Mars and Venus on Earth : Introduction

Dalam waktu singkat taaruf kami 16,5 tahun lalu (mulai taaruf Februari, khitbah Maret, menikah Juni ;), salah satu buku yang saya khatamkan dan saya pelajari sungguh-sungguh sebagai persiapan menikah adalah buku “Men Are From Mars, Women Are From Venus”. Saat itu, baca sambil senyum-senyum, dan rasanya isinya udah ada di luar kepala haha…. Dan ketika masuk ke dunia pernikahan sesungguhnya, entah kenapa semua yang sudah ada di luar kepala itu kabur semua kkkk…..

Saya ingat, kurang lebih 11 tahun lalu (saya inget karena sudah ada si bujang); berarti di usia pernikahan 6 tahunan, suatu hari saya marah besar. Jadi waktu itu si abah sepertinya sedang ada masalah di kantor. Dan dalam bayangan saya sebagai istri, romantis banget gituh kalau suami teh curhat sama istri, lalu sebagai istri saya memberikan masukan, lalu suami berterima kasih terhadap istri, lalu berpelukan… haha…. Tapi kenyataannya bukan begitu. Dengan muka kusut, si abah lebih banyak tidur, menghindar dari saya. Akhirnya saya “meledak”, “ngambek”. Saya bilang, saya merasa tidak dihargai sebagai istri. Saya ingin kita berbagi suka dan duka. Saya gak tega liat dia pusing sendiri. Saya pengen bantu. Setelah bilang gitu, saya melancarkan aksi bisu (senjata istri itu kan diam seribu bahasa ;), dan konon katanya suami lebih tahan dicerewetin daripada didiemin kkk). Lalu kemudian, si abah pun bicara. Kurang lebih kayak gini lah : “Maaf ya De, bukan aku gak menghargaimu. Tapi kalau lagi ada problem, aku tuh lebih nyaman kalau tidur. Bangun tidur, pikiran lebih fresh dan aku bisa berpikir jernih untuk selesein masalahku. Aku malah tambah pusing kalau dirimu tanya-tanya terus”.

Mendengar kalimat itu, tiba-tiba saya teringat kalimat-kalimat dalam buku Mars & Venus yang saya baca waktu taaruf : A man goes into the cave when he wants to be alone to think, or rather not think, about a problem that’s currently weighing on his mind. Any number of reasons – from work to finances to health – could send him heading for his cave and, subsequently, leave a woman in the dust feeling confused and wronged. Semua yang disampaikan si abah benar. Dia bukan tak menghargai saya. Bukan tak ingin berbagi dengan saya. Dia sebagai laki-laki, hanya berbeda cara dalam menyelesaikan masalah, dengan saya sebagai perempuan. Saya, perempuan, bicara. Berbagi. Dia, laki-laki, “masuk ke dalam gua”. Tidur.

Kesadaran akan pengetahuan itu, membuat kami tak pernah lagi bertengkar mengenai hal itu. Saya tau kapan harus membiarkannya menyepi di “gua”nya, dan menjelaskan pada anak-anak. Dan semakin kesini saya juga tahu, bahwa itu gak hitam putih. Si abah akan cerita masalahnya ke saya, akan meminta pendapat saya, kalau dia sudah bisa mengurai masalahnya dengan lebih jernih. Bukan kayak saya yang kalau curhat, saya juga gak ngerti mana ujungnya mana pangkalnya, dan apa maunya saya haha….

Dan penjelasan saya ke si abah bahwa perempuan kalau lagi ada problem copingnya adalah cerita, bukan untuk mendapatkan solusi tapi untuk didengarkan, juga berhasil mengurangi pertengkaran kami. Dulu kan kalau saya cerita, si abah ngasih solusi, saya malah marah karena merasa gak dimengerti. Kesini-sini, si abah tau kalau saya lagi cerita, jawaban efektif yang bisa membuat saya “meleleh” adalah :’hhhmmm… oh gitu..”. Sampai si sulung dan si bujang suatu hari bilang : “kayaknya abah sebenernya gak ngedengerin deh, dalam pikirannya mikirin hal lain, cuman hemm..hemm aja” haha….gapapa… yang penting mau berproses belajar. Itu kunci penting.

marsvenusPernikahan, adalah sebuah perjalanan panjang pembelajaran. Yups, ada pernikahan-pernikahan yang diusahakan segimananya pun, akan tetap “sakit”. Maka, perceraian akan membuat pasangan menjadi lebih “sehat”. Biasanya, itu karena salah satu atau keduanya punya masalah psikologis yang “berat”, misalnya sangat tidak matang kepribadiannya, dll. Tapi ada banyak perceraian yang terjadi, yang diakibatkan oleh masalah-masalah yang dialami oleh semua pasangan lain di dunia ini. “suami tidak romantis, istri yang terlalu cerewet, suami yang tak mau disalahkan, istri yang baperan”……itu mah keluhan semua pasangan di dunia ini. Masalah-masalah kecil yang bisa kita selesaikan, dengan langkah awal : “tahu”. Tahu bahwa ada hal-hal yang memang Allah ciptakan berbeda antara laki-laki dan perempuan. Kenapa Allah ciptakan banyak perbedaan padahal mereka berdua harus “menyatu?” tentu ada hikmah besar dibalik itu. Salah satu hikmahnya : biar kita terus belajar, biar pikir kita terus terasah, rasa kita terus terolah. Sakinah Mawaddah Warohmah itu, bukan cerita dongeng. Ia harus kita raih dengan perjuangan berupa mencari pengetahuan, melatih kerendahan hati, menjaga kesungguhan. Perjuangan itulah hakikatnya manfaat dari pernikahan. Pernikahan, tak otomatis membuat kita menjadi “bijak” kalau kita tak mau belajar. Trust me, usia pernikahan tak selalu berbanding lurus dengan kemampuan mengenali diri dan pasangan, dengan kemampuan mengelola konflik, jika kita tak mau belajar.

Maka, ketika awal tahun ini saya menemukan seri buku-buku bernuansa “Mars & Venus” di Toko Buku Periplus langganan saya; Why Men don’t Listen and Women Can’t Read Maps, Why Men Lie and Woman Cry, Why Men Want Sex and Woman Need Love, langsung saya borong. Setiap wiken saya baca, kali ini bukan sambil senyum-senyum, tapi sambil ketawa ngakak (gak pake guling-guling sih haha…). Beberapa kali, saya “baca bareng” si abah. Maksudnya baca bareng adalah saya baca buku itu, si abah baca buku lain atau nonton TV atau tidur kkkk….

Dan yesh, hadits “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.”; nyata kebenarannya. Ada banyak hal yang biasanya bikin saya marah atau kezel, setelah baca buku itu jadi berkurang frekuensi dan intensitasnya (meskipun masih dipengaruhi faktor PMS haha….). Misalnya, dulu suka kezeeeeel banget kalau si abah nyari sesuatu dan bilang “gak ada” . Dan setelah saya datang kesitu, ya ampuuun….itu di depan mata apa bah….. Sekarang jadi berkurang setelah mengetahui bahwa sistem dan proses penginderaan laki-laki dan perempuan memang berbeda. Lalu satu hal lagi, dulu saya suka marah kalau nanya si abah, “abah sayang gak sama aku?” trus si abah gak bisa jawab atau jawabannya gak memuaskan kkkk (Sampai sekarang juga doi belum memberikan jawaban yang memuaskan loooooh….kkk). Ternyata di salah satu buku itu diceritakan, bahwa “do you love me?” adalah pertanyaan paling sulit buat seorang pria haha…. ternyata suamiku normal hihihi….

