01. Schiphol

Pesawat telah sempurna berhenti. Schiphol. Miband di pergelangan tangannya menunjukkan waktu 6.15. Tepat waktu sesuai dengan waktu yang tertera di boarding pass. Para penumpang mulai bergerak. Sepasang kekasih yang semalaman mesra berpelukan dan berciuman di jajaran tempat duduknya sudah mulai bersiap2. Ia meregangkan tubuhnya. Meskipun selang beberapa jam ia disiplin “jalan2” dan melakukan peregangan, panjangnya perjalanan Jakarta-Amsterdam ini tetap membuat tubuh rasanya kaku.

Perasaannya mulai campur aduk. Excited dan senang bercampur dengan rasa rindu, cemas, takut, dan entah apa lagi. Excited karena studi yang akan dijalaninya 4 tahun ini, senang karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan sobatnya Amelie. Rindu, cemas takut karena….. ia menggelengkan kepalanya, mengusir bayangan seseorang dari kepalanya.

Antri turun, ia sudah mengeluarkan winter coat dari koper kabinnya. Syal pink-abu kesayangannya sudah ia lilitkan di lehernya.  Ia sudah melihat accuweather Amsterdam hari ini. 1 derajat. Menuju antrian imigrasi, beberapa orang mulai menyalipnya. Ia biarkan. Ia tak ingin cepat-cepat. Ia ingin menikmati rasa ini. Fight and flight. Perasaan ingin lari dan segera menikmati, sama besarnya dengan perasaan ingin kembali.  Kerinduannya pada kampus yang ia pendam selama 2 tahun, kerinduan pada semua tempat yang pernah ia kunjungi di tanah ini, kerinduannya pada ….. ia gelengkan kembali kepalanya, mengusir bayangan yang selama seminggu terakhir memenuhi kepalanya.

Keluar dari imigrasi, menuju gerbang kedatangan. Ia dorong trolinya pelan-pelan. Dua tas merah, bagasi dan kabin. Ia sudah janjian dengan Amelie, di depan Albert Heijn. Mana si cantik itu? belum keliatan. Ia pun mengantri untuk membeli Lebara, simcard-Belanda. Ia masih ingat beberapa bahasa Belanda untuk berkomunikasi dengan si remaja yang melayaninya. Keluar dari AH, Amelie belum keliatan juga. Ia sengaja tak menghubunginya. Kembali, ia ingin menikmati gejolak yang ia rasakan. Ia mengedarkan pandangan, mengingat 3 tahun lalu, saat ia pertama kali menjejakkan kakinya di sini, untuk menempuh studi S2nya. Tempat dan suasananya masih sama. Hanya perasaannya yang jauh berbeda.

Tiga tahun lalu, ia menjejakkan kakinya dengan perasaan cemas. Cemas tentang studinya, tentang adaptasinya, tentang hidup sendiri di negeri orang. Kali ini, ia tidak cemas tentang studinya. Profesornya sudah ia kenal, bahkan beliau yang membujuknya untuk kembali melanjutkan penelitian S2nya di jenjang PhD. Bujukan yang ia tolak dengan halus selama 1,5 tahun terakhir. Ia akan mengerjakan projek PhD bersama dengan sobatnya saat S2, Amelie dari Maastricht. Plus Barbara dari Belgia yang sudah ia temui melalui skype. Tak ada yang ia cemaskan tentang studinya. Tapi perasaan lain yang ia khawatirkan adalah, kerinduan sekaligus kecemasan akan …. “Raraaaa”… dalam hitungan detik, seseorang memeluknya dengan erat. Tanpa perlu melihat wajahnya, dari harum lotion lily yang ia cium, ia tahu wanita tinggi besar yang memeluknya adalah Amelie.

