ISTI : Ikatan Suami ……. Istri

“Yes Mam, Yes Mam, Yes Mam” …. pria paruh baya itu mengangguk-angguk di telpon. Dia adalah “bos” kami dalam sebuah projek. Kami bertiga, sedang mengerjakan projek yang cukup besar. Kami bertiga adalah : Pak Bos, saya dan seorang sahabat saya. Pak Bos adalah seorang pria paruh baya yang sangat expert di bidangnya. Meskipun kami satu tim, tapi sebenarnya beliau bagai mahaguru bagi kami yang masih unyu-unyu di bidang ini. Karen ake-expert-an nya, beliau juga menduduki jabatan penting di instansinya. Kami bertiga cukup akrab karena sudah saling mengenal cukup lama.

Pak Bos sudah selesai menelpon, dan kembali berhadapan dengan kami. “Dimarahin mbak **** ya Bang?” kata sahabat saya. Mbak **** adalah istri beliau, yang juga kami kenal baik.  “Iya nih… gue tuh udah gak boleh minum kopi sama dokter. Trus dia tuh kayak punya telepati gitu. Tauuu aja gue bandel” katanya sambil melirik secangkir kopi dihadapannya (di komunitas kami, biasa ber- elu gue antara senior dan junior). “Trus kayaknya gue harus pulang sekarang uy, **** titip beliin bahan-bahan kue. Mana gue gak tau lagi bahan-bahan itu bentuknya kayak gimana. Makanya agak lama kayaknya muter-muter di supermarket untuk tanya-tanya. Dia lagi seneng banget nyobaik resep-resep dari yutub” katanya. Lalu kemudian ia membagi tugas yang harus dikerjakan oleh masing-masing kami di rumah, untuk dibahas pada pertemuan selanjutnya.

Dulu, duluuuuu banget….saya akan menganggap tipe suami seperti Pak Bos adalah suami yang “tidak berwibawa”. ISTI. Ikatan Suami Takut Istri. Membayangkan wibawa nya di hadapan publik, diantara para stafnya, di lingkungan expertisenya, sangat kontradiktif dengan sikap dihadapan istrinya, seperti yang ia tunjukkan di telpon tadi. Takut Istri. Itu yang suka digambarkan pada sinetron-sinetron, terutama sinetron komedi yang memang sering mengeksploitasi kontradiksi.

Tapi setelah saya menikah, 5, 10, 15 tahun…. mengamati banyak pernikahan, membantu klien-klien dengan masalah pernikahan, saya menjadi punya perspektif baru terhadap para bapak-bapak yang “melepaskan wibawanya” saat sedang berada di hadapan istri. Tetap ISTI. Ikatan Suami Thayank Istri haha….

Yups… tidak mudah bagi seorang suami yang secara agama, kultural maupun sosial dipandang sebagai figur superior dibanding istri, mau “mendengarkan” apalagi “menuruti” kata istrinya. Ada berapa banyak para istri yang sudah menikah belasan bahkan puluhan tahun; tapi si istri tak berani, takut untuk mengingatkan sang suami, memberi masukan pada sang suami, mengerem suami dari perilaku yang kurang pas; baik untuk dirinya maupun ada orang lain.

Misalnya, mengingatkan suami untuk tidak merokok, mengingatkan suami untuk tidak impulsif posting sesuatu di medsos, mengingatkan suami untuk tidak genit pada wanita lain, mengingatkan suami untuk menyeimbangkan hobi pribadi dengan waktu untuk keluarga, mengingatkan suami untuk menyeimbangkan waktu mengejar karier dengan waktu untuk keluarga, mengingatkan suami untuk meninggalkan hal-hal kecil yang gak bermanfaat, mengingatkan suami untuk merubah akhlak buruk.

Setiap kali saya mengingatkan suami saya dari satu perilakunya yang kurang pas, saya selalu bilang : ” I do it because I love you. I care about you. Di usiamu saat ini, di posisimu saat ini, gak akan banyak orang yang berani mengingatkanmu. Bahkan mungkin gak ada”. 

Ya, saya berpegang teguh pada definisi “cinta adalah saling menjaga”. Dengan dua makna:

(1)  Makna yang terkait dengan hubungan kami berdua. Setelah mengarungi pernikahan 15 tahun, saya semakin yakin bahwa Allah menciptakan laki-laki dan wanita itu setara.

Teori bahwa laki-laki itu rasional dan perempuan itu emosional, itu gak berlaku dalam pernikahan. Yang ada adalah, dalam situasi tertentu suami lebih rasional, dalam situasi tertentu ia emosional. Sama dengan istri. Maka, ketika istri sedang emosional, suami bersikap tenang dengan kekuatan rasionalitasnya. Dan ketika suami emosional, istri bisa menjernihkan pikiran suaminya dengan keteduhan rasionalitasnya.

Laki-laki itu pelindung dan wanita itu makhluk lemah yang harus dilindungi? Totally wrong ! Iyesh, sering wanita butuh perlindungan suaminya lewat kekokohan pelukannya. Kala ia sedih, kecewa, disakiti, mengalami kegagalan, dll.  Tapi saya sudah menyaksikan berpuluh-puluh suami; yang tak ingin melepaskan genggaman tangan istrinya, yang merasa kuat saat istrinya berada disampingnya;  kala mereka sakit, kala mereka down, kala mereka takut…

Dua gambaran yang sebenarnya sudah bisa kita ketahui lewat kisah Rasulullah yang merasa takut dalam pelukan istrinya Khadijah saat mendapatkan wahyu pertamanya.

(2) Makna yang terkait dengan pasangan kita dengan lingkungannya. Dalam perjalanan hidup ini, kita butuh rem. Agar tak melaju di jalan yang salah. Agar kita menjalani kehidupan ini tidak dengan menutup mata, yang penting cepat. Agar kita punya waktu untuk selalu awas pada belokan-belokan kebenaran yang mungkin kita lewatkan.

Suami dengan rasionalitasnya, bisa jadi rem untuk istrinya. Dengan pikirnya, ia akan bisa membayangkan resiko-resiko, dan beragam elemen yang akan mengarahkan jalan istrinya di jalan yang benar.

Di sisi lain, suami langkahnya lebih panjang. Ia tak terikat anak-anak. Tak terikat rumah. Darahnya cenderung bergejolak memenangkan kompetisi dalam beragam bentuk. Maka, istri-lah yang bisa jadi rem. Membuatnya melambatkan larinya, mengajaknya berbincang agar sempat ia melihat sekeliling dan berefleksi, menemaninya mengevaluasi arah hidupnya, menariknya kembali pada nilai-nilai yang akan menjadi berharga saat di akhir hidup ia mengevaluasi perjalanan kehidupannya.

Tak ada yang otomatis terjadi dalam dunia ini. Itu adalah sunnatullahNya. Tak ada cinta yang begitu saja tumbuh dan menguat. Tak ada komunikasi dari hati ke hati yang begitu saja terlatih, tak ada rasa yang begitu saja menyatu dalam satu frekuensi, “hanya” karena usia pernikahan telah bertambah. 

Saya ingat suatu saat Pak Bos menasehati kami: “Bagi kalian, di masa-masa ini mungkin merasa hubungan kalian dengan suami baik-baik saja. Karena masing-masing fokus dengan urusan anak. Tapi ketika tak ada lagi anak-anak yang harus diurus, saat kalian berduaan kembali, di situlah kedalaman hubungan kalian teruji. Bukan tak mungkin kalian akan jadi bingung, apa yang harus diobrolin. Ngomong ini, takut menyinggung, ngomong itu, gak tau mulainya dari mana. Bukan tak mungkin kalian merasa saling asing; kalau proses saling mendekat, saling menyelami, saling mendengarkan dan saling menghargai itu tak terus diusahakan dan diperjuangkan. Lebih asyik ngobrol sama teman di luar rumah atau dengan teman kerja, jangan sampai itu terjadi” katanya.

loveSaya juga ingat seorang ustadz di ceramah tarawih ramadhan masjid salman tahun lalu, menyampaikan bahwa ketika seseorang memutuskan untuk menikah, maka berarti ia bersedia mengikutsertakan pasangannya dalam setiap pertimbangan perilakunya. Sekecil apapun, sebesar apapun, sehebat apapun konteks perilakunya.

Kalau memegang teguh nasihat ini, masalah pelakor dan pebinor mah ga ada arti apa-apa.

Maka, buat saya sekarang, seorang laki-laki yang berkata: “yes mam” atau “oke bos” pada istrinya, bukanlah suami penakut. Tapi ia suami penyayang. Yang menganggap kata-kata istrinya perlu ia dengarkan, yang menghayati bahwa ia butuh dijaga oleh istrinya, yang menganggap bahwa istrinya setara dan berharga. Seorang suami yang mencintai istrinya.

