Ibu: Tentang Kepercayaan diri dan kekuatan doa-nya

Saya percaya pada pertolongan Allah. Tapi saya tidak percaya kalau Dia yang Maha Cermat dan Maha Sempurna, memberikan pertolongan secara “random”. Saya percaya bahwa pertolongan dariNya, diturunkan melalui sebuah sistem keteraturan. Sistem ini-lah, yang kata Ustadz Aam, bernama nashrullah. Kita belajar keras, lalu dapat nilai yang baik; berarti perilaku kita belajar keras adalah bentuk upaya untuk mendapatkan nasrullahNya. Kalau kita ingin anak kita punya kontrol diri yang baik, lalu kita berupaya untuk mengenalkannya pada aturan dan batasan sejak ia berusia 2 tahun, konsisten menjalankan dan memonitor aturan dan batasan tersebut, maka kontrol diri yang tertanam dalam diri anak kita, adalah nasrullahNya.

Tapi, saya juga percaya pada keajaiban. Bagi saya sebagai muslimah, tentu sumber keajaiban adalah dari Allah juga. Kata Ustadz Aam, itulah yang namanya inayatullah. Pertolongan Allah yang ia berikan ada hambaNya, yang tidak mengikuti suatu aturan logis. Seseorang yang sakit berat, secara medis sudah tak ada yang bisa dilakukan lagi selain menunggu saat ajal menjemput, tiba-tiba segar bugar kembali. Seorang anak sebatang kara, tak punya sanak saudara, untuk makan saja tak terbayang; bisa sekolah sampai jenjang akademik tertinggi. Ada banyak kisah “ajaib” yang pernah kita dengar. Itulah inayatullahNya.

Kalau upaya kita untuk mendapatkan nasrullahNya adalah dengan mempelajari dan mengamalkan “sistem sunnatullah pertolongan Allah”; maka inayatullah dapat dihadirkan dengan DOA. Doa adalah pengubah takdir. Kekuatannya menembus ruang dan waktu. Buktinya, doa seorang anak sholeh bisa mengubah kondisi orangtuanya di alam barzah.

Keyakinan terhadap dua bentuk pertolongan Allah inilah, yang saya rasa selalu bisa menjadi nyala api yang membuat saya termotivasi untuk terus bergerak. Karena saya yakin, upaya sampai titik darah penghabisan pada hakikatnya akan mengundang nasrullahNya. Namun ketika persoalan yang dihadapi melihatkan hal-hal dan pihak-pihak lain di luar kontrol diri saya, maka keyakinan akan inayatullahNya, menghindarkan saya dari perasaan hopeless.

Saya punya andalan untuk mengundang inayatullahNya. Kalau istilah Ustadz Aam sih, kalau punya andalan, seolah kita punya “jimat”. Apa “jimat” saya? Mamah. Doa Mamah, selalu saya yakini sanggup membuat keajaiban pada saat situasi tampaknya “tak mungkin”. 15 tahun lalu, “jimat” saya bertambah. Emak. Doa emak, mertua saya. Mamah dan Emak, ajaibnya, meskipun tak saling kenal dan berada di tempat yang saling jauh, tapi punya rutinitas ynag sama. Dhuha, Tahajjud, dzikir, shaum sunnah. Mereka juga punya kebiasaan yang sama. Kalau anak-anaknya sedang ujian, mereka akan puasa hari itu, sholat, dzikir dan berdoa selama waktu anaknya ujian. Baru berhenti saat anaknya sudah di rumah dan atau sudah mengabari kalau ujiannya selesai.

8 tahun lalu, saat saya hamil anak ketiga si gadis kecil, saya mengalami plasenta previa. Plasenta “tertanam” di jalan lahir. Oleh karena itulah selama hamil; berbulan-bulan bedrest total plus mengkonsumsi obat penguat kehamilan. Kalau engga, pendarahan hebat berkali-kali terjadi. Pada saat usg di bulan terakhir menjelang kehamilan, dokter mengatakan saya harus bersiap melahirkan dengan cara operasi. Secara medis tak ada upaya yang bisa dilakukan terhadap kondisi plasenta previa saya. Baiklah. Tapi meskipun rasio saya mengatakan “tak mungkin”, saya terus meminta doa dari mamah dan emak. Saya ingin melahirkan normal. Dua minggu sebelum melahirkan, pada saat kontrol, dokter menyatakan plasentanya bergeser dan saya bisa melahirkan normal. Itu adalah salah satu dari sekian banyak “keajaiban”; inayatullah yang Allah turunkan yang saya yakini, turut dipengaruhi oleh kekuatan doa mamah dan emak. Maka, meminta doa dari mamah dan emak pun berlanjut sampai untuk kepentingan anak-anak saya. Anak-anak sakit sudah pasti, anak-anak ujian, si sulung seleksi untuk jadi pengurus OSIS, si bukang kecil mau ikutan OSN, dll dll.

Suatu hari, saya bilang ke si sulung saat ia akan menjalani suatu seleksi masuk suatu tim yang sangat ia dambakan. “Kaka, telpon nenek dan yangti Ka, minta doa. Doa dari orangtua terutama ibu itu, kekuatannya dahsyat banget loh” saya bilang. Si sulung menurut. Tapi ternyata, buat saya sendiri, kata-kata yang saya ucapkan pada si sulung seperti bergema. Dan gema itu, mengundang suatu dialog antara….entah antara siapa. Mungkin antara nurani saya. Begini dialognya:

“Doa ibu itu dahsyat kekuatannya. Kamu kan ibu. Kenapa bukan kamu yang berdoa untuk si sulung?”//”Iya ya….saya adalah seorang ibu. ibunya. Doa saya, apabila saya panjatkan sungguh-sungguh, kekuatannya bisa dahsyat. Tapi….doa mamah dan doa emak sudah terbukti kekuatannya. Saya lebih tenang kalau anak-anak minta doa dari nenek dan yangtinya”//”Kenapa? kan kamu ibunya”suara yang bertanya terasa mendesak. Saya tak bisa menjawab dengan segera. Lidah saya kelu rasanya. Saya butuh waktu merenung untuk menyampaikan jawabannya. Beberapa saat kemudian, saya mendengar suara pelan yang parau. Suara saya. Saya gak pede. 

Ya, saya tidak percaya diri pada kekuatan doa saya. Kenapa? karena…karena…kualitas ruhiyah saya, jauuuuuuh dibanding kualitas ruhiyah mamah dan emak. Mereka, dekaaaat sekali dengan Allah, melalui ritual ibadah rutin mereka. Saya? kualitas saya jauuuuh dibanding mereka.

Ya, saya memang seorang ibu. Ya, setiap bada sholat, saya mengucapkan “robbiii hablii minas sholihiin” 4 kali, masing-masing sambil membayangkan wajah si sulung, si bujang kecil, si gadis kecil dan si bungsu. Tapi….saya engga pede doa saya bisa menembus langit, menggetarkan ArRasy-nya…… saya baru tersadar…padahal Allah tergantung persangkaan hambaNya. Dan kekuatan doa, salah satu faktornya adalah keyakinan kita saat memohonkan doa itu….

Beberapa hari saya resah dan gelisah dengan pemikiran ini, sampai suatu hari, saya sampaikan sama si abah: “bah, kenapa ya…aku kok rasanya gak pede kalau ngedoain anak-anak terutama untuk hal-hal yang sepertinya gak mungkin. Aku lebih tenang dan lebih pede minta doa dari mamah dan emak“kata saya. Jawaban si abah: “mungkin karena kualitas ibadahmu tidak sebagus mamah dan emak de”. KLOP. CONFIRMED. memang itu penyebabnya.

 “Sesayang-sayangnya aku sama anak-anak, ada satu hal yang gak bisa aku kejar, yang dimiliki dirimu de” begitu kata si abah. “kekuatan doa”. Katanya lagi. Saya juga ingat, suatu hari saya menemukan artikel mengenai seorang teman saya. Di usianya saat ini, ia sangat cemerlang dan gemilang di bidangnya. Saya menyatakan kekaguman saya pada teman saya itu. Si abah menanggapi; “aku gak mau dirimu tenar kayak gitu de. Aku pengen, anak-anak merasa tenang setelah minta doa darimu, seperti tenangnya kita setelah minta doa dari mamah dan emak”.

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaJLEB. Sebuah permintaan sekaligus “wasiat” yang super duper berat. Tapi 100% benar.  Semakin hari, sebagai seorang ibu saya merasa permasalahan anak-anak saya semakin kompleks. Si sulung sudah masuk masa remaja, mulai harus saya “lepaskan” sedikit demi sedikit. Semakin banyak masalah yang melibatkan faktor “luar” yang tak sepenuhnya bisa saya kendalikan. Dan saya, merasa semakin butuh inayatullahNya. Saya butuh “keajaiban” yang bisa memagari anak-anak saya dari keburukan yang tak terlihat dan terdengar. Anak-anak juga semakin menghadapi beragam persoalan yang semakin kompleks dan berat untuk mereka. Mereka butuh bantuan doa dari ibunya. Saya.

Saya tidak tahu apakah teman-teman pernah mengalami perasaan yang sama dengan saya. Namun saya, tak selalu aware terhadap “potensi” sekaligus “amanah” Allah terhadap diri saya. Saya sering teringatkan oleh celotehan anak-anak, misalnya saat si bungsu bertanya: “Ibu, kenapa syurga ada di telapak kaki ibu, bukan telapak kaki abah?”. Atau pernyataan si gadis kecil kecil: “ibu, setiap abis sholat teteh selalu berdoa robbighfirli wali-wali dayya 4 kali” . “Kenapa 4 kali?” tanya saya. “Ya kan untuk ibu 3 kali, abah satu kali. Gitu kata bu Guru. Kan kata Rasulullah juga ibumu…ibumu…ibumu…baru ayahmu. Jadi ibu tiga kali, abah satu kali”.

