Interdependensi emak-emak; Profesionalisme emak-emak

Salah satu quality time yang baru saya sadari antara saya dan anak-anak, adalah bada shubuh. Kalau si abah ada di rumah, pulang dari mesjid bersama si bujang kecil, biasanya si abah memutar ceramah pagi dari beberapa ustadz, dan kami dengarkan sambil melakukan aktiiftas masing-masing. Anak-anak mandi, saya nyiapin sarapan atau panik ngerjain deadline yang belum beres haha. Nah, kalau si abah gak ada, bada subuh sepulang si bujang kecil dari masjid, dengan masih bersarung-bermukena, kami suka tidur-tiduran di musholla. Si bungsu dan di gadis kecil biasanya minta dipeluk lagi dengan alasan klise; “kedinginan”.

Nah….sambil itu, biasanya kami ngobrol macem-macem. Kadang saya ngasih nasehat…. paling sering bahas arti doa sesudah sholat. Sampai-sampai anak-anak sering nyela …iya bu..udah tau…bla..bla..bla… kan? Tapi saya gak mau kalah. Selalu saya kasih tambahan contoh konkrit terkait doa itu. Misal doa “allahumma inna as’aluka salamatan fid diiin….. “. Apa sih maksud “selamat dalam agama itu?” setiap hari banyak contoh konkrit yang berbeda-beda. “waafiyatan fil jasad….” banyak banget contoh yang berbeda-beda tiap hari. Pengalaman saya menengok teman, pengalaman anak-anak mengenai beragam kuman dan penyakit…. dan selanjutnya. Biasanya dari contoh ilustrasi doa itu, berlanjut obrolan panjaaaaaang… maklum interpretasi dari anak umur 14, 11, 8 dan 5, seringkali liar dan tak terduga. Dari yang super ilmiah sampai yang super kocak dan polos. Yang kocak hampir pasti dari si gadis kecil yang sering mengutip pernyataan tokoh kartun favoritnya, si Juki kkk

Pagi ini, obrolan di musholla kami adalah obrolan yang super duper berat; obrolan yang saya takuti selama ini. Obrolan mulai dari tema “ciuman”. Dimulai dengan si bungsu yang bilang: “bu, ayo kita ciuman menikah”. Maksudnya bibir ke bibir. Karena dia masih kecil, saya cium dia, lalu cium seluruh wajahnya. Seneng banget si bungsu mengabsen semua bagian wajahnya untuk dicium. Mata? hidung? nonong?  nanti dia akan iseng lanjut ke …. ketek….

Nah, si bujang kecil menyela: “bu, setelah nikah ibu dan abah ciuman kan? ciuman teh caranya punya bayi kan?”. Si gadis kecil menyela: “Bukan atuh mas, kata di buku Aku Tahu Asal Usulku, sel sperma dari ayah dan sel telur dari ibu bertemu saat ayah dan ibu menyatukan tubuhnya”. Si bujang kecil lanjut lagi: “iya menyatukan tubuh teh gimana? ciuman kan? kan sel sperma teh diproduksi di testis, gimana bu nyampe di mulut. Trus emang sel telur ibu di mulut? bukannya di rahim? rehim teh di perut kan?”

Oh My God…. tau gak …pertanyaan itu, pertanyaan tentang “bagaimana cara sel sperma ketemu sel telur”, itu adalah pertanyaan yang paling saya takuti sejak masih punya satu anak. Kenapa? karena saya gak tau dan gak yakin gimana cara jawabnya. Kalau dikasihtau bahwa caranya adalah  penis masuk ke vagina…. jujur saya gak siap dengan pertanyaan-pertanyaan  selanjutnya. Tapi kalau menghindar gak menjawab, gampang banget buat anak-anak ketik cari tau di google, takutnya yang keluar malah gambar yang ajaib.

“Nanti Mas akan belajar di pelajaran biologi Mas” jawab saya. Bu Guru….Pak Guru…..saya mengandalkanmuuuuuu hehe… “Tapi Mas mau tau sekarang bu….” jawabnya mendesak. Haduuuuh… udah bahagia banget si sulung gak nanya tentang itu. Eh….kejadian juga ditanya si bujang kecil yang memang super kritis.

“Nanti ibu tanya tanteu XXX ya…Tanteu XXX temen ibu yang belajar tentang itu”. Jawab saya. Sukurlah pembicaraan akhirnya beralih ke topik baju yang akan dipake si gadis kecil di pentas profesi dua minggu lagi. Dia memilih profesi pelukis dari pilihan profesi2 yang tersedia. Sejak kemarin saya memeras pikiran gimana ya baju pelukis itu? udah ada beberaap ide, tapi sebagai orang yang tidak kreatif, saya takut ide itu garing ….

Maka, setengah enam tadi, saya bukan laptop dan kirim wa panjang lebar pada dua teman saya. Satu teman saya, peneliti di bidang kesehatan reproduksi dan pendidikan seksualitas. Melalui studi-studinya di Bandung, dia akan tau betul gimana caranya jawab pertanyaan si bujang kecil yang tidak berpotensi mengarah pada rasa penasaran yang tersalur pada cara negatif. Saya inget banget obrolan-obrolan kami: “anak tuh butuh informasi tentang seksualitas. Mereka tuh butuh orangtua menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Tapi kalau kita gak siap, pertanyaan itu akan mereka terus cari jawabannya. Dan dari internet atau dari teman, informasinya gak selalu baik dan benar”. Itulah sebabnya ia bersama tim nya menyusun program eduksi seksualitas untuk remaja di kota Bandung lewat sekolah.

Teman kedua yang saya wa panjang lebar adalah teman saya designer yang super duper kreatif. Tentang design baju pelukis si gadis kecil.

Ahh….. dulu, saya tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang mengatakan : “Kamu harus mandiri. Harus bisa semuanya sendiri. Itu artinya kamu  hebat. Kalau kamu minta tolong orang lain, berari kamu lemah”. Gak salah sih. Tapi saya bersyukur, perjalanan hidup  saya selanjutnya mengenalkan saya pada  prinsip yang jauh lebih mempesona. “interdependensi. Saling tergantung”. Saya inget banget, pertama kali saya baca di Salman dari bukunya Covey. Asumsi yang mendasarinya sangat “rendah hati” menurut saya: bahwa di dunia yang akan datang, tantangan sedemikian kompleks sehingga tak satu pun dari kita punya kapasitas untuk menghadapinya kompleksitas tersebut sendirian. Sehebat apapun kita. Maka itulah, kita kuasai satu hal secara mendalam, lalu kita bersinergi dengan orang lain yang punya keahlian berbeda. Itulah caranya kita menaklukkan tantangan.

