Oleh-Oleh Solution Focused Therapi Workshop : side effect benefit

Selama empat hari kemarin;  Senin sampai Kamis saya mengikuti Workshop Solution Focused Therapi for Children and Adolscence. Workshop ini diselenggarakan oleh Pusat Kajian dan Pelatihan Profesi Psikologi (PKP3) Fakultas kami, Psikologi UNPAD. Alhamdulillah dapat diskon 50 % sebagai staf pengajar. Meskipun 50 % sisanya masih tetep cukup “besar” untuk ukuran kantong saya (haha….gak bersyukur….) plus harus melewatkan 2 hari libur di hari selasa dan kamis, namun saya sama sekali tak menyesal.

Banyaaak banget yang didapat selama 4 hari kemaren. Lebih terasa “nikmatnya” karena sempat bolos setengah hari di hari Rabu kemarin dan sempat “hopeless” hari Kamis bisa lanjut ikutan. Kenapa? karena di hari selasa sore, si teteh ART yang baru 2 hari menginap tiba-tiba berkeras untuk pulang. Baiklah….jadi, rabu siang sepulang sekolah Hana gak ada yang megang dan….akhirnya saya putuskan untuk “bolos” meskipun saya tahu bahwa saya akan melewatkan hal yang amat berharga. Tapi Hana tentunya lebih berharga bukan? ;). Di hari Kamis, pasangan sopir kami+istrinya yang mengasuh Azzam, izin ada acara keluarga.

Menitipkan 4 anak pada mas seharian? plus ada jadwal turnamen futsal Umar and jadwal Azka ke undangan nikahan gurunya? sementara saya “menikmati pengembangan intelektual” di tempat yang amat nyaman? hati nurani saya sempat “protes”. Makanya sempat akan “merelakan” saja sesi hari Kamis. Tapi mas justru yang menguatkan. Jam 6.15 mas pergi duluan dengan anak-anak, mengantar Umar ke turnamen futsalnya. Hari ini, saat jam setengah lima ketemu anak-anak saya yang menjemput, saya menyatakan 100% percaya kalau mas bisa mengasuh anak-anak tak kalah “baik” dengan saya sebagai emaknya haha….Fisically, anak-anak masih pake baju tadi pagi-karena emang belum pulang ke rumah. Baju dan wajah mereka kucel. Tapi secara psikologis, anak-anak berlarian menuju saya dengan mata berbinar. Lalu mereka pun berebut menceritakan pengalaman seru mereka seharian bersama si abah. Mas? no complaining at all. Tampaknya kami ber-enam; saya-mas-anak2, sama-sama hepinya hari ini.

Trainer workshop ini adalah ahlinya dari Belanda. Memang selama ini PKP3 bekerjasama RINO GROEP, kalau tidak salah asosiasi psikoterapis Belanda. Sebelumnya saya pernah ikut juga beberapa workshop psikoterapi-nya. Namun jujur saja, yang ini yang paling berkesan. Kenapa? karena konsep terapi ini, tak hanya baru tapi benar-benar “bersebrangan” dengan pendekatan-pendekatan dan konsep-konsep yang ada di kepala kami selama ini. Dalam 2 hari pertama, kami “tertatih-tatih” untuk mem-brain wash kerangka pikir yang selama ini kami gunakan, yaitu “problem focused approach”. Tulisan selanjutnya, akan khusus membahas mengenai “solution focused approach” ini. Di tulisan ini, saya mau cerita benefit lain di luar konten materi yang saya dapat.

Peserta workshop ini adalah 20-an profesional yang terdiri dari psikolog dan psikiater. Bandung, Jakarta, Jogja, Bali. Sebagian sudah saya kenal karena sudah jadi “langganan” peserta workshop PKP3 ini. Dari segi profesional, bertemu dengan “kolega” dengan pengalamannya masing-masing, selalu menyenangkan. Sebagian  diantara mereka senior-senior yang sudah “punya nama”. Dari mereka, tentunya kita bisa belajar banyak hal. Memperkaya wawasan banget. Di sisi lain, buat saya sendiri … bertemu dan bertukar pikiran dengan mereka juga menguatkan keyakinan akan “kemampuan profesional” saya. Maklum, di tahap perkembangan keluarga saya saat ini, praktek psikolog menjadi nomer selanjutnya dari prioritas ngampus dan keluarga. Dengan intensitas menerima klien yang menjadi terbatas, kadang “mengikis” ke-pede-an terutama saat menghadapi kasus-kasus “sulit”.

Dalam prosesnya, karena ini namanya workshop, maka 75% adalah “praktikum”. “Experiencing”. Nah, dalam proses role playing menerapkan pendekatan ini, kami bergiliran dalam grup kecil, menjadi klien dan psikoterapis. Hasilnya? saat menjadi klien, beberapa “actual problem” yang tengah saya hadapi …. solved ! saya mendapat insight-insight berharga dengan menerapkan pendekatan ini … beneran deh, kalau jadi psikolog itu, setiap belajar sesuatu adalah … sambil “berobat jalan” haha….

side effectAda dua hal lagi “side effect benefit” yang saya dapat dari kegiatan ini. Personal banget, terkait dengan peran saya sebagai emak-emak. Siapa bilang “manfaat” dari kegiatan ini hanya didapat dari sesi-sesi di kelas? sesi di luar kelas, yaitu sesi break dan sesi makan siang, gak kalah ngasih benefit. Di saat break dan makan siang, sebagai emak-emak, yang dilakukan pastinya adalah …ngobrol. Tapi selain ngobrol hal-hal yang terkait konten “profesional” seperti menceritakan beragam psikoterapi dan kegiatan yang pernah diikuti masing-masing, cerita tentang teknik penanganan terbaru, pengalaman-pengalaman, jenis-jenis klien….satu tema yang ternyata jadi isu buat emak-emak adalah …. anak-anak dan kehidupan berkeluarga serta…..isu “work-family balance”.

