Working mom : Karena anak kita “hidup”


“Kalau ada yang salah sama anak-anak, pasti deh salah ibunya”. Begitu curhat seorang teman saya. Mendengar kalimat itu, saya nyengir sambil garuk-garuk gak gatel. Kalau di literatur parenting, pandangan itu sudah tertinggal 30an tahun. Pandangan bahwa orangtua khususnya ibu-lah yang “membentuk” anak, adalah pandangan 30 tahun an ke balakang.

“Apalagi kalau ibunya kerja. Pasti deh…langsung terdengar kalimat: ibunya sih kerja” curhat teman saya yang lain, yang seperti saya, memilih untuk beraktivitas di luar rumah. Saya nyengir juga mendengar curhatannya. Iya, saya juga masih sering sih mendengar kalimat itu. seolah-olah “ibunya sih kerja” adalah jawaban dari semua permasalahan yang muncul pada anak. Sedikit banyak, memang kalimat-kalimat itu adalah stressor tambahan buat ibu bekerja. Selain stressor lain misalnya dinilai lebih memilih uang dibanding anak, dinilai lebih menghargai aktualisasi diri daripada anak.

Sejauh yang saya tahu sih…yes…ketika anak merasa tidak dicintai dan tidak berharga, perasaan itu akan menjadi akar yang menumbuhkan tunas-tunas “masalah perilaku”. Dan ibu yang meninggalkan anak sekian jam perhari, tidak selalu ada secara fisik mendampingi anak di rumah, memang hal yang paling kasat mata bisa disalahkan atas tumbuhnya rasa tidak dicintai dan tidak berharga pada diri anak.

Meskipun saya punya pertanyaan polos; apakah PASTI anak yang ditinggalkan oleh ibunya sekian jam sehari, anak yang ketika pulang ke rumah ibunya belum datang, akan merasa ia tidak dicintai dan merasa ia tidak berharga ? Apakah PASTI anak-anak itu “marah” pada ibunya? lalu “balas dendam” dengan menciptakan beragam masalah?

Saya lalu ingat cerita seorang senior saya. Baliau seusia ibu saya. Baliau pernah bercerita bahwa setelah anaknya lulus sekolah, ia baru tahu bahwa anaknya sering sekali dipanggil ke BK (bimbingan konseling) karena “bermasalah” bermasalah gitu lah….nakal-nakal anak jaman dulu. Ketahuan naik motor, bolos pas jam pelajaran, dll. Senior saya tersebut tahu dari gurunya. Senior saya kaget karena ia tidak pernah tahu. Padahal sekolah tersebut ketat sekali selalu memanggil orangtua anak yang melanggar peraturan. Lalu si guru sekolah itu cerita. Setiap kali ia memberi surat untuk memanggil senior saya, anak senior saya tersebut nangis dan bilang: “jangan pak, tolong jangan panggil ibu saya ke sekolah. Saya bukan takut dimarahi ibu saya. Tapi saya kasian sama ibu saya pak. Ibu saya sudah banyak kerjaan di kantornya. Jangan bebani lagi pikiran dia dengan masalah saya. Saya mau melakukan apapun sebagai konsekuensi perilaku saya”. Si guru bercerita, bahwa bukan sekali dua kali si anak itu mau membersihkan toilet seluruh sekolah, asal ibunya tidak dipanggil ke sekolah. Dan beberapa cerita lagi senior saya sampaikan sambil matanya berkaca-kaca saat menggambarkan betapa anaknya “berempati” dengan kondisi ibunya.

Serupa tapi tak sama, saya jadi ingat kejadian tahun lalu. Saat itu ada acara pentas seni. setiap kelas harus menampilkan pertunjukkan. Di wa grup, saya dapat info kalau  kelas si bujang kecil akan menampilkan beragam profesi. Mulai H-3 acara, para ibu di wa grup heboh bertanya dimana harus mencari beragam kostum. Kostum tentara, pilot, pemadam kebakaran, dokter, dll dll. Kok si bujang kecil gak bilang apa-apa ya? waktu itu saya memang sedang padat. Sedang jadi panitia sebuah acara besar. H-1 saya tanya si bujang kecil: “Mas, kok ibu-ibu lain heboh cari kostum? Mas harus pake kostum apa?” si anak kelas 4 itu menjawab; “Mas pilih jadi pemain bola bu. Sengaja biar ibu gak usah susah cari kostum kemana-mana. Nanti ibu harus carinya malem-malem. Kasian ibunya. Kalau kostum pemain bola kan udah ada” katanya. Hwaaa….hiks…waktu itu saya langsung sesenggukan.

Sebenarnya anak itu berhak untuk “gak mau tau” memilih jadi ini itu dengan kostum yang aneh.  Sebenarnya dia punya hak untuk marah kala saya misalnya terbatas waktu untuk mencari kostumnya. Tapi saya merasa ia memilih untuk menerima dan memahami keadaan ibunya.

Apakah ia sedih? apakah ia menderita? apakah ia merasa tidak dicintai? apakah merasa tidak berharga? bukan kita yang bisa menjawabnya. Tapi mereka. Anak-anak itu. Para peneliti di bidang parenting terkini, sudah sepakat bahwa anak bukanlah individu pasif, yang hanya “menerima perlakuan” dan “otomatis” terbentuk oleh perilaku orangtua. Mereka aktif memaknakan perilaku orangtua mereka.

Itulah sebabnya kita melihat keragaman: Ada orangtua yang sangat ketat dan disiplin, anaknya ada yang disiplin, ada yang engga. Ada orangtua yang mencontohkan menjadi sholeh, anaknya ada yang sholeh ada yang engga. Ada orangtua yang menunjukkan besarnya rasa cinta dengan memberikan perhatian, anaknya ada  yang merasa dicintai ada yang merasa dibatasi. Ada anak yang hanya ketemu ayahnya setahun sekali karena ayahnya mencari nafkah, bisa mencintai ayahnya karena menghayati ayahnya bekerja keras untuknya. Tapi ada anak yang ayahnya selalu ada untuknya, malah menghayati ayahnya tidak mempercayainya. A-Childs-Mind-Quote-680

Anak adalah individu aktif yang memaknakan perilaku orangtuanya. Maka, penghayatan anak adalah kuncinya. Oleh karena itu, yang harus kita upayakan bukanlah memberikan cinta dan kasih sayang  dalam bentuk “menurut kita”. Tapi, mencintai dan menghargai anak “menurut anak”.  Kuncinya? kesungguhan dan ketulusan, menurut saya. Kesungguhan mencari cara untuk mencintai mereka, ketulusan dan kerendahan hati mencintai mereka, sesuai dengan keadaan kita. 

Khusus untuk ibu-ibu bekerja: yups, memang kita harus “ekstra” berusaha untuk memahamkan bahwa -meskipun kita meninggalkan mereka setiap hari kerja, bukan berarti mereka tak penting. Mereka penting, dalam semesta kepentingan yang lain. Kita harus “ekstra” berusaha untuk memahamkan bahwa cinta itu banyak bentuknya, bukan hanya berbentuk  keberadaa kita saat mereka pulang sekolah. Kita perkenalkan cara kita mencintai dan menghargai mereka sesuai dengan kondisi kita. Jangan lupa: mengecek penghayatan mereka.

Kita tunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh mencintai mereka, sesuai dengan kondisi kita. Kita tunjukkan juga bahwa kita tulus mencintai mereka. Yakinlah, mereka bukan angka-angak yang memenuhi hukum jika a maka b. Mereka adalah manusia kompleks. Makhluk Tuhan yang paling sempurna. Yang aktif dalam merasa dan meng-akal. Jangan pernah berpikir bahwa mereka adalah individu yang pasif, yang tergantung, yang membutuhkan untuk “diisi” dan “dibentuk” sepenuhnya oleh kita. Pandangan itu, akan membuat kita stress. Bener.

