur saja saya sediiiih sekali. Ya, saat itu kemudian saya jelaskan bahwa sekelas bersama seorang anak autis, tidak serta merta akan menjadikan anak mereka menjadi autis. Tapi saya paham. Zaman kita kecil, banyak “stigma” yang melekat pada kelompok yang berbeda dengan kita. Saya ingat, dulu waktu kecil  saya suka dibilangin oleh tetangga-tetangga saya….”hati-hati, keluarga “XYZ” mah PERSIS”. Dengan intonasi dan mimik wajah yang…waktu kecil, saya artikan sebagai mimik yang menunjukkan bahwa PERSIS itu buruk lah….sebisa mungkin kita hindari….Intonasi dan mimik wajah yang sama  saya lihat dari ibu-ibu yang tadi saya ceritakan. Yang mengagetkan adalah, mereka ibu-ibu terpelajar. Beberapa profesional. Tapi memang mengandalkan “katanya…..” adalah cara ampuh buat kita untuk menghindari keberagaman.

Saya teringat lagi peristiwa dengan ibu-ibu itu ketika 3 minggu lalu, suatu siang di sebuah kolam renang, Hana yang katanya pengen banget berendam di kolam air hangat menolak ke sana. Waktu saya anter, ia menunjuk seseorang. Seorang anak dengan wajah khas Syndrome Down. Badannya besar, mungkin usianya sudah belasan, namun perilakunya kalau saya lihat seperti anak usia 5 tahunan. Beberapa ibu, saya lihat membawa anaknya menjauh dari anak itu. Waktu itu, saya coba jelaskan gak apa-apa main bersama dia…saya ajak ngobrol anak itu….lalu saya jelaskan pada Azka, Umar dan Hana bahwa ada anak-anak yang walaupun sudah besar, tapi dalam dirinya ia merasa sebagai anak yang lebih kecil. Engga apa-apa….Hana tanya “kenapa wajahnya beda?” saya coba jelaskan karena ia sakit tertentu. Tapi tidak berbahaya. LaLu akhirnya, dengan saya dampingi, anak-anak pun mau main bersama anak itu. Bahkan terakhir, Hana akrab banget…Saya gak tau apakah penjelasan saya tepat atau tidak. Tapi saya merasa cara pandang terhadap perbedaan yang ia lihat itu, harus saya tanamkan dengan benar.

Ada satu kejadian lucu juga terkait hal ini. Waktu Umar 4 tahun, saya ajak menemui kolega saya dari Belanda. Umar memandang kolega saya itu dari ujung rambut ke ujung kaki, dari ujung kaki ke ujung kepala. Terus dengan lantang dia ngomong begini: “Mas Umal belum pelnah liat olang kayak gitu” hahaha…untuk dia kagak ngarti….Lalu saya jelaskan, bahwa di setiap tempat orang-orang itu bisa beda warna kulit, warna rambut, dll….tapi mereka sama aja kayak kita. Baik. Awalnya, Umar gak mau dipangku si bule itu. Waktu itu kami nonton angklung di Saung Ujo. Tapi setelah lama kelamaan si bule begitu ramah sama Umar, maka di akhir acara dia mau dipangku.

diversityDari dua kejadian itu saya mengambil kesimpulan bahwa pengalaman, adalah cara jitu untuk mengajarkan anak kita merasakan bahwa perbedaan itu bukan ancaman. Sebagai orang dewasa pun, jujur saja saya sendiri jauh lebih nyaman berada dalam lingkungan yang homogen. Tapi baru-baru ini saya belajar bahwa berada di lingkungan yang heterogen, mengajarkan kita beberapa hal yang amat berharga.  (1) Peka terhadap orang lain. Tanpa sadar, dalam lingkungan yang homogen, kita mungkin mengembangkan nilai-nilai merasa “lebih”. Seringkali tanpa sadar kita punya  “ejekan-ejekan” tertentu pada orang-orang yang kita anggap “lebih rendah” dari kelompok kita. Kita mungkin biasa bilang orang lain berasal dari almamater yang “abal-abal” karena almamater kita adalah almamater yang keyeen….Kita mungkin gak sadar mengungkapkan kata-kata sinis pada orang-orang yang berbed apandangan dengan kita….(2) Saya sering terbelalak terkaget-kaget mengetahui bahwa setelah berbaur dengan “mereka yang berbeda”, ada banyak kesamaan yang terjadi. Ada banyak “stigma” salah yang kita kembangkan tentang mereka. Ada banyak “hikmah” dan “pelajaran” juga “kebaikan” yang tak pernah kita lihat ketika kita mengandalkan “katanya” dan menghindari mereka.

Jadi…sejujurnya saya sekarang tak setuju dengan seragam. Seragam apapun. Termasuk seragam ibu-ibu pengajian hehe…Menurut saya, ada nilai yang lebih bermakna dibanding “kekompakan” yang terkadang, melenakan kita menjadi eksklusifitas.

 

 

 

Perbedaan : stratifikasi vs diferensiasi

Saya selalu mengatakan pada diri sendiri maupun pada orangtua dalam kesempatan mengobrol atau sesi konseling, bahwa “kita tidak akan tahu, dunia macam apa yang akan dihadapi oleh anak-anak kita. Maka, yang penting adalah membekali anak-anak kita dengan ban segala medan (kalau istilah di film Cars;)  dengan kemampuan dasar yang akan jadi “tameng” dan “senjata” menghadapi beragam tantangan di masa depan itu”.

Jujur saja, saya baru menghayati benar apa yang saya katakan itu akhir-akhir ini. Seperti juga orangtua kita dahulu tidak pernah membayangkan adanya internet yang potensial memaparkan konten pornografi pada anak-cucunya, adanya ipad yang bisa membuat anak kecil tahan berjam-jam dan orangtua merasa “terbantu” sehingga ia tak perlu bersusah payah mengajak anak berbicara atau bermain, adanya social media yang membuat “dapur” seseorang bisa tampak transparan dan telanjang di hadapan orang-orang yang tak ia kenal sekalipun…. Maka, kita pun tak bisa membayangkan teknologi apa lagi yang akan masuk dalam kehidupan anak-anak kita… situasi apa yang membuat perilaku anak-anak kita menjadi berubah tak sesuai dengan harapan kita….