Dan yang jauh lebih penting, pengetahuan ini membuat pandangan saya pada si abah lebih positif. Maklum, rasanya sumber kemarahan seorang istri  dari suaminya itu banyak banget ya? kkk… Saya tersadar bahwa banyak hal sumber konflik, terjadi bukan karena dia “gak peduli” (kan buat perempuan mah berlaku ungkapan ” lawannya cinta bukan benci, melainkan tidak peduli; right? ;), Tapi karena dia berbeda.

Nah, karena tidak semua teman-teman punya kesempatan baca buku-buku seri Mars & Venus itu, insyaallah saya akan share isinya disini. Seru deh pokoknya kkk. Insyaallah, semoga ALlah memberikan izinNya.

 

Advertisements

Cinta Gothel vs Makna Hamdalah

Minggu lalu, (untuk yang kesekian puluh kali-nya), saya menemani anak-anak nonton film TANGLED, yang diputar di channel TV yang kami langgan. Meskipun sudah puluhan kali menonton bersama, tetap saja kami menikmatinya. Setiap kali saya nonton film ini, saya selalu teringat tafsir ayat kedua dan ketiga surat Al Fatihah. “Alhamdulillahi robbil alamiin”. “Arrahmanirrohiim”. Kalimat pertama adalah kalimat hamdalah, yang otomatis sering kita ucapkan. Asa gak nyambung? haha… trust me, nyambung banget.

Buat yang gak pernah nonton film Tangled, film ini menceritakan tentang Rapunzel, seorang putri berambut ajaib. Rambutnya bisa bercahaya kala ia menyanyi, dan punya banyak khasiat. Khasiat rambut itu akan hilang kalau rambutnya dipotong. Itulah sebabnya Rapunzel punya rambut yang sangat panjang. Rapunzel tinggal bersama “ibunya” bernama Gothel,  yang sebenarnya adalah penyihir yang menculiknya dari kerajaan. Rapunzel diculik karena rambut ajaib Rapunzel berkhasiat membuatnya tetap awet muda. Setiap Rapunzel menyanyi, rambut emasnya akan bersinar, dan Gothel yang sebenarnya sudah berusia ratusan tahun akan tetap muda dan cantik. Dalam film tersebut, Gothel digambarkan sebagai seorang ibu yang cukup penyayang. Ia memelihara Rapunzel, mengupayakan permintaan Rapunzel, melindunginya untuk tidak keluar rumah dan bertemu orang lain, namun semua itu dilakukan dengan satu motif : agar ia tetap bisa mendapatkan manfaat dari rambut Rapunzel.

Nah, apa hubungannya dengan hamdalah ? Saya akan cerita dulu sekilas mengenai tafsir hamdalah versi tafsir Al Misbah karya Prof. Quraish Shihab dan tafsir Al Azhar karya Prof. Hamka. Arti “Alhamdulillahirobbil aalamin” adalah “Segala puji bagi Allah pemelihara seluruh alam’. Lebih spesifik, makna Rabb adalah “pemelihara, penjaga, pendidik, pengasuh”. Pemelihara, penjaga, pendidik dan pengasuh yang bagaimana? Penjelasannya ada di ayat selanjutnya. “Arrahmanirrohiim”. Pemeliharaan, penjagaan, pendidikan dan pengasuhan tak akan dapat terlaksana dengan baik dan sempurna jika tak diserta oleh rahmat dan kasish sayang. Jadi, Allah “memelihara, menjaga, mendidik dan mengasuh” seluruh alam termasuk manusia, bukan untuk kepentingannya atau sesuatu pamrih. Waktu baca rangkaian kalimat di atas, jujur saya masih belum mengerti. Saya baru mengerti ketika kedua mufassir kebanggaan Nusantara ini memaparkan contohnya. Kalau ada seorang CEO perusahaan menyekolahkan karyawannya, apakah ia meneladani sifat “Rabb”? Tidak. Karena ia menyekolahkan karyawannya untuk pamrih. Agar karyawan tersebut setelah sekolah punya kompetensi dan skill yang bisa memajukan perusahaannya. Benefitnya tidak murni untuk si karyawan, tapi untuk dirinya. Contoh lain : Seorang peternak sapi. Ia menyayangi sapinya, memberi makanan terbaik, mengusahakan kesehatan terbaik. Untuk apa ia lakukan ini  ? agar sapinya montok, dan kalau dijual mahal. Jadi si peternak tidak meneladani sifat “Rabb”, karena “kasih sayang, pemeliharaan, penjagaan” yang ia lakukan terhadap si sapi adalah untuk kepentingannya. Keren banget ya makna Al Qur’an itu….. Ayat-ayat ini, yang sudah turun sekian abad lalu, sangat sempurna menggambarkan apa yang kemudian oleh Psikologi disebut sebagai “unconditional love”, cinta tak bersyarat.
gothelNah… dengan paparan di atas, jelas bahwa Gothel, si ibu Rapunzel, sama sekali tidak mengasuh, mendidik, menjaga Rapunzel dengan semangat rahman dan rahiim; tapi untuk penetingannya semata. Ia tak meneladani sifat Rabb. Apa buktinya? buktinya ia marah dan menjadi “jahat” ketika Rapunzel ingin pergi dan mencari kebahagiannya sendiri.

……………………………..

 

Tiga tahun lagi saya akan masuk fase “melepaskan” anak, si sulung. Meskipun sudah “latihan” dengan melepaskannya ke Boarding School, namun masuk Perguruan Tinggi adalah sebuah milestone perkembangan hidup yang signifikan, karena anak mulai memilih hal-hal penting dan signifikan dalam hidupnya. Pilihan penting yang akan menunjukkan dan menjadi jalan baginya “menjadi diri sendiri”, yang mungkin bisa berbeda dengan pilihan saya.  Saya harus “melepaskan” dia memilih jurusan dan bidang aktualisasi diri yang paling dia mau, dan mungkin beberapa tahun kemudian, saya harus “melepaskannya” memilih pasangan hidup, melepaskannya memilih pola asuh untuk anaknya, dll dll.

Situasi ini membuat saya banyak merenung mengenai hakikat relasi kami. Saya banyak menelisik pikiran dan perasaan saya dalam pengasuhan. Saya ingat, beberapa puluh tahun lalu, senior-senior saya di Fakultas Psikologi UNPAD tergabung dalam sebuah penelitian internasional di sekian puluh negara, mengenai topik value of children. Apa makna anak bagi para responden dari puluhan negara tersebut. Salah satu hasil dari Indonesia adalah, orangtua menilai anak sebagai “investasi”. Kita juga serung denger ya, narasumber yang bilang bahwa anak itu investasi dunia akhirat. Yups, banyak diantara orangtua Indonesia merasa bahwa punya anak itu, jaminan agar “nanti kalau udah tua ada yang ngurus”.