Prinsip itu, memang ditujukan untuk dunia profesi. Tapi sebagai seorang ibu, prinsip itu sangat amat aplikatif. Kita tak harus jadi “ibu hebat”; “ibu super”; … kita jadi ibu yang …manusiawi aja. Punya kelebihan, punya kekurangan. Kelebihan yang kita miliki, kita bagikan; siapa tau bisa membantu ibu lain yang gak punya kelebihan itu. Kekurangan yang kita miliki, kita “tambal” dengan meminta bantuan pada ibu lain yang punya kelebihan dalam hal itu.

Financial dependent300Dengan kompleksitas peran kita sebagai ibu, “harus tau segalanya”, “harus menguasai segalanya”, “harus mengajarkan semuanya”, adalah “misi bunuh diri” buat saya. Dan kita gak akan banyak belajar hal baru dengan berprinsip demikian. Mari bekerjasama. Meminta bantuan itu bukan tanda kelemahan. Meminta bantuan itu adalah tanda penghargaan pada orang lain dan latihan kerendahan hati. Tanya pada mereka yang ahli di bidangnya. Minta tolong pada mereka yang memiliki keterampilan di bidangnya. Hasilnya? tak hanya anak kita yang akan belajar, tapi juga kita. Tak hanya anak kita yang dapat pengetahuan dan keterampilan baru, tapi kita juga. Jadi kita berkembang bersama.

Saya sudah menerapkan prinsip ini, dan PAS buat saya. Anak-anak kebagian siapin makan buat temen-temen sekelasnya; minta tolong temen yang bikinin bento super duper lutu. Anak senang, saya senang, teman saya senang. Saya paling gak bisa mendongeng. Saya bawa ke temen saya yang jago mendongeng. Anak saya kagum, saya juga kagum. Menggambar? haduuuh….nilai menggambar saya waktu SMA 50 dari 100 saking bututnya. Saya bawa ke temen yang bisa ngajarin cara gambar dengan mudah dan sederhana. Anak saya belajar hal baru, saya juga. Anak-anak tanya mainan yang seru? saya tanya temen saya yang jualan mainan. Anak cari media belajar yang asik? saya tanya ke temen saya yang seneng dan banyak tau tentang multimedia. Banyaaak banget yang kita bisa sinergikan dengan para emak yang lain.

Itulah hakikat bahwa kita Bukan Emak Biasa. Btw, kalau mau pesan, stok baru buku BUKAN EMAK BIASA datang hari ini. Mangga bisa wa ke no 0812-1416-2629 dengan menyebutkan nama, jumlah pemesanan dan alamat lengkap. Haha….kesempatan dalam kesempitan 😉

Pokoknya mah ..semangat emaks!!!! You are not alone…..

 

 

Advertisements

Calon Mantu

Bener banget deh Om Duvall yang menyusun teori tahap perkembangan keluarga,  berdasarkan usia anak pertama.(Btw,  Duvall teh om atau tante ya? hehe)

Pentahapannya sebagai berikut:

1 – Married couples (no children) 2 – Childbearing families (oldest child aged birth to 30 months) 3 – Families with preschool children (oldest child aged 2½ to 6 years) 4 – Families with school children (oldest child aged 6 to 13 years) 5 – Families with teenagers (oldest child aged 13 to 20 years) 6 – Families launching young adults (stage begins when oldest child leaves home and ends when youngest child leaves home) 7 – Middle-aged parents (stage begins with empty nest and ends at start of retirement) 8 – Aging family members (stage begins with spouses’ retirement and ends at their deaths) (Duvall& Miller, 1985) 

Kenapa bener banget? Karena saya merasakannya. Kalau menurut pandangan “family system theory”, keluarga itu adalah sebuah sistem. Perubahan dalam satu elemen sistem itu, pasti berpengaruh pada perubahan sistem keluarga secara keseluruhan. Salah satu sumber perubahan, adalah perkembangan dari masing-masing anggota keluarga.

Yang paling gampang? penampakan keluarga secara “kasat mata” adalah rumah. Saya tuh lagi seneng banget “mengamati” hal-hal yang “kasat mata”, yang biasanya kita pandang hal yang tak bermakna, padahal bermakna banget. Saya terpesona untuk mengamati tuh sejak saya denger papar Uicol Kim, tokoh indigenous psychology yang paparannya isinya adalah gambar-gambar pengamatan terhadap perubahan yang terjadi, yang kalau direfleksikan itu sebenernya maknanya “dalem”. Hal-hal sederhana…misalnya cara berpakaian orang 20, 15, 10, 5 tahun lalu dibandingkan sekarang. Cara menggendong bayi, cara ngobrol keluarga, bentuk rumah, pilihan transportasi, macen-macem.

Terkait dengan tahap perkembangan keluarga, beda banget rumah keluarga dari setiap tahapan. Rumah yang di dalamnya ada balita, “penampakannya”  beda dengan rumah yang bungsunya udah remaja. Bahkan, hal “sederhana” ini kalau dirunut bisa jadi sumber permasalahan sekaligus sumber pemecahan masalah. Misalnya, pernah ada masalah tumbuh kembang, setelah dirunut…… anak tinggal di rumah kakek nenek yang rumahnya penuh dengan kristal. Anak balita, lagi butuh lari-lari sana sini, lompat-lompat manjat-manjat, di sekelilingnya kristal mahal, tidak ada alternatif tempat, jadinya ya….apa yang harusnya berkembang menjadi tidak berkembang. Trus, bisa juga loh masalah fisik ini jadi solusi masalah “berat” dalam keluarga. Masalahnya, yang “berat-berat” itu selalu berawal dari yang “ringan”. Misalnya nih….Ruang kerja suami  ada di lantai 1. Kamar suami istri di lt 2. Orangtua suami sudah sepuh di lantai 1. Suami seringkali harus ngerjain kerjaannya sampai malem. Sering abis kerja ketiduran di depan tv lantai 1. Istri tidur di lantai 2. Suami jadi lebih menghabiskan waktu di lantai 1 karena enak sekalian kerja. Istri marah karena merasa suami tidak peduli padanya. Suami marah karena merasa dituduh. Ketika susunan ruangan diubah, permasalahan berkurang.

