Satu lagi jawaban : mengapa ayah harus terlibat dalam pengasuhan anak ?

Beragam teori dan penelitian baik di dalam maupun di luar negeri, tak terkira jumlahnya,  yang hasilnya menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, dampaknya positif bagi anak dan bagi hubungan pernikahan. Bagi anak, keterlibatan ayah membuat mereka lebih unggul dalam seluruh aspek perkembangannya, pendidikan maupun kesehatan mentalnya dibandingkan dengan anak yang ayahnya tak terlibat.

fathers-day-clip-art-2Pengamatan saya pribadi, saya melihat bahwa ayah yang terlibat, bukan hanya memberi manfaat untuk anak dan istrinya. Saya melihat bahwa saat ayah terlibat dalam pengasuhan anak, maka tak hanya anak yang menikmati, tapi juga ayahnya. Apalagi dalam kegiatan bermain. Di pengajian Percikan Iman setiap hari ahad, dimana kami bisa mendengarkan kajian di hamparan terpal di bawah pohon-pohon rindang di lapangan, kami bisa melihat ada puluhan ayah yang begitu asyik bermain dengan anaknya. Bermain bola, meniup gelembung, bermain bulutangkis, kejar-kejaran….. Bahkan seringkali saya melihat ayahnya yang lebih “hepi” dibanding anaknya.

Saya sendiri, sepengamatan saya yang terbatas, melihat bahwa keterlibatan ayah akhir-akhir ini cukup meningkat. Dua mahasiswa saya dan saya sendiri melakukan penelitian mengenai keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pada responden kami, ayah terlibat aktif dalam pengasuhan anak. Di usia prasekolah dan usia sekolah. Kami belum melakukan penelitian pada usia anak selanjutnya.

Setiap pagi kalau saya mengantar anak-anak sekolah, terlihat cukup banyak Bapak yang mengantar. Menjemput anak ikut ekskul, mendaftarkan anak sekolah, frekuensi bapak semakin meningkat dari waktu-waktu sebelumnya. Dan juga, jumlah ayah yang datang ke acara parenting, konsul parenting atau konsultasi masalah anak, kini semakin banyak juga dibandingkan waktu sebelumnya. Kadang, jujur saja saya suka “under estimate” ayah saat menanyakan tahap perkembangan anak. Usia berapa bisa bicara jelas, usia berapa bisa berjalan, dll. Amazingnya, kini para ayah yang datang ke ruang konsultasi bisa menjawab loh, lengkap dengan kisah “berkesan” terkait perkembangan anak tersebut.

Tadinya, dari pengamatan saya yang terbatas itu saya berpikir bahwa kita mesti bersyukur. Dengan keterlibatan ayah yang semakin intens, maka diasumsikan perkembangan anak-anak kita pun akan lebih optimal. Yups, memang di desa, partisipasi ayah dalam pengasuhan masih minim dibandingkan dengan di kota dan pada ayah yang berpendidikan tinggi. Pembagian “ayah bekerja, ibu ngurus anak” masih sangat kental menjadi prinsip yang dipegang teguh.

Apakah prinsip tersebut salah? menurut hasil penelitian sih salah. Saya pribadi berpendapat bahwa prinsip  itu perlu diubah. Tapi sayangnya, kadang ada yang berpendapat kalau ibu-ibu seperti saya berpendapat bahwa ayah harus terlibat dalam pengasuhan anak, artinya ia mau “enak-enakan”. Seolah-olah, kalau pembagian tugas mencari nafkah vs mengurus anak itu 1:1, maka dengan permintaan ayah harus terlibat dalam pengasuhan anak, itu membuat perbadingannya menjadi 1,5:0,5. Apalagi kalau si ibu bekerja, dianggapnya mau bertukar peran : “ibu bekerja, ayah ngasuh anak”. Mentang-mentang bisa menghasilkan duit sendiri. Gak mau melakukan tugasnya…Lalu mulailah tuduhan feminis, mengingkari fitrah, sampai konspirasi wahyudi bisa diungkapkan. Ya, sah-sah aja sih suudzhonitas seperti itu…. yang penting suami saya mah sepakat dan komitmen serta menikmati terlibat penuh dalam pengasuhan anak kami. Monggo, pilihan kembali ke keluarga masing-masing.

Beberapa bulan terakhir ini, saya pribadi menemukan satu alasan lagi, yang memperkuat keyakinan saya bahwa ayah, memang harus terlibat dalam pengasuhan anak. Satu sudut pandang yang berbeda. Beberapa bulan lalu, seorang teman saya, ibu dari 3 anak wafat. Anak-nya masih usia SD dan balita. Salah satu anaknya, “lengket” banget sama ibunya sebelum ibunya wafat. Sang ayah, saya kagum banget kepada beliau, beberapa bulan ini berusaha “mengambil alih” peran ibunya. Salah satunya adalah, beliau masuk grup orangtua murid yang isinya, semua ibu-ibu. Tanpa segan si ayah bertanya mengenai berbagai hal terkait aktivitas sekolah anaknya.

Yups, si ayah mungkin di masa yang akan datang akan menikah lagi. Tapi coba kita bayangkan….kalau si ayah ini tipe ayah yang “gue kerja, lu urus anak”. Selama masa tak ada ibu itu, gimana kondisi psikologis anak? Dan kalaupun sudah ada ibu yang baru, bagaimana proses membangun kelekatan antara si anak dan si ibu baru, harus ada yang memediasi bukan?Ayah yang sudah biasa terlibat dalam pengasuhan anaknya, tak akan gagap melakukan rutinitas yang buat anak, amat penting menjaga kenyamanan psikologisnya. Mereka tak akan canggung menggangtikan ibu mereka membacakan cerita, menyuapi, menemani mengerjakan PR…Suami teman saya yang wafat ini, kalaupun nanti menikah lagi, tampaknya akan bisa mendampingi anak-anaknya melewati masa adaptasi dengan smooth, dibanding ayah yang setelah menikah lagi lalu menyerahkan sepenuhnya pengasuhan anak-anak pada ibu baru-nya.

Baiklah, demikian curhat saya malam ini …;)

sumber gambar : http://november2013calendar.org/fathers-day-clip-art-and-nice-pictures.html

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. IG: @bundasidqi (@nurulrahma)
    Dec 11, 2015 @ 10:23:49

    Mbak Fitri, saya izin untuk nge-share artikel bernas dan penuh manfaat ini di majalah komunitas muslim yah. Saya sampaikan penulis dan alamat blog Mbak Fitri 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s