 

 

 

 

“Bidadara Tak Bersayap”

Bidadara tak bersayap datang padaku
Dikirim Tuhan dalam wujud wajah kamu
Dikirim Tuhan dalam wujud diri kamu
Sungguh tenang kurasa saat bersamamu
Sederhana namun indah kau mencintaiku

Sampai habis umurku
Sampai habis usia
Maukah dirimu jadi teman hidupku?
Kaulah satu di hati
Kau yang teristimewa
Maukah dirimu hidup denganku?
Diam-diam aku memandangi wajahnya
Tuhan, kusayang sekali lelaki ini

Sampai habis nyawaku
Sampai habis usia
Maukah dirimu jadi teman hidupku?
Kaulah satu di hati
Kau yang teristimewa
Maukah dirimu hidup denganku?
#Anji
#Bidadari Tak Bersayap

Apa makna menikah buatmu?

Mereka adalah salah satu pasangan  favorit saya. Dua-duanya akademisi; suaminya profesor istrinya doktor. Suaminya berusia 71 tahun, istrinya 69 tahun. Mereka sudah pensiun. Saya senang mengamati relasi pasangan yang sudah sekian lama bersama. Pasangan ini sudah 40 tahun bersama ! Dan ketika bulan lalu saya menginap di rumah mereka di jantung kota Amsterdam, saya dapat “rejeki” mengamati relasi keseharian mereka di rumahnya. Biasanya, saya melihat relasi mereka saat mereka berkunjung ke Indonesia, dalam situasi formal-akademik. Di rumahnya, tentu relasi mereka lebih natural.

Salah satu momen yang saya nikmati adalah saat mereka sedang “bargaining” mengenai aktifitas mereka. Pak Prof yang sangat senang menonton film dokumenter mengajak istrinya menonton, sedangkan istrinya tampaknya kurang terlalu suka, dan punya rencana lain. Mereka membicarakan waktu yang pas, sehingga si istri tetap bisa ikutan nonton, dan aktifitas si istri juga bisa terlaksana. Karena ada beberapa variabel yang belum pasti, akhirnya si suami berkata :  “Ya udah, saya tetep akan beli 2 tiket. Nanti kalau pada saatnya kamu bisa, yuks nonton bareng. Kalau engga bisa, nanti saya akan ajak temen saya”. Selesai “berdiskusi”, mereka menyadari saya ada di sana, lalu menjelaskan : “ya, beginilah tipikal kami bargaining” kata mereka.

Lalu si istri menambahkan : “Waktu ia menyatakan keinginannya menikah, saya tanya apa arti menikah buat dia. Lalu dia jawab, menikah adalah dedikasi buat saya”, Si suami kemudian menjelaskan : “Ya, dedikasi artinya saya siap melakukan apa yang tidak saya sukai, tapi disukai sama istri saya” . “Begitu pula saya”, tambah istrinya.

Salah satu hal yang essential but beautiful dalam pernikahan adalah, ketika 2 orang yang berbeda bersatu. Bersatu secara fisik-ketubuhan, bersatu secara psikologis, melangkah bersama. Iyesh, itu tidak mudah. Tapi prosesnya selalu indah. Indah, dengan catatan ada kesadaran dari dua orang itu, untuk “bergeser ke tengah”. Salah satu aja keukeuh sureukeuh selalu bertahan di titiknya, maka mungkin secara kasat mata-fisik mereka tetap bersama, namun secara psikologis, menabung bom waktu. Kenapa ? karena kemauan untuk “bergeser” adalah tanda bahwa “pasangan saya cukup berharga” untuk didengarkan, untuk dipertimbangkan. Dan perasaan DIHARGAI, adalah kunci kebahagiaan dalam semua relasi. Itulah sebabnya dalam psikologi, menikah adalah tugas perkembangan di usia dewasa. Setelah individu mengenal dirinya, matang dalam membuat pertimbangan, empati dalam problem solving. Setiap kali membantu pasangan dalam sesi couple therapy, esensi proses yang saya lakukan adalah; membuat pasangan saling mendengarkan dan bergeser ke tengah. Itu kalau mereka merasa pernikahan mereka masih layak untuk diperjuangkan.