Saya tuh seneeeng banget kalau berkunjung ke sebuah rumah yang masih punya balita, trus di kamar mandinya teh ada mainan haha…gak tau ya, seneng aja. Meskipun konon katanya sekarang, rumah yang ada balita-nya pun kini bisa rapi bersih tanpa berantakan mainan karena  mainannya tak perlu di bereskan, tak perlu banyak-banyak, karena mainannya hanya satu……gadget. Hiks…

Nah, kenapa saya bilang “bener” banget di awal tulisan ini, karena saya merasakannya. Sejak 2 tahun lalu, sejak si sulung keluarga kami tumbuh menjadi seorang remaja, kami masuk pada tahap perkembangan keluarga yang ke5, yaitu family with teenager. Salah satu yang berubah adalah “tema obrolan” saya dengan si abah. Berubaaaaah banget. Dan, salah satu obrolan seru yang muncul setahun belakangan ini adalah tentang….calon mantu … haha……

Tema ini muncul antara saya dan si abah karena diendorse oleh faktor luar sih, teman-teman saya dan teman-teman si abah kan sebagian udah masuk fase ini juga, jadi mulailah muncul kejadian anaknya diapelin lah, anaknya curhat dan bingung harus gimana ketika dia ditembak lah, dan semacam itu. Nah yang seru adalah, karena ini pertama kalinya saya melihat fenomena ini dari sudut pandang sebagai orangtua. Ternyata gak kalah seru dengan waktu menjalaninya dulu sebagai anak haha….

Misalnya ya, waktu itu seorang teman kita, cerita kalau anaknya yang kelas 1 SMP, diapelin sama anak SMA. Dia kaget banget, trus menginterogasi dan marah-marahin si cowok yang ngapelin anaknya itu. Ujungnya dinasehatin. Total 3 jam. Hwahaha…duh, nikmat banget waktu itu ketawanya.Tapi saya menangkap bahwa …. ini adalah proses yang harus dijalani oleh kita sebagai orangtua. Proses yang wajar …biar pada saatnya beneran harus melepas nanti, kita sudah sepenuhnya “ikhlas”.

Melepaskan anak pada orang lain, itu memang tak mudah. Mempercayai orang lain untuk “membawa” anak kita, itu tak mudah. Kalau seorang ibu “cemas”, itu sih udah biasa. Tapi seorang ayah, juga ternyata tak kalah cemasnya loh. Terutama pada anak perempuannya. Saya pernah dengar senior saya menyampaikan kecemasannya melepas ketiga putrinya saat akan menikah. Saya juga pernah nonton serial “Castle”, salah satu episodenya menggambarkan kecemasan sang ayah kala anak gadisnya mulai “berkencan”. Trus, saya suka pengen ngakak guling-guling mendengar ekspresi kecemasan si abah. “Nanti kalau ada yang ngelamar si sulung trus kita gak kenal sama sekali kita sewa dekektif swasta ya de” hahahaha…. “Pokoknya nanti harus di test Psikologi dulu ya De. Valid kan testnya untuk menggambarkan kepribadian dia?” kkkkk…saya teh ngebayangin si anak laki-laki itu ngerjain serangkaian test psikologi …. atau “pokoknya nanti pas ketemu aku, aku akan tanya  bla..bla..bla… Pas aku tanya, dirimu observasi ya de…” hahahaha….

Itu bagian lucunya. Kalau bagian reflektifnya…kita pernah ngobrol: “gimana ya rasanya … gimana caranya untuk percaya 100% sama orang yang akan menentukan selamat-tidaknya kehidupan anak yang kita cintai dan sayangi”. Bla…bla…bla… obrolan itu pun berujung pada satu tema lanjutan yang tak kalah lucunya : perjodohan hahaha….

Jadi pernah waktu kita mudik tahun lalu, si abah ngajak berkunjung ke rumah salah seorang temannya. “Dia punya anak kelas 1 SMA de, anaknya bagus, aktif berorganisasi, perilakunya baik, sekolahnya di sekolah yang kualitasnya bagus banget. Nanti kita jodohin sama si sulung” hahahaha…. Tapi setelah diobrolin, bener juga sih… nilai-nilai keluarga, bagaimana seorang anak dibesarkan … sedikit banyak akan mewarnai tumbuh kembang seorang individu. Mengenal orangtuanya, nilai yang tumbuh di keluarga tempat seseorang tumbuh dan berkembang, adalah salah satu ikhtiar, upaya yang bisa dilakukan. Dulu kan sebagai anak anti banget sama model “Siti Nurbaya”, tapi sekarang setelah jadi orangtua jadi “make sense”. Tentu saja gak pake acara paksa-paksaan, sebagai alternatif aja. Yang menentukan tetap yang akan menjalani, yaitu si anak. “Coba de, kita list yuks siapa-siapa aja temen-temen kita yang punya anak laki-laki umur 14-17 tahun” kata si abah…hahahha….baiklah….teh ini, kang itu, mas ini, mbak itu, bu ini, om itu….

Trus yang lucu lagi beberapa kali si abah cerita tentang rencana masa depannya terkait bisnis-bisnisnya. “Nanti CEO-nya harus orang teknik atau orang IT. Tapi kayaknya anak-anak kita gak ada yang tertarik ke teknik atau IT ya…Berarti kita cari calon mantu orang teknik atau orang IT.” hahahhaha…“Kaka, nanti kamu cari calon suami orang teknik atau orang IT ya” ….. kkkk. Si sulung langsung cemberut “apa sih abah…geje banget. Insyaf bah, bu….Kaka tuh masih 14 tahuuuuuuun” katanya. Saya godain gimana kalau nanti yang si sulung pilih orang yang jauh banget dunianya dari dunia kita. Misalnya artis, seniman, gitu… “iya ya…gimana ya de?” kata si abah. Dan kita pun ngobrolin itu. Gimana kita bisa “ridho” kalau ada perbedaan “selera” sama anak.