Maka, cintai dan hargai mereka dengan sungguh-sungguh, tulus dan alami; kita ngobrol soal penghayatan dan perasaan mereka sambil memeluk mereka dengan erat dan hangat, sambil mengobrol dan bercanda ria dengan mereka. Kita  mengobrol tentang perasaan mereka dan perasaan kita. Mengobrol tentang sedihnya mereka tak dijemput tiap hari oleh kita, juga tentang sedihnya kita yang tak bisa menjemput mereka tiap hari. Tentang senangnya mereka saat dibawain oleh-oleh meskipun cuman sebutir permen, juga tentang bahagianya kita memberikan permen sepulang kerja untuk mereka. Tentang pentingnya kegiatan mereka, juga tentang pentingnya kegiatan kita. Tentang kebahagiaan mereka beraktifitas dengan teman dan guru,  juga kebahagiaan kita beraktifitas dengan teman, klien, pelanggan, maupun bos kita. Tentang kangennya mereka terhadap kita, juga kangennya kita terhadap mereka.

Sungguh…anak-anak kita, bukanlah individu pasif yang harus kita “beri”. Kita pun, bisa mendapatkan sesuatu dari mereka. Mereka, punya kapasitas untuk menilai dan bijaksana.

sumber gambar: http://www.lifehack.org/338675/18-best-parenting-quotes-live

upacara bendera

WhatsApp Image 2016-08-15 at 10.49.17 AMIndonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg’riku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.

Setiap hari Senin kalau kebetulan punya waktu agak luang, saya selalu menyempatkan menunggui acara upacara bendera. Biasanya di sekolah si bungsu, di TK. Seruuuu banget rasanya liat para ibu guru mengkondisikan sedemikian rupa anak-anak usia 2,5-6 tahun itu untuk mengikuti sebuah prosesi selama kurang lebih 30 menit. Saya suka senyum-senyum sendiri sambil berkaca-kaca melihatanak-anak kecil itu menyanyikan lagi Indonesia Raya dan lagu-lagu wajib nasional dengan penuh semangat. Dan bagian “sambutan pembina upacara”; sama sekali tidak membosankan seperti saya merasa jaman dulu pas sekolah. Lha wong Ibu Kepala Sekolah akan mulai dengan kata-kata: “Assalamualaikum….selamat pagi teman-teman…..gimana kabar hari ini? siapa yang tadi pagi bangun pagi? siapa yang tadi pagi mandi dan gosok gigi? Siapa yang mau cerita kemarin sabtu minggu pergi kemana sama mama papanya?” … asiiiik banget.

Setelah upacara bendera selesai, biasanya akan diputar musik lagu-lagu anak-anak yang menggembirakan. Maka, anak-anak itu pun bersama para gurunya, akan dengan riang bernyanyi. Lagu “ayo sekolah”, lagu Mars dan Hymne TK itu, saya juga suka ikutan nyanyi dan ikutan riang hehe…. Pernah suatu kali saya ngobrol sama ibu Kepala Sekolah, katanya prosesi upacara itu sengaja karena selama 2 hari weekend anak-anak gak masuk sekolah, rutinitas terganggu, biasanya senin pagi anak-anak agak rewel. “Biar dipanaskan dulu Mam” kata ibu. Saya jawab pake dua jempol.

Pagi tadi, karena kebetulan abahnya tidak ke luar kota, kami bersepakat si abah yang anter si bungsu, ibu sekalian ke Jatinangor anter si bujang kecil dan si gadis kecil. Kebetulan sejak beberapa hari lalu si bujang kecil heboh, dia degdegan karena jadi pemimpin upacara. Dia beberapa kali nanya: “Kepada bendera Indonesia atau bendera merah putih sih bu, pas hormat grak?”. Saya dan abahnya jawab: “Waktu ibu dan abah SD, 28 tahun yang lalu sih kepada bendera merah putih mas” kkkk

Si sulung pun memberikan saran pada adiknya gimana biar gak degdegan nanti di depan teman-temannya, Gimana biar gak takut salah. Haha….padahal 2-3 tahun lalu, waktu dia jadi etugas upacara di SDnya, jadi pengibar bendera, juga gak kalah heboh kkk. Apalagi pas kebagian jadi penarik bendera merah putih. Dulu sampai maksa latihan, ibu sama si bujang kecil jadi partner. Latihan baris, latihan narik bendera….

Saya sendiri tidak keberatan karena saya tahu betul rasanya degdegan kalau jadi petugas upacara. Maklum, selama SD-SMP SMA, sering jadi petugas; pengibar bendera, pembawa acara, pembaca UUD, pembaca doa dan ajudan. Tauuu betul degdegannya.

Hiii…bahkan ada satu pengalaman upacara yang tak akan terlupakan sampai sekarang. Jadi waktu SMA kelas 3 ya, ceritanya saya jadi pembawa acara. Nah, saya liat, kertas tulisannya udah robek-robek. Maka berinisiatiflah saya bilang ke wali kelas, mau ketik ulang tulisannya. Jadi saya bawa pulang tuh…Nah, pas hari Senin…..ternyata saya telat dapat angkot…jadi saya telah 30 menitan. Upacara gak bisa dimulai…bukan karena petugas MC nya yaitu saya belum datang, tetapi karena naskah yang mau dibacakan juga gak ada karena saya bawa haha…aduh, itu ekspresi marah walikelas saya di depan gerbang, masih nempel sampe sekarang kkkkk

Ah, mungkin itu sebabnya ya…saya suka menyaksikan anak-anak upacara bendera karena sambil nostalgia kkk…Tapi serius ya, menurut saya upacara sebagai salah satu cara untuk mengenalkan kebangsaan itu penting loh. Kapan lagi anak-anak terpapar oleh pengibaran bendera bangsa, menyanyikan dengan tegap lagu kebangsaan, menyanyikan lagu-lagu perjuangan….

Dulu pernah saya bantu di sebuah SDIT. Nah, di sana gak ada upacara. Katanya diragukan bahwa upacara bisa menanamkan kecintaan terhadap bangsa. Iya sih, memang gak pernah ada evaluasi terhadap hal itu. Tapi pas saya tanya, di sekolah itu gantinya apa untuk menanamkan kecintaan terhadap Indonesia? gak ada. Yaaaah……Waktu itu, sempat berlanjut jadi diskusi sih, karena dengan polosnya saya bertanya:“Apakah menurut sekolah ini rasa cinta tanah air tidak perlu?”

Kenapa saya tanya begitu, karena saya tahu bahwa ada sekolah-sekolah swasta yang memang pendirinya tidak merasa perlu siswa-siswinya mencintani tanah air. “Yang perlu ditanamkan adalah mencintai agamanya bu” demikian pernah saya dengar. Oleh karena itu, siswa-siswi di sekolah tersebut, kalau ditanya…gak kenal apa itu artinya proklamasi, bapak proklamator siapa mereka gak tahu. Panglima Sudirman? gak kenal. Mereka hanya tahu nama-nama pahlawan agama mereka yang bertempur di sana, di tanah yang jauh dari tempat mereka lahir dan dibesarkan.

Sebenarnya saya punya pertanyaan lugu yang tidak sempat saya tanyakan pada pengelola sekolah itu. “emang gak bisa gitu Pak, cinta agama sekaligus cinta bangsa?” . “Gak bisa gitu cinta Islam sekaligus cinta Indonesia?”. “Gak bisa gitu, jadi seorang Kristiani yang baik dan cinta pada negaranya?”. Pagi tadi, di sekolah si bujang kecil dan si gadis kecil, saya melihat alur upacaranya berbeda. Ada pembacaan tasmi Qur’an. Anak yang terpilih melantunkan hafalan Qur’an. Hafalan itu yang biasanya dibahas oleh Pembina Upacara mengenai arti dan penjabarannya dalam kehidupan anak-anak. Rasanya itu adalah salah satu bukti bahwa kita bisa kok cinta tanah air sekaligus cinta agama.

