Sepasang rantang, jalan yang lurus, dan the art of listening #ParentingGame02

Sebulan ke belakang, aktivitas saya padat. Pergi pagi pulang sore tiap hari, beraktivitas di Jatinangor. Pulang lelah, pengennya langsung mandi dan rebahan. Gak sanggup rasanya masak makan malam buat anak-anak. Akhirnya, dengan restu si abah, saya pun memutuskan menggunakan bantuan jasa catering. Ada yang menyediakan jasa catering harian deket rumah saya, dengan harga terjangkau dan yang terutama, menu-menu sehat yang pas buat anak-anak. Alhamdulillah. Bu catering senang, saya senang, anak-anak senang.

Cuman ada satu masalah. Bu catering mengirimkan makanannya menggunakan styrofoam. Dilapisi daun pisang sih, tapi sebagai orang yang tahu efek styrofoam terhadap lingkungan, asa ngeganjel. Anak-anak saya berkomentar semua. Saya juga bilang gak nyaman sih… tapi ya gimana lagi. Tiap menerima 3 styrofoam per hari, hati saya berontak, tapi ya…gimana lagi.

Adalah si gadis kecil, si 9 tahun kelas 3 SD itu yang protesnya paling keras. Dia memang pecinta lingkungan sejati.  Gara-gara bacaannya Bobo dan Kuark, yang selalu memaparkan tema-tema cinta lingkungan. Dia yang cerewetin saya soal penggunaan listrik yang gak perlu, penggunaan kendaraan secara minimal, membawa bekal minum daripada beli air mineral dalam botol, memakai saputangan dibanding pake tissue; sampai kalau saya masak, dikomentarin juga. “Ibu, harusnya wajannya dibersihin bawahnya, itu meminimalisir pembakaran bu… sama ibu pake wajan yang permukaannya luas harusnya, karena bla..bla..bla……”. Tiap menerima catering styrofoam, kalau kakak-kakak dan adiknya cuman komentar saja, dia melayangkan protest keras. Protesnya semakin meningkat setiap hari. “Ibu, coba ibu bayangkan… keluarga kita aja 3 kali 5 sama dengan 15 styrofoam tiap minggu. Berapa orang yang langganan?” styrofoam itu gak bisa diurai ibu…bayangkan gimana jadinya bumi kita….”. Hari lain, dia memaksa untuk mengumpulkan styrofoamnya, untuk di re-cycle katanya. “Nanti teteh cari di youtube gimana re-cyclenya” katanya. Daaan..akhirnya, suatu hari protestnya berubah menjadi ancaman : “Kalau masih pake styrofoam, teteh gak akan mau makan”. Waduh, gawat ini….

Saya tak bisa lagi mengabaikan pendapatnya. Akhirnya 2 minggu lalu, saya sengaja sempatkan ke borma beli sepasang rantang. Saya sampaikan ke bu catering kalau saya gak mau pake styrofoam lagi. Bu catering bilang ia juga pengennya gitu, tapi belum ada modal. Saya doakan semoga ibu catering seger apunya modal untuk beli rantang-rantang, Alhamdulillah semua kembali senang.

 

 

 

Temans para ibu  muslimah, minimal 17 kali dalam sehari kita memohon pada Yang Maha Kuasa : “ihdinassirootol mustaqiim” . Tunjukkan kepada kami jalan yang lurus. Jalan yang lurus itu, adalah jalan kebaikan dan kebenaran. Jalan yang membawa kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Secara garis besar, melalui doa itu, kita bermohon agar Allah tetapkan kita dalam agama yang kiya yakini baik dan benar ini, yaitu Islam. Dan kalau kita perluas secara operasional, doa itu kita mohonkan agar dalam day to day aktifitas kita, Allah juga tunjukkan jalan dan cara yang baik dan benar, yang membawa kebahagiaan dan keselamatan.

Apa kaitan cerita saya tentang si gadis kecil dengan ihdinassirootol mustaqiim?

Saya menghayati, bahwa melalui kata-kata anak, banyak sekali jawaban Allah atas doa mohon ditujukkan jalan lurus yang kita mohonkan minimal sehari 17 kali itu. Dalam situasi yang saya gambarkan di atas: Islam meminta kita mencintai lingkungan, mencintai bumi. Tapi tanpa ada “desakan” dari si gadis kecil, pengetahuan saya untuk mencintai bumi sebagai rasa syukur atas nikmat bumi ini, hanya sekedar pengetahuan saja. Tak berbuah menjadi amal. Saya percaya bahwa terutama anak yang belum baligh, basyirah-nya masih jernih. Nurani mereka belum terhalangi oleh jelaga dosa. Maka, pikiran dan perasaan mereka sangat berarti. Harusnya kita dengarkan.

Dalam konteks pengasuhan, kita sangat ingin cara kita mengasuh adalah cara yang baik dan benar. Cara yang bisa membawa kita dan anak kita pada kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Pikiran dan perasaan anak mengenai bagaimana cara kita mengasuh mereka, adalah kompas yang berharga bagi saya. Itulah yang mendasari #ParentingGames 02 di status facebook saya tanggal 27 Maret lalu.

Kita tanya pada anak-anak kita,
(1) kamu paling seneng kalau ibu/ayah (tergantung siapa yg bertanya) gimana sama kamu?
(2) kamu paling gak seneng kalau ibu/ayah (tergantung siapa yang bertanya) gimana sama kamu?
Note : 
Formulasi pertanyaan bisa diubah sesuai pemahaman anak
Usia anak tidak dibatasi ya… usia dewasa pun oke banget

Sayangnya, berbeda dengan #ParentingGames 01, tak banyak yang ikut sharing kali ini. Hanya 4 orang.

Buat saya pribadi, bertanya mengenai pikiran dan pendapat anak-anak terhadap perilaku saya, benar-benar menyediakan cermin sekaligus kompas untuk menjalani pengasuhan ini. Misalnya, ketika si bujang kecil yang berumur 11 tahun bilang : “Paling gak suka kalau ibu kayak peribahasa seekor kerbau berkubang, semua kena lumpurnya. Ibu marah sama satu anak, semua anak dimarahin”. Saya ternganga. Oh ya? bener gitu kelakuan saya kayak gitu? Lalu si bujang menjelaskan beberapa peristiwa dimana saya menunjukkan perilaku itu, dan bagaimana perasaannya. Itu benar-benar feedback berharga buat saya. Saya pribadi, seorang diri, sama sekali tidak bisa “melihat” perilaku itu dalam diri saya. Karena saya hanya punya 2 mata, yang saya arahkan pada orang lain, pada anak-anak. Oleh karena itu saya butuh bantuan mata anak-anak yang bisa melihat ke arah diri saya. Bayangkan kalau saya gak pernah nanya. Maka, saya akan terus mengulang perilaku “menyebalkan” itu tanpa saya sadar. Saya tak akan pernah jadi ibu yang lebih baik dalam hal tersebut.

Lalu, jawaban si bujang kecil bahwa “kalau ibu nanya pendapat dan perasaan aku” sebagai hal yang paling ia sukai dari saya, juga membuat saya ternganga. Saya tak menyangka bahwa hal “sederhana” itu ternyata sangat ia sukai dan berharga buatnya. Saya suka bilang pada ibu-ibu yang merasa mereka “tidak kompeten” atau “gak pede” mengasuh anak, tanya apa yang paling anak-anak mereka sukai dari ibu. Jawaban anak-anak kita, trust me, seringkali membuat kita merasa perasaan kita jauh lebih baik. Karena ternyata, untuk jadi ibu yang “kompeten” itu, tak harus seideal yang sering dikatakan para narasumber parenting. Ternyata buat anak-anak kita, banyak hal-hal baik yang sudah kita lakukan, yang membuat mereka senang dan berharga.

Yups, kadang-kadang kita suka lupa. Mencari ilmu pengasuhan ke sana kemari, Dan memperlakukan anak-anak kita sebagai “objek”. Padahal, children has their own wisdom. Ilmu pengasuhan, diperlukan sampai tataran prinsip . Komunitas pengasuhan, diperlukan untuk memberikan ide-ide operasionalisasi prinsip pengasuhan.Untuk bisa mengamalkan ilmu itu di rumah, pada anak-anak kita,  Jangan lupa…. Posisikan mereka sebagai subjek. Tanya kebutuhan/pendapat mereka dengan tulus, Tumbuhkan kerendahan hati untuk mau mendengarkan, Mempercayai dan menghargai kebutuhan/pendapat mereka.

Karena saya sudah menjanjikan untuk memberikan “sesuatu” pada yang sharingnya paling istimewa, maka dari 4 sharing inspiratif, saya memilih satu yang menurut saya paling istimewa. Adalah sharing dari Ibu Lenny Kendhawati. Yang istimewa dari sharing beliau adalah, “anak” yang beliau tanya bukan berusia 3 tahun atau 13 tahun. Tapi 32 tahun ! yang juga sudah menjadi seorang ibu.  Hal ini membuat saya kembali teringatkan bahwa peran menjadi ibu itu, hanya selesai pada saat salah satu dari kita- ibu atau anak-; menutup mata. Peran menyayangi, melindungi, menjaga, mendidik itu terus melekat dalam diri kita. 

Berikut adalah jawaban dari puteri ibu Lenny : P_32_(+) kalau ibu bekelin makanan / P_32_(-) kalau ibu meragukan aku. Pas bacanya saya sampai berkaca-kaca… See? hal sederhana “bekelin” makanan, ternyata begitu berkesan. “Diragukan” adalah hal yang paling tidak disukai. Dengan cara ini; dengan ketulusan bertanya, dengan kerendahan hati mendengarkan, kita jadi punya kompas, jalan mana yang tak boleh kita ulangi. Bukankah jawaban-jawaban seperti ini adalah jawaban dari doa “ihdinassirootol mustaqiim” kita? 

