Barisan yang membanggakan

keep-calm-and-be-a-proud-moslem….The messenger of Allah went out leading two columns, with Umar at the head of one and Hamzah at the head of the other, stirring up dust, until they entered the mosque. Quraysh looked at Umar and Hamzah, and felt distressed as never before. On that day, the messenger of Allah named him Al Farooq… (Dr. Ali M. Sallabi in Umar Ibn Al Khattab; His Life & Times, Vol. 1 page. 56)

“Teh, tau gak ********* ?” tanya adik saya. Ia menyebutkan nama laki-laki. “Engga”. Jawab saya. “Bener teh, engga tau? *******   ******” Kali ini ia menyebutkan nama panjang laki-laki tersebut, dengan intonasi tidak percaya. “Engga” jawab saya yakin.  “Ih, dia lagi tenar lagi teh…..keren banget. Alumni ITB. Jadi imam di mana-mana. Tilawahnya bagus. Itu kan temen ngaji di mesjid ***** “. Bla…bla…. pemuda hijrah ….bla…. bla…pejuang subuh …bla..bla…adik saya melanjutkan menjelaskan panjang lebar kiprah pemuda ini dan kegiatannya. Dari sekian panjang ceritanya yang saya dengar sambil  menyiapkan makan malam untuk anak-anak, yang saya seneng adalah adik saya ikut kegiatan yang positif.

Nama pemuda yang disebutkan adik saya, suatu hari kemudian saya baca di beberapa grup wa ortu anak-anak. Maklum, punya 4 anak maka punya minimal 4 grup wa. Kenapa minimal? karena biasanya satu anak punya 3 wa grup : grup kelas, grup level, sama grup sekolah hehe…. Waktu itu bulan puasa. Ada acara sanlat di SD dan SMP anak saya. “kita usulkan ke sekolah yuk, pas QL imamnya ********. Biar anak-anak termotivasi”. Kurang lebih begitu lah. Meskipun penasaran siapakah pemuda itu, namun saya belum tergerak untuk gugling siapa dia. Dengan kepadatan aktivitas, saya mah udah pasrah kalau kudet soal banyak hal.

Nama itu, ketiga kalinya saya baca di brosur nama-nama imam tarawih mesjid Salman. Masih di bulan puasa. Dari situ saya tahu bahwa ia adalah salah satu dari pemuda yang dibanggakan karena hafalan Qur’annya banyak dan lantunan tilawahnya menyentuh.

Nah, barulah saya tergerak untuk gugling. Mulai dari fotonya kkkk. Khas. berkalung surban. Oh, pantesan adik saya juga suka pake gitu. Lagi ngetrend ternyata gaya kayak gitu. Kayak gaya-gaya ustadz muda yang memandu acara perjalanan ziarah ke timur tengah di TV hehe. Owh…ternyata pemuda itu tenar juga. Saya coba gugling medsosnya, aktivis medsos juga hehe….waktu itu di akun medsosnya berisi gambar-gambar serta kesannya saat mengimami tarawih di beberapa mesjid dan acara sanlat di beberapa SD dan SMP serta SMA, lalu ada juga video bacaan surat ar-rahman, katanya requested by seorang ibu hamil yang ngidam pengen denger bacaannya.

Ada yang meresahkan dalam hati saya. Dan pada siapa lagi semua keresahan hati saya ditumpahkan, kalau tidak pada si soulmate, si abah. “Bah, aku kan gugling tentang ***** *****. Abah tau gak? gak tau kan? aku juga asalnya gak tau. Ternyata dia teh jadi idola anak-anak muda sekarang. Emang keren bah….. bla..bla..bla… Tapi kok aku kurang sreg ya waktu liat medsosnya. Ya, aku tau bahwa ini jaman medsos. Mungkin ini channel dakwah sekarang. Tapi aku teh khawatir banget…kekerenannya ternodai. Amalnya udah keren banget di mata manusia. Tapi jaga hati itu kan susah banget bah…..karena sosmed itu ngasih satu hal dengan mudah: pujian. Dan pujian itu  aduuuh….pujian itu candu, bahaya banget bah. Potensial banget merusak hati dan amal. Itu makanya di tafsirnya Pak Quraish Shihab waktu bahas makna ayat alhamdulillahhirobbil alamin, beliau bilang adab memuji itu adalah, tidak langsung di depan orangnya. Karena dampaknya bisa buruk buat yang dipuji. Ya, secara kasat mata memang pujian itu sebagai reinforcement, membuat perilaku dipertahankan bahkan ditingkatkan. Kalau perilakunya baik, ya bagus. Tapi itu bagus di mata manusia. Kalau di mata Allah kan harus ahsanu amala bah…amal yang baik, bukan amal yang banyak. Aku tuh khawatiiir banget…takut hati pemuda ini ternodai….aku lebih seneng dia menyembunyikan amalnya….aku juga khawatir banyak ustadz sekarang kalau ngasih nasihat gitu, suka ditambah foto dia. Kenapa sih harus pake foto? aku khawatir banget hati mereka engga terjaga bah” itu cerocos saya pada si abah suatu sore.

Dan dengan bijaknya, si abah menanggapi cerocosan saya dengan tenang. Ya….sebijak saya yang dengan tenang menanggapi kalau si abah sudah menggebu-gebu bicara soal polatak-politik kkkk… “De, kan dirimu yang sering bilang. Kita jangan melihat sesuatu itu satu kosong, hitam putih. Dalam kondisi masyarakat yang kompleks gini, yang harus kita kedepankan adalah belajar menghargai. Ya, anak itu memang gak sempurna. Mungkin ada benernya kekhawatiranmu. Gak 100 persen ikhlas misalnya. Tapi coba liat dampak positifnya. Anak-anak muda sekarang ini kehilangan figur. Mereka butuh figur konkrit yang bisa mereka lihat. Gak bisa dengan hanya diceritain pemuda-pemuda jaman dulu. Engga kebayang buat mereka. Bentuk perjuangannya juga sangat berbeda. Nah, amal strategis anak ini ya disitu. Coba liat si sulung….teman-temannya…kan dirimu sendiri yang bilang…temen-temennya meskipun seolah di SMPIT, wallpaper hapenya Justin Beiber lah, siapa lah yang gak jelas. Nah, eksistensi aanak-anak muda ini menjadi penting disini. Soal kekhawatiranmu, wajar. Justru itu peran kita. Kita doakan biar mereka terjaga hatinya. Kalau memungkinkan ingetin orang-orang untuk bersikap proporsional, mengagumi tapi di sisi lain peduli dan ikut menjaga hati juga”.