Saya dan suami, termasuk orangtua yang menanamkan nilai cinta tanah air pada anak-anak. Apakah mencintai tanah tempat kita lahir, dibesarkan, tempat kita tumbuh bersama orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita PASTI akan bertentangan dengan identitas kita sebagai muslim? Saya kok melihat dan merasa tidak ya. Bahkan menunjukkan betapa indah negara kita, betapa kaya dan uniknya budaya bangsa kita, adalah keMahaanNya, yang bisa dengan mudah kita tunjukkan pada anak-anak kita.

Apakah kalau mencintai nusantara artinya kita akan SELALU berada di luar jalan sunnah Rasul? ya, kalau yang dimaksud sunnah Rasul adalah memakai baju seperti itu, warnanya itu, ngajinya harus kesitu. Tapi kalau sunnah Rasul kita pahami sebagai  menutup aurat untuk menjaga kehormatan diri,  beribadah sesuai tuntunannya, bertenggang rasa,  menebar senyum,  berbagi…. maka kita akan merasa bisa banget mencintai agama dan negeri ini sekaligus.

I Love my religion and I love my country.

Wallahu alam.

 

 

 

 

 

Mengapa anak harus dibuat “senang?” dan “manja”?

Ada minus plus jika kita punya teman yang amat beragam dalam hal nilai kehidupan yang dipegangnya.  Buat saya sendiri, minusnya adalah bahwa kita sering “terbentur-bentur”; mendapatkan informasi, opini dan sikap  yang super ekstrim, yang membuat kita menjadi terus mengevaluasi nilai kita sendiri. Plusnya apa? Plusnya adalah, cakrawala wawasan kita jadi luas, dan kita selalu dalam posisi “bergerak” untuk mencari gimana yang “pas” dan “yang paling benar” menurut kita.

Ya, saya punya teman yang amat beragam. Sebenarnya tak cukup  menggambarkan keberagamannya melalui  satu garis linear saja. Tapi okelah, untuk sederhananya, kita gambarkan dalam satu garis linear.

Saya punya teman beragam, dari yang menganggap selain ustadznya dia adalah salah, sampai dengan teman yang menggap semua agama, termasuk tak beragama adalah “sama”. Saya punya teman beragam, dari yang sangat serius menekuni ilmu kedokteran sampai ia menganggap hasil riset  itu di atas agama, sampai dengan teman yang menganggap bahwa memvaksin anak itu sama dengan mendahului takdir Allah. Saya punya teman dari yang berpendapat bahwa anak itu harus diberikan batasan seketat-ketatnya, sampai dengan teman yang berpendapat bahwa anak itu harus diberikan kebebasan sebebas-bebasnya. Dan, beragam teman yang berbeda kutub secara ekstrim dalam beragam dimensi kehidupan lainnya.

Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah, dua titik ekstrim mengenai pendidikan anak.

Salah satu isue dalam dalam psikologi pendidikan dan pengasuhan adalah, bagaimana orangtua/guru perlu memahami dan  “mempertimbangkan” karakteristik perkembangan anak. Dalam buku-buku introduction to Educational Psychology, dalam bagan yang menjelaskan bagaimana aplikasi psikologi dalam bidang pendidikan, selalu akan ditemui “learner characteristics”. Bahwa guru, harus memahami karakteristik anak. Maka, muncullah beragam macam metode yang akarnya berawal dari sudut pandang ini. Beragam macam metode.  Tujuannya adalah, agar anak “senang” dan “menikmati” proses belajar. Asumsinya adalah, jika anak “senang” dan “menikmati”, maka apa yang diajarkan akan “nempel”. Baik itu berupa pengetahuan, pemahaman, sikap maupun keterampilan.

Selama ini, saya berada di arus ini.

Lalu beberapa waktu yang lalu, seorang teman menyampaikan sebuah pernyataan yang “mengobrak-abrik” apa yang sudah ada di kepala saya. Menurut teman saya itu, arus pendidikan saat ini, membuat anak-anak menjadi “manja”. Anak “dimanjakan” dengan beragam metoda pembelajaran yang menyenangkan. Tak ada hukuman yang “membuat jera”. Padahal kalau liat jaman dulu, orang-orang “besar” itu belajr tidak dengan cara yang menyenangkan. Menurut teman saya, justru anak-anak ini harus dibuat “bosan”. Biar “ambang kebosanan” mereka jadi tinggi. Tidak selalu menunutut orangtua atau guru untuk mencari 1001  cara agar mereka senang belajar. Lalu ia menunjukkan sebuah share-an berita yang menjelaskan adanya sebuah sekolah yang menganut madzhab “anak jangan dibuat manja”.

Hmmm….bener juga ya…bener kan teman-teman? gimana menurut teman-teman? Argumennya terasa benar…tapi …jujur saja, sulit bagi saya menerimanya. Dari pernyataan teman saya tadi jadi muncul pertanyaan: kenapa sih anak harus dibuat senang dengan kegiatannya? bukankah itu membuat mereka menjadi manja? Kenapa tidak kita “paksa” anak kita untuk mengikuti kegiatan itu?

Saya terus berusaha cari jawabannya, dan hari ini saya dapat jawabannya.

Begini temans….kalau kita renungi…apa sih yang sebenarnya kita harapkan dari anak kita? bahasa agamanya bahagia dunia akhirat. Bahasa psikologinya, well being. Sejahtera. Lagi ngehits nih penelitian children well being di Indonesia. Secara sederhana orang yang well being atau sejahtera bisa diartikan bahagia dan puas dengan kehidupannya, implisit di dalamnya bahwa mereka mampu memenuhi berbagai tuntutan kehidupan sesuai dengan perkembangannya, dengan baik.

36348017-media_httpwwwfuturity_ACizpNah, dalam bahasa well being pada anak, ada satu istilah yang membuat saya kesengsem, yaitu istilah well-becoming. Ada dimensi waktu saat kita membahas kesejahteraan anak. Bahwa mereka, tak hanya harus kita bantu untuk sejahtera saat ini. Tapi sejahtera dalam kehidupannya mendatang. Kalau dalam pandangan psikologi, kehidupan mendatang adalah selama anak hidup.  Dalam sudut pandang agama, sampai pada rentang kehidupan setelah kematian.

Maka, dalam beragam tataran praktisnya, apapun yang kita lakukan pada anak,  selain kita harap bisa melihat dampak positifnya pada saat ini, kita juga harus meninggalkan “jejak” dalam dirinya, yang bisa membuat dampak positif untuk masa yang akan datang. Kita tak tahu apa yang akan dihadapi anak di masa yang akan datang. Tapi ada bekal mendasar yang harus kita pastikan mengakar dalam diri mereka. 

Kembali lagi pada kasus pembelajaran tadi….kenapa kita harus berupaya mempelajari ini itu, menggunakan metoda ini itu untuk anak? untuk apa effort sebesar itu? apa “imbalan” ya ng kita dapat? Jawabannya adalah…karena tujuan kita bukan hanya agar anak duduk diam mendengarkan. Bukan hanya agar anak memahami pelajaran itu. Bukan hanya agar anak menguasai apa yang kita ajarkan. Tapi lebih jauh dari itu, agar anak tumbuh motivasi intrinsiknya untuk balajar.

Mengapa harus ada beragam riset untuk menemukan metoda menghafal AlQuran? itu membuat anak manja. Kita “paksa” aja anak dengan metoda konvensional…..Jawabannya adalah….Karena tujuan kita bukan hanya anak hafal pada saat pendidikan. Tapi kita ingin meninggalkan jajak, bahwa menghafal alQur’an itu menyenangkan. Kita ingin ada dorongan yang mengakar dalam diri anak untuk menghafal al quran. Karena kita ingin  memastikan bahwa tanpa kehadiran kita, anak akan terus menghafal al qur an. Sepanjang hidupnya.

Mengapa harus ada berbagai penelitian untuk menemukan metoda belajar matematika agar menyenangkan? bukankah itu membuat anak kita manja? Kta “paksa” aja anak dengan metoda konvensional…… Jawabannya adalah …..Karena tujuan kita bukan hanya anak mengerti dan mendapat nilai baik. Tapi kita ingin meninggalkan jejak yang mengakar, bahwa belajar matematika  itu menyenangkan. Bahwa sesuatu yang sulit itu bisa ditaklukkan.  Karena kita ingin memastikan,   bahwa tanpa kehadiran kita, anak punya dorongan yang mengakar untuk belajar. Sepanjang hiupnya.