Saya menelisik ke lubuk hati saya, apakah saya juga memaknakan demikian? memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya sekarang ini ketika mereka “belum berdaya” , agar nanti saya bisa “menagih” pada saat saya sudah tidak berdaya? Jika ya, apakah itu benar? atau salah? Rasanya sih benar… tapi kalau merenungi makna Rabb dari tafsir tadi, rasanya kok salah ya? Apa bedanya saya dengan Gothel? memelihara agar bisa memetik untung untuk diri.  Bukannya kita harus meneladani asmaul husna?

Saya banyak mengamati para sepuh yang sudah punya anak-anak dewasa. Dan saya melihat… para orangtua yang tulus, mendidik, memelihara anaknya, legowo dengan pilihan anak yang berbeda selama masih dalam koridor kebenaran dan kebaikan… itu mereka mendapatkan balasannya. Apa balasannya? cinta yang tulus juga dari anak-anaknya. Mereka orangtua yang tidak pernah secara verbal mendoktrin anak-anaknya : “sebagai anak kamu harusnya ini itu, kamu berkewajiban ini itu sama orangtua”; justru mereka mendapatkannya. Karena kerelaan anak mencintai orangtua itu tumbuh dari ketulusan orangtua mencintai anak-anaknya, tanpa pamrih.

Sebaliknya, orangtua yang mendoktrin anaknya secara verbal: “sebagai anak kamu harusnya ini itu, kamu berkewajiban ini itu sama orangtua, ridho orangtua itu segalanya loh”; anak-anaknya tidak tulus melakukannya. Terpaksa. “Saya mendoakan ibu saya sih, tapi jujur doanya teh kayak kewajiban aja gitu, gak pake perasaan”. Begitu kata salah seorang anak yang “didoktrin” harus sayang sama orangtua.

Sebagai seorang ibu, meneladani sifat Rabb yang Rahman dan Rahiim, adalah sebuah perjalanan panjang. Mengatakan : “ibu udah cape-cape masak, malah kamu gak makan. kamu gak menghargai ibu” itu wajar, tapi menahannya dalam hati, itu latihan untuk tak berpamrih. ” Percuma ibu  berkorban anterin kamu les kumon tiap hari, ternyata nilai matematika kamu tetep jelek, malu-maluin ibu aja” itu ungkapan fakta, tapi menahannya dalam hati, itu latihan untuk tak berpamrih. “Ibu dulu mengorbankan waktu kerja nemenin kamu sakit, masa sekarang kamu gak bisa cuti untuk nemenin ibu?” itu logis, tapi menahannya dalam hati, itu latihan untuk tak berpamrih.

Semoga kita terus dituntun oleh cahaya Illahi untuk meluruskan niat kita dalam mengasuh anak; belajar untuk terus meneladani sifat-sifat sang Maha Kuasa, karena dalam tubuh kita, ada jejak Asmaul Husna-Nya. Rahim.

 

 

Kala Anak Kita “Memilih Orang Lain” : The story about true love

Hari ini, saya seharian di rumah. Saya agendakan untuk menyelesaikan naskah untuk bimbingan tgl 2 Desember nanti . Saat jam menunjukkan pukul 14, saya menunggu-nunggu suara teriakan si bungsu dari bawah. Jam 14 adalah jam kedatangan si bungsu kelas 1 SD itu dari sekolah. Tapi teriakan khas-nya tak kunjung terdengar. Lima belas menit kemudian, saya mengambil handphone untuk mengontak pak sopir menanyakan sudah dimana. Ternyata ada pesan whatsapp dari pak sopir : “Bu, Dede katanya gak mau pulang. Mau di rumah teh Rini main bola sama de Rendy dan A Reza, sama mau nonton Kungfu Panda”. Teh Rini adalah istri Pak Ayi, sopir kami. Sejak usia si bungsu  7 bulan, setelah kami tidak mendapatkan pengasuh dan asisten yang bisa menginap, memang si bungsu diasuh oleh teh Rini, di rumahnya yang tak jauh dari rumah kami. De Rendy dan A Reza adalah putra dan keponakan teh Rini. Masing-masing kelas 4 dan 6 SD. Sejak saya sekolah S3 dua tahun lalu dan mendapat status tugas belajar, setiap pulang sekolah si bungsu selalu pulang ke rumah, karena program S3 saya yang by Research membuat saya bisa mengerjakan sebagian besar riset saya di rumah.

Saya tercenung agak lama membaca pesan itu. Saya ingat, dulu ketika awal-awal saya S3 dan anak-anak terutama si bungsu menyadari bahwa ibunya tak lagi datang menjelang maghrib, tiap akan berangkat sekolah mereka selalu bertanya : “nanti siang ibu ada di rumah?”. Kalau saya jawab “ya”; mereka akan melompat kegirangan sambil teriak “yes!”. Dan kegirangan itu terus terbawa sampai nanti dia pulang sekolah, berteriak “ibu ! ibu !” dari pintu masuk, agar terdengar oleh saya di ruang kerja di lantai atas.

Hari ini, saya ada di rumah, dan si bungsu memilih untuk tidak mau pulang menghabiskan waktu dengan saya, malah memilih “orang lain”. Beberapa tahun lalu, mungkin saya akan merasakan emosi “negatif”. Sedih mungkin? kesal? kecewa? Tapi tidak rasa negatif itu tak saya rasakan saat ini. Kenapa?

………………………………………………………………………………………………..

Seorang teman saya pernah bertanya pada saya beberapa minggu lalu: “Beneran kan lu udah jarang nulis ya? apa gw yang gak dapet notif? padahal gw pasang notif di imel kok”. Dan saya mengangguk. Yups, sudah sangat jarang memang saya menulis di blog ini. Saya baru menyadari bahwa walaupun tulisan di blog bukanlah tulisan yang “berat”, tapi ternyata menulis itu butuh energi ya…. Dan prioritas saya untuk mengerjakan disertasi ternyata menghabiskan energi sehingga tak cukup untuk menuliskan  pikiran dan perasaan seperti biasanya.

Teman saya yang lain bilang : “nulis penghayatan lu tentang parenting dong…gw kangen tulisan lu ttg itu”. Nah, tentang ini, saya juga vakum untuk waktu yang cukup lama. Terakhir kali nulis bulan apa ya? sampai lupa haha… Kenapa tak menulis lagi tentang penghayatan parenting? karena beberapa bulan lalu, saya masuk ke fase selanjutnya dari pengalaman menjadi ibu, seiring perubahan pada anak-anak saya, terutama pada si sulung dan si bujang yang masuk usia SMA dan SMP. Ada banyak perubahan dan penghayatan yang saya rasa. Ada banyak pengalaman dan kejadian yang membuat saya butuh waktu untuk merenung…. mencerna apa yang terjadi, menghayati apa yang saya rasakan, mempertanyakan hal-hal yang selama ini saya yakini dan saya pahami…. Proses itu membuat saya belajar rasa yang baru, pemikiran yang baru, dan sikap serta perilaku yang baru. Saya belajar dimensi baru dalam perjalanan menjadi seorang ibu.