Namun “kembang-kembang” ke arah “tantangan apa yang akan dihadapi anak-anak kita di masa depannya” itu, sebagian sudah terlihat. Dan jujur saja, saya sering menangis. Dalam hati maupun melalui lelehan air mata saya. Malam-malam saat anak-anak saya sudah terlelap (kalau saya gak terlelap duluan hehe…) saya sering memandangi mereka satu-satu dan bertanya pada lubuk hati saya yang terdalam…apa yang harus saya bekalkan pada mereka? ini bukan untuk kepentingan memberi materi parenting. Ini adalah pertanyaan seorang ibu yang resah akan “keselamatan” anak-anaknya di masa depan. Saya punya beberapa buku yang menggambarkan tantangan di abad ke-21, apa yang harus dilakukan…tapi itu dari barat. Gak compatible dan tidak menjawab pertanyaan lubuk hati saya.

Salah satu hal yang saya hayati harus saya bekalkan pada anak-anak saya adalah, bagaimana ia menghadapi perbedaan. Semakin hari, semakin banyak perbedaan yang dulu tak ternyatakan/dinyatakan, kini dilantangkan. Saya membayangkan anak-anak saya harus setegar karang memegang teguh keyakinannya …. aduh, bentar nangis dulu ya…;) namun di saat yang sama, ia harus selembut sutera untuk mengungkapkan keteguhan keyakinannya atau mengingatkan kesalahan orang lain.

Konsep yang indah, namun turunan operasionalnya panjang dan tak mudah.

Setegar karang memegang teguh keyakinannya.

Agar anak-anak memiliki keteguhan akan keyakinannya, maka saya harus menanamkan nilai-nilai yang saya yakini kebenarannya secara mengakar. Bagaimana caranya? membiarkan mereka bertanya. Berpikir kritis. Agar hati, pikiran, rasa, seluruh dimensi dalam diri mereka pada akhirnya terpuaskan dan semuanya meng-iyakan, semua memberikan alasan yang kuat untuk melakukan seluruh nilai-nilai kebaikan dan kebenaran Islam. Mereka paham dari segala sudut pandang; kenapa kita harus shalat, puasa, zakat, haji, menutup aurat, bekerja keras, jujur, menghargai orang lain, dll dll …sehingga tak ada logika apapun yang dengan mudahnya membelokkan value ini.

Dalam poin ini, mereka juga harus memiliki self confidence yang tinggi. Karena hanya seseorang yang punya kepercayaan diri yang tinggi-lah yang tak akan malu dan ragu untuk menunjukkan apa yang menjadi nilai dirinya. Ia akan percaya diri untuk berjilbab dengan benar disaat semua orang berlomba-lomba mengedepankan kemodisan dan mengorbankan kesyar’ian…Ia akan percaya diri untuk menjadi “berbeda”.

Selembut sutera untuk mengungkapkan keteguhan keyakinannya atau mengingatkan kesalahan orang lain.

Menurut saya, ada satu hal yang mendasari konsep ini. Cara pandang terhadap perbedaan. Saya teringat beberapa tahun lalu, seorang teman yang baru menikah “curhat” pada saya. Intinya, ia yang tinggal bersama kakak iparnya sedang merasa kesal pada kakak iparnya, karena kakak iparnya ini selalu menganggap perbedaan yang terjadi adalah “right or wrong”. Bukan “it just different”. Misalnya cara nyuci piring, cara ngejemur pakaian, ukuran sayuran untuk sop, tingkat kekeringan tempe goreng….Saya ingat, saya ngakak waktu itu. Tapi saya teringat lagi cerita teman saya ini saat ke tanah suci. Yups…ternyata cara bikin mie aja…kalau pola pikirnya “right or wrong”, cara saya yang benar, cara kamu salah, itu bisa bikin 40 hari berhaji, yang kesempatannya kemungkinan besar cuman sekali seumur hidup itu, menjadi amat tidak nyaman.

Jadi, menurut saya ada banyak hal yang seharusnya kita pandang sebagai “differensiasi”, saat ini banyak dimaknai sebagai “stratifikasi”. Bukan “kita berbeda”, tapi “saya benar, kamu salah”. Teko, hanya akan mengeluarkan isi teko. Cara pandang kita, akan terwujud dalam perilaku kita. Pilihan kata yang kita tulis/ucapkan, gestur yang kita tunjukkan….

Tapi benar, bahwa ada perbedaan yang sifatnya “benar-salah”. Saya jujur kamu mencontek. Itu salah satu contohnya. Dalam situasi-situasi seperti ini, maka mereka harus berani mengingatkan. Caranya? CARA …. ya, CARA … kebaikan yang dibungkus dengan sesuatu yang buruk, yang akan lebih tertangkap adalah CARAnya. Bungkusnya. Karena itu yang tampak pertama kali.

Maka, saya harus terus menanamkan nilai pada anak-anak saya untuk bersikukuh mengingatkan dengan cara yang baik. Apapun “norma sosial” yang berlaku saat itu. Tak menghinakan, dengan argumentasi yang dipahami lawan bicara.

Cara yang baik. Apakah ini cukup? Tidak…kalau kita hayati, apa sih yang membuat kita merasa harus BEREAKSI DENGAN KERAS (dan KASAR) terhadap suatu yang kita nilai kesalahan? sebenarnya harusnya bukan KERAS ya, namun TEGAS.

Satu hal yang saya hayati yang mendasari mengapa sebagian orang merasa harus BERSIKAP KERAS adalah karena bersikap keras dan “tak lazim”, salah satunya punya efek samping untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Berapa banyak orang yang namanya tak pernah kita dengar, prestasinya tak kentara, namun sangat akrab namanya di telinga kita karena ia begitu KERAS bersuara, meskipun apa yang ia suarakan tak bermakna. Tak mengenai sasaran. Tak tepat. Jadi, saya harus memberikan pengalaman yang membuat anak-anak merasa “he/she is someone”. Mereka adalah seseorang yang punya sesuatu untuk menjadi “eksis”. Sehingga ia tak perlu mencari eksistensi dengan cara-cara yang tak tepat.