Kita tentu sudah banyak mendengar bagaimana ada sejumlah anak yang “baik” saat ada di lingkungan yang baik, namun lingkungan baik itu tak berjejak pada dirinya saat ia tak ada di lingkungan baik tersebut. Kita juga sudah banyak mendengar anak yang baik saat didampingi oleh orangtua yang baik, namun jejak kebaikan orangtuanya tak mengakar dalam dirinya.

Saya pernah bertanya pada diri saya sendiri; mengapa Allah menciptakan manusia dalam tahapan2: bayi, anak, remaja, dewasa. Waktu itu saya tanyakan pada anak saya, dia jawab; “ya ampun, ibu….gimana ngelahirinnya kalau langsung gede”. Bener juga ya…tapi kenapa Allah tidak menciptakan fisiknya aja yang bertahap-bayi, anak, remaja, dewasa” tapi secara psikologis udah langsung dewasa gitu? Kenapa coba? Yang ini saya belum punya jawaban yang “clear”, Masih mencari.

Tapi yag jelas, bayi, anak …itu akan tumbuh menjadi seseorang yang dewasa. Kalau kita percaya bahwa sebagai orangtua kita memiliki kewajiban untuk memberikan “bekal” pada anak-anak kita, maka kita harus bekalkan sesuatu yang akan abadi ada dalam diri anak kita, tanpa kita harus hadir bersama mereka.

Sebut beragam istilah. Tapi saat ini, saya mendekatinya dengan istilah motivasi instrinsik. Dorongan yang muncul dari dalam dirinya untuk melakukan sesuatu. Sesuatu itu; adalah nilai-nilai yang ingin kita tanamkan. Ritual ibadah. Belajar. Menaklukkan tantangan.

Dan konon, dorongan dari dalam diri itu, hanya akan tumbuh jika anak merasa : (1) memiliki “kendali” terhadap dirinya, tidak “dikendalikan” oleh orang lain. (2) merasa kompeten, “aku bisa”. (3) merasa terhubung dengan orang lain. Dengan orangtuanya, dengan gurunya.

Dan ketiga hal tadi, akan terasa oleh anak, jika kita mengupayakan sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi anak. Pengalaman yang memberikan jejak kesenangan dan ketertarikan, meskipun apa yang dialami tidak selalu hal yang mereka sukai dan mereka minati.

Wallahu alam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengenal tipe-tipe motivasi anak kita

Pagi kemarin  saya mengantar sekaligus menunggui si gadis kecil latihan tifan di sekolahnya. Sebenarnya, keluarga kami sudah bersepakat bahwa anak-anak tidak memilih kegiatan apapun di hari Sabtu. Oleh karena itu, setiap menerima surat pemberitahuan jadwal ekskul yang bisa dipilih, ekskul yang kegiatannya hari Sabtu langsung di “blacklist”. Sabtu minggu adalah full family time. Paling sesekali saya mengisi seminar atau abahnya ada pertemuan urgent.

Tapi semester ini, kegiatan pramuka di sekolah si sulung kelas 8, jadi sabtu. Setengah hari. Untuk persiapan ke jambore dunia akhir tahun ini. Jadilah si bujang kecil dan si gadis kecil saya perbolehkan memilih ekskul di hari sabtu. Si gadis kecil yang baru berulangtahun ke 7 minggu lalu, tahun lalu memilih cooking class. Tahun ini, setelah sempat bingung memilih antara craft and art dan tifan, tak diduga ia memilih tifan. Saya seneng sih, karena ia agak clumsy. Jadi tifan bisa menstimulasi pengendalian dan koordinasi tubuhnya.Seperti juga si bujang kecil yang endurance tubuhnya minus, saya arahkan ke olahraga. Si bujang kecil memilih bola dan panahan.

Senin lalu adalah latihan tifan pertama si gadis kecil, jam 4 sampai setengah 6. Saya sengaja pulang lebih awal dari kampus untuk melihat kegiatan latihannya. Cuman ada 3 anak di latihan pertama itu, dua laki-laki kelas  3 adan kelas 5, dan si gadis kecil. Saya datang sudah jam 5. Saya lihat ia terseok-seok mengikuti beragam gerakan sederhana yang dilatihkan pelatihnya, Lalu ditugaskan melatih gerakannya secara mandiri. Satu gerakan 50 hitungan. Saat ia diminta untuk menyebutkan bilangan-bilangan dalam gerakannya, terdengar suaranya kayak mau nangis gitu hehe… saya udah siap aja kalau setelah latihan, dia bilang kapok.

Eh, tak terduga dia bilang seru latihannya. Dan kemarin, jam setengah 6 dia sudah mandi dan sudah siap dengan seragamnya, ngajak-ngajak saya dan abahnya untuk segera berangkat, takut terlambat katanya.

Salah satu kekhasan si gadis kecil adalah, ia sangat ekspresif `menunjukkan minatnya. Seperti tahun lalu ikut cooking class, setiap weekend pasti ngajak saya mempraktekkan kembali masakan-masakan yang telah dipelajarinya. Lalu semester lalu, ia minta les bahasa inggris. Ternyata belum ada temennya di levelnya. Saya tawarkan:  mau sekarang tapi sendirian atau mau nunggu ada temnnya? Dia memilih sendirian gapapa. Seminggu dua kali lesnya. Dia pulang dari sekolah, istirahat 30 menit, berangkat lagi. Mau hujan, mau kurang fit, dia maksa. Istiqomah hehe….sampai semester ini, ia memutuskan untuk berhenti. Pelajarannya sama dengan yang diajarin di sekolah katanya. Kegiatan lain yang selalu membuat ia berbinar-binar adalah menggambar. Tiap hari kalau saya pulang ke rumah, minimal ada 5 lembar hasil gambarnya bertebaran di rumah. Akhir-akhir ini di asenang membuat komik. Komiknya yang “istiqomah” dan “bersambung” dari hari ke hari berjudul “sekolah kucing”😉.

Dan kegiatan ini, bener-bener jadi coping dia saat menghadapi “masalah”. Bulan puasa kemerin, ketika merasa lapar menjelang sore, ia akan menggambar segala macam jenis makanan yang terlintas di kepalanya. Kalau marah sama adiknya, dia juga menggambar kekesalannya, yang akan ia “laporkan” pada saya sepulang saya ke rumah. SUdah beberapa bulan ini, saya belikan dia skecthbook. Jadi komik bersambungnya tak bertebaran di mana-mana, bisa kita baca menjelang tidur.

Perilaku sI gadis kecil, selalu mengingatkan saya pada satu kata. Motivasi. Motivasi, secara sederhana bisa didefinisikan  ENERGI yang MENDORONG dan MENGARAHKAN perilaku. Ada 4 keywords disini. Energi, mendorong, mengarahkan, perilaku.

Bagi teman-teman yang pernah ikut asesmen psikologi untuk penjurusan dan atau untuk melamar pekerjaannya, salah satu asesmen psikologi yang biasanya “wajib” dikerjakan adalah asesment motivasi ini. Dari hasil asesment itu, bisa tergambarlah besar energi yang dimiliki, keterarahan energinya, pengelolaan energinya, dll.

Mengapa industri/organisasi selalu meminta dilakukan asesment terhadap motivasi? Karena hanya karyawam yang memiliki motivasi lah yang akan “tergerak” untuk melakukan pekerjaannya. Dan itu artinya produktifitas. Keuntungan. Secerdas apapun karyawan, sehebat apapun skill yang dimiliki, kalau ia tak mau “bergerak” mah gak ada manfaatnya. Begitu juga dengan siswa/mahasiswa. Setingi apapun IQ nya, kalau ia tak tergerak untuk belajar, mengerjakan tugas, ya IQnya akan “mubadzir”.

