Attachment; akar-mengakar yang bisa kita bekalkan pada anak (part one)

Sebagai penikmat facebook, saya sangat senang dengan banyak informasi positif yang didapat dari medsos ini. Salah satunya adalah, sekarang banyak sekali infografik dengan visualisasi yang amat menarik mengenai topik agama maupun topik psikologi, khususnya parenting. Salah satu infografik parenting yang banyak dishare beberapa waktu yang lalu adalah infografik mengenai “cara bijak menyikapi anak yang melawan dan ngomong balik”.

Di salah satu grup wa yang saya ikuti, yaitu grup wa Psikopad 97, berisi teman-teman semasa kuliah S1 dulu di attachmentPsikologi UNPAD, terjadi perbincangan seru mengenai infografik ini. Terutama mengenai poin kedua disamping ini. Teman-teman Psikopad 97 yang tak semuanya menjadi psikolog dan tak semuanya terjun ke dunia profesi yang langsung berhubungan dengan psikologi, membuat diskusi-diskusi mengenai topik psikologi di grup ini selalu kritis dan menarik.

Seorang teman dengan kritis bertanya, apa sebenarnya attachment itu. Apa kaitan attachment dengan anak yang melawan. Lalu apa kaitan: (1)  anak yang lahir tanpa direncanakan dan (2) hak menyusui yang tercukup dengan attachment? . Lalu ada juga pertanyaan, apakah attachment itu tetap atau bisa ditumbuhkan? pertanyaan terakhir yang saya ingat adalah, apakah anak yang terlalu lengket artinya attachmentnya sangat baik?

Saya pikir,  infografik yang visualisasinya keren-keren itu, memang lebih baik diposisikan sebagai “stimulus”, bukan sepenuhnya sumber informasi. Infografis yang biasanya isinya adalah poin-poin itu, adalah rangsangan  buat kita cari informasi yang lebih lengkap. Seperti yang dilakukan oleh teman-teman saya. Tanpa pencarian informasi, pemahaman kita akan sangat terbatas, bahkan rentan interpretasi yang semakin menjauh dari kebenaran.

Attachment adalah salah satu topik favorit saya. Dan karena waktu diskusi di wa itu saya sedang super riweuh, maka dalam tulisan ini saya akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-teman saya. Mengenai kaitan attachment dengan anak yang melawan, saya tak berhak menjawabnya. Bagi yang ingin tahu jawabannya bisa bertanya langsung pada narasumber infografik tersebut.

Yang akan saya uraikan dalam tulisan ini adalah, (1) apakah attachment itu,  (2) bagaimana perkembangan attachment, (3) beragam jenis attachment, (4) stabilitas attachment, (5) dampak attachment, (6) faktor-faktor yang berpengaruh pada attachment. Mmmh…banyak juga ya….wallahu alam bisa beres dalam satu tulisan atau engga. Kemungkinan besar akan bersambung 😉 Referensi yang saya gunakan dalam tulisan ini adalah buku “Child and Adolescent Development in Your Classroom” (Bergin & Bergin, 2012). Buku ini adalah salah satu buku favorit saya, hadiah dari seorang teman 3 tahun lalu.

Apakah attachment itu?

Attachment is a deep, enduring emotional bond between people (Ainshwort, 1973). Attachment adalah ikatan emosional yang dalam dan bertahan lama antara dua orang.  Saya merasa lebih “pas” menerjemahkan attachment menjadi KELEKATAN, bukan kelengketan. Rasa bahasanya berbeda, bahkan kata “kelengketan” maknanya bisa menjadi salah. Ini akan kita pahami dalam bahasan selanjutnya. Dan dalam tulisan ini, akan digunakan istilah kelekatan.  Powerfull attachment children have are with their parents kata buku ini.