Suka pengen nangis kalau udah denger kata2 yang memuliakan ibu segitunya teh. Sedih apa ya…sedih terharu sambil takut. Takut karena sebegitu mulianya ibu ditempatkan oleh Allah dan Rasulullah, sedangkan kualitas ruhiyah saya….hiks…

Ah, tapi gak boleh lebay ya. Harus bangkit berjuang. Karena bagi seorang wanita, ketika ia menjadi seorang ibu, perjuangannya tak pernah untuk dirinya sendiri. Ketika hamil muda dan males makan apa-apa, seorang ibu harus memikirkan janin di kandungannya. Ketika menghadapi beragam macam persoalan, seorang ibu harus berjuang memanage energi, emosi dan waktunya; agar anak-anaknya tetap mendapatkan hak-nya. Demikianpun saat ia berupaya mendekatkan diri pada RabbNya, seorang ibu harusnya meniatkan juga agar ia mudah mendapatkan pertolongan Allah, pertolongan yang akan ia mohonkan bagi anak-anaknya.

Ya, memang seharusnya basic trust seorang anak tumbuh pada TuhanNya dan pada ibunya. Melalui kedekatan ibunya dengan Tuhannya lah, seorang anak bisa menumbuhkan dua basic trust itu secara bersamaan. Hayu berjuang bersama. Insyaallah kita bisa.

IQRO: bukan sekedar film

Seumur hidup, saya gak pernah nonton film yang sama di bioskop, dua kali. Dua hari berturut-turut lagi. Apalagi film Indonesia. Pertama kalinya terjadi weekend dua minggu lalu, Sabtu dan Minggu. IQRO: Petualangan Meraih Bintang adalah film yang saya tonton dua kali dalam dua hari berturut-turut.

Apa istimewanya film ini? pertanyaan ini, akan saya jawab di akhir tulisan ini. Cieeeh…sok misterius haha…

Tadinya saya berpikir bahwa dua kali nonton, hanya sebagai sebuah dukungan terhadap karya yang dirindukan ini. Istilah kerennya mah seperti semut ibrahim gitu hehe… Hari Sabtu, saya nonton bersama ratusan senior dan teman-teman alumni Karisma ITB, yang menyatukan diri dalam sebuah wadah yang bernama baiturrahman net. Disponsori oleh Elzatta, yang ownernya adalah alumni Karisma.

Hari Minggu, nobar sesi dua bersama keluarga Transforma, kantor si abah. Sebenarnya hari Minggu itu jadwal pengajian bulanan kantor. Setiap bulan, kami mengadakan pengajian bergantian tempatnya, sambil silaturahim. Nah heuseus untuk pengajian bulan ini, tim direksi memutuskan diganti dengan nobar film IQRO. Biar kekinian katanya haha….tapi engga cuman itu sih. Sebagian Transformer (sebutan untuk Tim Transforma) adalah alumni Salman. Ada yang alumni Karisma, Gamais dan Pustena.

Ternyata, dua kali nonton itu adalah formula yang sangat pas buat saya. Di hari pertama, kalau saya ditanya filmnya bagus gak? Saya gak akan bisa jawab. Kenapa? Karena saya nonton di hari pertama gak pake mata, tapi pake hati eaaa…. Buktinya, saya udah sesenggukan bahkan sebelum ada adegan yang ditampilkan. Ini nih tayangan yang bikin saya sesenggukan. whatsapp-image-2017-01-29-at-3-17-25-pm-1

Iya….tayangan itu. tulisan itu. Masjid Salman ITB. Hwaaa….hiks…hiks…begitu mata saya melihat huruf-huruf itu, langsung sepersekian detik kemudian seluruh memori dan perasaan saya terlempar ke masa-masa itu. One of the best episode in my life. Langsung  deh sesenggukan hehe… Bangga banget….perasaan gak pernah ada sebuah mesjid bisa memproduksi film layar lebar. Mungkin juga karena sebelum kita nobar, acara dibuka oleh Mas Wien. Mas Wien adalah panggilan akrab kami untuk ketua karisma periode pertama. Saya, aktif di Karisma periode ke-20. Yang ikutan nobar, lengkap dari mulai periode pertama sampai dengan yang saat ini, periode ke 37. Auranya tuh gimanaaaa gituh. Jadi cepet banget air mata meleleh liat adegan-adegan filmnya.

Nah…hari kedua, baru saya bisa objektif menilai film ini. Secara objektif, selain para pemeran utama plus Bu Subur, pemeran lainnya memang terlihat “kurang natural”. Tapi di nonton yang kedua ini, saya tetep nangis liat beberapa adegan. Sedangkan si bungsu yang belum bisa menagkap inti cerita, tampak sangat terkesan oleh Bang Codet hehe…Secara objektif saya harus bilang …film ini bagus. Recommended untuk ditonton oleh keluarga kita, oleh anak-anak kita. Adegan yang saya suka banget dan bikin saya “meleleh” adalah tampilan Fauzi yang sedang khusyuk membaca AlQuran kecil, kala kak Raudhah menceritakan bahwa untuk Fauzi, Al Quran adalah pelipur lara. Tampilan visual seorang remaja dengan gesture yang “nikmat” membaca AlQuran, saat ini adalah barang langka. Saya berharap  tampilan visual itu melekat di memori jangka panjang para remaja yang menonton film itu.

Tapi buat saya, film ini tak sekedar sebuah film. Ada tiga hal lain yang saya hayati dari film ini.

#Pertama. Setiap kali kami memberikan “wejangan” pada anak-anak mengenai passion, kesungguhan dan persistensi, nama Om Iqbal adalah salah satu nama yang selalu kami sebut. “Ibu dan abah punya temen waktu di Salman, namanya om Iqbal. Dulu, 18 tahun yang lalu, om Iqbal udah semangat untuk bikin foto atau film pendek Islami. Saat itu, belum banyak yang tertarik. Tapi Om Iqbal teruuus aja. Ibu dan abah udah lulus, udah gak di Salman lagi, Teman-temen ibu dan abah yang dari Salman udah pada kemanaaaa…. Om Iqbal teruuuus menekuni dunia itu. Konsisten. Dan sekarang, belasan tahun kemudian, konsistensi Om Iqbal membuahkan hasilnya. Sanlat film. Lalu film-film pendek yang diproduksinya, lalu film IQRO”

Ya, dulu…format dakwah ke remaja dengan gaya mentoring sudah berhasil mengajak remaja dekat ke mesjid. Saat ini, belasan tahun kemudian, saat saya menawarkan ke si sulung mau ikut sanlat yang mana, dua kali dia memilih sanlat film yang diadakan Om Iqbal. Saya ingat kata-kata Aa Gym mengenai dakwah, bahwa setiap orang punya titik sentuh yang berbeda. Oleh karena itu, salah satu ikhtiar kita adalah berbagi tugas menggarap titik sentuh dakwah kita. Dan meskipun saya tak terlalu kenal dekat secara personal, saya pikir Kang Iqbal telah memilih titik sentuh dakwahnya. Sebuah titik sentuh yang ia pilih ketika pilihan itu masih tak populer, terus ia perjuangkan sampai berbuah belasan tahun kemudian. Sssssttt…buat yang pengen tau Om Iqbal itu yang mana, tonton aja filmnya. Beliau adalah “asrot”nya Prof Wibowo di awal film hehe….

#Kedua. Saya sangat terharu pada beruntun acara nobar yang digelar oleh beragam komunitas Islam. Baitnet sendiri sudah melakukan 4 kali nobar di berbagai kota. Yang punya keluangan rejeki, mensponsori komunitasnya untuk nonton free. Belum lagi sekolah-sekolah Islam, Pesantren, majlis taklim, arisan ibu-ibu…. Saya jadi ingat waktu akhir tahun lalu umat Islam mengadakan beberapa kali aksi damai. Saya mendengar dan membaca kegelisahan. Ya, aksi-aksi itu berhasi menunjukkan satu hal. Bahwa secara kuantitas, umat Islam itu banyak. Jutaan. Solider. Keren. Tapi saya menangkap kerinduan yang sangat dalam bahwa kita perlu aksi yang sifatnya lebih mengarah pada sinergi. Kerjasama. Kualitas. Dan film ini, menurut saya telah menjadi suatu karya berkualitas yang membuat sinergi itu menjadi sangat nyata untuk bisa diwujudkan. Bahwa potensi kita sebagai Muslim, kalau kita mau berkarya dan saling mendukung, akan sangat dahsyat.

#Ketiga. Kalau dalam dunia psikolog, ada tipe klien yang tergolong “complainer“. Tipe klien seperti ini, biasanya tak sungguh-sungguh ingin mengubah keadaan. Sebagian besar malah “menikmati masalahnya”. Maka, menghadapi klien tipe ini, tugas kami sebagai psikolog lebih rumit. Karena kami harus memikirkan teknik-teknik yang bisa membuat klien menyadari apakah ia benar-banar datang ke psikolog ingin dibantu untuk mencari solusi atau hanya sekedar mencari media untuk “eksis” dengan masalahnya. Di masyarakat, sekarang ini banyak tipe complainer. Hobinya komplain. “film gak ada yang islami!”. “tanyangan TV gak mendidik”. “gadget membuat anak-anak gak berkembang sosialnya”. “fitnah akhir zaman”. “umat islam ekonominya terpuruk”. Komplain. Tanpa menyumbangkan solusi. Saya merasa, produksi film ini bisa menjadi teknik “confronting” yang tepat untuk para complainer. Bahwa berkomentar saja tak akan menyelesaikan masalah. Ayo bergerak. Saya tahu membuat film layar lebar tak mudah. Kompleks. Tapi produksi film ini menurut saya mengajarkan bahwa kebaikan itu, ketika diwujudkan, masih sangat dirindukan. 

Saya masih ingat setelah foto bersama, saat kami akan keluar bioskop, Mas Wien bertanya pada saya: “gimana filmnya de?” Saya bilang “bagus Mas”. Lalu mas Wien bilang: “insya allah, kita akan bikin lagi yang lebih bagus”.

Salmanku, Kang Iqbal, teruslah berkarya, luruskan niat dan teruslah rendah hati ya… Semoga menjadi amal jariah yang menginspirasi dan menggerakkan…

Tentang “binar mata” anak-anak kita

4954315a-2fe4-49db-9364-495bde80312bBeberapa waktu lalu, saya membaca dua buku ini. Ayo tebak….apa persamaan dua buku ini.