Seorang artis laki-laki Indonesia berumur 38 tahun, sudah sekian lama single. Padahal ia adalah super idola para wanita. Katanya ia belum menemukan “tipe”nya. Ketika diwawancara tipe perempuan seperti apa yang ia inginkan untuk menjadi istrinya, dia menjawab kurang lebih : “Yang enak diajak ngobrol, soalnya pengennya kan langgeng. Kalau udah tua kan secantik apapun pasti pudar, aktifitas kita kalau udah tua ya paling ngobrol. Kebayang kalau istri saya nanti gak enak diajak ngobrol”. Meskipun jawabannya sederhana, tapi menurut saya itu adalah perspektif yang benar.

Tahun ini, usia pernikahan saya 19 tahun. Perjalanan bersama yang semakin kesini semakin saya hargai dan syukuri. Karena saya menyaksikan perjalanan banyak pasangan; tak mudah untuk sampai di titik ini baik secara waktu, apalagi secara kualitas. Maka, oleh-oleh paling berharga setiap kali saya pulang dari perjalanan  kemanapun adalah; amunisi untuk terus mengikatkan hati dan meningkatkan kualitas koneksi dengan si abah. Secara teoretis, terasa banget fase demi fase yang digambarkan dalam teori pernikahan: fase berdua, fase punya anak bayi, fase punya anak di usia sekolah, dan kini fase anak usia remaja. Tahun ini, si sulung 17 tahun, si bujang 14 tahun, si gadis kecil 11 tahun, si bungsu 8 tahun. Saya 41 tahun, si abah 44 tahun.

Saya merasa, betul yang dikatakan teori itu. Bahwa buat pasangan yang punya anak usia remaja, pernikahan memasuki tahap baru. Tahap baru karena tak hanya anak-anak yang berubah tahap perkembangan, kami pun mengalami perubahan tahap perkembangan dari dewasa muda ke dewasa madya (dan ini kerasa banget dalam diri saya : perubahan baik dalam hal fisik maupun psikologis). “PR-PR” terkait anak-anak sudah berkurang. Topik obrolan yang biasanya didominasi masalah teknis tentang anak-anak, menjadi berkurang. Banyak waktu kami habiskan berdua, dengan ngobrol. Ngobrol tentang apa? di sinilah titik kritisnya. Di sinilah saat yang tepat untuk mengamalkan jurus “dedikasi” yang diungkap pak profesor.

Mengobrol adalah pengejawantahan hakiki dari kerendahan hati, ketulusan sekaligus kesungguhan untuk menghargai pasangan & menguatkan koneksi. Gak semua ungkapan panjang lebar pasangan kita mengerti, kita sukai atau kita setujui. Sejujurnya, banyak topik ynag diceritakan suami saya, yang saya gak ngerti, gak suka & gak setuju. Misalnya tentang sistem perITan, sistem ekonomi negara, politik, dll dll. Sebelum bulan Juli lalu, saya gak aware tentang hal ini. Presentasi seorang peneliti di Melbourne Juli lalu-lah yang membuat saya “sadar”. Kalau kita bisa memberikan respons dengan frekuensi emosi yang sama dengan pasangan kita, irama jantung kita dan pasangan akan selaras. Itulah koneksi secara ketubuhan. Apalagi kalau kontennya kebahagiaan. Happy hearts beat as one. Indah kan?

Maka, setiap kali suami saya cerita hal-hal yang kurang saya sukai topiknya; saya selalu berpikir, mungkin suami saya juga gak menikmati cerita-cerita saya tentang beragam emosi, relasi, segala masalah psikologis manusia… Buat dunia teknik & maskulinnya, mungkin “lebay banget sih manusia teh”. Sepulang dari Melbourne, kita berjanji untuk  “berjuang” saling mendengarkan ! Tidak mengabaikan pasangan dengan dengerin sambil pegang hape, tidak memotong pembicaraan. Saya berusaha mendengarkan, memahami, mencerna dan menangkap emosi yang menyertai ceritanya : marah? kesal? sedih? kecewa? senang? berharap? lalu berusaha memberikan respons yang selaras dengan emosi itu.  Perjuangan yang tak mudah tapi ketika berhasil,  indah banget. Saya merasa dihargai & dicintai; dan saya semakin mencintainya. Kami jadi saling mencintai.