Etapi ya, selain seru, ngobrolin tema ini menurut saya termasuk obrolan yang “berkualitas” loh. Tatarannya “dalam”. Kenapa? kita-saya dan mas- seperti “mengkalibrasi value” kita berdua. Biasanya, “nilai hidup” seseorang itu, kita sadari dan kita pedulikan hanya pada saat-saat tertentu. Misalnya, yang jelas adalah saat menentukan saya mau menerima dia sebagai pasangan hidup saya atau engga. Kita evaluasi nilai hidupnya, match engga sama nilai hidup saya. Kalau  match, oke, menikah. Nah…rutinitas keseharian bisa membuat kita masing-masing mengalami perubahan nilai hidup. Apalagi pada pasangan macam saya. Yang masing-masing ; saya dan mas punya aktifitas profesi  sendiri-sendiri dengan segala macam pengalaman dan informasinya.

Saya banyak menemukan pasangan yang tiba-tiba “kaget”; salah satu atau salah dua nya…telah berubah nilai. Salah satu faktor yang menyadarkannya biasanya adalah pilihan yang terkait anak. Mau masukin sekolah kemana? yang satu pengen ke pesantren tradisional yang satu pengen ke sekolah yang berwawasan internasional. Negeri atau sekolah Islam? dll. Bukan masalah pilihannya. Tapi alasan dibalik pilihan itu yang menunjukkan nilai yang kita pegang. Apa yang penting dan apa yang tidak penting. Ini tidak melulu soal benar dan salah. Tapi soal sejalan atau tidak.

Kenapa ngobrolin calon mantu bisa mengkalibrasi nilai kehidupan saya dan mas? Karena dengan proses “memilih” (secara imajiner ya, da kan kenyatannya mah masih jauh kkk); sebenarnya kita memproyeksikan nilai-nilai kita pada calon-calon pilihan (imajiner) itu. Waktu rame-rame di medsos orang secara vulgar mengeluarkan nilai-nilai kehidupannya di medsos, itu jadi “studi kasus” buat ita. “Mau gak punya mantu yang peduli sama isu-isu kemanusiaan, tapi menganggap cukup menjadi muslim yang baik dengan hanya berperilaku baik, gak peduli aturan fikih”. “Mau gak punya mantu yang “gak peduli” pada pengembangan potensi dirinya, yang penting ritual agama ia penuhi secara sempurna”.  “Kalau gabung madzhab ini?”. “Pergaulannya sama komunitas itu?”

Perbedaan seperti apa dan dalam hal apa yang masih dalam lingkup toleransi kita? yang mana yang di luar lingkup toleransi kita? Kenapa? … Itu pembicaran yang “dalam” menurut saya. Pembicaraan yang berkualitas dan bergizi. Tak jarang kami berdebat panjang lebar…. ada nilai-nilai yang bergeser….lalu masing-masing kita saling mengungkapkan … ada sebagian yang lalu kita sepakat, ada yang sebagian tak sepakat tapi kita merasa “ridho” dengan ketidaksepakatan itu. Ada juga nilai-nilai yang kita seneng banget karena ternyata kita tetap sama. Terutama untuk nilai-nilai yang dasaaaar banget.

quote-the-man-who-is-fortunate-in-his-choice-of-son-in-law-gains-a-son-the-man-unfortunate-democritus-57-73-32Buat saya pribadi, pembicaraan tentang calon mantu ini selain menghibur, memfasilitasi kalibrasi nilai, juga menumbuhkan kesadaran … mulai berdoa untuk memohon pasangan yang baik bagi anak-anak saya. Juga mulai berikhtiar mendidik anak-anak saya untuk menjadi individu-individu yang matang, baik dan benar. Kalau sudah demikian, kita bisa percaya bahwa dia akan memilih pasangan yang “frekuensi”nya tak beda jauh dengannya.

Belajar membangun trust dengan anak. Bagaimana caranya?

Setiap wanita, punya potensi keibuan, punya potensi untuk mengasuh dan mendidik anaknya. Kalau bahasa psikologinya, “attachment system and caregiving system is nature”. Itu harus kita yakini sepenuhnya. Sebagai muslim/ah; kita harus yakin pada ayat suci yang mengatakan bahwa manusia itu diciptakan dengan sempurna, dengan kondisi yang terbaik. Ketika Allah menciptakan seorang wanita, pasti lengkap dengan perangkat untuk mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Sekali lagi, dear para ibu, kita harus yakin ini sepenuhnya !! Mengapa demikian? karena saya pernah mendengar sekelompok ibu meminta saya menjadi pengisi materi parenting di komunitas mereka, dengan kalimat seperti ini; “kita tuh cuman bisa melahirkan aja bu Fitri, tapi blank dalam cara mengasuh dan mendidik”. NO WAY !! gak boleh ada pemikiran seperti itu.

Bagaimana potensi ini tumbuh menjadi perilaku pengasuhan yang PAS dengan anak-anak kita? itulah fungsi belajar. Kalau istilah psikologinya, potensi ini harus “diaktivasi”. Bagaimana cara belajarnya? minimal 2 cara.

(1) Menambah pengetahuan dan pemahaman. Belajar dari narasumber terpercaya mengenai what, why dan how mengasuh dan mendidik. Mulai dari prinsip sampai prakteknya. Nah…narasumber itu banyak. apalagi parenting. Banyaaaaaaaaak banggets. Rasanya siapapun bisa hehe… Ini harus kita filter. Kalau engga, dijamin bingung. Kenapa bingung? karena kita punya seabreg koleksi pengetahuan. Padahal pengetahuan bukan untuk dikoleksi. Pengetahuan untuk disusun sebagai ilmu, lalu diamalkan. Gimana cara memfilternya? pertama identifikasi dulu si narasumber itu memandang anak bagaimana, memandang orangtua bagaimana. Ada yang menganggap anak adalah tabula rasa. Dia adalah kertas kosong, orangtua yang 100% bertanggungjawab membentuknya. Ada yang berpendapat anak itu raja, orangtua harus 100% demokratis. Kalau anak gak mau sholat, ya jangan paksa anak untuk sholat dong. Kita harus demokratis. Ada yang berpendapat bahwa anak itu membawa potensi kebaikannya sendiri, tapi pengarahan dari lingkungan diperlukan.