Secara sederhana, sebagai emak-emak, kita bisa kelompokkan anak-anak kita ditinjau dari sudut pandang motivasinya, menjadi  4 kelompok, dengan sub-sub kelompoknya; sebagai berikut:

(1) Anak yang energinya besar, dan energinya sudah terfokus pada tujuan yang jelas.             a. Anak energinya besar, energinya sudah terfokus pada tujuan yang jelas sesuai keinginan ortu

b. Anak energinya besar, energinya sudah terfokus pada tujuan yang jelas, tapi tidak sesuai keinginan ortu

(2) Anak yang energinya kecil, tapi energinya sudah terfokus pada tujuan yang jelas

a. Anak energinya kecil, energinya sudah terfokus pada tujuan yang jelas sesuai keinginan ortu

b. Anak energinya kecil, energinya sudah terfokus pada tujuan yang jelas, tapi tidak sesuai keinginan ortu

(3) Anak yang energinya besar, tapi energinya belum terarah pada tujuan yang jelas

(4) Anak yang energinya kecil, dan energinya belum terarah pada tujuan yang jelas

Nah, sebelum melanjutkan….yuks, kita petakan dulu…anak-anak kita ada di posisi yang mana.

Sudah? mari kita lanjutkan.

Saya sendiri merasa, dari klien-klien yang bertemu saya, beberapa tahun lalu, permasalahan “motivasi” anak pada umumnya berada di area no. 1b dan 2b. Isunya adalah ketidaksesuaian harapan orangtua dengan pilihan anak. Orangtua yang anaknya di posisi 1a dan 2a sih biasanya tidak datang ke psikolog hehe…

Nah, di tahun-tahun belakangan ini, permasalahan tampaknya lebih pada no. 3 dan n0.4. Dulu kalau penjurusan, pertanyaannya adalah:  saya lebih cocok dimana, di jurusan A atau jurusan B? semakin kesini, pertanyaannya menjadi: “jurusan apa ya, yang paling cocok buat saya?” itu biasa. Nanti kita akan lihat hasil asesment, lalu wawancara untuk menggali minat-minat yang mungkin belum disadari anak.

Nah, yang bingung adalah, kalau ketemu anak di no.4. Dari asesment, tak tergambar ada minat yang menonjol. Tak ada ketergugahan yang melonjak terhadap sesuatu. Dari wawancara, anak tak punya hobi. Tak tau apa yang dia sukai apa yang tidak ia sukai, apa yang menarik apa yang engga menarik, apa yang bikin semangat apa yang engga bikin semangat.  Biasanya, untuk kasus seperti ini, anak dan orangtua akan dikasih “PR” dulu, untuk bisa menghayati minat, perasaann, kesukaan, dll.

Nah, kalau dalam konteks pengasuhan nih. Tentu kita tak ingin anak kita sampai pada kondisi no.4 . Target kita sebenarnya adalah anak di kondisi no 1 dan 2. Buat saya sendiri, jika anak berada di posisi 1b atau 2b, tidak menjadi masalah.

Misalnya  kita pengen anak kita menekuni bidang “profesional”. Jadi dokter, insnyur…eh, anak kita malah pengen jadi penulis atau pelukis … atau kita pengen anak kita jadi hafidz/hafidzah, eh anak kita malah tekuuuun mempelajari biomolekular. Nah, menurut saya itu mah issue nya ada di area kelapangan hati orangtua. Yang harus dilakukan orangtua? Mendukung dan tetap menanamkan nilai.

Gapapa gak jadi hafidz/hafidzah kalau mau jadi profesor biomolekuler, tapi jadi profesor yang sungguh-sungguh, baik, yang rendah hati, cari dan komunikasikan keMaha-an Allah lewat temuan-temuan ilmiahmu nak…..Meskipun ibu/ayah khawatir kamu tidak dapat rejeki yang tetap, namun kalau kami mau jadi penulis, jadilah penulis yang sungguh-sungguh, ynag menulis sesuatu yang berkualitas, bisa menginsipirasi orang lain…

Jadi, yang kita lihat sebagai orangtua bukan “bentuk”nya: hafidz/hafidzah.dokter.insinyur.penulis; tapi “esensinya”. kerja keras. kesungguhan. kerendahan hati. keuletan menghadapi tantangan. kesadaran bahwa harus bergerak untuk mendapatkan apa yang diinginkan. kepedulian. kualitas.

Apa “bahaya”nya kalau kita tak belajar untuk “berlapang hati?” . Secara filosofis, pada orang dewasa, kita tidak akan bisa memotivasi seseorang bergerak menuju sesuatu, kalau itu bukan tujuan pribadinya. Paling sedih saya kalau bertemu klien bimbingan karir. Usia sudah bukan usia “mencari” lagi, tapi belum “nyaman” dengan apa yang dilakukan sekarang. BIsa jadi tak berprestasi, atau bisa jadi berprestasi tapi ia tak merasa “bahagia”. Karena tujuannya, apa yang menjadi passionnya, ada di arah sana, di arah yang “dimatikan” oleh orangtuanya. Sayaaaang banget.

Nah, bagaimana sikap kita jika anak kita ada di posisi no 3 dan 4?  Saya sering mendapatkan pertanyaan dari orangtua anak usia prasekolah/ SD : “adakah alau untuk mengetahui minat dan bakat anak?”. Sepengetahuan saya, asesment psikologi yang langsung bisa menunjukkan anak ini minat dan bakat di bidang vokal, anak  ini di bidang olahraga renang, anak ini di bidang coding, tidak ada. Yang bisa “mengidentifikasi” adalah para ahli di bidang tersebut. Kalau kit agak pernah terpapar kegiatan seni, kita gak akan tahu  kalau anak kita peka nada dan berbakat di bidang musik, misalnya. Kalau kita bukan orang yang bergerak di bidang human services, mungkin kita gak bakalan ngeuh bahwa anak kita punya empati yang tinggi.

Jadi, jawaban saya kalau ditanya “gimana cara mengetahui minat dan bakat anak?” sejauh ini saya menjawab; amati apa yang membuat matanya berbinar, kegiatan yang membuat ia semangat….terutama untuk hal-hal yang produktif. Kalau terlihat ia hanya semangat pada hal-hal yang sifatnya tidak produktif misalnya main game, atau nonton TV, mungkin kita kurang mengenalkan beragam kegiatan padanya. Karena kita tak pernah mengajaknya main bola, mungkin kita tak akan tahu kalau dia keren ngegocek bola. Kalau kita tak pernah membacakan cerita padanya, mungkin potensi ia untuk menjadi penutur cerita, tak pernah tergali.

Bagaimana kalau anak kita terlanjur besar tanpa tau maunya apa, sukanya apa, minatnya apa? Ya, kondisi itu tak ideal. Namun bukan berarti tak mungkin untuk mulai membantunya mengenal dirinya. Biasanya para psikolog punya teknik-teknik untuk menggali, baik secara langsung, maupun melalui “PR” yang diberikan.

motivation-hierarchy3Tapi yang jelas, jangan biarkan anak kita tumbuh dewasa tanpa motivasi pada apapun. Kasihan. Hidupnya tak akan bergairah. Tak ada mimpi yang bisa ia bayangkan. Tak ada nyala api kehidupan ynag bisa mendorongnya. Biarkan dan bantu ia untuk memiliki “jejak” kesenangan pada sesuatu. Semangat membuncah pada sesuatu. Binar mata pada sesuatu. Caranya? dengan mengajaknya banyak mengalami. Lalu kita amati, kita temani, kita apresiasi.

sumber gambar : http://positivepsychologynews.com/news/christine-duvivier/200904091778

Radar hidayah, persepsi dan atensi (inspired by Bencana Lisan)

Gara-gara si bujang kecil dan si gadis kecil hobi banget baca komik, maka saya pun jadi  terpapar oleh komik. Dan “bertemu” lah saya dengan “VBI_Djenggoten”, sang penulis komik-komik  yang berupaya untuk “membumikan” ajaran Islam dengan bahasa komik. Sesungguhnya, meskipun dibeli untuk anak-anak, saya melihat komiknya bukan komik untuk anak-anak. Buktinya, meskipun si gadis kecil kelas dua SD itu seneng banget baca buku-bukunya, namun setiap kali baca, setiap menit dia tanya: “bu, upeti itu apa? liberal itu apa? kejayaan itu apa? menyuap itu apa? …..” . Tapi karena gaya gambar dan gaya tulisannya, membuat si gadis kecil bilang gini: “Teteh Hana sebenernya gak ngerti isi buku ini, tapi seru bacanya” katanya  kkkkk….akhirnya jadilah saya dan si abah menjelaskan apa maksud dan contoh yang lebih konkrit dalam kehidupan sehari-harinya.

