Kisah Satu Jam Bersama Tim Hulk ;)

Siang itu, saya bersama seorang teman sedang di kampus Dago. Saya sedang semangat 45 mengerjakan tugas kuliah. Makan siang yang kami pesan sudah datang. Saat itu, kondisi saya gak seratus persen fit sih. Sejak Sabtu, badan saya anget semriwing-semriwing gitu. Plus tenggorokan sakit. Ah, mau ngedrop kali. Maka, hari Minggunya saya sengaja full istirahat di rumah.

Senin pagi ada kegiatan yang harus saya ikuti. Semriwing-semriwing udah mulai berkurang, tapi entah kenapa perut gak enak plus mual banget. Sampai-sampai akhirnya paginya saya beli obat maag. Gak pernah semual ini sih. Rahim juga agak kram. Biasa sih, kalau lagi nge drop, si IUD suka beraksi. Sebenernya setelah acara saya ingin langsung pulang. Kayaknya butuh istirahat lagi. Setelah istirahat, biasanya semua keluhan berkurang. Tapi ada rapat jam 15. Ya udah sambil munggu rapat, sambil saya kerjain PR.

Tiba-tiba…ada sakit yang menjalar dari perut bawah, ke atas, dan memuncak di sebelah kanan. Sakiiiit banget. Menyebar, lalu meningkat intensitasnya…cenut-cenut hebat di kanan atas….perut rasanya mau pecah. Kayak bukaan 10 melahirkan gituh. Waduh…langsung saya telpon sopir. Saya minta jemput saya pake mobil. 1,5 jam menunggu sopir, badan saya meriang, keringet dingin, pengen muntah…aduuuh….tiap 10 menit sekali telpon sopir saya. “Pak udah sampe mana? cepet ya….” .

Saya putuskan mampir di IGD Hermina. Jam 14 saat itu, saya masuk sendiri bawa ransel yang setia menemani hari-hari aktifitas saya (haha…lebay)

Saya telpon si abah, mengabarkan saya di IGD. Cek lab….Kadar leukosit menunjukkan ada infeksi akut. Sore, si abah datang. Dokter bedah datang. Dokter bedah? “Bu, kalau dari gejala dan hasil lab, sepertinya sih radang di usus buntu. Dan kalau radang di usus buntu, obatnya satu…operasi…kita operasi besok ya, jam 8” . Demikian kata si dokter.

Untuk memastikan, dilakukan serangkaian test lagi. Mengingat sakit di “daerah” itu, bisa usus buntu, bisa masalah kandung kemih, bisa masalah kehamilan. Jujur ya, yang paling degdegan waktu test kehamilan dong….Hiks…hamil, adalah kondisi yang sedang tidak saya harapkan saat ini. Alhamdulillah setelah di periksa sama dokter SpOG, si dokter ramah itu bilang “Ibu, kondisi rahim dan alat kontrasepsi ibu baik, tidak ada masalah dalam organ reproduksi, saya setuju dengan diagnosa sejawat saya, tampaknya masalah ibu di usus buntu”. 

Baiklah. Operasi. Besok. Di tengah-tengah semangat dan target aktifitas yang tengah dihadapi. Baiklah. Kita jalani saja episodenya. Sempet nangis? sempet dooong…biar sehat mental haha… nangis waktu ngontak anak-anak. Si gadis kecil yang mengangkat telpon bertanya: “Ibu kenapa udah sore ibu belum pulang? Kan kita mau belajar buat UTS”. Nangis lagi waktu si bujang kecil merebut telpon dan bertanya: “operasi? usus buntu? serius bu? “.

Karena anak-anak sedang UTS dan mamah dari Purwakarta baru bisa datang besok, maka malam itu, si abah saya minta pulang. Nemenin anak-anak belajar. “Tapi setengah tujuh harus udah disini ya bah…aku takut masuk ruang operasi”.

Meskipun teman saya yang dokter bedah menjelaskan panjang lebar di wa bahwa operasi usus buntu itu sudah “biasa”, resikonya kecil, tenang aja, dll….tapi pada akhirnya kita sepakat bahwa siapapun yang akan masuk ruang operasi, pasti merasa takut. Apalagi sebulan lalu, ada rekan saya yang wafat pasca operasi, karena tekanan darah yang naik. Konon ia stress banget menjelang masuk ruang operasi. Hhhmmm…tak ada alternatif lain selain TRUST pada para dokter dan perawat, YAKIN dan PASRAH pada skenarioNya. Bahwa mungkin saya tak hidup lagi setelah keluar ruang operasi…terpikir doong. Makanya malam itu, sambil memandang kerlip cahaya lampu kota dari jendela kamar saya, sambil beristighfar dan bersyahadat, saya berusaha mengevaluasi kehidupan saya. Tenangkah meninggalkan mas, anak-anak? ada yang dikhawatirkan kah? Gimana kewajiban-kewajiban lain ? a

Paginya…serangkaian prosedur lagi….lalu dilepas si abah masuk ruang operasi. Owh….ngalamin juga berada di ruang operasi. Ruang yang sama dengan ruang saat si bujang kecil dioperasi fimosis-sunat 6 tahun lalu. Ada 6 orang pasukan Hulk-pasukan berseragam hijau. Si dokter bedah ramah yang humoris dan easy going, sudah ada di sana. Saya liat jam. 8.20. Terbersit itu adalah hal terakhir yang bisa saya lihat di dunia ini, saat dokter anestesi yang sigap berkata pada saya: “kita mulai ya bu”, lalu memberikan masker bius. Saya pikir saya akan tidur perlahan. Ternyata tidak. Seluruh tubuh saya merasakan anestesinya bekerja. Saya bersyahadat dan…

Saat saya membuka mata, saya jam menunjukkan 9.40. Operasinya pasti sudah selesai. Saya didorong ke ruang pemulihan. Si abah sudah menunggu di sana. Di ruang pemulihan, saya sampai jam setengah 2. Dua orang yang bersama saya, adalah para ibu yang habis melahirkan sesar.

