Kala ibu tak lagi “hebat”

Dear Para Emak, pernahkah kita melakukan hal kecil atau atraksi kecil, lalu anak-anak kita begitu terkagum-kagum dan dengan mata berbinar mengatakan “ibu hebat!”…”ibu keren”… ? pasti pernah kaaaan…

Bahkan mungkin kadang kita suka heran…hal yang “biasa banget” buat orang dewasa, di mata si kecil, seringkali dinilai suatu hal yang luar biasa. Saya sering sekali mendapat tepuk tangan atau pekikan kekaguman dari si bungsu 4 tahun dan si gadis kecil 7 tahun. Saat saya membuatkan si bungsu pesawat kertas; si bungsu bilang: “wow, ibu ahli pembuat pesawat”. Kala saya membuat gambar singa (yang wajahnya lebih mirip monyet), si bungsu masih terkagum-kagum: “ibu keren gambarnya rapih banget”. Kala saya menggoreng telur, si gadis kecil bilang: “hebat ih, ibu mah bisa mecahin telor dengan mulus”. 

Kalau…ini mah kalau ya…ada teman-teman yang gak pernah “dikagumi” ama anak-anaknya, saya mau ngasih resep satu atraksi favorit saya, yang dijamin akan bikin anak-anak kita terkagum-kagum. Saya menyebutnya: ATRAKSI TELUR AJAIB.

Alat dan bahan: satu atau lebih telur (boleh telur ayam atau telur bebek); direbus sampai matang (catatan, saat merebus, jangan sampai anak-anak tahu). Setelah matang, angkat, tiriskan, setelah dingin masukkan ke tempat telur di kulkas bersama “teman-temannya” para telur mentah. Tapi kasih tanda. Lalu, ajak anak-anak ke dapur dan katakan: “ibu mau melakukan atraksi. Ibu bisa lempar-tangkap telur tanpa pecah”. Ambil telur yang tadi sudah kita rebus, lalu lemparkan-tangkap. Buat se-atraktif mungkin; misal: lemparan telur sampai mengenai langit-langit, kita menangkapnya dengan berbagai gaya; hampir terjatuh, tangan kiri, tangan kanan… Untuk menambah kesan, bilang sama anak-anak: “mau coba? tapi awas pecah ya” ... Trus sesekali, kalau gak tertangkap, gapapa telornya jatuh ambil lagi, lalu tunjukkan bahwa telur tersebut tidak pecah. Kalau pada anak-anak saya, si bungsu dan si gadis kecil berteriak kegirangan sambil bertepuk tangan dan bilang: “ibu hebat…ibu hebat…”.

Nah…teman-teman… mudah bukan, membuat kita terlihat “hebat” di mata si kecil? Sekarang coba bayangkan kalau atraksi heboh itu kita lakukan di depan anak remaja kita. Minimal anak kelas 1 SMP lah. Hiii…sebenernya saya pengen eksperimen sih…beratraksi di depan si sulung…tapi gak berani nanggung resikonya uy haha…. kebayang saya, si sulung akan mengeryitkan dahinya dan berkata: “ibu ngapain? geje banget”. Dan yang pasti, rahasia identitas si telur sebgai telur rebus, akan sangat mudah terbongkar. Jangankan si sulung yang udah kelas 8…si bujang kecil saja, kelas 5…hanya butuh waktu sebentar untuk bilang: “coba bu, sini aku pegang telurnya…kayaknya bukan telur mentah deh”. 

Temans…moral of the storynya adalah…betapa sangat mudah kita menjadi “hebat dan mengagumkan” buat si kecil. Tapi untuk menjadi “hebat dan mengagumkan” buat si remaja? Tak mudah. 1#Mengapa bisa begitu? Dan …. 2#itu sangat tak menyenangkan bukan? 3#Lalu kita harus bagaimana? Saya akan jawab satu-satu pertanyaan tsb.

#Mengapa bisa begitu?

Saya ingat suatu waktu, saya mendampingi seorang senior saya memberikan penyuluhan pengasuhan. Itu adalah acara pengabdian masyarakat yang saya buat, untuk ibu-ibu di kalangan menangah ke bawah di suatu desa. Setelah masing-masing ibu diminta mengungkapkan kesulitan pengasuhan yang intinya adalah ibu kesal karena anak melawan, senior saya berkata: “waktu bayi, anak kita melawan gak bu?” “engga…” jawab ibu-ibu itu. Kenapa sekarang melawan? “karena udah bisa ngomong” celetuk seorang ibu. “Nah, dulu anak ibu gak bisa ngomong. Sekarang bisa ngomong. Artinya apa bu? artinya anak kita berkembang”. “Ibu kasih makan gak anak ibu?” . “Iyaaaa” jawab ibu-ibu itu kompak. “Biar apa ibu kasih makan? “Biar tambah besar….” “Nah, itu…artinya, anak kita melawan karena ia tumbuh. Berkembang. Kalau ibu gak mau anak ibu tumbuh dan berkembang, ya udah… gak usah kasih makan aja…” para ibu itu hampir semua tertawa, sebagian mengangguk-angguk.