Yang kedua, yang saya hayati, sikap KERAS dan OVER seseorang itu bisa jadi karena ia ingin menegaskan identitasnya. Ada banyak peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, yang mengaduk-aduk emosi dan mempertanyakan value diri kita; seolah-olah menantang kita untuk menunjukkan: SIAPA KITA. . Seharusnya, penghayatan SIAPA KITA itu, kita wujudkan dalam bentuk nilai-nilai yang merepresentasikan SIAPA KITA itu. Gak perlu kita yakinkan orang lain siapa kita dengan kata-kata. Orang lain akan menilai SIAPA KITA dari perilaku kita.

Hhhhmmmm…amat sangat berat. Oh, tenang …. ada jurus pamungkas. Baik buat saya ataupun buat anak-anak saya. DOA. Ia mampu mengubah takdir. Menembus masa lalu dan masa depan. Menembus kehidupan dan kematian. Keyakinan bahwa Allah itu ADA. Bahwa Ia, tak pernah tidur. Bahwa Ia, tak akan membiarkan kebenaran kalah oleh kesalahan. Bahwa tanganNya, akan selalu “ikut campur” dalam kehidupan ini. Bahwa kita bisa serahkan seluruh upaya kita mempertahankan keyakinan dan mengingatkan keburukan padaNya. Bahwa kita tak dibiarkan “sendirian” membela kebenaran. Bahwa kita tak perlu memaksakan cara yang salah untuk mempertahankan kebenaran. Bahwa Rahman-Rahimnya, akan selalu hadir di hati ….

Untuk anak-anakku…Rahima(s)  dan Abdurrahman(s). Semoga Allah selalu menjaga kita dalam kebaikan dan keselamatan ….

 

 

Mendengar(kan) Anak; Bagaimana Caranya?

Reaksi anak-anak saat saya tidak “konsen” mendengarkan cerita mereka :

Azka, si kelas 6 : “Ah, ibu mah gak dengerin….males ah” (pundung) //Umar, si kelas 3 : “Ibu, ibu teh dengerin mas Umar gak sih?” (marah) //Azzam, si dua tahun : “Ibu liat….ibu liat….ibu liat….” (sambil “menarik” dagu saya, menjadi menghadap dia) //Hana, si TK B : “Tatap mata saya….tatap mata saya…”

Itu adalah status yang saya tulis beberapa bulan lalu. Kejadian nyata. Lucu sih kalau dibaca, terutama reaksi Hana. Tapi sebenarnya harusnya saya malu dan menyesal. “Tidak didengarkan” itu, ternyata sangat “menyebalkan”. Tak percaya? coba saja hayati saat kita ingin banget bicara pada pasangan kita, trus pasangan kita “hare-hare”. Dengerin tapi sambil “main hape” (kalau istilah Hana). Atau dengerin tapi matanya tertuju ke layar laptop/TV, trus kalau kita tanya….ternyata tak ada satupun yang kita omongin yang “nempel”. Yang paling parah, adalah kalau dipanggil pun, susah banget nengoknya. Bayangkan, perilaku “menyebalkan” itu tanpa sadar kita lakukan saat anak butuh bicara pada kita. Pantas saja kalau kemudian anak-anak kita menjadi “tertutup” pada kita.

Mendengarkan. Tak semudah mengatakannya. Dalam bahasa Inggris, disebutnya Active Listening. Kenapa disebut aktif? Karena memang harus melakukan sesuatu, tak hanya “menerima”. Apa sih, yang kita harus lakukan sebagai tanda bahwa kita telah mendengar aktif atau mendengarKAN, bukan hanya mendengar?

Ada 3 hal yang harus kita lakukan jika kita ingin secara aktif mendengarKAN apa yang dikatakan anak pada kita.

(1) SENSING
Sensing adalah proses dimana orangtua memperhatikan sinyal  atau tanda yang diberikan anak saat berbicara. Kata-kata yang diucapkan, intonasi, kecepatan bicara, dan isyarat nonverbal.

Pada proses ini, ada 3 hal yang harus dilakukan orangtua. Daaaan….inilah “pintu gerbang” yang akan menentukan apakah anak akan terbuka pada kita atau tidak, apakah anak merasa dihargai dan dicintai atau tidak.

Tiga hal itu adalah :

Postpone evaluation. Orangtua mencoba untuk berpikiran terbuka dan menunda tanggapan sampai anak selesai bercerita. Menunda tanggapan kita sampai anak selesai bercerita.
• Avoid interruptions. Mendengarkan keseluruhan cerita anak tanpa menginterupsinya. No intteruption !!
• Maintain interest. Orangtua benar-benar berniat untuk mendengarkan cerita anak dan menunjukkan keseriusan niatnya tersebut melalui gestur tubuh. Syarat yang paliiiiiiing minimal adalah, seperti yang dilakukan Azzam dan Hana : tubuh kita mengarah padanya, dan kita melakukan kontak mata dengan anak.

Sebelum lanjut ke poin berikutnya, mari kita pejamkan mata dan mengingat-ingat bagaimana sikap kita saat anak berbicara sesuatu yang “tak berkenan” buat kita. Hhhmmm….saya, punya satu pengalaman terkait poin ini. Banyak sih, tapi yang saya inget  banget satu ini.