Ya, bener sih kata si abah. kontroversi mengenai “keikhlasan vs eksistensi” pemuda-pemuda tipe mereka ini, saat saya gugling sudah banyak yang mengemukakan. Ada satu tulisan yang komprehensif dan objektif, nadanya sama dengan apa yang disampaikan si abah. Bahkan ada tulisan hasil wawancara wartawan dengan pemuda yang bersangkutan. Pemuda yang bersangkutan menjawab bahwa ia juga membatasi, yang ia syiarkan adalah kegiatan yang sifatnya wajib. Hal ini sesuai dengan pesan Rasulullah untuk mensyiarkan amalan wajib dan menyembunyikan amalan sunnah. Good !!Si penulis menyampaikan bahwa suatu saat ia nonton infotainment yang meliput si pemuda ini, lalu beberapa artis diwawancarai. Ternyata, meskipun artis perempuan yang diwawancarai beberapa ada yang tenar karena suatu sensasi yang sulit dikatakan baik, ketika ditanya mereka ingin punya suami, anak, atau menantu seperti sosok pemuda ini. Dekat dengan Al-Qur’an, mengikrarkan diri sebagai pemuda Islam. Bangga dengan ke-islam-annya. Penulis tersebut mengatakan bahwa ini adalah suatu hal yang sangat positif, ketika sosok idola tidak dilihat dari tampilan fisik, tapi dari kualitas. Karena kalau tampilan fisik mah, si pemuda yang bersangktan memang gak terlalu “camera face”.

Kemarin, setelah subuh saya menonton channel Khazanah di TV. Yang punya TV Kabel bisa cek. Bagus-bagus acaranya. Favorit saya adalah liputan sejarah Islam dan liputan para muslim di negara-negara luar. Bangga  banget rasanya liat mereka dengan beragam warna kulit, beragam bahasa, beragam gaya menutup aurat, namun melakukan 5 rukun yang sama dengan kita. Jadi merasa bahwa Islam ini untuk seluruh alam.

Setelah itu saya mandi, menyiapkan sarapan…saya baru nyadar bahwa si bujang kecil 10 tahun dan si gadis kecil 7 tahun, sudah 30 menit terpaku di depan TV. Padahal jam sudah menunjukkan waktunya mereka mandi. Oh ternyata di TV, ada program one day one juz. Menampilkan seorang pemuda yang melantunkan ayat-ayat suci, kemarin  surat Al Mu’minun dan surat Annur.Oh pemuda itu. Mereka berdua seperti tersihir. Padahal secara visual, tampilan di layar hanya si pemuda itu dengan Al Qur’an di hadapannya. Tapi alunannya memang enak didengar. Tanpa sadar saya berkata pada si bujang kecil : “Dia itu arsitek loh Mas, dari ITB. Pinter, tapi banyak juga hafalannya. Enakeun banget ya ngajinya”. Kalimat saya pendek, namun saya mengenali nada kebangaan dalam nada suara saya.

Ya, dari sekian banyak sahabat Rasul, ada beberapa nama yang saat kita mendengarnya, menumbuhkan kebanggaan dalam hati kita. Kebanggaan karena mereka adalah sosok yang … membanggakan… bukan hanya dari sudut pandang Islam, tapi dengan ukuran apapun kita mengukurnya. Orang-orang ini, secara universal diakui kehebatannya. Pada saat Umar belum masuk Islam, betapa orang Quraisy merasa kuat Umar ada di barisan mereka. Demikian juga dengan Khalid Bin Walid. Maka, ketika orang-orang ini tampil dengan identitas kemuslimannya, memberikan impact yang berbeda. Membuat kita merasa barisan agama ini kuat. Bangga.

Visi itulah yang ingiiiiiiiiiiin saya tanamkan pada generasi muda Islam, juga pada orangtuanya (siapa elo? hehe….). Jangan berantem untuk hal-hal yang gak penting. Pesantren vs sekolah IT vs sekolah negeri vs homeschooling…itu mah gak penting…. sekolah favorit vs sekolah gak favorit vs jurusan keren vs jurusan gak keren… itu juga nomor sekian apalagi perdebatan masalah nikah tua vs nikah muda, atau perdebatan bumi itu bulat atau datar…..engga banget deh hehe… Yang jauuuuh lebih penting adalah, apakah anak-anak kita, diri kita, saat diketahui bahwa kita muslim, menumbuhkan rasa bangga-kah pada saudara-saudara muslim kita, bahwa kita berada di barisan ini? atau justru sebaliknya? kelakuan kita membuat saudara-saudara muslim kita jadi merasa malu dan kecil?

Mau jadi hafidz? alhamdulillah. Jadi profesor astronomi? wartawan? penulis? perawat? ibu rumah tangga?ahli ekonomi?  pedagang di pasar? ahli tafsir? penggiat lingkungan? aktivis politik? menjadi apapun, yang harus kita bekalkan pada anak-anak kita adalah, jadilah orang yang berkualitas. Yang orang-orang non muslim mengakui kualitas kita. Karena kita menunjukkan kebaikan universal yang tak terbantahkan.  Jadilah orang yang berkualitas, yang saat saudara muslim kita tahu kita adalah muslim, mereka akan mengatakan dengan bangga “dia saudaraku”.

Advertisements

Working mom : Karena anak kita “hidup”


“Kalau ada yang salah sama anak-anak, pasti deh salah ibunya”. Begitu curhat seorang teman saya. Mendengar kalimat itu, saya nyengir sambil garuk-garuk gak gatel. Kalau di literatur parenting, pandangan itu sudah tertinggal 30an tahun. Pandangan bahwa orangtua khususnya ibu-lah yang “membentuk” anak, adalah pandangan 30 tahun an ke balakang.

“Apalagi kalau ibunya kerja. Pasti deh…langsung terdengar kalimat: ibunya sih kerja” curhat teman saya yang lain, yang seperti saya, memilih untuk beraktivitas di luar rumah. Saya nyengir juga mendengar curhatannya. Iya, saya juga masih sering sih mendengar kalimat itu. seolah-olah “ibunya sih kerja” adalah jawaban dari semua permasalahan yang muncul pada anak. Sedikit banyak, memang kalimat-kalimat itu adalah stressor tambahan buat ibu bekerja. Selain stressor lain misalnya dinilai lebih memilih uang dibanding anak, dinilai lebih menghargai aktualisasi diri daripada anak.

