How To Be A Playful Mother

Dari sekian banyak teori-teori pengasuhan, Skinner, Johnson dan Snyder pada tahun 2005 melakukan review yang menyeluruh dan mengemukakan bahwa seluruh teori pengasuhan bisa diekstraksi menjadi 6 dimensi inti. Enam dimensi inti pengasuhan tersebut adalah warmth, structure, autonomy support, rejection, chaos dan coercion. Nanti kita bahas satu-satu ya, dari A sampai Z.

Pada tulisan ini saya ingin menyinggung sedikit mengenai dimensi pertama, yaitu warmth. Warmth atau “kehangatan”, adalah inti dari beragam istilah yang dikemukakan oleh beragam ahli. Istilah lainnya adalah penerimaan, cinta, dukungan, keterlibatan yang positif, kedekatan, hubungan, sensitifitas, attchment, keterikatan emosi. Intinya adalah ekspresi ce-i-en-te-a hehe…. Aspek ini merupakan aspek yang super duper penting; dan selalu ditemukan dalam beragam penelitian yang mengkaji pengasuhan orangtua pada anak.

Saya ingat salah satu status teman saya, seorang dokter gigi yang meneliti dan meyakini bahwa relasi yang baik antara dokter-pasien adalah unsur penting dalam profesinya. Statusnya kurang lebih begini: “peralatan canggih, teknik up to date, gak ada gunanya kalau pasien gak mau buka mulut”. Dalam praktek pengasuhan, saya pernah mendengar seorang ibu berkata: “percuma lah ikutan parenting ini itu; gak bisa dipraktekin kalau kitanya lagi kesel mah”.

Yups; syarat perlu dari semua teknik pengasuhan adalah suasana hati positif seorang ibu. Tau sih, kalau bangunin si remaja buat sholat subuh itu gak boleh sambil marah. Tapi kalau hati lagi kesel, boro-boro bisa sabar. Tau sih, kalau ngingetin anak itu jangan sambil ngomel. Tapi ini lagi bete, ngomel adalah hal yang “spontan”. Tau sih, si balita yang gak mau mandi itu, kalau dibujuk diajak main mah pasti seneng dan sukarela melakukannya. Tapi kalau lagi gak mood, semua pengetahuan itu menguap. Jadilah ilmu pengasuhan itu sebatas jadi koleksi, bukan ilmu yang bisa kita amalkan.

Nah…jadi, penting sekali buat emak-emak untuk menjaga moodnya tetap baik. Coba visualisasikan bentuk cinta dalam bayangan kita secara konkrit. Pasti sesuatu yang lembut, mengalir, halus, feminin. Bukan sesuatu yang keras atau tajam. Nah, itu nyambung dengan kondisi fisik kita. Kalau kiat lagi cemas, lagi kesel, lagi bete; badan kita tegang. Boro2 bisa meluk. Boro2 bisa membelai. Boro2 bisa berkata pelan dan berbisik. Maka, kalau kita sedang tegang secara psikologis, kita harus berusaha untuk mengembalikan kondisi menjadi rileks.

Gimana caranya biar bisa menjaga mood tetap baik, diantara keriweuhan kita sebagai emak? Beberapa hari lalu, saya dalam kondisi “tegang” itu. Sore sampai  malam, saya ngomel terus. Saya menguping obrolan si bungsu 5 tahun dan si gadis kecil 8 tahun yang sedang bermain bajak laut, begini: “kapten, ibu kita marah-marah terus ya..” //”iya, aku tidak suka mendengar marahnya. Ibu kita jadi sangat menyebalkan kalau marah-marah”//”iya, ibu kita jadi seperti monster laut kalau sedang marah-marah”//”ayo kita pergi saja mencari harta karun kapten, siapa tau harta karun yang kita dapatkan, bisa membuat marah ibu kita jadi hilang”//

Haha…hayang seuri jadinya. Paginya, saya bertekad memperbaiki mood saya. Waktu saya buka yutub mencari tutorial sebuah program yang belum saya pahami, di list yutub ada nursery rhymes. Tiba-tiba saya ingat satu video yang dulu kita suka nonton. Gerak dan lagu “hokey pokey”. Saya temukan video itu https://www.youtube.com/watch?v=d6d6Avbpjf8.  Si bungsu dan si gadis kecil yang mendengar suara lagunya di yutub langsung mendekat, lalu meraih tangan saya. Memang dulu kita sering joget bareng. Abis hokey pokey biasanya lanjut ke head shoulder knee and toe, dan selanjutnya dan selanjutnya.

Lalu, kami pun menari hokey pokey. Selesai satu lagu, ulang lagi..ulang lagi…ulang lagi… tak terasa, saya pun jadi menikmati dan berimprovisasi. Improvisasi yang membuat kami tertawa bersama, lalu mereka pun mengatakan “lagi…lagi….”. 30 menit saja…dan tadaaaa anak-anak senang, saya pun senang. Mood saya kembali positif. Setelah itu, meskipun yang harus saya lakukan masih banyak, saya masih nangkring seharian di depan laptop, tapi saya sesekali mengejutkan anak-anak yang lagi senang main bajak laut dengan tiba-tiba jadi monster; atau break untuk main game plants versus zombie; ketawa-ketawa mentertawakan kebodohan strategi kami, atau diajak nyanyi lagu-lagu yang akan ditampilkan di pentas nanti  lengkap dengan gerakannya:

hatiku bahagia//berkumpul bersama// hutanku lestari//alampun berseri//kamipun menari//kamipun menyanyi //makanan berlimpah//minuman beruah//pohonan berbuah//semakpun berbunga//kamipun//bernyanyi//kamipun menari…

lalu lanjut lagu lainnya:

panon poe mawa caang//unggal isuk tangtu datang//manuk recet nitah hudang//ngajurungkeun nu rek miang//hayu batur dialajar//ulah sok bari talangke//diajar tong hararese//tong eleh ku panonpoe//

lanjut lagi lagi favorit kami bertiga:

Five Little Speckled Frogs// Sat on a speckled log//Eating the most delicious bugs. NYAM NYAM//One jumped into the pool//Where it was nice and cool//Now there are Four green speckled frogs. GLUP GLUP
Four Little Speckled Frogs//Sat on a speckled log//Eating the most delicious bugs. NYAM NYAM//One jumped into the pool//Where it was nice and cool//Now there are Three green speckled frogs. GLUP GLUP …. demikian selanjutnya sampai dengan one little speckled frog

Waktu saya ikutan workshop family therapy, contoh-contoh yang ditunjukkan oleh coach dari Belanda itu kebanyakan persoalan remaja. Lalu saat break, saya tanya gimana caranya menghadapi remaja yang biasanya cenderung “bermuka tembok” alias lempeng. Maksud saya sih nanya soal si remaja saya yang di rumah haha…. Pak coach menjelaskan mengapa si remaja wajar “bermuka tembok”, dan yang harus dilakukan adalah tetap menjalin koneksi dengannya. “but, you have to be playful” dia bilang. Kalau engga, si remaja akan “kabur” semakin jauh.

Playful. Menyenangkan. Rileks. Tertawa. Cinta. Tahun lalu, saya melakukan penelitian pada anak usia prasekolah, mengenai persepsi mereka tentang cinta. Saya bertanya siapa yang mereka rasa paling mencintai mereka, dan apa tanda bahwa orang itu mencintai mereka. Jawaban untuk pertanyaan yang kedua kebanyakan adalah “dipeluk, dicium”.

Yups… setiap kali sharing mengenai pengasuhan; saya selalu bilang: buat ibu yang anaknya masih bayi, usia prasekolah, masih usia sekolah, ayo jangan sia-siakan untuk memupuk cinta dan menabung keterikatan emosional. Kenapa? karena gampaaaaaang banget. Semenyebalkan-menyebalkannya perilaku mereka, tapi mereka tuh masih lucu banget. Beda sama anak remaja yang gak ada lucu-lucunya sama sekali.

Membangun koneksi cinta dengan anak prasekolah; tinggal peluk erat, cium, gelitikin, kejar lalu peluk, gampang banget. Anak sekolah, juga masih gampang. Masih bisa dipeluk, dicium, dibelai. Ngebodor sama mereka masih lucu. Sulap-sulapan masih dinilai kita teh “hebat”. Mereka suka, kita pun suka. Nah kalau anak udah remaja, lebih sulit mengekspresikan cinta kita. Belum tentu sama lagi persepsinya dengan anak.

hokpokMaka, untuk para ibu yang punya anak balita dan anak sekolahan…ayooooo kita nikmati senikmat-nikmatnya. Bukan “mengajak anak bermain, menemani anak bermain”. Tapi “bermain bersama anak”. Apa bedanya? kuncinya di kata “bersama”. Bersama-sama menikmati, bersama-sama tertawa, bersama-sama menari, bersama-sama menyanyi, bersama-sama menikmati peran dalam main pura-pura, bersama-sama menikmati main playdough, mewarnai, engklek…

Siapa bilang aktifitas itu hanya bermanfaat untuk anak-anak? jangan-jangan, sebenarnya kita yang lebih butuh loh… dan anak adalah rejeki berupa media dari yang Maha Kuasa buat kita.  Kita sangat memerlukannya sebagai refreshing di tengah ketegangan-ketegangan dan tuntutan dunia “dewasa”. Kapan lagi bisa joget; nyanyi dengan spontan dan lepasss. Beneran loh, hiburaaaan banget kalau kita benar-benar bermain secara berkualitas bersama anak. Membaui rambutnya, aroma asem tubuhnya, lengket keringetnya, menatap wajahnya, memperhatikan ingusnya, mendengar kecadelannya, benar-benar bikin kita jadi playful. Koneksi emosi terjalin, aura cinta pun jadi terasa #eaaaaa

Jadi, how to be a playful mother? Play with the children !

 

 

Peluk Hangat Untuk Andung …

Timeline saya hari ini bertabur doa dan kenangan baik atas kembalinya sahabat, guru, kolega kami; Ibu Elmira N. Sumintardja. Andung, begitu panggilan “sayang” kami di Fakultas kepada beliau. Meskipun kabar drop-nya kesehatan beliau telah kami ketahui beberapa hari lalu, namun tetap saja, kabar semalam  yang menyampaikan kembalinya beliau pada Sang Maha Kuasa jam 00:00, menyesakkan dada kami.