Saya ceritain ya sedikit isi 2 buku ini. Yang satu, berjudul Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu Psikologi; seperti judulnya, adalah sebuah buku “akademis” mengenai metodologi penelitian kualitatif untuk ilmu psikologi. Ditulis oleh seorang dosen “muda” (lebih muda dari saya maksudnya) dari salah satu universitas di Indonesia. Buku ini saya peroleh dari salah seorang teman saya, waktu saya bilang saya lagi cari beragam referensi mengenai metoda kualitatif untuk penelitian saya.

Buku satu lagi, berjudul Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia. Ditulis oleh seorang dosen juga, dosen unpad !!! yeay … hehe. Buku ini direkomendasikan oleh seorang teman. Teman saya, adalah salah satu emak yang di tasnya, saya intip selalu ada buku. Beres buku ini, lanjut buku itu. Buku yang ia baca macam-macam. Kadang berbahasa Inggris, kadang novel, kadang buku “serius”. Maka, waktu ia merekomendasikan buku ini sebagai buku “keren”, besoknya saya langsung ke toko buku untuk membelinya.

Jadi, apa persamaan dua buku ini? sama-sama ditulis sama dosen? sama-sama ditulis sama cowok? sama-sama berbahasa Indonesia? ya….boleh lah… Tapi buat saya, setelah membaca lembar demi lembar kedua buku diatas, buku itu punya dua kesamaan: PASSION dan KESUNGGUHAN.

Jujur saja, saya “terdoktrin” untuk membaca buku berbahasa Inggris dalam urusan akademis. Dosen-dosen saya, tak pernah “bertoleransi” pada kami ynag membaca buku berbahasa Indonesia. Setelah menjadi dosen, saya juga selalu memberikan feedback pada mahasiswa yang membawa buku terjemahan berbahasa Indonesia ke kelas. Masalahanya adalah, review kami terhadap buku-buku Psikologi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, atau buku psikologi berbahasa Indonesia, membuat kami menyimpulkan bahwa konsep-konsep psikologi kadang tak diterjemahkan dengan benar. Kalaupun benar, buku berbahasa Indonesia cenderung tidak uptodate. Itulah sebabnya, saya tak pernah tertarik membeli buku akademik psikologi yang berbahasa Indonesia.

Tapi membaca buku Metodologi Kualitatif berbahasa Indonesia yang ini, rasanya berbeda. Isinya komprehensif mulai dari filosofinya, sampai ke tataran teknis. Materi-materi yang cukup “berat” dipaparkan dengan “ringan”, dengan bahasa yang mengalir diselingi contoh-contoh real yang kadang berasal dari pengalaman pribadi sang penulis. Ternyata, ini adalah buku ke-4 penulis. Awal ketertarikannya pada metoda kualitatif adalah saat ia menyelesaikan tesisnya menggunakan metode ini. Super duper keren.

Cung siapa yang suka sama sejarah. Saya yakin, tak banyak dari kita yang suka dengan sejarah. Jujur, kalau anak kita bilang bahwa ia akan jadi “sejarawan”, akan menekuni bidang sejarah, apakah kita akan senang? mendukungnya? saya tidak yakin.

Buku Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia, adalah tesis seorang mahasiswa sejarah, yang juga seorang dosen ilmu sejarah. Sejarah? sejarah makanan lagi? gak keren amat. Buat saya, gak perlu sampai ke halaman satu untuk bisa mematahkan pendapat itu. Di halaman ucapan terima kasih, saya langsung minder. Ya, buku ini memang tentang sejarah. Sejarah makanan. Tapi dari kalimat demi kalimatnya, dari referensinya, dari ucapan terima kasih terhadap para narasumber penelitian ini, buku ini langsung mengeluarkan dua aroma: passion dan kesungguhan. Saat ini sang penulis bersama istrinya mengelola sebat website mengenai sejarah makanan. Saya sudah ngintip websitenya. Super duper keren.

“Terserah Kaka, Mas, Teteh sama Dede mau jadi apa. Tapi Kaka, Mas, Teteh, Dede harus tau apa yang kalian bener-bener suka. Allah itu, menciptakan setiap orang engga sama. Kita harus menemukan apa keistimewaan yang Allah ciptakan pada diri kita, yang bisa bikin kita paliiiing bermanfaat untuk orang lain. Kalau kita suka, kita akan sungguh-sungguh dan akan menciptakan hal-hal yang engga kepikiran sama orang lain. Kayak temen ibu dan abah….tante ini, om itu, ……” kami menyebutkan beberapa nama-nama teman kami dan kiprahnya masing-masing.

“Wejangan” itu, semakin sering kami ucapkan pada anak-anak. Jujur saja, beberapa tahun yang lalu, saya mengakui kalimat itu masih berupa basa-basi. Sebagai orang yang dibesarkan dengan nilai bahwa hal-hal yang sifatnya akademis itu yang paling utama, di awal-awal saya sangat academic oriented pada anak-anak. Profesi-profesi yang saya bayangkan dan akan saya arahkan pada anak-anak tak jauh dari profesi dokter-insinyur.

Tapi saat ini, saya sudah banyak bertemu orang. sudah banyak melihat dan mendengar kejadian-kejadian. Kini sebagai seorang ibu, saya menghayati…. “jadi apa”, “di bidang apa”, itu bukanlah fokus perhatian saya. Tapi “jadi apa yang seperti apa” dan “kenapa memilih bidang itu”; itu yang jauh lebih penting.

Menggeluti bidang akademik? profesor yang meneliti sesuatu yang jadi passionnya, pasti beda dengan profesor yang jadi profesor karena “mengikuti arus”. Menjadi dokter spesialis sebagai profesi yang super duper keren?  jiika bidang itu adalah passionnya, maka akan sangat berbeda sikapnya pada pasien dengan dokter spesialis yang menjalani kegiatannay sebagai sebuah “pekerjaan saja”. Menjadi pelukis, menjadi ustadz, menjadi guru, menjadi relawan, menjadi ibu rumah tangga…… apapun, sesuatu yang dipilih dan digeluti karena passion, akan dilakukan dengan penuh kesungguhan. Dan orang yang bersungguh-sungguh itu, selalu mempesona. Selalu menginspirasi. Selalu menggerakkan. 

Maka, tugas kita sebagai orangtua adalah, menemukan dan menumbuhkan passion itu. Bagaimana caranya? tak selalu harus datang ke psikolog.  Kita bisa tahu dengan mengamati hal produktif apa yang membuat anak-anak kita “berbinar-binar”. Apakah berbentuk nilai? pelajaran? olahraga? seni? bisa jadi. Tapi bisa jadi juga bukan itu.

Saya baru belajar hal ini dari si bujang kecil kami. Salah satu hobinya adalah mencari tayangan dan panduan eksperimen-eksperimen di youtube; mulai dari eksperimen sederhana yang melibatkan bahan di rumah seperti garam, merica, cuka, magnet, korek api, lilin, lem, es batu dll; sampai bahan-bahan kimia yang ia pesan pada saya dan abahnya. Dan setiap kali ia mengerjakan “eksperimennya”, saya selalu “terpesona”. Si anak kelas 5 yang super “bosenan” itu, pernah 2 jam non stop membuat bubuk mesiu dari ujung korek api, dua bungkus. 2 jam nonstop ! ia juga pernah 5 jam, sampai tengah malam, berupaya untuk merakit solar robot yang dibelikan abahnya. Anak yang motorik halusnya kurang terampil itu, berjam-jam membentuk alat-alat dari kertas yang membutuhkan pengerahan semua kemampuan motorik halus: menggunting, melipat, me-lem, memilin. Dan binar mata itu, binar mata ketika ia berhasil melakukan percobaan-percobaan itu…. tak bisa saya lupakan. Ekspresi puasnya, teriakannya, lompatannya, tak bisa saya lupakan. Terbayang binar mata itu akan redup kalau kami memaksanya untuk menjadi dokter, atau insinyur informatika, meskipun profesi-profesi itu keren dan secara akademik, nilai2nya memungkinkan untuk ke sana.

Maka, yang bisa kita lakukan agar anak-anak kita menjadi individu yang tak hanya menjalani hidupnya secara otomatis-namun bisa merasakan puas, menciptakan karya dengan sungguh-sungguh adalah; dengan memberikan kesempatan,  ruang dan waktu bagi mereka untuk menemukan apa yang dicintainya.

Kala anak kita memilih jalan yang tak populer, tak keren, tak sesuai dengan keinginan kita, harusnya kita tak sedih. Yang harus kita sedihkan adalah kala anak-anak kita tak tahu apa yang ia sukai. Bingung apa yang ia minati. Tak punya rasa cinta, tak pernah merasakan dadanya membuncah, tak pernah tau apa rasanya semangat, tak tahu apa yang diinginkannya, tak pernah bersungguh-sungguh.

Menjadi apapun dan di bidang apapun anak kita memilih hidupnya nanti, sesuatu yang ia jalani dengan cinta dan kesungguhan, akan menjadikan dirinya mempesona. menginspirasi. menggerakkan.

Semoga.

 

 

 

 

 

 

 

Dia Ciptakan Seorang Kekasih: Tak Sekedar Puisi

Beberapa minggu terakhir ini, entah mengapa saya teringat sebuah puisi. Bukan puisi biasa. Puisi istimewa. Karena ia sangat istimewa, 15 tahun lalu, saya tuliskan puisi itu di undangan pernikahan kami. Saya juga engga tau kenapa tiba-tiba ingat puisi itu. Padahal ulang tahun pernikahan kami masih 5 bulan lagi.

Masalahnya adalah…. saya gak ingat puisi itu judulnya apa, kata-katanya gimana. Yang saya ingat persis adalah, puisi itu karya Kang Jalal, Jalaludin Rakhmat. Yups, Kang Jalal yang “syiah” itu. Apa itu berarti saya juga syiah? Mangga aja kalau mau menyimpulkan begitu. Tapi saya sendiri berprinsip bahwa fakta bahwa beliau syiah, tak berarti membuat saya harus melihat beliau sebagai orang yang 100% JELEK. Saya tetap mengakui bahwa beliau adalah seorang komunikator yang baik, yang memiliki kemampuan untuk menyampaikan konsep-konsep rumit menjadi bahasan yang ringan dan mudah dicerna. Beberapa karya puisi beliau juga sangat dalam maknanya. Salah satunya adalah yang berusaha setengah mati saya ingat, yang saya tuliskan di surat undangan pernikahan kami 15 tahun lalu.