Meskipun tak banyak yang sharing di postingan #ParentingGames 02, saya berharap kegiatan ini benar-benar dilakukan, untuk beragam hal dalam pengasuhan. Jangan budayakan “saya menyimak”, tapi budayakan “saya amalkan”. Jujur saja, memang aktifitas ini bukan hal yang mudah. Karena kita sebagai “orang dewasa” selalu punya pilihan untuk mengabaikan pikiran dan perasaan anak-anak. Merasa tak perlu mendengarkannya, merasa tak perlu menggali lebih jauh apa maksudnya, merasa tak perlu merenungkan pikiran dan pendapat mereka. Hanya saja, kalau kita terus bersikap demikian, kita telah menutup mata dari kompas pengasuhan yang Allah sediakan sebagai jawaban dari permohonan kita. Atau, mungkin permohonan kita pada Allah hanya basa-basi saja.

Percayalah, “working together with our children” membuat penjelajahan dan perjalanan pengasuhan menjadi seru dan menarik.

 

 

Advertisements

Connection Before Correction #ParentingGame01

Ada beragam macam teori dalam pengasuhan, yang diformulasikan melalui beragam perspektif dan beragam metode. Tapi dari seluruh teori pengasuhan, hampir selalu ada komponen yang namanya cinta, penerimaan, dukungan, keterlibatan, kedekatan, kelekatan, koneksi. Intinya adalah, hubungan yang baik dan dekat antara orangtua dan anak.

Kalau kita ibaratkan kehidupan yang akan anak lalui  sebagai sebuah labirin yang rumit dimana kita harus menunjukkan pada anak lorong mana yang benar dan lorong mana yang berujung pada kesesatan, maka sebelum kita bisa melakukan hal itu, kita harus membuat anak membuka pintu dirinya, mempersilahkan kita masuk untuk menemaninya melalui atau menunjukkan arah di lorong-lorong itu. Sehebat apapun kemampuan kita untuk menunjukkan anak kita jalur labirin yang benar, sebesar apapun keinginan kita untuk menemani anak agar terhindar dari jalur labirin yang salah, tak akan bisa lakukan kalau ia tak membuka pintunya untuk kita.

Dan yang bisa menjadi kunci pembuka, yang akan membuatnya mempersilahkan kita menemaninya lalu  menunjukkan jalan yang benar, adalah kedekatan hubungan kita dengan anak. Connection before correction. Suatu frase yang super duper saya sukai. Iyesh. Jalin hubungan dulu, buat anak kita membuka hatinya buat kita, buat anak menerima kita dengan sukarela. Barulah kita bisa memberikan arahan-arahan yang akan dihayati oleh anak untuk kemudian ia internalisasikan dalam dirinya.

Membangun koneksi dengan anak itu, gampang-gampang susah. Awalnya gampang, lama-lama kalau yang gampang kita lewatkan, bisa jadi susah. Sesungguhnya, Allah Yang Maha Sempurna sudah membuat perkembangan manusia sedemikian sempurna-nya sehingga sebenarnya, secara fitrah, hubungan yang dekat antara orangtua dengan anak, bisa terjalin.

Ada yang pernah liat bayi yang wajahnya menyebalkan? 99,99 persen gak akan ada. Saya pernah membaca sebuah penelitian bahwa proporsi wajah bayi (yang berbeda dengan wajah orang dewasa), itu Allah desain sedemikian rupa sehingga memandangnya, akan mengaktifkan pengeluaran hormon oksitosin, si hormon cinta. Bahkan wanita yang wajahnya “baby face”, konon lebih menarik bagi laki-laki karena proporsi wajah bayi atau seperti bayi, menunjukkan kebutuhan akan kasih sayang dan perlindungan. Belum lagi aroma yang keluar dari bayi. Hhmm…keringetnya, “bau acem”nya, “memaksa” kita untuk menciumnya, mendekapnya. Kenapa Allah buat seperti itu ? karena bayi membutuhkannya. Ia sangat tergantung pada orang dewasa. Maka ia harus punya sesuatu yang menarik hati orang dewasa. Selelah apapun seorang ibu, memandang wajahnya, tak akan tega mengabaikannya.

Allah menyediakan fasilitas “penampakan” dan perilaku anak usia bayi sampai dengan usia prasekolah yang selalu mengandung  aspek lucu dan menggemaskan, agar kita bisa menjalin relasi dengan anak, dengan cara yang paling primitif, mudah dan sederhana; kontak fisik. Memeluk, mencium. Gak usah bicara. Peluk dan cium saja mereka, maka jalinan yang kuat, hangat dan dekat akan terjalin. Saya pernah melakukan penelitian, “ngobrol” dengan 100an anak usia TK A dan TK B, kurang lebih mengenai kapan mereka merasa “disayangi” oleh ibu mereka. Dan jawaban mereka adalah : ketika dipeluk dan dicium ibu.

Selanjutnya, mulai usia pra pubertas, kelas 5an SD, kita harus mulai memikirkan bentuk lain untuk mempertahankan jalinan hubungan yang hangat dan dekat tadi. Kenapa? karena rutinitas memeluk, mencium, menjadi berkurang. Anak kelas 5an mungkin sudah tidak mau lagi kiat “kelonin” saat menjelang tidur. Belum lagi biasanya mereka sudah punya adik. 1 atau 2 biasanya. Tak ada momen khusus ynag membuat kita bisa mendekapnya erat dan hangat dalam waktu yang lama.

Lalu ketika mulai masuk pubertas, sekitar kelas 6 atau kelas 7 untuk anak perempuan dan kelas 7 atau kelas 8 untuk anak laki-laki, secara fisik, sulit bagi kita untuk “menyukai” anak. Ketek bau menyengat, wajah berminyak dan atau berjerawat, raut merengut, saat ini adalah saat yang paling kritis. Biasanya, kalau hubungan dekat di fase sebelumnya belum terjalin, maka di usia ini hubungan ortu-anak rentan untuk  “putus” . Bentuknya apa? saling kesal, selalu saling marah, selalu merasa saling salah. Nah, kalau sudah situasi gini, gimana kita bisa menemani mereka menjalani kehidupannya? menunjukkan jalan yang benar dan salah dalam setiap kasus di keseharian mereka? padahal di usia ini lah mereka mulai menjelajah duna luar. DI usia inilah mereka mulai merasakan naik angkutan umum, pesan kendaraan online, punya smartphone sendiri, memiliki rasa suka dengan lawan jenis, rasa penasaran terhadap hal-hal baru.

Ada beberapa ibu yang kadang “mati gaya”, kehabisan ide, bagaimana secara teknis menjalin hubungan baik dengan anak-anaknya. Berdasarkan pemikiran tersebutlah, tgl. 7 Maret lalu, saya membuat status mengenai hal ini. Dan amazing, Beragam sharing mengenai aktifitas yang real bisa dilakukan pada anak di beragam usia, membuat saya berkaca-kaca saat membacanya. Ternyata banyaaaaaaaak yang bisa kita lakukan untuk membuka pintu hati anak kita, membuat mereka mempersilahkan kita masuk ke dalam kehidupan mereka.

Semuan sharingnya keren dan inspiratif. Dan saya sudah menjanjikan utuk memilih 3 sharing yang paling inspiratif untuk saya kasih buku Bukan Emak Biasa. Seperti saya bilang di atas, semua sharingnya keren. Tapi 3 sharing yang saya pilih ini unik dan menarik untuk diulas.

Yang pertama adalah dari Andy Nuriya Setiawan. Salam kenal kang, karena saya belum mengenal beliau. Sharing beliau adalah :  P_3_cerita tentang waktu dia bayi sebelum tidur. 

Yesh… “cerita kelahiran” adalah juga kisah favorit buat anak-anak saya, yang selalu direquest hampir setiap malam. Buat saya yang gak kreatif, menceritakan kisah kelahiran mereka, dibumbui oleh emosi positif dan intonasi yang”dramatis”, adalah sangat mudah karena tak harus mengarang. Kita tinggal “memanggil kenangan indah itu”. Lalu, kenapa anak suka? Karena itu bermakna sangat dalam. Setiap orang butuh akar hubungan. Itu adalah identitas diri paling dasar. Dan diceritakan bagaimana kehidupannya bermula, bagaimana kebahagiaan orangtuanya menyambutnya, mengokohkan keyakinan akan akar dan perasaannya dicintai.

Saya pernah membaca literatur mengenai adopsi anak, dan disana dikatakan bahwa bagi anak yang diadopsi, ada fase keraguan mengenai identitas. Itu sebabnya seorang teman saya yang mengadopsi anak, selalu menceritakan kisah bagaimana awal mulai ia mengadopsi anak tersebut. Bagaimana ketika pertama kali ibunya “jatuh cinta” melihat wajahnya di panti asuhan, bagaimana perasaan ibunya ketika pertama kali memeluknya, membawanya ke rumah. Sehingga meskipun anak tau bahwa ibunya bukan yang melahirkannya, tak ada keraguan mengenai identitas diri dan keyakinan bahwa ia dicintai. Sejarahnya jelas. Itu yang dibutuhkan anak.

Sebaliknya, percaya atau tidak, seorang ibu pernah bercerita pada saya, karena salah satu anaknya punya warna kulit yang berbeda, iseng ia suka cerita, ngegodain kalau anaknya itu diambil dari rumah sakit karena ibunya meninggal.  Keisengan itu terus berlanjut sampai si anak usia SD kelas 2an. Dan betapa kagetnya ia ketika si anak pada usia SMA, benar-benar mengadakan pencarian. Menelusuri setiap rumah sakit di kota itu, bertanya data di tahun ia lahir mengenai ibu yang melahirkan dan wafat, sampai akhirnya sambil menangis bertanya serius pada orangtuanya, benar gak dia anaknya. Perlu berkali-kali ibunya meyakinkan bahwa benar ia anaknya.

Saya juga pernah sekali, cuman sekali, bercanda bilang bahwa si bungsu “bukan anak ibu”, tapi “anak teteh” (pengasuhnya). Dan reaksi si bungsu bikin saya kapok. Anak 5 tahun itu marah bukan main, Dia pukul saya, sesuatu yang tidak pernah ial lakukan, lalu bilang; “jangan pernah bilang gitu!”. Maka, buat para ibu, jangan iseng soal identitas anak; dan buat yang belum pernah, menceritakan kelahirannya, wajib kudu dicoba dilakukan. APalagi menjelang tidur. Saat tubuh biasanya rileks, sambil dipeluk, sambil diceritakan tentang “akar”nya, seberapa besar ia berharga, ah precious banggets!