Suatu saat Umar bilang gini ke saya: “Bu, kenapa sih, rumah kita harus direnovasi jadi tingkat dua?”//jujur saya saya langsung kesel denger kata-katanya itu, mengingat sebelum renovasi dulu, dia yang paling ga sabar pengen cepet-cepet rumahnya dua lantai. Karena kesal itu, langsunglah saya memberikan tanggapan ….“Itu yang ibu gak suka dari Mas Umar. Mas Umar tuh gak pernah bersyukur. Dulu pengen banget rumahnya dua tingkat. Sekarang udah dua tingkat, masih mengeluh juga….” Kebayang kan, ekspresi saya saat mengatakan itu…Jadi saya gagal total melakukan proses MENDENGARKAN di tahap pertama. Saya langsung memberi evaluasi, langsung menginterupsi dan…boro2 menunjukkan interest kan….

active listening 3Beberapa menit kemudian saya sadar….kenapa ya, saya langsung memotong apa yang Umar sampaikan. Kenapa sebenernya dia ngomong gitu? Lalu saya pun bertanya pada dia…“Emang kenapa mas Umar tadi nanya gitu? mas Umar gak suka rumah kita jadi dua lantai? “. Dengan ekspresi ragu dia menjawab gini: “kan kata ibu renovasi itu mahal, ratusan juta. Nah, kenapa uang renovasi itu gak dipake umroh sekeluarga aja… kan kata ibu umroh sekeluarga juga 200 jutaan. Mas Umar pengen banget kita umroh sekeluarga. Jadi uangnya kan cukup buat umroh sekeluarga”…. Nyesssssss…..Nyesel ….hiks…coba kalau saya gak sempet sadar….keinginan  yang baik itu, tak akan pernah saya ketahui. Coba kalau tadi saya mau mendengarkan. Tanpa judgement terlebih dahulu…..Setelah mengetahui apa sebenarnya ayng ingin ia sampaikan, selanjutnya saya jelaskan mengapa prioritasnya adalah renovasi rumah dibanding umroh sekeluarga.

Itu ceritaku, apa ceritamu ? (nyontek iklan)

(2) EVALUATING

Evaluating adalah saat orangtua melakukan  proses memahami maksud cerita, mengevaluasi, dan mengingat isi cerita anak. Setelah memberikan perhatian, maka kita mencoba menangkap konten pembicaraan si anak. Apa yang harus dilakukan orangtua di tahap ini? ada dua hal.

• Emphatize. Orangtua mencoba memahami dan sensitif terhadap perasaan, pemikiran, dan situasi anak. Nah, proses ini susah-susah gampang. Untuk anak yang lebih besar, kadang mereka tidak “to the point”. Kita jadi kesulitan menentukan apa yang penting dan apa yang gak penting buat anak. Namun rumus sederhananya adalah, kalau sesuatu itu secara durasi, atau frekuensi atau intensitasnya menonjol, berarti hal itu PENTING buat anak. Durasi? Anak ngomongin satu hal secara detiiiil….panjaaaaaang….. Frekuensi? topik itu seriiiiiiiiing banget dibicarakan anak. Intensitas? ekspresi emosi anak, intonasi anak….

• Organize information. Mengorganisasikan informasi hingga mendapatkan poin-poin penting dari cerita anak. Anak punya keterbatasan untuk bercerita runtut. Itulah sebabnya kita harus “sabar” menunda tanggapan kita dan biarkan anak menyelesaikan ceritanya.

active listening 2Saya punya satu contoh mengenai proses ini. Beberapa bulan lalu, sekolah Azka mengadakan eduwisata Ke Singapur. Ga wajib semua anak ikut…. yang mau aja. Azka bukan orang yang frontal menyatakan keinginannya. Waktu dia memberitahukan hal itu dan bertanya apakah ia bisa ikut atau tidak, setelah membicarakannya dengan Mas kami menyatakan Azka tidak usah ikut. Kami sampaikan bahwa meskipun kami ada uang 5 juta untuk kesana, namun menurut kami itu gak sepadan dengan apa yang akan didapat disana. Lalu ke luar negeri pertama kali, lebih asyik kalau bersama keluarga. Oke… Azka si penurut gak protes. Selanjutnya, setiap hari Azka selalu bicara tentang si Singapur itu. Cerita gimana teman-temannya izin untuk bikin pasport, gimana teman-temannya berencana ini-itu, cerita gimana kelasnya cuman 3 orang yang gak ikut…. Dari situ saya menangkap, sebenarnya Azka pengen banget ikut. Ketika saya tanya…”Kaka sebenernya pengen ikut ya?” dia bilang “Engga bu…lagian…cuman 2 hari satu malam….ternyata acaranya cuman jalan-jalan aja….lagian..seruan nanti sama keluarga”. Temans….jangan “lega” dulu kalau anak memberi reasoning akan sesuatu. Apalagi kalau dia “mengutip” kata-kata orang dewasa, bisa jadi itu pemahamannya dari sisi “kognitif” saja, tapi penghayatannya berbeda.

Karena saya menangkap Azka sebenernya pengen banget, pernah suatu saat saya duduk di samping dia, saya bilang…“kalau ibu jadi Kaka, ibu pengen banget ikutan. Kan kayaknya seru banget ya….sama temen-temen….Tapi uang 5 juta itu besar Ka…kalau dibeliin barang, kaka bisa depet laptop, bisa dapet kamera DSLR…(abahnya memang pernah berniat minta Azka milih: ke Singapur atau kamera…cuman sebagai mentri keuangan, saya tidak meng-acc-nya 😉 … ke Singapur cuman 2 hari. Laptop dan kamera…bisa dipake bertahun-tahun. Kalau dikasihin ke orang, bisa bikin anak yang gak bisa sekolah jadi bisa sekolah. Bisa jadi modal usaha orang yang gak punya kerjaan….. Kadang-kadang yang kita inginkan itu, kalau kita pikirkan bukan pilihan yang terbaik”…begitu kata saya. Saya berusaha membuka sudut pandang anak yang biasanya melihat satu hal sari satu sudut pandang aja: sudut pandang dirinya. Gak tau tujuan saya berhasil atau tidak hehe…Sejak saat itu, Azka masih terus cerita soal Singapur. Tapi dengan didengarkan saja, sebenarnya kebutuhannya cukup terpenuhi.