Advertisements

PAUD dan PR

Hari Kamis lalu, menjelang long wiken, saat saya tiba di rumah sore, si bungsu TK B bercerita bahwa ia dikasih “PR” sama gurunya. Apaaaah? anak TK dikasih PR? TK apa itu? pasti TK gak bener itu ! pasti cuman bisnis doang ! makanya, sebelum SD itu anak gak usah “disekolahkan”. Ibu adalah guru terbaik buat anak. Tuh kaaan…kalau disekolahkan anak dikasih beban yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Anak PAUD itu harusnya bermain yang kreatif bersama ibu, bukan dibebani dengan PR.

Kira-kira begitulah reaksi saya kalau dikomik-kan heheh #hiperbola. Yups, saya pernah membaca pendapat yang meng”haram”kan PR. Apalagi pada anak PAUD. Kenapa ya, gak boleh ada PR ? Kenapa anak PAUD gak boleh dikasih PR?

Oh…oh…saya tau jawabannya: Karena “PR” itu identik dengan “akademik”. PR menghafalkan perkalian. PR ngerjain berlembar-lembar soal. Kadangkala, konon katanya PR dijadikan alat bagi guru-guru yang “malas” menjelaskan materi. Jadi murid dikasih PR yang belum dijelaskan materinya. Itulah sebabnya PR, konon juga katanya jadi pintu gerbang buat ibu-ibu yang gemesh sama anaknya yang gak ngerti materi pelajaran, dan melakukan KDRT dengan verbal : “masa gitu aja gak bisa?” atau dengan perilaku : mencubit, menjiwir, memukul. Duh, bahaya banget ya dampak PR itu 😉

Nah, bener-bener…kalau anak PAUD dikasih PR, bahaya banget tuh… padahal, setiap kali saya sharing sama ibu-ibu maupun guru TK, saya selalu bilang : “sekolah formal” pertama anak-anak itu adalah SD. SEKOLAH Dasar. Kalau TK, ya bukan sekolah. Namanya juga TAMAN. Secara filosofis nama juga beda. 

Oke…oke…kalau ngasih PR ke anak TK itu adalah “malpraktik” pendidikan anak usia dini, pasti anak akan terbebani, kesel, males, muncul emosi negatif. Baiklah, mari kita amati si bungsu…

Waktu si bungsu ngasih tau bahwa dia punya “PR” dari bu guru, kenapa dia memberi tahu saya dengan wajah “sumringah” ya? “Bu, de Azzam dikasih PR sama bu guru. Ibu tau gak PRnya? de Azzam harus bikin makanan atau minuman kesukaan de Azzam. Terus, pas bikinnya, de Azzam harus di video-in, terus dikirim ke bu guru. Gitu bu…de Azzam, gak sabar pengen ngerjain PRnya ! bikin apa ya bu? bikin nutrijel, de Azzam udah bisa sendiri belum? harus sendiri bu, jadi harus pilih bikin-bikin yang de Azzam gak perlu bantuan ibu dan abah”

Hhhmmm….aneh nih. Kan harusnya anak stress ya kalau dikasih PR, tapi ini kenapa gak stress ya? malah antusias. Yang salah teorinya atau anaknya ya? Seinget saya, ini memang bukan kali pertama si bungsu dapat “PR” dari gurunya.

Beberapa bulan lalu, pas long wiken juga, si bungsu dikasih PR menggambar. “Kata bu guru, menggambarnya jangan langsung sekali, harus dicicil tiap hari sedikit-sedikit. Biar bagus. Idenya harus kreatif”. Dan pesan gurunya, dia amalkan sepenuh hati. Tiap pagi dia akan mengingatkan saya untuk “temenin bikin PR menggambar”. Lalu seperempat jam kemudian, dia berhenti : “Kan kata bu guru gak boleh langsung selesai, biar bagus. Besok dikerjain lagi”. Dan jadilah gambar itu, hardfilenya dikumpulkan ke bu guru, softfilenya saya kirim ke majalah bobo junior, yang ternyata 2 minggu kemudian dimuat. Wah, bahagia sekali si bungsu (dan emaknya hehe).

PR lainnya yang saya ingat adalah : membuat roket dari barang bekas. Hasilnya dikirim via foto di grup wa. Ngerjainnya sama papanya masing-masing. Waaah…gile..kreatif-kreatif ternyata para papa memberikan ide dan mengerjakan “PR” itu bersama anak-anaknya. Akhirnya, setelah 2 minggu karena si abah lagi padet di luar kota, roket si bungsu pun jadi. Waktu bikin, dia semangaaat banget. Sampai pas udah jadi, sebelum dikumpulkan (dan ternyata hanya diperlihatkan aja sama bu guru, selanjutnya dibawa pulang lagi), dia pajang di lemari. Sesekali diambil, dipeluk, dicium-cium sambil muji diri sendiri : “ternyata de Azzam, bisa bikin roket yang bagus ya”.  Saking terharunya bu guru karena anak-anak begitu antusias mengerjakan, bu guru pun membuat gantungan kunci buat anak-anak, bergambar foto masing-masing anak dengan roket buatannya. Gantungan kunci itu jadi kebanggan si bungsu.

PR lainnya yang saya ingat adalah, sebulan lalu bu guru minta anak-anak yang sudah bisa menulis untuk menulis kata, yang berawalan huruf tertentu. Hurufnya berurut mulai dari a,b,c,d, dst per hari. Si bungsu yang termasuk sudah terlatih motorik halusnya dan sudah bisa mengeja, juga semangat mengerjakan “PR” ini. Meskipun dia bilang: “Bu guru engga bilang harus nulis berapa kata, katanya terserah. Kalau de Azzam tulisannya kecil, berarti harus banyak. De Azzam mau tulisannya besar aja aaah….biar sedikit kata-nya”. Cukup menyenangkan menemaninya mengerjakan PR ini. Terutama ketika si bungsu “mikir” kata apa yang berawalan huruf tersebut, lalu terpikir satu kata yang lucu: seperti “cangcut dan dodolipret” 😉

Dan, PR membuat makanan kesukaan ini, akhirnya dikerjakan dengan tak kalah antusiasnya dengan PR-PR nya sebelumnya. Saya jadi penonton, si abah jadi kameramen. Dia sudah memutuskan akan membuat telor ceplok kesukaannya. Mulai dari memecahkan telur, memasukkan ke wajan, membalik telur, sampai mengangkat ke piring. Menyalakan dan mematikan kompor, di hasil video terlihat tangan si abah membantu hehe… Sambil melakukan aksinya, gaya si bungsu udah kayak youtuber-youtuber gitu, Meskipun gak pake kata “gays” ya kkk… “Haloo…kita akan membuat ceplok telor…oke, kita mulai saja….”.

Kemarin, ketika saya pulang sore, dia cerita : “Bu, yang kirim video ke Bu Guru cuman bertiga. Dia sebut nama temannya dan apa yang dibuatnya. Gak apa-apa gak ngumpulin juga. Tapi yang ngumpulin dikasih kertas stiker …yeay….

PR2Nah..dari pengamatan saya terhadap jenis PR, sikap si bungsu terhadap PR dan sikap bu guru terhadap PR, saya jadi bisa menyimpulkan : Bukan “Ada PR” atau “Tidak ada PR” yang menjadi inti permasalahan. Tapi yang harus kita cermati adalah:

(1) Apa tujuan PR? Menurut saya, di jenjang pendidikan manapun, tujuan memberi PR atau tugas, akan menentukan bentuk PR apa yang diberikan dan bagaimana sikap siswa terhadap PR tersebut. Misal, di sebuah Perguruan Tinggi nun jauh disana, PR yang diberikan dosen pada mahasiswa adalah menerjemahkan buku/chapter buku. Lalu hasil PR mahasiswa tersebut, di klaim sebagai kinerja menerjemahkan buku untuk kepentingan dosen tersebut. Nah, kalau tugasnya macam ini, mahasiswa gak merasa ada manfaatnya buat dia. Ya, kalau dibikin-bikin sih bisa ada aja. Tapi kalau secara tulus kita hayati, mahasiswa bisa jadi gak dapet apa-apa dengan tugas semacam ini. Saya sendiri sebagai dosen merasakan; ketika merancang tugas/PR itu, tidak mudah. Harus kita hayati betul bentuk aktifitasnya seperti apa, tingkat kesulitannya, lalu nanti bentuk feedbacknya seperti apa.