Tentu tak ada manusia yang sempurna. Begitu pula Andung. Namun ketika memori kita  dipenuhi oleh kebaikan seseorang, maka untuk saya sendiri, orang tersebut adalah orang yang baik. Dan memori saya, dipenuhi oleh kebaikan Andung.

Belasan tahun lalu, waktu saya masih mahasiswa S1, saya mengikuti projek beliau. Berminggu-minggu kami bermalam di rumah beliau….Yang saya ingat, kala kami sudah terlelap, beliau dan sahabatnya, Ceu Tetty, masih tetap bekerja mendiskusikan konten projek kami saat itu. Tapi saya ingat juga…nanti beliau akan mengajak kami keluar makan-makan, atau …. terkadang beliau memainkan organnya bernyanyi untuk kami. Working hard – Playing Hard; buat saya kehidupan beliau mempesona sekali.

Waktu saya kuliah profesi, ingat sekali beliau menjelaskan kepribadian …narcissistic, histrionic personality, dll dll dengan suara khasnya yang “merdu” dan keibuan. Setelah jadi kolega, di balik nama besar beliau sebagai salah seorang “suhu” psikodiagnostik, saya menemukan sisi beliau yang lain; humoris. Beberapa kali kami menjadi asisten di kelas psikodiagnostiknya, tak habis rasa kagum kami kepada keluasan dan kedalaman ilmu beliau. Suatu saat beberapa tahun lalu, beliau mengajak kami, para ‘dosen muda” untuk belajar cara mengajarkan psikodiagnostik pada mahasiswa, di rumahnya jalan harendong. Seruuu banget. Dengan gayanya yang “enakeun”, kami yang merasa super bloon ini tetap merasa nyaman belajar dengan beliau.

Berita sakitnya beliau sudah kami ketahui beberapa tahun lalu. Saya sempat membayangkan…gimana ya beliau…yang tadinya sangat aktif kesana-kesini berbagi ilmu …”down” kah dengan sakitnya ini. Tapi kemudian, kami melihat beliau tak “menyerah”. Beraktifitas menggunakan kursi roda, tabung oksigen… Saat melihat beliau, yang terbayang oleh saya adalah kuda perang. Konon, kuda perang tak akan berhenti berlari sampai menjelang ajalnya.

Saya ingat sekali setahun lalu, saya menjadi panitia sidang promosi doktor seorang teman. Ada seorang dari tim panitia yang bertugas menyambut Andung. Kami sudah menyiapkan jalan khusus untuk kursi roda, dll. Tapi kemudian, saya yang menjaga buku tamu rasanya tak percaya melihat sosok beliau berjalan. Memang menggunakan tongkat, tubuhnya menyusut, tapi semangat itu, sorot semangat mata itu, tak berkurang sedikitpun.

Selanjutnya, keajaiban terjadi. Andung bisa mengajar lagi, terkadang tidak menggunakan tongkat. Saya ingat suatu saat datang bersama, lalu menemani beliau naik tangga ke lantai tiga. Sampai di lantai dua, beliau bilang: “udah Fit, duluan, saya harus istirahat dulu 20 menitan, biasa….”. Kata-kata itu diiringi senyum manisnya. Tak ada keluhan, meskipun saya membayangkan bahwa untuk bisa “legowo” dengan kondisinya tersbeut, pasti tak mudah.

2 Desember akhir tahun lalu, kami sefakutas “liburan” ke Ciater. Beliau ikut. Paginya, kami bert”tea-walk” ria. Beliau ikut! Kami sempat degdegan dengan kondisi beliau, tapi beliau menikmati sekali. Sampai kami yang “muda” merasa “malu” oleh semangatnya.

Akhir tahun 2013, beliau menulis puisi yang sangat indah, menggambarkan pengalaman beliau mendampingi kepergian sahabat kami, Mas Harry Suherman

Begini bagian akhir dari puisi indah itu:

Ya ALLAH, aku belajar dari wajah yang pergi dengan ikhlas//Kematian tidak harus dilalui dengan kengerian dan kesakitan, //Ketika pasrah pada ILLAHI lebih utama //Mas Harry ….. Selamat jalan adikku //ALLAH sudah bersama-mu // Terima kasih atas ilmu terakhir yang kamu berikan padaku//Dan yang harus kusampaikan kepada semua teman-teman kita // Kematian pasti datang // Detik kapan-pun itu pasti terjadi atas ketentuannNYA, // dan Allah SWT Maha Pengasih Maha Melindungi, // Menyambut datangnya insan yang tulus ikhlas beriman dan bertaqwa pada NYA // 

Tadi pagi, seorang perawat di ujung pulau jawa meng-sms saya. Ia adalah salah seorang mahasiswa yang pernah kami bimbing bersama. Ia bertanya apakah benar berita yang ia terima tentang kepulangan Andung? Lalu panjang lebar ia mengatakan betapa sedih hatinya, ia paparkan kebaik-kebaikan Andung.

Andung, saya tak bisa menulis puisi seindah Andung. Tapi saya yakin, kembalinya Andung pada sang Maha Rahman Rahim seindah puisi yang Andung tuliskan.

Tugas Andung sudah selesai. Rasa sakit yang mendera Andung, menjadi pembersih jiwa Andung. Kini tak ada rasa sakit lagi. Secara fisik kami tak bisa memeluk Andung lagi. Yang tertinggal adalah kenangan indah mengenai sorot mata semangat Andung, kata-kata bijak yang Andung pesankan pada kami, kedalaman ilmu yang terpapar lewat suara merdu Andung, dan jiwa pantang menyerah sampai detik ajal menjemput.

Sesaknya dada kami, kesedihan kami, kristal-kristal air mata kami, doa-doa yang dilantunkan oleh orang-orang yang terpapar kebaikan Andung, akan menjelma menjadi pelukan hangat untuk Andung di alam barzakh.  Keluasan dan kedalaman ilmu yang Andung bagikan dengan tulus, akan menjadi penerang bagi Andung.

Allahummaghfilaha warhamha waafihi wa’fuanha.

Preparing Ramadhan : Mindful or Mind Full ?

Siapa yang ingin “sering” ke tanah suci? Saya ngacung. Tapi itu dulu. Waktu saya ke tanah suci pertama kali, tentu berdoa agar  bisa “sering” bisa ke tanah suci. Tapi seiring waktu, entahlah…. saya jadi enggan berdoa seperti itu. Saya lebih seneng berdoa agar diberikan “kekhusyukan” ketika ke tanah suci. Ya, seiring dengan usia dan pengalaman, doa-doa saya, tampaknya memang mengalami “evolusi”. Dulu berdoa pengen ini pengen itu, sekarang berubah. Gak pengen kaya. Pengennya diberikan kemurahan hati. Kenapa? karena saya melihat banyak  kenalan saya yang kaya, tapi beda antara kaya yang murah hati dan kaya yang hanya untuk dirinya sendiri. Bahwa untuk untuk bisa memberi banyak kita harus kaya, ya.  Pengen jadi profesional, punya ilmu banyaaaak, udah berubah. Pengennya punya semangat untuk berbagi dan mengamalkan ilmu. Karena pengalaman bertemu orang yang ilmunya keren, mereka memang mengagumkan. Tapi orang yang ilmunya keren dan ia senang berbagi serta semangat mengamalkan, mereka mempesona. Biar ilmu yang dibagi dan diamalkan banyak kita harus terus cari ilmu, ya. Bentuk luarnya sama, tapi yang saya mohonkan pada Yang Maha Kuasa berbeda.

Sebelum ke tanah suci, ustadz pembimbing selalu menekankan persiapan. If you fail to prepare, you prepare to fail. Itu kalimat yang selalu beliau ulang-ulang. Beliau bercerita, bahwa kalau kita tak mempersiapkan diri dengan ilmu, maka tempat-tempat dan waktu-waktu super mustajab di tanah suci saat berhaji, akan lewat dan terbuang dengan sia-sia. Arafah, misalnya. Sebuah tempat yang super duper sakral. Tapi kalau  kita tak menyiapkan ilmu dan menyiapkan hati, tak akan bermakna apa-apa.

Tapi saya gak percaya kata-kata Pak Ustadz. Saya begitu percaya kalau kita ke tanah suci, maka kita akan “tersihir” oleh ka’bah, “tersihir” oleh raudhah, “tersihir” oleh arafah. Dan saya salah. Pak Ustadz itu benar. Saya saksikan dengan mata kepala sendiri, waktu wukuf yang begitu “ajaib” dilewati banyak orang dengan mengobrol, tertawa-tawa, merokok….. Tempat yang sama, waktu yang sama, dimaknai berbeda. Intan dan batu kerikil, bagi yang gak tau sama aja gak berharganya.

Pengalaman ke tanah suci yang kedua, membuat saya semakin menyakini hal ini. Bukan atas pengamatan terhadap orang lain, namun penghayatan terhadap diri sendiri. Persiapan yang berbeda, “teman perjalanan” yang berbeda, membuat penghayatan, kedalaman makna  dan “rasa”nya menjadi berbeda. Kita berada di tanah suci yang menyediakan tak terhingga berkah, namun kita tak menyiapkan radar hati untuk “menangkap” frekuensi berkah itu, menurut saya adalah salah satu paradoks dan ironi yang paling menyedihkan dalam kehidupan ini. Itulah sebabnya saya tak pernah berdoa untuk “sering” bisa ke tanah suci. Saya berdoa agar setiap kali kesana, dikarunia kemampuan dan kemauan untuk menyiapkan diri, sehingga bisa khusyuk, radar hati-nya siap untuk menangkap seluruh frekuensi berkah yang berjejak menjadi kemabruran.