(3) RESPONDING
Responding adalah saat dimana   orangtua menunjukkan isyarat perilaku untuk mendukung proses komunikasi selama anak bercerita. Proses yang perlu dilakukan orangtua pada tahap ini adalah :

• Show interest. Orangtua memperlihatkan ketertarikan terhadap cerita anak dengan mempertahankan kontak mata dan memberi komentar singkat seperti “Oh”, “Hmm”, atau “Lalu?”, atau “masa?” di jeda cerita yang tepat. Juga ortu menunjukkan respons yang “nyambung”. Teruatama untuk anak yang lebih kecil, yang suka cerita dengan ekspresif. Bukan tanpa tantangan …. karena kadang karena keterbatasan anak, ceritanya gak kita tangkap seutuhnya. Kalaupun berhasil kita tangkap, aduuuh….. kadang ceritanya “gak penting banget”. Hana yang sering kayak gini…misalnya dia dengan antusias cerita kalau  tadi temennya jawab apa….gitu…buat dia sih lucu banget…sampai dia ekspresif banget dan berulang-ulang ceritanya. Buat kita? kadang “garing” banget. Tapi kalau kita “potong” dengan tak memberikan respons yang sesuai, tak ikutan tersenyum, ketawa, membelalakkan mata…atau kita bilang “apa lucunya de?“….yakinlah itu cara efektif uantuk “memutuskan hubungan” dengan anak.

• Clarify the message. Orangtua mengungkapkan ulang inti cerita anak sambil menyamakan pemahaman dengan anak. Beberapa kali, kalau saya lagi riweuh, saya pura-pura dengerin dengan memberikan respons seperti …”oh gitu…masa…terus gimana…”. Tapi ternyata kepura-puraan saya akhir-akhir ini sering ketahuan Azka. Dia suka nanya…“apa coba bu, yang Kaka ceritain tadi”... dan gilenya….beneran …sering kali saya gak bisa jawab…jadi yang tadi Azka katakan saya denger…tapi kayaknya cuman gelombang suara aja, gak mampir untuk dimaknakan di otak ini…Kalau udah gini, maka Azka akan bilang : “tuh kan, ibu mah ga dengerin”. Kalau dia lagi good mood, saya minta ulangi lagi dia mau. Tapi kalau lagi bete, dia langsung masuk kamar dan nulis diary  hiks hiks…saya bisa nebak apa yang dia tulis 😉

Temans, we are not super mom. Dan kita gak dituntut untuk itu. We are human. Seringkali kita tidak bisa mendengarkan anak, bukan karena kita lagi sibuk wa-an bahas copras-capres. Seringkali kita tidak memberikan respons yang sesuai pada anak, bukan karena kita merasa terganggu karena lagi mantengin barang-barang online. Seringkali kita tak bisa menanggapi dan memberi perhatian pada anak karena kita sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk keluarga. Atau sedang ada pekerjaan yang mendesak.

Seperti yang saya alami 2 minggu lalu. Saya mendapat “amanah” baru di kampus. Waktu itu ada koordinasi yang mendesak. Hana jemput saya. Lalu di mobil dia bicara banyaaak. Saya harus koordinasi yang urgent. Saya denger dia bilang; “ibu, jangan ceting aja…dengerin teteh”. Saya bilang : “Teh, ibu ini ada yang penting banget, kalau ibu gak jawab sekarang, nanti tante **** harus pulang malem banget, kasian kan tante **** punya anak kecil. jadi ibu harus bantuin dia, lewat ngobrol ini”. Apakah ia mengerti? Beberapa menit kemudian, dia menyodorkan sebuah gambar. Isinya adalah orang dewasa lagi pegang hape, dan anak kecil yang nangis. Lalu ada tanda silang (x) di gambar hapenya. Setelah saya beres koordinasi, saya tanya…ini gambar apa? dia bilang “ini gambar ibu yang lagi ngehape terus. Ini gambar kakak yang gak suka ibu ngehape terus. Kakanya sedih jadi nangis”.

Mungkin teman-teman gak persis ngalamin peristiwa ini. Tapi mungkin pernah mendapat “protes keras” dari anak-anak. It’s oke….yang penting gimana kita memperbaikinya. Waktu itu, saya peluk Hana. Saya jelaskan sekali lagi dengan lebih detil situasinya. Lalu saya jelaskan situasi-situasi dimana saya suka mendengarkan dia dengan sepenuh hati. Saya berharap dia paham bahwa situasinya berbeda. Apakah itu cukup? saya pikir cukup. Tapi ternyata tdak saudara-saudara ! besoknya, dia masih mengungkit-ungkit hal itu…dia “nulis surat”, diselipin di agenda saya, trus bilang “ibu, ini surat isinya adalah, ibu jangan ngehape terus. ibu harus dengerin teteh”. Waktu saya bilang “kan ibu udah jelaskan kemarin…” dia bilang : “Tapi ibu belum minta maaf”….

Baiklah…ternyata eh ternyata…”minta maaf” adalah hal penting buat seorang anak. Tak hanya anak umur 5 tahun. Saya pernah mendengar beberapa anak remaja dan dewasa yang begitu amat ingat kesalahan ortunya, dan sangat ingat pula kalau orangtuanya belum meminta maaf. Jadilah saya waktu itu bilang sambil peluk Hana, “ibu minta maaf ya….”.…. ternyata saya dapat hadiah dari kesediaan saya minta maaf itu…sebuah gambar ynag isinya orang dewasa sedang pelukan sama anak kecil, dengan wajah tersenyum:)

Mendengarkan. Tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin. Karena ia tak mudah, maka efeknya pun tak kecil. Menumbuhkan perasaan dihargai dan dicintai. Menumbuhkan dan menguatkan hubungan emosi.  Dan good news-nya, kemampuan ini bisa dipelajari ! practice makes perfect.

active listeningSaya sering denger keluhan orangtua : “Anak saya gak mau dengerin saya”. Mungkin, anak kita tak mau mendengar karena gak dapet contoh gimana caranya mendengarkan itu. Karena ortunya susah “nengok” kalau diajak bicara, maka begitulah anak belajar jadi dia pun susah diajak bicara “face to face”. Karena kita biasa memotong bicara anak, mungkin anak kita merasa tidak salah kalau dia langsung “nyahut” kalau diomongin sesuatu.