Sejauh yang saya tahu sih…yes…ketika anak merasa tidak dicintai dan tidak berharga, perasaan itu akan menjadi akar yang menumbuhkan tunas-tunas “masalah perilaku”. Dan ibu yang meninggalkan anak sekian jam perhari, tidak selalu ada secara fisik mendampingi anak di rumah, memang hal yang paling kasat mata bisa disalahkan atas tumbuhnya rasa tidak dicintai dan tidak berharga pada diri anak.

Meskipun saya punya pertanyaan polos; apakah PASTI anak yang ditinggalkan oleh ibunya sekian jam sehari, anak yang ketika pulang ke rumah ibunya belum datang, akan merasa ia tidak dicintai dan merasa ia tidak berharga ? Apakah PASTI anak-anak itu “marah” pada ibunya? lalu “balas dendam” dengan menciptakan beragam masalah?

Saya lalu ingat cerita seorang senior saya. Baliau seusia ibu saya. Baliau pernah bercerita bahwa setelah anaknya lulus sekolah, ia baru tahu bahwa anaknya sering sekali dipanggil ke BK (bimbingan konseling) karena “bermasalah” bermasalah gitu lah….nakal-nakal anak jaman dulu. Ketahuan naik motor, bolos pas jam pelajaran, dll. Senior saya tersebut tahu dari gurunya. Senior saya kaget karena ia tidak pernah tahu. Padahal sekolah tersebut ketat sekali selalu memanggil orangtua anak yang melanggar peraturan. Lalu si guru sekolah itu cerita. Setiap kali ia memberi surat untuk memanggil senior saya, anak senior saya tersebut nangis dan bilang: “jangan pak, tolong jangan panggil ibu saya ke sekolah. Saya bukan takut dimarahi ibu saya. Tapi saya kasian sama ibu saya pak. Ibu saya sudah banyak kerjaan di kantornya. Jangan bebani lagi pikiran dia dengan masalah saya. Saya mau melakukan apapun sebagai konsekuensi perilaku saya”. Si guru bercerita, bahwa bukan sekali dua kali si anak itu mau membersihkan toilet seluruh sekolah, asal ibunya tidak dipanggil ke sekolah. Dan beberapa cerita lagi senior saya sampaikan sambil matanya berkaca-kaca saat menggambarkan betapa anaknya “berempati” dengan kondisi ibunya.

Serupa tapi tak sama, saya jadi ingat kejadian tahun lalu. Saat itu ada acara pentas seni. setiap kelas harus menampilkan pertunjukkan. Di wa grup, saya dapat info kalau  kelas si bujang kecil akan menampilkan beragam profesi. Mulai H-3 acara, para ibu di wa grup heboh bertanya dimana harus mencari beragam kostum. Kostum tentara, pilot, pemadam kebakaran, dokter, dll dll. Kok si bujang kecil gak bilang apa-apa ya? waktu itu saya memang sedang padat. Sedang jadi panitia sebuah acara besar. H-1 saya tanya si bujang kecil: “Mas, kok ibu-ibu lain heboh cari kostum? Mas harus pake kostum apa?” si anak kelas 4 itu menjawab; “Mas pilih jadi pemain bola bu. Sengaja biar ibu gak usah susah cari kostum kemana-mana. Nanti ibu harus carinya malem-malem. Kasian ibunya. Kalau kostum pemain bola kan udah ada” katanya. Hwaaa….hiks…waktu itu saya langsung sesenggukan.

Sebenarnya anak itu berhak untuk “gak mau tau” memilih jadi ini itu dengan kostum yang aneh.  Sebenarnya dia punya hak untuk marah kala saya misalnya terbatas waktu untuk mencari kostumnya. Tapi saya merasa ia memilih untuk menerima dan memahami keadaan ibunya.

Apakah ia sedih? apakah ia menderita? apakah ia merasa tidak dicintai? apakah merasa tidak berharga? bukan kita yang bisa menjawabnya. Tapi mereka. Anak-anak itu. Para peneliti di bidang parenting terkini, sudah sepakat bahwa anak bukanlah individu pasif, yang hanya “menerima perlakuan” dan “otomatis” terbentuk oleh perilaku orangtua. Mereka aktif memaknakan perilaku orangtua mereka.

Itulah sebabnya kita melihat keragaman: Ada orangtua yang sangat ketat dan disiplin, anaknya ada yang disiplin, ada yang engga. Ada orangtua yang mencontohkan menjadi sholeh, anaknya ada yang sholeh ada yang engga. Ada orangtua yang menunjukkan besarnya rasa cinta dengan memberikan perhatian, anaknya ada  yang merasa dicintai ada yang merasa dibatasi. Ada anak yang hanya ketemu ayahnya setahun sekali karena ayahnya mencari nafkah, bisa mencintai ayahnya karena menghayati ayahnya bekerja keras untuknya. Tapi ada anak yang ayahnya selalu ada untuknya, malah menghayati ayahnya tidak mempercayainya. A-Childs-Mind-Quote-680

Anak adalah individu aktif yang memaknakan perilaku orangtuanya. Maka, penghayatan anak adalah kuncinya. Oleh karena itu, yang harus kita upayakan bukanlah memberikan cinta dan kasih sayang  dalam bentuk “menurut kita”. Tapi, mencintai dan menghargai anak “menurut anak”.  Kuncinya? kesungguhan dan ketulusan, menurut saya. Kesungguhan mencari cara untuk mencintai mereka, ketulusan dan kerendahan hati mencintai mereka, sesuai dengan keadaan kita. 

Khusus untuk ibu-ibu bekerja: yups, memang kita harus “ekstra” berusaha untuk memahamkan bahwa -meskipun kita meninggalkan mereka setiap hari kerja, bukan berarti mereka tak penting. Mereka penting, dalam semesta kepentingan yang lain. Kita harus “ekstra” berusaha untuk memahamkan bahwa cinta itu banyak bentuknya, bukan hanya berbentuk  keberadaa kita saat mereka pulang sekolah. Kita perkenalkan cara kita mencintai dan menghargai mereka sesuai dengan kondisi kita. Jangan lupa: mengecek penghayatan mereka.