(2) Bentuk PRnya seperti apa? Setelah saya ngobrol dengan bu guru, ternyata bentuk-bentuk PR yang diberikan pada anak-anak itu, adalah upaya bu guru agar anak-anak terisi waktu luangnya dengan kegiatan yang menstimulasi daya kreatifitas dan kemandirian anak. Maklum, saat libur, para ortu mengeluh ke bu guru: “anak-anak kalau di rumah main gadget terus”. Saya sih gak ikut mengeluh karena saya tahu bahwa  kalau  saya mengeluh begitu, senjata makan tuan buat saya. Kenapa ibu kasih gadget dan gak nemenin anak main? Gak mungkin dong anak  umur 5 tahun main sendiri sementara emaknya gadget-an ;). Dan tugas-tugas tersebut, disesuaikan tingkat kesulitannya dengan kemampuan anak. Juga disesuaikan dengan kondisi “jaman now”. Misal mengirim PR berbentuk foto dan video ke wa bu guru 😉

(3) Reward/punishment terhadap PR. Apakah anak-anak yang tidak mengumpulkan PR diberi hukuman? tidak. Yang mengumpulkan yang diberi reward. Pas dengan tahap perkembangan anak.

Maka, dari pengalaman ini saya mendapatkan satu pelajaran : jangan terjebak nama/istilah. Kita biasakan untuk mengamati (atau bahasa kerennya “menganalisa”) elemen-elemen dari suatu kejadian. Ada banyak keterjebakan yang bisa kita hindari dengan pola seperti ini : mengamati elemen-elemen dari suatu kejadian. Katanya itu yang namanya CRITICAL THINKING. Itu yang membedakan manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna dengan makhluk lainnya : manusia diberi akal. 

Apalagi para emaks jaman now yang mengalami tsunami informasi : kata pakar ini boleh, kata ahli ini gak boleh, kata BC-an yang ini harus begini, kata BC-an yang itu gak boleh begini…

Ketika Allah mentakdirkan kita menjadi ibu, maka Allah sudah menganugerahi potensi untuk berpikir, merasa dan bertindak yang paling tepat bagi anak-anak kita. Ya, ilmu pengasuhan harus kita cari untuk mengaktivasi potensi tersebut. Lalu kemudian, curahkan energi kita untuk mengamati anak, mengamati elemen-elemen kejadian dalam persoalan anak. Kalau ada kebimbangan, diskusikan dengan orang yang kita percayai keilmuannya. Insyaallah, kita akan rileks dan tenang dalam menjalani beragam perjalanan bersama buah hati. Itulah hakikatnya “bukan emak biasa” (yang perlu bukunya inbox ya..haha….pesan sponsor)

Sang Rahim

Terbanglah anakku,
terbanglah setinggi yang kau mau,
terbanglah setinggi yang kau bisa

More

PAUD : Yes or No? (studi kasus pola pikir para emak)

Awal semester lalu, saya dimintai bantuan oleh salah satu Taman Kanak-Kanak (TK) untuk sharing pada orangtua siswa baru di TK tersebut; temanya “pentingnya pendidikan anak usia dini”. Saya berusaha memikirkan apa yang akan saya sampaikan dalam acara sharing tersebut. Saya mengumpulkan buku-buku terkait topik tersebut, berusaha merenung apa yang kira-kira dibutuhkah oleh para mahmud (mamah muda) yang menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan prasekolah tersebut.

Dalam perjalanan ke kampus, salah satu wa grup yang saya ikuti mengirimkan sebuah tulisan. Tampaknya tulisan tersebut sedang viral di hari itu, terbukti beberapa wa grup yang saya ikuti, juga menyebarkan tulisan tersebut. Judul tulisan tersebut adalah “jika anak sekolah terlalu dini”. Sepertinya kalau di googling gampang ketemu.  Ada 14 poin yang dipaparkan dalam tulisan tersebut, intinya menyampaikan argumen di bawah usia 5 tahun, anak tidak perlu bersekolah. Poin ke-12, cukup bikin saya kaget. Memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker. Kita tidak tahu kapan kanker akan muncul & dlm jenis apa. Otaknya belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan ia kehilangan motivasi belajar. ……..

Saya yakin, penulis memiliki data yang menjadi dasar dari apa yang disampaikan. Saya sendiri belum punya data mengenai hal ini. Kalau ada lembaga yang bisa menyediakan data; misalnya yayasan yang punya PAUD, SD, SMP, SMA; sangat senang sekali kalau litbangnya mengajak saya bekerjasama melakukan penelitian. Membandingkan anak-anak yang “sudah sekolah” sebelum usia 5 tahun dengan anak-anak yang “tidak sekolah” sebelum usia 5 tahun dari berbagai aspek pada saat dia usia SD, SMP, SMA. Dari situ kita bisa punya fakta empirik yang sahih untuk mengatakan apa dampak “sekolah terlalu dini” bagi perkembangan anak selanjutnya.

Saking bikin seremnya poin tersebut, saya sendiri jadi mempertanyakan keputusan saya menyekolahkan 4 anak saya sejak mereka berusia 2 tahun. Kelompok Bermain 2 tahun, TK A 1 tahun, TK B 1 tahun. Waduh…. anak-anak saya udah 3 tahun sekolah sebelum mereka mencapai usia 5 tahun ! gawat banget nih…separah apa nanti kanker yang akan mereka derita ya? Serendah apa nanti motivasi belajarnya?

Lalu saya mengingat-ingat lagi alasan kenapa saya menyekolahkan anak-anak sejak mereka usia 2 tahun. Alasan utama adalah karena saya bekerja. Di rumah, anak-anak didampingi oleh pengasuh yang baik dan responsif, tapi jelas tidak bisa diharapkan menstimulasi secara terstruktur dengan optimal. Kalau begitu, harus berhenti kerja dong…masa ibunya S2 anaknya diasuh lulusan SMA. Berarti pekerjaan lebih berharga dibanding anak dong… Ah, saya mah udah bertahun-tahu lalu selesai dengan pergulatan itu. I love my job, because it’s not only job. It’s my ikigai.

Melakukan aktifitas pekerjaan saya: mengajar, berdiskusi dengan mahasiswa, membaca, praktek psikolog, selalu mengisi jiwa saya. Pulang ke rumah, tubuh saya lelah tapi jiwa saya rasanya terisi penuh. Jiwa yang sudah tercharge- full  itulah yang membuat saya punya energi untuk mengasuh anak-anak. Banyak hal dari luar rumah yang saya bawa ke rumah. Baik itu penghayatan, pengetahuan, keterampilan, dan banyak hal yang menjadi bekal untuk memberikan banyak hal pada anak-anak saya.

Kalau kata si abah : “sebenernya aku lebih suka dirimu di rumah. Tapi aku tau dirimu pasti gila kalau gak menjalankan profesimu. Jadi aku ridho dirimu beraktifitas di luar rumah”.  Jadi, saya mencintai anak-anak saya, tapi saya juga mencintai pekerjaan saya. Dan dalam kondisi saya, feasible untuk punya pilihan AND, bukan OR. My children AND my job; not my children OR my job.

Maka, jadilah saya mencari partner yang bisa memberikan stimulasi yang tidak bisa saya berikan selama saya beraktifitas di luar rumah. Partner yang paling gampang adalah sekolah. Paud. Play Group, TK A dan TK B. Setelah mencari-cari kesana kemari, ketemu lah saya sama sebuat sekolah yang “pas”dengan kebutuhan saya. Guru-gurunya responsif. Anak-anak saya yang perempuan, cenderung butuh waktu lama untuk adaptasi di lingkungan baru. Dan selama masa adaptasi itu, bu guru tak segan menggendong, memeluk, memangku anak-anak saya sampai mereka pelan-pelan merasa nyaman bergabung dengan teman-temannya. Ketika anak-anak gak mau ditinggal, guru-gurunya punya teknik “memisahkan” anak dengan orangtua yang efektif. Sehingga meskipun pas ditinggal nangis-nangis, 5 menit kemudian saya telpon gurunya, anak saya udah “lupa” aja…..atau bahkan bu gurunya yang proaktif memfoto 5 mrnit kemudian, mengirimkan pada saya.

Ah, tapi itu kan pengalaman subjektif sama. Pendapat saya pribadi. Bias ah….Aha….saya pun punya ide. Jadilah materi sharing di TK yang tadi saya ceritakan di awal, formatnya tidak ceramah dan tanya jawab seperti biasanya. Saya print artikel “Bila anak sekolah terlalu dini” tadi. Ada sekitar 80 orangtua yang hadir pada pertemuan itu, saya bagi menjadi sekian belas kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 orangtua.  Pada masing-masing kelompok, saya bagikan artikel tersebut, lalu saya beri waktu 30 menit untuk mendiskusikan.