Mana yang  benar? semuanya bisa benar. Makanya saya bilang tadi: pengasuhan yang PAS. bukan pengasuhan yang BENAR. Karena setiap orang punya nilai sendiri, punya pengalaman sendiri. Makanya saya mah gak setuju sama narasumber parenting yang memberikan tips “teknis” banget. “Ibu harus pinter mendongeng” misalnya. Saya suka stress. Soalnya saya gak bisa banget mendongeng. Narasumber yang enakeun kata saya mah yang memahamkan prinsip lalu memberikan alternatif cara. Misalnya: prinsipnya adalah, menjalin hubungan dengan anak itu harus playfull. Anak harus seneng, ibu juga seneng. Jadi sama-sama menikmati. Alternatifnya bisa dengan cara mendongeng sebelum tidur, atau nyanyi bareng, joget sama-sama, membacakan buku, main lempar bantal, sesuai kepribadian si ibu.

Setelah mengidentifikasi “madzhab” si narasumber, kita sendiri harus bisa mengidentifikasi, keyakinan kita bagaimana. Dijamin bingung kalau informasinya campur-campur. Misalnya kita yakin bahwa anak itu tabula rasa, orangtua yang seratus persen membentuk anak. Denger informasi bahwa kita harus percaya sama anak, pasti bingung. Karena gak nyambung. Narasumber yang percaya bahwa anak bisa dipercaya, didasari oleh asumsi bahwa anak bukan tabula rasa. Anak punya kemampuannya sendiri.

(2) Menghayati melalui pengalaman. Ada banyak hal dalam pengasuhan yang bisa kita hayati dari perjalanan kehidupan kita. Misalnya, inti mengasuh itu menjalin hubungan. Nah, hubungan ini kan terjadi juga antara kita dengan orang lain. Kita pernah jadi anak, menjalin hubungan dengan orangtua kita. Kita adalah istri, yang menjalin hubungan dengan suami kita. Kita adalah sahabat, kita murid, kita menantu. Ada prinsip-prinsip yang sama yang bisa kita hayati dan terapkan dalam hubungan pengasuhan.

Nah,di tulisan ini saya mau cerita soal poin kedua ini. 3 hari lalu, saya menulis mengenai trust anak pada kita sebagai orangtuanya. https://fitriariyanti.com/2017/03/01/menghancurkan-tembok-ketidakpercayaan-anak-pada-kita-catatan-tentang-trust-anak/. Menurut intipan dari dashboard blog saya, sampai pagi ini tulisan tersebut telah dibaca oleh 2370 orang. Moga-moga bermanfaat, bukannya nambah bingung atau nambah stress. Itu aja doa saya mah.

Nah, setelah menulis itu 3 hari lalu, langsung deh saya mengalami kejadian dimana saya berposisi seperti si gadis kecil. Gini ceritanya:

Jadi awal bulan lalu, si abah “memaksa” membelikan saya laptop baru. Hadiah ulang tahun katanya. Harganya muahall buat saya mah. Tapi fiturnya emang keren sih. “ini ringan banget de, biar gak berat bawanya” kata si abah. “ini bisa dilipet jadi tablet loh, biar kalau sambil nunggu atau apa, bisa enak baca jurnal”. “Dirimu suka touchscreen kan? ini pake touchscreen”. Intinya, keren. Sampai saya takut makenya karena saya mah orangnya jorok. Daaaan….kekhawatiran saya terbukti. Beberapa hari lalu, saat saya menutup laptop, krek….suara apa itu? Ya Allah…ada ujung usb di keyboardnya, gak saya perhatikan. Jadi pas saya tutup, ngeganjel, daaaan LCDnya retak ! dikit sih tapi…..haduuuh saya stress banget.

Saya belum berani bilang ke si abah. Tiap si abah pake atau liat laptop saya, saya degdegan, syukurlah si abah mah orangnya gak teliti. Jadi gak ngeuh. Menyimpan rahasia itu sesungguhnya membuat stress teman-teman….saya merenungi beberapa hari ini …apa yang membuat saya segan gak bilang si abah ya?  Takut marah? kalau dia marah wajar sih. Lagian saya percaya marahnya dia gak akan melukai saya. Tapi tetep aja saya akan gak nyaman dengan ekspresi marahnya kalau ia marah. Takut kecewa? yes, itu dia. Dia udah membelikan dengan sepenuh hati, eh saya gak bisa menjaganya. Istri macam apa saya? hehe….

Sampai kemudian, kemarin saya putuskan untuk bilang. Tapi gak berani langsung. via wa haha…. saya bilang saya punya rahasia, mau cerita tapi takut dia marah. Si abah tanya, tapi setelah saya bilang saya belum berani, dia bilang: “kayak si gadis kecil aja haha…ya udah nanti aja cerita kalau udah siap” . Pagi ini, waktu saya ngerjain sesuatu, retak si LCD semakin menjalar. Sampai akhirnya bikin kursornya loncat-loncat sendiri, pokoknya udah gak berjalan dengan baik lah. Akhirnya saya bilanglah ke si abah. Udah nutup muka gak mau liat dia marah. Ternyata si abah gak marah. ….mungkin karena dia tau betapa saya akan gak nyaman kalau dia marah. “Ya udah cari tempat servisnya dimana, trus gantinya bayar sendiri loh ya….lain kali, kalau mau tutup laptop, harus liat dulu” ya, ya, saya tahu saya harus bertanggungjawab terhadap kecerobohan saya. Tapi it’s oke. Ynag pentig adalah, secara psikologis, saya tidak terluka haha…

Nah, kejadian-kejadian ini, dimana kita berposisi seperti anak kita; mungkin sering kita alami. Dari kejadian ini, kita bisa menghayati bagaimana perasaan anak kita saat “takut” sama kita. Saat mereka takut mengecewakan kita. Gimana rasanya ketika kita dikasih waktu sebelum memutuskan untuk “berani” jujur. Gimana rasanya ketika  kejujuran kita diterima dan dihargai. Atau sebaliknya.

Dan hubungan itu, adalah siklus saling mempengaruhi. Saya percaya saya suami saya. Tapi kalau misalnya pagi tadi suami saya marah dan melukai saya secara psikologis, mengatakan bahwa saya gak menghargai dia yang memberikan hadiah mahal, bla..bla..bla…mungkin lain kali saya akan pikir-pikir untuk mau cerita lagi.

Mother soothing ChildJadi, trust itu bukan suatu hal yang saklek. Hitam putih. Ya atau tidak. Trust itu adalah kadar. Kadarnya kadang bertambah, kadang berkurang. Di titik manapun kita berada, kita selalu punya kesempatan untuk meningkatkan kadarnya. Tapi kita harus ingat, menjaga kepercayaan itu sama sulitnya dengan mempercayai seseorang. Maka, kalau anak-anak kita berjuang mengumpulkan keberanian untuk mempercayai kita, maka kita pun harus mengimbanginya dengan mengumpulkan kebijaksanaan menjaga kepercayaan anak kita. Anak berani terbuka, kita bijaksana menghargai, anak semakin terbuka, kita semakin bijaksana menghargai, teruuuus….itulah relationship. Hubungan.