Dan satu dari sekian banyak pelajaran itu adalah, merasa “it’s oke” ketika anak kita memilih “orang lain” dibandingkan kita. Mungkin ini tampak sederhana dan bisa terjadi secara “otomatis” bagi ibu lain. Tapi tidak buat saya. Dan buat sebagian ibu, juga ini bukan hal yang mudah. Saya ingat seorang remaja pernah bilang ke saya : “ibu saya suka bilang kalau saya harus mandiri. Tapi saya ngeliat, kalau saya misalnya melakukan sesuatu sendiri, ibu aku teh suka sedih, trus suka bilang tuh kan kamu udah gak butuh ibu lagi. Jadi kadang aku teh pura-pura gak bisa sendiri biar ibu aku ngerasa tetap dibutuhkan”. 

Buat saya, anak-anak have their own wisdom. Saya selalu dapat banyak hal ketika mendengarkan kata-kata mereka, terutama apa yang mereka rasakan dan katakan tentang orangtua mereka. Saya selalu mempersepsi, kata-kata anak-anak mengenai orangtuanya adalah pelajaran dariNya untuk saya, yang Allah titipkan lewat lisan mereka.

Saya pernah menulis di status medsos, bahwa ketika anak kita kecil, lalu mereka lebih mengidolakan guru mereka, atau teman-teman mereka, kita tak keberatan. Kita berterima kasih pada bu guru, kita senang karena teman-teman anak kita menemani anak kita. Tapi saat itu, mereka masih menceritakan “semuanya” pada kita. We are still their “number one” 

Tapi kemudian, ada suatu masa, dimana anak kita mulai memilah. Ada hal-hal yang tidak ia ceritakan pada kita sebagai orangtuanya.  Ada hal-hal yang tak dia bagi lagi dengan kita, namun di abagi dengan orang lain ynag “istimewa” buat dia. Kita tak lagi jadi “their number one”. Ada masa dimana anak kita bilang pada seseorang yang istimewa buatnya : “lo lebih ngertiin gw dibanding ibu gw” . Dan pada saat itu terjadi,  tiba-tiba saya merasa… tak bisa se-legowo ketika anak-anak saya mengidolakan gurunya, atau menceritakan sahabat-sahabatnya.

Sebuah pergulatan yang berat buat saya untuk meresapi situasi ini. Perasaan “saya tak dibutuhkan lagi”, kenyataan bahwa “ada seseorang lain yang lebih penting buat anak saya”, ternyata begitu menakutkan dan menyakitkan. Butuh waktu lama bagi saya untuk meresapi dan memahami perubahan konstelasi psikologis ini. Sampai kemudian, pergulatan panjang ini membuat saya mendapatkan  sebuah pelajaran : bahwa seiring waktu berkembangnya anak kita, ada ruang-ruang yang tak lagi bisa saya masuki. Sesayang apapun saya sama dia, dia perlu bentuk sayang lain yang berbeda dengan sayang dari orangtuanya.

trueloveTidak mudah menerima bahwa ada “orang lain” yang berarti buat anak saya dibandingkan saya. Tapi pada akhirnya, pergulatan itu membuat saya meresapi hakikat rahim. Rahim yang sebelum ada janin di dalamnya hanya sebesar buah alpukat, bisa mengembang begitu amat luas dan memberikan kehangatan. Saya merasapi, itu adalah analogi dari yang Maha Kuasa,  bahwa seorang ibu, yang punya rahim dalam dirinya, harus punya ruang cinta yang luas. Ruang cinta yang memberikan tempat bagi anak kita merasakan cinta yang lain, yang juga memberikan tempat bagi orang lain untuk masuk dan turut mencintai anak kita. Ada pelajaran berharga yang saya dapat, bahwa kalau sebelumnya saya memandang “orang lain” itu sebagai “perebut” anak saya, kini saya memandang bahwa kami, sama-sama menyayanginya. Dengan bentuk sayang yang berbeda, yang melengkapi kebutuhan anak saya.

Setiap kali membaca mengenai perkembangan anak dan bagaimana orangtua harus belajar untuk “berkembang bersamanya”, saya selalu punya pertanyaan : Kenapa Allah menciptakan proses perkembangan anak kayak gitu? Mengapa kami orangtua harus belajar untuk melekatkan diri di tahun-tahun awal kehidupan mereka, harus menunda dan bahkan “melupakan” mimpi-mimpi besar kami karenanya? mengapa mereka dibuat sedemikian tak berdaya sehingga “tergantung pada kami orangtuanya? Lalu setelah kita begitu lekat, perlahan meraka menemukan “orang lain”, perlahan mereka tak membutuhkan kita lagi dengan bentuk yang sama seperti yang kita inginkan.

Sekarag saya tau jawabannya. Perkembangan anak, sejatinya adalah media buat kita orangtua untuk belajar menjadi wise, menjadi bijaksana, menjadi rendah hati, dan menjadi bisa mencintai tanpa syarat. Ketika wisdom itu sudah didapat, rendah hati sudah dipelajari, cinta tanpa syarat sudah dimiliki; tak akan ada lagi rasa sesak saat nanti anak kita lebih memilih passion-nya dibandingkan arahan kami; lebih memilih keputusan pasangan hidupnya dibandingkan keputusan kami. Akan ada rasa legowo ketika cucu-cucu saya lebih memilih nenek “sana” dibanding saya.

Dan hasil pembelajaran itu terasa hari ini. Ketika jam 5 tadi si bungsu datang dan menceritakan keseruan bermain dengan teman-temannya, menceritakan kekangenannya dipeluk teh Rini, saya tak merasa “tersaingi”. Seperti yang saya sampaikan pada teman istimewa anak saya, saya akan bilang ke teh Rini : “terima kasih sudah sayang sama anak saya” 

 

 

 

 

 

cerita pesiar: dua kekhawatiran dan dua rasa perpisahan

Awal Oktober lalu, tgl 2-7 Oktober, adalah waktu yang dinanti-nanti si sulung, teman-teman se-boarding schoolnya, dan keluarganya masing-masing. Pesiar. Waktunya “pulang”. Empat hari yang sudah dinanti-nanti selama 3 bulan. Setiap menengok si sulung, saya selalu tak bisa menahan senyum melihat “kalender pesiar” yang ditempel di kamar si sulung, karya teman-teman sekamarnya. Ada deretan tanggal sejak akhir Juli, sampai dengan hari H pesiar. Setiap hari yang terlewati disilang sepenuh hati, tak jarang dengan beragam ekspresi emosi yang tertuang  dalam bentuk tekanan, gambar dan komentar 😉

Riak euphoria pesiar sudah mulai terasa 3 minggu sebelumnya di grup telegram orangtua.  Mulai dari pendaftaran travel, serta koordinasi pembookingan tiket pesawat bagi santri yang di luar kota/luar pulau/luar negeri. Di minggu terakhir menengok sebelum pesiar, euphoria itu sangat terasa di kamar asrama. Saya senyum-senyum sambil berkaca-kaca melihat gadis-gadis remaja itu “heboh” packing, menyiapkan baju apa yang akan dipakai pulang, membuat rencana kegiatan yang akan dilakukan selama 4 hari di rumah. Ketika ketemu adik-adiknya, si sulung sudah berkali-kali wanti-wanti : “Awas loh! kamar Kaka jangan berantakan ! Harus kalian beresin!”. Kalimat itu disertai tatapan tajam setajam silet, khususnya pada si bujang yang saat ini menempati kamarnya haha….