Salah satu yang suka saya bikin sedih adalah pasangan yang “religius”, namun koneksi dengan pasangannya “hampa”. Mempunyai cita-cita bersama dengan pasangannya di syurga, tapi tak merasakan nikmatnya syurga dunia dalam relasi mereka. Koneksi psikologisnya rapuh.  “Sakinah mawaddah warohmah” hanya tertulis di kartu undangan pernikahan; namun tak dipahami, dihayati apalagi diperjuangkan dalam operasionalisasi kehidupan sehari-hari.

Hayu ah, dinamika pernikahan itu tidak konstan. Di titik manapun pernikahan kita saat ini, tak ada kata terlambat untuk mengevaluasi, dan untuk membuat “akad baru”. Akad untuk lebih rendah hati bergeser ke tengah; sebagai operasionalisasi saling menghargai dan saling mencintai.

 

If Cats Disappeared from the World

Delapan tahunan lalu, saat memikirkan topik buat disertasi, saya tertarik pada topik “father-child attachment”. Topik yg kemudian lagi ngehits di Indonesia saat ini. Jadi saya banyak baca buku & hasil2 penelitian terkait topik itu. Bahkan buku “asli” pertama kali yg saya beli adalah “father attachment”. Isinya kumpulan penelitian terkini di negara2 Barat yg membuktikan bahwa era ayah yg hanya berfungsi sebagai breadwinner, telah berakhir. Bukti2 empirik menunjukkan bahwa ayah punya kapabilitas buat menjalin kedekatan emosi sama anak secara langsung. Jadi peran ayah pada pengasuhan anak bisa melalui 2 jalur : dengan menjalin koneksi emosi dgn Ibu, pengasuhan Ibu jadi berkualitas; dan atau langsung menjalin koneksi emosi dengan anak. Kalau kata Eri parternya Wijnand di Maastricht mah : Masa dimana ayah cuman “making money & making baby” udah lewat haha…

Saat itu, pertanyaan penelitian yg ingin saya jawab adalah : “Gimana bentuk keterlibatan ayah yg bermakna untuk anak di Indonesia?” Mengingat kultur Indonesia yg patriarki & hierarchical. Berapa referensi mengenai budaya di Indonesia membuat saya berhipotesa bahwa mungkin bentuk attachment ayah-anak di Asia/Indonesia gak sama dengan di kultur Barat. Bisa salah arah kalau ujug2 “maksa” ayah2 Indonesia jadi se”hangat”, se”ekspresif” ayah2 Barat. Malah bisa jadi stressor buat si ayah2 Indonesia.

Karena topiknya relatif “baru” saat itu, maka penelitian harus dimulai dengan eksploratif-kualitatif. Depth interview atau focused-group discussion tekniknya. Bedanya penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif adalah, dalam penelitian kualitatif peneliti “tidak berjarak” dengan subjek penelitian. Nah, disitulah saya merasa rasanya saya kurang bisa berperan jadi peneliti kualitatif yg baik dalam topik ini. Jadi saya tinggalkan jalur penelitian jni, meskipun tetap seneng mengamati & mengikuti perkembangan penelitiannya.

Salah satu buku “refreshing” yg saya baca saat di tanah Van Orange adalah bukunya Genki Kawamura. Pantesan buku ini best seller di Jepang & diterjemahkan ke beberapa bahasa. Keyen banget emang. Kisah fiksi yg ringan & lucu, tapi sesungguhnya itu adalah media untuk menyampaikan pesan filosofis yg bikin tercenung & berkaca2.

Buku ini bercerita ttg seorang pemuda usia 30an yg divonis menderita kanker otak, sehingga sisa usianya tinggal menghitung hari. Lalu datanglah “devil” yg menawarkan perjanjian padanya : kamu bisa punya tambahan usia satu hari selama berapa lama pun kamu mau, tapi di setiap hari itu kamu harus menukar hidup kamu dgn sesuatu yg akan dihilangkan secara permanen dari dunia”.