Saya sudah tau dari beberapa teman yang sesar, bahwa “musuh”nya abis operasi itu adalah batuk dan ketawa. Nah…di ruang pemulihan itu, ada satu kejadian yang bikin saya ketawa lalu meringis karena lukanya jadi kerasa. Ada seorang ibu yang melahirkan sesar, suaminya yang bule baru datang. Begitu melihat bayinya, si bule itu terkaget-kaget dan berseru: “wow bule bangget euy” haha… Tapi itu tak seberapa. Yang paling bikin sakit adalah saat kemarin, saya sudah dinyatakan boleh pulang, infus udah dibuka, saat saya mau ke kamar mandi, si abah memapah saya sambil…..bawa2 tiang infus yang tak terhubung apa-apa lagi dengan saya…haha…bodor banget. Tiap inget itu masih pengen ketawa ….

Sampai seminggu ke depan, dokter meminta saya tidak beraktifitas ke luar rumah dulu untuk memulihkan luka fisik. Banyak kegiatan yang ter-cancel. Ada beberapa keinginan yang tak bisa terpenuhi. Ada beberapa target yang tak mungkin tercapai jadinya.

Saya jadi ingat…paper yang sedang saya baca ketika tiba-tiba sakit hebat menyerang perut adalah paper tentang happiness vs meaningfulness. Senada dan menguatkan konsep hedonic well being vs eudaimonic well being di tulisan saya sebelumnya  https://fitriariyanti.com/2016/09/14/merenungi-makna-kehidupan-yang-baik-catatan-kecil-tentang-well-being/

Di usia 37 tahun ini, saya semakin banyak melihat bahwa … menetapkan keinginan, lalu mengevaluasi apakah tercapai atau tidak-sebagai acuan menilai kebahagiaan hidup kita, bukanlah cara yang tepat. Dulu saya selalu kagum pada orang-orang yang berhasil mencapai keinginannya. Tapi kini, saya jauh lebih terpesona, pada orang-orang yang bisa bangkit kembali, setelah menghadapi situasi yang tak sesuai harapannya. Ibu yang ditinggal wafat anak kesayangannya, pebisnis yang ditipu kliennya, suami yang disakiti istrinya, mahasiswa yang gagal kuliahnya, atlit yang mengalami kecelakaan, namun mereka bisa bangkit lagi berdiri.

Ada banyak, sangat banyak ketidaksesuaian yang Allah terjadi-kan dalam kehiduan kita. Karena faktanya, Dia Sang Maha, bukanlah Dzat yang memanja-kan kita dengan memberikan semua yang kita mau. Ia, adalah Sang Maha Pemelihara. Ya, ia menciptakan kesedihan, kesakitan, kekecewaan, kepedihan… Namun seiring dengan itu, Ia pun menciptakan rasa dan pikir yang membuat kita selalu  bisa melihat kebaikan di balik episode kehidupa yang tak sesuai harapan kita.

bungaKesungguhan dan profesionalitas para dokter bedah, dokter SpOG, dokter penyakit dalam, dokter anestesi yang begitu menenangkan saya, keramahan para perawat, binar mata para ibu dengan luka di perut itu saat menggendong bayi mereka, rasa syukur karena ada mama dan papa yang selalu sigap datang kapanpun saya membutuhkan, “kedewasaan” si bujang kecil membuatkan soal-soal matematika buat latihan belajar si gadis kecil, suapan lembut si sulung kala menyuapi saya, 100 persen rasa aman dan nyaman yang saya dapatkan dari si abah, ketelatenan dan kesabaran si abah menemani saya, bantuan tulus dari sopir saya, adik-adik saya, doa dan perhatian dari teman-teman…. hal itu menciptakan gelombang kebahagiaan yang sifatnya lebih ….deep impact. 

Saat ini, memang hidup saya tidak “hepi”. Keinginan saya sehat wal afiat tidak tercapai. Tapi episode ini memberikan makna dalam hidup saya. Bahwa ada suatu masa dimana saya merasa takut, merasa tak berdaya, dan ada banyak kebaikan dan ketulusan yang Sang Maha tunjukkan.

Episode-episode kehidupan seperti ini, jauh lebih bermakna dibandingkan sebuah momen ketercapaian keinginan dan harapan. Momen-moment seperti ini, adalah moment-moment yang menguatkan. Moment-moment yang kalau ditranformasi dalam bentuk suara, ia akan menjelma menjadi sebuah bisikan: “sesakit apapun episode yang harus kau lalui, you’ll be oke. Menangislah. Merasa perih lah. But. you’ll be ok”. 

Episode-episode kehidupan seperti ini, mudah-mudahan akan membuat kita siap menghadapi ketercapaian harapan kita dengan sepenuh rasa bahagia, namun di sisi lain, tak membuat kita cengeng, membuat kita menjadi tak takut lagi, saat kenyataan tak sesuai dengan harapan.

Semangat !!!!

 

 

 

 

 

In Memoriam Bang Leo: Kebaikan yang menembus ruang dan waktu

“Fbang-leoitri, boleh gak saya minta tolong?” suara nge-bass nya selalu terasa hangat.

“Minta tolong apa Bang?” tanya saya.

“Ini kan makanan dan buah banyak banget bawaan yang nengok. Tapi saya kan engga mungkin makan. Boleh gak Fitri bawa pulang aja, buat anak-anak. Pasti anak-anak seneng”

Percakapan itu, beberapa bulan lalu. di salah satu ruang rawat inap di RS Advent. Saya bersama dua teman angkatan 97 menjenguk beliau, Bang Leo.

Tentu beragam kue dan buah itu tidak saya bawa pulang. Bersama beberapa teman beliau yang juga sedang menengok, kami memberikan kue-kue dan buah itu pada para perawat dan satpam, sambil menitipkan beliau pada mereka.

Peristiwa itu terbayang jelas hari selasa lalu, kurang lebih jam 11. Saat itu saya baru sejam-an keluar dari ruang operasi, masih di ruang pemulihan. Si abah yang pegang hape saya, rupanya membaca kabar duka wafatnya Bang Leo.

Seharian itu, saat saya sesekali baca facebook, beragam ucapan kehilangan beliau, diungkap oleh orang-orang yang mengenal beliau. Beragam cara dan beragam kalimat, namun semuanya menyuarakan satu hal. Semuanya merasakan betapa baiknya beliau.

Saya juga sedih, saya pernah  berjanji pada diri saya….kalau saatnya tiba beliau dipanggil sang Maha, saya ingin mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir. Namun takdir berkata lain. Di saat yang sama, saya juga tengah terbaring tak berdaya.