Euphoria juga terasa di rumah kami. Selain si gadis kecil dan si bungsu yang heboh bikin gambar dan surat penyambutan buat kakaknya, saya pun tak mau kalah. Saya kosongkan semua jadwal saya di minggu itu. Beberapa kali saya harus “menolak” beragam aktifitas di minggu itu dengan mengatakan : “anakku mau pulang” ;). Si abah, saya tugasi mengecat kamar si sulung dengan warna biru, warna favoritnya. Plus nempel-nempelin foto-foto kelas SMP, bergabung bersama foto-foto kelas SD-nya.

Tapi seiring dengan euphoria itu, di sudut hati saya, ada 2 kekhawatiran yang muncul. Kekhawatiran pertama,  bernuansa “rasio”. Kekhawatiran kedua, bernuansa emosi.

Kekhawatiran pertama. Saya khawatir bahwa “kebaikan” yang terbiasa dilakukan si sulung di boarding school-nya (baik yang sifatnya habit : sholat malam, tilawah, dll; maupun yang sifatnya value), “luntur” saat tiba di rumah. Saya sudah banyak mengetahui dan menyaksikan bahwa anak-anak “sholih/sholihah-disiplin” di boarding school itu, bisa berubah 180 derajat saat di rumah. Artinya, nilai-nilai yang coba ditanamkan, hanya bersifat “perilaku situasional”, bukan terinternalisasi menjadi kepribadian. Saya banyak mendengar, bagaimana anak-anak yang terbiasa bangun jam 4 itu, saat di rumah kembali susah dibangunkan dan kesiangan shalat subuh. Saya juga tida jarang mendengar kisah, pemisahan antara putera-puteri di boarding, membuat mereka seperti “kuda keluar dari kandangnya” saat di rumah.

Kekhawatiran kedua. Seperti ibu-remaja putri lainnya, saya mengalami fase-fase “renggang” dengan si sulung di usia SMPnya. Hari-hari kami dipenuhi konflik, saling kesal dan saling marah. “Perpisahan” ini lah yang kemudian memberi andil besar pada kedekatan hati kami kembali. Berpisah, membuat masing-masing kami punya waktu untuk menelusuri relung-relung hati. Meresapi banyak rasa seiring dengan menelusuri beragam peristiwa selama 3 tahun terakhir. Memunculkan rasa sesal, kangen, perasaan bersalah, rasa bangga, bercampur aduk. Campur aduk rasa itu yang saya tuangkan dalam bentuk surat, yang saya berikan setiap saya mengunjunginya. Maka, tiga bulan secara fisik berpisah, tapi kami merasa justru secara hati sangat dekat. Tanpa konflik-konflik keseharian, setiap bertemu kami berpelukan erat dan lama, saya kembali bisa merasakan degup jantungnya di dada saya. Tanpa kekesalan sehari-hari, saya kembali bisa menciumi wajahnya, dan dia menjadi my little sweet girl kembali. Saya sangat khawatir, 3 bulan masa “bulan madu” itu, hancur dalam 4 hari. Saya takut gesekan-gesakan aktivitas, ketidaksesuaian harapan saat kami bersama 4 hari, kembali memunculkan kekesalan-kekesalan yang membuat jarak kembali antar kami berdua.

Dan hari itu pun tiba. Tidak tahu siapa yang lebih heboh; 5 orang yang menyambut atau satu orang yang disambut 😉. Dua hari penuh, saya menghabiskan waktu bersama si sulung. Nonton, makan, jakan-jalan, belanja belanji, masak, dan tentu saling curhat diantara aktivitas-aktivitas tersebut. Dua hari lainnya, terbagi menjadi satu hari untuk janjian dengan teman-temannya dan satu hari sendirian di rumah. Saya pikir saya juga pelu memberi ruang buat dia untuk sendiri. Dia juga ternyata pulang dengan membawa banyak tugas. Selain tugas menghafal 7 hadits, murojaah hafalannya, mencari sumber untuk lomba essay yang akan diikutinya, juga memvideokan 5 aktivitas untuk ujian TKK pramuka-nya : berenang, bersepeda, memasak, beres-beres rumah, dan menjahit 😉

Dan, tak terasa tanggal 7, kami mengantarkannya kembali ke asrama. Kehadirannya sore itu disambut teriakan teman-temannya yang sudah duluan datang. Dan lalu mereka berebut saling cerita tentang pengalaman pesiar, plus tentu saja kabar terbaru dari monyet-monyet… eh cinta-cinta monyet mereka haha….

Bagaimana kabar dua kekhawatiran saya diatas? Alhamdulilah keduanya tak terjadi. Mulai terlihat perubahan nilai, sesuai dengan yang ia dapat di boarding schoolnya. Dan secara otomatis, itu mereduksi konflik-konflik dianatar kami. Hal-hal yang dulu jadi bahan “pertengkaran” antara kami, kini sudah tak ada.

azkaaaaaaWaktu kami pulang menjelang maghrib, kami berpelukan eraaat ….saya bisa merasakan degupan dadanya di dada saya. Saya ingat tiga bulan lalu, kami berpisah dengan sejuta keresahan dan kekhawatiran dalam diri masing-masing. Kali ini, rasa resah dan khawatir itu tak ada. Pengalamannya selama 3 bulan disana, kami berdua bersyukur, Allah tunjukkan pilihan terbaik yang paling pas untuk dia.

Satu hal yang masih sama terjadi seperti ketika 3 bulan lalu saya meninggalkannya, satu kesamaan yang tidak saya duga, adalah ternyata saya masih sesenggukan sesampainya di mobil. Dan saya yakin dia juga, begitu sampai di kamarnya. But its oke. Tangis itu belum tentu karena luka. Sedih itu bisa berarti karena seseorang, amat berarti buat kita.

Geliat Hari di Penjara Suci

Hari Sabtu dan  Ahad lalu, saya menengok si sulung di boarding school nya. Di bulan pertama ini, kami bisa menjenguk setiap minggu, memberi waktu untuk kami maupun anak beradaptasi. Sebenarnya jadwal menengok adalah hari Minggu. Namun atas izin Bunda asrama, Sabtu siang kami datang dan menghabiskan waktu bersama si sulung, sampai maghrib.

Kenapa?  karena jumat malam, ketika waktu menelpon, 30 menit waktu menelpon saya pada si sulung diisi oleh isak tangis si sulung. Saya kaget banget. Saya pikir akan mendengar suara cerianya, mengingat ketika kunjungan pertama setelah seminggu di sana, saya menilai proses adaptasinya smooth banget. Tangisannya, curhatannya, adalah tangis dan curhat  yang “sehat”. Oh ternyata, sudah sejak hari sebelumnya dia sakit. Mual, muntah-muntah dan kemudian demam. Ringan sih sakitnya. Tapi membayangkan dia menjalaninya “sendirian”, untuk yang pertama kali, bikin hati saya remuk redam (haha…hiperbola banget ya…). Kenapa “sendirian”nya saya kasih tanda kutip karena sebenernya gak sendirian. Ada Bunda asramanya yang cekatan memberikan obat, menemani dan memijiti, ada 8 teman kamarnya yang bergantian mengompres, mengambilkan makan, dan mentake-over tugas-tugasnya.