Ada 3 hal yang saya mintakan:

(1) Menyimpulkan isi artikel itu dan menyampaikan dengan bahasa ibu-ibu sendiri (konon kan katanya emak-emak jaman now semangat menshare-nya jauh lebih besar dibanding semangat membaca isinya. Seringkali keputusan menshare cukup dengan membaca judulnya saja)

(2) Menyampaikan pendapat mengenai isi artikel tersebut. Adanya fitur “copy” dan “share” juga membuat kita jadi gak terbiasa mengolah informasi dan menyampaikan gagasan kita sendiri terhadap informasi itu.

Setelah 30 menit berlalu, beberapa kelompok saya minta mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.

Proses dan hasil diskusi yang terjadi, membuat saya bangga sama emak-emak yang hadir di ruangan tersebut.

Saya rangkum poin pendapat peserta mengenai isi artikel tersebut.

(1) Bahwa dalam artikel tersebut, ada poin-poin yang mereka setujui

Contohnya pernyataan: “Permainan terbaik adalah tubuh ayah ibunya! Bermain dengan ayah ibu juga menciptakan kelekatan. Misal: bermain peran, bermain pura-pura, muka jelek, petak umpet”.

(2) Sebagian poin-poin dalam artikel tersebut tidak mereka setujui

Contohnya pernyataan: Anak di bawah usia 5 tahun belum saatnya belajar sosialisasi. Ia belum bisa bermain bersama. Mereka baru bisa bermain bersama-sama. Bermain bersama-sama= bermain diwaktu & tempat yang sama namun tdk berbagi mainan yg sama (menggunakan mainan masing2). Bermain bersama= bermain permainan yg membutuhkan berbagi mainan yg sama.

Berdasarkan pengalaman ibu-ibu yang mempresentasikan hasil diskusinya, anak usia 4 tahunan udah bisa main bareng. Dan menurut teori pun, potensi anak untuk cooperative play memang sudah dimiliki di usia 4 tahun.

Bersosialisasi, berdasarkan hasil diskusi, adalah tujuan utama ibu-ibu menyekolahkan anak-anaknya di PAUD. Mengapa? peserta menyatakan bahwa mereka menghayati kemampuan sosialisasi adalah kemampuan penting untuk anak. Sosialisasi meliputi kemampuan untuk berbagi, bekerjasama, mengatasi konflik misalnya. Salah seorang ibu yang mempresentasikan mewakili kelompoknya menyatakan bahwa anaknya baru satu, di lingkungannya tidak ada teman sebaya.

Kenapa engga sosialisasi sama orangtuanya saja? Ya, saya memang tidak bekerja, punya waktu banyak main sama anak, kata ibu tersebut. Tapi saya lihat pola sosialisasi sama teman sebaya, misal kalau main sama sepupunya, itu beda dibanding sama orangtuanya. Kalau sama sebaya kan egonya sama, jadi saya liat dia juga belajar keterampilan yang dia gak dapat kalau interaksinya sama orangtua; begitu pendapatnya.

Seorang ibu yang lain menyampaikan bahwa walaupun anaknya punya 3 kakak, ia pun menilai bahwa interaksi dengan teman sebaya itu berbeda dengan interaksi dengan yang tidak sebaya. Dan itu mereka rasa penting.

(3) Artikel ini tujuannya bagus, namun cara penyampaian di artikel itu menurut peserta terlalu “judgmental”;  satu perspektif, tidak membuka peluang adanya perspektif lain.

Misal kalimat : “Betapa kita disiapkan untuk menjadi ahli namun tdk disiapkan jadi orangtua, shg tidak punya kesabaran & endurance utk jadi ortu”.

Menilai orangtua yang menyekolahkan anaknya di PAUD sebelum usia 5 tahun berarti orangtua tersebut tidak punya kesabaran dan endurance untuk jafdi ortu dinilai terlalu judgmental oleh para peserta.

(4) Ada pertanyaan juga terkait dengan pernyataan “memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker”; beberapa ibu menyampaikan, ia mengamati bahwa anak-anaknya atau anak-anak yang ia kenal yang sekolah sejak  usia kecil, tampak baik-baik saja. Apakah sekolah dini hanya satu-satunya faktor yang bisa menyebabkan anak jadi bermasalah? atau ada faktor lain ? 

Menurut saya, pertanyaan itu adalah pertanyaan keren banget, yang mengantar kami pada diskusi selanjutnya ….

HAsil dari diskusi itu adalah :

Hasil “baik” atau “buruk” dari keputusan memasukkan anak ke PAUD, tergantung dari beberapa hal :

  1. Kondisi anak
  2. Kondisi orangtua
  3. Kondisi sekolah dan guru

Jadi, kesimpulannya,

memasukkan anak ke PAUD “Iyesh” kalau:

  1. Anak enjoy sekolah. Di awal semester, anak “engga betah” itu wajar. Anak nangis ditinggal ortu itu wajar. Kalau sesudah itu anak gak ngamuk-ngamuk  setiap hari saat harus sekolah, gak marah setiap kali diingetin harus sekolah, berarti baik-baik saja.
  2. Ibu bekerja, atau ibu di rumah tapi ibu merasa tidak akan punya waktu berkualitas untuk menstimulasi anak. Misal : ibu gak punya pembantu, jadi sebagian besar waktunya dipakai untuk beberes rumah, dll. Anak bersama ibu sih di rumah, tapi gak diapa-apain. Atau malah jadi objek kemarahan. Atau ibu punya waktu luang, tapi gak tau harus menstimulasi anak dengan cara gimana. Bingung gimana harus menyikapi anak, gak tau perilaku anak di usia segini wajar atau engga, perkembangan kayak gini telat atau engga. Pengalaman saya, jenjang pendidikan tinggi dan tingkat kecerdasan ibu tidak otomatis sejalan dengan pengetahuan dan keterampilan mengasuh. Ya, ada beberapa keterampilan dasar yang harus dan bisa dimiliki ibu. Tapi tentu tidak semua ibu punya kompetensi menyusun kurikulum, melakukan evaluasi dari aspek-aspek yang harus distimulasi pada anak-anak usia prasekolahnya.
  3. PAUD itu semuanya bisnis? mungkin ya. Saya sendiri gak punya data, belum pernah mensurvey dan gak punya indikator yang dinamakan PAUD adalah bisnis itu kayak gimana. Mungkin benar. Tapi minimal, ada 2 PAUD di Bandung, yang saya tahu persis tidak berorientasi bisnis. Dua PAUD ini saya bantu sejak beberapa tahun lalu. Salah satu PAUD, bahkan membiayai full anak-anak dhuafa dengan latar belakang pemikiran, anak-anak ini sangat terlantar. Ibu-ibunya rata-rata pembantu rumah tangga, rumahnya cuman sepetak. Anak-anak ini ditinggal di rumah. Kadang sendirian, kadang dititipin tetangga; sering dimarahi, bahkan dipukul; mainan boro-boro punya, pengetahuan ibu-ibu untuk kreatif menggunakan alat yang ada di rumah untuk mainan anak boro-boro… Nah di PAUD, mereka dipegang oleh guru-guru yang punya pengetahuan dan keterampilan lebih baik dibanding orangtuanya. Orangtua anak-anak dhuafa itu, diwajibkan mengikuti program sekolah ibu. Saya membantu menjadi fasilitatornya. Di sana ibu-ibu dikasih tau kenapa mukul anak itu gak boleh, ibu-ibu akan belajar latihan gimana caranya kalau lagi kesel sama suami, atau lagi pusing gak punya uang, jangan sampai melampiaskan ke anak. Di PAUD satunya lagi, saya membantu guru-guru menangani kasus-kasus anak dimana para guru itu butuh “second opinion” dari psikolog anak.  Misalnya anak usia 4 tahun, belum bisa toliet training karena ibunya single mother harus bekerja.  Di rumah pake pampers terus, karena tinggal di rumah nenek dan nenek sudah renta, gak mau rumah bau pesing dan gak kuat harus melatih anak toliet training. Di sekolah tersebut, salah satu aturannya adalah anak gak boleh pake pampers di kelas. Meskipun beberapa ibu terutama ibu-ibu playgroup suka “nego” karena khawatir anaknya ngompol, tapi guru-guru di sekolah ini akan mengatakan : “gapapa bu, kalau ngompol tinggal di pel”. Dan mereka konsisten … setiap berapa jam sekali anter anak-anak pipis lah, pup lah…. termasuk si anak 4 tahun tadi. Guru-guru itu yang kemudian mengajari dan meyakinkan si orangtua untuk “berani” melepas pampers anak, menyadarkan ibu apa dampak jika itu tak dimulai sekarang, dll.