Kita tunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh mencintai mereka, sesuai dengan kondisi kita. Kita tunjukkan juga bahwa kita tulus mencintai mereka. Yakinlah, mereka bukan angka-angak yang memenuhi hukum jika a maka b. Mereka adalah manusia kompleks. Makhluk Tuhan yang paling sempurna. Yang aktif dalam merasa dan meng-akal. Jangan pernah berpikir bahwa mereka adalah individu yang pasif, yang tergantung, yang membutuhkan untuk “diisi” dan “dibentuk” sepenuhnya oleh kita. Pandangan itu, akan membuat kita stress. Bener.

Maka, cintai dan hargai mereka dengan sungguh-sungguh, tulus dan alami; kita ngobrol soal penghayatan dan perasaan mereka sambil memeluk mereka dengan erat dan hangat, sambil mengobrol dan bercanda ria dengan mereka. Kita  mengobrol tentang perasaan mereka dan perasaan kita. Mengobrol tentang sedihnya mereka tak dijemput tiap hari oleh kita, juga tentang sedihnya kita yang tak bisa menjemput mereka tiap hari. Tentang senangnya mereka saat dibawain oleh-oleh meskipun cuman sebutir permen, juga tentang bahagianya kita memberikan permen sepulang kerja untuk mereka. Tentang pentingnya kegiatan mereka, juga tentang pentingnya kegiatan kita. Tentang kebahagiaan mereka beraktifitas dengan teman dan guru,  juga kebahagiaan kita beraktifitas dengan teman, klien, pelanggan, maupun bos kita. Tentang kangennya mereka terhadap kita, juga kangennya kita terhadap mereka.

Sungguh…anak-anak kita, bukanlah individu pasif yang harus kita “beri”. Kita pun, bisa mendapatkan sesuatu dari mereka. Mereka, punya kapasitas untuk menilai dan bijaksana.

sumber gambar: http://www.lifehack.org/338675/18-best-parenting-quotes-live

upacara bendera

WhatsApp Image 2016-08-15 at 10.49.17 AMIndonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg’riku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.

Setiap hari Senin kalau kebetulan punya waktu agak luang, saya selalu menyempatkan menunggui acara upacara bendera. Biasanya di sekolah si bungsu, di TK. Seruuuu banget rasanya liat para ibu guru mengkondisikan sedemikian rupa anak-anak usia 2,5-6 tahun itu untuk mengikuti sebuah prosesi selama kurang lebih 30 menit. Saya suka senyum-senyum sendiri sambil berkaca-kaca melihatanak-anak kecil itu menyanyikan lagi Indonesia Raya dan lagu-lagu wajib nasional dengan penuh semangat. Dan bagian “sambutan pembina upacara”; sama sekali tidak membosankan seperti saya merasa jaman dulu pas sekolah. Lha wong Ibu Kepala Sekolah akan mulai dengan kata-kata: “Assalamualaikum….selamat pagi teman-teman…..gimana kabar hari ini? siapa yang tadi pagi bangun pagi? siapa yang tadi pagi mandi dan gosok gigi? Siapa yang mau cerita kemarin sabtu minggu pergi kemana sama mama papanya?” … asiiiik banget.

Setelah upacara bendera selesai, biasanya akan diputar musik lagu-lagu anak-anak yang menggembirakan. Maka, anak-anak itu pun bersama para gurunya, akan dengan riang bernyanyi. Lagu “ayo sekolah”, lagu Mars dan Hymne TK itu, saya juga suka ikutan nyanyi dan ikutan riang hehe…. Pernah suatu kali saya ngobrol sama ibu Kepala Sekolah, katanya prosesi upacara itu sengaja karena selama 2 hari weekend anak-anak gak masuk sekolah, rutinitas terganggu, biasanya senin pagi anak-anak agak rewel. “Biar dipanaskan dulu Mam” kata ibu. Saya jawab pake dua jempol.

Pagi tadi, karena kebetulan abahnya tidak ke luar kota, kami bersepakat si abah yang anter si bungsu, ibu sekalian ke Jatinangor anter si bujang kecil dan si gadis kecil. Kebetulan sejak beberapa hari lalu si bujang kecil heboh, dia degdegan karena jadi pemimpin upacara. Dia beberapa kali nanya: “Kepada bendera Indonesia atau bendera merah putih sih bu, pas hormat grak?”. Saya dan abahnya jawab: “Waktu ibu dan abah SD, 28 tahun yang lalu sih kepada bendera merah putih mas” kkkk

Si sulung pun memberikan saran pada adiknya gimana biar gak degdegan nanti di depan teman-temannya, Gimana biar gak takut salah. Haha….padahal 2-3 tahun lalu, waktu dia jadi etugas upacara di SDnya, jadi pengibar bendera, juga gak kalah heboh kkk. Apalagi pas kebagian jadi penarik bendera merah putih. Dulu sampai maksa latihan, ibu sama si bujang kecil jadi partner. Latihan baris, latihan narik bendera….

Saya sendiri tidak keberatan karena saya tahu betul rasanya degdegan kalau jadi petugas upacara. Maklum, selama SD-SMP SMA, sering jadi petugas; pengibar bendera, pembawa acara, pembaca UUD, pembaca doa dan ajudan. Tauuu betul degdegannya.

Hiii…bahkan ada satu pengalaman upacara yang tak akan terlupakan sampai sekarang. Jadi waktu SMA kelas 3 ya, ceritanya saya jadi pembawa acara. Nah, saya liat, kertas tulisannya udah robek-robek. Maka berinisiatiflah saya bilang ke wali kelas, mau ketik ulang tulisannya. Jadi saya bawa pulang tuh…Nah, pas hari Senin…..ternyata saya telat dapat angkot…jadi saya telah 30 menitan. Upacara gak bisa dimulai…bukan karena petugas MC nya yaitu saya belum datang, tetapi karena naskah yang mau dibacakan juga gak ada karena saya bawa haha…aduh, itu ekspresi marah walikelas saya di depan gerbang, masih nempel sampe sekarang kkkkk

Ah, mungkin itu sebabnya ya…saya suka menyaksikan anak-anak upacara bendera karena sambil nostalgia kkk…Tapi serius ya, menurut saya upacara sebagai salah satu cara untuk mengenalkan kebangsaan itu penting loh. Kapan lagi anak-anak terpapar oleh pengibaran bendera bangsa, menyanyikan dengan tegap lagu kebangsaan, menyanyikan lagu-lagu perjuangan….