Bukunya “Bencana Lisan”, kalau ada orang yang tanya pendapat saya, saya akan bilang “Super duper keren. Jleb”. Di buku ini, selain jelas teknik menggambarnya bagus dan “enak diliat” dengan gaya khas tanpa leher, yang berkesan buat saya adalah :

WhatsApp-Image-20160720 (1)(1) Topiknya kekinian dan menggejala

(2) Struktur materinya  sangat sistematis. Kita jadi terbayang “mindmapnya”.

(3) Penjabaran materinya sederhana, namun clear. Jelas dan mudah dipahami definisi-definisinya.

(4) Definisi itu, lalu ia konkritkan dengan  menggambarkan contoh super duper lucu namun begitu  nyata dan membumi, yang membuat kita-kita para pembacanya, tersenyum tapi tersindir abissss. Seolah-olah buku itu spesial dibuat untuk kita(haha…..geer mode:on)

(5) Referensi dicantumkan. Ini etika penulisan yang sangat saya hargai

Tak ada gading yang tak retak. Buku ini tak sempurna. Kekurangannya adalah ………ga ada daftar isi kkkkk (atau kalau komik emang gak ada daftar isinya ya? hehe…maklum new reader😉

Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang teman saya. Ternyata, dia juga sangat terkesan denWhatsApp-Image-20160720gan buku ini. Dia menunjukkan satu halaman buku ini, lalu ia berkata: “Saya udah sering baca buku, hadits, tafsir, dengerin ceramah ustadz tentang ini. Saya tau, negreti, tapi saya belum bisa mengubah perilaku saya. Tapi jujur, ketika saya membaca ini  jleb banget dan kekuatan jleb-nya, cukup membuat saya punya energi untuk berubah. Menahan diri”.

Di samping ini halaman yang ia maksud. Halaman mengenai “batasan bicara yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat”. Beberapa contoh perilaku yang dipaparkan dalam buku ini, jelas banget dan membuat kita bisa memahami sekaligus tersindir dan ternasehati.

Tapi bukan itu yang sebenarnya menarik perhatian saya. Tapi kata-kata teman saya yang mengatakan “komik ini membuat saya punya energi yang cukup besar untuk merubah perilaku saya”.

Mengubah perilaku. Selama belajar psikologi, saya berkutat dengan perilaku dan “mengubah perilaku”. Semakin kesini, semakin dalam, semakin jelas jika perilaku manusia itu amat sangat kompleks. Maka, mengubah perilaku pun tak kalah kompleksnya. Kita ambil contoh: mengubah perilaku membuang sampah tidak pada tempatnya. Ada berapa ratus skripsi-tesis-disertasi-artikel jurnal yang membahas satu perilaku itu? Dan ada berapa ratus metoda intervensi yang coba disusun? berapa banyak yang berhasil? berhasil di kelompok ini apakah berhasil juga di kelompok lain? berhasil di tempat ini apakah berhasil juga di tempat lain? berhasil di saat ini apakah berhasil juga di saat yang lain?

Mengubah perilaku itu kompleks. Tidak mudah. Teman saya sendiri sudah mengatakan bahwa ia sudah menerima banyak informasi dari berbagai channel, namun “hidayah”Nya, turun lewat komik ini. Dan saya melihat bahwa yang ia katakan benar. Teman saya ini, sesungguhnya bukan tipe yang “berisik” yang suka komentar ini itu. Namun beberapa waktu belakangan ini, memang ia tampak irit berkomentar atau menulis. Waktu lagi rame-rame orang berkomentar mengenai es doger versus ulen, saya tahu bahwa ia punya pendapat sesuatu. Pendapat yang biasanya bisa menganalisa tajam dan mengembalikan kesadaran orang-orang yang sedang “memperdebatkan kulit” menjadi memahami esensi yang mereka perdebatan. Tapi ia tidak melakukannya. Ia bilang: “Dengan menulis itu, saya tak akan mengubah apa-apa. Mengingatkan orang? di medsos? Saya gak yakin efektifitasnya. Tulisan saya tak akan mengubah keadaan. Malah tambah bikin berisik aja.  Saya jadi paham mengapa waktu mendengarkan khutbah jumat, kita tak boleh bicara meskipun tujuannya mengingatkan. Niat meningatkan seringkali membuat kita terjerumus menjadi larut dalam keberisikan yang awalnya ingin kita ingatkan”. Begitu katanya.  Di wa grup yang kami ikuti, ia juga semakin jarang berkomentar. Beberapa kali saya lihat ia “typing”, tapi tak jadi. Waktu saya tanya, dia bilang….” iya, aku mau nulis hore-hore…tapi kayaknya aku nulis atau gak nulis gak ada bedanya kan?” iya sih….dalam banyak topik pembicaraan di grup wa, memang demikian kondisinya

Temuan penelitian kolega dan kakak kelas saya mengenai diri religius mengungkapkan bahwa “gen Tuhan” itu ada. Di akhir presentasi, beliau mengatakan bahwa untuk menjelaskan perilaku buruk manusia, pertanyaannya bukan “faktor apa yang membuat ia berlaku buruk?” namun “apa yang menghalanginya dari berbuat baik”? karena kebaikan itu sudah ada dalam diri kita, namun belum teraktifasi. Bahasa agamanya, “fitrah baik” itu melekat dalam diri kita, namun perlu diaktivasi untuk menjadi amal sholeh.

Lalu saya ingat materi kuliah saya mengenai persepsi dan atensi. Dalam salah satu proses yang mengawali persepsi,  kita mengindera sesuatu. Kita tak akan pernah bisa “mengolah” informasi yang tak kita terima melalui indera. Nah…dari materi ini, kita tahu bahwa apa yang bisa kita ketahui melalui indera kita, adalah sangat sedikit dibandingkan realitas yang ada di dunia ini. Ada yang namanya ambang sensasi. Gelombang cahaya dan gelombang suara yang bisa kita indera, jauuuuuuuuh lebih sedikit dibandingkan dengan gelombang cahaya dan gelombang suara yang sebenarnya diciptakan oleh Dia sang Maha. Kita tak bisa mendengar suara yang “terlalu” pelan, “terlalu” keras, kita tak bisa melihat sesuatu yang “terlalu” jauh. Demikian pula dengan rasa, sentuhan, sakit, dll.

Nah…dari sejumlah kecil realitas yang bisa kita indera, realitas yang bisa kita berikan perhatian, menjadi lebih terbatas lagi. Mengacu pada defisini atensi menurut Atkinson (2009), kemampuan kita memperhatikan sangat terbatas. Ya, kita punya kemampuan divided attention. Namun mayoritas penelitian menunjukkan bahwa “divided attention decreased performance”. Kalau kita mengasuh anak sambil goreng ikan dan sambil dengerin puteran cucian di mesin cucui udah berenti atau belum, maka kualitas perhatian kita pada masing-maisng kegiatan itu akan berkurang dibandingkan jika kita memilih untuk memusatkan perhatian pada satu kegiatan.