Leonardus F. Polhaupessy. Bang Leo, demikian kami, warga Psikologi UNPAD mengenalnya. Saya pernah sangat intensif berinteraksi dengan beliau selama satu semester , saat beliau menjadi dosen pembimbing skripsi saya. Waktu saya mendapat kabar bahwa beliau menjadi pembimbing saya, sempet deg-degan juga. Ya, di kelas, kami senang diajar Bang Leo. Waktu itu beliau mengajar kami kuliah Kecerdasan dan Psikoterapi Anak dan Dewasa. Kisah-kisah beliau dalam men”terapi” klien-klien beliau, suara nge bas beliau saat mempraktekkan relaksasi, sangat menarik untuk kami.

Tapi…skripsi itu berbeda. Zaman itu, setiap dosen senior Psikologi UNPAD diakui punya “keunikan” tersendiri. “Keunikan” ynag harus bisa kita pahami. Saya dan Bang Leo…berbeda segalanya. Usia….terpaut puluhan tahun. Suku bangsa, agama, semuanya beda. Apalagi ilmu beliau….haduuuh…ilmu psikodiagnostika-nya, ketajamannya menganalisa respons subjek pada alat test kecerdasan terutama yang kualitatif….membuat kita tak henti tertakjub-takjub.

Namun pertama kali bertemu beliau, semua perasaan cemas saya hilang. Ternyata beliau memiliki kesan positif terhadap saya di mata kuliah kecerdasan. Dan 1 semester bimbingan, selalu diisi dengan diskusi hangat yang diiringi humor dan suara tawa “ha..ha..ha..” beliau. Yang saya sangat ingat adalah, naskah skripsi saya, tak pernah tercorat-coret. Tak ada yang salah? tak mungkin….tapi beliau, mengoreksi naskah saya dengan mencoret rapi kalimat-kalimat saya, lalu menuliskan apa yang “benar”nya di bagian atas, dengan tulisan tegak bersambung yang rapiii….

Setelah menjadi kolega, setiap kali ketemu mahasiswa, Bang Leo selalu cerita: “Fitri ini mahasiswa bimbingan skripsi saya. Lulus satu semester loh, soalnya saya boongin. Waktu itu saya bilang…ayo harus beres satu bulan soalnya saya mau ke Belanda. Padahal saya gak jadi ke Belandanya ha..ha..ha..” . Tak lupa kemudian ia selalu menitipkan salam untuk anak-anak saya.

Beberapa tahun lalu beliau pensiun, beliau mulai sakit-sakitan. Tubuh kurusnya semakin ringkih terlihat beberapa kali kami bertemu di kampus. Senyum dan tawanya mulai jarang terlihat.

Di acara Dies Natalis Fakultas persis tahun lalu, di tengah keramaian, beliau memanggil saya. “Fit, kayaknya Fitri  senang dengan warna ini ya” katanya sambil memegang kerudung saya. Saya nyengir aja. “Saya punya sesuatu yang akan pas banget”. Lalu Beliau  mengeluarkan dua cincin bermata orange tua dari jari-jarinya. “Dua-duanya buat Fitri. Pas banget sama baju ini”. Katanya. Saya kaget dan tak menyangka. Dan saya tahu tak mungkin saya tolak. Setelah saya pake, beliau berkata: “Tuh, keren kan…” sambil mengedipkan sebelah matanya. Khas gaya beliau.

Sebulan kemudian, saya bertemu di kampus. Waktu saya menyalami beliau, beliau lagi-lagi mengeluarkan cincin yang tengah dipakainya Kali ini bermata biru tua. “Buat Fitri”, katanya.

Bang Leo. Saya yakin semua yang mengenalnya, punya cerita masing-masing denga Bang Leo. Cerita yang sebagian besarnya, pastilah cerita tentang kekaguman kami terhadap sosoknya yang sangat sederhana, rendah hati, ramah dan baik.

Konon, kita memandang dan menilai dunia berdasarkan pengalaman kita “bersentuhan” dengan dunia. Dan “bersentuhan” dengan Bang Leo, membuat saya, memandang bahwa di dunia ini … begitu berlimpah kebaikan yang kita miliki. Kebaikan yang bisa kita berikan pada siapa saja, dalam bentuk apa saja, kapan saja, bahkan sampai maut hampir merenggut nyawa kita.

Selamat jalan Bang Leo, Rest In Peace.

 

 

 

 

 

Merenungi makna kehidupan yang baik; catatan kecil tentang well being

Temans, kalau kita bertemu seseorang, sangat lazim kita bertanya atau ditanya: “Apa kabar?” dan kita mendapatkan jawaban atau menjawab “baik”.

note_2933Nah temans, pernahkah kita merenungi, apa makna “baik” itu? apakah kehidupan yang kita jalani benar kita rasakan “baik”? kapan kita merasa hidup kita “baik-baik saja” ? kapan kita merasa hidup kita “tidak baik-baik saja”? Lalu, apa makna kehidupan yang baik itu?

Konon katanya, kalau kita sudah tua, kita akan mengevaluasi hidup kita dengan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Nah, gapapa kita belum tua juga bertanya tentang itu yuks…biar gak telat hehe…

Tulisan di bawah ini mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.  Etapi, sebelum baca tulisan ini, coba masing-masing renungkan pertanyaan di atas, dan coba buat jawabannya masing-masing. Engga apa-apa sih, kalau gak melakukan proses itu juga. Tapiii…dijamin kurang seru nanti baca tulisan di bawah ini …ciyus….jadi gak ada unsur refleksinya gitu hehe…”.