Misalnya, salah satu isu yang sedang hits dalam pengasuhan remaja adalah soal “berbohong”. Beberapa kali, saya menemukan si sulung berbohong. Padahal untuk hal-hal sederhana, yang sebenarnya dia tak perlu berbohong dan saya tak akan marah, misalnya dia punya kerudung yang dia titip beliin ke temennya.  Kenapa si sulung gak jujur aja? melebat dalam ingatan saya, kata-kata seorang remaja yang dikeluhkan sering melakukan kebohongan besar pada orangtuanya. “Kata ibuku aku harus jujur, harus cerita semuanya, apapun itu.  eh…pas aku cerita, malah dimarahin. Ya udah mending aku bohong aja”. 

Marah, memang cara yang sangat mudah. “kalau gak dimarahi dia gak akan ngerti”. Begitu biasanya logika kita. Tapi benarkah anak kita hanya akan mengerti kalau dimarahi? Memarahi anak yang telah berjuang mengumpulkan keberanian untuk jujur, untuk kebaikan mereka atau untuk kepentingan kita? jawaban dari pertanyaan ini, adalah proses bagi kita untuk menjadi bijaksana. 

Menjadi orang tua, sama dengan menjadi anak. Berproses. Belajar. Itu yang membuat pengasuhan menjadi seru dan berkesan. Semangat !!!

Menghancurkan tembok ketidakpercayaan anak pada kita ; catatan tentang “trust” anak

Pagi tadi, si gadis kecil meminta uang pada saya. Tumben, hari selasa. Di sekolahnya, jatah “jajan” untuk kelas 2, kelasnya, adalah hari Rabu. Itu pun maksimal 5 ribu rupiah. “Ada bazar kelas 1 bu” katanya. Saya beri 12 ribu, beserta dompet kecil berwarna ungu bergambar gajah, oleh-oleh temen saya yang jalan-jalan ke Thailand beberapa tahun lalu. Bazar adalah program sekolah. Anak-anak di kelas tertentu berjualan, pembelinya adalah anak-anak dari kelas lain.

Sore tadi, pulang sekolah dia dan si bujang kecil cerita tentang bazar kelas 1. Si gadis kecil mengembalikan dompet kecilnya. Kosong. “Teteh habis semua uangnya? gak hilang? gak dikasih sama orang lain?” pertanyaan itu spontan mengalir. Jujur saja, saya kaget juga uang sebanyak itu habis. Dan kekagetan itu membawa saya pada dugaan-dugaan. Dugaan bahwa uangnya sebagian hilang, dikasih ke temennya atau…. di”palak” sama temennya. Saya mendengar beberapa kali peristiwa pemalakan. Mungkin niatnya bukan malak sih anak-anak itu; mungkin penilaian sosial mereka belum matang. Tapi bahwa ada beberapa anak yang suka memaksa meminta uang pada temannya yang lain, beberapa kali saya dengar. Minggu lalu, si gadis kecil bawa bekal kue tart ulang tahun saya, lalu dia cerita. “begitu teteh buka kotak bekel teteh, eh  *** dan *** (dua anak laki-laki) langsung menyerbu. Engga minta, langsung ambil dan abisin kue teteh”. 

Sehabis maghrib tadi, setelah menemaninya belajar dan membacakan buku untuk si bungsu, saya bilang ke si gadis kecil; “teteh, sini. Ibu mau bicara soal uang yag tadi pagi ibu kasih. Teteh cerita ya, uang itu habisnya gimana”. Di luar dugaan saya, dia langsung menangis tersedu-sedu. Baru minggu lalu saya belajar tentang emosi primer dan emosi sekunder. Perasaan yang tampak dan perasaan yang menjadi akarnya, di workshop family and couple therapy. Dia menangis; saya belum tau pasti kenapa. Yang jelas ia sedang mengalami perasaan tidak nyaman. Takut dan tidak nyaman.

Saya peluk dia. Dalam situasi seperti itu, saya tau dia butuh rasa nyaman. Saya juga kasih ia waktu  Beberapa kali saya tanya: “teteh udah siap cerita?” dia menjawab dengan tangisan. 30 menit. Setiap kali tangisnya berhenti, saya tanya ia sudah siap atau belum. Dan kali ketiga, sambil menangis dia menjawab: “tapi nanti ibu marah”. Saya peluk lagi sambil bilang “ibu janji ibu gak akan marah”. Siklus itu, dia berhenti nangis-saya tanya udah siap atau belum-lalu dia jawab “nanti ibu marah” sambil nangis lagi, berlangsung 3 kali. 30 menit lagi.

Sambil mengeratkan pelukan sebagai pernyataan bahwa saya tak akan marah apapun yang ia ceritakan, saya merenung. Saya tahu, saat itu, ada tembok ketidakpercayaan yang membentengi saya dan si gadis kecil. Dan rasa percaya itu, tumbuhnya tak bisa dipaksakan. Tidak bisa diyakinkan dengan kata-kata. Ia perlu tumbuh perlahan dalam hati, perlahan sampai cukup memberikan kekuatan. Itu proses yang tengah terjadi pada si gadis kecil. Apa yang membuatnya tak percaya pada saya?

Ada banyak hal yang tidak saya sadari. Beberapa hari ini saya sedang PMS. Gabungan dari rasa kram di rahim berhari-hari, nyeri payudara plus “sumbu pendek” membuat saya hobi “marah-marah gak jelas”. Sampai kata si bungsu, “ibu sekarang jadi pengesel”. Waktu saya tanya apa itu “pengesel”, dia bilang: “iya kan kalau orang yang suka marah-marah namanya pemarah. Nah, yang suka sering kesel namanya pengesel. Ibu pengesel”

Sikap saya itu, bisa jadi membuat tembok ketidakpercayaan itu hadir. LaLu intonasi dan bahasa nonverbal saya saat saya bertanya dan kaget ketika melihat uangnya habis, bisa juga membuat tembok itu semakin tinggi. Menyadari hal itu, saya bilang ke si gadis kecil: “ya udah engga apa-apa kalau teteh belum siap cerita. Tapi kalau teteh udah siap, teteh cerita ya”.