Diceritakan pemikiran & pergulatan psikologis & yg mengiringi penghayatan tentang kehidupan yg ia jalani selama ini. Hari pertama, ia minta hidupnya ditukar dengan handphone. Karena ia merasa bahwa hidupnya banyak tersia2kan dgn aktifitas handphone yg sebenernya gak terlalu ia butuhkan. Diceritakan di buku ini bagaimana situasi yg terjadi saat handphone menghilang dari dunia. Dampak bagi dirinya & org lain.

Menurut saya, si penulis sebenernya membawa kita untuk merenungi apa yg penting & gak penting dlm hidup kita. Apa sesungguhnya yg paling bermakna dalam hidup kita? Karena saat membaca itu, saya gak bisa engga merefleksikan pada diri saya. Andai saya di posisi seperti tokoh di buku itu, apa/siapa yg ingin saya hilangkan dari dunia ini? Dan itu bikin tercenung lama.

Sampai tiba ke hari ke7. Pilihan apa yg harus dihiangkan setiap harinya, harus di “acc” oleh si devil. Di hari itu, si devil hanya meng-acc kucingnya yg bisa dihilangkan. Di bab-bab terakhir inilah penulis membuat saya berkaca2. “Dalem” banget “proses mental” yg terjadi pada si tokoh yg mengantar dia pada keputusan : Mana yg lebih berharga, hidupnya? atau kucingnya? Dan ini terkait dgn ayahnya.

Di hari ke7, saat ia akan “menukar” hidupnya dgn menghilangnya kucing peliharaannya, Ia merenungi bahwa selama ini, tanpa ia sadari banyak episode kehidupan yg telah ia jalani bersama si kucing. Memori kebersamaan dgn si kucing membawanya ke memori kebersamaan dgn orangtuanya. Kucing ini adalah peliharaan ibunya yg sudah wafat. Ia sangat dekat dgn ibunya yg hangat. Kucing ini juga mengingatkannya pada kenyataan bahwa ia membenci ayahnya. Ia benci karena di hari ibunya wafat, ayahnya tak mendampingi ibunya. Ayahnya lebih memilih mereparasi jam tangan kesayangan ibunya yg saat itu rusak. Ia juga merasa ayahnya tak mencintainya, karena lebih banyak menghabiskan waktu di toko reparasi jam. Itulah sebabnya di hari kedua, ia meminta si devil menghilangkan jam dr dunia, dia ingin tahu apa yg akan dilakukan ayahnya ketika jam2 yg membuat ayahnya “gak punya waktu buat anak”; hilang.

Tapi memori demi memori membuatnya mengingat, bahwa yes, ayahnya memang tdk “mencintainya” dgn ekspresi yg ia inginkan; tapi sesungguhnya banyak moment dimana ia melihat & merasa ayahnya sebenernya mencintainya. Ia ingat kenapa saat ini ia menjadi pegawai pos. Karena ia jatuh cinta pada prangko. Kenapa ia jatuh cinta pada prangko? Karena ayahnya, setiap kali pergi ke berbagai tempat, selalu meng-oleh2i-nya prangko. Ia pun mengingat sejarah si kucing, kucing liar yg di”pungut” oleh ayahnya, untuk menemani ibunya. .
Dari memori2 itu dia merasa bahwa ibunya benar, ibunya bilang bahwa ayahnya sangat mencintai keluarga ini. Mencintai Ibu & dirinya. Hanya ayahnya punya ekspresi tersendiri. Dan ia akhirnya bisa menghayati Hal tsb. Dari situlah akhirnya ia mengambil keputusan bahwa panjang pendek hidupnya bukanlah hal yg esensial. Tapi apa isi dari hidupnya, yg harus lebih ia pedulikan. Sehingga buatnya, tidak penting lagi memperpanjang hidup. Yg lebih penting adalah isinya. Ia pun memutuskan mengunjungi ayahnya, membawa si kucing untuk menemani ayahnya.