Maka, setelah saya ikutan rapat ortu di sekolah si bungsu dan si abah ngurus placement test les bahasa inggris si bujang dan si gadis kecil (balada anak banyak, rempong always haha); kami pun cuzz ke Subang. Ashar kami sampai disana, sampai maghrib. Besoknya, hari Ahad, pagi-pagi kami sudah kembali nangkring di asrama si sulung, menunggu izin keluar jam 8, lalu membawa si sulung istirahat di hotel tempat kami menginap sampai check out, dan menghabiskan waktu sampai ashar kembali di asrama si sulung.

Jadilah dalam jangka waktu di asrama itu, saya punya waktu banyak mengamati aktifitas harian di asrama SMA putri. Saya bisa memahami mengapa secara fisik, si sulung ngedrop. Kalau di rumah selama ini rutinitasnya mulai  jam 4.30 dan tidur jam 9; dua minggu di asrama dia mulai beraktifitas jam 3. Mandi air dingin (Secara di rumah selalu air hangat hehe). Kenapa mandi jam 3? biar gak antri. Lalu qiyamul lail, sampai subuh. Bada subuh, ke sekolah (yang jaraknya tentu dekat) untuk tahfidz. Jam 6an, kembali ke asrama, siap-siap lalu makan pagi. Lalu ke sekolah, mulai aktifitas jam 7. Beraktifitas di sekolah sampai dhuhur, baru ada waktu istirahat dari dhuhur sampai ashar. Waktu istirahat yang biasanya dipakai untuk nyuci baju (meskipun ada laundry seminggu dua kali, namun untuk “daleman” dan seragam, si sulung mengantisipasi nyuci sendiri). Kalau gak dipakai nyuci baju, akan dipakai nyetrika, atau ngobrol sambil ngemil (itulah sebabnya dalam waktu 2 minggu, berat badannya sudah naik 3 kilo haha).  Btw, suply makanan di asrama buanyaaaak banget. Mereka mengumpulkan logistik makanan kiriman ortu dan hadiah-hadiah lomba dalam satu lemari (kebetulan ada satu lemari kosong karena satu orang ternyata gak jadi masuk), menjadi logistik bersama kkk. Ashar sampai jam 5, mereka tahfidz lagi di mesjid. Lalu jam 5 jadwal makan, ke mesjid lagi maghrib sambung isya, lalu jam belajar  sampai jam 10, tidur bangun jam 3. Total tidur 5 jam berarti. Jadi wajar di masa adaptasi ini agak drop. Apalagi karena batas antara “sekolah” dan “rumah” tidak kasat mata, maka banyak juga aktifitas sekolah yang melewati batas waktu jam 10. Misalnya waktu demo ekskul, itu baru selesai jam 12 malam.

Selain drop fisik, saya juga melihat ada pergulatan psikologis yang tentu saja menyita energi.  Jadi inget sama seorang teman saya. Putrinya,  NEMnya tinggi. Tapi gak masuk SMA yang “diimpikannya”, terlempar ke SMA yang kurang ia sukai. Lalu putrinya mengatakan : “Percuma aku berusaha belajar keras selama ini”. Ia pun berkata pada putrinya : “Saat ini, kamu sudah mulai masuk ke kehidupan yang sesungguhnya. Banyak hal yang akan kamu alami, akan jadi pelajaran kehidupan yang berharga buat kamu. Misalnya, bahwa tak selamanya upaya keras kita, membuahkan hasil sesuai harapan kita”. Saya sepakat dengan apa yang dingkapkan teman saya pada putrinya. Ya, tampaknya di usia SMA ini memang anak-anak kita, dengan kemampuan berpikir abstraknya, mulai punya pandangan, keinginan, harapan, antisipasi, penilaian, dan cara mengolah informasi yang lebih “dewasa” dan lebih “kompleks”.

Misalnya, bertemu dengan teman-teman barunya dari beragam kota di Indonesia bahkan beberapa dari luar negeri yang tak bisa berbahasa Indonesia, melihat beragam kehebatan teman-temannya, di sulung “galau”. Ada yang sudah hafal 16 juz, ada yang jago bahasa Jepang, ada yang melukisnya keren banget, ada yang juara OSN, ada yang fisika nya pinter banget … dia merasa …bisa “survive” gak ya, diantara teman-temannya yang “hebat-hebat”… Yups…ketidaktahuan memang meresahkan … jadi inget film jurassic world, ketika si dinosaurus hasil rekayasa kabur, si pawang dino bilang : dia gak tau posisi dia di rantai makanan tuh dimana, jadi dia akan membabi buta menyerang semua dino untuk tau posisi dia dimana.  Nah, kalau dinosaurus mah ekspresi cemas nya teh menyerang, kalau manusia mah galau … stress … gitu kali ya haha…

Kegalauan lain adalah, di satu sisi dia pengen aktif; jadi pengurus OSIS, ikut beragam ekskul. Jangankan anaknya ya, emaknya aja galau pengen ikutan semua ekskul haha… soalnya pas liat demo ekskulnya di live IG, keyeeen banget. Tari samannya, amazing banggets… klub debatnya keren, ekskul science, ekskul OSN, jurnalistik, panahan, basket, broadcasting, PASUS dengan koreo yang keren banget …. emang bikin bingung mau pilih yang mana hehe. Tapi di satu sisi, dia juga takut cita-cita ke PT dan jurusan yang dia inginkan, menjadi terganggu karena waktunya tersita oleh beragam aktifitas. Kemarin dia terpilih seleksi paper untuk menjadi pengurus OSIS, tapi kemudian ia mengundurkan diri karena pertimbangan takut terlalu menyita waktu belajar. Di satu sisi hatinya  bangga karena tak semuanya terpiih, di satu sisi “otaknya” menimbang-nimbang itu akan mengancam tujuan jangka panjangnya. Jadilah ia memutuskan mengundurkan diri dengan air mata haha….

Bener kan …. di usia ini, ia mulai menghadapi “pilihan-pilihan sulit”. Kalau dipikir-pikir sih, pilihannya gak sulit. Mungkin pernah ia hadapi sebelumnya. Tapi kemampuan berpikir yang lebih kompleks dan dewasa, membuat pertimbangannya menjadi kompleks. Soalnya adiknya, si bujang kelas 7, menghadapi pilihan yang sama : ekskul, OSIS dan target prestasi, dengan santai dia membuat keputusan : ikut OSIS. Alasannya? “Keren pas MPLS bisa bentak-bentak adik kelas” hahaha….

Selain adaptasi fisik dan pergulatan psikologis, tak ada yang perlu dikhawatirkan ternyata. Secara pribadi, saya menilai usia SMA memang usia yang paling “pas” untuk masuk boarding school (nanti secara lebih detil akan saya sampaikan paparannya, di tulisan lain). Secara emosi dan regulasi diri, mereka sudah cukup matang untuk mengelola perbedaan antara teman sekamar. Ada yang takut gelap, ada yang manajemen dirinya belum rapi, ada yang tidak terbiasa rapi; bisa mereka kelola dan tetap kompak. Mereka punya panggilan sayang khusus dalam satu kamar ini. Mereka juga saling dukung secara emosional. Ada yang kangen banget ortu, ada yang pengen pindah, mereka punya cara untuk saling memberikan support.

