Sebelas Tahun : Dua Pertanyaan

Konon, agar memiliki akar yang kokoh, seorang atau sepasang yang akan menikah harus bisa menjawab dua pertanyaan. Kalau pake bahasa Dr. Ali Syariati mah “kita harus menggugat niat kita terlebih dahulu” kali ya….. Dua pertanyaan itu, pertanyaan pertama adalah; “mengapa aku menikah?”. Sedangkan pertanyaan kedua adalah ; “mengapa aku menikah dengannya?”.

Menurut teman saya yang bergelut di bidang penelitian pernikahan, jawaban pertama biasanya dijawab oleh responden Indonesia yang beragama Islam dengan jawaban : “untuk menggenapkan separuh din, mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, wa rohmah, dan mengikuti sunnah”. Meskipun jawaban tersebut “seragam” diberikan oleh responden dari beragam tingkat pendidikan dan sosial ekonomi, akan tetapi ketika ditanya lebih lanjut mengenai makna dari jawaban-jawaban itu, hanya sedikiiiiiiiiiiit yang paham. Apalagi menghayatinya.

Menilik fenomena di atas, tampaknya kita harus menyisihkan waktu untuk merenung….memahami, lalu menghayati…apa jawaban dari lubuk hati terdalam kita terhadap pertanyaan pertama. Dan buat kita yang sudah menikah, kita bisa tau apakah jawaban kita jujur atau hanya “basa-basi” dari perwujudan keluarga yang telah kita bangun, atau dari upaya yang kita lakukan untuk mewujudkan keluarga kita. Jangan-jangan, kita sudah menikah bertahun-tahun atau berbelas tahun, tapi kita tak tahu pasti, tak begitu menghayati apa yang mendorong kita untuk menikah. Mungkin sejujurnya, kita menikah hanya karena “memang sudah saatnya aja menikah”…atau “masa gak nikah?” … atau “malu sama orang lain” atau…jawaban-jawaban lain yang membuat kita tak tahu apa sesungguhnya yang ingin kita tuju melalui pernikahan ini.

Menurut penghayatan saya, jawaban dari pertanyaan pertama memang haruslah sesuatu yang filosofis; buat kita muslim, memang seharusnya jawabannya berupa hal yang spiritual. Karena itu bagaikan janji sekaligus permohonan kita pada Allah. Dan janji serta permohonan ini hanya akan sampai kalau kita menghayatinya dengan hati yang paling dalam. Kalau kita tak paham dan tidak menghayati tujuan kita, bagaimana mungkin kita bisa tau apakah kita menuju tujuan tersebut atau tidak? kita akan “tersesat”…

Sedangkan jawaban yang kedua, menurut saya haruslah bersifat unik. Pertanyaan yang kedua ini memberikan ruang keunikan individual. Setiap wanita pasti mendambakan suami yang bisa jadi “imam”. Begitupun seorang laki-laki pasti mendambakan istri yang sholihah. Tapi, dari sekian banyak laki-laki yang bisa jadi imam itu, kenapa seorang wanita lebih memilih si A ketimbang si B atau si C? demikian juga dari sekian banyak wanita yang sholihah, mengapa seorang lelaki lebih suka pada si sholihah yang ceria dan dinamis dibanding si sholihah yang pendiam? sedangkan seorang lelaki lain sebaliknya? itulah jawaban dari pertanyaan kedua.

Dalam psikologi, memilih pasangan hidup adalah tugas perkembangan pada tahap dewasa. Sebelum itu, seorang individu haruslah menyelesaikan tugas perkembangan di tahap remaja. Dalam tahap perkembangan remaja, seorang individu mengidentifikasi “self”nya. Siapa aku? jawaban dari pertanyaan itu haruslah sudah relatif matang. Mengapa harus begitu? karena seorang yang tidak tahu siapa dirinya, masih bingung siapa dirinya, tak akan bisa menghayati  seperti apa pendamping hidup yang ia butuhkan. Karena pada dasarnya, pendamping hidup, pasangan menikah adalah refleksi dari ke”diri”an kita, yang kita harapkan bisa menemani sekaligus melengkapkan diri kita di mata manusia maupun di mata Allah. Menurut penghayatan saya, itulah makna “melengkapkan separuh dinn”.

Maka oleh karena itulah, tak perlu kita heran kalau ada seorang pemuda yang memilih seorang wanita dengan usia yang jauuuuuh lebih tua darinya untuk menjadi istrinya. Tak perlu heran juga kalau ada si A memilih si B padahal rasanya gak matching. Hehe…jadi inget saya juga dulu terheran-heran kenapa ada seorang teman saya yang berpendidikan sangat tinggi, biasa cas cis cus dan keliling dunia di pekerjaannya, memilih istri seorang gadis desa berpendidikan rendah…….Itu karena ….. kebutuhan seseorang terhadap pendampingnya bersifat personal.

Dan….menurut saya, saat kita bisa menjawab pertanyaan  “mengapa saya menikah dengannya?” dengan jawaban yakin dan mantap berdasarkan penghayatan dari lubuk hati paling dalam, itu adalah pilar pernikahan yang amat kokoh..Ia adalah penangkal dari segala macam badai yang dihadapi dalam kehidupan bermah tangga.

Mengapa begitu? …… saya yakin….tak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna. Sebab sempurna berarti memenuhi harapan kita setiap saat. Sedangkan harapan kita sering berubah-ubah. Begitupun dalam menikah. Tak akan pernah ada pasangan yang sempurna. Coba kita ingat-ingat lagi saat sebelum menikah dulu, saat ada beberapa pilihan, dengan kualitasnya masing-masing. Kalaulah kita akhirnya memilih si A, itu bukan karena dia sempurna bukan? tapi ada satu kualitas utama darinya yang paling kita butuhkan. Itu semacam “key competence” kalau dalam kompetensi SDM di perusahaan mah. Sebuah kualitas yang membuat kita mengabaikan hal-hal lain yang menjadi “kekurangan” dia di mata kita.