Saya tanya si abah: “bah, inget gak puisi Kang Jalal yang kita tulis di undangan pernikahan kita?”. Si abah menjawab dengan spontan: “inget” . Wah, surprise banget nih si abah yang selalu lupa dimana nyimpen kunci, dimana nyimpen kacamata, dimana nyimpen pulpen, sabuk, dll inget puisi ! dari 15 tahun lalu! “Apa sih bah judulnya?” tanya saya lagi. “Antara Krawang dan Bekasi kan?” Jawabnya pede. Dasarrrrr….

Maka, langkah terakhir adalah….membuka contekan haha. Saya buka laci tempat saya menyimpan puluhan diary sejak kelas 1 SMP dulu, tempat saya nyimpen file email-emailan kita saat taaruf dulu, tempat saya nyimpen hasil USG anak-anak waktu masih di perut…. dan di situ ada surat undangan pernikahan kami.

Tadaaa…inilah puisi itu ….

Dia Ciptakan Seorang Kekasih

Diciptakan Allah bumi dengan segala isinya
Samudera luas, bukit tinggi, hutan belantara
Diedarkan Allah mentari, rembulan dan gemintang
Diturunkan hujan, ditumbuhkannya pepohonan
Dan disiramkannya tetanaman
Semuanya untuk kebahagiaan manusia

Tetapi Allah Maha Tahu,
Memberikan lebih daripada itu
Diketahuinya getar dada kerinduan hati
Dia tahu, betapa kita sering memerlukan seseorang
Yang mendengar bukan saja kata yang diucapkan
Namun juga jeritan hati yang tak terungkapkan
Yang mau menerima perasaan

Allah tahu pada saat kita diharu-biru
Dihempas ombak, diguncang badai, dan dilanda duka
Kita memerlukan seseorang
Yang mampu meniupkan kedamaian,
Mengobati luka, menopang tubuh yang lemah, memperkuat hati

Allah tahu, kadang kita berdiri sendirian
Lantaran keyakinan atau mengejar impian
Kita memerlukan seseorang
Yang bersedia berdiri di samping kita

………

15 tahun lalu, puisi ini saya maknai hanya sekedar sebagai rangkatan kata yang indah. Tapi saat ini, menjelang 15 tahun menjalani pernikahan, saya menghayati tak sekedar rangkaian kalimatnya, tapi juga maknanya.

Apa yang diungkapkan dalam puisi di atas adalah pengejawantahan dari makna bahwa suami/istri kita, adalah seseorang yang “melengkapkan separuh agama”. Pengejawantahan dari kata “sakinah”; menentramkan. Penggambaran dari keinginan “growing together with you”.

Di usia kita yang menjelang 40 tahun, (usia saya maksudnya haha…); ada sebagian teman kita diuji kesabarannya dengan belum dipertemukan dengan belahan jiwanya dalam ikatan pernikahan. Atau pernah dipertemukan, namun terpisah. Padahal kata seorang teman, memiliki seorang “kekasih” seperti tergambar dalam puisi di atas, adalah suatu fitrah, keinginan terdalam seseorang. Se”hebat” apapun dia sebagai individu. Teman saya tersebut, menyampaikan keprihatinannya akan banyaknya kasus perceraian saat ini. Tapi saya punya keprihatinan yang lain. Keprihatinan bahwa banyak pasangan, menjalani kehidupan pernikahan hanya secara “kasat mata”. Mereka tinggal bersama, ke kondangan pake baju seragam, foto di medsos berdua, tapi secara psikologis, secara batin, mereka terpisah jauh.

Dulu, saya berpikir bahwa waktu, akan menyelesaikan banyak hal. Lamanya waktu menikah, akan membuat kita semakin menyatu dengan pasangan kita. Tapi ternyata tidak. Ada banyak pernikahan yang usianya belasan, puluhan tahun, tapi masih merasa asing dengan pasangannya, hubungan masih didominasi rasa “takut”, atau rasa”tidak percaya”, atau bahkan rasa “gak tau harus gimana”. Padahal tinggal bersama, bicara, berhubungan badan, memiliki putra/putri selama belasan/puluhan tahun.

Lalu apa yang salah? lama waktunya-kah? bukan. Waktu, memang akan mengajarkan banyak hal. Pengalaman, memang menjadi guru yang terbaik. Namun cara kerjanya, bukan dengan otomatis. Allah menganugerahkannya sebagai konsekuensi jika kita sungguh-sungguh mau menghayati dan belajar, mau mencurahkan seluruh energi untuk saling menumbuhkan rasa percaya, peduli, menghargai, menerima, mencintai.

Ya, ada sebagian dari kita diuji dengan psangan yang memiliki gangguan psikologis. Pasangan yang tak punya empati, tak mau belajar, pasangan yang rapuh pribadinya sehingga ia tak bisa mendapatkan masukan, pasangan yang merasa perlu mempertahankan egonya dengan menunjukkan kuasanya. Tapi itu hanya berapa persen? Sebagian besar dari kita, hidup bersama pasangan yang bisa belajar.

Kata seorang teman saya yang penelitiannya di bidang perkawinan, saat ini banyak orang yang kehilangan kepercayaan pada institusi perkawinan. Sebagian dari mereka memutuskan untuk tidak menikah. Sebagiannya memutuskan menikah namun tak percaya bahwa pernikahan ini akan menjadi yang pertama dan terakhir seumur hidup.

Ada juga sebagian yang menyatakan ingin berjuang untuk “tumbuh menua bersama” pasangannya. Sebuah cita-cita mulia. Namun, cita-cita semata tak cukup. Ia harus diwujudkan dalam sebuah kesadaran. Kesadaran ini yang akan membuat kita selalu mengevaluasi. Apakah pasangan kita adalah seorang “kekasih” bagi kita? atau ia hanya sekedar seorang “suami” yang fotonya tertera di buku nikah kita? apakah istri yang telah belasan tahun bersama kita adalah seorang yang menentramkan kita? atau ia hanyalah seseorang yang mendampingi kita saat undangan?

Tumbuh tua bersama, kalau itu menjadi cita-cita kita, semoga Allah memudahkan jalannya. Namun, cita-cita semata tak cukup. Ia harus diwujudkan dalam sebuah perjuangan. Perjuangan ini yang akan membuat kita setelah mengevaluasi, mau “bergerak” untuk mengubah keadaan. Tak hanya diam dan berlindung dibalik kata “sabar”. Karena sabar sama sekali berbeda makna dengan diam tak berupaya.

Ada satu  indikator nyata proses pembelajaran kita dalam pernikahan. Komunikasi. Semakin kita “dekat” secara hati dengan seseorang, maka akan semakin yakin bagi kita untuk mencoba membicarakan apa yang kita pikir dan rasakan pada orang tersebut. Meskipun apa yang akan kita bicarakan adalah sesuatu yang tak nyaman bagi kita atau baginya, kalau hati kita dekat, kita akan punya kekuatan untuk tak menyerah, terus berusaha membicarakannya. Mengapa? kita tahu pembicaraan ini mungkin akan mengesalkan, mungkin akan menyedihkan, mungkin akan melukai, tapi kita saling percaya bahwa ia tak akan pergi. You know what? yang paling menyedihkan buat saya adalah saat bertemu pasangan-pasangan yang pernikahannya telah puluhan tahun, namun menyimpan bom waktu yang meledak di akhir kehidupan mereka.

oldMaka, kalau pernikahan kita sudah belasan atau puluhan tahun, semoga kita semakin dekat pada cita-cita “tumbuh menua bersama”. Namun, ada yang jauh lebih penting dari itu. Apa yang akan kita rasakan saat kita telah berhasil meraihnya?

Apakah saat itu, meskipun tubuh kita telah renta dan ringkih, namun kita tak merasa “sendiri” saat kita berpelukan? sedalam apa pembicaraan kita saat tangan-tangan keriput kita bergenggaman? Apa yang akan kita kenang saat ia meninggalkan kita terlebih dahulu? apakah hanya sebagai seorang suami/istri kita? ayah/ibu nya anak-anak? orang yang selama ini menafkahi keluarga? orang yang selama ini mengelola keluarga? atau, ia sebagai “kekasih” kita? yang kita rindukan untuk menyertai kita di dunia abadi nanti?

Memiliki belahan jiwa adalah sebuah fithrah, kebutuhan terdalam seorang manusia. Maka, bagi kita yang diberikan dengan karunia itu, cara terbaik  untuk mensyukurinya adalah dengan berjuang sekuat tenaga. Sebagai diri, mari kita berusaha menjadi indah, agar pasangan menjadi jatuh hati pada kebaikan kita. Sebagai pasangan, mari kita belajar bagaimana membuka lapis demi lapir barrier psikologis antara kita dan pasangan.

Berpuluh tahun bersamanya, kita harus semakin mengenalnya. Semakin mengenalnya, seharusnya kita semakin tau bagaimana teknik dan strategi bicara padanya. Untuk apa ? untuk mengungkapkan perasaan kita. Untuk memberikan umpan balik padanya. Agar kita semakin saling mendekat. Jangan sampai “keburukan kita”, “keburukan psangan kita”, adalah sama, sejak tahun pertama pernikahan sampai dengan belasan atau puluhan tahun kemudian.

Ikhtiar dan doa adalah dua sayap yang tak terpisahkan. Jangan malas berikhtiar, jangan ragu berdoa. Kebahagiaanperkawinan, adalah sesuatu yang layak kita perjuangkan sampai titik darah penghabisan !

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj-’alna lil-muttaqîna imama. “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqan: 74)

Sumber gambar : https://id.pinterest.com/pin/560909328569893742/

Saat kita merasa “iri”

Hai temans….pernahkah merasa “iri”?

Kita belum menikah, iri sama orang yang sudah menikah. Kita belum punya anak, iri sama yang udah punya anak. Kita beraktifitas di rumah, iri sama yang punya karier di luar rumah. Kita punya karier di luar rumah, iri sama yang punya waktu banyak di rumah. Kita sekolah di dalam negeri, iri sama yang sekolah di luar negeri. Kita gak bisa liburan, iri sama yang liburan. Kita liburan di dalam negeri, iri sama yang liburan di luar negeri. Kita  sudah berumur, iri sama yang lebih muda. Kita sakit, iri sama yang sehat.