Sharing kedua ini saya pilih karena originalitas gagasannya. Teh Rika Tjahyani  dengan sharingnya : L_11_jalan2 backpacking naik kereta berdua ke luar kota. Teh Rika ini kebetulan tetangga satu kompleks dengan saya. Tapi tentu bukan karen aitu saya memilih sharingnya. Saya tahu, puteranya saat ini adalah putera tunggal. Tapi gagasan jalan-jalan backpaking naik kereta berdua ke  luar kota, adalah gagasan yang keren, dan wajib dicoba oleh ortu lain, yang memungkinkan untuk berperjalanan berdua dengan si anak praremaja.

Dalam tulisan saya https://fitriariyanti.com/2015/03/02/xx-x-2/, saya menyampaikan bahwa dalam sebuah keluarga, hubungan interpersonal antara dua orang di dalamnya, perlu untuk dilakukan. Apalagi buat si sulung yang biasanya setelah punya adik, tak pernah lagi punya waktu “berdua” dengan ibu, pengalaman teh Rika ini sangat bisa dicoba. Apa sih yang bisa dilakukan dalam perjalanan berdua ini? Ngobrol lama dengan suasana rileks. Cuman gitu doang? ya, gitu doang. Tapi ini langka dan sulit terjadi kenyataannya saat ini. Kesibukan ibu dan atau anak, gadget…Jujur aja, berapa lama sih kita bisa ngobrol berdua sama anak kita di rumah dalam satu hari? Padahal di usia  11 tahun ini, menjelang baligh, saatnya kita menanamkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran melalui aplikasi langsung pada pengalaman keseharian anak. Sehingga nilai-nilai kebaikan dan kebenaran itu akan anak rasakan sebagai nilai-nilai yang membumi, nyata, hidup dan terintegrasi dalam kesehariannya. Bukan hanya berupa “nilai langit” yang ia dengar dari nasihat demi nasihat  orangtua maupun guru.

Sharing ketiga yang saya pilih adalah dari Mamanya Dea Dimas. Dea, adalah seorang gadis cantik teman TK si sulung. Sudah lebih dari 7 tahun kita gak ketemu face to face. Halo mbak Laxmi :). Sharing beliau adalah :  P_15 ngebahas cowok ganteng yg ditaksir kaka. Kenapa saya pilih sharing mama Dea  sebagai sharing yang inspiratif? karena saya tahu bahwa menjalin hubungan dekat dengan gadis berusia 15 tahun itu, adalah tidak mudah. Sangat tidak mudah.

Di usia ini, teman perlahan menjadi jauh lebih asyik dari ortu. Maka, kalau ada anak gadis mau cerita tentang hal yang paling privat yaitu cowok yang ditaksirnaya dengan mamanya, berarti mamanya berhasil membuat hubungan dekat dan hangat itu bertahan di masa-masa kritis ini.

Dua tahun lalu, waktu saya mendengar si sulung punya hubungan istimewa dengan salah seorang teman laki-lakinya, saya perlu mengingatkan batasan hubungan laki-laki perempuan di usianya. Jadi, waktu itu saya masuk ke kamarnya, memulai pembicaraan dengan serius tentang kabar yang saya dengar dan hasilnya…sumpah ! awkward banget haha… Yups, saya berhasil memberinya nasehat mengenai batasan pergaulan, yang saya yakin dia sudah tau kkk.

Tapi rasa awkward itu tak terlalu terasa saat saya mengobrolkan pesan yang sama saat kami berdua nonton film Kapten Amerika, seperti yang pernah saya tulis di  https://fitriariyanti.com/2017/07/25/captain-america-vs-hulk-obrolan-cinta-dengan-kaka/. Juga ketika kami bahas lagi tema yang sama, tentang bagaimana mengelola rasa suka tanpa melanggar batas agama, setelah kami berdua nonton film Dilan.

Connection before correction. Raih dulu hati anak, biar ia mau membukakan telinganya buat kita. Keneksi itu, muahaaaal…. banget. Setiap kali dapet kasus yang kemudian membutuhkan terapi keluarga (family therapy) untuk menghubungkan kembali koneksi antara orangtua dengan anak di usia remaja ke atas, kami harus bekerja ekstra keras.

Kami siapa? pertama, saya dan rekan-rekan saya sebagai psikolog yang membantu. Kami harus berpikir keras mencari teknik-teknik yang terstruktur, merekonstruksi kembali hubungan yang telah terputus.  Teman saya yang punya sertifikasi dalam hal tersebut, mendapatkan sertifikasi tersebut untuk level basic, dengan harga 12 juta dan sekian jam praktek. Mahal. Itu dari segi kami psikolog. Dari segi ortu dan anak; butuh komitmen kuat dan minimal belasan sesi untuk kembali membangun hubungan itu. Artinya apa? artinya koneksi itu muahallll. Kalau udah “putus”, muahal di uang, waktu, energi untuk menyambungkannya kembali.

connection before correction2Maka, jalin koneksi itu sedejat-dekatnya, sehangat-hangatnya, sekuat-kuatnya ketika anak masih bisa kita peluk, kita cium. Lalu pertahankan dengan sikap fleksibel dan aktivitas kreatif  saat ia tak bisa lagi selalu kita rengkuh dengan pelukan dan ciuman. Ingat ….connction before correction. Kalau mati gaya, meluncur aja ke status saya di tgl 7 Maret. Ada banyak gagasan keren yang disharing oleh teman-teman saya disana.

sumber gambar : https://www.positivediscipline.com/articles/connection-correction-0

 

 

 

 

 

Chapter-Chapter Kehidupan Kita bersama Anak : Apa yang Kita Tuliskan ?

Sebulan lalu, si abah mengirimkan beberapa foto motor touring via whatsapp. Karena kami LDR-an; maka selain weekend, komunikasi kami via wa, telpon dan video call. “Ini keren banget De…kita beli yuks…biar kita bisa touring berdua”. Bla..bla..bla… Ia menceritakan ke-kerenan motor-motor touring itu. Saya baca sambil pengen ketawa. Seperti bapak-bapak lainnya, kalau udah bicara tentang otomotif, persis kayak anak kecil pengen mainan. Persis juga sih sama kelakuan saya kalau lagi merajuk membujuk si abah untuk mengizinkan saya beli tas lah, batik lah, sepatu lah.  Sejak saya punya instagram, memang jadi terpapar barang-barang lutuuuu…. dan meskipun kalau saya beli barang pake uang sendiri dan  si abah pun kalau mau beli sesuatu pake uangnya sendiri, tapi kami punya perjanjian tak tertulis untuk saling minta izin . Kenapa ya? ya untuk saling menghargai saja. Dan kalau masing-masing kami bilang “engga”, biasanya kami urung. Meskipun saya lagi punya banyak uang, kalau si abah bilang “gak usah beli, kan tasmu udah banyak”, saya pasti urung. Demikian juga si abah.

Waktu liat foto-foto motor touring itu, saya mengakui sih…itu motor keren-keren banggets. Ya sesuai harganya lah haha… Mendengar cerita si abah tentang rencana touring berdua ke tempat-tempat yang keren, saya jadi membayangkan emang enak banget dibonceng sambil memeluk punggungnya ,,,ya…mirip-mirip adegan Dilan dan Milea lah #eaaaaa… Tapi ketika kita lagi asyik ngobrolin rencana itu, tiba-tiba terintas sesuatu di pikiran saya ; lalu saya sampaikan ke si abah: “Tapi bah, kapan kita mau touring berdua nya? segitu tiap weekend kita hectic  sama acara anak-anak…” . “Oh iya ya..” kata si abah. “Kapan ya, kita bisa punya waktu berdua di weekend? kayaknya 6 tahun lagi ya? kalau si bungsu udah SMP? Ya udah…beli motor touringnya 6 tahun lagi aja ya kalau begitu”. Kata si abah. “Iya, tapi 6 tahun lagi, kita masih kuat gitu touring berdua?” kata saya hahaha…..

Yups…saat ini, di tahun ke-15 pernikahan kami, dengan 4 anakumur 15, 12, 9 dan 6,  kami memang sedang hectic-hecticnya dengan urusan anak-anak. Setelah beberapa bulan ke belakang weekend kami dihasbisakn untuk survey boarding school SMA untuk si sulung dan survey SMP untuk si bujang, lalu lanjut rangkaian test, setelahnya, weekend kami juga selalu full untuk urusan anak-anak. Anter ekskul setiap sabtu, lalu nemenin  lomba, atau aktivitas lain yang pengen diikutin anak-anak. Kadang hiking, kadang mendongeng, kadang anter si sulung kerja kelompok ini, syuting itu, hunting ini, tryout itu…bahkan seperti minggu lalu, karena kegiatannya bareng, kita harus split, si abah nemenin anak yang mana, saya nemenin anak yang mana.

Kami tak pernah bicarakan ini secara lugas sih, tapi sepertinya kami berkomitmen untuk mendedikasikan weekend kami untuk anak-anak. Kalau gak kepepet-kepepet banget, gak pernah bikin acara sabtu minggu. Kalaupun akan ada acara yang gak bisa diganti hari lain, maka kami harus koordinasi jauh-jauh hari. Misalnya si abah ada rapat pentiiiing yang harus weekend, atau ikutan ujian sertifikasi apaaa gitu… atau saya ada undangan mengisi seminar, atau misalnya ada klien dari luar kota yang hanya bisa di weekend. Kenapa? karena kami tak punya ART. Anak-anak, terutama si gadis kecil dan si bungsu belum bisa ditinggal sendiri. Harus diawasi si sulung. Padahal si sulung punya segudang aktifitas di weekend.

Sejujurnya, banyak kesempatan pengembangan diri bagi saya dan si abah yang tak bisa dilakukan karena weekend kaki kami “terikat” oleh anak-anak. Kadang saya  dapat tawaran tampil di acara besaaar, kadang ada workshop keren banget, kumpul-kumpul asyik, kadang si abah ada kegiatan sertifikasi penting… Tapi kami selalu saling mengingatkan. Kami jadi rem buat masing-masing. Dan beberapa tahun terakhir ini, saya sangat menikmati kehectican di weekend untuk kegiatan anak-anak. Kenapa?