Dulu pernah saya bantu di sebuah SDIT. Nah, di sana gak ada upacara. Katanya diragukan bahwa upacara bisa menanamkan kecintaan terhadap bangsa. Iya sih, memang gak pernah ada evaluasi terhadap hal itu. Tapi pas saya tanya, di sekolah itu gantinya apa untuk menanamkan kecintaan terhadap Indonesia? gak ada. Yaaaah……Waktu itu, sempat berlanjut jadi diskusi sih, karena dengan polosnya saya bertanya:“Apakah menurut sekolah ini rasa cinta tanah air tidak perlu?”

Kenapa saya tanya begitu, karena saya tahu bahwa ada sekolah-sekolah swasta yang memang pendirinya tidak merasa perlu siswa-siswinya mencintani tanah air. “Yang perlu ditanamkan adalah mencintai agamanya bu” demikian pernah saya dengar. Oleh karena itu, siswa-siswi di sekolah tersebut, kalau ditanya…gak kenal apa itu artinya proklamasi, bapak proklamator siapa mereka gak tahu. Panglima Sudirman? gak kenal. Mereka hanya tahu nama-nama pahlawan agama mereka yang bertempur di sana, di tanah yang jauh dari tempat mereka lahir dan dibesarkan.

Sebenarnya saya punya pertanyaan lugu yang tidak sempat saya tanyakan pada pengelola sekolah itu. “emang gak bisa gitu Pak, cinta agama sekaligus cinta bangsa?” . “Gak bisa gitu cinta Islam sekaligus cinta Indonesia?”. “Gak bisa gitu, jadi seorang Kristiani yang baik dan cinta pada negaranya?”. Pagi tadi, di sekolah si bujang kecil dan si gadis kecil, saya melihat alur upacaranya berbeda. Ada pembacaan tasmi Qur’an. Anak yang terpilih melantunkan hafalan Qur’an. Hafalan itu yang biasanya dibahas oleh Pembina Upacara mengenai arti dan penjabarannya dalam kehidupan anak-anak. Rasanya itu adalah salah satu bukti bahwa kita bisa kok cinta tanah air sekaligus cinta agama.

Saya dan suami, termasuk orangtua yang menanamkan nilai cinta tanah air pada anak-anak. Apakah mencintai tanah tempat kita lahir, dibesarkan, tempat kita tumbuh bersama orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita PASTI akan bertentangan dengan identitas kita sebagai muslim? Saya kok melihat dan merasa tidak ya. Bahkan menunjukkan betapa indah negara kita, betapa kaya dan uniknya budaya bangsa kita, adalah keMahaanNya, yang bisa dengan mudah kita tunjukkan pada anak-anak kita.

Apakah kalau mencintai nusantara artinya kita akan SELALU berada di luar jalan sunnah Rasul? ya, kalau yang dimaksud sunnah Rasul adalah memakai baju seperti itu, warnanya itu, ngajinya harus kesitu. Tapi kalau sunnah Rasul kita pahami sebagai  menutup aurat untuk menjaga kehormatan diri,  beribadah sesuai tuntunannya, bertenggang rasa,  menebar senyum,  berbagi…. maka kita akan merasa bisa banget mencintai agama dan negeri ini sekaligus.

I Love my religion and I love my country.

Wallahu alam.

 

 

 

 

 

Mengapa anak harus dibuat “senang?” dan “manja”?

Ada minus plus jika kita punya teman yang amat beragam dalam hal nilai kehidupan yang dipegangnya.  Buat saya sendiri, minusnya adalah bahwa kita sering “terbentur-bentur”; mendapatkan informasi, opini dan sikap  yang super ekstrim, yang membuat kita menjadi terus mengevaluasi nilai kita sendiri. Plusnya apa? Plusnya adalah, cakrawala wawasan kita jadi luas, dan kita selalu dalam posisi “bergerak” untuk mencari gimana yang “pas” dan “yang paling benar” menurut kita.

Ya, saya punya teman yang amat beragam. Sebenarnya tak cukup  menggambarkan keberagamannya melalui  satu garis linear saja. Tapi okelah, untuk sederhananya, kita gambarkan dalam satu garis linear.

Saya punya teman beragam, dari yang menganggap selain ustadznya dia adalah salah, sampai dengan teman yang menggap semua agama, termasuk tak beragama adalah “sama”. Saya punya teman beragam, dari yang sangat serius menekuni ilmu kedokteran sampai ia menganggap hasil riset  itu di atas agama, sampai dengan teman yang menganggap bahwa memvaksin anak itu sama dengan mendahului takdir Allah. Saya punya teman dari yang berpendapat bahwa anak itu harus diberikan batasan seketat-ketatnya, sampai dengan teman yang berpendapat bahwa anak itu harus diberikan kebebasan sebebas-bebasnya. Dan, beragam teman yang berbeda kutub secara ekstrim dalam beragam dimensi kehidupan lainnya.

Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah, dua titik ekstrim mengenai pendidikan anak.

Salah satu isue dalam dalam psikologi pendidikan dan pengasuhan adalah, bagaimana orangtua/guru perlu memahami dan  “mempertimbangkan” karakteristik perkembangan anak. Dalam buku-buku introduction to Educational Psychology, dalam bagan yang menjelaskan bagaimana aplikasi psikologi dalam bidang pendidikan, selalu akan ditemui “learner characteristics”. Bahwa guru, harus memahami karakteristik anak. Maka, muncullah beragam macam metode yang akarnya berawal dari sudut pandang ini. Beragam macam metode.  Tujuannya adalah, agar anak “senang” dan “menikmati” proses belajar. Asumsinya adalah, jika anak “senang” dan “menikmati”, maka apa yang diajarkan akan “nempel”. Baik itu berupa pengetahuan, pemahaman, sikap maupun keterampilan.

Selama ini, saya berada di arus ini.

Lalu beberapa waktu yang lalu, seorang teman menyampaikan sebuah pernyataan yang “mengobrak-abrik” apa yang sudah ada di kepala saya. Menurut teman saya itu, arus pendidikan saat ini, membuat anak-anak menjadi “manja”. Anak “dimanjakan” dengan beragam metoda pembelajaran yang menyenangkan. Tak ada hukuman yang “membuat jera”. Padahal kalau liat jaman dulu, orang-orang “besar” itu belajr tidak dengan cara yang menyenangkan. Menurut teman saya, justru anak-anak ini harus dibuat “bosan”. Biar “ambang kebosanan” mereka jadi tinggi. Tidak selalu menunutut orangtua atau guru untuk mencari 1001  cara agar mereka senang belajar. Lalu ia menunjukkan sebuah share-an berita yang menjelaskan adanya sebuah sekolah yang menganut madzhab “anak jangan dibuat manja”.