Sebaliknya, memasukkan anak di bawah 5 tahun ke PAUD “NO” jika :

  1. Anak sama sekali gak pisah dari ibu. Misalnya mengalami “separation anxiety” (harus didiagnosa sama psikolog), atau anak punya banyak teman sebaya di lingkungan rumah, bisa main bola, main sepeda, masin boneka bareng sama temen-temen di rumah. Atau anak nangis tiap ada PR, sakit perut tiap mau berangkat sekolah.
  2. Ibu, bisa memanage dirinya sehingga punya energi emosi yang berlimpah. Misal anak ikut nyuci, anak ikut masak, meskipun lama tapi ibu gak marah, anak enjoy belajar banyak hal. Anak selalu ngeberantakin mainan, ibu bisa tenang aja, lalu ibu punya waktu mendengarkan anak, mengajak anak main dengan playful. Ibu kreatif mempersiapkan aktivitas beragam buat anak tiap hari, sehingga gak cuman fisik aja bareng sama ibu di rumah, tapi ada interaksi yang berkualitas. Aturan bisa ibu tegakkan dengan tegas.
  3. Gak nemu sekolah yang “ramah anak”. Misalnya, PAUD yang ada hanyalah PAUD yang dari mulai anak 3 tahun sampai 5 tahun, pelajarannya adalah menjumlah dan mengurang. menulis huruf sambung. Yang gak bisa gak boleh pulang. Anak ada PR sekian lembar menulis dan menghitung. Guru-gurunya “galak”.

paudBegitu sih rambu-rambunya menurut saya. Intinya adalah, bahwa anak usia dini perlu mendapatkan stimulasi/pendidikan; IYESH. Golden age tea…. Bahwa bentuknya dengan “sekolah” PAUD, atau dengan ibu di rumah, atau melalui aktifitas lainnya, itu bisa berbeda keputusannya antara satu ibu dengan ibu lainnya. Yang penting bertanggung jawab dan memahami hakikatnya. Stimulasi. Apapun pilihannya, kalau didasari oleh kepedulian, pasti ada upaya mengevaluasi. Gimana proses belajar di sekolah ini? Gimana proses stimulasi di rumah?

Saya ingat, dalam salah satu kesempatan, saya membantu acara “parents meeting” di acara pembagian raport di sebuah PAUD. Modelnya, guru akan memberikan raport sambil menjelaskan perkembangan anak selama 1 term sekolah pada orangtua, lalu saya mendampingi untuk menjawab pertanyaan orangtua terkait masalah anaknya. Ada salah seorang anak, perkembangannya bagus banget. Melampaui anak-anak seusianya, di usia 4 tahunan. Si ibu itu bilang: “iya, dia udah sekolah dari umur 6 bulan bu. Waktu itu kan saya baby blues gitu, saya tuh kerjaannya nangis aja, merasa gak mampu gitu jadi orangtua, nyusuin gak bisa..kalau lama-lama gendong bayi tuh rasanya jadi gak sayang sama bayinya. Ya udah sama suami saya akhirnya anak saya diikutin sekolah bayi gitu…yang dipijet-pijet, terus distimulasi apa gitu…pas merangkak, terus pas jalan, terus melompat gitu…di XXX (ia menyebutkan sebuah lembaga  pendidikan anak ternama). Nah..kalau anak saya dibawa pergi, gak terus-terusan saya yang gendong, pas dateng saya jadi kayak kangen gitu bu, jadi saya enak meluknya juga. Kerasa sayang gitu. ASI saya juga jadi keluar. Pas saya udah lewat masa itunya, alhamdulillah jadi deket gitu rasanya, penerimaan saya tuh sama dia jadi normal.”

Baru sekali ini saya dapat kasus kayak gini. Dan saya menyimpulkan: oh ya…setiap keputusan itu sangat tergantung konteks dan kebutuhan masing-masing keluarga. Karena setiap keluarga punya keterbatasan pilihan yang berbeda. Gak semua ibu punya pilihan tinggal di rumah, punya pengetahuan dan keterampilan, serta kesediaan dan kapasitas emosi  yang mumpuni untuk menstimulasi anak. Dan kalaupun ada ibu yang tipenya kayak gitu, bisa jadi kebutuhannya berbeda, kebutuhan anak berbeda.

Bagi saya sendiri, saya banyak belajar dari para guru PAUD anak-anak saya. Setiap kali membawa hasil kreasi seni, saya belajar …oh, botol bekas tuh bisa dibikin roket ya, gitu caranya. Oh, pendekatan ke anak tuh  yang efektif gitu ya, oh reward yang dirasa asyik oleh anak tuh yang kayak gini ya. Sebaliknya, kalau ada yang bisa di sharing, saya dan mahasiswa bantu para guru PAUD melalui program pengabdian masyarakat. Karena PAUD yang berbayar cukup besar, memang diatur bahwa gurunya minimal harus Sarjana Pendidikan Anak Usia Dini (S,Pd.AUD). Tapi banyak juga PAUD di desa yang guru-gurunya belum punya latar pendidikan yang memadai, itu yang kita bantu.

Proses berpikir dan konklusi yang dihasilkan dari diskusi dengan para emak di atas, adalah proses berpikir yang menurut saya , wajib dimiliki oleh MOM JAMAN NOW. Jaman saya jadi mahmud dulu, baru punya anak satu, untuk cari menu MPASI itu harus ke gramedia, beli bukunya. Banyak pengetahuan yang hanya bisa dimiliki oleh ibu-ibu yang niat beli dan baca buku. Tapi JAMAN NOW, informasi bagai tsunami. Bukan kita yang mencari, namin mereka yang mendatangi kita.

Dulu, saya berpikir ini adalah sebuah keuntungan. Saya berpikir, klien-klien dengan permasalahan stimulasi anak akan jauh berkurang, karena ibu-ibu udah banyak tahu. Tapi ternyata permasalahannya beda. Kalau dulu permasalahannya adalah ibu “tidak tahu”; jaman sekarang adalah “ibu bingung karena terlalu banyak tahu”.

Maka, menurut saya, kemampuan ibu berpikir kritis dalam mengolah informasi, adalah keterampilan strategis bagi seorang emak. Konon, jumlah emak bergadget yang ada, adalah sumber penyebaran hoax tercepat. Artinya, kekuatan emak bergadget tak bisa disepelekan. Nah, kalau semua emak bergadget punya kemampuan mengolah informasi sehingga gak semua infromasi disebar bulat-bulat, diikuti bulat-bulat, dinilai benar 100% atau jelek 100%; lalu menularkan pola pikir itu pada anak-anaknya, bayangkan kekuatan yang akan dimiliki oleh bangsa ini

Dear emaks, kita gak perlu galau dengan  seliweran berita. Gak perlu buang waktu ikutan mom war yang konon katanya menghabiskan energi. Kita berlatih menganalisa informasi yang ada, menilai mana yang perlu diambil mana yang bisa diabaikan. Kita belajar  percaya diri membuat pilihan sesuai kondisi kita, tanpa harus minder atau merasa lebih hebat dibandingkan pilihan emak lain. Kalau ada emak yang merasa hebat dengan pilihannya, tinggalin aja, jangan diladeni. Mending energi kita, kita curahkan untuk mengevaluasi, dan menelusuri sumber daya yang kita punya, potensi yang kita punya. Diskusi tentu saja boleh, sekarang banyak narasumber parenting. Cari  narasumber yang mau mendengarkan kondisi kita, tak hanya sekedar memberi nasihat, saran atau bahkan menilai kita selalu salah dalam mendidik anak.

Dengan proses seperti yang dilakukan para emak dalam kegiatan di atas, insya allah waktu kita tak akan terbuang untuk galau; termasuk pilihan memasukkan atau tidak memasukkan anak ke PAUD.

 

I hate you but i love you ; catatan tentang ekspresi cinta

Tulisan ini adalah lanjutan tulisan https://fitriariyanti.com/2017/12/28/my-amazing-mother-days/.

wheelchairSejujurnya, ada beragam rasa ketika melihat foto-foto anak-anak bergembira-ria di sana. Pertama dapat foto yang dikirimkan si abah, tak terasa air mata mengalir. Sedih. “If I were there”. Jadi inget ketika akhirnya saya memutuskan “memerintahkan” anak-anak untuk pergi, kala berdua dengan Mas, terucap juga kata-kata menyalahkan Mas atas peristiwa yang terjadi : “Mas sih, aku kan udah bilang pelan-pelan aja jalanin motornya. Kasian anak-anak” ; sambil sesenggukan. Ya, sebagai introvert sejati, harus bedrest beberapa hari, harus ditinggal sendirian, no problem at all. Ada segambreng aktivitas yang bisa saya lakukan. Baca, nulis, ngerjain buku, ngerjain disertasi, ngerjain ini-itu. Tapi yang bikin gak tega adalah liat konflik di anak-anak.