Kurang dari dua bulan lagi kita akan menyambut ramadhan. “Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballighnaa Romadhon”. Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan. Inilah doa yangbiasa kita panjatkan pada Allah. Meskipun ada sebagian ulama mengatakan hadits ini dhoif, namun tahun ini, saya punya makna lain terhadap doa ini. Ayah saya sedang sakit. Kami ikhtiar untuk penyembuhannya, namun kami pasrah jika Yang Maha Kuasa menjadikan sakit ini sebagai jalan memanggilnya. Di sisi lain, yang kami semua mohonkan adalah, beliau sampai pada bulan Ramadhan. Maka, doa ini, kami panjatkan dengan kesungguhan. Ya, kita tahu bahwa siapapun kita, gak ada jaminan bisa “ketemu sama ramadhan” yang “cuman” tinggal 2 bulan lagi itu. Tapi menghadapi secara konkrit situasi sakit yang dialami ayah saya, menumbuhkan kesadaran yang berbeda. Bahwa benar-benar tak ada jaminan kita sampai pada ramadhan. Kesadaran bahwa kita benar-benar menginginkannya. Memberi ruh pada doa itu. “Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballighnaa Romadhon”. Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan.

Ramadhan. Usia saya sekarang 38 tahun. Berarti sudah 38 tahun juga saya mengalami ramadhan. Kalau diasumsikan saya puasa sejak usia 6 tahun, sudah 32 ramadhan saya berpuasa. Kalau diasumsikan saya baligh usia 12 tahun, sudah 26 kali saya puasa dengan kualitas yang dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. 26 kali ramadhan. Ramadhan yang sama. Keberkahan yang sama. Setiap tahun kita mendengar pak Ustadz sampaikan kemuliaan ramadhan. menghapuskan dosa, “obral pahala”, malam 1000 bulan. Ramadhan yang sama. Tapi apakah otomatis seluruh kemuliaan itu kita dapatkan? Tidak.

Saya mengenang, tahun demi tahun saya menjalani ramadhan dengan pemaknaan yang berbeda. Ramadhan yang sama, dengan kemuliaan yang sama. Ada masanya yang saya ingat dari ramadhan adalah “ngabuburit” bersama papa saya. Naik vespa putih kami, dengan adik saya pergi ke lapangan; lalu kami tiduran…menyaksikan matahari merah besar yang perlahan terbenam. Ada masanya yang saya ingat dari ramadhan adalah pesantren kilat di masjid yang besar, tempat saya bisa curi-curi pandang sama cowok kecengan saya, anak SMP sebelah. Ada masanya yang saya ingat dari ramadhan adalah keseruan pergi pulang taraweh dengan teman-teman, atau main sepeda selepas subuh. Ada masanya ramahan yang saya ingat adalah keseruan jadi panitia dan pengisi sanlat jaman SMA. Ada masanya ramadhan yang saya ingat adalah membagi-bagikan tajil ke masyarakat yang tak berada. Ada masanya yang saya ingat adalah keheningan itikaf, kenikmatan tangis mengadu padanya. Ada juga masanya ketika ramadan terasa “sama” dengan hari-hari biasa. Lewat begitu saja. Tertelan keriuhan rutinitas. Ada masanya saya berada di lingkungan yang seolah-olah ramadhan tak hadir disana. Ada masanya ramadhan saya dipenuhi dengan rencana-rencana tentang masakan, tentang baju-baju yang saya “hunting” untuk keluarga besar.

26 kali ramadhan yang akan saya pertanggungjawabkan. 26 Ramadhan mulia yang sama. 26 kali penghayatan yang berbeda. Dan salah satu faktor yang membedakannya adalah, persiapan. If you fail to prepare, you prepare to fail. Itulah sebabnya para salafusshalih konon menghabis sisa waktu 11 bulan selain ramadhan; 5,5 bulan setelah ramadhan untuk berdoa agar amal ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan diterima menjadi amal sholeh, dan 5,5 bulan sebelum ramadhan mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan.

Di luar sana, ada beragam reaksi mengenai ramadhan. Ada banyak keriuhan. Segala sesuatu, kini muda menjadi bahan keriuhan. Mulai dari topik yang buruk seburuk-buruknya, sampai topik yang baik sebaik-baiknya. Tapi semua itu adalah “keriuhan”.  Keriuhan di “luar sana”, yang kalau tak kita sadari dan kita kendalikan, keriuhan itu akan masuk ke pikiran kita, ke hati kita. Dan buat saya “keriuhan” adalah lawannya “kekhusyukan”. Jaman dulu, Kekhusyukan bisa kita upayakan secara fisik. Kita tinggal diam di rumah atau di masjid. Jaman kini, keriuhan bisa kita undang masuk ke dalam kamar kita, bahkan ke mihrab mesjid. Smartphone.

 

Sekolah anak saya, mulai minggu lalu mengkondisikan murid-muridnya untuk puasa senin kamis. Kantin tidak akan buka, makan siang diganti goodibag makanan ringan dan buah. Saya senang sekali dengan sistem ini. Sesuai dengan filosofi if you fail to prepare, you prepare to fail. Pada anak, yang harus dipersiapkan adalah hal yang konkrit. Kemampuan menahan lapar.

Bagi kita, yang sudah puluhan tahun melalui ramadhan, tentu “level” kita harus berbeda. Bukan hanya menahan hal sifatnya konkrit indrawi: perasa, penglihatan, pendengaran, perabaan. Namun yang harus sudah kita siapkan adalah hal yang sifatnya abstrak dan hakiki. Kekhusyukan.

Kekhusyukan. Menurut saya, konsep  Psikologi yang paling mendekati adalah  mindfulness. Mindfulness is a state of active, open attention on the present. When you’re mindful, you observe your thoughts and feelings from a distance, without judging them good or bad. Instead of letting your life pass you by, mindfulness means living in the moment and awakening to experience (https://www.psychologytoday.com/basics/mindfulness).

Apa yang paling mengganggu kekhusyukan kita? apa yang membuat kita dalam melakukan ibadah (yang paling rutin adalah sholat dan berdoa) tak khusyuk? masing-masing orang bisa beda. Tapi yang penting adalah penghayatan kita, kesadaran kita, dan kemauan kita berjuanga mengubah kondisi. Dan kemauan berjuang itu membutuhkan kerendahan hati

Smartphone. Internet. Menembus ruang dan dan waktu. Menurut saya, sangat potensial menggangu kekhusyukan kita. Sedih banget liat para itikaf-ers di ramadhan, “killing  the time” waktunya di masjid dengan bermedsos. Apalagi selfie dan posting “lagi itikaf nih” halah….  gak ada bedanya kalau kita gitu sama anak TK B yang belajar puasa trus nonton TV atau main game seharian. Just killing the time. Di tanah suci pun demikian. Kalau tak dikendalikan dan tak dihayati, tempat-tempat super duper penuh berkah seperti ka’bah, dua masjid suci, raudhah, hanya meninggalkan jejak berbentuk foto. Sudah.

Nah, disini kita butuhkan kerendahan hati. Tak perlu malu untuk mengakui bahwa kita “tak cukup kuat untuk menahan godaan medsos untuk jaga kekhusyukan kita” Teman saya, selama dia tak di jam kerja, terutama jam ibadah (sholat dan dzikir), menjauhkan hapenya. Saat itikaf, dia matikan hapenya. Atau pernah di awal-awal dia gak bawa hape. Dia sarankan ke saya untuk gak ngaji dari hape. Soalnya kalau ngaji dari hape mudah tergoda untuk liat fitur lain kata dia.

Kenikmatan beribadah, dalam bahasa psikologinya disebut flow. Dan flow tak akan tercapai dengan instan. Maka, kalau kita pengen nikmat baca Qur’an, baca tafsir, jangan mulai di day one ramadhan. Mulai sekarang, biar nanti udah flow. Saya suka bilang sama temen-temen yang belum dan pengen ke tanah suci, baca buku tentang haji jangan nanti pas manasik. Dari sekarang, meskipun gak kebayang perginya kapan. Baca siroh Rasul, sekarang. Jangan pas mau berangkat. Kalau sudah baca berkali-kali kisah perjalanan hijrah Rasulullah dan para sahabat dari Mekah ke Madinah, maka perjalanan dalam bis berAC dari Mekah ke Madinah dan sebaliknya, akan kita maknai berbeda. Kita tak hanya akan memandang, memotret dan memvideokan jajaran gunung batu dan padang pasir dalam perjalanan. Kalau kita sudah berkali-kali baca sejarah ka’bah, saat Nabi Ibrahim, saat serbuan Abrahah, saat futuh Mekah, maka akan beda penghayatan kita. Frekuensi kesakralan itu akan mudah kita tangkap kala radarnya sudah siap.

Demikian juga Ramadhan. Baca buku tentang kemuliaan ramadhan, lailatul qodar, keutamaan memberi makan buka puasa bagi kaum dhuafa, jangan nanti pas day one. Dari sekarang. Sehingga kalaupun nanti di luar penuh dengan keriuhan, aktivitas kita tetap padat, tapi hati kita sudah terkondisikan untuk khusyuk dan radarnya “siap” menangkap frekuensi keberkahannya. Secara “habit” kita sudah “flow”, jadi bener-bener ternikmati setiap detiknya.  Dengan demikian, output taqwa yang dijanjikan olehNya, semoga bukan kita hayati seperti “dongeng” yang tak kita hayati sungguh-sungguh.

Ramadhan yang hanya hitungan hari, belum tentu kita alami. Tak ada yang menjamin usia kita sampai di saat itu. Namun keinginan untuk menjalani ramadhan dengan khusyuk, harus  kita buktikan dengan upaya sungguh-sungguh untuk menyiapkannya.

Ramadhan yang akan kita jelang, adalah ramadhan yang sama dengan puluhan ramadhan yang telah kita jalani. Kemuliaan yang sama, berkah yang sama Allah tumpahkan di bulan ini. Kala kita tak menyiapkan diri, maka ramadhan tak akan bedanya dengan hari-hari biasa. 1000 bulan akan sama rasanya dengan satu bulan atau tanpa bulan. Yang membedakannya adalah, kesiapan radar hati kita untuk menerima frekuensi keberkahan itu.