Minggu lalu, beberapa teman sekamar si sulung yang lanjut ikut proses seleksi menjadi OSIS dan MPK, mendapatkan challenge dari kakak kelasnya. Yang calon MPK dikasih kasus tentang pengurus OSIS; mereka harus menyelesaikan kasus itu, membuat keputusan dan menyampaikan argumen di depan panel kakak-kakak kelasnya. Yang calon pengurus OSIS bidang minat bakat, harus menyiapkan pidato persuasif dengan tema tertentu, yang calon pengurus OSIS bidang kedisplinan, harus presentasi ke kakak-kakak kelas 12. Salut banget deh…mereka saling bantu. Yang sudah menyiapkan pidato, “tampil” dihadapan teman-teman sekamarnya, lalu diberi feedback sebaiknya gimana, yang latihan memecahkan kasus, “diuji” oleh teman-temannya… Mereka juga kompak bersatu mengusulkan ekskul-ekskul yang belum ada, yang mereka minati untuk diusulkan ke skolah, karena prosedur itu dimungkinkan.

Pagi-pagi, saat saya berkunjung, sebagian bermain basket, sebagian bermain badminton di lapangan depan asrama. Sisanya, anak-anak yang tak akan dikunjungi oleh orangtuanya, diajak jalan-jalan oleh Bunda asrama ke luar. Seorang  gadis cantik yang berasa dari luar negeri, yang minggu lalu saya lihat tak berhenti-henti menangis ketika dijenguk orangtuanya, pagi itu saya lihat duduk menghadap lapangan basket, sambil membuat sketsa. Saya intip sekilas, sktesanya baguuuus.

Suara radio menyala lewat pengeras suara, siaran dari anak-anak ekskul broadcasting. Radio el-syifa ini, bisa didengarkan di seluruh kota katanya. Pengumuman makan dan menunya, dilakukan oleh anak-anak OSIS bagian olahraga dan kesehatan; sedangkan pengumuman waktu sholat dilakukan oleh anak-anak OSIS bagian rohis. Semua pengumuman di sampaikan menggunakan bahasa Inggris atau bahasa arab. Jam 1 sampai maghrib, language time menggunakan bahasa Inggris. Anak-anak tim bahasa yang akan mengontrol.

penjara suciJujur saja, saya senang sekali melihat geliat aktivitas harian di sekolah ini. Tidak adanya handpone dan TV yang pernah saya khawatirkan; tercover oleh adanya lab komputer, fasilitas olahraga, dan kegiatan ekskul yang beragam. Seperti yang disampaikan oleh kepala sekolah, dari beliau saya pertama kali mendengar istilah “penjara suci”; bagi anak-anak itu, asrama ini bisa jadi dipersepsikan sebagai penjara. Mereka tak bisa melakukan banyak hal yang dilakukan oleh teman sebaya mereka “di luar sana” melalui gadget dan keleluasan mobilitas. Mereka kelhilangan kesempatan bertambah pengetahuan dan pengalaman yang bisa diberikan oleh kemajuan teknologi dan media sosial. Mereka terpenjara oleh rutinitas, oleh aturan.

Tapi saya melihat, untuk kesejahteraan psikologis mereka,  di usia itu, tak ada yang terampas. Bermain, beraktifitas, membangun intimacy dalam persahabatan, mengelola diri, mengolah pikir untuk problem solving, menghadapi keragaman, fasilitasnya bahkan bisa lebih baik dari pada yang bisa saya berikan di rumah.

Saya percaya, untuk mencapai tujuan pengasuhan yang telah kita tetapkan, yaitu ingin putra/puteri kita menjadi sholeh/sholehah; ada banyak cara dan jalan. Turunannya, ada beragam bentuk sekolah yang bisa kita pilih. “Penjara suci” menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan visi itu; menyiapkan anak kita tak hanya untuk jangka pendek : masuk jurusan ini di PT itu. Tapi mewujudkan visi untuk bisa mengenali diri, memiiki pengalaman dan menempa kebijaksanaan untuk menghadapi peran-peran dalam kehidupannya : menjadi muslim/muslimah, menjadi bagian dari masyarakat, menjadi istri/suami, ibu/ayah, menjadi pribadi yang survive dan berprestasi di dunia, dan selamat di akhirat.

Ada banyak cara untuk mencapai visi pengasuhan kita. Yang penting kita dengan sepenuh kesadaran memilihnya. Karena sesunggungguhnya, takdir putera-puteri kita, telah tertulis di Lauhul mahfudz. Yang bisa kita lakukan adalah berikhtiar maksimal. Itu kewajiban kita.

Sedih itu belum tentu luka

Ada dua “kebijakan” yang diambil oleh boarding school/pesantren terkait dengan siswa baru-nya terkait kunjungan orangtua, terutama di awal masuk.

  1. Tidak memperbolehkan orangtua menjenguk di jangka waktu tertentu di awal
  2. Memperbolehkan, bahkan boleh “lebih sering” di awal.

Masing-masing kebijakan tentunya punya dasar pertimbangan masing-masing. Tapi saya pribadi, lebih setuju dengan kebijakan yang kedua. Maka, saya girang bukan kepalang ketika Boarding School si sulung mengambil kebijakan tersebut. Selama sebulan pertama, bulan Juli, anak-anak boleh dijenguk setiap minggu, setiap hari Ahad. Selanjutnya, dua minggu sekali. Akhwat di Ahad ganjil dan ikhwan di ahad genap (dan para emak akhwat pun mulai menandai bulan-bulan yang terdiri dari  5 minggu haha…)

Secara objektif, kebijakan boleh dijenguk lebih sering di bulan awal tersebut memberikan waktu “beradaptasi” ; baik kepada anak maupun kepada orangtua yang sebelumnya selalu “bersama”, dan kini harus “terpisah”. Saya bisa memahami perspektif lain yang menilai bahwa anak jangan sering ditengok apalagi di awal, karena nanti malah pengen pulang. Nanti “mengganggu” proses adaptasinya. Saya bisa memahami karena saya lihat faktanya.

Hari ahad lalu, tgl 15, adalah minggu pertama kami mengunjungi di sulung. Sejak 5 hari sebelumnya, adik-adiknya terutama si bungsu sudah “menghitung hari”. Tiap bangun tidur pertanyaan si bungsu nambah jadi dua: (1) Berapa hari lagi abah pulang; (2) Berapa hari lagi kita jenguk Kaka. Emaknya juga menghitung hari sih, tapi dengan cara yang berbeda haha….

Sesampainya di kawasan asrama yang asri, di beberapa spot orangtua sudah bersama anak-anaknya. Beberapa anak tampak sedang sesenggukan di pelukan orangtuanya. Saya juga hampir tak dapat menahan air mata saya. Begitu saya masuk kamar si sulung, si sulung langsung memeluk erat, sesenggukan juga.

Tangisan itu, tanda sedih. Sedih itu, tanda sesuatu yang tak menyenangkan. Secara “instinktif”, kita akan menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan buat kita. Itulah mengapa banyak ibu lebih memilih “pergi diam-diam” daripada “pamit” pada anak balita-nya saat akan meninggalkan anaknya; meskipun penelitian sudah menunjukkan bahwa dampak jangka panjang kalau “pamit”; jauh lebih positif dibandingkan pergi tanpa pamit, yang akan membuat anak merasa “tidak aman” karena tidak tahu kapan akan ditinggal, kapan tidak akan ditinggal. Saya, pernah punya 4 balita. Pamit pada anak  balita, adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Mereka akan nangis, ngamuk, dan kita akan gak tega. Kita akan merasa “jahat” meninggalkan mereka. Tak jarang setelah pamit, saya pergi dengan air mata berlinang atau bahkan terisak.