Hiiiii…..jadi, apa kesimpulannya? kesimpulan saya adalah: hanya hidayah yang bisa membuat perilaku (dan kepribadian) seseorang berubah. Hidayah itu kita dapat dari mana? dari seluruh yang Allah ciptakan dan terjadi-kan. Dari orang-orang yang bertemu dengan kita, dari ucapan para ustadz, dari nasihat orangtua, dari sindiran teman, dari kejadian yang dialami orang lain, perilaku menyebalkan orang lain……Kalau demikian ,maka kita harus membaka selebar-lebarnya radar hidayah itu. Dan kita juga perlu memberi perhatian pada banyak channel hidayah. Dengan cara itulah kita memastikan bahwa kita menyingkirkan penghalang yang bisa menghalangi diri kita dari proses aktifasi gen kebaikan yang ada dalam diri kita.

Maka, kalau kita memutuskan_sadar atau tidak- hanya mau mengindera  dan memberi atensi pada konteks terbatas; hanya mau mendengarkan nasihat ustadz kelompok ini, hanya mau nonton TV channel ini, hanya mau mendengarkan kata-kata dari teteh yang bajunya begitu, hanya mau berteman dengan kelompok ynag memilih presiden ini, hanya mau baca buku karangan kelompok ini… jangan-jangan…kita sedang mempersempit radar hidayah kita.

Maka, sejauh ini, saya akan mengajarkan pada anak-anak saya, untuk mengindera seluruh channel kebaikan. Dari siapapun kata-kata itu berasal, dengan cara apapun kebaikan itu disampaikan- buku, gambar, musik, karya seni, kegiatan alam-, biar banyak kebaikan yang terindera, dan banyak yang menarik perhatian, agar membuka lebih banyak peluang untuk mengaktifasi gen kebaikan dan keshalehan dalam diri kita.

Kebaikan jika tak dikaitkan dengan Allah, hanyalah amal kebaikan. Kebaikan yang dikaitkan dengan Allah, akan menjadi amal sholeh. Amal kebaikan adalah kunci kebahagiaan di dunia, amal sholeh adalah kunci kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat.

 

 

 

 

Who are your idol(s)?

decoration_13Saya selalu membayangkan diri saya bagaikan mozaik kaca. Mozaik itu terdiri dari potongan-potongan yang berbeda-beda. Potongan-potongan itu, adalah kepribadian dari orang-orang yang menjadi “idola” saya. Bagian terbaik dari diri mereka. Masing-masing potongan itu lalu membentuk diri saya secara unik.

…………………………….

Awal minggu ini, saya menjadi “panitia” dan menghadiri sidang promosi doktor dari seorang kolega dan  “kakak kelas” saya. Tapi buat saya, sosok beliau bukan hanya sekedar kolega dan “kaka kelas”. Ia adalah salah seorang “idola” saya. Ia seorang ibu dari 3 anak, salah satunya berkebutuhan khusus. Ia pernah menjadi “pejabat” di tempat kami bekerja. Dan dengan semuanya itu, ia menjalani program doktor, dengan hasil cum laude ! Isi disertasinya, caranya memaparkan dan menjawab pertanyaan, membuat semua orang kagum dan bangga.

Di ruangan itu, saya tak bisa menahan air mata saya. Alasan “mengapa kita harus beragama” dituturkan melalui penghayatan filosofi yang dalam dan dibuktikan dengan cara-cara yang ilmiah. Dan meskipun “penampakan” beliau super cuek, tapi hari itu, saya merasa banyak cinta  dihadirkan oleh orang-orang yang mengenalnya. Disampaikan padanya dalam bentuk karangan dan buket bunga, pelukan hangat, doa-doa tulus… sungguh, hari itu, saya sangat iri padanya.

Di hari perhitungan nanti, saya akan bersaksi bahwa ia, adalah pengejawantahan dari kata-kata: sungguh-sungguh, tegar, kuat. Dan tiga hal itulah yang membuatnya menjadi begitu mempesona dan menginspirasi. Apakah ia sempurna? tidak. Ia tidak sempurna. Ada situasi-situasi tertentu yang ia tidak akan “fit”.

Tapi kala saya merasa waktu saya begitu terbatas untuk menunjukkan karya terbaik, saya membayangkan dia. Dia yang sangat produktif. Dia yang bisa sambil mengobrol, sambil mengetik pekerjaannya yang penting. Tak ada waktu yang terbuang percuma, tapi tetap menyenangkan dalam relasinya. Saat saya lebay dan merasa riweuh ngurus anak-anak saya dan ingin menjadikan mereka excuse untuk tak berprestasi, bayangan  dia saya hadirkan. Bagaimana kondisi anaknya yang berkebutuhan khusus dan sangat membutuhkan perhatian. Saat saya merasa tak bisa menyeimbangkan kehidupan kerja dan keluarga, saya membayangkan dia yang bisa mendidik anak-anaknya, sehingga anak laki-laki remajanya yang jadi idola para wanita,  nampak begitu sayaaaaaang dan peduli pada si bungsu yang berkebutuhan khusus, sama sekali tak canggung menujukkan rasa sayangnya di depan umum. Saat saya merasa frustrasi dengan kondisi anak-anak yang tiba-tiba membutuhkan saya disamping mereka, saya ingat ia yang tak hanya sekali-namun beberapa kali membatalkan atau mengurungkan keinginan dan rencana besarnya tanpa rasa menyesal, karena memilih mendampingi anak-anaknya yang  sakit.

15 tahun lalu, saya pernah menulis di diary saya: ” saya ingin menjadi secerdas teteh x, se-rendah hati teteh y, seramah teteh z, setangguh teteh a, seanggun teteh b, secantik teteh c”  (kkkk….dua yang terakhir tampak tidak mungkin ya). Tulisan lugu itu, selalu saya ingat. Dulu, saya pikir itu adalah gambaran kegalauan dalam proses pencarian jatidiri. Namun kemudian, saya menyimpulkan itu adalah proses pembentukan jatidiri.

Saya selalu membayangkan diri saya bagaikan terdiri dari mozaik kaca (yang semoga indah). Mozaik itu terdiri dari potongan-potongan yang berbeda-beda. Potongan-potongan itu, adalah kepribadian dari orang-orang yang menjadi “idola” saya. Bagian terbaik dari diri mereka. Masing-masing potongan itu lalu membentuk diri saya secara unik.Dan proses penambahan potongan mozaik itu terus berlanjut sampai sekarang dan seterusnya.

Saya punya banyak “idola”. Masing-masing dari mereka,  saya hadirkan secara mental, saya internalisasikan sosoknya dalam diri, saat saya menghadapi situasi-situasi tertentu. Mereka menjadi semacam sekumpulan “senjata” yang selalu saya bawa kemana-mana, dan saya keluarkan sesuai dengan medan pertempurannya.

Saat saya berada di ruang konseling, bukan kolega dan kakak kelas tadi yang saya hadirkan. Tapi seseorang yang lain. Saat saya sakit, seorang yang lain lagi yang saya hadirkan. Saat saya memiliki banyak rejeki finansial, sosok lain yang saya hadirkan. Saat saya sedang malas, sedang nyinyir, sedang lebay, sedang sotoy, sosok lain lagi yang saya hadirkan. Saat saya sedang menulis, sosok lainnya lagi. Saat saya sedang memimpin, saat sedang mengalami kekesalan pada pasangan, saat merasa didzalimi, sosok lain lagi……..

Maka, bagi saya, dipertemukan olehNya dengan seseorang yang bisa kita “serap”  energi kebaikannya menjadi potongan mozaik kepribadian saya, adalah rejeki dan karunia yang tak terhingga.

Idola bagi saya,  tak harus seseorang yang “hebat”, yang “ternama”. Salah seorang office boy di tempat saya beraktifitas, adalah salah satu potongan mozaik kepribadian saya. Pekerjaannya sederhana. Salah satunya adalah, membuatkan/memberikan minuman pada kita para dosen. Namun ia, melakukannya dengan 100% kesungguhan. Tak hanya dari gesture dan senyum tulus saat berinteraksi dengan kami. Namun yang “mempesona” adalah, ia hafal betul minuman kesukaan masing-masing kami. Kopi susu merk x untuk saya, merk yang lain untuk teman saya, air putih untuk ibu ini, air putih hangat untuk bapak itu, kopi tanpa gula untuk ibu ini, teh manis dengan setengah sendok gula untuk bang ini, kopi dengan dua sendok gula untuk mas itu, teh tawar untuk mbak ini…. Pekerjaan remeh temeh tak berharga yang dilakukan dengan kesungguhan, ternyata bisa membuat kita terpesona.