Meskipun setelah ngomong gitu ke Mas sih langsung istighfar. Kalau Allah sudah mentakdirkan, bagaimanapun caranya, kejadian ini sudah pasti terjadi. Dan si awal kejadian, Mas udah berkali-kali minta maaf. Tapi da ini mah udah takdir.

Hari ini adalah hari ke-3 perjalanan anak-anak dan abahnya. Hari kedua perjalanan, si bungsu yang awalnya begitu ekspresif di setiap video call, menunjukkan perilaku aneh. Dia gak mau video call-an dengan saya. Dia selalu berusaha menghindar kontak mata. Atau malah pergi.  Bahkan ketika kakak-kakaknya memaksa mendekatkan layar handphone ke wajahnya, dia menutup matanya. Kalau kakak-kakaknay begitu ekspresif: “ibu kangen…” atau “coba ibu ada di sini…”; si bungsu malah menghindar.

Perilakunya yang dengan sengaja menghindari kontak mata dengan saya, mengingatkan saya pada perilakunya 4 tahun lalu. waktu ia berumur 18 bulan, ketika saya tinggalkan ia 40 hari berhaji. Pulang ke rumah, waktu saya peluk ia dalam tidurnya, ketika terbangun, ia langsung menolak. Ia minta dipeluk kakaknya, si sulung yang waktu itu masih berumur 11 tahun. Dua hari ia menghindari saya, tidak mau saya sentuh. Mas sempat bingung, tapi saya bisa memahami perilakunya. Saya beri dia ruang, sambil memberi ruang juga buat saya (memberi ruang: Saya sesenggukan haha… ). Hari ketiga, dia mulai mau saya sentuh tapi masih menghindari kontak mata. Hari selanjutnya, ia rewel, marah, perlu seminggu untuk memulihkan perasaannya.

Kemarin, perilaku menghindar saat video call itu bertambah jadi perilaku marah. Ketika kakaknya memaksa mendekatkan layar handphone, ia tak hanya menhindar, tapi juga marah. Dan pagi tadi, ia tak hanya marah. Tapi mengancam akan mematikan layar handphone, ancaman yang benar-benar ia lakukan. Tentu tanpa melihat ke layar handphone.

Apakah ia marah pada saya? Ekspresinya marah. Tapi sesungguhnya, yang terjadi adalah, psikisnya sedang menjalankan apa yang disebut sebagai defense mechanism. Mekanisme pertahanan diri secara psikologis saat seseorang sedang merasa “tidak nyaman dan terancam sesuatu yang berat buatnya”. Defense mechanism yang ia tunjukkan namanya adalah “reaction formation”. Ia berperilaku sebaliknya dari apa yang ia rasakan. Semakin meningkat intensitas perilaku “reaction formation”nya, menunjukkan semakin besar kadar rasa tidak nyaman yang ia rasakan. Maka,  dibanding kakak-kakaknya yang begitu lugas mengekspresikan kangennya, saya tahu kadar kangennya si bungsu pada saya, jauh lebih besar. Sedemikian besarnya sampai ia butuh mekanisme pertahanan diri.

Duh, kalau udah gini teh meni rasanya pengen terbang, pengen peluk dia erat. Perasaan yang persis saya rasakan sebulan lalu, ketika suatu siang di Jatinangor saya mendapat telpon dari gurunya, bahwa si bungsu sedang di IGD, telinganya harus dijahit karena terjatuh di sekolah. Menunggu jemputan datang, rasanya pengen terbang sambil tak bisa menahan air mata.

Sebelum liburan kemarin, saat saya melaporkan progres penelitian disertasi pada promotor, kembali promotor meminta saya untuk apply program sandwich. 3 bulan di luar negeri untuk mengolah data, berdiskusi bersama profesor pemilik teori yang saya gunakan. Saat itu saya bilang bahwa saya sudah memutuskan untuk tidak apply, dengan alasan keluarga. Promotor saya meminta saya mendiskusikan ulang dengan keluarga, mempertimbangkan sang profesor sudah membuka peluang dan waktu studi masih panjang.

Saya sudah tahu jawaban yang akan saya sampaikan pada beliau. Saya sudah bulat. Ah, seperti de ja vu dua tahun lalu. Saat saya begitu galau antara mengejar impian menindaklanjuti tawaran LOA di luar, atau memilih mengajak mas bicara dari ke hati karena sikap “diam”nya terhadap semangat saya yang menggebu untuk mengejar impian di luar.

Saat itu, saya membaca buku Bukan Emak Biasa untuk melakukan revisi di cetakan kedua. Satu buku penuh, tamat dari awal hingga akhir. Setelah membaca buku itu, saya baru sadar, betapa saya sangat mencintai keluarga ini, betapa saya sangat mencintai anak-anak saya. Bersama mereka, tak sebanding dengan pencapaian apapun. Rasa yang persis saya rasakan saat ini.

My family, my chidren is not an excuse, they are my priority.

Can’t wait to hug you all…

 

 

My Amazing Mother Day(s)

Tgl 22 Desember lalu, dikenal sebagai mother day. Hari ibu. Di hari itu, banyaaaak sekali ungkapan cinta terhadap ibu. Berupa gambar, untaian kata-kata, rangkaian tulisan, lagu, bahan meme-meme; dari yang bikin terharu sampai yang lucu. Di hari itu, saya menguji mahasiswa magister bimbingan saya. Mahasiswa-mahasiswa yang saya temui di kampus, saat bertemu saya melemparkan senyum, menyapa, sebagian salaman dan cium tangan, sambil bilang: “selamat hari ibu, mbak” ;). Ibu ketua ujian, sebelum memulai dan mempersiapkan mahasiswa presentasi, juga mengucapkan “Selamat hari ibu” buat kami semua di ruangan ujian. Ya, di ruangan itu kami semua memang perempuan semua. Secara di psikologi, laki-laki adalah makhluk langka ;).

Sehari sebelumnya, tgl 21, saya mengambil raport si gadis kecil dan si bujang kecil. Di kelas 3, kelasnya si gadis kecil, selain raport saya menerima juga setangkai mawar putih dan kartu yang beberapa hari sebelumnya sudah dibuat si gadis kecil atas permintaan gurunya.

Di pagi harinya, waktu saya bangun, saya bilang ke si bungsu : “Dede, hari ini hari ibu loh”. Si bungsu yang terpapar dengan informasi mengenai hari ibu dari film-film yang ia tonton di TV kabel yang kami langgan, bilang: “Wah, de Azzam harus bikin sesuatu yang istimewa buat ibu. Apa ya? bikin kue? dede gak bisa. masakin sarapan? dede belum bisa”. “Doain ibu dong”; kata saya. “Itu mah gak istimewa, kan udah setiap abis sholat”. “Oh, dede tau …bikin kartu!” katanya. Semenit kemudian, si TK B itu menyerahkan sebuah kertas kecil berisi gambar bunga, love, matahari, bertuliskan “ibu”. Udah…gitu aja. Nothing special.

Sejak saya “bebas tugas” mengajar tahun lalu karena sekolah, kami merencanakan akhir tahun sebagai liburan besar, karena saya jadi leluasa gak terbatas oleh tanggal merah dan cuti bersama. Si abah, sejak beberapa minggu lalu tiap hari “lembur”, gak pulang-pulang dari Jakarta untuk menyelesaikan pekerjaannay agar bisa leluasa liburan. Rencana pun sudah disusun matang.

Tgl. 24-25 kami ada family gathering bersama teman-teman alumni Karisma ITB. Gathering tahunan yang selalu kami nantikan untuk melepaskan rindu dengan sahabat-sahabat seperjuangan dulu.

Tgl. 25 pagi, 6 tiket pesawat menuju Kediri sudah kami pesan. Meskipun hanya ketemu setahun dua kali, tapi anak-anak saya dengan sepupu-sepupunya, cukup dekat. Terutama dengan sepupu yang di Kediri. Mereka sering video call-an melepas rindu. Semua ponakan akan pulang kampung dan semua keluarga Kediri akan ketemuan seperti lebaran.

Tgl. 28, kami akan bergabung dengan family gathering kantor mas, menjelajah destinasi wisata di Malang dan Bromo, kembali ke Bandung tgl 2.

What a colourful holiday … maka tak heran, kami dan anak-anak menunggu-nunggu moment tersebut.