Tangisan itu, tanda sedih. Kita mengasosiasikan sedih dengan luka. Itulah sebabnya mengapa banyak suami yang “tidak tahan” melihat istrinya menangis. Reaksi mereka kala istri menangis adalah : abai, pergi, atau bahkan marah. Dulu, saya pikir para suami itu jahat. Tapi setelah belajar psikologi, lalu berprofesi sebagai psikolog; mendengarkan apa yang sesungguhnya dirasakan para suami itu, tak semuanya jahat. Sebagian besar  justru karena “tidak tahu harus menanggapi gimana”; “engga tahan liat orang yang disayangi terluka”; “merasa sudah bikin sedih, gak buat bahagia istri”. Padahal, kalau ngobrol dengan istri, tak semuanya menangis karena luka. Bagi wanita, menangis adalah ekspresi rasa. Tak semuanya rasa yang negatif.

Wajar memang jika secara “instinktif” kita menghindari tangisan. Saya melihat dan mendengar banyak orangtua yang meminta anaknya untuk berhenti menangis. Atau bahkan memang sengaja tidak menjenguk untuk menghindari tangis itu. Saya pun, mungkin akan mengambil cara itu. Andai saya tak belajar psikologi.

Setelah belajar psikologi, saya jadi menghayati bahwa setiap emosi, gak mungkin Allah ciptakan tanpa tujuan. Demikian pula kesedihan. Mengapa harus kita hindari? Kalau yang udah pernah nonton film “inside out”, salah satu pesan moral yang ditunjukkan oleh film ini adalah bahwa kesedihan itu, sama diperlukannya oleh diri kita seperti juga kebahagiaan. Emosi, Allah ciptakan bukan untuk kita hindari atau abaikan. Emosi Allah ciptakan untuk kita hayati, kita kelola agar tidak merusak diri kita.  Banyak hikmah yang akan kita dapat kalau kita lakukan proses ini.

Misal ketika kita sebagai ibu pamit lalu meninggalkan si kecil yang “ngamuk” gak mau ditinggal oleh kita; air mata kita mengalir, kita akan sadar betapa kita ingin selalu dekat dengan anak. Penghayatan ini mungkin tak akan kita rasakan kalau kita pergi tanpa pamit. Demikian pula penghayatan itu, akan dirasa anak kita, jika kita bantu dia mengenali dan “mengajarkannya”. “Dede tadi nangis karena gak mau ditinggal ibu ya, dede pengen sama ibu terus ya? Berarti dede sayang sama ibu. Ibu juga sayang sama dede. Ibu juga gak mau ninggalin dede. Tapi ibu harus kerja. Ibu pergi, bukan berarti engga sayang sama dede. Ibu tetep sayang sama dede. Makanya ibu pulang cepet-cepet pas kerjaan ibu selesai.” 

Berbeda dengan padangan umum tentang “ketegaran”, psikologi melihat kesedihan sebagai sebuah mekanisme alami yang wajar. Sehat. Tidak merusak. Yang tidak sehat adalah yang menghindari dan mengabaikan rasa itu. Karena menghindari sunnatullahNya. Dan biasanya akan berdampak tidak sehat di kemudian hari.

Kemarin, setelah puas bertangis-tangisan dengan si sulung, lalu mendengarkan  si sulung cerita bahwa emosi yang ia rasakan nano-nano di minggu pertamanya; kadang seneng banget, kadang excited, kadang sedih, kangen rumah, kangen orang rumah… lalu gantian saya yang ceritain perasaan adik-adiknya, perasaan abah, perasaan saya yang juga tak kalah nano-nanonya…. lalu kami cerita gimana kami berusaha mengatasi rasa itu ….  saya bilang bahwa sedih itu wajar. Sedih itu tandanya kita saling sayang. Kalau Kaka gak sedih, kalau ibu gak sedih, berarti selama ini kita gak punya ikatan apapun. Sedih itu tandanya apa yang kita sedihkan itu, berharga buat diri kita.

Yups, sad is oke. Ia bukan tanda tidak mandiri, bukan tanda cengeng, bukan tanda tak berdaya. Sedih adalah tanda bahwa kita terkoneksi dengan dunia; dengan tempat, dengan orang, dengan peristiwa, dengan nilai-nilai. Sedih adalah tanda bahwa kita hidup. Dan rasa sedih yang Allah anugerahkan, menghidupkan hati kita.

 

H-2 : Refleksi 15 tahun

Hari Sabtu pagi, kami akan mengantar si sulung masuk babak baru kehidupannya. Boarding school. Di kota tetangga. Jaraknya 2 jam saja. Sejak sebulan lalu, saya mulai melow. Air mata, seringkali jatuh berderai tanpa terasa. Perasaan campur aduk. Yang jelas bukan khawatir. Sekolah yang kami pilih, sudah melalui proses panjang pertimbangan memilihnya, dari berbagai hal yang kami rasa penting. Faktor si sulung sendiri, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Secara psikologis maupun teknis, dia sudah siap menghadapi situasi yang berbeda dari pengalamannya di rumah bersama kami.

Saya baru menyadari bahwa derai tangis ini adalah tanda betapa saya begitu mencintainya. Entahlah… sebulan ini, semua memori rasa tentang si sulung muncul di hati maupun pikiran saya. Meskipun saya punya 4 gunung cinta yang sama besar untuk keempat anak saya, tapi tak bisa dipungkiri bahwa si sulung, adalah first love kami.

Ia menjadi yang pertama dalam beragam hal. Ada banyak, tak terhingga pengalaman pertama kali saya dalam menjadi ibu, saya lalui bersamanya. Kebingungan, kecemasan, excitement, kebahagiaan, semuanya berbaur menjadi satu tiap kali mengalami pengalaman pertama bersamanya.

mantraBersamanya, pertama kali saya belajar mengikatkan diri begitu dalam dengan seseorang. Seseorang yang berbagi darah, tak hanya 9 bulan.  Tapi selamanya. Bersamanya juga, pertama kali saya belajar membuat jarak, melepaskannya, membiarkannya memiliki gelembung kehidupan sendiri, belajar mempercayai pilihannya, belajar menghargai pikiran dan perasaannya, belajar lapang dada melihatnya mengenal cinta lain di luar cinta keluarganya. Bersamanya, saya belajar menghayati makna cinta tak bersyarat. Tak ada yang sederhana dari hubungan seorang ibu dengan anak perempuannya.

Selama 15 tahun bersamanya, ada banyak pembelajaran yang tak mudah untuk dicerna. Jatuh bangun saya menjalaninya, dengan beragam ketidaktahuan, kesalahan dan pergulatan.  Pembelajaran yang penuh makna dan sungguh sangat saya syukuri, karena dengan cara itulah saya dipaksa untuk menjelajah beragam perasaan, penghayatan, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman  yang sebelumnya tak pernah terbayangkan oleh saya.

Allah, kupercayakan ia padaMu…3 tahun ini, dan sepanjang sisa hidupnya.  Lingkupilah dirinya dengan gelembung kebaikan.

 

Previous Older Entries