 

 

Interdependensi emak-emak; Profesionalisme emak-emak

Salah satu quality time yang baru saya sadari antara saya dan anak-anak, adalah bada shubuh. Kalau si abah ada di rumah, pulang dari mesjid bersama si bujang kecil, biasanya si abah memutar ceramah pagi dari beberapa ustadz, dan kami dengarkan sambil melakukan aktiiftas masing-masing. Anak-anak mandi, saya nyiapin sarapan atau panik ngerjain deadline yang belum beres haha. Nah, kalau si abah gak ada, bada subuh sepulang si bujang kecil dari masjid, dengan masih bersarung-bermukena, kami suka tidur-tiduran di musholla. Si bungsu dan di gadis kecil biasanya minta dipeluk lagi dengan alasan klise; “kedinginan”.

Nah….sambil itu, biasanya kami ngobrol macem-macem. Kadang saya ngasih nasehat…. paling sering bahas arti doa sesudah sholat. Sampai-sampai anak-anak sering nyela …iya bu..udah tau…bla..bla..bla… kan? Tapi saya gak mau kalah. Selalu saya kasih tambahan contoh konkrit terkait doa itu. Misal doa “allahumma inna as’aluka salamatan fid diiin….. “. Apa sih maksud “selamat dalam agama itu?” setiap hari banyak contoh konkrit yang berbeda-beda. “waafiyatan fil jasad….” banyak banget contoh yang berbeda-beda tiap hari. Pengalaman saya menengok teman, pengalaman anak-anak mengenai beragam kuman dan penyakit…. dan selanjutnya. Biasanya dari contoh ilustrasi doa itu, berlanjut obrolan panjaaaaaang… maklum interpretasi dari anak umur 14, 11, 8 dan 5, seringkali liar dan tak terduga. Dari yang super ilmiah sampai yang super kocak dan polos. Yang kocak hampir pasti dari si gadis kecil yang sering mengutip pernyataan tokoh kartun favoritnya, si Juki kkk

Pagi ini, obrolan di musholla kami adalah obrolan yang super duper berat; obrolan yang saya takuti selama ini. Obrolan mulai dari tema “ciuman”. Dimulai dengan si bungsu yang bilang: “bu, ayo kita ciuman menikah”. Maksudnya bibir ke bibir. Karena dia masih kecil, saya cium dia, lalu cium seluruh wajahnya. Seneng banget si bungsu mengabsen semua bagian wajahnya untuk dicium. Mata? hidung? nonong?  nanti dia akan iseng lanjut ke …. ketek….

Nah, si bujang kecil menyela: “bu, setelah nikah ibu dan abah ciuman kan? ciuman teh caranya punya bayi kan?”. Si gadis kecil menyela: “Bukan atuh mas, kata di buku Aku Tahu Asal Usulku, sel sperma dari ayah dan sel telur dari ibu bertemu saat ayah dan ibu menyatukan tubuhnya”. Si bujang kecil lanjut lagi: “iya menyatukan tubuh teh gimana? ciuman kan? kan sel sperma teh diproduksi di testis, gimana bu nyampe di mulut. Trus emang sel telur ibu di mulut? bukannya di rahim? rehim teh di perut kan?”

Oh My God…. tau gak …pertanyaan itu, pertanyaan tentang “bagaimana cara sel sperma ketemu sel telur”, itu adalah pertanyaan yang paling saya takuti sejak masih punya satu anak. Kenapa? karena saya gak tau dan gak yakin gimana cara jawabnya. Kalau dikasihtau bahwa caranya adalah  penis masuk ke vagina…. jujur saya gak siap dengan pertanyaan-pertanyaan  selanjutnya. Tapi kalau menghindar gak menjawab, gampang banget buat anak-anak ketik cari tau di google, takutnya yang keluar malah gambar yang ajaib.

“Nanti Mas akan belajar di pelajaran biologi Mas” jawab saya. Bu Guru….Pak Guru…..saya mengandalkanmuuuuuu hehe… “Tapi Mas mau tau sekarang bu….” jawabnya mendesak. Haduuuuh… udah bahagia banget si sulung gak nanya tentang itu. Eh….kejadian juga ditanya si bujang kecil yang memang super kritis.

“Nanti ibu tanya tanteu XXX ya…Tanteu XXX temen ibu yang belajar tentang itu”. Jawab saya. Sukurlah pembicaraan akhirnya beralih ke topik baju yang akan dipake si gadis kecil di pentas profesi dua minggu lagi. Dia memilih profesi pelukis dari pilihan profesi2 yang tersedia. Sejak kemarin saya memeras pikiran gimana ya baju pelukis itu? udah ada beberaap ide, tapi sebagai orang yang tidak kreatif, saya takut ide itu garing ….

Maka, setengah enam tadi, saya bukan laptop dan kirim wa panjang lebar pada dua teman saya. Satu teman saya, peneliti di bidang kesehatan reproduksi dan pendidikan seksualitas. Melalui studi-studinya di Bandung, dia akan tau betul gimana caranya jawab pertanyaan si bujang kecil yang tidak berpotensi mengarah pada rasa penasaran yang tersalur pada cara negatif. Saya inget banget obrolan-obrolan kami: “anak tuh butuh informasi tentang seksualitas. Mereka tuh butuh orangtua menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Tapi kalau kita gak siap, pertanyaan itu akan mereka terus cari jawabannya. Dan dari internet atau dari teman, informasinya gak selalu baik dan benar”. Itulah sebabnya ia bersama tim nya menyusun program eduksi seksualitas untuk remaja di kota Bandung lewat sekolah.

Teman kedua yang saya wa panjang lebar adalah teman saya designer yang super duper kreatif. Tentang design baju pelukis si gadis kecil.

Ahh….. dulu, saya tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang mengatakan : “Kamu harus mandiri. Harus bisa semuanya sendiri. Itu artinya kamu  hebat. Kalau kamu minta tolong orang lain, berari kamu lemah”. Gak salah sih. Tapi saya bersyukur, perjalanan hidup  saya selanjutnya mengenalkan saya pada  prinsip yang jauh lebih mempesona. “interdependensi. Saling tergantung”. Saya inget banget, pertama kali saya baca di Salman dari bukunya Covey. Asumsi yang mendasarinya sangat “rendah hati” menurut saya: bahwa di dunia yang akan datang, tantangan sedemikian kompleks sehingga tak satu pun dari kita punya kapasitas untuk menghadapinya kompleksitas tersebut sendirian. Sehebat apapun kita. Maka itulah, kita kuasai satu hal secara mendalam, lalu kita bersinergi dengan orang lain yang punya keahlian berbeda. Itulah caranya kita menaklukkan tantangan.

Prinsip itu, memang ditujukan untuk dunia profesi. Tapi sebagai seorang ibu, prinsip itu sangat amat aplikatif. Kita tak harus jadi “ibu hebat”; “ibu super”; … kita jadi ibu yang …manusiawi aja. Punya kelebihan, punya kekurangan. Kelebihan yang kita miliki, kita bagikan; siapa tau bisa membantu ibu lain yang gak punya kelebihan itu. Kekurangan yang kita miliki, kita “tambal” dengan meminta bantuan pada ibu lain yang punya kelebihan dalam hal itu.

Financial dependent300Dengan kompleksitas peran kita sebagai ibu, “harus tau segalanya”, “harus menguasai segalanya”, “harus mengajarkan semuanya”, adalah “misi bunuh diri” buat saya. Dan kita gak akan banyak belajar hal baru dengan berprinsip demikian. Mari bekerjasama. Meminta bantuan itu bukan tanda kelemahan. Meminta bantuan itu adalah tanda penghargaan pada orang lain dan latihan kerendahan hati. Tanya pada mereka yang ahli di bidangnya. Minta tolong pada mereka yang memiliki keterampilan di bidangnya. Hasilnya? tak hanya anak kita yang akan belajar, tapi juga kita. Tak hanya anak kita yang dapat pengetahuan dan keterampilan baru, tapi kita juga. Jadi kita berkembang bersama.

Saya sudah menerapkan prinsip ini, dan PAS buat saya. Anak-anak kebagian siapin makan buat temen-temen sekelasnya; minta tolong temen yang bikinin bento super duper lutu. Anak senang, saya senang, teman saya senang. Saya paling gak bisa mendongeng. Saya bawa ke temen saya yang jago mendongeng. Anak saya kagum, saya juga kagum. Menggambar? haduuuh….nilai menggambar saya waktu SMA 50 dari 100 saking bututnya. Saya bawa ke temen yang bisa ngajarin cara gambar dengan mudah dan sederhana. Anak saya belajar hal baru, saya juga. Anak-anak tanya mainan yang seru? saya tanya temen saya yang jualan mainan. Anak cari media belajar yang asik? saya tanya ke temen saya yang seneng dan banyak tau tentang multimedia. Banyaaak banget yang kita bisa sinergikan dengan para emak yang lain.

Itulah hakikat bahwa kita Bukan Emak Biasa. Btw, kalau mau pesan, stok baru buku BUKAN EMAK BIASA datang hari ini. Mangga bisa wa ke no 0812-1416-2629 dengan menyebutkan nama, jumlah pemesanan dan alamat lengkap. Haha….kesempatan dalam kesempitan 😉

Pokoknya mah ..semangat emaks!!!! You are not alone…..

 

 

Calon Mantu

Bener banget deh Om Duvall yang menyusun teori tahap perkembangan keluarga,  berdasarkan usia anak pertama.(Btw,  Duvall teh om atau tante ya? hehe)

Pentahapannya sebagai berikut:

1 – Married couples (no children) 2 – Childbearing families (oldest child aged birth to 30 months) 3 – Families with preschool children (oldest child aged 2½ to 6 years) 4 – Families with school children (oldest child aged 6 to 13 years) 5 – Families with teenagers (oldest child aged 13 to 20 years) 6 – Families launching young adults (stage begins when oldest child leaves home and ends when youngest child leaves home) 7 – Middle-aged parents (stage begins with empty nest and ends at start of retirement) 8 – Aging family members (stage begins with spouses’ retirement and ends at their deaths) (Duvall& Miller, 1985) 

Kenapa bener banget? Karena saya merasakannya. Kalau menurut pandangan “family system theory”, keluarga itu adalah sebuah sistem. Perubahan dalam satu elemen sistem itu, pasti berpengaruh pada perubahan sistem keluarga secara keseluruhan. Salah satu sumber perubahan, adalah perkembangan dari masing-masing anggota keluarga.