Beberapa bulan lalu, kami ke bioskop ber-5. Saya dan 4 anak saya. Saat itu anak-anak sedang libur, abahnya tentu kerja di luar kota. Kami bersepakat nonton, kebetulan film yang diputar di bioskop sedang bagus-bagus. Film apa yang akan kami tonton? anak-anak keukeuh pengen nonton film Coco. Saya pengeeeeen banget nonton film Wonder. Saya bingung. “Okelah, ibu gak akan nonton film Wonder. Nanti aja kalau udah ada DVDnya ibu beli”. Saya akhirnya memutuskan. Tapi lalu si sulung bilang: “Kenapa kita gak pisah aja bu? Sok aja ibu nonton Wonder, kayaknya ibu pengen banget. Ga apa-apa kita nonton Coco”. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya saya terima tawaran itu. Masalahnya adalah, selain kami tentunya beda studio, waktu tayangnya juga beda. Film Wonder diputar 45 menit lebih awal dari film Coco. “Percaya bu, kita berdua bisa jagain si dua krucil ini ” kata si sulung. Akhirnya rencana itu kita jalankan. Saya masuk saat film Wonder akan dimulai. Tentu sambil terus-terusan kontak anak-anak, yang dari video callnya sih baik-baik saja haha…

Sambil menikmati film Wonder yang super duper keren, saya merasa amazing dengan kondisi saya. 15 tahun menjadi ibu, inilah pertama kalinya saya menikmati hal-hal yang “entertaining” tanpa anak-anak. Ya, saya beberapa kali sih ke luar  negeri atau luar pulau dan luar kota untuk conference atau pekerjaan. Tapi full menghibur diri, sendirian…rasanya ajaib. Serasa gak percaya gitu haha…Jadi, sambil duduk rileks menyaksikan film, ngemil popcorn plus menyeruput soda, pikiran saya pun melayang.

Ada saat-saat dimana nonton film ke bioskop begitu melelahkan bagi saya. Kala saya masih punya balita. Melelahkan fisik dan psikologis. Psikologis? takut ada salah satu atau salah dua anak saya nangis, atau teriak. Jadi sepanjang film (biasanya kita nonton film anak-anak untuk si sulung), maka saya dan si abah sibuk menenangkan adik-adiknya. Takut ganggu orang. Belum lagi kalau anak laki-laki, kalau gak teriak atau ngomong keras dia jalan-jalan…aduuuh…buat pencemas sejati seperti saya, itu stressful bangget. Belum lagi kalau mau pipis. Trus pipisnya gantian. Baru balik anter pipis si ini, adiknya bilang pengen pipis. Alhasil, jarang bisa menikmati keseluruhan film. Jadi, saya bisa menikmati film dengan rileks, sendirian, itu saya rasakan sebagai sebuah pengalaman “baru”.

Saya juga ingat…. baru ramadhan kemarin saya menikmati itikaf. Full 10 hari terakhir, nginep tiap malam. Dulu waktu masih berdua kami beritikaf berdua. Waktu punya bayi satu, masih suka itikaf. Tapi setelah dua, tiga, empat; lebih banyak cemasnya dibanding khusyuknya saat itikaf dan tarawih. Takut nangis, takut teriak, takut ganggu orang lain… Si abah suka ngajak tarawih ke mesjid tiap ramadhan. “Dirimu kan seneng banget di mesjid” katanya. “Iya, tapi aku stress kalau sambil takut anak-anak teriak, nangis, lari-larian, aku sholat di rumah aja”. Begitu jawaban saya biasanya.  Nah kalau tahun kemarin, saya merasa nikmat banget. Kalau si bungsu bosen dan “rewel”, saya tugaskan si gadis kecil ngajak main di halaman. Antri makan sahur/buka? ada 4 anak yang siap mengambilkan. Wudhu gantian, jaga si bungsu gantian.

Ya, ya…ada masa-masa itu. Masa dimana saya gak mau diajak si abah silaturahim ke sosok-sosok yang kami hormati. Kenapa? dengan 4 anak yang lagi loncat sana-loncat sini, ngomong rebutan…saya engga nyaman bertamu. Kalau kondangan, kami gak pernah makan dulu. Datang, salaman, lalu pulang. Karena anak-anak gak nyaman di kondangan yang biasanya penuh sesak orang yang tak ia kenal.

Tapi sekarang, masa-masa itu sebagian sudah terlewati.

Maka, kalau ada adik-adikku yang nangis-nangis; merasa “lelah”, craving for me time; sini saya peluk. I feel it. I’ve been there. Saya ingat banget di rumah kontrakan saya di Tubagus Ismail 13 tahun lalu, saat si sulung masih berusia 2 tahun-an, waktu itu saya udah lama gak bisa sholat dan doa khusyuk. Waktu saya abis sholat lalu mau mulai menengadahkan tangan, eeeh…si sulung pipis. Di sajadah. Waktu itu saya nangis tersedu-sedu. Saya inget banget kata-kata saya “Ya Allah, plissss. Aku teh bukan pengen apa-apa. Bukan pengen main, bukan pengen tidur nyenyak… Aku cuman pengen berdoa khusyuk…masa gak bisa” ….

Maka, Kalau ada adik-adikku yang baru punya bayi dan tidak terlihat bahagia tapi justru kelelahan, sini saya peluk. I feel it. I’ve been there. Si sulung adalah anak yang “ajaib”. Tidurnya selalu harus digendong, sambil berdiri. Kalau dia udah tidur lalu saya duduk, maka ia akan bangun. Nangis. Saya ingat saat-saat itu, kami nangis berdua. Sampai saya bikin shif-shift-an gendong si sulung sama si abah, dan setiap kali si abah tertidur tak terbangun mendengar suara tangis bayi, padahal itu adalah shiftnya, saya akan nangis, capek plus kesel sama si abah haha…..

Maka, kalau adik-adikku merasa kehidupannya sangat “terikat”, jadi pendek langkah, sini saya peluk. I feel it. I’ve been there. Saya pernah ditegur sama pimpinan radio tempat dulu siaran rutin jadi narasumber, gara-gara tiap siaran saya bawa si sulung yang waktu itu umurnya 1,5 tahun-an. Katanya biarpun anteng, tapi suaranya masuk kerekam. Baiklah, saya memutuskan untuk berhenti siaran. Berat terasa, tapi ya gimana lagi.

Maka, kalau ada adik-adikku kebingungan saat anak-anaknya tantrum, merasa kesal, putus asa,  sini saya peluk. I feel it. I’ve been there. Saya ingat waktu diliatin orang se-BORMA waktu si bujang ngamuk-ngamuk pengen cd ultraman. Saya ingat hari pertama si sulung sekolah, jam 8 sampai jam 11 gak brenti nangis. Si bungsu, saya anter ke sekolah dengan pakaian batik terbaik saya karena mau ketemu pejabat universitas, eeeh..nangis sampai muntah ke dada saya. Ke kampus dengan sisa bau muntah plus bau tissue basah, pernah saya alami.

Maka, itulah sebabnya saya menikmati masa-masa hectic teroccupied di weekend oleh kegiatan anak-anak. Karena saya tahu, masa itu akan berlalu. Maka, selagi di masa ini, kita jalani saja sekhusyuk-kehusyuknya, ikuti saja alurnya, nikmati saja episodenya. Nanti ada saatnya episode itu berganti.

Saya selalu membayangkan bahwa kehidupan kita itu, seperti chapter-chapter di sebuah buku. Buku-buku yang bagus, tiap chapter sambung menyambung, tapi masing-masing chapter punya cerita yang berbeda. Punya warna yang berbeda, keasyikan yang berbeda saat kita membacanya. Seperti yang terjadi saat saya nonton wonder sendirian itu, saya menikmati momen saya saat itu, sambil tersenyum mengenang momen-momen berbeda sebelumnya.

large-kraft-memory-book-photo-album-ba-book-typography-photo-memory-bookMaka, buat adik-adikku yang masih berkutat dengan hal remeh-temeh terkait anak-anak, mari kita nikmati sepenuh hati episode-episode ini. Episode begadang, episode menghadapi tantrum, episode tas kita penuh dengan remah-remah makanan, episode keompolan, episode cemas takut ganggu orang lain, episode harus bawa anak kemana-mana, episode stress saat bawa anak-anak ke supermarket, kita nikmati aja, here and now. Kita tuliskan kisah episode kehidupan kita di chapter ini, dengan penghayatan terbaik yang kita punya, dengan effort terbaik yang kita bisa. Kita tuliskan keindahan dan keseruan rangkaian kata dan peristiwanya dengan ke khusyuk-an dan penerimaan kita.  Jangan memikirkan “pengen pindah chapter”. Nanti kita akan kehilangan keindahan kenangannya.

Biar nanti, saat kita akan menutup mata kembali pada yang Maha Kuasa, kita bisa membaca kembali chapter demi chapter kehidupan kita, dan kita bisa tersenyum bahagia karena keindahan kenangannya.

 

 

ISTI : Ikatan Suami ……. Istri

“Yes Mam, Yes Mam, Yes Mam” …. pria paruh baya itu mengangguk-angguk di telpon. Dia adalah “bos” kami dalam sebuah projek. Kami bertiga, sedang mengerjakan projek yang cukup besar. Kami bertiga adalah : Pak Bos, saya dan seorang sahabat saya. Pak Bos adalah seorang pria paruh baya yang sangat expert di bidangnya. Meskipun kami satu tim, tapi sebenarnya beliau bagai mahaguru bagi kami yang masih unyu-unyu di bidang ini. Karen ake-expert-an nya, beliau juga menduduki jabatan penting di instansinya. Kami bertiga cukup akrab karena sudah saling mengenal cukup lama.

Pak Bos sudah selesai menelpon, dan kembali berhadapan dengan kami. “Dimarahin mbak **** ya Bang?” kata sahabat saya. Mbak **** adalah istri beliau, yang juga kami kenal baik.  “Iya nih… gue tuh udah gak boleh minum kopi sama dokter. Trus dia tuh kayak punya telepati gitu. Tauuu aja gue bandel” katanya sambil melirik secangkir kopi dihadapannya (di komunitas kami, biasa ber- elu gue antara senior dan junior). “Trus kayaknya gue harus pulang sekarang uy, **** titip beliin bahan-bahan kue. Mana gue gak tau lagi bahan-bahan itu bentuknya kayak gimana. Makanya agak lama kayaknya muter-muter di supermarket untuk tanya-tanya. Dia lagi seneng banget nyobaik resep-resep dari yutub” katanya. Lalu kemudian ia membagi tugas yang harus dikerjakan oleh masing-masing kami di rumah, untuk dibahas pada pertemuan selanjutnya.