Hmmm….bener juga ya…bener kan teman-teman? gimana menurut teman-teman? Argumennya terasa benar…tapi …jujur saja, sulit bagi saya menerimanya. Dari pernyataan teman saya tadi jadi muncul pertanyaan: kenapa sih anak harus dibuat senang dengan kegiatannya? bukankah itu membuat mereka menjadi manja? Kenapa tidak kita “paksa” anak kita untuk mengikuti kegiatan itu?

Saya terus berusaha cari jawabannya, dan hari ini saya dapat jawabannya.

Begini temans….kalau kita renungi…apa sih yang sebenarnya kita harapkan dari anak kita? bahasa agamanya bahagia dunia akhirat. Bahasa psikologinya, well being. Sejahtera. Lagi ngehits nih penelitian children well being di Indonesia. Secara sederhana orang yang well being atau sejahtera bisa diartikan bahagia dan puas dengan kehidupannya, implisit di dalamnya bahwa mereka mampu memenuhi berbagai tuntutan kehidupan sesuai dengan perkembangannya, dengan baik.

36348017-media_httpwwwfuturity_ACizpNah, dalam bahasa well being pada anak, ada satu istilah yang membuat saya kesengsem, yaitu istilah well-becoming. Ada dimensi waktu saat kita membahas kesejahteraan anak. Bahwa mereka, tak hanya harus kita bantu untuk sejahtera saat ini. Tapi sejahtera dalam kehidupannya mendatang. Kalau dalam pandangan psikologi, kehidupan mendatang adalah selama anak hidup.  Dalam sudut pandang agama, sampai pada rentang kehidupan setelah kematian.

Maka, dalam beragam tataran praktisnya, apapun yang kita lakukan pada anak,  selain kita harap bisa melihat dampak positifnya pada saat ini, kita juga harus meninggalkan “jejak” dalam dirinya, yang bisa membuat dampak positif untuk masa yang akan datang. Kita tak tahu apa yang akan dihadapi anak di masa yang akan datang. Tapi ada bekal mendasar yang harus kita pastikan mengakar dalam diri mereka. 

Kembali lagi pada kasus pembelajaran tadi….kenapa kita harus berupaya mempelajari ini itu, menggunakan metoda ini itu untuk anak? untuk apa effort sebesar itu? apa “imbalan” ya ng kita dapat? Jawabannya adalah…karena tujuan kita bukan hanya agar anak duduk diam mendengarkan. Bukan hanya agar anak memahami pelajaran itu. Bukan hanya agar anak menguasai apa yang kita ajarkan. Tapi lebih jauh dari itu, agar anak tumbuh motivasi intrinsiknya untuk balajar.

Mengapa harus ada beragam riset untuk menemukan metoda menghafal AlQuran? itu membuat anak manja. Kita “paksa” aja anak dengan metoda konvensional…..Jawabannya adalah….Karena tujuan kita bukan hanya anak hafal pada saat pendidikan. Tapi kita ingin meninggalkan jajak, bahwa menghafal alQur’an itu menyenangkan. Kita ingin ada dorongan yang mengakar dalam diri anak untuk menghafal al quran. Karena kita ingin  memastikan bahwa tanpa kehadiran kita, anak akan terus menghafal al qur an. Sepanjang hidupnya.

Mengapa harus ada berbagai penelitian untuk menemukan metoda belajar matematika agar menyenangkan? bukankah itu membuat anak kita manja? Kta “paksa” aja anak dengan metoda konvensional…… Jawabannya adalah …..Karena tujuan kita bukan hanya anak mengerti dan mendapat nilai baik. Tapi kita ingin meninggalkan jejak yang mengakar, bahwa belajar matematika  itu menyenangkan. Bahwa sesuatu yang sulit itu bisa ditaklukkan.  Karena kita ingin memastikan,   bahwa tanpa kehadiran kita, anak punya dorongan yang mengakar untuk belajar. Sepanjang hiupnya.

Kita tentu sudah banyak mendengar bagaimana ada sejumlah anak yang “baik” saat ada di lingkungan yang baik, namun lingkungan baik itu tak berjejak pada dirinya saat ia tak ada di lingkungan baik tersebut. Kita juga sudah banyak mendengar anak yang baik saat didampingi oleh orangtua yang baik, namun jejak kebaikan orangtuanya tak mengakar dalam dirinya.

Saya pernah bertanya pada diri saya sendiri; mengapa Allah menciptakan manusia dalam tahapan2: bayi, anak, remaja, dewasa. Waktu itu saya tanyakan pada anak saya, dia jawab; “ya ampun, ibu….gimana ngelahirinnya kalau langsung gede”. Bener juga ya…tapi kenapa Allah tidak menciptakan fisiknya aja yang bertahap-bayi, anak, remaja, dewasa” tapi secara psikologis udah langsung dewasa gitu? Kenapa coba? Yang ini saya belum punya jawaban yang “clear”, Masih mencari.

Tapi yag jelas, bayi, anak …itu akan tumbuh menjadi seseorang yang dewasa. Kalau kita percaya bahwa sebagai orangtua kita memiliki kewajiban untuk memberikan “bekal” pada anak-anak kita, maka kita harus bekalkan sesuatu yang akan abadi ada dalam diri anak kita, tanpa kita harus hadir bersama mereka.

Sebut beragam istilah. Tapi saat ini, saya mendekatinya dengan istilah motivasi instrinsik. Dorongan yang muncul dari dalam dirinya untuk melakukan sesuatu. Sesuatu itu; adalah nilai-nilai yang ingin kita tanamkan. Ritual ibadah. Belajar. Menaklukkan tantangan.

Dan konon, dorongan dari dalam diri itu, hanya akan tumbuh jika anak merasa : (1) memiliki “kendali” terhadap dirinya, tidak “dikendalikan” oleh orang lain. (2) merasa kompeten, “aku bisa”. (3) merasa terhubung dengan orang lain. Dengan orangtuanya, dengan gurunya.

Dan ketiga hal tadi, akan terasa oleh anak, jika kita mengupayakan sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi anak. Pengalaman yang memberikan jejak kesenangan dan ketertarikan, meskipun apa yang dialami tidak selalu hal yang mereka sukai dan mereka minati.