Dari obrolan itu, seneng deh…I’m not alone ternyata. Saya bukan satu-satunya yang sedang “berjuang” memenuhi seluruh kebutuhan saya secara proporsional: kebutuhan menjalankan peran domestik dan kebutuhan menjalankan peran profesional di luar rumah dengan sama baiknya. Merasa menjadi “good wife and good mother” dan menjadi “good lecturer dan good psychologist” di saat yang bersamaan. Persoalan pembantu? sammmma….persoalan riweuh bagi waktu untuk anak dan pekerjaan? sammmmaaaa…. persoalan “jatuh bangun menerapkan ilmu psikologi” pada kehidupan kita, pada relasi dengan pasangan kita, pada anak-anak kita saat sedang mengalami masalah? sammmmaaaa…..ternyata menjadi “isu nasional” bagi kami.

Kami pun lalu bercerita mengenai “persoalan-persoalan” yang dialami anak-anak kami. Ada seorang ibu, yang latar belakang pendidikannya sains, bukan psikologi. Tapi di usia 40 tahun, dia kuliah psikologi dan lanjut menjadi psikolog karena terdorong oleh puteranya yang memiliki kebutuhan khusus….. Ada seorang ibu yang mengikuti workshop ini karena anaknya menjadi korban bullying. Saling berbagi mengenai persoalan yang dialami anak-anak kami, membuat saya semakin yakin kalau permasalahan yang Allah berikan pada anak-anak kami, adalah media untuk mengasah kompetensi kami sebagai psikolog/psikiater. Penghayatan terhadap beragam masalah yang dialami anak-anak kami, adalah satu pengalaman dan pelajaran berharga yang tak akan didapat dari bangku kuliah dimanapun.

Berbagi dengan orang-orang yang “punya masalah” atau “pernah punya masalah” yang sama dengan kita, itu sangat memberikan kekuatan. Tapi ada “super power” yang saya rasakan lebih dahsyat; yaitu …. bertemu dengan orang-orang, yang mengalami perjuangan yang sama, dan lalu sukses melewatinya… itu menghembuskan energi yang amat sangat. Salah satu sosoknya yaitu seorang “senior” yang usianya terpaut belasan tahun di atas saya, saat ini telah menjadi seorang yang “hebat” lah kalau kata saya mah di dunia profesional. Dia sudah mencapai prestasi dan menjadi seseorang yang keren banget, yang saya pengen banget kayak gitu. Apakah pencapaian itu ia dapat dengan cara “mengorbankan keluarga” ? tidak !!! waktu tahu saya hari rabu terpaksa harus bolos karena Hana gak ada yang jaga, beliau bercerita bahwa beliau pun demikian, baru bisa “all out” dalam profesinya setelah anak bungsunya “bisa ditinggal”. Sebelum itu? ia mengalami “konflik” yang sama seperti saya…peluang dan kesempatan di luar sana begitu terbuka lebar…tapi harus menetapkan pilihan mana yang menjadi prioritas.

Pengalaman senior tersebut, buat saya memberi keyakinana bahwa I’m in the right track. Bahwa setelah saya menyelesaikan “my main business” yaitu memberikan proporsi yang lebih untuk anak-anak saya di tahap perkembangan ini, maka don’t worry…saya pun akan bisa “mengejar” dan menjadi “hebat” seperti beliau !!! yeeeaayyyy… semangat !!! Saya seperti diperlihatkan kompas hidup saya, dan melompat kegirangan karena saya dalam arah yang benar ! Pengalaman ini membuat saya memiliki “segudang energi” untuk benar-benar tambah menikmati hari-hari keriweuhan saya “take care of”  4 anak saya sambil tetap “menjaga mimpi-mimpi besar dalam diri saya”. Dan ditambah dengan mas yang amat supportif baik secara emosional maupun teknis, lengkaplah “kebahagiaan” saya. My life is perfect.

Waktu Selasa lalu kami harus kembali menghadapi kenyataan bahwa tak ada yang bisa bantu pekerjaan rumah dan jaga Hana, saya bilang sama mas: kita harus memperbanyak shalat Dhuha. Meminta berkah. Berkah itu adalah kebaikan yang tak henti-henti. Yups, waktu kita memang menjadi amat terbatas karena saya harus nyiapin sarapan sambil nyuci di pagi hari, beberes rumah sepulang ngampus, gak bisa ambil proyekan sehingga “recehan” yang bisa didapat berkurang….mas juga harus back-up saya …..”energi fisik” kita memang berkurang. Namun jika energi psikologis dan energi spiritual kita membuncah…..kita akan bisa selalu mengikuti detak jarum jam dengan tepat, tanpa kelelahan. Karena kita tahu, kita menuju arah yang tepat sesuai dengan kompas kehidupan kita.

Semangat !!! Siapapun…yang kini belum bisa mencapai mimpinya karena keterbatasan sana-sini; what you have to do is make sure…that your are ini the right track. Bahwa kita kini tengah meniti tangga kebahagiaan, menuju kebahagiaan besar yang kita inginkan, dengan perasaan bahagia….

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s