Dulu, duluuuuu banget….saya akan menganggap tipe suami seperti Pak Bos adalah suami yang “tidak berwibawa”. ISTI. Ikatan Suami Takut Istri. Membayangkan wibawa nya di hadapan publik, diantara para stafnya, di lingkungan expertisenya, sangat kontradiktif dengan sikap dihadapan istrinya, seperti yang ia tunjukkan di telpon tadi. Takut Istri. Itu yang suka digambarkan pada sinetron-sinetron, terutama sinetron komedi yang memang sering mengeksploitasi kontradiksi.

Tapi setelah saya menikah, 5, 10, 15 tahun…. mengamati banyak pernikahan, membantu klien-klien dengan masalah pernikahan, saya menjadi punya perspektif baru terhadap para bapak-bapak yang “melepaskan wibawanya” saat sedang berada di hadapan istri. Tetap ISTI. Ikatan Suami Thayank Istri haha….

Yups… tidak mudah bagi seorang suami yang secara agama, kultural maupun sosial dipandang sebagai figur superior dibanding istri, mau “mendengarkan” apalagi “menuruti” kata istrinya. Ada berapa banyak para istri yang sudah menikah belasan bahkan puluhan tahun; tapi si istri tak berani, takut untuk mengingatkan sang suami, memberi masukan pada sang suami, mengerem suami dari perilaku yang kurang pas; baik untuk dirinya maupun ada orang lain.

Misalnya, mengingatkan suami untuk tidak merokok, mengingatkan suami untuk tidak impulsif posting sesuatu di medsos, mengingatkan suami untuk tidak genit pada wanita lain, mengingatkan suami untuk menyeimbangkan hobi pribadi dengan waktu untuk keluarga, mengingatkan suami untuk menyeimbangkan waktu mengejar karier dengan waktu untuk keluarga, mengingatkan suami untuk meninggalkan hal-hal kecil yang gak bermanfaat, mengingatkan suami untuk merubah akhlak buruk.

Setiap kali saya mengingatkan suami saya dari satu perilakunya yang kurang pas, saya selalu bilang : ” I do it because I love you. I care about you. Di usiamu saat ini, di posisimu saat ini, gak akan banyak orang yang berani mengingatkanmu. Bahkan mungkin gak ada”. 

Ya, saya berpegang teguh pada definisi “cinta adalah saling menjaga”. Dengan dua makna:

(1)  Makna yang terkait dengan hubungan kami berdua. Setelah mengarungi pernikahan 15 tahun, saya semakin yakin bahwa Allah menciptakan laki-laki dan wanita itu setara.

Teori bahwa laki-laki itu rasional dan perempuan itu emosional, itu gak berlaku dalam pernikahan. Yang ada adalah, dalam situasi tertentu suami lebih rasional, dalam situasi tertentu ia emosional. Sama dengan istri. Maka, ketika istri sedang emosional, suami bersikap tenang dengan kekuatan rasionalitasnya. Dan ketika suami emosional, istri bisa menjernihkan pikiran suaminya dengan keteduhan rasionalitasnya.

Laki-laki itu pelindung dan wanita itu makhluk lemah yang harus dilindungi? Totally wrong ! Iyesh, sering wanita butuh perlindungan suaminya lewat kekokohan pelukannya. Kala ia sedih, kecewa, disakiti, mengalami kegagalan, dll.  Tapi saya sudah menyaksikan berpuluh-puluh suami; yang tak ingin melepaskan genggaman tangan istrinya, yang merasa kuat saat istrinya berada disampingnya;  kala mereka sakit, kala mereka down, kala mereka takut…

Dua gambaran yang sebenarnya sudah bisa kita ketahui lewat kisah Rasulullah yang merasa takut dalam pelukan istrinya Khadijah saat mendapatkan wahyu pertamanya.

(2) Makna yang terkait dengan pasangan kita dengan lingkungannya. Dalam perjalanan hidup ini, kita butuh rem. Agar tak melaju di jalan yang salah. Agar kita menjalani kehidupan ini tidak dengan menutup mata, yang penting cepat. Agar kita punya waktu untuk selalu awas pada belokan-belokan kebenaran yang mungkin kita lewatkan.

Suami dengan rasionalitasnya, bisa jadi rem untuk istrinya. Dengan pikirnya, ia akan bisa membayangkan resiko-resiko, dan beragam elemen yang akan mengarahkan jalan istrinya di jalan yang benar.

Di sisi lain, suami langkahnya lebih panjang. Ia tak terikat anak-anak. Tak terikat rumah. Darahnya cenderung bergejolak memenangkan kompetisi dalam beragam bentuk. Maka, istri-lah yang bisa jadi rem. Membuatnya melambatkan larinya, mengajaknya berbincang agar sempat ia melihat sekeliling dan berefleksi, menemaninya mengevaluasi arah hidupnya, menariknya kembali pada nilai-nilai yang akan menjadi berharga saat di akhir hidup ia mengevaluasi perjalanan kehidupannya.

Tak ada yang otomatis terjadi dalam dunia ini. Itu adalah sunnatullahNya. Tak ada cinta yang begitu saja tumbuh dan menguat. Tak ada komunikasi dari hati ke hati yang begitu saja terlatih, tak ada rasa yang begitu saja menyatu dalam satu frekuensi, “hanya” karena usia pernikahan telah bertambah. 

Saya ingat suatu saat Pak Bos menasehati kami: “Bagi kalian, di masa-masa ini mungkin merasa hubungan kalian dengan suami baik-baik saja. Karena masing-masing fokus dengan urusan anak. Tapi ketika tak ada lagi anak-anak yang harus diurus, saat kalian berduaan kembali, di situlah kedalaman hubungan kalian teruji. Bukan tak mungkin kalian akan jadi bingung, apa yang harus diobrolin. Ngomong ini, takut menyinggung, ngomong itu, gak tau mulainya dari mana. Bukan tak mungkin kalian merasa saling asing; kalau proses saling mendekat, saling menyelami, saling mendengarkan dan saling menghargai itu tak terus diusahakan dan diperjuangkan. Lebih asyik ngobrol sama teman di luar rumah atau dengan teman kerja, jangan sampai itu terjadi” katanya.

loveSaya juga ingat seorang ustadz di ceramah tarawih ramadhan masjid salman tahun lalu, menyampaikan bahwa ketika seseorang memutuskan untuk menikah, maka berarti ia bersedia mengikutsertakan pasangannya dalam setiap pertimbangan perilakunya. Sekecil apapun, sebesar apapun, sehebat apapun konteks perilakunya.

Kalau memegang teguh nasihat ini, masalah pelakor dan pebinor mah ga ada arti apa-apa.

Maka, buat saya sekarang, seorang laki-laki yang berkata: “yes mam” atau “oke bos” pada istrinya, bukanlah suami penakut. Tapi ia suami penyayang. Yang menganggap kata-kata istrinya perlu ia dengarkan, yang menghayati bahwa ia butuh dijaga oleh istrinya, yang menganggap bahwa istrinya setara dan berharga. Seorang suami yang mencintai istrinya.

PAUD dan PR

Hari Kamis lalu, menjelang long wiken, saat saya tiba di rumah sore, si bungsu TK B bercerita bahwa ia dikasih “PR” sama gurunya. Apaaaah? anak TK dikasih PR? TK apa itu? pasti TK gak bener itu ! pasti cuman bisnis doang ! makanya, sebelum SD itu anak gak usah “disekolahkan”. Ibu adalah guru terbaik buat anak. Tuh kaaan…kalau disekolahkan anak dikasih beban yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Anak PAUD itu harusnya bermain yang kreatif bersama ibu, bukan dibebani dengan PR.

Kira-kira begitulah reaksi saya kalau dikomik-kan heheh #hiperbola. Yups, saya pernah membaca pendapat yang meng”haram”kan PR. Apalagi pada anak PAUD. Kenapa ya, gak boleh ada PR ? Kenapa anak PAUD gak boleh dikasih PR?

Oh…oh…saya tau jawabannya: Karena “PR” itu identik dengan “akademik”. PR menghafalkan perkalian. PR ngerjain berlembar-lembar soal. Kadangkala, konon katanya PR dijadikan alat bagi guru-guru yang “malas” menjelaskan materi. Jadi murid dikasih PR yang belum dijelaskan materinya. Itulah sebabnya PR, konon juga katanya jadi pintu gerbang buat ibu-ibu yang gemesh sama anaknya yang gak ngerti materi pelajaran, dan melakukan KDRT dengan verbal : “masa gitu aja gak bisa?” atau dengan perilaku : mencubit, menjiwir, memukul. Duh, bahaya banget ya dampak PR itu 😉

Nah, bener-bener…kalau anak PAUD dikasih PR, bahaya banget tuh… padahal, setiap kali saya sharing sama ibu-ibu maupun guru TK, saya selalu bilang : “sekolah formal” pertama anak-anak itu adalah SD. SEKOLAH Dasar. Kalau TK, ya bukan sekolah. Namanya juga TAMAN. Secara filosofis nama juga beda. 

Oke…oke…kalau ngasih PR ke anak TK itu adalah “malpraktik” pendidikan anak usia dini, pasti anak akan terbebani, kesel, males, muncul emosi negatif. Baiklah, mari kita amati si bungsu…

Waktu si bungsu ngasih tau bahwa dia punya “PR” dari bu guru, kenapa dia memberi tahu saya dengan wajah “sumringah” ya? “Bu, de Azzam dikasih PR sama bu guru. Ibu tau gak PRnya? de Azzam harus bikin makanan atau minuman kesukaan de Azzam. Terus, pas bikinnya, de Azzam harus di video-in, terus dikirim ke bu guru. Gitu bu…de Azzam, gak sabar pengen ngerjain PRnya ! bikin apa ya bu? bikin nutrijel, de Azzam udah bisa sendiri belum? harus sendiri bu, jadi harus pilih bikin-bikin yang de Azzam gak perlu bantuan ibu dan abah”

Hhhmmm….aneh nih. Kan harusnya anak stress ya kalau dikasih PR, tapi ini kenapa gak stress ya? malah antusias. Yang salah teorinya atau anaknya ya? Seinget saya, ini memang bukan kali pertama si bungsu dapat “PR” dari gurunya.