Semoga kita dimampukan untuk tak hanya berbicara dengan baik, tapi juga mendengarkan dengan baik.

 

Bagaimana cara kita bermain dengan anak? (part one)

Akhir bulan lalu, saya mengikuti kuliah umum yang diselenggarakan oleh Majoring Klinis Anak di kampus. Materinya  adalah THERAPLAY. Pengisinya seorang alumni kami yang telah mengikuti pelatihan THERAPLAY dan praktisi dengan pendekatan ini. Bagi teman-teman psikolog maupun orangtua yang ingin tahu lebih dalam mengenai Theraplay, dapat membuka link http://www.theraplay.org. Informasinya cukup lengkap.

Theraplay is a child and family therapy for building and enhancing attachment, self-esteem, trust in others, and joyful engagement. It is based on the natural patterns of playful, healthy interaction between parent and child and is personal, physical, and fun. Theraplay interactions focus on four essential qualities found in parent-child relationships: Structure, Engagement, Nurture, and Challenge. Theraplay sessions create an active, emotional connection between the child and parent or caregiver, resulting in a changed view of the self as worthy and lovable and of relationships as positive and rewarding. Demikian yang tertulis di laman http://www.theraplay.org/index.php/theraplay/what-is-theraplay.

Bukan tentang Theraplay yang akan saya ungkap di tulisan ini. Karena saya belum tuntas baca bukunya. Yang akan saya paparkan adalah “refleksi” buat kita, para orangtua. Ada satu konsep yang amat menarik buat saya dari Theraplay ini dalam tataran praktis parenting. Hal itu adalah 4 kualitas penting dalam hubungan orangtua-anak; (1) Structure, (2) Engagement, (3) Nurture, (4) Challenge.

Karena 4 hal itu adalah hal yang sangat penting dalam menentukan kualitas hubungan orangtua dengan anak, maka 4 “ingredients” itu yang seharusnya ada dalam hubungan kita dengan anak-anak kita. Bagaimana caranya? melalui satu kegiatan yang jadi “main business” anak, yaitu : bermain !!!!

Saya akan mulai menjelaskan dahulu definisi dari masing-masing kualitas itu, apa “ujung” dari masing-masing kualitas itu, lalu akan mencoba menggambarkan aktivitas “bermain” dan aktifitas keseharian apa yang bisa kita lakukan untuk memenuhi 4 kualitas itu.

Penjelasan mengenai 4 kualitas hubungan ortu-anak berdasakan buku Theraplay: Helping Parents and Children Build Relationships Through Attachment-Based Play, Third Edition, 2010 dengan Authors: Phyllis B. Booth and Ann M. Jernberg adalah :

(1) Structure

Dalam hubungan ortu-anak, ortu bertanggungjawab terhadap keamanan dan kenyamanan anak, mengawali interaksi, mengorganisasi dan meregulasi pengalaman anak, menetapkan batasan dan menyediakan arahan. Hal ini amat penting agar anak menghayati perasaan aman. Konsekuensi dari structure yang diberikan ortu ini adalah bahwa anak bukan saja menikmati keamanan fisik dan emosional, namun mereka juga bisa memahami dan belajar mengenai lingkungan mereka dan mereka bisa mengembangkan kemampuan untuk meregulasi diri mereka sendiri. Structure yang diberikan oleh ortu memberikan pesan pada mereka : “You are safe with me because I know how to take good care of you.”

Anak-anak yang over aktif, kurang fokus, atau punya kecenderungan cemas membutuhkan structure dari orangtuanya. Tak hanya anak…orangtua yang regulasinya lemah, yang memberikan aturan lisan namun tak menjalankannya, atau mereka yang kurang tegas juga butuh ini.
(2) Engagement

Hubungan ortu-anak terutama dengan bayi penuh dengan hal-hal yang menarik dan menyenangkan, yang berujung pada engagement emosi (maaf, tak menemukan padanan bahasa Indonesia yang tepat untuk menjelaskan makna “engagement”). Coba kita saksikan seorang ibu yang sedang bermain dengan bayinya….si bayi begitu bersemangat dengan menatap, tersenyum, ber-hao hakkeng…dan si ibu tak kalah semangat merespons si bayi dengan beragam cara. mengkilikitik si bayi, bermain ciluk ba, dan beragam aktivitas yang  delightful, stimulating, and engaging…. yang ujungnya adalah…menumbuhkan self-image yang positif pada si bayi. Si bayi menghayati bahwa ia adalah “seseorang yang terlihat dan berharga”. Ia juga belajar untuk berkomunikasi, berbagi kedekatan dan menikmati hubungan interpersonal. Pesan yang dihayati anak dari ortunya adalah :  “You are not alone in this world. You are wonderful and special”

Anak-anak yang cenderung menghidari kontak dan  terlalu kaku membutuhkan engagement dari orangtuanya. Tak hanya anak…orangtua yang terlalu sibuk dan “gak tau gimana caranya menikmati waktu dengan anak” membutuhkan ini.
(3) Nurture

Dalam hubungan ortu-anak, amat banyak kegiatan yang sifatnya “nurturing”. Menyuapi, mengayun-ayun, memeluk dan banyak lagi. Apa yang dilakukan ortu tersebut akan meyakinkan, menenangkan, dan amat penting untuk membentuk hubungan yang aman. Ortu mengantisipasi kebutuhan anak, dan ini bisa menumbuhkan perasaan pada anak bahwa orangtuanya memahami dan memikirkannya. Sebagai hasil dari pengalaman bagaimana orang dewasa hadir dan menenangkannya serta menyayanginya, anak secara bertahap juga belajar mengembangkan kemampuan untuk menenangkan diri. Pesan yang dihayati anak dari ortunya adalah :  “You are lovable. I
want you to feel good. I will respond to your needs for care, comfort, and affection.”