Ada muatan kultur yg kuat dalam kisah ini. Ayah2 Asia termasuk Jepang, terkenal “lempeng”. Tapi bukan berarti tak cinta.

If we keep running all the time, we’ll miss the beauty along the way

Sebagai planner sejati, maka saya punya hobi hunting buku agenda/catatan yang lutu. Bahkan saya mengoleksinya. Selain suka saya kasih ke orang lain sebagai hadiah, yg saya suka banget saya keep. Jadi udah punya agenda buat 10 tahun ke depan haha.

 

Untuk agenda tahun ini, saya jatuh cinta pada sebuah agenda bersampul kain hijau muda. Saya temukan di “Bookhandel VU” bulan November lalu.

Sebenernya saya gak terlalu suka agenda yg ada tanggal2nya. Saya lebih suka yg kosong, yg bisa saya tulisin sendiri tanggalnya. Tapi begitu saya buka halaman pertamanya, saya langsung jatuh cinta. Meskipun harga euro aganda itu kalau di kurs kan ke rupiah cukup besar, tapi kalau udah jatuh cinta mah susah ya.

Apa yang bikin saya jatuh cinta? Rangkaian tulisan ini. For me, it’s so smart, humble, beautiful and powerful as well. Rangkaian kalimatnya menggambarkan dengan sempurna hari-hari seperti apa yang ingin saya jalani di tahun ini. I am falling love with those words.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Esensi #1

Selepas makan, supervisor saya dan istrinya membereskan piring. Tentu saya ingin membantu. Tapi spv saya dengan gesture dan ekspresi “memohon” bilang : “Please Fitri, just sit and relax”. Jadilah saya bermain dengan si cantik Evy dan Lou. Meskipun ini baru kali kedua bertemu mereka, tapi si 5 dan 3 tahun itu  seperti sudah nyaman dengan saya. Saya menunjukkan beberapa video yang dikirim anak-anak saya di Jatim Park kemarin, saat mereka ngasih makan binatang-binatang dari mobil. Meskipun berbeda bahasa; Evy dan Lou  berbahasa Belanda dan saya berbahasa Inggris, tapi dengan bahasa “tarzan”, bisa juga kami berkomunikasi.

Selanjutnya, saat spv saya dan istrinya mencuci piring, kami main salon-salonan. Dua anak itu menyisiri kerudung saya. “^%$#*(&%%$#” si sulung Evi berkata pada saya (tentu dalam bahasa Belanda yg saya tidak mengerti). Spv saya yang mendengar kata-katanya langsung berkata :”Nee, Nee, Evy, &#^^##^^#*#($@ (dalam bahasa Belanda juga). Yg saya ngerti cuman “Nee” itu artinya “No”. Wajah Evy terlihat kecewa. “She want to see you hair, and I said it’s impossible”; kata spv saya menjelaskan. “Oh, it’s possible if we do it in your kamer” kata saya spontan pada Evy (kamer adalah bahasa Belanda untuk room, satu dari sedikit bahasa Belanda yang saya tau hehe). “Yang gak boleh liat rambut saya cuman Papa. Mama, kamu dan Lou boleh liat”. Begitu saya bilang sama Evy. Spv saya terlihat kaget mendengar penjelasan saya, lalu menerjemahkan pada Evy dan Lou. Begitu papanya selesai menerjemahkan, mereka langsung antusias dan menarik saya ke kamar mereka.

Seperti rumah2 Belanda pada umumnya, rumah spv saya tidak “luas ke samping” (hmmm…gimana jelasinnya yaaa). Rumahnya kurang lebih tipe 60an, terdiri dari beberapa lantai. Tiap lantainya pendek sih, kayak mezanin gitu. Kamar Evy berada di lantai bawah dari ruang dapur dan ruang makan yang di Belanda jadi kayak “ruang utama” karena letaknya pas begitu masuk. Sesampainya di kamar Evy, saya buka kerudung, aduuh lucu banget mereka liat rambut saya, terus pegang2. Haha…curiosity anak-anak melihat hal yang berbeda itu amazing ya. Sekitar 10 menit,  lalu mereka menunjukkan beberapa barang di kamar tersebut, kita ketawa-ketawa, tiduran, sampai saya pikir waktunya kembali memakai kerudung. Waktu saya lagi pake daleman kerudung, Evy mengambil kerudung saya dan mencoba memakai di kepalanya. Saya bilang : “You wanna wear this?” lalu saya pakaikan. Dua gadis kecil itu excited banget. Begitu selesai saya pakaikan, dia langsung lari ke atas, sambil teriak-teriak ke Papa-Mamanya. Saya mendengar mereka heboh seru di atas. Ketika kembali ke kamar 5 menit kemudian, gantian si kriwil Lou yang pengen pake kerudung.