Yang jelas buat saya, mereka adalah perpanjangan tangan Allah untuk menjaga diri kita tetap berada dalam kebaikan. Mereka adalah jawaban dari doa “ihdinassirootol mustaqiim” – karuniakanlah kami jalan yang lurus, jalan kehidupan yang baik, yang produktif, yang bermanfaat, yang membawa keberkahan. Mereka adalah pengejawantahan dari konsep-konsep kebaikan. Kita jadi yakin bahwa kebaikan itu ada, dankita jadi  tergerak untuk mewujudkannya baik dalam diri maupun dalam lingkungan. Mereka membuat “ketidakmungkinan” yang kita rasakan menjadi mungkin.

Apakah itu berarti bahwa saya selalu bisa “meniru” kebaikan mereka? Yaaaa namanya juga manusia. Bukan malaikat. Tentu tak selalu. Baik dalam frekuensi ataupun kadar. Namun tanpa potongan-potongan mozaik itu, saya meyakini “I will not survive” dalam memaksa diri berada di dalam koridor kebaikan.

Untuk para “idola” saya, di hari akhir nanti saya akan bersaksi dihadapan sang Maha, inspirasi dan kebaikan apa yang telah saya lihat dari mereka dan menjadi bagian dari kebaikan dalam diri saya.

sumber gambar: http://www.sigalitart.net/en/mosaic/mosaic-gallery/special-work/

 

Jika kita tak dimaafkan

Meskipun secara syar’i momen  idul Fitri bukanlah momen untuk saling memaafkan, namun menurut saya, saling memohon maaf dan memaafkan saat idul Fitri adalah budaya yang baik dan sangat menguntungkan. Jika kita manfaatkan momen ini dengan kesungguhan dari lubuk hati paling dalam, maka momen tahunan ini bisa jadi momen penyelamat kita di akhirat nanti.

Mengapa? Karena kesalahan dan  dosa-dosa yang kita lakukan, berdasarkan subjeknya bisa dibagi dua: kesalahan/dosa kepada Allah dan kesalahan/dosa kepada manusia. Syarat diampuninya kesalahan/dosa adalah, apabila subjek yang kita bersalah/berdosa padanya ridha dan memaafkan.

Seorang ustadz mengatakan bahwa kesalahan/dosa pada Allah lebih “mudah” untuk kita mohonkan ampunanNya.  Dengan taubatan nasuha -taubat yang sungguh-sungguh; merasa menyesal dan berupaya keras untuk tak mengulanginya lagi- dan keyakinan bahwa Allah itu maha penerima taubat juga maha pengasih dan maha penyayang, kesalahan/dosa kita bisa diampuniNya.

Kesalahan/dosa pada manusia, selain bertaubat juga perlu mendapatkan ridho dan maaf dari orang bersangkutan yang kita bersalah/melakukan dosa padanya. Nah, di poin inilah…sebenarnya kita harus benar-benar berhati-hati. Jika kita melakukan kesalahan/dosa pada seseorang, lalu ia tidak memaafkan kita, maka urusannya akan berlanjut sampai ke akhirat. Jadi kesalahan pada manusia itu, harusnya tidak dianggap sepele loh….

Tanpa sadar memaki orang di jalan raya, misalnya sampai orang itu merasa sakit hati. Gimana coba minta maaf dan keridhoannya? Menulis status yang menyinggung perasaan orang lain sampai orang lain itu terluka ….gimana minta maafnya? menulis tulisan di blog yang menyinggung orang lain….banyak sekali potensi kita melakukan kesalahan dan dosa pada sesama manusia.

Maka, sekali lagi, sesungguhnya kita harus bersyukur difasilitasi oleh budaya untuk memiliki momen khusus mohon maaf dan memberi maaf pada orang-orang yang sering berinterkasi dengan kita, dalam acara halal bi halal. Bertahun-tahun mengikuti seremoni halal bi halal baik di keluarga maupun di tempat aktifitas, saya melihat ada yang memang menjalani acara bermaaf-maafan (musafahah) itu sebagai momen rutinitas semata. Nah, sikap kayak gini mungkin yang bikin seorang teman saya berkata “gue gak suka sama halal bi halal. Seolah-olah semua orang boleh melakukan kesalahan semau dia, dan lalu dengan entengnya tanpa kesungguhan, mohon maaf dan berasumsi kesalahan dimaafkan saat halal bi halal”.

Sebagian orang yang lain, saya lihat memanfaatkan momen halal bi halal ini dengan sungguh-sungguh. Saat menjabat tangan saya, mereka sungguh, meminta maaf. Kadang sampai basah mata mereka karena air mata. Nah, pengen banget mencontoh tipe orang-orang ini. Memanfaatkan budaya baik ini untuk sungguh-sungguh memohon maaf dan memberikan maaf. Seiring dengan tangan saling menggenggam, luka hati pun saling lebur.

Tentang hakikat memohon maaf, memberi maaf dan saling memaafkan sudah pernah saya tuliskan, salah duanya di tulisan https://fitriariyanti.com/2013/08/20/halal-bi-halal-bermaafan-atau-berekonsiliasi/ dan https://fitriariyanti.com/2014/08/04/halal-bi-halal-ber-maafan-atau-ber-rekonsiliasi-versi-2-0/

Masalahnya adalah, bagaimana kalau kita sudah sungguh-sungguh meminta maaf, namun orang yang terluka hatinya oleh kita, tak memaafkan? Nah, pastinya urusan ini akan sampai di akhirat nanti, saat kita berada di hari perhitungan.

Ada satu ilmu yang baru saya peroleh di ramadhan tahun ini. Dalam salah satu kajian tafsir Al Misbah-nya, pak Quraish Shihab menyoal hal ini dan menyampaikan bahwa dalam kondisi kita tak dimaafkan, solusi yang bisa kita lakukan adalah memohon pada Allah agar Ia Sang Maha mengambil alih persoalan ini.

Beliau menganalogikan seperti kita punya utang pada seseorang, tapi kita tak sanggup bayar. Maka yang bisa kita lakukan adalah, mendatangi orang kaya, lalu meminta orang kaya itu untuk mengambil alih utang kita. Demikian pula untuk kasus saat kesalahan kita tak dimaafkan oleh orang lain. Kita mohonkan Sang Maha untuk mengambil alih “utang” kita pada orang-orang yang tak memaafkan kita saat mereka menuntut kita di akhirat nanti.  Kita berharap, RahmatNya yang seluas langit dan bumi, akan melindungi kita dari kerugian disebabkan tuntutan orang-orang yang tak memaafkan kesalahan kita di dunia.

maaf-3Minggu depan, kita akan menghadiri banyak acara halal bi halal. Kita manfaatkan momen itu untuk sungguh-sungguh memohon maaf dan memaafkan. Sambil menyalami atau mengirim wa pada setiap orang, bayangkan kesalahan-kesalahan yang kita ingat terhadap orang itu, baik yang mereka ketahui ataupun yang tak mereka kerahui. Sesali lalu tekadkan untuk tidak mengulanginya lagi. Dan karena mungkin kita tak tahu siapa saja yang sudah memafkan kita dan siapa yang tak ridho pada kita, maka kita sungguh-sungguh berdoa juga, memohon Dia Sang MAha untuk mengambil alih urusan kita dengan orang-orang yang tak memaafkan kita di akhirat nanti.

 

Kediri, 3 Syawal 1437. The last day.

sumber gambar : https://maskakank.wordpress.com/2014/07/27/makna-dibalik-kata-maaf/

 

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 81 other followers