Beberapa bulan lalu, pas long wiken juga, si bungsu dikasih PR menggambar. “Kata bu guru, menggambarnya jangan langsung sekali, harus dicicil tiap hari sedikit-sedikit. Biar bagus. Idenya harus kreatif”. Dan pesan gurunya, dia amalkan sepenuh hati. Tiap pagi dia akan mengingatkan saya untuk “temenin bikin PR menggambar”. Lalu seperempat jam kemudian, dia berhenti : “Kan kata bu guru gak boleh langsung selesai, biar bagus. Besok dikerjain lagi”. Dan jadilah gambar itu, hardfilenya dikumpulkan ke bu guru, softfilenya saya kirim ke majalah bobo junior, yang ternyata 2 minggu kemudian dimuat. Wah, bahagia sekali si bungsu (dan emaknya hehe).

PR lainnya yang saya ingat adalah : membuat roket dari barang bekas. Hasilnya dikirim via foto di grup wa. Ngerjainnya sama papanya masing-masing. Waaah…gile..kreatif-kreatif ternyata para papa memberikan ide dan mengerjakan “PR” itu bersama anak-anaknya. Akhirnya, setelah 2 minggu karena si abah lagi padet di luar kota, roket si bungsu pun jadi. Waktu bikin, dia semangaaat banget. Sampai pas udah jadi, sebelum dikumpulkan (dan ternyata hanya diperlihatkan aja sama bu guru, selanjutnya dibawa pulang lagi), dia pajang di lemari. Sesekali diambil, dipeluk, dicium-cium sambil muji diri sendiri : “ternyata de Azzam, bisa bikin roket yang bagus ya”.  Saking terharunya bu guru karena anak-anak begitu antusias mengerjakan, bu guru pun membuat gantungan kunci buat anak-anak, bergambar foto masing-masing anak dengan roket buatannya. Gantungan kunci itu jadi kebanggan si bungsu.

PR lainnya yang saya ingat adalah, sebulan lalu bu guru minta anak-anak yang sudah bisa menulis untuk menulis kata, yang berawalan huruf tertentu. Hurufnya berurut mulai dari a,b,c,d, dst per hari. Si bungsu yang termasuk sudah terlatih motorik halusnya dan sudah bisa mengeja, juga semangat mengerjakan “PR” ini. Meskipun dia bilang: “Bu guru engga bilang harus nulis berapa kata, katanya terserah. Kalau de Azzam tulisannya kecil, berarti harus banyak. De Azzam mau tulisannya besar aja aaah….biar sedikit kata-nya”. Cukup menyenangkan menemaninya mengerjakan PR ini. Terutama ketika si bungsu “mikir” kata apa yang berawalan huruf tersebut, lalu terpikir satu kata yang lucu: seperti “cangcut dan dodolipret” 😉

Dan, PR membuat makanan kesukaan ini, akhirnya dikerjakan dengan tak kalah antusiasnya dengan PR-PR nya sebelumnya. Saya jadi penonton, si abah jadi kameramen. Dia sudah memutuskan akan membuat telor ceplok kesukaannya. Mulai dari memecahkan telur, memasukkan ke wajan, membalik telur, sampai mengangkat ke piring. Menyalakan dan mematikan kompor, di hasil video terlihat tangan si abah membantu hehe… Sambil melakukan aksinya, gaya si bungsu udah kayak youtuber-youtuber gitu, Meskipun gak pake kata “gays” ya kkk… “Haloo…kita akan membuat ceplok telor…oke, kita mulai saja….”.

Kemarin, ketika saya pulang sore, dia cerita : “Bu, yang kirim video ke Bu Guru cuman bertiga. Dia sebut nama temannya dan apa yang dibuatnya. Gak apa-apa gak ngumpulin juga. Tapi yang ngumpulin dikasih kertas stiker …yeay….

PR2Nah..dari pengamatan saya terhadap jenis PR, sikap si bungsu terhadap PR dan sikap bu guru terhadap PR, saya jadi bisa menyimpulkan : Bukan “Ada PR” atau “Tidak ada PR” yang menjadi inti permasalahan. Tapi yang harus kita cermati adalah:

(1) Apa tujuan PR? Menurut saya, di jenjang pendidikan manapun, tujuan memberi PR atau tugas, akan menentukan bentuk PR apa yang diberikan dan bagaimana sikap siswa terhadap PR tersebut. Misal, di sebuah Perguruan Tinggi nun jauh disana, PR yang diberikan dosen pada mahasiswa adalah menerjemahkan buku/chapter buku. Lalu hasil PR mahasiswa tersebut, di klaim sebagai kinerja menerjemahkan buku untuk kepentingan dosen tersebut. Nah, kalau tugasnya macam ini, mahasiswa gak merasa ada manfaatnya buat dia. Ya, kalau dibikin-bikin sih bisa ada aja. Tapi kalau secara tulus kita hayati, mahasiswa bisa jadi gak dapet apa-apa dengan tugas semacam ini. Saya sendiri sebagai dosen merasakan; ketika merancang tugas/PR itu, tidak mudah. Harus kita hayati betul bentuk aktifitasnya seperti apa, tingkat kesulitannya, lalu nanti bentuk feedbacknya seperti apa.

(2) Bentuk PRnya seperti apa? Setelah saya ngobrol dengan bu guru, ternyata bentuk-bentuk PR yang diberikan pada anak-anak itu, adalah upaya bu guru agar anak-anak terisi waktu luangnya dengan kegiatan yang menstimulasi daya kreatifitas dan kemandirian anak. Maklum, saat libur, para ortu mengeluh ke bu guru: “anak-anak kalau di rumah main gadget terus”. Saya sih gak ikut mengeluh karena saya tahu bahwa  kalau  saya mengeluh begitu, senjata makan tuan buat saya. Kenapa ibu kasih gadget dan gak nemenin anak main? Gak mungkin dong anak  umur 5 tahun main sendiri sementara emaknya gadget-an ;). Dan tugas-tugas tersebut, disesuaikan tingkat kesulitannya dengan kemampuan anak. Juga disesuaikan dengan kondisi “jaman now”. Misal mengirim PR berbentuk foto dan video ke wa bu guru 😉

(3) Reward/punishment terhadap PR. Apakah anak-anak yang tidak mengumpulkan PR diberi hukuman? tidak. Yang mengumpulkan yang diberi reward. Pas dengan tahap perkembangan anak.

Maka, dari pengalaman ini saya mendapatkan satu pelajaran : jangan terjebak nama/istilah. Kita biasakan untuk mengamati (atau bahasa kerennya “menganalisa”) elemen-elemen dari suatu kejadian. Ada banyak keterjebakan yang bisa kita hindari dengan pola seperti ini : mengamati elemen-elemen dari suatu kejadian. Katanya itu yang namanya CRITICAL THINKING. Itu yang membedakan manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna dengan makhluk lainnya : manusia diberi akal. 

Apalagi para emaks jaman now yang mengalami tsunami informasi : kata pakar ini boleh, kata ahli ini gak boleh, kata BC-an yang ini harus begini, kata BC-an yang itu gak boleh begini…

Ketika Allah mentakdirkan kita menjadi ibu, maka Allah sudah menganugerahi potensi untuk berpikir, merasa dan bertindak yang paling tepat bagi anak-anak kita. Ya, ilmu pengasuhan harus kita cari untuk mengaktivasi potensi tersebut. Lalu kemudian, curahkan energi kita untuk mengamati anak, mengamati elemen-elemen kejadian dalam persoalan anak. Kalau ada kebimbangan, diskusikan dengan orang yang kita percayai keilmuannya. Insyaallah, kita akan rileks dan tenang dalam menjalani beragam perjalanan bersama buah hati. Itulah hakikatnya “bukan emak biasa” (yang perlu bukunya inbox ya..haha….pesan sponsor)

Sang Rahim

Terbanglah anakku,
terbanglah setinggi yang kau mau,
terbanglah setinggi yang kau bisa

More

PAUD : Yes or No? (studi kasus pola pikir para emak)

Awal semester lalu, saya dimintai bantuan oleh salah satu Taman Kanak-Kanak (TK) untuk sharing pada orangtua siswa baru di TK tersebut; temanya “pentingnya pendidikan anak usia dini”. Saya berusaha memikirkan apa yang akan saya sampaikan dalam acara sharing tersebut. Saya mengumpulkan buku-buku terkait topik tersebut, berusaha merenung apa yang kira-kira dibutuhkah oleh para mahmud (mamah muda) yang menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan prasekolah tersebut.

Dalam perjalanan ke kampus, salah satu wa grup yang saya ikuti mengirimkan sebuah tulisan. Tampaknya tulisan tersebut sedang viral di hari itu, terbukti beberapa wa grup yang saya ikuti, juga menyebarkan tulisan tersebut. Judul tulisan tersebut adalah “jika anak sekolah terlalu dini”. Sepertinya kalau di googling gampang ketemu.  Ada 14 poin yang dipaparkan dalam tulisan tersebut, intinya menyampaikan argumen di bawah usia 5 tahun, anak tidak perlu bersekolah. Poin ke-12, cukup bikin saya kaget. Memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker. Kita tidak tahu kapan kanker akan muncul & dlm jenis apa. Otaknya belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan ia kehilangan motivasi belajar. ……..

Saya yakin, penulis memiliki data yang menjadi dasar dari apa yang disampaikan. Saya sendiri belum punya data mengenai hal ini. Kalau ada lembaga yang bisa menyediakan data; misalnya yayasan yang punya PAUD, SD, SMP, SMA; sangat senang sekali kalau litbangnya mengajak saya bekerjasama melakukan penelitian. Membandingkan anak-anak yang “sudah sekolah” sebelum usia 5 tahun dengan anak-anak yang “tidak sekolah” sebelum usia 5 tahun dari berbagai aspek pada saat dia usia SD, SMP, SMA. Dari situ kita bisa punya fakta empirik yang sahih untuk mengatakan apa dampak “sekolah terlalu dini” bagi perkembangan anak selanjutnya.