Dari sudut pandang agama, iri adalah penyakit hati. Harus disembuhkan. Etapi, ada pengecualian. Ada iri yang boleh loooh… Dari Abdullah bin Mas‘ud RA, ia ber­kata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak boleh iri hati kecuali pada dua hal: (iri ter­hadap) orang yang dikaruniai Allah dengan harta kemudian membelanja­kannya dalam kebenaran dan (iri terha­dap) orang yang dikaruniai Allah dengan ilmu kemudian mengamalkannya dan mengajarkannya’.” (Muttafaq ‘Alaih).

Dari sudut pandang psikologi, iri merupakan salah satu “human nature” manusia. Suatu perasaan yang wajar. Bahkan, itu merupakan salah satu tanda bahwa kita “hidup” dan “waras”. Karena ada fungsi kognitif yang bekerja disana, yaitu membandingkan. Kalau kita hayati, iri itu adalah suatu perasaan yang muncul saat kita melihat ada orang lain yang berbeda kondisinya dengan kita, dan kita merasa kondisi itu lebih baik serta kita inginkan.

Nah, kondisi orang lain itu ada yang bisa kita capai (misalnya iri sama orang yang rajin jadi nilainya bisa bagus terus trus kapasitas kecerdasan kita sebenarnya bisa mencapai nilai itu), tapi ada juga yang tidak (misalnya saya iri sama Ira Koesno gitu haha). Walaupun saya melakukan perawatan rutin ke Senopati Skincare dengan dokter  M. Akbar Wedyadhana, ya gak akan jadi secantik Ira Koesno. Lha wong itu hoax kkk.

Yang pasti, ketika kita merasa Iri, ada ketidakseimbangan dalam diri kita yang membuat kita merasakan emosi yang tidak positif. Resah, gelisah, gak nyaman lah. Kalau dibiarkan, bisa jadi mengambil energi kita terlalu banyak, sehingga energi untuk melakukan amal sholeh menjadi terambil. Itu tampak luarnya. Ada yang lebih gawat sebenarnya, yang terjadi pada psikis kita kalau kita biarkan rasa iri menjamur atau berkembang. Kurangnya rasa menghargai diri sendiri. Merasa bahwa diri ini tidak lebih berguna dibanding orang lain. Kalau istilah Pak ustadznya mah: tidak bersyukur. Waduuuh….gawat banget ituh…. Oleh karena itu, maka sesuai dengan ajaran agama, untuk iri selain pada orang kaya yang dermawan dan pada orang berilmu yang mengamalkan dan mengajarkannya, harus kita atasi sampai tuntas…tas…tas…

Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi dua tips jitu mengelola rasa iri. Haha….kayak yang jualan training ajah ;).

Kalau divisualisasikan pake angka, rasa iri itu muncul ketika kita melihat orang lain memiliki nilai diatas nilai kita. Nah, biasanya, secara “instinktif”, yang dilakukan untuk meredakan rasa resah dan gelisah karena iri adalah, membuat orang lain turun nilainya jadi sama dengan kita, atau bahkan lebih rendah.

“Ah, ngapain nikah kalau suaminya gak sayang? mending gue, single and happy”. “Ah, kalau emak-emak gak beraktifitas di luar rumah, pasti kerjaannya ngegosip aja”. “Ngapain ke luar negeri liburan…gak cinta tanah air”. “Percuma sekolah di luar negeri juga…yang penting kan sholeh”. Meskipun ini adalah cara cepat untuk meredam rasa iri kita, namun sifatnya semu. Kenapa semu? karena itu subjektif. Kalau ketemu sama  orang yang sudah menikah dan suaminya  sayang, ketemu emak yang beraktifitas di rumah dan produktif berkarya, ketemu  yang sekolah di luar negeri dan sholeh, akan gubrak kita.  Jadi, cara ini gak efektif bahkan kalau diungkapkan di medsos, para pelakunya akan mendapat cap nyinyirers. Bikin kita (seolah) pede padahal rapuh. So, dont try at home.

Ada cara yang lebih produktif.  Nah, ini yang mau saya ceritain.

(1) Melihat “big picture objektif” dari kondisi kita maupun kondisi orang lain. Asumsi yang mendasarinya adalah, tak ada kondisi objektif yang 100% sempurna.

Kita belum punya anak: ya, kita jadi gak punya seseorang yang harus kita urus. Padahal mengurus anak itu sepertinya menyenangkan dan membuat kita merasa dibutuhkan. Tapi kita jadi punya waktu luang yang banyak. Kita bisa melakukan hal-hal produktif yang tidak bisa dilakukan oleh emak-emak yang punya anak.

Ya..ya..asik banget sekolah di luar negeri. Bisa keliling negara-negara keren, ngerasain salju, berpose di sana-sini. Tapi tau gak, kalau mereka juga mengalami episode menghadapi supervisor yang tidak ramah, menghadapi deadline-deadline yang ketat, mengalami homesick, “melarat” karena beasiswa tak kunjung datang, bahkan tak jarang gak minat makan berminggu-minggu karena kangen gurilem dan seblak…haha;) Sanggupkah kita menghadapinya? (dibaca gaya presenter SILET)

(2) Mencari role model yang sesuai dengan kondisi kita. Nah, ini nih favorit saya. Maklum saya mah orangnya konkrit praktis hehe…..Cari sosok orang yang kondisinya sesuai dengan kondisi kita, tapi dia tetap produktif, bahagia dan sejahtera. Kalau cari role model udah pada tau kan ya….cuman yang harus diperhatikan dan jadi keyword adalah: yang kondisinya sesuai sama kita. 

  • Kita belum menikah, iri sama orang yang sudah menikah. Cari role model orang yang belum menikah, tapi tampak hepi dan mensyukuri kondisinya.
  • Kita belum punya anak, iri sama yang udah punya anak. Cari role model yang tak menghabiskan waktunya dengan menyesali kondisi dan punya banyak kegiatan produktif.
  • Kita beraktifitas di rumah, iri sama yang punya karier di luar rumah. Cari sosok yang riweuh dengan segala macam printil-printil rumah tangga tapi tetap hepi dan ceria.
  • Kita punya karier di luar rumah, iri sama yang punya waktu banyak di rumah. Cari sosok emak bekerja yang pontang panting mengurus domestik dan publik dengan tegar dan optimis.
  • Kita sekolah di dalam negeri, iri sama yang sekolah di luar negeri. Cari sosok orang yang sekolah di dalam negeri tapi kualitas pemikiran dan kontribusinya gak kalah sama yang sekolah di luar negeri.
  • Kita gak bisa liburan, iri sama yang liburan.Cari contoh keluarga yang gak liburan, tapi bisa menikmati kualitas kebersamaan di rumah yang gak kalah asik sama yang liburan.
  • Kita  sudah berumur iri sama yang muda, cari sosok “orangtua” yang meskipun mobilitasnya terbatas, tak pernah kehilangan cara untuk berkarya.
  • Kita sakit iri sama yang sehat, cari sosok orang sakit yang tak mau menyerah dan tetap merasa bisa memaknai hidupnya dalam kondisi sakit.

Terkait dengan poin kedua ini, saya jadi ingat kata-kata seorang ustadz. Saya lupa namanya. Gak terkenal. Beliau ustadz favorit si abah, di Kalimantan sana punya kajian tafsir rutin. Setiap kami pergi, si abah selalu memutar rekaman kajian ustadz ini di tape mobil kami. Kemarin, waktu si abah mengantarkan saya ke Jatinangor, bahasan Pak Ustadz adalah mengenai kaum Bani Israil yang menolak Nabi Muhammad sebagai Nabi, meskipun di kitab mereka jelas diberitakan. Mereka beralasan tidak mau menerima karena Nabi Muhammad berasal dari kalangan manusia. Mereka mengatakan, akan menerima kalaulah Nabi Muhammad berasal dari kalangan non manusia, misalnya dari kalangan malaikat. Tentu saja ini hanya alasan mereka dan tak logis, kata Pak Ustadz. Kenapa tak logis? karena ajaran agama ini adalah penuntun untuk cara hidup. Kehidupan sehari-hari. Cara makan, minum, tidur, menikah, berkeluarga, dll. Aneh kalau yang memberi contohnya bukan dari manusia. Bagaimana ia bisa memberi contoh sesuatu yang tidak ia jalani ?

Ilmu, pertolongan, pelajaran dari Allah Sang Maha Kuasa tak hanya datang dari mimpi atau dari kata-kata Ulama. Ia juga hadir dalam setiap fenomena yang kita lihat. Baik fenomena alam maupun fenomena sosial.

iriKalau dari alam kita bisa mendapatkan pelajaran dan hikmah dari matahari yang terbit-ternggelam, keteraturan tata surya, mekanisme fisika…maka dari fenomena sosial, kita bisa melihat ada tak terhingga orang  di sekitar kita  dengan beragam kondisinya, dengan beragam cara menjalani kehidupannya.

Melalui cermin itu, kita bisa belajar menghargai dan mencintai diri kita. Karena menghargai dan mencintai diri, berarti menghargai dan mencintai pencipta kita, Allah yang Maha Sempurna.

Sumber gambar:https://id.pinterest.com/explore/self-acceptance/

Al Kahfi di Pulau Bule ; Sebuah Catatan Perjalanan

Sudah seminggu lebih kami ber-piknik ria. “Tour de Java” adalah cita-cita si abah. Karena kami adalah pecinta jalur selatan tiap kali mudik, maka kali ini kami ingin mencoba jalur utara.  Keluar dari Cipali, kami  menyusuri kota-kota di pantai utara. Beli telur asin di Brebes, “iseng” mampir beli batik di Pekalongan, menginap di Semarang dan menyengajakan bertemu teman-teman kami di Semarang.