“Good life”; atau kehidupan yang baik, telah menjadi bahan pemikiran sejak ribuan tahun lalu. Adalah Om Aristippus (haha…panggil Om…sok kenal ), seorang filsuf Yunani dari abad ke 4 sebelum masehi, mencoba merumuskan apa yang menjadi tujuan kehidupan. Menurut beliau, tujuan kehidupan ini adalah mengalami kesenangan yang semaksimal mungkin (kemal; bukan kepo maksimal. Tapi kesenangan maksimal kkk). Maka, saat semua keinginan kita terpenuhi, saat itulah kita mengalami kehidupan yang baik. Saat kita terhindar dari ketidaknyamanan, saat itulah kita bahagia. Pandangan Om Aristippus ini menjadi falsafah bagi penelitian-penelitian well being (kesejahteraan) yang sifatnya subjektif atau dikenal dengan SWB, subjective well being. Tokoh yang paling moncer dalam SWB ini adalah Diener, yang merumuskan kesejahteraan = kebahagiaan = perasaan puas terhadap kehidupan + dirasakannya mood positif + tidak adanya mood negatif. Aliran ini disebut aliran “hedonis” . Tapi kata “hedonis” ini beda banget loh ya…sama kata “hedonis” atau “hedon” yang kita kenal dan rasa bahasanya negatif. Tokoh lain menamakan teori-teori kesejahteraan psikologis dalam kelompok ini sebagai teori mental state.

Nah, sampai sini ….cung dulu yang masuk kelompok Om Aristippus… yang merasa bahagia kalau keinginan kita terpenuhi. Ingin punya pasangan yang romantis, terkabul. Bahagia. Ingin punya anak yang gak rewelan, tercapai…bahagia. Pengen pesbukan tapi batre hape drop, merasa gak bahagia? …

Om Plato, pada kenal doooong….rupanya tidak sependapat dengan om Aristippus. Ia memiliki pandangan yang berbeda mengenai makna “good life”. Menurut beliau, sejahtera,  tak hanya perasaan bahagia. Namun lebih dari itu. “Good life” tak hanya apabila keinginan kita terpenuhi. Namun lebih dari itu, yaitu saat kita menemukan “true daimon” kita, saat kita menemukan “nilai-nilai yang mendasar dalam diri kita”. Oleh karena itu, “madzhab” ini disebut madzhab eudaimonic. Penelitian yang berlandaskan falsafah ini dimotori oleh om Ryff & Singer, yang dikenal dengan istilah PWB atau Psychological Well Being. Tokoh lain menamakan teori-teori kesejahteraan psikologis dalam kelompok ini sebagai teori desired based.

Nah, mana yang benar? ah, tulisan ini tak bermaksud menganalisa mana yang benar mana yang salah. Tulisan ini lebih ditujukan bagi kita untuk berefleksi.

Buat kita para emak, refleksi ini bisa dilanjutkan dengan merenungi: “good life” seperti apa yang kita inginkan dijalani oleh anak kita? apakah good life versi hedonic? atau good life versi eudaimonic? atau gabungan keduanya? atau bukan keduanya? pertanyaan ini harus kita jawab dulu, sebelum kemudian kita bertanya pada diri kita; sikap dan perilaku pengasuhan seperti apa yang perlu kita jalankan agar anak-anak kita bisa menjalani “good life” dalam kehidupannya. Kalau kita tak merenungi dulu hal ini, jangan-jangan selama ini kita berjalan tak tahu arah.

Selamat merenung, semoga bermanfaat😉

Sumber bacaan:

Raghavan, R., & Alexandrova, A. (2014). Towards a Theory of Child Wellbeing. Social Indicators Research, 121 887-902

R. M. Ryan and E. D. Deci, ‘On Happiness and Human Potentials: A Review of Research on Hedonic and Eudaimonic Well-being’, Annual Review of Psychology, 2001, 52, 141–66.

 

Sumber gambar:

http://www.visualreads.com/post/latest.cfm?category=0&page=294

 

 

 

 

 

 

 

Belajar Abstraksi dari Ritual Haji

apples-v-orangesKalau kita tunjukkan apel dan jeruk ke anak kecil, lalu kita tanya apakah apel dan jeruk itu sama atau beda; sampai dengan umur tertentu, mereka akan menjawab “beda”. Namun kalau kita tunjukkan pada anak yang lebih besar, lalu kita tanya dengan pertanyaan yang sama, mungkin mereka akan menjawab “sama”.

Mana yang benar? dua-duanya benar. Si anak kecil melihat apel dan jeruk  itu berbeda, karena perkembangan kemampuan berpikirnya baru sampai melihat dan menyimpulkan sesuatu berdasarkan hal konkrit yang ia lihat, cium, rasa, dengar atau sentuh.

Ketika ia melihat warna apel dan jeruk itu berbeda, lalu mencium baunya berbeda, rasanya berbeda, dan teksturnya berbeda; maka ia akan menyimpulkan dua benda itu berbeda. Kata Piaget, seorang ahli psikologi perkembangan yang mengkonstruksi teori mengenai perkembangan kemampuan berpikir anak, sampai dengan usia 12 tahun pola pikir anak  masih bersifat konkrit.

Berbeda dengan jika apel dan jeruk itu kita tanyakan pada anak usia remaja dan dewasa, mungkin ia akan menjawab “sama”. Mengapa? karena ia melihat konsep yang tidak kasat mata, yaitu “buah-buahan”. Remaja dan dewasa sudah bisa berpikir “abstrak”.

Maka, kalau kita melihat kesamaan dan perbedaan sesuatu itu hanya dari kasat mata, maka kita harus berintrospeksi. Mungkin pola pikir kita masih seperti anak-anak. Misal: kita menilai  manusia berdasarkan jenis pakaian yang ia kenakan. Kalau warna dan gayanya begini, berarti mencintai Rasul. Yang warna dan gayanya gak begitu, gak cinta Rasul. Kalau dia masuk kelompok ini berarti orang baik, kelompok itu berarti orang dzalim. Pilih presiden ini orang baik,pilih presiden itu buruk. Tanpa mau menelisik lebih lanjut  apa yang menjadi landasan pertimbangannya. Atau, kita menyimpulkan orang berdasarkan kategori-kategori lain yang “kasat mata”. Harta, pangkat, jabatan, kecantikan, popularitas….