Anak-anak yang over aktif, agresif, atau “kurang matang” membutuhkan nurture  dari orangtuanya. Tak hanya anak…orangtua yang punya masalah dengan sentuhan, yang cenderung abai atau suka menghukum membutuhkan ini.

(4) Challenge

Dalam hubungan ortu-anak, ortu sering memberikan “tantangan” pada anak untuk “mengambil resiko” yang ringan dan sesuai perkembangan anak. Lalu selanjutnya, ortu mensupport anak untuk menjelajah dan mendukung anak untuk mencoba aktifitas baru yang menumbuhkan perasaan kompeten dalam diri anak. Misalnya saat kita “menantang” si  tahun yang sedang berjalan untuk menghampiri kita…lalu memberikan tepuk tangan meriah dan pelukan hangat saat si anak sampai pada kita. Saat orang dewasa mendukung perkembangan anak dan menunjukkan perasaan senang saat si anak mencapai keberhasilan, anak menghayati perasaan percaya diri terhadap kemampuannya untuk belajar, untuk menerima tantangan dan untuk memiliki harapan yang realistis terhadap dirinya sendiri. Pesan yang dihayati anak dari ortunya adalah : “You are capable of growing and of making a positive impact on the world.”

Anak-anak yang pemalu, sering merasa takut dan pencemas  membutuhkan challenge dari orangtuanya. Tak hanya anak…orangtua yang terlalu menekan anak tak sesuai dengen perkembangannya, terlalu protektif dan terlalu kompetitif membutuhkan ini.

………………….

Baiklah….waktu sudah menunjukkan jam 23. 45. Saya harus segera tidur. Kalau tidak….saya bisa terlambat bangun, terlambat masak sahur daaaan….akibatnya akan dirasakan oleh seluruh isi rumah ini hehe…..

Part two-nya nanti, saya akan coba memberikan contoh gambaran aktivitas keseharian dan contoh permainan apa yang mengandung masing-masing kualitas di atas. Saya gak janji kapan tulisan itu akan muncul hehe….

Namun karena ini adalah tulisan reflektif, maka saya ingin mengajak teman-teman juga diri saya sendiri, untuk bertanya pada diri:

  • Apakah kita berinteraksi dengan anak-anak kita?
  • Apakah kita mengajak dan menemani anak bermain?
  • Jika “ya”, sampai usia berapa?
  • Jika “ya”, berapa lama sehari ?
  • Bagaimana kualitas interaksi kita?
  • Bagaimana kualitas permainan kita?
  • Apakah kita sudah memberikan structure, engagement, nurture dan challenge pada anak-anak kita?
  • Apakah kita membutuhkan structure, engagement, nurture dan challenge untuk diri kita?
  • Dari empat kualitas itu apa yang kurang ? pada diri anak ? pada diri kita?

messageDan dua pertanyaan super penting:

  • “Pesan” apa yang dihayati anak dari sikap kita terhadapnya?
  • “Pesan” apa yang disampikan anak melalui perilakunya pada kita?

Its never too late untuk memperbaiki hubungan dan meningkatkan kualitas hubungan dengan anak-anak kita. Dan itu bisa kita lakukan melalui kegiatan sehari-hari. Mudah. Asal kita mau.

Semangat !!!!

 

 

My Science Boy

Keunikan manusia, selalu menarik buat saya. Tak hanya menarik secara pikir karena keseharian saya bergelut dengan keunikan manusia. Tapi juga menarik secara rasa. Itulah sebabnya saya menikmati sekali keseharian dengan 4 anak saya. Karena ada 4, maka keunikannya pun menjadi amat beragam. Saya sedang excited untuk mengeksplorasi keunikan dari 4 anak saya. Memilihkan buku, memilihkan baju…saya coba sebagai media “mengasah kepekaan saya” terhadap keunikan masing-masing.

Semakin hari, lewat beragam situasi dan peristiwa, semakin menguatkan keunikan Azka, si kaka sulung kelas 6 ini. Yang paling menonjol adalah nurturance-nya. Sesuai namanya, Rahima. Penyayang. Perasaannya peka banget. Waktu kecil, ada buku-buku yang gak pernah tamat dibacakan karena dia selalu nangis gara-gara tokoh di cerita itu menderita. Secara kepribadian, dia sangat mudah beradaptasi dengan beragam situasi. Detil, dan senang dengan kepastian. Makanya ia sangat antisipatif. Dia adalah “anak baik”. Rajin belajar, taat pada orangtua, sayang pada teman….. Sangat mudah diarahkan. Istilahnya mah, kalau saya dan abahnya sebagai ortu ingin dia jadi apa, dia mah akan ikut aja dan bisa “ngikutin” walau mungkin tak sesuai dengan keinginannya. Nurturance, hafalan kuat, senang sama keteraturan, antisipatif, detil….. tampaknya ia akan senang di bidang social service. Dokter, perawat, psikolog, guru…. Dan memang cita-citanya konsisten sejak kecil. Dokter. Meskipun berubah-ubah antara dokter hewan, dokter gigi dan dokter anak. KEmampuan verbalnya juga menonjol. Sekarang lagi suka banget menulis. Setiap hari duduk di depan laptop. Kalau kemana-mana, bawa laptop juga. di mobil pun ngetik-ngetik. Kata guru bahasa Indonesianya waktu kelas 4 dulu, karangannya penuh dengan “rasa”.