Yang paling gampang? penampakan keluarga secara “kasat mata” adalah rumah. Saya tuh lagi seneng banget “mengamati” hal-hal yang “kasat mata”, yang biasanya kita pandang hal yang tak bermakna, padahal bermakna banget. Saya terpesona untuk mengamati tuh sejak saya denger papar Uicol Kim, tokoh indigenous psychology yang paparannya isinya adalah gambar-gambar pengamatan terhadap perubahan yang terjadi, yang kalau direfleksikan itu sebenernya maknanya “dalem”. Hal-hal sederhana…misalnya cara berpakaian orang 20, 15, 10, 5 tahun lalu dibandingkan sekarang. Cara menggendong bayi, cara ngobrol keluarga, bentuk rumah, pilihan transportasi, macen-macem.

Terkait dengan tahap perkembangan keluarga, beda banget rumah keluarga dari setiap tahapan. Rumah yang di dalamnya ada balita, “penampakannya”  beda dengan rumah yang bungsunya udah remaja. Bahkan, hal “sederhana” ini kalau dirunut bisa jadi sumber permasalahan sekaligus sumber pemecahan masalah. Misalnya, pernah ada masalah tumbuh kembang, setelah dirunut…… anak tinggal di rumah kakek nenek yang rumahnya penuh dengan kristal. Anak balita, lagi butuh lari-lari sana sini, lompat-lompat manjat-manjat, di sekelilingnya kristal mahal, tidak ada alternatif tempat, jadinya ya….apa yang harusnya berkembang menjadi tidak berkembang. Trus, bisa juga loh masalah fisik ini jadi solusi masalah “berat” dalam keluarga. Masalahnya, yang “berat-berat” itu selalu berawal dari yang “ringan”. Misalnya nih….Ruang kerja suami  ada di lantai 1. Kamar suami istri di lt 2. Orangtua suami sudah sepuh di lantai 1. Suami seringkali harus ngerjain kerjaannya sampai malem. Sering abis kerja ketiduran di depan tv lantai 1. Istri tidur di lantai 2. Suami jadi lebih menghabiskan waktu di lantai 1 karena enak sekalian kerja. Istri marah karena merasa suami tidak peduli padanya. Suami marah karena merasa dituduh. Ketika susunan ruangan diubah, permasalahan berkurang.

Saya tuh seneeeng banget kalau berkunjung ke sebuah rumah yang masih punya balita, trus di kamar mandinya teh ada mainan haha…gak tau ya, seneng aja. Meskipun konon katanya sekarang, rumah yang ada balita-nya pun kini bisa rapi bersih tanpa berantakan mainan karena  mainannya tak perlu di bereskan, tak perlu banyak-banyak, karena mainannya hanya satu……gadget. Hiks…

Nah, kenapa saya bilang “bener” banget di awal tulisan ini, karena saya merasakannya. Sejak 2 tahun lalu, sejak si sulung keluarga kami tumbuh menjadi seorang remaja, kami masuk pada tahap perkembangan keluarga yang ke5, yaitu family with teenager. Salah satu yang berubah adalah “tema obrolan” saya dengan si abah. Berubaaaaah banget. Dan, salah satu obrolan seru yang muncul setahun belakangan ini adalah tentang….calon mantu … haha……

Tema ini muncul antara saya dan si abah karena diendorse oleh faktor luar sih, teman-teman saya dan teman-teman si abah kan sebagian udah masuk fase ini juga, jadi mulailah muncul kejadian anaknya diapelin lah, anaknya curhat dan bingung harus gimana ketika dia ditembak lah, dan semacam itu. Nah yang seru adalah, karena ini pertama kalinya saya melihat fenomena ini dari sudut pandang sebagai orangtua. Ternyata gak kalah seru dengan waktu menjalaninya dulu sebagai anak haha….

Misalnya ya, waktu itu seorang teman kita, cerita kalau anaknya yang kelas 1 SMP, diapelin sama anak SMA. Dia kaget banget, trus menginterogasi dan marah-marahin si cowok yang ngapelin anaknya itu. Ujungnya dinasehatin. Total 3 jam. Hwahaha…duh, nikmat banget waktu itu ketawanya.Tapi saya menangkap bahwa …. ini adalah proses yang harus dijalani oleh kita sebagai orangtua. Proses yang wajar …biar pada saatnya beneran harus melepas nanti, kita sudah sepenuhnya “ikhlas”.

Melepaskan anak pada orang lain, itu memang tak mudah. Mempercayai orang lain untuk “membawa” anak kita, itu tak mudah. Kalau seorang ibu “cemas”, itu sih udah biasa. Tapi seorang ayah, juga ternyata tak kalah cemasnya loh. Terutama pada anak perempuannya. Saya pernah dengar senior saya menyampaikan kecemasannya melepas ketiga putrinya saat akan menikah. Saya juga pernah nonton serial “Castle”, salah satu episodenya menggambarkan kecemasan sang ayah kala anak gadisnya mulai “berkencan”. Trus, saya suka pengen ngakak guling-guling mendengar ekspresi kecemasan si abah. “Nanti kalau ada yang ngelamar si sulung trus kita gak kenal sama sekali kita sewa dekektif swasta ya de” hahahaha…. “Pokoknya nanti harus di test Psikologi dulu ya De. Valid kan testnya untuk menggambarkan kepribadian dia?” kkkkk…saya teh ngebayangin si anak laki-laki itu ngerjain serangkaian test psikologi …. atau “pokoknya nanti pas ketemu aku, aku akan tanya  bla..bla..bla… Pas aku tanya, dirimu observasi ya de…” hahahaha….

Itu bagian lucunya. Kalau bagian reflektifnya…kita pernah ngobrol: “gimana ya rasanya … gimana caranya untuk percaya 100% sama orang yang akan menentukan selamat-tidaknya kehidupan anak yang kita cintai dan sayangi”. Bla…bla…bla… obrolan itu pun berujung pada satu tema lanjutan yang tak kalah lucunya : perjodohan hahaha….

Jadi pernah waktu kita mudik tahun lalu, si abah ngajak berkunjung ke rumah salah seorang temannya. “Dia punya anak kelas 1 SMA de, anaknya bagus, aktif berorganisasi, perilakunya baik, sekolahnya di sekolah yang kualitasnya bagus banget. Nanti kita jodohin sama si sulung” hahahaha…. Tapi setelah diobrolin, bener juga sih… nilai-nilai keluarga, bagaimana seorang anak dibesarkan … sedikit banyak akan mewarnai tumbuh kembang seorang individu. Mengenal orangtuanya, nilai yang tumbuh di keluarga tempat seseorang tumbuh dan berkembang, adalah salah satu ikhtiar, upaya yang bisa dilakukan. Dulu kan sebagai anak anti banget sama model “Siti Nurbaya”, tapi sekarang setelah jadi orangtua jadi “make sense”. Tentu saja gak pake acara paksa-paksaan, sebagai alternatif aja. Yang menentukan tetap yang akan menjalani, yaitu si anak. “Coba de, kita list yuks siapa-siapa aja temen-temen kita yang punya anak laki-laki umur 14-17 tahun” kata si abah…hahahha….baiklah….teh ini, kang itu, mas ini, mbak itu, bu ini, om itu….

Trus yang lucu lagi beberapa kali si abah cerita tentang rencana masa depannya terkait bisnis-bisnisnya. “Nanti CEO-nya harus orang teknik atau orang IT. Tapi kayaknya anak-anak kita gak ada yang tertarik ke teknik atau IT ya…Berarti kita cari calon mantu orang teknik atau orang IT.” hahahhaha…“Kaka, nanti kamu cari calon suami orang teknik atau orang IT ya” ….. kkkk. Si sulung langsung cemberut “apa sih abah…geje banget. Insyaf bah, bu….Kaka tuh masih 14 tahuuuuuuun” katanya. Saya godain gimana kalau nanti yang si sulung pilih orang yang jauh banget dunianya dari dunia kita. Misalnya artis, seniman, gitu… “iya ya…gimana ya de?” kata si abah. Dan kita pun ngobrolin itu. Gimana kita bisa “ridho” kalau ada perbedaan “selera” sama anak.

Etapi ya, selain seru, ngobrolin tema ini menurut saya termasuk obrolan yang “berkualitas” loh. Tatarannya “dalam”. Kenapa? kita-saya dan mas- seperti “mengkalibrasi value” kita berdua. Biasanya, “nilai hidup” seseorang itu, kita sadari dan kita pedulikan hanya pada saat-saat tertentu. Misalnya, yang jelas adalah saat menentukan saya mau menerima dia sebagai pasangan hidup saya atau engga. Kita evaluasi nilai hidupnya, match engga sama nilai hidup saya. Kalau  match, oke, menikah. Nah…rutinitas keseharian bisa membuat kita masing-masing mengalami perubahan nilai hidup. Apalagi pada pasangan macam saya. Yang masing-masing ; saya dan mas punya aktifitas profesi  sendiri-sendiri dengan segala macam pengalaman dan informasinya.

Saya banyak menemukan pasangan yang tiba-tiba “kaget”; salah satu atau salah dua nya…telah berubah nilai. Salah satu faktor yang menyadarkannya biasanya adalah pilihan yang terkait anak. Mau masukin sekolah kemana? yang satu pengen ke pesantren tradisional yang satu pengen ke sekolah yang berwawasan internasional. Negeri atau sekolah Islam? dll. Bukan masalah pilihannya. Tapi alasan dibalik pilihan itu yang menunjukkan nilai yang kita pegang. Apa yang penting dan apa yang tidak penting. Ini tidak melulu soal benar dan salah. Tapi soal sejalan atau tidak.