Padahal kalau kita sudah dewasa, harusnya kita bisa melihat kesamaan dan perbedaan yang sifatnya lebih abstrak. Bukan dari atribut yang kasat mata, tapi dari konsep-konsep yang tak kasat mata. “Walau orang itu model bajunya model orang yang sholeh, tapi akhlaknya kurang baik. Maka tidak boleh saya ikuti”. “Walaupun gelar akademiknya tinggi, orang itu melanggar kode etik. Tidak boleh kita contoh perilakunya”. “Walaupun orang itu memakai pakaian dengan gaya yang berbeda, tapi akhlaknya baik. Berarti dia mencintai Rasul”. “Walaupun kerudungnya tidak lebar, namun pakaiannya tidak menerawang, tidak membentuk tubuh, tidak terbuka, menutup dada, tidak menarik perhatian, berarti syar’i”, “Walaupun orang itu populer, namun sebenarnya ia kurang berilmu. Jangan bertanya padanya”

Ada satu ritual dalam Islam yang mengajarkan kita itu melebur semua “label” perbedaan konkrit. Haji. 3 hari berihrom, siapapun dia-tua muda, kaya miskin, bergelar akademis atau gak sekolah, dan beragam atribut sosial lainnya- semua dinilai sama. Sebagai seorang manusia dengan dua lembar kain putih tak berjahit bagi laki-laki, dan wanita berpakaian putih.

Saat berhaji, kita tak tahu orang lain itu siapa. Orang lain tak tahu kita siapa. Kita tanggalkan semua atribut sosial keduniaan. Kita gak tau gaya pakaiannya seperti apa, partainya apa, ngajinya sama ustadz mana, pilihan presidennya siapa. Dan kita “dipaksa” untuk berpikir abstrak: bahwa mereka semua adalah manusia yang ingin mendekatkan diri pada Tuhannya.

sumber gambar : http://criticalandcreative.blogspot.co.id/2012/12/differences-and-similarities.html

Ketika si gadis kecil ingin menjadi petani

Kemarin, ketika saya sampai di rumah, di pintu depan saya disambut oleh si gadis kecil 7 tahun  yang memeluk saya dengan mata berkaca-kaca. Setelah saya peluk 5 menitan, dia bertanya:

“emang jadi petani itu memalukan ya bu?” Saya peluk lebih erat, saya tahu dia gak perlu jawaban.

Lalu mengalirlah ceritanya. “Tadi di sekolah kan Bu Guru tanya, cita-citanya apa. Pas teteh bilang pengen jadi petani, semua temen teteh ngetawain teteh”. Lalu dia terisak lagi. Masih saya peluk. “Teman-teman teteh pada cita-citanya jadi polisi, dokter, tentara, astronot, pilot. Terus kata Bu Guru, petani itu penting. Kalau gak ada petani, yang lainnya….dokter, tentara, polisi, astronot, semua temen-temen teteh gak akan bisa makan. Tapi tetep temen-temen teteh ngetawain”. Dan ia mengulang lagi pertanyaannya; “Emang jadi petani itu pekerjaan yang memalukan gitu?” 

Saya peluk lagi lebih erat. Saya pikir dia gak butuh jawaban. Dia hanya butuh mengungkapkan perasaannya dan mendapatkan dukungan.  Setelah tangisnya reda, dia pun kembali ke aktivitas favoritnya: menggambar komik “sekolah kucing” sambil bersenandung.

Sudah 2 tahun ini, setelah cita-citanya berubah dari jadi dokter hewan ke petani, ia konsisten. Setiap kali ia jemput saya ke Jatinangor dan saya tunjukkan fakultas-fakultas “keren”: kedokteran, FKG, farmasi, dia tanya dimana Fakultas Pertanian. Setelah saya kasih tau dimana, ia harus selalu lewat situ. Abahnya udah ngajak suatu saat  jalan-jalan ke IPB. Si gadis kecil selalu membayangkan bagaimana nanti dia memelihara hewan-hewan ternak, menanam dan merawat berbagai tanaman, dll dll. Setiap mudik ke Kediri, riangnya bukan main menikmati suasana, mengamati bahkan membantu para petani.

Saya sendiri, mendukungnya. Jujur saja ya, beberapa tahun lalu, dukungan saya mungkin palsu. Hanya di bibir dan di wajah, namun tak di hati. Namun beberapa tahun terakhir ini, dukungan saya juga dari hati. Seiring usia bertambah, saya semakin banyak melihat. Dan salah satu yang saya buktikan adalah, menjadi apapun seseorang, yang akan menjadi kunci kesuksesannya adalah kesungguhan.

Tapi ternyata, dalam konteks kehidupan, sukses dalam bekerja hanya menjadi salah satu bagian dalam perjalanan panjang kehidupan kita. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: setelah kita sukses, apakah kita merasa bahagia? apakah harus sukses dulu baru kita bahagia? atau kebahagiaan yang membawa kesuksesan? mengapa banyak yang sudah sukses namun tak merasa bahagia? 

happy-career-buku-foto-kecilSebulan lalu, saya menerima buku dari kakak kelas saya, Mbak Elvi Fianita. Beliau menulis buku berjudul Happy Career. Buku ringan berisi 9 prinsip mengejar keberhasilan dengan lebih dahulu mengejar kebahagiaan. Isinya, menjawab pertanyaan-pertanyaan saya di atas. 9 prinsip yang saya baca sambil mengangguk-angguk.

Dari 9 prinsip yang diungkap dalam buku ini, prinsip ke-4 yang paling berkesan buat saya. Menemukan “panggilan hidup” dalam pekerjaan kita.

Setelah 19 tahun meninggalkan bangku SMA, 15 tahun melihat teman-teman saya selulus kuliah berkembang dengan jalannya masing-masing, maka saya melihat…mereka yang hepi, adalah mereka yang memilih pekerjaan yang sesuai dengan passionnya.

Dan kehepian itu, selalu diikuti oleh kesungguhan, menjadi paduan yang sangat mempesona. Apapun bentuk pekerjaannya.

Teman-teman saya yang senang menjelajah, bekerja di bidang wisata. Capek dan kadang ruwet, namun mata mereka terlihat berbinar dalam foto-foto amazing di berbagai tempat. Teman saya yang menjadi dokter bedah, pekerjaannya sangat beresiko, waktunya sangat padat, namun binar mata saat ia bercerita tentang pekerjaannya, selalu mempesona. Teman saya yang senang menjadi penulis, meskipun hidupnya pas-pasan, tak sebanding dengan inspirasi dalam buku-buku karyanya, namun kebahagiaan jiwanya tergambar dengan gamblang. Teman-teman dosen, teman-teman psikolog…meskipun wajah lelah, pikiran penuh, namun saat kami saling bercerita, binar-binar  di mata kami tak bisa disembunyikan. Menjadi guru, perupa, helper, manager, peneliti, bidan di pelosok desa, penyuluh kesehatan…..