Penelitian mengenai attachment muncul di awal tahun 1900an. Saat itu, tingkat kematian anak-anak yatim piatu sangat tinggi. Lalu ada fakta bahwa di panti asuhan, pengasuhnya berganti-ganti dengan cepat. Memang hal ini dimaksudkan agar anak tidak memiliki ikatan emosional dengan salah satu pengasuh, yang bisa mengakibatkan trauma saat harus berpisah dengan pengasuh. Fenomena ini menggugah seorang psikolog untuk melakukan penelitian. Dilakukanlah penelitian mengenai hal ini. Peneliti membandingkan anak-anak yang berad di dua institusi. Satu institusi berisi anak-anak yang ibunya dipenjara, namun mereka bisa berinteraksi dengan ibunya. Institusi kedua berisi anak-anak yang ibunya sangat miskin dan tidak bisa mengasuh mereka. Pad aanak-anak ini, sentuhan jarang mereka dapatkan, demikian juga interaksi sosial. Anak-anak di institusi pertama, ternyata tumbuh dengan normal. Tidak demikian dengan anak-anak yang tumbuh di institusi kedua. Penelitian inilah ynag mengawali penelitian-penelitian selanjutnya mengenai attachment.

Hirarki attachment

Sebagian besar anak bisa lekat dengan lebih dari satu orang, namun orang-orang tersebut biasanya sedikit, dan  sangat selektif. Anak akan membangun “hirarki attachment”, dengan orang yang paling lekat, berada di urutan pertama. Biasanya, yang ada di urutan pertama adalah ibu. Biasanya ya, tidak selalu. Orang-orang yang terbangun kelekatannya dengan anak disebut “attachmnet figure”.  Kita bisa mengidentifikasi siapa figur attachment anak dengan mengamati, siapa orang yang dipilih  oleh anak. Pada siapa anak datang saat ia marah, siapa orang yang dengannya anak sulit untuk berpisah, pada siapa anak datang saat ia lapar, lelah, ngantuk, dll.

Jadi, kalau anak prasekolah kita punya satu orang yang ia ingin selalu lekat, kita harus bersyukur. Justru kalau anak tidak punya “seseorang” atau “beberapa orang” yang ia pilih saat ia merasa tidak nyaman, kita harus bertanya. Kenapa? karena attachment ini memiliki dua fungsi yang sangat penting untuk perkembangan selama hidup anak.

Fungsi attachment

Kelekatan emosi anak dengan seseorang atau beberapa orang, memiliki fungsi:

(1) menyediakan save haven (tempat berlindung) yang aman dari bahaya, dengan adanya figur yang ia rasa bisa melindunginya.

(2) menyediakan secure base (pegangan yang aman) untuk “keluar” mengeksplorasi dunia.

Seperti dua fungsi yang bertolak belakang ya? Sebenarnya tidak. Anak ingin merasa aman. Jika hanya keamanan ini fungsi attachment, maka anak akan selamanya “ngintil” dengan orang tua. Ia akan selamanya “lengket” dengan orangtua/figur attachmennya (inilah sebabnya saya kurang setuju dengan kata “kelengketan”). Justru di satu sisi, anak juga punya rasa ingin tahu dan ingin mengeksplorasi dunia. Menjelajah adalah hal yang memiliki potensial bahaya buat anak. Maka, untuk menyeimbangkan antara kekhawatiran dan rasa ingin tahu yang mereka rasakan, anak menggunakan figur attachmentnya sebagai “secure base” untuk merasa aman saat mereka merasa terancam. Hehe ….abstrak ya….nanti akan lebih jelas di ulasan mengenai perkembangan attachmnet di setiap tahap usia.

Tampaknya tulisan pertama harus berakhir disini. Bertugas ngelonin si bungsu dan si pangais bungsu dulu… moga-moga tak ikut terlelap saat mereka terlelap 😉

To be continued….

 

 

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. Trackback: Attachment : Bagaimana perilakunya pada setiap perkembangan usia anak? (part two) | Fitri Ariyanti's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s