Kenapa ngobrolin calon mantu bisa mengkalibrasi nilai kehidupan saya dan mas? Karena dengan proses “memilih” (secara imajiner ya, da kan kenyatannya mah masih jauh kkk); sebenarnya kita memproyeksikan nilai-nilai kita pada calon-calon pilihan (imajiner) itu. Waktu rame-rame di medsos orang secara vulgar mengeluarkan nilai-nilai kehidupannya di medsos, itu jadi “studi kasus” buat ita. “Mau gak punya mantu yang peduli sama isu-isu kemanusiaan, tapi menganggap cukup menjadi muslim yang baik dengan hanya berperilaku baik, gak peduli aturan fikih”. “Mau gak punya mantu yang “gak peduli” pada pengembangan potensi dirinya, yang penting ritual agama ia penuhi secara sempurna”.  “Kalau gabung madzhab ini?”. “Pergaulannya sama komunitas itu?”

Perbedaan seperti apa dan dalam hal apa yang masih dalam lingkup toleransi kita? yang mana yang di luar lingkup toleransi kita? Kenapa? … Itu pembicaran yang “dalam” menurut saya. Pembicaraan yang berkualitas dan bergizi. Tak jarang kami berdebat panjang lebar…. ada nilai-nilai yang bergeser….lalu masing-masing kita saling mengungkapkan … ada sebagian yang lalu kita sepakat, ada yang sebagian tak sepakat tapi kita merasa “ridho” dengan ketidaksepakatan itu. Ada juga nilai-nilai yang kita seneng banget karena ternyata kita tetap sama. Terutama untuk nilai-nilai yang dasaaaar banget.

quote-the-man-who-is-fortunate-in-his-choice-of-son-in-law-gains-a-son-the-man-unfortunate-democritus-57-73-32Buat saya pribadi, pembicaraan tentang calon mantu ini selain menghibur, memfasilitasi kalibrasi nilai, juga menumbuhkan kesadaran … mulai berdoa untuk memohon pasangan yang baik bagi anak-anak saya. Juga mulai berikhtiar mendidik anak-anak saya untuk menjadi individu-individu yang matang, baik dan benar. Kalau sudah demikian, kita bisa percaya bahwa dia akan memilih pasangan yang “frekuensi”nya tak beda jauh dengannya.

Belajar membangun trust dengan anak. Bagaimana caranya?

Setiap wanita, punya potensi keibuan, punya potensi untuk mengasuh dan mendidik anaknya. Kalau bahasa psikologinya, “attachment system and caregiving system is nature”. Itu harus kita yakini sepenuhnya. Sebagai muslim/ah; kita harus yakin pada ayat suci yang mengatakan bahwa manusia itu diciptakan dengan sempurna, dengan kondisi yang terbaik. Ketika Allah menciptakan seorang wanita, pasti lengkap dengan perangkat untuk mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Sekali lagi, dear para ibu, kita harus yakin ini sepenuhnya !! Mengapa demikian? karena saya pernah mendengar sekelompok ibu meminta saya menjadi pengisi materi parenting di komunitas mereka, dengan kalimat seperti ini; “kita tuh cuman bisa melahirkan aja bu Fitri, tapi blank dalam cara mengasuh dan mendidik”. NO WAY !! gak boleh ada pemikiran seperti itu.

Bagaimana potensi ini tumbuh menjadi perilaku pengasuhan yang PAS dengan anak-anak kita? itulah fungsi belajar. Kalau istilah psikologinya, potensi ini harus “diaktivasi”. Bagaimana cara belajarnya? minimal 2 cara.

(1) Menambah pengetahuan dan pemahaman. Belajar dari narasumber terpercaya mengenai what, why dan how mengasuh dan mendidik. Mulai dari prinsip sampai prakteknya. Nah…narasumber itu banyak. apalagi parenting. Banyaaaaaaaaak banggets. Rasanya siapapun bisa hehe… Ini harus kita filter. Kalau engga, dijamin bingung. Kenapa bingung? karena kita punya seabreg koleksi pengetahuan. Padahal pengetahuan bukan untuk dikoleksi. Pengetahuan untuk disusun sebagai ilmu, lalu diamalkan. Gimana cara memfilternya? pertama identifikasi dulu si narasumber itu memandang anak bagaimana, memandang orangtua bagaimana. Ada yang menganggap anak adalah tabula rasa. Dia adalah kertas kosong, orangtua yang 100% bertanggungjawab membentuknya. Ada yang berpendapat anak itu raja, orangtua harus 100% demokratis. Kalau anak gak mau sholat, ya jangan paksa anak untuk sholat dong. Kita harus demokratis. Ada yang berpendapat bahwa anak itu membawa potensi kebaikannya sendiri, tapi pengarahan dari lingkungan diperlukan.

Mana yang  benar? semuanya bisa benar. Makanya saya bilang tadi: pengasuhan yang PAS. bukan pengasuhan yang BENAR. Karena setiap orang punya nilai sendiri, punya pengalaman sendiri. Makanya saya mah gak setuju sama narasumber parenting yang memberikan tips “teknis” banget. “Ibu harus pinter mendongeng” misalnya. Saya suka stress. Soalnya saya gak bisa banget mendongeng. Narasumber yang enakeun kata saya mah yang memahamkan prinsip lalu memberikan alternatif cara. Misalnya: prinsipnya adalah, menjalin hubungan dengan anak itu harus playfull. Anak harus seneng, ibu juga seneng. Jadi sama-sama menikmati. Alternatifnya bisa dengan cara mendongeng sebelum tidur, atau nyanyi bareng, joget sama-sama, membacakan buku, main lempar bantal, sesuai kepribadian si ibu.

Setelah mengidentifikasi “madzhab” si narasumber, kita sendiri harus bisa mengidentifikasi, keyakinan kita bagaimana. Dijamin bingung kalau informasinya campur-campur. Misalnya kita yakin bahwa anak itu tabula rasa, orangtua yang seratus persen membentuk anak. Denger informasi bahwa kita harus percaya sama anak, pasti bingung. Karena gak nyambung. Narasumber yang percaya bahwa anak bisa dipercaya, didasari oleh asumsi bahwa anak bukan tabula rasa. Anak punya kemampuannya sendiri.

(2) Menghayati melalui pengalaman. Ada banyak hal dalam pengasuhan yang bisa kita hayati dari perjalanan kehidupan kita. Misalnya, inti mengasuh itu menjalin hubungan. Nah, hubungan ini kan terjadi juga antara kita dengan orang lain. Kita pernah jadi anak, menjalin hubungan dengan orangtua kita. Kita adalah istri, yang menjalin hubungan dengan suami kita. Kita adalah sahabat, kita murid, kita menantu. Ada prinsip-prinsip yang sama yang bisa kita hayati dan terapkan dalam hubungan pengasuhan.

Nah,di tulisan ini saya mau cerita soal poin kedua ini. 3 hari lalu, saya menulis mengenai trust anak pada kita sebagai orangtuanya. https://fitriariyanti.com/2017/03/01/menghancurkan-tembok-ketidakpercayaan-anak-pada-kita-catatan-tentang-trust-anak/. Menurut intipan dari dashboard blog saya, sampai pagi ini tulisan tersebut telah dibaca oleh 2370 orang. Moga-moga bermanfaat, bukannya nambah bingung atau nambah stress. Itu aja doa saya mah.

Nah, setelah menulis itu 3 hari lalu, langsung deh saya mengalami kejadian dimana saya berposisi seperti si gadis kecil. Gini ceritanya:

Jadi awal bulan lalu, si abah “memaksa” membelikan saya laptop baru. Hadiah ulang tahun katanya. Harganya muahall buat saya mah. Tapi fiturnya emang keren sih. “ini ringan banget de, biar gak berat bawanya” kata si abah. “ini bisa dilipet jadi tablet loh, biar kalau sambil nunggu atau apa, bisa enak baca jurnal”. “Dirimu suka touchscreen kan? ini pake touchscreen”. Intinya, keren. Sampai saya takut makenya karena saya mah orangnya jorok. Daaaan….kekhawatiran saya terbukti. Beberapa hari lalu, saat saya menutup laptop, krek….suara apa itu? Ya Allah…ada ujung usb di keyboardnya, gak saya perhatikan. Jadi pas saya tutup, ngeganjel, daaaan LCDnya retak ! dikit sih tapi…..haduuuh saya stress banget.

Saya belum berani bilang ke si abah. Tiap si abah pake atau liat laptop saya, saya degdegan, syukurlah si abah mah orangnya gak teliti. Jadi gak ngeuh. Menyimpan rahasia itu sesungguhnya membuat stress teman-teman….saya merenungi beberapa hari ini …apa yang membuat saya segan gak bilang si abah ya?  Takut marah? kalau dia marah wajar sih. Lagian saya percaya marahnya dia gak akan melukai saya. Tapi tetep aja saya akan gak nyaman dengan ekspresi marahnya kalau ia marah. Takut kecewa? yes, itu dia. Dia udah membelikan dengan sepenuh hati, eh saya gak bisa menjaganya. Istri macam apa saya? hehe….

Sampai kemudian, kemarin saya putuskan untuk bilang. Tapi gak berani langsung. via wa haha…. saya bilang saya punya rahasia, mau cerita tapi takut dia marah. Si abah tanya, tapi setelah saya bilang saya belum berani, dia bilang: “kayak si gadis kecil aja haha…ya udah nanti aja cerita kalau udah siap” . Pagi ini, waktu saya ngerjain sesuatu, retak si LCD semakin menjalar. Sampai akhirnya bikin kursornya loncat-loncat sendiri, pokoknya udah gak berjalan dengan baik lah. Akhirnya saya bilanglah ke si abah. Udah nutup muka gak mau liat dia marah. Ternyata si abah gak marah. ….mungkin karena dia tau betapa saya akan gak nyaman kalau dia marah. “Ya udah cari tempat servisnya dimana, trus gantinya bayar sendiri loh ya….lain kali, kalau mau tutup laptop, harus liat dulu” ya, ya, saya tahu saya harus bertanggungjawab terhadap kecerobohan saya. Tapi it’s oke. Ynag pentig adalah, secara psikologis, saya tidak terluka haha…

Nah, kejadian-kejadian ini, dimana kita berposisi seperti anak kita; mungkin sering kita alami. Dari kejadian ini, kita bisa menghayati bagaimana perasaan anak kita saat “takut” sama kita. Saat mereka takut mengecewakan kita. Gimana rasanya ketika kita dikasih waktu sebelum memutuskan untuk “berani” jujur. Gimana rasanya ketika  kejujuran kita diterima dan dihargai. Atau sebaliknya.