Maka, saya kemudian menyimpulkan….bukan “menjadi apa” yang penting buat anak-anak kita. Namun, seberapa dalam makna yang ia hayati dalam pekerjaannya. Seberapa besar nyala api yang mendorongnya untuk mengabdi dan berkarya di sana.

Maka, dalam konteks kita sebagai emak, yang penting bukanlah menyiapkan anak untuk masuk sekolah ini itu, atau jurusan ini itu. Namun menemukan apa yang menjadi “panggilan hidup”nya. Sesuai kepribadiannya. Karena Sang Maha, akan memudahkan seseorang sesuai dengan untuk apa ia menciptakannya.

Meskipun bukuHappy Career ini kurang dari 100 halaman, namun isinya sangat sarat dengan fakta-fakta yang akan membuat kita semakin meyakini bahwa bekerja, adalah hanya bagian kecil dari sajadah panjang kehidupan kita. Maka, jangan salah arah. Sukses itu harusnya bukan tujuan. Sukses itu gak usah dipikirin. Itu mah bonus. Mudah didapat  kalau kita menemukan pekerjaan yang membuat kita hepi dan merasa bermakna untuk terus menjalaninya

 

 

Berhaji, Rindukanlah …

Seminggu lagi, 10 Dzulhijah akan datang. Di tanah air, kita merayakan salah satu dari dua hari super spesial buat umat Islam, yaitu Idul Adha. Buat sebagian teman-teman saya, bahkan berpendapat bahwa hari yang boleh dirayakan oleh kita sebagai muslim hanya dua hari raya, Idul Fitri dan Idul adha. Terlepas dari perbedaan pendapat dalam merayakan hari “spesial” lain, pendapat ini sekaligus mengukuhkan ke super spesial-an Idul adha.

Saat kita di tanah air merayakan sekaligus menghayati dengan puasa dan berqurban, sebagian saudara muslim/muslimah kita, tengah menjalani ritual super agung di tanah suci. Berhaji.

Beberapa minggu lalu saya bertemu dengan teman yang tiga tahun lalu bersama berhaji. Dia berkata: “sudah musim haji lagi ya….” lalu matanya berkaca-kaca, dan dia sesenggukan. Lalu kita berpelukan. Tanpa kata.”Kangen…. Mina….Arafah…” kata-kata itu terselip diantara senggukannya. Ya, saya mengerti. Saya sungguh mengerti. Saat menulis  ini pun genangan ini tak bisa dihentikan.

Berhaji, dirindukan oleh yang belum merasakannya. Lebih dirindukan lagi oleh yang telah merasakannya. Beberapa teman, mengingat antrian haji amat sangat panjang, mensegerakan ber-umroh. Saya senang sekali. Tapi saya selalu bilang sama teman-teman saya, umroh itu jangan diniatkan mengganti haji.

Dulu, mas pernah bilang: beda banget rasanya haji sama umroh. Itu karena sebelum haji, ia telah berumroh. Saya gak percaya. Namanya di tanah suci sama aja lah. Setelah saya merasakan sendiri… ya, saya setuju. Haji dan umroh itu berbeda.

Dari segi durasi, jelas berbeda. 10 hari versus 40 hari. Saat umroh, kadang kita tidak bisa sepenuhnya “menarik diri” dari rutinitas. Berbeda dengan haji. 40 hari. Kehidupan kita rasanya di restart. Dari semua peran.  Yang kedua, dari intensitas aktifitasnya. Tiga hari mina-arafah-midzalifah, dengan jumlah orang yang begitu ekstrim, kondisi alam yang begitu ekstrim, situasi yang begitu ekstrim…. Benar-benar “menelanjangi” lapis demi lapis diri kita. Tidak ada yang lebih “romantis” di dunia ini selain saat Sang Maha Pemilik Segalanya  membanggakan kita di hadapan para Malaikat.

Tiga hari mina-arafah-midzalifah, dengan jumlah orang yang begitu ekstrim, kondisi alam yang begitu ekstrim, situasi yang begitu ekstrim…. Benar-benar “menelanjangi” lapis demi lapis diri kita. Saya masih ingat, waktu itu dalam perjalanan yang panjang seorang teman kehabisan air minum. Teman saya yang lain, memberikan cadangan air minum yang ia persiapkan. Perjalanan masih panjang. Tapi teman saya memutuskan untuk memberikan simpanan minumnya. Saya masih sangat ingat ekspresi teman saya yang diberi air minum itu :    “Saya nanti bersaksi di akhirat teh…Allah yang membalas…Allah yang membalas” . Kalimat itu, ekspresi wajah itu, benar-banar simulasi padang mahsyar. Rasanya benar-benar langit dan arrasyNya, begitu dekat saat itu. Ya, haji adalah once in a lifetime experience.

Maka, meskipun kita sudah puluhan kali umroh, tetaplah rindukan berhaji. Meskipun kita pikir tak ada kemungkinan kita bisa lakukan – misalnya secara finansial dan situasi-situasi terbatas lainnya, tetap rindukanlah berhaji. Bukan. Bukan untuk gelar, bukan untuk mengukuhkan keluasan ilmu agama kita, bukan untuk menggugurkan kewajiban, apalagi untuk kita pamerkan di medsos. Tapi sebagai upaya sepenuh hati kita mendekatkan dri padaNya.

DSC_0102

Maka, rindukanlah berhaji. Caranya dengan apa? Dengan memupuk kerinduan kita. Bukan. Bukan dengan memajang dan mengusap lukisan ka’bah. Tapi dengan menyiapkan diri saat kita diundang olehNya.

Maka, baca buku tentang ritual haji, jangan nanti pas akan pergi. Dari sekarang. Itu cara memupuk kerinduan.

Baca buku tentang filosofi haji, jangan nanti saat akan pergi. Tapi sekarang. Untuk memupuk kerinduan itu.

Membaca kisah agung perjalanan Bapak para Nabi, Ibrahim, jangan nanti. Tapi mulai dari sekarang.

Membaca kisah hidup Rasulullah, para sahabat, membaca tempat2 bersejarah di tanah suci, makan Hamzah, bukit uhud, bukit hudaibiyah, jangan nanti…..dari sekarang….