Saking bikin seremnya poin tersebut, saya sendiri jadi mempertanyakan keputusan saya menyekolahkan 4 anak saya sejak mereka berusia 2 tahun. Kelompok Bermain 2 tahun, TK A 1 tahun, TK B 1 tahun. Waduh…. anak-anak saya udah 3 tahun sekolah sebelum mereka mencapai usia 5 tahun ! gawat banget nih…separah apa nanti kanker yang akan mereka derita ya? Serendah apa nanti motivasi belajarnya?

Lalu saya mengingat-ingat lagi alasan kenapa saya menyekolahkan anak-anak sejak mereka usia 2 tahun. Alasan utama adalah karena saya bekerja. Di rumah, anak-anak didampingi oleh pengasuh yang baik dan responsif, tapi jelas tidak bisa diharapkan menstimulasi secara terstruktur dengan optimal. Kalau begitu, harus berhenti kerja dong…masa ibunya S2 anaknya diasuh lulusan SMA. Berarti pekerjaan lebih berharga dibanding anak dong… Ah, saya mah udah bertahun-tahu lalu selesai dengan pergulatan itu. I love my job, because it’s not only job. It’s my ikigai.

Melakukan aktifitas pekerjaan saya: mengajar, berdiskusi dengan mahasiswa, membaca, praktek psikolog, selalu mengisi jiwa saya. Pulang ke rumah, tubuh saya lelah tapi jiwa saya rasanya terisi penuh. Jiwa yang sudah tercharge- full  itulah yang membuat saya punya energi untuk mengasuh anak-anak. Banyak hal dari luar rumah yang saya bawa ke rumah. Baik itu penghayatan, pengetahuan, keterampilan, dan banyak hal yang menjadi bekal untuk memberikan banyak hal pada anak-anak saya.

Kalau kata si abah : “sebenernya aku lebih suka dirimu di rumah. Tapi aku tau dirimu pasti gila kalau gak menjalankan profesimu. Jadi aku ridho dirimu beraktifitas di luar rumah”.  Jadi, saya mencintai anak-anak saya, tapi saya juga mencintai pekerjaan saya. Dan dalam kondisi saya, feasible untuk punya pilihan AND, bukan OR. My children AND my job; not my children OR my job.

Maka, jadilah saya mencari partner yang bisa memberikan stimulasi yang tidak bisa saya berikan selama saya beraktifitas di luar rumah. Partner yang paling gampang adalah sekolah. Paud. Play Group, TK A dan TK B. Setelah mencari-cari kesana kemari, ketemu lah saya sama sebuat sekolah yang “pas”dengan kebutuhan saya. Guru-gurunya responsif. Anak-anak saya yang perempuan, cenderung butuh waktu lama untuk adaptasi di lingkungan baru. Dan selama masa adaptasi itu, bu guru tak segan menggendong, memeluk, memangku anak-anak saya sampai mereka pelan-pelan merasa nyaman bergabung dengan teman-temannya. Ketika anak-anak gak mau ditinggal, guru-gurunya punya teknik “memisahkan” anak dengan orangtua yang efektif. Sehingga meskipun pas ditinggal nangis-nangis, 5 menit kemudian saya telpon gurunya, anak saya udah “lupa” aja…..atau bahkan bu gurunya yang proaktif memfoto 5 mrnit kemudian, mengirimkan pada saya.

Ah, tapi itu kan pengalaman subjektif sama. Pendapat saya pribadi. Bias ah….Aha….saya pun punya ide. Jadilah materi sharing di TK yang tadi saya ceritakan di awal, formatnya tidak ceramah dan tanya jawab seperti biasanya. Saya print artikel “Bila anak sekolah terlalu dini” tadi. Ada sekitar 80 orangtua yang hadir pada pertemuan itu, saya bagi menjadi sekian belas kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 orangtua.  Pada masing-masing kelompok, saya bagikan artikel tersebut, lalu saya beri waktu 30 menit untuk mendiskusikan.

Ada 3 hal yang saya mintakan:

(1) Menyimpulkan isi artikel itu dan menyampaikan dengan bahasa ibu-ibu sendiri (konon kan katanya emak-emak jaman now semangat menshare-nya jauh lebih besar dibanding semangat membaca isinya. Seringkali keputusan menshare cukup dengan membaca judulnya saja)

(2) Menyampaikan pendapat mengenai isi artikel tersebut. Adanya fitur “copy” dan “share” juga membuat kita jadi gak terbiasa mengolah informasi dan menyampaikan gagasan kita sendiri terhadap informasi itu.

Setelah 30 menit berlalu, beberapa kelompok saya minta mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.

Proses dan hasil diskusi yang terjadi, membuat saya bangga sama emak-emak yang hadir di ruangan tersebut.

Saya rangkum poin pendapat peserta mengenai isi artikel tersebut.

(1) Bahwa dalam artikel tersebut, ada poin-poin yang mereka setujui

Contohnya pernyataan: “Permainan terbaik adalah tubuh ayah ibunya! Bermain dengan ayah ibu juga menciptakan kelekatan. Misal: bermain peran, bermain pura-pura, muka jelek, petak umpet”.

(2) Sebagian poin-poin dalam artikel tersebut tidak mereka setujui

Contohnya pernyataan: Anak di bawah usia 5 tahun belum saatnya belajar sosialisasi. Ia belum bisa bermain bersama. Mereka baru bisa bermain bersama-sama. Bermain bersama-sama= bermain diwaktu & tempat yang sama namun tdk berbagi mainan yg sama (menggunakan mainan masing2). Bermain bersama= bermain permainan yg membutuhkan berbagi mainan yg sama.

Berdasarkan pengalaman ibu-ibu yang mempresentasikan hasil diskusinya, anak usia 4 tahunan udah bisa main bareng. Dan menurut teori pun, potensi anak untuk cooperative play memang sudah dimiliki di usia 4 tahun.

Bersosialisasi, berdasarkan hasil diskusi, adalah tujuan utama ibu-ibu menyekolahkan anak-anaknya di PAUD. Mengapa? peserta menyatakan bahwa mereka menghayati kemampuan sosialisasi adalah kemampuan penting untuk anak. Sosialisasi meliputi kemampuan untuk berbagi, bekerjasama, mengatasi konflik misalnya. Salah seorang ibu yang mempresentasikan mewakili kelompoknya menyatakan bahwa anaknya baru satu, di lingkungannya tidak ada teman sebaya.

Kenapa engga sosialisasi sama orangtuanya saja? Ya, saya memang tidak bekerja, punya waktu banyak main sama anak, kata ibu tersebut. Tapi saya lihat pola sosialisasi sama teman sebaya, misal kalau main sama sepupunya, itu beda dibanding sama orangtuanya. Kalau sama sebaya kan egonya sama, jadi saya liat dia juga belajar keterampilan yang dia gak dapat kalau interaksinya sama orangtua; begitu pendapatnya.

Seorang ibu yang lain menyampaikan bahwa walaupun anaknya punya 3 kakak, ia pun menilai bahwa interaksi dengan teman sebaya itu berbeda dengan interaksi dengan yang tidak sebaya. Dan itu mereka rasa penting.

(3) Artikel ini tujuannya bagus, namun cara penyampaian di artikel itu menurut peserta terlalu “judgmental”;  satu perspektif, tidak membuka peluang adanya perspektif lain.

Misal kalimat : “Betapa kita disiapkan untuk menjadi ahli namun tdk disiapkan jadi orangtua, shg tidak punya kesabaran & endurance utk jadi ortu”.

Menilai orangtua yang menyekolahkan anaknya di PAUD sebelum usia 5 tahun berarti orangtua tersebut tidak punya kesabaran dan endurance untuk jafdi ortu dinilai terlalu judgmental oleh para peserta.

(4) Ada pertanyaan juga terkait dengan pernyataan “memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker”; beberapa ibu menyampaikan, ia mengamati bahwa anak-anaknya atau anak-anak yang ia kenal yang sekolah sejak  usia kecil, tampak baik-baik saja. Apakah sekolah dini hanya satu-satunya faktor yang bisa menyebabkan anak jadi bermasalah? atau ada faktor lain ? 

Menurut saya, pertanyaan itu adalah pertanyaan keren banget, yang mengantar kami pada diskusi selanjutnya ….

HAsil dari diskusi itu adalah :

Hasil “baik” atau “buruk” dari keputusan memasukkan anak ke PAUD, tergantung dari beberapa hal :

  1. Kondisi anak
  2. Kondisi orangtua
  3. Kondisi sekolah dan guru

Jadi, kesimpulannya,

memasukkan anak ke PAUD “Iyesh” kalau:

  1. Anak enjoy sekolah. Di awal semester, anak “engga betah” itu wajar. Anak nangis ditinggal ortu itu wajar. Kalau sesudah itu anak gak ngamuk-ngamuk  setiap hari saat harus sekolah, gak marah setiap kali diingetin harus sekolah, berarti baik-baik saja.
  2. Ibu bekerja, atau ibu di rumah tapi ibu merasa tidak akan punya waktu berkualitas untuk menstimulasi anak. Misal : ibu gak punya pembantu, jadi sebagian besar waktunya dipakai untuk beberes rumah, dll. Anak bersama ibu sih di rumah, tapi gak diapa-apain. Atau malah jadi objek kemarahan. Atau ibu punya waktu luang, tapi gak tau harus menstimulasi anak dengan cara gimana. Bingung gimana harus menyikapi anak, gak tau perilaku anak di usia segini wajar atau engga, perkembangan kayak gini telat atau engga. Pengalaman saya, jenjang pendidikan tinggi dan tingkat kecerdasan ibu tidak otomatis sejalan dengan pengetahuan dan keterampilan mengasuh. Ya, ada beberapa keterampilan dasar yang harus dan bisa dimiliki ibu. Tapi tentu tidak semua ibu punya kompetensi menyusun kurikulum, melakukan evaluasi dari aspek-aspek yang harus distimulasi pada anak-anak usia prasekolahnya.
  3. PAUD itu semuanya bisnis? mungkin ya. Saya sendiri gak punya data, belum pernah mensurvey dan gak punya indikator yang dinamakan PAUD adalah bisnis itu kayak gimana. Mungkin benar. Tapi minimal, ada 2 PAUD di Bandung, yang saya tahu persis tidak berorientasi bisnis. Dua PAUD ini saya bantu sejak beberapa tahun lalu. Salah satu PAUD, bahkan membiayai full anak-anak dhuafa dengan latar belakang pemikiran, anak-anak ini sangat terlantar. Ibu-ibunya rata-rata pembantu rumah tangga, rumahnya cuman sepetak. Anak-anak ini ditinggal di rumah. Kadang sendirian, kadang dititipin tetangga; sering dimarahi, bahkan dipukul; mainan boro-boro punya, pengetahuan ibu-ibu untuk kreatif menggunakan alat yang ada di rumah untuk mainan anak boro-boro… Nah di PAUD, mereka dipegang oleh guru-guru yang punya pengetahuan dan keterampilan lebih baik dibanding orangtuanya. Orangtua anak-anak dhuafa itu, diwajibkan mengikuti program sekolah ibu. Saya membantu menjadi fasilitatornya. Di sana ibu-ibu dikasih tau kenapa mukul anak itu gak boleh, ibu-ibu akan belajar latihan gimana caranya kalau lagi kesel sama suami, atau lagi pusing gak punya uang, jangan sampai melampiaskan ke anak. Di PAUD satunya lagi, saya membantu guru-guru menangani kasus-kasus anak dimana para guru itu butuh “second opinion” dari psikolog anak.  Misalnya anak usia 4 tahun, belum bisa toliet training karena ibunya single mother harus bekerja.  Di rumah pake pampers terus, karena tinggal di rumah nenek dan nenek sudah renta, gak mau rumah bau pesing dan gak kuat harus melatih anak toliet training. Di sekolah tersebut, salah satu aturannya adalah anak gak boleh pake pampers di kelas. Meskipun beberapa ibu terutama ibu-ibu playgroup suka “nego” karena khawatir anaknya ngompol, tapi guru-guru di sekolah ini akan mengatakan : “gapapa bu, kalau ngompol tinggal di pel”. Dan mereka konsisten … setiap berapa jam sekali anter anak-anak pipis lah, pup lah…. termasuk si anak 4 tahun tadi. Guru-guru itu yang kemudian mengajari dan meyakinkan si orangtua untuk “berani” melepas pampers anak, menyadarkan ibu apa dampak jika itu tak dimulai sekarang, dll.

Sebaliknya, memasukkan anak di bawah 5 tahun ke PAUD “NO” jika :

  1. Anak sama sekali gak pisah dari ibu. Misalnya mengalami “separation anxiety” (harus didiagnosa sama psikolog), atau anak punya banyak teman sebaya di lingkungan rumah, bisa main bola, main sepeda, masin boneka bareng sama temen-temen di rumah. Atau anak nangis tiap ada PR, sakit perut tiap mau berangkat sekolah.
  2. Ibu, bisa memanage dirinya sehingga punya energi emosi yang berlimpah. Misal anak ikut nyuci, anak ikut masak, meskipun lama tapi ibu gak marah, anak enjoy belajar banyak hal. Anak selalu ngeberantakin mainan, ibu bisa tenang aja, lalu ibu punya waktu mendengarkan anak, mengajak anak main dengan playful. Ibu kreatif mempersiapkan aktivitas beragam buat anak tiap hari, sehingga gak cuman fisik aja bareng sama ibu di rumah, tapi ada interaksi yang berkualitas. Aturan bisa ibu tegakkan dengan tegas.
  3. Gak nemu sekolah yang “ramah anak”. Misalnya, PAUD yang ada hanyalah PAUD yang dari mulai anak 3 tahun sampai 5 tahun, pelajarannya adalah menjumlah dan mengurang. menulis huruf sambung. Yang gak bisa gak boleh pulang. Anak ada PR sekian lembar menulis dan menghitung. Guru-gurunya “galak”.

paudBegitu sih rambu-rambunya menurut saya. Intinya adalah, bahwa anak usia dini perlu mendapatkan stimulasi/pendidikan; IYESH. Golden age tea…. Bahwa bentuknya dengan “sekolah” PAUD, atau dengan ibu di rumah, atau melalui aktifitas lainnya, itu bisa berbeda keputusannya antara satu ibu dengan ibu lainnya. Yang penting bertanggung jawab dan memahami hakikatnya. Stimulasi. Apapun pilihannya, kalau didasari oleh kepedulian, pasti ada upaya mengevaluasi. Gimana proses belajar di sekolah ini? Gimana proses stimulasi di rumah?

Saya ingat, dalam salah satu kesempatan, saya membantu acara “parents meeting” di acara pembagian raport di sebuah PAUD. Modelnya, guru akan memberikan raport sambil menjelaskan perkembangan anak selama 1 term sekolah pada orangtua, lalu saya mendampingi untuk menjawab pertanyaan orangtua terkait masalah anaknya. Ada salah seorang anak, perkembangannya bagus banget. Melampaui anak-anak seusianya, di usia 4 tahunan. Si ibu itu bilang: “iya, dia udah sekolah dari umur 6 bulan bu. Waktu itu kan saya baby blues gitu, saya tuh kerjaannya nangis aja, merasa gak mampu gitu jadi orangtua, nyusuin gak bisa..kalau lama-lama gendong bayi tuh rasanya jadi gak sayang sama bayinya. Ya udah sama suami saya akhirnya anak saya diikutin sekolah bayi gitu…yang dipijet-pijet, terus distimulasi apa gitu…pas merangkak, terus pas jalan, terus melompat gitu…di XXX (ia menyebutkan sebuah lembaga  pendidikan anak ternama). Nah..kalau anak saya dibawa pergi, gak terus-terusan saya yang gendong, pas dateng saya jadi kayak kangen gitu bu, jadi saya enak meluknya juga. Kerasa sayang gitu. ASI saya juga jadi keluar. Pas saya udah lewat masa itunya, alhamdulillah jadi deket gitu rasanya, penerimaan saya tuh sama dia jadi normal.”

Baru sekali ini saya dapat kasus kayak gini. Dan saya menyimpulkan: oh ya…setiap keputusan itu sangat tergantung konteks dan kebutuhan masing-masing keluarga. Karena setiap keluarga punya keterbatasan pilihan yang berbeda. Gak semua ibu punya pilihan tinggal di rumah, punya pengetahuan dan keterampilan, serta kesediaan dan kapasitas emosi  yang mumpuni untuk menstimulasi anak. Dan kalaupun ada ibu yang tipenya kayak gitu, bisa jadi kebutuhannya berbeda, kebutuhan anak berbeda.

Bagi saya sendiri, saya banyak belajar dari para guru PAUD anak-anak saya. Setiap kali membawa hasil kreasi seni, saya belajar …oh, botol bekas tuh bisa dibikin roket ya, gitu caranya. Oh, pendekatan ke anak tuh  yang efektif gitu ya, oh reward yang dirasa asyik oleh anak tuh yang kayak gini ya. Sebaliknya, kalau ada yang bisa di sharing, saya dan mahasiswa bantu para guru PAUD melalui program pengabdian masyarakat. Karena PAUD yang berbayar cukup besar, memang diatur bahwa gurunya minimal harus Sarjana Pendidikan Anak Usia Dini (S,Pd.AUD). Tapi banyak juga PAUD di desa yang guru-gurunya belum punya latar pendidikan yang memadai, itu yang kita bantu.

Proses berpikir dan konklusi yang dihasilkan dari diskusi dengan para emak di atas, adalah proses berpikir yang menurut saya , wajib dimiliki oleh MOM JAMAN NOW. Jaman saya jadi mahmud dulu, baru punya anak satu, untuk cari menu MPASI itu harus ke gramedia, beli bukunya. Banyak pengetahuan yang hanya bisa dimiliki oleh ibu-ibu yang niat beli dan baca buku. Tapi JAMAN NOW, informasi bagai tsunami. Bukan kita yang mencari, namin mereka yang mendatangi kita.

Dulu, saya berpikir ini adalah sebuah keuntungan. Saya berpikir, klien-klien dengan permasalahan stimulasi anak akan jauh berkurang, karena ibu-ibu udah banyak tahu. Tapi ternyata permasalahannya beda. Kalau dulu permasalahannya adalah ibu “tidak tahu”; jaman sekarang adalah “ibu bingung karena terlalu banyak tahu”.

Maka, menurut saya, kemampuan ibu berpikir kritis dalam mengolah informasi, adalah keterampilan strategis bagi seorang emak. Konon, jumlah emak bergadget yang ada, adalah sumber penyebaran hoax tercepat. Artinya, kekuatan emak bergadget tak bisa disepelekan. Nah, kalau semua emak bergadget punya kemampuan mengolah informasi sehingga gak semua infromasi disebar bulat-bulat, diikuti bulat-bulat, dinilai benar 100% atau jelek 100%; lalu menularkan pola pikir itu pada anak-anaknya, bayangkan kekuatan yang akan dimiliki oleh bangsa ini

Dear emaks, kita gak perlu galau dengan  seliweran berita. Gak perlu buang waktu ikutan mom war yang konon katanya menghabiskan energi. Kita berlatih menganalisa informasi yang ada, menilai mana yang perlu diambil mana yang bisa diabaikan. Kita belajar  percaya diri membuat pilihan sesuai kondisi kita, tanpa harus minder atau merasa lebih hebat dibandingkan pilihan emak lain. Kalau ada emak yang merasa hebat dengan pilihannya, tinggalin aja, jangan diladeni. Mending energi kita, kita curahkan untuk mengevaluasi, dan menelusuri sumber daya yang kita punya, potensi yang kita punya. Diskusi tentu saja boleh, sekarang banyak narasumber parenting. Cari  narasumber yang mau mendengarkan kondisi kita, tak hanya sekedar memberi nasihat, saran atau bahkan menilai kita selalu salah dalam mendidik anak.

Dengan proses seperti yang dilakukan para emak dalam kegiatan di atas, insya allah waktu kita tak akan terbuang untuk galau; termasuk pilihan memasukkan atau tidak memasukkan anak ke PAUD.

 

Previous Older Entries