Ada percakapan lucu dengan si bujang kecil di Pekalongan. Jadi waktu itu, saya cuman bilang ke si abah: “mampir dulu bentaaaar aja. Masa lewat Pekalongan gak liat-liat batik”. Akhirnya kami berhenti di salah satu toko, daaaaan…. “sebentar” itu ternyata jadi satu jam haha…. soalnya batiknya keren-keren dan murah-murah! tadinya cuman mau beliin mamah dan emak, eh….jadi beliin adik-adik, ipar, ponakan, tetangga…haha… Itu juga kalau gak disusul si bujang kecil, bakal tambah lama tuh. Waktu saya tanya abah nunggu dimana, si bujang kecil bilang: abah nunggu di mobil, tidur kkkk. Padahal sebelum tenggelam dalam proses memilih-memilah batik yang lutu-lutu, si abah rasanya mendampingi saya tadi. Trus saya bilang ke si bujang kecil: “Mas, nanti kalau Mas Umar jadi suami, Mas Umar harus kayak abah. Ibu-ibu tuh kalau udah belanja, suka gak inget waktu. Nah, abah tuh kalau masih wajar, mau nungguin. Biasanya abah tidur. Jadi ibu gak keganggu, abah juga gak kesel.  Kecuali kalau ibu sudah keterlaluan, abah suka ingetin ibu dengan tegas. Ibu juga suka takut kalau diingetin abah. Jadi abah ngingetinnya efektif efisien”. Jawaban di bujang kecil: “iya, tapi mas Umar gak mau punya istri kayak ibu. Nanti kalau mas Umar taaruf, akan mas Umar tanya perempuan yang taaruf sama mas Umar: kalau belanja lama gak? kalau lama, Mas Umar akan cari yang lain yang gak suka belanja lama “ hahaha……

Tengah hari, kami melanjutkan perjalanan dari Semarang ke Kediri, tujuan utama kami. Anak-anak sudah sakaw untuk ketemu yangti-nya dan abahnya anak-anak udah sakaw untuk ketemu ……soto Kediri dan sambel tumpang kkkk. Beberapa hari di Kediri, kami melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Kami akan terbang ke Lombok dan piknik beberapa hari di sana.

Sebenarnya ide piknik ke Lombok ini adalah ide spontan si abah. Waktu ia melihat saya berhari-hari menghadapi laptop dikelilingi puluhan buku dan jurnal untuk persiapan ujian kualifikasi, dia bilang; “kayaknya dirimu abis ujian butuh liburan deh” . Gimana bisa keidean ke Lombok? Karena bisa lanjut dari Kediri hehe. Memang meskipun gak pernah janjian, tapi ternyata saya dan si abah punya keinginan yang sama: Lebih ingin menjelajahi Indonesia daripada menjelajahi dunia. Lebih ingin keliling Indonesia daripada keliling dunia.

Lalu beberapa hari kemudian si abah  booking tempat, pesen tiket….ngajak ngobrol saya sih, tapi saya gak konsen kkk…. itulah sebabnya si abah melakukan kesalahan fatal. Beli tiket pesawat sehari lebih awal dibanding booking tempat haha….Memang ia agak ADD sih (attention deficit disorder) kkk . Biasanya saya akan bertugas ngecek. Tapi karena saya gak konsen, maka kesalahan itu terjadi. Sebuah blessing in disguise. Gara-gara kesalahan itu, kami jadi gak langsung ke Gili Trawangan, tapi menghabiskan satu hari dulu di Senggigi.

Ini adalah pertamakalinya si bungsu naik pesawat. Dan sebagai seorang explorer sejati, dia mencoba segala hal yang baru buatnya. Buka tutup jendela pesawat, pake-lepas belt berpuluh-puluh kali, jalan-jalan, beberapa kali nyobain ke kamar mandi sendiri,  pengen coba pelampung setelah tanteu pramugari jelaskan kalau di bawah kursi ada pelampung, dan maksa mau masuk ke ruangan pilot: “de Azzam pengen ketemu sama om pilot”. Hadeeeuh….dengan kehebohan itu, perjalanan satu jam Surabaya-Lombok jadi tak terasa buat saya.

Dari bandara, kami memesan mobil untuk mengantar ke villa tempat kami menginap di Senggigi. Dalam perjalanan, kami diantar ke Sukarare. Di sana, kami didandani dengan baju khas suku Sasak, berfoto di rumah adatnya, dijelaskan filosofi menenun, lalu diajak berkeliling melihat hasil tenunan karya warga desa tersebut. Disini saya sangat bersyukur tak jadi perempuan desa itu. Karena kalau saya jadi perempuan desa itu, saya gak bakal nikah-nikah sodara-sodara…karena di sini, aturannya adalah ….. seorang perempuan gak boleh nikah kalau dia belum bisa menenun;)

Sepanjang perjalanan, kami ngobrol sama pak Sopir. Pengetahuan IPS saya banyak bertambah dengan penjelasan pak Sopir tentang sejarah yang membentuk sosio-demografi masyarakat Lombok saat ini. Suku Sasak adalah suku asli di Lombok. Dan mereka beragam Islam. Pak Sopir pun dengan sabar meladeni pertanyaan saya dan pertanyaan anak-anak. Misalnya ia menjawab pertanyaan saya kenapa Bali itu didominasi Hindu dan Lombok didominasi Islam. Ia juga menjawab pertanyaan si gadis kecil: “Kenapa Bali lebih terkenal daripada Lombok Om, padahal menurut teteh sih  Lombok udaranya lebih enak dibanding Bali”.

Di perjalanan, kami melihat banyak masjid. Begitu saya tanyakan, pak Sopir dengan nada bangga menceritakan bahwa Lombok memang terkenal sebagai “pulau seribu masjid”. Oh iya…saya pernah denger. Pak Sopir pun sangat bangga bercerita bahwa Gubernurnya, adalah seorang  “Tuan Guru”. Sebuah sebutan bagi ulama di Lombok. “Gubernur paling muda bu, penghafal Qur’an. Doktor lulusan Al Azhar” ucapnya bangga sambil menunjukkan bangunan islamic center yang keyyeen. Ya, ya….saya juga pernah membaca berita tentang Tuan Guru Bajang ini. Super duper keren ya….sayang berita menyejukkan tentang gubernur keren ini tenggelam oleh berita kontroversi mengenai gubernur yang lain…

Villa Kila, tempat kami menginap di Senggigi, super duper cozy. Tempatnya dikelilingi pantai. Disini aktifitas anak-anak hanya ada satu: berenang. Berenang di kolam renang, lalu ke laut, lalu ke kolam renang lagi, lalu ke laut lagi. Pantai yang indah dengan udara sejuk….it’s my dream. Eh eh tau gak….saya suka bayangin…apa yang paling saya pengen… dan jawabannya adalah…baca buku di pinggir pantai yang sejuk. And my dream comes true! bisa berjam-jam baca buku, memandang pantai yang indah, sambil menyaksikan anak-anak yang tahan berjam-jam berenang, lalu membuat istana pasir, lalu berenang lagi….

Citarasa tanah seribu masjid, kami rasakan di sini. Di tiap kamar disediakan sajadah, ada Qur’an juga. Memang ada bibel juga. Anak-anak yang baru pertama kali mengenal bibel, pada rebutan pengen baca; sambil heboh berdebat mengenai boleh tidaknya seorang muslim baca bibel.

Hanya satu hari kami di Senggigi. Namanya juga kesalahan haha…. Hari selanjutnya kami menuju ke Gili Trawangan yang terkenal itu. Ada dua pilihan menuju ke sana. Pake speed boat atau slow boat. Bedanya, selain di kata “speed” dan “slow” adalah: harga, waktu dan jumlah orang. Kalau pake speedboat, harganya lebih mahal, waktuya lebih cepat dan bisa eksklusif sekeluarga. Slow boat sebaliknya. Dan kami memilih slow boat, Anak-anak pengen lebih lama di perahunya. “Biar bisa menikmati bu” kata si sulung. “Biar kayak Moana bu” kata si gadis kecil. Baiklah. Daaaan…. 45 menit berperahu, membuat saya menyadari bahwa keseruan petualangan Moana, adalah kartun belaka haha…. aslinya sih….ayunan gelombang yang cukup besar itu bikin stress, terutama buat sayah. Si abah dan anak-anak sangat menikmati menertawakan emaknya yang udah pengen nangis haha…

Menginjakkan kaki di Gili Trawangan, kami langsung berkesimpulan: kami lebih suka di Senggigi daripada di sini. Terasa banget bedanya. Di sini, kami adalah minoritas. Sejauh mata memandang adalah para bule. Tentu dengan pakaian yang tidak syar’i hehe….Baik yang berjalan kaki, naik delman maupun sepeda. Delman dan sepeda adalah transportasi yang digunakan di Gili ini. Saat menuju villa yang sudah kami booking, kami banyak melewati bar yang penuh hiruk pikuk, atau dengan musik dag-dug-dag-dug yang “terlalu bising” buat kami. Daftar menu yang terpampang di bar, sebagian besar gak familiar buat saya. Bir dan wine, tampaknya jumlahnya lebih banyak variannya dibandingkan soft drink.

Alhamdulillaaaah…. villa yang dibooking si abah, adalah tipe villa buat “keluarga”. Tempatnya tenaaang…. jauh dari hiruk pikuk. Hanya dua keluarga termasuk kami yang non bule. Tapi yang bule pun, kebanyakan adalah keluarga dengan ayah-ibu yang telah berumur. “Satu frekuensi” lah dengan kami hehe… Seneng deh pas sarapan, liat keluarga-keluarga ini bercengkrama. Asik mengobrol satu sama lain….pagi tadi, si ayah dari keluarga Indonesia bercerita sesuatu tampaknya pengalamannya, yang membuat dua anak remajanya tertawa terbahak-bahak…. Sesekali terdengar nasihat si ayah untuk anak-anaknya tersebut.

Punya privat pool, membuat anak-anak juga hanya punya dua aktifitas: berenang di kolam dan ke pantai. Berenang lagi, ke pantai lagi. Nah… disini, citarasa tanah seribu masjid sudah tak terasa. Tandanya satu. Di kamar, tak ada penunjuk arah kiblat sehingga kami harus ngecek sendiri. Tapi yang amazing adalah, di tiap waktu sholat, kami mendengar suara adzan !