Yups…. saya sering sekali mendapatkan keluhan anak remaja yang “berubah” menjadi “melawan”. Biasanya, saya suka ajak orangtua untuk membayangkan perilaku apa yang diharapkan. Misalnya: kita ingin anak kita mengatakan “ya” pada semua yang kita katakan? Kita bilang: “hari ini kamu pake baju ini ya….”.Anak remaja kita bilang “ya”. “Hari ini kita ke undangan teman ibu ya, kamu harus ikut”. Anak kita bilang ya. .. hanya ya dan ya. Itu yang kita inginkan? ya? konsekuensinya, jika itu yang kita inginkan, kita ingin saat kita beratraksi telur tadi si remaja kita ikut berteputk tangan dan bilang kita hebat?

Saya sih tidak mau. Kalau kita mau jujur, perkembangan anak itu selalu amazing dalam setiap tahapnya. Teori menjelaskan bahwa anak “melawan” karena perkembangan kemampuan berpikirnya berkembang. Piaget bilang, setelah anak berusia 12 tahun, kemampuan berpikirnya sama dengan orang dewasa, di tahap formal operational. kalau baca buku tentang remaja, dikatakan bahwa remaja sudah bisa deductive reasoning & hypothetical thinking. Intinya adalah, dia sudah bisa berpikir seperti orang dewasa. Maka, ketika kita biscara pada remaja, kita seperti bicara dengan orang dewasa. Dia bisa melihat beberapa kemungkinan. Dia bisa memikirkan hal-hal yang abstrak, yang belum pernah ia lihat, dengar dan alami sebelumnya. Kalau kita bilang pada si remaja “bawa payung, nanti kamu kehujanan”. Trus si remaja bilang: “ih, males banget, aku pake jaket aja”. Berarti, dia sudah bisa membayangkan bahwa membawa payung itu konsekuensinya gimana.Lalu ia membandingkan antara membawa payung dengan memakai jaket. Lalu ia sampai pada kesimpulan  bahwa memakai jaket, benefitnya yaitu gak kehujanan dapet, tapi costnya lebih ringan dibanding harus bawa payung. Artinya, ia sudah bisa berpikir kompleks. Kita, tak menyadari karena proses berpikir itu berlangsung sedemikian cepatnya, sepersekian detik. Lalu kita bilang si remaja “melawan” karena “langsung nyahut”.

Maka, sekali lagi saya ingin sampaikan bahwa perkembangan manusia, dalam setiap tahapnya, itu selalu amazing. Coba kita coba amati si remaja kita. Cara dia bicara, cara dia merencanakan sesuatu, cara dia membuat keputusan, itu beda banget dibanding ketika dia anak.

Si sulung, saat ini sedang jatuh cinta. Saya beberapa kali menemukan lembaran kertas berisi ungkapan perasaannya, tercecer di meja belajar atau di kasurnya. Ya ampuuun…ia sudah bisa merasakan perasaan yang begitu kompleks. Beda banget sama si gadis kecil yang minggu lalu bilang: “bu, teteh suka sama ***. dia teh gak ganteng, tapi baik banget. Gak pernah berantem, gak pernah berisik di kelas”. Anak umur 7 tahun dan anak umur 13 trahun, sama-sama sedang “menyukai” seseorang tapi dengan proses dan penghayatan yang jauh sekali bedanya. Si  7 tahun sangat simpel, sangat konkrit, si 13 tahun sangat kompleks. Abstrak.

2#itu sangat tak menyenangkan bukan?

Ya, perkembangan anak, itu selalu amazing. Namun apakah kita rasa menyenangkan atau tidak, seringkali standarnya adalah kebutuhan kita. Kita ingin si kecil tampil menawan di undangan, kita beliin satu baju, si kecil mau, kita senang. Kita ingin si remaja tampil anggun di acara keluarga, kita minta dia pake baju tertentu, si remaja gak mau, kita kesal. Kita kesal karena ia tak mengikuti keinginan kita, tak memenuhi kebutuhan kita.

3#Lalu kita harus bagaimana?

Tapi gimana kalau untuk hal-hal yang baik? misalnya kita ingin dia belajar… kan itu untuk kebaikan dia, kebutuhan dia, bukan kebutuhan orangtua… nah…ayo kita hayati. Kalau kita keseeeel si remaja gak mau belajar, sedangkan kita pengen dia belajar, maka belajar itu, nilai baik itu, kebutuhan siapa hayo…kebutuhan kita atau kebutuhan anak?

Bahwa belajar itu baik dan harusnya jadi kebutuhan anak? Yes, absolutely. Jadi, apa yang salah? yang salah adalah, kita mengerahkan energi agar anak kita mau memenuhi kebutuhan kita, bukan mengerahkan energi agar belajar itu, prestasi itu menjadi kebutuhannya. Sama juga kita memfokuskan perhatian agar anak kita beresin kasurnya karena kita pengen kamarnya rapi, dan lupa untuk memfokuskan perhatian untuk membuatnya merasa perlu membereskan kasurnya dan menanamkan nilai mengapa kamar harsu terlihat rapi.