Tgl 24 pagi, saya dan Mas memutuskan untuk ke pasar. Kami akan membeli jagung buat acara gathering alumni Karisma. Kalau berdua, kami pake motor. Nostalgia saat masih berdua haha…. Di perjalanan pulang, saat itu kami sambil ngobrol, tiba-tiba dari jauh, di depan kami, berlawanan arah, terlihat ada motor kencang. Saya minta mas lebih minggir, karena keliatan si motor itu berada di tengah. Tapi hanya beberapa detik kemudian, sebelum mas meminggirkan motor, si motor di hadapan kami sudah melesat, dan senggolan tak terelakkan. Terdengar suara agak keras, motor kami oleng, saya pikir cuman senggolan bodi motor aja. Tapi kemudian saya menyadari telapak kaki kanan saya mati rasa. Ya Allah…saya lihat, ada luka dan …. “something happened”.

Si motor yang bersenggolan tetap melaju kencang, mas memeriksa kaki saya, dan kami segera melaju pulang. Sampai di rumah, turun dari motor, si mati rasa tadi sudah berubah menjadi rasa nyeri yang perlahan menjalar. Mas langsung memanggil tukang urut langganan kami, yang terpercaya menangani beberapa kali keseleo keluarga kami. Benturan tadi sepertinya mengenai bagian jari kaki kanan saya, dari arah bawah. Luka berdarahnya dikit, namun “keseleo”nya tampaknya cukup parah. Saya tak malu menangis sambil dipeluk mas saat diurut.

Setelah selesai, mulailah kami membicarakan rencana kami nanti siang. Kayaknya gak bisa ikut deh. Padahal saya adalah salah seorang “ketua suku” yang mengurus family gathering ini ;). Maka, saya langsung menyiapkan beberapa hal, mengontak beberapa teman, “mendelegasikan” apa-apa yang seharusnya saya lakukan.

Lalu gimana besok pagi ke Kediri? Lihat besok aja. Moga-moga sudah membaik. Tapi menjelang siang, rasa sakit semakin terasa. Rasanya kaki saya hancur gitu, kayak diatasnya ada buldozer hiks…hiperbola ya? tapi bener…rasanya kayak gitu. Saya termasuk orang yang ambang sakitnya tinggi. Setiap melahirkan, baru kalau udah bukaan 9, nangis-nangis. Sebelum bukaan 9 biasanya masih tahan. Tapi rasa sakit ini, bikin air mata saya gak ketahan. Melihat itu, mas meminta anak-anak berkumpul. Membahas rencana besok. Saya sih meminta mas dan anak-anak tetep pergi. Gak tega liat anak-anak udah nunggu-nunggu, juga sayang uang tiket angus (emak-emak mode: on;). Anak-anak juga ikut nangis, bahkan si gadis kecil tersedu-sedu beberapa jam. Alasan anak-anak menangis beragam: si sulung dan si bujang kecil menangis kasian liat ibu, si bungsu nangis karena pengen mudik sama ibu, si gadis kecil nangis karena konflik; di satu sisi pengen banget mudik, di sisi lain gak mau ninggalin ibu.

Setelah nangisnya reda, si abah dan anak-anak membahas lagi beberapa opsi. Opsi gak jadi liburan, opsi pergi tanpa ibu, opsi hanya sebagian yang pergi, sebagian nemenin ibu. Dua anak besar bulat gak mau pergi, mau nemenin ibu. “Ibu kan gak bisa bergerak. Walaupun minta nenek nemenin, pasti ibu lebih enak sama kita”. Si gadis kecil masih bingung, nangis lagi. Si bungsu yang awalnya memutuskan pilih opsi tetep mudik sama abah “dibantai” kakak-kakaknya: “Kamu teh gak empati banget sih…kan kita satu keluarga. Keluarga itu harus bersama dalam suka dan duka. Kamu gak kasian liat ibu? Kita juga gak akan seneng-seneng disana, pasti inget ibu terus. Kalau de Azzam sakit kan ibu juga suka batalin acara ibu sepenting apapun…itu karena ibu sayang sama de Azzam… kita kan sayang sama ibu…mana tega ninggalin ibu. Apalagi buat liburan”. Haha…memang si bungsu, dengan keterbatasan penghayatan perasaan di usianya, tiap berpisah bawaannya paling “perkasa”. Nah, nanti pas menjelang tidur, biasanya muncul video call dia nangis-nangis mau dipeluk ibu ;). Pengen ketawa deh denger dinamika musyawarah mereka di ruang tengah, sementara saya nguping dari kamar.

Maka, saya pun merelakan tiket pesawat angus. Malam itu, saya terpaksa minum obat pereda sakit karena sampai malam, rasa nyeri kian bertambah. Alhamdulillah, besoknya nyeri sudah hilang, berganti bengkak. Saya benar-benar tak bisa bergerak. Syukurlah ada 5 perawat pribadi. Gantian membawakan minum, menyuapi, mendorong kursi beroda ke kamar mandi, dll.

Memperhatikan anak-anak berempat beraktivitas di rumah, ber video call dengan keponakan-keponakannya dan bilang : “kita gak jadi liburan..mau nemenin ibu”; akhirnya saya bilang ke mas bahwa saya “memerintahkan” mas dan anak-anak untuk liburan ke Malang ikut family gathering. Saya panggil lagi anak-anak.

Mereka masih keukeuh gak mau, mau nemenin ibu. Bahkan si bungsu pun sudah ter”brain wash”; dengan alasan khasnya: “kalau ibu gak ikut, nanti siapa yang peluk de Azzam kalau bobo? gak ada yang badannya se-anget ibu”. 

Sambil tak kuasa menahan tangis, saya bilang: “Ibu seneng banget anak-anak sayang sama ibu, pengen nemenin ibu. Ibu terima sayang kalian. Tapi ibu juga sayang sama anak-anak. Ibu pengen kalian bersenang-senang. Ga apa-apa ibu ada nenek yang nemenin di sini. Betul, keluarga itu harus bersama dalam suka dan duka. Tapi kondisi ibu gak apa-apa ditinggal sendiri. Ibu bisa beresin buku ibu, ibu bisa baca banyak. Ibu gak akan menderita”. Lama……akhirnya anak-anak tetap ingin saya ikut, solusinya adalah pakai kursi roda. Oke, carilah tempat sewa kursi roda. Kondisi kaki saya sudah lebih baik dari hari sebelumnya, meskipun masih bengkak dan belum bisa menjejak.

Keputusan finalnya, kami akan ke dokter dulu, minta pendapat dokter bagaimana. Pas mau pergi ke dokter sambil ambil kursi roda …huaaa hiks…. ternyata kaki ini belum bisa ditekuk … gak mungkin bermobilitas. Maka dari situ saya ketok palu. “Anak-anak, melihat kondisi ibu, ibu perintahkan kalian liburan sama abah, ibu istirahat di rumah, nanti kita ketemu seminggu lagi, ibu udah baikan, kalian udah besenang-sennag, kita jalan-jalan lagi”.

Dan kemarin pagi mereka berangkat. Saya cium mereka satu-satu. Sejam sekali mereka video call, tanya kondisi ibu; cerita aktivitas mereka di perjalanan panjang pake bis ke malang. Si gadis kecil asyik tiduran sambil menikmati buku “Amelia”nya, si sulung dan si bujang asyik ngobrol berdua, si bungsu di pangkuan abahnya, menunjukkan alat sulap yang dia beli di perjalanan…

Dan saya…berdua dengan mamah. Ya, meskipun satu hari setelah menikah kami langsung memisahkan diri dari mamah-papah; namun setiap ada situasi emergency: melahirkan, sakit, operasi, ke luar kota, dan tentu saja saat ini, mamah adalah bantuan yang selalu bisa diandalkan. Mamah dan papah ketika masih ada, adalah back up andalan kami, baik secara teknis maupun psikologis.

Seharian kemarin, berjam-jam kami mengobrol tentang beragam hal di sela-sela aktifitas mamah mengaji, membuat makanan untuk saya, mendorong kursi roda ke kamar mandi, olesin obat…

quote-our-family-is-a-circle-2Hari ibu tahun ini, adalah hari ibu super istimewa buat saya. Karena hidup saya begitu penuh cinta. Sebagai ibu, tak diragukan lagi besarnya cinta anak-anak saya kepada saya. Dan sebagai seorang anak, saya pun bisa merasakan besarnya cinta ibu saya pada saya.

Terima kasih ya Allah, telah memberikan rasa dan mengajarkan makna cinta melalui ibuku dan pengalamanku menjadi ibu.

 

 

Ngajak Anak Nonton Film G30S/PKI: berdampak baik atau buruk?

Hari-hari kemarin timeline facebook saya penuh dengan pro & kontra mengenai kegiatan nobar film G30S/PKI bagi anak-anak. Sebagai pengamat amatir, seru juga baca beragam argumen orang-orang, baik yang pro maupun kontra. Dari mulai para akademisi, politisi, praktisi, sampai “semua orang”. Dari mulai yang pake literatur sampai yang common sense. Dari yang pake logika sampai pengalaman pribadi. Dari yang sistematis sampai yang emosional.