10 menit kemudia setelah memeluk saya erat, terdengar suara pelan si gadis kecil. “tadi kan teteh dikasih uang 12ribu sama ibu” katanya sambil menunjukkan 10 jarinya, dan meraih 2  jari saya. “Terus teteh beli marshmallow 2000. Terus beli nustrisari 2, 4000″. bla..bla..bla… dia jelaskan satu persatu. Terakhir, sambil terisak lagi dia sampaikan kalau ia memberikan uang 500 ke sahabatnya, yang sudah saya kenal baik.

Saya peluk lagi. “Oh gitu…terus, kenapa teteh takut ibu marah?”.Dia nangis lagi. Saya peluk lagi. “iya, teteh takut ibu marah karena teteh jajannya banyak” katanya. “terus teteh kasihin uangnya 500 sama ***** “(dia sebutkan lagi nama sahabatnya).

Sambil saya peluk, lalu saya sampaikan “maaf ya, kalau ibu bikin teteh jadi takut. Tadi ibu khawatir kalau uang teteh hilang, atau teteh dimintain uang dipaksa sama temen teteh. Kalau uangnya habis karena bazar sama dikasih sama ***** sih gak apa-apa” kata saya. “Yang engga boleh itu kalau teteh dipaksa diminta sama teman”

………………

TRUST. Kepercayaan. Saya selalu meyakini bahwa itu, adalah hal yang sangat mahal. Mahal, tak mudah untuk mendapatkannya. Priceless.TRUST adalah inti dari sebuah hubungan. Hubungan apapun. Antar siapapun. Inti dari cinta yang matang dan dewasa. Bahkan, dalam teori attachment, trust ini adalah inti dari kehidupan. Dan…saya sedikit banyak setuju dengan hal ini. Secara hakiki, kita tidak akan hidup nyaman tanpa rasa percaya pada orangtua kita, teman kita, pasangan kita, Allah kita. Eh tunggu…tanpa rasa percaya, bahkan kita tak akan bisa punya teman. Tak akan bisa menjalani hubungan dengan pasangan. Kita akan terus merasa rapuh, curiga, merasa sendirian.

Saya ingin mengulanginya lagi. TRUST itu, priceless karena ia tak bisa ditumbuhkan secara instan. Ia tak bisa diyakinkan oleh siapapun dengan kata-kata. Ia harus tumbuh perlahan dalam hati. Dan ia sensitif. Konon, diri kita ini berlapis-lapis seperti bawang. Mempercayai seseorang berarti berani membuka lapis demi lapis diri kita, membuka diri kita yang paling dalam. Maka, kepercayaan hanya akan tumbuh pada seseorang yang kita yakin tak akan melukai kita. Kepercayaan akan kita berikan pada seseorang yang kita yakin akan selalu menerima kita, betapa buruknya pun kita. 

Sabagai seorang ibu, saya menghayati…memelihara TRUST anak-anak kepada saya, menumbuhkan TRUST saya kepada mereka, adalah salah satu perjuangan terberat. Ibu, adalah pengejawantahan rahman-rahim; cinta tak bersyarat Allah di muka bumi. Ibu, adalah manusia yang ketika orang lain di seluruh dunia menolak seorang anak, ia  akan menerimanya. Ibu, adalah manusia yang ketika seorang anak melakukan kesalahan dan semua orang di dunia menutup pintu, ia merentangkan tangannya untuk memeluk. Ia adalah perwakilan rahman-rahimNya Allah di muka bumi ini. Melalui sikap mencintai tanpa syarat seorang ibu-lah anak bisa menghayati rahman-rahimNya ALlah.

Dan mempertahankan ikatan TRUST itu, tak mudah. Bagaimana tidak? anak usia prasekolah dan anak SD, adalah anak yang paling mudah tumbuh rasa percaya pada orangtunya. Anak SMP? Remaja? Pfuih….kita akan menghadapi tantangan super duper berat. Tapi liat apa yang saya alami… yang katanya mudah pun…tak mudah ternyata.

Saya selalu merasa ingin menshare kejadian “kecil” seperti ini pada teman-teman, terutama  para ibu yang tak “kenal” dengan psikologi. Saya ingin menunjukkan…lihat… saya, seorang psikolog, akademisi psikologi, yang bergelut dengan tema TRUST ini dalam klien-klien sehari-hari, dalam bacaan-bacaan…namun pada saat mempraktekkannya, tak semudah itu.

Maka, kalau teman-teman mengalami hal yang sama….it’s oke. Itu adalah hal yang wajar. Jangan merasa “saya bukan ibu yang baik”.jangan berpikri “saya tidak mampu”. Kita- saya, teman-teman, harus punya “self compassion”. “Belas kasih terhadap diri sendiri”. Menerima diri sendiri, dan percaya bahwa kita bisa belajar.

Saya bukan pengikut madzhab parenting yang mengatakan bahwa ibu itu harus “sempurna”; harus “kuat di mata anak-anak”. Perenungan saya membawa pada satu kesimpulan bahwa kita punya sebuah insting. Insting untuk melindungi anak kita. Sikap marah pada anak saat anak kita di bully, Sikap memaksa pada anak kita untuk menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya, sikap memaksa anak untuk mengikuti les ini les itu yang tak disukai anak, sikap mengkritik anak saat anak kita yang pintar tak mendapat nilai sempurna, semua itu sebenarnya didorong oleh insting untuk melindungi. Untuk melindungi, untuk meyakinkan bahwa anak kita mendapat bekal terbaik untuk kehidupannya.

Ibu yang baik bukan ibu yang tak pernah berbuat kesalahan. Bukan ibu yang tak pernah marah, bukan ibu yang selau terasa “sempurna”, bukan ibu yang tak pernah ngomel. Kita adalah emak-emak biasa yang tak biasa (haha…mulai absurd nih). Ketidak biasaan kita adalah karena kita selalu berusaha untuk peka. Peka ketika tembok ketidakpercayaan mulai tumbuh dan menghalangi hubungan kita dengan anak-anak kita. Dari mana kita tahu itu? dari pengalaman dan penghayatan kita.