Dan hubungan itu, adalah siklus saling mempengaruhi. Saya percaya saya suami saya. Tapi kalau misalnya pagi tadi suami saya marah dan melukai saya secara psikologis, mengatakan bahwa saya gak menghargai dia yang memberikan hadiah mahal, bla..bla..bla…mungkin lain kali saya akan pikir-pikir untuk mau cerita lagi.

Mother soothing ChildJadi, trust itu bukan suatu hal yang saklek. Hitam putih. Ya atau tidak. Trust itu adalah kadar. Kadarnya kadang bertambah, kadang berkurang. Di titik manapun kita berada, kita selalu punya kesempatan untuk meningkatkan kadarnya. Tapi kita harus ingat, menjaga kepercayaan itu sama sulitnya dengan mempercayai seseorang. Maka, kalau anak-anak kita berjuang mengumpulkan keberanian untuk mempercayai kita, maka kita pun harus mengimbanginya dengan mengumpulkan kebijaksanaan menjaga kepercayaan anak kita. Anak berani terbuka, kita bijaksana menghargai, anak semakin terbuka, kita semakin bijaksana menghargai, teruuuus….itulah relationship. Hubungan.

Misalnya, salah satu isu yang sedang hits dalam pengasuhan remaja adalah soal “berbohong”. Beberapa kali, saya menemukan si sulung berbohong. Padahal untuk hal-hal sederhana, yang sebenarnya dia tak perlu berbohong dan saya tak akan marah, misalnya dia punya kerudung yang dia titip beliin ke temennya.  Kenapa si sulung gak jujur aja? melebat dalam ingatan saya, kata-kata seorang remaja yang dikeluhkan sering melakukan kebohongan besar pada orangtuanya. “Kata ibuku aku harus jujur, harus cerita semuanya, apapun itu.  eh…pas aku cerita, malah dimarahin. Ya udah mending aku bohong aja”. 

Marah, memang cara yang sangat mudah. “kalau gak dimarahi dia gak akan ngerti”. Begitu biasanya logika kita. Tapi benarkah anak kita hanya akan mengerti kalau dimarahi? Memarahi anak yang telah berjuang mengumpulkan keberanian untuk jujur, untuk kebaikan mereka atau untuk kepentingan kita? jawaban dari pertanyaan ini, adalah proses bagi kita untuk menjadi bijaksana. 

Menjadi orang tua, sama dengan menjadi anak. Berproses. Belajar. Itu yang membuat pengasuhan menjadi seru dan berkesan. Semangat !!!

Menghancurkan tembok ketidakpercayaan anak pada kita ; catatan tentang “trust” anak

Pagi tadi, si gadis kecil meminta uang pada saya. Tumben, hari selasa. Di sekolahnya, jatah “jajan” untuk kelas 2, kelasnya, adalah hari Rabu. Itu pun maksimal 5 ribu rupiah. “Ada bazar kelas 1 bu” katanya. Saya beri 12 ribu, beserta dompet kecil berwarna ungu bergambar gajah, oleh-oleh temen saya yang jalan-jalan ke Thailand beberapa tahun lalu. Bazar adalah program sekolah. Anak-anak di kelas tertentu berjualan, pembelinya adalah anak-anak dari kelas lain.

Sore tadi, pulang sekolah dia dan si bujang kecil cerita tentang bazar kelas 1. Si gadis kecil mengembalikan dompet kecilnya. Kosong. “Teteh habis semua uangnya? gak hilang? gak dikasih sama orang lain?” pertanyaan itu spontan mengalir. Jujur saja, saya kaget juga uang sebanyak itu habis. Dan kekagetan itu membawa saya pada dugaan-dugaan. Dugaan bahwa uangnya sebagian hilang, dikasih ke temennya atau…. di”palak” sama temennya. Saya mendengar beberapa kali peristiwa pemalakan. Mungkin niatnya bukan malak sih anak-anak itu; mungkin penilaian sosial mereka belum matang. Tapi bahwa ada beberapa anak yang suka memaksa meminta uang pada temannya yang lain, beberapa kali saya dengar. Minggu lalu, si gadis kecil bawa bekal kue tart ulang tahun saya, lalu dia cerita. “begitu teteh buka kotak bekel teteh, eh  *** dan *** (dua anak laki-laki) langsung menyerbu. Engga minta, langsung ambil dan abisin kue teteh”. 

Sehabis maghrib tadi, setelah menemaninya belajar dan membacakan buku untuk si bungsu, saya bilang ke si gadis kecil; “teteh, sini. Ibu mau bicara soal uang yag tadi pagi ibu kasih. Teteh cerita ya, uang itu habisnya gimana”. Di luar dugaan saya, dia langsung menangis tersedu-sedu. Baru minggu lalu saya belajar tentang emosi primer dan emosi sekunder. Perasaan yang tampak dan perasaan yang menjadi akarnya, di workshop family and couple therapy. Dia menangis; saya belum tau pasti kenapa. Yang jelas ia sedang mengalami perasaan tidak nyaman. Takut dan tidak nyaman.

Saya peluk dia. Dalam situasi seperti itu, saya tau dia butuh rasa nyaman. Saya juga kasih ia waktu  Beberapa kali saya tanya: “teteh udah siap cerita?” dia menjawab dengan tangisan. 30 menit. Setiap kali tangisnya berhenti, saya tanya ia sudah siap atau belum. Dan kali ketiga, sambil menangis dia menjawab: “tapi nanti ibu marah”. Saya peluk lagi sambil bilang “ibu janji ibu gak akan marah”. Siklus itu, dia berhenti nangis-saya tanya udah siap atau belum-lalu dia jawab “nanti ibu marah” sambil nangis lagi, berlangsung 3 kali. 30 menit lagi.

Sambil mengeratkan pelukan sebagai pernyataan bahwa saya tak akan marah apapun yang ia ceritakan, saya merenung. Saya tahu, saat itu, ada tembok ketidakpercayaan yang membentengi saya dan si gadis kecil. Dan rasa percaya itu, tumbuhnya tak bisa dipaksakan. Tidak bisa diyakinkan dengan kata-kata. Ia perlu tumbuh perlahan dalam hati, perlahan sampai cukup memberikan kekuatan. Itu proses yang tengah terjadi pada si gadis kecil. Apa yang membuatnya tak percaya pada saya?

Ada banyak hal yang tidak saya sadari. Beberapa hari ini saya sedang PMS. Gabungan dari rasa kram di rahim berhari-hari, nyeri payudara plus “sumbu pendek” membuat saya hobi “marah-marah gak jelas”. Sampai kata si bungsu, “ibu sekarang jadi pengesel”. Waktu saya tanya apa itu “pengesel”, dia bilang: “iya kan kalau orang yang suka marah-marah namanya pemarah. Nah, yang suka sering kesel namanya pengesel. Ibu pengesel”

Sikap saya itu, bisa jadi membuat tembok ketidakpercayaan itu hadir. LaLu intonasi dan bahasa nonverbal saya saat saya bertanya dan kaget ketika melihat uangnya habis, bisa juga membuat tembok itu semakin tinggi. Menyadari hal itu, saya bilang ke si gadis kecil: “ya udah engga apa-apa kalau teteh belum siap cerita. Tapi kalau teteh udah siap, teteh cerita ya”.

10 menit kemudia setelah memeluk saya erat, terdengar suara pelan si gadis kecil. “tadi kan teteh dikasih uang 12ribu sama ibu” katanya sambil menunjukkan 10 jarinya, dan meraih 2  jari saya. “Terus teteh beli marshmallow 2000. Terus beli nustrisari 2, 4000″. bla..bla..bla… dia jelaskan satu persatu. Terakhir, sambil terisak lagi dia sampaikan kalau ia memberikan uang 500 ke sahabatnya, yang sudah saya kenal baik.

Saya peluk lagi. “Oh gitu…terus, kenapa teteh takut ibu marah?”.Dia nangis lagi. Saya peluk lagi. “iya, teteh takut ibu marah karena teteh jajannya banyak” katanya. “terus teteh kasihin uangnya 500 sama ***** “(dia sebutkan lagi nama sahabatnya).

Sambil saya peluk, lalu saya sampaikan “maaf ya, kalau ibu bikin teteh jadi takut. Tadi ibu khawatir kalau uang teteh hilang, atau teteh dimintain uang dipaksa sama temen teteh. Kalau uangnya habis karena bazar sama dikasih sama ***** sih gak apa-apa” kata saya. “Yang engga boleh itu kalau teteh dipaksa diminta sama teman”

………………

TRUST. Kepercayaan. Saya selalu meyakini bahwa itu, adalah hal yang sangat mahal. Mahal, tak mudah untuk mendapatkannya. Priceless.TRUST adalah inti dari sebuah hubungan. Hubungan apapun. Antar siapapun. Inti dari cinta yang matang dan dewasa. Bahkan, dalam teori attachment, trust ini adalah inti dari kehidupan. Dan…saya sedikit banyak setuju dengan hal ini. Secara hakiki, kita tidak akan hidup nyaman tanpa rasa percaya pada orangtua kita, teman kita, pasangan kita, Allah kita. Eh tunggu…tanpa rasa percaya, bahkan kita tak akan bisa punya teman. Tak akan bisa menjalani hubungan dengan pasangan. Kita akan terus merasa rapuh, curiga, merasa sendirian.

Saya ingin mengulanginya lagi. TRUST itu, priceless karena ia tak bisa ditumbuhkan secara instan. Ia tak bisa diyakinkan oleh siapapun dengan kata-kata. Ia harus tumbuh perlahan dalam hati. Dan ia sensitif. Konon, diri kita ini berlapis-lapis seperti bawang. Mempercayai seseorang berarti berani membuka lapis demi lapis diri kita, membuka diri kita yang paling dalam. Maka, kepercayaan hanya akan tumbuh pada seseorang yang kita yakin tak akan melukai kita. Kepercayaan akan kita berikan pada seseorang yang kita yakin akan selalu menerima kita, betapa buruknya pun kita. 