Siang tadi, kami snorkling dan mengunjugi dua gili lainnya: gili Meno dan Gili Air. Kami = tiga anak itu; si sulung, si bujang kecil dan si gadis kecil. Saya, dari awal memutuskan tidak. Saya takut air hehe… jadi saya pilih menilmati pemandangan dari kaca di dasar perahu kami sajah. Si bungsu, awalnya sangat semangat pake perlengkapan snorkling. Berjam-jam berenang hari-hari kemarin, membuatnya bisa “menyelam” dan “lompat” ke air. Udah jelas kalau berenang pake pelampung tangan, dia udah berani meskipun dalem. Turun beberapa menit, ternyata  dia nangis. “Dede seneng berenang di air yang gak asin, ini airnya asin. Dede gak suka. Dede takut”. Gitu katanya. Di Gilir Air, kami turun dan makan siang disana. Kalau kesini lagi, kayaknya kami akan menginap di Gili Air. Meskipun kurang komersil, tapi kayaknya lebih pas buat kami. Gak terlalu “heboh”. Sore tadi, kami bersepeda menuju tempat sunset. Lumayan keringetan juga sepedaan sekitar 45 menit-an…..

kuranMalam ini, selain suara adzan, setelah maghrib sampai isya, lantunan ayat suci terdengar dari masjid. Mengingatkan saya bahwa walaupun sedang “bersenang-senang”, namun ini malam Jumat. Malam istimewa buat muslim/ah. Malam penuh berkah. Suara lantunan ayat suci itu, mengingatkan bahwa Al Kahfi harus tetap dibaca. Teringat salah satu meme yang saya pernah saya baca: “meskipun liburan, catatan amal jalan terus”.

Ah, senang sekali saya berkunjung ke pulau ini. Beragam orang, datang dari jauh, “hanya” untuk menikmati ke-maha-an ciptaan Allah: matahari, pantai-pantai indah, keindahan bawah laut, debur ombak, kura-kura, ikan warna-warni, lukisan alam…

Seribu mesjid itu…semoga tetap terjaga. Semoga keberkahannya tetap menjaga kebaikan dalam hati orang-orang di pulau ini, juga di negeri ini.

Air Mata Ibu di Hari Ibu; catatan tentang “self” ibu

Catatan: butuh satu tahun untuk menyelesaikan tulisan ini. Dimulai tgl 22 Desember 2016, Selesai tgl 2 Januari 2017 😉

22 Desember (2016) adalah Hari Ibu.

Bagi kami sejumlah Ibu yang memutuskan untuk kembali ke bangku sekolah, Hari ini adalah Hari kedua ujian kualifikasi. Apakah ujian kualifikasi itu? Secara filosofis, ujian kualifikasi ditujukan untuk menguji apakah kami qualified (memenuhi syarat) untuk menempuh tuntutan akademik di jenjang Doktoral. Dan karena program Doktor di tempat kami menuntut ilmu menganut falsafah PhD atau doktor philosophy, maka kami tidak hanya diharapkan mampu melakukan penelitian yang excellent, namun juga ditempa unntuk memiliki pola pikir seperti para filsuf yang selalu mempertanyakan secara kritis akar dari segala sesuatu, mulai dari “realitas” yang akan kami teliti. Bagaimana kami memandang “manusia”, juga akan berdampak pada hakikat metodologi yang kami gunakan.  Jika kami “lulus” ujian ini, maka kami berhak menyandang gelar “kandidat doktor”.

Satu semester berlalu, memang sangat terasa tempaan yang kami terima. Untuk bisa memetakan dimana “posisi kami” dalam penelitian di topik serupa dalam jagad raya ilmu pengetahuan, maka kami harus “melahap” puluhan jurnal, mengkritisi, analisa-sintesa… Tapi jujur saja, yang kami rasa paling berat adalah saat kami dituntut untuk berpikir “radikal”, “fundamental”, “mengakar” terhadap segala sesuatu. Padahal, karena sebagian besar kami adalah dosen, dalam ujian atau membimbing mahasiswa, rasanya kami sudah mengajak mahasiswa untuk berpikir sangat mengakar. Misalnya saat mahasiswa meneliti relasi antara ibu dan anak. Kami akan mengajak mahasiswa untuk bisa memahami betul; “apa sih hakikatnya relasi itu? apa sih pentingnya relasi anak dan ibu? kenapa ibu harus menjalin relasi dengan anak? mengapa bentuk relasinya harus memenuhi persyaratan tertentu? ” Nah ternyata, kemampuan kami berpikir “mendasar” itu tak ada apa-apanya di jenjang ini.

Kami ditempa untuk berpikir jauuuuuuuh lebih mendasar lagi. Apa sih ilmu itu? buat apa ada ilmu? Psikologi itu ilmu atau bukan? Manusia itu apa sih? Apa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya? human nature manusia? emang kenapa sih manusia harus menjalin relasi? gak bisa gitu dia hidup sendiri? bener gak bisa? apa yang bikin gak bisa? Pfuih….meskipun dosen filsafat kami super duper keyyen dalam menyajikan berbagai fakta dan fenomena menarik dan kekinian untuk menggiring kami agar bisa berpikir filosofis, tetep aja kami tertatih-tatih untuk bisa merunut variabel-variabel keren dan kompleks kami ke pemikiran dasarnya, ke filosofinya, ke hakikatnya.

Tapi, buah dari tempaan itu sudah terasa. “Efek samping” dari 2 proses itu amat terasa.

(1) Saya jadi merasa bahwa kemampuan berpikir kami terbataaaaas banget. Saya sampe berhari-haribahkan berminggu-minggu memikirkan gimana ya cara mensintesa semua hasil bacaan saya, menuangkannya menjadi kalimat yang runtut satu sama lain. Udah pake segala cara; mind map, pake sticky notes, pake kertas super besar…. tapi masih sering kebingungan gimana caranya merangkum semua fakta dan data itu.

(2) Saya jadi merasa; ilmu yang kami ketahui itu sedikiiiiiiiiiiit banget. Gagasan “besar” dan “keren” yang kami pikirkan selama ini, ternyata sudah digagas orang lain belasan tahun lalu, misalnya. Kalaupun kami berkonstribusi terhadap imlmu pengetahuan, maka kontribuisnya bagai setitik debu di antara gunungan ilmu di topik penelitian ini.

(3) Saya jadi semakin terpesona sama kesungguhan para ilmuwan dalam mencari “kebenaran”. Upaya yang mereka lakukan, kerumitan metodologinya, mereka adalah para “mujahid” di bidang mereka masing-masing.

Tapi saya tahu, “efek samping” yang kami rasakan, sesungguhnya adalah bagian dari proses pendidikan di jenjang ini. Saya ingat kalimat salah seorang dosen saya, yang menurut saya sangat “mempesona”. “Ini adalah jenjang pendidikan akademik terakhir bagi kalian. Di jenjang ini, kalian akan belajar tentang kehidupan. Maka, sejatinya, seorang doktor adalah seorang yang secara keilmuan ia adalah ahli di bidangnya, namun secara kepribadian ia adalah seorang yang rendah hati dan bijak”. Ah, semoga saya bisa menyelesaikan jenjang pendidikan ini dengan juga memiliki kualitas-kualitas itu.

Dengan gambaran di atas, maka 3 hari ujian kualifikasi tgl 21,22 dan 23, bukanlah ujian “biasa” buat kami (gambarannya ternyata panjang ya… sambil curcol soalnya haha…..). Hari pertama, jam 09.00-16.00 kami harus menjawab 3 pertanyaan filsafat mengenai topik penelitian masing-masing. Waktu maghrib saya sampai rumah dengan wajah kuyu, si gadis kecil bertanya pada saya: ” ibu, emang ujiannya berapa soal sih?”. “Tiga”. jawab saya. “Hah? tiga soal? trus ibu ngerjain dari pagi sampai sore? Teteh kemaren pas UAS 30 soal, waktunya satu jam  teteh bisa. Kayaknay ibu kurang rajin belajar deh”… haha…lumayan jadi refreshing  kata-kata anak-anak teh.

Tgl 22, hari kedua, adalah hari terberat buat kami. Kami harus bisa menjawab 8 pertanyaan. 4 pertanyaan mengenai penguasaan teori dan 4 pertanyaan mengenai penguasaan metodologi terkait dengan penelitian yang akan kami lakukan. Kasat matanya sih 8 soal. Tapi “the facto”, dalam satu butir soal bisa terkandung 2, 3, 4, 5 dst butir soal.

Teknis ujian adalah, kami dibagi dalam ruangan-ruangan. Open book tentu saja. Kami pun bebas membawa dan atau mencari beragam sumber dari internet. Saya sendiri membawa sekoper penuh print out jurnal haha…. Rajin? bukan. Jadul. Karena saya lebih seneng stabilo-in dan corat-coret di hardfile ketimbang di softfile seperti teman-teman saya yang lain yang ratusan jurnalnya tersimpan di tablet atau laptop.

Saya satu ruangan dengan 2 teman. Salah satunya, adalah seorang ibu yang baru saja 2,5 bulan lalu melahirkan. Setelah dibagikan soal, lalu kami pun “menyisir” mana soal yang “gampang”, mana yang susah bahkan blank jawabannya. Masing-masing mendapatkan soal yang berbeda dari promotor masing-masing, sesuai dengan naskah makalah yang kami masukkan seminggu sebelumnya.  Tapi kami bisa berdiskusi memberi masukan dan gagasan. Dan kami bertiga sepakat, soal yang diterima oleh teman kami, si busui (ibu menyusui) itu memang susah. Terlebih lagi, selama melahirkan kemarin ia agak tertinggal bimbingan. Setelah diskusi sebentar, kami pun segera memfokuskan diri pada laptop kami. Pengalaman hari pertama, jam 9-12 tuh berlalu dengan sangat cepat.

Jam 09.30, telpon saya berbunyi. Saya angkat, terdengar isak tangis di ujung telpon. Si gadis kecil. “tadi teteh denger ibu bilang ke abah ibu akan pulang malem…teteh gak mau ibu pulang malem….” kataya diantara isaknya. “belum pasti ibu pulang malem teteh…memang hari ini ibu ujiannya soalnya banyak, mungkin ibu belum selesai sore. Tapi ibu akan usahakan maksimal jam 5 selesai” jawab saya sambil menatap nanar soal-soal yang jawabannya, akan puluhan lembar. Saya sendiri tidak yakin apakah akan selesai sore atau harus extend sampai malem. bla..bla..bla..bla… 15 menit telponan, si gadis kecil sudah berhenti nangisnya. Tutup telpon, kerjain lagi.