Si sulung, pernah menceritakan masalah yang dialami seorang temannya. Beberapa hari, tema ceritanya sama. Saya penasaran. Saya baca chat di hapenya dengan temannya itu. Lalu saya tahu, masalah temannya sangat berat. Saya tawarkan untuk membantu. Dia tahu saya membaca chat hape tanpa izinnya. Setelah itu,  si sulung “shut down”. Tak pernah lagi cerita tentang temannya tersebut. Ia merasa tak aman dan tak bisa percaya lagi pada saya. Saya membaca chatnya tanpa izinnya. Saya memasuki wilayah privacynya. NIat saya bagus, tapi apa yang saya lakukan melanggar batas buatnya. Perlu waktu berbulan-bulan bagia saya untuk menumbuhkan lagi kepercayaaanya pada saya. Dengan menahan diri sekuat hati untuk tak baca chat hapenya, tak baca diarynya, tak memaksa ia menceritakan apa yang tak ingin ia ceritakan; sampai ia sedikit-sedikit mulai mau cerita lagi.

Si bujang kecil, pernah saya ceritakan dulu, pernah beberapa waktu tidak mau menunjukkan nilai-nilai ulangannya. Pernah “meledak” dan bilang pada saya kalau dia gak mau jadi anak pinter, maunya jadi anak bodoh aja. Kenapa? karena ketika nilai-nilainya “nyaris” 100, ia dapat pujian dari saya, tapi reaksi nonverbal saya gak nyambung. Ia bisa menangkap bahwa saya tak jujur merasa “bangga” pada upayanya. Perlu sekitar satu semester buat saya untuk menumbuhkan rasa percayanya kembali. Setiap ada ulangan yang dibagikan, ia akan menyembunyikannya. Setelah satu semester, baru ia berani menunjukkannya. Saya ingat, dengan ragu ia berkata: “bu, ulangan mas  jelek banget. 89”. Satu semester, adalah waktu yang cukup lama buat saya belajar tulus. “gapapa, tapi ibu liat mas  belajarnya sungguh-sungguh banget waktu itu” . “Iya ibu….nih liat…soalnya susaaaah banget …. itu teh cuman mas yang nilainya diatas 80. Ada dua orang yang 76, trus yang lainnya remedial”. Hiks, waktu itu saya asa pengen nangis. Saya bisa merasa kepercayaannya pada saya sudah mulai tumbuh. Ia berani cerita tanpa takut lagi “terlukai” oleh tanggapan saya.

Bahkan si bungsu pun, pernah tumbuh tembok ketidakpercayaannya pada saya. Waktu itu beberapa hari saya di rumah. Pagi hari, setiap melihat saya tak memakai “baju pergi”, ia langsung berbinar-binar: “Ibu gak ke kampus? ibu di rumah?”. “iya, ibu akan tunggu dede pulang sekolah di rumah, di meja kerja ibu ya” jawab saya. Jam 13, terdengar ia membuka pintu. “ibu…dede datang”katanya. Saya iseng. saya ngumpet. Maksudnya bercandain.  Si bungsu naik ke lantai dua, mencari-cari saya. Lalu nangis. Saya keluar dari tempat saya sembunyi, memeluknya. “Ibu bohong. Katanya ibu mau nunggu dede pulang sekolah di meja kerja ibu, tapi ibu engga ada” begitu katanya. Tau gak….berbulan-bulan setelah itu, setiap kali saya “berjanji”; menjemput dia ke sekolah, beliin ini itu sepulang dari kampus, ia tak percaya. Bahkan kalau sedang beraktivitas bersama, lalu tiba-tiba saya menghilang entah ke kamar mandi atau ke ruanagn lain, ia akan “panik” mencari. Berkali-kali saya bilang saya tak akan mengulangi apa yang saya lakukan, bahwa saya tak akan meninggalkannya tanpa bilang. Tapi kata-kata, memang tak pernah bisa menumbuhkan kepercayaan. konsistensi yang bisa menumbuhkannya.

Saya pernah merasakan rasa tidak percaya pada seorang figur otoritas. Saya tau persis rasanya “tidak aman”. Kita punya mekanisme otomatis untuk melindungi diri kita ketika kita memprediksi kita akan terlukai. Secara psikologis ya. Kita akan menutup diri, kita akan menghindar, kita akan menyembunyikan diri kita yang sesungguhnya.

Buat saya, kepercayaan anak-anak adalah hal yang mahal. Beberapa hari yang lalu saya main “johari windows” sama anak-anak. Saat meminta mereka menyebutkan kejelekan saya, mereka spontan sekali. Bilang saya cerewet lah, ini lah, itu lah…si gadis kecil bahkan memperagakan omelan saya. Haha….saya senang sekali. Kepercayaan akan memunculkan keterbukaan dan rasa aman. Keterbukaan itu yang kita butuhkan bagi anak-anak. Kita tak pernah tau apakah yang kita lakukan benar atau salah, tanpa umpan balik dari anak-anak. Dan anak-anak, tak akan berani memberikan umpan balik saat mereka merasa tidak aman.

Sebagian dari diri anak itu adalah misteri. Tak bisa dijelaskan oleh teori apapun. Sebagian besar tugas saya di ruang konsultasi pada masalah keluarga adalah, menjadi mediator untuk menyampaikan perasaan terdalam seorang anak pada orangtuanya. Perasaan-perasaan “kecil” yang berdampak besar.

35478217-homme-et-de-l-enfant-silhouette-t-te-avec-labyrinthe-symbolisant-processus-psychologiques-de-la-comp-banque-dimagesYa, kita adalah para ibu. Penjelmaan rahman-rahimNya Allah di muka bumi. Kita akan terus belajar untuk menjadi peka saat tembok ketidakpercayaan mulai tumbuh diantara kita dan anak-anak. Kita akan terus berjuang untuk menjadi berani menghancurkan tembok itu dengan mengakui kesalahan dan bersabar menunggu kepercayaan itu tumbuh kembali. Sehingga anak-anak kita, selalu percaya bahwa di dunia ini, ada seseorang yang selalu menyediakan pelukan. Tempat ia bisa membuka dirinya tanpa topeng apapun. Sejauh apapun ia pergi, seburuk apapun yang ia lakukan, seberat apapun yang ia alami; ia tak akan putus asa, ia tak akan patah arang. Karena ia yakin punya tempat untuk “kembali”.

Karena cinta tanpa syarat, itulah yang dimiliki ibu pada anaknya. Hanya saja, kita harus selalu belajar untuk meyakinkannya pada anak-anak kita.