Wallahu alam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengenal tipe-tipe motivasi anak kita

Pagi kemarin  saya mengantar sekaligus menunggui si gadis kecil latihan tifan di sekolahnya. Sebenarnya, keluarga kami sudah bersepakat bahwa anak-anak tidak memilih kegiatan apapun di hari Sabtu. Oleh karena itu, setiap menerima surat pemberitahuan jadwal ekskul yang bisa dipilih, ekskul yang kegiatannya hari Sabtu langsung di “blacklist”. Sabtu minggu adalah full family time. Paling sesekali saya mengisi seminar atau abahnya ada pertemuan urgent.

Tapi semester ini, kegiatan pramuka di sekolah si sulung kelas 8, jadi sabtu. Setengah hari. Untuk persiapan ke jambore dunia akhir tahun ini. Jadilah si bujang kecil dan si gadis kecil saya perbolehkan memilih ekskul di hari sabtu. Si gadis kecil yang baru berulangtahun ke 7 minggu lalu, tahun lalu memilih cooking class. Tahun ini, setelah sempat bingung memilih antara craft and art dan tifan, tak diduga ia memilih tifan. Saya seneng sih, karena ia agak clumsy. Jadi tifan bisa menstimulasi pengendalian dan koordinasi tubuhnya.Seperti juga si bujang kecil yang endurance tubuhnya minus, saya arahkan ke olahraga. Si bujang kecil memilih bola dan panahan.

Senin lalu adalah latihan tifan pertama si gadis kecil, jam 4 sampai setengah 6. Saya sengaja pulang lebih awal dari kampus untuk melihat kegiatan latihannya. Cuman ada 3 anak di latihan pertama itu, dua laki-laki kelas  3 adan kelas 5, dan si gadis kecil. Saya datang sudah jam 5. Saya lihat ia terseok-seok mengikuti beragam gerakan sederhana yang dilatihkan pelatihnya, Lalu ditugaskan melatih gerakannya secara mandiri. Satu gerakan 50 hitungan. Saat ia diminta untuk menyebutkan bilangan-bilangan dalam gerakannya, terdengar suaranya kayak mau nangis gitu hehe… saya udah siap aja kalau setelah latihan, dia bilang kapok.

Eh, tak terduga dia bilang seru latihannya. Dan kemarin, jam setengah 6 dia sudah mandi dan sudah siap dengan seragamnya, ngajak-ngajak saya dan abahnya untuk segera berangkat, takut terlambat katanya.

Salah satu kekhasan si gadis kecil adalah, ia sangat ekspresif `menunjukkan minatnya. Seperti tahun lalu ikut cooking class, setiap weekend pasti ngajak saya mempraktekkan kembali masakan-masakan yang telah dipelajarinya. Lalu semester lalu, ia minta les bahasa inggris. Ternyata belum ada temennya di levelnya. Saya tawarkan:  mau sekarang tapi sendirian atau mau nunggu ada temnnya? Dia memilih sendirian gapapa. Seminggu dua kali lesnya. Dia pulang dari sekolah, istirahat 30 menit, berangkat lagi. Mau hujan, mau kurang fit, dia maksa. Istiqomah hehe….sampai semester ini, ia memutuskan untuk berhenti. Pelajarannya sama dengan yang diajarin di sekolah katanya. Kegiatan lain yang selalu membuat ia berbinar-binar adalah menggambar. Tiap hari kalau saya pulang ke rumah, minimal ada 5 lembar hasil gambarnya bertebaran di rumah. Akhir-akhir ini di asenang membuat komik. Komiknya yang “istiqomah” dan “bersambung” dari hari ke hari berjudul “sekolah kucing” ;).

Dan kegiatan ini, bener-bener jadi coping dia saat menghadapi “masalah”. Bulan puasa kemerin, ketika merasa lapar menjelang sore, ia akan menggambar segala macam jenis makanan yang terlintas di kepalanya. Kalau marah sama adiknya, dia juga menggambar kekesalannya, yang akan ia “laporkan” pada saya sepulang saya ke rumah. SUdah beberapa bulan ini, saya belikan dia skecthbook. Jadi komik bersambungnya tak bertebaran di mana-mana, bisa kita baca menjelang tidur.

Perilaku sI gadis kecil, selalu mengingatkan saya pada satu kata. Motivasi. Motivasi, secara sederhana bisa didefinisikan  ENERGI yang MENDORONG dan MENGARAHKAN perilaku. Ada 4 keywords disini. Energi, mendorong, mengarahkan, perilaku.

Bagi teman-teman yang pernah ikut asesmen psikologi untuk penjurusan dan atau untuk melamar pekerjaannya, salah satu asesmen psikologi yang biasanya “wajib” dikerjakan adalah asesment motivasi ini. Dari hasil asesment itu, bisa tergambarlah besar energi yang dimiliki, keterarahan energinya, pengelolaan energinya, dll.

Mengapa industri/organisasi selalu meminta dilakukan asesment terhadap motivasi? Karena hanya karyawam yang memiliki motivasi lah yang akan “tergerak” untuk melakukan pekerjaannya. Dan itu artinya produktifitas. Keuntungan. Secerdas apapun karyawan, sehebat apapun skill yang dimiliki, kalau ia tak mau “bergerak” mah gak ada manfaatnya. Begitu juga dengan siswa/mahasiswa. Setingi apapun IQ nya, kalau ia tak tergerak untuk belajar, mengerjakan tugas, ya IQnya akan “mubadzir”.

Secara sederhana, sebagai emak-emak, kita bisa kelompokkan anak-anak kita ditinjau dari sudut pandang motivasinya, menjadi  4 kelompok, dengan sub-sub kelompoknya; sebagai berikut:

(1) Anak yang energinya besar, dan energinya sudah terfokus pada tujuan yang jelas.             a. Anak energinya besar, energinya sudah terfokus pada tujuan yang jelas sesuai keinginan ortu

b. Anak energinya besar, energinya sudah terfokus pada tujuan yang jelas, tapi tidak sesuai keinginan ortu

(2) Anak yang energinya kecil, tapi energinya sudah terfokus pada tujuan yang jelas

a. Anak energinya kecil, energinya sudah terfokus pada tujuan yang jelas sesuai keinginan ortu

b. Anak energinya kecil, energinya sudah terfokus pada tujuan yang jelas, tapi tidak sesuai keinginan ortu

(3) Anak yang energinya besar, tapi energinya belum terarah pada tujuan yang jelas

(4) Anak yang energinya kecil, dan energinya belum terarah pada tujuan yang jelas

Nah, sebelum melanjutkan….yuks, kita petakan dulu…anak-anak kita ada di posisi yang mana.