Dan, “key competence” itu berbeda-beda untuk setiap pasangan. Tergantung kepribadian dan  value masing-masing. Ada yang key competencenya kecantikan/kegantengan; kesetiaan; kecerdasan; kesederhanaan; dan amat banyak kombinasi lainnya. Tapi yang jelas….itu sangat personal. Itu sebabnya ukuran-ukuran dalam pernikahan itu sangat individual. Tak bisa dibandingkan.

Hehe…saya jadi ingat…tahun lalu, saya diingatkan teman saya untuk lebih sering ke salon. “cewek-cewek sekarang kan gila Fit…yang hijaber-hijaber juga pada kinclong…kita sebagai istri gak boleh kalah…godaan suami di luar berat banget…”. Wah..saya tergoda juga..makanya…meskipun saya paling males bersalon ria, kali ini saya mendatangi sebuah salon kecantikan, berkonsultasi dan membeli serangkaian produknya. Waduh….harganya setengah gaji saya…gak apa-apa lah….Selain itu, saya pun menuliskan “ke salon sebulan sekali” dalam resolusi tahun 2013 saya. Mengoleskan beragam krim di saat akan bepergian dan menjelang malam sangat meribetkan buat saya…tapi saya ingat kata2 teman saya tadi…ga apa-apa lah…ternyata eh ternyata…suami saya juga komplain. Dan ketika saya “mempresentasikan” resolusi ke salon tiap bulan itu, suami saya langsung bereaksi ” ngapain? kurang kerjaan banget…bla..bla..bla..itu juga pake krim-krim itu buat apa..yang penting, perempuan itu secara fisik bersih, segar, sehat, ….olahraga..jauh lebih penting daripada salon-salonan” katanya…. Cihuy!!!! tentulah saya berbahagia…lepas sudah penderitaan sayah haha… saya jadi sadar…”key competence” saya memang bukan disitu. Da kalau suami saya memilih istri karena kecantikannya, pastilah dia tidak akan memilih saya haha…

Hari ini, 15 Juni, tepat 11 tahun saya dan suami membentuk keluarga. Pada tanggal ini di setiap tahunnya, saya selalu berusaha menyempatkan waktu menghayati kembali perjalanan pernikahan kami. Terlebih sejak tahun lalu, saat beberapa teman terpaksa mengakhiri pernikahannya dengan alasan yang amat bisa terjadi pada kami, syukur saya bahwa pernikahan ini bertahan sampai selama ini, menjadi lebih besar.

Tentunya karena kami bukan pasangan dongeng, selain hari-hari indah dan bahagia, ada-ada juga hari “kelam” yang kami jalani. Kekesalan, kemarahan, kekecewaan, bahkan lintasan untuk “berpisah” hadir….Namun yang saya hayati, jawaban dari pertanyaan kedua; “mengapa saya menerima mas menjadi suami saya” adalah senjata jitu yang selalu bisa mengaburkan kekesalan dan kemarahan saya. Dan lalu, biasanya ingatan tentang kejadian yang mengesalkan itu perlahan tergantikan oleh memori-memori mengenai situasi di saat mas menunjukkan “key competence”nya… Dan di titik itu, hati saya biasanya mengatakan bahwa “saya tidak menyesal menikah dengannya”. Kemudian…permasalahan yang biasanya printil-printil itu menjadi gak penting lagi ……kemudian diakhiri dengan kelegaan perasaan untuk bisa membicarakan itu dengan mas, yang biasanya diakhiri gelak tawa menertawakan “kebodohan” kami …

Kesaktian dari jawaban “mengapa aku menikah denganmu” juga berlaku saat kita mengetahui “key competence” apa yang kita miliki yang membuat pasangan kita memilih kita. Buat saya, mengetahui hal itu menumbuhkan kepercayaan diri, bahwa saya tak perlu menjadi “istri super” yang harus prima dalam segalanya. Bahwa dia menerima kekurangan-kekurangan saya, karena saya memiliki sesuatu yang berharga untuknya….

Pagi ini, Azka dan Umar memberikan surat ucapan untuk abah-ibunya. Tapi hari ini bukan saja hari jadi pernikahan ibu-abah, tapi hari jadi keluarga kita. Semoga, Allah mengabulkan semua doa yang Kaka Azka dan Mas Umar tuliskan untuk keluarga kita. Semoga ibu dan abah bisa menyaksikan anak-anak tumbuh besar, mendampingi anak-anak di masa-masa sulit dan berat, ikut tersenyum di hari-hari bahagia anak-anak…semoga ibu dan abah bisa terus bersama sampai menua…dan saat ajal memisahkan, itu hanya perpisahan sementara karena kita akan berkumpul kembali di syurgaNya.

Abah, Kaka Azka, MAs Umar, Kaka Hana, de Azzam, I Love U. Allah, terimakasih …..

 

 

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. Fonny
    Jun 28, 2013 @ 09:32:51

    Seperti biasa, tulisan teteh selalu ‘sesuatu’ buat saya 🙂 Makasih ya ….
    Btw, ultah pernikahan saya tgl 15 Juli, selisih sebulan dg teteh….
    Semoga kita diberikan kekuatan untuk mewujudkan pernikahan yang diberkahi Alloh,ya Teh …

  2. sopie
    Feb 12, 2014 @ 15:08:02

    Syukurlah sy baca tulisan ini. Terima kasih. Sy baru menikah lima tahun dan ternyata memang menikah seperti menjalani kenyataan. Tidak ada yg sempurna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s