Pupuk teruuuuuuus kerinduan itu, agar memuncak dan pada saatnya nanti, hingga tiap detik di sana akan menjadi sangat bermakna, tiap jengkal tanah yang kita injak  disana menjadi terhayati danmenjejak di lubuk hati terdalam.

Dari Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda, “Jika hari Arafah tiba, Allah SWT turun ke langit dunia dan berfirman kepada para malaikat, ‘Lihatkan kepada para hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dengan bersusah payah, mereka datang dari berbagai penjuru yang jauh. Saksikanlah! Bahwa Aku telah mengampuni dosa-dosa mereka.’

 

Barisan yang membanggakan

keep-calm-and-be-a-proud-moslem….The messenger of Allah went out leading two columns, with Umar at the head of one and Hamzah at the head of the other, stirring up dust, until they entered the mosque. Quraysh looked at Umar and Hamzah, and felt distressed as never before. On that day, the messenger of Allah named him Al Farooq… (Dr. Ali M. Sallabi in Umar Ibn Al Khattab; His Life & Times, Vol. 1 page. 56)

“Teh, tau gak ********* ?” tanya adik saya. Ia menyebutkan nama laki-laki. “Engga”. Jawab saya. “Bener teh, engga tau? *******   ******” Kali ini ia menyebutkan nama panjang laki-laki tersebut, dengan intonasi tidak percaya. “Engga” jawab saya yakin.  “Ih, dia lagi tenar lagi teh…..keren banget. Alumni ITB. Jadi imam di mana-mana. Tilawahnya bagus. Itu kan temen ngaji di mesjid ***** “. Bla…bla…. pemuda hijrah ….bla…. bla…pejuang subuh …bla..bla…adik saya melanjutkan menjelaskan panjang lebar kiprah pemuda ini dan kegiatannya. Dari sekian panjang ceritanya yang saya dengar sambil  menyiapkan makan malam untuk anak-anak, yang saya seneng adalah adik saya ikut kegiatan yang positif.

Nama pemuda yang disebutkan adik saya, suatu hari kemudian saya baca di beberapa grup wa ortu anak-anak. Maklum, punya 4 anak maka punya minimal 4 grup wa. Kenapa minimal? karena biasanya satu anak punya 3 wa grup : grup kelas, grup level, sama grup sekolah hehe…. Waktu itu bulan puasa. Ada acara sanlat di SD dan SMP anak saya. “kita usulkan ke sekolah yuk, pas QL imamnya ********. Biar anak-anak termotivasi”. Kurang lebih begitu lah. Meskipun penasaran siapakah pemuda itu, namun saya belum tergerak untuk gugling siapa dia. Dengan kepadatan aktivitas, saya mah udah pasrah kalau kudet soal banyak hal.

Nama itu, ketiga kalinya saya baca di brosur nama-nama imam tarawih mesjid Salman. Masih di bulan puasa. Dari situ saya tahu bahwa ia adalah salah satu dari pemuda yang dibanggakan karena hafalan Qur’annya banyak dan lantunan tilawahnya menyentuh.

Nah, barulah saya tergerak untuk gugling. Mulai dari fotonya kkkk. Khas. berkalung surban. Oh, pantesan adik saya juga suka pake gitu. Lagi ngetrend ternyata gaya kayak gitu. Kayak gaya-gaya ustadz muda yang memandu acara perjalanan ziarah ke timur tengah di TV hehe. Owh…ternyata pemuda itu tenar juga. Saya coba gugling medsosnya, aktivis medsos juga hehe….waktu itu di akun medsosnya berisi gambar-gambar serta kesannya saat mengimami tarawih di beberapa mesjid dan acara sanlat di beberapa SD dan SMP serta SMA, lalu ada juga video bacaan surat ar-rahman, katanya requested by seorang ibu hamil yang ngidam pengen denger bacaannya.

Ada yang meresahkan dalam hati saya. Dan pada siapa lagi semua keresahan hati saya ditumpahkan, kalau tidak pada si soulmate, si abah. “Bah, aku kan gugling tentang ***** *****. Abah tau gak? gak tau kan? aku juga asalnya gak tau. Ternyata dia teh jadi idola anak-anak muda sekarang. Emang keren bah….. bla..bla..bla… Tapi kok aku kurang sreg ya waktu liat medsosnya. Ya, aku tau bahwa ini jaman medsos. Mungkin ini channel dakwah sekarang. Tapi aku teh khawatir banget…kekerenannya ternodai. Amalnya udah keren banget di mata manusia. Tapi jaga hati itu kan susah banget bah…..karena sosmed itu ngasih satu hal dengan mudah: pujian. Dan pujian itu  aduuuh….pujian itu candu, bahaya banget bah. Potensial banget merusak hati dan amal. Itu makanya di tafsirnya Pak Quraish Shihab waktu bahas makna ayat alhamdulillahhirobbil alamin, beliau bilang adab memuji itu adalah, tidak langsung di depan orangnya. Karena dampaknya bisa buruk buat yang dipuji. Ya, secara kasat mata memang pujian itu sebagai reinforcement, membuat perilaku dipertahankan bahkan ditingkatkan. Kalau perilakunya baik, ya bagus. Tapi itu bagus di mata manusia. Kalau di mata Allah kan harus ahsanu amala bah…amal yang baik, bukan amal yang banyak. Aku tuh khawatiiir banget…takut hati pemuda ini ternodai….aku lebih seneng dia menyembunyikan amalnya….aku juga khawatir banyak ustadz sekarang kalau ngasih nasihat gitu, suka ditambah foto dia. Kenapa sih harus pake foto? aku khawatir banget hati mereka engga terjaga bah” itu cerocos saya pada si abah suatu sore.