Sudah? mari kita lanjutkan.

Saya sendiri merasa, dari klien-klien yang bertemu saya, beberapa tahun lalu, permasalahan “motivasi” anak pada umumnya berada di area no. 1b dan 2b. Isunya adalah ketidaksesuaian harapan orangtua dengan pilihan anak. Orangtua yang anaknya di posisi 1a dan 2a sih biasanya tidak datang ke psikolog hehe…

Nah, di tahun-tahun belakangan ini, permasalahan tampaknya lebih pada no. 3 dan n0.4. Dulu kalau penjurusan, pertanyaannya adalah:  saya lebih cocok dimana, di jurusan A atau jurusan B? semakin kesini, pertanyaannya menjadi: “jurusan apa ya, yang paling cocok buat saya?” itu biasa. Nanti kita akan lihat hasil asesment, lalu wawancara untuk menggali minat-minat yang mungkin belum disadari anak.

Nah, yang bingung adalah, kalau ketemu anak di no.4. Dari asesment, tak tergambar ada minat yang menonjol. Tak ada ketergugahan yang melonjak terhadap sesuatu. Dari wawancara, anak tak punya hobi. Tak tau apa yang dia sukai apa yang tidak ia sukai, apa yang menarik apa yang engga menarik, apa yang bikin semangat apa yang engga bikin semangat.  Biasanya, untuk kasus seperti ini, anak dan orangtua akan dikasih “PR” dulu, untuk bisa menghayati minat, perasaann, kesukaan, dll.

Nah, kalau dalam konteks pengasuhan nih. Tentu kita tak ingin anak kita sampai pada kondisi no.4 . Target kita sebenarnya adalah anak di kondisi no 1 dan 2. Buat saya sendiri, jika anak berada di posisi 1b atau 2b, tidak menjadi masalah.

Misalnya  kita pengen anak kita menekuni bidang “profesional”. Jadi dokter, insnyur…eh, anak kita malah pengen jadi penulis atau pelukis … atau kita pengen anak kita jadi hafidz/hafidzah, eh anak kita malah tekuuuun mempelajari biomolekular. Nah, menurut saya itu mah issue nya ada di area kelapangan hati orangtua. Yang harus dilakukan orangtua? Mendukung dan tetap menanamkan nilai.

Gapapa gak jadi hafidz/hafidzah kalau mau jadi profesor biomolekuler, tapi jadi profesor yang sungguh-sungguh, baik, yang rendah hati, cari dan komunikasikan keMaha-an Allah lewat temuan-temuan ilmiahmu nak…..Meskipun ibu/ayah khawatir kamu tidak dapat rejeki yang tetap, namun kalau kami mau jadi penulis, jadilah penulis yang sungguh-sungguh, ynag menulis sesuatu yang berkualitas, bisa menginsipirasi orang lain…

Jadi, yang kita lihat sebagai orangtua bukan “bentuk”nya: hafidz/hafidzah.dokter.insinyur.penulis; tapi “esensinya”. kerja keras. kesungguhan. kerendahan hati. keuletan menghadapi tantangan. kesadaran bahwa harus bergerak untuk mendapatkan apa yang diinginkan. kepedulian. kualitas.

Apa “bahaya”nya kalau kita tak belajar untuk “berlapang hati?” . Secara filosofis, pada orang dewasa, kita tidak akan bisa memotivasi seseorang bergerak menuju sesuatu, kalau itu bukan tujuan pribadinya. Paling sedih saya kalau bertemu klien bimbingan karir. Usia sudah bukan usia “mencari” lagi, tapi belum “nyaman” dengan apa yang dilakukan sekarang. BIsa jadi tak berprestasi, atau bisa jadi berprestasi tapi ia tak merasa “bahagia”. Karena tujuannya, apa yang menjadi passionnya, ada di arah sana, di arah yang “dimatikan” oleh orangtuanya. Sayaaaang banget.

Nah, bagaimana sikap kita jika anak kita ada di posisi no 3 dan 4?  Saya sering mendapatkan pertanyaan dari orangtua anak usia prasekolah/ SD : “adakah alau untuk mengetahui minat dan bakat anak?”. Sepengetahuan saya, asesment psikologi yang langsung bisa menunjukkan anak ini minat dan bakat di bidang vokal, anak  ini di bidang olahraga renang, anak ini di bidang coding, tidak ada. Yang bisa “mengidentifikasi” adalah para ahli di bidang tersebut. Kalau kit agak pernah terpapar kegiatan seni, kita gak akan tahu  kalau anak kita peka nada dan berbakat di bidang musik, misalnya. Kalau kita bukan orang yang bergerak di bidang human services, mungkin kita gak bakalan ngeuh bahwa anak kita punya empati yang tinggi.

Jadi, jawaban saya kalau ditanya “gimana cara mengetahui minat dan bakat anak?” sejauh ini saya menjawab; amati apa yang membuat matanya berbinar, kegiatan yang membuat ia semangat….terutama untuk hal-hal yang produktif. Kalau terlihat ia hanya semangat pada hal-hal yang sifatnya tidak produktif misalnya main game, atau nonton TV, mungkin kita kurang mengenalkan beragam kegiatan padanya. Karena kita tak pernah mengajaknya main bola, mungkin kita tak akan tahu kalau dia keren ngegocek bola. Kalau kita tak pernah membacakan cerita padanya, mungkin potensi ia untuk menjadi penutur cerita, tak pernah tergali.

Bagaimana kalau anak kita terlanjur besar tanpa tau maunya apa, sukanya apa, minatnya apa? Ya, kondisi itu tak ideal. Namun bukan berarti tak mungkin untuk mulai membantunya mengenal dirinya. Biasanya para psikolog punya teknik-teknik untuk menggali, baik secara langsung, maupun melalui “PR” yang diberikan.

motivation-hierarchy3Tapi yang jelas, jangan biarkan anak kita tumbuh dewasa tanpa motivasi pada apapun. Kasihan. Hidupnya tak akan bergairah. Tak ada mimpi yang bisa ia bayangkan. Tak ada nyala api kehidupan ynag bisa mendorongnya. Biarkan dan bantu ia untuk memiliki “jejak” kesenangan pada sesuatu. Semangat membuncah pada sesuatu. Binar mata pada sesuatu. Caranya? dengan mengajaknya banyak mengalami. Lalu kita amati, kita temani, kita apresiasi.

sumber gambar : http://positivepsychologynews.com/news/christine-duvivier/200904091778