15 menit kemudian, masuk video call. Kali ini si bungsu, yang 4 hari lalu baru operasi hernia dan sunat, dan masih belum pulih sepenuhnya. “Ibu, dede mau pipis. Tapi masih takut. Mau sama ibu pipisnya….” Bla..bla..bla… 10 menit. Berhasil membuatnya mengangguk untuk pipis sama kakaknya, si sulung. Tak lupa diakhiri pesan: “kalau mau telpon lagi, jam 12 ya… biar ibu cepet selesai kerjainnya, jadi cepet pulang…”

15 menit kemudian, jadwal teman saya si busui memerah ASI. Setelah kami bantu persiapannya (mengunci ruangan, menyiapkan kursi), teman saya pun mulai memerah. “Hiks…liat…ASInya dikit banget…..” katanya sambil berkaca-kaca. Kami berdua menenangkan lalu menyemangatinya. Ia terus berusaha memeras, dengan genangan di air matanya. “Kayaknya aku stress deh. jadi dikit banget ASInya” katanya. Setelah ASInya tak keluar lagi, ia kembali meneruskan pekerjaannya. Saya salut banget sama teman saya ini. Dia sedih, tapi tak lebay. Air mata masih menggenang, tapi ia kembali tekun mengerjakan. “Aku gak boleh kepecah konsesntrasi. Biar cepet selesai, cepet pulang ketemu si dede” katanya. 30 menit kemudian, ia menerima telpon. Dari nada suaranya, tampaknya dari anaknya. Anak pertamanya seusia si bungsu, TK A. Lalu ia menerima telpon tsb di luar ruangan. Masuk ke ruangan, air mata yang tadi menggenang mengalir …. lalu ia cerita. Hari ini, adalah pembagian raport anaknya. Dan ia gak bisa ambilkan juga. Katanya anaknya bilang teman-temannya diambilkan raport sama ibunya. Itu yang membuat air matanya mengalir. “Sedih banget aku. ASI gak keluar, anakku sedih, aku disini susah banget ngerjain…ngapain sih aku teh….” gitu kurang lebih yang ia katakan di sela isaknya. Kami berdua memeluknya. Lima menit, ia menghapus air matanya. Lalu kami kembali mengerjakan. Posisi duduknya, meskipun agak jauh, namun berhadapan dengan saya. Saya bisa melihat bahwa ia tekun mengerjakan, tapi kadang air mata menggenang, kadang mengalir, tapi tak membuatnya mengalihkan perhatian dari laptopnya. Tanpa sadar, air mata saya juga ikut menggenang. Saya pernah merasakan perasaan itu. Saya sekuat tenaga menahan agar air mata saya tak samapi mengalir.

Hari itu hari ibu. Pagi tadi sampai siang itu, beragam lagu, doa, kata-kata indah tentang kasih sayang ibu, terus mengalir di medsos. Dan di ruangan itu, saya menyaksikan betul adegan nyata yang menggambarkan kasih sayang seorang ibu. Perjuangan seorang ibu. Ibu-ibu macam teman yang ada di hadapan saya itu, yang “tega” meninggalkan anaknya yang masih bayi, bagi sebagian orang dianggap sebagai ibu yang “kurang mulia”. Sampai saya pulang, saya masih teringat kata-kata terakhir yang ia ucapkan…. “…..ngapain sih aku teh?”

Pertanyaan itu, merupakan pertanyaan yang amat fundamental. Saat hati nurani bertanya seperti itu, saya pribadi dan juga saya menyampaikan pada teman-teman yang bercerita pada saya, memilih untuk “menjawab pertanyaan itu dengan jujur”. Kalau kita mau jujur, pertanyaan itu sesungguhnya adalah awal dari pertanyaan yang sangat panjang. Dan ujung jawaban dari pertanyaan panjang itu, akan memantapkan diri kita, keputusan apapun yang kita pilih nantinya.

Akan ada banyak skenario dari rangkaian pertanyaan-jawaban itu:

“Ngapain sih aku teh?”/”Bantu suami mencari nafkah”/”Kenapa harus bantu dia cari nafkah?”/”Karena kapasitas suami kurang memadai, jadi kesempatan yang ia dapat minimal, penghasilan pun minim. Tidak cukup. Suami jadi merasa tidak memenuhi kewajibannya. Saya, punya kapasitas lebih besar dari suami. Pekerjaan saya halal, tidak melalaikan kewajiban domestik, dan membuat kebutuhan kami tercukupi. Harga diri suami jadi terjaga”.

“Ngapain sih aku teh?”/”Saya punya keahlian membantu orang lain dengan profesi ini”/”Emang gak ada orang lain gitu?”/”Ada sih, tapi emang kenapa kalau saya memilih tetap beraktifitas? suami mengizinkan, kualitas buat keluarga ada, kalau gak beraktifitas sesuai profesi saya, saya merasa gak berkembang, saya malah bete sama suami dan anak”

“Ngapain sih aku teh?”/”Mencari uang”/”Kan itu kewajiban suami?”/”Iya, tapi keluarga saya sangat miskin. Saya anak pertama. Kalau saya gak bantu keluarga, adik-adik saya gak akan bisa sekolah. Penghasilan suami cukup, untuk keluarga saja. Tidak cukup untuk membiayai orangtua dan adik-adik saya. Suami saya mengizinkan, pekerjaan ini halal”

“Ngapain sih aku teh?”/”Kerja”/”Kenapa harus kerja”/”Iya yah, kenapa….padahal aku teh orangnya cape-an. Dengan kerja ini, aku jadi gampang stress. Kalau aku jadi stress, marah-marah ke anak-anak. Emang nambah penghasilan sih. Tapi penghasilan suami juga sebenernya cukup. Ngapain ya? kalau aku brenti kerja, situasi akan lebih baik gak? kayaknya lebih baik deh”.

……..dan tak terhingga skenario lainnya.

Buat saya, keputusan akhir seorang wanita untuk beraktifitas di dalam atau di luar rumah, bukan masalah yang esensial; dengan catatan aktifitasnya (baik di dalam maupun di luar) memenuhi syarat-syarat kebaikan dan kebenaran. Yang esensial adalah alasan yang mendasarinya. Pertimbangan dan strategi yang akan memberikan kita resultan kebaikan yang lebih besar. Apapun bentuk aktifitas yang dipilih, saya mengamati, kesadaran akan manfaat bentuk pilihan itu buat ybs, plus penghayatan akan konsekuensi dari pilihan itu, yang membuat seorang ibu bisa tegar berdiri, percaya diri namun rendah hati dengan pilihannya.

Episode sedih akan ada, tapi tak lebay. Persis seperti teman saya yang saya ceritakan di atas. Gak bisa ambil raport karena ada kegiatan yang gak bisa digeser? Apa yang esensial dari pembagian raport? Perhatian orangtua terhadap perkembangan anak. Oke,  janjian di lain waktu dengan gurunya untuk ngobrol perkembangan anak.

Tapi kan…. itu pemikiran kita. Gimana kalau anak merasa ia tidak diperhatikan, merasa ia tidak lebih penting dari kegiatan ibunya? Nah, disini berlaku hukum “exception”. Kita harus bersikap dengan tulus, sehingga anak menghayati bahwa ibunya gak bisa ambil raport, maknanya adalah ibuku gak bisa ambil raport karena ada kegiatan lain yang gak bisa digeser, bukan ibuku gak peduli sama aku. Gimana caranya? ketika ada momen-momen anak dimana kita gak ada kegiatan, ya kita hadir. Ketika kita luang, ya kita perhatikan dia. Ketika kita memang gak ada yang urgen, ya kita prioritaskan dia.

Tapi akan susah buat anak untuk menghayati exception kalau pas kerjaan penuh maupun lagi santai, kita cuek sama anak. Pas dikejar deadline kita marah-marah minta anak gak ganggu kita ngerjain, pas gak dikejar deadline kita minta anak gak ganggu kita medsos-an.

Saya pernah membantu keluarga-keluarga TKW. Ibu-ibu yang “super tega” meninggalkan anaknya bertahun-tahun. Ada sebagian anak yang “marah” lalu melakukan kenakalan bahkan kejahatan. Tapi ada sebagian yang “baik”, “hormat”, bahkan sangat sayang pada ibunya. Apa pembedanya? exception. Dan komunikasi. Bahwa pilihan ini, dengan tulus, adalah pilihan yang membawa resultan kebaikan yang lebih banyak dan lebih baik untuk keluarga kita.

33c1a94682502b1c77bab148ee4cf655Seorang wanita, ketika ia menjadi ibu, memang ia tidak lagi menjadi dirinya yang “original”. Bahasa ilmiahnya, “self”nya berubah. Seorang wanita, kalau ia menjadi seorang ibu, harus memikirkan, menghayati ulang keinginannya, cita-citanya, idealismenya, harapannya, impiannya.

Ada beragam jalan yang ditempuh. Ada yang tetap ingin mencapainya, ada yang menunda waktunya, ada yang memodifikasinya, ada yang menggantinya, ada yang melupakannya.

Penelitian tentang “self” terbaru menemukan, bahwa penghayatan tentang siapa diri kita, adalah hal yang kompleks. Kita adalah perempuan, anak, adik, kakak, istri, ibu, karyawan, muslimah, orang sunda, orang indonesia, direktur, penulis, artis, dokter, penjahit, mentri, dll dll…………. Nah…katanya kapasitas kita tidak memadai untuk mengaktifkan seluruh mode SELF kita dalam satu situasi. Maka, dalam situasi tertentu, kita hanya bisa mengaktifkan sebagian dari “self” kita dan akan mempengaruhi perilaku kita. Saat seorang wanita berhadapan dengan anak-anaknya, dan ia bisa berkomitmen mengaktifkan mode self “IBU” sebagai mode yang dominan, bukan mode self yang lain, maka dialah seorang ibu 

Apapun pilihannya, pilihan yang didasari oleh perenungan yang mendalam dan pemikiran yang matang, adalah pilihan yang akan membuat seorang ibu tegar berdiri dengan rendah hati. Pilihan yang didasari oleh keikhlasan dan penghayatan bahwa ini sajadah panjang yang ia pilih. Apapun pilihannya, ia akan melalui episode sulit dan  sedih, tapi ia tak akan cengeng.

 

 

 

 

 

Previous Older Entries