Liburan ini, semakin menguatkan kami-saya dan mas- akan keunikan si nomer dua, Umar. Dia dan kakaknya, adalah langit dan bumi. Kalau kakaknya rajin belajar, dia gak pernah mau belajar. Kalau kakaknya suka keteraturan dan kepastian, si kelas 3 ini suka sesuatu yang tidak bisa ia prediksikan hasil akhirnya. Explorer. Itu kata yang tepat menggambarkannya. Kalau kakaknya senang dengan buku-buku yang ada alurnya dan bertema “kemanusiaan” – cinta, persahabatan, dll; maka Umar dari kecil dulu seneng banget sama buku-buku yang sifatnya “fact”. Dulu waktu masih 4 tahun, menjelang tidur buku favoritnya yang selalu dia minta  untuk saya bacakan sebelum tidur adalah … atlas dunia. Bacainnya gimana ? ini amerika, ini australia, ia belanda, ini alaska, dll. Lalu bendera-bendera. Setelah bisa baca, dia suka banget binatang. Dia punya buku ular. Hafal segala jenis ular. Lalu binatang melata…..pokonya yang aneh-aneh.Sekarang ini dia lagi seneng fisika. Dia punya buku Fisika bodoh. Channel yang dia suka? geografic channel. Cita-citanya? mulai jadi tentara, pilot, angkata laut, master chef, petualang, sampai sekarang ilmuwan.

Semakin kesini, minatnya semakin jelas, ke sains. Buku why-nya banyak yang tentang sains. Makanya obrolannya pun begitu. Pernah saya dan abahnya nguping dia ngobrol sama temennya gini:  “ayah kamu merokok engga? kalau merokok, jangan deket-deket ya, soalnya kalau kita menghirup asapnya, 7 detik asap itu udah nyampe otak kita. Terus akibatnya bla…bla..bla…” . Dipadu dengan kepribadiannya yang “berani berbeda”, maka akhirnya saya tak khawatir dia gak pernah mau belajar. Karena dia “berani” menerapkan pengetahuannya dalam situasi belajar. Kalau kakaknya, jawab dan ngasih contoh di ujian persiiiiiis sama catatannya atau yang ada di buku. Umar? selalu beda. Misalnya, waktu pelajaran Bahasa Indonesia mengenai “mendeskripsikan objek”. Begini deskripsinya mengenai ular: “aku binatang melata. Aku ada yang panjang, ada yang pendek. Aku ada yang berbisa, ada yang tidak berbisa. Aku ada yang besar, ada yang lecil. Aku ada yang bersuara, ada yang engga bersuara. Aku ada yang hidup di air, di bawah batu dan di pasir”. Gak jelas banget kan ? Tapi waktu dipanggil gurunya diminta menjelaskan, dia bisa jelasin kalau ular itu ada yang panjang banget, tapi jenis viper itu pendek-pendek. Teruuuus…dia jelaskan satu-satu yang ia tuliskan. Syukurlah saya menemukan sekolah yang menghargai perbedaan. Jadi justru dia dapat nilai plus.

sainsLiburan ini, saya belikan dia 5 paket sains. Saya ingat, dia seneng banget sama percobaan-percobaan. Dan memang begitu di rumah juga. Segala macem dicoba. Daaaan …dugaan saya terbukti. Dari sejak kado itu dibuka….sejak bangun tidur sampai tidur lagi….itu percobaan gak henti-henti dia lakukan. Dan tak hanya mengikuti manual saja, dia coba-cobain juga campurin ini-itu, lakukan prosedur ini digabung sama prosedur itu, sampai saya deg2an takut campuran zat-zat itu berbahaya…..Tapi  excitement itu amat tampak dalam binar matanya, pada semangatnya terus bertanya prosedur-prosedur yang tidak ia pahami (misalnya…”apa maksudnya sisihkan bu?”…”1/4 teh segimana?”). Sampai dia browsing sendiri webnya dan minta dibeliin paket lain.

Begitulah ia. Gak terlalu tertarik pada manusia, gak terlalu suka materi yang verbal, suka dengan percobaan, tertantang dengan ketidakjelasan, rasa ingin tahu sangat tinggi…..sejauh ini, saya dan mas yakin kalau bidang sains akan memuaskan rasa ingin tahunya. Jadi inget waktu dia begitu semangat presentasi mengenai bakteri yang ia temukan di booth yakult kidzania.

Gimana Hana dan Azzam? masih misteri dan masih menduga-duga…..udah ada “hipotesis” sih, tapi…perlu data-data untuk menguatkan 😉

Semakin hari saya semakin yakin kalau anak itu, mungkin benar bisa jadi apapun. Kita fasilitasi kognitifnya. Ikutin bimbel yang top, masuk ke sekolah-sekolah favorit. Masuk jurusan favorit. Berprofesi “hebat”. Tapi menjadi seorang ysng menjalankan profesinya nanti dengan hepi? Itu tantangannya. Dan psikolog-psikolog yang bergerak di bidang penjurusan atau bimbingan karir, pasti tau kalau gak semua orang mengetahui apa yang dia suka. Sering sekali klien-klien remaja yang akan menentukan bidang perguruan tinggi, menjawab “gak tau” saat ditanya apa yang ia suka, kegiatan apa yang membuat ia bahagia…. padahal ia cerdas. Secara kognitif ekstrimnya “bisa masuk jurusan mana aja”.

Tapi setelah berprofesi nanti, bukan kecerdasan yang menentukan. Minat yang lebih menentukan apakah ia menjalani profesinya dengan sungguh-sungguh melibatkan hati, atau hanya “mencari nafkah”.

Kalau kita lakukan profesi  yang kita suka, badan kita mungkin lelah. Pikiran kita mungkin terkuras. Tapi hati kita kaya. Perasaan kita bahagia. Kita merasa bermakna. Kenapa saya bisa tahu? karena saya sudah merasakannya.

Jadi, tak penting anak kita “jadi apa”. Selama dia tahu yang dia mau. Dan saat ia belum tau, tampaknya kita sebagai orangtua bisa membantunya. Apakah harus menjadi orangtua yang psikolog? tidak. Saya pernah ketemu ibu yang bisa cerita anaknya jauh lebih detil dari paparan saya di atas. Secanggih-canggihnya psikolog dan test psikologi, tak ada yang lebih canggih dibanding seorang ibu yang telah bersama anaknya 9 bulan sebelum lahir dan 24 jam setiap hari, setelah ia lahir sampai usianya saat ini. Asal, ia mau peka.

Selamat mengeksplorasi potensi, minat dan bakat putra-putri anda, temans…  It will very interesting.