Menginternalisasikan nilai, membuat kebutuhan kita (yang baik) menjadi kebutuhan anak, itu memang tidak mudah. Butuh proses. Gak instan. Butuh dialog. Butuh kesediaan mendengarkan. Intinya butuh usaha. Tapi setelah kita berhasil…kita akan tenang melepas anak menghadapi dunianya. Ingat…kita tak akan pernah bisa selalu berada di samping anak dan memberithu apa yang boleh dan apa yang tidak boeleh dilakukannya.

Maka, beri kesempatan mereka untuk menganalisa. Membandingkan satu pilihan dengan pilihan lainnya. Membandingkan alternatif yang kita sampaikan dengan alternatif yang muncul dari hasil olah pikirnya sendiri. Biarkan ia memutuskan. Belajar memahami dan menjalani kosekuensi pilihannya. Saat remaja awal, konsekuensinya kan masih ringan. untuk kasus payung tadi, konsekuensi terberat adalah dia kehujanan, jadi flu…

ec982bdb8bb6cc84963fbedeb220faceTeknisnya dengan cara apa? dialog. Dialog yang kita lakukan dengan tulus. Tanpa prasangkan bahwa si remaja “sengaja bikin kita kesel”. Kalau kita bilang sesuatu dan dia bilang: “iya….udah tahu”…maka, percayailah bahwa ia memang sudah tahu. Lalu bisa kita lanjutkan: “kalau kamu udah tau kalau gak belajar nilainya bakal jelek, kenapa kamu gak belajar?” ….. (bukan pertanyaan menghakimi, tapi kita tulus bene pengen tau apa yang dipikirkan anak) “kenapa kamu gak mau renkingnya bagus?” …. teruuuuuus….selami cara berpikir anak. Kita tahu sesuatu, …sampaikan pada anak. “kalau kamu gak belajar, nanti kamu gak dapet SMA bagus. Kalau kamu gak dapet SMA bagus, nanti susah dapet jurusan yang kamu pengenin di Perguruan Tinggi. Padahal, ayah liat  teman-teman ayah, jurusan di Perguruan Tinggi itu sebagian besar menentukan profesi apa yang akan kita jalani” ……..”oh, jadi menurut kamu, gapapa kuliah di bidang apa tapi kerjanya di bidang apa? tapi kalau menurut ayah, kok sayang ya…kuliah kamu kalau ilmunya gak diamalkan. Menurut ayah, akan lebih baik kalau selama 4 tahun kuliah, kamu memang mendalami bidang yang kamu suka”……. teruuuus aja… kalau kita beneran pengen tau, lama-lama seneng kok ngobrol sama si remaja-remaja teh…Kadang banyak pengetahuan yang kita baru tahu dari mereka. Sudut pandang yang kita gak pernah pikirkan sebelumnya. Apalagi di zaman internet sekarang ini. Anak-anak kita bisa dapat informasi yang lebih banyak dibandingkan kita. Nah… ini bedanya remaja sama anak. Kalau pada anak, kita kayak “give”, mereka “take”. Tapi kalau dengan remaja, kit audah saling take and give. 

Dan efek samping dari proses dialog ini, super duper keren. Didengarkan. Sederhana ya. Tapi  gak mudah kan? Ya, karena ada proses mendalam ynag berujung pada kesediaan kita mendengarkan. Kepercayaan kita pada anak. Kita baru akan bisa mendengarkan kalau kita percaya pada anak. Dan “dipercayai” itu… dampaknya luar biasa banget buat si remaja. Ingat…remaja itu adalah proses ia menjadi “seseorang”. Dan dipercayai sehingga didengarkan, akan menumbuhkan perasaan saya adalah “seseorang”. Pikiran saya berharga, sehingga layak didengarkan. Perasaan saya berharga. Gagasan saya berharga. Pengetahuan saya berharga. Keinginan saya berharga. SAYA BERHARGA.

Maka, kalau hari-hari ini kita merasa kesal dengan anak remaja kita, itu wajar. Sangat wajar. Saat keinginan kita tak terpenuhi, itu namanya kita frustrasi. Tapi trus gimana? Coba buang dulu kekesalan kita, lalu nikmati interaksi dengan mereka: tatap lekat wajahnya, dengarkan setiap rangkaian kata yang ia ucapkan, perhatikan gesturnya, sama seperti kita menikmati si kecil 1 tahun yang sedang tertatih-tatih belajar berjalan. Jatuh, bangun …jatuh bangun… tapi kita tetap antusias, memberikan semangat, memeluk kala jatuh.

__anak, dalam setiap tahap perkembangannya, selalu amazing. Yang membuatnya menjadi tidak amazing adalah, karena ia tak memenuhi keinginan kita__

sumber gambar: https://id.pinterest.com/explore/parenting-humor-teenagers/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s