Berbeda dengan suami saya yang katanya gak pernah nonton film itu, jaman saya kecil rasanya selalu jadi rutinitas tahunan nonton film itu. Dalam suatu obrolan di sebuah wa grup, saat ada yang tanya pendapat mengenai nobar anak-anak terhadap film ini, saya bilang saya pribadi gak akan mengizinkan anak-anak saya nonton film ini. Alasannya sederhana saja : durasi, alur, visualisasi film ini gak didesain untuk anak. Saya ingat kalau mahasiswa-mahasiswa saya di magister psikolog bikin film untuk anak, banyak aspek yang harus diperhatikan. Durasi, alur, visualisasi, dll dll. Itu kalau memang ada tujuan spesifik yang ingin dicapai.

Tadi siang, si sulung  ujug-ujug bilang: “Bu, kita nonton film G30S/PKI yu” katanya. Trus dia cerita, sobatnya katanya semalam nonton. “Tapi katanya garing bu, banyak yang disensor. Lambang PKInya, trus darahnya jadi abu-abu katanya bu”. Hehe…seru juga denger pendapat remaja umur 15an itu. Karena TV langganan kami bisa “play back”, maka kami bisa menonton kembali tayangan film yang sudah diputar semalam di salah satu stasiun TV itu. Tiga puluh menit kami berdua menonton, sebelum harus berhenti karena kami harus ke Purwakarta, janji ke rumah neneknya. Saya tanya kesan dan pendapat si sulung tentang film yang ditontonnya : si sulung menjawab “serem”. “Apanya yang serem?” saya tanya. “Gak tau…suasananya gitu. Musiknya…Teknik pengambilan gambarnya…” katanya.

Besok, saya janjian sama si sulung untuk melanjutkan nonton film itu. Nanti saya akan ajak adik2nya juga. Kenapa?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Pro kontra mengenai dampak dari sesuatu, sudah amat amat sangat sering terjadi di kalangan masyarakat kita.

Misalnya nobar G30S/PKI ini. Yang pro mengatakan: kegiatan ini bisa menumbuhkan rasa cinta tanah air, menumbuhkan kesadaran akan bahayanya PKI, dll. Yang kontra berkata: anak bisa cuman nangkap sadisme nya aja, anak bisa terdorong untuk melakukan tindakan agresi, dll.

Kasus lain yang saya ingat, kasus anak melihat penyembelihan hewan qurban. Kata yang pro : bisa menumbuhkan rasa tauhid. Kata yang kontra : bisa menumbuhkan perasaan trauma.

Kasus lainnya lagi: soal tepuk “islam yes kafir no”. Kata yang pro: tepuk ini bisa menumbuhkan tauhid. Kata yang kontra: tepuk ini bisa menumbuhkan radikalisme.

Debat pro dan kontra ini, biasanya gak berujung pada satu titik temu. Malah biasanya merembet ke hal-hal lain yang seringkali “gak nyambung”. Biasa…hitam putih gitu.

“Gak ngijinin anak ikut nobar film G30S/PKI? berarti kamu pendukung PKI”.

“Ngebolehin anak liat penyembelihan hewan qurban? berarti menanamkan bibit traumatik pada anak. Artinya tidak siap jadi orangtua”.

Seolah-olah gak mungkin ada opsi lain. Seolah-olah setelah nonton, kalau gak cinta tanah air ya jadi PKI. Seolah-olah setelah liat penyembelihan hewan qurban, kalau engga bertauhid, ya traumatik. Seolah-seolah setelah tepuk “islam yes kafir no”, kalau engga tauhid ya radikal.

Dan memang pro kontra ini gak akan pernah bisa ketemu karena…. masing-masing pihak beranjak dari asumsi masing-masing. Asumsi.

pkiHanya ada satu cara yang bisa mempertemukan dua asumsi ini. Dan rasanya belum banyak yang mengemukakan: buktikan secara empirik ! Kita suka lupa kalau yang kita omongin itu, anak-anak itu, bukan benda mati. Mereka hidup. Dan mereka pemeran utamanya. Seolah-olah yang menentukan apa yang tumbuh dalam pemikiran dan perasaan mereka itu kita. Buktikan secara empirik apa yang sesungguhnya terjadi pada mereka. Mereka yang mengalami dan menjalani kok. Anak-anak itu. Mereka narasumber yang paling sahih.

Misalnya dalam kasus tepuk “islam yes kafir no”. Apakah yakin dengan melakukan tepuk itu ketauhidan anak-anak tumbuh? apa indikatornya? apakah yakin dengan tepuk itu anak akan tumbuh menjadi radikal? apa indikatornya?

Mari temukan jawabannya dengan data empirik. Ilmiah. Ada metodenya. Eksperimental atau kuasi eksperimental. Buat indikator ketauhidan dan radikalisme. Buat treatmentnya. Satu kelompok lakukan tepuk itu sebulan berturut-turut, satu kelompok engga. Lalu ukur ketauhidan dan radikalismenya.

Jangan-jangan, saya curiga….tauhid gak tumbuh, radikalisme gak tumbuh. Lempeng aja gitu. Karena mungkin bukan di tepuknya tauhid atau radikalisme itu tumbuh. Tapi dari penjelasan dan elaborasi guru terhadap tepuk itu. Anak-anak TK kan konkrit. Sedangkan “yes” dan “no” itu abstrak.

Demikian juga pada kasus-kasus lain. Kasus melihat penyembelihan hewan Qurban misalnya. Soalnya tiap tahun ituuuuuu aja yang yang diperdebatkan. Juga soal nobar ini. Buat indikator “cinta tanah air”; buat indikator “mewaspadai paham komunisme”. Lalu ukur pada dua kelompok: yang nonton sama yang engga. Bisa pake desai ex post facto, eksperimental atau kuasi eksperimental. Saya juga curiga, jangan-jangan “tak berbekas” apa-apa.

Itulah sebabnya saya gak akan mengizinkan anak-anak saya kalau ada acara nobar film ini di sekolahnya. Apalagi anak SD. Gak kebayang anak-anak millenial kelas 1 – 3 SD, yang rentang konsentrasinya masih bergerak di kisaran 60 menit, nonton film yang sangat tidak menarik buat usia mereka (buat yang nonton, coba ingat-ingat lagi adegan-adegan awal. Narasi dengan kalimat2 panjang dengan gambar-gambar tak bergerak, orang lagi sholat diserang, kakek-kakek nenek-nenek antri, presiden disuntik, ….). Dengan durasi sekian panjangnya.

Menurut saya, menumbuhkan sesuatu itu tidak mudah. Menumbuhkan rasa cinta tanah air. Menumbuhkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap paham komunisme…. itu harus ada penjelasan yang age-appropriate.

Misalnya aja, Tadi, setelah nonton 30 menit itu, saya dan abahnya bertanya; “Kaka ngerti gak paham komunis itu apa? bisa gak ngasih contoh?” si kelas 9 itu menggeleng. “Kalau misalnya kaka di kelas, ulangan. Ada yang belajar ada yang engga. Terus yang belajar harus ngasih tau yang gak belajar, biar nilainya sama. Gak boleh ada yang 100, gak boleh ada yang 0. Harus 70 semua. Nah, itu sama rata sama rasa. Menurut ibu dan abah, kayak gitu ideologi komunis teh. Kaka setuju gak?” “Ih, engga atuh, enak aja gak menghargai yang berusaha”. 

Nah, kalau ibu guru-bapak guru gak melakukan elaborasi apa-apa, cuman nobar aja, saya gak tau apa yang ketangkep sama anak-anak itu.

Si pencarian fakta empirik, penelitian yang saya usulkan untuk dilakukan itu, emang ada yang mau melakukan? emang negara mau melakukan? Kalau saya jadi mentri mah mau saya lakukan da  (haha…halusinasi tengah malem).

Tapi yang jelas, saya akan lakukan. Saya akan ajak 4 anak saya nonton, lalu masing-masing akan saya amati reaksinya, saya tanya pemahaman mereka apa, perasaan mereka gimana, kalau negatif akan saya berikan debriefing, kalau takut saya bisa hentikan, akan saya catat rentang konsentrasi masing-masing anak berapa lama; kayak kalau mahasiswa saya bikin film untuk anak lalu mereka lakukan uji coba.  Sehingga kalau tahun depan ada polemik pro kontra soal nobar ini, trus saya ditanya sebagai psikolog, saya punya data empirik untuk menjawabnya. Tidak hanya berdasarkan asumsi dan perasaan semata.

 

 

Previous Older Entries