Dan dengan bijaknya, si abah menanggapi cerocosan saya dengan tenang. Ya….sebijak saya yang dengan tenang menanggapi kalau si abah sudah menggebu-gebu bicara soal polatak-politik kkkk… “De, kan dirimu yang sering bilang. Kita jangan melihat sesuatu itu satu kosong, hitam putih. Dalam kondisi masyarakat yang kompleks gini, yang harus kita kedepankan adalah belajar menghargai. Ya, anak itu memang gak sempurna. Mungkin ada benernya kekhawatiranmu. Gak 100 persen ikhlas misalnya. Tapi coba liat dampak positifnya. Anak-anak muda sekarang ini kehilangan figur. Mereka butuh figur konkrit yang bisa mereka lihat. Gak bisa dengan hanya diceritain pemuda-pemuda jaman dulu. Engga kebayang buat mereka. Bentuk perjuangannya juga sangat berbeda. Nah, amal strategis anak ini ya disitu. Coba liat si sulung….teman-temannya…kan dirimu sendiri yang bilang…temen-temennya meskipun seolah di SMPIT, wallpaper hapenya Justin Beiber lah, siapa lah yang gak jelas. Nah, eksistensi aanak-anak muda ini menjadi penting disini. Soal kekhawatiranmu, wajar. Justru itu peran kita. Kita doakan biar mereka terjaga hatinya. Kalau memungkinkan ingetin orang-orang untuk bersikap proporsional, mengagumi tapi di sisi lain peduli dan ikut menjaga hati juga”.

Ya, bener sih kata si abah. kontroversi mengenai “keikhlasan vs eksistensi” pemuda-pemuda tipe mereka ini, saat saya gugling sudah banyak yang mengemukakan. Ada satu tulisan yang komprehensif dan objektif, nadanya sama dengan apa yang disampaikan si abah. Bahkan ada tulisan hasil wawancara wartawan dengan pemuda yang bersangkutan. Pemuda yang bersangkutan menjawab bahwa ia juga membatasi, yang ia syiarkan adalah kegiatan yang sifatnya wajib. Hal ini sesuai dengan pesan Rasulullah untuk mensyiarkan amalan wajib dan menyembunyikan amalan sunnah. Good !!Si penulis menyampaikan bahwa suatu saat ia nonton infotainment yang meliput si pemuda ini, lalu beberapa artis diwawancarai. Ternyata, meskipun artis perempuan yang diwawancarai beberapa ada yang tenar karena suatu sensasi yang sulit dikatakan baik, ketika ditanya mereka ingin punya suami, anak, atau menantu seperti sosok pemuda ini. Dekat dengan Al-Qur’an, mengikrarkan diri sebagai pemuda Islam. Bangga dengan ke-islam-annya. Penulis tersebut mengatakan bahwa ini adalah suatu hal yang sangat positif, ketika sosok idola tidak dilihat dari tampilan fisik, tapi dari kualitas. Karena kalau tampilan fisik mah, si pemuda yang bersangktan memang gak terlalu “camera face”.

Kemarin, setelah subuh saya menonton channel Khazanah di TV. Yang punya TV Kabel bisa cek. Bagus-bagus acaranya. Favorit saya adalah liputan sejarah Islam dan liputan para muslim di negara-negara luar. Bangga  banget rasanya liat mereka dengan beragam warna kulit, beragam bahasa, beragam gaya menutup aurat, namun melakukan 5 rukun yang sama dengan kita. Jadi merasa bahwa Islam ini untuk seluruh alam.

Setelah itu saya mandi, menyiapkan sarapan…saya baru nyadar bahwa si bujang kecil 10 tahun dan si gadis kecil 7 tahun, sudah 30 menit terpaku di depan TV. Padahal jam sudah menunjukkan waktunya mereka mandi. Oh ternyata di TV, ada program one day one juz. Menampilkan seorang pemuda yang melantunkan ayat-ayat suci, kemarin  surat Al Mu’minun dan surat Annur.Oh pemuda itu. Mereka berdua seperti tersihir. Padahal secara visual, tampilan di layar hanya si pemuda itu dengan Al Qur’an di hadapannya. Tapi alunannya memang enak didengar. Tanpa sadar saya berkata pada si bujang kecil : “Dia itu arsitek loh Mas, dari ITB. Pinter, tapi banyak juga hafalannya. Enakeun banget ya ngajinya”. Kalimat saya pendek, namun saya mengenali nada kebangaan dalam nada suara saya.

Ya, dari sekian banyak sahabat Rasul, ada beberapa nama yang saat kita mendengarnya, menumbuhkan kebanggaan dalam hati kita. Kebanggaan karena mereka adalah sosok yang … membanggakan… bukan hanya dari sudut pandang Islam, tapi dengan ukuran apapun kita mengukurnya. Orang-orang ini, secara universal diakui kehebatannya. Pada saat Umar belum masuk Islam, betapa orang Quraisy merasa kuat Umar ada di barisan mereka. Demikian juga dengan Khalid Bin Walid. Maka, ketika orang-orang ini tampil dengan identitas kemuslimannya, memberikan impact yang berbeda. Membuat kita merasa barisan agama ini kuat. Bangga.

Visi itulah yang ingiiiiiiiiiiin saya tanamkan pada generasi muda Islam, juga pada orangtuanya (siapa elo? hehe….). Jangan berantem untuk hal-hal yang gak penting. Pesantren vs sekolah IT vs sekolah negeri vs homeschooling…itu mah gak penting…. sekolah favorit vs sekolah gak favorit vs jurusan keren vs jurusan gak keren… itu juga nomor sekian apalagi perdebatan masalah nikah tua vs nikah muda, atau perdebatan bumi itu bulat atau datar…..engga banget deh hehe… Yang jauuuuh lebih penting adalah, apakah anak-anak kita, diri kita, saat diketahui bahwa kita muslim, menumbuhkan rasa bangga-kah pada saudara-saudara muslim kita, bahwa kita berada di barisan ini? atau justru sebaliknya? kelakuan kita membuat saudara-saudara muslim kita jadi merasa malu dan kecil?

Mau jadi hafidz? alhamdulillah. Jadi profesor astronomi? wartawan? penulis? perawat? ibu rumah tangga?ahli ekonomi?  pedagang di pasar? ahli tafsir? penggiat lingkungan? aktivis politik? menjadi apapun, yang harus kita bekalkan pada anak-anak kita adalah, jadilah orang yang berkualitas. Yang orang-orang non muslim mengakui kualitas kita. Karena kita menunjukkan kebaikan universal yang tak terbantahkan.  Jadilah orang yang berkualitas, yang saat saudara muslim kita tahu kita adalah muslim, mereka akan mengatakan dengan bangga “dia saudaraku”.

Previous Older Entries