Satu jam kemudian, setelah selesai bimbingan terakhir sama spv saya, lalu mengenang 3 bulan “kebersamaan” kami, dari awalnya “we are totally stranger” sampai saat ini kita “trust each other”, saya pamitan. Pamitan untuk “selamanya”. Kita gak akan ketemu lagi karena 4 hari lagi saya akan pulang ke Indonesia. Mata saya berkaca2. “Sorry, I am a little bit sad now” kata saya. “Me too”; kata beliau. Suasana hati saya haru biru keluar dari rumah itu. Apalagi warna langit begitu menyentuh. Say goodbye pada spv saya mentrigger perasaan say goodbye pada kota ini.

Maka saya memutuskan untuk menenangkan diri dengan jalan. Saya ingat waktu saya bilang suka sama Oosterpark, spv saya bilang “udah ke Vondelpark belum, deket sini loh”. Saya cek di google map, 30 menit. Dekat sama mueseumplein ternyata.

 

Saya duduk di salah satu kursi di Vondelpark. Di depan saya kolam, bebek-bebek asyik berenang disana. Taman-taman di Amsterdam serasa syurga buat saya. Saya bisa melakukan aktifitas favorit saya dengan sangat tenang dan khusyuk disana : membaca, menulis, atau berbincang dengan diri sendiri. Ada satu hal yang wara-wiri di kepala saya saat itu. Gema dari kata-kata yang saya katakan pada si kecil Evy : “Cuman papa yang gak boleh liat rambut tante. Mama, Lou dan kamu boleh liat”.

Kalimat yang “spontan” saya ucapkan itu, berputar-putar dalam kepala saya. Meskipun saya melihat ekspresi kaget di wajah spv saya mendengar jawaban itu (tampaknya beliau tidak banyak tahu tentang Islam, jadi jawaban saya bikin beliau kaget); tapi spv saya tidak bertanya lebih lanjut. Tapi justru jawaban dari diri saya yang memunculkan pertanyaan2 lanjutan dari diri saya sendiri. Kenapa papa gak boleh liat tapi mama boleh liat? Jadi berarti jilbab itu untuk menurut aurat dari siapa? laki-laki non muhrim? kenapa begitu? kenapa pembedanya adalah jenis kelamin? kenapa perempuan non muslim boleh liat?  jadi apa esensinya berjilbab itu?

Iyesh, 84 hari disana memang tak hanya me-refresh kognitif dan self. Tapi juga merefresh aspek religiusitas. Jawaban-jawaban saya pada mereka-mereka yang bertanya tentang filosofi maupun ritual islam, bergema dalam pikiran saya, memaksa saya untuk kembali merenungi, apa esensi dari keberagamaan saya.

Amsterdam, 29 Desember 2019.

 

 

 

Temporary Pindah Channel

Dear all, setahun terakhir ini, karena keterbatasan waktu, tulisan2 saya sementara pindah channel ke IG dan Facebook. Bagi yang merasa bermanfaat membacanya, mangga bisa diakses di IG dan Facebook saya.

ig

facebook

Kategori2 tertentu bisa disearch melalui hashtag ini :

hashtag

Insyaallah kalau waktunya sudah luang, tulisan2 di medsos akan dipindahkan ke blog, dan selanjutnya akan kembali ke blog

Salam hangat & peluk erat,

Fitri

Previous Older Entries