Maaf dan Utang Maaf (part one)

Gak sabar ingin segera jam 10.30, saat guru Umar beristirahat.

Ingin segera menanyakan kabarnya Umar. Tadi dia marah sama ibu.

Ceritanya gini…tadi pagi, Umar semangat sekali mandi pagi hari. Jam tujuh pagi, ia sudah siap berangkat sekolah-mandi, pakai baju seragam dan makan- sendiri. Maklum, mulai tadi pagi ibu menerapkan sistem reward ngasih uang Rp.1000,- kalau mas Umar mandi dengan tertib –ambil anduk, beresin alat mandi yang sudah dipakai, ngeset yang bener, dan jembrengin anduk kembali di jemuran handuk-. Dengan girangnya, uang receh 2 koin Rp.500,-an yang ibu kasih ia masukkan ke celengan angry bird nya; lalu bertanya…”butuh berapa hari lagi bu,mas Umar bisa beli cd ultraman pake uang mas Umar sendiri? “ mmmhhh..ultraman lagi…ultraman lagi….

Sayangnya,  dia terpaksa harus menunggu ibu yang juga akan pergi sekalian ke jatinangor. Meskipun mulai jam setengah 8 dia sudah mulai misruh-misruh “takut terlambat” dan minta berangkat duluan… tapi ia terpaksa menunggu de Hana yang harus dibujuk untuk mau mandi, lalu menunggu  ibu yang masih nenenin Azzam biar kenyang dulu sebelum berangkat…

Akhirnya, kami tiba di sekolahnya jam  8.15. Teman-temannya sudah mulai shalat dhuha…Tak disangka, dia menangis tersedu-sedu sambil mengikuti kegiatan itu, sampai gurunya kaget. Saya jelaskan pada gurunya bahwa ia kesal pada saya…akhirnya bu guru memberi waktu mas Umar untuk ngobrol dulu dengan ibu.

Ibu peluk mas Umar, ibu tanya: “mas Umar kesal sama ibu ya? “ ia mengangguk.

“Kesalnya sebesar apa?”…” Sebesar jupiter” katanya…mmmhhh…berarti kesal banget …

”Ibu minta maaf ya…emang ini salah ibu …”

“Ibu udah berkali-kali kayak gini…mas umar udah berusaha untuk tidak terlambat, ibu yang bikin mas umar terlambat…terus ibu tidak berusaha…mengulangi lagi…”katanya ditengah sedu sedannya…

”ya, ibu janji selanjutnya ibu akan memperbaiki diri. Nanti kalau akan terlambat, mas Umar berangkat aja duluan….atau ibu akan berusaha bangun lebih pagi, biar siap lebih awal…”

dia mengangguk, meski air matanya tersu mengalir. Ibu ajak mas Umar untuk wudhu, lalu bergabung dengan teman-temannya yang sudah berada di rokaat terakhir. Mas Umar ikutan, tapi tampaknya air matanya belum bisa ia hentikan.

Maafkan ibu ya mas….ibu memang kurang berusaha untuk menghargai usaha mas Umar ….semoga ibu benar-benar membuktikan kata maaf ibu dengan perilaku ibu di masa yang akan datang…

Mmmmhhh,….bicara tentang kurang menghargai usaha, ibu jadi ingat…ibu juga punya utang maaf sama Kakak.

bersambung…

@ facebook; by Fitri Ariyanti on Monday, May 28, 2012 at 9:57am ·

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s