Sabagai seorang ibu, saya menghayati…memelihara TRUST anak-anak kepada saya, menumbuhkan TRUST saya kepada mereka, adalah salah satu perjuangan terberat. Ibu, adalah pengejawantahan rahman-rahim; cinta tak bersyarat Allah di muka bumi. Ibu, adalah manusia yang ketika orang lain di seluruh dunia menolak seorang anak, ia  akan menerimanya. Ibu, adalah manusia yang ketika seorang anak melakukan kesalahan dan semua orang di dunia menutup pintu, ia merentangkan tangannya untuk memeluk. Ia adalah perwakilan rahman-rahimNya Allah di muka bumi ini. Melalui sikap mencintai tanpa syarat seorang ibu-lah anak bisa menghayati rahman-rahimNya ALlah.

Dan mempertahankan ikatan TRUST itu, tak mudah. Bagaimana tidak? anak usia prasekolah dan anak SD, adalah anak yang paling mudah tumbuh rasa percaya pada orangtunya. Anak SMP? Remaja? Pfuih….kita akan menghadapi tantangan super duper berat. Tapi liat apa yang saya alami… yang katanya mudah pun…tak mudah ternyata.

Saya selalu merasa ingin menshare kejadian “kecil” seperti ini pada teman-teman, terutama  para ibu yang tak “kenal” dengan psikologi. Saya ingin menunjukkan…lihat… saya, seorang psikolog, akademisi psikologi, yang bergelut dengan tema TRUST ini dalam klien-klien sehari-hari, dalam bacaan-bacaan…namun pada saat mempraktekkannya, tak semudah itu.

Maka, kalau teman-teman mengalami hal yang sama….it’s oke. Itu adalah hal yang wajar. Jangan merasa “saya bukan ibu yang baik”.jangan berpikri “saya tidak mampu”. Kita- saya, teman-teman, harus punya “self compassion”. “Belas kasih terhadap diri sendiri”. Menerima diri sendiri, dan percaya bahwa kita bisa belajar.

Saya bukan pengikut madzhab parenting yang mengatakan bahwa ibu itu harus “sempurna”; harus “kuat di mata anak-anak”. Perenungan saya membawa pada satu kesimpulan bahwa kita punya sebuah insting. Insting untuk melindungi anak kita. Sikap marah pada anak saat anak kita di bully, Sikap memaksa pada anak kita untuk menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya, sikap memaksa anak untuk mengikuti les ini les itu yang tak disukai anak, sikap mengkritik anak saat anak kita yang pintar tak mendapat nilai sempurna, semua itu sebenarnya didorong oleh insting untuk melindungi. Untuk melindungi, untuk meyakinkan bahwa anak kita mendapat bekal terbaik untuk kehidupannya.

Ibu yang baik bukan ibu yang tak pernah berbuat kesalahan. Bukan ibu yang tak pernah marah, bukan ibu yang selau terasa “sempurna”, bukan ibu yang tak pernah ngomel. Kita adalah emak-emak biasa yang tak biasa (haha…mulai absurd nih). Ketidak biasaan kita adalah karena kita selalu berusaha untuk peka. Peka ketika tembok ketidakpercayaan mulai tumbuh dan menghalangi hubungan kita dengan anak-anak kita. Dari mana kita tahu itu? dari pengalaman dan penghayatan kita.

Si sulung, pernah menceritakan masalah yang dialami seorang temannya. Beberapa hari, tema ceritanya sama. Saya penasaran. Saya baca chat di hapenya dengan temannya itu. Lalu saya tahu, masalah temannya sangat berat. Saya tawarkan untuk membantu. Dia tahu saya membaca chat hape tanpa izinnya. Setelah itu,  si sulung “shut down”. Tak pernah lagi cerita tentang temannya tersebut. Ia merasa tak aman dan tak bisa percaya lagi pada saya. Saya membaca chatnya tanpa izinnya. Saya memasuki wilayah privacynya. NIat saya bagus, tapi apa yang saya lakukan melanggar batas buatnya. Perlu waktu berbulan-bulan bagia saya untuk menumbuhkan lagi kepercayaaanya pada saya. Dengan menahan diri sekuat hati untuk tak baca chat hapenya, tak baca diarynya, tak memaksa ia menceritakan apa yang tak ingin ia ceritakan; sampai ia sedikit-sedikit mulai mau cerita lagi.

Si bujang kecil, pernah saya ceritakan dulu, pernah beberapa waktu tidak mau menunjukkan nilai-nilai ulangannya. Pernah “meledak” dan bilang pada saya kalau dia gak mau jadi anak pinter, maunya jadi anak bodoh aja. Kenapa? karena ketika nilai-nilainya “nyaris” 100, ia dapat pujian dari saya, tapi reaksi nonverbal saya gak nyambung. Ia bisa menangkap bahwa saya tak jujur merasa “bangga” pada upayanya. Perlu sekitar satu semester buat saya untuk menumbuhkan rasa percayanya kembali. Setiap ada ulangan yang dibagikan, ia akan menyembunyikannya. Setelah satu semester, baru ia berani menunjukkannya. Saya ingat, dengan ragu ia berkata: “bu, ulangan mas  jelek banget. 89”. Satu semester, adalah waktu yang cukup lama buat saya belajar tulus. “gapapa, tapi ibu liat mas  belajarnya sungguh-sungguh banget waktu itu” . “Iya ibu….nih liat…soalnya susaaaah banget …. itu teh cuman mas yang nilainya diatas 80. Ada dua orang yang 76, trus yang lainnya remedial”. Hiks, waktu itu saya asa pengen nangis. Saya bisa merasa kepercayaannya pada saya sudah mulai tumbuh. Ia berani cerita tanpa takut lagi “terlukai” oleh tanggapan saya.

Bahkan si bungsu pun, pernah tumbuh tembok ketidakpercayaannya pada saya. Waktu itu beberapa hari saya di rumah. Pagi hari, setiap melihat saya tak memakai “baju pergi”, ia langsung berbinar-binar: “Ibu gak ke kampus? ibu di rumah?”. “iya, ibu akan tunggu dede pulang sekolah di rumah, di meja kerja ibu ya” jawab saya. Jam 13, terdengar ia membuka pintu. “ibu…dede datang”katanya. Saya iseng. saya ngumpet. Maksudnya bercandain.  Si bungsu naik ke lantai dua, mencari-cari saya. Lalu nangis. Saya keluar dari tempat saya sembunyi, memeluknya. “Ibu bohong. Katanya ibu mau nunggu dede pulang sekolah di meja kerja ibu, tapi ibu engga ada” begitu katanya. Tau gak….berbulan-bulan setelah itu, setiap kali saya “berjanji”; menjemput dia ke sekolah, beliin ini itu sepulang dari kampus, ia tak percaya. Bahkan kalau sedang beraktivitas bersama, lalu tiba-tiba saya menghilang entah ke kamar mandi atau ke ruanagn lain, ia akan “panik” mencari. Berkali-kali saya bilang saya tak akan mengulangi apa yang saya lakukan, bahwa saya tak akan meninggalkannya tanpa bilang. Tapi kata-kata, memang tak pernah bisa menumbuhkan kepercayaan. konsistensi yang bisa menumbuhkannya.

Saya pernah merasakan rasa tidak percaya pada seorang figur otoritas. Saya tau persis rasanya “tidak aman”. Kita punya mekanisme otomatis untuk melindungi diri kita ketika kita memprediksi kita akan terlukai. Secara psikologis ya. Kita akan menutup diri, kita akan menghindar, kita akan menyembunyikan diri kita yang sesungguhnya.

Buat saya, kepercayaan anak-anak adalah hal yang mahal. Beberapa hari yang lalu saya main “johari windows” sama anak-anak. Saat meminta mereka menyebutkan kejelekan saya, mereka spontan sekali. Bilang saya cerewet lah, ini lah, itu lah…si gadis kecil bahkan memperagakan omelan saya. Haha….saya senang sekali. Kepercayaan akan memunculkan keterbukaan dan rasa aman. Keterbukaan itu yang kita butuhkan bagi anak-anak. Kita tak pernah tau apakah yang kita lakukan benar atau salah, tanpa umpan balik dari anak-anak. Dan anak-anak, tak akan berani memberikan umpan balik saat mereka merasa tidak aman.

Sebagian dari diri anak itu adalah misteri. Tak bisa dijelaskan oleh teori apapun. Sebagian besar tugas saya di ruang konsultasi pada masalah keluarga adalah, menjadi mediator untuk menyampaikan perasaan terdalam seorang anak pada orangtuanya. Perasaan-perasaan “kecil” yang berdampak besar.

35478217-homme-et-de-l-enfant-silhouette-t-te-avec-labyrinthe-symbolisant-processus-psychologiques-de-la-comp-banque-dimagesYa, kita adalah para ibu. Penjelmaan rahman-rahimNya Allah di muka bumi. Kita akan terus belajar untuk menjadi peka saat tembok ketidakpercayaan mulai tumbuh diantara kita dan anak-anak. Kita akan terus berjuang untuk menjadi berani menghancurkan tembok itu dengan mengakui kesalahan dan bersabar menunggu kepercayaan itu tumbuh kembali. Sehingga anak-anak kita, selalu percaya bahwa di dunia ini, ada seseorang yang selalu menyediakan pelukan. Tempat ia bisa membuka dirinya tanpa topeng apapun. Sejauh apapun ia pergi, seburuk apapun yang ia lakukan, seberat apapun yang ia alami; ia tak akan putus asa, ia tak akan patah arang. Karena ia yakin punya tempat untuk “kembali”.

Karena cinta tanpa syarat, itulah yang dimiliki ibu pada anaknya. Hanya saja, kita harus selalu belajar untuk meyakinkannya pada anak-anak kita. 

Previous Older Entries